Telaah Hadis Mistis Imam Khomeini 40 Hadis

point

عنوان و نام پدیدآور :Telaah Hadis Mistis Imam Khomeini 40 Hadis

مترجم: Musa Kazhim

مشخصات نشر : دارالکتب الاسلامیه

مشخصات ظاهری : 860ص

موضوع: حدیث - اهل بیت علیهم السلام

موضوع: امام خمینی - 40 حدیث

p: 1

point

PENERBIT MIZAN: KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM adalah salah satu lini produk (product line) Penerbit Mizan yang menyajikan informasi mutakhir dan puncak-puncak pemikiran dari pelbagai aliran pemikiran Islam.

p: 2

40 Hadis

Telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak Imam Khomeini

Diterbitkan atas kerja sama mizan

PENERBIT AL-HUDA

Memahamkan Pustaka sebagai Pusaka

KHAZANAH ILMU-ILMU ISLAM

p: 3

40 HADIS: TELAAH ATAS HADIS-HADIS MISTIS DAN AKHLAK

Diterjemahkan dari Syarh Al-Arbain Haditsan, karya Ayatullah Ruhullah Al-Musawi Al-Khomeini, terbitan Mu'assasah Dar Al-Kitab Al-Islâmî, Qum, Iran.

Edisi Lama Penerjemah: Zainal Abidin, Abdullah Hasan, dan Ilyas Hasan

Edisi Revisi Diterjemahkan dan disunting ulang oleh Musa Kazhim

Hak terjemahan dilindungi undang-undang

All rights reserved

Cetakan I, Rabbi' Al-Awwal 1425/Mei 2004

Cetakan II, Rajab 1430/Juni 2009

Diterbitkan bersama oleh Penerbit Mizan Islamic Cultral Center

PT Mizan Pustaka Jln. Buncit Raya Kav. 35

Anggota IKAPI Pejaten Barat

Jl. Cinambo No. 135 Jakarta 12510

Cisaranten Wetan, Ujungberung PO BOX 7335 JKSPM 12073

Bandung 40294 Telp. (021) 7996767

Telp. (022)7834310 Faks. (021) 7996777

Faks. (022) 7834311 e-mail: info@icc-jakarta.com

e-mail: khazanah@mizan.com http://www.icc-jakarta.com

http://www.mizan.com

Desain sampul: Eja Assagaf

ISBN 979-433-328-X

Didistribusikan oleh:

Mizan Media Utama (MMU)

Jln. Cinambo No. 146 (Cisaranten Wetan),

Ujungberung, Bandung 40294

Telp. (022) 7815500 — Faks. (022) 7802288

e-mail: mizanmu@bdg.centrin.net.id

Perwakilan:

Jakarta: (021) 7661724;

Surabaya: (031) 60050079, 8281857;

Makassar: (0411) 873655

p: 4

Transliterasi

image

p: 5

p: 6

Daftar Isi

Point

Transliterasi - V

Pengantar Penerbit — xix

Pengantar Penulis — xxi

1 Hadis tentang Jihad Al-Nafs -1

Tahap Pertama: Jihad Diri dalam Dunia Lahir — 3

Perenungan (Tafakkur) sebagai Langkah Pertama — 4

Upaya untuk Memperoleh Tekad ('Azm) – 6

Pengondisian Diri (Musyârathah) —8

Pengawasan Diri (Muraqabah) -8

Penghitungan dan Penilaian Diri (Muhasabah) — 9

Mengingat Allah (Tadzakkur) — 10

Tahap Kedua: Jihad Diri dalam Dunia Batin — 13

Kekuatan-Kekuatan Batin - 16

Bagaimana Mengatur Naluri Manusia -- 19

Cara Mengendalikan Daya Khayal dan Imajinasi — 20

Pertimbangan Manfaat-Mudarat (Muwazanah) — 21

Cara Menyembuhkan Penyakit Moral — 29

Kesimpulan — 32

p: 7

2 Hadis tentang Riya' — 33

Tahap Pertama: Ria dalam Keimanan — 34

Perbedaan antara Pengetahuan dan Keimanan -- 36

Akibat-Akibat Buruk dari Ria — 38

Nasihat Ilmiah Menghilangkan Penyakit Ria — 39

Ajakan untuk Ikhlas dalam Berbuat — 42

Derajat Kedua: Ria dalam Perbuatan - 46

Nilai Eksistensi Manusia sebagai Amanat Allah -- 48

Derajat Ketiga: Ria dalam Ibadah —- 50

Bagaimana Melawan Ria Jenis Ini? - 50

Ria dalam Shalat Berjamaah - 53

Ajakan kepada Keikhlasan — 55

Hadis dari Imam 'Ali tentang Tiga Ciri Ria - 61

Derajat Sifat-Sifat (Jiwa) di Antara Manusia — 63

Definisi Sum'ah - 64

3 Hadis tentang Ujub — 65

Derajat-Derajat Ujub - 67

Ujub Orang-Orang yang Tidak Beriman - 70

Halusnya Tipu Daya Diri dan Setan — 72

Keburukan-Keburukan Ujub - 73

Cinta Diri sebagai Sumber Ujub — 79

4 Hadis tentang Kibr (Takabur) — 87

Apakah Kibr itu? — 87

Derajat-Derajat Kibr -- 88

Penjelasan Derajat-Derajat Takabur 89

Penyebab-Penyebab Utama Takabur -91

Keburukan Spiritual dan Sosial dari Takabur — 97

Penyebab Lain Keangkuhan — 102

Cara Menyirnakan Keangkuhan — 107

Siksaan di Akhirat -- 111

Kerendahan Hati dan Kesahajaan Rasulullah Saw. — 112

Untuk Menyembuhkan Penyakit Sombong, Lawanlah

Kehendaknya — 113

p: 8

Isi Buku

Yaqzhah (Sadar), sebagai Langkah Pertama — 115

Kekejian-Kekejian Diri yang Samar – 118

5 Hadis tentang Hasad — 120

Definisi Hasad - 120

Sebab-Sebab Hasad - 122

Keburukan-Keburukan Hasad - 123

Siksa Kubur -- 126

Sumber Kerusakan Moral — 129

Obat Praktis untuk Dengki - 131

Hadis tentang Pengampunan Dengki - 133

6 Hadis tentang Cinta Dunia — 135

Penjelasan tentang Hadis Ini - 135

Pandangan Maulana Majlisi tentang Hakikat Dunia — 136

Faktor-Faktor yang Mendorong Keduniaan — 139

7 Hadis tentang Ghadhab — 150

Manfaat Daya Amarah (Al-Quwwah Al-Ghadhabiyyah) — 151

Buruknya Berlebihan dalam Sikap Marah — 153

Lahirnya Bahaya Moral Akibat Kemarahan -- 157

Bahaya Kemarahan terhadap Amal Perbuatan Manusia - 158

Mengendalikan Amarah — 159

Mengatasi Kemarahan dengan Mencabut Akar-Akarnya --- 161

8 Hadis tentang 'Ashabiyyah — 165

Bahaya 'Ashabiyyah - 167

Hadis Nabi — 169

Bentuk Ukhrawi dari 'Ashabiyyah - 170

Tentang ‘Ashabiyyah Kaum Intelektual — 174

9 Hadis tentang Nifág (Kemunafikan) — 177

Tingkat-Tingkat Niſâq - 178

Akibat-Akibat Niſaq — 180

p: 9

Mengobati Penyakit Nifaq — 182

Beberapa Bentuk Nifaq — 184

10 Hadis tentang Hawa Nafsu dan Harapan - 191

Tentang Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu — 192

Manusia Berciri Hewani Saat Kelahirannya — 192

Al-Quran dan Hadis tentang Keburukan Mengikuti

Hawa Nafsu — 195

Tentang Beragamnya Keinginan Nafsu -- 199

Tentang Buruknya Angan-Angan Tinggi -- 200

Berangan-angan Tinggi Dapat Melupakan Kita

pada Akhirat -- 200

Bekal Perjalanan Jauh yang Terbentang – 201

11 Hadis tentang Fitrah — 206

Makna Fitrah -- 207

Hukum-Hukum Fitrah Manusia - 208

Kebenaran-Kebenaran Agama dalam Fitrah — 209

Kecintaan Manusia kepada Kesempurnaan - 210

Pengesaan Zat Yang Hak dan Sifat-Sifatnya - 215

Keyakinan akan Kebangkitan adalah Fitri — 216

12 Hadis tentang Tafakur - 219

Makna Hati — 220

Kutamaan Tafakur — 221

Tafakur yang Diperlukan dan Dilarang Berkaitan

dengan Zat Allah -- 224

Bertafakur tentang Ciptaan — 229

Bumi dan Matahari: Dua Ciptaan Agung - 230

Bertafakur tentang Keadaan Ruh Manusia — 233

Keutamaan-Keutamaan Shalat Tengah Malam — 240

Apakah Takwa Itu? — 246

Takwa Kaum Awam — 248

p: 10

13 Hadis tentang Tawakal — 254

Penjelasan Makna Hadis — 255

Makna Tawakal dan Tingkatannya — 255

Tawakal pada Tingkat Pernyataan Verbal — 256

Tawakal pada Tingkat Rasional - 258

Tawakal pada Tingkat Hati — 259

Perbedaan Tawakal dan Ridha -- 261

Perbedaan antara Tafwidh, Tawakal, dan Tsiqah — 262

14 Hadis tentang Kecemasan dan Harapan — 265

Antara Harapan dan Kecemasan dalam Pandangan Arif — 167

Tingkat dan Derajat Rasa Takut — 269

Harapan dan Doa — 273

Tafakur, Rasa Takut, dan Harapan — 274

Perbedaan antara Harapan dan Keteperdayaan — 275

Keseimbangan antara Rasa Takut dan Berharap — 279

15 Hadis tentang Cobaan dan Penderitaan

sang Mukmin - 282

Penjelasan Makna Hadis — 283

Makna Cobaan dan Dampaknya — 284

Para Nabi dan Cobaan Allah — 288

Mengingat Allah - 292

Penderitaan Nabi Saw. — 294

Dunia Ini Bukanlah Tempat Pahala dan Siksa — 298

16 Hadis tentang Sabar — 302

Penjelasan Makna Hadis — 303

Hawa Nafsu, Sumber Segala Perbudakan — 304

Sabar: Hasil Keterbebasan dari Hawa Nafsu — 313

Hasil-Hasil Sabar — 316

Derajat dan Tingkatan Sabar — 321

Derajat Sabar 'Urafa’ — 324

p: 11

17 Hadis tentang Tobat — 326

Hakikat Tobat - 327

Tobat dan Penangguhan — 328

Hal-Hal Penting — 330

Hal-Hal Pokok dalam Bertobat — 331

Syarat-Syarat Tobat — 334

Hasil Istighfar -- 341

Mengenai Tafsir Taubah Nashứh — 342

Semua Makhluk Dianugerahi Hidup dan Pengetahuan — 343

18 Hadis tentang Zikir kepada Allah — 345

Perbedaan antara Tafakkur dan Tadzakkur -- 350

Zikir Sempuma — 352

19 Hadis tentang Ghibah (Mengumpat) — 358

Definisi Ghibah - 360

Kerugian Sosial Akibat Ghibah — 373

Tentang Menyembuhkan Penyakit Ghibah — 375

Prioritas Berpantang dari Ghibah yang Diperbolehkan — 379

Tentang Larangan Mendengarkan Ghibah — 381

Penutup: Wacana Al-Syahid Al-Tsani — 384

20 Hadis tentang Ikhlas — 387

Makna "Cobaan" dalam kaitannya dengan Allah — 389

Takut, Niat Ikhlas, dan Amal yang Benar — 391

Definisi Ikhlas -- 396

Ikhlas Itu Buah Bertindak — 398

21 Hadis tentang Syukur - 404

Interpretasi Mistis ('Irfāni) — 411

Hakikat Syukur -- 415

Cara Bersyukur — 417

Berbagai Tingkatan dalam Bersyukur -- 419

p: 12

Kedudukan Syukur dalam Hadis -- 421

Kesimpulan — 424

22 Hadis tentang Takut Mati — 429

Hakikat Surga dan Neraka — 436

23 Hadis tentang Tipe-Tipe para Penuntut Ilmu — 441

Bagian Pertama — 447

Bagian Kedua - 452

Bagian Ketiga — 457

Bagian Keempat — 461

24 Hadis tentang Klasifikasi Ilmu — 463

Bagian Pertama - 456

Bagian Kedua — 471

Bagian Ketiga - 473

Bagian Keempat — 478

Bagian Kelima — 479

25 Hadis tentang Waswas -- 481

Penjelasan Sederhana mengenai Sifat Waswas - 484

Obat Waswas — 490

26 Hadis tentang Penuntut Ilmu - 495

Bagian mengenai Jalan Ilmu dan Jalan Menuju Surga - Satu Hal Penting --- 498

Mengenai Malaikat yang Membentangkan Sayapnya untuk Penuntut Ilmu — 499

Bagian mengenai Penghuni Langit dan Bumi yang Memohonkan Ampunan bagi Penuntut Ilmu — 502

Bagian mengenai Keunggulan 'Âlim atas ‘Abid — 505

Bagian mengenai Ulama sebagai Pewaris para Nabi -- 509

p: 13

27 Hadis tentang Konsentrasi dan Perhatian Hati - 511

Arti Ibadah — 512

Berbagai Tingkat Konsentrasi — 522

Perhatian terhadap Ibadah — 523

Perhatian terhadap Ma'bûd — 524

Perwujudan Perbuatan di Akhirat --- 528

Ibadah dan Bebas dari Kebutuhan - 538

Suatu Peringatan — 542

28 Hadis tentang Pertemuan dengan Allah — 544

Liqa' Allah dan Sifatnya — 547

Terungkapnya Sebagian Keadaan Gaib Menjelang

Kematian - 555

Makna “Cinta” dan “Benci” Apabila Dinisbahkan

kepada Allah — 562

29 Hadis tentang Wasiat Rasulullah Saw. kepada 'Ali Ibn

Abi Thalib — 565

Mukadimah — 568

Keburukan-Keburukan Dusta — 570

Makna dan Tingkat-Tingkat Wara-—- 574

Keburukan Khianat dan Makna Amanat — 577

Tentang Beberapa Amanat Allah -- 583

Tentang Takut kepada Allah Taala — 586

Perbedaan Orang dalam Menjaga Kesopanan di Hadapan Allah — 588

Tentang Fadilah Menangis - 590

Tentang Balasan yang Tak Sepadan — 591

Tentang Jumlah Nawafil — 594

Tentang Istihbab Berpuasa pada Tiga Hari dalam Setiap Bulan - 595

Tentang Kebaikan Sedekah — 597

Satu Perkara Penting Lain — 600

Salah Satu Rahasia Sedekah --- 601

p: 14

Catatan Tambahan --- 602

Penutup — 603

Tentang Kebaikan Shalat Malam -- 604

Tentang Shalat Al-Wustha - 605

Tentang Kebaikan Membaca Al-Quran — 608

Tentang Pengaruh Ibadah pada Usia Muda -- 611

Tentang Adab Qira'ah — 612

Tentang Ketulusan dalam Membaca — 614

Tentang Makna Tartil - 617

Mengangkat dan Membalikkan Kedua Tangan — 619

Rahasia Mengangkat Kedua Tangan — 620

Peringatan tentang Tipuan Setan — 623

Fadilah Siwak — 624

Prinsip-Prinsip Akhlak Mulia dan Akhlak Buruk di Akhir Wasiat Rasulullah - 625

30 Hadis tentang Bagian-Bagian Hati — 631

Dorongan Memperbaiki Diri — 633

Dasar Pembagian Hati dan Tingkatan-Tingkatannya — 634

Mengapa Hati Dibagi Menjadi Empat? — 636

Keadaan-Keadaan Hati — 637

Hati Mukmin yang Putih dan Bercahaya — 638

Penjelasan Ihwal Tipuan-Tipuan Setan — 641

Perbedaan Antara Hati Orang Munafik dan Orang Mukmin — 644

Terbaliknya Hati — 646

31 Hadis tentang Allah Tidak Bisa Disifati — 648

Penjelasan — 649

Maksud Ketaktersifatan Allah — 651

Mengetahui Hakikat Nama dan Sifat Allah Tidaklah Mudah -- 655

Ilmu tentang Hakikat Spiritualitas para Nabi dan Wali tidak Mungkin Diperoleh melalui Pemikiran dan Pembuktian Rasional — 656

p: 15

Pelimpahan Urusan kepada Rasulullah Saw. - 661

Isyarat Singkat tentang Pengertian Tafwidh (Pelimpahan) — 665

Isyarat tentang Maqâm para Imam a.ş. — 667

Hakikat 'Ishmah - 669

Iman Tidak Dapat Disifati — 670

32 Hadis tentang Rezeki – 673

Penjelasan - 674

Tanda-Tanda Hujah yang Yakin — 678

Pendapat Mu'tazilah, Asy'ariyyah, dan Mazhab yang Benar -- 681

Allah Menempatkan Ketenangan dan Kesenangan pada Keyakinan dan Ridha, Kegelisahan dan Kesedihan pada keraguan dan Kebencian, Berdasarkan Prinsip Keadilan — 683

33 Hadis tentang Hubungan Antara Iman dan Amal — 685

Penjelasan — 686

Mengompromikan Riwayat-Riwayat yang secara Lahiriah Saling Bertentangan — 687

34 Hadis tentang Orang Mukmin - 702

Catatan — 707

Tentang Keraguan dan Kebimbangan Allah Swt. — 708

Pandangan Ahli Makrifat — 709

Pemahaman Lain tentang Masalah Keraguan — 714

Allah Menjadikan Keadaan Kaum Mukmin Menjadi Baik dengan

Kemiskinan, Kekayaan, dan Lain-Lain — 715

Kewajiban-Kewajiban yang Fardhu dan yang Nafilah Bisa

Mendekatkan Seseorang kepada Allah dan Pengaruhnya

dalam Pandangan Ahli Tasawuf dan 'Irfan — 717

Pendapat Syaikh Al-Baha'i — 721

Pendapat Syaikh Al-Thusi — 722

Pendapat Syaikh Al-Majlisi — 723

Penutup - 725

p: 16

35 Hadis tentang Kebaikan dari Allah dan Keburukan dari

Manusia -- 727

Penjelasan — 728

Nama-Nama Allah Mempunyai Dua Tingkat — 728

Masalah Al-Jabr dan Al-Tafwidh — 730

Allah Tidak Dimintai Pertanggungjawaban; Manusia Dimintai

Pertanggungjawaban — 734

36 Hadis tentang Sifat-Sifat Dzâtiyyah Allah Swt. — 738

Penjelasan — 739

Keidentikan Sifat Allah Swt. dengan Zat-Nya -- 740

Pandangan para Filosof tentang Pembagian Sifat Allah Swt. — 742

Kajian tentang Keidentikan Sifat dengan Zat Allah — 744

Pengetahuan Sebelum Adanya Objek yang Diketahui -- 746

Tentang Pendengaran dan Penglihatan Allah Swt. — 749

Hubungan Pengetahuan Allah dengan Objek yang Diketahui -- 754

Kriteria dalam Sifat Tsubûtiyyah dan Salbiyyah — 756

37 Hadis tentang Memakrifati Allah dengan Allah

Memakrifati Rasul dengan Risalah — 761

Penjelasan — 761

Pengertian “Makrifatilah Allah dengan Allah” — 764

Hadis-Hadis tentang Makrifat Tidak Bisa Ditafsirkan secara

Lazim -771

38 Hadis tentang Allah Menciptakan Adam Sesuai dengan

Bentuk-Nya — 775

Penjelasan — 776

Manusia adalah Manifestasi Sempurna Allah dan Nama

Agung-Nya — 780

39 Hadis tentang Kebaikan dan Keburukan — 785

Penjelasan - 786

Kebaikan dan Keburukan Berkaitan dengan Pewujudan dan

Beberapa Penjelasan Ihwal Kebaikan dan Keburukan dalam

Penciptaan dan Masalah Qadha — 789

p: 17

40 Hadis Telaah Imam Khomeini

Allah Menjalankan Kebaikan dan Keburukan di Tangan Hamba-

Nya — 792

Kekeliruan Paham Al-Jabr (Keterpaksaan) — 794

40 Hadis tentang Tafsir Surah Al-Tauhid dan Ayat-Ayat

Pertama Surah Al-Hadid — 799

Penjelasan — 800

Isyarat tentang Tafsir Surah Al-Tauhîd — 802

Ulasan Singkat tentang Tafsir Enam Ayat Pertama Surah

Al-Hadid — 808

Khatimah - 817

Doa dan Penutup -- 819

Catatan-Catatan — 821

Indeks ---- 845

p: 18

Pengantar Penerbit

Pengantar Penerbit

Karya Imam Khomeini ini—aslinya berbahasa Persia dengan judul Syarh-i Chihil Hadits—selesai ditulis pada 1939 saat penulisnya berusia 37 tahun. Isinya membahas empat puluh hadis yang berkenaan dengan masalah-masalah tauhid, akhlak, dan mistis. Buku ini merupakan edisi lengkap dari 40 Hadis Telaah Imam

Khomeini yang sebelumnya telah diterbitkan oleh Mizan dalam empat edisi terpisah yang masing-masing berisi sepuluh hadis. Ada sejumlah perubahan signifikan dalam edisi revisi ini dibandingkan empat edisi terpisah terdahulu, di samping soal transliterasi yang lebih konsisten dan pengemasan yang lebih apik dan enak dibaca. Perubahan tersebut harus kami lakukan sejalan dengan komitmen kami untuk menyajikan teks yang berkualitas dari buku-buku yang kami terbitkan.

Menilik arti penting tema dan otoritas-tinggi penulisnya, buku yang telah dikemas kompak dalam satu edisi ini diharapkan dapat menjadi buku panduan ruhani bagi siapa saja yang hendak mengenal kedalaman dan keluasan pandangan-spiritual ajaran Islam.

Pembaca, selamat membaca dan menikmati kuliah ruhani dari sang alim-sufi sejati, yang lebih dikenal oleh khalayak sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran ini. Semoga makna-makna lahir dan batin

p: 19

yang terkandung di dalamnya akan menyalakan kalbu dan pikiran pembaca—dengan pertolongan Allah dan barakah Nabi Muhammad dan keluarganya.

Bandung, Rabbi' Al-Awwal 1425

Penerbit Mizan

p: 20

Pengantar Penulis

Pengantar Penulis

Bismillahirrahmanirrahim,

Ya Allah! Pancarkan cahaya keikhlasan kepada cermin hati, bersihkan karat kemusyrikan dari lembaran hati, dan tunjukkan jalan kebahagiaan dan keselamatan yang luas kepada para pengelana yang tak berdaya dalam kebingungan dan kesesatan. Bantulah kami untuk berakhlak yang mulia dan berilah kami segenap anugerah dan kelembutan yang Engkau khususkan bagi para wali-Mu. Usirlah pasukan setan dan kejahilan dari kerajaan hati kami, dan tempatkanlah sebagai gantinya pasukan pengetahuan, hikmah, dan Al-Rahmân. Penuhilah hati kami dengan kecintaan pada-Mu dan pada hamba-hamba yang Engkau khususkan dengan kedekatan pada-Mu ketika Engkau keluarkan kami dari alam ini. Perlakukan kami dengan kasih-Mu saat kami meninggal dan sesudahnya. Dan jadikanlah kebahagiaan sebagai akibat semua urusan kami, demi Muhammad Saw. dan Keluarganya yang suci.

Maksud Penulisan Buku Ini

Untuk beberapa lama aku, hamba Allah yang papa dan tak berdaya ini, merenung untuk memilih empat puluh hadis di antara hadis- hadis Ahl Al-Bait Saw. dari kitab-kitab autentik para sahabat dan

p: 21

alim serta berupaya menerangkan tiap-tiap hadis dengan bobot yang sesuai dengan pemahaman awam. Aku memilih untuk menuliskannya dalam bahasa Persia agar mereka yang mengenal bahasa Persia dapat mengambil manfaat darinya. Harapanku bersandar pada hadis: “Barang siapa mengutarakan empat puluh hadis (dalam bentuk hafalan) kepada umatku sehingga mereka memperoleh manfaat darinya, kelak pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya sebagai seorang yang faqih (penuh pemahaman) lagi alim.

p: 22

1 Hadis tentang Jihad Al-Nafs

Point

خبرنی أجازه، مکاتبه و مشافهه عدّه من المشایخ العظام و الثقات الکرام منهم الشّیخ العلّامه المتکلّم الفقیه الأصولی الأدیب المتبحّر الشّیخ محمّد رضا آل العلّامه الوفی الشّیخ محمّد تقی الأصفهانی , أدام الله توفیقه- حین تشرّفه بقم الشّریف، و الشّیخ العالم الجلیل المتعبّد الثّقه الثّبت الحاج شیخ عبّاس القمی , دام توفیقه- کلاهما عن المولی العالم الزّاهد العابد الفقیه المحدّث الآمیرزا حسین النوری , نور الله مرقده الشّریف- عن العلّامه الشّیخ مرتضی الأنصاری , ، قدّس الله سرّه. و منهم السیّد السّند الفقیه المتکلّم الثّقه العین الثّبت العلّامه السیّد محسن الأمین العاملی , ، أدام الله تأییداته، عن الفقیه العلّام، صاحب المصنّفات العدیده السیّد محمّد بن هاشم الموسوی الرضوی الهندی , ، المجاور فی النّجف الأشرف حیّا و میّتا، قدّس الله سرّه، عن العلّامه الأنصاری. و منهم السیّد العالم الثقّه الثّبت السیّد أبو القاسم الدهکردی الأصفهانی , ، عن السیّد السّند الأمجد الآمیرزا محمّد هاشم الأصفهانی , قدّس سرّه، عن العلّامه الأنصاری (و لنا طرق أخری غیر منتهیه إلی الشّیخ ترکناها) عن المولی الأفضل أحمد النّراقی , ، عن السیّد مهدی المدعوّ ببحر العلوم صاحب الکرامات , ، رضوان الله علیه، عن أستاد الکلّ الآقا محمّد باقر البهبهانی , ، عن والده الأکمل محمّد أکمل , ، عن المولی محمّد باقر

المجلسی , ، عن والده المحقّق المولی محمّد تقی المجلسی , ، عن الشّیخ المحقّق البهائی ، عن والده الشّیخ حسین ، عن الشّیخ زین الدّین الشهیر بالشّهید الثانی الشّیخ علیّ بن عبد العالی المیسی ، عن الشّیخ شمس الدّین محمّد بن المؤذّن الجزینی ، عن الشیخ ضیاء الدّین علی ، عن والده الحائز للمرتبتین الشیخ شمس الدّین محمّد بن مکّی ، عن الشّیخ أبی طالب محمّد فخر المحقّقین ، عن والده آیه الله الحسن بن مطهّر العلّامه الحلّی ، عن الشّیخ أبی القاسم جعفر بن الحسن بن سعید الحلّی المحقّق علی الإطلاق ، عن السیّد أبی علی فخار بن المعد الموسوی ، عن الشّیخ شاذان بن جبرئیل القمی ، عن الشّیخ محمّد بن أبی القاسم الطبری ، عن الشّیخ أبی علیّ الحسن والده شیخ الطائفه أبی جعفر محمّد بن الحسن الطوسی [30] جامع التهذیب و الإستبصار، عن امام الفقهاء و المتکلّمین الشیخ أبی عبد الله محمّد بن محمّد بن نعمان الشّیخ المفید ، عن شیخه رئیس المحدّثین الشّیخ أبی جعفر محمّد بن علیّ بن الحسین بن موسی بن بابویه القمی صاحب کتاب «من لا یحضره الفقیه»، عن الشّیخ أبی القاسم جعفر بن قولویه ، عن الشّیخ الأجلّ ثقه الإسلام محمّد بن یعقوب الکلینیّ صاحب الکافی، عن علیّ بن إبراهیم ، عن أبیه ، عن النّوفل ، عن السّکونی ، عن أبی عبد الله، علیه السّلام: أنّ النّبیّ، صلّی الله علیه و آله، بعث سریّه فلمّا رجعوا قال: مرحبا بقوم، قضوا الجهاد الأصغر، و بقی علیهم الجهاد الأکبر.

ketika Rasul Saw. melihat pasukan (1) yang kembali dari sebuah peperangan, beliau bersabda, “Selamat datang, wahai orang-orang yang telah melaksanakan jihad kecil dan masih tersisa bagi mereka jihad akbar.” Ketika orang-orang bertanya tentang makna jihad akbar itu, Rasul Saw. menjawab, “Jihad melawan diri sendiri (jihad al-nafs).(2)

p: 1


1- Pasukan tempur (sariyyah) adalah bagian dari pasukan besar dan diriwayatkan bahwa sebaik-baik sariyyah ialah yang berjumlah empat ratus orang. Riwayat lain mengatakan bahwa pasukan tempur yang di dalamnya Nabi Saw. ikut serta disebut ghazwah. Sementara yang Nabi Saw. tidak ikut di dalamnya disebut sariyyah—peny.
2- Hadis ini dikabarkan kapadaku dengan ijazah tertulis maupun lisan oleh sejumlah syaikh (guru) yang agung dan otoritas yang mulia, antara lain: Syaikh Muhammad Ridha Al-Wafi dari keluarga Muhammad Tagi Al-Ishfahani saat beliau berada di Kota Suci Oum dan Syaikh 'Abbas Al-Qummi, pengarang buku kumpulan doa, Mafatih Al-Jinân. Kedua alim ini menukil dari al-muhaddits (ahli hadis) Husein Al-Nuri, dan Al-Nuri menukil dari Syaikh Murtadha Al-Anshari. Di antara mereka yang mengabarkan hadis ini kepadaku adalah 'Allamah Muhsin Al-Amin Al-'Amili, dari Muhammad ibn Hasyim Al-Musawi Al-Ridhawi Al-Hindi-yang tinggal di dekat Najaf Al-Asyraf dalam masa hidup maupun matinya——dari Syaikh Murtadha Al-Anshari. Di antara mereka juga adalah Abu Al-Qasim Al-Dahkardi Al-Ishfahani, dari Al-Mirza Muhammad Hasyim Al-Ishfahani, dari Syaikh Murtadha Al-Anshari. Kami juga memiliki jalur-jalur lain dalam periwayatan hadis ini hingga ke Syaikh Murtadha Al-Anshari yang tidak kami sebutkan nama perawinya satu demi satu. Kami terutama meriwayatkan hadis ini dari Al-Maula Ahmad Al-Naragi, dari Sayyid Mahdi yang bergelar bahr al-'ulům (lautan ilmu) dan memiliki banyak kardmah, dari mahaguru Agha Muhammad Baqir Al-Bahbahani, dari ayahnya, Muhammad Akmal, dari Al-Maula Muhammad Baqir Al-Majlisi, dari ayahnya, Al-Maula Muhammad Taqi Al-Majlisi, dari Syaikh Al-Muhaqqiq Al-Baha'i, dari ayahnya Syaikh Husein, dari Syaikh Zain Al-Din yang dikenal dengan al-syahid al-tsâni (syahid kedua), dari Syaikh 'Ali ibn 'Abd Al-Ali Al-Misi, dari Syaikh Syams Al-Din Muhammad ibn Al-Muadzdzin Al-Jazini, dari Syaikh Dhiya Al-Din ‘Ali, dari ayahnya, Syaikh Syams Al-Din Muhammad ibn Makki, dari Syaikh Abu Thalib Muhammad yang bergelar fakhr al-muhaqqiqin (kebanggaan para peneliti), dari ayahnya, Ayatullah Al-Hasan ibn Muthahhar, yang dikenal sebagai 'Allamah Al-Hilli, dari Syaikh Abu Al-Qasim Ja'far ibn Al-Hasan ibn Said yang dikenal sebagai Al-Muhaqqiq Al-Hilli, dari Sayyid Abu 'Ali Fakhkhar ibn Ma'd Al-Musawi, dari Syaikh Syadzan ibn Jibril Al-Qummi, dari Syaikh Muhammad ibn Abu Al-Qasim Al-Thabar., dari Syaikh Abu Ali Al-Hasan, dari ayahnya, Syaikh Abu Ja'far Muhammad ibn Al-Hasan Al-Thusi yang bergelar syaikh al-tha'ifah (guru mazhab Syi'ah), dari Syaikh Abu `Abdillah Muhammad ibn Al-Nu'man yang dikenal sebagai Syaikh Al-Mufid, dari gurunya, Syaikh Abu Ja'far Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babweih Al-Qummi, dari Syaikh Abu Al-Qasim Ja'far ibn Qulweih, dan Syaikh tsiqat al-Islam (otoritas Islam) Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini dari 'Ali ibn Ibrahim, dari ayahnya, dari Al-Naufali, dari Al-Sukuni dari Abu 'Abdillah Al-Shadiq a.s. -peny.

Dari hadis tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk istimewa yang memiliki dua dimensi dan dua alam: dimensi lahiriah fisik (mulkî) dan duniawi, yaitu tubuhnya; dan dimensi batin yang gaib dan malakûtî, yang berasal dari alam lain. Jiwa manusia-yang berasal dari alam gaib dan malakût—memiliki

beberapa maqâm dan derajat. Sejumlah maqâm dan derajat itu biasanya dibagi menjadi tujuh, empat, tiga, atau hanya dua. Pada setiap derajat ada sekelompok pasukan khusus. Pasukan Ilahi dan ‘aqlânî (intelektual) menarik jiwa ke arah alam malakût yang tertinggi dan mengajaknya kepada kebahagiaan, sedangkan pasukan setan dan kejahilan menariknya ke arah malakût yang terendah dan mengajak-nya kepada kesengsaraan. Selalu ada perdebatan dan pertempuran

di antara keduanya, dan manusia adalah medan perperangan di kedua pasukan itu. Bilamana pasukan Ilahi memperoleh kemenangan, maka manusia akan mendapat kebahagiaan, rahmat, dan bergabung dengan para malaikat serta dibangkitkan dalam kelompok para nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Akan tetapi, bilamana pasukan setan dan serdadu kejahilan yang memperoleh kemenangan, maka

p: 2

manusia akan mendapat kesengsaraan, kemarahan, dan dibangkitkan dalam kelompok para setan, orang-orang kafir, dan orang-orang gagal. Masalah pertempuran dalam diri itu tidak akan dibahas tuntas dalam buku ini, tetapi kita hanya akan mengisyaratkan secara ringkas pelbagai maqâm jiwa, aspek-aspek kebahagiaan dan kecelakaannya, serta metode untuk melakukan mujahadah (perlawanan terhadap hal-hal yang merusak jiwa).

Tahap Pertama: Jihad Diri dalam Dunia Lahir

Point

Tahap ini terdiri atas beberapa jenjang. Ketahuilah bahwa tahapan jiwa yang terendah adalah eksistensi lahiriah dan duniawi manusia yang mencakup tingkat-tingkat awal perkembangan jiwa dan perwujudan lahiriahnya. Percikan dan sinar Ilahi memancar pada struktur jasmaniah untuk membentuk eksistensi manusia di bumi ini, serta memberi jiwa kehidupan aksidentalnya dan memperlengkapinya dengan pasukan kebaikan dan keburukan. Dalam tubuh ini, ada kekuatan-kekuatan (fisik) yang terletak di tujuh kawasan (iglîm), yaitu telinga, mata, mulut, perut, alat kelamin, tangan, dan kaki. Seluruh kekuatan yang tersebar di tujuh wilayah kehidupan itu berada di bawah kendali jiwa yang berada di tahap (maqam) daya imajinasi (wahm). Daya imajinasi adalah penguasa atas seluruh kekuatan jiwa, yang terlihat maupun tidak. Jika daya imajinasi dapat berkuasa, dengan sendirinya atau dengan bantuan setan, atas seluruh kekuatan lainnya, maka semuanya akan berubah menjadi pasukan setan sehingga kerajaan ini akan sepenuhnya tunduk pada dominasi setan. Dalam keadaan itu, pasukan Al-Rahmân (Sang Maha Pengasih) dan akal bakal memudar dan melarikan diri dari kerajaan ini untuk diserahkan sepenuhnya kepada setan. Adapun bila daya imajinasi dapat ditundukkan oleh akal dan syariat, sehingga seluruh gerak dan diamnya terikat oleh disiplin, akal, dan syariat, maka kerajaan ini akan menjadi kerajaan ruhani dan rasional dan terusirlah pasukan setan darinya. Dengan demikian, jihad diri adalah jihad akbar yang lebih unggul dibandingkan dengan jihad berperang di jalan Allah. Dalam tahap

ini, jihad akbar berarti usaha manusia untuk mengendalikan seluruh daya dan kekuatan fisiknya untuk patuh pada semua perintah Allah

p: 3

dan dibersihkan dari seluruh unsur setan dan kekuatannya dalam diri kita.

Perenungan (Tafakkur) sebagai Langkah Pertama

Ketahuilah bahwa syarat pertama dan terutama untuk perjuangan melawan diri dan berjalan menuju Allah adalah tafakkur (perenungan diri). Di sini, tafakkur digunakan dalam arti meluangkan waktu, betapapun sedikitnya, un:uk merenungkan tugas-tugas kita terhadap Pencipta dan Penguasa kita-yang telah menghadirkan kita ke bumi, yang telah menganugerahkan kepada kita seluruh sarana kenikmatan dan kesenangan hidup, yang telah melengkapi kita dengan tubuh yang baik serta pelbaga: daya dan indra yang sempurna untuk beragam tujuan. Semua itu telah membuat akal manusia terkagum-kagum.

Di samping seluruh pemberian dan rahmat tersebut, Dia juga telah mengutus begitu banyak nabi dan menurunkan kitab suci-Nya untuk membimbing dan mengajak kita agar dapat memperoleh rahmatNya. Maka, apa kira-kira kewajiban kita terhadap Allah, Raja dari segala raja ini? Apakah semua ini dianugerahkan kepada kita sekadar untuk melayani kehidupan hewani kita dan memuaskan nafsu dan insting kita—yang juga dimiliki oleh seluruh binatang lain—ataukah ada tujuan yang lebih tinggi? Apakah seluruh nabi Allah, orang-orang ariſ, para pemikir, dan orang-orang berilmu dari setiap bangsa yang telah mengajak manusia untuk mematuhi prinsip-prinsip rasional dan hukum-hukum Allah, serta meminta manusia untuk meninggalkan seluruh kecenderungan hewaninya dan melepaskan diri dari lingkungan yang fana dan musnah ini adalah musuh-musuh manusia? Ataukah mereka itu—sama dengan kita—yang tidak mengetahui jalan penyelamatan kita, manusia-manusia yang tenggelam dalam aneka nafsu syahwat ini?

Jika kita merenung dengan akal kita untuk sesaat, kita akan memahami bahwa tujuan dari seluruh rahmat dan anugerah yang ditanamkan ke dalam diri kita adalah sesuatu yang lain, yang lebih unggul dan lebih tinggi daripada yang tampak oleh mata. Dunia ini adalah tahap perbuatan dan tujuannya adalah wilayah eksistensi yang lebih tinggi dan lebih agung. Eksistensi hewani yang rendah ini bukanlah

p: 4

merupakan tujuan itu sendiri. Seorang manusia berakal mesti menilai dirinya sendiri dan merasa sedih atas ketakberdayaan dirinya. Dengan rasa kasihan, ia seharusnya berkata kepada dirinya sendiri, "Wahai diri yang lalai! Kau telah menyia-nyiakan saat-saat yang berharga dalam hidup singkatmu untuk mengejar keinginan duniawi dan nafsumu! Dan yang bakal kauperoleh hanyalah penyesalan dan rasa kehilangan. Kau harus menyesali perbuatan-perbuatanmu pada masa

lalu di hadapan Allah dan memulai perjalanan baru ke tujuan yang telah digariskan oleh-Nya; perjalanan yang akan membawamu kepada kehidupan yang kekal dan kebahagiaan abadi. Kau tidak boleh menukar kenikmatan-kenikmatan singkat ini, yang bahkan sering kali sulit diperoleh, dengan kebahagiaan abadi. Berpikirlah untuk sesaat, wahai diri yang lalai! Kau harus memikirkan keadaan manusia sejak fajar peradaban hingga masa kini. Lihat dan bandingkan penderitaan dan siksaan yang mereka terima dengan kenikmatan dan kesenangan yang mereka peroleh dan kau akan melihat bahwa penderitaan dan kesakitan mereka selalu melebihi dan menghilangkan kenikmatan dan kesenangan mereka. Kenikmatan dan kesenangan bukanlah untuk setiap orang dalam kehidupan ini. Orang yang mengajak dan

mendorongmu untuk mengejar kenikmatan duniawi dan perolehan materiil, jelas adalah salah satu dari kelompok utusan iblis dalam bentuk manusia. Dia selalu mengajak manusia untuk bergabung dengannya dalam menyukai kenikmatan-kenikmatan dan menyatakan keyakinannya terhadap kehidupan materiil ini. Pada persimpangan jalan ini, wahai diri, kau harus berhenti untuk sesaat dan berpikir apakah utusan iblis itu telah merasa puas dan bahagia dengan keadaannya sendiri; ataukah ini semua hanya menunjukkan bahwa seseorang yang telah terjangkiti oleh sifat buruk itu ingin menularkannya kepada orang lain.

“Wahai diri! Kau mesti memohon keridhaan Allah bagi seluruh perbuatanmu dan terus mengejar keridhaan-Nya. Berdoalah agar seluruh perbuatanmu diridhai oleh-Nya. Di antara Dia dan engkau selalu ada sepercik harapan. Harapan itu akan menjadi nyata dalam niat teguhmu untuk bertempur melawan iblis dan jiwa rendahmu. Perjuangan melawan diri ini akan mengantarmu ke tingkat yang lebih

p: 5

tinggi dan upayakanlah dengan seluruh kemampuanmu untuk mencapainya melalui perjuangan yang sungguh-sungguh.”

Upaya untuk memperoleh Tekad ('Azm)

Langkah berikutnya, setelah perenungan, yang harus dilewati oleh setiap orang yang berjuang untuk mencapai kemajuan ruhaniah adalah kehendak dan kesungguhan. (Ini berbeda dari karsa (irâdah), yang oleh Syaikh Al-Ra'is Ibn Sina dalam Al-Isyârât, dianggap sebagai langkah pertama 'irfân.) Beberapa ulama besar kita-semoga Allah memanjangkan usia mereka–juga menyatakan bahwa “kehendak dan kesungguhan adalah esensi kemanusiaan dan dasar kebebasan

manusia. Perbedaan derajat manusia adalah sesuai dengan perbedaan tingkat tekad dan kesungguhan mereka”.

Kesungguhan yang diperlukan untuk tahap khusus ini sama dengan meletakkan fondasi bagi hidup yang baik: sebuah kesungguhan untuk membersihkan diri dari dosa dan melaksanakan seluruh kewajiban; sebuah kesungguhan untuk mengganti hari-hari yang hilang (dalam perbuatan dosa); dan akhirnya kesungguhan untuk bersikap sebagaimana seharusnya sikap manusia yang berakal dan beragama. Yaitu, ia harus berperilaku sesuai dengan aturan hukum agama, yang akan mengakuinya sebagai manusia yang sejati, manusia yang berakal. Sikapnya harus merupakan tiruan kehidupan Rasul Saw. Dalam perbuatan lahiriahnya, ia harus mengikuti Rasul Saw. sebagai model perilakunya, pilihan-pilihannya, dan penolakan-penolakannya. Ini sangat mungkin karena setiap hamba Allah memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai dengan teladan yang diberikan oleh pemimpin besar umat manusia ini.

Dalam jihad diri di dunia lahir ini, tidaklah mungkin seseorang menempuh jalan makrifat Ilahiah kecuali ia memulainya dengan melaksanakan perintah-perintah syariat yang bersifat lahiriah. Nilai-nilai tinggi moralitas tidak akan dicapai oleh manusia kecuali jika ia terlebih dahulu melengkapi dirinya dengan pengetahuan tentang syariat dan mengikutinya dengan bersungguh-sungguh. Tanpa mengikuti ajaran-ajaran lahiriah Islam, cahaya pengetahuan Ilahi dan kearifan dari yang gaib mustahil mencapai hatinya, serta misteri dari hukum

p: 6

suci Allah tidak mungkin terungkap baginya. Tidak benar pula anggapan bahwa kelak, setelah terungkapnya kebenaran hakiki serta terserapnya cahaya-cahaya makrifat di dalam hati seseorang, ia akan mulai melaksanakan etika syariat yang bersifat lahiriah. Ini menyangkal klaim sebagian dari orang-orang yang mengaku-aku sebagai kaum spiritualis yang mengatakan bahwa kesempurnaan batin dapat diperoleh tanpa perbuatan-perbuatan lahir, atau bahwa setelah memperoleh kemuliaan batiniah tidak wajib lagi melaksanakan kewajiban-kewajiban lahiriah (syari'ah). Ini adalah pemahaman yang salah yang muncul karena ketidaktahuan tentang tingkat-tingkat ibadah dan tahap-tahap kemajuan manusia. Kita akan membahas masalah tersebut dalam bab-bab selanjutnya, insya Allah.

Wahai Sahabatku, berusahalah untuk menjadi manusia yang bertekad teguh dan bersungguh-sungguh sehingga kau tidak akan meninggalkan dunia ini sebagai orang yang tanpa kesungguhan dan arenanya dibangkitkan pada Hari Kebangkitan sebagai makhluk yang tidak berakal, bukan dalam bentuk manusia karena dunia yang lain itu adalah tempat seluruh rahasia dibukakan dan seluruh yang tersembunyi disingkapkan. Keberanian seseorang untuk berbuat dosa akan mengubahnya sedikit demi sedikit menjadi manusia tanpa tekad dan merampas esensi kemanusiaannya yang mulia. Guru (1) kami yang terhormat pernah mengatakan bahwa, “lebih dari apa pun, membiarkan telinga untuk mendengar nyanyian dan lagu-lagu' akan mengakibatkan terampasnya tekad dan kehendak”.(2)

Oleh karena itu, Saudaraku, janganlah melakukan pelanggaran, bersungguh-sungguhlah untuk berhijrah menuju Allah, dan jadikanlah tampilan lahiriahmu sebagai tampilan manusia. Bergabunglah bersama kelompok manusia yang berpegang pada agama dan, dalam

p: 7


1- c Tentang “guru" yang disebut di sini, silakan lihat buku Mata Air kecemerlangan: Sebuah Pengantar untuk Memahami Pemikiran Imam Khomeini, Mizan, Bandung, 1991 h. 74–penerj.
2- d Sebagaimana ternyata dalam fatwa-fatwa Imam Khomeini belakangan, barangkali yang dimaksud dengan nyanyian dan lagu-lagu di sini adalah yang membuat orang menjadi lemah, sentimentil, dan menjadi pengangan-angan, serta yang mendorong orang untuk menjauh atau melanggar hukum-hukum agama-peny.

kesendirianmu, berdoalah kepada Allah agar Dia membantumu mencapai tujuan ini. Mintalah syafaat Rasul Saw. dan keluarganya untukmu, sehingga Allah akan mencurahkan rahmat dan bantuan-Nya kepadamu dan menghindarkan dirimu dari pelbagai bahaya yang akan engkau lalui karena kehidupan ini penuh dengan jurang. Ada kalanya manusia tersandung dan terjerumus ke dalamnya sedemikian hingga ia tidak dapat menyelamatkan dirinya, atau mungkin ia tidak lagi peduli untuk menyelematkan dirinya dan bahkan mungkin pula syafaat dari para pemberi syafaat pun tidak dapat menyelamatkannya.

Pengondisian Diri (Musyârathah)

Pengondisian diri, pengawasan, dan penilaian diri adalah prasyarat-prasyarat utama bagi seorang mujahid (orang yang berperang melawan diri sendiri). Pengondisian diri berarti mengikatkan diri dengan ketetapan hati untuk tidak melakukan apa pun yang bertentangan dengan perintah Allah. Ini disebut musyarathah, seperti “Aku tidak akan melanggar hukum Allah hari ini”. Dan teramat mudah memaksakan diri untuk mematuhi janji seperti itu untuk satu hari. Cobalah untuk

bersungguh-sungguh, patuhilah kemauan dirimu sendiri, dan lakukanlah; kau akan melihat betapa mudahnya tugas ini. Iblis, makhluk terkutuk itu, dan seluruh pasukannya mungkin akan membesar-besarkan janji seperti ini di matamu, tetapi hal itu hanyalah tipu muslihat. Kutuklah, kendalikan iblis serta pikiran-pikiran buruk dari lubuk hati dan pikiranmu. Cobalah untuk satu hari dan kau akan membuktikan betapa mudahnya hal itu untuk kau laksanakan.

Pengawasan Diri (Muraqabah)

Setelah langkah di atas, hendaknya engkau memasuki tahapan ini.' Selama masa musyârathah, seorang mujahid yang berjuang melawan dirinya sendiri perlu untuk memusatkan seluruh perhatiannya kepada perbuatan-perbuatannya. Setiap kali muncul pikiran untuk melanggar perintah Allah, ia harus mengetahui bahwa pikiran itu ditanamkan ke dalam dirinya o eh iblis dan sekutunya untuk menggoyahkan kesungguhannya. Ia harus mengutuk mereka, mencari perlindungan

p: 8

dari Allah yang Pengasih dan memupuskan seluruh pikiran keji itu dari hatinya. Katakan kepada iblis: “Hari ini aku harus mematuhi janjiku sendiri untuk tidak melanggar perintah Allah, karena Dialah yang telah memberiku seluruh harta dan kesehatan, seluruh kedamaian dan keamanan sepanjang hidupnya di dunia. Sekiranya aku beribadah terus-menerus, aku tetap tidak akan pernah memenuhi satu pun Hak-Nya atasku, lalu mengapa aku harus melanggar satu janji sederhana seperti ini.” Dengan ini, semoga iblis akan terusir dan pasukan Ilahi akan tetap bertahan.

Penghitungan dan Penilaian Diri (Muhasabah)

Saya menjamin bahwa praktik pengawasan diri dan introspeksi ini tidak akan menghalangi kegiatan keseharianmu. Aku menasihatimu untuk bertahan pada keadaan ini hingga malam hari-waktu kau menilai dan menghitung diri (muhasabah) dan melakukan perenungan yang mendalam. Nilailah semua perbuatanmu selama sehari penuh. Inilah waktu buatmu untuk melihat apakah kau telah berlaku jujur kepada Sang Pemberi nikmat, yang kepada-Nya setiap orang akan bertanggung jawab. Jika kau telah berlaku setia kepada-Nya, kau harus berterima kasih karena Dia telah membuatmu berhasil melaksanakan maksudmu. Dan, sadarilah bahwa kau telah berjalan maju satu langkah ke arah-Nya dan menjadi sasaran perhatian-Nya. Insya Allah, Allah akan membantumu melaksanakan seluruh tugas keduniaan

dan keagamaanmu yang akan menghapuskan penderitaanmu untuk hari berikutnya. Jika kauulangi tindakan-tindakan itu, kau akan segera terbiasa berlaku seperti orang saleh. Kemudian, kau akan melihat bahwa itu semua tidak memaksamu untuk melakukan usaha-usaha yang berat. Kau juga akan melihat bahwa kepatuhan kepada Allah akan memberimu banyak kenikmatan. Meskipun dunia ini bukanlah tempat di mana manusia segera akan diberi balasan bagi perbuatan-nya, keimanan yang penuh kepada Allah dan menghindarkan diri

dari dosa juga akan membuahkan hasilnya di dunia ini. Allah tidak pernah menugasi makhluk-Nya dengan beban berat yang berada di luar kemampuannya. Namun, iblis dan sekutunyalah yang memberat-beratkan tugas itu di matamu. Jika sekali waktu kau tergelincir-

p: 9

semoga Allah menjaga kita--mohonkanlah ampunan Allah dan katakanlah dengan sungguh-sungguh bahwa kau akan lebih berhati-hati pada masa yang akan datang sehingga Allah Yang Mahakuasa membukakan pintu-pintu rahmat-Nya kepadamu, dan membimbingmu di jalan yang lurus.

Mengingat Allah (Tadzakkur)

Satu hal yang membantu manusia sepenuhnya dalam melakukan jihad melawan dirinya sendiri dan melawan iblis, serta yang harus diperhatikan benar-benar oleh para mujahid adalah mengingat Allah secara terus-menerus (tadzakkur). Meskipun ada banyak tema penting lain dalam kaitan ini, saya akan mengakhiri bahasan ini dengan sedikit menguraikan masalah tadzakkur. Mengingat Allah adalah mengingat seluruh rahmat yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu. Engkau tahu bahwa rasa terima kasih itu bersifat fitrah. Sifat ini memerintahkan manusia untuk berterima kasih kepada siapa pun yang telah bermurah hati kepadanya. Jika manusia membaca catatan dirinya, ia akan mendapati bahwa hukum itu tertulis di situ. Rasa terima kasih dan penghormatan meningkat dengan semakin banyaknya pemberian; apalagi jika itu diberikan tanpa pamrih apa pun. Semakin tulus pemberian itu, semakin besar pula rasa terima kasih yang ada dalam hati.

Sebagai contoh, bandingkanlah rasa terima kasih kepada orang yang telah memberimu seekor kuda, tetapi dengan pertimbangan keuntungan bagi dirinya sendiri, dengan orang yang memberimu sebuah daerah seluas beberapa hektar, tanpa pamrih sekecil apa pun untuknya. Jika seorang dokter menyelamatkanmu dari kebutaan, secara alamiah engkau akan merasa banyak berutang budi. Jika seseorang menyelamatkan nyawamu, engkau akan berutang lebih banyak lagi. Kini, renungkan dan taksirlah bantuan yang terlihat ataupun tidak yang telah diberikan oleh Allah Yang Mahakuasa-sedemikian hingga bagian sangat kecil dari bantuan itu pun bahkan tidak dapat diberikan oleh seluruh manusia dan jin. Ambillah, sebagai contoh, udara yang kita hirup setiap pagi dan malam; eksistensi kita dan

makhluk-makhluk lainnya bergantung pada udara itu, dan tiada

p: 10

sesuatu pun yang dapat hidup jika udara itu diambil hanya selama seperempat jam. Betapa berharganya anugerah itu! Jika seluruh manusia dan jin sedunia bekerja keras untuk menciptakannya, mereka tidak akan berhasil. Demikian pula, ingatlah pula pemberian Allah lainnya, seperti indra lahiriah kita (penglihatan, pendengaran, perasa, dan penciuman) serta pelbagai daya batin, seperti akal dan imajinasi; masing-masing indra itu merupakan pemberian Allah kepada kita

yang membawa manfaat tidak terkira. Di samping semua pemberian berharga itu, masih ada pula anugerah-anugerah lain. Utamanya ialah anugerah Allah dalam mengutus para nabi dan rasul beserta kitab-kitab mereka untuk menunjukkan jalan yang benar, jalan menuju ke surga, dan menghindarkan kita dari neraka. Dia memenuhi seluruh kebutuhan kita di dunia ini maupun di akhirat kelak, sementara Dia tidak memerlukan ketaatan ataupun ibadah kita untuk-Nya. Ketaatan kepada-Nya tidak memberi-Nya manfaat dan pembangkangan terhadap-Nya tidak akan mendatangkan bahaya bagi-Nya, lantaran semuanya itu adalah demi kepentingan kita sendiri. Sementara mengingat semua itu dan bermacam-macam bantuan Allah lainnya, yang tidak dapat dihitung oleh manusia, tidakkah kita mengerti bahwa

menghormati dan mematuhi Sang Pemurah itu mutlak bagi kita, ataukah akal kita membenarkan perbuatan yang melanggar perintah-Nya?

Di antara hal-hal yang dibenarkan oleh fitrah manusia adalah melakukan penghormatan yang ditujukan kepada pribadi-pribadi yang agung. Dalam kenyataannya, manusia menghormati orang-orang kaya dan berpengaruh, penguasa, dan raja-raja karena menganggap mereka itu sebagai orang-orang besar. Dapatkah kebesaran mereka dibandingkan dengan kebesaran dan kehebatan Raja segala raja, yang bagi-Nya dunia tempat kita hidup ini hanyalah sebuah partikel debu semata dalam kerajaan-Nya? Dialah Sang Pencipta dan Raja dari kosmos yang mahadahsyat ini, yang ketakberhinggaannya tidak dapat diukur, atau bahkan dibayangkan oleh akal manusia, Manusia, sebuah makhluk yang merangkak dalam salah satu dari planet kecil-Nya, secara menyedihkan gagal menangkap lingkup

dunia kecilnya sendiri-dengan mataharinya yang tidak dapat diban-

p: 11

dingkan dengan matahari-matahari lain yang jauh lebih besar di galaksi-galaksi yang tidak terhitung. Tata surya kita bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan beberapa tata surya lain, yang masih lolos dari mata tajam manusia (dan teleskop) penjelajah dan peneliti dunia. Apakah Dia Yang Mahabesar dari yang terbesar, yang dapat mengetahui setiap rincian terkecil sekalipun dari dunia yang tidak hanya dunia-dunia yang telah diketahui ini, tetapi juga yang belum diketahui, tidak patut dimuliakan menurut prinsip akal dan fitrah? Jika seseorang gagal memuliakan-Nya, ia harus sangat berhati-hati dan waspada akan kehadiran Allah hadir di setiap tempat. Bukankah (rasa) kehadiran itu akan mendatangkan penghormatan dalam diri?! Itulah sebabnya mengapa orang yang sedang menggunjing--mengikuti hukum fitrahnya—akan mendadak berhenti bila orang yang sedang digunjingkan itu hadir di hadapannya, bahkan ia akan menunjukkan penghormatan kepada yang bersangkutan! Jelas, Allah hadir dalam setiap makhluk dan mengawasi seluruh kejadian alam wujud. Bahkan, setiap nyawa dan ilmu merupakan tempat kehadiran-Nya yang tidak terbatas.

Maka dari itu, ingatlah wahai jiwa yang keji, keburukan dahsyat dan dosa besar macam apa yang kaulakukan bilamana kau bermaksiat kepada Zat Mahaagung di hadapan kehadiran-Nya yang kudus dengan menggunakan sarana pelbagai daya yang telah Dia karuniakan untuk-mu?! Bukankah sudah sepantasnya kau meleleh dan meluruh karena malu, kalau saja kau punya sedikit rasa malu? Oleh karena itu, wahai Saudaraku, ingatlah keagungan Tuhan-mu! Ingatlah seluruh rahmat dan bantuan-Nya untukmu. Ingatlah bahwa engkau berada di tempat kehadiran-Nya dan Dia menyaksikan gerak gerikmu. Hentikanlah pembangkangan ini, sehingga engkau dapat mengalahkan dan menundukkanlah pasukan iblis dalam perang genting ini. Jadikanlah kerajaan (jiwa)-mu sebagai kerajaan Sang Pengasih (Al-Rahmân) yang Mahabenar. Usirlah seluruh pasukan iblis dan undanglah pasukan Al-Haqq agar Allah memenangkanmu dalam tahap perjuangan dan pertempuran berikutnya, yakni jihad melawan diri di alam batin sebagai tahap kedua perjuangan manusia melawan

p: 12

dirinya. Masalah ini akan saya jelaskan pada bagian selanjutnya, insya Allah. Sekali lagi aku ingin mengingatkanmu agar tidak berharap pada dirimu sendiri, karena tidak ada yang dapat engkau lakukan kecuali dengan pertolongan Allah. Maka dari itu, mintalah dengan merendah dan bersungguh-sungguh kepada Allah agar Dia menolongmu dalam mujahadah (perlawanan) ini dan menjadikanmu sebagai pemenang. Sesungguhnya Dia adalah Pemberi taufik.

Tahap Kedua: Jihad Diri dalam Dunia Batin

Point

Tahap kedua ini juga terdiri atas beberapa jenjang. Ketahuilah bahwa jiwa manusia mempunyai kerajaan (alam) dan dimensi lain, yaitu kerajaan batin dan dimensi malakût (non-korporeal). Di situ, (kekuatan) pasukan jiwa lebih banyak dan lebih signifikan ketimbang di kerajaan lahiriah atau fisik. Pertarungan dan konflik antara pasukan Sang Pengasih dan pasukan setan berlangsung dengan lebih keras dan juga lebih menentukan, sehingga kemenangan dan dominasi di alam itu akan bernilai lebih besar dan lebih penting. Bahkan, semua yang ada di alam lahiriah/fisik berasal dari alam itu dan merupakan manifestasi darinya. Pasukan mana pun yang menang di alam ini-baik pasukan Sang Pengasih ataupun pasukan setan—pasti akan menang di alam fisik ini. Oleh karena itu, jihad diri atau perjuangan batin amat penting bagi seluruh guru besar suluk dan akhlak. Tahap ini dapat dipandang sebagai sumber seluruh kebahagiaan atau kesengsaraan, sumber kemajuan dan kemuliaan atau kerendahan dan kehancuran diri.

Setiap manusia mesti benar-benar sadar diri selama melaksanakan jihad ini. Sebab, mungkin saja—semoga Allah melindungi kita akibat kekalahan pasukan Sang Pengasih itu diri manusia menjadi kosong sehingga dengan mudah dirampas dan dijarah oleh pasukan setan. Akibat selanjutnya, manusia akan menuju kehancuran abadi yang tak mungkin lagi untuk dibenahi dan syafaat para pemberi syafaat tidak dapat menyelamatkannya dari kemurkaan Allah Yang Maha Pengasih. Bahkan mungkin pula para pemberi syafaat itu justru akan

p: 13

menjadi musuh-musuhnya. Dan sungguh suatu bencana jika penolongnya telah menjadi musuhnya. Hanya Allah yang tahu bencana, penderitaan, dan kesulitan ma-

cam apa yang akan diakibatkan oleh kemurkaan Allah dan kebencian para kekasih-Nya. Seluruh api neraka, zaqqûm (makanan neraka), dan racun bukanlah apa-apa dibandingkan dengan siksaan yang diakibatkan oleh kekalahan pasukan Sang Pengasih dalam diri manusia. Aku berlindung kepada Allah agar tidak ditimpakan kepada kita yang lemah tak berdaya ini siksaan yang telah digambarkan orang-orang ahli hikmah, ahli ‘irfân, ahli latihan (spiritual), dan ahli suluk itu. Seluruh penderitaan dan siksaan yang kalian bayangkan di dunia ini adalah sangat lembut dan ringan jika dibandingkan dengan penderitaan yang harus dialami manusia sebagai akibat dari siksaan di atas. Surga dan neraka yang digambarkan dalam Al-Quran, hadis-hadis Rasulullah Saw. dan ucapan-ucapan para wali Allah umumnya

terkait dengan neraka can surga perbuatan yang dipersiapkan untuk perbuatan baik dan buruk manusia. Akan tetapi, dalam rujukan- rujukan tersebut, ada pula isyarat halus pada surga dan neraka akhlak, yang bahkan lebih penting dan lebih bernilai. Surga itu ada- kalanya disebut dengan jannah al-ligâ' (surga pertemuan) dan jahan-nam al-firâq (neraka perpisahan). Surga dan neraka jenis ini jauh lebih penting dari semua jenis surga dan neraka. Akan tetapi, isyarat-isyarat mengenai jenis surga dan neraka ini tersembunyi dari pandangan mata kita dan hanya terbuka bagi pandangan mereka yang berhak memperolehnya. Engkau dan aku tidak termasuk golongan yang berhak memperolehnya, tetapi kita tidak layak untuk meragukannya. Kita harus mengimani semua yang datang dari Allah dan para wali-Nya, lantaran keimanan tak kukuh (ijmâlî) ini pun ada manfaat- nya bagi kita. Sebaliknya, ketidakpercayaan yang muncul dari ketidaktahuan dan penolakan tanpa dasar dan tanpa pengetahuan tentangnya pasti akan membahayakan kita—dan bahaya itu bisa sangat besar.

Dunia ini bukanlah tempat kita menyadari bahaya-bahaya yang seperti itu. Jika kalian mendengar sesuatu yang dikatakan oleh seorang arif, sufi, atau pelaku latihan spiritual, janganlah menyangkal atau menganggapnya tidak sah hanya karena perkataan itu tidak sesuai dengan

p: 14

selera atau pola pikiran kalian. Perkataan atau gagasan itu mungkin berasal dari sumber yang lebih tinggi dan tidak terjangkau oleh kalian, seperti Al-Quran dan hadis, yang tidak atau belum terpahami oleh akal kalian. Apa bedanya penyangkalanmu atas fatwa ahli fiqih di bidang diyât yang tidak kauketahui dalilnya dan penyangkalanmu bahkan penghinaanmu atas gagasan ahli suluk atau ahli ‘irfán mengenai ajaran- ajaran Ilahi atau mengenai keadaan surga dan neraka? Jangan lupa bahwa mungkin saja orang itu, yang memiliki otoritas tentang masalah itu atau memang benar-benar menguasainya, memperoleh pengetahuannya dari Al-Quran atau beberapa hadis yang disampaikan oleh para Imam yang tidak pernah kauketahui. Jika demikian halnya, berarti engkau telah menyangkal Allah dan Rasul-Nya tanpa alasan yang bisa diterima. Jelas, tidak bisa engkau hanya berargumen dengan menyatakan bahwa "hal itu tidak sesuai dengan seleraku" atau "aku

belum pernah mengetahuinya" atau "aku pernah mendengar hal sebaliknya dari para penceramah publik”. Semua itu tentu bukan merupakan alasan yang bisa diterima. Semua yang mereka paparkan mengenai surga dan neraka akhlak serta watak adalah perkara yang akal tak sanggup bahkan untuk sekadar mendengarnya. Oleh sebab itu, Saudaraku, berpikirlah, carilah penawar, dan cobalah menemukan jalan keselamatan dan sarana kebebasan bagimu. Mintalah perlindungan dari Allah, Zat Kudus Yang paling Pengasih, dan mohonkanlah kepada-Nya di malam-malam yang gelap dengan ratapan yang merendah agar Dia menolongmu dalam jihad suci melawan diri ini agar kau memperoleh kemenangan. Jadikan kerajaan jiwamu sebagai kerajaan Tuhan dan usirlah pasukan setan darinya kemudian serahkan kerajaan ini kepada Pemiliknya yang sah. Semoga Allah mencurahkan kebahagiaan, keriangan, dan kasih-sayang kepadamu. Seluruh pujian yang telah kau dengar tentang surga dan seluruh isinya yang amat indah tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan kebahagiaan Ilahi, itulah kesul-

tanan dan dominasi Ilahi yang telah digambarkan oleh para wali Allah dari kalangan umat Muhammad Saw. Keindahan dan kehebatan keadaan itu tak satu telinga pun pernah mendengarnya dan tak ada pikiran yang mampu menjangkaunya.

p: 15

Kekuatan-Kekuatan Batin

Dengan kekuasaan dan kearifan-Nya, Allah telah menciptakan sejumlah daya dan fakultas di alam gaib dan batin manusia yang bermanfaat luar biasa bagi kita. Di sini, kita akan menyebutkan tiga di antaranya, yaitu al-quwwah al-wahmiyyah (daya imajinasi atau pencitraan), al-quwwah al-ghadhabiyyah (daya amarah), dan al-quwwah al-syahwiyyah (daya syahwat). Masing-masing daya tersebut memiliki pelbagai manfaat besar, seperti pelestarian spesies dan individu manusia serta pembangunan dunia maupun akhirat—yang telah dibahas cukup panjang oleh banyak pemikir dan tidak perlu saya ulangi di sini. Yang penting dicamkan di sini adalah bahwa ketiga daya itu merupakan sumber bagi seluruh malakah (watak/karakter) baik maupun buruk dan dasar bagi seluruh bentuk-bentuk gaib yang tinggi.

Penjelasannya, sebagaimana Allah telah menciptakan manusia di dunia ini dengan sebuah bentuk jasmani-duniawi yang memiliki kesempurnaan dan keindahan komposisi yang menakjubkan akal pikiran seluruh filosof dan ilmuwan sedemikian sehingga ilmu anatomi hingga detik ini belum juga mampu mengungkapkan dan menguraikan cara kerjanya secara benar. Allah telah menjadikan bentuk manusia lebih unggul dibandingkan dengan seluruh makhluk dalam hal postur yang bagus dan tampilan luar yang indah. Meskipun demikian, ada pula bentuk dan wajah manusia yang berbeda, yang bersifat malakuti dan gaib, yang ditentukan oleh karakter jiwa dan struktur batinnya.

Di alam setelah mati—baik di alam barzakh (masa antara kematian dan kebangkitan kiamat) maupun di hari kiamat-jika struktur manusia di sisi batinnya, sisi karakter dan sukmanya (sarîrah) benar-benar bersifat manusiawi, maka penampilan malakt.ti-gaibnya pun akan seperti manusia. Namun, jika wataknya tidak manusiawi, maka bentuk malakutinya-di alam setelah mati—akan tampak tidak manusiawi. Sebagai ilustrasi, jika watak kesyahwatan (al-malchah al-syahwiyyah) dan kebinatangan (al-malakah al-bahîmiyyah) mendominasi batin-nya sehingga kerajaan batinnya berubah menjadi hutan rimba, maka

p: 16

tampilan malakutinya pun akan tampak seperti salah satu binatang yang sesuai dengan watak jiwanya. Jika daya amarah atau kebuasaan (al-sabu'iyyah) mendominasi batin dan sukmanya sehingga kerajaan batin dan sukmanya ditegakkan atas hukum kekejaman, maka penampilan malakuti-gaibnya pun akan menyerupai salah satu binatang buas yang sesuai dengan watak batinnya itu. Demikian pula, jika daya imajinasi atau manipulasi (syaithanah) menjadi watak batinnya sehingga watak-watak setan (malakât syaithâ-niyyah) seperti tipu muslihat, kecurangan, namîmah (adu domba), dan menggunjing (ghibah) menjadi wataknya, maka ia akan memiliki penampilan gaib dan malakuti layaknya salah satu setan yang cocok baginya. Kadangkala mungkin pula seorang manusia memiliki penampilan yang menggabungkan dua atau beberapa watak kebinatangan sekaligus. Jika demikian, ia akan mengambil bentuk yang tidak menyerupai salah satu binatang, tetapi kombinasi bentuk yang aneh. Bentuk ini, dalam susunan buruk yang mengerikan dan menjijikkan, tidak akan menyerupai bentuk binatang mana pun di alam ini. Diriwayatkan dari Rasul Saw. bahwa beberapa orang akan dibangkitkan di akhirat dengan rupa yang lebih buruk dari kera. Bahkan, beberapa dari mereka akan memiliki beberapa rupa sekaligus, lantaran alam itu tidak seperti alam ini yang tidak memungkinkan bagi seseorang untuk dapat memiliki lebih dari satu bentuk. Pernyataan ini logis dan juga sudah dibuktikan pada tempatnya.

Ketahuilah bahwa kriteria bagi (pengejawantahan) bentuk-bentuk yang berbeda itu dengan bentuk manusia sebagai salah satunya-adalah keadaan ruh saat terpisah dari tubuh, keadaan tegaknya (hukum-hukum) alam barzakh dan alam akhirat atas ruh manusia, yang bermula persis sesaat setelah ruh keluar dari tubuh manusia. Watak dan sifat ruh saat keluar dari tubuh manusia akan menentukan bentuk ukhrawi manusia yang akan segera tampak bagi mata gaib sejak di alam barzakh. Setiap manusia di alam barzakh juga akan melihat dirinya dalam bentuk itu ketika ia pertama kali membuka matanya di sana-bila ia memang memiliki mata penglihatan (bashar). Tidak-lah mesti manusia memasuki alam yang akan datang itu dalam bentuk yang sama dengan ketika ia berada di alam fisik ini. Allah sendiri

p: 17

telah berfirman melalui lidah sebagian orang: “Wahai Tuhanku, mengapa Kau bangkitkan aku dalam keadaan buta padahal dahulunya aku dapat melihat.” Allah menjawab, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu pula pada hari ini kamu pun dilupakan” (QS Thahâ [20]: 125-126).

Wahai orang malang, memang kau pernah punya mata fisik yang bisa melihat, tapı sisi batin dan malakutmu sebenarnya buta. Sekarang kau menyadari perkara ini, padahal kau telah buta sejak semula. Kau tidak memiliki pandangan batin (bashirah) untuk melihat tanda-tanda Allah. Wahai makhluk yang malang, engkau memiliki postur yang tegap dan dan bentuk yang sempuma secara fisik, tetapi ukuran-nya di alam malakut dan batin bukanlah bentuk itu. Kau harus berjuang demi ketegapan (bentuk) batinmu agar kelak di hari kiamat engkau juga dapat berdiri gagah dan tegap. Ruhmu harus menjadi ruh yang manusiawi agar bentukmu di alam barzakh tampak sebagai bentuk manusia.

Engkau mungkin mengira bahwa alam gaib dan batin—yakni alam penyingkapan rahasia dan pengejawantahan watak—sama dengan alam fisik dan duniawi yang memungkinkan terjadinya kekacauan, pencampuradukan, dan kekeliruan ini.... Tidak! Kedua mata, telinga, tangan, dan kakimu serta seluruh anggota tubuhmu akan

bersaksi atas semua perbuatanmu di dunia ini dengan mulut-mulut malakuti. Bahkan, sebagian anggota tubuhmu akan tampil dalam bentuk malakuti yang utuh (untuk menghadapimu). Oleh karenanya, Sahabatku, bukalah telinga hatimu, singsingkan lengan bajumu dan kasihanilah ketakberdayaan dirimu sendiri! Kiranya kau dapat inenjadikan dirimu sebagai manusia dan keluar dari alam ini dalam bentuk anak Adam, sehingga kelak kau akan menjadi orang yang sejahtera dan bahagia. Jangan sekali-kali kau menyangka bahwa semua yang kuucapkan itu sekadar mauizah dan ceramah, karena semua itu merupakan kesimpulan dari beragam argumen filosofis yang telah diajukan oleh para ahli hikmah, penyingkapan mistis (kasy), yang telah ditangkap oleh para pelaku latihan spiritual (riyâdhah) dan pemberitaan dari para Imam yang jujur dan maksum. Hanya saja, lembaran-lembaran buku ini memang bukan tempat yang

p: 18

tepat untuk mengajukan bukti-bukti atau menukil hadis-hadis berkenaan dengan pokok masalah di atas secara menyeluruh.

Bagaimana Mengatur Naluri Manusia

Wahm (daya imajinasi dan pencitraan), ghadhab (daya amarah), dan syahwah (daya syahwat) bisa menjadi pasukan Sang Maha Pengasih yang akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi manusia jika semua daya itu mengikuti akal sehat dan ajaran para nabi Allah yang mulia. Sebaliknya, jika dibiarkan apa adanya, semua daya itu akan menjadi pasukan setan dengan daya imajinasi sebagai panglima bagi kedua daya lainnya.

Bukanlah suatu rahasia bahwa tidak satu pun dari para nabi Allah pernah berusaha memusnahkan ketiga daya tersebut secara mutlak. Tidak satu pun dari rasul Allah pernah menuntut kita untuk sama sekali membunuh syahwat atau menghilangkan api amarah dan mengabaikan imajinasi. Namun, mereka menganjurkan kita untuk mengendalikan, mengekang, dan menundukkan semua daya itu di bawah perintah akal dan hukum-hukum Allah. Sebab, tiap-tiap daya itu ingin melakukan kerjanya dan mencapai tujuannya masing-masing meskipun hal itu akan menyebabkan kerusakan dan kekacauan (dalam diri manusia). Sebagai contoh, daya kebinatangan berupa libido tak terkendali akan berusaha mencapai tujuannya, meskipun tujuan itu—semoga Allah menjaga kita adalah berzina dengan wanita yang telah bersuami di Ka'bah yang suci. Daya amarah yang tidak terkendali akan mendo-rong manusia untuk mencapai tujuannya, meskipun untuk itu semoga Allah menjaga kita—ia harus membunuh para nabi dan wali Allah. Dan daya imajinasi (yang bersifat seperti setan ini) akan berusaha mencapai tujuannya, meskipun untuk itu—semoga Allah menjaga kita—ia akan merusakkan bumi dan menjungkirbalikkan alam semesta. Para nabi a.s. datang ke dunia ini bersama berbagai undang-undang dan kitab-kitab samâwî agar manusia dapat menghindari sifat keterlaluan dan ketakterkendalian pelbagai nalurinya, dan agar manusia dapat menundukkan, melatih, dan mendidik dirinya di bawah ken-

p: 19

dali hukum akal dan syariat. Dengan demikian, setiap individu yang mampu mencetak watak-wataknya sejalan dengan hukum-hukum Allah dan prinsip-prinsip rasional akan beruntung dan memperoleh keselamatan. Kalau tidak demikian, manusia harus berlindung kepada Allah Yang Mahatinggi dari kesengsaraan, kesialan nasib, kegelapan, dan kesulitan yang bakal menghadangnya. Selanjutnya, ia akan tampil dalam bentuk-bentuk menakutkan dan mengerikan yang akan menyertainya di alam barzakh, alam kubur, di hari kiamat, dan di neraka, yak tak lain merupakan buah dari pelbagai watak dan sikap (akhlaq) bejatnya sendiri.

Cara Mengendalikan Daya Khayal dan Imajinasi

Syarat pertama bagi seorang mujâhid yang harus dilakukannya dengan sepenuh hati pada tahap ini dan tahap-tahap berikutnya adalah mengendalikan burung imajinasinya sebagai modal untuk menaklukkan setan beserta segenap pasukannya. Imajinasi dan khayalan itu seperti burung yang tak pernah lelah terbang dan sesekali bertengger di suatu tangkai, yang mungkin akan menyeret manusia pada aneka rupa kemalangan. Inilah salah satu alat iblis untuk memperbudak manusia dan menjerumuskannya ke dalam jurang kesengsaraan. Seorang mujahid yang bangkit untuk memperbaiki dirinya, menyucikan batinnya, dan mengusir pasukan setan dari dirinya harus benar-benar teguh dalam mengekang imajinasinya dan tidak membiarkannya terbang dan mengembara ke tempat mana pun yang disu-

kainya. Ia harus berusaha mencegah khayalannya melayang pada fantasi yang merusak dan keliru, seperti fantasi tentang berbagai maksiat dan manipulasi. Ia mesti selalu mengarahkan khayalannya kepada cita-cita yang luhur dan mulia. Pada awalnya, hal itu akan tampak sulit karena setan dan pasukannya akan menjadikan hal-hal buruk menjadi tampak indah di mata manusia. Namun, dengan sedikit konsentrasi dan kewaspadaan, semuanya akan menjadi mudah dilak-

sanakan. Sebagai sebuah percobaan, engkau bisa mengendalikan satu khayalanmu dan mengawasinya dengan ketat. Begitu ia mulai mengarah pada fantasi yang tak senonoh, alihkan ia kepada hal-hal yang halal,

p: 20

luhur dan mulia. Sekali saja engkau berhasil, bersyukurlah kepada Allah Yang Mahakuasa atas bantuan-Nya dan lanjutkan usaha itu lebih jauh. Semoga Allah, dengan rahmat-Nya, mengantarmu ke alam malakut, membimbingmu ke jalan-lurus kemanusiaan, dan memudahkan sulukmu kepada-Nya. Waspadalah bahwa semua fantasi yang buruk dan bejat serta lintasan-lintasan pikiran yang sia-sia adalah bagian dari sugesti setan yang hendak menancapkan pengaruh-pengaruhnya pada kerajaan batinmu. Engkau yang sedang berperang melawan setan beserta para pasukannya dan ingin menjadikan lembaran dirimu sebagai kerajaan Tuhan yang Maha Pengasih, harus menjaga dirimu dari segala tipu muslihat si terkutuk ini dan menghindarkan dirimu dari pelbagai obsesi yang melanggar perintah Allah. Atas izin Allah, kau akan mampu merebut parit penting ini (baca: daya khayal dan imajinasi) dari tangan setan dan pasukannya dalam peperangan batinmu ini. Parit

ini merupakan penentu kemenangan pasukan Sang Maha Pengasih atau pasukan setan. Jika engkau menang di garis ini, kau boleh berharap lebih banyak.

Sahabatku, mintalah bantuan Allah pada setiap waktu dan saat. Mintalah tolong dengan kerendahan hati di hadapan Sesembahanmu. Mohonlah kepada-Nya dengan papa dan sungguh-sungguh: Ya Allah, setan adalah musuh yang besar, ia bernafsu ingin menggoda para nabi dan kekasih-Mu. Ya, Allah, bantulah hamba-Mu yang lemah dan tercengkeram oleh pelbagai khayalan kosong, waham yang keliru dan khurafat yang sia-sia ini agar aku berhasil menghadapi musuh yang kuat ini. Ya Allah, bantulah hamba-Mu yang lemah ini dalam menghadapi musuh kuat yang mengancam kebahagiaan dan kemanusiaanku agar aku dapat mengenyahkan pasukannya dari kerajaan (batin) yang bakal kembali kepada-Mu dan memotong tangan penjarah ini dari rumah (hati) yang khusus milik-Mu.

Pertimbangan Manfaat-Mudarat (Muwazanah)

Salah satu hal yang mesti diikuti dengan saksama selama proses ini adalah muwazanah, yakni menimbang untung-ruginya suatu watak dan akhlak buruk-yang merupakan hasil dari syahwat, amarah, dan

p: 21

imajinasi di bawah pengelolaan setan—dan membandingkannya dengan untung-ruginya watak dan akhlak baik dan keutamaan jiwa-yang merupakan hasil dari ketiga daya itu dalam bimbingan akal dan syariat—lalu memutuskan mana di antara keduanya yang lebih baik. Sebagai contoh, kita harus mempertimbangkan “manfaat” mematuhi perintah syahwat tak-terkendali yang telah berakar-kuat dalam jiwa manusia sehingga menjadi watak yang menetap (malakah râsikhah)

dan darinya lahir watak-watak (keji) lain secara berkelanjutan. Orang yang demikian ini tidak akan segan-segan berbuat semua kekejian yang mungkin dilakukannya dan tak akan puas dengan semua harta yang mungkin didapatnya, lewat jalan apa pun. Ia akan melaksanakan semua yang sejalan dengan hasrat dan hawa nafsunya meskipun itu akan mengakibatkan kerusakan yang luar biasa. Selanjutnya, “manfaat” melampiaskan daya amarah yang telah menjadi watak jiwa yang darinya akan muncul sejumlah watak rendah lain ialah kesiapan seseorang untuk menganiaya siapa saja yang bisa dianiaya dengan cara memaksa dan menekannya. Orang ini akan melakukan apa saja kepada semua pribadi yang mencoba melakukan sedikit perlawanan dan mengobarkan peperangan atas semua pribadi yang menunjukkan sedikit ketidaksetujuan kemudian menindas dengan seluruh kekuatannya dan dengan alat apa saja walaupun hal itu akan mengakibatkan kehancuran di alam raya. Demikian pula halnya dengan “manfaat” waham setan yang sudah menjadi watak dalam jiwa akan melaksanakan semua dorongan ama-

rah dan syahwat dengan segenap tipuan, trik, dan rekayasa. Ia akan menguasai hamba-hamba Allah dengan segala macam rencana keji, baik dengan melakukan pemusnahan atas satu etnis, satu kota atau negara, dan sebagainya.

Inilah (sebagian) dari “manfaat” daya-daya itu jika bekerja di bawah kendali setan. Jika kalian berpikir dengan benar dan mengamati keadaan orang-orang itu, kalian akan menemukan bahwa tak seorang pun dari mereka-meskipun cukup kuat dan sudah mencapai sebagian besar keinginannya—mereka tidak akan mendapatkan satu pun dari ribuan angan-angannya. Realisasi satu harapan dan pencapaian

p: 22

satu angan-angan merupakan perkara yang mustahil di dunia ini, lantaran dunia ini adalah tempat penuh benturan (dâr al-tazâhum). Unsur-unsur dunia ini akan menentang terwujudnya suatu keinginan. Padahal, angan-angan dan kecenderungan manusia tidak memiliki batasan.

Sebagai contoh, daya syahwat (libido) lelaki akan terus bekerja meskipun--contoh mustahil—ia telah memiliki seluruh wanita di satu kota. Daya syahwat orang ini akan menyuruhnya untuk mengejar wanita-wanita di kota lain, dan begitu seterusnya. Bila ada seorang yang telah menguasai kekayaan di sebuah negeri, ia akan mengimpikan kekayaan di negeri lain. Maka, secara terus-menerus, ia akan mengejar sesuatu yang belum dimilikinya. Jadi, meski semua itu adalah khayalan dan impian yang tidak mungkin terpenuhi, api syahwat manusia tak menjadi reda dengan tercapainya suatu keinginan. Demikian pula dengan daya amarah yang telah diciptakan dalam jiwa manusia untuk sedemikian rupa memegang kekuasaan mutlak dalam satu negara dan menguasai negara lain yang belum dikuasainya. Ia akan berusaha menguasainya dengan setiap kekuatan yang dimilikinya. Semakin banyak yang dikuasai, semakin menggila amarahnya untuk terus menguasai, dan begitu seterusnya. Siapa saja yang meragukan fakta ini dapat langsung melihat pada dirinya sendiri dan segenap penduduk bumi ini, seperti para penguasa, kalangan berpengaruh, pemilik modal dan kedudukan. Pasti ia akan sepakat dengan pernyataan di atas. Kesimpulannya, manusia selalu tertarik kepada, dan asyik dengan sesuatu yang tidak dimilikinya. Ini adalah fitrah manusia yang telah diisbatkan oleh banyak syaikh besar dan ahli hikmah, khususnya guru dan syaikh kami dalam ajaran-ajaran Ilahi, Mirza Muhammad Ali Syahabadi(1). Bahkan, katakanlah manusia memang dapat mencapai seluruh keinginannya, maka kira-kira untuk berapa lama ia bisa menikmati dan memanfaatkan semua? Berapa lama kekuatan masa mudanya bertahan dalam hidupnya? Ketika masa mudanya telah lewat, hilang

p: 23


1- e Mirza Muhammad Ali Syahabadi adalah guru Imam Khomeini, yang merupakan pakar ‘irfan kontemporer-penerj.

pula energi pada organ-organnya sehingga indra perasanya akan menjadi disfungsional. Matanya akan menjadi rabun, pendengarannya akan melemah, demikian pula dengan indra-indra lainnya. Kemampuan untuk merasakan kelezatan dan kenikmatan merosot drastis atau bahkan hilang sama sekali. Lalu, penyakit-penyakit akan menggerogotinya. Fungsi-fungsi pencernaan, metabolisme, kekebalan tubuh, dan pernapasannya akan terus berkurang secara tajam. Sekujur tubuhnya tidak lagi dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Yang tersisa baginya hanyalah kekecewaan, kekesalan, dan penyesalan. Demikianlah, masa yang kita miliki untuk memanfaatkan fungsi-fungsi tubuh itu, sejak saat kita memperoleh kesadaran tentang kebaikan dan keburukan hingga merosotnya seluruh fungsi organ tubuh tidak lebih dari tiga puluh atau empat puluh tahun--sekalipun bagi orang-orang yang sehat dan bugar. Itu pun hanya terjadi jika kita dapat melawan semua penyakit dan bencana yang terus berlangsung dalam hidup kita, yang kita saksikan setiap hari tetapi kita sering lupakan. Jika suatu saat nanti, anggap saja ini benar terjadi (meskipun belum pernah), seorang manusia dapat mencapai umur seratus lima puluh tahun dengan segenap kesempurnaan daya syahwat, amarah, dan imajinasi-manipulatif (syaithanah)-nya, dan misalkan ia tidak pernah mendapat bencana atau penyakit, maka masa sepanjang itu pun akan ia rasakan sangat singkat dan lewat begitu saja bagaikan embusan angin. Lalu, apa yang tersisa untuk dirimu di alam yang akan datang? Manfaat apa saja yang akan kau reguk dari limpahan kesenangan itu untuk kehidupan abadimu? Apa yang akan menyelamatkanmu dari kengerian kiamat, ketakberdayaan, dan kesendirianmu di sana? Akan

seperti apa dirimu pada hari pengadilan dan bagaimana kau akan menghadap Tuhanmu, para malaikat, para hamba pilihan, dan para rasul-Nya? Bukankah engkau hanya berbekal perbuatan-perbuatan buruk dan tumpukan dosa yang akan mengubah bentukmu menjadi suatu bentuk yang hanya Allah yang tahu persis bagaimana hakikat-nya? Semua yang telah kau dengar tentang api neraka, siksa kubur, dan kesakitan pada hari kiamat kelak tak lain daripada perbuatan-

perbuatanmu yang bakal kausaksikan sendiri di sana. Allah berfirman

p: 24

«وَوُضِعَ الْکِتَابُ فَتَرَی الْمُجْرِمِینَ مُشْفِقِینَ مِمَّا فِیهِ وَیَقُولُونَ یَا وَیْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْکِتَابِ لَا یُغَادِرُ صَغِیرَهً وَلَا کَبِیرَهً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا یَظْلِمُ رَبُّکَ أَحَدًا (49)»

“Dan mereka akan menemukan apa yang telah mereka perbuat hadir (di hadapan mereka)....” (QS Al-Kahfi (18): 49).

Kalau engkau makan harta anak yatim dan menikmatinya, maka hanya Allah yang tahu bentuk apa yang akan menjelma sebagai akibat perbuatan itu kelak di jahanam. Dan sudah pasti bentuk itu bukanlah kenikmatan yang engkau rasakan dari memakan harta anak yatim di dunia. Hanya Allah pula yang tahu siksaan pedih apa yang akan menantimu akibat perlakuan burukmu terhadap sesama manusia di alam akhirat kelak. Pada waktu itu engkau akan memahami siksaan apa yang telah engkau persiapkan untuk dirimu sendiri ketika engkau menggunjing orang. Penjelmaan (bentuk) malakuti dari setiap perbuatan telah dipersiapkan, akan dikembalikan padamu (sebagai pelaku) dan dibangkitkan bersamamu. Ini adalah neraka perbuatan, yang relatif lembut, dingin, dan tidak terlalu berat, serta disediakan untuk mereka yang melakukan perbuatan dosa di dunia. Namun, untuk mereka yang memiliki watak keji—-seperti keserakahan, suka mendebat, kekikiran, kecintaan pada harta, kekuasaan, dan watak-watak keji lain—neraka yang akan ditempatinya tidak mungkin dibayangkan, lantaran susahnya membayangkan watak-watak yang sedemikian keji itu dalam hatiku atau hatimu. Api neraka untuk orang-orang berwatak keji ini akan muncul dari dalam diri mereka sendiri. Dan karena sedemikian panasnya api itu, sampai para penghuni neraka lainnya lari ketakutan terhadap siksaan yang diterima oleh orang-orang ini. Dalam beberapa riwayat yang sahih, diungkapkan bahwa ada satu lembah di neraka bernama saqar yang disediakan khusus untuk orang-orang yang berwatak sombong. Sekali waktu lembah ini mengeluh kepada Allah karena panas-nya yang luar biasa dan memohon kepada-Nya agar ia dapat menarik napas. Setelah permohonan itu diberikan, ia bernapas dan udara napasnya membakar Neraka Jahanam dengan api. Dalam beberapa hal, watak buruk ini dapat membuat manusia tersiksa abadi di Jahanam karena watak itu melenyapkan keimanannya. Misalnya, watak iri hati (hasad) yang menurut beberapa hadis sahih dari Imam Ja'far Al-Shadiq, “Sesungguhnya iri hati melalap iman seperti api melalap kayu." Contoh lain adalah cinta dunia, cinta

p: 25

kekuasaan, dan harta, yang-menurut sebuah hadis sahih--menghancurkan keimanan seorang manusia lebih cepat daripada (penghancuran) dua serigala atas seekor domba yang terpisahkan dari penggembalanya-yang satu menyerangnya dari depan dan yang lain dari belakang. Kita memohon kepada Allah agar pelbagai maksiat kita tidak sampai menjadi watak dan sikap yang gelap dan keji yang pada gilirannya akan menghilangkan keimanan sama sekali dan membuat seseorang mati dalam kekafiran. Neraka untuk kekafiran dan kepercayaan sesat jauh lebih panas dan lebih gelap daripada dua neraka lain yang telah disebutkan di atas (neraka dosa-dosa dan neraka watak-watak keji). Sahabatku, ilmu-ilmu transenden telah membuktikan bahwa derajat intensitas neraka tidaklah berhingga. Siksaannya lebih keras daripada yang dapat dibayangkan oleh siapa pun. Betapapun keras-nya sebuah siksaan engkau bayangkan, yang lebih keras daripada

itu adalah sesuatu yang tetap mungkin. Jika engkau belum menyimak argumen para filosof atau tidak memercayai visi mistik para arif, alhamdulillah kau adalah orang Mukmin yang meyakini ajaran para nabi dan membenarkan riwayat yang tertulis di kitab-kitab sahih yang diterima oleh seluruh ulama Imâmiyyah. Engkau juga mengakui kesahihan doa dan munajat para Imam maksum a.s. Di antaranya adalah munajat Imam 'Ali ibn Abi Thalib, Imam Sayyid Al-Sajidin(1) yang beliau ucapkan dalam doa Abu Hamzah Al-Tsumali. Sahabatku, renungkan untuk sesaat masalah-masalah yang mereka bicarakan dan berpikirlah sesaat tentang kata-kata di dalamnya. Tidak ada gunanya membaca cepat doa-doa yang panjang tanpa merenungi maknanya. Engkau dan aku tidak dikaruniai maqâm (kedudukan) ruhaniah setinggi Al-Imam Al-Sayyid Al-Sajjad untuk mampu mengucapkan doa panjang itu secara langsung dalam keadaan yang merindukan terus-menerus, Cobalah baca sepertiga atau seperempat dari doa itu setiap malam dengan perasaan dan renungi kalimat-kalimatnya. Kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Selain itu, perhatikan makna ayat-ayat

p: 26


1- {Yaitu Imam 'Ali Zainal Abidin—penerj.

Al-Quran dengan sedikit lebih cermat dan lihatlah hukuman apa yang disediakan untuk para penghuni neraka, yang ingin lepas dari siksaan itu dengan memohon kematian kepada Allah, tetapi bahkan kematian itu tidak akan membantunya. Dalam Al-Quran, penyesalan orang-orang itu diungkapkan sebagai berikut:

«أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ یَا حَسْرَتَا عَلَی مَا فَرَّطْتُ فِی جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ کُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِینَ (56)»

... Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedangkan aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolokkan (agama Allah). (QS Al-Zumar (39): 56)

Betapa dalamnya rasa sesal yang terungkap dalam ayat di atas? Bacalah ayat-ayat berikut dengan renungan dan penghayatan:

«یَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ کُلُّ مُرْضِعَهٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ کُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَی النَّاسَ سُکَارَی وَمَا هُمْ بِسُکَارَی وَلَکِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِیدٌ (2)»

Ingatlah pada hari ketika kamu melihat keguncangan itu, (sehingga) lalai semua wanita yang menyusui anaknya akan anak yang disusuinya, gugur kandungan semua wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk. Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras. (QS Al-Hajj (22): 2)

Sungguh, pikirkan baik-baik wahai Saudaraku! Al-Quran jelas semoga Allah mengampuni kita—bukan buku dongeng dan bukan buku yang sedang bergurau denganmu. Perhatikan apa yang dinyata-kannya ... Siksaan apa kira-kira yang disebut oleh Allah Yang Maha kuasa, Mahaagung, dan Mahaperkasa dengan ungkapan sangat keras itu. Apa yang akan terjadi, hanya Allah yang tahu. Akal kita dan akal semua manusia tidak akan mampu mengukur kedahsyatan siksaan itu. Jika kita mempelajari dan merenungkan riwayat-riwayat dan ujaran-ujaran para Imam Ahl Al-Bait, kita akan melihat bahwa penderitaan dan kesengsaraan di alam itu berbeda sama sekali dengan dunia ini dan tidak dapat disamakan dengan kemalangan dunia ini. Kini, saya ingin mengutip sebuah riwayat dari Syaikh Al-Shaduq untuk menunjukkan makna dan tingkat penderitaan yang disebutkan di atas, meskipun riwayat ini sebetulnya berbicara tentang neraka untuk perbuatan buruk yang paling dingin dibandingkan dengan neraka-neraka lainnya. Saya kira penting untuk saya katakan bahwa Syaikh Al-Shaduq adalah orang yang amat dihargai dan dihormati oleh seluruh ulama yang mempelajari rijal(1). Dia lahir setelah didoa-

p: 27


1- g Rijal atau rijal al-hadits adalah salah satu cabang ‘ulûm al-hadits (ilmu-ilmu hadis) yang mempelajari biografi para perawi hadis-penerj.

kan oleh Imam Mahdi a.s., dan termasuk orang yang bernasib baik menerima pelbagai kebaikan Imam Mahdi a.s.—semoga Allah mempercepat kemunculannya. Saya mengutip hadis ini dengan bersandar kepada pelbagai sanad yang bersambung kepada Syaikh Al-Shaduq melalui para ulama Imâmiyyah yang dianggap sebagai perawi-perawi hadis yang kredibel. Dengan demikian, patutlah engkau memerhatikan hadis berikut:

Pada suatu hari, Rasulullah Saw. sedang duduk ketika Jibril menemuinya dengan wajah yang sedih dan murung. Rasul Saw. bertanya mengapa ia tampak begitu sedih. Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, bagaimana mungkin aku tidak murung karena hari ini aku melihat alat-alat penyembur api neraka telah dipersiapkan." Rasul Saw. bertanya, “Apakah alat-alat penyembur api neraka itu?" Jibril berkata kepada beliau bahwa Allah memerintahkan neraka untuk membakar alat-alat itu selama seribu tahun hingga merah membara. Setelah itu, Allah memerintahkannya untuk membakarnya lagi selama seribu tahun hingga memutih panas. Lalu, Allah memerintahkannya untuk membakarnya selama seribu tahun lagi hingga menjadi hitam legam. Setelah alat-alat itu menghitarn dan gelap, jika sebagian sangat kecil darinya diteteskan ke dunia ini, panasnya akan dapat melelehkan seluruh dunia. Jika setetes dari zaqqum (sebuah pohon di neraka, yang disebutkan dalam Al-Quran untuk mengungkapkan kepahitannya) dan dharî(suatu ber.da di neraka yang lebih pahit daripada pohon gaharu, lebih busuk daripada bangkai, dan lebih panas daripada api, yang akan menjadi makanan orang-orang yang terkutuk) menetes di sumber air bumi, setiap orang akan mati karena busuknya. Setelah itu, Rasul Saw. menangis dan Jibril ikut menangis dengan beliau. Melihat itu, Allah mengutus malaikat lain untuk menemui mereka dan berkata bahwa Allah mengirimkan salam bagi keduanya bersama pesan bahwa Dia menghindarkan keduanya dari melakukan perbuatan dosa dan hukuman yang menyertainya.

Sahabatku, ada banyak hadis lain serupa itu. Adanya neraka dan siksaannya yang mengerikan adalah salah satu pokok ajaran semua agama dan telah terbukti melalui berbagai argumen tentang kemestiannya. Para arif dan wali bahkan telah menyaksikannya di dunia ini.

p: 28

Coba bayangkan dengan sungguh-sungguh pembahasan yang menakutkan mengenai neraka dalam hadis tersebut. Kalau pun engkau hanya menganggapnya sebagai kemungkinan, tidakkah itu cukup untuk membuat kita lari terbirit-birit karena ketakutan? Apakah alasannya sehingga engkau begitu lalai dan abai terhadapnya? Apakah para malaikat Allah telah memberi kita keringanan dengan menghapuskan siksaan itu seperti yang telah diberikan kepada Rasulullah Saw.? Sementara para rasul dan wali Allah tidak dapat melupakan ketakutan kepada Allah hingga akhir hidupnya. Mereka tidak dapat hidup, makan, dan tidur nyaman karena rasa takut itu. Lihatlah kehidupan Imam 'Ali ibn Husain, seorang Imam maksum, yang ratapan, keluhan, dan munajatnya meluluhkan hati setiap manusia. Apa yang salah pada kita sehingga kita tidak merasa malu? Bahkan di hadapan kehadiran Ilahi, kita melanggar demikian banyak aturanNya—seribu celaka bagi kelalaian kita! Kasihanilah dirimu sendiri dan ingatlah kepedihan luar biasa saat menjelang kematian. Sekali lagi, seribu kemalangan bagi kita di alam barzakh, kesengsaraan di akhirat, dan kegelapan hari kiamat! Betapa celaka kita di neraka beserta seluruh siksaannya yang mengerikan!

Cara Menyembuhkan Penyakit Moral

Sahabatku, bangun dan bangkitlah dari tidur nyenyak ini! Waspadalah dan berusahalah selama masih ada waktu untuk bertobat. Pandanglah kesempatan ini sebagai kesempatan yang amat berharga, selama kau masih hidup, selama anggota-anggota tubuh dan kekuat- anmu masih ada di bawah kendalimu, dan kau masih muda. Berpikirlah untuk menyembuhkannya sebelum terlambat dan sebelum penyakit-penyakit moral menguasai eksistensimu, watak-watak buruk mengakar dalam eksistensimu dan menjeratmu dengan cakar-cakarnya. Usirlah semua itu dan temukan cara untuk meredakan api syahwat dan amarahmu.

Obat terbaik yang dianjurkan oleh para pesuluk dan pakar akhlak adalah memusatkan perhatianmu pada masing-masing watak buruk yang kaudapati ada dalam dirimu dan bertekad bulat untuk melawannya selama-lamanya. Bertindaklah tanpa kenal lelah untuk

p: 29

menepis semua keinginan dan tuntutan yang didesakkan oleh semua watak keji dan hina itu. Mintalah kepada Allah untuk membantumu dalam pertempuran ini, niscaya dalam beberapa saat semua sikap buruk akan meninggalkanmu dan setan beserta pasukannya akan kabur dari benteng ini. Kemudian, pasukan Allah yang Maha Pengasih akan menduduki posisi mereka. Sebagai contoh, salah satu penyakit moral yang dapat menghancurkan manusia, menyebabkan kesempitan alam kubur dan membuat manusia tersiksa dunia-akhirat adalah perlakuan buruk atas keluarga, tetangga, kawan-kawan, dan orang-orang dekat. Sikap ini merupakan

akibat dari amarah dan syahwat. Jika seorang mujahid telah bertekad untuk memperbaiki dan meninggikan derajatnya, manakala menghadapi kejadian pahit yang membakar api amarah dalam batinnya untuk bertindak kejam dan berbicara kasar, ia mesti melawan dorongan itu dengan berlaku lemah-lembut dan mengingat akibat buruk dari tindakan seperti itu. Ia harus mengutuk setan dalam hatinya dan berlindung kepada Allah.

Aku berjanji kepadamu, jika engkau bersikap seperti ini dengan terus-menerus, setelah beberapa waktu, kau akan mendapati dirimu telah berubah total dan kebiasaan-kebiasaan baik akan menggantikan kebiasaan-kebiasaan buruk di alam batinmu. Namun, jika engkau bersikap sesuai dengan kecondongan egomu, amatlah mungkin bahwa ia akan melahap dirimu di dunia ini. Aku berlindung kepada Allah dari amarah yang dalam satu saat menghancurkan manusia di dunia

dan akhirat. Amarah ini bahkan bisa menyorongmu untuk-semoga Allah menjaga kita—membunuh seseorang. Mungkin juga dalam keadaan marah itu seseorang akan nekat melawan undang-undang Ilahi, sebagaimana sering kita lihat adanya sebagian orang yang karena marah berani murtad dari agama. Para ahli hikmah mengatakan bahwa kemungkinan selamat dari amukan badai laut dalam kapal yang tidak memiliki nakhoda jauh lebih besar daripada kemungkinan selamatnya seorang manusia yang terperangkap oleh amarahnya. Contoh lainnya, bila engkau adalah orang yang suka berdebat kusir dalam forum diskusi ilmiah, seperti lazimnya kita para pelajar agama, sekali-kali bertindaklah yang berlawanan dengan keinginan

p: 30

dirimu (untuk terus berdebat). Dalam suatu diskusi, jika kau melihat bahwa pihak lain berkata benar, akuilah kesalahanmu dan benarkan pendapatnya. Dalam banyak kasus, dengan cara seperti di atas, kebiasaan hina ini akan segera hilang dari dirimu. Beberapa ulama yang konon telah mendapat mukâsyafah berkata

bahwa pertengkaran di antara para penghuni neraka yang diberitakan oleh Allah tidak lain dari (penjelmaan) debat kusir antara para pakar ilmu dan wacana--semoga Allah menjauhkan kita dari termasuk dalam golongan itu. Jika seseorang memberikan kemungkinan bagi kebenaran pernyataan di atas, ia mesti berupaya keras untuk menghilangkan perilaku itu. Perhatikan hadis berikut:

Diriwayatkan dari sejumlah sahabat bahwa sekali waktu Rasul Saw. datang kepada mereka ketika mereka sedang berdebat keras tentang suatu masalah agama. Rasul Saw. marah sekali dan belum pernah beliau semarah itu. Rasul Saw, berkata kepada mereka bahwa para umat terdahulu hancur karena masalah ini. Lalu beliau menambahkan, “Tinggalkan debat kusir (mirâ') sebab seorang Mukmin tidak berdebat kusir. Tinggalkan debat kusir sebab pelakunya akan merugi besar. Tinggalkan debat kusir sebab pelakunya tidak akan aku beri syafaat kepadanya di hari kiamat kelak. Tinggalkan debat kusir sebab aku akan berada di taman, di tengah-tengah, dan di atas surga orang yang meninggalkan debat kusir meskipun ia berkata benar dalam ucapannya. Tinggalkanlah debat kusir sebab ia adalah hal kedua setelah penyembahan berhala yang dilarang Allah untuk dikerjakan manusia.” Rasul Saw. juga bersabda, “Tidak akan sempurna hakikat keimanan seseorang kecuali ia meninggalkan perdebatan walaupun ia dalam kebenaran." Ada banyak hadis lain sehubungan dengan masalah di atas. Betapa buruk nasib manusia yang kehilangan syafaat Baginda Rasul Saw. hanya karena kemenangan kecil yang tak berarti dan bernilai apa-apa. Betapa buruknya bila diskusi intelektual-yang sebetulnya dapat menjadi bentuk ibadah tingkat tertinggi jika dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh-berubah menjadi salah satu maksiat terbesar yang berada setingkat di bawah penyembahan berhala lantaran perdebatan kusir.

p: 31

Walhasil, manusia harus memusatkan perhatiannya pada masing-masing sifat buruknya dan melawannya habis-habisan agar dapat lenyap dari kerajaan ruhnya. Sekali şifat yang sebenarnya asing bagi jiwa manusia itu terusir, penghuninya yang sah akan siap untuk selamanya tanpa susah-susah.

Kesimpulan

Bila jihad melawan diri selesai di tahap ini dan manusia berhasil mengusir pasukan iblis dari kerajaan jiwanya sehingga ia menjadi tempat bermukimnya para malaikat Allah dan tempat ibadah para hamba Allah yang salih, maka suluk menuju Allah akan menjadi mudah dan jalan-lurus kemanusiaan akan menjadi terang. Pintu-pintu berkah dan surga akan terbuka baginya, dan manusia akan terhindar untuk memasuki pintu-pintu neraka dan jurang-jurang (kejatuhan). Allah Yang Mahakuasa akan memandang orang ini dengan belas kasih dan rahmat, sehingga ia dapat melaju mulus di jalan hamba-hambaNya yang beriman. Ia akan masuk dalam golongan orang yang berbahagia dan ashhab al-yamîn sehingga pintu makrifat Ilahi akan dibukakan untuknya, sebuah pintu yang menjadi tujuan puncak penciptaan manusia dan jin. Akhirnya, Allah akan langsung membimbingnya di jalan penuh dengan bahaya ini.

Sebetulnya saya ingin pula membahas derajat ketiga dari jiwa, cara melakukan jihad di situ, dan jenis-jenis tipuan iblis dan pasukan- nya di tahap tersebut. Namun, setelah saya pikir-pikir kembali, penja-baran masalah ini tampaknya tidak tepat di sini. Saya memohon agar Allah sudi memberi taufik saya untuk dapat menuliskan risalah khusus menyangkut pokok masalah tersebut.[]

p: 32

2 Hadis tentang Riya'

Point

بالسّند المتّصل إلی محمّد بن یعقوب، عن علیّ بن إبراهیم، عن أبیه، عن أبی المغرا، عن یزید بن خلیفه، قال: قال أبو عبد الله، علیه السّلام: کلّ ریاء شرک. إنّه من عمل للنّاس کان ثوابه علی النّاس، و من عمل لله کان ثوابه علی الله.

Yazid ibn Khalifah meriwayatkan dari Imam Al-Shadiq bahwa Imam berkata, “Riya' (ria) dalam segala bentuknya adalah syirik. Sesungguhnya orang yang berbuat sesuatu demi manusia balasannya ada pada manusia dan orang yang berbuat demi Allah balasannya ada pada Allah.(1)

Riya' adalah tindakan menampakkan atau menonjolkan amal-amal saleh, sifat-sifat terpuji atau akidah yang benar demi memperoleh kekaguman dalam hati orang banyak dan dikenal di antara mereka sebagai orang baik, mustaqim (orang yang lurus), jujur, dan taat, tanpa niat untuk Allah yang sejati. Hal ini dapat berlangsung dalam beberapa tahap:

Tahap pertama adalah ria dalam keimanan yang terdiri atas dua derajat:

(1) Pada derajat pertama, seorang manusia memamerkan akidah yang benar dan mempertontonkan makrifat Ilahi dengan tujuan untuk mengesankan dirinya sebagai orang yang taat di mata manusia dan untuk memperoleh penghargaan dari mereka. Manusia seperti itu ingin memamerkan kepercayaannya kepada Allah dan kekuasaan-Nya dengan berkata bahwa ia tidak memercayai adanya wujud lain selain Allah. Ia juga mencoba menunjukkan bahwa dirinya adalah

p: 33


1- 1. Ushûl Al-Kafi, jilid 2, h. 402.

seorang Mukmin yang teguh dengan menyatakan bahwa ia hanya bergantung kepada Allah. Atau, orang itu, dengan perbuatan dan ucapannya, menampilkan dirinya sebagai pengikut setia agama. Semua ini adalah jenis ria yang paling umum terjadi. Sebagai contoh, ketika sedang ada pembicaraan tentang tawakal dan kerelaan pada qadha' Allah, ia mengangguk-anggukkan kepalanya untuk mengesankan kepada orang bahwa ia berada dalam golongan orang-orang yang seperti itu.

(2) Derajat kedua dalam ria tampak pada orang-orang yang membersihkan dirinya dari akidah-akidah yang batil untuk memperoleh kedudukan dan penghargaan dari masyarakat. Terkadang mereka menunjukkannya secara eksplisit dan terkadang juga secara tersembunyi dan implisit.

Tahap kedua adalah ria dalam perbuatan, yang juga terdiri atas dua derajat: pertama, memperlihatkan sikap-sikap baik dan watak- watak luhur; dan kedua, membersihkan dirinya dari sikap-sikap dan watak-watak buruk serta berujar bahwa dirinya telah terbebas dari seluruh sifat buruk itu untuk tujuan-tujuan yang sama dengan diatas.

Tahap ketiga adalan ria dalam ibadah, yang dianggap oleh para ahli fiqih (fuqaha') sebagai ria yang paling jelas, yang juga terdiri atas dua aspek: pertama, ditandai dengan penampilan terang-terangan dalam melakukan shalat dan perbuatan-perbuatan baik di hadapan orang lain, dengan maksud menunjukkan sifat-sifat baik dan kebiasaan-kebiasaan yang patut dipuji. Atau, dengan menunjukkan dirinya sebagai orang yang benar-benar mengikuti perintah-perintah agama dan sikap-sikap rasional untuk menarik hati masyarakat kepada dirinya. Semua perbuatan yang dilakukan dengan motif menyenangkan orang lain, sebagaimana dibahas dalam buku-buku fiqih, termasuk dalam ria (pamer); kedua, meninggalkan perbuatan haram atau makruh dengan motif ria.

Tahap Pertama: Ria dalam Keimanan

Point

Ingatlah bahwa ria dalam akidah adalah yang terburuk dari seluruh jenis ria; siksaannya paling keras, akibat buruknya paling berat, dan kegelapan yang ditimbulkannya juga paling besar. Orang yang mela-

p: 34

kukan dosa ini, jika ia tidak benar-benar memercayai perkara yang ditampakkannya, dianggap sebagai munafik yang akan tinggal selama-lamanya di neraka, terkutuk secara abadi dan disiksa dengan hukuman yang paling keras. Namun, jika ia memercayainya tetapi ia memamerkannya untuk menarik hati orang dan memperoleh kehormatan, perilaku ini akan meredupkan cahaya keimanannya dan memunculkan kegelapan kufur dalam hatinya. Dalam hal ini, ia telah melakukan

syirik yang tersembunyi, lantaran makrifat Ilahi dan akidah lurus yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah justru ia sekutukan dengan selain-Nya dan menjadikan iblis dapat mengintervensi hati manusia ini yang semestinya berpusat kepada Allah semata. Pada bahasan-bahasan selanjutnya, kita akan menyebutkan bahwa keimanan merupakan tindakan hati ('amal qalbi) dan bukan sekadar pengetahuan akal. Dalam hadis di atas, dikatakan bahwa setiap bentuk ria adalah syirik. Akan tetapi, sifat buruk, perangai gelap, dan watak hina ini pada akhirnya akan menyebabkan hati seseorang menjadi tempat yang khusus bagi selain Allah dan kegelapan watak hina ini akan mengantarkan pemiliknya meninggal dunia sebagai orang yang tak beriman kepada Allah.

Keimanan pura-pura yang dimiliki seseorang tidak lebih dari bentuk tanpa substansi, tubuh tanpa jiwa, dan kulit tanpa isi; dan ini sama sekali tidak dapat diterima oleh Allah. Hal itu dikukuhkan oleh sebuah hadis dalam Al-Kâfi yang diriwayatkan oleh ‘Ali ibn Salim: Perawi hadis ini berkata bahwa ia mendengar Imam Al-Shadiq

berkata bahwa Allah berfirman, “Akulah sebaik-baik sekutu! Siapa saja yang mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka perbuatannya tidak akan Aku terima. Aku hanya menerima perbuatan yang tulus-ikhlas untuk-Ku.(1) Dengan demikian, jelas bahwa jika tindakan hati tidak dilakukan dengan keikhlasan, tindakan itu tidak akan diperhatikan oleh Allah dan tidak akan diterima-Nya, melainkan akan diserahkan kepada sekutu lain itu—yaitu orang yang dituju oleh perbuatan-perbuatan ria tersebut. Dengan demikian, perbuatan hati yang dilakukan untuk manusia lain dan bukan untuk Allah akan melewati batas syirik dan memasuki wilayah kekafiran (pembangkangan pada kebenaran). Bahkan, dapat

p: 35


1- 2. Ibid., jilid 2, h. 450.

dikatakan bahwa orang yang melaksanakan perbuatan itu akan diperlakukan sebagai seorang munafik. Sebagaimana tingkat syirik di atas disebut sebagai tersembunyi (khafi), demikian pula kemunafikannya pun tersembunyi. Maka dari itu, ia mula-mula menganggap dirinya sebagai seorang Mukmin, padahal nyatanya sejak awal ia adalah seorang musyrik dan berakhir sebagai munafik. Pada saatnya kelak, ia akan merasakan siksaan yang disediakan bagi kaum munafik. Celakalah orang yang berakhir dengan nifâq (kemunafikan).

Perbedaan antara Pengetahuan dan Keimanan

Ketahuilah bahwa keimanan berbeda dengan pengetahuan tentang Allah, keesaan Wujud-Nya, dan Sifat-Sifat-Nya--seperti sifat al-kamâliyyah (kesempurnaan), al-jalaliyyah (keagungan), atau sifat-sifat-Nya yang lain—pengetahuan tentang malaikat, kitab-kitab suci, dan hari akhir. Orang yang memiliki pengetahuan tentang semua itu tidak lantas menjadi Mukmin. Iblis memiliki pengetahuan tentang semua itu lebih daripada saya dan engkau atau manusia pada umumnya, tetapi ia tetap tidak beriman. Keimanan adalah tindakan hati; jika tidak masuk dalam hati, pengetahuan tidak bisa disebut sebagai ke- imanan. Setiap orang yang telah mengetahui suatu prinsip melalui metode rasional harus mengantarkan pengetahuannya itu ke dalam hatinya, dan menjadikannya sebagai tindakan hati berupa kepasrahan

(taslîm) atau ketundukan serta penerimaan dan penyerahan-diri (istislâm). Hanya dengan demikianlah seseorang menjadi Mukmin. Puncak dari keimanan ini adalah ketenteraman (ithmi'nân). Bilamana cahaya keimanan menguat, hatinya pun menjadi tenteram dan mantap. Dan semua pengaruh ini tidak muncul dari pengetahuan. Sebab, mungkin saja akal mengenal sesuatu dengan argumen, tetapi hatinya tidak tunduk kepadanya sehingga pengetahuan itu menjadi sia-sia. Sebagai contoh, kalian semua mengetahui secara akal bahwa mayat tidak dapat membahayakan kalian dan bahwa semua orang mati di dunia ini tidak memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu, bahkan ia tak mampu melakukan gerakan seekor lalat, dan bahwa semua daya jasmaniah dan ruhaniah mayat telah hilang semuanya.

p: 36

Akan tetapi, karena hati kalian tidak menerimanya dan tidak menyetujui penilaian akal itu, kalian tetap tidak berani melewatkan semalam suntuk dengan sesosok mayat. Sebaliknya, jika hati kalian bersepakat dan menerima penilaian akal itu, tugas tidur semalaman bersama mayat itu tidak akan sulit bagi kalian. Bahkan, setelah beberapa kali melakukannya, hati kalian akan menjadi benar-benar tunduk dan tidak akan ada lagi rasa takut atau ngeri berhadapan dengan mayat.

Oleh karena itu, jelas bahwa ketundukan yang merupakan tindakan hati berbeda sama sekali dengan pengetahuan yang merupakan tindakan akal. Mungkin saja seseorang dapat membuktikan secara logis kemaujudan Allah, hari akhir, dan pelbagai butir akidah lurus lainnya, tetapi semua itu tidak lantas dapat dianggap sebagai keimanan dan orang itu juga tidak dapat dianggap sebagai Mukmin. Bahkan, mungkin saja ia malah tergolong sebagai kafir, munafik, atau musyrik.

Saat ini mata kita tertutup dan pandangan gaib (al-bashirah al-malakütiyyah) kita tersekat. Akan tetapi, pada saat yang tersembunyi disingkapkan, kerajaan Ilahi hakiki ditampakkan, dunia lahiriah dimusnahkan, dan kebenaran dibukakan, kalian akan menyadari bahwa banyak orang yang tidak memiliki keimanan sejati kepada

Allah dan penilaian rasional mereka tidak sampai menjadi keimanan. Sebelum kalimat la ilaha illâ Allâh (tidak ada tuhan selain Allah) tertulis dengan tinta akal dalam lembaran hati yang putih-bersih, manusia tidak akan beriman pada keesaan Allah. Ketika kalimat nurani Ilahi itu tergores dalam hati, dengan sendirinya hati akan menjadi tempat bagi kerajaan Zat Yang Mahakuasa. Hanya setelah itulah manusia tidak lagi melihat maujud yang berpengaruh di alam raya selain Allah.

la tidak lagi mengharapkan kedudukan atau kemuliaan apa pun dari sesama manusia. Ia juga tidak akan lagi mengejar kemasyhuran dan kehormatan di sisi orang kebanyakan. Hati orang ini tidak akan menjadi ria dan manipulatif.

Oleh karena itu, jika kalian melihat ria dalam hati kalian, sadarilah bahwa hati kalian belum sepenuhnya tunduk pada (ajaran-ajaran) akal dan keimanan belum bersinar di hati kalian. Jika kalian menganggap makhluk lain sebagai tuhan atau sebagai maujud yang berdaya memengaruhi peristiwa di dunia ini sehingga kau tidak meyakini

p: 37

Al-Haqq sebagai satu-satunya yang Faktor, itu berarti kalian telah bergabung dengan kelompok orang-orang munafik, musyrik, atau kafir.

Akibat-Akibat Buruk dari Ria

Wahai, kalian yang telah menyerah kepada ria, yang telah memercayakan keimananmu dan pemahaman agamamu di bawah perlindungan musuh Allah, iblis, dan telah memberikan kepada manusia lain apa yang menjadi hak khusus Allah, engkau telah menukar cahaya-yang akan menerangi hati dan ruhmu, dan yang terbukti sebagai sumber penyelamat dan kebahagiaan abadimu, yang akan menganugerahimu dengan pandangan cemerlang dan memberimu kedekatan kepada Allah—dengan kegelapan malapetaka abadi yang menakutkan. Engkau telah kehilangan harta karun alam yang lain, mengucilkan dirimu dari jalan Sang Kekasih yang paling suci, dan memusnahkan pandangan terhadap Zat Yang Tertinggi. Bersiaplah untuk menerima kegelapan yang tidak akan diikuti oleh seberkas sinar pun, kehinaan

yang tidak dapat kaulepaskan, penyakit yang tidak tersembuhkan, kematian yang sesudahnya tidak ada kehidupan, dan api yang dinyalakan dari dalam lubuk hati yang membakar seluruh wilayah ruh serta jasadmu. Kita tidak niampu memahami atau membayangkan panasnya api itu, sebagaimana telah dinyatakan oleh Allah dalam kitab suci-Nya:

«الَّتِی تَطَّلِعُ عَلَی الْأَفْئِدَهِ » «نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَهُ »

... (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati. (QS Al-Humazah (104]: 6-7)

Api yang dinyalakan oleh Allah akan membakar hatimu pula. Tidak ada api yang dapat membakar hati kecuali api yang menyala di neraka. Jika fitrah tauhid—yang merupakan fitrah (pola penciptaan) Allah dalam diri manusia-diabaikan dan digantikan dengan kemusyrikan dan kekafiran, tidak ada syafaat dari siapa pun yang

dapat menyentuhnya, dan manusia akan mengalami penderitaan abadi. Hukuman macam apakah ini? Inilah akibat dari kemurkaan Allah. Oleh karena itu, wahai Sahabatku, janganlah kaujadikan dirimu sasaran kemurkaan Allah-hanya demi kemasyhuran khayali yang tidak bermakna di mata makhluk-makhluk Allah yang lemah, dan

p: 38

demi perhatian yang tidak berharga dari manusia yang tanpa daya. Janganlah kau menukar rahmat Allah yang tidak berhingga dengan kemasyhuran di antara manusia, yang bahkan tidak berguna dan tidak berlaku lama serta darinya kau tidak akan mendapat manfaat apa-apa, tetapi justru mengundang rasa sesal yang luar biasa. Dan, ketika hubunganmu dengan dunia khayali yang penuh tipu daya ini terputuskan, sedangkan kau tidak lagi dapat berbuat apa-apa, rasa sesal dan penderitaan tidak akan berguna lagi.

Nasihat Ilmiah untuk Menghilangkan Penyakit Ria

Apa yang akan saya sebutkan di sini semoga secara efektif dapat menyembuhkan penyakit hati pada tahap ini atau tahap-tahap selanjutnya. Hal itu juga dapat dirujukkan pada akal setiap orang maupun kebenaran wahyu dan hadis para ma'shûmîn(1). Allah Yang Mahakuasa dengan seluruh kekuatan-Nya yang meliputi segala sesuatu mengatur seluruh maujud alam semesta dan mengendalikan hati seluruh hamba-Nya karena tidak sesuatu pun yang berada di luar jangkauan kekuasaan-

Nya dan berada di luar wilayah kerajaan-Nya; dan tidak seorang pun dapat menempati hati seorang manusia tanpa seizin-Nya dan kehendak-Nya. Bahkan, para ahli hati juga tidak memiliki kendali atas hati mereka tanpa seizin Zat Yang Mahakuasa. Kenyataan ini diungkapkan secara tersurat maupun tersirat dalam Al-Quran dan

Sunnah Rasul Saw. Karena itu, Allah adalah Zat yang secara sejati memilik hati manusia dan berkuasa penuh atasnya. Dan engkau, wahai hamba yang lemah dan tidak berdaya, tidak akan bisa menguasai hatimu sendiri tanpa izin-Nya. Kehendak-Nya berada di atas kehendak diri kita maupun kehendak seluruh makhluk lain. Oleh karena itu, ria dan manipulasimu, jika dimaksudkan sebagai cara untuk menarik hati hamba-hamba Allah dan memperoleh penghargaan atau penghormatan

mereka, ketahuilah bahwa itu tidak akan membuahkan hasil karena semua berada di luar kendalimu dan berada di bawah kekuasaan-

p: 39


1- a Ma'shûmîn adalah orang-orang yang ma'shûm (terbebas dari kesalahan) dan yang dimaksud di sini adalah 12 Imam kaum Syi'ah Itsnâ 'Asyariyyah-pener.

Nya semata. Dialah Pemilik dan Pengatur setiap hati. Dia menjadikan hati manusia sebagai tempat bersemayamnya cinta kepada siapa pun yang Dia kehendaki-Nya. Mungkin sekali perbuatanmu membuahkan hasil yang bertentangan dengan keinginanmu. Perhatikanlah apa yang telah kami katakan tentang para munafik yang bermuka-dua, yang hatinya tidak bersih. Pada akhirnya mereka akan terkutuk dan apa pun yang mereka inginkan tidak dapat mereka peroleh, malah sesuatu yang tidak disukainya akan terjadi padanya. Hadis berikut dari Al-Kâfî menunjukkan kenyataan yang sama pula: Dari Jarrah Al-Madaini yang meriwayatkan bahwa dia bertanya kepada Imam Al-Shadiq tentang ucapan Allah berikut, “Siapa pun yang ingin bertemu Allah, ia harus melakukan perbuatan baik dan tidak menyekutukan Allah dalam ibadahnya." Imam Al-Shadiq berkata, “Seseorang yang melakukan perbuatan baik bukan untuk Allah dan perbuatannya dilakukan hanya agar ia dianggap sebagai orang suci dan saleh serta mengharapkan orang lain mengetahui perbuatannya, orar.g seperti itu dianggap sebagai seorang musyrik yang menyekutukan Allah.” Lalu dia menambahkan, “Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menyembunyikan perbuatan baik-nya dan dalam perjalanan waktu Allah tidak menyebarkannya. Dan, tidak seorang pun di dunia ini yang dapat menyembunyikan perbuatan jahat selamanya karena perbuatan-perbuatan itu akan disingkapkan oleh Allah sebelum ia meninggalkar. dunia ini.(1) Oleh karena itu, hai Sahabatku, carilah reputasi dan nama baik di hadapan Allah. Cobalah menarik hati makhluk dengan pertama kali menyenangkan Pemilik semua hati. Bekerjalah demi Allah semata-mata, maka Allah Yang Mahakuasa, selain akan mencurahkan pelbagai rahmat dan kemuliaan ukhrawi, Dia juga akan memberikan pelbagai kemuliaan kepadamu di dunia ini dan menjadikanmu dicintai oleh para hamba-Nya. Dia akan meninggikan kedudukanmu dan mengangkatmu di kedua alam sekaligus. Satu-satunya yang harus kaukerjakan adalah mengikhlaskan hatimu sepenuhnya untuk berjihad dan bersusah payah dan menyucikan batinmu sehingga segala perbuatanmu akan menjadi suci dan tidak tercemar oleh rasa cinta dunia atau benci kepada sesamamu. Hadapkanlah wajahmu semata-mata kepada Allah, beningkan ruhmu, dan hilangkan noda-noda ego dari dirimu.

p: 40


1- 3. Ibid., jilid 2, h. 453.

Apakah gunanya rasa cinta atau rasa benci hamba-hamba yang lemah, atau apakah manfaatnya memperoleh kemasyhuran dan penghargaan di mata para makhluk yang tak mampu berbuat apa-apa? Kalau-pun ada manfaatnya, itu pun pastilah manfaat kecil yang berumur pendek. Mungkin saja keinginan ini justru akan membawamu untuk berbuat ria dan semoga Allah menghindarkan kita—mengubahmu menjadi musyrik, munafik, atau kafir. Jika kau tidak terhinakan di dunia ini, kau pasti akan terhina di alam akan datang di hadapan keadilan Ilahi, di hadapan para hamba-Nya yang saleh, para nabi yang mulia, dan para malaikat-Nya yang terdekat. Engkau akan dihinakan dan dibuat tak berdaya. Itulah kehinaan di hari itu, dan tahukan engkau apakah kehinaan di hari itu? Hanya Allah yang tahu

kegelapan macam apa yang akan menyertai kehinaan hari itu. Inilah hari yang dikatakan oleh Allah sebagai ... dan orang-orang kafir akan berkata,

«إِنَّا أَنْذَرْنَاکُمْ عَذَابًا قَرِیبًا یَوْمَ یَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ یَدَاهُ وَیَقُولُ الْکَافِرُ یَا لَیْتَنِی کُنْتُ تُرَابًا (40)» “Seandainya saja dahulu aku adalah debu” (QS Al-Naba' (78):40).

Akan tetapi, tentu saja angan-angan itu tidak akan ada gunanya. Wahai Sahabatku yang malang, hanya demi cinta yang remeh dan kedudukan yang tidak bermanfaat di mata para makhluk, engkau lewatkan semua kemuliaan di sisi Allah dan kehilangan keridhaan-Nya dan membangkitkan murka-Nya.

Perbuatan-perbuatan yang sebetulnya dapat memberimu semua kemuliaan dari Allah, kehidupan bahagia yang abadi, dan memberimu maqâm tertinggi di surga 'illiyyîn telah kaugantikan dengan kegelapan syirik dan nifâq, dan kelak semua itu akan menyebabkan penyesalan, siksaan yang paling pedih, dan mengubah dirimu sebagai penghuni sijjînî (neraka yang paling dasar). Dalam Al-Kafi, ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq bahwa Rasul Saw. bersabda, "Sesungguhnya ketika malaikat Allah dengan suka cita sedang membawa perbuatan baik manusia ke surga tertinggi, Allah memerintahkannya untuk membawa perbuatan-perbuatan itu ke sijjîn karena perbuatan tersebut tidak diperuntukkan bagi Allah semata.(1) Engkau dan aku tidak dapat membayangkan apakah sijjîn itu; dan kau tidak dapat menduga apa yang akan ditimpakan kepada para pendosa di

p: 41


1- 4. Ibid., jilid 2, bab tentang riyâ'.

sana. Dan sekali kita ditempatkan di sana, kita tidak lagi dapat keluar karena segala sarana tobat telah diputuskan. Bangunlah, Sahabatku! Singkirkan ecerobohanmu dan timbanglah perbuatanmu dengan akal, sebelum ditimbang di alam lain. Bersihkan cermin hatimu dari debu syirik dan nifâq. Jangan kaubiarkan debu syirik dan kufr mengotori cermin hatimu sehingga tidak mungkin lagi dibersihkan dengan api dunia yang akan datang sekalipun. Jangan biarkan cahaya fitrahmu berubah menjadi kesuraman kufr. Jangan menjadi penghianat bagi dirimu sendiri dan jangan hancurkan amanah yang telah diberikan Allah kepadamu, ketika Dia menga

takan:«..... فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِی فَطَرَ النَّاسَ عَلَیْهَا َ (30)» ... fitrah Allah yang dengannya Dia menciptakan manusia ... (QSAl-Rûm (30: 30)

Ajakan untuk Ikhlas dalam Berbuat

Oleh karena itu, gosoklah cermin hatimu agar cahaya kebesaran Ilahiah dapat terpantul dan menjadikanmu melupakan dunia ini dan segala isinya, lalu hatimu menyala dengan api cinta-Nya sehingga seluruh keterikatanmu dengan dunia ini terputus habis dan tidak sesaat pun dirimu terikat dengan benda-benda duniawi. Kemudian, kau memperoleh kenikmatan yang luar biasa dengan mengingat-Nya sedemikian sehingga seluruh kenikmatan hewani di dunia ini tampak bagimu

sebagai tipuan dan pulasan. Kalau pun kau tidak dapat mencapai maqâm tersebut, janganlah kauacuhkan pemberian Allah yang dijanjikan-Nya akan diberikan di dunia nanti, yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadis para maksum, demi memperoleh penghormatan yang berumur pendek dari para makhluk lemah. Janganlah menjual kebahagiaan abadi dengan penderitaan abadi. Ketahuilah bahwa Raja segala raja, Pemberi kebahagiaan yang sejati, telah menganugerahkan seluruh rahmat-Nya kepada kita. Diciptakan-Nya segala sesuatu ini bagi kita dan bahkan semua itu telah dipersiapkan oleh-Nya sebelum kita datang ke dunia ini. Dia ciptakan bagi kita makanan yang dapat dicerna perut kita yang lemah ini. Dia ciptakan bagi kita udara dan iklim yang cocok. Dia telah menganugerahkan kepada kita seluruh bantuan-Nya, yang gaib ataupun terli-

p: 42

hat, di dunia ini dan dunia nanti, dan setelah menghimpun seluruh rahmat-Nya, lalu Dia meminta kita untuk menjaga kesucian hati kita agar dapat menjadi tempat bagi-Nya sehingga kita sendiri akan mendapatkan manfaat akan kehadiran-Nya. Meskipun kita telah mendengar seluruh peringatan itu, kita masih tetap tidak mematuhi-Nya, tidak memerhatikan firman-firman-Nya, dan tidak berbuat sesuai dengan keinginan-Nya. Apakah ini bukan suatu pembangkangan yang besar? Dengan siapakah kita akan mengobarkan perang, yang akibat-akibatnya kelak harus kita hadapi? Kita sama sekali, sekecil apa pun, tidak akan dapat menggoyahkan kerajaan-Nya dan kita tidak akan dapat melepaskan diri dari jangkauan kekuasaan-Nya. Jika kita berbuat seperti kaum musyrik, kita membahayakan diri kita sendiri,

karena: «... فَإِنَّ اللَّهَ غَنِیٌّ عَنِ الْعَالَمِینَ (97)»... sesungguhnya Allah tidak bergantung pada (seluruh) ciptaan-Nya .... (QS Al-Imrân (3]: 97)

Dia tidak membutuhkan pengabdian, penyembahan, atau ketundukan kita. Setiap pembangkangan, kemusyrikan, dan kemunafikan yang kita lakukan tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya sama sekali. Namun, mengingat Dia adalah Sang Maha Pengasih, rahmat-Nya yang tidak terbatas dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna mengharuskan kita untuk mencari jalan yang lurus. Dan untuk itu, Dia telah membedakan dengan jelas antara kebaikan dan kejahatan, antara yang indah dan yang buruk, dan mengingatkan kita akan ancaman dan bahaya yang akan menghadang di jalan kesempurnaan dan kebahagiaan sejati manusia. Kita berutang kepada Allah atas petunjuk tersebut dan kita harus menunjukkan, dengan seluruh kerendahan, penghormatan kita yang besar terhadap-Nya dalam segenap ibadah

dan doa kita—yang nilai pentingnya tidak dapat kita pahami sebelum memperoleh pandangan akan dunia yang lain. Selama kita bermukim di dunia lahiriah yang sempit ini, terikat oleh rantai ruang dan waktu, kita tidak dapat memahami ketakberhinggaan hamparan karunia-Nya kepada kita.

Janganlah pernah terpikir oleh kita bahwa dengan melakukan ibadah, kita telah melakukan sesuatu bagi para nabi, para wali, dan ulama besar umat. Mereka adalah pembimbing kita menuju kebahagia-

p: 43

an dan keselamatan kita dan pembebas kita dari kegelapan, kebodohan, dan kesengsaraan, serta pengajak kita menuju cahaya, kesenangan, keriangan, dan keagungan. Betapa berat tanggung jawab yang mereka emban dan penderitaan yang telah mereka alami demi mendidik dan mengentaskan kita dari semua kegelapan akibat pelbagai akidah sesat dan kebodohan kompleks kita. Mereka ingin menyelamatkan kita dari beragam tekanan dan siksaan yang merupakan bentuk (gaib) dari segenap watak dan akhlak rendah kita. Mereka menuntun kita untuk mencapai cahaya, kedamaian, dan ketenteraman, yang tidak dapat terlihat oleh pikiran kita. Dunia lahir ini, meskipun tampak demikian luas, sesungguhnya amat terbatas dan sempit sehingga kita tidak dapat membayangkan kenikmatan surga dengan pandangan duniawi ini. Pandangan kita tidak cukup memiliki kekuatan untuk menatap kebesaran dunia itu, yang digambarkan dalam ucapan Rasul Saw., yang telah menyaksikan kebenaran-kebenaran itu melalui wahyu Ilahi, melihatnya, mendengamya, dan lalu meminta kita untuk mencapainya. Dan kita, anak

kecil yang membangkang, tidak mematuhi perintah orang yang telah mengerti, dan bahkan tidak memedulikan tuntunan akal kita, selalu lebih siap untuk menentang orang-orang yang telah dibimbing Allah Padahal, mereka yang jiwanya disucikan dengan cinta dan kelembutan kepada makhluk Allah, tidak pernah berputus asa dalam melaksanakan tugas menuntun kita menuju surga dan kebahagiaan. Mereka tak pernah memaksa kita mengikuti ajakan mereka. Mereka juga tidak menuntut balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.

Bahkan, imbalan yang diminta Rasul Saw. dalam ayat Al-Mawaddah (QS Al-Syûrâ (42): 23) agar kita mencintai keluarganya, sebetulnya bukanlah imbalan atas pengabdian yang telah beliau berikan untuk kita, melainkan dimaksudkan untuk memberi manfaat yang lebih besar lagi bagi kita—karena bentuk kecintaan ini di alam akhirat boleh jadi akan menjadi cahaya dan karunia terbesar bagi kita. Semua ini agar kita mencapai kebahagian dan rahmat di sisi Allah. Jadi, balasan Rasul Saw. bagi penyampaian risalah ini sesungguhnya juga menjadi kebaikan bagi kita dan kita memperoleh lebih banyak manfaat dari mereka. Bagaimana mungkin mereka memperoleh manfaat dari

p: 44

makhluk malang seperti kita? Dengan cara bagaimanakah keikhlasan dalam beribadah dan ketundukan kita kepada mereka dapat memberi manfaat bagi mereka? Bagaimana mungkin kita memandang diri kita yang hina telah berbuat kebaikan bagi para pembimbing umat-mulai dari seorang ahli fiqih biasa yang menjelaskan hukum-hukum praktis agama untuk kita hingga Rasulullah Saw. dan Allah Yang Mahakuasa? Semua telah menjalankan peran masing-masing dalam membimbing

dan menunjukkan jalan yang lurus kepada kita, yang karenanya kita berutang besar kepada mereka, dan sebagian yang terkecil dari utang itu mustahil bisa kita bayar di dunia ini. Tidak satu pun di dunia ini yang cukup berharga untuk membayar mereka, “Kepada Allah, nabi-nabi-Nya, dan wali-wali-Nya kita semua berutang”, seperti yang telah difirmankan oleh Allah:

«یَمُنُّونَ عَلَیْکَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَیَّ إِسْلَامَکُمْ بَلِ اللَّهُ یَمُنُّ عَلَیْکُمْ أَنْ هَدَاکُمْ لِلْإِیمَانِ إِنْ کُنْتُمْ صَادِقِینَ (17)»

«إِنَّ اللَّهَ یَعْلَمُ غَیْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بَصِیرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)»

Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepada-ku dengan keislamanmu. Sebenarnya, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan membimbingmu menuju keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hujurât [49]: 17-18)

Oleh karena itu, jika kita ikhlas dalam beriman kepada Allah, itu saja sudah merupakan rahmat Allah bagi kita. Allah Maha Melihat dan Mengetahui segala yang tersembunyi. Dia mengetahui esensi bentuk amal-amal kita, bentuk keimanan dan keislaman kita di alam gaib. Adapun kita-makhluk yang tak berdaya, yang tidak mengetahui hakikat--memperoleh pengetahuan dari seorang alim lalu berpikir bahwa kita telah berbuat sesuatu untuknya. Kita melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam lalu kita beranggapan telah berbuat suatu kebaikan baginya. Padahal, sesungguhnya, kitalah yang berutang kepada mereka. Kita tak menyadari hal ini, dan karenanya, pandangan salah inilah yang menggugurkan segenap perbuatan kita dan menggiring kita menuju sijjîn; menjadikan segala perbuatan kita tidak bermakna.

p: 45

Tahap Kedua: Ria dalam Perbuatan

Point

Sekalipun merupakan faktor yang lebih kecil dibanding ria pada tahap pertama dalam mendorong kita menuju kekufuran, orang yang bersikap ria dalam perbuatan dapat berakhir seperti ria pada tahap pertama-yaitu ria dalam akidah dan keimanan yang mendorong kita pada kekufuran. Kita telah menyebutkan dalam pembahasan hadis pertama bahwa di alam malakût (alam ruhani/gaib), manusia dapat memiliki bentuk yang berbeda dari bentuk manusia. Bentuk-bentuk itu sesuai dengan keadaan jiwa seseorang dan sifal-sifanya. Jika di sini engkau memiliki sifat-sifat manusiawi yang baik, di alam itu şifat- sifat tersebut akan menjadikanmu tetap berada dalam bentuk manusia. Sifat-sifat baik itu dipandang sebagai kebaikan yang sejati hanya jika diri jasmani (nafsu) tidak ikut berperan dalam pembentukannya. Guru dan syaikh kami yang terhormat, Ayatullah Syahabadi mengatakan bahwa ukuran bagi praktik ruhaniah yang palsu dan tidak sah, dan ukuran bagi perjuangan ruhaniah yang benar, adalah sejauh mana rasa mementingkan diri sendiri terlibat dalam praktik-praktik itu. Yaitu, apakah seluruh perjuangan ruhaniah itu diperuntukkan bagi Allah atau dilakukan karena motif-motif pribadi. Jika seorang pencari di jalan Ilahiah mementingkan dirinya sendiri dan praktik ruhaniahnya dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan bagi tujuan-tujuan duniawi, usaha-usahanya dianggap tidak sah, dan sulûk-nya (kemajuan di jalan ruhaniah) akan membawanya pada malapetaka di dunia lain. Orang tersebut biasanya memiliki anggapan yang salah tentang keruhanian. Dan, jika seorang pesuluk mengambil jalan yang lurus dan benar-benar mencari Allah, pengabdiannya ada dalam batas-batas syariat, Allah akan membantunya, sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat berikut:

«وَالَّذِینَ جَاهَدُوا فِینَا لَنَهْدِیَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِینَ (69)»

Dan orang-orang yang berjihad demi Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhr.ya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-'Ankabût (29): 69)

Dengan begitu, perbuatannya akan membimbingnya menuju kebahagiaan; egoisme akan terhapus dan kebanggaan diri akan lenyap.

p: 46

Jelas sekali bahwa siapa pun yang menunjukkan perbuatan baiknya di depan orang lain---yang perbuatan baiknya itu memiliki tujuan mementingkan diri sendiri-ia akan menjadi manusia yang sombong, bangga akan dirinya sendiri, dan mengutamakan kepentingan diri sendirinya, dan semua itu akan menyebabkan musnahnya semua perbuatan baiknya. Jika eksistensi dirimu dipenuhi oleh rasa cinta diri, keserakahan terhadap harta, kekuasaan, kemasyhuran, dan keinginan untuk menguasai makhluk-makhluk Allah, perbuatan baikmu dan keutamaanmu tidak dapat dihitung sebagai perbuatan baik; dan sikap moralmu jauh dari moralitas agama yang sebenarnya. Kekuatan yang bekerja dalam dirimu adalah kekuatan iblis, dan keadaan batinmu tidak menggambarkan keadaan manusia. Ketika kau membuka matamu di alam lain, kau akan melihat dirimu bukan dalam bentuk manusia, tetapi serupa dengan kelompok iblis. Diri yang seperti itu, yang merupakan sarang iblis, mustahil memperoleh pengetahuan agama dan menghayati ruh tauhid. Kecuali jika diri batinmu telah berubah menjadi manusia dan hatimu bersih dari segala kotoran dan kenistaan, kau tidak akan memperoleh manfaat dari penerapan praktik-praktik ruhaniah, seperti yang telah difirmankan Allah dalam salah satu hadis qudsi: “Tidak ada (tempat) yang cukup luas untuk-Ku, tidak bumi-Ku dan juga tidak pula langit-Ku, melainkan hati hamba-Ku yang beriman.”

Tidak ada maujud yang menjadi tanda keindahan Sang Kekasih, melainkan hati orang beriman. Penguasa hati seorang Mukmin adalah Allah dan bukan dirinya sendiri. Pelaku yang sejati dalam wujud orang Mukmin adalah Sang Kekasih sehingga hati Mukmin itu tidak suka membangkang atau kebingungan. “Hati seorang Mukmin berada di antara dua Jari Allah; Dia dapat membalikkannya ke mana saja yang Dia sukai.”

Wahai engkau, hamba malang yang menyembah dirimu sendiri dan yang telah membiarkan setan dan kebodohan mempermainkan hatimu serta mencegah Allah berkuasa atas hatimu, keimanan macam apakah yang harus kaumiliki agar hatimu menjadi tempat penjelmaan Ilahi dan kekuasaan mutlak-Nya? Perhatikan, kecuali kau telah

p: 47

mengubah dirimu dan menghilangkan kesombonganmu, maka kau akan dicap sebagai kafir dan kau akan dimasukkan dalam kelompok kaum munafik, meskipun kau mengaku-aku sebagai seorang Mukmin yang telah menundukkan dirinya di bawah kehendak Allah.

Nilai Eksistensi Manusia sebagai Amanat Allah

Sahabatku, bangunlah, waspadalah, bukalah kedua matamu, dan ketahuilah bahwa Allah Yang Mahakuasa telah menciptakan dirimu demi Dia, sebagaimana diungkapkan dalam hadis qudsi berikut: "Wahai, anak-cucu Adam, Aku ciptakan segala sesuatu untuk (meng- abdi kepada)-mu; dan Aku ciptakan dirimu untuk (mengabdi kepada)-Ku.”

Dia (Allah) telah membuat hatimu sebagai “tempat khusus-Nya”. Kau dan dirimu adalah tempat tinggal bagi kehormatan Ilahi. Allah Yang Mahakuasa tidak dapat bertenggang rasa dalam masalah kehormatan-Nya. Jangan kau keterlaluan sampai sebatas ini dan membiarkan tangan-tangan menjarah kehormatan dan tempat tinggal-Nya. Berhati-hatilah terhadap “kecemburuan” Allah. Kalau tidak, Dia akan mempermalukanmu di dunia yang tak dapat kau tanggung-betapapun kau mencobanya. Kau telah bersalah melanggar kehormatan Ilahi di dalam hatimu, di depan para malaikat Allah, dan nabi-nabiNya. Ketinggian moral yang dengannya para wali Allah mencapai kedekatan dengan Allah telah kauarahkan kepada yang selain-Nya dan kautundukkan hatimu-yaitu tempat milik Allah-untuk para musuh-Nya. Dengan demikian, kau telah melakukan syirik dalam hatimu. Takutlah kepada Allah Yang Mahakuasa. Selain akan merendahkan bentukmu dan menghinakanmu di dunia nanti di hadapan para malaikat dan nabi-Nya, Allah juga akan menghinakanmu di dunia ini dan mengutukmu sampai ke tingkat yang tidak dapat ditanggung lagi-keburukan yang tidak dapat ditutupi lagi. Allah Yang Mahakuasa adalah sattâr (Penutup keburukan). Dia menyembunyikan semua dosa, tetapi Dia juga Maha Pencemburu. Dia adalah Maha Pengasih, tetapi juga Penghukum yang paling keras. Dia berkata bahwa Dia akan menutupi semua perbuatan buruk selama itu tidak

melewati batas tertentu. Semoga Allah menghindarkannya-jangan

p: 48

sampai timbunan perbuatan burukmu membangkitkan murka-Nya, melewati batas kesabaran dan kemauan-Nya untuk menutupi dosa-dosamu sebagaimana yang telah kau baca dalam sejumlah hadis. · Dengan demikian, sadarkanlah dirimu kembali, berlindunglah kepada Allah dan kembalilah kepada-Nya karena Allah Yang Maha-kuasa amat Pengasih dan selalu melimpahkan rahmat-Nya. Jika kau memohon ampunan kepada-Nya, Dia akan segera mengampunimu, menutupi semua cacat dan perbuatan burukmu di masa lalu sehingga tidak seorang pun yang dapat mengetahuinya. Dia akan menjadikanmu seorang manusia yang istimewa, teladan sifat-sifat baik, dan bayangan bagi Sifat-Sifat Ilahi. Dia akan membuat kehendakmu terlaksana di dunia nanti sebagaimana kehendak-Nya berlaku di seluruh

alam semesta. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa ketika para ahli surga hendak menetap di sana, Allah berseru, “Dari Zat Maha Esa, Abadi, dan Kekal kepada hamba yang juga abadi dan kekal. Jika Aku ingin sesuatu, Kuperintahkan ia untuk mewujud, maka mewujudlah ia. Sejak saat ini, Aku menjadikanmu di tingkat yang jika kau ingin sesuatu kauperintahkan sesuatu untuk mewujud, maka mewujudlah ia.”

Oleh karena itu, janganlah kau mementingkan dirimu sendiri dan tundukkanlah kehendakmu di bawah Kehendak Allah. Zat Mahakudus akan membuatmu sebagai perwujudan bagi kehendakNya dan memberimu kekuasaan untuk mengatur semua urusanmu, dan menganugerahimu kemampuan untuk mencipta di hari akhir.

Tentu saja ini tidak sama dengan tafwidh(1) yang merupakan ajaran sesat, seperti telah dibuktikan di tempatnya. Kini, Sahabatku, pilihlah sekehendakmu; yang ini atau yang itu. Namun, ketahuilah bahwa Allah tidak membutuhkan dirimu atau diriku atau seluruh makhluk lain, dan Dia juga tidak membutuhkan pengabdian dan keikhlasan segenap makhluk-Nya.

p: 49


1- b Tafwid adalah memasrahkan total segalanya kepada Allah Swt. tanpa diiringi suatu usaha (semacam fatalisme) —peny.

Tahap Ketiga: Ria dalam Ibadah

Point

Ria jenis ini lebih umum terjadi dan lebih tampak dibanding dua tahap sebelumnya. Karena kita manusia biasa, sebagian besar tidak termasuk dalam dua tahap yang telah disebutkan di atas (lantaran sebagian besar kita tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang beriman dan berhati bersih-penerj.). Iblis tidak dapat menjerat kita dengan cara yang sama dengan orang-orang yang termasuk dalam dua tahap di atas. Sebagian besar Muslim menyembah Allah melalui ibadah-ibadah formal dan ritual, sehingga iblis biasanya lebih bebas mempermainkan manusia pada tahap ria ini. Godaan hawa nafsu juga lebih umum pada tahapan ini. Dengan kata lain, lantaran sebagian besar manusia memperoleh surga melalui perbuatan-perbuatan lahiriah dan lantaran mereka mendapatkan derajat-derajat ukhrawi dengan melaksanakan pelbagai amalan baik dan meninggalkan pelbagai amalan buruk, iblis menemukan jalan menanamkan benih-benih ria pada

amalan-amalan ini sampai semua amalan memiliki cabang dan dahan yang mengandung ria. Akhirnya, semua amalan baik itu berubah menjadi buruk dan

mengantarkan mereka memasuki neraka melalui jalan pelbagai ibadah dan ritus formal. Jalan yang seharusnya dapat dengan pasti mengantarkan manusia menuju surga disimpangkan oleh setan menjadi jalan ke arah kehancuran. Perbuatan-perbuatan yang seharusnya mengantarkan mereka menuju filliyyîn--surga tertinggi-

dilemparkan oleh para malaikat ke sijjîn atas perintah Allah. Oleh karena itu, orang-orang yang hanya memiliki bekal ini, yakni bekal amalan formal, harus lebih waspada agar mereka—semoga Allah menjauhkannya-tidak kehilangan semua amalan itu dan menjadi penghuni neraka. Mereka harus berhati-hati agar jalan menuju kebahagiaan tidak menjadi huntu, pintu-pintu surga tertutup, dan pintu-pintu neraka terbuka bagi mereka.

Bagaimana Melawan Ria Jenis Ini?Bagaimana Melawan Ria Jenis Ini?

Sering kali orang yang terjangkit penyakit ria jenis ini tidak menyadari bahwa ada satu penyakit yang telah menyelinap ke dalam perbuatan-

p: 50

perbuatannya dan perbuatan-perbuatan itu kini telah menjadikan-nya bersifat munafik, dan karenanya menjadi tidak bernilai sama sekali. Karena godaan iblis dan diri halusnya serta jalan menuju kemanusiaan demikian rumit dan penuh risiko, jika seseorang tidak luar biasa cermat, tentu tidak akan mampu mengenali kejahatan yang ada pada godaan-godaan itu. Ia mengira bahwa seluruh perbuatannya ditujukan kepada Allah, padahal itu hanya melayani kepentingan iblis. Karena secara alamiah manusia diciptakan memiliki kecenderungan untuk berpusat pada dirinya sendiri, tabir cinta diri dan egoisme menutupi kesalahan dan keburukannya dari matanya sendiri. Insya Allah, kita akan mendiskusikan masalah ini ketika membahas hadis lain. Aku memohon kepada Allah untuk membantuku dalam urusan ini.Sebagai contoh, mempelajari pengetahuan agama adalah salah satu kewajiban penting agama dan merupakan sebentuk ibadah. Namun, orang yang sibuk untuk memperoleh keunggulan dalam bidang itu amat mudah terjatuh pada ria, yang menyelinap ke dalam hati sedemikian sehingga ia sendiri tidak menyadarinya—dan tabir tebal cinta dunia mengaburkan pandangannya. Ia menjadi ingin memperoleh posisi penting di mata ulama besar dan orang-orang berpengaruh lainnya dengan mencoba memecahkan suatu masalah penting yang belum pernah dilakukan orang sebelumnya. la ingin menampilkan dirinya sebagai seseorang yang berbeda dari orang lain dengan menampilkan masalah tersebut dalam cara yang unik agar dirinya menjadi pusat perhatian setiap orang. Dengan keyakinan diri yang besar, ia menganggap bahwa jika setiap ulama besar dan orang-orang yang berpengaruh memujinya dengan kata-kata yang muluk, ia akan memperoleh sambutan luar biasa dalam setiap pertemuan. Orang ini tidak menyadari bahwa kalau pun ia mendapatkan kemasyhuran di dunia ini dan dihargai oleh para ulama, ia akan

dipandang hina di mata Raja segala raja dan perbuatannya itu akan membawanya ke sijjîn. Perbuatan ria ini juga disertai beberapa sifat buruk lain, seperti keinginan untuk menjatuhkan orang lain atau menyakiti hati saudara seimannya, atau kadangkala bersikap kasar

p: 51

terhadap seorang Mukmin. Satu dari sifat-sifat ini saja sudah cukup untuk melemparnya ke neraka. Jika sekali lagi dirimu membuat tipu daya dan berhasil meyakin-

kanmu bahwa tujuanmu adalah secara luas mengajarkan syariat dan menjungjung kata-kata kebenaran—yang merupakan salah satu perbuatan ibadah yang bermanfaat dan bahwa engkau tidak bermaksud menonjolkan keunggulan ruhaniahmu, engkau harus bertanya kepada dirimu bahwa jika seorang kawanmu telah memecahkan masalah agama yang sama dengan cara yang lebih baik dan telah mengalahkanmu dalam kemasyhuran di antara para ulama besar dan orang-orang berpengaruh, apakah kau tetap beranggapan sama? Jika benar demikian, berarti kau jujur terhadap dirimu sendiri. Namun, jika tidak, jika kau tetap menipu orang lain serta tidak berhenti berdusta dan kau tetap bertahan pada anggapanmu dengan mengatakan bahwa menyebarkan kebenaran adalah perbuatan yang dianjurkan

agama dan memiliki balasan ruhaniahnya pula, dan bahwa kepentinganmu adalah untuk mencapai maqâm tinggi di akhirat kelak, sebaiknya kau bertanya kepada dirimu: misalnya Allah memberikan kemuliaan yang sebenarnya kepadamu untuk kekalahanmu dengan orang lain yang lebih masyhur itu, asalkan kau menerimanya dengan rasa syukur, akankah kau tetap ingin menang?

Jika kau melihat bahwa dirimu ingin menguasai orang lain dalam diskusi ilmiah untuk memperoleh pengakuan atas ketinggian pengetahuanmu di antara para ulama dan diskusi yang kauikuti ditujukan untuk mendapat penghargaan dan penghormatan dari orang lain, ketahuilah bahwa kegiatan intelektual itu--yang merupakan bentuk tertinggi ibadah—berubah menjadi perbuatan ria yang, menurut sebuah riwayat dalam Al-Kâfî, akan mengantarkanmu ke sijjîn. Kau akan dikelompokkan bersama orang-orang musyrik. Perbuatanmu itu, menurut sebuah hadis, akan membahayakan imanmu lebih dari bahaya yang disebabkan dua ekor serigala yang menyergap seekor domba dari depan dan belakang. Oleh karena itu, jika engkau adalah orang berilmu yang bertanggung jawab untuk mernperbaiki umat,

menunjukkan jalan menuju akhirat, dan menyembuhkan penyakit ruhaniah manusia, pertama kali engkau harus memperbaiki dirimu

p: 52

sendiri dan mempertahankan keadaan ruhaniah yang baik agar kau tidak tergolong ulama yang tidak berbuat sesuai dengan apa yang dikhutbahkannya. Berdoalah kepada Allah Yang Mahakuasa untuk menyucikan hati kita dari kotoran syirik dan nifâq, serta membersihkan cermin hati kita dari debu cinta dunia yang merupakan sumber seluruh keburukan. Ya Allah! Bantulah dan lindungilah makhluk-Mu yang tanpa daya ini, yang telah terjangkit penyakit sombong dan serakah terhadap

kekuasaan serta kehormatan, dan lindungilah kami dalam perjalanan berbahaya sepanjang liku-liku labirin gelap ini, wahai Yang Mahakuat dan Mahakuasa.

Ria dalam Shalat Berjamaah

Shalat berjamaah adalah salah satu bentuk ibadah yang mulia dalam Islam. Menjadi imam shalat jamaah memiliki kedudukan yang lebih mulia. Untuk alasan itu, setan juga lebih aktif berusaha memengaruhi ibadah shalat berjamaah. Dan, setan paling memusuhi imam shalat daripada semua makmumnya. Ia selalu sibuk mencari jalan untuk menghalangi orang-orang Mukmin menerima kehormatan Ilahiah, berusaha menghilangkan keikhlasan dari perbuatan mereka, dan men-

dorong mereka ke sijjin. Ia berusaha menjadikan mereka musyrik dan, untuk tujuan itu, ia memengaruhi hati imam dengan berbagai cara, seperti 'ujb (bangga diri), yang akan kita bicarakan kelak, dan ria. Ria dalam kaitan ini ialah ketika sang imam menonjolkan ibadah mulia ini di hadapan manusia untuk memperoleh kedudukan di hati manusia dan kemasyhuran sebagai orang mulia di tengah-tengah mereka. Misalnya, ketika seorang imam melihat bahwa beberapa orang saleh menghadiri shalat jamaahnya, ia berusaha menonjolkan kerendahatiannya untuk menarik perhatian dan kekaguman mereka. la berusaha menemukan berbagai macam cara untuk menyebutkan nama orang saleh itu di antara orang-orang yang tidak mengikuti shalat jamaahnya. Ia menyebutkan namanya berulang-ulang dan

berusaha memberi tahu orang tentang kehadiran orang saleh itu sebagai salah seorang jamaahnya. Ia mencoba menciptakan kesan salah bahwa seolah-olah ia memiliki hubungan dekat dengannya,

p: 53

khususnya jika orang itu termasuk dalam kelompok pengusaha, dan mengungkapkan rasa cinta dan persahabatan yang besar terhadapnya, yang tidak pernah diungkapkannya urtuk sesaat pun kepada Allah dan hamba-hamba pilihan-Nya. Iblis juga memerhatikan imam pada shalat-shalat jamaah di masjid-masjid kecil. Iblis mendekatinya dan mengingatkannya bahwa sesungguhnya ia sama sekali tidak memerhatikan masalah-masalah duniawi; bahwa ia telah cukup puas menghabiskan waktunya di sebuah masjid kecil di lingkungan orang-orang miskin. Perasaan ini sama dengan yang pertama, atau bahkan lebih buruk karena jika jaring-jaring kecemburuan telah menjerat orang itu, ia—yang memang sudah tidak dapat menikmati perolehan duniawi-akan kehilangan kemuliaan akhirat pula; mereka menderita di kedua dunia tersebut. Pada saat yang sama, iblis juga tidak mau melepaskan cengkeramannya di leher orang-orang seperti engkau dan aku, yang tidak dapat menjadi imam shalat jamaah, dan yang bersedih karenanya. Ia akan membuat kita meragukan manfaat berkumpulnya kaum Muslim dan mendorong kita untuk meninggalkannya. Kita akan digiring untuk meninggalkan shalat jamaah dengan alasan mengucilkan diri untuk beribadah dan berpikir bahwa sesungguhnya kita terbebas dari keinginan untuk memperoleh kedudukan dan kehormatan. Maka, kita menjadi lebih buruk dibandingkan kedua kelompok itu: kita tidak termasuk kelompok pertama, yaitu orang-orang yang berkecukupan di dunia ini, dan kita tidak termasuk pula dalam kelompok kedua, yaitu orang-orang yang kehidupannya lebih sederhana, serta kita uga tidak memperoleh kebahagiaan di akhirat nanti. Dan, kalau saja ada kesempatan, mungkin akan tampak bahwa sebetulnya kita lebih serakah pada kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan dibandingkan kelompok-kelompok lainnya itu.

Setelah itu, iblis tidak cukup puas dengan memengaruhi imam. Ia pun memengaruhi jamaahnya. Karena baris pertama jamaah lebih tinggi daripada baris kedua dan bagian sebelah kanan lebih baik daripada sebelah kiri, ia lebih sering membuat mereka sebagai sasaran daripada baris-baris lainnya. Ia menarik orang-orang yang lemah, yang tidak menyadari bisikan iblis, berusaha menunjukkan keunggul-

p: 54

annya dengan mengesankan diri sebagai orang yang suci, yang menunjukkan syirik batinnya—dan ini lebih dari cukup untuk melemparkan mereka ke sijjîn. Dari sini, iblis lalu menyelinap ke baris-baris lain untuk memerdayakan orang-orang, sebagian orang yang penampilannya kurang baik dan gerak-geriknya menggelikan, segera menjadi sasaran cemoohan yang lain, yang menganggap dirinya bebas dari segala kesalahan. Kadang kala tampak bahwa seseorang yang terhormat, terutama seorang ulama yang memiliki intelektualitas tinggi, dipengaruhi iblis untuk duduk di baris terakhir agar jamaah berpikir bahwa meskipun kedudukan ulama itu lebih tinggi, ia duduk di baris terakhir karena ia tidak memedulikan posisi keduniaan dan terbebas dari rasa bangga diri. Orang-orang seperti itu tidak pernah duduk di baris pertama. Namun, iblis masih tidak puas juga dengan memengaruhi imam dan jamaahnya. Kadang kala ia menjerat salah seorang berjenggot yang mengucilkan diri untuk meninggalkan rumahnya menuju ke salah satu sudut masjid, tidak bergabung dengan jamaah, dan berdiri di atas sajadahnya. Bagi orang tersebut, tidak ada imam yang adil, atau memenuhi syarat untuk memimpin shalat. Iblis menyuruhnya shalat berlama-lama dan memperpanjang sujud dan ruku'-nya. Dalam hatinya orang itu ingin membuat orang lain percaya bahwa ia adalah orang saleh yang memiliki suatu tingkat kesadaran sedemikian sehingga ia memilih menghindari shalat jamaah agar tidak terjebak mengikuti imam yang tidak adil. Orang itu, selain telah tertipu, juga tidak mengetahui hukum-hukum syariat. Marji' taqlid (faqih anutan) yang diikutinya mungkin tidak memberikan syarat-syarat mengikuti seorang imam kecuali penilaian atas perilaku lahiriahnya. Namun, si

penyendiri itu tidak memerhatikannya karena motif dia yang sebenarnya adalah ria. Ia hanya ingin menunjukkan dirinya sebagai orang yang saleh agar memperoleh kekaguman dari orang lain.

Ajakan kepada Keikhlasan

Sahabatku, berbuatlah yang bijaksana dan hati-hati. Periksalah setiap perbuatanmu yang paling kecil sekalipun, dengan seteliti mungkin. Cobalah menilai setiap perbuatanmu dengan melakukan introspeksi,

p: 55

apakah perbuatan itu memiliki motif perbuatan baik atau ada motif lain. Apa yang mendorongmu untuk bertanya tentang shalat malam dalam suatu majelis? Apakah itu benar-benar demi Allah atau untuk mengesankan kepada orang lain bahwa engkau beragama dengan baik? Mengapa engkau demikian bersemangat bercerita kepada orang lain pada setiap kesempatan yang mungkin? Jika itu kaulakukan demi Allah dan kau ingin orang lain menirumu, kau berpikir dalam kerangka “orang yang menunjukkan jalan kebaikan sama kedudukannya dengan orang yang melakukannya" dan pada saat yang sama kau pun melakukan perbuatan baik itu, kau beralasan untuk menunjukkannya kepada orang lain. Puji syukur untuk Allah karena Dia telah memberimu kemampuan untuk berbuat dengan kesadaran yang jer-

nih dan hati yang bersih. Namun, waspadalah terhadap tipu daya iblis ketika kau sedang memeriksa niatmu karena ia dapat menggambarkan perbuatan ria sebagai perbuatan suci yang bukan untuk kepentingan diri sendiri. Jika perbuatanmu itu bukan kaulakukan demi Allah, lebih baik kau tidak melakukannya karena itu akan dianggap sebagai sum'ah-yaitu mempertunjukkan perbuatan baik yang palsu, yang merupakan salah satu cabang dari pohon ria—dan Allah tidak akan mengakuinya serta akan melempar pelakunya ke sijjîn. Kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatan tipu daya yang selu- bungnya amat halus. Kita yakin bahwa perbuatan-perbuatan kita tidaklah bersih dan ikhlas karena, jika kita memang hamba-Nya yang benar, mengapa iblis--yang telah berjanji tidak akan memengaruhi perbuatan hamba-hamba-Nya yang benar—terus mengganggu kita dan membuat kita sebagai sarana dari rencana jahatnya? Dalam kata-kata guru kami yang terhormat, iblis adalah anjing penjaga pengadilan Yang Mahakuasa. Ia tidak menggonggong kepada orang yang dekat kepada Allah dan tidak akan mengganggunya. Sebagaimana anjing penjaga tidak akan memusuhi teman dari tuannya, demikian pula iblis mengenali sahabat Allah dan tidak akan mengizinkan seorang asing mendekatinya.

Oleh karena itu, setiap saat kau menyadari bahwa iblis memengaruhi perbuatanmu, ketahuilah segera bahwa perbuatanmu tidak dilakukan dengan keikhlasan dan tidak demi Allah semata-mata. Jika

p: 56

kau adalah seorang Mukmin yang ikhlas, mengapa mulutmu tidak mengeluarkan kata-kata bijak yang datang dari hati? Selama empat puluh tahun kau merasa telah melakukan perbuatan-perbuatan baik demi Allah, padahal dalam sebuah hadis dikatakan bahwa siapa pun yang beriman kepada Allah selama empat puluh hari, maka kebijaksanaan akan melimpah dari hatinya. Oleh karenanya, hal itu adalah tanda bagi kita untuk menyadari bahwa perbuatan-perbuatan kita tidak dilakukan demi Allah, meskipun kita tidak menyadarinya; dan itu juga adalah sebab utama bagi penyakit kita yang tidak dapat disembuhkan.

Sungguh malang orang-orang yang shalat, para imam dan jamaah shalat Jumat, serta orang-orang yang berilmu tinggi! Ketika mata mereka terbuka di pengadilan Yang Mahatinggi di Hari Pengadilan, mereka akan mengetahui bahwa mereka bukan saja termasuk dalam kelompok orang-orang yang berdosa besar, melainkan juga termasuk kelompok yang lebih buruk daripada kafir dan musyrik; serta catatan perbuatan mereka lebih buruk.

Sungguh patut dikasihani, orang-orang yang shalat dan ibadah-ibadahnya yang lain kelak akan menjadi bahan bakar api neraka. Semoga Allah menyelamatkan kita dari saat penampilan seseorang begitu buruknya hingga tidak dapat dibayangkan, meskipun orang itu telah mengeluarkan zakat dan sedekah. Engkau, makhluk yang tak berdaya, dicap sebagai musyrik, meskipun kau memercayai keesaan Allah. Insya Allah, Dia akan mengampuni para pendosa dengan kasih-Nya; tetapi, bagi orang musyrik, Dia telah berkata bahwa Dia tidak akan memaafkannya jika orang itu meninggal tanpa tobat. Telah dinyatakan dalam hadis di atas bahwa orang yang terbiasa melakukan ria dalam segala bentuknya-memamerkan keimanan, ibadah, kedudukan agamanya yang tinggi, khutbahnya, kedudukannya sebagai

imam, puasanya, dan perbuatan-perbuatan salehnya demi memperoleh penghargaan dari orang lain adalah syirik. Syiriknya itu dikukuhkan oleh ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis para Imam Ahl Al-Bait. Oleh karena itu, dosanya tidak terampuni. Lebih baik bagimu untuk tergolong dalam kelompok orang-orang yang melakukan dosa besar, menjadi orang yang terkenal keburukannya, tetapi tetap

p: 57

seorang muwahhid (percaya pada keesaan Allah) daripada menjadi seorang musyrik. Kini, Sahabatku, periksalah dirimu dengan serius dan carilah obat untuk menyembuhkan penyakit ruhanimu. Dan sadarilah sia-sianya kehormatan dalam hat: manusia—sepotong kecil daging yang tidak akan memuaskan selera seekor burung. Makhluk-makhluk yang lemah ini sama sekali tidak memiliki kekuatan dan pujian mereka tidak ada artinya. Kekuatan yang sesungguhnya harus dicari pada Allah; Dialah Sebab Mutlak bagi segala sebab-Sebab Akhir. Bahkan jika seluruh makhluk bekerja sama untuk menciptakan seekor lalat, mereka tidak akan berhasil; dan jika lalat itu menyebabkan mereka mendapat bahaya, mereka tidak akan mampu mengelakkannya, jika Allah menghendaki demikian. Seluruh kekuatan adalah milik Yang Mahakuasa. Dialah penggerak alam semesta. Ketika kau sedang melakukan sesuatu, tuliskan dalam hatimu dengan pena akal, “Tidak ada sebab efektif dalam dunia wujud kecuali Allah”. Dengan segala cara, tanamkan dalam hatimu prinsip kesatuan perbuatan Allah (tauhid al-af'al), yang merupakan tingkat pertama Kesatuan Wujud; dan dengan demikian jadikan hatimu hati seorang Mukmin sejati. Terangilah hatimu dengan pernyataan suci “tidak ada tuhan selain Allah"; dan bentuklah hatimu sesuai dengannya. Bawalah hatimu ke tingkat ketenteraman (ithmi'nân) dan sadarilah dengan hatimu bahwa makhluk manusia tidak dapat menyebabkan kebaikan atau keburukan, dan bahwa hanya Allah yang mampu melakukannya. Jernihkan pandanganmu, yang menderita kebutaan agar kau tidak dibangkitkan sebagai orang buta pada Hari Pengadilan dan mengeluh kepada Yang Mahakuasa,

«قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِی أَعْمَی وَقَدْ کُنْتُ بَصِیرًا (125)» “Ya Tuhanku, mengapakah Kau bangkitkan aku dalam keadaan buta ...?" (QS Thâ Hâ [20]: 125). Kehendak Allah menguasai kehendak makhluk-Nya. Jika hatimu tunduk pada sabda suci tersebut, dan meyakininya, semoga perbuatan-perbuatanmu memperoleh balasan serta seluruh jejak syirik, ria, kufr, nifâq, akan terhapus dari wajah hatimu. Keimanan yang tinggi itu selaras dengan akal dan wahyu, serta tidak ada tanda-tanda deter-

minisme (jabr) di dalamnya. Mungkin saja beberapa orang yang tidak

p: 58

mengetahui makna prinsip dasar dan kandungan determinisme akan menyalahartikannya; padahal itu bukanlah jabr, melainkan tauhid. Determinisme adalah sebentuk syirik pula; sementara tauhid membimbing, determinisme menyesatkan. Dalam kesempatan ini, tidak tepat untuk mendiskusikan determinisme dan kebebasan. Namun, orang-orang yang memahami persoalan itu dapat mengetahui pentingnya apa yang saya katakan. Lebih jauh, Rasul Saw. telah meminta kita untuk tidak berdebat tentang masalah-masalah seperti itu. Bagaimanapun, dengan doa dan permohonan yang sungguh-sungguh pada setiap saat, khususnya ketika

engkau merasa sendiri, bermohonlah agar Allah membimbingmu dan mencerahkan hatimu dengan cahaya tauhid. Mintalah kepada-Nya agar menganugerahimu pandangan tentang hal-hal yang tersembunyi, penglihatan akan kesatuan (dalam keragaman)-Kesatuan Wujud Allah sehingga kau tidak menganggap penting segala sesuatu yang lain selain Allah dan menganggap segala sesuatu itu sebagai remeh. Mohonlah kepada esensi Suci-Nya untuk menjadikan perbuatanmu bersih dan ikhlas sehingga mampu membimbingmu menuju jalan cinta dan keikhlasan. Dan, jika kau telah mencapai maqam ruhaniah sedemikian sehingga doa-doamu didengar dan dijawab oleh-Nya dan kau dapat melakukan sesuatu bagi makhluk ciptaan Allah yang lemah ini, doakanlah ia yang telah menyia-nyiakan hidupnya dalam pencarian tanpa makna, tanpa tujuan yang jelas, takluk pada nafsu, dan syahwat, yang dosa-dosanya telah melukai hatinya sampai ke suatu titik yang tidak ada anjuran, nasihat, ayat Al-Quran, hadis Rasul Saw., argumen, atau perkataan bijak yang dapat memengaruhinya. Semoga doamu dapat menyelamatkannya.

Allah tidak pernah tidak memedulikan seorang Mukmin dalam pengadilan-Nya dan Dia senantiasa mengabulkan doa-doanya. Dengan terus-menerus mengingat semua itu, yang telah kauketahui dan bukan hal baru bagimu, tanamkanlah rasa ikhlas dan penuh perhatian dalam hatimu; dan, tanpa berhenti, nilailah kembali gerak-mu, diammu, dan perilakumu. Selidikilah selalu niat-niatmu yang tersembunyi dan dengan cermat perhitungkanlah segala sesuatunya seperti seorang pengusaha menilai mitra kerjanya. Jangan melakukan

p: 59

apa pun yang mengandung ria dan kepura-puraan, betapapun hal itu tampak sebagai perbuatan yang sangat baik. Bahkan dalam ibadah-ibadah wajib, jika kau tidak merasa yakin dapat melakukannya dengan ikhlas di depan umum, lakukan secara sembunyi-sembunyi, meskipun lebih utama untuk melakukannya secara terbuka. Ria jarang muncul dalam ibadah-ibadah wajib itu sendiri; lebih sering ia muncul dalam hubungannya dengan cara ibadah wajib itu dilakukan dan pada ibadah-ibadah sunnah. Dalam hal apa pun, bersihkan hatimu dari debu syirik dengan penuh kesungguhan dan kritik diri yang paling keras. Jika, semoga Allah menghindarkannya, engkau meninggalkan dunia ini dalam keadaan seperti itu, kau akan tampil dalam bentuk yang buruk dan tidak ada harapan keselamatan bagimu. Lalu, kau akan memancing murka Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang dikutip dalam Wasâ'il Al-Syi'ah.(1) Amir Al-Mukminir. 'Ali menyatakan bahwa Rasul bersabda, “Seseorang yang melakukan perbuatan yang disukai Allah dalam rangka memamerkannya kepada orang lain dan secara diam-diam menunjukkan sifat-sifat yang dibenci Allah, maka ia akan menjumpai amarah dan murka Allah (di Hari Kebangkitan)." Ada dua kemungkinan penafsiran atas hadis tersebut. Pertama, hadis itu berbicara tentang seseorang yang menampilkan dirinya sebagai teladan sifat-sifat baik bagi orang lain, tetapi batinnya tercemar dengan sifat-sifat jahat yang buruk. Kedua, mungkin yang dibicarakan adalah seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik secara lahiriah dengan maksud ria. Terlepas dari hal itu, hadis tersebut jelas mengecam orang yang ria karena perbuatan yang disukai oleh Allah, tetapi dapat menimbulkan kemurkaan-Nya hanyalah perbuatan dengan motif ria. Dari kedua kemungkinan itu, yang kedua lebih dekat dengan makna hadis tersebut karena memamerkan perbuatan baik itu jauh lebih buruk. Ini adalah peringatan bagi kita untuk berhati-hati. Jika tidak, kita dapat memancing kemurkaan Raja segala raja dan Pengasih yang paling mengasihi.

p: 60


1- 5. Wasa'il Al-Syi'ah.

Hadis dari Imam 'Ali tentang Tiga Ciri Ria

Kita akan mengakhiri pembahasan ini dengan sebuah riwayat dari pemimpin kaum Mukmin, Imam 'Ali, yang dicatat dalam Al-Kafi. Syaikh Al-Shaduqjuga telah meriwayatkannya dari Imam Al-Shadiq, yang merupakan sebagian dari sabda terakhir dan wasiat Rasul kepada ‘Ali(1) Al-Imam Al-Shadiq berkata bahwa Amir Al-Mukmin ‘Ali berkata, “Ada tiga ciri yang menandakan bahwa seseorang melakukan ria, yaitu menyatakan suka cita dan kegembiraannya ketika disambut dan dihormati, menjadi sedih dan murung ketika sendiri (tidak ada orang lain); dan ingin dipuji untuk semua hal yang dikerjakannya." Karena sifat buruk itu halus dan tersembunyi sehingga tidak diketahui oleh orangnya sendiri, ia tidak menyadari kenyataan bahwa dalam hatinya ia adalah seorang munafik; dan ia mengira perbuatan-perbuatannya bersih tidak tercemar. Oleh karena itu, tanda sifat buruk itu dijabarkan agar manusia dapat mengenali motif-motif tersembunyinya dengan memeriksa batinnya, dan dapat mencegah serta menyembuhkannya. Setiap orang harus melihat apakah ia tidak ingin mengerjakan kewajiban agamanya ketika sendirian, bahkan jika ia dengan penuh kesungguhan memaksa dirinya atau terbiasa melakukannya? Apakah ia tidak melakukannya dengan keikhlasan dan kemurnian hati, melainkan hanya sebagai latihan jasmani; namun saat melakukan shalat di masjid dalam suatu jamaah, ia menjadi berubah dan melakukan shalatnya dengan riang gembira dan bersemangat. Ia memperpanjang ruku' dan sujudnya; ia melakukan semua sunnah dengan tepat, dan sangat memerhatikan hal-hal yang paling kecil. Jika orang itu memberikan sedikit perhatian pada keadaan batinnya, ia mungkin akan menemukan alasan bagi perbuatannya itu. Mengapa ia menebarkan jaring-jaring kesalehan palsunya untuk menjerat perhatian orang lain? Ia mungkin membohongi dirinya sendiri dengan berkata bahwa ia lebih senang melaksanakan shalat di masjid karena hal itu lebih bermanfaat dan pahalanya lebih besar. Ia akan meyakinkan dirinya dengan berkata bahwa lebih baik melakukan shalat yang baik di depan orang banyak agar mereka mengikuti contohnya dan membuat orang lain lebih tertarik pada agama.

p: 61


1- 6. Ushûl Al-Kâfî, jilid 2, h. 295.

Manusia menipu dirinya dengan segala cara dan tidak pernah berpikir untuk memperbaiki dirinya. Bagi orang sakit yang menganggap dirinya sehat, tidak ada harapan untuk disembuhkan. Lubuk hati terdalam manusia yang buruk tidak hanya secara diam-diam bertujuan untuk memamerkan perbuatan-perbuatan baiknya di depan orang banyak dan tetap tidak menyadari dorongan batinnya, tetapi juga menampilkan perbuatan dosanya sebagai ibadah dan tipu dayanya sebagai dakwah agama--meskipun sebetulnya shalat sunnah sebetulnya dianjurkan untuk dilaksanakan sendirian. Mengapa dirimu selalu ingin tampil di depan umum dan mengapa kau meratap ketakutan kepada Allah dalam sebuah pertemuan umum, sedangkan dalam kesendirian kau tidak mampu menitikkan setetes air mata pun? Di

manakah rasa takutmu kepada Allah (di saat kamu sedang sendirian)? Apakah rasa takut itu hanya menyergapmu di hadapan orang banyak? Apakah rasa takut itu menguasai dirimu hanya pada lailah al-qadar di depan beberapa ratus orang? Orang itu melakukan shalat seratus rakaat dan membaca doa jausyan al-kabîr dan jausyan al-shaghir, membaca beberapa surah dalam Al-Quran, dan tidak merasa bosan atau jemu sedikit pun. Jika seseorang melakukan sesuatu hanya demi

Allah atau untuk memperoleh rahmat-Nya, atau karena takut neraka dan mengharapkan surga-Nya, lalu mengapa ia ingin perbuatan-perbuatannya dihargai dan dipuji oleh orang lain? Telinganya begitu ingin mendengar pujian bagi dirinya, dan hatinya bersama orang-orang yang mengamati ibadahnya dan berkata, “Betapa mulianya orang itu, karena ia selalu tepat pada waktunya melaksanakan shalat wajib dan sangat memerhatikan yang sunnah.” Jika perbuatanmu itu kautujukan pada Allah, apakah arti semua kecenderungan yang berlebihan pada orang banyak itu? Jika rasa takut pada neraka dan harapan akan surga mendorongmu untuk melakukan segenap perbuatanmu, lalu apakah arti kecintaanmu pada kemasyhuran itu? Kau harus menyadari bahwa keinginan tersebut muncul dari pohon ria yang tercela. Oleh karena itu, cobalah sedapat mungkin menyucikan dirimu dan kecenderungan-kecenderungan absurd itu, serta berusahalah memperbaiki dirimu,

p: 62

Derajat Sifat-Sifat (jiwa) di Antara Manusia

Pada tingkat ini penting untuk mengingatkan dirimu bahwa setiap sifat jiwa yang baik maupun yang buruk-memiliki beragam derajat. Mereka yang berhasil melaksanakan perbuatan baik dan tidak melakukan perbuatan buruk dikelompokkan bersama para ahli makrifat dan wali-wali Allah. Sedangkan untuk yang lainnya, keburukan dan kebaikannya ditentukan oleh maqâm (kedudukan) ruhaniahnya. Bisa jadi suatu sifat yang dianggap buruk bagi orang-orang yang berada pada maqâm yang lebih tinggi tidak dianggap sebagai sifat buruk pada maqam yang lebih rendah. Sebaliknya, mungkin saja hal itu justru dianggap sebagai suatu pencapaian. Begitu pula, sifat-sifat baik orang-orang pada maqam yang rendah dapat menjadi keburukan bagi manusia pada maqâm yang lebih tinggi. Ria yang kita bahas saat ini juga merupakan salah satu sifat yang (relatif) seperti itu. Keikhlasan adalah salah satu tingkat tertinggi kebebasan dari ria dan merupakan suatu ciri wali Allah; orang-orang lain tidak memiliki sifat seperti ini. Orang-orang awam biasanya mencapai tingkat yang lebih rendah dari ikhlas dan ini tidak membahayakan imannya karena, pada umumnya, mereka memiliki kecenderungan alamiah agar perbuatan baiknya diketahui orang lain. Meskipun mereka tidak secara sengaja

melakukannya untuk pamer, dirinya secara instingtif cenderung ingin perbuatan baik itu diketahui oleh orang lain. Kecenderungan ini tidak menghapuskan perbuatan baik mereka, tidak membuat mereka menjadi kafir, munafik, ataupun syirik. Namun, sifat yang sama menjadi buruk dalam diri wali Allah karena bagi mereka sifat itu terhitung sebagai nifaq atau syirik. Penyucian mutlak dari kotoran syirik dan pencapaian ikhlas yang sempurna dalam ibadah merupakan syarat utama untuk mencapai tingkat yang disediakan bagi para wali Allah dan bahkan ada tingkat-tingkat lebih tinggi yang dapat mereka capai.

Namun, di sini kita tidak akan membahasnya lebih dalam. Para Imam a.s. kita(1) telah menyatakan bahwa ibadah mereka adalah ibadah jiwa

p: 63


1- C Yang dimaksud adalah Imam Dua Belas dalam mazhab Imâmiyyah, yaitu Imam 'Ali, Imam Hasan, Imarn Husain, Imam 'Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ja'far Al-Shadiq, Imam Musa Al-Khazim, Imam 'Ali Al-Ridha, Imam Muhammad Al-Jawad, Imam 'Ali Hadi, Imam Hasan Al-Askari, dan Imam Muhammad Al-Mahdi--peneri.

yang telah terbebaskan (ahrár), yang dilakukan semata-mata demi cinta kepada Allah dan tidak karena ketakutan pada neraka atau harapan akan surga; dan mereka memandang bahwa tingkat itu adalah langkah pertama bagi wilayah (kepemimpinan) mereka. Bagi mereka, ibadah merupakan keadaan ekstase yang melampaui jangkauan imajinasi dan pemahaman kita. Terlepas dari hadis yang diriwayatkan dari Rasul Saw. dan Amir Al-Mukminin di atas, ada lagi sebuah hadis

yang diriwatkan oleh Zurarah dari Imam Abu Ja'far, sebagai berikut(1) Zurarah meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Imam Al-Baqir

tentang status seseorang yang melakukan perbuatan baik di depan orang lain dan itu menjadikannya berbahagia. Imam berkata, “Dalam hal itu, tidak ada salahnya; tidak ada seorang pun yang tidak senang jika perbuatan baiknya diketahui orang lain, dengan syarat bahwa ia tidak melakukannya semata-mata demi memperoleh kekaguman mereka (orang banyak).”

Dalam satu dari dua hadis di atas, kecenderungan melakukan perbuatan baik demi memperoleh penghargaan dan kekaguman orang, dianggap sebagai tanda ria, sementara dalam hadis lainnya dikatakan bahwa merasa senang karena orang lain melihat perbuatan baiknya tidaklah salah. Kedua posisi yang berbeda itu diambil sesuai dengan kategori di mana seseorang tersebut termasuk di dalamnya. Ada beberapa alasan lain pula bagi pandangan itu, tetapi kita tidak akan menyebutkannya di sini.

Definisi Sum'ah

Pada akhirnya, perlu dicatat bahwa sum'ah (reputasi) berarti menyam- paikan sifat-sifat baik pada telinga-telinga khalayak untuk tujuan menarik perhatian mereka dan menyebarkan kebaikar. seseorang, dan hal itu merupakan sebuah cabang dari pohon buruk ria. Untuk alasan yang sama, kita telah membahas sum'ah sebagai bagian dari ria, bukan sebagai sifat buruk yang khusus dan tidak membahas maknanya secara terpisah. ()

p: 64


1- 7. Ibid., jilid 2. h. 297.

3 Hadis tentang Ujub

Point

بالسّند المتّصل إلی محمّد بن یعقوب، عن علیّ بن إبراهیم، عن أبیه، عن علیّ بن أسباط، عن أحمد بن عمر الحلّال، عن علیّ بن سوید، عن أبی الحسن، [1] علیه السّلام، قال: سألته عن العجب الّذی یفسد العمل. فقال: العجب درجات، منها أن یزیّن للعبد سوء عمله فیراه حسنا، فیعجبه و یحسب أنّه یحسن صنعا. و منها أن یؤمن العبد بربّه فیمنّ علی الله تعالی و لله علیه فیه المنّ.

Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini) dari 'Ali ibn Ibrahim, dari ayahnya, dari 'Ali ibn Asbath, dari Ahmad ibn 'Umar Al-Hallal, dari 'Ali ibn Suwaid, dari Abul Hasan (Imam Al-Ridha): Berkata *Ali ibn Suwaid bahwa ia bertanya kepada Abul Hasan tentang ujub yang merusak sifat perbuatan manusia. Berkata Imam, “Ada

beberapa tingkat ujub. Salah satu di antaranya adalah ketika sifat buruk seseorang tampak baik baginya. Ia menganggapnya sebagai baik dan memuji dirinya, membayangkan bahwa ia telah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tingkat ujub yang lain tampak pada manusia yang beriman kepada Allah dan ia berpikir telah

menguntungkan Allah, sehingga ia mengungkit-ungkit kebaikannya di hadapan Allah padahal Allahlah yang berbuat baik kepada-nya (dengan memberinya keimanan itu).(1)

Dalam pandangan para ulama—semoga Allah meridhai mereka-ujub adalah "tindakan mengagung-agungkan dan membesar-besarkan suatu perbuatan baik, perasaan puas dan senang dengannya, tersipu (seperti perasaan orang yang dirayu) dan terkesima dengan perbuatan baik dirinya, dan merasa dirinya terbebas dari seluruh kekurangan dalam perbuatan baik itu”. Namun, merasakan kenikmatan dan kesenangan ketika melakukan perbuatan baik yang disertai dengan rasa rendah hati dan syukur kepada Allah atas taufik-Nya

p: 65


1- 1. Ushúl Al-Kâfî, jilid 2, h. 313.

dalam keberhasilannya berbuat kebaikan, serta memohon kepada-Nya untuk menambah taufik baginya di waktu mendatang, bukan termasuk ujub, melainkan merupakan sifat yang terpuji. Ahli hadis besar, 'Allamah Al-Majlisi—semoga Allah mengharumkan kuburnya-mengutip dari alim dan pemikir besar, Syaikh Baha’uddin Al-Amili yang berkata:

“Tidak ada keraguan bahwa ketika seseorang melakukan perbuatan baik, seperti berpuasa dan shalat pada malam hari, ia akan merasakan semacam kenikinatan dan kesenangan. Kenikmatan dan kesenangan itu bukanlah ujub—jika ia timbul dari perasaan bahwa Allah Yang Mahakuasa telah melimpahkan pemberian dan nikmat kepadanya berupa (dorongan untuk) melakukan perbuatan baik, sementara ia merasa khawatir akan kekurangan dalam perbuatannya, cemas akan hilangnya nikmat itu dan memohon kepada Allah untuk terus memberinya tambahan nikmat. Namun, jika kesenangan itu disebabkan oleh keyakinannya bahwa perbuatan baik itu sudah merupakan sifatnya dan dialah pelaku perbuatan itu, lalu dia mengagung-agungkannya dan menyukainya, memandang dirinya bebas dari seluruh kekurangan, sehingga ia merasa seolah-olah telah memberi kebaikan kepada Allah dengan perbuatan itu, maka semua itu berubah menjadi ujub."

Dalam pandangan kami yang tak berdaya ini, definisi ujub di atas cukup tepat, tetapi perbuatan yang disebut dalam kutipan di atas harus dipandang meliputi perbuatan lahiriah maupun batiniah, dalam bentuk luar maupun di dalam hati, serta mencakup perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Sebab, selain memengaruhi perbuatan lahiriah, ujub juga memengaruhi perbuatan batiniah (mental dan spiritual) seseorang dan merusaknya. Seperti halnya seorang

yang baik dapat berujub dengan kebaikannya, demikian pula pelaku perbuatan buruk dapat mengagumi keburukannya. Hadis di atas secara eksplisit menyebutkan keduanya karena sebagian besar orang sering melupakan bahwa ujub mencakup kebaikan dan keburukan. Kita akan mendiskusikan pokok masalah ini dalam pembahasan selanjutnya. Kesenangan yang bebas dari ujub dan dikatakan sebagai sifat terpuji itu juga ada banyak jenisnya, sebagaimana akan diterangkan dalam pembahasan selanjutnya.

p: 66

Hadis tentang Ujub

Seperti yang disebutkan dalam hadis di atas, ujub memiliki beberapa derajat sebagai berikut: derajat pertama, ujub dengan keimanan terhadap ajaran-ajaran yang benar; lawannya adalah ujub dengan kekufuran, kemusyrikan, dan kepercayaan-kepercayaan yang keliru. Derajat kedua, ujub dengan sifat-sifat baik; lawannya adalah ujub dengan sifat-sifat buruk. Derajat ketiga, ujub dengan perbuatan-perbuatan baik; lawannya adalah ujub dengan perbuatan-perbuatan jahat. Selain itu, masih ada beberapa derajat ujub lain yang tidak begitu penting untuk konteks buku kita ini. Dengan pertolongan Allah, kita akan membahas ketiga derajat ujub tersebut, penyebabnya, dan cara penyembuhannya dalam beberapa pasal berikut.

Derajat-Derajat Ujub

Di antara perilaku ujub yang disebutkan di atas, beberapa di antaranya mudah dikenali dengan sedikit perhatian, membuka mata, dan berusaha menemukannya. Namun, ada pula ujub yang tersembunyi dan halus, yang tidak mudah dikenali, kecuali jika kita secara cermat memeriksa diri kita, meneliti satu demi satu perbuatan kita. Begitu pula, beberapa tingkat ujub lebih merusak daripada tingkat-tingkat lainnya.

Derajat pertama dan terutama, yang merupakan tingkat ujub yang paling dahsyat dan berbahaya adalah anggapan seseorang bahwa dengan beriman kepada Allah atau bersifat terpuji, ia telah berbuat baik kepada Allah Sang Pemberi nikmat, Pemilik segala sesuatu. Ia berpikir bahwa dengan keimanannya ia telah memperluas kerajaan Allah dan ikut mencemerlangkan agama-Nya. Ia berpikir bahwa dengan menyebarkan syariat-Nya, memberikan bimbingan pada agama-Nya, melakukan amar ma'ruf nahi mungkar, melaksanakan hudûd(1) yang diperintahkan-Nya, keberadaannya di mihrab atau mimbar, maka ia telah menambah kebesaran agama Allah. Atau ia merasa bahwa kehadirannya dalam shalat jamaah kaum Muslim dan keaktifannya

p: 67


1- a Hudud adalah "batas". Yang dimaksud di sini adalah batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. yang tidak boleh dilanggar oleh manusia-penerj.

mendirikan upacara-upacara duka untuk mengenang tragedi kesyahidan Imam Al-Husain, ia telah menambah keagungan agama, dan dengan demikian memberikan keuntungan kepada Allah, kepada Baginda Nabi Muhammad, dan kepada Al-Syahid Imam Al-Husain. Meskipun ia tidak akan mengungkapkannya secara terang- terangan, dalam hatinya ia merasa begitu. Demikian pula dalam soal membantu hamba-hamba Allah sebagai kewajiban atau anjuran agama-seperti memberi zakat dan sedekah, menolong orang-orang yang miskin dan membutuhkan ia berpikir bahwa ia telah berjasa kepada mereka. Kadangkala, perasaan tersebut sedemikian tersembunyi dan halusnya sehingga orang itu sendiri tidak mengetahuinya. (Tentang masalah kemustahilan manusia menyumbang dan membantu Allah telah diulas pada hadis kedua tentang ria.)

Tingkat kedua ujub adalah keadaan seseorang yang tersipu (seperti orang yang dirayu) oleh ujub dalam hatinya-yang berbeda dengan keadaan ujub seseorang sehingga merasa telah menguntungkan Allah, meskipun banyak orang tidak melihat perbedaan keduanya. Pada keadaan itu, seseorang memandang dirinya sebagai kekasih Allah dan memasukkan dirinya dalam kelompok para wali dan orang- orang yang dekat dengan-Nya. Jika ia mendengar nama para wali dan orang-orang yang dekat dan terbius cinta Allah (majdzûb), dalam hatinya ia merasa sejajar dengan mereka-meskipun secara lahir ia memamerkan kerendahan hati atau untuk meyakinkan dirinya bahwa ia memang berada pada kedudukan itu ia menafikannya dari dirinya dengan cara yang justru makin mengukuhkan perasaan itu dalam

dirinya. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya, ia akan mengumumkan bahwa al-balâ'li al-walâ' (ujian sebagai tanda kedekatan, yang mengisyaratkan bahwa para wali sering memperoleh kesulitan). Orang-orang yang mengaku sebagai pembimbing manusia, ahli makrifat, sufi, dan zahid lebih mudah terkena bahaya ini dibandingkan dengan orang-orang lainnya.

Pada tingkat ketiga, seseorang memandang dirinya berhak memperoleh pahala dari Allah karena keimanan, watak, dan perilakunya. Dia memandang Allah wajib untuk memuliakannya di dunia ini serta menganugerahinya dengan kedudukan yang tinggi di akhirat kelak.

p: 68

la melihat dirinya sebagai orang beriman, bertakwa, dan suci. Ketika ada pembicaraan tentang orang-orang beriman, ia akan membatin: “Jika Allah berlaku adil, aku akan berhak mendapatkan pahala dan ganjaran.” Kadang kala, tanpa rasa malu, ia berani mengatakannya terang-terangan. Jika suatu bencana menimpanya atau ia menghadapi kesulitan, ia akan menyalahkan Allah dan mempertanyakan keadilan-Nya yang menyebabkan penderitaan orang Mukmin yang suci dan

mencurahkan rezeki-Nya kepada orang munafik. Ia memelihara perasaan benci kepada Allah dan keputusan-keputusan-Nya dalam hati, sementara secara lahiriah ia berpura-pura rela terhadap keputusan-keputusan-Nya. Ia menumpahkan kemarahan kepada Allah yang memberinya segala rupa nikmat, dan menunjukkan kerelaan atas keputusan Allah di hadapan makhluk. Dan ketika ia mendengar bahwa Allah akan menguji orang-orang Mukmin di dunia ini dengan pelbagai penderitaan, ia akan menghibur hatinya dengan merasa bahwa ia menderita karena ia adalah Mukmin, tanpa mengetahui bahwa kaum munafik juga banyak yang menderita dan bahwa tidak semua orang yang menderita itu Mukmin.

Tingkat ujub keempat ialah keadaan orang yang memandang dirinya lebih unggul daripada kalangan awam dalam keimanan, memandang dirinya lebih unggul daripada orang-orang beriman dalam kesempurnaan imannya, memandang dirinya lebih unggul dalam sifat-sifat baik daripada kebanyakan orang yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut, dan memandang dirinya lebih unggul dalam menjalankan ibadah-ibadah wajib dan menghindari hal-hal yang diharamkan daripada

kalangan yang tidak menjalankan semua itu. Ia memandang dirinya lebih sering melakukan hal-hal yang disunnahkan dan lebih teratur menghadiri shalat Jumat dan ritus-ritus lain. Ia memandang dirinya lebih baik dan memandang orang lain sebagai makhluk yang remeh dan cacat. Ia memandang mereka dengan hina dalam hatinya atau memperlakukan mereka dengan buruk. Ia memandang bahwa rahmat Allah hanya berhak diberikan kepadanya serta orang-orang yang sepertinya, sementara semua orang lain tidak berhak memperolehnya.

p: 69

Orang yang telah mencapai tingkat ini akan menyangkal setiap perbuatan baik yang dilakukan orang lain dan mencacatnya dalam hati. Dalam hatinya, ia melihat amal-amalnya bersifat ikhlas dan bebas dari cacat apa pun. Ia merendahkan perbuatan baik orang lain, tetapi membesar-besarkan perbuatan baiknya sendiri. Ia mat peka terhadap cacat-cacat orang lain, tetapi lupa dengan cacat-cacatnya sendiri. Itulah beberapa tanda ujub meskipun mungkin crang yang melakukannya tidak menyadarinya. Ada pula beberapa derajat ujub yang lain yang tidak saya sebutkan di sini, dan pasti juga ada beberapa tingkat lain yang saya lupa menyebutkannya.

Ujub Orang-Orang yang Tidak Beriman

Orang kafir, munafik, musyrik, ateis, pemilik sifat dan watak buruk, atau ahli maksiat, dan dosa adakalanya sampai pada tingkat mengagumi dan ujub dengan semua kekufuran dan keburukan itu, mengira diri mereka berjiwa bebas dan terbuka, tidak bertaklid dan terlepas dari takhayul. Orang-orang ini memandang diri mereka sebagai manusia-manusia pemberani dan pendobrak sembari menyangka bahwa keimanan kepada Allah adalah ilusi dan kepatuhan terhadap syariat

adalah kerapuhan dan kesempitan pikiran. Mereka menganggap sikap dan watak yang baik sebagai tanda kelemahan jiwa dan pribadi. Mereka memandang semua amal baik, ritus, dan ibadah sebagai akibat dari lemahnya persepsi dan kurangnya kecerdasan, sementara mereka melihat diri merekalah yang patut mendapat pujian dan aplaus karena tidak meyakini khurafat dan tidak peduli pada aturan-aturan syariat. Sifat-sifat buruk dan bejat telah berurat-akar dalam hati mereka,

memenuhi mata dan telinga mereka, sehingga mereka melihat semua keburukan itu sebagai kebajikan dan kesempurnaan. Begitulah yang dikemukakan dalam hadis di atas, “Ujub terdiri atas beberapa derajat, di antaranya adalah ujub yang memperindah perbuatan buruk pada manusia sehingga ia menganggapnya sebagai perbuatan baik.” Hadis ini mengacu kepada ayat Al-Quran yang menyatakan:

«أَفَمَنْ زُیِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ یُضِلُّ مَنْ یَشَاءُ وَیَهْدِی مَنْ یَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُکَ عَلَیْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِیمٌ بِمَا یَصْنَعُونَ (8)»

Dan bagaimana dengan orang yang diperhiaskan perbuatan buruknya sehingga ia melihatnya sebagai kebaikan? (Qs Fâthir (35): 8)

p: 70

Kalimat “ia merasa berbuat baik” dalam hadis di atas merujuk pada ayat-ayat berikut:

«قُلْ هَلْ نُنَبِّئُکُمْ بِالْأَخْسَرِینَ أَعْمَالًا (103)» «الَّذِینَ ضَلَّ سَعْیُهُمْ فِی الْحَیَاهِ الدُّنْیَا وَهُمْ یَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ یُحْسِنُونَ صُنْعًا (104)» «أُولَئِکَ الَّذِینَ کَفَرُوا بِآیَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِیمُ لَهُمْ یَوْمَ الْقِیَامَهِ وَزْنًا (105)»

Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka tu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan terhadap perjumpaan dengan-Nya; maka hapuslah amalan-amalan ereka, dan Kami tidak menghitung amalan-amalan tersebut pada hari kiamat. (QS Al-Kahfi (18): 103-105)

Orang-orang seperti itu, yang sebetulnya adalah orang-orang bodoh yang merasa pandai, adalah kelompok manusia yang paling menyedihkan dan makhluk yang paling malang. Dokter-dokter ruhani tidak akan mampu menyembuhkan mereka. Tidak ada dakwah atau nasihat yang dapat memengaruhi mereka. Bahkan, semua nasihat itu malah mungkin menimbulkan pengaruh yang bertentangan. Mereka tidak mau mendengarkan argumen apa pun. Mereka tidak memedulikan bimbingan para nabi, argumen para filosof, dan ajaran orang-orang bijak. Kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan pelbagai tipu dayanya yang menarik manusia dari dosa kepada kekufuran dan dari kekufuran kepada ujub. Diri (nafs) dan setan, dengan meremehkan sejumlah maksiat, menyeret manusia untuk

berbuat maksiat. Dengan menanamkan satu maksiat ke dalam hati dan merendahkan nilai dosanya di mata kita, diri dan setan menyeret manusia untuk melakukan maksiat lain yang lebih besar daripada yang pertama. Setelah melakukan maksiat kedua itu berulang-ulang, maksiat itu pun akan kehilangan bobotnya dan tampak ringan semata, sehingga ia ragu melakukan dosa yang lebih besar lagi. Dengan begitu, selangkah demi selangkah, setiap dosa besar menjadi ringan di mata-

nya dan hukum Allah diremehkan, lalu semua aturan syariat dan undang-undang Ilahi menjadi tidak berarti di hadapannya. Puncaknya, pelan-pelan ia akan terseret pada kekufuran, kemurtadan, dan kekaguman pada semua itu. Kita akan membahas masalah ini pada bagian selanjutnya.

p: 71

Halusnya Tipu Daya Diri dan Setan

Seperti korban ujub dalam kemaksiatan yang bergerak maju selangkah demi selangkah sehingga sampai pada derajat kekufuran dan kemurtadan, demikian pula para korban ujub dalam ibadah bergerak dari tingkat ujub yang rendah menuju ke tingkat yang lebih parah. Tipu daya diri dan setan dalam hati dijalankan melalui rencana yang matang. Tidak mungkin setan memengaruhi kalian yang bertakwa dan takut kepada Allah untuk melakukan dosa membunuh atau berzina. Ia juga tidak mungkin mengusulkan kepada orang yang mulia dan berjiwa bersih untuk mencuri atau merampok. Demikian pula, setan tidak akan memengaruhimu sejak awal untuk memandang perbuatan baikmu sebagai keuntungan bagi Allah atau untuk memasukkan dirimu ke dalam kelompok kekasih, wali, dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Pada mulanya, ia akan memulai pada tingkat yang paling bawah dan merekah jalan kecil kedalam hatimu, dengan mendorongmu untuk bergiat melaksanakan ibadah-badah sunnah, membaca zikir dan wirid. Dalam pada itu, ia akan mengarahkan perhatianmu kepada dosa orang dan mendorongmu untuk membandingkannya dengan perbuatanmu sendiri. Lalu, ia akan membisikkan ke telingamu bahwa kau sudah cukup punya dasar-dasar rasional maupun agama untuk memandang dirimu lebih unggul daripada orang-orang lain. Dengan demikian, perbuatan baikmu itu akan menjadi sumber keselamatanmu dan bahwa dengan

rahmat Allah engkau akan menjadi orang saleh dan bebas dari segala keburukan. Dengan sugesti-sugesti itu, iblis mencapai dua hal: pertama, ia menanamkan rasangka buruk dalam hatimu kepada hamba-hamba Allah yang lain; kedua, ia membuatmu ujub dengan dirimu sendiri. Kedua sifat ini merupakan bagian dari perusak amal (muhlikât) dan sumber keburukan (mafâsid).

Pada titik ini, katakan kepada dirimu dan setan bahwa mungkin saja orang yang berdosa itu memiliki pelbagai kebaikan dan amalan yang menjadikannya terliputi oleh rahmat Allah yang luas dan Allah menjadikan cahaya pelbagai kebaikan dan amalannya itu sebagai penyuluh baginya sehingga ia akan terbimbing pada kesudahan yang baik (husn al-'âgibah). Mungkin Allah menimpakan dosa itu kepada-

p: 72

nya untuk melindunginya dari ujub yang lebih buruk daripada kebanyakan dosa lain. Dalam sebuah hadis Al-Kâfî, dikatakan: Al-Imam Ja'far Al-Shadiq berkata, “Sesungguhnya Allah mengetahui bahwa dosa itu lebih baik bagi Mukmin daripada ujub. Jika tidak, Dia tidak akan pernah menimpakan dosa kepada seorang

Mukmin.” Mungkin justru karena prasangka burukku kepada orang lain ini perbuatanku akan berakibat akhir yang buruk buatku. Syaikh kami, arif yang sempurna, yahabadi-semoga nyawaku menjadi tebusannya—pernah mengatakan, “Janganlah engkau mencacat orang lain dalam hatimu, sekalipun ia orang kafir. Mungkin saja cahaya fitrah dalam hatinya akan memberinya hidayah, sementara penghinaan dan cacianmu kepadanya membawamu menuju akibat yang buruk. Amar ma'ruf dan nahi mungkar (menganjurkan pada kebaikan dan mencegah keburukan) berbeda sama sekali dengan penghinaan dalam hati.” la bahkan berkata, “Janganlah pernah mengutuk orang kafir yang tidak diketahui keadaannya saat ia meninggalkan dunia ini. Mungkin saja mereka meninggalkan dunia setelah mendapatkan hidayah, sehingga (kekuatan) ruhaniah mereka dapat menghalangi kemajuan ruhaniahmu sendiri.”

Bagaimanapun, waspadalah pada iblis dan diri (nafs) yang membuat manusia memasukkan kalian ke tingkat awal ujub dan dari sini pelan-pelan membawa kalian ke tingkat ujub yang lebih tinggi. Lalu, derajat ujub itu bertambah sehingga manusia sampai pada tingkat merasa bahwa ia telah memberikan keuntungan dan sumbangan kepada Allah Sang Pemberi nikmat dan Pemilik segala sesuatu melalui keimanannya dan berbagai amalnya. Dengan begitu, segenap amalnya akan sampai ke dasar yang paling bawah.

Keburukan-Keburukan Ujub

Ketahuilah bahwa ujub itu merusak dan merupakan kejahatan berbahaya yang mencemari keimanan dan amalan manusia. Dalam jawabannya terhadap pertanyaan yang diajukan seorang perawi hadis tentang ujub yang merusak perbuatan (dalam hadis di atas), Imam mengatakan bahwa ujub dalam keimanan adalah salah satu bentuknya. Sedangkan,

p: 73

dalam hadis yang baru dikutip di atas, kita membaca bahwa Allah menganggap ujub lebih buruk daripada dosa sedemikian sehingga Dia menimpakan dosa kepada Mukmin agar terhindar dari ujub. Rasulullah Saw. memandang ujub sebagai salah satu perusak (amal manusia). Dalam kitab Al-A'mâl yang disusun oleh Syaikh Al-Shaduq, Imam ‘Ali diriwayatkan berkata: “Seseorang yang dimasuki ujub akan hancur.” Setelah meninggal dan memasuki alam barzakh (alam kubur), bentuk kegembiraan yang timbul dari ujub akan berbentuk hal yang sangat mengerikan dan menakutkan, yang tidak dapat dibandingkan. Dalam sebuah nasihat yang diberikan oleh Rasul Saw, kepada Imam ‘Ali sebelum wafatnya, beliau bersabda: “Tidak ada kesendirian yang lebih mencekap daripada kesendirian yang dihasilkan oleh ujub." Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada iblis tentang dosa yang menjadi sarana iblis menaklukkan anak cucu Adam. Iblis menjawab, ketika mereka merasa ljub pada diri sendiri, mengagungkan perbuatan baik mereka dan meringankan bobot dosa mereka. Allah memerintahkan Daud a.s. untuk “menyampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa dan memperingatkan orang-orang shiddiq (yang benar-benar jujur)”. Daud pun bertanya kepada Allah mengapa demikian dan Allah menjawab, “Sampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa bahwa sesungguhnya Aku menerima tobat mereka dan mengampuni dosa mereka. Dan peringatkan orang-orang shiddiq agar tidak ujub dengan segenap perbuatan mereka. Sesungguhnya semua orang akan hancur jika Aku berlaku teliti kepadanya

dalam perhitungan-Ku.” Aku berlindung kepada Allah dari hitung-hitungan-Nya yang menghancurkan hamba-hamba Allah yang shiddiq dan yang lebih mulia daripada mereka. Dalam kitab Al-Khishal, Syaikh Al-Shaduq meriwayatkan dari Imam Al-Shadiq bahwa ia berkata, "Iblis berkata, Jika aku berhasil menundukkan anak cucu Adam dalam tiga hal, aku tidak akan

p: 74

peduli pada apa pun yang mereka lakukan karena semua amalnya tidak akan diterima: pertama, ketika seseorang membesar-besarkan amalnya; kedua, lupa pada dosa-dosanya; dan ketiga, ketika ujub merasukinya."

Di samping seluruh keburukan yang telah kamu baca, ada banyak dosa besar dan sifat buruk yang merupakan buah dari pohon buruk ujub. Ketika akar ujub memasuki hati manusia, ia membawa manusia kepada syirik dan kemurtadan dan hal-hal yang lebih buruk lagi daripada itu. Salah satu dari sifat buruk itu adalah meremehkan dosa. Seorang yang terkena penyakit ujub tidak akan pernah berniat untuk memperbaiki dirinya. Namun, ia justru memandang dirinya sebagai orang suci bersih, serta tidak pernah berpikir untuk membersihkan dirinya dari dosa. Tirai ujub yang tebal menjadi penghalang bagi manusia untuk melihat aib-aib dirinya. Ini adalah suatu malapetaka besar yang tidak hanya menghalanginya mencapai segala bentuk kesempurnaan, tetapi juga menanamkan ke dalam dirinya segala

jenis sifat buruk yang membawanya menuju kehancuran abadi. Bahkan, dokter-dokter jiwa tidak akan mampu menyembuhkannya. Akibat lain dari keburukan ujub ialah tumbuhnya keyakinan seseorang pada dirinya sendiri dalam segenap perbuatannya sehingga ia berpikir bahwa dirinya tidak bergantung kepada Allah, tidak melihat keutamaan yang Dia berikan kepadanya dan dalam pikirannya yang sempit tersirat anggapan bahwa Allah wajib untuk memberinya balasan dan pahala. Ia mengira bahwa meskipun Allah memperlakukannya dengan adil, ia akan tetap pantas mendapatkan pahala. Insya Allah, kita akan membahas masalah ini lagi pada bagian lain. Di antara keburukan lain yang ada dalam diri manusia yang terkena penyakit ujub adalah memandang hina pada orang lain. Ia menganggap perbuatan mereka sebagai tidak penting, betapapun mungkin perbuatan itu jauh lebih baik daripada perbuatannya sendiri. Ini juga merupakan salah satu sebab kehancuran manusia dan duri dalam jalannya menuju keberhasilan dan keselamatan. Akibat buruk ujub yang lain adalah manusia menjadi condong kepada ria. Karena, jika seseorang memandang dirinya sebagai tidak berarti, mengecilkan nilai perbuatannya, melihat akhlaknya buruk

p: 75

dan keimanannya tidak patut diperhitungkan, ia tidak akan menjadi ujub pada diri sendiri, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatannya. Sebaliknya, ia akan memandang dirinya dan semua perbuatan yang dilakukannya sebagai buruk dan jelek, sehingga ia tidak akan terdorong untuk menonjol-nonjolkan semua itu; tak ubahnya dagangan jelek yang tak pantas untuk dipamerkan. Namun, kalau ia memandang dirinya sebagai manusia sempurna dan perbuatannya besar, ia akan terdorong untuk memamerkannya dan berbuat ria. Maka dari itu, semua keburukan ria yang dikemukakan dalam hadis kedua pada bab sebelum ini berlaku pula untuk ujub.

Akibat buruk lain dari ujub adalah menimbulkan kerusakan lain berupa kesombongan yang membinasakan dan membawa manusia pada semua akibat buruk yang ditimbulkan oleh dosa kesombongan. Pembahasan lengkap tentang semua akibat buruk kesombongan ada dalam bagian lain.

Cukuplah jika disebutkan bahwa penderita penyakit ujub harus mengetahui bahwa siſat buruk ini merupakan benih bagi munculnya banyak sifat buruk lainnya, yang salah satu darinya saja sudah cukup untuk melahirkan kehancuran dan siksaan abadi. Jika seseorang mencoba memahaminya dengan baik dan mempelajari hadis dan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. atau para Imam Ahl Al-Bait, ia akan menyadari bahwa ia harus memperbaiki dirinya dari akan berusaha mencari cara untuk melenyapkannya, sebelum---semoga Allah menghindarkannyamia membawanya ke alam yang akan datang. Jika itu yang terjadi, ketika matanya tertutup di dunia ini dan terbuka di alam barzakh, dan-setelah itu--di hari kebangkitan, ia akan melihat bahwa orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa besar jauh lebih baik daripada dirinya. Ia akan melihat bahwa Allah menenggelamkan mereka ke dalam lautan kasih dan sayang-Nya karena mereka telah menyesal dan mengucapkan obat, atau karena keyakinannya yang besar terhadap rahmat-Nya. Sementara, makhluk yang malang ini, karena menganggap dirinya tidak membutuhkan rahmat Allah dan dalam lubuk hatinya muncul kepercayaan diri yang berlebihan bahwa ia telah berada pada kedudukan tinggi yang tidak memerlukan rahmat-Nya, maka Allah akan

p: 76

menghakiminya dengan tegas, sebagaimana yang diinginkannya sendiri agar ia dihakimi secara adil. Allah akan menunjukkan kepada dirinya bahwa ia bukan saja tidak melaksanakan satu ibadah pun, melainkan juga bahwa perbuatan ibadah dan kesalehannya hanya menjauhkan dirinya dari Allah, menjauhkan dirinya dari tujuannya. Bukan saja keimanan dan perbuatannya tidak sah, melainkan juga menjadi sebab bagi kutukan abadi dan siksaan pedih di neraka. Semoga Allah tidak

menghakimi setiap manusia dengan keadilan-Nya; karena, jika demikian, tidak seorang pun dari manusia akan selamat, sebagaimana telah disebutkan di atas. Doa-doa yang diucapkan oleh hamba-hamba pilihan Allah dan para Imam dipenuhi dengan pengakuan kegagalan mereka untuk berbuat sesuai dengan tuntutan badah kepada Allah. Makhluk yang paling sempurna dan manusia yang paling dekat dengan Allah, Rasulullah Saw., pernah mengucapkan: “Kami tidak mengetahui-Mu sebagaimana seharusnya Engkau diketahui. Kami tidak menyembah-Mu sebagaimana Engkau seharusnya disembah.” Lalu, apakah yang seharusnya kita lakukan? Sudah pasti mereka (Rasul dan para Imam) menyadari kebesaran-Nya dan mereka mengetahui hubungan antara wujud yang mungkin (mumkin al-wujud) dan Wujud Wajib (Wajib Al-Wujûd) secara baik. Meskipun demikian, mereka mengetahui bahwa kalaupun mereka menghabiskan umurnya dalam beribadah kepada-Nya, mereka masih belum mampu bersyukur kepada-Nya, apalagi menghormati-Nya sesuai dengan Esensi dan Sifat-Nya.

Mereka mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang maujud pada dirinya sendiri. Hidup, kekuatan, pengetahuan, dan semua kesempurnaan lain adalah bayang-bayang dari Sifat-Sifat Allah. Setiap maujud yang mungkin berada dalam keadaan membutuhkan Zat Mutlak dalam segala hal; suatu bayangan yang bergantung dan tidak mandiri. Apakah yang dimiliki suatu maujud mungkin yang dapat dipamerkannya? Kekuatan apakah yang dimilikinya untuk dipertunjukan? Rasul Saw. dan para Imam memiliki pengetahuan tentang Allah; mereka memiliki pengetahuan tentang keindahan dan kebe-

p: 77

saran-Nya. Mereka adalah orang-orang yang telah menyaksikan secara langsung kekurangan dan kelemahan mereka dan menyaksikan secara langsung kesempurnaan Wujud Mutlak. Kita, makhluk-makhluk malang ini, yang pandangannya telah dikaburkan oleh tabir tebal kebodohan, kelalaian, dan ujub; dan seluruh daya pikir, indra pendengaran, penglihatan, dan indra lain kita telah tertutup oleh tabir dosa lahir maupun batin, kitalah orang yang sok menunjukkan kekuatan di

hadapan Zat Yang Mahakuasa dengan memandang diri kita sebagai maujud yang mandiri, tidak bergantung. Wahai maujud yang mungkin, yang rendah! Engkau lupa akan dirimu sendiri dan lupa akan hubunganmu dengan Penciptamu. Wahai maujud malang yang bergantung! Engkau telah melupakan tugas-tugasmu terhadap Raja segala raja! Kebodohan dan kedunguanmu itu bertanggung jawab terhadap seluruh kemalanganmu dan telah menenggelamkan dirimu ke dalam berbagai malapetaka dan kegelapan. Pencemaran ini telah dimulai langsung dari sumbernya (yakni dirimu sendiri). Kita telah kehilangan kemampuan melihat

dan hati kita telah buta. Inilah akar seluruh penyakit kita. Meskipun demikian, kita tidak peduli untuk menyembuhkannya. Duhai, Allah Yang Mahakuasa, anugerahilah kami kemampuan untuk bertobat dan menyadari segenap kewajiban kami. Anugerahilah kami sebagian dari cahaya pengetahuan-Mu yang mengisi hati para arif dan wali-Mu. Anugerahilah kami pemahaman akan wilayah kekuasaan dan kerajaan-Mu. Bimbinglah kami untuk menemukan kelemahan dan kesalahan kami. Singkapkanlah misteri makna Alhamdulillâhi Rabbil 'Alamin kepada kami, makhluk yang bodoh, yang menisbahkan segala sifat terpuji kepada para makhluk. Berilah kami pengetahuan bahwa tidak satu pun dari sifat terpuji itu yang dapat dinisbahkan kepada maujud yang diciptakan. Ungkapkan kepada kami kebenaran ayat:

«مَا أَصَابَکَ مِنْ حَسَنَهٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَکَ مِنْ سَیِّئَهٍ فَمِنْ نَفْسِکَ وَأَرْسَلْنَاکَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَکَفَی بِاللَّهِ شَهِیدًا (79)»

Apa pun kebaikan yang ada pada dirimu (makhluk), itu berasal dari Allah, dan apa pun keburukan yang ada pada dirinu, itu berasal dari dirimu sendiri. (QS Al-Nisa' [4): 79)

p: 78

Ya Allah, guratkan kalimat tauhid pada hati kami yang kotor dan keras. Kami adalah manusia dari dunia gelap yang merana di balik tabir-tabir, terombang-ambing di antara kemurtadan dan kemunafikan. Kami telah berlaku egois, menyembah diri sendiri, dan ujub kepada diri sendiri. Singkirkanlah keburukan cinta diri dan cinta

dunia dari hati kami dan jadikanlah kami pecinta dan penyembahMu. Sesungguhnya, Engkaulah yang berkuasa melakukan segala sesuatu.

Cinta Diri sebagai Sumber Ujub

Sifat buruk ujub berasal dari cinta diri yang telah tertanam dalam fitrah manusia. Sumber semua kesalahan, kemaksiatan, dan keburukan moral adalah cinta diri. Karena cinta diri inilah, manusia membesar-besarkan perbuatan remehnya dan, dengan demikian, memasukkan dirinya ke dalam kelompok para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Oleh karenanya, ia tidak hanya memandang dirinya patut mendapat pujian dan penghormatan karena perbuatan-perbuatan remeh itu, tetapi kadang kala ia juga memandang perbuatan buruknya sebagai baik jika ia melihat adanya kebaikan moral dan kesalehan yang lebih besar pada orang lain, ia tidak saja menganggapnya tidak berarti, tetapi juga mencoba merusakkan kesan baiknya sedapat mungkin. Ia selalu melihat adanya kebaikan dalam perbuatan-

perbuatan buruknya sekalipun, dan berusaha mewarnainya dengan warna-warna yang semarak. Ia memandang rendah makhluk-makhluk Allah yang lain dalam hatinya, sementara ia berpikir tentang dirinya sendiri dengan optimisme, memandang dirinya amat tinggi. Disebabkan cinta diri yang sama ini jugalah sehingga ia berharap tindakan-tindakan remehnya, dan tindakan-tindakannya yang telah dirusakkan oleh ribuan noda, cukup berharga untuk diberi balasan oleh Allah.

Akan lebih baik jika kini kita merenungkan perbuatan-perbuatan baik kita dan menilai ibadah-ibadah kita secara rasional. Kita harus mencoba menilainya dengan adil dan melihat apakah kita memang berhak memperoleh balasan baik dari Allah dan mendapat pujian tas dasar perbuatan-perbuatan itu. Ataukah, sebaliknya, kita patut dikecam dan dihukum karenanya. Dan, jika Allah akan memasukkan

p: 79

kita ke dalam nyala api kemurkaan-Nya disebabkan perbuatan-per-buatan itu, yang kita pandang sebagai perbuatan baik, apakah Dia cukup adil untuk melakukannya? Kini, saya akan memintamu untuk menjadi hakim guna menilai dengan adil masalah berikut ini, setelah melakukan perenungan yang mendalam. Pertanyaan saya adalah bahwa jika Rasulullah Saw., yang kejujurannya telah diakui, berkata kepadamu, “Tidak ada pengaruhnya di dunia yang akan datang nanti, apakah engkau beribadah kepada Allah sepanjang hidupmu, mematuhi perintah-perintah-Nya, dan menahan segala hawa nafsu, atau apakah engkau hidup dengan membangkang kepada-Nya dan menuruti saja seluruh hawa nafsumu? Perilaku ini tidak akan memengaruhi kedudukanmu di akhirat. Apapun yang kaulakukan, kau akan memperoleh penyelamatan dan dimasukkan ke dalam surga, serta bebas dari siksaan-Nya. Tidak ada pengaruhnya apakah engkau melakukan shalat atau terlibat maksiat. Meskipun demikian, ridha Allah ada pada orang-orang yang menyembah-Nya, memuji dan bersyukur kepada-Nya, dan menahan hawa nafsunya di dunia ini, meskipun untuk itu tidak ada balasannya." jika engkau diberi pilihan tersebut, apakah kau akan menyembah- Nya atau melakukan dosa? Akankah engkau menahan hawa nafsumu demi memperoleh ridha Allah atau tidak? Dan, apakah engkau masih mau melakukan ibadah-ibadah sunnah, shalat Jumat, dan shalat ber-

jamaah? Ataukah engkau akan bergelimang dalam kemewahan, hiburan, dan syahwat? Aku berharap engkau akan menjawab pertanyaan ini dengan adil, tanpa ada praanggapan lain, dan dengan jujur pula. Sedangkan aku dan orang-orang lain yang seperti diriku, kami pasti akan berada dalam kelompok orang yang melakukan dosa, mengabaikan kewajiban kami terhadap-Nya, dan terseret oleh tarikan indriawi kami.

Dari sini, kita memperoleh kesimpulan bahwa seluruh perbuatan kita berfungsi sebagai sarana untuk memuaskan keinginan kita dan mengikuti tarikan jasmaniah kita. Kita adalah penyembah daging kita sendiri. Kita menghentikan satu kenikmatan demi kenikmatan lain yang lebih besar. Tujuan yang kita kejar, harapan kita yang tidak pernah mati adalah untuk pemuasan jasmaniah kita. Shalat, yang

p: 80

merupakan sarana untuk mencapai kedekatan dengan-Nya, kita lakukan dengan harapan agar kita dapat berkumpul bersama para bidadari surga. Ibadah kita juga tidak ada hubunganya dengan kepatuhan terhadap perintah-Nya, dan ribuan mil jauhnya dari keridhaan Allah. Engkau, makhluk yang malang, tidak mengetahui ajaran Allah; engkau yang tidak dapat memahami apa pun kecuali dorongan-dorongan hewanimu. Engkau yang, meskipun dengan terpaksa melakukannya, merasa bangga dengan mengingat-Nya, menyebut-nyebutkan Nama-Nya, mematuhi kewajiban yang diperintahkan-Nya, dan menghindari apa yang dilarang-Nya. Engkau yang mematuhi aturan-aturan akhlak dan tidak melakukan apa yang diharamkan ingin dihakimi dengan adil atas semua perbuatanmu yang dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan jasmaniah agar kau dapat duduk bermalas-malasan di atas kursi yang bertatahkan batu delima di surga, di tengah hadiah-hadiah yang menyenangkan, berpakaian sutra, memiliki rumah megah di sana—adilkah untuk berpikir bahwa seluruh perbuatan itu, yang dilakukan demi memuaskan ego kita dan memenuhi keinginan diri kita, dilakukan semata-mata demi Allah? Engkau yang melakukan perbuatan baik dengan harapan memperoleh balasan yang seimbang, tidakkah engkau berbeda dari seorang pekerja yang bekerja demi upah lalu berkata bahwa ia bekerja semata-mata demi tuannya? Apakah engkau bukan seorang pendusta ketika engkau berkata bahwa engkau melakukan shalat demi Allah semata-mata? Apakah shalatmu engkau lakukan untuk mencapai kedekatan

dengan Allah, atau agar engkau dapat berkumpul bersama para bidadari surga dan memperoleh kenikmatan-kenikmatan jasmaniah? Biarlah saya katakan secara terang-terangan bahwa seluruh shalat seperti itu dipandang sebagai sama dengan dosa besar oleh para arif dan wali Allah. Engkau, wahai makhluk yang malang, berbuat menentang keridhaan Allah di hadapan para malaikat; dan ibadah yang dimaksudkan sebagai sarana pendakian menuju kedekatan dengan-Nya, kau salah gunakan untuk memuaskan diri wadagmu. Dan meskipun begitu, kau sama sekali tidak merasa malu atas seluruh dusta yang kauucapkan di hadapan Allah dan para malaikat-Nya selama shalatmu. Dan seakan-akan itu belum cukup. Kau membuat

p: 81

beberapa tuduhan terhadap Allah, berpikir seakan-akan engkau sedang memerintahkan Allah, bersenang-senang dalam ujubmu, dan sama sekali tidak merasa malu atau menyesal sementara melakukan semua itu! Apakah bedanya antara ibadah yang kita lakukan ini dengan perbuatan dosa, yang pada bentuk paling ekstremnya merupakan ria? Ria adalah sejenis syirik dan keburukannya terletak pada ibadah yang dilakukan bukan karena Allah, bukan untuk Allah. Seluruh ibadah dan kepatuhan kita adalah syirik murni, yang sama sekali tidak mengandung setitik pun keikhlasan. Tujuan memperoleh keridhaan Allah tidak tersirat sama sekali di dalamnya--bahkan untuk sebagian kecilnya pun—tetapi satu-satunya dorongan adalah pemuasan perut dan farji.

Sahabatku, waspadalah! Shalat yang dilakukan demi pasangan lawan jenismu—di alam ini maupun di alam kelak--bukanlah shalat yang dilakukan demi Allah. Shalat yang dilakukan untuk pencapaian keuntungan duniawi atau untuk memperoleh balasan di akhirat bukanlah untuk Allah. Jika itu untuk Allah, di manakah ruang untuk

rasa berbangga diri? Hak apakah yang kaumiliki untuk merendahkan makhluk-makhluk Allah dan untuk menganggap dirimu sebagai rang penting di mahkamah Allah? Manusia yang malang, kau patut mendapat hukuman atas shalat dan ibadahmu itu; dan untuk itu kau patut dirantai dengan tujuh puluh meter rantai. Lalu, mengapa kau anggap dirimu sebagai seorang yang berhak mendapat hadiah, telah memberikan keuntungan pada Allah? Mengapa kau menumpuk siksaan lain bagi dirimu dengan meneruskan harapan yang sia-sia dan bertahan dalam ujub ini? Laksanakanlah tugas-tugas yang diwajibkan kepadamu dengan baik dan ingatlah selalu bahwa ibadahmu itu bukan semata-mata demi Allah; dan jika Allah mengirimmu ke surga, itu semata-mata karena limpahan belas kasih-Nya. Ingatlah

bahwa Dia telah memberikan keringanan bagi beraneka jenis syirikmu yang telah tertanam kuat. Dengan kasih sayang dan ampunan- Nya, Dia menutupi dosa-dosamu dengan tabir-Nya. Jangan sampai tabir itu terkoyak dan tabir pengampunan disingkapkan dari wajah buruk yang kita sebut sebagai ibadah ini. Semoga Allah menghindar kannya—jika keringanan itu ditarik dan seluruh perbuatan kita diha-

p: 82

kimi sesuai dengan garis keadilan, ingatlah bahwa ibadah palsu kita tidak lebih baik daripada dosa-dosa besar para pendosa. Sebelum ini, kita telah mengacu kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tsiqât Al-Islâm, Al-Kulaini, dalam kitabnya, Al-Kafi, dari Imam Al-Shadiq. Berikut ini saya mengutipnya secara lengkap

untuk memperoleh keberkahannya: Berkata Imam Al-Shadiq, “Rasulullah Saw. bersabda bahwa Allah berkata kepada Daud. 'Wahai Daud, sampaikanlah kabar gembira kepada para pelaku dosa dan peringatkanlah orang-orang yang saleh.' Daud berkata, 'Bagaimana aku menyampaikan kabar gembira kepada para pelaku dosa dan memperingatkan orang-orang yang saleh?' Allah menjawab, 'Sampaikanlah kabar gembira kepada para pelaku dosa bahwa Aku menerima tobat mereka dan peringatkanlah orang-orang yang saleh agar mereka tidak memiliki sifat ujub dalam perbuatan-perbuatan mereka karena tidak ada seorang hamba pun yang akan selamat jika Aku menilai perbuatan-perbuatan mereka (dan patut mendapat hukuman karena--menurut persyaratan keadilan—seorang manusia dengan seluruh ibadahnya tidak dapat bersyukur kepada Allah sebagaimana seharusnya— bahkan untuk satu rahmat-Nya pun)'.”

Jika orang-orang yang saleh, yang bebas dari semua dosa, patut mendapat kutukan bila dinilai secara adil, lalu bagaimanakah nasib orang-orang seperti aku dan engkau? Dan itu pun jika perbuatan-perbuatan kita bersih dan bebas dari ria duniawi, dan segenap noda dan keharaman, yang kemungkinannya amat kecil. Maka dari itu, kini berbanggalah jika ada alasan untuk merasa bangga dan ujub. Namun, jika engkau menyadari bahwa kini adalah saatnya untuk merasa malu dan menyatakan pengakuan kepada Allah karena telah mengucapkan semua dusta itu di hadapan Allah dan karena secara salah menisbahkan semua perbuatan baik itu—kalau pun ada- kepada diri kita sendiri. Bukankah kini saatnya untuk bertobat karena engkau mengeluarkan pernyataan berikut ini di hadapan Allah

dalam shalatmu: Kuhadapkan wajahku, dalam keikhlasan dan ketundukan, kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan aku bukanlah dari

p: 83

kelompok orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku untuk Allah Penguasa Alam. Benarkah wajahmu menghadap kepada Pencipta langit dan bumi? Benarkah kau seorang yang Muslim (tunduk) dan bebas dari syirik? Benarkah shalat, ibadah hidup, dan matimu untuk Allah? Tidakkah

kita seharusnya merasa malu ketika dalam shalat mengucapkan, “Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin"? Benarkah engkau dengan ikhlas memandang seluruh sifat baik itu diturunkan dari Allah, padahal kau tidak hanya tunduk kepada-Nya, tetapi juga kepada se ain-Nya? Apakah bukan suatu dusta jika secara lahir engkau mengakui bahwa Allah adalah “Rabbil 'Alamin”, sementara sebenarnya kau tunduk kepada kekuasaan selain-Nya? Adakah sedikit rasa malu dan sesal dalam hatimu ketika mengucapkan, “Iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'în"? Apakah kau benar menyembah-Nya atau menyembah dagingmu sendiri? Apakah engkau benar-benar menuju kepada-Nya ataukah menginginkan para bidadari surga? Apakah engkau hanya meminta pertolongan kepada Allah? Dalam perbuatanmu, apakah engkau hanya

memandang-Nya? Ketika engkau pergi ke Bait Allah (Rumah Allah), Ka'bah, untuk melaksanakan haji, apakah Allah benar-benar satu-satunya tujuanmu? Dan apakah Pemilik Rumah itu yang menjadi tujuanmu, sebagaimana dikatakan seorang penyair:

Bukan rumah itu yang menarik hatiku

Tapi penghuni rumah itu yang kucintai

Apakah engkau sedang dalam pencarian akan Allah dan ingin memperoleh pandangan cemerlang-Nya? Apakah engkau melaksanakan upacara berduka untuk Imam Husain(1), memukul kepala dan dadamu, demi keridhaan-Nya, ataukah untuk memenuhi angan-anganmu sendiri? Apakah bukan kepentingan dirimu sendiri yang

mendorongmu untuk mengadakan upacara-upacara duka itu? Apakah bukan nafsu ingin menonjol yang mendorongmu untuk mengikuti shalat jamaah dan ibadah-ibadah ritual lainnya?

p: 84


1- b Imam Husain, menurut mazhab Imâmiyyah, adalah “Penghulu para Syuhada” yang syahid di Karbala-peneri.

Saudaraku, waspadalah terhadap tipu daya diri dan iblis yang tidak menginginkan ikhlasnya ibadahmu! Dan kalau pun amal yang tidak ikhlas itu kemudian diterima oleh Allah, diri dan setan akan menghalangimu untuk mencapai tujuan. Dengan ujub dan rasa bangga yang tidak tepat ini, iblis akan memusnahkan seluruh erbuatanmu dan manfaat kecil yang menjadi tujuanmu itu pun juga tidak akan tercapai. Jika keridhaan Allah tidak kauperoleh, harapan akan para bidadari surga pun sia-sia. Kini, setelah kehilangan segalanya, kutukan abadi dalam nyala api neraka tidak jauh lagi. Melalui kesalahanmu, perbuatanmu yang tercemari oleh ria, sum'ah, dan seribu sifat buruk lainnya-yang salah satu darinya pun sudah cukup untuk menghalangi diterimanya perbuatan kita-engkau berpikir telah memberi

kredit kepada Allah, telah menjadi hamba terkasih-Nya. Sahabatku yang malang, engkau yang tidak mengetahui kedudukan hamba-hamba terkasih-Nya dan api kerinduan yang menyala dalam hati mereka, kau makhluk yang tidak beruntung, dengan sedikit pengetahuanmu tentang keikhlasan sejati mereka dan cahaya yang

melimpah dari perbuatan-perbuatan mereka, apakah engkau berpikir bahwa perbuatan-perbuatan mereka itu sama dengan perbuatanmu dan perbuatanku? Apakah engkau berpikir bahwa shalat Amir Al-Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib berbeda dari kita hanya dalam pengejaan “waladh-dhallin” secara tepat, atau dalam memperpanjang sujud dan memperbanyak jumlah rakaat? Apakah engkau berpikir bahwa munajat Imam Sayyid Al-Sajidin, 'Ali ibn Husain ibn 'Ali ibn Abi Thalib(1), serupa dengan gumaman kita? Apakah engkau berpikir bahwa ia menangis terisak-isak hanya demi para bidadari surga atau kemewahan-kemewahan surgawi lainnya seperti kita? Aku bersumpah demi Amir Al-Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib a.s.-dan sungguh, ini adalah sumpah yang agung-bahwa bahkan jika semua pecinta beliau bersama-sama mengucapkan “La ilaha illa Allâh”, mereka tidak akan sanggup mengucapkannya seperti Imam Amir Al-Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib a.s.! Kehinaan dan kemalangan bagiku yang tidak mengenal

p: 85


1- C Yang dimaksud adalah Imam Keempai, 'Ali Zainal Abidin, yang memperoleh gelar “Si Banyak Sujud”—penerj.

maqâm Amir Al-Mukminin ‘Ali ibn Abi Thalib a.s. Aku bersumpah demi maqâm Amir Al-Mukminin 'Ali ibn Abi Thalib a.s. bahwa bahkan jika seluruh malaikat dan nabi Allah-kecuali Nabi terakhir yang merupakan tuan Amir Al-Mukminin ‘Ali-mencoba mengucapkan “Allahu Akbar" seperti 'Ali, mereka tidak akan mampu! Meskipun isi batin mereka hanya diketahui oleh mereka sendiri dan tidak diketahui oleh selain mereka.

Sahabatku, jangan mengoceh terlalu banyak tentang Allah! Janganlah kaulebih-lebihkan cintamu kepada Allah. Wahai arif, wahai sufi, wahai filosof, wahai mujahid, wahai zahid, wahai faqih, wahai Mukmin, wahai pemikir, wahai orang-orang malang, wahai engkau yang tertipu oleh diri dan nafsu. Engkau makhluk tanpa daya yang tersesat dalam kemelut harapan palsu dan cinta diri! Engkau yang berjarak ribuan mil dari cinta Allah. Janganlah berpikir sebaik itu tentang dirimu. Janganlah mengumbar kata-kata kosong dan berbangga terhadap dirimu sendiri. Tanyailah hatimu apakah ia sedang menuju Allah ataukah ia sedang mencintai dirinya sendiri? Apakah hatimu itu muwahhid atau musyrik? Lalu, untuk apakah ujub ini? Apakah artinya kegembiraan yang berlebihan ini? Bahkan jika, misalnya saja, perbuatan-perbuatan itu memenuhi selv.ruh persyaratan dan bebas dari ria, syirik, ujub, dan sifat buruk lainnya, apakah tujuannya bukan tujuan nafsu? Apakah sifat baik yang dimilikinya sehingga engkau menganggapnya layak dibawa oleh para malaikat untuk dipersembahkan kepada-Nya? Tidakkah kita seharusnya merasa malu dan berpikir untuk berbuat sesuatu untuk menutupi semua itu? Ya Allah! Kami berlindung kepada-Mu dari tipu daya setan dan muslihat al-nafs al-ammarah (diri wadag). Lindungilah kami dari tipu muslihat mereka demi Rasulullah Saw. dan Ahl Al-Bait beliau. []

p: 86

4 Hadis tentang Kibr (Takabur)

Point

بالسّند المتّصل إلی محمّد بن یعقوب عن علیّ بن إبراهیم، عن محمّد بن عیسی، عن یونس، عن أبان، عن حکیم، قال: سألت أبا عبد الله، علیه السّلام، عن أدنی الإلحاد. فقال: إنّ الکبر أدناه.

... Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini) dari 'Ali ibn Ibrahim, dari Muhammad ibn 'Isa, dari Yunus, dari Aban, dari Hakim yang berkata, “Aku bertanya kepada Abu ´Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq) a.s. mengenai derajat terendah dari ilhad (kemurtadan). Beliau menjawab, “Sesungguhnya derajat yang paling rendah adalah kibr

(takabur).(1)

Apakah Kibr itu?

Kibr adalah ungkapan untuk keadaan jiwa seseorang yang merasa tinggi dan di atas orang lain. Tanda-tanda kibr terlihat pada hasil perbuatan seseorang, demikian pula gejala-gejalanya terlihat jelas sehingga diketahuilah bahwa ia itu orang angkuh. Kibr berbeda dengan ‘ujb (ujub). Seperti telah diuraikan, sifat buruk ini merupakan buah dari ujub. Ujub adalah kekaguman pada diri sendiri, sedangkan ibr adalah menganggap diri lebih dan mengungguli orang lain. Apabila seseorang merasa memiliki kelebihan, lalu muncul keadaan senang, bangga, dan genit, itulah yang disebut ujub. Tapi, apabila ia menganggap orang lain tidak memiliki kelebihan yang dibayangkan ada pada dirinya, berarti ia merasa dirinya lebih unggul dan lebih sempurna dari orang lain, sehingga perasaan itu mewujudkan pada dirinya

p: 87


1- 1. Al-Kulaini, Ushủl Al-Kaft (Teheran), Vol. III (teks Arab dengan terjemahan Persia oleh Hajj Sayyid Jawad Mushthafawi, hh. 421-422).

persepsi akan ketinggian dan kebesaran sehingga timbul keadaan angkuh dan congkak, maka itu berarti kibr. Semua keadaan di atas terjadi di dalam jiwa dan batin manusia. Akan tetapi, kesan dan bekas keadaan itu muncul dalam raut muka, gaya, tindakan, dan ucapan seseorang. Jadi, mula-mula manusia tertipu (maghrûr), lalu ketertipuan itu bertambah sehingga ia mengalami ujub pada dirinya sendiri. Bilamana ujub ini sudah menjadikannya merasa tinggi, congkak dan lebih daripada orang lain, masuklah ia dalam keadaan takabur atau kibr. Perlu disebutkan di sini bahwa perangai jiwa, baik yang buruk berupa kecacatan, maupun yang baik berupa kesempurnaan, merupakan masalah yang pelik lagi rumit. Sangat sulit membedakan yang satu dari yang lainnya. Karena itu, sering terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama besar dalam mendefinisikan peringai jiwa secara tepat. Kiranya tidaklah mungkin memberikan definisi yang lengkap mengenai keadaan yang terjadi di alam batin ini. Maka dari itu, sebaiknya kita serahkan saja masalah ini pada hati nurani itu sendiri dan menghindarkan diri kita dari keruwetan mencari definisi dan istilah yang tepat, supaya kita tidak malah menjauh dari tujuan sebenarnya.

Derajat-Derajat Kibr

Perlu diperhatikan bahwa kibr memiliki derajat yang berbeda-beda, sama seperti tahapan dan derajat yang sudah diuraikan dalam pembahasan tentang ujub. Sebenarnya ada beberapa tahapan yang dapat dikemukakan dalam kaitannya dengan ujub, tetapi karena tidak begitu penting dalam konteks ini, tidak akan kami kemukakan. Dan dalam konteks takabur, penting untuk mengemukakan tahapan-tahapan itu. Tahapan dalam kibr, sama seperti tahapan dalam ‘ujb, ada enam:

(1) Takabur karena memiliki iman dan keyakinan yang benar.

(2) Lawan dari yang di atas adalah takabur karena memiliki keyakinan yang salah.

(3) Takabur karena memiliki sifat dan watak yang baik dan terpuji.

(4) Takabur karena memiliki watak dan sifat yang buruk.

(5) Takabur karena amal saleh dan ibadah.

(6) Takabur karena melakukan perbuatan buruk dan dosa.

p: 88

Setiap tahapan ini mungkin merupakan efek ikutan dari derajat ujub atau efek dari sebab lain yang akan saya bahas nanti. Untuk sementara, perhatian utama saya di sini adalah takabur atau keangkuhan yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, seperti keluarga, keturunan, harta, jabatan, kekuasaan, dan sebagainya. Sete-

lah itu, insya Allah kita akan membahas secukupnya keburukan-keburukan sifat ini dan bagaimana menyembuhkan semua itu. Saya memohon pertolongan Allah supaya kita semua memperoleh manfaat dari pembahasan ini.

Penjelasan Derajat-Derajat Takabur

Dilihat dari perspektif lain, takabur juga memiliki sejumlah tingkatan, yaitu: (1) takabur terhadap Allah; (2) takabur terhadap para nabi-Nya, para rasul-Nya, dan para wali-Nya; (3) takabur terhadap perintah-perintah Allah, dan ini juga sama dengan takabur terhadap Allah; (4) takabur terhadap makhluk-makhluk Allah, dan ini, menurut para ahli makrifat, sama dengan takabur terhadap Allah. Takabur terhadap Allah merupakan sifat yang paling buruk, paling merusak, dan paling tinggi derajatnya. Takabur ini ada pada orang-orang kafir, orang-orang yang ingkar, dan orang-orang yang mengaku-aku sebagai Tuhan. Kadang-kadang jejak-jejaknya terlihat pada beberapa orang Mukmin (di sini tidaklah layak untuk menguraikannya). Takabur semacam ini menujukkan puncak kebodohan dan tidak adanya pengetahuan tentang batas-batas maujud yang mumkin dan kebesaran Yang Wajib Ada (yaitu Allah Swt.)

Adapun takabur terhadap para nabi dan para wali Allah merupakan sikap yang lebih lazim pada masa mereka. Al-Quran menukil perkataan mereka dalam ayat berikut:

«فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَیْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ (47)»

...Akankah kami beriman kepada dua manusia seperti kami ...? (QS Al-Mu'minûn (23): 47).

Disebutkan bahwa salah seorang dari kaum Nabi Muhammad Saw. pernah berkata (tentang diri beliau Saw.):

«وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَی رَجُلٍ مِنَ الْقَرْیَتَیْنِ عَظِیمٍ (31)»

.. Kalau saja Al-Quran ini diturunkan kepada pembesar dari dua kota (yaitu Makkah dan Al-Tha'if). (QS Al-Zukhruf (43): 31)

p: 89

Selama masa-masa awal Islam, keangkuhan terhadap wali-wali Allah seperti itu sangat sering terjadi. Dan, sikap seperti itu juga masih terlihat ada pada perilaku sebagian pemeluk Islam. Takabur terhadap perintah-perintah Allah terlihat ada pada beberapa pelaku dosa, seperti orang-orang yang tidak mau menunaikan ibadah haji lantaran menganggap pakaian ihram tidak layak bagi diri mereka; tidak mau menunaikan shalat lantaran menganggap bersujud itu tidak sesuai dengan kedudukan dan status mereka. Keangkuhan seperti itu kadang-kadang terlihat ada pada orang-crang beriman, ahli-ahli ibadah, dan alim-alim dengan meninggalkan berazan disebabkan oleh ketakaburan. Juga ada orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran jika itu diucapkan oleh karib kerabat atau orang berstatus rendah. Kadang-kadang orang mendengar sesuatu dari teman-temannya dan dengan sengit menolaknya seraya menghina orang yang mengucapkannya, tetapi ia serta-merta menerimanya apabila itu disampaikan oleh seseorang yang lebih tinggi kedudukan keagamaan dan duniawinya daripada dirinya. Bahkan, mungkin ia

menerimanya dengan keseriusan yang sama dengan ketika ia menolaknya sebelumnya.

Orang semacam ini bukanlah orang yang mencari kebenaran, tetapi keangkuhannya telah menutupnya dari kebenaran. Keangkuhannya telah membuatnya buta dan tuli terhadap kebenaran. Keangkuhan semacam ini pulalah yang membuatnya tidak mau mengajarkan ilmu tertentu atau nash tertentu sebab ia menganggap hal itu merendahkan harga dirinya, atau membuatnya tidak mau mengajari orang-orang yang tidak memiliki kedudukan yang penting, atau tidak mau berada di sebuah masjid kecil yang dihadiri sejumlah kecil orang karena alasan yang sama, padahal ia tahu bahwa keridhaan Allah terletak pada keberadaannya bersama mereka. Kadang-kadang, jejak-jejak keangkuhan sangat tidak kentara sehingga orang yang terkena keburukan ini, kalau sa a ia tidak berhati-hati dan bersungguh-sungguh

mau mengoreksi diri, tidak akan tahu bahwa perbuatan-perbuatannya menunjukkan adanya takabur dalam karakternya. Contoh paling buruk takabur terhadap makhluk-makhluk Allah adalah takabur terhadap ulama. Pengaruh-pengaruh buruk takabur

p: 90

semacam ini lebih berbahaya daripada pengaruh buruk jenis takabur yang lain. Yang tergolong takabur semacam ini adalah tidak mau berada bersama orang miskin dan berada di depan dalam pertemuan, di jalan, dan di dalam kendaraan. Takabur ini merata dalam hampir semua kalangan masyarakat; dari yang elite hingga ulama dan ahli hadis; dan yang dapat menghindarinya adalah orang-orang yang dijaga oleh Allah Swt.

Kadang-kadang sangat sulit membedakan antara rendah hati dan memuji diri, serta antara takabur dan sikap menyendiri sehingga orang harus berlindung kepada Allah Swt. supaya Dia membimbing kita ke jalan yang lurus. Jika kita bertekad hendak memperbaiki diri dan berupaya mencapai tujuan kita, Allah Swt. pasti akan meliputi kita dengan rahmat-Nya yang tidak terbatas dan memudahkan kita berjalan di jalan petunjuk.

Penyebab-Penyebab Utama Takabur

Ada beberapa penyebab takabur, tetapi semuanya bersumber pada khayalan seseorang akan adanya kesempurnaan dalam dirinya. Ilusi ini mengakibatkan ujub yang berpadu dengan cinta diri, membuat kelebihan orang lain tidak tampak di matanya. Apabila itu terjadi, orang ini akan merasa tinggi di hadapan orang lain, baik dalam hati maupun dalam perilaku lahiriah. Misalnya, hal ini dapat ditemui pada diri seorang ahli makrifat yang menganggap dirinya sebagai ahli makrifat dan penyaksian (syuhûd), yang memandang dirinya sebagai ahli hati dan memiliki latar belakang yang sangat baik. Orang seperti ini selalu berusaha mempertunjukkan superioritasnya atas orang lain, memandang rendah para ahli hikmah, filsafat, fiqih, dan hadis sebagai orang-orang dangkal, dan memandang orang awam lebih menyerupai binatang daripada manusia. Orang seperti itu selalu menghina semua makhluk Allah. Ia secara panjang-lebar berbicara tentang fanâ fillâh, baqa' billâh dan mengetuk gerbang realisasi spiritual (tahaqquq), padahal ajaran-ajaran Ilahi menuntut agar kita untuk bersangka baik dengan semua makhluk.

Kalau saja ia sedikit mencicipi manisnya makrifat tentang Allah, tentu ia tidak akan memandang hina manifestasi keagungan dan

p: 91

keindahan Allah. Akan tetapi, pengetahuan dan penjelasan verbalnya menunjukkan bahwa ia bukan dari golongan ini. Dan memang, pada hakikatnya, ajaran-ajaran ini belum masuk dalam hatinya, bahkan si malang ini belum lagi masuk dalam tingkat keimanan pada semua itu apalagi tingkat ‘irfân mengenainya. Lalu, belum lagi ia sampai pada tingkat 'irfân, ia sudah berani bicara tentang tahaqquq. Di kalangan ahli hikmah juga ada orang-orang yang menganggap diri mereka memiliki bukti-bukti rasional yang je.as, pengetahuan mengenai beberapa hakikat, keyakinan tentang Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, dan para rasul-Nya, lalu mereka memandang rendah dan hina orang lain. Mereka memandang semua ilmu yang lain sebagai tak bernilai dan semua hamba Allah kurang ilmu dan iman, sehingga

mereka bersikap takabur dalam batin dan berperilaku congkak di hadapan orang lain. Padahal, kalau mereka benar-benar memiliki pengetahuan tentang kebesaran Allah dan kelemahan nyata makhluk fana (yaitu diri mereka), tentu mereka akan bersikap dan berperilaku sebaliknya. Dan ahli hikmah (hâkim) adalah orang yang pengetahuannya tentang rahasia-rahasia asal-usul dan tujuan manusia membuat dirinya rendah hati. Allah Swt. telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah (kebijaksanaan). Di antara butir-butir wasiat orang besar ini kepada putranya sebagaimana tersebut dalam Al-Quran adalah sebagai berikut:

Janganlah memandang hina manusia dan jangan berjalan di atas bumi dengan tidak sopan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang angkuh lagi berlagak. (QS Luqmân [31]: 18) Di kalangan orang-orang yang mengaku sebagai guru tasawul, mursyid dan orang yang jiwanya telah bersih terdapat orang-orang

yang bersikap angkuh terhadap orang awam dan berprasangka jelek kepada para ilmuwan, ahli fiqih, dan pengikut-pengikut mereka. Mereka meremehkan para ilmuwan dan filosof. Semua orang, kecuali diri mereka sendiri can orang-orang yang dekat dengan mereka, di-pandang sebagai makhluk-makhluk yang celaka. Karena mereka sendiri kurang berilmu: dan berwawasan, mereka memandang ilmu pengetahuan sebagai duri di jalan spiritual, dan para ilmuwan mereka

p: 92

pandang sebagai setan-setan yang menyesatkan musafir-musafir yang sedang menempuh perjalanan spiritual, meskipun pengakuan mereka bahwa mereka memiliki peringkat spiritual yang tinggi bertolak belakang dengan sudut pandang seperti itu. Seorang pembimbing spiritual dan pemandu orang-orang sesat haruslah dirinya bersih dari semua dosa dan sifat yang merusak, berzuhud terhadap dunia, lebur dalam keindahan Allah, dan tidak angkuh atau berprasangka jelek terhadap

makhluk-makhluk Allah. Kadang-kadang orang seperti itu terlihat ada di kalangan para ahli fiqih dan hadis serta orang-orang yang sedang menuntut kedua ilmu tersebut. Mereka memandang orang lain dengan pandangan menghina dan memperlakukan mereka dengan angkuh, menganggap diri mereka sendiri patut menerima setiap pujian dan penghargaan. Mereka beranggapan bahwa semua orang harus mematuhi perintah-perintah mereka dengan buta dan menerapkan kriteria berikut pada diri mereka sendiri:

«لَا یُسْأَلُ عَمَّا یَفْعَلُ وَهُمْ یُسْأَلُونَ (23)»

Dia (yaitu Allah) tidak akan ditanya mengenai apa yang dilakukan-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanya. (QS Al-Anbiyâ' [21]: 23)

Mereka beranggapan tidak ada yang pantas masuk surga kecuali diri mereka dan sejumlah orang seperti mereka. Apabila ada pembicaraan mengenai bidang ilmu lain, serta-merta mereka pun melecehkannya. Mereka tidak segan-segan menolak disiplin-disiplin lainnya. Yang mereka terima hanyalah bidang ilmu mereka sendiri yang sempit dan sedikit. Mereka beranggapan bahwa disiplin ilmu lain itu bukan saja tidak pantas dipelajari, melainkan juga merusak. Pencelaan mereka

terhadap pakar-pakar ilmu lainnya itu disebabkan mereka sendiri bodoh. Mereka mengemukakan pandangan mereka seakan-akan ketaatan mereka yang amat sangat terhadap agama mengharuskan mereka bersikap merendahkan seperti itu, padahal ilmu dan agama tersucikan dari sikap serta perilaku semacam itu. Syariat suci melarang kita berbicara tentang apa pun apabila kita tidak mengetahuinya secara memadai dan mewajibkan kita bersikap hormat kepada setiap

Muslim. Orang celaka ini, tanpa memiliki wawasan yang cukup mengenai agama atau ilmu pengetahuan, telah berdosa melakukan

p: 93

sesuatu yang bertentangan dengan kitab Allah dan ajaran-ajaran Nabi-Nya Saw. Ia mengira bahwa gagasan-gagasannya berasal dari inti agama, padahal akhlak semua alim besar dari setiap generasi tidak seperti itu. Tiap-tiap cabang ilmu agama menuntut sang alim yang menguasai cabang ilmu tertentu untuk bersikap rendah hati dan untuk menyimakan semua akar takabur dari hatinya. Tidak ada ilmu yang mengajak pada takabur atau bertentangan dengan kerendahan hati. Di bagian lain, saya akan menerangkan sebab-sebab mengapa terjadi pertentangan antara pengetahuan dan perilaku orang-orang semacam ini.

Sikap angkuh juga terlihat di kalangan ilmuwan pada umumnya, seperti dokter, matematikawan, insinyur, dan lain-lain. Mereka meremehkan ilmu-ilmu yang lain, betapapun pentingnya ilmu-ilmu itu, dan memandang rendah ahli-ahli yang menguasai ilmu-ilmu tersebut. Dalam hati, mereka menghina orang dan mengejawantahkannya dalam perilaku mereka, padahal ilmu mereka tidak menuntut sikap seperti itu. Sebagian lain orang yang bukan ahli ilmu apa pun, seperti orang-orang yang rajin melakukan "ibâdah mahdhah, juga cenderung bersikap angkuh terhadap orang lain. Mereka bersikap angkuh. terhadap orang dan memandang rendah mereka, dan bahkan memandang alim-alim besar tidak selamat (cari siksa neraka). Apabila ada pembicaraan tentang ilmu, serta-merta ereka mengatakan bahwa ilmu tanpa amal tidaklah bermanfaat. Mereka begitu peduli pada sedikitnya ilmu yang mereka miliki, dan memandang orang lain dengan sikap meremehkan. Mereka lupa bahwa jika ibadah mereka itu benar-benar ahli ibadah yang ikhlas, tentulah ibadah mereka itu akan memperbaiki akhlak mereka. Shalat mencegah kita dari perbuatan tidak senonoh (fahsyâ') dan dosa, serta dianggap sebagai mikra orang beriman. Namun, orang seperti itu, setelah 50 tahun menunaikan ibadah-ibadah wajib dan mustahabh (dianjurkan), justru terkena kehinaan takabur yang merupakan sejenis kemurtadan dan dikuasai oleh ujub yang lebih besar daripada tindakan tidak senonoh yang lain serta menyerupai iblis dan sifat-sifatnya. Shalat yang tidak mencegah dari perbuatan tidak senonoh, shalat yang tidak melindungi hati, bahkan penunaiannya yang berlebihan-lebihan merusak hati, tidaklah patut

p: 94

dinamakan shalat. Shalat yang dengan tekun engkau lakukan, bila ia makin mendekatkanmu kepada iblis dan ciri-khasnya berupa keangkuhan, bukanlah shalat lantaran shalat yang sebenarnya tidak berakibat demikian.

Semua itu terjadi akibat ilmu dan amal (yang sebenarnya merupakan kesempurnaan-penerj.). Namun, keangkuhan juga dapat disebabkan oleh sebab-sebab lain, yang kesemuanya berkaitan dengan persepsi dan ilusi seseorang akan suatu kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Misalnya, seseorang yang berasal dari keturunan orang mulia memandang rendah orang yang bukan seperti dirinya. Sebab-sebab lain berhubungan dengan kecantikan, suku, jumlah pendukung, pengikut, atau murid, yang menimbulkan keangkuhan dan kesombongan terhadap orang lain yang tidak seperti dirinya. Dalam semua contoh yang disebut belakangan, keangkuhan disebabkan oleh ilusi bahwa diri sendiri memiliki kesempurnaan, bangga dan ujub dengannya, dengan melihat orang lain tidak memi-

liki kesempurnaan seperti yang dibayangkannya itu.

Orang-orang yang berakhlak buruk juga kadang-kadang merendahkan orang lain dengan sikap angkuh sebab mereka beranggapan bahwa ahklak buruknya itu sebagai sejenis kesempurnaan. Meskipun orang yang mengidap keburukan sikap angkuh itu berupaya me- nyembunyikannya karena alasan tertentu, dan mencoba untuk tidak memperlihatkan tanda-tandanya. Akan tetapi, lantaran keburukan keangkuhan itu telah berurat-akar di hatinya, pengaruh-pengaruhnya tetap saja akan tampak nyata. Begitu terjadi perubahan pada kondisi orang yang memiliki akhlak buruk itu, seperti ketika ia tidak dapat lagi mengendalikan diri karena amarahnya, ia mulai membangga-banggakan kelebihannya dan menghitung-hitung jasanya, entah itu berupa ilmu maupun amal atau lainnya. Kadang-kadang orang yang angkuh itu mempertunjukkan keangkuhannya, dan tidak memerhatikan bentuk lahiriah keangkuhannya itu lagi. Begitu keangkuhannya semakin menjadi-jadi, ia pun kehilangan kendali diri. Adakalanya juga takabur ini terungkapkan dalam gerak dan diam seseorang. Dalam majelis-majelis, ia memperlihatkan bahwa dirinya

itu penting. Ini terlihat dari tindakannya yang senantiasa harus selalu

p: 95

diutamakan, sesuai keir ginannya. Ia tidak mau kalau ada orang miskin berada bersamanya, juga tidak mau menghadiri majelis mereka. Ia bersikap seolah-olah dirinya itu sebagai orang suci. Padahal, setiap perbuatannya, gaya berjalannya, cara ia memandang orang lain, cara ia berbicara dengan mereka, semuanya menunjukkan bahwa ia itu angkuh. Salah seorang muhaqqiq, yang pokok-pokok wacananya saya pinjam dan terjemahkan, mengatakan bahwa jika seorang alim memalingkan diri dari orang lain seakan-akan ia ingin menghindar dari mereka, itulah serendah-rendah keangkuhan seorang alim. Derajat terendah dari keangkuhan ahli ibadah ('âbid) terejawantahkan dalam sikapnya yang sewenang-wenang terhadap orang dan dalam wajahnya yang masam, seakan-akan ia ingin menghindar dari dosa (wara"). Padahal, wara' bukanlah bermuka masam, memandang rendah, menghindar dari orang, dan memalingkan muka dari orang, tetapi ketakwaan dan waraſ itu terletak di dalam hati. Rasulullah Saw. pernah bersabda seraya menunjuk ke dada beliau, “Ketakwaan terletak di sini.(1) Kadang-kadang orang yang ahli ibadah membangga-banggakan dirinya dalam nada bicaranya. Seraya mengungkapkan kesucian jiwa-nya, ia memperlihatkan praktik-praktik ibadahnya, membual tentang dirinya dengan menyebut-nyebut amal salehnya, dan mengecam kelemahan dan kekurangan orang lain, yang dengan demikian mempertunjukkan keunggulan kesalehannya. Kadang-kadang ia tidak mengatakan sesuatu secara eksplisit, tetapi membuat isyarat yang secara implisit mempertunjukkan kesalehannya. Seorang alim yang mengidap sifat takabur akan membual tentang prestasi-prestasi intelektualnya sendiri, dengan kata-kata, “Tahu apa kamu!" Kemudian, ia akan menyebutkan buku-buku yang pernah dibaca dan ditulisnya, universitas-universitas yang pernah dikunjunginya, profesor-profesor dan ahli-ahli yang pernah ditemuinya, serta capaian-capaian ilmiahnya yang lain. Oleh karena itu, seseorang senantiasa perlu untuk berlindung kepada Allah Swt. dari keburukan-keburukan diri dan tipu dayanya.

p: 96


1- 2. Ibid., Vol. III, h. 426.

Keburukan Spiritual dan Sosial dari Takabur

Selain takabur itu sendiri banyak mengandung keburukan, ia juga melahirkan banyak keburukan lainnya. Takabur menghalangi orang dari memperoleh manfaat lahiriah dan batiniah, serta mencegah orang dari menikmati karunia-karunia di dunia ini dan di akhirat kelak. Takabur menyebabkan timbulnya kebencian dan dengki di hati manusia, menyebabkan terjadinya sikap memandang rendah dan hina terhadap orang lain. Takabur membuat orang lain memendam rasa dendam terhadapnya, menghina dan mencaci-makinya. Dalam Al-Kafi, Imam Al-Shadiq a.s. diriwayatkan pernah mengatakan, “Tidak ada orang yang tidak memiliki kekang di kepalanya dan satu malaikat yang mengendalikannya. Apabila ia takabur, malaikat berkata, “Merendahlah, semoga Allah merendahkanmu.' Lalu, ia akan menjadi sebesar-besar manusia di matanya sendiri dan sekecil-kecil makhluk di mata orang lain. Apabila ia rendah hati, Allah akan mengangkatnya dan malaikat berkata kepadanya, 'Angkatlah dirimu, semoga Allah Swt. mengangkatmu.' Lalu, ia akan menjadi sekecil-kecil manusia di matanya sendiri dan semulia-mulia manusia di mata orang lain.(1)

Saudaraku, orang lain juga memiliki pikiran seperti pikiranmu. Jika engkau bersikap rendah hati, orang lain pun akan menghormatimu dan kamu pun akan dimuliakannya. Namun, jika kamu bersikap sombong, sesungguhnya kesombongan itu tidak ada manfaatnya bagimu. Orang lain malah akan menghinamu dan jika sempat ia akan melecehkanmu. Jika mereka tidak memiliki kesempatan untuk menghina dan mencaci-makimu, mereka akan menghinamu dalam hati

dan di mata mereka engkau tidak berharga. Oleh karena itu, lebih baik engkau taklukkan hati mereka dengan kerendahhatian dan kesopanan. Semua orang yang bergaul denganmu akan memperlihatkan tanda-tanda sikapnya terhadapmu, dan jika hati mereka tidak berkenan kepadamu, itu akan menjadi sesuatu yang memusuhi hawa nafsumu. Oleh karena itu, mungkin saja engkau ingin memperoleh kemuliaan, maka ambillah jalan yang baik untuk itu, yaitu bersopan santun dan merendah di hadapan mereka. Takabur tidak akan dapat memenuhi maksud dan tujuanmu, biarpun maksud dan tujuan itu sifatnya duniawi. Sebaliknya, dengan takabur itu kamu akan mene-

p: 97


1- 3. Ibid., Vol. III, h. 426.

rima hal-hal yang berlawanan dengan maksud dan tujuanmu. Di samping semua itu, takabur akan membuatmu terhina dan malu di akhirat. Kalau di dunia ini kamu memandang hina orang dan menganggap dirimu lebih unggul daripada makhluk-makhluk Allah dan bersikap angkuh dan sombong seperti itu; di akhirat keangkuhan

dan takabur ini akan memberimu aib dan kehinaan, seperti disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Al-Kafi:

... Dari Daud ibn Farqad, dari saudaranya, yang mengatakan, “Aku mendengar bahwa Imam Al-Shadiq a.s. berkata,... Sesungguhnya orang-orang yang sombong (pada Hari Perhitungar) akan dijadikan dalam bentuk serpihan, dan manusia akan menginjak-injaknya sampai Allah selesai dalam perhitungan-Nya.(1) Dalam wasiat terakhirnya, Imam Al-Shadiq a.s. berkata kepada sahabat-sahabatnya:

“... Jauhilah kesombongan dan takabur, sebab kesombongan itu adalah pakaian Allah Swt. Siapa pun yang merampas pakaian Allah, maka Dia akan membinasakan dan menghinakarnya pada hari kiamat.(2) Bagaimanakah celakanya orang yang dihinakan oleh Allah Swt.? Di akhirat, segala sesuatunya akan berbeda; kehinaan dan aib di akhirat akan berbeda dengan kehinaan dan aib di dunia ini. Seperti halnya kesenangan di akhirat tidak terbayangkan oleh manusia di dunia ini, begitu pula siksaan di akhirat juga tidak dapat dijangkau oleh daya imajinasi kita saat ini. Kemuliaan di akhirat berada di luar apa yang dapat kita perkirakan, begitu pula kehinaan di akhirat tidak dapat disamakan dengan pikiran-pikiran kita tentang kehinaan dan aib. Sedangkan tempat terakhir bagi orang yang sombong adalah kutukan abadi dan neraka. Hadis mengatakan bahwa al-takabburu mathầyan-nar (orang yang mengendarai tunggangan kesombongan, pasti akan dibawa oleh tunggangan itu ke dalarn api neraka). Dia tidak akan mendapatkan sedikit pun cahaya surga, selama jejak-jejak kesombongan masih ada di hatinya. Rasulullah Saw. diriwayatkan telah bersabda:

p: 98


1- 4. Ibid., Vol. III, h. 424.
2- 5. Al-Hasan ibn 'Ali ibn Al-Husain ibn Syu'bah Al-Harrani, Tuhaf Al-'Uqúl (Kitab Furusyi Islamiyyah, Teheran, 1402 H), teks Arab dengan terjemahan Persia oleh Ahmad Jannati 'Atha'i, h. 327.

“Orang yang di hatinya masih ada setitik kesombongan, tidak akan pernah dapat masuk surga.(1)

Imam Al-Baqir a.s. dan Imam Al-Shadiq a.s. juga pernah mengatakan sesuatu yang hampir serupa dengan sabda Nabi Saw. tersebut Dalam Al-Kafi, Imam Al-Baqir a.s. diriwayatkan pernah bersabda: “Kemuliaan adalah pakaian Allah, begitu pula kesombongan; orang yang ingin mengenakan pakaian itu akan dilemparkan ke

dalam neraka oleh Allah Swt.(2) Dan juga, neraka yang bagaimana? Neraka yang disediakan bagi orang yang sombong itu berbeda dengan neraka yang akan dihuni oleh para pendosa lainnya. Di sini, saya akan mengutip lagi hadis yang sama yang sudah diterjemahkan sebelumnya: Hadis ini sangat dapat dipercaya bahkan sama dengan hadis sahih. Ibn Bukair meriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s. bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya di neraka ada sebuah lembah bagi orang yang sombong, yang bernama saqar. Saqar suatu ketika mengeluh kepada Allah Swt. akan panasnya yang amat sangat dan memohon agar Allah Swt. berkenan meringankannya sebentar supaya ia dapat bernapas. Begitu ia bernapas, seluruh neraka tergenang dengan api.(3)

Saya berlindung kepada Allah Swt. dari suatu tempat yang, meskipun ia itu tempat penyiksaan, mengeluh tentang panasnya dan neraka menyala ketika ia bernapas. Di dunia ini, kita tidak dapat mengetahui bagaimana dahsyatnya api akhirat karena perbedaan antara kedahsyatan dan keringanan siksaan ditentukan oleh beberapa faktor. Yang pertama adalah kekuatan dan kelemahan persepsi. Makin kuat pelaku persepsi dan makin sempurna serta jernih persepsi yang dilakukannya, tentu makin keras ia akan merasakan kepedihan dan siksaan. Dan yang kedua adalah berlainannya jenis-jenis materiil dan kemampuannya yang berbeda-beda dalam menahan panas. Misalnya, emas dan besi dapat dikenai panas yang lebih besar daripada timah hitam dan timah. Timah hitam dan timah dapat menahan panas yang lebih besar daripada kayu dan batu bara. Kayu dan batu bara kurang sensitif

p: 99


1- 6. Ushul Al-Kafi, Vol. III, h. 425.
2- 7. Ibid., Vol. III, h. 423.
3- 8. Ibid., Vol. III, h. 424.

dibandingkan dengan daging dan kulit. Faktor yang lainnya adalah sensitivitas persepsi. Misalnya saja, otak manusia, meskipun kurang · tahan terhadap panas, lebih sensitif terhadap panas dibandingkan dengan tulang sebab daya persepsinya lebih kuat. Sedangkan lemah dan kuatnya panas itu sendiri merupakan faktor lair. lagi. Pada seratus derajat, panas lebih memedihkan dibandingkan dengan pada lima puluh derajat. Ada satu faktor lagi, yakni jarak relatif antara sumber panas dan benda yang terkena panas. Misalnya, apabila api sangat dekat letaknya dengan tangan, akan timbul rasa terbakar yang berbeda dengan apabila api berada di tempat yang agak jauh. Kelima faktor yang disebutkan di atas itu ada di dunia ini, tetapi pada derajatnya yang paling lemah. Dan di akhirat, kelima faktor itu

berada pada kekuatan dan dayanya yang paling puncak. Semua kemampuan persepsi kita tidak sempurna, lemah, dan tertutupi oleh beberapa tabir di dunia ini bukan saatnya kita berbicara tentang masing-masing tabir penutup itu. Sekarang ini daya lihat kita tidak sanggup melihat malaikat dan neraka; telinga kita tidak dapat mendengar suara-suara ajaib dari (alam) barzakh dan jeritan-jeritan penghuninya, serta riuh rendahnya suara-suara pada hari kiamat. Indra kita bahkan tidak mampu merasakan panasnya neraka kelak. Ini disebabkan oleh kelemahan pada indra perseptual kita sendiri. Ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis para Imam banyak memberikan keterangan yang tersurat maupun tersirat mengenai masalah tersebut.

Di dunia ini tubuh manusia tidak sanggup menahan panas. Api dunia ini sudah cukup untuk meleburkan tubuh manusia menjadi abu dalam beberapa saat. Namun, Allah Swt. mampu menciptakan kembali tubuh itu dalam bentuk yang sedemikian pada hari kiamat sehingga tubuh itu tidak akan dapat dilumatkan oleh api akhirat,

yaitu api yang kekuatannya sedemikian dahsyat, sehingga berdasarkan kesaksian Malaikat Jibril a.s., jika mata rantai dan api yang disediakan bagi para penghuni neraka dilemparkan ke dunia ini, akan leburlah semua gunung disebabkan oleh panasnya yang sedemikian dahsyat. Oleh karena itu, daya tahan tubuh manusia di alam itu akan sedemikian hebat. Juga hubungan antara tubuh dan ruh sangat rapuh di dunia ini. Dunia ini tidak memberikan kesempatan kepada ruh untuk me-

p: 100

manifestasikan fakultas-fakultas nyata dan kekuatan-kekuatannya. Namun, alam itu merupakan alam manifestasi dan dominasi ruh. Di sana hubungan ruh dengan tubuh sarat dengan tindakan dan kreativitas–karena telah termapankan dalam tempat yang tepat dan hubungan ini merupakan hubungan yang paling lengkap dan

sempurna. Api di dunia ini tidak seberapa panas dan merupakan gejala yang fana yang berpadu dengan segala macam noda; sedangkan api neraka bebas dari segala macam noda, dan substansinya mandiri dan abadi. Ia merupakan suatu substansi yang hidup dan membakar para penghuninya berdasarkan kehendak dan kesadaran, serta meng- gunakan segenap dayanya untuk menelan mereka. Kau pernah mendengar seluk-beluknya dari Jibril a.s.--sang saksi tepercaya (Al-Amîn—penerj.)—lalu Al-Quran dan hadis-hadis para Imam a.s. pun penuh dengan gambaran tentang neraka dan apinya. Namun, di dunia ini api neraka itu tidak ada yang menyamainya. Jika semua api di dunia ini menelan seorang manusia, yang dijilatnya hanyalah sisi luar tubuhnya; tetapi api neraka akan menjilat manusia dari luar

sampai ke dalam-dalamnya, meliputi indra dan daya-daya persepsinya. Api neraka adalah api yang menelan hati, jiwa, dan semua daya manusia, meresap dan menyatu dengannya sedemikian sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat menggambarkannya di dunia ini.

Jadi, jelaslah bahwa di dunia ini sama sekali tidak ada yang dapat menanggung siksaan Allah. Semua benda juga tidak sanggup menahan panasnya, penyebab panasnya juga bukanlah penyebab yang sempurna, daya-daya persepsinya pun tidak berada pada tingkatnya yang sempurna. Embusan napas api yang panas dalam mengobarkan neraka, tidak mungkin dapat dibayangkan oleh kita dan indra persepsi kita, kecualisemoga saja Allah menjauhkannya dari kita-kalau kita ini termasuk orang yang sombong, yang meninggalkan dunia ini dalam keadaan belum membersihkan diri dari kekejian yang menjijikkan dan melihatnya langsung; fabisa matswal-mutakabbirîn (sesungguhnya tempat tinggal orang-orang yang sombong itu adalah tempat tinggal yang paling buruk!).

p: 101

Penyebab Lain Keangkuhan

Point

Selain faktor-faktor penyebab keangkuhan yang sudah disebutkan di atas, masih ada lagi sejumlah faktor lain, seperti kepicikan, ketidakmampuan, kurang berpikir, dan kurang sabar. Orang yang pikirannya sempit, apabila melihat pada dirinya ada kebaikan, ia akan membayangkan bahwa dirinya memiliki kedudukan khusus. Padahal, jika ia mau menilai dan melihatnya dengan jujur tentang kesempurnaan yang ada pada dirinya, tentulah ia akan tahu bahwa apa yang dibayangkannya sebagai kesempurnaan dan yang dibanggakannya itu sebenamya bukanlah kesempurnaan. Dan kalau pun hal itu memang merupakan kesempurnaan, betapa tidak berartinya kesempurnaan itu apabila dibandingkan dengan kesempurnaan-kesempurnaan yang dimiliki oleh orang lain. Sebenarnya ia seperti orang yang menampar

pipinya sendiri untuk membuatnya merah agar terkesan pada orang lain sebagai kesegaran di muka. Seorang 'ârif (ahli makrifat-penerj.) yang memandang rendah orang lain karena ia membangga-banggakan makrifatnya, lalu bersikap sombong terhadap orang lain, yaitu memandang orang lain itu dangkal, pengetahuannya mengenai Allah tidak lain hanyalah sejumlah konsep dan istilah yang sesungguhnya merupakan tabir-tabir realitas dan rintangan dalam perjalanannya (menuju Allah-penerj.). Pengetahuannya itu hanya himpunan istilah yang mewah dan tidak ada relevansinya dengan makrifat tentang Allah atau tentang Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya yang hakiki. Makrifat adalah sifat hati. Dalam pandangan saya, semua makrifat adalah ilmu-ilmu praktis dan bukan semata-mata pengetahuan tentang sekumpulan konsep abstrak atau istilah ilmiah. Dengan kehidupan yang pendek dan ilmu yang terbatas, saya telah melihat orang-orang tertentu dari kalangan yang disebut para ahli dan alim dari segenap bidang-demi ‘irfan dan ilmu pengetahuan saya bersumpah bahwa istilah-istilah yang mereka hapal itu tidak berbekas di hati mereka. Malah istilah-istilah itu memberikan pengaruh yang sebaliknya kepada mereka.

Sahabatku! Pengetahuan tentang Allah, seperti telah engkau ketahui, menjadikan hati tempat bagi penjelmaan Nama-Nama dan Sifat-

p: 102

Sifat Allah. Di hati itulah Penguasa Sejati akan bertempat dan sirnalah semua sisa polusi dan entifikasi (ta’ayyun):

«قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوکَ إِذَا دَخَلُوا قَرْیَهً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّهَ أَهْلِهَا أَذِلَّهً وَکَذَلِکَ یَفْعَلُونَ (34)»

... Sesungguhnya raja-raja, ketika mereka memasuki sebuah kota, mereka akan merusaknya dan menghinakan penduduknya yang mulia .... (QS Al-Naml (27]: 34)

Pengetahuan itu akan mengubah hatimu menjadi hati yang bertauhid (ahadî) dan menganut Nabi Muhammad Saw. (Ahmadî). Namun, mengapa ia justru menjadikan hatimu karam dalam keindahanmu sendiri? Mengapa ia justru menambah polusi di dalamnya, melipatgandakan entitas-entitas dan hubungan-hubunganmu, dan menjauhkanmu dari Allah Swt. manifestasi-manifestasi Nama-Nama-Nya? Mengapa ia membuat hatimu justru menjadi tempat tinggal setan sehingga engkau memandang rendah hamba-hamba Allah dan orang-orang pilihan-Nya, para penunggu pintu Allah dan cermin keindahan-Nya? Engkau sungguh telah bersikap angkuh terhadap Allah dan telah mengambil sikap seperti Fir'aun di hadapan Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan segenap manifestasi Zat-Nya.

Wahai pengkaji konsep dan pembuang realitas! Sebentar saja renungkan tentang apa saja yang engkau ketahui tentang Allah. Bagaimanakah pengaruh pengetahuan tentang Allah dan Sifat-Sifat-Nya pada dirimu sendiri? Mungkin saja studi tentang musik dan irama-irama musik lebih tepat daripada pengetahuan. Astronomi, mekanika, ilmu-ilmu fisika lainnya, dan matematika dapat kamu ketahui istilah-istilahnya dengan tepat. Namun, karena ilmu-ilmu itu tidak berurusan dengan pengetahuan tentang Allah, pengetahuanmu juga menjadi tirai tebal yang terdiri atas tabir kata-kata, istilah-istilah, dan konsep-konsep. Semuanya itu tidak dapat membuat orang mencapai kepuasan, juga tidak dapat membawa orang mengalami perubahan dalam jiwa dan keadaan batinnya. Jadi, dalam pandangan ilmu-ilmu fisika dan matematika, fisika dan matematika lebih baik dibandingkan dengan ilmumu, karena ilmu-ilmu tersebut memberikan hasil, sedangkan

ilmumu bukan saja tidak memberikan hasil, melainkan malah memberikan hasil yang sebaliknya. Insinyur mendapatkan hasil dari kalkulasinya dan seorang pandai besi memperoleh manfaat berkat keca-

p: 103

kapannya; tetapi ilmumu tidak memberikan manfaat-manfaat materiil maupun transendental.

Tabir yang menutupi matamu sedemikian tebal sehingga apabila engkau mencoba menggambarkan keesaan Allah, suatu alam yang gelap-gulita memenuhi imajinasimu, dan ketika Nama-Nama dan Sifat-Sifat-Nya disebut-sebut, yang tergambarkan oleh benakmu hanyalah pluralitas yang tidak terbatas. Oleh karena itu, istilah-istilah tersebut tidak membawamu ke jalan kebenaran, tetapi sebaliknya malah menjadi sumber kesombongan dan keangkuhan terhadap para alim yansaleh. Ilmu atau pengetahuan yang membuat hati menjadi gelap dan semakin membuat hati menjadi buta, maka itu bukanlah ilmu atau pengetahuan. Pengetahuan yang pada akhirnya membuat pemiliknya menjadi ahli waris iblis, maka celakalah dan terkutuklah pengetahuan seperti itu!

Takabur merupakan ciri khas iblis. Iblis bersikap angkuh dan takabur kepada ayahmu, Adam, dan diusir dari istana Allah Swt. Kalau kau sombong dan angkuh terhadap anak Adam, kamu juga patut diusir (dibuang). Dari sinilah, kamu dapat menyimpulkan keadaan menyedihkan dari orang-orang yang menguasai ilmu-ilmu

lainnya. Hâkim (ahli hikmah), kalau ia memang bijak, memahami hubungan antara Allah Swt. dan segenap makhluk-Nya dan dirinya sendiri, tidak akan ada lagi di hatinya perasaan takabur. Namun, si celaka yang cuma menuntut terminologi dan konsep telah menyalah artikan semua itu sebagai hikmah, dan membayangkan dirinya sebagai hâkim. la bahkan merasa dirinya memiliki Sifat-Sifat Allah Swt. dan mengatakan: Al-hikmah hiya al-tasyabbuh bi al-ilâh (Hikmah itu adalah ſupaya menyerupai Allah). Kadang kala ia mengelompokkan dirinya dengan para nabi dan rasul Allah, dan mengutip ungkapan ayat berikut: Wayu‘allimuhum al-kitaba wa al-hikmah (Dia mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah); dan kadang kala pula mengulang-ulang hadis Nabi Saw:

“Hikmah adalah harta seorang Mukmin yang hilang barang siapa memiliki hikmah, berarti telah diberi kebaikan yang banyak.” Padahal, hatinya tidak tahu tentang hikmah dan ribuan jarak jauh-nya antara dia dan kebaikan yang banyak, dan ia sendiri sama sekali

p: 104

tidak mengenal hikmah. Pemikir sekaligus filosof besar Muslim, Muhaqqiq Damad-semoga ridha Allah terlimpah atasnya—mengatakan bahwa hâkim adalah orang yang dapat menjadikan tubuhnya seperti pakaian, kapan dia mau dia dapat mencampakkannya. Lihat, apa perkataannya dan apa perkataan kita! Apa yang mereka pahami dari hikmah, dan apa yang kita pahami tentangnya? Sementara kau yang menyombongkan pengetahuanmu tentang sejumlah konsep dan istilah, memandang rendah dan hina makhluk-makhluk Allah dengan sikap angkuh dan sombong-maka jelaslah bahwa kamu itu orang yang picik dan dangkal pikiran.

Orang-orang yang berlagak seperti mursyid (pembimbing ruhani) dan berlagak seperti penunjuk jalan makhluk-makhluk Allah, duduk di kursi tasawuf dan konsentrasi menghadap Allah, keadaan mereka lebih buruk dibandingkan dengan kalangan sok sufi. Keangkuhan dan takabur mereka lebih parah dibandingkan dengan dua kelompok sebelumnya. Mereka membangga-banggakan komoditas terminologi dua kelompok itu dan menjualnya di pasar. Mereka mengalihkan

perhatian makhluk-makhluk Allah dari-Nya, memalingkan perhatian mereka pada diri mereka sendiri, serta membuat makhluk-makhluk berhati lugu itu memandang curiga terhadap ulama dan orang lain. Demi mendapatkan keuntungan yang hina itu, mereka menciptakan istilah-istilah yang memikat untuk memerdayai orang yang mudah percaya. Mereka beranggapan bahwa gelar-gelar seperi majdzûb, mahbûb'ali, dan sebagainya benar-benar akan menimbulkan ketertarikan dan kecintaan Ilahi.

Wahai pencari dunia! Wahai pencuri konsep dan gagasan, aktivitasmu itu sesungguhnya tidak perlu dibangga-banggakan dan tidak akan membawa kebahagiaan. Wahai orang yang malang, ia telah diperdaya oleh kepiçikan pikiran dan kekurangmampuannya, dan menganggap dirinya telah mencapai peringkat spiritual yang tinggi. Kiat-kiatnya sendiri telah memerdayainya. Ia terlalu cinta diri, cinta dunia, dan dipermainkan oleh gagasan dan hiasan konseptual yang dicurinya. Keadaan-keadaan seperti itu telah membentuk sesuatu yang kacau dan aneh. Namun, meski memiliki cacat-cacat seperti itu, orang yang malang ini membayangkan bahwa dirinya itu seorang

p: 105

mursyid, seorang pemandu dan pembebas manusia, serta merasa tahu akan rahasia-rahasia syariat. Kadang-kadang rasa tidak tahu malu itu melewati batas, yaitu ia membayangkan dirinya sudah berada di tingkat wilayah (kepemimpinan). Munculnya situasi seperti itu disebabkan oleh kekurangmampuan, miskinnya manfaat, kepicikan pikiran, dan ketidaklapangan dadanya.

Wahai para pelajar fiqih, hadis, dan ilmu-ilmu agama lainnya, engkau juga tidak memiliki apa-apa tentang pengetahuan, kecuali hanya beberapa istilah yang sudah lazim dalam ushûl dan hadis. Jika ilmu tersebut dikaitkan dengan praktik dan perbuatan, ilmu itu tidak membawa perbaikan apa pun pada dirimu, yang terjadi malah membuatmu melakukan keburukan dan membuatmu berakhlak buruk, tindak-tandukmu lebih rendah dibandingkan dengan tindak-tanduk ahlı ilmu lain; dan tidak berharganya ilmu itu tidak tertandingi oleh aktivitas-aktivitas lebih rendah dari orang lain. Segenap konsep, pengumbaran kata, persaingan, dan perdebatan itu--yang kebanyakan tidak ada kaitannya dengan agama Allah--tidak dapat dianggap sebagai ilmu apa pun, juga tidak dapat dipandang sebagai buah ilmu, yang pantas dibanggakan sedemikian. Dan, cukuplah bagiku Allah sebagai saksi, kalau hasil dari pengetahuanmu tidak dapat memandumu di jalan yang lurus, juga tidak dapat menjaga dirimu dari berbuat keji dan berakhlak buruk, pekerjaan atau perbuatan yang paling hina lebih baik daripada ilmu seperti itu karena ia memperlihatkan hasil-hasil tertentu yang langsung dan kemudaratannya di dunia dan akhirat lebih sedikit.

Wahai orang yang malang, yang tidak memperoleh apa-apa selain beban yang pedih, yang berat sekali untuk dipikul, bebanmu tidak memberikan apa-apa kepadamu kecuali akhlak dan perbuatan yang keji. Oleh karena itu, pengetahuanmu tidaklah dapat dibanggakan atau dipuji. Cakrawala pikiranmu sempit sekali sehingga begitu engkau mempersiapkan beberapa istilah, engkau mulai berpikir bahwa dirimu seorang alim besar yang pantas untuk berbangga diri, sedangkan orang lain kau anggap sebagai makhluk yang bodoh. Gaya jalanmu yang angkuh mempersulit hamba-hamba Allah, sedangkan kesombonganmu mempersempit ruang gerak majelis-majelis sosial.

p: 106

Namun, serendah-rendahnya orang yang sombong adalah orang yang membangga-banggakan masalah lahiriah seperti kekayaan, jabatan, keluarga, dan keturunan. Orang yang malang ini jauh dari keutamaan-keutamaan manusia dan cita rasa moral. Kedua tangannya hampa ilmu dan pengetahuan; tetapi karena pakaiannya terbuat dari bulu domba, atau karena ayahnya orang penting, ia bersikap angkuh terhadap orang. Sungguh, kepicikan pikiran serta gelap dan sempitnya hatilah yang membuat orang merasa sempurna hanya dengan keindahan dan bagusnya pakaian serta penutup kepala. Karena memiliki pakaian dan penutup kepala yang bagus, ia mencampakkan kemuliaan akhlak dan jiwa. Ia merasa puas apabila dapat terus berada di tingkat binatang dan merasa bahagia dengan memperoleh kese-

nangan-kesenangan hewani, tidak memedulikan keluhuran kedudukan manusia, demi memperoleh apa yang dipandangnya sebagai status, dengan memilih eksistensi yang sia-sia dan hampa, serta mengambil bentuk yang kosong yang jauh dari realitas dan kebenaran. Ia sedemikian hina dan hampa sehingga jika ia bertemu orang yang lebih kaya daripada dirinya, sikapnya terhadap orang yang lebih kaya itu seperti sikap budak terhadap tuannya. Tentu saja, orang yang tujuannya hanyalah dunia, maka ia menjadi budak orang yang memiliki kekayaan materiil dan juga budaknya dunia. Sempitnya wawasan, piciknya pikiran, dan kurangnya kepribadian yang mantap, semuanya merupakan faktor kuat yang menyebabkan orang berbangga diri, yang membuat korbannya menjadi ‘ujb

dan takabur dan membuatnya sangat peka terhadap kualitas-kualitas yang sama sekali bukanlah kesempurnaan dan juga bukan manfaat. Semakin cinta seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan dunia, ia semakin dipengaruhi oleh kedua hal itu.

Cara Menyirnakan Keangkuhan

Kejinya kesombongan dan keangkuhan sudah engkau ketahui. Sekarang, tugasmulah untuk berketetapan hati menyembuhkan dirimu dari penyakit tersebut dan sekaligus membersihkan hatimu dari noda-nodanya dan menyingkirkan bekas-bekasnya serta debunya yang sudah amat tebal dari cermin hatimu. Jika engkau mempunyai

p: 107

kekuatan kehendak yang besar dan hati yang terbuka, serta hawa nafsu duniawi belum menancapkan kuku-kukunya di dalam hatimu, dan jika pesona-pesona serta ornamen-ornamen duniawi belum membuat hatimu menjadi mata gelap, dan kalau engkau masih dapat menilai dan mengkritik dirimu sendiri dengan adil, saran-saran yang dikemukakan dalam bab terdahulu dapat bermanfaat sekali bagi dirimu dalam hubungan ini. Namun, kalau engkau belum mencapai tingkatan ini, sebaiknya engkau merenungkan keadaanmu; mungkin saja hatimu akan tergugah.

Wahai manusia, yang pada mulanya bukan apa-apa; yang tersembunyi dalam lipatan-lipatan ketiadaan selama bermasa-masa, yang lebih tidak berarti dibandingkan dengan ketiadaan itu sendiri dan tidak hadir dalam alam keberadaan, ketika Allah Swt. hendak menciptakan dirimu, engkau masih berada dalam keadaan yang paling kekurangan, yang hina lagi tidak berarti. Engkau masih merupakan makhluk yang tidak mampu menerima kemurahan (faidh) Allah. Dia menciptakan dirimu dari materi (hayâlâ) alam semesta, yang merupakan potensialitas mutlak dan kelemahan semata-mata, dan memola dirimu menjadi satu bentuk jasadi yang elemental yang merupakan serendah-rendahnya dan sehina-hinanya maujud di alam semesta. Setelah itu, engkau diberi bentuk sperma, yang kamu akan jijik untuk menyentuhnya dan perlu kerja keras untuk membersihkan kedua tanganmu jika kebetulan tanganmu terkotori olehnya. Kemudian, engkau ditempatkan dalam sebuah tempat yang sangat sempit dan kotor, dua kelenjar reproduksi ayahmu. Dan, setelah itu engkau dimasukkan ke dalam rahim ibumu dan engkau diberi tempat tinggal seperti itu, yang kalau digambarkan tentulah engkau akan merasa jijik. Setelah ditempatkan di sana, engkau dibentuk menjadi janin dan segumpal darah kental. Di sana engkau diberi makanan yang sedemikian rupa sehingga engkau akan menjadi gila jika makanan itu digambarkan kepadamu, dan engkau akan merasa malu. Namun, karena semua orang harus melewati bencana itu, hilanglah rasa malu kita terhadapnya. Wa al-baliyyah idzâ'ammat thâbat (Kesedihan yang

sudah menjadi kelaziman, dapat dimaklumi).

p: 108

Selama tahap-tahap evolusi dan perubahan tersebut, engkau merupakan serendah-rendahnya dan sehina-hinanya makhluk. Engkau tidak memiliki daya lihat lahiriah maupun batiniah dan tidak memiliki manfaat apa pun. Setelah itu, dengan Kemahamurahan-Nya, Dia menjadikanmu dapat menerima anugerah kehidupan, suatu kehidupan yang terejawantahkan dalam dirimu yang sangat tidak sempurna dan rapuh sedemikian sehingga kehidupan seperti itu bahkan lebih rendah dibandingkan dengan kehidupan cacing dalam fungsi- fungsi biologisnya. Untuk dapat memperbaiki kekurangan dirimu, Dia secara berangsur-angsur menyempurnakan fungsi-

fungsimu untuk memasuki dunia ini dan menghadapi iklimnya. Melalui lorong-lorong sempit yang paling hina dan dalam keadaan yang paling buruk, sampailah engkau di alam dunia ini. Namun, engkau masih saja lebih lemah daripada bayi-bayi hewan. Setelah itu, walaupun engkau sudah mendapatkan daya dan kemampuan lahiriah dan batiniah yang maksimum, tetap saja engkau sangat lemah dan rapuh sedemikian sehingga engkau belum sanggup mengendalikan daya dan kemampuanmu sendiri secara penuh. Engkau belum sanggup menjaga kesehatanmu sendiri, engkau belum sanggup menjaga nyawa dan energimu

sendiri, dan engkau belum dapat merawat kerupawanan dan kemudaanmu. Kalau saja bencana atau penyakit menimpa dirimu, engkau tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengatasinya. Pendek kata, engkau belum dapat mengendalikan aspek apa pun dari kemaujudan dan keberadaanmu sendiri. Jika engkau merasa lapar selama satu hari, engkau tidak tahan untuk tidak memakan mayat yang sudah membusuk. Jika engkau merasa haus yang amat mencekam, engkau

akan siap untuk minum air yang kotor lagi berbau busuk. Begitu pula, dalam persoalan, engkau adalah seorang budak yang tidak berdaya dan hina yang tidak mampu mengatasi apa pun. Kalau engkau membandingkan dirimu dengan keberadaan dan kesempurnaan makhluk-makhluk hidup lainnya, engkau akan menyadari bahwa dirimu dan segenap planet, atau bahkan segenap sistem tata surya, tidak ada artinya sama sekali di depan segenap alam fisikal yang merupakan hal paling rendah dan paling hina di antara segenap alam

p: 109

Saudaraku, yang engkau lihat hanyalah dirimu sendiri dan apa pun yang engkau lihat tidak engkau bandingkan dengan dunia di sekitarmu. Bandingkanlah apa pun yang engkau miliki, dari mulai kehidupanmu hingga kekayaan-kekayaan duniawi yang engkau miliki, dengan kotamu. Lalu, bandingkan kotamu dengan negerimu dan

negerimu dengan beratus-ratus negeri di dunia, yang nama-namanya mungkin belum pernah engkau dengar. Dan, bandingkan semua negeri itu dengan segenap sistem tata surya, dan wilayahnya yang mahaluas tidak lebih dari serpihan amat kecil dari matahari. Dan, bandingkanlah segenap sistem tata surya dengan Bimasakti, yang matahari kita beserta segenap planetnya merupakan satu dari berjuta-juta bintang lainnya dan merupakan sebagian dari galaksi mahabesar

itu. Ingatlah, terdapat beberapa juta galaksi seperti Bimasakti itu.

Semuanya itu merupakan satu bagian dari alam fisik, yang kemahaluasannya tidak ada yang tahu kecuali Penciptanya, dan berbagai penemuan hanya mengungkapkan sebagian kecil carinya. Namun, alam fisik ini tidak ada artinya sama sekali apabila dibandingkan dengan alam nonfisik, yang berada di luar daya imajinasi akal manusia. Mengingat itu semua, mari kita telaah kembali sejauh mana kehidupan kita dan ruang lingkupnya dan nasib kita dalam alam keberadaan itu.

Sesudah itu, ketika Allah Swt. berkehendak mengambilmu dari dunia ini, Dia hanya memerintahkan pada segenap dayamu agar menjadi lemah dan daya-daya persepsimu agar menghentikan aktivitas-aktivitasnya. Mekanisme kehidupanmu menjadi mandek; indra dengar dan indra lihatmu, serta energimu diambil kembali darimu, lalu kamu menjadi seonggok benda mati. Beberapa jam kemudian, orang pun tidak lagi sanggup menahan bau busuk yang memancar dari tubuhmu, lalu mereka akan jijik melihat tubuh dan wajahmu. Semua anggota tubuhmu dan organ-organnya akan hancur luluh setelah beberapa hari. Begitulah keadaan tubuhmu dan apa yang akan terjadi pada kekayaan dan kemuliaanmu juga jelaslah sudah. Namun, mengenai kehidupanmu di alam barzakh, jika kamu meninggalkan dunia fana ini-semoga Allah melindungi kita--dalam keadaan belum memperbaiki diri, hanya Allah Swt. yang mengetahui bagaimana keadaanmu di alam barzakh itu. Persepsi para penghuni

p: 110

dunia fana ini tidak dapat melihat, mendengar, dan mencium urusan-urusan di alam barzakh. Apa pun yang engkau dengar tentang kegelapan, kengerian, dan tekanan di alam kubur, jika engkau samakan denga kengerian dan tekanan di dunia fana, jelaslah keliru. Ya Allah, tolonglah kami dan selamatkanlah diri kami dari bencana yang telah kami persiapkan sendiri dengan tangan-tangan kami. Siksa kubur, yang merupakan suatu model siksaan di akhirat dan menurut beberapa hadis, kita tidak akan dapat memperoleh syafaat dari para pemberi syafaat di alam barzakh-hanya Allahlah yang tahu siksaan seperti apa itu! Keadaan segenap urusan pada Hari Kebangkitan itu lebih buruk dan lebih mengerikan dibandingkan dengan yang pernah terjadi di dunia fana ini. Hari Kebangkitan merupakan masa disingkapkannya segala yang rahasia, masa teruujudnya segala yang benar, dan masa penjelmaan segala moral dan perbuatan. Hari Kebangkitan merupakan hari perhitungan dan hari aib. Begitulah Hari Kebangkitan!

Siksaan di Akhirat

Situasi dan kondisi neraka setelah Hari Kebangkitan juga sudah engkau ketahui. Maukah engkau mengetahui lebih jauh lagi tentang neraka? Siksaan di neraka tidak saja terbatas pada siksaan-siksaan api semata; sebuah pintu mengerikan akan terbuka bagi matamu, yang kalau dibuka bagi dunia fana, kengeriannya akan meluluhlantakkan segenap isinya. Pintu yang sama akan dibukakan bagi dagingmu, pintu yang lain bagi hidungmu, yang masing-masing akan cukup untuk membunuh para penghuni dunia fana. Salah seorang ahli pengetahuan tentang akhirat berkata bahwa sebagaimana panas neraka akan mencapai puncaknya, maka begitu pula dinginnya akan mencapai puncaknya. Allah Swt. sangat kuasa menghimpun dua puncak panas dan dingin tersebut. Itulah kengerian di akhirat.

Mengingat itu semua, makhluk yang awalnya terletak dalam kehampaan yang tidak berhingga; makhluk yang dari titik ini ia melangkah memasuki dunia keberadaan, yang semua tahap perkembangannya itu buruk dan tidak senonoh-alasan apa yang membuat ia berbangga diri dan angkuh? Jasa atau kemuliaan apa yang mem-

p: 111

buatnya sedemikian menyombongkan diri? Oleh karena itu, semakin bodoh seseorang dan semakin rusak atau lemah daya nalarnya, ia akan semakin membangga-banggakan dirinya. Dan semakin berilmu seseorang, yang jiwanya semakin luas dan semakin lapang dada ia, ia akan semakin rendah hati dan bersahaja.

Kerendahan Hati dan Kesahajaan Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw., yang ilmunya berasal dari wahyu Allah Swt., dan yang jiwanya sedemikian agung sehingga mengungguli jiwa berjuta-juta manusia, yang menolak semua praktik dan kebiasaan orang-orang kafir Arab, yang menginjak-injak semua keyakinan atau kepercayaan yang salah, menyempurnakan semua kitab suci dan rangkaian kenabian mencapai puncaknya dengan kehadirannya yang mulia; yang adalah penguasa dunia dan akhirat, dan juga penguasa seluruh alam, dengan izin Allah Swt., tetapi kerendahan hatinya terhadap makhluk-makhluk Allah melebihi kerendahan hati manusia mana pun. Beliau tidak suka melihat sahabat-sahabatnya berdiri dalam sikap hormat kepadanya. Apabila beliau memasuki suatu majelis, eliau biasa duduk di tempat yang paling rendah. Beliau biasa makan dan duduk di lantai serta berkata, “Aku adalah hamba sahaya Allah; aku makan seperti hamba sahaya dan duduk dalam sikap seorang hamba sahaya.” Diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s. bahwa Rasulullah Saw. lebih suka mer.gendarai keledai yang tidak berpelana, lebih suka makan di tempat yang rendah bersama hamba sahaya, dan memberikan sedekah kepada pengemis dengan kedua tangan beliau sendiri. Pribadi yang suci itu biasa mengendarai keledai dan duduk di atas punggung keledai bersama seorang hamba sahaya atau beberapa orang. Disebutkan bahwa beliau biasa berbagi tugas-tugas rumah tangga dengan para anggota rumah, beliau biasa memerah domba, menjahit pakaiannya sendiri dan memperbaiki sepatunya sendiri, menggiling tepung, meramu adonan, dan membawa sendiri milikannya. Beliau suka bergaul dengan orang miskin dan biasa makan bersama mereka. Itulah, dan melebihi apa yang telah kita gambarkan, watak dan kesahajaan pribadi agung lagi mulia itu, meskipun selain menduduki peringkat spiritual yang tinggi, beliau juga memegang

p: 112

sepenuhnya otoritas kedaulatan temporal. Begitu pula hayat dan watak ‘Ali ibn Abi Thalib a.s., yang juga pengikut jalan Rasulullah Saw. dan akhlaknya sama dengan akhlak Rasulullah Saw.

Untuk Menyembuhkan Penyakit Sombong, Lawanlah kehendaknya

Sahabatku, kalau engkau membanggakan prestasi spiritualmu, mereka (Rasulullah dan Imam 'Ali) jauh melebihi kita dalam hubungan ini; dan jika kamu membanggakan jabatan dan wewenangmu, mereka memiliki kedaulatan yang sejati. Meskipun begitu, kerendahan hati dan kesahajaan mereka melebihi siapa pun. Ini menunjukkan bahwa kerendahan hati merupakan hasil dari pengetahuan dan kearifan, sedangkan kesombongan merupakan hasil dari kebodohan. Oleh karena itu, bebaskanlah dirimu dari noda dan kejinya kejahilan dan aibnya kepicikan pikiran; raihlah sifat-sifat para nabi dan campakkanlah kualitas-kualitas iblis. Jangan melawan Tuhanmu, dengan memakai pakaian kesombongan dan kemuliaan-Nya sebab kemurkaan-Nya akan melumatkan ia yang melawan-Nya dan ia akan jatuh tersungkur ke dalam api neraka. Kalau engkau berketetapan hati mau memperbaiki diri, jalan untuk itu juga mudah jika engkau sedikit tabah hati. Di jalan ini engkau tidak akan menemui bahaya kalau engkau bergerak dengan semangat baja, tidak picik dan lapang dada. Jalan satu-satunya untuk mengatasi diri jasmaniahmu dan menolak bisikan-bisikan iblis adalah melawan godaan-godaannya. Tidak ada jalan yang lebih baik untuk menundukkan kehendak-kehendak diri, selain meniru perilaku dan akhlak orang-orang yang bersahaja. Bagaimanapun kesombongan itu dan apa pun bidang ilmu yang engkau kuasai, hendaknya kau lawan kecenderungan dan kehendak diri. Dengan menyadari dan merenungkan konsekuensi-konsekuensi kesombongan di dunia dan di akhirat, semoga perjalananmu akan lebih mudah dan engkau akan mencapai tujuan yang dikehendaki. Jika dirimu menghendaki agar engkau menjadi ketua dalam pertemuan atau memimpin kawan-kawanmu atau orang-orang yang setara denganmu, hendaknya supaya engkau lawan kehendak dirimu itu. Kalau kedirianmu membujukmu agar tidak bergaul dengan orang miskin, tegurlah dirimu itu dengan keras dan lalu paksakan dirimu

p: 113

untuk mau bersama-sama mereka, makan dengan mereka, dan bepergian bersama mereka. Mungkin saja kedirianmu berusaha mencegahmu dengan mengatakan bahwa engkau adalah orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan bahwa perlulah menjaga kehormatan dan kemuliaanmu demi tegaknya syariat, bahwa duduk bersama orang miskin itu akan menggerogoti kehormatanmu di tengah-tengah masyarakat, bahwa bersenda gurau dengan orang bawahan itu akan merusak kekuasaanmu, bahwa duduk di tempat yang rendah dalam pertemuan-pertemuan itu akan memengaruhi statusmu dan kemudian engkau tidak akan dapat menunaikan kewajiban-kewajiban keagamaanmu dengan memadai ... dan seterusnya. Yakinlah bahwa semua itu hanyalah tipu daya iblis dan tipu muslihat hawa nafsu atau diri. Telah kamu baca dan dengar tentang akhlak Rasulullah Saw., yang kedudukannya di dunia ini sungguh berada jauh di atasmu. Di antara ulama pada masa kita, saya telah melihat seseorang yang memiliki kemuliaan yang besar di kalangan mazhab Syi'ah dan yang mengikuti jejak-jejak Rasulullah Saw. Guru mulia dan faqih terhormat, Hajj Syaikh 'Abdul Karim Ha'iri Yazdi, adalah seorang marja' (yang memiliki otoritas yuridis dalam mazhab Syi'ah) dari 1340 H 1921 M hingga 1355 H/1936 M. Kita semua telah menyaksikan kesahajaannya. Kalau bepergian, dia makan bersama pembantunya, duduk di lantai, dan melontarkan gurauan-gurauan dengan murid-murid yang sangat junior. Selama hari-hari terakhirnya, ketika dia sakit, dengan mengenakan selop dia biasa berjalan di jalan kecil setelah

matahari terbenam, tanpa mengenakan mantel dan serban, dan hanya melilitkan selembar kain di kepalanya. Di hati orang, tumbuh rasa hormat kepadanya dan tindak-tanduknya tidak menonjolkan maqâm-nya yang tinggi.

Di Qum ada alim-alim besar selain dia, yang baginya rintangan-rintangan iblis yang dibuat untuk kalian telah mereka lewati. Mereka biasa membeli sendiri bahan makanan dan barang-barang, mengambil air dari tempat-tempat air, dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Perlakuan mereka terhadap senior dan junior sama dan tidak membeda-bedakan antara orang-orang yang menempati peringkat di bawahnya. Perikemanusiaan dan kesahajaan mereka membuat

p: 114

orang terkagum-kagum dan rasa hormat orang kepada mereka tidak berkurang sedikit pun. Bahkan, orang semakin hormat kepada mereka. Bagaimanapun, sifat-sifat Rasulullah Saw. dan para Imam a.s. tidak mengecilkan arti orang. Namun, haruslah diwaspadai tipu muslihat diri apabila kita mau melawannya sebab diri akan berusaha menjeratmu dan menggunakan taktik-taktik lain untuk menundukkan maksud dan tujuanmu. Misalnya saja, kalau engkau melihat seseorang yang tidak menonjol dalam suatu majelis, tetapi ia bersikap seolah-olah ingin memberi tahu orang lain yang hadir dalam majelis itu bahwa kedudukannya sebenarnya lebih tinggi daripada mereka dan bahwa karena kerendahan hati dan kesahajaannyalah, maka ia tidak menonjol. Atau, misalnya, kalau ia menolak demi seseorang

yang belum jelas lebih tinggi kedudukannya darinya, ia akan memprioritaskan seseorang yang jelas-jelas kedudukannya lebih rendah, dengan demikian agar segera jelaslah bahwa ia menolak yang pertama disebabkan oleh kerendahan hatinya sendiri. Hal itu, dan beratus-ratus lainnya yang seperti itu, merupakan tipu muslihat diri, yang menambahkan riyâ' dan kemunafikan pada takabur, dan kalau orang tidak berketetapan hati untuk menundukkannya, ia tidak akan berhasil memperbaiki dirinya. Semua keburukan jiwa dapat diperbaiki, sedikit ketekunan diperlukan pada permulaannya. Setelah memasuki proses koreksi diri, segalanya menjadi lebih mudah. Yang utama adalah menyadari perlunya memperbaiki diri dan sadar dari kelengahan diri.

Yaqzhah (Sadar), sebagai Langkah Pertama

Tahap pertama kemanusiaan adalah yaqzhah. Yaqzhah adalah terjaga dari kelengahan dan keadaan fisik, dan kesadaran akan fakta bahwa manusia itu adalah musafir. Seperti musafir lainnya, ia juga memerlukan perbekalan untuk perjalanan itu. Satu-satunya cara untuk melakukan perjalanan yang berbahaya di jalan yang sempit lagi gelap ini, yang lebih tajam daripada mata pedang dan lebih tipis daripada rambut, adalah keberanian. Cahaya jalan itu adalah iman dan sifat-sifat baik-

nya. Kalau ia malas dan lengah serta menyerah kepada kelemahan, ia tidak akan mampu melewati jalan itu dengan selamat dan akan

p: 115

jatuh ke dalam neraka kehinaan dan ke dalam kebinasaan. Dan, siapa pun yang tidak dapat melewati jalan itu dengan selamat, ia juga tidak akan dapat melewati shirâth di akhirat. Saudaraku, jadilah pemberani, cabik-cabiklah tirai kejahilan dan selamatkanlah dirimu dari jurang mengerikan yang tidak terhingga dalamnya. ‘Ali a.s., penghulu para saleh, si penempuh jalan-jalan lelangit yang unik, dan pemandu yang sejati, biasa meneriakkan dengan keras sekali di masjid sehingga sampai terdengar di sekitarnya kalimat ini:

Bekalilah dirimu dan bersiaplah. Keberangkatanmu sudah dimaklumkan. Tidak ada persiapan yang lebih bermanfaat bagimu selain akhlak dan perbuatan yang baik, hati yang takwa, amal saleh, dan kesucian serta kebersihan suara hatimu. Jika, misalnya, imanmu belum teguh, harus kaubersihkan dirimu dari kekotoran-kekotoran ini sehingga rahmat Allah akan menempatkanmu di antara hamba-hamba Allah yang saleh. Hanya api tobatlah yang akan membersihkan kekotoran-kekotoran tersebut, apabila diri terlebur dalam penyesalan diri melalui keberpalingan kepada Allah. Sekarang, leburlah dirimu di dunia ini; kalau tidak, hanya Allahlah yang mengetahui berapa abad akhirat-kah yang diperlukan untuk membersihkan jiwamu dalam dapur api siksaan Ilahi dan dengan suatu api yang disebut-sebut:

«نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَهُ » «الَّتِی تَطَّلِعُ عَلَی الْأَفْئِدَهِ »

Adalah api Allah, yang menyala, yang menyelubungi hati. (QS Al-Humazah (104]: 6-7)

Jauh lebih mudah membersihkan diri di dunia ini sebab terjadi perubahan-perubahan dengan cepat di dunia ini; tetapi di akhirat proses perubahan akan berlangsung lama dan diperlukan waktu beberapa abad untuk menyirnakan satu sifat jiwa yang buruk Oleh karena itu, wahai Saudaraku, berusahalah memperbaiki

diri selama hayat masih dikandung badan, selama masih muda, selama masih bertenaga, dan selama masih memiliki kemerdekaan. Janganlah sekali-kali kamu perhatikan kemuliaan duniawi ini. Injak-injaklah khayalan seperti itu dengan kakimu. Engkaulah putra Adam a.s., maka bebaskanlah dirimu dari perilaku iblis. Barangkali iblis merasa

p: 116

lebih senang kalau melihat keburukan tersebut, yang merupakan wataknya sendiri dan yang karenanya ia diusir dari istana Allah Swt., juga dimiliki semua orang, yang arif maupun yang awam, yang alim maupun yang buta huruf, dan kalau mereka berada dalam pelukannya.

Kemudian, kalau engkau bertemu dengannya di akhirat, sementara engkau memiliki keburukan tersebut, ia pun akan mendampratmu mengapa engkau memiliki keburukan itu. Kepadamu iblis akan mengatakan, “Wahai putra Adam! Bukankah para nabi pernah memberitahumu bahwa keangkuhanku kepada ayahmu membuatku terusir dari istana yang Mahakuasa? Aku telah dikutuk karena aku menghina Adam dan menyombongkan diri. Mengapa kau membiarkan dirimu

mengidap keburukan ini?" Pada waktu itu, engkau, makhluk yang celaka, selain menerima kehinaan dan siksaan, selain menyesali diri, juga akan menerima dampratan makhluk yang paling celaka dan paling hina (yaitu iblis-penerj.). Kesalahan iblis bukanlah karena sombong terhadap Allah, tetapi karena sombong terhadap makhluk Allah dan berkata kepada-Nya:

«قَالَ مَا مَنَعَکَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُکَ قَالَ أَنَا خَیْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِی مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِینٍ

... Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan manusia dari lempung. (QS Al-A'râf (7): 12).

Dengan cara demikian, ia mengagungkan dirinya sendiri dan memandang rendah terhadap Adam a.s. Kalau engkau memandang rendah kepada keturunan Adam dan mengagungkan diri, berarti engkau membangkang terhadap perintah-perintah Allah; sebab Allah telah memerintahkan makhluk-makhluk-Nya agar bersikap bersahaja dan rendah hati terhadap manusia lainnya. Kalau engkau memperlakukan orang dengan sikap menghina atau merendahkan, mengapa yang kau kutuk hanya iblis? Mengapa tidak engkau kutuk juga dirimu yang buruk itu, bukankah dirimu juga memiliki keburukan yang juga dimiliki iblis; barangkali di alam barzakh dan pada Hari Kebangkitan penampilannya akan merupakan penampilan iblis. Kriteria bentuk manusia di akhirat adalah kualitas-kualitas spiritualnya. Mungkin saja engkau akan mendapat bentuk iblis maupun semut. Kriteria di akhirat berbeda dengan kriteria di dunia ini.

p: 117

Kekejian-Kekejian Diri yang Samar

Kadang-kadang ada seseorang yang tidak memiliki kelebihan tertentu bersikap sombong terhadap orang yang memiliki kelebihan itu, seperti ketika seorang miskin bersikap sombong terhadap seorang kaya, atau ketika seorang yang bodoh bersikap sombong terhadap seorang berilmu. Perlu diingat bahwa, seperti halnya 'ujb, kadang-kadang menjadi sumber kesombongan, kecemburuan (hasad), juga bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan tertentu yang dimiliki orang lain; lalu ia

merasa cemburu kepadanya, dan ini menjadi penyebab kesombongan terhadap orang lain, yang ia berusaha mencaci-makinya sedapat mungkin.

Dalam Al-Kâſî, diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s. bahwa Imam berkata, "Kesombongan terdapat pada sekeji-kejinya manusia, dari golongan mana pun ia itu." Kemudian Imam menambahkan, “Pada suatu kali Rasul Saw. melewati jalan-jalan di Madinah. Rasul bertemu seorang perempuan negro sedang mengumpulkan rabuk. Perempuan itu diminta menepi dar memberikan jalan kepada Rasul Saw. Perempuan itu menyahut bahwa jalannya cukup lebar. Salah seorang yang

menyertai Rasul Saw. mencoba mengancamnya, tetapi Rasul Saw, melarangnya berbuat demikian, dengan mengatakan, 'Biarkan dia, dia itu seorang perempuan yang sombong.'

Kadang-kadang perilaku yang keji tersebut terlihat dimiliki beberapa orang alim, yang berdalih bahwa bersikap rendah hati terhadap orang kaya itu bukanlah kebajikan. Diri mereka yang keji itu membuat mereka percaya bahwa bersikap rendah hati terhadap orang kaya itu memperlemah keimanan. Orang yang malang ini tidak dapat membedakan antara bersikap rendah hati terhadap kekayaan dan bersikap rendah hati terhadap orang kaya dan orang lain. Memang, kadang-kadang cinta dunia dan ambisi akan kemuliaan dan kehormatan duniawi membuat orang mengambil sikap bersahaja dan rendah hati. Ini tidak dapat dianggap sebagai bersahaja dan rendah hati. Ini adalah mencari muka dan dipandang sebagai kekejian moral. Orang yang berperilaku seperti itu tidak menunjukkan sikap rendah

hati terhadap orang miskin, kecuali kalau kepentingan dirinya membutuhkannya atau kalau ia menggunakannya sebagai umpan.

p: 118

Namun, betul juga bahwa kebajikan kerendahhatian manusia mengajak manusia untuk bersikap bersahaja dan rendah hati terhadap orang lain, tak soal apakah mereka itu kaya atau miskin, apakah kondisinya menimbulkan iri hati atau tidak. Yakni, kesahajaan dan kerendahan hati mereka itu tulus dan mumi. Jiwa mereka bersih dan tidak ternoda oleh kecintaan akan popularitas dalam masyarakat dan akan kehormatan, yang tidak menarik hati mereka. Kerendahan hati dan kesahajaan semacam itu terjadi bukan disebabkan engkau mencari muka, melainkan engkau merasa iri hati, sedangkan engkau tidak memahami hal itu. Kalau orang kaya itu tiba-tiba secara tak diduga-duga menunjukkan rasa hormatnya kepadamu, engkau menjadi rendah hati dan bersahaja terhadapnya. Jerat dan lipu muslihat diri itu sedemikian samarnya sehingga orang tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berlindung kepada Allah. Wa al-hamdulillah awwalan wa akhiran

(Dan segala puji bagi Allah, pada awal dan akhirnya). []

p: 119

5 Hadis tentang Hasad

Point

السّند المتّصل إلی محمّد بن یعقوب عن علیّ بن إبراهیم، عن محمّد بن عیسی، عن یونس، عن داود الرّقّی، عن أبی عبد الله، علیه السّلام، قال: قال رسول الله، صلّی الله علیه و آله: قال الله عزّ و جلّ لموسی بن عمران: یا ابن عمران لا تحسدنّ النّاس علی ما آتیتهم من فضلی، و لا تمدّنّ عینیک إلی ذلک، و لا تتبعه نفسک، فإنّ الحاسد ساخط لنعمی صادّ لقسمی الّذی قسمت بین عبادی و من یک کذلک فلست منه و لیس منّی.

... Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini), dari 'Ali ibn Ibrahim, dari Muhammad ibn 'Isa, dari Yunus, dari Daud Al-Raqqi, yang meriwayatkan dari Abu ´Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq a.s.) bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman kepada Musa ibn Imran, “Hai putra Imran, janganlah sekali-kali engkau dengki

kepada manusia karena karunia yang Aku anugerahkan kepada mereka dan janganlah kauarahkan pandanganmu pada hal itu, serta janganlah kauturuti perasaan dengki itu. Sesungguhnya orang yang dengki berarti jengkel kepada nikmat-Ku dan menggugat pembagian anugerah yang Aku tetapkan di antara hamba-hamba-

Ku. Barang siapa berlaku demikian, Aku tidak berhubungan dengannya dan dia tidak pula berhubungan dengan-Ku.(1)

Definisi Hasad

Hasad atau iri hati adalah keadaan psikis seseorang yang menginginkan hilangnya suatu karunia atau kesempurnaan yang ia anggap dimiliki oleh orang lain, baik orang yang hasad ini memilikinya ataupun tidak dan baik ia menginginkannya untuk dirinya sendiri ataupun tidak. Jelas, hasad berbeda dengan ghibthah, lantaran orang yang ghibthah menginginkan karunia atau kesempurnaan yang ada pada

p: 120


1- 1. Ushûl Al-Kâfi (diterbitkan oleh Intisharat-e 'Ilmiyyah, teks Arab dengan terjemahan Persia oleh Haji Sayyid Mushthafawi), Vol. III, h. 418.

orang lain untuk dirinya sendiri tanpa mengharap hilangnya kebaikan itu dari orang lain. Ungkapan “yang ia anggap ada pada orang lain" digunakan di sini karena karunia dan kesempurnaan itu belum tentu benar-benar karunia dan kesempurnaan. Terbukti, banyak hal yang sebenarnya merupakan kekurangan dan kehinaan, dianggap oleh orang yang iri hati sebagai karunia dan kesempurnaan sehingga ia mengharap semua itu hilang dari orang lain. Atau boleh jadi terdapat sifat yang

sebenarnya merupakan kekurangan buat manusia dan kesempurnaan buat binatang, tetapi karena si penghasad berada dalam tingkat kebinatangan (belum menjadi manusia—penerj.), ia melihatnya sebagai kesempurnaan dan mengharapkannya hilang dari orang lain. Sebagai contoh, ada sejumlah orang yang mengira bahwa menganiaya dan membunuh orang tak berdosa sebagai bakat baik, sehingga bila si penghasad melihat kemampuan itu pada orang lain, ia menjadi iri hati dan mengharapkannya hilang dari orang lain. Sebagian orang ada yang iri terhadap ketajaman lidah (untuk memaki) karena mengira hal itu sebagai kesempurnaan. Jadi, ukuran untuk mengenali hasad adalah anggapan atau sangkaan adanya kesempurnaan atau karunia pada orang lain-meskipun kesempurnaan atau karunia ang dianggapnya itu belum tentu hakiki—dan keinginan si penghasad agar kesempurnaan atau karunia itu hilang dari orang lain.

Ketahuilah bahwa ada banyak jenis dan tingkat hasad yang bersumber dari keadaan orang yang dihasadi (mahsûd), penghasad (hâsid), dan esensi hasad itu sendiri. Adapun dari sudut orang yang terkena hasad (mahsûd), ada yang karena ia memiliki sejumlah kelebihan intelektual, watak yang terpuji, perbuatan baik dan ibadah, atau hal-hal eksternal seperti harta, jabatan, kewibawaan, keanggunan, dan sebagainya. Atau orang yang terkena hasad ini sebenarnya justru memiliki

lawan dari hal-hal di atas, yakni sejumlah kesempurnaan khayalan yang tidak hakiki. Adapun dari sudut hasadnya, ada banyak derajat dan pembagiaan berkenaan dengannya selain dari yang telah disebutkan. Keintensifan dan kehalusan hasad bertingkat-tingkat dan berbeda-beda bergantung pada sebab-sebabnya dan efek-efeknya. Manakala

p: 121

kita berbicara tentang keburukan-keburukan hasad, hal-hal ini akan kita singgung semampunya, dan kepada Allah aku memohon taufik.

Sebab-Sebab Hasad

Ada banyak sebab hasad yang sebagian besar berasal dari rasa rendah diri (minder), persis sebagaimana takabur berasal dari rasa tinggi diri. Sebagaimana ketika seseorang menganggap dirinya memiliki kesempurnaan yang tak dimiliki oleh orang lain timbul rasa tinggi, kuasa, agung, dan mulia pada dirinya sehingga ia bertakabur. Demikian pula kalau ia melihat ada kesempurnaan pada orang lain, ia merasa rendah diri dan putus asa. Dan kalau bukan karena faktor-faktor eksternal

dan kelayakan psikis pada orang yang memiliki kesempurnaan itu, akan timbul perasaan dengki dalam hati orang yang melihatnya. Kadang kala ia merasa kesal kepada seseorang yang juga memiliki kelebihan yang dimilikinya, seperti ket ika seseorang melihat kelebihan pada orang yang setingkat atau lebih rendah daripada dirinya. Maka, dapat dikatakan bahwa dengki adalah kekerdilan jiwa dan kerendahan diri yang terwujud dalam bentuk keinginan akan musnahnya atau hilangnya kelebihan atau keberuntungan orang lain. Oleh karenanya, sebagian ulama, seperti 'Allamah Al-Majlisi, membatasi sebab-sebab dengki pada tujuh hal berikut ini:

(1) Rasa permusuhan.

(2) Perasaan akan kelebihan diri sendiri: Bisa jadi orang yang dengki dapat merasakan kebanggaan dari orang yang menjadi sasaran dengki itu karena kelebihan dan keberuntungan yang ia miliki. Karena tidak tahan melihat kebanggaan itu, ia lalu sangat menginginkan hilangnya kelebihan dan keberuntungan itu.

(3) Takabur (kesombongan): Orang yang dengki bersikap angkuh terhadap orang yang dianugerahi kelebihan atau karunia tertentu.

(4) Ujub: Orang yang dengki merasa heran melihat karunia besar yang dimiliki orang yang menjadi sasaran kedengkiannya. Allah Swt. mengisahkan bangsa-bangsa terdahulu ketika mereka berkata kepada para nabi:

p: 122

« قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِیدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا کَانَ یَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِینٍ (10)»

Engkau tidak lain adalah manusia seperti kami. (QS İbrâhîm (141: 10)

«فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَیْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ (47)»

Dan mereka berkata, “Akankah kami beriman kepada dua manusia seperti kami?” (QS Al-Mu'minûn (23): 47)

Mereka heran bagaimana seorang manusia seperti mereka dapat meraih kedudukan tinggi kenabian dan diberi wahyu oleh Allah. Keheranan itu membawa mereka untuk merasa dengki kepadanya.

(5) Takut: Orang yang dengki merasa khawatir akan adanya gangguan tertentu dari pihak orang yang memiliki kelebihan atau keberuntungan. Ia takut semua itu dapat menghalangi tujuan dan sasaran yang ingin dicapainya.

(6) Cinta kekuasaan: Hal ini menjadi sebab dengki ketika dipegang atau dipertahankannya kekuasaan atas orang lain menghendaki agar tidak seorang pun memiliki kelebihan atau keberuntungan yang ia miliki.

(7) Watak jahat: Orang yang berwatak jahat tidak suka melihat orang lain memiliki kebaikan apa pun.

Dalam pandangan saya, kebanyakan, atau agaknya semua sebab tersebut, berasal dari perasaan rendah diri. Akan tetapi, membahas masing-masing sebab di atas kiranya tidak akan begitu relevan dengan maksud kajian kita saat ini.

Keburukan-Keburukan Hasad

Hasad itu sendiri merupakan salah satu penyakit hati yang merusak. Darinya, lahir banyak penyakit hati lain, seperti takabur dan rusaknya amal perbuatan. Masing-masing dari akibat hasad ini adalah petaka dan sebab efektif bagi kehancuran manusia. Di sini, saya akan membahas sebagian kecil keburukan hasad yang jelas dan yang saya ketahui. Dalam dua hadis sahih, Imam Al-Shadiq a.s. dan Imam Al-Baqir a.s. memberitahukan kepada kita tentang akibat-akibat buruk hasad:

Mu'awiyah ibn Wahhab meriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq a.s. berkata, “Hasad, ujub, dan kesombongan adalah racun bagi agama.(1)

p: 123


1- 2. Ibid., h. 418.

Muhammad ibn Muslim meriwayatkan bahwa Imam Al-Baqir a.s. berkata, “Seseorang dapat dimaafkan karena sesuatu yang dilakukan dalam keadaan marah. Namun, dengki dapat melahap keimanan sebagaimana api memakan kayu.(1)

Telah diketahui bersama bahwa iman adalah cahaya Ilahiah yang menerangi hati manusia dengan cahaya kemuliaan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi berikut:

“Luasnya bumi-Ku maupun langit-Ku tidak akan dapat memuatKu. Hati seorang Mukminlah yang dapat."

Cahaya ruhaniah dan percikan Ilahiah yang menjadikan hati manusia lebih agung daripada hal-hal lain di dunia ini tidak akan seiring sejalan dengan kegelapan dan kesempitan yang dimaujudkan di dalamnya oleh keburukan yang mengerikan itu. Sifat mengerikan tersebut membuat hati manusia begitu sempit dan resah yang akibat-nya menjadi nyata di sepanjang alam batiniah dan alam lahiriah. Hati menjadi pedih dan tertekan, dada menjadi sempit dan terasa tercekik, dan wajah menjadi suram dan masam. Keadaan tersebut dapat memadamkan cahaya iman dan mematikan hati manusia. Makin kuat sifat itu, ia makin mengurangi terangnya hati. Semua sifat batiniah dan lahiriah dalam keimanan dihilangkan oleh akibat-akibat dengki yang terwujud di dalam dan di luar kepribadian seseorang.

Manusia yang beriman bersifat optimis dan memiliki sikap penuh harap kepada Tuhan dan merasa puas atas cara Allah membagi dan menetapkan anugerah-Nya di antara makhluk-Nya. Orang yang dengki merasa tidak rela kepada Tuhan dan marah pada nasib yang ditetapkan oleh-Nya. Seperti disebutkan dalam hadis, orang yang beriman tidak akan dengki terhadap Mukmin yang lain; ia cinta kepada mereka, sementara orang yang dengki bertindak dengan cara yang sebaliknya.

Mukmin sejati tidak dikuasai oleh kecintaan pada hal-hal duniawi, sementara orang yang dengki dijangkiti oleh kejahatan karena kecintaannya kepada dunia. Seorang Mukmin tidak memiliki rasa takut dan kesedihan apa pun di dalam hatinya, selain rasa takut pada hal yang berhubungan dengan Sumber dan Tujuan Puncak segala makhluk.

p: 124


1- 3. Ibid., h. 416.

Namun, takut dan sedihnya orang yang dengki berkisar di sekitar orang yang dicemburuinya. Orang Mukmin mempunyai raut muka yang berseri-seri, yang menggambarkan wataknya yang menyenangkan. Orang yang dengki mempunyai wajah suram dan air muka yang masam. Orang Mukmin bersikap rendah hati dan (sering kali) tidak sombong ataupun dengki.

Dengki itu merusak keimanan seperti api membakar kayu. Jadi, tidak ada keraguan sama sekali tentang bahaya kejahatan tersebut yang merampas keimanan manusia. Padahal, keimanan adalah sumber keselamatannya di akhirat dan di dalam kehidupan serta merupakan kekuatan bagi hatinya, dan kejahatan tersebut juga menjadikannya sebagai insan malang yang tak berdaya.

Kejahatan besar yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari dengki itu adalah kebencian kepada Sang Pencipta dan Yang Maha Pengasih serta kejengkelan terhadap ketetapan-Nya. Karena tidak dapat lagi melihat, disebabkan oleh tabir gelap nafsu jasmani, ketenggelaman kita dalam dunia indriawi telah membutakan mata dan menulikan telinga. Kita tidak sadar bahwa kita sedang marah kepada Raja dari semua raja, juga tidak tahu tentang apa bentuk yang akan diraih oleh kemarahan dan dendam kita sebagai akibat dari kejahatan itu di alam yang akan datang, alam abadi kita. Imam Al-Shadiq a.s. berkata, “Barang siapa berbuat demikian, ia bukan dari aku dan aku bukan pula darinya.” Namun, kita tidak tahu tentang kemalangan akibat penolakan Tuhan atas kita dan akibat apa yang akan menimpa kita karena kejijikan-Nya kepada kita. Orang yang terusir dari lingkungan wilayah (penjagaan)-Nya dan tidak diterima di bawah standar rahmat dari yang Maha Pengasih, tidak ada harapan lagi bagi keselamatannya. Ia tidak akan dapat menerima syafaat dari si pemberi syafaat, ... siapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya? (QS Al-Baqarah [2]: 255). Siapa yang akan berlaku sebagai penolong bagi orang yang murka dan dendam kepada Tuhan, yang berada di luar batas wilayah-Nya, dan yang ikatan cintanya antara ia dan Tuhannya telah terputus? Celaka bagi kita karena malapetaka yang kita undang bagi diri kita sendiri! Walaupun semua peringatan dan rambu-rambu sudah diteriakkan oleh para nabi Allah untuk membangunkan

p: 125

kita dari tidur, toh yang tumbuh hari demi hari hanyalah kelalaian dan kemalangan kita.

Siksa Kubur

Menurut ulama, siksa kubur dan kegelapan di dalamnya adalah salah satu akibat buruk dari kejahatan dengki. Mereka berpendapat bahwa pelaku kejahatan tersebut, dengan kegelapan dan ketegangan ruhaniah yang berkaitan dengannya, mendapat tekanan dan kegelapan di dalam kubur dan di alam barzakh. Keadaan seseorang di dalam kubur bergantung pada kelapangan hati dan kesempitannya. Imam Al-Shadiq a.s. diriwayatkan pernah berkata bahwa Nabi Saw. pergi menghadiri pemakaman Saʻad. Sementara tujuh puluh ribu malaikat mengikuti upacara pemakaman itu, Nabi Saw. menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, “Adakah setiap orang mengalami impitan (kubur) seperti yang dialami Sa'ad?” Periwayat hadis tersebut berkata kepada sang Imam, “Demi dirimu, kami dengar bahwa Sa'ad tidak berhati-hati dalam bersuci (thaharah) ketika ia buang air kecil.” Imam berkata, “Na'udzu billah, kesalahannya hanyalah karena ia kasar perlakuannya terhadap anggota keluarganya ...." Kegelapan, kesempitan, ketegangan, dan kesesakan yang timbul dalam hati seseorang akibat keburukan dengki tidak mungkin terjadi pada kejahatan moral lainnya. Bagaimanapun, orang yang memiliki sifat dengki akan menderita siksaan dalam hidup ini, lalu kegelapan

dan kesesakan akan menekannya di dalam kubur, dan akhirnya akan membuatnya tidak berdaya dan sedih di alam akhirat. Semua itu adalah akibat-akibat buruk dengki semata-mata. Dengki yang belum menimbulkan kejahatan lain apa pun atau mendorong perilaku buruk apa pun. Namun, jarang sekali dengki tidak menimbulkan penderita- an dan keburukan yang lain. Dengki sering melahirkan banyak kejahatan moral lain, seperti congkak, sebagaimana telah disebutkan,

dan dosa-dosa lain, seperti umpatan, kekejaman, penganiayaan, dan lain sebagainya, yang semuanya merupakan dosa yang sangat mengerikan.

Dengan demikian, perlu sekali bagi orang yang bijak untuk memutuskan dengan segera dan berusaha membuang hal yang memalu-

p: 126

kan dan hina tersebut, melindungi imannya dari nyala api dengki dan bencananya. Ia mesti melepaskan dirinya dari penderitaan mental dan kesempitan pikiran, yang merupakan siksaan yang melekat sepanjang hidup di dunia ini, yang diikuti oleh kesedihan dan kegelapan di alam kubur dan di alam barzakh, dan yang mendatangkan murka Tuhan. Harus dipikirkan bahwa suatu penyakit yang memiliki begitu banyak kerugian perlu segera diobati. Kedengkian tidak merugikan

orang yang menjadi objek dengki itu. Ia tidak membuat orang itu kehilangan anugerah dan kelebihan tadi. Mungkin malah memberinya kepuasan tertentu, di dunia ini maupun di akhirat, untuk melihat penderitaan orang yang dengki kepadanya dan yang merupakan musuhnya. Sementara ia terus memiliki keberuntungan yang membuatmu sedih, ia mendapat lagi keberuntungan yang lain. Dan, apabila engkau jatuhkan rasa dengki lagi kepadanya untuk kedua kalinya, hal itu akan melipatgandakan penderitaan dan siksaanmu, yang juga akan menjadi kenikmatan baginya, dan seterusnya. Oleh karenanya, engkau akan terus berada dalam kesedihan, kesakitan, dan penderitaan, serta ia dalam keadaan bahagia, senang, dan gembira. Di akhirat juga, kedengkianmu akan menguntungkannya, apalagi jika kedengkian itu memuncak dalam bentuk fitnah dan umpatan, dan perilaku kedengkian lain semacamnya karena amal baikmu akan diberikan kepadanya. Engkau akan sama sekali jatuh ke lembah kemelaratan dan ia akan menikmati karunia dan kemuliaan. Apabila engkau mempertimbangkan masalah tersebut sejenak saja, tentu engkau akan membersihkan dirimu dari kejahatan dengki tersebut dan melindungi jiwamu dari akibat-akibat buruknya.

Jangan anggap bahwa kejahatan jiwa, moral, dan ruhaniah tidak dapat disembuhkan. Itu adalah gagasan keliru yang dibisikkan kepadamu oleh iblis dan nafsu jasmaniahmu, yang ingin menghalangimu dari menempuh jalan akhirat dan untuk mematahkan usahamu dalam mengoreksi dirimu. Selama manusia berada di alam transisi dan perubahan, masih mungkin baginya untuk mengubah semua sifat dan karakter moralnya. Betapapun kuat kebiasannya, selama ia masih hidup di dunia ini, ia dapat menghentikannya. Persoalannya hanyalah

p: 127

bahwa upaya yang diperlukan untuk membuang itu semua berbeda-beda sesuai dengan derajat kekuatan dan intensitasnya. Kebiasaan buruk pada tahap awal pembentukannya, tentu saja, hanya memerlukan sedikit disiplin diri dan upaya yang kecil untuk membongkarnya. Itu seperti menumbangkan tumbuhan muda yang belum menancapkan akar-akarnya secara kuat ke dalam tanah. Namun, apabila sifat itu sudah berakar kuat di dalam watak manusia, menjadi bagian dari hiasan ruhaninya, ia tidak dengan mudah dapat ditumbangkan. Itu memerlukan upaya yang lebih besar, seperti pohon yang telah berumur tua dan telah menancapkan akar-akarnya dengan kuat kedalam tanah, ia tidak dapat dengan mudah dirubuhkan. Semakin engkau menangguhkan keputusan untuk mencabut kejahatan hati,

makin banyak waktu dan upaya yang diperlukan. Sahabatku, pertama sekali jangan biarkan kejahatan moral, kebiasaan buruk, dan perilaku jahat memasuki dunia batiniah dan lahiriahmu. Tugas ini jauh lebih mudah daripada mengeluarkannya setelah ia masuk, setelah ia mengukuhkan dirinya, dan setelah mulai tumbuh subur. Dan, apabila ia telah masuk, semakin engkau tunda tindakan untuk mengeluarkannya, makin banyak waktu dan usaha yang diperlukan dan sementara itu ia akan merusak fakultas batinmu. Syaikh kami yang agung, arif yang cerdik, Syahabadi-semoga jiwaku menjadi tebusan baginya-senantiasa berkata bahwa lebih baik

mengambil tindakan melawan kejahatan moral ketika masih muda dan ketika kekuatan serta semangat masih ada. Pada tahap itu orang dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai manusia dengan cara yang lebih baik. Seseorang seharusnya tidak membiarkan dirinya menunda sampai kekuatan dirinya memudar; karena akan menjadi lebih sulit untuk mencapai keberhasilan dalam hal ini jika usia tua menjelang. Walaupun, barangkali seseorang berhasil, upaya yang diperlukan untuk memperbaikinya jauh lebih besar. Maka, apabila seorang yang bijak memikirkan akibat buruk dari segala sesuatu dan sadar bahwa ia tidak dijangkiti olehnya, niscaya ia tidak memasukkan dirinya ke dalamnya dan tidak membiarkannya mencemari dirinya. Dan apabila, na'ûdzu billah, ia terjangkiti, ia berusaha membuangnya dan berusaha mengoreksi dirinya sesegera mungkin, tidak membiarkan sampai keburukan tersebut mengukuh-

p: 128

kan akar-akarnya. Apabila, na'ûdzu billah, keburukan itu mulai berakar, ia melakukan segala macam usaha untuk mencabutnya guna menghindarkan akibat buruknya di alam barzakh dan di akhirat. Apabila ia dipindahkan dari dunia perubahan materiil ini dalam keadaan menderita, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Celakalah manusia yang seperti itu karena diperlukan waktu berabad-abad di alam barzakh dan akhirat untuk mengubah satu karakter moral. Dalam sebuah hadis, Rasul yang mulia Saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa semua penghuni surga ataupun penghuni neraka dimasukkan ke sana (surga atau neraka-peny.) sesuai dengan niat dan tujuannya. Niat yang jelek, yang berasal dari akhlak yang jelek, akan selalu ada, kecuali jika sumber dan asal-usulnya sudah dimus-

nahkan. Di alam sana, sifat-sifat manusia akan memanifestasikan dirinya dengan suatu kekuatan dan intensitas sedemikian sehingga tidak mungkin baginya untuk musnah sama sekali, dan karena itulah seseorang senantiasa tinggal di neraka, atau adalah mungkin untuk membersihkannya melalui siksaan, penderitaan, dan nyala api, yang karena itulah diperlukan waktu beberapa abad akhirat. Maka, wahai manusia yang bijak, jangan biarkan satu kejahatan yang dapat dimusnahkan

dengan sedikit usaha, sebulan atau setahun dua tahun, dan yang untuk memusnahkannya sepenuhnya kamu mampu, akhirnya bertengger dan menyebabkan kesusahan dunia dan akhirat, dan menghancurkanmu.

Sumber Kerusakan Moral

Telah disebutkan sebelumnya bahwa iman, yang merupakan kenikmatan dan keberuntungan jiwa, berbeda dengan pengetahuan, yang merupakan kesenangan dan kepuasan akal. Semua kerusakan moral dan perilaku terjadi akibat ketiadaan iman di dalam hati, yakni apa saja yang dipahami oleh nalar dan akal melalui bukti rasional atau riwayat para nabi gagal memasuki hati, dan hati tidak memahami kebenarannya. Salah satu doktrin yang dikukuhkan oleh setiap ‘ârif, hâkim, mutakallim (teolog), maupun orang awam dan ahli hukum, dan dianggapnya sebagai kepastian, adalah bahwa apa pun yang menjadi ada karena goresan Pena Sang Pencipta Yang Mahabijak, dari

p: 129

sudut pandang makhluk dan kesempurnaan pembagian rezeki di antara makhluk-makhluk dan pengaturan ketetapan-ketetapan segala sesuatu yang hidup, menunjukkan sepenuhnya keindahan rancangan dan kesempurnaan sistem yang paling selaras dengan sumum bonum semua makhluk dan sistem yang paling lengkap dan sempurna. Namun, tiap-tiap dari mereka mengungkapkan kemurahan Tuhan dan kebijakan mutlak-Nya dalam bahasa khasnya sendiri dan sesuai

dengan terminologi disiplinnya. Si ârif berkata, “Ini adalah bayangan dari Sang Pemilik Keindahan Mutlak.” Si hâkim berkata, “Sistem dari dunia yang nyata ini adalah sesuai dengan sebuah skema ilmiah yang bebas dari semua kecacatan dan keburukan, yang dianggap sebagai buruk dalam hal-hal tertentu tidak lain adalah cara makhluk dalam mencapai derajat kesempurnaan yang layak bagi mereka." Si mutakallim dan ahli hukum percaya bahwa perbuatan Tuhan didasarkan pada

kebijakan dan kebaikan umum serta akal manusia yang terbatas tidak mampu memahami kebaikan yang lebih tinggi yang tersembunyi dalam ketentuan Tuhan. Semua menganut gagasan ini dan semua mengajukan argumen untuk mendukungnya menurut pengetahuan dan kecerdasannya sendiri. Namun, karena tidak keluar dari kata-kata dan belum masuk ke hati, suara-suara protes dan keberatan tetap terdengar, dan orang itu, karena tidak memiliki iman, menentang kata-katanya dan menyangkal argumen-argumennya sendiri. Kejahatan moral juga berasal dari kelemahan iman ini. Orang yang merasa cemburu terhadap orang lain dan menginginkan hilangnya sesuatu yang dimiliki oleh orang lain itu dan menyimpan kedengkian di dalam hatinya terhadap orang yang memiliki sesuatu itu, seharus-

nya mengetahui bahwa ia tidak percaya bahwa ia ingin agar Allah Swt. tidak menganugerahkan kepadanya karunia itu. Pemahaman kita yang terbatas ternyata gagal untuk memahami kebijakan dari ketentuan-ketentuan-Nya. Ia mesti sadar bahwa ia sebenarnya tidak yakin akan keadilan Tuhar. dan keadilan dalam pembagian-Nya. Secara lisan, ia dapat menyatakan keyakinannya pada doktrin keadilan Tuhan. Namun, pernyataannya hanya berupa kata-kata belaka; karena keya.

kinan pada keadilan Tuhan bertentangan dengan kedengkian. Apabila engkau menganggap-Nya adil, anggaplah bahwa ketetapan-Nya juga adil sebab hadis dengan jelas mengatakan bahwa orang yang

p: 130

dengki berarti murka terhadap pembagian rezeki Allah Swt. kepada makhluk-makhluk-Nya dan jengkel kepada anugerah yang diberikan oleh-Nya. Sesuai dengan naluri Ilahiah yang melekat padanya, manusia pada dasarnya mencintai keadilan. Penghormatan pada keadilan, kebencian serta penentangan pada kezaliman, berakar di dalam fitrahnya. Namun, apabila tampak sikap yang berlawanan, itu karena adanya kerusakan pada dasar pendapatnya. Apabila ia jengkel terhadap keuntungan yang dimiliki orang lain dan tidak senang dengan pembagian rezeki Allah, itu karena kenyataan bahwa ia tidak menganggap pembagian itu adil, tetapi, na'ûdzu billâh, menganggapnya tidak adil dan kejam. Ini bukan karena ia menganggap pembagian Ilahi sebagai adil dan lalu ia benci kepadanya. Bukan karena ia menganggap rencana Tuhan sebagai sebuah sistem yang sempurna dan mutlak baik dan karenanya ia tidak merasa puas. Aduhai, iman kita tidak sempurna dan bukti-bukti intelektual tidak melampaui batas-batas nalar dan akal sehingga dapat memasuki alam hati. Iman bukanlah (semata-mata) masalah ucapan. Ia bukan hanya membaca, berdiskusi, atau mengutip orang lain; iman membutuhkan keikhlasan niat. Orang yang mencari Tuhan akan berhasil menemukan-Nya. Mereka

yang tertarik pada makrifat Allah, mencarinya:

«وَمَنْ کَانَ فِی هَذِهِ أَعْمَی فَهُوَ فِی الْآخِرَهِ أَعْمَی وَأَضَلُّ سَبِیلًا (72)»

Barang siapa buta di dunia ini, ia akan buta di akhirat, dan akan jauh menyimpang dari jalan yang benar. (QS Al-Isra' [17): 72)

«..... وَمَنْ لَمْ یَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ (40)»

... dan siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak akan ada cahaya baginya. (QS Al-Nûr (24): 40)

Obat Praktis untuk Hasad

Selain pengobatan teoretis yang telah disebutkan di atas, ada pula obat praktis bagi kejahatan yang mengerikan ini. Di antaranya, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk mengasihi orang yang engkau cemburui. Tujuan dari menampakkan kasih sayangmu adalah untuk mengobati dirimu dari penyakit batin tersebut. Jiwa batiniahmu akan mendorongmu untuk menyakiti dan memfitnahnya. Jiwa itu akan memaksamu untuk memperlakukannya seperti seorang musuh dan

mengingatkanmu akan kejahatan dan kesalahannya. Namun, engkau

p: 131

bertindak melawan kecenderungan dirimu dan bersikap bersahabat dengannya. Hormatilah dan hargailah ia, serta paksa dirimu untuk memujinya. Cobalah untuk melihat kebaikan-kebaikannya dan beritahukan pula kepada orang lain dengan memusatkan perhatian pada sifat-sifat baiknya. Walaupun perilakumu akan terpengaruh dan tidak wajar pada permulaannya, seperti dibuat-buat, selama tujuanmu adalah memperbaiki diri dan mengobati kejahatan tersebut, perilaku-

mu lama kelamaan akan tampak wajar. Hari demi hari kepura-puraan itu akan berkurang dan dirimu akan menjadi terbiasa melakukannya, dan apa yang seperti aibuat-buat akan menjadi kenyataan. Yakinkan dirimu dan jadikan ia mengerti bahwa ia adalah makhluk Allah. Mungkin adalah kemurahan Tuhanlah yang memilihnya untuk keuntungan yang ia nikmati. Apabila sasaran kedengkianmu adalah seorang ulama yang memiliki pengetahuan dan ketakwaan, dan engkau iri kepadanya karena kelebihan-kelebihan tersebut, kedengkianmu akan sangat lebih buruk dan permusuhan itu akan memberimu kerugian yang lebih besar di akhirat. Engkau harus mengerti bahwa mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah, yang dengan rahmat-Nya, diistimewakan dengan kelebihan dan karunia itu. Karunia seperti itu harus membuat orang merasa sayang dan baik hati kepada pemiliknya, menyebabkan orang hormat dan rendah hati di hadapannya. Oleh karenanya, apabila orang memahami bahwa apa pun yang akan menimbulkan cinta dan penghormatan di dalam hatinya menyebabkan sesuatu yang berlawanan dengan cinta dan penghormatan, ia harus tahu bahwa emosi yang paling dasar telah menyergapnya dan kegelapannya telah menaklukkan jiwanya. Sekaranglah saatnya baginya untuk sungguh-sungguh berketetapan hati dalam menghilangkannya dengan segenap cara teoretis dan praktis. Apabila ia berusaha merangsang rasa cinta dan bersahabat di dalam hatinya, ia akan segera berhasil karena cahaya cinta menaklukkan kegelapan rasa benci. Allah Swt. telah berjanji akan membimbing siapa saja yang berjuang dan akan menolong mereka melalui rahmat-Nya yang tak terlihat serta memperbesar kemampuan mereka, “Sungguh, Dia kuasa menganugerahkan kemampuan dan petunjuk.”

p: 132

Hadis tentang Ampunan bagi Orang Hasad

Dalam beberapa hadis suci, telah diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwa beliau menyebutkan sembilan hal yang umatnya akan diampuni darinya; di antaranya adalah hasad, selama tidak diwujudkan dalam kata-kata atau perbuatan. Hadis tersebut dan hadis-hadis lain yang semacam, tentu tidak akan mencegah seseorang dari menumbangkan pohon jahat kedengkian dari dirinya dan membebaskan jiwanya dari api yang menggerogoti iman. Karena jarang terjadi kejahatan memasuki jiwa tanpa membiakkan berbagai macam keburukan di situ, tanpa menampakkan tanda-tandanya, dan tanpa merugikan iman seseorang.

Disebutkan dalam hadis-hadis sahih bahwa dengki menggerogoti dan membahayakan iman, dan bahwa Allah Swt. tidak mengakui orang yang dengki dan tidak akan berurusan dengannya. Jadi, satu hal yang merupakan sumber utama kerusakan dan mengancam semua yang berharga bagi manusia tidak boleh dianggap remeh karena salah paham terhadap hadis nabi tentang pengampunan dosa hasad. Maka, kewajibanmulah untuk menganggap persoalan itu dengan serius dan memotong cabang-cabangnya serta berusaha membetulkan dirimu. Jangan biarkan biasanya merasuki perilaku lahiriahmu karena ia akan melemahkan akar-akarnya dan mencegah pertumbuhannya. Dan, apabila engkau meninggal selama masa perbaikan dan perjuangan ruhaniah itu, engkau akan memperoleh rahmat Allah.

Dengan rahmat-Nya yang tak terbatas dan anugerah yang diberikan melalui kedudukan ruhaniah nabi suci untuk memberi syafaat, engkau akan diberi ampunan. Percikan kemurahan Ilahiah akan membakar habis jejak-jejaknya yang masih ada dan jiwa akan dibersihkan serta disucikan.

Hadis berikut ini yang diriwayatkan oleh Hamzah Ibn Humran: Abu 'Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq) a.s. berkata, “Tiga hal yang para nabi dan orang-orang yang di bawahnya tidak terbebas darinya: keraguan terhadap penciptaan, mengharapkan kemalangan bagi orang lain, dan dengki, hanya saja seorang Mukmin tidak

pernah dengki.(1)

p: 133


1- 4. Wasā'il Al-Syi'ah, “bab al-amr bi al-ma'rûf”.

merupakan pernyataan hiperbolis. Maksudnya adalah bahwa hal-hal itulah yang paling sering menjadi cobaan bagi mereka, tanpa mereka sendiri benar-benar menjadi sasaran penyakit kejahatan; atau hasad digunakan di sini dalam arti ghibthah (dengki yang terbebas dari kehendak buruk); atau yang dimaksud adalah kecenderungan menginginkan hilangnya beberapa keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang kafir yang menyebarkan kepercayaan yang keliru. Sebaliknya, para nabi Allah dan para wali terbebas dari segala noda hasad dalam makna kata itu yang sesungguhnya. Hati yang dicemari oleh keburukan moral dan kotoran batin tidak dapat menerima bisikan Ilahiah dan siſat Tuhan dan cahaya Zat-Nya. Jadi, hadis ini mesti ditafsirkan dengan cara yang ditunjukkan di atas atau dengan cara

lain, atau harus dikembalikan kepada pembicaranya, shalawat dan salam Allah atasnya. “Dan segala puji bagi Allah di awal dan di akhir."[]

p: 134

6 Hadis tentang Cinta Dunia

Point

بالسّند المتّصل إلی محمّد بن یعقوب، عن محمّد بن یحیی، عن أحمد بن محمّد، عن ابن محبوب، عن عبد الله بن سنان و عبد العزیز العبدی، عن عبد الله بن أبی یعفور، عن أبی عبد الله، علیه السلام، قال: من أصبح و أمسی و الدّنیا أکبر همّه، جعل الله الفقر بین عینیه و شتّت أمره، و لم ینل من الدّنیا إلّا ما قسم له. و من أصبح و أمسی و الآخره أکبر همّه، جعل الله الغنی فی قلبه و جمع له أمره.

Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini), dari Muhammad ibn Yahya, dari Ahmad ibn Muhammad, dari Ibn Mahbub, dari 'Abdullah ibn Sinan, dan ‘Abdul Aziz Al-'Abdi, dari ‘Abdullah ibn Abi Ya'fur yang meriwayatkan bahwa Abu 'Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq) a.s. berkata, “Barang siapa menjalani waktu pagi dan sorenya dengan menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya, Allah akan meletakkan kefakiran di depan kedua matanya dan menceraiberaikan urusannya sementara ia tidak memperoleh apa-apa dari dunia ini kecuali apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Dan barang siapa yang menjalani waktu pagi dan sorenya dengan menjadikan akhirat sebagai perhatian utamanya, Allah akan memberikan rasa kecukupan di dalam hatinya dan menghimpunkan semua urusannya.(1)

Penjelasan tentang Hadis Ini

Ada berbagai penafsiran tentang istilah “dunia” dan “akhirat” sesuai dengan berbagai pandangan para sufi dan ulama. Di sini, tujuan saya bukanlah untuk masuk ke dalam pembahasan yang berbelit-belit tentang definisi yang memusingkan kepala, ketenggelaman yang menjauhkan si musafir dari tujuannya. Yang paling penting di sini adalah memahami makna “dunia yang tercela” (yakni “dunia” dalam arti sesuatu yang harus dijauhi oleh orang yang mencari akhirat)

p: 135


1- 1. Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi, (Teheran), Volume IV (teks Arab dengan terjemahan Persia oleh Sayyid Hasyim Rasuli), h. 8.

dan faktor-faktor yang membantu serta membimbing manusia di jalan keselamatan. Saya akan membahasnya, insya Allah, dalam beberapa bagian dan saya memohon pertolongan dan petunjuk-Nya dalam hal ini.

Pandangan Maulana Majlisi tentang Hakikat Dunia

Peneliti agung dan ahli hadis yang tidak ada bandingannya, Maulana Majlisi-semoga rahmat Allah tercurah atasnya—menyatakan, “Ketahuilah bahwa yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis tentang hal ini, menurut pemahaman kami, adalah bahwa dunia yang terkutuk' ialah keseluruhan dari hal-hal yang menghalangi manusia dari menaati Allah dan mencegahnya dari cinta kepada-Nya serta mencegahnya dari mencari akhirat. Jadi, 'dunia' dan 'akhirat' bersifat berlawanan satu sama lain; apa saja yang menyebabkan keridhaan Allah dan kedekatan manusia kepada-Nya adalah ‘akhirat', meskipun tampak seperti masalah duniawi-seperti perdagangan, pertanian, industri, dan kerajinan yang tujuannya adalah untuk menjamin kehidupan keluarga demi ketaatan pada perintah Allah, untuk membelanjakan pendapatan bagi tujuan-tujuan amal, kesejahteraan fakir miskin dan mereka yang membutuhkan, serta untuk mencegah kebergantungan kepaca orang lain serta meminta pertolongan mereka. Semua kegiatan tersebut ditujukan untuk akhirat, meskipun orang dapat menganggapnya sebagai mencari dunia. Di sisi lain, latihan-latihan ruhani dan ibadah-ibadah yang dimotivasi oleh ria, meskipun semua kegiatan itu dilakukan dengan ketaatan dan perhatian yang besar, adalah ditujukan untuk dunia, selama hal itu menyebabkan keterasingan dari Tuhan dan tidak mendekatkan manusia kepada-Nya. Hal-hal seperti itu merupakan perbuatan dan praktik crang kafir dan mereka yang menentang jalan yang benar.(1)

Seorang peneliti yang lain menyatakan, “Dunia' dan ‘akhirat adalah dua keadaan batin dari hati: yang lebih dekat dan berkaitan dengan kehidupan sebelum mati adalah 'dunia’, dan apa saja yang selain itu dan berkaitan dengan kehidupan sesudah mati adalah akhirat. Jadi, segala hal yang memberikan kesenangan dan kenikmat-

p: 136


1- 2. Al-Majlisi, Bihar Al-Anwâr.

an kepadamu dan membangkitkan nafsumu sebelum mati adalah ‘dunia' bagimu." Sang fakir(1) berkata, “Dunia” kadang-kadang dapat diartikan sebagai tingkat eksistensi paling rendah dan tempat perubahan, peralihan dan kemusnahan. “Akhirat” menunjukkan kembalinya seseorang dari alam eksistensi yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, alam samawi, alam batiniah, yang merupakan tempat yang tetap, tidak berubah, dan abadi. Dua alam tersebut ada pada setiap individu. Yang pertama adalah alam materiil, tempat perkembangan dan kemunculan, yang merupakan tempat eksistensi dunia yang lebih rendah. Yang kedua adalah tingkat eksistensi yang tersembunyi, batin, dan samawi, yang merupakan alam keberadaan ukhrawi yang lebih tinggi. Meskipun eksistensi duniawi adalah alam keberadaan yang lebih rendah dan tidak sempurna, selama ia menjadi ladang untuk latihan jiwa yang mulia dan sekolah untuk mencapai kedudukan ruhaniah yang lebih tinggi, ia menjadi lahan untuk mengolah akhirat. Dalam arti ini, dunia merupakan alam keberadaan yang paling agung dan alam yang paling menguntungkan bagi pencinta Tuhan dan para musafir di jalan akhirat. Dan, jika bukan karena alam materi duniawi ini, wilayah transformasi dan perubahan fisik dan ruhaniah, serta jika Allah Swt, tidak menjadikannya sebagai alam peralihan dan kemusnahan, jiwa yang tidak sempurna tentu tidak akan dapat mencapai status kesempurnaan yang dijanjikan dan tidak dapat menjangkau alam yang permanen dan stabil, sedangkan penjelmaan ketaksempurnaan tidak dapat memasuki kerajaan Allah Dengan demikian, yang disebut dalam Al-Quran dan hadis sebagai “dunia" yang tercela sesungguhnya tidak berlaku bagi dunia itu sendiri, tetapi yang dimaksudkan adalah ketenggelaman, kecintaan, dan keterikatan manusia padanya. Ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai dua dunia: yang satu dikutuk, sementara yang lain diagungkan dan dipuji. Dunia yang dipuji adalah apabila pada tahap eksistensi duniawi, yang merupakan kampung pendidikan dan tempat perdagangan ini,

p: 137


1- a Yang dimaksud adalah Imam Khomeini sendiri--penerj.

seseorang memperoleh pelbagai kedudukan ruhaniah yang tinggi, kesempurnaan, dan kebahagiaan abadi. Semua itu tidak mungkin dapat diperoleh tanpa memasuki dunia ini, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Maula Al-Muwahhidun, Amir Al-Mukminin ‘Ali a.s., dalam salah satu khutbah yang disampaikannya ketika mendengar seseorang menghina "dunia": Sesungguhnya dunia ini adalah tempat kebenaran bagi mereka yang menyadari kebenarannya, tempat keselamatan bagi mereka yang memahaminya, tempat kekayaan bagi mereka yang mencari bekal darinya (untuk akhirat), dan tempat pelajaran bagi mereka yang mau mengambil pelajaran darinya. Ia adalah tempat sujud para kekasih Allah, tempat shalat para malaikat Allah, tempat turunnya wahyu Allah, dan pasar orang-orang yang taat kepadaNya (untuk mengambil untung darinya). Di situ, mereka memperoleh rahmat-Nya dan di situ pula mereka memperoleh surga.(1)

Firman Allah Swl., wa ni'ma dârul-muttaqin (alangkah baiknya tempat tinggal orang-orang yang takwa) menurut penafsiran Imam Al-Baqir a.s. dalam sebuah hadis di buku tafsir Al-'Ayyasi adalah berkaitan dengan dunia. Jadi, selama ia merupakan manifestasi keindahan dan kebesaran-Nya dan tempat kehadiran syahâdah yang mutlak, dunia ini tidak terku:uk. Yang terkutuk adalah dunia (yang berada dalam hati) manusia sendiri, dalam arti ketenggelamnan, keterikatan, dan kecintaannya pada dunia. Dunia yang demikian itu adalah sumber dari segala kejahatan dan dosa lahir maupun batin, sebagaimana diriwayatkan dalam Al-Kafi dari Imam Al-Shadiq a.s.: Imam Al-Shadiq a.s. berkata, “Cinta dunia adalah sumber dari segala macam pelanggaran.(2)

Dan, telah diriwayatkan dari Imam Al-Baqir a.s. bahwa beliau berkata:

“Luka yang disebabkan tikaman dua serigala buas yang satu menyerang dari depan dan yang lain dari belakang, pada sekelompok kambing tanpa penggembala, tidak lebih cepat merusak dibandingkan dengan luka yang disebabkan oleh tikaman cinta dunia terhadap iman seorang Mukmin.(3)

p: 138


1- 3. Nahj Al-Balaghah (ed. Subhi Al-Shalih), Hikam No. 131.
2- 4. Ushûl Al-Kâfî, Vol. IV, h. 2.
3- 5. Ibid., Vol. IV, h. 3.

Dengan demikian, keterikatan hati dan kecintaan pada dunia adalah sama artinya dengan dunia yang dikutuk, dan makin besar keterikatan itu, makin tebal pula tirai antara manusia dan alam keagungan, serta makin tebal tirai antara hati manusia dan Penciptanya. Disebutkan dalam beberapa hadis bahwa ada tujuh puluh ribu tirai cahaya dan kegelapan antara Tuhan dan makhluk-makhluk-Nya. Tirai kegelapan mungkin tidak lain adalah keterikatan hati pada dunia, dan makin dalam keterikatan itu, makin banyak jumlah tirai dan makin besar kesulitan untuk menyingkapkannya.

Faktor-Faktor yang Mendorong Keduniaan

Manusia adalah putra alam fisik ini. Alam menjadi ibunya, dan ia adalah anak cucu air dan debu. Cinta dunia telah tertanam dalam hatinya sejak awal perkembangan dan pertumbuhannya. Bersamaan dengan pertumbuhannya, cinta ini juga bertambah. Karena adanya daya hawa nafsu dan organ-organ untuk memperoleh kenikmatan yang dianugerahkan kepadanya oleh Allah Swt. demi melestarikan individu dan kelompok, cinta ini tumbuh hari demi hari. Jika ia

memandang dunia sebagai tempat kesenangan dan kemewahan, serta kematian sebagai akhir dari semua kegiatan itu, meskipun ia diarahkan untuk yakin pada akhirat, kemuliaannya, syarat-syaratnya, pahala-pahalanya dengan argumen-argumen ahli hikmah dan tradisi para nabi, hatinya tetap tidak akrab dengannya dan tidak menerimanya, apalagi memperoleh keyakinan akan kebenarannya. Karena sebab-sebab ini, cintanya pada dunia dan keterikatan dia kepadanya terus bertambah. Karena manusia pada dasarnya ingin hidup abadi, membenci dan menghindari kerusakan dan kemusnahan, dan menganggap kematian sebagai kemusnahan, walaupun akalnya mengakui dunia ini sebagai tempat tinggal sementara yang bakal binasa dan bahwa alam akhiratlah yang abadi dan kekal, hatinya tetap tidak menerima kesimpulan akalnya bila kesimpulan itu sendiri tidak masuk ke dalam hati.

Hal yang paling penting adalah bahwa keyakinan itu harus masuk ke dalam hati dan kedudukan yang paling baik adalah iman dengan keyakinan yang sempurna. Karena alasan inilah, Ibrahim, Khalilullah,

p: 139

a.s. memohon kepada Allah agar diberi kemantapan (ithmi'nân), dan beliau diberi oleh-Nya. Maka, jika hati tidak memiliki keyakinan terhadap akhirat-sebagaimana hati kita—walaupun secara rasional kita memiliki kepercayaan itu, kita tetap ingin hidup di dunia ini dan menolak pemikiran tentang kematian dan tentang meninggalkan alam keberadaan yang rendah ini. Namun, jika hati kita menyadari akan kenyataan bahwa dunia ini adalah dunia yang paling rendah dan tempat kerusakan serta perubahan, dan alam ketaksempurnaan serta kehancuran, dan bahwa ada alam setelah kematian yang semuanya abadi dan kekal, sempurna dan permanen, tempat kehidupan yang bahagia, hati kita dengan sendirinya akan mencintai alam itu dan akan membenci dunia ini. Dan apabila seseorang memahami

dunia ini dan sadar akan kenyataan dunia sana, dan memerhatikan bentuk batiniah yang nyata dari dunia ini dan keterikatannya kepadanya, ia tidak akan tahan hidup di dunia ini. Ia akan membencinya dan ingin meninggalkan tempat kegelapan dan melepaskan diri dari belenggu waktu dan transisi sebagaimana yang tampak pada ucapan-ucapan para wali.

Imam 'Ali a.s., Maulâ Al-Auliya', berkata: "Demi Allah, putra Abu Thalib ini lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan susu ibunya.(1)

Manusia agung itu telah memandang realitas dunia ini dari sudut pandang wilayah dan telah memilih kedekatan mulia dengan Yang Mahatinggi. Dan, jika bukan demi tujuan-tujuan yang lebih tinggi, jiwa yang murni dan suci itu tidak akan tinggal lama di dalam majelis yang suram dan kelam ini, sekalipun hanya sejenak. Mendiami dunia keberagaman wujud dan merenungkan urusan-urusan duniawi, walaupun dengan keuntungan-keuntungan ruhaniah, merupakan siksaan dan penderitaan yang besar bagi mereka yang tenggelam dalam kecintaan kepada Tuhan, penderitaan yang bahkan tidak dapat kita bayangkan. Keluhan mereka, seperti tecermin dalam doa dan rintihan mereka, adalah karena sedihnya berpisah dengan Yang Tercinta dan kedekatan-Nya yang Agung, meskipun tidak ada tirai jasmaniah ataupun ruhaniah bagi mereka, dan mereka telah meninggalkan nafsu

p: 140


1- 6. Nahj Al-Balaghah, Khutbah No. 5.

buruk yang telah tertaklukkan dan telah melepaskan keterikatan kepadanya, hati mereka telah terbebas dari pencemaran nafsu jasmani. Namun, justru keberadaan di dunia batas-batas alam fisik dan kenikmatan alamiah yang berkaitan dengannya—meskipun itu hanya sedetik-seolah-olah menjadi tirai penghalang. Oleh karena itulah, Nabi Suci Saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Agar hatiku tidak tertutupi oleh tabir nafsu, maka aku beristighfar kepada Allah setiap hari tujuh puluh kali."

Boleh jadi, ketergelinciran Adam a.s., bapak umat manusia, ada lah karena ketertarikan hati pada alam fisik, yang dilambangkan dengan pohon, dan perhatiannya pada aspek duniawi dari kehidupan—sesuatu yang dipersalahkan oleh para wali dan para pencinta Tuhan. Apabila Adam a.s. tetap setia pada kehendak Tuhan dan tidak melangkahkan kaki ke wilayah duniawi, seluruh kisah panjang yang berkelok-kelok menelusuri dunia sampai ke akhirat ini, tidak akan memperoleh perhatian seperti itu. Hendaknya engkau ketahui bahwa setiap dan semua kenikmatan yang diperoleh manusia dari dunia ini meninggalkan bekasnya di dalam hatinya yang menunjukkan kekalahannya pada dunia fisik dan merupakan sebab bagi keterikatannya lebih jauh pada dunia ini. Makin banyak kenikmatan dan kesenangan itu, makin kuat kesannya di dalam hati dan makin kuat keterikatan dan kecintaannya pada dunia. Proses ini terus berlangsung hingga hati itu sepenuhnya menyerah pada dunia dan daya tariknya. Keadaan seperti itu merupakan sumber dari berbagai dosa besar. Semua pelanggaran, dosa, dan kejahatan moral manusia adalah karena kecintaan dan keterikatan ini, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang dikutip dari Al-Kafi.

Salah satu dosa paling besar akibat kecintaan ini, menurut guru kami-semoga jiwaku menjadi tebusan baginya—adalah bahwa jika cinta dunia menguasai hati manusia dan keterikatannya menjadi semakin kuat, pada saat kematiannya manusia itu akan menganggap bahwa Allah Swt. telah memisahkannya dari sesuatu yang ia cintai dan menyebabkan perpisahan antara ia dan kesenangan hawa nafsunya. Akibatnya, ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan membenci dan mendendam kepada-Nya. Peringatan yang sangat menggetarkan

p: 141

ini sudah cukup untuk menyadarkan manusia bahwa ia semestinya sangat berhati-hati dalain membimbing hatinya. Na'ûdzu billah, jangan sampai kita mendendam kepada Raja dari segala raja, Pemberi nikmat dan Pemberi rezeki karena tidak seorang pun selain Allah yang tahu bentuk keburukan dari kebencian dan dendam semacam itu. Guru kami yang mulia juga menceritakan bahwa ayahnya sangat gelisah selama tahun-tahun terakhir kehidupannya berkenaan dengan kecintaan kepada salah seorang anaknya. Namun, setelah melakukan latihan dalam disiplin diri ruhaniah selama beberapa waktu, ia berhasil terbebas dari keterikatan tersebut. Ia sangat lega berkenaan dengan hal ini sebelum ia pindah ke alam kebahagiaan yang abadi. Semoga Allah meridhainya.

Ada sebuah hadis di dalam Al-Kafi, yang diriwayatkan oleh Thalhah ibn Zaid, dari Abu 'Abdillah (Imam Al-Shadiq) a.s. bahwa beliau berkata: “Perumpamaan dunia ini adalah seperti air laut; makin banyak orang haus minum darinya, menjadi makin hauslah ia sampai air itu membunuhnya.(1)

Cinta dunia selalu menghancurkan manusia dan ia merupakan sumber kejahatan lahir dan batinnya. Nabi Saw. diriwayatkan pernah bersabda, “Dirham dan dinar telah membinasakan banyak orang sebelummu dan keduanya juga akan membinasakanmu.” Seandainya manusia tidak melakukan kejahatan lain, sesuatu yang tidak mungkin atau hampir mustahil, keterikatan pada dunia saja sudah cukup untuk menyebabkan berbagai macam kejahatan. Tolok ukur lamanya masa

penantian di alam kubur dan barzakh sebanding dengan kuatnya hubungan dan keterikatan ini. Makin sedikit keterikatan itu, makin luas dan teranglah tempatnya di kubur dan barzakh, serta dengan demikian makin pendek masa penantian seseorang di dalamnya. Oleh karenanya, para wali (auliyâ'), menurut beberapa hadis, tidak mesti mengalami masa kubur, kecuali tak lebih dari tiga hari. Itu pun karena keterikatan fitri dan inheren yang mereka miliki dengan kehidupan dunia ini.

Di antara akibat buruk dari cinta dunia dan keterikatan pada nya adalah bahwa ia membuat manusia takut akan mati. Takut mati,

p: 142


1- 7. Ushul Al-Kafi, Vol. III, h. 205.

sebagai akibat dari cinta dunia dan keterikatan padanya, adalah sangat tercela. Itu berbeda dengan takut akan Hari Pembalasan, yang merupakan salah satu sifat Mukmin sejati. Sebagian besar penderitaan dan kepedihan yang dialami oleh orang yang sedang sekarat adalah karena kuatnya ikatan duniawi itu, bukan rasa takut mati itu sendiri. Seorang peneliti yang cemerlang dan seorang analis yang bijak di Dunia Islam, Mir Damad_karramallâhu wajhah dalam Al-Qabasal-nya, sebuah buku yang sangat bermutu, menulis: Janganlah sekali-kali mati itu menakutkan dirimu karena pahitnya kematian bergantung pada rasa takut kepadanya.(1) Keburukan besar lainnya yang disebabkan oleh cinta dunia adalah bahwa kecintaan itu menghalangi manusia dari kegiatan religius, ber-

ibadah dan berdoa, serta memperkuat nafsu jasmani. Ia menanamkan penolakan di dalam hatinya terhadap perintah-perintah ruhaninya.

Akibatnya, ia memperlemah keteguhan dan kehendak, padahal salah satu rahasia dan tujuan ibadah serta kegiatan-kegiatan religius adalah untuk membuat jasmani, organ-organ fisik, dan insting-insting alamiah tunduk pada ruh sehingga kehendak dapat mengendalikannya dan memaksa jasmani untuk bertindak sesuai dengan kehendak ruh, dan mencegahnya dari segala hal yang ingin dihindari oleh ruh. Apabila ruh mendominasi jasmani, organ-organ fisik akan berada di bawah

kendali ruh sehingga apa saja yang diinginkan oleh ruh dari tubuh akan dilakukan tanpa keberatan dan halangan apa pun. Di antara keuntungan dan rahasia dari ibadah yang keras dan latihan-latihan ketaatan yang melelahkan adalah bahwa semua itu membantu tercapainya tujuan tersebut.

Melalui semua kegiatan itu, manusia dapat memperoleh keteguhan dan tekad yang kuat serta menguasai nafsu jasmaninya. Apabila tekad menjadi bulat dan sempurna dan keteguhan telah kukuh dan kuat, wilayah jasmani manusia dan daya lahir serta batinnya akan mencapai karakter malaikat, dan ia menjadi sama dengan malaikat Allah yang tidak pernah melanggar perintah-Nya, tanpa penolakan dan tekanan apa pun selalu siap menaati apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dilaksanakan, dan menahan diri dari segala hal

p: 143


1- 8. Mir Damad, Al-Qabasåt, h. 72.

yang dilarang oleh-Nya. Apabila organ-organ fisik manusia berada di bawah dominasi ruhnya, semua kesulitan dan halangan akan lenyap, dan datanglah kemudahan serta ketenangan. Ketika itu terjadi, “tujuh lapis” dari alam fisik menjadi tunduk pada kekuatan-kekuatan samawi dan semua organ akan bertindak ebagaimana mestinya. Dengan demikian, Sahabatku, kuatnya keteguhan dan tekad adalah sangat penting dan berpengaruh di alam sana. Sesungguhnya, kuatnya

tekad merupakan kriteria untuk masuk ke dalam salah satu tingkatan surga yang tertinggi. Jika seseorang tidak memiliki tekad yang kuat dan keteguhan yang kukuh, ia tidak akan mencapai surga dan kedudukan yang tinggi itu. Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa ketika orang-orang bertakwa ditempatkan di surga, sebuah pesan akan dikirimkan kepada mereka oleh Tuhan Yang Mahasuci, “Ini adalah pesan yang disampaikan oleh Yang Mahakekal dan Abadi kepada orang yang juga kekal dan abadi: Apa saja yang Aku perintahkan untuk mewujud pastilah akan mewujud; hari ini akan Aku berikan kepadamu kekuasaan untuk memerintahkan apa saja yang ingin kau wujudkan untuk mewujud.” Engkau dapat melihat betapa besarnya kekuasaan dan keistimewaan yang akan diberikan kepadamu. Kekuatan macam apa yang dimiliki mereka yang keteguhan dan tekadnya akan menjadi manifestasi dari kehendak Ilahi sehingga tekad mereka dapat memaujudkan

sesuatu yang tidak ada. Itu menunjukkan bahwa kuatnya tekad dan keteguhan dapat mengungguli semua daya fisik. Dan, jelas pula bahwa pesan itu tidak akan dikirimkan begitu saja tanpa pertimbangan yang matang. Mereka yang kehendaknya tunduk pada nafsu hewaninya, sedangkan keteguhannya telah mati dan tidak berdaya, mereka tentu tidak dapat mencapai kedudukan tersebut. Perbuatan Allah Swt. pasti terbebas dari kesia-siaan dan pemborosan. Di dunia ini segala

sesuatu didasarkan pada satu sistem yang semua cara dan tujuan diatur menurut satu tatanan. Di alam sana juga, semua urusan akan diatur dengan cara yang sama, atau malah alam sana menunjukkan keselarasan yang tinggi antara sebab dan akibat, cara dan tujuan. Kekuatan dan kemampuan kehendak seolah ditanam di alam ini.

p: 144

Dunia ini adalah ladang bagi akhirat; ia adalah substansi tempat mengukir pahala surga maupun siksa neraka. Jadi, setiap ibadah dan tata cara yang diwajibkan oleh syariat, selain semua itu memiliki bentuk-bentuk samawi dan malaküti, juga menjadi elemen untuk membangun surga fisik dan memperoleh semua bekal untuk kehidupan akhirat. Hal ini ditegaskan oleh hadis dan dikukuhkan oleh akal. Sebagaimana setiap ibadah menghasilkan efek khususnya sendiri terhadap jiwa, ia juga sedikit demi sedikit-- memperkuat tekad dan menyempurnakan keteguhannya. Maka, makin besar usaha yang dilakukan untuk suatu ibadah, makin produk-

tiflah ibadah itu:

"Amal yang paling baik adalah amal yang paling sulit.(1) Misalnya, bangun malam untuk berdoa kepada Allah Swt. dalam suasana dingin yang menusuk di malam musim dingin dan mengorbankan nikmatnya tidur nyenyak akan membuat ruh menaklukkan jasmani dan memperkuat kehendak. Meskipun agak sulit dan tidak enak pada awalnya, setelah sedikit latihan dan kesulitan, ketidak- enakannya akan berkurang, sedangkan ketundukan tubuh pada ruh menjadi tumbuh. Saya melihat orang yang melakukan hal itu dengan berat umumnya karena mereka tidak pernah bertindak. Namun, apabila kita memaksa diri kita untuk berbuat, secara bertahap kesulitan itu bakal berubah menjadi kemudahan. Orang-orang yang melakukan shalat malam akan memperoleh kenikmatan besar dari-Nya, bahkan lebih daripada kesenangan yang kita peroleh dari kenikmatan jasmani. Melalui perbuatan, jiwa menjadi terbiasa, dan kebaikan berlangsung

terus karena sudah menjadi kebiasaan. Ibadah-ibadah tersebut memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah bahwa bentuk yang mereka peroleh di alam sana begitu indah, yang tidak akan ada bandingannya di dunia ini, dan kita tidak mampu melukiskannya. Selain itu, jiwa memperoleh kekuatan tekad dan keteguhan, yang dengan sendirinya mempunyai banyak keuntungan, dan saya telah menyebutkan salah satu di antaranya. Keuntungan yang lain adalah bahwa hal itu membiasakan seseorang untuk menyembah dan mengingat Allah, membawa yang tidak sejati kepada

p: 145


1- 9. Ushûl Al-Kafi, Vol. IV, h.9.

Yang Sejati, dan memusatkan hati kepada Raja dari segala raja, mengobarkan cinta di dalam hati pada keindahan sejati Sang Tercinta, dan mengurangi keterikatan dan perhatian pada (alam) dunia dan akhirat. Barangkali, apabila kehendak Ilahi telah diwujudkan, dan ia telah memahami tujuan ibadah yang sesungguhnya serta rahasia sebenarnya dari perenungan dan zikir, kedua alam itu akan kehilangan nilai pentingnya di hadapannya; penglihatan akan Yang Tercinta menyapu debu dualitas dari cermin hati, dan hanya Tuhanlah yang tahu betapa murahnya Dia dalam memperlakukan seorang yang taat seperti itu.

Jadi, praktik-praktik yang diwajibkan oleh syariat, ibadah, serta menahan diri dari keinginan dan nafsu jasmani, memperkuat keteguhan dan tekad manusia. Di sisi lain, ketenggelaman dalam nafsu jasmani yang penuh dosa akan melemahkan keteguhan dan tekad, seperti telah disebutkan sebelumnya. Telah diketahui oleh setiap orang yang berakal sehat bahwa manusia selalu tertarik pada kesempurnaan mutlak sesuai dengan fitrah dan watak dasarnya. Bagian terbesar hatinya tertarik kepada Keindahan Mutlak dan Yang Mahasempurna dalam segala aspek. Karakteristik manusia ini melekat di dalam fitrahnya dan ditanamkan di situ oleh Allah Swt. Maka, kehendak merupakan sarana untuk memenuhi pencarian para pencinta Keindahan Mutlak itu. Namun, setiap orang, sesuai dengan kedudukan dan kondisinya sendiri, memiliki gagasannya sendiri tentang kesempurnaan, dan ia memandang kesempurnaan sebagai sesuatu menariknya. Mereka yang berusaha

untuk mencari akhirat, memahami kesempurnaan dalam taraf dan tingkat yang nonduniawi, serta hati mereka berpaling kepadanya. Dan hamba Allah yang memandang kesempurnaan dalam keindahanNya dan keindahan dalam kesempurnaan-Nya berkata:

«إِنِّی وَجَّهْتُ وَجْهِیَ لِلَّذِی فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِیفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِکِینَ (79)»

Aku hadapkan wajahku kepada Sang Pencipta langit dan bumi ....(QS Al-An'âm [6]: 79)

Dan, mereka berkata wa liya ma'a Allâh hâl (Kebahagiaan terletak pada Allah). Mereka rindu untuk bersatu dengan-Nya, dan jatuh cinta kepada keindahan-Nya. Orang-orang yang masih hidup, jika

p: 146

mereka menganggap kesempurnaan sebagai ada dalam kesenangan dan kemewahan duniawi, benda-benda yang mempunyai keindahan di mata mereka, dengan sendirinya akan tertarik pada benda-benda itu. Sebaliknya, jika kecenderungan dasar manusia adalah pada Kesempuranaan Mutlak, segala keterikatan duniawi pada dasarnya merupakan pertimbangan yang keliru. Jadi, semakin besar mereka memiliki keuntungan duniawi atau nonduniawi, baik itu prestasi ruhaniah, kemampuan, kekuasaan, ataupun harta benda materiil, kerinduannya kepadanya meningkat dan bara cinta itu makin berkobar dan makin ganas. Misalnya, nafsu jasmani orang yang sehat akan bertambah besar apabila ia diberi lebih banyak kesempatan untuk memenuhi nafsu jasmaninya; ia akan menginginkan kepuasan lainnya yang tidak tersedia baginya, dan tungku pembakaran nafsunya akan menjadi makin panas dan liar.

Demikian pula, apabila manusia yang berambisi pada kekuasaan dan wewenang dibiarkan untuk menegakkan kekuasaannya atas satu wilayah, ia akan menoleh ke wilayah yang lain. Apabila seluruh bumi ini berada di bawah kekuasaannya, ia akan berpikir untuk menyerbu planet lain untuk menjadikannya di bawah kekuasaannya. Ia tidak sadar bahwa kecenderungan alamiahnya kecanduan akan sesuatu yang lain. Kecintaan alamiah dan pencarian fitri manusia terarah kepada Sang Tercinta yang mutlak. Semua gerak substansial, fisik, dan niat, semua perhatian hati dan kecenderungan jiwa, terarah pada keindahan dari Keindahan Mutlak, tetapi manusia tidak menyadarinya. Mereka menyalahgunakan cinta, kehendak, dan kerinduan yang dimaksudkan sebagai burâq (tunggangan Nabi Saw. untuk mela-

kukan mi'raj) untuk naik ke langit dan sayap untuk terbang bersatu dengan Yang Mutlak ini dengan menyia-nyiakannya untuk tujuan-tujuan tidak berguna dan dengan mengurungnya di dalam pagar dan batas-batas yang tidak masuk akal sehingga melalaikan tujuannya. Singkatnya, karena kecenderungan manusia kepada Kesempurnaan Mutlak bersifat naluriah, makin besar kerakusannya pada perhiasan dunia, makin banyak pula ia mengumpulkannya dan makin besar pula ketertarikan hatinya kepadanya. Karena secara salah ia memercayai dunia dan pesona dunia sebagai tujuan akhir yang

p: 147

dikehendaki, kerakusannya tumbuh hari demi hari dan keinginan padanya berlipat ganda. Kebutuhannya akan dunia bertambah, sedangkan kemiskinan serta kemelaratan menjadi nasibnya. Sebaliknya, mereka yang bekerja demi akhirat, perhatian mereka terhadap dunia berkurang, perhatian mereka pada akhirat bertambah berkat pementingan mereka terhadap akhirat, dan kecintaan pada dunia serta keuntungannya menjadi berkurang di dalam hati mereka sampai mereka tidak peduli lagi terhadap dunia dan perniasannya. Rasa kaya dan kecukupan masuk ke dalam hati mereka dan harta benda dunia ini kehilangan nilainya di mata mereka. Jadi, hamba Allah ini terlupa akan kedua alam itu dan terbebas dari perhatian terhadap keduanya. Kebutuhannya hanyalah berhubungan dengan Sang

Mahakaya. Rasa tiada kebutuhan dan kecukupan ini dimasukkan ke dalam hati mereka oleh cahaya Sang Mahakaya itu.

Berdasarkan penjelasan di atas, hadis itu bermaksud mengatakan bahwa siapa saja yang menjadikan dunia sebagai perhatian utamanya dari pagi hingga malam, Allah meletakkan kemiskinan di depan kedua matanya. Dan, siapa saja yang menghabiskan pagi dan sorenya dengan menjadikan akhirat sebagai perhatian utamanya, Allah akan meletakkan rasa kecukupan di dalam hatinya. Jelas bahwa orang yang hatinya cenderung pada akhirat, baginya semua materi duniawi menjadi tak berharga, sepele, dan remeh. Ia memandang dunia sebagai sementara, tempat singgah, kehidupan singkat, satu tempat yang hanya dimaksudkan untuk mendidik dan melatih dirinya. Penderitaan dan kenikmatan sama saja baginya. Kebutuhannya menjadi sedikit dan kebergantungannya pada materi dunia dan isinya menjadi semakin kecil, dan sampai pada satu titik ketika ia tidak butuh akan semua itu sama sekali. Urusannya menjadi tersatukan dan tertata, dan rasa kecukupan yang kuat memasuki hatinya. Jadi, semakin engkau pandang dunia ini dengan takjub dan cinta, semakin hatimu terikat kepadanya, maka kebutuhanmu padanya juga akan bertambah sebanding dengan cintamu. Rasa kemiskinan dan kemelaratan akan muncul di permukaan kepribadianmu, urusan-urusanmu akan tercerai-berai dan berhamburan. Hatimu akan gelisah, murung, cemas, dan urusan-urusan tidak akan terlaksana menu--

p: 148

rut keinginanmu. Harapan dan keinginanmu akan meningkat hari demi hari. Kesedihan dan penyesalan akan mengepungmu; kebingungan dan keputusasaan akan menguasai hatimu. Sebagian persoalan ini telah disinggung di dalam hadis-hadis berikut ini dalam Al-Kafi:10

Dari Haſsh ibn Qurth, dari Abu `Abdillah a.s. yang diriwayatkan pernah berkata, “Makin besar keterlibatan seseorang dengan dunia, makin besar pula penyesalannya ketika ia berpisah dengannya." ... Ibn Abi Ya'fur berkata, “Aku mendengar Abu 'Abdillah berkata, 'Siapa yang hatinya terikat pada dunia, ia akan terikat pada tiga

hal: kesedihan yang tak kunjung padam, keinginan yang tak pernah terpenuhi, dan harapan yang tak pernah tercapai.(1)

Adapun akhirat, makin dekat mereka pada lingkungan Sang Maha Pengasih, makin bahagia dan tenang hati mereka; mereka menjadi lupa, atau bahkan muak, pada dunia ini dan apa-apa yang ada di dalamnya. Apabila Yang Mahatinggi tidak menakdirkan mereka hidup di situ, mereka tidak akan tinggal di dunia ini walaupun seje-

nak. Maulâ Al-Muwahhidîn, Imam 'Ali a.s., berkata tentang mereka, "Mereka tidak sedih dan kesal di sini seperti orang-orang yang ada di dunia ini, dan di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam samudra rahmat-Nya.” Semoga Allah menggabungkanmu dan kami bersama mereka, insya Allah.

Maka, Sahabatku, kini engkau telah tahu tentang keburukan cinta dan keterikatan (pada dunia) ini, dan engkau telah mempelajari betapa cinta ini menghancurkan manusia. Ia dapat mencabut iman manusia dan mengacaukan kehidupannya di akhirat maupun di dunia ini. Benahilah pikiranmu dan berusahalah mengurangi kecintaan serta membuang ikatan pada dunia ini sedapat mungkin. Cabutlah akar-akarnya dan anggaplah kehidupan singkat di dunia ini sebagai tidak berarti. Jangan berikan pada kesenangan dunia ini nilai apa pun karena ia mengandung siksa, penderitaan, dan rasa sakit. Mohonlah pertolongan dari Allah agar Dia menolongmu melepaskan dirimu dari bencana dan penderitaan (cinta dunia), dan akrabkanlah dirimu dengan alam agung yang ada di sisi-Nya. Dan apa pun yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan abadi. [I

p: 149


1- 10. Ibid., Vol. IV, h. 9.

7 Hadis tentang Ghadhab

Point

بالسّند المتّصل إلی محمّد بن یعقوب عن علیّ بن إبراهیم، عن محمّد بن عیسی، عن یونس، عن داود بن فرقد قال: قال أبو عبد الله، علیه السّلام: الغضب مفتاح کلّ شرّ

... Muhammad ibn Ya'qub, dari 'Ali ibn Ibrahim, dari Muhammad ibn 'Isa, dari Yunus, dari Daud ibn Farqad, yang meriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq pernah berkata, “Marah adalah kunci dari segala macam keburukan.(1)

Seorang pakar yang bernama Ahmad Ibn Muhammad, atau lebih dikenal dengan nama Ibn Miskawaih, dalam bukunya, Tahdzib Al-Akhlaq wa Tathhir Al-A'râq, yang merupakan bukti yang bagus dan sangat istimewa dalam keindahan gaya bahasa serta keteraturan isinya: “Pada hakikatnya amarah merupakan gejolak jiwa yang menyebabkan terjadinya pergolakan darah di dalam jantung, disebabkan keinginan untuk melampiaskan dendam. Ketika gejolak ini bertambah kuat, ia akan memicu luapan kemarahan sehingga terjadilah aliran darah yang begitu hebat ke jantung, mengisi pembuluh nadi dan otak dengan tekanan yang tidak stabil, dan menyebabkan akal saat itu tidak berdaya serta kehilangan kendali. Keadaan jiwa seseorang saat itu, seperti yang digambarkan oleh kaum arif, menyerupai sebuah gua yang terbakar dan diliputi oleh nyala api sehingga asap dan api bercampur, menyebabkan munculnya kobaran api yang yang hebat disertai suara. Sulit untuk dapat menenangkan orang dalam keadaan seperti itu dan tidak mungkin api kemarahannya

p: 150


1- 1. Al-Kulaini, Ushul Al-Kafi (Teheran), Vol. III (teks Arab dengan terjemahan Persia oleh Sayyid Jawad Mushthafawi), h. 412.

dapat dipadamkan. Apa pun yang dilakukan orang untuk mendinginkan suasana, justru akan menambah intensitas kemarahannya. Oleh karena itu, seseorang yang sedang dilanda amarah akan menjadi buta dan tuli terhadap nasihat maupun petunjuk yang disampaikan kepadanya. Menasihatinya hanya akan menambah kemarahannya dan tak ada satu pun cara yang dapat diharapkan untuk dapat menenangkannya."

Ibn Miskawaih menambahkan, “Hippocrates pernah mengatakan bahwa dia lebih memilih berada dalam sebuah kapal yang diterpa badai dahsyat dan diterjang oleh ombak sehingga kapalnya itu terhempas ke dalam gelombang lautan yang menyembunyikan batu karang. Itu lebih aku sukai daripada menjadi seorang yang sedang

dikuasai oleh kemarahan. Sebab, boleh jadi dengan menempuh berbagai cara, dalam situasi seperti itu para pelaut dapat mengendalikan kapal untuk menyelamatkan kapalnya. Sebaliknya, tidak ada sedikit pun harapan untuk dapat mengendalikan jiwa yang sedang dilanda kemarahan. Sebab, semua upaya seperti nasihat, saran, dan peringatan tidak akan dapat menenangkannya. Siapa pun yang berusaha untuk meredakan kemarahannya dengan permohonan yang penuh

kerendahan hati sekalipun, tetap saja gejolaknya itu akan semakin membara."

Manfaat Daya Amarah (Al-Quwwah Al-Ghadhabiyyah)

Perlu diketahui bahwa naluri amarah adalah salah satu anugerah Allah yang dengannya manusia dapat melakukan berbagai aktivitas yang berguna bagi dunia dan akhirat, sebagaimana dapat menjamin keberlangsungan hidup individu, keluarga, maupun masyarakat manusia secara umum. Ia sangat berperan dalam terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat yang ideal. Potensi ini jika tidak terdapat pada makhluk hidup, ia tidak akan dapat mempertahankan dirinya di hadapan tantangan alam sehingga mengakibatkan punahnya spesies ini. Apabila kemampuan semacam itu tidak tertanam pada fitrah manusia, dia tidak akan dapat mencapai sebagian besar tahap-tahap kesempurnaannya. Bahkan ketidaksempurnaan atau lemahnya naluri ini jika sampai berada di bawah batas kewajaran, itu berarti pertanda

p: 151

cacat dan lemahnya moralitas serta potensi-potensi akhlak pada yang bersangkutan. Hal ini akan mengakibatkan lahirnya perilaku negatif serta sikap-sikap buruk seperti perasaan takut, lemah, lesu, malas, dan ketamakan. Ia juga akan melahirkan sifat ketidaksabaran, ketidaktegasan pada saat diperlukan, menyerah di adapan setiap penganiayaan dan penghinaan, menerima apa saja yang menimpanya atau keluarganya serta kelemahan tekad dan tidak adanya rasa kecembu-

ruan. Allah Swt. melukiskan sifat-sifat orang Mukmin dengan firman-Nya:

«مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِینَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَی الْکُفَّارِ رُحَمَاءُ بَیْنَهُمْ (29)»

... (orang-orang beriman itu) keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang di antara mereka .... (QS Al-Fath (48): 29)

Pelaksanaan tugas al-amr bi al-ma'rûf wa al-nahy 'an al-munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran), penerapan hudûd (hukuman yang diwajibkan oleh undang-undang pidana Islam), taʼzir (hukuman yang diputuskan oleh seorang hakim), serta penetapan kebijakan-kebijakan lainnya yang bersifat rasional, religius, maupun politis, seluruhnya tidak akan dapat terwujud tanpa adanya potensi amarah yang baik ini. Berdasarkan hal itu, mereka yang menduga bahwa penghapusan total naluri amarah dari kedalaman fitrah manusia merupakan suatu prestasi dan tanda kesempurnaan manusia, sangatlah keliru dan mereka telah melakukan kesalahan besar.

Mereka tidak mengetahui apa saja kriteria kesempurnaan manusia serta sampai di mana batas-batas kewajarannnya. Orang-orang yang malang itu tidak mengerti bahwa Allah Swt. tidak menciptakan potensi mulia ini pada semua makhluk hidup secara sia-sia dan tanpa tujuan. Dia menanamkan naluri ini pada jiwa-jiwa anak cucu Adam a.s. sebagai modal utama dalam rangka terwujudnya kehidupan mulkî dan malakûtî. Ia adala' kunci kebaikan dan keberkatan. Sesungguhnya perjuangan manusia melawan musuh-musuh agama dan upaya mempertahankan keutuhan tatanan sosial, demikiaan pula upaya membela kehormatan jiwa, harta, maupun harga diri serta norma-norma llahiah lainya, bahkan pertempuran melawan hawa nafsu manusia itu sendiri (jihâd nafs) yang merupakan musuh terbesarnya, semua itu tidak dapat terwujud tanpa adanya potensi

p: 152

amarah yang positif ini. Dengan adanya kemampuan itulah, segala macam tindakan yang bersifat aniaya dapat dihalau, batas-batas tidak akan diterjang, kejahatan terhadap individu maupun masyarakat dapat dicegah. Karena alasan itulah, para arif berusaha mengatasi gejala redup dan lemahnya potensi ini.

Ada beberapa petunjuk teoretis sekaligus praktis yang dapat membangkitkan kembali potensi amarah pada jiwa manusia. Misalnya, terjun menghadapi suatu tantangan yang dapat memicu rasa takut yang bersangkutan, pergi ke medan perang, serta berjihad melawan musuh-musuh Allah. Diriwayatkan bahwa beberapa filosof biasa mengunjungi tempat-tempat yang berbahaya, mereka tinggal di situ sejenak hingga membuatnya berhadapan dengan berbagai risiko dan bahaya besar. Mereka berlayar menaiki kapal pada saat dahsyatnya gelombang ombak di lautan disertai dengan tiupan angin kencang. Mereka sengaja melakukan ini agar mereka dapat terbebas dari perasaan takut, lemah, dan malas yang telah menguasai diri mereka. Betapapun, daya amarah merupakan naluri yang telah tertanam dalam fitrah manusia. Hanya saja ia redup dan tidak terlalu kuat pada beberapa orang. Ibarat api yang menyala kecil di dalam sekam. Apabila seseorang merasakan adanya gejala semacam ini di dalam dirinya disertai tanda-tanda seperti kelesuan, lemah, dan kehilangan gairah, ia harus segera berusaha mengatasi keadaan ini dengan melakukan hal-hal yang berlawanan dengannya, sehingga potensi-potensi naluriahnya kembali pada keadaan semula. Upaya ini jika dilakukannya, itu pertanda suatu keberanian yang termasuk salah satu potensi positif yang dimilikinya. Permasalahan ini ini akan disinggung kembali pada pembahasan mendatang.

Buruknya Berlebihan dalam Sikap Marah

Sebagaimana kekurangan dan ketidaksempurnaan potensi akhlak sampai di bawah batas kewajaran dianggap sebagai cacat moral dan penyebab kerusakan-kerusakan akhlak lainnya seperti yang telah kami sebutkan di atas, demikian pula halnya jika sifat ini melebihi batas-batas kewajaran. Secara moral ia pun dipandang sebagai keburukan yang akan menyebabkan berbagai penyimpangan. Hadis yang

p: 153

dikutip dari Al-Kâfi berikut sudah cukup untuk menunjukkan keburukan hal itu: Imam Al-Shadiq a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Marah itu merusak keimanan sebagaimana cuka merusak madu.(1) Boleh jadi kemarahan yang berlebihan pada seseorang dapat membawa orang itu keluar dari agama Allah dan menyebabkan padamnya api keimanan di dalam dirinya, sebagai akibat dari gejolak kemarahan yang menghanguskan keimanannya. Hal ini bahkan dapat membawa mereka pada kemurtadan yang disertai pengingkaran dan berakhir dengan malapetaka abadi. Boleh jadi pada akhirnya ia tersadar sehingga menyesalı hal itu, pada saat tidak lagi berguna baginya penyesalan. Api kemarahan merupakan percikan api setan, seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Baqir a.s.:

“Sesungguhnya kemarahan adalah percikan yang dinyalakan oleh iblis di dalam hati anak Adam.(2)

Di alam yang akan datang, api kemarahan itu akan mengambil bentuk api kemurkaan Tuhan, sebagaimana diriwayatkan dari Imam Al-Baqir a.s. dalam Al-Kafi:

Termaktub di dalam Taurat ketika Allah Swt. membisikkan kepada Musa dengan berfirman, “Hai Musa, kendalikan marahmu terhadap orang-orang yang atas mereka engkau Aku beri kekuasaan. Jika engkau dapat mengendalikannya, Aku akan menghindarkan engkau dari kemurkaan-Ku.(3)

Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada api yarg lebih dahsyat daripada api kemarahan Allah. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Isa a.s., putra Maryam. ditanya oleh murid-muridnya tentang sesuatu hal yang paling berat untuk dipikul. “Kemarahan Tuhan Yang Maha tinggi adalah hal yang paling berat untuk dipikul,” jawab beliau. Mereka bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana kita dapat menyelamatkan diri darinya?” “Janganlah kamu marah,” kata Nabi Isa. Dengan demikian, jelas sekali bahwa murka Allah adalah yang paling dahsyat dan paling keras. Api kemarahan-Nya adalah yang paling membakar. Bentuk ukhrawi dari kemarahan kita di dunia ini

p: 154


1- 2. Ibid.
2- 3. Ibid., h. 415.
3- 4. Ibid., hh. 412-13.

adalah api kemarahan Allah di alam yang akan datang. Sebagaimana kemarahan muncul dari dalam hati, boleh jadi api kemarahan Tuhan yang pada awalnya berasal dari amarah dan kejahatan-kejahatan batin kita lainnya, juga akan muncul dari kedalaman hati, menyebar ke wujud luar dan nyalanya yang menyakitkan akan muncul dari organ-organ luar seperti mata, telinga, serta lidah. Bahkan, organ-organ luar itu sendiri merupakan pintu-pintu yang akan terbuka bagi api neraka. Api ini akan menyiksa dengan membakar amal-amal buruk manusia dan organ-organ tubuh yang tampak di bagian luarnya, mengalir ke dalam tubuhnya sehingga manusia saat itu disiksa dengan dua Neraka Jahanam; salah satunya berasal dari dalam hati yang nyalanya masuk ke tubuh melalui otak, sedangkan siksa Jahanam

lainnya adalah perwujudan nyata dari amal-amal buruk yang diperbuatnya selama di dunia, di mana apinya menjalar dari luar sampai ke dalam. Hanya Allah yang mengetahui betapa sakit dan pedihnya siksa yang dideritanya itu. Siksa api Jahanam ini tidak bersifat membakar ataupun melelehkan seperti yang kita bayangkan. Apakah Anda beranggapan bahwa api Jahanam melilit dan mengurung yang dibakarnya seperti yang Anda bayangkan? Api di dunia ketika membakar, maka yang dibakar dan dikurungnya hanya permukaan benda yang dibakar itu. Sedangkan di akhirat nanti pengepungan akan terjadi baik secara eksternal maupun internal. Ia akan mencakup permukaan luar tubuh maupun kedalaman hati dan totalitas wujud manusia. Dan apabila, na'ûdzu billâh, marah telah menjadi sesuatu yang melekat dengan karakter seseorang, itulah bencana yang sangat besar. Karena bentuk yang akan diperolehnya di barzakh dan di Hari Pembalasan nanti adalah bentuk binatang buas, yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Memang, ketika manusia berada dalam puncak tertinggi kesempurnaan manusiawinya, dia adalah satu-satunya makhluk ajaib di dunia ini yang tak satu makhluk pun dapat menandinginya. Sebaliknya, seorang manusia yang sedang berada dalam keadaan marah, demikian pula ketika ia menyandang sifat dan karakter-karakter buruk lainya, kebuasannya tidak dapat dibandingkan dengan kebuasan hewan mana pun.

p: 155

« .... أُولَئِکَ کَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِکَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)»

...mereka itu (orang-orang Yahudi) seperti ternak, atau bahkan lebih sesat daripada itu ... (QS Al-A'râf [7): 179)

Tentang kekerasan hati manusia, Al-Quran berkata:

«ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُکُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِکَ فَهِیَ کَالْحِجَارَهِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَهً ...»

... lalu hati mereka (orang-orang Yahudi) itu membatu, atau bahkan lebih keras daripada itu .... (QS Al-Baqarah [2]: 74)

Yang telah Anda baca di atas adalah sekelumit dari akibat-akibat buruk kemarahan yang apinya menggerogoti manusia, apabila perilaku buruk ini tidak melahirkan kejahatan dan pelanggaran lainnya. Api batin ini akan terus berada di dalam kegelapan jiwanya, meliputi, mengurung, dan mengepung seluruh hatinya sehingga memadamkan cahaya iman yang ada di dalamnya. Ibarat nyala api yang telah diselimuti oleh asap tebal sehingga mengurung dan memadamkannya. Dalam keadaan seperti ini, mustahil kalau ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan pelanggaran lainnya. Dalam sekejap saja, sering kali kemarahan yang merupakan percikan api setan terkutuk itu menyebabkan yang bersangkutan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Misalnya cengan mencaci para nabi atau manusia-manusia agung serta segala sesuatu yang bersifat suci, wa al-'iyâdz billâh, membunuh jiwa seseorang yang tak bersalah atau melanggar hal-hal

yang diharamkan sehingga pada akhirnya ia memperoleh kerugian dunia dan akhirat. Di dalam Al-Kafi, disebutkan sebuah hadis berbunyi sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s. bahwa beliau berkata, “Ayahku pernah berkata, Adakah sesuatu yang lebih keras daripada marah? Sungguh, seseorang yang marah dapat membunuh orang yang darahnya diharamkan oleh Allah dan memfitnah seorang wanita yang bersuami.(1)

Sungguh banyak kejahatan dan berbagai perbuatan keji telah dilakukan akibat amarah yang membara. Oleh karena itu, seseorang yang berhati bersih hendaknya selalu waspada akan dampak buruk dari amarah yang berlebihan ini. Jika ia mengetahui bahwa dirinya biasa dilanda amarah, hendaknya di saat-saat tenang ia berusaha mengatasi hal ini, mempelajari asal mula lahirnya gejala itu pada dirinya sambil mengamati, seperti apa dampak-dampak buruknya

p: 156


1- 5. Ibid.

jika sifat ini dibiarkan hingga menguasai dirinya. Apa yang pada akhirnya akan dialaminya jika hal itu diabaikan. Hendaknya ia berpikir bahwa kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah Swt. guna mempertahankan tatanan dunia batin maupun lahirnya, alam gaib dan syahâdah, jika ia menggunakannya untuk selain tujuan tadi dan bertentangan dengan apa yang dikehendaki-Nya, bahkan ia gunakan untuk menentang rencana-rencana Ilahi, maka seberapa besarkah pengkhianatan yang telah dilakukannya itu? Siksa seperti apa yang pantas baginya? Alangkah zalim dan bodohnya ia! Sungguh ia tidak menjaga amanat Zat yang Haqq dan Mahatinggi ini. Ia bahkan menggunakannya untuk melakukan berbagai macam permusuhan dan pertengkaran. Orang seperti ini tidak akan selamat dari kemarahan llahi. Seharusnya ia juga berpikir tentang konsekuensi berupa perilaku buruk yang lahir akibat kemarahan dan perilaku-perilaku buruk yang dimilikinya. Sebab, setiap kerusakan moral akan menyebabkannya setiap saat menderita berbagai malapetaka besar di dunia ini di samping siksa di akhirat nanti.

Lahirnya Bahaya Moral Akibat Kemarahan

Di antara bahaya-bahaya moral lain yang lahir akibat kemarahan yang tak terkendali adalah kebencian terhadap hamba-hamba Allah. Terkadang hal ini bahkan dapat membawanya pada kedengkian bukan saja kepada para nabi dan para wali, melainkan juga kepada Zat Suci Wajib Al-Wujûd dan Sang Pemelihara. Ini menunjukkan betapa buruk konsekuensi-konsekuensi yang dapat ditimbulkannya--kita semua berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa yang membangkang, yang apabila sejenak saja dibiarkan tanpa kendali, akan menjatuhkan seseorang berguling-guling di dalam debu kehinaan atau membawanya pada kecelakaan abadi. Demikian pula halnya dengan penyakit hasad, yang telah Anda pahami bahaya-bahayanya pada penjelasan hadis kelima, serta bahaya-bahaya lainnya yang ditimbulkan oleh penyakit amarah berlebih ini.

p: 157

Bahaya Kemarahan terhadap Amal Perbuatan Manusia

Tidak sedikit dampak buruk terhadap amal perbuatan manusia yang ditimbulkan oleh penyakit amarah ini. Seorang yang sedang dikuasai oleh nafsu amarahnya, boleh jadi mengucapkan kata-kata yang mengandung kemurtadan atau cacian terhadap para nabi Allah dan para wali. Kata-katanya itu mungkin juga mengandung pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Ilahi, atau pencemaran nama baik manusia-manusia suci, atau kebohongan yang mengatasnamakan keluarga-keluarga terhormat, yaitu dengan mengoyak-ngoyak tabir yang menutupi mereka sehingga menyebabkan citranya ternodai dan pilar-pilar penyanggah keutuhannya menjadi hancur. Masih banyak lagi bahaya lain yang timbul akibat nafsu amarah ini. Seluruhnya akan menyebabkan hilangnya keimanan yang bersangkutan dan merugikan pihak lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku ini adalah induk dari segala penyakit kejiwaar. sekaligus kunci bagi terbukanya semua perbuatan buruk. Berlawanan dengan kecenderungan buruk di atas, manusia juga memiliki potensi kemampuan untuk menahan amarah. Potensi ini dianggap sebagai eser.si kebijakan serta sumber dari segala kebaikan dan sifat mulia, seperti dikemukakan dalam hadis dari Al-Kafi berikut: Abu `Abdillah (Imam Al-Shadiq) a.s. meriwayatkan bahwa beliau mendengar ayahnya (Imam Al-Baqir) a.s. berkata, “Seorang lelaki Badui datang kepada Nabi Saw. dan berkata kepadanya, 'Aku tinggal di padang pasir. Ajarkanlah kepadaku inti kebijakan.' Maka, Nabi berkata kepadanya, 'Aku anjurkan engkau untuk tidak marah.' Setelah mengulangi pertanyaannya tiga kali (dan mendengar jawaban yang sama dari Nabi), Badui itu berkata kepada dirinya sendiri, “Setelah ini aku tidak akan bertanya lagi. Rasulullah tidak

memerintahkan kepadaku kecuali sesuatu yang baik.” Imam Al-Shadiq a.s. berkata, “Ayahku pernah berkata, 'Adakah sesuatu yang lebih luas daripada kemarahan? Sungguh, seseorang yang marah akan mampu membunuh seseorang yang darahnya diharamkan Allah, atau memfitnah seorang wanita yang telah bersuami.(1) Seseorang dalam keadaan jiwanya tenang dan amarahnya terkendali, setelah ia merenungkan akibat-akibat buruk kemarahan serta

p: 158


1- 6. Ibid.

keuntungan dari menahan diri, harus memastikan dirinya bahwa ia dapat memadamkan api tersebut di wilayah hatinya betapapun melelahkan dan sulitnya upaya tersebut. Hendaklah ia menghilangkan segala bentuk kekeruhan dan kegelapan dari dalam hatinya agar kembali pada kejernihannya semula. Dengan sedikit tekad untuk melawan nafsu serta keinginan-keinginan negatif, sambil mengingatkan hati dan berpikir tentang akibat-akibat buruknya, dapat dikatakan bahwa hal ini tidak terlalu sulit untuk dapat dilakukan. Ini merupakan cara yang dapat membuang segala macam perilaku buruk, sekaligus menggantikannya dengan sifat-sifat dan karakter baik yang seharusnya dimiliki oleh setiap hati manusia.

Mengendalikan Amarah

Untuk mengatasi penyakit amarah yang menyala-nyala, terdapat beberapa langkah praktis dan teoretis. Langkah teoretisnya adalah dengan merenungkan masalah-masalah yang disebutkan di atas. Ini juga sebenarnya termasuk cara penanggulangan praktis. Langkah-langkah praktis yang paling penting adalah dengan menahan diri pada tahap-tahap awal munculnya gejala kemarahan. Hal ini karena kemarahan ibarat api, dapat meningkat sedikit demi sedikit, sampai menjadi

lebih hebat hingga panasnya meningkat dan nyala apinya berkobar dengan dahsyat. Ketika hal itu terjadi, manusia akan kehilangan kendali sehingga mematikan pelita hati dan keimanannya. Saat itu manusia menjadi hina dan rendah. Oleh karena itu, seseorang harus tetap berjaga-jaga sebelum keganasannya memuncak dan apinya menjadi semakin dahsyat. Ia harus menyibukkan dirinya dengan hal-hal lain atau meninggalkan tempat yang di situ kemarahannya terpancing.

Ia juga harus mengubah posisinya; apabila ia marah dalam keadaan duduk, ia mesti segera bangkit berdiri, dan jika dalam keadaan berdiri, ia harus bangun, atau menyibukkan diri dengan mengingat Tuhan (sebagian orang bahkan menganggapnya wajib) atau hal-hal lain. Betapapun, sangatlah mudah bagi manusia untuk menahan amarahnya pada saat datangnya gejala awal. Hal ini mempunyai dua keuntungan. Pertama, ia akan dapat menenangkan dirinya dan mengurangi api kemarahan. Kedua, ini akan membawanya pada pe-

p: 159

nuntasan total gejala buruk ini, sehingga dengan seialu mengamati keadaan nafsunya dan memperlakukannya dengan perlakuan tersebut, niscaya keadaannya akan terkendali dan berubah secara total sehingga gejolak amarahnya kembali normal. Di dalam Al-Kafi, sebuah hadis menyebutkan masalah ini:

Diriwayatkan dari Imam Al-Baqir a.s. bahwa beliau berkata, "Sungguh, kemarahan adalah percikan api yang dinyalakan oleh iblis di dalam salah seorang di antara kamu ketika ia marah. Matanya menjadi merah, urat lehernya menjadi membesar, dan setan memasukinya. Maka, barang siapa di antara kamu khawatir (saat itu)

setan akan merasuki dirinya, hendaklah ia merebahkan diri (sejenak) karena kotoran setan dapat hilang darinya pada saat itu.(1) dan: Maisar meriwayatkan bahwa suatu saat di hadapan Iriam Al-Baqir a.s dibahas soal marah. Beliau berkata, “Sungguh, seorang yang sedang marah (boleh jadi) tidak akan puas sama sekali hingga ia masuk ke neraka. Maka, barang siapa marah kepada suatu kaum hendaknya ia segera duduk apabila ia dalam keadaan berdiri. Sebab, sesungguhnya hal itu akan menolak kotoran kotoran setan. Dan, barang siapa marah kepada seseorang di antara kerabatnya, hendaklah ia mendekat kepadanya dan menyentuhnya karena hubungan kekerabatan (yang terancam retak akibat kemarahan), apabila di-rangsang dengan sentuhan, akan menyebabkan ketenangan.(2)

Dua hadis di atas menyarankan dua macam cara penanganan praktis untuk mengendalikan kemarahan pada saat munculnya gejala awal. Cara pertama bersifat umum, yaitu menganjurkan duduk dan melakukan perubahan posisi tubuh. Hadis lain menyebutkan bahwa apabila posisi seseorang pada saat ia marah dalam keadaan duduk, ia mesti berdiri. Sebuah riwayat dari jalur Ahl Al-Sunnah juga menyebutkan pesan yang sama dengan hadis yang diriwayatkan Maisar di atas dengan sedikit tambahan bahwa “Apabila beliau (Saw.) marah dalam keadaan duduk, beliau segera menyandarkan punggungnya sehingga redalah kemarahannya.”

Cara praktis lainnya adalah menyangkut kemarahan yang muncul di antara sesama saudara yang saling memiliki hubungan darah, yaitu

p: 160


1- 7. Ibid., h. 415.
2- 8. Ibid., h. 412.

dengan cara salah satu dari mereka menyentuh salah satu anggota tubuh saudaranya yang sedang marah. Dengan demikian, niscaya kemarahannya akan mereda.

Petunjuk di atas merupakan metode-metode praktis yang dapat dilakukan oleh pelaku kemarahan itu sendiri. Namun, apabila ada pihak lain yang ingin mengobati seseorang yang sedang marah, jika yang tampak adalah gejala awal kemarahan, penyelesaiannya adalah dengan menerapkan salah satu dari dua metode yang disebutkan di atas. Apabila kemarahannya semakin memuncak, saat itu nasihat ataupun saran akan membuahkan hasil yang sebaliknya. Sulit sekali untuk dapat mengobatinya dalam kondisi seperti ini, kecuali dengan ancaman atau peringatan keras dari seseorang yang ditakuti dan diseganinya. Sebab, pada umumnya kemarahan seseorang tertuju hanya kepada orang lain yang dianggap lebih lemah dan lebih rendah daripadanya atau paling tidak sama dalam kekuatan dan kedudukan. Adapun di hadapan orang yang diseganinya, ia tidak akan menunjukkan kemarahannya sehingga amarahnya hanya sebatas gejolak yang meluap-luap di dalam dan tertahan hingga melahirkan kesedihan serta kekecewaan di dalam dirinya. Oleh karenanya, sulit sekali untuk dapat menenangkan kemarahan yang sedang memuncak. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Mengatasi Kemarahan dengan Mencabut Akar-Akarnya

Cara terbaik untuk mengobati penyakit amarah setan ini adalah dengan pemusnahan total kemarahan sampai ke akar-akarnya dan menghilangkan segala macam faktor yang dapat menyebabkan kehadirannya. Faktor ini cukup banyak. Di sini hanya akan disebutkan sebagiannya saja. Salah satunya adalah cinta diri, yang pada gilirannya akan melahirkan cinta kekayaan, kemuliaan, kehormatan, cinta popularitas, dan keinginan untuk berlaku sewenang-wenang. Ini semua dapat

menjadi penyebab bangkitnya api kemarahan karena seseorang yang memiliki kecenderungan-kecenderungan di atas, akan selalu berkonsentrasi terhadap hal-hal itu dan menjadikannya pusat perhatiannya setiap saat. Jika ternyata ia menemukan kesulitan dalam meraih salah satu dari tujuan-tujuan yang diinginkannya tersebut atau ketika keinginan-

p: 161

nya menemui kendala, saat itu pula ia akan melampiaskan kemarahannya tanpa sebab yang jelas sehingga ia tidak dapat menguasai dirinya. Pada saat seperti itu, ketamakan, keserakahan, dan keburukan-keburukan lain yang ditimbulkan oleh cinta diri yang telah menjadi karakternya, benar-benar telah menguasai akal, pikiran, dan seluruh totalitas jiwanya sehingga menjadikannya menyimpang dari petunjuk fitrah dan tuntunan syariat. Akan tetapi, apabila orang ini tidak memiliki

ketergantungan terhadap hal-hal itu, ketenangan dan kepuasan batin yang lahir akibat meninggalkan sifat cinta kedudukan dan semacam-nya, tidak akan membiarkannya bertindak melawan norma-norma keadilan.

Seseorang yang hidupnya sederhana, ia selalu tabah, dan tahan terhadap segala bentuk penderitaan. Ia tidak pernah kehilangan kesabaran. Kemarahan berlebihan yang bukan waktunya, tidak akan menguasainya. Apabila cinta dunia telah tercabut habis dari dalam hatinya, saat itu seluruh kejahatan akan meninggalkannya, digantikan oleh sifat-sifat lain.

Faktor lain penyebab munculnya kemarahan adalah bahwa kadang-kadang marah serta manifestasinya yang buruk, yang sebenarnya merupakan keburukan dan kebobrokan moral, dipandang sebagai kebaikan dan prestasi karena kebodohan dan kurangnya pemahaman. Sebagian orang bodoh menganggap kemarahan itu sebagai tanda keberanian dan kejantanan. Mereka memuji diri mereka sendiri dengan penuh kebanggaan sambil menunjuk perbuatan-perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Mereka mengira perbuatan yang merusak itu sebagai sua'u keberanian, padahal sifat yang terakhir ini merupakan ciri agung dari akhlak seorang Mukmin dan merupakan sifat yang dianjurkan.

Perlu diingat bahwa keberanian dan keteguhan berbeda sekali dengan kemarahan. Sebab-sebab, akibat-akibat, dar, ciri-cirinya, berbeda sama sekali dergan penyakit yang berbahaya itu. Keberanian menimbulkan kekuatan ruhani, ketenangan pikiran, moderasi, dan keimanan pada yang bersangkutan. Ia juga melahirkan dalam dirinya sikap ketidakpedulian terhadap gemerlap duniawi dan segala bentuknya yang menggoda. Sementara, kemarahan adalah hasil dari kele-

p: 162

mahan dan ketidakstabilan kualitas ruhani, lemahnya iman, serta ketidakseimbangan pada watak dan jiwa. Dampak lainnya adalah lahirnya karakter kecintaan berlebihan terhadap dunia dan ketakutan akan hilangnya kenikmatan hidup. Oleh karenanya, penyakit ini lebih sering ditemui pada orang yang sakit daripada orang yang sehat, lebih banyak pada anak-anak daripada orang dewasa, lebih banyak pada orangtua daripada anak muda. Keberanian dan keteguhan sangat berlawanan sekali dengannya. Sebenarnya penderita kerusakan moral secara umum memiliki kecenderungan lebih cepat marah daripada mereka yang sehat secara moral. Seorang yang kikir misalnya, lebih sering marah ketimbang yang lainnya karena kekhawatiran yang berlebihan terhadap harta kekayaannya. Setelah melihat hal-hal yang melatarbelakangi lahirnya kemarahan dan keberanian serta konsekuensi kedua sifat tersebut, jelas bahwa keduanya sangat berbeda sekali. Seseorang yang dikuasai oleh gejolak kemarahan dapat bertindak tak ubahnya seperti seorang gila yang kehilangan kendali akalnya atau seperti seekor binatang yang bertindak tanpa mempertimbangkan secara rasional akibat-akibat dari tindakannya. Dia dapat melakukan perbuatan-perbuatan buruk dan tidak senonoh. Lidah, tangan, dan bagian-bagian lain tubuhnya berada di luar kendali dirinya. Bibir dan mulutnya berubah menjadi bentuk yang demikian buruk sehingga ia akan malu jika tampangnya dalam keadaan tersebut dilihatnya di hadapan cermin. Sebagian orang yang terjangkiti penyakit ini bisa marah hanya karena hal-hal sepele. Mereka bahkan dapat melepaskan kemarahannya terhadap binatang, mengutuk udara, air, tanah, hujan, udara dingin, dan gejala-gejala alam lainnya, jika yang terjadi bertentangan dengan kehendak mereka. Kadang kala mereka mengamuk kepada buku, pena, dan perkakas rumah lainnya, membantingnya dan memecahkannya berkeping-

keping Sedangkan sikap seorang pemberani tidak seperti itu. Tindakan- tindakannya penuh kehati-hatian serta didasarkan pada nalar dan ketenangan jiwa. la marah pada saat yang tepat, sabar, dan menahan diri ketika sikap seperti itu diperlukan. Ia tidak terpancing dan menjadi marah karena hal-hal kecil. Apabila marah, ia marah dengan

p: 163

wajar, dan jika membalas, ia membalas dengan sangat bijak. Ia mengetahui bagaimana membalas, dalam kesempatan apa dan terhadap siapa serta bagaimana ia memaafkan, kapan, dan kepada siapa. Dalam keadaan marah, ia tidak kehilangan kendali dirinya, tidak pernah menggunakan ungkapan tak senonoh ataupun bertindak sembrono. Semua tindakannya didasarkan pada pertimbangan rasional dan sesuai dengan norma-norma syariat, keadilan, dan kebijaksanaan. la selalu melakukan tindakan-tindakan yang tidak membuatnya menyesal di kemudian hari.

Manusia yang sadar sudah semestinya tidak menyalahpahami sifat tersebut, yang merupakan salah satu sifat para nabi, para wali, dan orang-orang Mukmin sejati serta dianggap sebagai suatu bentuk kesempurnaan dan prestasi spiritual, dan tidak mengacaukannya dengan sifat lain yang merupakan keburukan ruhani, kerusakan hati sekaligus dorongan jahat dan sifat iblis. Namun, tabır kejahilan dan kebodohan serta tirai cinta diri serta keterikatan pada dunia membuatnya tuli dan buta mata hati sehingga membuatnya berada dalam kehancuran dan penderitaan abadi.

Di samping penyebab-penyebab di atas, juga terdapat penyebab-penyebab kemarahan lainnya, seperti bangga diri (ujb), angkuh (zahw), sombong (kibriya”), pamer (mira"), keras kepaia ('inad), senda gurau (mizâh), dan semacamnya yang semua itu akan memperpanjang pambahasan ini sehingga akan tidak praktis. Boleh jadi, sebagian besar atau keseluruhannya, langsung atau tidak langsung, sudah ada pada dua tema yang telah dibahas ini. Wa al-hamdu lillah.[/

p: 164

8 Hadis tentang 'Ashabiyyah

Point

بسندی المتّصل إلی محمّد بن یعقوب عن علیّ بن إبراهیم، عن أبیه، عن النّوفلی، عن السّکونی، عن أبی عبد الله، علیه السّلام، قال: قال رسول الله صلّی الله علیه و آله: من کان فی قلبه حبّه من خردل من عصبیّه، بعثه الله یوم القیامه مع أعراب الجاهلیّه.

Dengan sanad yang bersambung kepada Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini), dari 'Ali ibn Ibrahim dari ayahnya, dari Al-Naufali, dari Al-Sakuni, dari Abu 'Abdillah (Imam Al-Shadiq) a.s. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang di dalam hatinya ada perasaan ‘ashabiyyah walaupun hanya sebesar biji sawi, Allah

akan membangkitkan ia di hari kiamat nanti bersama orang-orang Badui Jahiliah.(1)

Kata khardal (biji sawi) adalah sejenis tumbuhan yang dikenal memiliki banyak manfaat medis dan juga digunakan untuk membuat lilin. Adapun ‘ashabiyyah adalah karakteristik mendukung sanak keluarga dan famili, walaupun demi perkara yang salah dan tidak adil. Kata 'ushbah jika dinisbahkan kepada seseorang berarti menunjuk kepada sanak famili dari pihak ayahnya, karena mereka adalah orang-orang yang hidup berada di sekitar lingkungannya sehingga dari mereka ia memperoleh dukungan kekuatan. Ta'ashshub secara umum mengandung makna 'mendukung' dan 'membela'. Hamba yang fakir ini menyimpulkan bahwa ‘ashabiyyah adalah perilaku batin sekaligus psikis yang tampak ketika seseorang melindungi dan membela keluarganya serta membela orang-orang yang memiliki

pertalian atau hubungan tertentu dengannya, baik itu keyakinan agama,

p: 165


1- 1. Al-Kulaini, Ushủl Al-Kafi, (Intisharat 'Ilmiyyah Islamiyyah, Teheran), Vol. III (teks Arab dengan terjemahan Persia oleh Sayyid Jawad Mushthafawi), h. 419.

ideologi, tanah, ataupun tanah air. Pertalian itu mungkin juga berupa kesamaan profesi atau hubungan guru dan murid, atau hal lainnya. 'Ashabiyyah termasuk salah satu jenis kejahatan moral dan sifat buruk yang dapat melahirkan berbagai penyimpangan moral. Sifat ini pada dasarnya adalah sifat tercela walaupun berbentuk pembelaan terhadap agama atau kebenaran, karena tidak dimaksudkan untuk membela kebenaran tersebut, tetapi untuk memperluas pengaruh diri

sendiri atau pengaruh orang yang sekelompok dengannya. Namun, jika pembelaan yang dimaksud demi tegaknya kebenaran serta dalam rangka tersebar luas dan terpeliharanya norma-norma Ilahi, ‘ashabiyyah di sini berarti salah satu dari dua kemungkinan; hal demikian tidak diramakan 'ashabiyyah, atau itu merupakan ‘asha-

biyyah yang dianjurkan. Tolok ukurnya terletak pada perbedaan kehendak dan tujuannya, serta apakah 'ashabiyyah itu melibatkan tujuan-tujuan diri sendiri atau tujuan setan, ataukah demi menjalankan tujuan-tujuan Ilahiah Dengan kata lain, ketika seseorang membela dan ber-ta'ashshub kepada sanak keluarga dan siapa yang dicintainya, di sini, apabila ia melakukannya dengan niat demi tegaknya kebenaran dan tertolaknya segala bentuk keburukan, itu adalah ta'ashshub yang terpuji dan merupakan pembelaan terhadap kebenaran. Sifat ini termasuk salah satu bentuk pencapaian kesempurnaan manusia yang termulia serta salah satu sikap agung para nabi dan wali-Nya. Ciri utama ta'ashshub positif ini bahwa seseorang harus cenderung berpihak pada sesuatu yang berlandaskan nilai-nilai kebenaran, dan mempertahankannya, meskipun hal itu berlawanan dengan keberpihakan orang-orang yang dicintainya, atau meskipun kebenaran yang dianutnya berseberangan dengan musuh-musuhnya. Orang semacarn ini adalah pejuang kebenaran; ia akan dianggap sebagai pembela kemuliaan dan yang selalu berupaya demi terciptanya suatu tatanan masyarakat manusia yang ideal. Ia merupakan salah seorang anggota masyarakat yang baik, yang selalu mengupayakan adanya perbaikan setiap kerusakan pada masyarakatnya. Namun, apabila perjuangan orang ini di tengah masyarakatnya hanya bermotifasikan kebangsaan dan semangat ‘ashabiyyah-nya, yakni dengan cara membela, mempertahankan, dan melindungi kebatilan

p: 166

serta kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat, sanak keluarga atau orang-orang yang dicintainya, ini berarti orang itu terkena penyakit buruk yang bernama 'ashabiyyah jahiliyyah. Ia telah menjadi anggota masyarakat yang buruk, merusak moralitas masyarakat yang pada dasarnya baik, dan telah masuk ke dalam kategori kelompok orang-orang Badui Jahiliah, yakni kelompok orang-orang Arab penghuni padang pasir pada masa pra Islam di mana mereka hidup dalam

kebodohan. Penyakit ‘ashabiyyah ini telah mendarah daging di kalangan mereka secara umum, kecuali yang memperoleh cahaya petunjuk (melalui Islam). Hal ini diisyaratkan oleh hadis yang meriwayatkan bahwa Imam 'Ali a.ş. berkata, “Allah Swt. akan menyiksa enam golongan manusia karena enam macam dosa; Dia akan menyiksa para penghuni padang pasir karena 'ashabiyyah, orang-orang yang tinggal di daerah terpencil karena kesombongan, penguasa karena penindasan, para fuqahâ’ karena hasad, para pedagang karena ketidakjujuran, dan orang-orang rasâtiq karena kebodohan”.

Bahaya 'Ashabiyyah

Berdasarkan hadis-hadis yang bersumber dari Ahl Al-Bait Nabi Saw., dapat disimpulkan bahwa penyakit 'ashabiyyah termasuk salah satu sifat buruk iblis sekaligus dosa yang membinasakan, yang akan mengakibatkan kehidupan yang buruk di akhirat dan menyebabkan keluarnya manusia dari keimanan. Diriwayatkan dalam Al-Kafi, melalui sanad yang shahih, dari Abu 'Abdillah (Imam Al-Shadiq) a.s. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang ber-taʻashshub atau dijadikan sasaran 'ashabiyyah karena kepentingannya, maka terlepaslah tali iman dari lehernya (1)

Yakni, dengan 'ashabiyyah-nya, orang seperti itu telah keluar dari keimanan. Adapun orang yang karena kepentingannya 'ashabiyyah dilakukan, karena merestui perbuatan 'ashabiyyah kawannya, ia adalah sekutunya dalam menerima siksa Allah. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadis bahwa “barang siapa rela terhadap tindakan suatu kaum, ia akan dikumpulkan (di akhirat) dengan mereka”. Akan tetapi, jika tidak merestui bahkan mengecam perbuatan tersebut, ia tidak akan termasuk golongan mereka.

p: 167


1- 2. Ibid.

Al-Imam Al-Shadiq a.s. diriwayatkan pernah berkata, “Barang siapa mempraktikkan 'ashabiyyah (terhadap seseorang), Allah akan melilit dia (ashabahu) dengan lilitan (“ushbah) dari api neraka.(1) Al-Imam 'Ali ibn Al-Husain a.s. diriwayatkan pernah berkata, “Hamiyyah(2) tidak akan masuk surga, kecuali hamiyyaha Hamzah ibn 'Abdul Muththalib, yang muncul ketika ia masuk Islam karena kemarahannya dalam membela Nabi Saw.(3) Bermacam-macam riwayat yang menceritakan peristiwa masuk-nya Hamzah ke dalam Islam, tetapi masalah ini di luar pembahasan kita sekarang. Betapapun, jelas sekali bahwa iman yang merupakan “pakaian kebesaran" yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tulus ikhlas kepada-Nya, dan pencari cinta-Nyamadalah sifat yang berlawanan dengan perilaku terkutuk itu. Sifat ‘ashabiyyah ini melahirkan suatu aktivitas yang dapat menghapuskan nilai-nilai kebenaran. Tentu saja, apabila hati tertutup oleh tabir kecintaan terhadap diri, keluarga dan 'ashabiyyah (fanatisme) kesukuan maupun kebangsaan, cahaya keimanan tidak akan mendapatkan sedikit pun tempat di dalamnya sebagaimana tidak ada lahan yang dapat dijadikan untuk mendekatkan diri kepada Zat Yang Mahatinggi. Orang yang di dalam hatinya terdapat manifestasi cahaya keimanan dan makrifat (kepada-Nya), yang lehernya dibelenggu oleh tali keimanan yang kukuh dan tak terputuskan serta tertawan oleh cahaya hakikat-Nya dan makrifat (kepada-Nya), adalah dia yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan terikat dengan prinsip-prinsip hukum rasional. Orang yang demikian itu selalu menyesuaikan setiap gerak langkahnya berdasarkan tuntunan akal serta norma-norma syariat. Demi kian teguhnya sikapnya ini sehingga tidak dapat tergoyahkan meskipun berlawanan dengan tradisi, adat istiadat, serta kebiasaan-kebiasaan yang selalu dilakukannya sehari-hari. Ia tidak akan pernah menyimpang dari jalan yang lurus. Seseorang yang mengklaim dirinya sebagai Muslim sejati dan beriman adalah dia yang menyerah di hadapan hakikat-hakikat (kebesaran Allah Swt.) serta patuh terhadapnya. Ia

p: 168


1- 3. Ibid., h. 420.
2- a Hamiyyah adalah suatu sikap membela dan mempertahankan sesuatu-penerj
3- 4. Ibid.

akan melihat segala yang harus dicapainya di dunia ini—betapapun besar tujuan-tujuannya itu—sebagai sesuatu yang fana dan tidak berarti di hadapan tujuan dan kehendak Tuhannya Sang Pelimpah aneka nikmat. Ia akan mengorbankan dirinya demi mewujudkan kehendak Tuhannya Yang Mahasejati.

Jelaslah bahwa orang semacam ini tidak mengenal fanatisme Jahiliah. Dia terbebas dari sifat itu. Hatinya tidak tertuju kecuali pada hakikat-hakikat-Nya itu. Kedua matanya tidak diselubungi oleh tabir tebal fanatisme Jahiliah. Dia tidak segan-segan memutuskan segala bentuk hubungan dan ikatan demi meninggikan kalimat tauhid dan mengumandangkan hakikat kebenaran-Nya. Ia akan mengorbankan semua tali kekeluargaan dan pertalian adat di hadirat Tuhan Mahamutlak Pemilik segala nikmat. Apabila 'ashabiyyah-nya terhadap Islam berten-tangan dengan ‘ashabiyyah Jahiliah, dia mengedepankan Islam. Manusia yang tercerahkan mengetahui bahwa semua bentuk ‘ashabiyyah, dan segala macam hubungan pertalian maupun ikatan, hanyalah sementara dan akan musnah, kecuali hubungan antara Khaliq dan makhlûq-Nya. Inilah jenis 'ashabiyyah yang esensial dan tidak akan pernah sirna. Ia lebih kuat, lebih tinggi, dan lebih unggul daripada semua jenis hubungan ataupun pertalian.

Hadis Nabi

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Semua hasab (kemuliaan) dan nasab (ikatan kekerabatan) akan terputus pada hari kiamat kecuali hasabku dan nasabku.” Sebab, kemuliaan Rasulullah Saw. bersifat ruhaniah dan abadi, terbebas dari segala bias ‘ashabiyyah jahiliah. Hasab dan nasab di alam akhirat akan tampak lebih kuat dan kebaikan-kebaikan ruhaniah juga akan lebih jelas.

Nasab-nya adalah keterikatan dan hubungannya dengan Allah Swt., tidak akan tampak jelas kecuali di akhirat nanti. Sedangkan bentuk pertalian-pertalian fisik yang bersifat duniawi, yang sementara dan hanya berlandaskan tradisi serta adat-istiadat manusia itu, mudah terputus hanya karena hal sepele. Semua itu tidak akan ada harganya sama sekali di alam akhirat, kecuali hubungan-hubungan yang diba-

p: 169

ngun menurut sistem Ilahiah serta berdasarkan tolok ukur syariat dan akal, yang tiada putusnya.

Bentuk Ukhrawi dari Ashabiyyah

Dalam penjelasan hadis-hadis yang lalu, telah disebutkan bahwa kriteria bentuk-bentuk manusia di alam barzakh dan alam akhirat nanti adalah berdasarkan karakter dan kualitas jiwa manusia itu sendiri, sebagai dampak dari amal perbuatannya selama kehidupannya di dunia. Baik buruknya bentuk-bentuk manusia bergantung pada besar tidaknya kualitas ruhaninya itu. Alam akhirat merupakan tempat tampaknya dominasi ruh dan patuhnya jasmani terhadap segala ketentuan

yang jatuh kepadanya. Boleh jadi manusia dibangkitkan di akhirat nanti dalam bentuk hewan atau setan. Seperti yang Anda ketahui bahwa hadis yang sedang kita pelajari dalam bab ini menyatakan bahwa orang yang di dalam hatinya memiliki rasa ‘ashabiyyah walaupun sebesar biji sawi. Allah Swt. akan membangkitkannya di hari kiamat bersama orang-orang Badui Jahiliah, juga mungkin menunjuk pada permasalahan yang kita kaji di atas. Manusia yang memiliki penyakit ‘ashabiyyah ini, boleh jadi setelah ia berpindah ke alam lain akan melihat dirinya sebagai seorang Badui Jahiliah penyembah berhala, yang tidak memiliki keimanan kepada Tuhan maupun pada kenabian dan risalah para nabi. Dia akan menemukan dirinya berbentuk seperti halnya keadaan wajah-wajah mereka, tanpa sama sekali mengingat bahwa ketika di dunia dia telah memeluk agama yang benar, yaitu keimanan kepada Allah dan RasulullahNya, ataupun menyadari bahwa dia dahulu termasuk umat Rasulullah Saw. pembawa risalah terakhir. Ini didukung oleh sebuah hadis yang menyebutkan bahwa para penghuni neraka tidak akan dapat mengingat nama Rasulullah, ataupun mengenali diri mereka sendiri, kecuali jika Allah berkehendak untuk membebaskan mereka. Dan, sebagaimana diisyaratkan dalam sebuah hadis, karena 'ashabiyyah merupakan salah satu sifat iblis, bisa saja orang-orang Badui dan orang-orang yang berpenyakit ‘ashabiyyah itu nanti akan dibangkitkan dalam bentuk iblis.

p: 170

Diriwayatkan dari Abu 'Abdillah (Imam Al-Shadiq) a.s. bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya dahulu para malaikat mengira bahwa iblis itu termasuk golongan mereka, padahal dalam ilmu Allah ia bukan termasuk mereka; lalu ia mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya dengan hamiyyah dan amarah, lalu berkata, 'Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia (Adam) dari tanah liat.(1)

Oleh karena itu, ketahuilah wahai Saudaraku, bahwa sifat buruk ini sumbernya adalah setan terkutuk dan merupakan hasil kekeliruannya dalam berpikir. Ia melakukan kekeliruan karena kabut tebal ‘ashabiyyah. Kabut tersebut menghalangi pandangan untuk dapat melihat semua realitas sehingga perbuatan-perbuatan buruk diri sendiri akan tampak baik. Demikian pula sebaliknya kebaikan orang lain dilihatnya buruk. Dan, tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana nasib mereka yang melihat segala sesuatu, bukan yang sebenarnya. Selain menjadi sumber malapetaka dan kerusakan manusia, 'ashabiyyah juga menyebabkan sejumlah kejahatan moral dan perilaku-perilaku buruk yang terlalu panjang jika dibahas dalam buku ini. Seorang bijak yang menggunakan akalnya, setelah memahami

bahwa semua kekejian tersebut sumbernya adalah 'ashabiyyah yang merusak ini, dan setelah meyakini kesaksian Rasulullah Saw. dan Ahl Al-Baitnya a.s. tentang bahayanya sifat tersebut dan bahwa ini akan membawa manusia pada kehancuran serta menjadikannya sebagai penghuni neraka, sudah seharusnya ia segera bergerak membebaskan dirinya dari penyakit ini dan menyucikan hatinya meskipun dari sebiji sawi noda 'ashabiyyah ini. Hendaklah hal itu segera dituntaskan sehingga ia dapat sepenuhnya tersucikan sebelum ia meninggalkan dunia ini dan dipindahkan ke alam berikutnya. Ia harus terbebas dari perbuatan tersebut pada saat kematiannya agar ia dapat melangkahkan kakinya ke akhirat dengan jiwa yang suci. Ia harus ingat bahwa waktu amat sedikit dan kesempatan amat terbatas karena ia tidak tahu kapan ia pergi meninggalkan dunia ini. Wahai jiwa jahat! Mungkin ajal mendatangimu pada saat engkau sedang sibuk menulis lembaran-lembaran ini, dan memindahkanmu

p: 171


1- 5. Ibid.

bersama semua perbuatan burukmu ke alam lain yang engkau tidak akan pernah kembali darinya. Wahai Anda pembaca lembaran-lembaran ini! Ambillah pelajaran

dari keadaan penulis ini yang mungkin hari ini atau esok terkubur di dalam tanah, memasuki alam lain dengan membawa beban amal- amal buruk. Sungguh penulis ini telah menyia-nyiakan kesempatan berharga yang dimilikinya dengan bermalas-malasan dan mengikuti hawa nafsunya selama di dunia, bahkan menghancurkan bekal yang Allah berikan dan membuangnya. Oleh karena itu, berhati-hatilah karena suatu hari Anda pun akan mengalami keadaan yang sama dengan saya, dan Anda tidak tahu kapan hal itu terjadi. Boleh jadi, jika Anda yang saat ini sedang sibuk membaca lembaran-lembaran ini, menangguh-nangguhkan kesempatan itu, akibatnya kesempatan tersebut akan lolos dari tangan Anda sendiri.

Wahai Saudaraku! Jangan tunda persoalan semacam ini; ini tidak mungkin dapat ditangguhkan. Ingat, betapa banyak orang sehat yang secara tiba-tiba direnggut oleh kematian. Ia mengeluarkannya dari dunia ini menuju alam lain, sementara kita tidak mengetahui bagaimana nasibnya di akhirat.

Jika demikian, jangan sia-siakan kesempatan ini berlalu. Manfaatkanlah waktu setiap detiknya karena ini merupakan persoalan besar yang tidak dapat dianggap remeh. Perjalanan hidup ini sungguh membahayakan keselamatan-jiwa kita. Apabila Anda tidak memanfaatkan kesempatan berharga Anda di dunia yang merupakan ladang akhirat ini, seperti kata pepatah, nasi telah menjadi bubur. Anda tidak akan dapat lagi berbuat apa-apa di akhirat nanti dan Anda tidak dapat meluruskan kebengkokan Anda. Akibatnya, tidak lain kecuali penyesalan, siksa, dan kehinaan.

Para wali Allah tidak pernah beristirahat walaupun sejenak. Mereka selalu takut akan perjalanan yang berbahaya dan penuh risiko ini. Apa yang terjadi pada Imam Keempat, 'Ali ibn Al-Husain Zainal ‘Abidin a.s., sangatlah mengagumkan. Rintihan beliau masih terngiang. Mengapa kita begitu lalai? Apa jaminan kita sehingga kita selalu merasa tenang? Sungguh tidak ada yang membuat kita menunda-nunda amalan hari ini sampai esok hari kecuali setan terkutuk. Ia ingin

p: 172

terus menambah jumlah pengikutnya dan membuat kita mencontoh perilaku-perilaku buruknya sehingga pada akhirnya kita dikumpulkan bersamanya di akhirat nanti. Makhluk terkutuk itu selalu berusaha menjadikan kita menganggap remeh persoalan akhirat di mata kita. Ia ingin menjadikan kita lupa terhadap mengingat Allah dan ketaatan kepada-Nya, dengan membuat kita selalu berangan-angan akan mem- peroleh kasih sayang-Nya serta syafaat dari para pemberi syafaat. Akan tetapi, sayang sekali, ini semua hanya merupakan angan-angan bohong belaka sekaligus perangkap makhluk terkutuk itu. Memang, pada saat ini pun, Anda diliputi oleh rahmat dan kasih sayang-Nya. Di antara rahmat-Nya itu adalah anugerah kesehatan, kesejahteraan, ketenteraman, waktu, petunjuk, akal, dan bimbingan

untuk perbaikan jiwa dan kehidupan serta berbagai anugerah lainnya. Namun, Anda tidak memanfaatkan anugerah-anugerah ini, bahkan Anda tunduk pada perintah-perintah setan. Jika Anda gagal mengambil manfaat dari rahmat-Nya di dunia, di alam sana pun Anda tidak akan memperoleh kasih sayang-Nya yang tiada batas itu, tidak juga syafaat para pemberi syafaat. Bentuk perolehan syafaat di dunia adalah dengan mengikuti petunjuk-Nya yang dibawa oleh mereka para pemberi syafaat tersebut. Sedangkan bentuk syafaat di alam akhirat adalah sisi batin dari petunjuk yang mereka bawa ketika di dunia. Apabila Anda tidak dapat mengikuti petunjuk-Nya di dunia, berarti Anda tidak akan dapat memperoleh syafaat di sana; seberapa besar perolehan syafaat yang Anda peroleh di akhirat nanti ditentukan oleh besar tidaknya ketundukan Anda terhadap petunjuk-Nya di dunia. Sesungguhnya syafaat Nabi Saw. tidak berbeda dengan rahmat Allah Swt. Ia bersifat mutlak, diberikan kepada orang yang layak dan memenuhi syarat untuk menerimanya.

Apabila setan merampas dari tangan Anda seluruh sarana yang dapat mengantarkan Anda pada keimanan, mâ samahaka Allah, tentu Anda tidak akan layak menerima rahmat Allah dan syafaat para pemberi syafaat itu. Memang, anugerah Allah di kedua alam itu amat banyak dan rahmat-Nya tidak terbatas. Oleh karena itu, apabila Anda mencari rahmat-Nya, mengapa Anda tidak memanfaatkan anugerah-Nya yang terus-menerus itu di dunia ini, padahal ia adalah benih

p: 173

bagi terwujudnya rahmat dan kasih sayang-Nya di alam sana? Sesungguhnya para nabi dan para wali dengan jumlah mereka yang sangat banyak itu, telah mengajak Anda pada jamuan hidangan Allah Swt. dengan nikmat-nikmat-Nya yang begitu melimpah. Tetapi Anda malah menolaknya bahkan berpaling darinya karena perintah dan rayuan setan pembisik yang bersembunyi (al-waswas al-khannâs). Anda korbankan ayat-ayat muhkamât (ayat-ayat yang tegas) dari Kitab Allah, hadis-hadis mutawatir dari para nabi dan wali, argumen-argumen rasional dari orang-orang bijak serta bukti-bukti yang pasti dari para arif.

Anda mengorbankannya demi karena rayuan setan dan angan-angan jahat nafsu Anda sendiri. Celakalah saya juga Anda karena kelalaian, kebutaan, ketulian, dan kebodohan yang mendominasi kita.

Tentang 'Ashabiyyah Kaum Intelektual

Di antara salah satu jenis ‘ashabiyyah jahiliah adalah sikap keras kepala kalangan yang berpengetahuan (baik para ulama maupun intelektual-peny.) dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan bidang mereka, serta kebiasaan mempertahankan suatu pendapat atau ide yang dikemukakannya, atau guru atau syaikhnya. Ini dilakukan tanpa melihat apakah yang dipertahankannya itu bersifat menegaskan suatu kebenaran atau menolak kebatilan. Jelas bahwa 'ashabiyyah semacam itu lebih buruk daripada jenis-jenis 'ashabiyyah lainnya dan lebih layak mendapat kecaman dari berbagai sisi. Pertama, dari sisi pelaku 'ashabiyyah itu sendiri. Seharusnya para ulama maupun intelektual adalah para pendidik bagi umat manusia. Mereka adalah cabang-cabang pohon kenabian dan kepemimpinan

umat yang mengetahui adanya akibat-akibat buruk dari perilaku- perilaku amoral. Oleh karena itu, jika seorang yang berpengetahuan memiliki ‘ashabiyyah jahiliah atau sifat-sifat buruk-lainnya, tanggung jawabnya di hadapan Allah semakin besar. Orang yang memproklamasikan dirinya sebagai cahaya petunjuk dan lilin yang dapat menerangi arena para pencari makrifat (kepada Allah Swt.), serta sebagai penunjuk jalan ke akhirat serta menuju kebahagiaan abadi, kemudian amal

perbuatannya tidak sesuai dengan yang telah diproklamasikannya itu, di mana keadaan batinnya bertentangan dengan keadaan lahiriah-

p: 174

nya, maka orang semacam ini akan digolongkan bersama orang-orang yang munafik dan berbuat ria. Ia dihitung sebagai ulama sesat dan sebagai manusia yang berpengetahuan tanpa amal. Siksa bagi orang yang demikian itu halnya sangat pedih. Allah telah menyebutkan keadaan mereka di dalam Al-Quran dengan firman-Nya: «مَثَلُ الَّذِینَ حُمِّلُوا التَّوْرَاهَ ثُمَّ لَمْ یَحْمِلُوهَا کَمَثَلِ الْحِمَارِ یَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِینَ کَذَّبُوا بِآیَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا یَهْدِی الْقَوْمَ الظَّالِمِینَ (5)»

Betapa buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Dan Allah tiada menunjuki orang-orang yang zalim. (QS Al-Jumu'ah (62]: 5)

Dengan demikian, yang penting sekali untuk selalu dipelihara dan dipertahankan oleh para ulama adalah bagaimana mereka dapat konsisten menjaga status maupun integritas diri mereka sendiri. Hendaklah mereka terus melakukan penyucian totalitas jiwa mereka dari segala macam bahaya-bahaya moral yang menghampirinya, agar dapat memperbaiki keadaan mereka sendiri maupun masyarakat secara umum. Sehingga, dengan demikian, nasihat-nasihat mereka

akan berpengaruh baik dan menyentuh hati masyarakat luas. Sungguh kebobrokan seorang ulama dapat membawa pada kebobrokan suatu bangsa. Sudah barang pasti bahwa suatu kerusakan yang menimbulkan berbagai kerusakan lain, dan pelanggaran yang melahirkan pelanggaran lain di mata Allah Swt. adalah lebih buruk dan lebih besar daripada suatu kerusakan yang tidak berpengaruh apa-apa terhadap yang lain.

Kedua dari sisi ilmu pengetahuan itu sendiri. Sifat 'ashabiyyah merupakan pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan sekaligus penyia-nyiaan haknya. Seorang yang bertugas memikul amanat semacam ini berkewajiban untuk menjaga kesuciannya dan menyampaikan amanatnya itu secara utuh dan tanpa cacat kepada pemiliknya. Apabila ia memiliki ‘ashabiyyah jahiliah yang merusak itu, berarti telah berkhianat dan melakukan suatu kezaliman. Hal ini pada dasarnya merupakan suatu kesalahan besar. Sisi ketiga dari perilaku buruk tersebut adalah penghinaan terhadap nama baik para ulama sejati, jika sikap 'ashabiyyah ini dilibatkan

pada saat kajian-kajian ilmiah para ulama itu. Hal ini secara terang-terangan dilakukan di hadapan para ulama padahal mereka adalah titipan Tuhan yang wajib dihormati. Menghina mereka berarti meng-

p: 175

hina kehormatan Allah Swt. dan termasuk salah satu dosa besar. Terkadang ‘ashabiyyah yang salah penempatannya ini menyebabkan tercabik-cabiknya kehormatan para ulama. Saya berlindung kepada Allah Swt. dari dosa besar ini.

Sisi keempat dari keburukan 'ashabiyyah adalah berkenaan dengan seseorang yang menjadi objek ‘ashabiyyah dan karenanya sikap buruk ini dilakukan, yaitu misalnya seorang guru atau syaikh. Hal ini pada akhirnya akan mengantar pelaku 'ashabiyyah pada kedurhakaan terhadap guru atau syaikh tersebut. Sebab, para syaikh dan guru besar-semoga Allah memuliakan mereka selalu berpihak kepada kebenaran dan membenci kesalahan serta kezaliman. Mereka murka terhadap siapa saja yang tindakan 'ashabiyyah-nya menyebabkan tersebarnya kebatilan dan matinya kebenaran. Tentu, kedurhakaan spiritualitas lebih parah ketimbang kedurhakaan yang bersifat jasmani. Demikian pula hak bapak secara spiritual lebih tinggi daripada hak bapak dalam bentuk hubungan darah.

Maka, menjadi kewajiban bagi kaum ulama--semoga Tuhan memuliakan dan meninggikan kedudukan mereka-untuk berlepas diri dari semua kejahatan moral baik berupa aktivitas yang bersifat lahiriah maupun batin. Hendaklah mereka menghiasi diri mereka dengan amal saleh dan akhlak yang mulia dan tidak menyia-nyiakan posisi mulia yang Allah anugerahkan kepada mereka apalagi dengan berpindah ke derajat yang lebih rendah dari yang sebelumnya. Apabila hal ini terjadi pada seseorang, besarnya kerugian yang dialaminya tidak dapat dibayangkan. Yang mengetahuinya hanya Allah Swt. ()

p: 176

9 Hadis tentang Nifak (Kemunafikan)

Point

بالسّند المتّصل إلی ثقه الإسلام محمّد بن یعقوب الکلینی، عن محمّد بن یحیی، عن أحمد بن محمّد بن عیسی، عن محمّد بن سنان، عن عون القلانسی، عن ابن أبی یعفور، عن أبی عبد الله، علیه السّلام، قال: من لقی المسلمین بوجهین و لسانین، جاء یوم القیامه و له لسانان من نار

... Dengan sanad yang bersambung kepada Tsiqât Al-Islâm Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini, dari Muhammad ibn Yahya, dari Ahmad ibn Muhammad ibn 'lsa, dari Muhammad ibn Sinan, dari 'Aun ibn Al-Qalanisi, dari Ibn Abi Ya'fur, yang meriwayatkan bahwa Abu ´Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq) a.s. pernah berkata, “Siapa yang menjumpai orang-orang Muslim dengan dua muka dan dua lidah, di hari kiamat ia akan datang dengan dua lidah api.(1) Menjumpai orang-orang Muslim dengan dua muka atau bermuka dua, yakni orang yang menampakkan keadaan dan penampilan lahiriah yang bertentangan dengan hati nuraninya di hadapan orang lain. Misalnya, dengan memberikan kesan seakan-akan yang bersangkutan memiliki rasa simpati, kasih sayang, dan ketulusan yang mendalam, padahal dalam hatinya ia menyembunyikan perasaan yang sebaliknya. Orang itu menunjukkan sikap jujur dan rasa persahabatan di tengah-tengah mereka, tetapi tidak demikian ketika di belakangnya. Adapun orang yang berlidah dua artinya memuji dan menyanjung setiap orang yang dijumpainya sambil bersikap menjilat dan menampakkan rasa simpati di hadapannya, tetapi apabila orang-orang itu tidak ada, ia mencela dan mengumpatnya. Berdasarkan penjelasan ini, sifat pertama dapat disebut sebagai “kemunafikan peri-

p: 177


1- 1. Al-Kulaini, Al-Kafi, (Akhundi), Vol. 2, h. 343.

laku” dan yang kedua sebagai “kemunafikan ucapan”. Boleh jadi hadis di atas mengisyaratkan keburukan sifat munafik. Dan, oleh karena dua gambaran kemunafikan di atas termasuk karakteristik yang paling jelas dan sangat khas bagi mereka (orang-orang munafik), hadis di atas hanya menyebutkan dua ciri kemunafikan. Kemunafikan adalah salah satu penyakit psikis dan potensi buruk yang dapat menyebabkan lahirnya beberapa penyimpangan moral, termasuk di antaranya dua perilaku di atas. Sifat ini juga memiliki tingkat-tingkat dan derajat-derajatnya yang bermacarn-macam. Insya Allah saya akan berusaha membahasnya semampu saya, dengan menyebutkan tingkatan-tingkatannya, bahaya, serta cara penanganannya pada bab-bab mendatang.

Tingkat-Tingkat Nifaq

Perlu diketahui bahwa sifat nifâq, sebagaimana potensi-potensi serta kecenderungan buruk dan baik lainnya, memiliki derajat dan tingkat yang berbeda-beda dari sisi kuat dan dan lemahnya potensi tersebut. Seseorang yang mengabaikan setiap perilaku buruk dan tidak segera mengambil langkah-langkah penyembuhannya, bahkan ia tunduk terhadap dorongan-dorongannya dan mengikutinya, hal itu akan menyebabkan semakin menguatnya kecenderungan buruk ini. Tingkatannya pun bermacam-macam dan tidak terbatas, mirip dengan derajat dan tingkat-tingkat kebaikan.

Seseorang apabila membiarkan nafs ammârah-nya tanpa kendali, ini akan mendorongnya menuju kerusakan moral dan keadaan jiwa yang tidak pernah merasa tenang serta menyebabkan setan pembisik (al-waswas al-khannas) datang mendorongnya untuk berbuat kerusakan. Keadaannnya akan bertambah parah dan nafsunya semakin menjadi-jadi, sehingga perilakunya ini semakin har, semakin membentuk suatu sosok nafsu tersendiri yang sangat esensial dan telah melekat pada jiwa dan kepribadiannya. Totalitas jiwa dan raga orang ini pada akhirnya menjadi patuh dan tunduk di bawah kekuasaannya. Apabila yang menguasainya itu adalah karakteristik setan, seperti nifâq dan bersifat bermuka dua—yang merupakan watak makhluk

p: 178

terkutuk itu (setan), seperti yang telah dikutip oleh Al-Quran ketika yang terakhir ini berkata kepada Adam dan Hawa:

«وَقَاسَمَهُمَا إِنِّی لَکُمَا لَمِنَ النَّاصِحِینَ (21)»

Dan ia bersumpah kepada mereka, “Sungguh, aku ini adalah penasihat yang tulus kepada kalian.” (QS Al-A'râf (7): 21)

Padahal, kenyataannya ia berlawanan dengan apa yang ia klaim maka saat itu totalitas jiwa dan raganya akan menjadi kerajaan setan. Bentuk akhir dari dimensi batin, nafsu dan esensi jiwanya menjadi berbentuk setan. Terkadang tampilan lahirnya di dunia pun seperti bentuk setan meskipun berparas manusia. Maka, apabila manusia tidak melawan sifat buruk tersebut, dan membiarkan nafsu bertindak sekehendaknya, dalam waktu yang singkat semua sarana pengendalian akan sepenuhnya lepas sehingga perhatian satu-satunya hanya akan terfokus pada perbuatan buruk tersebut. Dengan siapa saja berjumpa, ia akan menyambut dan memperlakukannya dengan bermuka dan berlidah dua. Siapa pun yang menjadi teman bergaulnya, pastilah hubungan dan pergaulannya itu dicemari oleh keburukan sikap munafik dan bermuka-mukanya itu. Tidak ada satu hal pun yang terlintas dalam benaknya kecuali keuntungan pribadinya sendiri dan sifat pengagungannya terhadap dirinya saja. Bukan masalah baginya menginjak-injak norma-norma persahabatan ataupun kesetiakawanan. Ia tidak akan segan-segan melakukan suatu kerusakan moral dalam bentuk perbuatan buruk dan tidak senonoh dengan kepura-puraan dalam setiap gerakan dan diamnya. Orang yang demikian itu halnya sangat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, dan pada Hari Kebangkitan ia akan dikumpulkan bersama setan. Semua yang dikemukakan di atas adalah berkenaan dengan derajat kuat-lemahnya substansi perbuatan nifâq, tetapi ia juga berbeda-beda menurut hal-hal yang berhubungan dengannya. Terkadang seseorang melakukan nifâq berkenaan dengan agama Allah, atau berkenaan dengan sifat-sifat baik dan akhlak-akhlak mulia, terkadang pula berhubungan dengan amal-amal saleh dan masalah ibadah, atau dalam persoalan sehari-hari yang dikenal oleh kebanyakan orang. Demikianlah, terkadang seseorang berbuat nifâq di hadapan Nabi Saw., para Imam a.s., para wali, para ulama, dan orang-orang Mukmin. Boleh jadi sifat nifâq ini lebih meluas lagi sehingga mencakup kemunafikan

p: 179

di hadapan seluruh umat serta segenap makhluk Allah Swt. hamba-hamba Allah kelompok masyarakat dan agama yang berbeda-beda. Tentu saja bentuk-bentuk niſâą ini memiliki perbedaan dalam hal kualitas keburukannya, meskipun semuanya bersumber dari satu pokok yang buruk dan keji. Jenis sifat-sifat ini merupakan cabang dan dahan-dahan dar. suatu pohon yang sama buruknya.

Akibat-Akibat Nifaq

Sesungguhnya sifat nifâq dan bermuka dua—selain merupakan sifat yang buruk, hina, dan jahat, yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang mulia dan terhormat, pelaku perbuatan ini dianggap keluar dari kategorinya sebagai individu sebuah masyarakat manusia, bahkan ia tidak dapat dipersamakan dengan seekor binatang sekalipun. Kedua sifat di atas dapat menyebabkan yang bersangkutan mengalami kehinaan di kalangan sahabat-sahabatnya di dunia ini, serta mengakibatkan pastinya siksa dan kehinaan di akhirat nanti sebagaimana sebuah hadis menyebutkan bahwa keadaan orang seperti ini di alam sana "akan dibangkitkan dengan dua lidah dari api”. Kedua sifat di atas juga akan menjadi sumber kehinaan baginya di depan para makhluk Allah, lebih-lebih di hadapan para nabi, para rasul, dan para malaikat-Nya.

Hadis tadi mengisyaratkan kerasnya siksaan bagi seorang munafik dan bermuka dua itu. Sebab, apabila substansi fisik telah berubah menjadi api, bayangkanlah betapa besar kepedihan dan penderitaan yang akan dirasakannya. Saya berlindung kepada Allah dari dahsyatnya siksa ini. Sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam 'Ali a.s. menyatakan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Seorang yang bermuka dua akan datang di hari kiamat nanti dalam keadaan mengulurkan salah satu

lidahnya dari belakang punggungnya dan yang satu lagi dari depannya. Kedua lidah itu akan memancarkan api, sehingga membakar seluruh tubuhnya(1). Lalu, diumumkan, 'Orang ini dahulu ketika di dunia bermuka dan berlidah dua. Dia akan dikenal pada hari itu dengan kejahatannya tersebut." Ayat Al-Quran berikut ini juga dapat menjadi ancaman bagi yang bersangkutan:

p: 180


1- 2. Al-Syaikh Al-Shaduq, 'Iqab Al-A'mal (Maktabat Al-Shaduq), h. 319.

«وَالَّذِینَ یَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِیثَاقِهِ وَیَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ یُوصَلَ وَیُفْسِدُونَ فِی الْأَرْضِ أُولَئِکَ لَهُمُ اللَّعْنَهُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (25)»

... dan mereka memutuskan apa yang Allah perintakan untuk disambungkan serta berbuat kerusakan di bumi ini; bagi mereka laknat dan bagi mereka tempat tinggal yang buruk. (QS Al-Ra'd (13): 25)

Sifat nifâq dan bermuka, di samping akibat-akibat buruk yang disebutkan di atas, juga merupakan sumber lahimya kebanyakan bahaya dan akibat buruk yang membinasakan, di mana satu saja dari bahaya-bahaya ini, sudah cukup untuk dapat menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat seseorang. Di antara bahaya-bahaya itu adalah fitnah (timbulnya kekacauan seperti penyiksaan, perampasan harta, pengusiran, dan lain-lain) yang dengan tegas Al-Quran menyebutnya sebagai lebih buruk daripada pembunuhan. Yang lainnya adalah namîmah, yang dicela oleh Imam Al-Baqir a.s. dalam hadis berikut:

“Diharamkan surga bagi orang yang mengumpat, yang terbiasa melakukan namîmah.(1)

Kebiasaan mengumpat dan menggunjing orang lain juga merupakan salah satu bahaya yang ditimbulkan oleh nifâq. Nabi Saw. menyebutnya “lebih buruk daripada perzinaan”. Akibat buruk lainnya adalah mengganggu orang Mukmin, mencerca, dan membongkar rahasia-rahasianya, dan masih banyak lagi bahaya serta akibat-akibat buruk lain yang akan muncul sebagai konsekuensi perbuatan niſâq di atas, yang masing-masing dapat menjadi penyebab kehancuran manusia.

Ketahuilah bahwa terdapat kebiasaan buruk lain yang masuk dalam kategori nifâq, di antaranya adalah kebiasaan mencela orang lain, menyindir atau mengisyaratkan keburukan orang lain dengan kerdipan mata dan saling memanggil dengan panggilan buruk, meskipun secara lahiriah masing-masing menunjukkan rasa persahabatan yang kental dan saling setia serta kasih mengasihi. Hendaklah manusia waspada dan selalu mengontrol setiap perilaku dan sikap terjangnya, karena tipu daya dan perangkap setan sangat halus. Sedikit sekali orang yang dapat menyelamatkan diri darinya. Boleh jadi dengan memberi sedikit isyarat yang tidak senonoh atau memberikan kerdipan atau sindiran yang tidak layak, seseorang dapat dicap sebagai bermuka dan berlidah dua. Atau bisa saja seseorang memiliki kebiasaan

p: 181


1- 3. Al-Kafi, Vol. 2, h. 369.

buruk ini selama hidupnya sementara ia menganggap dirinya sehat dan suci secara moral. Oleh karena itu, hendaknya manusia memiliki sikap yang mirip

seperti seorang dokter pandai atau perawat yang dengan penuh kecermatan dan kehati-hatian selalu khawatir akan kondisi kejiwaan pasiennya, tidak pernah lalai terhadapnya dan setiap saat mengawasi semua sikap terjang dan perkembangan yang dialaminya. Hendaknya manusia tahu bahwa tidak ada penyakit yang paling tersembunyi, dan pada saat yang sama paling berbahaya, daripada penyakit-penyakit hati, dan tidak ada seorang perawat yang lebih cermat dan lebih memiliki rasa kekhawatiran tinggi terhadap manusia daripada dirinya sendiri.

Mengobati Penyakit Nifaq

Ada dua cara yang dapat membuang penyakit nifâq yang sangat berbahaya ini: Pertama adalah dengan merenungkan bahaya-bahaya yang timbul dari penyakit tersebut. Sebab, seorang yang di dunia dikenal dengan siſat di atas, citranya akan hancur di kalangan masyarakat umum sekitarnya, lebih-lebih kawan-kawan terdekatnya. Ia akan kehilangan kehormatannya di antara sahabat-sahabatnya, sehingga boleh jadi mereka mengusirnya dari tempat-tempat perkumpulan mereka.

Akibatnya, ia akan mengasingkan diri dari suasana hangat forum-forum mereka dan tidak mampu mencapai tahap-tahap kesempurnaan ataupun tujuan-tujuan yang dicita-citakannya. Setiap manusia yang memiliki hati nurani dan harga diri harus dapat menjauhkan dirinya dari cacat yang dapat menodai kehormatannya ini, agar ia tidak mengalami kehinaan seperti tersebut di atas. Kehinaan serupa akan dialaminya di akhirat nanti, alam yang di sana tersingkap semua rahasia. Saat itu semua yang tersembunyi dari pandangan manusia ketika di dunia ini tidak dapat ditutup-tutupi. Di sana, ia akan dibangkitkan sebagai seorang yang berbentuk buruk dengan memiliki dua lidah dari api dan disiksa bersama-sama dengan orang-orang munafik dan setan.

p: 182

Maka, apabila seorang yang berakal sehat, melihat adanya penyakit nifâq ini di lingkungannya, dan ia tidak menemukan akibat apa pun yang ditimbulkannya selain sifat buruk dan hina, sudah merupakan kewajiban baginya untuk menghindar dari bahaya melekatnya karakteristik dan perilaku buruk tersebut pada dirinya.

Kedua, berupa tindakan praktis, yaitu dengan cara seseorang mengontrol gerak dan diamnya jiwa yang bersangkutan dengan sangat cermat selama beberapa saat, lalu bergerak melakukan suatu aktivitas yang berlawanan dengan hasrat serta angan-angan nafsunya. Ia juga harus berupaya agar seluruh perbuatan dan tutur kata lahiriah maupun batiniahnya menjadi satu dan menjauh dari sifat kepura-puraan dan penipuan dalam kehidupan sehari-harinya. Setelah itu, hendaklah ia berdoa kepada Allah, memohon kesuksesan dan taufik-Nya dalam upaya mengalahkan hawa nafsu yang selalu memerintahkannya melakukan kejahatan (al-ammârah bi al-sû'), dengan berharap kiranya Dia menolongnya dalam setiap upayanya itu. Sungguh rahmat, kasih sayang, dan keutamaan-keutamaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya tidak ada batasnya, pertolongan-Nya mencakup siapa saja yang melangkahkan kakinya ke arah pembenahan dirinya. Uluran kasih sayang dan bantuan-Nya akan segera menarik hamba-Nya yang bermohon pertolongan-Nya.

Pada saat seseorang memanjatkan doanya seperti di atas, sebaik-nya ia bermohon kepada Allah Swt. kiranya Dia menyucikan jiwanya, menjernihkan kalbunya, serta membebaskannya dari kemunafikan dan sifat bermuka dua sehingga ia dapat terhindar dari keburukan semacam itu dan jiwanya menjadi tempat bersemayamnya rahmat dan kelembutan-Nya Sang Pelimpah aneka nikmat Yang Hakiki. Hal itu demikian karena pengalaman dan berbagai argumentasi logis

membuktikan bahwa setiap ucapan atau perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan manusia di dunia ini, akan meninggalkan dampak dan bekas pada jiwa yang bersangkutan. Apabila perbuatan itu saleh dan baik, ia akan meninggalkan bekasnya berupa nûr (cahaya) yang sempurna; apabila sebaliknya, bekas dan dampak yang ditinggalkannya bersifat gelap dan tidak sempurna sehingga mengakibatkan hati manusia akan menjadi salah satu dari dua kemungkinan; terang

p: 183

dan bercahaya atau gelap dan suram sama sekali, tergolong pada kelompok orang-orang baik dan saleh, atau orang-orang celaka. Oleh karena itu, selama kita masih berada di dunia ini yang merupakan ladang tempat kita beramal untuk bekal di akhirat, maka sesungguhnya kita dengan tekad dan kehendak yang bulat dapat secara bebas mengemudikan hati kita ke arah kebahagiaan atau ke arah kecelakaan. Sebab, manusia adalah tawanan dari perbuatannya sendiri seperti kata Al-Quran: «فَمَنْ یَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّهٍ خَیْرًا یَرَهُ (7)» «وَمَنْ یَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّهٍ شَرًّا یَرَهُ (8)»

Dan barang siapa berpuat kebaikan sebesar biji sawi, ia akan melihatnya; dan barang siapa berbuat keburukan sebesar biji sawi, ia pun akan melihatnya. (QS Al-Zalzalah (99): 7-8)

Beberapa Bentuk Nifaq

Ketahuilah, Saudaraku, bahwa salah satu bentuk niſâq, bermuka dan berlidah dua adalah nifâq terhadap Sang Mahakuasa, Raja dari segala raja serta Sang Pemberi Anugerah dan Pemelihara. Sebenarnya saat ini kita menderita penyakit berbahaya tersebut dan kita lalai terhadap gejala semacam itu. Tirai tebal kejahilan dan hijab-hijab gelap egoisme, cinta diri, dan cinta dunia telah menghalangi pandangan kita sehingga benar-benar kita tertu:upi sama sekali, sedemikian rupa sehingga

tidak mungkin lagi bagi kita untuk dapat menyadari hal ini sebelum tersingkapnya isi hati serta terangkatnya tabir-tabir itu, dan sebelum kita berpisah meninggalkan alam dunia tempat aneka tipu daya, kebodohan dan kelalaian yang kita tempati. Sungguh, sekarang ini kita benar-benar tenggelam dalam kelalaian, dimabuk can oleh pesona alam fisik dan berbagai hasrat serta kecenderungan nafsu, yang menghiasi setiap bentuk amal buruk dan kejahatan moral kita. Apabila kita terbangun dan sadar dari dari kelalaian ini, peluang untuk dapat memperbaiki diri telah habis. Saat itu kita telah dicap sebagai kelompok kaum munafik yang bermuka dan berlidah dua. Kita akan dibangkitkan dengan dua lidah dari api, dan dua wajah yang mengerikan. Di saat seperti itu, ratapan dan teriakan kita, “Tuhan, kembalikan aku (ke dunia),"(1) tidak ada manfaatnya lagi. Teriakan itu akan dijawab dengan, “Tidak.”

p: 184


1- a QS Al-Mu'minûn(23): 99--penerj.

Karakteristik bermuka dua dapat disandang oleh siapa saja-saya atau Anda—karena kita semasa di dunia menghabiskan seluruh usia kita dalam keadaan bermuka dua. Secara lahir kita menunjukkan keberpegangan terhadap prinsip tauhid, mengklaim diri kita sebagai Mukmin sejati sekaligus penganut Islam, bahkan mengaku memiliki rasa cinta dan kasih sayang, dan klaim-klaim kosong lainnya yang kita umumkan sesuka hati kita. Jika kita termasuk orang awam, yang menjadi bahan klaim kita adalah keimanan, keislaman, ketulusan, dan kesalehan kita. Sedangkan apabila kita termasuk kalangan berpengetahuan (ulama) dan ahli dalam bidang fiqih (fuqaha'), kita akan mengklaim berada pada puncak tertinggi keikhlasan (ikhlash) dan berpedoman pada prinsip wilayah dan khilafah Nabi Saw. sambil berpe-

gang pada sebuah ucapan Nabi Saw., Allahumma irham khulafa'i (Ya Allah, rahmatilah para khalifahku), dan ucapan Imam Zaman a.s.- semoga jiwaku menjadi tebusan baginya: Innahum hujjati (Sungguh, mereka adalah hujjah-ku ...)—dan pernyataan-pernyataan para Imam a.s. lainnya yang menyebutkan perihal para ulama dan fuqaha'. Apabila kita termasuk para ahli di bidang ilmu pengetahuan umum, klaim kita adalah keimanan kukuh disertai argumentasi logis serta kepemilikan film al-yaqin, 'ain al-yaqin, dan haqq al-yaqin sambil berkeyakinan bahwa seluruh makhluk Allah Swt. selainnya memiliki pengetahuan yang tidak sempurna dan keimanan yang lemah, sambil membuktikan klaim tersebut dengan berbagai ayat Al-Quran dan hadis Nabi Saw. yang seluruhnya berbicara tentang diri kita. Apabila kita merasa termasuk golongan para sufi dan ahli ‘irfân, kita akan mengakui mempunyai pengetahuan ketuhanan, ketertarikan spiritual terhadap-Nya dan melebur dalam cinta-Nya, fana bersama Allah dan kekal bersama-Nya (fanâ' fi Allâh, baqa' fi Allâh), dan merasa sebagai wakil-Nya dalam pengelolaan setiap urusan (wilayah al-amr). Kita menerapkan gelar-gelar itu dan lain sebagainya yang terlintas dalam benak dan tampak menarik bagi kita. Demikianlah, masing-masing kelompok di antara kita mengklaim dengan lidah dan keadaan lahiriahnya bahwa ia--baik saya yang menulis lembaran-lembaran ini, atau Anda pembaca-memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah dan merupakan penampakan dari kebe-

p: 185

naran. Jika bentuk lahiriah yang bersangkutan, sesuai dengan keadaan batinnya, dan kenyataan yang tampak selaras dengan yang tersembunyi di dalam jiwanya, dan ia jujur dalam hal klaimnya, marilah kita ucapkan selamat bagi mereka yang memiliki nikmat semacam itu. Namun, apabila keadaannya seperti keadaan penulis, yang memiliki "cacat” pada “wajah” yang buruk dan kelam ini, ketahuilah bahwa orang atau kelompok ini termasuk ke dalam golongan kaum munafik

(munâfiqûn) dan berlidah serta berwajah dua. Ia harus segera mengobati dirinya dan menggunakan kesempatan sebelum kesempatan itu berlalu, agar terbebas dari kesengsaraan, kegelapan, dan kehinaan yang sedang menantirya.

Wahai Sahabatku yang mengaku Muslim, sebuah hadis dalam Al-Kafi dari Rasulullah Saw.:

"Orang Muslim adalah dia yang orang Muslim lainnya selamat dari gangguan tangan dan lidahnya."(1) Jika demikian, mengapa kita—saya dan Anda-mengganggu, mengusik, dan menyakiti orang yang derajatnya di bawah kita, dengan berbagai cara dan kemampuan yang kita miliki? Mengapa kita tidak pernah jera berbuat aniaya terhadap mereka bahkan mengambil hak mereka tanpa dasar? Sehingga apabila tangan-tangan kita tidak dapat menjangkau mereka, kita melakukan gangguan terhadap mereka melalui lidah kita, yaitu dengan membongkar rahasia-rahasia dan

menyingkap segala hal yang selama ini mereka sembunyikan, mengumpat mereka ketika kita berada di belakang mereka, serta membuat tuduhan-tuduhan palsu terhadap mereka? Ini berarti, klaim keislaman kita—yang justru tidak pernah membuat saudara-saudara kita yang Muslim selamat dari gangguan tangan dan lidah kita--bertentangan dengan realitas yang kita alami sebenarnya. Keadaan batin kita malah bertentangan dengan realitas lahiriah kita. Hal ini semakin membuktikan bahwa kita benar-benar termasuk ke dalam kategori kaum munafik dan bermuka dua. Wahai Anda yang mengaku menganut keimanan kuat dan ketundukan hati di hadapan Sang Mahaagung! Apabila Anda memiliki keyakinan penuh akan keesaan-Nya, hati Anda tidak tunduk kepada

p: 186


1- 4. Ibid., Vol. 2; Faidh Al-Kasyani, Al-Mahajjah Al-Baidha', Vol. 3, h. 358.

selain-Nya, tidak mencari selain-Nya, dan percaya bahwa sifat ulůhiyyah hanya milik-Nya semata, apabila realitas lahir dan batin Anda sesuai dengan klaim Anda sendiri, mengapa Anda begitu lemah dan tunduk di hadapan para pemuja dunia? Mengapa Anda menyembah dan mendewakan mereka? Bukankah hal itu karena Anda melihat pengaruh mereka yang cukup kuat di alam ini? Sebab Anda menganggap bahwa kehendak mereka saja yang dapat terwujud, dan bahwa

kekuatan dan limpahan kekayaan mereka adalah energi satu-satunya yang berpengaruh? Dan satu-satunya kehendak tidak Anda yakini pengaruhnya adalah kehendak Allah Swt., sehingga Anda hanya tunduk pada segala sebab yang tampak, lantas lupa kepada Penyebab Awal dari sebab-sebab itu? Setelah itu, Anda tetap menegaskan keyakinan Anda pada keesaan Tuhan! Jika demikian itu halnya, berarti Anda telah keluar dari golongan orang-orang Mukmin, dan termasuk ke

dalam kelompok munafiqin dan berlidah dua, dan akan dibangkitkan bersama mereka.

Anda yang mengaku orang saleh yang ikhlas, jika benar-benar Anda tulus ikhlas, dan demi karena Allah Swt. serta kemuliaan kehidupan akhirat semata Anda menahan diri dari kesenangan-kesenangan duniawi, Apa yang membuat Anda senang mendengarkan pujian orang lain terhadap Anda yang mengatakan bahwa Anda termasuk orang saleh dan benar? Mengapa Anda tidak pernah menolak setiap kali diajak duduk melayani para pemuja dunia, lalu kemudian lari dari orang-orang fakir miskin? Ketahuilah bahwa kesalehan dan ketakwaan Anda tidaklah murni. Tujuan Anda di balik itu semua adalah karena semata-mata untuk mencari kenikmatan dunia. Hati Anda tidak secara tulus tunduk kepada Allah. Pengakuan Anda adalah suatu kebohongan, dan Anda masuk ke dalam kategori munafiqin dan bermuka dua. Anda yang mengaku orang yang ditunjuk sebagai pemegang kepemimpinan (wilayah) oleh wali Allah (yakni Dua Belas Imam) dan pemangku khilafah Rasulullah Saw., apabila realitas Anda sesuai dengan syarat-syarat yang disebutkan dalam hadis dari Al-Ihtijâj:

"Dia yang menjaga jiwanya tetap bersih, menjaga keyakinannya, melawan hawa nafsunya, dan taat kepada perintah Tuhannya ...(1)

p: 187


1- 5. Al-Thabarsi, Al-Ihtijaj, Vol. 2, h. 106; Al-Hurt Al-Amili, Wasâ'il Al-Syi'ah, Vol. 18, h. 99; Al-Kulaini, op. cit., Vol. 1, h. 112; Al- Syaikh Al-Thusi, Al-Tahdzib, Vol. 6. h. 301; Al-Syaikh Al-Shaduq, Man là Yahdhuruhû Al-Faqih, Vol. 3; Al-Nuri, Mustadrak Al-Wasâ’il, Vol. 3; h. 187; Syaikh Muhammad Hasan, Al-Jawâhir, Vol. 40, h. 32.

Apabila Anda merupakan cabang dari pohon wilayah dan risalah (kerasulan), dan tidak cenderung pada dunia maupur. mencari kedekatan dengan para penguasa, raja, dan bangsawan, tidak juga menolak kelompok miskin, sesungguhnya nama Anda sesuai dengan substansi Anda sendiri, dan Anda memang satu di antara hujjah Allah di tengah umat manusia. Kalau tidak demikian, berarti Anda salah satu ulama sesat dan jahat yang tergolong kelompok munafiqin. Keadaan Anda

lebih buruk daripada kelompok yang telah disebutkan di atas, perbuatan Anda lebih buruk dan hidup Anda lebih celaka dan mengerikan; karena tak ada da ih dan alasan apa pun bagi kaum ulama. Anda yang mengklaim memiliki hikmah Ilahi dan pengetahuan tentang realitas asal mula kehidupan (al-mabda”) dan tempat kembali semua makhluk (al-ma'âd), jika benar memiliki pengetahuan tentang sebab-akibat, jika benar Anda mengetahui keadaan dan bentuk-bentuk ukhrawi manusia di alam barzakh serta keadaan-keadaan di surga maupun neraka, semestinya Anda tidak merasa tenteram sejenak pun dan akan menghabiskan setiap waktu dalam kehicupanmu untuk membangun kehidupan di alam abadi. Engkau harus lari menghindar dari dunia dan segala rayuannya karena Anda mengetahui jenis siksaan dan kegelapan seperti apa yang menunggu Anda di sana. Jika demikian, mengapa Anda tidak maju satu langkah pun, keluar dari sekadar klaim-klaim kosong atau konsep-konsep ideal tanpa disertai amal? Mengapa argumentasi dan bukti rasional yang Anda miliki tidak membawa pengaruh apa-apa pada hari Anda sedikit pun? Kalau begitu, Anda berada di luar kelompok Mukmin dan kaum arif sejati. Pada Hari Perhitungan nanti, Anda akan dibangkitkan bersama kalangan mundfiqin. Celakalah manusia yang menghabiskan seluruh tenaga dan hidupnya dalam mencari pengetahuan metafisik, tetapi tidak dapat sedikit pun dimabukkan oleh kehebatan alam raya yang fisik ini dan yang merupakan tanda kebesaran-Nya, sehingga فidak satu pun hakikat (kebesaran-Nya) pernah merasuki hatinya!

Anda yang mengaku sebagai ahli makrifat, suluk, fana, dan cinta kepada Allah, apabila benar bahwa Anda termasuk para pecinta Allah, ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan termasuk ke dalam kategori ash-håb al-qulûb (para pemilik hati bersih-suci), manusia tercerahkan

p: 188

dengan catatan masa lalu yang baik, selamat bagi Anda. Sebaliknya, berbagai celoteh-celoteh (syathahât), sikap bermuka-dua, dan klaim-klaim yang tidak bertanggung jawab, yang hanya mencerminkan rasa cinta diri dan waswas setan pada yang bersangkutan, semua ini ber- tentangan dengan cinta Allah dan semangat Ilahiah karena Allah berfirman: sesungguhnya wali-wali-Ku, berada di bawah Jubah-Ku, tak ada yang mengenal mereka selain Aku.(1) Apabila Anda termasuk dalam kategori para wali Allah yang melebur dengan-Nya dan terserap secara total dalam cinta-Nya, sungguh itu diketahui oleh Allah. Janganlah Anda menunjukkan tingginya kedudukan Anda di depan sesama Anda. Janganlah berusaha mengalihkan hati para makhluk Allah yang lemah dari perhatian terhadap Pencipta mereka, kepada perhatian terhadap makhluk-makhluk-Nya. Janganlah engkau merampas rumah Allah. Ketahuilah bahwa makhluk-makhluk itu berharga sekali bagi Allah, dan hati mereka sangat bernilai dan mulia, semua itu harus digunakan untuk mengabdi kepada-Nya. Jangan mempermainkan “rumah” Allah seperti itu, dan jangan mempermainkan kesucian-Nya. Sungguh telah dikatakan: fa inna li al-baiti rabban (Sungguh rumah itu ada Pemiliknya). Maka, apabila Anda tidak benar dalam klaim Anda, Anda akan dikelompokkan bersama orang yang bermuka dua dan munafik.

Rasanya cukup sudah penjelasan saya ini karena tidak tepat bagi orang ber-"wajah” kelam dan buruk seperti saya untuk berbicara terlalu jauh dalam masalah ini.

Wahai jiwa penulis lembaran-lembaran yang hina ini yang berpura-pura seakan-akan berpikir tentang cara keluar dari hari-hari gelap serta keselamatan dari kesengsaraannya! Apabila kamu benar dan hatimu selaras dengan lidahmu, dan realitas batinmu cocok dengan penampilan lahiriahmu, mengapa engkau begitu lalai, hatimu begitu memburuk, dan nafsumu begitu kuat? Mengapa engkau tidak berpikir tentang perjalanan kematian yang sangat penuh dengan risiko itu?

Usiamu telah berlalu dengan cepat, tetapi engkau belum melepaskan nafsu dan keinginan setanmu. Engkau telah menghabiskan

p: 189


1- 6. Hadis qudsi. Sumber tidak terlacak.

hari-harimu untuk memuaskan hawa nafsu dalam kelalaian dan kesengsaraan. Saat kematianmu terus mendekat, sementara engkau masih terjerat dalam perilaku burukmu dan terbiasa dalam perbuatan tak senonohmu. Engkau akan diperhitungkan melalui (kualitas) jiwamu, hai seorang pemberi nasihat yang tidak mengambil pelajaran dari nasihatnya sendiri! Engkau termasuk kaum munafik dan bermuka dua. Jika engkau terus-menerus dalam keadaan tersebut, engkau akan dibangkitkan dengan dua lidah dan dua wajah api. Oh Tuhan, sadarkan kami dari serangan tidur pulas yang berlarut-larut ini, sadarkan kami kembali dari kemabukan dan kelalaian ini. Sinarilah hati kami dengan cahaya keimanan dan rahmatilah keadaan kami. Ulurkan tangan-Mu kepada kami, dan tolonglah kami supaya terlepas dari cakaran iblis dan hawa nafsu, demi hamba-hamba pilihanMu, Muhammad dan keluarganya yang suci, semoga shalawat Allah dilimpahkan atas mereka. [1]

p: 190

10 Hadis tentang Hawa Nafsu

Point

بالأسناد المتّصله إلی رئیس المحدّثین، محمّد بن یعقوب، رضوان الله علیه، عن الحسین بن محمّد، عن معلّی بن محمّد، عن الوشّاء عن عاصم بن حمید، عن أبی حمزه، عن یحیی بن عقیل قال: قال أمیر المؤمنین، علیه السّلام: إنّما (انّی ن خ) أخاف علیکم اثنتین: اتّباع الهوی، و طول الأمل. أمّا اتّباع الهوی فانّه یصدّ عن الحقّ و أمّا طول الأمل، فینسی (فإنّه ینسی ن خ) الآخره

Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini-semoga Allah meridhainya-meriwayatkan dari Al-Husain ibn Muhammad, dari Mu'alla ibn Muhammad, dari Al-Wasysya', dari ‘Ashim ibn Humaid, dari Abu Hamzah, dari Yahya ibn 'Aqil, ia berkata, “Amir Al-Mukminin a.s. berkata, 'Sesungguhnya aku hanya khawatir atas kalian terhadap dua hal, (yaitu) menuruti hawa nafsu dan berangan-angan tinggi. Adapun menuruti hawa nafsu, ia akan menghalangi manusia dari kebenaran (haqq); dan adapun berangan-angan tinggi, ia akan membuat manusia lupa akan akhirat.(1)

Secara harfiah, jika dinisbahkan kepada manusia, kata al-hawa berarti seorang yang mencintai', 'mengingini', dan 'menyukai sesuatu secara umum, baik yang disukainya itu sesuatu yang terpuji ataupun tercela. Hadis di atas menyebutkan kekhawatiran Imam 'Ali a.s. akan umatnya dari kecenderungan menuruti al-hawâ, karena-sebagai-mana ditegaskan oleh para pakar-jiwa manusia secara alamiah selalu cenderung menuruti nafsu dan keinginan-keinginannya yang bersifat

negatif bila tidak dikekang oleh akal dan syari'ah. Sebaliknya, kecil kecenderungannya untuk dapat menuruti suatu aturan hukum. Adapun kata kerja yashuddu memiliki makna 'berpaling', 'menghalangi' dan meninggalkan sesuatu. Makna kata ini tepat sekali

p: 191


1- 1. Al-Kulaini, Al-Kafi, Vol. 2, h. 336.

dengan konteks penyebutan al-hawa di atas. Namun, karena setelah kata yashuddu di atas terdapat huruf 'an, kata kerja ini digunakan dalam arti transitif, yaitu 'menghalangi' dan 'meninggalkan sesuatu, dan tidak bermakna 'berpaling' yang (di dalam tala bahasa Arab) mengesankan makna intransitif.

Insya Allah kita akan menjelaskan bahaya dua macam penyakit hati di atas. Nanti kita akan mengetahui bagaimana penyakit pertama (menuruti al-hawa) dapat menghalangi manusia dari kebenaran dan Allah; sementara penyakit kedua dapat membuatnya lalai akan kehidupan akhirat. Semoga Allah Swt. memberi kita taufik untuk memahami permasalahan ini.

Tentang Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu

Point

Harus diketahui, meskipun sejak kehadirannya di dunia ini jiwa ma- nusia telah dibekali fitrah dan naluri yang selalu cenderung meyakini prinsip tauhid (monoteisme) bahkan seluruh bentuk kepercayaan tentang Allah, sejak saat itu tumbuh pula bersamanya dorongan-dorongan alamiah lain, yaitu nafsu-nafsu hewaninya. Pengecualian hanya terdapat pada mereka yang dilindungi dan dibantu oleh Allah Swt., Pelindung Yang Mahasuci. Tetapi, karena pengecualian

ini dapat dikatakan jarang terjadi, ia tidak termasuk bahan pembicaraan kita sekarang yang hanya akan mengkaji kondisi manusia pada umumnya.

Pada bab-bab terdahulu, telah Anda ketahui bahwa manusia sejak kelahirannya (di dunia) dan setelah melalui tahap-tahap tertentu kehidupannya, ia tidak lebih dari sekadar makhluk yang lemah. Tidak ada yang membedakannya dengan makhluk hidup lain, kecuali potensi-potensi kemanusiaannya yang semuanya baru bersifat potensial dan bukan (sudah aktual secara) bawaan.

Jadi, pada tahap-tahap awal kehidupannya di dunia ini, manusia sebenarnya tidak lebih dari seekor hewan. Ia tidak mengenal norma apa pun selain hukum kebinatangan yang dikendalikan oleh kekuatan hawa nafsu (syahwat) dan amarah (ghadhab). Akan tetapi, manakala

p: 192

manusia satu-satunya keajaiban yang paling hebat di alam raya memiliki jiwa yang siap menampung segala potensinya, ia akan menjadikan potensi lain yang dimilikinya, yaitu sifat-sifat setan (al-hawa), sebagai sarana untuk mengendalikan kedua kekuatan (syahwah dan ghadhab) itu. Sifat-sifat setan ini dapat menyebabkan munculnya perilaku berbohong, menipu, bersikap munafik, mengumpat, dan lain sebagainya. Manusia akan tumbuh berkembang menjadi dewasa sejalan dengan tumbuhnya tiga kekuatan itu pada dirinya (syahwah, ghadhab, dan hawa) yang merupakan akar dari semua kejahatan yang membinasa-

kan. Apabila dalam perjalanannya orang ini tidak diarahkan oleh seorang guru atau pendidik, setelah dewasa dan mencapai usia kematangan, ia akan menyerupai seekor binatang sangat buas dan aneh, melebihi kebuasan binatang yang sebenarnya, bahkan melebihi setan sekalipun. Saat itu ia akan memiliki karakteristik hewan sekaligus setan yang lebih kuat dan lebih sempurna ketimbang hewan maupun setan itu sendiri. Apabila ia tetap dalam keadaan itu dan tidak mampu berbuat apa-apa guna mengendalikan kekuatan ghadhab dan syahwatnya selain mengikuti kekuatan nafsunya, hal ini akan mengakibatkan hilangnya tiga potensi mulia yang dapat membawanya menemukan kebenaran, yaitu potensi pengenalan Allah Swt., kecenderungan berakhlak mulia dan beramal saleh. Seluruh cahaya fitrah-nya saat itu akan padam total.

Kemudian, tiga potensi mulia yang dia miliki ini akan terinjak-injak oleh kebuasan hawa nafsunya sehingga kebenaran menjadi tidak tampak dan kegelapan jiwa serta nafsunya mengalahkan cahaya akal dan keimanan. Ia tidak akan pernah mengalami kelahiran kedua, yakni kelahiran kemanusiaannya. Ia akan terus berada dalam keadaan seperti itu dan menjadi terhalangi dari mengenal Tuhannya dan kebenaran hingga ia meninggalkan dunia ini. Apabila orang itu meninggalkan dunia dan memasuki alam berikutnya, yang merupakan alam tersingkapnya segala sesuatu yang tersembunyi, ia akan menemukan dirinya dalam bentuk binatang buas atau setan. Tidak akan tercium darinya aroma kemanusiaan sama sekali dan ia akan tetap dalam kegelapan, kesengsaraan, dan ketakutan abadi sehingga Allah Swt. melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Itulah nasib dari ketun-

p: 193

dukan total pada hawa nafsu yang dapat menjauhkan seseorang secara total dari Allah Swt. dan kebenaran. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tolok ukur keterasingan seseorang dari Tuhan adalah ketundukannya pada hawa nafsu. Dan meningkatnya keterasingan itu sejalan dengan tingkat ketundukannya pada hawa nafsunya. Misalnya, apabila seseorang sejak lahir dan berkembangnya kekuatan syahwat, ghadhab, dan al-hawa pada dirinya mampu mendekatkan seluruh wilayah jiwanya pada ajaran kalangan nabi, ulama, dan pendidik sehingga terpengaruh oleh mereka, maka pastilah ia akan tunduk sedikit demi sedikit pada ajaran-ajaran tersebut. Tidak lama setelah itu dapat dipastikan bahwa kemanusiaan manusia yang tadinya masih berupa potensi dan bukan karakter bawaan itu akan kembali menguasai seluruh wilayah jiwanya dan akan benar-benar akan bersifat aktual. Segala sesuatu yang berkaitan dengan penguasaan wilayah jiwanya akan dikaitkan terlebih dahulu dengan kemanusiaannya, sehingga ia akan menjadikan “setan” dalam dirinya itu berbalik menjadi beriman sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Saw. “Sesungguhnya setan dalam diriku menjadi tak berdaya di tanganku."

Jiwa hewani yang jahat itu lalu menyerah pada jiwa manusiawinya sedemikian rupa, sehingga seakan-akan ia menjadi seekor hewan tunggangan yang jinak dan terlatih, bergerak menuju alam kesempurnaan atau bagaikan burâq yang membawa penunggangnya dengan cepat menjelajahi cakrawala menuju akhirat dan tidak akan pernah kembali liar lagi. Setelah kekuatan syahwat dan ghadnab di atas ditundukkan oleh kekuatan keadilan dan hukum agama, dari situlah keadilan akan menyebar di setiap wilayah jiwanya. Mulai saat itu akan terbentuk di dalam jiwanya suatu kepemerintahan yang adil di bawah kekuasaan Allah dan norma-norma kebenarar.. Tidak ada satu pun dari langkahnya yang akan berlawanan dengan nilai-nilai kebenaran, sehingga terbebaslah ia dari semua jenis kebohongan dan ke-

zaliman. Dengan demikian, tolok ukur keterhalangan dari kebenaran adalah ketundukan pada hawa nafsu, dan sebaliknya tolok ukur keterta-

p: 194

rikan pada kebenaran adalah ketundukan pada akal dan hukum Tuhan. Di antara kedua ekstrem ini, yakni penghambaan total pada nafsu dan ketundukan total pada akal, terdapat tahap-tahap yang tidak terhitung jumlahnya sehingga setiap kali manusia bergerak selangkah menuju nafsu berarti sejauh itu pula ia telah menghalangi masuknya kebenaran kepada dirinya sekaligus menjauh dari cahaya kesempurnaan manusiawi serta rahasia-rahasia wujudnya. Dan sebaliknya, setiap kali ia melangkah berlawanan dengan keinginan nafsu, dengan jarak yang sama ia telah menyingkapkan hijab dirinya sehingga cahaya kebenaran menjadi semakin memancar di wilayah batinnya.

Al-Quran dan Hadis tentang Keburukan Mengikuti Hawa Nafsu

Ketika mencela ketundukan kepada hawa nafsu, Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran:

« وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَی فَیُضِلَّکَ عَنْ سَبِیلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِینَ یَضِلُّونَ عَنْ سَبِیلِ اللَّهِ .... (26)»

... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sebab itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS Shâd [38]: 26)

« وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَیْرِ هُدًی مِنَ اللَّهِ إ.... (50)»

... dan siapa lagi yang lebih sesat daripada orang yang menuruti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah? (QS Al-Qashash (28]: 50)

Dan dalam sebuah hadis dari Al-Kâfi diriwayatkan bahwa Imam Al-Baqir a.s. berkata:

Rasulullah Saw. bersabda, “Allah Swt berfirman: 'Demi kehormatan-Ku, kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, kebesaran-Ku, cahaya-Ku serta ketinggian kedudukan-Ku! Jika hamba-Ku mengutamakan kehendak hawa nafsunya atas kehendak-Ku, Aku akan menceraiberaikan urusannya, mengacaukan hidupnya di dunia ini, dan menyibukkan hatinya dengan dunia. Lalu, Aku tidak akan memberinya dari dunia ini kecuali apa yang telah Aku tetapkan/takdirkan untuknya. Dan demi kehormatan-Ku, kemuliaan-Ku, keagungan-Ku, kebesaran-Ku, cahaya-Ku, dan ketinggian kedudukan-ku! Jika seorang hamba mengutamakan kehendak-Ku atas kehendak

hawa nafsunya, para malaikat-Ku akan menjaganya, langit beserta bumi akan menjamin kehidupannya, dan Aku akan menjadi sebab di balik keuntungan setiap perniagaannya. Dunia akan mendatanginya sekalipun ia (dunia) terpaksa berlaku begitu. (1)

p: 195


1- 2. Ibid., Vol. 2, h. 335.

Manusia Berciri Hewani Saat Kelahirannya

Hadis di atas adalah salah satu hadis yang amat jelas (muhkam). Kandungannya menunjukkan bahwa ia bersumber dari Ilmu Allah Swt., Mata Air dari segala pengetahuan, meskipun rantai periwayatan- nya mungkin saja lemah yang sebenarnya tidak terkait dengan pokok masalah kita saat ini. Hadis lain yang diriwayatkan dari Amir Al-Mukminin a.s. mengandung pesan yang sama. Beliau a.s. berkata, “Aku khawatir atas kalian tentang dua hal: menuruti hawa nafsu dan berangan-angan tinggi.(1) Dalam Al-Kâfi, Imam Al-Shadiq a.s. diriwayatkan berkata: "Waspadailah hawa nafsumu sebagaimana engkau mewaspadai musuhmu. Sebab tidak ada musuh yang lebih berbahaya bagi manusia selain ketundukan pada hawa nafsu dan perkataan lidah-nya,(2) Sahabatku, ketahuilah bahwa keinginan-keinginan hawa nafsu itu tidak terbatas dan tidak pernah terpuaskan. Apabila seseorang bergerak mengikutinya meskipun hanya selangkah, ia akan terpaksa untuk mengikuti langkah itu dengan langkah-langkah berikutnya. Jika ia merestui satu keinginan hawa nafsunya, ia akan segera dipaksa untuk merestui sejumlah keinginan hawa nafsunya yang lain. Apabila Anda membuka satu pintu bagi masuknya keinginan nafsu ke dalam diri Anda, Anda akan segera terpaksa membuka pintu-pintu lain baginya.

Menuruti satu keinginan nafsu saja sudah cukup untuk membuat Anda terjerembap ke dalam bahaya-bahaya yang membinasakan. Akibatnya, Anda akan tertimpa oleh ribuan bencana sehingga, na'ûdzu billâh, semua jalan menuju Allah tertutup pada saa: Anda harus meninggalkan dunia ini, sebagaimana dinyatakan oleh Allah Swt. dalam kitab suci-Nya. Itulah salah satu yang paling dikhawatirkan terjadi kepada kita oleh Amir Al-Mukminin a.s., sang wali, pemimpin ruhani, dan guru umat manusia yang memperoleh tugas membimbing umat manusia. Bahkan, Rasulullah Saw. dan semua Imam a.s. akan selalu dihinggapi kecemasan dan kekhawatiran kalau-kalau daun-daun pohon kenabian (nubuwwah) dan kepemimpinan (wilayah)-dan daun-daun itu tak lain adalah orang-orang Mukmin-jatuh berguguran.

p: 196


1- 3. Ibid.
2- 4. Ibid.

Perhatikan apa yang disabdakan oleh Nabi Saw.: “Menikahlah dan perbanyaklah anak dan keturunan karena aku akan bangga dengan kalian (atas umat-umat lainnya) walaupun itu hanya janin yang gugur.(1) Dengan demikian, jelaslah bahwa seseorang yang berada di atas jalan berbahaya semacam itu akan dapat menyebabkan dirinya terjerumus ke dalam jurang kebinasaan dan menjadikannya termasuk orang-orang yang durhaka terhadap “bapak”-nya yang hakiki, yakni Nabi Suci Saw. Betapa besar malapetaka yang menimpa orang itu dan betapa banyak bencana yang masih gaib (tersembunyi) baginya. Apabila Anda benar-benar memiliki ikatan spiritual dengan Nabi Suci Saw., mencintai Amir Al-Mukminin dan termasuk para pecinta keturunannya yang suci, berusahalah agar hati mereka—salam atas mereka-terbebas dari kekhawatiran dan kecemasan seperti itu.

Dalam QS Hud (11): 112, Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

«فَاسْتَقِمْ کَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَکَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِیرٌ (112)» “Maka konsistenlah (yakni bersungguh-sungguhlah memelihara, memercayai, mengamalkan, serta mengajarkan tuntunan-tuntunan Nya) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertobat bersamamu.”

Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Surah Hûd memutihkan rambutku karena adanya ayat ini.(2) Ketika mengomentari hadis ini, Syaikh Syahabadi, seorang arif yang pandai—semoga jiwaku menjadi tebusan baginya—berkata: “Ayat yang sama terdapat dalam QS Al-Syûrâ, tetapi tanpa ungkapan wa man tâba ma'aka (dan orang-orang yang bertobat bersamamu). Nabi secara khusus menyebut Surah Hûd karena dalam ayat itu Allah Swt. telah menuntut konsistensi umatnya kepada Rasulullah Saw. Beliau khawatir jika tugas ini tidak bisa terlaksana, meskipun dia sendiri adalah manusia yang paling konsisten dalam memelihara, memercayai, mengamalkan, serta mengajarkan tuntunan-tuntunan-Nya. Bahkan beliau merupakan simbol perwujudan keadilan dan konsistensi dalam penerapan ajaran Islam." Maka, Saudaraku, jika Anda menganggap diri Anda sebagai salah seorang pengikut pribadi suci itu dan ingin turut serta dalam mewu-

p: 197


1- 5. Al-Hurr Al-Amili, Wasâ'il Al-Syi'ah, Bab 1, hadis 2.
2- 6. Al-Thabarsi, Majma' Al-Bayan, Vol. 3.

judkan misinya, lakukanlah hal itu dengan tanpa membuat beliau malu akan keburukan perilaku Anda. Pikirkanlah jika salah seorang anak atau anggota keluarga terdekat Anda melakukan suatu perbuatan buruk dan tidak pantas yang memalukan atau tidak sesuai dengan norma-norma Anda, betapa hal itu akan membuat Anda menundukkan kepala dan malu di hadapan orang lain! Ketahuilah bahwa Nabi Saw. dan Amir Al-Mukminin a.s. adalah bapak sejati dari umat ini sebagaimana sabda Nabi sendiri: “Aku dan `Ali adalah bapak dari umat ini.(1) Dengan demikian, apabila pada saatnya nanti kita dihadapkan pada Yang Mahakuasa dan dihadiri Nabi dan para Imam kita, sementara yang ada dalam catatan amal kita hanya keburukan dan kejahatan, betapa kenyataan itu akan sulit mereka terima dan pastilah mereka akan sangat malu di hadapan Allah Swt. dan para malaikat serta para nabi-Nya. Inilah kezaliman paling besar yang telah kita lakukan terhadap mereka, dan sungguh itu akan mendatangkan suatu malapetaka yang sangat berbahaya. Kita tidak mengetahui apakah yang akan Allah Swt. perbuat terhadap kita setelah itu. Maka dari itu, wahai manusia lalim dan jahil yang menganiaya dirinya sendiri! Bagaimana mungkin engkau membalas kebaikan mereka yang telah mengorbankan jiwa dan hartanya demi membimbingmu dan memberimu petunjuk dengan perilaku-perilaku buruk ini! Mereka telah mengalami berbagai ujian yang sangat berat dan sejumlah upaya pembunuhan serta penawanan terhadap anak-anak dan istri-istri mereka hanya demi membuatmu selamat dan mendapat petunjuk Allah Swt. Sementara engkau, alih-alih mensyukuri jasa mereka, malah menganiaya mereka dengan anggapan bahwa perbuatan maksiatmu itu hanya merugikan dirimu. Sadarlah akan kelalaianmu ini, malulah terhadap dirimu sendiri. Cukup sudah yang telah mereka derita selama ini berupa penganiayaan musuh-musuh agama. Jangan engkau tambah lagi dengan penganiayaanmu itu karena penganiayaan yang dilakukan oleh seorang pecinta terhadap yang dicintai akan terasa lebih pedih dan lebih buruk!

p: 198


1- 7. Al-Amini, Al-Ghadir, Vol. 3, h. 100.

Tentang Beragamnya Keinginan Nafsu

Harus diingat bahwa hawa nafsu ditinjau dari tingkatan-tingkatan dan motivasinya sangat banyak dan beragam. Terkadang bersifat halus sehingga seseorang tidak menyadarinya bahwa itu merupakan tipu muslihat setan dan hawa nafsu, selama ia tidak didasarkan dan diingatkan. Namun, semua bentuk nafsu ini memiliki kesamaan dalam hal menghalangi manusia dari jalan Allah dan memalingkan mereka darinya, meskipun tingkatannya bermacam-macam. Pertama, mereka

yang menjadi budak-budak hawa nafsu mereka sendiri. Mereka menjadikan emas dan harta sebagai tuhan mereka sehingga mereka terhalangi dari jalan kebenaran dalam bentuk tertentu. Mereka ini diisyaratkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

«أَرَأَیْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَکُونُ عَلَیْهِ وَکِیلًا (43)» Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? (QS Al-Furqân [25]: 43)

Kedua, orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan tipu daya setan dalam kepercayaan-kepercayaan dan perilaku-perilaku batil mereka, mereka terhalang dari Allah Swt. dalam bentuk tertentu pula. Bentuk ketiga adalah apa yang terjadi pada para pelaku dosa besar atau kecil ataupun dosa-dosa yang membinasakan. Mereka memiliki bentuk khusus dalam keterhalangannya dari jalan Allah. Bentuk keempat adalah keterhalangan pada mereka yang menuruti kesenangan dan hawa nafsu yang dibolehkan. Namun, mereka disibukkan oleh hal itu sehingga menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan yang harus terpuaskan. Keterasingan mereka dari petunjuk-Nya memiliki bentuk yang berbeda.

Bentuk kelima dari keterhalangan dari petunjuk Allah Swt. juga terdapat pada orang-orang yang taat melakukan ibadah-ibadah lahiriah. Mereka menyembah-Nya demi tujuan-tujuan tertentu, seperti perolehan kehidupan yang baik di akhirat, pemenuhan kebutuhan duniawi tertentu, pencapaian prestasi-prestasi spiritualitas, serta mencari keselamatan dari ancaman siksa yang memedihkan, dan kemerosotan ruhani. Keterhalangan mereka dari perolehan kebenaran dan jalan Allah ini mengambil bentuk yang berbeda pula.

p: 199

Sementara kelompok lain yang memiliki bentuk keenam, yaitu mereka yang tekun da am melakukan penyucian jiwa dan pelatihan ruhani karena ingin menjangkau firdaus keindahan akhlak. Mereka terpisahkan dari kebenaran dengan cara lain. Ada pula para pelaku ‘irfân, musafir di jalan Allah (sulûk), para pencari maqâm para sufi, yang tak memiliki tujuan lain kecuali melihat-Nya dan memperoleh kedekatan dengan-Nya. Namun, penglihatannya terhalang dari Zat Yang Haqq dan manifestasi Wujud-Nya dengan cara tersendiri dan terhalang dari menerima pencerahan khusus, karena sifat bermuka dua serta bekas-bekasnya masih ada pada diri mereka. Ini adalah bentuk keterhalangan ketujuh. Selain itu, ada tahap-tahap lain yang penjelasannya tidak memungkinkan di sini. Maka, amat penting bagi setiap kelompok, masing-masing dengan tingkatan dan bentuk keterhalangannya, agar memerhatikan dan mengawasi selalu keadaan mereka dan membersih-

kan dirinya dari keinginan hawa nafsu agar tidak tertinggal ataupun tersesat jauh dari jalan Allah. Dengan upaya ini, kiranya pintu-pintu rahmat dan kasih sayang-Nya selalu terbuka bagi mereka, apa pun maqâm dan kedudukan mereka. Dan Dialah saja pemilik petunjuk.

Tentang Buruknya Angan-Angan Tinggi

Pembahasan ini terdiri atas dua bagian:

Berangan-Angan Tinggi Dapat Melupakan kita pada Akhirat Perlu diketahui bahwa tingkatan utama kemanusiaan sejati adalah kesadaran dan keterjagaan (yaqzhah), seperti disebutkan oleh para pesuluk terkemuka dalam penjelasan mereka seputar tahap-tahap kaum pesuluk. Tingkatan ini menurut Syaikh Syahabadi memiliki sepuluh cabang. Kita tidak akan menguraikannya di sini. Namun, penting sekali untuk disebutkan di sini bahwa selama manusia tidak sadar akan kenyataan bahwa ia adalah seorang musafir dengan perjalanan jauh yang terbentang dan tujuan yang kepadanya ia harus bergerak dan bahwa mungkin sekali baginya untuk mencapai tujuan tersebut, selama ia tidak menyadari hal ini, tidak akan pernah terbentuk sedikit pun tekad dalam dirinya untuk bergerak guna mencapai

p: 200

tujuan tersebut. Setiap persoalan ini memerlukan uraian cukup panjang yang sengaja kita hindari agar tulisan ini menjadi lebih singkat. Cukuplah kita ketahui bahwa salah satu penyebab utama lahimnya ketidaksadaran ataupun ketidakterjagaan manusia yang dapat membuatnya lupa akan keharusannya berjalan, lupa akan tujuannya, bahkan menyebabkan kehendak dan tekadnya mati, tak lain adalah dugaan manusia itu sendiri bahwa masih ada banyak waktu untuk melakukan perjalanan ini. Dia beranggapan bahwa jika hari ini dia tidak memulai bergerak menuju tujuannya, ia dapat mengerjakannya esok dan apabila tidak bulan ini, bulan yang akan datang dan begitulah seterusnya.

Angan-angan yang panjang dan tinggi serta anggapan akan memperoleh kehidupan yang kekal dan kesempatan yang tak terbatas membuat manusia terhalang untuk dapat memikirkan tujuan utamanya, akhirat, dan menghalangi dirinya dari mempersiapkan suatu perjalanan yang harus ditempuhnya dengan mencari teman yang tepat dan menjamin perbekalan untuk itu. Hal ini pun akhirnya membawanya pada kelalaian penuh pada akhirat dan terhapusnya tujuan utamanya itu dari benaknya. Semoga Tuhan melindungi kita dari keadaan semacam ini. Jika seseorang mengalami keadaan tersebut, lupa akan tujuan yang harus dicapainya, dalam sebuah perjalanan panjang dan penuh bahaya dengan sempitnya waktu serta keterbatasan bekal maupun persiapan yang tidak memadai padahal semua itu

sangat diperlukan dalam perjalanannya ini, jelas sekali bahwa orang semacam ini tidak akan memikirkan hal-hal tersebut di atas. Dia tidak memiliki apa-apa. Akibatnya, apabila tiba saatnya ia harus melakukan perjalanan, ia akan merasakan penyesalan yang mendalam pada dirinya, tersandung-sandung dan jatuh dalam perjalanannya itu. Manusia itu akhirnya akan binasa tanpa mendapat sedikit pun petunjuk yang ia inginkan.

Bekal untuk Perjalanan Jauh yang Terbentang

Dengan demikian, Sahabatku, ingatlah bahwa Anda harus melalui suatu perjalanan penuh dengan bahaya yang tidak dapat Anda hindari. Bekal yang Anda perlukan adalah ilmu dan amal saleh. Tidak dapat

p: 201

diketahui sampai kapan perjalanan tersebut berlangsung. Boleh jadi waktu yang dimiliki sedikit sekali sehingga kesempatan Anda terlewatkan. Tak seorang pun tahu kapan panggilan maut akan mendatanginya sehingga ia akan dipaksa untuk berpisah saat itu juga. Angan-angan panjang yang saya dan Anda miliki ini muncul akibat cinta diri dan tipu muslihat iblis yang terkutuk. Melalui itu, iblis mengalihkan perhatian kita dari akhirat dan menghalangi kita dari kewajiban menyelesaikan urusan-urusan akhirat. Sekalipun terdapat bahaya-bahaya yang mengganggu kita dalam perjalanan itu, kita tidak segera berusaha menyingkirkan bahaya tersebut dengan bertobat dan kembali kepada Allah Swt., tidak pula mempersiapkan bekal atau kendaraan untuk perjalanan itu. Sehingga apabila telah dekat saat kematian

yang dijanjikan, kita terpaksa harus pergi, tanpa memiliki sedikit pun perbekalan atau kendaraan yang memadai. Ilmu yang bermanfaat dan amal saleh pun tidak kita miliki, padahal itu adalah bekal utama yang harus diperoleh di dunia. Sungguh tidak ada sedikit pun yang telah kita persiapkan dalam perjalanan ini.

Meskipun terdapat amal-amal saleh yang telah kita perbuat, ternyata tidak sepenuhnya murni. Ia tercampur dengan unsur penipuan disertai ribuan kotoran menyelubungi amal-amal itu, masing-masing darinya telah cukup untuk membuatnya tidak diterima di sisi Allah.

Apabila kita memiliki sedikit pengetahuan, pengetahuan itu pun tidak menghasilkan manfaat apa pun bagi kita. Pengetahuan tersebut tidak keluar dari dua kemungkinan; kalau tidak merupakan omong kosong dan sia-sia belaka, berarti ia sendiri menjadi penghalang utama di jalan menuju akhirat. Seandainya amal yang kita kerjakan dan pengetahuan yang kita pelajari dapat bermanfaat, keduanya harus meninggalkan bekas tertentu yang pasti dan jelas pada kita yang telah

mencarinya selama bertahun-tahun. Keduanya harus pula mampu mengubah kebiasaan buruk serta memperbaiki akhlak dan keadaan kita. Apa yang terjadi sehingga pengorbanan kita selama empat puluh atau lima puluh tahun malah menghasilkan sesuatu yang sebaliknya dan malah membuat hati kita menjadi lebih keras daripada batu? Apa yang kita dapat dari shalat, yang merupakan mi'raj ruhani kaum beriman? Di mana rasa takut yang merupakan manifestasi pengeta-

p: 202

huan? Seandainya kita dipaksa untuk segera pergi meninggalkan dunia ini dalam keadaan seperti itu, mâ samahaka Allah, kita pasti akan mengalami kerugian besar dalam perjalanan itu, serta penyesalan yang sangat dalam, yang tidak mungkin dapat dihilangkan Dengan demikian, kelalaian akan hari akhirat merupakan salah

satu yang menjadi kekhawatiran wali Allah yang paling agung itu, Amir Al-Mukminin ‘Ali a.s., terhadap kita. Beliau pun khawatir akan faktor penyebab lahirnya kelupaan ini, yakni angan-angan yang tinggi. Beliau mengetahui betapa bahayanya perjalanan yang harus kita tempuh itu, sebagaimana menyadari apa yang akan terjadi pada manusia yang tidak boleh merasa tenang sesaat pun dalam mempersiapkan dirinya serta bekal yang harus dibawanya--apabila ia melupakan akhi-

rat dan tergoda oleh kelalaian, tanpa menyadari bahwa setelah kehidupan ini terdapat alam lain, dan bahwa ia harus berjalan menujunya dengan cepat. Beliau a.s, mengetahui apa yang akan terjadi padanya, dan apa saja kesulitan yang akan dihadapinya. Akan sangat bermanfaat bagi kita memikirkan sejenak sejarah perjalanan hidup Rasulullah Saw. dan Amir Al-Mukminin—yang merupakan makhluk Allah yang terbaik dan bebas dari segala kekeliruan, pelanggaran, dan kealpaan-guna mengambil pelajaran dengan memperbandingkan keadaan kita sendiri dengan keadaan mereka.

Sungguh pengetahuan mereka tentang panjang dan berbahayanya perjalanan ini telah membuat mereka tidak memiliki waktu istirahat dan santai, sementara kebodohan kita benar-benar menimbulkan kelalaian pada diri kita. Rasulullah Saw. sendiri sering kali melatih dan membiasakan jiwanya dalam melakukan ibadah kepada Allah Swt. Beliau tidak jarang melakukan shalat menghadap Tuhannya sambil berdiri dengan kuat dalam waktu yang cukup lama sehingga kakinya membengkak, maka Allah Swt. menegurnya dalam sebuah ayat yang berbunyi: Thâ Hâ. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini untuk menyebabkan-mu sengsara. (QS Tha Hà [20]: 1 - 2). Amir Al-Mukminin a.s. juga dikenal dengan ibadah-ibadahnya yang begitu khusyuk dan rasa takutnya yang sangat mendalam kepada Allah Swt.

p: 203

Oleh karenanya, kita harus tahu bahwa perjalanan tersebut penuh dengan bahaya. Serangan kelalaian dan kealpaan kita tidak lain adalah tipuan iblis dan rayuan hawa nafsu kita sendiri. Angan-angan tak berujung ini pun merupakan perangkap iblis yang terbesar dan rayuannya yang paling menggoda. Maka bangkitlah, Saudaraku, dari tidur ini dan ingatlah bahwa Anda adalah seorang musafir yang memiliki tujuan yang jelas. Tujuanmu adalah alam akhirat dan mau tidak mau Anda akan dipaksa meninggalkan dunia ini. Apabila Anda telah mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan ini dengan bekal yang cukup, Anda tidak akan mengalami kelelahan ataupun kesengsaraan dalam perjalanan tersebut. Sebaliknya, jika persiapan Anda tidak memadai, Anda akan berada dalam kesengsaraan yang tak per-

nah berujung. Yang akan Anda alami adalah api yang tak akan pernah padam, tekanan yang tidak akan pernah diringankan, kesedihan yang tiada sedikit pun kebahagiaan padanya, kehinaan yang tak berakhir, siksa yang tak pernah memberikan ketenangan, serta penyesalan yang tak bertepi. Sahabatku, lihatlah apa yang dikatakan oleh pemimpin kita, Imam ‘Ali a.s., dalam Doa Kumail ketika beliau merintih di hadapan Allah Swt.:

Engkau mengetahui kelemahanku dalam menanggung sedikit dari bencana siksa dunia serta kejelekan yang menimpa penghuninya; padahal semua itu hanyalah sementara, sebentar, dan pendek. Maka, apakah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhirat dan kejelekan hari akhir yang besar; bencana yang panjang masanya dan kekal serta tidak akan pernah diringankan? Sebab dari semua itu adalah kemurkaan, pembalasan, dan amarah-Mu. Inilah yang bumi dan langit pun takkan sanggup memikulnya.

Perhatikanlah rintihan Imam 'Ali di atas, penderitaan seperti apakah yang tidak sanggup dipikul oleh langit dan bumi itu? Tidakkah engkau, wahai jiwa yang lalai, terbangun? Mengapa kelalaianmu malah bertambah hari demi hari?! Wahai hati yang tertidur lelap, sadar, dan bangkitlah! Bersiap-siaplah untuk perjalanan menuju akhirat! Sungguh telah diteriakkan kepada kamu untuk pergi! Malaikat Izrail dan para pekerjanya senan-

p: 204

tiasa sibuk, dan kapan pun dapat menyeretmu ke alam akhirat. Namun, engkau tetap tenggelam dalam kelalaian dan kebodohan! Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkanku dari alam ilusi ini, dan bantulah aku untuk kembali ke alam kebahagiaan. Dan mudahkan aku untuk mempersiapkan

bekal kematian sebelum hilangnya kesempatan. ()

p: 205

11 Hadis tentang Fitrah

Point

وَ قَدْ رَوَاهُ اَلثَّعْلَبِیُّ عَنِ اِبْنِ یَحیَ عَن اَحمَد ابن مُحَمَد اَلرِّضَا عَنْ أَبِیهِ عَنْ جَدِّهِ عَلَیْهِمُ السَّلاَمُ : فِی قَوْلِهِ تَعَالَی: فِطْرَتَ اَللّٰهِ اَلَّتِی فَطَرَ اَلنّٰاسَ عَلَیْهٰا قَالَ هُوَ اَلتَّوْحِیدُ وَ مُحَمَّدٌ صَلَّی اللَّهُ عَلَیْهِ وَ آلِهِ رَسُولُ اَللَّهِ وَ عَلِیٌّ عَلَیْهِ السَّلاَمُ أَمِیرُ اَلْمُؤْمِنِینَ إِلَی هَاهُنَا اَلتَّوْحِیدُ.

Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini) meriwayatkan dari Muhammad ibn Yahya, dari Ahmad ibn Muhammad, dari Abu Mahbub, dari Ali ibn Ri'ab, dari Zurarah, yang mengatakan, “Saya bertanya kepada Abu `Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq) mengenai firman Allah, « فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِی فَطَرَ النَّاسَ عَلَیْهَا (30)» “... fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya ...' (QS Al- Rûm (30): 30. Imam menjawab, 'la menciptakan manusia atas dasar tauhid."

Para pakar tafsir dan bahasa Arab menyebutkan bahwa kata al-fithrah berarti penciptaan. Menurut Mu'jam Al-Shihcih (kamus bahasa Arab yang disusun oleh Al-Jauhari), kata al-fithrah berarti al-khilgan, yaitu penciptaan. Kata itu dapat juga berasal dari kata fathara yang memiliki arti 'mengoyakkan' atau 'membelah', seakan-akan proses penciptaan itu adalah proses 'pembelahan' atau 'pengoyakan' tabir

p: 206

kegaiban dan ketiadaan. Tindakan orang berbuka puasa juga dikenal dengan istilah ifthâr yang seakar dengan kata di atas, untuk menggambarkan bahwa berbuka itu berarti mengoyak/memutus kelanjutan puasa. Demikian sekilas makna kata fithrah dan yang seakar dengannya. Hadis yang menjadi pembahasan kita pada bab ini adalah penjelasan Imam Al-Shadiq tentang firman Allah dalam QS Al-Rûm (30): 30

«فَأَقِمْ وَجْهَکَ لِلدِّینِ حَنِیفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِی فَطَرَ النَّاسَ عَلَیْهَا لَا تَبْدِیلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِکَ الدِّینُ الْقَیِّمُ وَلَکِنَّ أَکْثَرَ النَّاسِ لَا یَعْلَمُونَ (30)»

Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama (Islam) dalam keadaan lurus. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Makna Fitrah

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan fithrah Allah yang semua manusia tercipta dengannya adalah kondisi dan kualitas penciptaan manusia. Semua manusia, tanpa terkecuali, tercipta dalam pola fithrah itu sebagai konsekuensi logis dari keberadaannya. Fitrah ini telah berjalin berkelindan dengan esensi wujudnya. Fitrah adalah salah satu rahmat Allah Swt. yang khusus dianugerahkan kepada manusia. Makhluk-makhluk selain manusia tidak memiliki fitrah semacam ini, atau mereka memilikinya dengan kadar yang lebih rendah daripadanya. Harus diingat bahwa meskipun dalam hadis ini sebagaimana juga dalam hadis-hadis lainnya-kata fithrah dijelaskan sebagai (kecenderungan alamiah kepada) keyakinan tauhid, ini hanyalah merupakan penjelasan makna kata melalui salah satu contoh atau penjelasan makna kata dengan menyebutkan bagian terpentingnya. Ini serupa dengan beberapa penafsiran menyangkut Ahl Al-Bait, di mana setiap penafsiran melahirkan contoh baru, masing-masing berdasarkan konteks yang berbeda, sehingga hal ini dianggap oleh orang-orang awam sebagai suatu kontradiksi. Sebagai contoh, ayat 30 QS Al-Rûm di atas menjelaskan "agama” sebagai “fitrah Allah", padahal makna fithrah sebenarnya lebih luas daripada itu sehingga fithrah

dapat mencakup prinsip tauhid dan prinsip-prinsip lainnya.

p: 207

Dalam hadis sahih dari ‘Abdullah ibn Sinan, fithrah (selanjutnya ditulis fitrah) ditafsirkan sebagai Islam; sedangkan dalam hadis hasan yang diriwayatkan dari Abu Ja'far (Imam Muhammad Al-Baqir) fitrah diartikan sebagai ma'rifah (pengetahuan tentang Allah). Demikian pula dalam sebuah hadis yang populer dikatakan bahwa (Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah). Fitrah dalam hadis terakhir ini diperhadapkan dengan bahaya-bahaya yang mengancam kesuciannya, yakni lingkungan yang menyeretnya untuk menjadi penganut Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Dengan ini, jelas bahwa fitrah yang telah Allah tanamkan pada diri manusia tidak hanya terbatas pada keyakinan akan keesaan Tuhan, tetapi mencakup seluruh ajaran dan prinsip yang benar.

Hukum-Hukum Fitrah Manusia

Perlu diketahui bahwa salah satu hukum fitrah ialah ketiadaan satu pun manusia yang meragukan atau dapat menyangkal keberadaannya, lantaran fitrah itu merupakan konsekuensi wujud manusia di muka bumi dan terpatri di dalam dasar kodrat dan esensi penciptaannya. Tidak seorang pun dapat membantah kenyataan itu, baik ia orang yang bodoh, manusia barbar atau berperadaban, penghuni kota atau gurun-semua meyakini hal ini. Adat-istiadat yang beragam,

tradisi keagamaan, atau berbagai pola hidup manusia yang bermacam-macam tidak dapat memengaruhinya atau merusaknya. Demikian pula perbedaan letak geografis, iklim, selera diri, ataupun perbedaan pendapat dan tradisi manusia yang telah mengakar pada setiap komunitas dan telah menyebabkan lahimnya berbagai corak kehidupan yang berbeda-beda-bahkan dalam prinsip-prinsip rasional sekalipun sama sekali tak berpengaruh pada fitrah ini. Keragaman dalam hal

potensi rasional tidak pula dapat memengaruhinya. Dengan demikian, apabila dalam jiwa manusia terdapat sesuatu yang tidak memiliki ketahanan dan kemantapan seperti mantapnya fitrah pada dirinya, itu bukan termasuk kategori fitrah. Maka, ayat tersebut di atas mengatakan (la menciptakan manusia (sesuai] dengannya), yakni fitrah tersebut tidaklah terbatas pada suatu kelompok atau ras tertentu. Ayat itu lebih lanjut menyatakan tidý (Tak

p: 208

ada perubahan pada ciptaan Allah), yakni ciptaan-Nya tak dapat diubah oleh apa pun, seperti hal-hal lain yang dapat berbeda berdasarkan pengaruh adat-istiadat atau yang semacamnya. Akan tetapi, hal yang mengherankan adalah bahwa meskipun seluruh manusia di dunia ini tidak dapat menyangkal keberadaan fitrah pada dirinya, mereka hampir saja tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka bersepakat mengenainya. Bahkan, seandainya mereka tidak diingatkan, pastilah mereka menduga bahwa mereka berselisih pendapat mengenai hal ini. Manakala telah diingatkan, mereka kemudian akan menyadari bahwa sebenarnya mereka merasakan suara fitrah pada dirinya dan mereka memiliki keseragaman dalam hal ini, meskipun secara lahiriah tanda-tandanya beraneka ragam. Insya Allah, kita akan menjernihkan persoalan ini lebih lanjut. Inilah yang diacu oleh kelanjutan ayat di atas, KÝBBS (tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui).

Dapat disimpulkan dari apa yang telah disebutkan di atas bahwa fitrah adalah sesuatu yang lebih jelas dan nyata daripada hal-hal aksiomatis lainnya. Tidak ada satu pun yang sejelas atau lebih jelas dibandingnya. Tidak satu pun yang dapat memperselisihkannya. Oleh sebab itu, fitrah adalah keswanyataan yang paling jelas, karena tidak ada satu permasalahan pun yang melebihi kejelasannya. Tidak seorang pun mengingkari hal ini. Oleh karenanya, fitrah termasuk salah satu yang paling jelas dan paling nyata dari sekian banyak prinsip yang pasti benarnya. Maka, ajaran tauhid-atau yang berkaitan dengannya-termasuk dalam hukum-hukum fitrah dan merupakan salah satu dari prasyarat-prasyaratnya. Semua itu sudah semestinya men- jadi kebenaran yang paling swanyata dan keniscayaan logis sangat

jelas; tetapi, anehnya, Kebanyakan manusia tidak mengetahuinya!

Kebenaran-Kebenaran Agama dalam Fitrah

Para pakar tafsir, Ahl Al-Sunnah ataupun Syi'ah, masing-masing memiliki cara tersendiri dalam menjelaskan bahwa agama atau keyakinan akan keesaan Tuhan termasuk fitrah yang telah tertanam pada jiwa setiap manusia. Pembahasan kita dalam tulisan ini tidak akan

p: 209

mengikuti metode mereka. Namun, kita akan menjabarkan gagasan-gagasan unik dalam masalah ini dari seorang arif yang masyhur, Syaikh Syahabadi, meskipun beberapa darinya dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan para arif lainnya, dan beberapa di antaranya telah terlintas dalam benak penulis yang tak memiliki kemampuan ini. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui bahwa yang termasuk ke dalam kategori fitrah pemberian Allah itu, salah satunya adalah pertama, keyakinan kepada Wujud Awal segala sesuatu Yang Mahaagung dan Mahatinggi; kedua adalah keyakinan akan keesaan-Nya; ketiga, keyakinan bahwa Wujud Suci itu meliputi segala kesempurnaan; keempat, keyakinan pada Hari Kebangkitan; kelima, keyakinan fitri kepada kenabian; keenam, keyakinan kepada keberadaan malaikat-malaikat, ruh-ruh suci, penurunan kitab-kitab suci, dan pengumandangan jalan kebenaran. Beberapa di antaranya termasuk esensi fitrah manusia dan yang lainnya adalah konsekuensi fitrah itu sendiri. Keimanan-keimanan manusia kepada Allah, malaikat, kitab-kitab suci yang diwahyukan, para nabi utusan Allah, Hari Kebangkitan, adalah suatu agama yang tegak, lurus, mantap, dan jelas, sepanjang sejarah kehidupan makhluk manusia di dunia ini. Kita akan membicarakan bebe-

rapa di antaranya yang berkaitan dengan hadis yang sedang menjadi pokok perhatian kita, dan untuk itu kita memohon pertolongan Allah.

Kecintaan Manusia kepada kesempurnaan

Untuk memahami bahwa keyakinan akan keberadaan Wujud Awal dari segala sesuatu telah tertanam dalam fitrah manusia, kita perlu memahami lebih dahulu sebuah realitas, yaitu bahwa salah satu di antara hal-hal fitriah manusia adalah kecintaan dan kerinduan akan kesempurnaan. Ini adalah salah satu karakter bawaan semenjak lahir yang dimiliki seluruh generasi umat manusia. Tak satu individu pun dari mereka yang tak memilikinya atau berlawanan dengan karakter

ini. Adat, tradisi, ataupun aliran keagamaan mana pun, tak dapat mengubahnya, merusaknya atau menghalangi jalannya kecenderungan ini. Kecenderungan alamiah untuk mengejar kesempurnaan ini demikian universalnya sehingga jika Anda mengamati fase-fase sejarah

p: 210

umat manusia secara keseluruhan, lalu Anda teliti kecenderungan setiap individu, kelompok, suku, ataupun bangsa dari mereka, pasti Anda akan menemukan bahwa kecenderungan semacam ini adalah sebuah sifat manusia yang dibawa semenjak kelahirannya. Anda pasti akan mendapati hatinya selalu cenderung menuju ke arah kesempurnaan.

Kecenderungan inilah yang selalu memotivasi dan mengarahkannya untuk terus bekerja dan berupaya keras, membanting tulang hingga membuahkan kesuksesan yang dapat diraihnya. Cinta akan kesempurnaan adalah sumber segala aktivitasnya, meskipun boleh jadi pada kenyataannya manusia memiliki persepsi tentang hakikat kesempurnaan yang berbeda, bahkan saling bertentangan antara satu individu dan individu lainnya. Setiap manusia menganggap sesuatu yang dicintainya sebagai suatu kesempurnaan. Ia akan mengorbankan segala yang dimilikinya demi karena yang dicintainya itu, tak ubahnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta kepada seorang kekasih. Hal ini tidak berbeda dengan para pemuja dunia dan gemerlapnya. Mereka menganggap kesempurnaan terletak pada harta keka-

yaan sehingga mereka mencurahkan seluruh totalitas wujudnya demi untuk memperoleh harta tersebut. Maka setiap orang, apa pun jenis aktivitasnya, betapapun besar kecintaannya, itu semua disebabkan mereka menganggap adanya kesempurnaan pada tujuan-tujuan itu. Demikian pula halnya para pencari ilmu dan penggemar berbagai keterampilan. Sementara para pecinta akhirat, zikir, dan perenungan akan kebesaran Allah Swt., memiliki pandangan yang berbeda.

Demikianlah, seluruh manusia berusaha mencapai kesempurnaannya. Sehingga apabila telah mereka dapati sesuatu yang mereka anggap sempurna, walaupun sebenarnya tidak, mereka akan terus dekat dengannya dan mencintainya. Namun, harus diingat bahwa meskipun tampak mereka diperdaya oleh “kekasih-kekasih” semu ini, sebenarnya “kemabukan” dan obsesi kecintaan mereka tersebut bukanlah pada ideal atau objek cinta itu sendiri, sebagaimana yang mereka bayangkan. Objek cinta dan tumpuan harapan-harapan mereka bukanlah apa yang sedang mereka kejar. Karena, seandainya setiap orang kembali kepada fitrahnya, ia akan menyadari bahwa

p: 211

pada saat tampaknya kecintaannya terhadap sesuatu ia menemukan sesuatu yang lain lebih unggul dan lebih sempurna daripada yang pertama, maka kecintaannya akan berpindah kepada yang lebih sempurna itu. Kemudian, apabila ada sesuatu yang lebih sempurna dari pada sebelumnya, ia pun akan berpaling kepadanya. Api kecintaannya akan semakin berkobar hari demi hari, hingga hatinya tidak pernah lagi merasa terpuaskan oleh sesuatu apa pun.

Sebagai contoh, jika Anda menyukai keindahan tubuh serta paras wajah yang indah, lalu Anda menemukan seseorang yang sesuai dengan kriteria keindahan Anda, pastilah sepenuh hati Anda akan terpana melihat keindahannya. Apabila secara kebetulan Anda melihat paras yang lebih cantik daripada sebelumnya, niscaya anda akan mengarahkan perhatian Anda pada yang terakhir ini, atau paling tidak, kedua-duanya kini menjadi bahan perhatian Anda. Demikian keinginan Anda tak akan mereda sehingga Anda bernafsu untuk memperoleh kedua-duanya, bahkan mencari setiap yang indah menurut mata Anda. Hati Anda akan tertambat pada kecantikan seseorang yang jaraknya amat jauh dengan Anda, sehingga Anda berkata pada diri Anda sendiri, “Aku ingin menyatu dengan kekasihku meskipun

hatiku berada di tempat lain.” Angan-angan kosong akan meningkatkan nafsu keinginan Anda sendiri. Apabila Anda mendengar tentang surga serta gambaran keindahannya yang menawan, meskipun seandainya Anda sendiri tak memercayainya-semoga kita terhindar dari itu—fitrah Anda saat itu pasti akan berkata, “Seandainya surga itu ada dan bidadari-bidadari yang cantik itu menjadi milikku.” Demikian pula seorang yang menganggap kekuasaan, pengaruh dan perluasan wilayah kekuasaan sebagai suatu kesempurnaan, ia akan terus mengidam-idamkannya. Jika menguasai sebuah negara, ia akan berpaling melihat negara lain; ketika negara itu juga berada di bawah kekuasaannya, ia akan mengingini wilayah-wilayah lain. Jika ia diberi seperempat bumi, ia akan mencoba memiliki sisanya

pula. Dan ketika kekuatan nafsunya semakin bertambah-tambah di mana bumi ini sudah berada dalam penguasaannya—ia akan memikirkan kemungkinan untuk memperluasnya ke planet-planet lain alam semesta. Hatinya akan memandang planet-planet itu dengan

p: 212

nafsu untuk menguasai sambil membayangkan seandainya ia dapat terbang ke alam-alam itu sehingga dapat menundukkannya ke dalam kerajaannya.

Kecenderungan yang sama terjadi pada para ilmuwan dan kalangan penggemar berbagai keterampilan. Nafsu mereka-apa pun aktivitas dan bidang mereka—akan bertambah setiap kali mereka mencapai keberhasilan dalam bidangnya. Mereka bernafsu untuk mencapai derajat-derajat kesempurnaan yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Api nafsu itu tak pernah padam dan menjadi semakin berkobar hari demi hari.

Demikian, jelaslah bahwa cahaya fitrah telah menunjukkan kepada kita fakta bahwa seluruh umat manusia--mulai yang tinggal di daerah-daerah terpencil hingga di negara-negara maju, dari kaum materialisme hingga penganut ajaran-ajaran agama-hati mereka semuanya terdorong untuk mencapai kesempurnaan tanpa cacat. Mereka merindukan keindahan dan kesempurnaan mutlak; merindukan pengetahuan tanpa bercampur dengan kebodohan, kekuatan tanpa kelemahan dan kehidupan tanpa kematian. Pada akhirnya, Kesempurnaan Mutlak adalah dambaan setiap manusia. Secara bulat, seluruh makhluk ter- masuk umat manusia akan menyatakan dengan gamblang, dan dalam kata-kata yang lugas dan fasih, “Kami adalah para pencinta Kesempurnaan Mutlak; hati kami dibakar oleh cinta kepada Keindahan Mutlak; kami adalah pencari Pengetahuan Mutlak dan Kekuasaan Mutlak.”

Adakah suatu wujud dalam segenap dunia kemaujudan alam raya ini, atau dalam dunia khayal, atau dalam alam abstraksi akal, yang memiliki sifat-sifat Kesempurnaan Mutlak dan Keindahan Mutlak selain Zat Suci Sumber Keagungan Tertinggi alam semesta? Adakah suatu keindahan mutlak tanpa cacat, selain keindahan Sang Kekasih Mutlak? Wahai para pecinta Zat Yang Mahakekal dan para pendamba Kekasih Yang Suci dari aneka cacat, wahai kupu-kupu yang terbang

mengitari Cahaya Keindahan Yang Mahamutlak dan para musafir yang tersesat di lembah kebimbangan dan kesirnaan, kembalilah sejenak kepada fitrah kalian. Bukalah lembaran-lembaran jiwamu untuk

p: 213

mengetahui bahwa Zat Yang Mahakuasa telah menggariskan dalam fitrah kalian suatu ketetapan yang berbunyi:

«إِنِّی وَجَّهْتُ وَجْهِیَ لِلَّذِی فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِیفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِکِینَ (79)»

Sesungguhnya aku palingkan wajahku kepada-Nya, yang telah menciptakan langit dan bumi .... (QS Al-An'âm (6]: 79)

« فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِی فَطَرَ النَّاسَ عَلَیْهَا (30)»

... fitrah Allah yang dengannya la menciptakan manusia. (QS Al-Rûm (30): 30)

Fitrah itu adalah fitrah untuk memalingkan wajah guna menatap Kekasih Mutlak; dan ia tak berubah: Letý (Sesungguhnya tak ada perubahan dalam ciptaan Allah). Ia adalah kecenderungan untuk mencari makrifat (pengetahuan tentang) Allah. Sampai kapan engkau akan menyia-nyiakan cinta fitri yang dilimpahkan Allah dengan mencintai sebarang kekasih karena khayalanmu yang sesat? Jika objek cintamu adalah keindahan-keindahan tak sempurna dan kesempurnaan-kesempurnaan yang terbatas, mengapa api cintamu tak mereda setiap kali kamu meraihnya? Bangunlah dari tidur nyenyak yang membuatmu lupa. Sambutlah kabar gembira ini. Bergembiralah karena engkau memiliki Kekasih tanpa ketaksempurnaan, tanpa cacat, dan tanpa batas. Cahaya yang kau cari adalah Cahaya yang sinar-Nya

menerangi alam semesta. «اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ Allah adalah cahaya langit dan bumi .... (QS Al-Nûr (24): 35) Kekasihmu memiliki segalanya:

اللی هبط علی الله بل إلی الأرض کؤل Seandainya diulurkan kepada kamu sebuah tali untuk turun ke dasar bumi yang paling bawah, niscaya kamu akan turun untuk

mencari-Nya. Maka, kecintaan yang hakiki pasti menuntut Kekasih yang Hakiki pula. Tak mungkin yang dicari adalah sesuatu yang dapat dibayangkan oleh akal karena setiap hal yang dapat dikhayalkan, itu pertanda ketidaksempurnaanny Fitrah dengan sendirinya merindukan kesempurnaan. Pecinu, hakiki dan cinta yang hakiki tak mungkin tanpa kekasih yang hakiki, dan, tak ada kekasih lain kecuali Allah Zat Sempurna yang kepadanya fitrah manusia berpaling. Dengan

p: 214

demikian, prasyarat bagi cinta akan kesempurnaan mutlak adalah adanya Wujud Sempurna Mutlak. Dan, seperti telah disebutkan, hukum fitrah dan hal-hal yang berkaitan dengannya adalah hal yang paling jelas. Demikianlah telah dikatakan:

أَفِی اللَّهِ شَکٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ... Adakah suatu keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi? (QS İbrâhîm (14: 10)

Pengesaan Zat Yang Hak dan Sifat-Sifat-Nya

Kita sudah membahas bahwa keyakinan akan keesaan Zat Allah adalah fitri, dan kini kita akan membuktikannya dengan cara lain. Perlu Anda ketahui bahwa salah satu ciri fitrah yang dengannya Tuhan menciptakan manusia adalah penolakan akan ketaksempurnaan. Manusia dalam fitrahnya tak menyukai segala yang dipandang-nya memiliki kekurangan atau cacat. Ketaksempurnaan dan kecacatan bertentangan dengan fitrah yang selalu condong kepada kesempurnaan mutlak. itrah pasti cenderung menyukai Zat Yang Esa karena semua yang mengandung ketersusunan dari dua bagian atau lebih adalah tak sempurna dan cacat. Ketersusunan selalu terkait dengan keterbatasan (yang merupakan suatu cacat) dan semua yang cacat ditolak oleh fitrah menusia. Adanya dua sifat ini-yakni ketertarikan kepada kesempurnaan dan penolakan kecacatan—tidak hanya memberi tempat kepada prinsip keyakinan pengesaan Zat Allah, tetapi juga menunjukkan bahwa Wujud-Nya meliputi segala kesempurnaan dan bahwa Dia bebas dari segala sifat cacat.

Surah Al-Ikhlas dalam Al-Quran yang berbicara tentang Wujud Allah Yang Mahatinggi, atau sebagaimana dikatakan Syaikh kami semoga nyawaku menjadi tebusan baginya--bahwa Zat Mutlak yang menjadi tambatan hati setiap manusia seperti diisyaratkan pada permulaan surah itu dengan sebutan-Nya sebagai “Dia” (Huwa), adalah bukti akan enam sifat yang disebutkan pada ayat-ayat selanjutnya. Maka, tatkala Zat Suci-Nya memiliki Identitas Mutlak, sedangkan Identitas-Nya harus bersifat Sempurna serta Mutlak, maka WujudNya meliputi segala kesempurnaan, dan Dialah “Allah”. Hal ini di samping menunjukkan bahwa Dia Yang meliputi segala yang kesem

p: 215

purnaan itu bersifat sederhana (basîth) yang tidak tersusun oleh bagian atau unsur apa pun, Maka, Dia adalah Zat Ahad, yakni Esa, yang memiliki sifat tersendiri dan tidak dimiliki oleh selain-Nya, tidak juga dapat menerima penambahan baik dalam benak apalagi dalam kenyataan. Keesaan-Nya meniscayakan wahidiyyah (ke-satu-an)-Nya. Dan, karena Dia Yang Mahamutlak yang mencakup seluruh kesempurnaan itu bebas dari segala cacat—yang dapat muncul dari-Nya- Dia adalah shamad, yakni Zat yang kepada-Nya mengarah harapan semua makhluk. Dia yang didambakan dalam pemenuhan kebutuhan makhluk serta penanggulangan kesulitan mereka. Dia adalah Zat yang tidak kekurangan sesuatu apa pun. Maka, atas dasar kemahamutlakan-Nya, tak sesuatu pun terpisah atau terlahir dari-Nya, dan Dia sendiri pun tak terpisah atau melahirkan sesuatu apa pun. Dia “tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Dia Permulaan segala sesuatu dan muara tempat berakhirnya segala wujud—tanpa wujud-wujud itu terpisah dari-Nya karena keterpisahan meniscayakan kecacatan. Kemahamutlakan-Nya berarti pula bahwa tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Kesempurnaan mutlak memustahilkan pengulangan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Surah Al-Tauhid termasuk

salah satu yang mencerminkan hukum fitrah manusa dan berbicara tentang sifat-sifat Wujud Ilahiah.

Keyakinan akan Kebangkitan adalah Fitri

Kini, kita akan membicarakan keyakinan akan Hari Kebangkitan (al- ma'âd) sebagai sifat bawaan yang tertanam dalam fitrah manusia. Sebagaimana keyakinan-keyakinan lain yang telah kita bahas sebelum ini, hal ini dapat dibuktikan dengan beberapa cara. Kita hanya akan membicarakan beberapa di antaranya.

Patut diketahui bahwa salah satu kecenderungan fitrah manusia yang telah Allah tanamkan dalam diri seluruh manusia adalah kerinduannya pada suatu ketenangan dan kenyamanan. Jika seluruh episode sejarah manusia dari kehidupan kaum barbar hingga kaum beradab, sejak zaman pemberontakan kaum pagar. hingga zaman kesalehan dikaji, dar, apabila seluruh individu masyarakat manusia---mulai kalangan terpelajar hingga mereka yang jahil, dari yang

p: 216

mulia hingga yang hina, dari kaum pedesaan hingga perkotaan ditanyai tentang tujuan dari aneka ketergantungan mereka yang bermacam-macam serta keinginan-keinginan yang beragam, lalu apa sebenarnya target di balik kesediaan mereka menerima berbagai macam penderitaan, cobaan, serta kesulitan hidup? Semua akan sepakat menjawab-secara serempak dan dengan jelas—bahwa satu-satunya tujuan mereka adalah untuk memperoleh kenyamanan serta kenikmatan

hidup. Target dan tujuan akhir yang mereka idam-idamkan adalah kenyamanan mutlak, yang tak tercemari oleh sedikit pun kelelahan. Memang kenyamanan semacam ini adalah dambaan setiap orang. Namun, meskipun ia ditemukan pada mereka, selalu saja yang mereka dapati tidak sempurna. Sehingga apabila seseorang menyukai sesuatu, dia segera membayangkan kenyamanan pada sesuatu itu. Padahal, ketenangan dan kenyamanan mutlak seperti itu mustahil ada di dunia ini. Seluruh rahmat dan nikmat di dunia ini bercampur dengan kerja keras yang melelahkan. Seluruh kenikmatan dunia pasti dicemari oleh suatu derita. Rasa sakit dan derita, kegusaran dan nestapa, kecemasan dan kekhawatiran, ada di setiap bagian dunia ini. Selama sejarah panjang umat manusia, tak seorang pun di dunia ini yang derita dan nestapanya sebanding dengan kenikmatan yang diperolehnya, kesenangannya sama dengan kelelahannya—apalagi untuk mendapatkan kenikmatan mutlak yang tak tercemari oleh apa pun. Oleh karena itu, dambaan manusia tak mungkin diperolehnya di dunia ini. Kecintaan naluriah yang telah menjadi sifat bawaannya ini tak mungkin terpuaskan tanpa adanya “kekasih idaman" yang benar-benar nyata.

Maka, haruslah ada suatu dunia dalam alam eksistensi di mana kesenangan tak terkotori oleh kerja atau derita apa pun, yang kenikmatan dan kedamaiannya mutlak dan murni, tanpa penderitaan.

Dunia itu adalah rumah nikmat Ilahiah.

Dunia itu dapat pula ditunjukkan melalui cinta kebebasan yang fitri pada manusia dan keteguhan kehendak manusia, yang tertanam dalam fitrah setiap individu. Karena materi-materi penunjang berlangsungnya kehidupan di alam ini dapat mengekang kebebasan serta kehendak manusia, seperti banyaknya penderitaan dan kesempitan

p: 217

yang sering kali merintanginya, haruslah ada suatu alam lain yang di dalamnya kehendak manusia dapat lebih berpengaruh dan fakto-faktor penunjang kelangsungan alam itu tak berbenturan dengan kehendak manusia. Alam dengan keadaan seperti ini akan membuatnya dapat berbuat sesuai dengan kehendak dan kebebasannya secara penuh. Dengan demikian, aspek cinta kenikmatan dan cinta kebebasan adalah dua dimensi fitrah yang telah tertanam dalam diri manusia

dan lahir bersamaan dengan kehadirannya di pentas dunia ini. Keduanya adalah fitrah Allah yang tidak akan pernah mengalami perubahan sedikit pun. Dengannya, manusia dapat terbang tinggi di puncak alam malakut sambil mendekatkan diri kepada Allah Swt. Masih ada lagi dimensi-dimensi fitrah lainnya selain yang telah

kita bahas di atas yang dapat juga dijadikan sebagai argumentasi untuk membuktikan beberapa pengetahuan haqq. Saya cukupkan hingga di sini karena tulisan ini tidak mungkin dapat menampungnya. Misalnya, fitrah manusia yang membawa kita pada pembuktian peneguhan kenabian, pengutusan para nabi, dan penurunan kitab-kitab suci. Dengan salah satu dari jenis fitrah ini, kita dapat membuktikan seluruh doktrin-doktrin suci agama di atas, tetapi kita harus membatasi diskusi ini agar tak menyimpang terlalu jauh dari topik utama, yaitu pembahasan hadis di atas. Sejauh ini, diskusi kita telah menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Sumber Utama alam semesta, Kesempurnaan Mutlak dan Keesaan-Nya, serta Hari Kebangkitan termasuk dalam pengetahuan-pengetahuan yang telah ada pada fitrah manusia. Alhamdulillah.]]

p: 218

12 Hadis tentang Tafakur

Point

عَنْ عَلِیٍّ عَنْ أَبِیهِ عَنِ اَلنَّوْفَلِیِّ عَنِ اَلسَّکُونِیِّ عَنْ أَبِی عَبْدِ اَللَّهِ عَلَیْهِ السَّلاَمُ قَالَ کَانَ أَمِیرُ اَلْمُؤْمِنِینَ عَلَیْهِ السَّلاَمُ یَقُولُ: نَبِّهْ بِالتَّفَکُّرِ قَلْبَکَ وَ جَافِ عَنِ اَللَّیْلِ جَنْبَکَ وَ اِتَّقِ اَللَّهَ رَبَّکَ

“... Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini) meriwayatkan dari 'Ali ibn Ibrahim, dari ayahnya, dari Al-Naufazli, dari Al-Sakuni, dari Abu 'Abdillah (Al-Imam Al-Shadiq a.s.) 'Bangkitkan hatimu dengan bertafakur; jauhkanlah sisimu dari malam dan bertakwalah kepada Allah Tuhanmu.(1) Di dalam bahasa Arab, penggunaan ungkapan kâna yaqûlu (biasa mengatakan) memiliki makna yang berbeda dengan sekadar penyebutan qala (telah mengatakan) atau yaqûlu (sedang atau akan mengatakan). Sebab, ungkapan pertama menunjukkan makna kesinambungan dan kekerapan. Ini memperlihatkan bahwa Amir Al-Mukminin ‘Ali a.s. berulang-ulang biasa mengucapkan kata-kata ini. Makna kata perintah nabbih (bangkitkan) adalah suatu aktivitas menyadarkan seseorang dari kelalaian atau membangunkannya dari tidur. Kedua

p: 219


1- 1. Al-Kulaini, Al-Kafi, Vol. II, 12, hadis No. 2. Hadis 12, Ushûl Al-Kafi (Akhundi, ed. oleh 'Ali Akbar Ghaffari), II, h. 54.

makna ini tepat untuk konteks hadis di atas karena hati selalu berada dalam keadaan lalai jika tidak bertafakur dan akan tertidur sebelum dibangkitkan. Dengan kedua cara itu, hati akan keluar dari keadaan tersebut. Jelas berbeda antara tidur dan bangunnya fisik manusia dan sadar tidaknya jiwa yang bersemayam di dalam fisik tersebut. Terkadang mata lahiriah terjaga, dimensi jasadi sadar. Namun, mata dan penglihatan batin tertidur pulas, dan wilayah spiritual jiwa dalam keadaan lalai dan tidak sadar. Tafakur adalah aktivitas akal, yakni penataan kembali masalah-masalah yang sudah diketahui guna mencapai kesimpulan-kesimpulan yang belum diketahui. Aktivitas ini cakupannya lebih umum dari kontemplasi yang menjadi salah satu ciri kaum sufi dan para penempuh jalan. Khwajah 'Abdullah Al-Anshari mendefinisikannya sebagai “Aktivitas penglihatan batin untuk mencapai tujuan yang didambakan.(1) Jelas bahwa makrifat merupakan sesuatu yang didambakan hati. Oleh sebab itu, tafakur dalam hadis ini mengandung makna khusus yang berkenaan dengan hati dan kehidupan hati itu sendiri.

Makna Hati

Kata “hati” memiliki berbagai konotasi dan definisi yang beragam. Bagi dokter dan masyarakat pada umumnya, hati adalah sekeping daging, di mana penyempitan dan pengembangan yang terjadi pada organ ini akan menyebabkan mengalirnya darah melalui urat nadi dan urat darah halus sehingga timbullah daya hidup. Filosof dan para arif menggunakan kata ini untuk mengacu pada prestasi-prestasi spiritual. Kaum sufi mengistilahkan derajat-derajat dan tahapan-tahapan perjalanan ruhaniah mereka dengan sebutan yang sama. Dalam Al-Quran Suci dan hadis-hadis Nabi Saw., kata ini digunakan dalam maknanya yang bersifat umum maupun khusus dalam berbagai konteks yang berbeda.

dari hati telah melonjak naik hingga ke ...) لقیت اللوک الاجر Dalam ayat tenggorokan) (QS Al-Ahzab [33]: 10), makna “hati” di sini digunakan sebagaimana yang diistilahkan para dokter. Sedangkan pada ayat) توب لایفقهون بها وله ایتلایون با mereka mempunyai hati, tetapi tidak

p: 220


1- 2. Manâzil Al-Sâ'irîn, I, h. 57.

mereka gunakan untuk memahami dan mereka mempunyai mata (tetapi] tidak mereka gunakan untuk melihat) (QS Al-A'râf(7): 179), digunakan dalam pengertian yang dipakai oleh para filosof. Dan, pada ayat sigol -Sesungguhnya pada yang demihian itu benar) لنگڑی لمن کان له قلب أو القی التنع ووشهیه benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengaran, sedangkan dia sangat menyaksikan) (QS Qâf (50): 37), “hati” dipahami semakna dengan penggunaan kaum arif.

Berkenaan dengan hadis yang menjadi materi pembahasan kita di atas, tafakur digunakan dalam pengertian seperti penggunaan para filosof. Sedangkan penggunaan kaum arif terhadap kata “hati” tak ada hubungannya dengan tafakur yang sedang kita pelajari pada bab ini, khususnya pada tingkat-tingkat tertentunya, sebagaimana diketahui betul oleh orang-orang yang akrab dengan terminologi mereka. Kata jafi pada ucapan Imam Ali a.s. di atas memberi makna kejauhan. Seseorang yang menjauh dari temannya digambarkan dengan kata ini. Orang yang “menjauhkan” sisi tubuhnya dari tempat tidur juga diungkapkan dengan kata yang sama. Demikian makna-makna kata jafi dalam kamus Al-Shihah. Jika dikaitkan dengan waktu malam, kata ini bisa bermakna kiasan dalam arti

menjauh dari kenikmatan suasana malam hari, sebagaimana dapat juga bermakna yang sebenarnya, bergantung pada maksud pembicara, seperti dibahas dengan terperinci oleh seorang pakar fiqih, Syaikh Ridha Ishfahani dalam karyanya, Jaliyyah Al-Hål. Betapapun, yang jelas, kata tersebut adalah kiasan tentang bangkitnya seseorang dari tempat tidur untuk menunaikan ibadah dan bermunajat kepada Tuhan. Insya Allah, kami akan membahas hadis ini dengan terperinci dalam beberapa bab berikut.

Keutamaan Tafakur

Perlu diketahui bahwa tafakur mengandung banyak manfaat dan keutamaan. Tafakur adalah kunci pembuka pintu-pintu makrifat dan merupakan khazanah kekayaan pengetahuan dan keutamaan. Ia merupakan langkah pertama yang harus dilalui dalam perjalanan manusia menuju kesempurnaan sejatinya. Al-Quran Al-Karim dan

p: 221

hadis-hadis Nabi Saw, memuji dan memuliakan aktivitas tafakur, serta menganggap orang yang tidak melakukannya sebagai manusia yang hina dan tercela.

Dalam Al-Kafi, diriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq a.s. berkata: افضل العباده اما التفرغ الله و قدره "Sebaik-baik bentuk ibadah adalah bertafakur tentang Allah dan

kekuasaan-Nya.(1) Dalam hadis lain, dinyatakan bahwa satu jam bertafakur adalah lebih baik daripada satu malam beribadah.(2) Dan, menurut sebuah hadis Nabi Saw., tafakur satu jam lebih baik dibandingkan dengan ibadah satu tahun. Dalam hadis lain, disebutkan bahwa satu jam bertafakur lebih baik dibandingkan dengan enam puluh tahun beribadah (menurut hadis lain, tujuh puluh tahun). Beberapa pakar ilmu hadis dan fiqih bahkan menyebutnya lebih baik dibandingkan dengan seribu tahun beribadah. Betapapun, tafakur itu memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda. Dalam setiap derajatnya, terdapat hasil-hasil dan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Di sini, kami akan menyebutkan beberepa di antaranya:

Pertama, tafakur tentang Allah, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat serta kesempurnaan-kesempurnaan-Nya. Hasil dari tafakur seperti ini adalah pengetahuan tentang Wujud-Nya dan pelbagai jenis manifestasiNya, yakni entitas-entitas aktual dan fenomena-fenomena objektif. Inilah tingkat tafakur paling unggul yang melahirkan pengetahuan tertinggi dan argumen terkuat. Menyadari adanya Penyebab Utama dan merenungkan Sebab Mutlak keberadaan alam ini dapat mendorong manusia untuk mengetahui-Nya dan memahami segenap maujud dan akibat yang dicipta-Nya. Begitulah gambaran manifestasi hati para shiddiqin (yang selalu mengatakan yang benar). Oleh karena itu pulalah, ulasan ini disebut dengan burhan al-shiddiqin (argumen orang-orang yang selalu mengatakan yang benar) sebab para shiddiq

itu melihat Nama-Nama dan Sifat-Sifat serta rnemandang esensi-esensi pertama (a'yân) dan manifestasi-manifestasi (mazhâhir) dalam cermin Nama-Nama melalui penyaksian akan Zat. Alasan penamaan

p: 222


1- 3. Ushul Al-Kafi, II, h. 55.
2- 4. Ibid., II, h. 50.

ini dengan burhan al-shiddiqîn tidak lain karena seorang shiddiq jika ingin mengemukakan pengamatannya dalam bentuk argumen dan menyampaikan pengalaman makrifat dan intuitifnya dengan kata-kata, maka pastilah dalam bentuk seperti ini. Namun, tidak berarti bahwa siapa pun mendapat pengetahuan tentang Zat dan penyinaran-Nya melalui argumen ini menjadi shiddiq atau bahwa pengetahuan para shiddiq itu tak melampaui pengetahuan logis-argumentatif. Jauh menyimpang dari kebenaran kalau kita membayangkan bahwa pengetahuan mereka termasuk tafakur atau bahwa penyaksian mistis (musyahadah) mereka itu seperti susunan

argumen dan premis-premisnya! Selama hati tertutupi argumen dan orang berada pada tahap tafakur berarti dia belum mencapai bahkan derajat pertama dari apa yang dicapai kalangan shiddiq. Setelah tirai tebal pengetahuan dan argumen tersibakkan dan tafakur terkesampingkan, barulah berbagai sudut jalan dapat dijelajahi, tanpa perantaraan tafakur--sesungguhnya tanpa sarana atau perantaraan apa pun-dan dia pun akhirnya berhasil melihat kemuliaan, keagungan,

dan keindahan Zat Yang Mutlak di akhir perjalanannya. Dia pun lalu mengalami suka cita abadi. Dia melebihi dunia dan segala isinya, terselimuti jubah Mahakuasa sehingga ia menetap dalam kefanaan total. Tidak ada dari dirinya yang masih ada dan dia pun benar-benar terlupakan, lalu rahmat Allah membawanya kembali ke dunianya dan ke wilayah-wilayah wujud selaras dengan kapasitas esensinya yang tidak berubah (al-'ain al-tsábitah). Dalam keadaan kembali ini, kemuliaan keagungan dan keindahan Allah tersingkapkan baginya, lalu dia menangkap makna Nama-Nama dan Sifat-Sifat dalam cermin Zat. Melalui itu, dia menyaksikan (mengalami) esensinya yang tidak berubah dan segalanya yang ada di bawah naungan dan perlindungan-Nya, serta menemukan jejak-jejak manifestasi dan jalan untuk berpaling ke sisi lahiriah hati. Kemudian, dia pun dianugerahi pakaian kenabian dan perbedan maqâm-maqâm para rasul dan nabi pun menjadi jelas baginya. Buku ini tidak tepat untuk mendiskusikan topik ini lebih jauh. Kami cukupkan pembahasan ini sampai di sini tentang tema burhan al-shiddiqîn, lantaran topik ini memerlukan pendahuluan yang lebih terperinci.

p: 223

Tafakur yang Diperlukan dan Dilarang Berkaitan dengan Zat Allah

Perlu diketahui bahwa pembicaraan kami tentang kemungkinan bertafakur tentang Zat, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat Allah Swt. bisa membuat orang yang jahil mengira bahwa tafakur tentang Zat Allah dilarang berdasarkan riwayat tertentu tanpa mengetahui bahwa yang dilarang itu adalah berupaya mengukur sifat dan kedalaman Zat, sebagaimana dijelaskan oleh hadis-hadis.(1) Kadang kala orang yang tidak memiliki kelayakan bertafakur seperti itu juga dilarang bertafakur tentang jenis-jenis tertentu pengetahuan transendental yang memerlukan penyelaman kepelikan-kepelikan tertentu. Kaum arif menyepakati kedua hal ini. Permasalahan kemustahilan memahami Zat Allah telah dijelaskan dalam karya-karya tulis mereka, dan larangan melakukan tafakur semacam ini pun telah diakui berbagai kalangan.

Buku-buku mereka juga menyebutkan syarat-syarat untuk mempelajari ilmu-ilmu ini dan tidak membolehkan orang yang belum layak untuk mempelajari ilmu-ilmu ini. Nasihat dan petunjuk mereka berkaitan dengan syarat-syarat kebolehan mempelajari Zat, tersebar di setiap buku mereka. Misalnya, dua filosof besar Islam yang pakar dalam bidang ini, Syaikh Ibn Sina dalam akhir buku Al-Isyârât(2) dan Shadr Al-Muta`allihin pada akhir Al-Asfâr(3), menegaskan hal tersebut. Mereka memberikan nasihat-nasihat yang cukup indah dalam kaitan ini. Adapun bertafakur tentang Zat Allah demi membuktikan argumentasi tentang keberadaan, keesaan, dan menegaskan transendensi (al-tanzih) dan kesucian-Nya, maka itu merupakan tujuan puncak dari diutusnya para nabi dan dambaan kaum arif. Al-Quran Al-Karim dan hadis-hadis mulia sarat dengan informasi yang berkaitan dengan pengetahuan tentang Zat, Nama-Nama, dan kemahasempurnaanNya. Kitab-kitab andal tentang hadis, seperi Ushûl Al-Kafi, karya Al-Kulaini, dan Al-Tauhid. karya Syaikh Al-Shaduq, juga mengkaji secara panjang lebar permasalahan Zat, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat Allah Swt. dengan mengenukakan berbagai argumen pembuktiannya. Sementara lahimnya perbedaan antara kitab suci dan sunnah para nabi serta tulisan-tulisan para filosof adalah dalam hal terminologi

p: 224


1- 5. Al-Mahajjat Al-Baidha', VIII, h. 193. تشروا فی خلق الله ولاتفوا فی الله قال لن تقدواقدره
2- 6. Al-Isyârât wa Al-Tanbihật (Teheran: Haidari), III, h. 419.
3- 7. Al-Asfâr Al-Arba'ah (Dar Al-Ma'arif Al-Islamiyyah), 1, h. 10.

dan metode umum atau khusus dalam konteks ini seperti yang terjadi pada perbedaan antara fiqih dan hadis—dan bukan dalam maknanya.

Celakanya, beberapa orang bodoh yang tidak memahami Al-Quran dan Sunnah telah tampil dengan pakaian ulama selama beberapa abad terakhir ini. Mereka tidak menjadikan dua sumber utama hukum Islam, Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana layaknya suatu pedoman hidup umat Muslim. Mereka jadikan kejahilan mereka sebagai satu-satunya alasan tidak benarnya keyakinan tentang asal usul penciptaan dan Hari Kebangkitan. Orang seperti itu, demi mempromosikan dagangannya, melarang keras adanya upaya pengkajian pengetahuan--yang merupakan tujuan puncak para rasul dan wali Allah dan-yang banyak disebut-sebut oleh Kitab Allah dan hadis-hadis para Imam Ahl Al-Bait a.s. Mereka melontarkan berbagai fitnah dan aneka tuduhan terhadap para pencari ilmu ini sehingga menyebabkan hati hamba-hamba Allah berpaling dari pengenalan akan hakikat asal usul penciptaan dan Hari Kebangkitan. Merekalah penyebab perpecahan di kalangan umat Islam. Apabila ditanya apa alasan di balik pengafiran penyebutan orang lain sebagai fasik, mereka tetap bersikeras dengan berpegang pada hadis Nabi Saw. yang berbunyi: Janganlah bertafakur tentang Zat Allah. Orang bodoh dan malang ini salah besar disebabkan oleh dua alasan: Pertama, dia mengira bahwa kaum arif melakukan tafakur tentang Zat Allah, padahal mereka menganggap hal ini mustahil, dan hal ini sendiri merupakan salah satu permasalahan yang secara rinci telah dijelaskan dengan didukung oleh berbagai argumen. Kedua, mereka tidak memahami makna hadis di atas. Mereka menduga bahwa hadis itu melarang kita mengucapkan satu patah kata pun tentang Zat Allah. Di sini, kami akan mengutip beberapa hadis terkait dan mencoba dengan kemampuan kami yang belum seberapa ini untuk merujukkannya, seraya berusaha menyajikannya secara objektif meskipun hal ini membuat kami menyimpang dari pembahasan kita. Kami ber-

harap semoga hal ini dapat menghilangkan keragu-raguan dan menolak berbagai konsepsi yang keliru. Hadis berikut ini dimuat dalam Al-Kâfî:

p: 225

عن أبی بی قال : قال ابوعقر علیه السلام: ت وفی خلق الله الله لا یاصاحبه الا تحیا ولا تتکلموا فی الله ان الکلام

Dalam Al-Kafi, dengan sanad melalui Abu Bashir, diriwayatkan bahwa Abu Ja'far a.s. telah berkata, “Berbicaralah tentang ciptaan Allah dan janganlah berbicara tentang Allah, sebab berbicara tentang Allah tidak akan menambah si pembicaranya kecuali kebingungan.(1) Hadis ini sendiri menunjukkan bahwa tujuan pelarangan itu adalah agar orang tidak melakukan pembicaraan yang bertujuan mengukur kedalaman Zat Allah dan kualitas (kaifiyyah) Zat-Nya dengan mencari-cari alasan keberadaan-Nya. Jika tidak demikian, pembicaraan tentang Zat Allah dengan maksud menegaskan Zat itu, Kesempurnaan-Nya, Keesaan dan Transendensi-Nya, tidak akan menimbulkan kebingungan atau kekacauan. Mungkin juga, pelarangan di sini berkaitan dengan orang-orang yang kalau membicarakan masalah-masalah ini akan membuat mereka kebingungan dan kacau. Al-Majlisi r.a. memperkenankan dua kemungkinan ini tanpa memerincinya

lebih lanjut, tetapi yang lebih ditekankannya adalah yang pertama. Hadis lain dalam Al-Kafi, yang diriwayatkan oleh Hariz menegaskan:

ریز: تکلموا فی کل شیء ولاتکوا فی ذات الله وفی روایه أخری ک

“Bicarakanlah segala sesuatu, tetapi janganlah membicarakan Zat Allah.(2)

Ada hadis lain yang identik atau dekat maknanya dengan riwayat itu. Tidak perlu rasanya mengutip semuanya. Hadis lain dalam Al-kâfi yang diriwayatkan melalui Abu Ja'far as menyatakan:

ت اللی قال : لا والفخ الله ولکن اذا اردتم ان عن أبی منه فانظروا إلی عظولقه

“Waspadalah terhadap tafakur tentang Allah. Akan tetapi, kalau kamu ingin melihat keagungan-Nya, lihatlah keagungan ciptaan-Nya.(3)

p: 226


1- 8. Ushul Al-Kafi, 1, h. 93, hadis 1.
2- 9. Ibid.
3- 10. Ibid., I, h. 93, hadis 7.

Riwayat ini tampaknya juga melarang kita mengukur atau mengkaji Zat Allah, sebab hadis ini menambahkan bahwa jika seseorang ingin melihat keagungan Allah Swt., dia harus menyimpulkannya dari keagungan ciptaan-Nya. Pendekatan parabolik ini ditujukan pada berbagai tipe orang yang pengetahuannya tentang Allah diperoleh melalui sarana ciptaan (makhluk) itu.

Hadis ini dan hadis-hadis lain seperti ini, yang tampaknya melarang orang membicarakan dan bertafakur tentang Allah, memperkuat klaim kami yang dengan jelas dikuatkan oleh hadis berikut dalam Al-Kafi tentang tafakur:

پاشتادو عن أبی عبد الله (ع ) قال : افضل العباده إیرمان الف رخ الله وفی قدرته

“Sebaik-baik ibadah adalah bertafakur terus-menerus tentang Allah dan Kuasa-Nya.(1)

Oleh karena itu, bertafakur tentang Allah demi mendalilkan Zat-Nya dan demi merenungkan Kekuasaan, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat-Nya, bukan saja tidak dilarang, melainkan merupakan sebaik-baik ibadah. Hadis lain dalam Al-Kafi menyebutkan:

لی بن الحسین علیهما السکن الوجد ، فقال : ان الله ع وجل علم أنه یکون فی الخرالزمان آوا متعون قال الله تعالی : قل هو ، والآیات من سوره الحدید للی قوله « وهولیدات الدوره

الها مرام وراء ذلک فقد هلک

'Ali ibn Al-Husain a.s. ditanya tentang tauhid. Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah Swt. tahu bahwa pada akhir zaman akan ada kaum-kaum yang mendalami (pemikiran tentang-Nya). Oleh ) قل هو الله احلا karena itu Allah Swt menurunkan (Surah Al-Tauhid Dan Allah) وهوایات الدور dan ayat - ayat dari Surah Al-Hadid, Allah mengetahui semua yang ada di hati). Maka, barang siapa melampauinya, dia akan binasa.(2)

p: 227


1- 11. Ibid., II, h. 55, hadis 5.
2- 12. Ibid., 1, h. 91, hadis 3.

Ini menunjukkan bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang pengesaan Allah Swt. dan penyucian Zat-Nya tersebut, demikian pula ayat-ayat yang menyebutkan kebenaran Hari Kebangkitan dan kembalinya setiap makhluk ke hadirat-Nya, adalah muncul untuk orang-orang yang melakukan perenungan secara mendalam.

Lantas, dapatkah seseorang tetap mengklaim bahwa bertafakur tentang Allah Swt. dilarang? Ahli ‘irfan dan filosof mana yang mengemukakan hal yang mengungguli makna yang terkandung dalam ayat-ayat Surah Al-Hadîd? Puncak prestasi mereka tak lebih dari pernyataan Telah bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan di سبیله ما فی الموت والارض bumi). Adakah penjelasan yang lebih baik dalam melukiskan Allah Swt. dan aspek-aspek Zat-Nya yang Suci selain ayat berikut ini:

Dialah Yang Pertama dan Yang Terakhir, dan Yang Lahir serta Yang Batin, dan Dia menyangkut segala sesuatu Maha Mengetahui. (QS Al-Hadîd [57]: 3)

Demi nyawa kekasihku, seandainya tidak ada lagi selain ayat ini dalam Kitab Allah yang Mulia, tentulah ia sudah cukup bagi orang-orang yang memiliki hati!

Cermatilah kembali walau sejenak Kitab Allah, pelbagai khutbah, dan hadis Nabi Suci Saw. dan para Imam yang maksum a.s., lalu perhatikanlah bahwa tidak ada ahli 'irfân atau filosof yang mengemukakan penjelasan apa pun, dan dalam disiplin ilmu apa pun, melebihi penjelasan Kitab Allah, hadis Nabi, dan para Imam a.s. Segenap ungkapan Ilahi mereka penuh dengan gambaran tentang Allah Swt. dan bukti tentang Zat serta Sifat-Sifat-Nya Yang Mahasuci, di mana setiap golongan cendekiawan beroleh manfaat dari pernyataan dan argumen mereka, sesuai dengan kapasitas pemahaman masing-masing.

Dengan demikian, dari sekumpulan hadis-hadis di atas jelas sekali bahwa bertafakur dan merenung tentang Zat Allah isu dilarang pada tingkat tertentu, yaitu menyelidiki atau mengukur misteri terdalam (kunh) Zat dan Sifat-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Al-Kafi berikut ini:

الله کیف هو ملک من نظر

p: 228

“Barang siapa bertafakur tentang Allah untuk mengetahui bagaimana Dia itu, binasalah ia.(1)

Lagi pula, hadis-hadis yang melarang tafakur dan hadis-hadis yang menganjurkannya, apabila diperhadapkan, memberikan kesimpulan bahwa orang-orang yang tidak memiliki kekuatan untuk mendengarkan argumen filosofis, tidak mampu masuk ke dalam pembahasan seperti itu, dilarang menyelam ke dalamnya. Ada sejumlah indikasi dalam beberapa riwayat yang membuktikan hal ini. Namun, bagi mereka yang berbakat untuk itu, tidak saja hal itu layak, tetapi jenis tafakur semacam ini juga merupakan bentuk ibadah tertinggi Bagaimanapun, kami benar-benar telah menyimpang dari tema kami yang semula. Tetapi, apa mau dikata, kami terpaksa membahas pandangan-pandangan rendah dan fitnah-fitnah yang dibenci Allah, yang telah merajalela pada masa-masa belakangan ini, dengan harapan agar ada pengaruh pada beberapa hati. Dan jika hanya satu orang yang mau menerima prinsip ini, itu sudahlah cukup bagi saya. Segala puji bagi Allah dan kepada-Nya juga kami mengadu: والله والید المتی

Bertafakur tentang Ciptaan

Tingkat lain tafakur adalah merenungkan keindahan-keindahan ciptaan, kesempurnaan, dan ketelitiannya, sejauh manusia dapat mela- kukannya. Tafakur seperti itu menghasilkan pengenalan akan Sumber Yang Mahasempurna dan Pencipta Yang Mahabijaksana. Metode ini bertolak belakang dari metode para shiddiq. Sebab, pada metode terakhir ini, titik tolaknya bermula dari Allah Swt. yang dari situ diperoleh pengetahuan tentang manifestasi-manifestasi kedaulatan (wilayah),

penampakan, dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Sedangkan di sini titik tolaknya adalah makhluk ciptaan dan kemudian dari situ diperoleh pengetahuan tentang Sumber dan Pembuatnya. Argumentasi dengan pendekatan semacam ini sangat tepat bagi orang awam, yang tidak mungkin menjangkau metode para shiddiq. Oleh karena itu, terkadang banyak di antara mereka yang menolak kalau tafakur tentang Allah itu dapat membawa pengetahuan tentang-Nya dan bahwa

p: 229


1- 13. Ibid., I, h. 93, hadis 5.

pengetahuan tentang-Nya itu dapat membawa pada pengetahuan tentang ciptaan-Nya. Singkat kata, tafakur tentang keajaiban-keajaiban ciptaan, ketelitian, serta kesempurnaan sistemnya, adalah termasuk pengetahuan yang bermanfaat. Ini merupakan salah satu aktivitas hati terbaik dan mengungguli segala bentuk ibadah karena hasil yang diperolehnya merupakan semulia-inulia hasil. Dan, meskipun rahasia serta hasil akhir dari pengamalan berbagai bentuk ibadah yang dilakukan manusia adalah perolehan pengetahuan (tentang-Nya), tidaklah mudah bagi kebanyakan orang untuk dapat menyingkap rahasia tersebut, tidak pula mudah memperoleh hasil seperti itu. Sesungguhnya ini hanya dapat dicapai oleh mereka yang pantas menerimanya di mana setiap kali beribadah, mereka selalu mendapatkan suatu benih yang dengannya mereka dianugerahi-Nya penyingkapan satu atau beberapa rahasia-Nya.

Betapapun, sampai saat ini manusia mengalami kesulitan untuk dapat memperoleh pengetahuan sejati tentang rahasia di balik keajaiban penciptaan berdasarkan realitas wujudnya yang sebenarnya. Sistemnya amat teliti, sempurna, dan indah sampai pada suatu keadaan di mana seandainya manusia mengamati makhluk apa pun betapapun tidak remehnya--dengan segenap ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama berabad-abad pencarian, toh ia tetap tidak akan dapat menemukan seperseribu dari misteri penciptaannya sekalipun. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin ia dapat menjangkau keagungan penciptaan alam semesta yang mahaindah, apalagi memahami kepelikan sistemnya, hanya dengan menggunakan ide-idenya yang terbatas dan tidak sempurna itu.

Nah, sekarang kami akan mengajak Anda untuk memerhatikan salah satu kepelikan penciptaan, yang relatif dekat dengan pemahaman manusia dan termasuk salah satu benda konkret yang sehari-hari dapat kita saksikan.

Bumi dan Matahari: Dua Ciptaan Agung

Saudaraku, amati dan renungkanlah hubungan antara bumi dan matahari, serta jarak yang tetap dan kecepatan yang sesuai antara

p: 230

keduanya. Lihatlah bagaimana bumi berputar pada porosnya serta berputar pula mengelilingi matahari. Putaran tersebut menyebabkan lahimnya waktu siang, malam, serta berbagai musim yang kita kenal. Betapa hal itu merupakan suatu kesempurnaan ciptaan serta kecakapan kreatif Yang Mahaarif. Seandainya tidak demikian, yakni jarak bumi sedikit lebih dekat atau lebih jauh dengan matahari, menyalahi jarak yang telah seharusnya, tentu tidak akan pernah tercipta makhluk-

makhluk hidup maupun tumbuh-tumbuhan serta berbagai jenis barang tambang, lantaran panas yang amat dahsyat dalam keadaan pertama, ataupun dingin yang sangat mengerikan pada keadaan kedua. Begitu pula andaikata bumi berhenti berputar, dengan jarak seperti yang sekarang ini, tentu tidak akan ada siang maupun malam, dan tidak akan ada pula musim-musim, bahkan bumi ini, ataupun sebagian besar belahannya, tidak akan pernah tercipta.

Permasalahan tidak terbatas sampai di sini saja. Titik bumi terjauh dari matahari (apogee) misalnya, terletak di belahan bumi bagian utara agar panas tidak berlebihan sehingga merugikan makhluk-makhluk hidup. Demikian pula titik terdekat antara matahari dan bumi (perigee), terletak di arah selatan sehingga tidak ada bahaya yang mengancam penduduk bumi. Ini pun belum cukup. Bulan-yang juga berperan dalam memelihara kelestarian makhluk-makhluk bumi—berlawanan

arah dengan matahari dalam peredarannya, di mana ketika matahari berada di wilayah utara bumi, bulan terlihat di selatannya. Demikian pula sebaliknya, yakni ketika dalam peredarannya, bulan terletak di utara bumi, maka matahari berada di selatannya. Hal ini demikian semata-mata agar para penduduk bumi mengambil manfaat dari peredaran tersebut. Ini semua merupakan di antara hal-hal nyata yang sudah pasti terjadi. Namun, untuk dapat menguasai rahasia kepelikan dan ketelitian alam raya ini, tidak ada yang dapat menjangkaunya kecuali Sang Pencipta yang Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu. Mengapa kita harus melakukan pengamatan sejauh ini? Sebaiknya hendaklah setiap manusia merenungkan keajaiban penciptaan pada dirinya sendiri, sejauh kemampuannya dan jangkauan rasionya. Pertama-tama yang perlu diamatinya adalah indra lahiriahnya yang telah dibuat berdasarkan kapasitas objek-objek indriawi yang bersifat

p: 231

materiil di sekelilingnya. Semua benda di dunia ini--sekecil apa pun ia—dapat dijangkau oleh indra manusia dengan kekuatan jangkauan yang sangat mengherankan Sedangkan hal-hal yang bersifat imateriil dan tidak dapat dijangkau oleh indra lahiriah, dapat ditangkap oleh indra batin. Marilah kita kesampingkan terlebih dahulu permasalahan ruh atau nyawa manusia yang tidak mungkin dapat dipahami oleh setiap manusia. Renungkanlah keajaiban tubuh manusia, anatominya, bentuk

fisiknya, dan fungsi masing-masing organ luar dan dalamnya. Lihatlah betapa itu merupakan sistem yang menakjubkan dan keteraturannya sungguh luar biasa! Manusia menganggap penciptaan tubuhnya demikian hebat padahal ilmu pengetahuan yang diperolehnya sampai saat ini belum-bahkan tidak akan pernah walau seratus abad mendatang-mencapai seperseribunya untuk dapat menjangkau pengetahuan tentang kehebatan penciptaan tubuhnya itu. Hal ini diakui sendiri oleh para ilmuwan, padahal tubuh manusia ini jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk bumi lainnya tidak lebih dari sebuah bintik yang tidak berarti. Bumi dengan segenap isinya pun tidak berarti apa-apa jika dibanding dengan sistem tata surya. Demikian pula segenap tata surya kita tidak ada artirya dibandingkan dengan tata surya dan galaksi-galaksi lain. Dan, semua sistem makro dan mikro jagat raya ini merupakan suatu ciptaan yang telah terbentuk berdasarkan pengaturan yang demikian cermat, di mana orang tidak akan dapat menemukan adanya kecacatan padanya sedikit pun. Kritikan terhadap benda sekecil apa pun pada alam semesta ini tidak mungkin ia dapatkan. Akal semua manusia di dunia ini tidak dapai. memahami bahkan satu rahasia di antara beribu-ribu kepelikan dan misterinya sekalipun. Maka setelah perenungan ini, masihkah akal Anda memerlukan argumentasi lain untuk mengakui bahwa Zat Yang Mahakuasa lagi Mahaarif, yang tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya, telah menciptakan semua makhluk ini dengan sedemikian teratur dan pelik?

«قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِی اللَّهِ شَکٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْض

Masihkah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi? .... (QS Ibrâhîm (14): 10)

p: 232

Segenap alam raya yang demikian teratur, sistematik, dan tidak dapat dipahami akal manusia, tidaklah muncul secara sia-sia dan begitu saja dengan sendirinya. Butalah mata batin yang tidak dapat melihat Allah dan tidak dapat menyaksikan keindahan-Nya di balik keajaiban makhluk-makhluk ini! Binasalah orang yang tetap berada dalam keraguan setelah dia melihat semua bukti dan tanda-Nya ini! Namun, apa lagi yang dapat dilakukan oleh orang yang keadaannya amat memprihatinkan itu, yang telah dikuasai oleh fantasi-fantasi dirinya? Seandainya Anda lihat tasbih Anda, lalu Anda mengklaim bahwa butir-butirnya tersusun pada benang dengan sendirinya, tanpa ada orang yang menyusunnya, pastilah semua orang akan menertawakan Anda. Lebih lucu lagi kalau Anda mengeluarkan jam tangan dari saku Anda, lalu Anda membuat klaim serupa tentang asal usul jam itu. Jika ini yang Anda lakukan, tidakkah mereka akan mengeluarkan Anda dari daftar orang berakal? Tidakkah semua orang berakal di dunia ini akan menganggap Anda gila? Kalau orang yang memandang tidak adanya hukum sebab akibat dalam asal mula lahirnya sebuah benda remeh seperti jam tangan di atas, dianggap gila, dan akan dicabut semua haknya yang merupakan hak orang-orang yang berakal sehat, lalu sebutan apa yang tepat bagi orang yang mengklaim bahwa bukan saja segenap sistem kosmik alam raya ini, melainkan juga manusia dan sistem kompleks tubuh dan jiwanya, maujud dengan sendirinya? Masihkah dia dianggap orang yang sehat akalnya? Ketololan apa yang lebih tolol daripada orang semacam itu? «قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَکْفَرَهُ (17)» Binasalah manusia! Apa yang telah membuatnya menjadi kafir? (QS'Abasa 80:17)

Bertafakur tentang Keadaan Ruh Manusia

Salah satu tingkatan tafakur adalah bertafakur tentang keadaan-keadaan ruh manusia, yang akan menghasilkan pengetahuan luas berbagai manfaat positif. Di sini, kami akan membahas dua manfaat yang dapat diperoleh dari jenis tafakur tersebut: yang pertama adalah pengetahuan tentang Hari Kebangkitan dan yang kedua adalah pengetahuan tentang (keharusan adanya) pengutusan nabi dan penurunan

p: 233

kitab suci-yaitu kenabian secara umum dan sisten-sistem hukum Allah yang benar. Salah satu karakter ruh manusia adalah sifatnya yang imateriil, satu-satunya permasalahan yang telah menjadi bahan kajian kaum arif, melebihi permasalahan-permasalahan lainnya. Namun, di sini kami bukan bermaksud membahas permasalahan ini. Kami hanya akan mengemukakan beberapa pengantar sederhana yang tidak sulit untuk dipahami, lalu kembali ke pokok persoalan kita.

Dapat dikatakan bahwa semua dokter, ilmuwan, dan ahli anatomi sepakat bahwa semua organ manusia, mulai dari otak-yang merupakan pusat kendali seluruh kemampuan manusia dan tempat lahirnya berbagai kekuatan jiwa-hingga ke bagian-bagian kasar dari organ-organ tubuhnya, seluruhnya melemah dan merosot keadaannya setelah usia tiga puluh atau tiga puluh lima tahun. Kita sendiri telah mengalami betapa kelemahan menimpa organ-organ tubuh setelah usia itu. Namun, pada usia yang sama, yaitu usia tiga puluh atau empat puluh tahun ke atas, sisi spiritual dan persepsi-persepsi intelektual semakin berkembang dan kuat. Ini mengandung arti bahwa kekuatan rasional manusia tidaklah bersifat fisik, sebab seandainya bersifat fisik tentu akan merosot juga keadaan dan fungsinya. Sebagai-

mana tidak tepat mengatakan bahwa kekuatan rasional semakin meningkat dengan banyaknya pengalaman dan berbagai aktivitas intelektual, karena semua kekuatan fisik akan mengalami kelemahan dan kemerosotan akibat aktivitas yang terus-menerus dan energi yang makin terkuras, bukan malah bertambah kuat ataupun sempuma sebagaimana anggapan tadi. Hal ini membuktikan bahwa daya intelektual bukanlah bersifat fisik. Pendapat yang beranggapan bahwa daya pikir akan melemah di usia tua seperti melemahnya fisik manusia ini tidak berdasar sama sekali karena, pertama, tidak ada daya fisik tertentu pada tubuh yang

tumbuh dan berkembang kuat hingga usia 30-40 tahun sehingga tidak mungkin pula dikatakan bahwa organ tertentu pada tubuh adalah pusat persepsi intelektual yang tumbuh kuat hingga usia 30-40 tahun, dan kemudian setelah melemahnya organ ini, melemah pula daya intelektual pada tubuh.

p: 234

Alasan kedua, apakah kelemahan yang terus berlangsung hingga usia pertengahan itu berkaitan dengan daya pikir, seperti halnya daya fisik, atau daya pikir itu sendiri yang memerlukan bantuan kekuatan fisik sehingga ketika fisik—tempat bersemayamnya daya pikir----melemah, fisik ini dapat menghambat aktivitas daya pikir? Tentu jawabannya tidak. Sanggahan yang dikemukakan tadi berkaitan dengan daya pikir. Adapun persepsi-persepsi intelektual murni dan bakat-bakat utama yang dimiliki manusia tentunya lebih tinggi dan terus menjadi semakin kuat dibandingkan dengan sebelumnya pada usia pertengahan, meskipun ekspresi dan manifestasi lahiriahnya boleh jadi berkurang. Pendek kata, yang kami kemukakan mengenai menguatnya daya intelektualitas seiring dengan melemahnya fisik di atas sudah cukup untuk membuktikan teori kami bahwa ruh manusia bersifat imateriil.

Di samping penjelasan di atas, perlu ditambahkan untuk membantah anggapan salah bahwa daya intelektual bersifat fisik, bahwa tatkala ruh menyerap kekuatan dari jasmani sehingga menjadi kuat, di sini apabila kekuatan yang diserapnya lebih dekat dan cenderung kepada alam jasmani, dapat dipastikan bahwa ruh tersebut akan lebih cepat melemah dan pudar kekuatannya. Sebaliknya, apabila kekuatan ruh relatif lebih jauh dengan alam jasmani, ini akan lebih memperlambat kelemahannya. Dengan demikian, jelaslah bahwa setiap daya yang memiliki ikatan dengan alam ruh akan tumbuh dan berkembang bertambah kuat seiring dengan bertambahnya usia manusia. Ini membuktikan bahwa ruh itu sifatnya bukanlah jasmani atau fisik.

Dapat pula ditambahkan bahwa sifat, pengaruh, dan aktivitas jiwa itu berlawanan dengan sifat, pengaruh, dan aktivitas organ-organ jasmani secara mutlak. Ini semakin membuktikan bahwa ruh tidak bersifat jasmani. Misalnya, kita tahu bahwa setiap benda jasmani tidak menerima lebih dari satu bentuk. Kalau ada bentuk lain yang akan dimilikinya, bentuk yang sebelumnya sudah dimilikinya itu harus dilepaskannya. Jika Anda melukis sebuah gambar pada kertas, Anda tidak dapat melukis gambar lain di tempat yang sama, kecuali apabila

p: 235

gambar yang pertama Anda hapus. Prinsip ini berlaku pada semua jenis benda jasmani. Berbeda halnya dengan sifat ruh, di mana pada saat satu bentuk terterakan padanya, bentuk-bentuk lain yang sepenuhnya berbeda dapat pula diterakan padanya tanpa menghapus bentuk yang pertama. Di samping itu, setiap benda jasmani hanya dapat menerima bentuk- bentuk terbatas, sedangkan ruh dapat menerima bentuk-bentuk tak terbatas. Karena itulah, jiwa dapat mengendalikan hal-hal yang tidak-terbatas. Juga, setiap benda jasmani, jika kehilangan satu bentuk, bentuk itu tidak dapat dikembalikan kepada benda jasadi itu, kecuali kalau ada sebab baru. Namun, dalam hal ruh, bentuk apa pun yang meninggalkannya akan kembali kepada jiwa tanpa adanya sebab baru. dengan demikian, jelaslah bahwa ruh berbeda dengan semua benda jasmani dalam hal sifat, pengaruh, dan aktivitasnya, yakni ruh bersifat non-materi dan tidak termasuk kelompok benda-benda ataupun objek fisik. Hal-hal yang bersifat ruhani tidak dapat rusak-seperti telah dikemukakan pada pembahasan-pembahasan yang lalu--sebab kerusakan hanya dapat terjadi pada benda-benda yang berpotensi rusak, dan tentunya hal-hal yang bersifat ruhani terlepas dari kemungkinan seperti itu karena kerusakan adalah salah satu sifat benda fisik. Oleh karena itu, kerusakan tidak mungkin terjadi pada ruh. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa ruh tidak rusak bersamaan dengan rusaknya jasad, atau setelah berpisahnya ruh dari jasad. Ruh tetap berada di alam lain dan tidak mengalami kepunahan. Inilah yang disebut kebangkitan ruhani, sebelum Hari Kebangkitan, sampai Allah Swt. menghendakinya menyatu dengan tubuh. Sebagaimana telah dikemukakan di atas, kami di sini bermaksud membuktikan kebenaran adanya Hari Kebangkitan, dan permasalahan ini semakin jelas lagi dengan diketengahkannya pengantar-pengantar di atas. Kita juga perlu mengetahui bahwa ruh dapat mengalami keadaan sehat dan sakit, sempurna dan rusak, senang dan sedih. Siapa pun tidak mungkin dapat mengetahui dimensi-dimensinya, rahasia kedalamannya, manfaat dan keburukannya, kecuali Zat Suci Allah Swt. Oleh karena itu, dalam sebuah sistem mahasempurna, yang merupakan sebaik-baik sistem yang ada--dan telah dijelaskan sebelum ini

p: 236

bahwa pembuat sistem maha sempurna harus Zat Yang Maha sempurna dan Maha Meliputi segala sesuatu—mustahil ada kelalaian menjelaskan perihal pengenalan jalan-jalan kebahagiaan dan kesengsaraan, jalan-jalan yang membimbing pada pengenalan kebenaran dan kerusakan serta metode-metode penyembuhan jiwa. Ini karena kelalaian semacam itu akan mengandung arti tidak sempurnanya pengetahuan dan kuasa-Nya, serta menandakan adanya sifat zalim dan kikir tanpa sebab yang jelas. Telah jelas di atas bahwa Zat Allah Yang Mahakudus tersucikan dari sifat-sifat buruk tersebut. Dialah Yang Mahasempurna secara mutlak, dan Maha Pemberi anugerah secara mutlak. Kelalaian memberikan petunjuk menuju pengenalan jalan pengetahuan dan kesengsaraan akan mengandung arti cacatnya kearifan Allah dan akan menimbulkan kekacauan sistem alam semesta. Jadi, sistem sempurna itu harus memperkenalkan jalan-jalan menuju kebahagiaan. Dari penjelasan ini, lahir dua kesimpulan tegas. Yang pertama adalah bahwa syariat yang merupakan resep khusus untuk penyembuhan berbagai penyakit spiritual tidak ada kecuali pada Zat Suci Swt. Yang kedua adalah bahwa Allah pasti memberitahukan syariat tersebut kepada manusia. Seperti diketahui bahwa tujuan

agung dan pengetahuan yang sempurna dan rinci seperti ini-yang dapat mencakup alam jasmani dan alam ruhani, serta pengaruh bentuk-bentuk jasmani terhadap wilayah ruhani—tidak mungkin diketahui oleh seorang pun kecuali melalui perantaraan wahyu atau ilham, yakni harus melalui sarana ajaran Allah. Jelaslah bahwa setiap manusia tidak patut ataupun layak memperoleh karunia seperti itu. Namun, dalam beberapa abad, muncul manusia yang pantas mengemban tugas suci tersebut serta mewujudkan cita-cita besar di muka bumi. Allah Swt. mengutusnya untuk menjelaskan kepada umat manusia pengetahuan mengenai jalan-jalan kebahagiaan dan kesengsaraan sambil mengajari mereka tentang bagaimana mereka memperbaiki diri mereka sendiri. Inilah yang dinamakan dengan kenabian umum. Setelah pembicaraan kita sampai di sini, terganjal dalam benak saya permasalahan lain yang perlu saya tambahkan lagi dan saya menganggapnya sebagai sesuatu yang amat swanyata, yaitu bahwa

p: 237

setelah kita ketahui adanya keharusan penurunan svariat Allah swt. kepada umat manusia dan perlunya kembali ke syariat-syariat yang berlaku bagi seluruh umat manusia—yaitu tiga syariat besar yang kita kenal: Yahudi, Kristen, dan Islam—-maka otomatis kita akan ketahui bahwa syariat Islam adalah syariat terlengkap dan mengungguli dua syariat lainnya, dalam tiga dimensi utamanya, di mana dimensi-dimensi tersebut merupakan tonggak penyangga berlakunya sebuah syariat. Yang pertama berkenaan dengan doktrin-doktrin sejati dan ajaran-ajaran Allah tentang Sifat-Sifat-Nya serta penyucian Zat-Nya dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya serta cara-caranya, pengetahuan tentang malaikat dan sifat-sifat para nabi a.s. dan keterhindaran mereka dari dosa, yang merupakan komporen utama syariat

itu; yang kedua adalah berkaitan dengan perilaku-perilaku mulia, sifat-sifat terpuji serta penyucian jiwa; yang ketiga adalah tentang perilaku-perilaku individu, sosial dan politis, dan lain sebagainya. Bahkan setiap orang yang hendak melakukan penilaian secara objektif dan tidak memiliki kecuali tujuan positif dalam penilaiannya itu, akan dapat mengetahui bahwa Islam terlalu tinggi untuk dapat diperbandingkan dengan agama lainnya dan bahwa sejarah manusia tidak pernah menyaksikan adanya syariat serta hukum sesempurna Islam dalam kesempurnaan seluruh aspek kehidupan dunia dan akhiratnya. Ini sendiri merupakan argumentasi yang paling kuat tentang kebenaran agania Islam. Oleh karena itu, setelah pengukuhan doktrin kenabian umum dan bahwasanya Allah Swt. telah menetapkan syariat-Nya untuk umat manusia serta menjelaskan kepada mereka jalan petunjuk dan meletakkan mereka dalam luar lingkup sebuah sistem, maka untuk membuktikan kebenaran Islam, sama sekali tidak lagi diperlukan pengantar apa pun, tetapi cukup dengan menelaahnya dan membandingkannya dengan hukum-hukum dan agama-

agama lainnya—mulai dari kebutuhannya akan potensi-potensi bajik dan pengetahuan spiritual, hingga ke tanggung jawab individual dan sosial. Dan, inilah makna hadis suci berikut ini: الأحلام یعلو ولا یلی علیه

p: 238

“Islam mengungguli (semua keyakinan) dan tidak terungguli (oleh keyakinan apa pun)."

Ini karena semakin bertambah maju dan berkembang akal manusia dalam pengetahuannya dan semakin banyak ia menelaah berbagai argumentasi Islam, semakin bertambah pula ketundukannya di hadapan cahaya petunjuknya dan semakin kuat argumentasi-argumen- tasi yang dimilikinya sehingga tidak ada satu tuduhan atau bantahan pun terhadap Islam kecuali dia dapat menjawab dan menolaknya. Kesimpulan dari argumen-argumen kami tentang kenabian penutup para nabi Saw. adalah bahwa ketika kesempurnaan penciptaan makhluk-makhluk serta tatanannya yang demikian indah, teratur dan sempurna, merupakan argumentasi kuat yang mengarahkan kita kepada pengakuan akan keberadaan Sang Pencipta sekaligus Maha Pengatur Yang Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang bersifat

besar maupun kecil. Demikian pula kesempurnaan hukum-hukum syariat dan keteraturan sistemnya serta perannya yang menjamin berbagai kebutuhan materi maupun spiritual, dunia dan akhirat, serta individu maupun kolektif, hal ini mendorong kita pada keyakinan bahwa Pembuat syariat dan Pengatur sistemnya adalah Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha Meliputi segala macam kebutuhan masyarakat manusia. Dan, sebagaimana akal memandu kita pada keyakinan akan sebuah realitas bahwa akal yang dimiliki manusia ini di mana seluruh sejarahwan dunia telah mencatat riwayatnya bahwa ia pada mulanya adalah seorang buta huruf yang hidup dalam sebuah lingkungan yang tidak mengenal kesempurnaan serta kosong dari berbagai pengetahuan-tidak mungkin mampu membuat sistem yang sarat dengan keteraturan dan kesempurnaan luar biasa. Demikian pula, secara pasti kita harus mengakui bahwa syariat ini ditetapkan di sisi Zat Yang Mahagaib serta di alam metafisik, turun melalui proses wahyu dan ilham kepada manusia agung itu (Nabi Muhammad Saw.). Dan, segala puji bagi Allah atas jelasnya hujah-hujah.

Kami memang bermaksud menguraikan tafakur jenis lain, yakni tafakur tentang alam dunia dan zuhud sebagai buahnya. Namun, karena pena ini tak terkendali pada tahap-tahap pembahasan sebelumnya sehingga menjadikan pembahasan ini agak lebih panjang dan

p: 239

terkadang keluar dari persoalan yang dimaksudkan, kami tidak jadi menguraikannya.

Keutamaan-Keutamaan Shalat Tengah Malam

Nah, kini tinggal menerangkan dua frasa yang terdapat dalam hadis mulia ini, Amir Al-Mukminin Al-Imam 'Ali a.s. telah menyandingkan tindakan hati, yaitu tafakur dan takwa kepada Allah, bersama dengan bangun tengah malam, dan menjauh dari tempat tidur demi ibadah. Ini membuktikan keutamaan shalat tengah malam, sebagaimana banyak hadis pun menyebutkan kemuliaan amalan ini. Dari biografi para Imam a.s., para arif besar, dan ulama terkemuka, dapat disimpulkan bahwa mereka semua tekun menjalankan shalat tengah malam, bahkan mereka berusaha keras agar selalu tetap bangun pada setiap sepertiga malam terlepas apakah untuk tujuan menunaikan shalat malam tersebut atau bukan.

Dalam Wasâ'il Al-Syi'ah (kitab terbesar kaum Syiah, yang merupakan poros mazhab Syi'ah dan buku-sumber bagi ulama dan ahli fiqih Syi'ah), tertera empat puluh satu hadis tentang keutamaan bangun tengah malam ini dan ada beberapa hadis tentang tidak disukainya menghentikan kebiasaan bangun tengah malam ini. Tentu saja banyak sekali hadis serupa dalam kitab-kitab doa. Namun, di sini kami hanya akan mengutip beberapa di antaranya, dengan harapan mendapatkan barakahnya. Hadis-hadis itu adalah sebagai berikut:

اباعبدالله علیه معاون عمار قال : سم عن الکاف پانارو و علی قال : السلام یقول : کان فی وصیه التی صلی الله علیه وآله یا علی اویک فی نیک پخصال قلها ثم قال : الله عنه، إلی أن قال : وعلیک بصلاه اللیل ولیک صلاه اللیل وعلیک صلاه اللیل

Diriwayatkan dalam. Al-Kafi, dari Mu'awiyyah ibn Ammar, yang mengatakan bahwa dia mendengar Al-Imam Al-Shadiq a.s. berkata, “Dalam wasiat yang disampaikan kepada 'Ali a.s. oleh Nabi Saw.,

p: 240

beliau bersabda, 'Wahai ‘Ali, aku wasiatkan kepadamu tentang kebiasaan-kebiasaan tertentu yang harus kamu jaga. Kemudian abi Saw. berdoa, 'Ya Allah, tolonglah dia.' Lalu (melanjutkan nasihatnya) beliau berkata, 'Lakukanlah shalat tengah malam Lakukanlah shalat tengah malam. Lakukanlah shalat tengah malam.(1) Dari isi hadis ini, dapat diketahui pentingnya amalan shalat tengah malam;

وین الخصال پاشادوک أبی عبد الله (ع ) قال : قال اللب لجبریل و آب ماش وانک عظین ، فقال : یا تدع ماشئت وانک م مفارق والماشت قائک لاقیه واعام (ا ) شف ابن قیامه اللیل ویژه که اغراض التای

Diriwayatkan dalam Al-Khishâl bahwa Abu 'Abdillah a.s. telah berkata, “Nabi Saw. meminta Jibril untuk menasihatinya tentang sesuatu. Jibril berkata, 'Wahai Muhammad! Hiduplah seperti yang engkau kehendaki karena sesungguhnya engkau kelak akan meninggal. Dan, cintailah apa pun yang engkau sukai karena sesungguhnya engkau akan berpisah darinya. Bertindaklah sebagai mana engkau mau karena sesungguhnya engkau akan menemuinya. Ketahuilah bahwa keutamaan seorang Mukmin adalah ketika dia bangun di tengah malam dan kemuliaannya ketika ia tercegah untuk tidak merusak kehormatan orang.(2) Pengkhususan nasihat agung terhadap Rasulullah Saw. dengan nasihat semacam ini adalah menunjukkan amat pentingnya pesan nasihat tersebut. Seandainya Jibril, a.s. memandang ada yang lebih penting daripada nasihat yang disampaikannya tersebut, tentu dia akan menyebutkannya dalam nasihatnya itu.

ین : فمن کوفی المالیں ہاشتایر و ت ابن عباس قال : قال رسول الله فی رقصه الی مقبل أوامه قام له مخلصافاو، اینگا

p: 241


1- 14. Al-Kulaini, Raudhah Al-Kafi, h. 162; Al-Hurr Al-Amili, Wasa'il Al-Syi'ah, V, 268; Al-Syaikh Al-Shaduq, Man là Yahdhuruhû Al-Faqih, I, 484; Al-Kulaini, Furû Al-Kafi, 1, h.73.
2- 15. Al-Syaikh Al-Shaduq, Tsawab Al-A'mal, h. 63, hadis 41; man la yahdhuruhû al-faqih, I. h. 471.

ولی به وکل بنیه صایقه وقلی سلیروین دامعه جعل الله تقالی تلفه سبع صفوف من الماده مص الایده الا الله. أدویاتصف بالمشرق والاخر بالمرب. اذا فرغ و بعدیه دجاټ کتب الله

Dalam Al-Majális, diriwayatkan dari Ibn 'Abbas bahwa Nabi Saw. bersabda dalam sebuah hadis, “Barang siapa yang dikaruniai rezeki (dapat melakukan) shalat malam baik ia seorang hamba laki-laki maupun perempuan, lalu dia bangun demi beribadah ikhlas kepada Allah, kemudian berwudhu dan shalat demi Allah Swt. dengan niat yang ikhlas, sepenuh hati, dan dengan mata yang membasah, Allah Swt. menunjuk tujuh baris malaikat (untuk shalat) di belakangnya. Hanya Allahlah yang dapat menghitung jumlah mereka, yang berbaris dari timur sampai ke barat. Ketika dia selesai shalat, Allah Swt. menuliskan derajat-derajat untuknya yang sama dengan jumlah mereka.(1)

:

وین الحلل پاشا و إلی آنیں ، قال : سمعت رسول الله یقوی التان فی جوف اللیل ان الی من الدنیا وما فیها

Dalam 'Nal Al-Syarâ'r', diriwayatkan dari Anas yang mendengar Rasulullah bersabda, “Dua rakaat shalat yang ditunaikan di tengah malam lebih aku sukai daripada segenap dunia beserta isinya.(2) Dalam sejumlah hadis, diriwayatkan pula bahwa shalat tengah malam merupakan kehormatan dan kemuliaan seorang Mukmin, dan perhiasan akhirat, sebagaimana halnya anak dan kekayaan adalah perhiasaan dunia ini.

ول ون العلل ہاشتایه الی جابر بن عبد الله الانصاری قال: متم الله یقول : ما اخد الله ابراهیم خلیلا اله طعام الطعام و لانه نیا باللیل والناس

p: 242


1- 16. Wasâ’il Al-Syi'ah, V. h. 275.
2- 17. Al-Syaikh Al-Shaduq, ‘llal Al-Syarâ'i, h. 138.

Dalam 'Ilal Al-Syarâ'i', diriwayatkan pula bahwa Jabir telah mendengar Nabi Saw. bersabda, “Allah tidak menjadikan Ibrahim a.s. sebagai kekasih (khalil) kecuali karena dia memberi makan orang dan melakukan shalat tengah malam pada saat orang tengah tertidur pulas.(1)

Seandainya shalat tengah malam tidak memiliki keutamaan lain selain ini, hal itu sudah cukup tetapi tentu saja bagi orang yang pantas memiliki keutamaan tersebut (yakni Nabi Ibrahim a.s.), bukan orang-orang seperti penulis. Kita tidak mengetahui sedikit pun tentang sisi kemuliaan di balik pakaian kebesaran yang bernama kekasih Tuhan dan alasan mengapa Allah Swt. menjadikan hamba-Nya sebagai kekasih. Akal manusia tidak mampu memahaminya. Seandainya semua orang di surga menyambut, memuliakan, dan menjamu sang kekasih Tuhan dengan aneka nikmat yang ada di sana—tentu dia tidak akan tertarik sedikit pun dengan semua itu selama dia bersama Kekasihnya, Allah Swt. Ini sama halnya dengan Anda yang memiliki seorang kekasih atau sahabat karib yang Anda cintai yang mendatangi

Anda. Tentu saat itu Anda akan menyambutnya dan segera meninggalkan segala kenikmatan ataupun kelezatan yang berada di sekeliling Anda, dengan cukup menikmati keindahan sang kekasih serta kesyahduan perjumpaan dengannya. Meskipun ilustrasi semacam ini sebenarnya terlalu jauh untuk dapat disamakan dengan realitas sang khalil yang dicintai Allah swt.

وعن علی بن إبراهیم باتاروت أبو عبد الله قات ماینل حسن یتحمل العهد الأول ثواب فی الان اصلا اللیل . فإن الله یبین ثوابها لیخطوها عده تتافالجهین المضاجع دون . فلا تعلم نفتا أخفی به وفا وطمعا وتماری ن جاء بما کانوا یعملون ه أین له

Dari 'Ali ibn Ibrahim yang meriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s. bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu perbuatan baik pun yang dilakukan oleh seorang hamba Allah, melainkan pahalanya

p: 243


1- 18. Ibid., h. 23; Wasâ'il Al-Syi'ah, V, h. 276.

telah ditetapkan dalam Al-Quran, kecuali shalat tengah malam, karena Allah tidak menjelaskan pahalanya karena sedemikian tinggi nilainya di sisi-Nya. (Allah berfirman dalam Al-Quran), Kedua sisi mereka jauh dari tempat tidur mereka karena mereka menyeru kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap dan mereka menginjakkan dari apa yang Kami berikan kepada mereka. Tak ada jiwa pun yang tahu kesenangan yang disembunyikan yang diperuntukkan bagi mereka, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Sajdah (32): 16-17)(1)

Kira-kira, apakah nikmat dan kesenangan yang dirahasiakan oleh Allah Swt. penyebutannya sehingga tidak ada seorang pun yang me ngetahuinya? Kalau itu merupakan sesuatu yang sama dengan sungai-sungai yang mengalir, atau istana-istana megah dan besar, serta aneka macam karunia di surga, tentu Dia akan melukiskannya-seperti halnya amal-amal lain, yang telah diketahui oleh para malaikat (setidak-tidaknya).

Namun, tampaknya kenikmatan yang dijanjikan-Nya itu bukan termasuk kelompok nikmat yang disebutkan dalam Al-Quran dan dapat diketahui oleh semua makhluk. Ia terlalu agung untuk dapat diceritakan kepada seorang hamba sekalipun, khususnya kepada salah seorang dari penduduk dunia. Sesungguhnya nikmat-nikmat di akhirat tidak dapat dipersamakan dengan aneka kenikmatan di alam dunia ini. Janganlah pula Anda membayangkan bahwa surga dan taman-tamannya di akhirat sama dengan taman-taman dunia ini, atau mungkin Anda beranggapan bahwa taman-taman di alam sana lebih luas dan lebih indah dan agung daripada taman-taman di alam sini. Di sanalah tempat Kemuliaan Tuhan serta tempat penjamuan-Nya. Dunia fana ini tak ada artinya sama sekali jika dibandirg dengan sehelai

rambut bidadari surga. Bahkan tidak berarti dibanding sehelai benang dari pakaian-pakaian yang diperuntukkan bagi penghuni surga. Sekalipun demikian, Allah Swt. tidak menyebutkan ini semua sebagai pahala bagi orang yang menunaikan shalat tengah malam. Allah hanya menyebutkannya dalam konteks pergagungan orang

yang melakukannya. Namun, sungguh amat jauh untuk dapat mencapai prestasi semacam itu bagi kita yang lemah keimanannya. Kita adalah

p: 244


1- 19. 'Ila Al-Syarâ’i-, h. 23, Wasâ’il Al-Syi'ah, V, h. 276.

orang-orang yang tidak memiliki keyakinan mantap. Kalau benar kita tidak demikian, tentu kita tidak akan terus-menerus tenggelam dalam kelalaian kita sehingga sering kali kita lelap tidur hingga pagi hari. Jika bangun tengah malam membuat manusia semakin memahami hakikat dan rahasia shalat, tentu dia akan selalu akrab dengan mengingat Allah Swt. dan bertafakur tentang-Nya, dan pastilah dia gunakan malam-malamnya sebagai kendaraannya dalam melakukan miʻrâj ruhani ke hadirat-Nya. Pahala yang akan diterima orang ini tidak lain adalah anugerah menyaksikan keindahan Zat Yang Hagg dan Mahaindah.

Celakalah kita—orang yang lalai-yang tidak pernah bangun dari tidur pada malam hari hingga akhir hayat. Kita terus lelap tenggelam dalam kemabukan dunia! Celakalah kita, yang dari hari ke hari semakin mabuk dan lalai! Sedangkan kita tidak memahami apa pun dari dunia ini selain kebiasaan-kebiasaan hewani seperti makan, minum, dan melakukan hubungan seks! Sekalipun kita melakukan semua itu dengan niat ibadah, sebenarnya kita bermaksud memenuhi kebutuhan-kebutuhan perut dan di bawahnya. Apakah Anda mengira bahwa shalatnya sang kekasih (khalil) Tuhan, yaitu Nabi Ibrahim a.s., sama dengan shalatnya kita? Beliau tidak menyampaikan keinginan-keinginannya kepada Jibril sekalipun, sedangkan kita tak ragu-ragu meminta kepada setan dengan anggapan bahwa dia cukup kuasa untuk mengabulkan permohonan kita dan memenuhi keinginan-keinginan kita! Namun, kita tak boleh berputus asa. Boleh jadi setelah beberapa lama membiasakan bangun malam dan mulai melakukannya secara rutin, Allah Swt. akan menolong Anda secara berangsur-angsur, dan dengan rahmat-Nya yang tak terlihat, Dia memakaikan Anda pakaian kasih sayang-Nya. Anda juga harus selalu mengingat rahasia dan hikmah ibadah secara umum, dan janganlah membatasi perhatian

Anda hanya dalam memperbaiki keindahan bacaan serta hal-hal yang bersifat lahiriah dalam praktik-praktik ibadah yang Anda lakukan itu. Apabila Anda tidak dapat menunaikannya dengan kesucian niat, setidak-tidaknya berupayalah untuk memperoleh sebuah balasan kenikmatan yang disembunyikan Allah Swt. sebagai balasan bagi yang

p: 245

melakukan shalat tengah malam. Ingatlah dalam doa-doa yang Anda panjatkan akan diri Anda yang tak memiliki apa-apa, pendosa dan yang berkarakter seperti binatang, yang pola hidupnya tidak berbeda dengan binatang. Kemudian, setelah terus-menerus Anda melakukan-nya lalu Anda merasakan adanya semangat dalam diri Anda, bacalah dengan khusyuk dan riat yang ikhlas doa ini:

الله ارقی الثانی عن دار النمو والکتابه إلی کا ألویر والاستعداد یموت قبل حلول الفوټ

Ya Allah, Anugerahilah daku kejauhan dari tempat tipu daya, dan kembali ke tempat keabadian serta kesiapan untuk mati, sebelum hilangnya kesempatan. (1)

Apakah Takwa Itu?

Takwa berasal dari kata wiqâyah, yang artinya penjagaan'. Dalam istilah umum dan hadis-hadis, takwa didefinisikan sebagai menjaga diri dari pelanggaran terhadap perintah-perintah Allah dan larangar-Nya serta segala hal yang menyebabkan terhalangnya keridhaan-Nya’ Kata ini sering kali didefinisikan dengan menjaga diri sepenuhnya sehingga tidak terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan haram, yaitu dengan meninggalkan segala sesuatu yang bersifat syubhat (belum diketahui pasti kehalalannya). Dikatakan bahwa:

ومن أخذ بالشبهات وقع فی المحرمات وهلک من حیث لایک ومن تعوفک الحمی وشک ان یقع فیه

“Barang siapa terjerumus ke dalam hal-hal syubhat, pasti dia terjatuh ke dalam hal-hal haram sehingga binasa tanpa dia ketahui."

Dalam hadis lain dikatakan:

“Barang siapa yang bermain di sekitar lumpur (segala sesuatu yang syubhat), ia nyaris terperangkap di dalamnya. (2)

p: 246


1- 20. Syaikh Abbas Al-Qummi, Mafatih Al-Jinân.
2- 21. Wasâ’il Al-Syi'ah.

Perlu diketahui bahwa sekalipun takwa tidak merupakan satu-satunya anak tangga menuju kesempurnaan dan pencapaian puncak spiritual, tanpanya mustahil kesempurnaan tersebut dapat dicapai. Sebab, selama jiwa seseorang terkotori oleh perbuatan-perbuatan haram-senantiasa cenderung kepada keinginan-keinginan dan kelezatan jasmani serta cenderung untuk merasakan kemanisannya (sifat-sifat) kemanusiaan pada jiwa yang bersangkutan dengan sendiri-nya akan menjadi hilang. Dan pada gilirannya, mustahil ia dapat mencapai derajat-derajat kesempurnaan kemanusiaannya. Selama rasa cinta dunia dan kebergantungan padanya masih melekat di dalam hati, dia tidak mungkin dapat mencapai maqâm kaum mutawashshithîn (kelompok orang moderat) dan zâhidîn (kelompok orang zuhud).

Selama cinta diri tertanam dalam esensinya, dia tidak akan mencapai maqam orang-orang yang ikhlas (mukhlishin) dan mencintai Allah. Begitu cinta dunia (mulk) dan akhirat (malakût) ada dalam hatinya, dia tidak akan mencapai maqâm tinggi para majdzûb (orang yang terbenam dalam Tuhan dan terlepas dari segala ikatan duniawi). Hal itu lantaran sedemikian banyaknya nama (manifestasi-manifestasi Ilahi) yang telah melekat dalam inti sukmanya, sehingga dia tidak akan dapat mencapai kesirnaan total (fanâ') di dalam Zat. Karena hatinya tertuju pada status maqâm-maqâm spiritual, dia pasti tidak akan dapat mencapai maqâm kesempurnaan fanâ'. Lantaran sukma-nya cenderung mengambil berbagai impresi (fenomena penciptaan), dia pun tidak dapat menyerap cahaya abadi ke dalam hatinya. Jadi, ketakwaan bagi kalangan awam berarti pemeliharaan diri dari segala sesuatu yang bersifat haram dan ketakwaan bagi kalangan khusus berarti pemeliharaan diri dari berbagai keinginan dan ambisi pribadi. Takwa orang yang zâhid berarti pemeliharaan diri dari cinta dunia, takwa orang yang mukhlish berarti hilangnya cinta diri dan ego, takwa orang yang munjazdib (yang terpesona pada Zat Ilahi) berarti pemeliharaan diri dari tarikan aneka ragam manifestasi ciptaan

Ilahi, takwa kaum fâni (orang yang telah sirna dalam Zat-Nya) berarti pemeliharaan diri dari perhatian pada aneka ragam (manifestasi) Nama Ilahi, takwa orang yang washil (sampai kepada Zat-Nya) berarti pemeliharaan diri dari perhatian pada terjadinya proses fanâ' (kesir-

p: 247

naan diri dalam Zat Ilahi) dan takwa orang mutamakkin (tegak kukuh bertawajuh pada Zat Ilahi) berarti pemeliharaan diri dari pelbagai impresi atau ekspresi (talwîn) selain Zat Allah: «فَاسْتَقِمْ کَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَکَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِیرٌ (112)» Maka tegak luruslah (menuju kepada-Nya) sebagaimana kamu di perintahkan. (QS Hûd (11): 112)

Banyak yang perlu dijelaskan pada setiap maqam di atas. Menguraikannya tidak akan membawa orang-orang seperti kita melainkan kepada kekaguman dan kemasygulan pada istilah-istilah, karena kita buta terhadap makna-makna yang tersembunyi di balik tabir-tabir konsep tersebut. Dan memang—seperti kata pepatah Arab—“Setiap gelanggang, ada jagoannya”, yakni di setiap bidang terdapat ahli yang dapat menguasainya. Nah, marilah kita kembali ke penjelasan sekilas tentang takwa yang telah dijelaskan pada awal bab ini, mengingat pentingnya pokok masalah ini bagi umat manusia secara umum.

Takwa Kaum Awam

Saudaraku, ingatlah bahwa sebagaimana jasmani dapat mengalami keadaan sehat atau sakit, demikian pula ruhani atau jiwa manusia itu bisa sehat dan bisa sakit pula. Kesehatan ruhani seseorang terletak pada konsistensinya mengikuti norma-norma kemanusiaan, dan sebaliknya ruhaninya akan dihinggapi oleh berbagai penyakit spiritual ketika ia menyimpang dari norma-norma tersebut. Penyakit spiritual seribu kali lebih berbahaya dan mematikan daripada penyakit jasmani,

karena separah apa pun penyakit jasmani paling tidak akhirnya hanya akan menyebabkan kematian. Begitu datang kematian, dan ruh terlepas dari jasad, semua penyakit dan cacat serta kelemahan jasmani akan sirna dan manusia pun tidak lagi akan merasakan sakit dan penderitaan jasmaninya. Namun, semoga Allah melindungi kita semua, jika manusia mengidap penyakit spiritual, saat kematian merupakan saat di mana penyakit pada jiwanya mulai terasa: itulah awal manusia mengalami sakit dan kemalangan. Kebergantungan manusia pada dunia dengan mengarahkan seluruh perhatian hanya kepadanya dapat digambarkan seperti narkotika yang merampas seluruh ingatan dan kesadaran

p: 248

akan diri pecandunya. Begitu ikatan ruh dengan jasad terlepas, saat itu kenyataan yang sebenarnya akan dirasakan manusia, semua penyakit pada ruhaninya mulai muncul. Seperti api dalam sekam, penyakit yang dideritanya akan mulai menggerogotinya setelah selama ini tidak terasa. Derita ini ada yang tidak dapat disingkirkan dan tetap melekat kuat-kuat pada ruh dan ada juga yang dapat disembuhkan, setelah jiwa itu mengalami aneka siksaan, kepedihan, dan dibakar selama ribuan tahun terapi (penyembuhan terakhir berupa pembakaran). Allah Swt. berfirman: «مَا کَانَ لِلَّهِ أَنْ یَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَی أَمْرًا فَإِنَّمَا یَقُولُ لَهُ کُنْ فَیَکُونُ Pada hari mereka dipanaskan di dalam api neraka, lalu disetrika dengannya dahi-dahi, lambung, dan punggung mereka. (QS Al-Taubah 19): 35)

Peran para nabi bagi umat manusia adalah ibarat dokter-dokter yang memiliki perhatian penuh terhadap para pasiennya, yang dengan segala senang hati dan rasa penuh kasihan datang untuk menyembuhkan manusia-manusia sakit, dengan aneka metode penyembuhan sesuai dengan kondisi mereka. Mereka memandu umat manusia menuju jalan kebenaran. (Kami adalah dokter-dokter yang dididik oleh Allah.) Berbagai aktivitas positif ruhani maupun jasmani merupakan obat penyembuh penyakit-penyakit spiritual yang diderita manusia. Begitu pula takwa, pada masing-masing tingkatnya, merupakan pagar yang dapat melindungi jiwa dari berbagai bahaya spiritual. Tanpa berpantang dari hal-hal yang berbahaya, tak mungkin penyakit yang dideritanya dapat disembuhkan, dan mustahil kesehatannya kembali pulih seperti sedia kala. Dalam penyakit-penyakit jasmani, terkadang faktor eksternal (nurture) dan internal (nature) dapat mengalahkan penyakit, meskipun

penderita yang bersangkutan tidak terlalu mengindahkan pantangan terhadap makanan-makanan yang membahayakan kesehatannya. Hal demikian karena di dalam tubuh sebetulnya terdapat sistem pertahanan yang dapat menyembuhkan pelbagai penyakit yang menyerang. Namun, tidak demikian dalam kaitannya dengan persoalan penyakit spiritual, karena di sini sisi jasmani telah menguasai sisi ruhani sejak awal mulanya, sedangkan sisi jasmani selalu cenderung mengarah pada kerusakan:

p: 249

«وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِی إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَهٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّی إِنَّ رَبِّی غَفُورٌ رَحِیمٌ (53)» Sesungguhnya nafsu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS Yûsuf [12]: 53)

Oleh karena itu, siapa yang tidak mengindahkan ketentuan pantangan makanan bagi dirinya, penyakit pasti menyerangnya, dan mendapatkan celah untuk menyusup ke dalam sukmanya dan menghancurkan kesehatannya. Orang yang mendambakan kesehatan spiritual dan merasa prihatin akan kondisinya, hendaklah menyadari

benar bahwa ruhaninya dapat terbebas dari siksa hanya dengan dua cara; pertama, melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat meningkatkan kualitas spiritualnya; kedua, berpantang dari segala sesuatu yang dapat membahayakan kesehatannya. Seperti diketahui bahwa bahaya dari perbuatan-perbuatan terla-

rang dan haram lebih besar dampak buruknya terhadap sisi ruhani manusia daripada sifat-sifat buruk lainnya, sebagaimana perbuatan-perbuatan yang diwajibkan Allah Swt. memiliki dampak positif yang sangat besar terhadap kualitas spiritualnya. Itulah sebabnya yang yang pertama diharamkan, sedangkan yang kedua diwajibkan dan lebih utama daripada perbuatan-perbuatan positif lainnya, sekaligus merupakan langkah awal menuju perkembangan spiritual yang lebih baik.

Satu-satunya jalan menuju pencapaian derajat dan maqâm tertinggi kesempurnaan kemanusiaan hanya dapat terlaksana melalui dua cara tersebut di atas. Orang yang senantiasa kosekuen melakukannya akan tergolong ke dalam kelompok manusia-manusia yang memperoleh keselamatan dan kebahagiaan. Yang terpenting di antara keduanya adalah cara kedua, yaitu takwa atau berpantang dari perbuatan-perbuatan terlarang dan diharamkan. Kaum sufi dan para pesuluk (penempuh jalan menuju Allah) juga memandang cara kedua di atas sebagai langkah utama sebelum memulai langkah berikutnya, yaitu cara pertama. Di dalam hadis-hadis Nabi Saw., dan para Imam a.s. serta khutbah-khutbah Amir Al-Mukminin a.s. dalam Nahj Al-Balaghah, kita temukan bahwa mereka sangat menekankan langkah ini.

Oleh karena itu, Saudaraku, setelah Anda ketahui bahwa cara kedua di atas sangat penting Anda lakukan, berupayalah sekuat tenaga

p: 250

supaya Anda tekun melakukannya. Jika langkah pertama ini telah Anda lakukan dengan baik dan fondasi ini telah Anda letakkan dengan kukuh, berarti ada harapan bagi Anda untuk dapat mencapai maqâm maqâm lain. Kalau tidak, mustahil Anda dapat mencapai maqâm-maqam tersebut dan sulit bagi Anda untuk memperoleh keselamatan. Dahulu, guru kami pernah meminta kami untuk tekun membaca ayat-ayat terakhir dari Surah Al-Hasyr berikut:

«یَا أَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِیرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)» «وَلَا تَکُونُوا کَالَّذِینَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِکَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)»

«لَا یَسْتَوِی أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّهِ أَصْحَابُ الْجَنَّهِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)» «لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَی جَبَلٍ لَرَأَیْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْیَهِ اللَّهِ وَتِلْکَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ یَتَفَکَّرُونَ (21)» «هُوَ اللَّهُ الَّذِی لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَیْبِ وَالشَّهَادَهِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِیمُ (22)» «هُوَ اللَّهُ الَّذِی لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِکُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَیْمِنُ الْعَزِیزُ الْجَبَّارُ الْمُتَکَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا یُشْرِکُونَ (23)» «هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَی یُسَبِّحُ لَهُ مَا فِی السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِیزُ الْحَکِیمُ (24)»

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah dikedepankannya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyangkut apa yang kamu kerjakan Maha Mengetahui. Dan janganlah seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itu—merekalah-orang-orang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga--mereka sajalah-orang-orang beruntung Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini pada sebuah gunung, pasti engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami paparkan buat manusia supaya mereka berpikir. Dia Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Al-Rahmân (Maha Pengasih) lagi Al-Rahim (Maha Penyayang). Dia Allah Yang tidak ada Tuhan selain Dia, Al-Malik (Maharaja), Al-Quddus (Mahasuci), Al-Salâm (Mahasejahtera), Al-Mu'min (Yang kepada-Nya kembali rasa aman), Al-Muhaimin (Maha Memelihara), Al-Aziz, Al-Jabbar (Yang kehendak-Nya tidak diingkari), Al-Mutakabbir (Yang Memiliki Kebesaran), Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah, Al-Khâliq (Maha Pencipta) Al-Bâri' (Yang Mengadakan dari Tiada) Al-Mushawwir (Yang Membentuk), milik-Nya Al-Asmâ' Al-Husnâ, bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan di bumi dan Dia adalah Al-'Azîz (Yang Mahaperkasa) Al-Hakîm (Yang Mahabijaksana). (QS Al-Hasyr [59]: 18-24).

p: 251

Guru kami menganjurkan kami untuk membaca ayat-ayat ini sehabis shalat lima waktu sambil merenungkan maknanya, khusus- nya pada tengah malam ketika hati dalam keadaan tenang sehingga diharapkan dapat berdampak positif dalam upaya perbaikan jiwa. Guru kami mengatakan bahwa bacaan ini sangat mujarab dalam

membentengi jiwa dari keburukan diri dan setan. Dia selalu menganjurkan agar kami selalu dalam keadaan wudhu. Dia selalu mengatakan bahwa wudhu itu ibarat pakaian perang seorang prajurit. Maka dari itu, Saudaraku, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah Sang Mahakuasa Pemilik keluhuran, disertai tangis dan sikap merendah kepada-Nya, agar Dia sudi menolong dan membantumu melewati cobaan ini dan meraih ketakwaan.

Ketahuilah bahwa pada mulanya usaha Anda ini akan terlihat sulit, tetapi setelah beberapa lama Anda melakukannya dengan penuh ketekunan dan kesinambungan, perasaan berat akan berubah menjadi ringan, dan rasa sulit akan berubah menjadi mudah. Bahkan, itu akan membuat Anda merasakan suatu kelezatan spiritual, di mana orang-orang yang telah merasakannya pasti tidak mungkin mau menukar kelezatannya itu dengan aneka kelezatan lainnya. Insya Allah, setelah menekuni secara sungguh-sungguh aktivitas ini dan menghiasi diri dengan ketakwaan penuh, Anda akan melangkah maju dari magam ini menuju maqâm ketakwaan yang lebih khusus lagi, yaitu ketakwaan yang senantiasa didambakan setiap jiwa dan selalu dirasakan kelezatannya. Sebab, apabila Anda telah merasakan kelezatan dan kenikmatan spiritual, lambat laun Anda akan berpaling dari kelezatan fisikal, bahkan menghindarinya. Saat itu langkah-langkah perjalanan Anda menuju hadirat-Nya akan terasa mudah dan tidak akan berarti lagi bagi Anda aneka kesenangan jasad yang sifatnya sementara dan akan sirna itu. Bahkan, di mata Anda seluruh

kesenangan jasmaniah itu akan tampak buruk. Anda akan melihat dengan pandangan batiniah Anda sendiri bahwa setiap kesenangan duniawi akan meninggalkan bekas pada jiwa, yaitu noda hitam di hati, yang akan semakin memperbesar kecintaan serta kebergantungan pada dunia ini. Hal inilah yang merupakan penyebab lahirnya keterikatan pada dunia dalam diri manusia.

p: 252

Pada saat-saat menjelang kematian, di mana jiwa tidak lama lagi berpisah dengan raga, kesenangan-kesenangan duniawi ini akan berubah menjadi sebuah penderitaan, kesulitan yang mencekik dan ketertekanan. Dan, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, penderitaan berat dan ketersiksaan pada saat menjelang kematian merupakan hasil dari kesenangan duniawi dan keterikatan pada dunia jasmaniah ini. Apabila manusia menyadari kenyataan ini, di matanya segenap kesenangan jasmaniah tidak lagi ada artinya. Dia akan lari menjauh dari gemerlap dunia fana ini beserta kekayaan dan perhiasannya. Kesadaran seperti ini sendiri sudah merupakan tahap keberhasilan kedua yang diraih sang sålik menuju derajat-ketiga maqâm takwa.

Dengan demikian, menapaki jalan Allah akan menjadi lebih mudah lagi baginya, dan jalan menuju kemanusiaan pun menjadi tercerahkan dan lapang dalam pandangannya. Sedikit demi sedikit setiap langkahnya berubah menjadi langkah kebenaran. Aktivitasnya pun menjadi aktivitas kebenaran. Dia menjadi semakin melarikan diri dari jiwanya sendiri, dampak-dampak serta fase-fase yang dilaluinya, karena dia telah menemukan di dalam wujudraya rasa cinta terhadap Zat Yang Haqq. Kini pun, dia tidak lagi merasa puas dengan janji-janji surga, istana-istana, maupun bidadari-bidadarinya. Yang dirindukannya adalah tujuannya yang lebih tinggi. Dia pun kini menjadi tidak menyukai lagi egoisme dan cinta diri.

Dia membentengi dirinya dari sifat cinta ego dan dirinya sendiri. Inilah maqâm mulia lagi tinggi, serta merupakan langkah pertama untuk merasakan harumınya wilayah. Allah Swt. akan melindunginya di bawah naungan rahmat dan kemahalembutan-Nya, membimbing-nya, dan menjadikannya sebagai tempat limpahan karunia-karunia-Nya yang khusus. Hal-hal yang dialami oleh penempuh jalan Allah setelah itu berada di luar kemampuan ekspresi penulis yang lemah ini. Dan, segala puji bagi Allah, di awal dan akhir, secara lahir dan batin, serta shalawat Allah atas Muhammad dan keluarga beliau yang suci. U

p: 253

13 Hadis tentang Tawakal

Point

عِدَّهٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ خَالِدٍ عَنْ غَیْرِ وَاحِدٍ عَنْ عَلِیِّ بْنِ أَسْبَاطٍ عَنْ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ اَلْحَلاَّلِ عَنْ عَلِیِّ بْنِ سُوَیْدٍ عَنْ أَبِی اَلْحَسَنِ اَلْأَوَّلِ عَلَیْهِ اَلسَّلاَمُ قَالَ: سَأَلْتُهُ عَنْ قَوْلِ اَللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ: «وَ مَنْ یَتَوَکَّلْ عَلَی اَللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ » فَقَالَ اَلتَّوَکُّلُ عَلَی اَللَّهِ دَرَجَاتٌ مِنْهَا أَنْ تَتَوَکَّلَ عَلَی اَللَّهِ فِی أُمُورِکَ کُلِّهَا فَمَا فَعَلَ بِکَ کُنْتَ عَنْهُ رَاضِیاً تَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ یَأْلُوکَ خَیْراً وَ فَضْلاً وَ تَعْلَمُ أَنَّ اَلْحُکْمَ فِی ذَلِکَ لَهُ فَتَوَکَّلْ عَلَی اَللَّهِ بِتَفْوِیضِ ذَلِکَ إِلَیْهِ وَ ثِقْ بِهِ فِیهَا وَ فِی غَیْرِهَا .

Dengan sanad yang bersambung kepada Syaikh Muhammad Ibn Ya'qub (Al-Kulaini) dari sekelompok guru-guru kami, dari Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid, dari beberapa peraui, dari 'Ali ibn Asbath, dari Ahmad ibn 'Umar Al-Hallal, diriwayatkan bahwa ‘Ali ibn Suwaid berkata, “Aku bertanya kepada Abu Al-Hasan Al-

Awwal (Imam Musa Al-Kazhim) tentang firman Allah Swt., Dan barang siapa yang pertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencu-

p: 254

kupinya' (QS Al-Thalâq [65]: 3). Imam berkata, 'Tawakal kepada Allah memiliki beberapa tingkat. Salah satunya adalah engkau bertawakal kepada-Nya dalam segala urusanmu dan apa pun yang dilakukan-Nya kepadamu engkau meridhainya, engkau mengetahui bahwa Dia tidak akan pernah berhenti memberikan kebaikan

dan nikmat-Nya kepadamu dan engkau menyadari bahwa segala hukum atau perintah dalam semua itu adalah milik-Nya. Maka, bertakwalah kepada Allah, dengan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, percayalah kepada-Nya dalam semua itu, dan hal lainnya.(1)

Penjelasan Makna Hadis

Hallâl (nama salah satu perawi hadis di atas), dengan syaddah pada huruf lam, berarti penjual hill (minyak). Abu Al-Hasan Al-Awwal (Abu Al-Hasan yang pertama), yakni Imam Musa Al-Kazhim; beliau juga biasa digelari dengan Abu Al-Hasan Al-Muthlaq. Abu Al-Hasan Al-Tsani (Abu Al-Hasan yang kedua) adalah panggilan untuk Imam Al-Ridha, dan Abu Al-Hasan Al-Tsâlits (Abu Al-Hasan yang ketiga) adalah untuk Al-Imam 'Ali Al-Hadi.

Tawakal secara harfiah berarti sikap menunjukkan ketakmampuan dan menyandarkan diri terhadap pihak lain. Kata اتکلت, berasal dari kata kal, yang berarti 'memandang cukup seseorangʻ. یالوک berasal dari kata اللا dan الوا, berarti ‘menggagalkan atau mengecewakan”, “mengabaikan' dan 'tidak melakukan'. Dalam bentuk transitif (yaitu ketika kata itu memerlukan satu atau dua objek), kata ini berarti 'menghalangi'.

“Tawakal” kepada Allah berbeda dengan berserah diri (tafwidh) kepada-Nya. Demikian pula keduanya tidak dapat disamakan dengan sifat percaya (tsiqah) terhadap ketentuan-Nya, sebagaimana akan dijelaskan nanti. Kita akan menjelaskan hadis mulia ini dalam beberapa bagian

Makna Tawakal dan Tingkatannya

Point

Perlu diketahui bahwa tawakal didefinisikan oleh para pakar dengan beberapa makna yang saling berdekatan, masing-masing dengan ung-

p: 255


1- 1. Ushủl Al-Kafi (Akhundi), Vol. II, 391, hadis No. 3.

kapan yang berbeda, menurut pendekatannya masing-masing. Pengarang buku Manâzil Al-Sâ'irîn menyebutkan bahwa, “Tawakal berarti memercayakar. atau menyerahkan seluruh masalah kepada Sang Penguasa dan mewakilkan kepada-Nya dalam menangani masalah-masalah itu.(1) Beberapa kaum arif berkata, “Tawakal berarti mengerahkan totalitas fisik dalam ibadah dan mengikatkan hati kepada rubübiyyah-Nya (Allah sebagai Rabb, Penguasa).” Kaum arif lain berkata, “Tawakal kepada Allah berarti pemutusan segala yang diharapkan seorang hamba dari mahkluk-makhluk lain (dan mengikatkannya hanya kepada Allah).”

Demikianlah makna-makna yang disebutkan di atas saling berkait erat satu sama lain dan tak perlu kita dalami lebih jauh maksudnya. Yang perlu dikatakan di sini adalah bahwa tawakal memiliki beragam tingkatan sesuai dengan maqâm-maqâm setiap hamba. Dan, karena pengetahuan tentang tingkat-tingkat tawakal bergantung pada tingkat pengetahuan hamba akan Penguasanya Yang Mahakuasa, mau tak mau kita harus mendiskusikannya di sini.

Ketahuilah bahwa salah satu prinsip makrifat para pesuluk (penempuh jalan menuju Allah Swt.) dan salah satu maqâm-nya, yang tanpanya tak akan ada kemajuan dalam makrifat itu, adalah pengetahuan tentang rubûbiyyah dan mâlikiyyah Allah, serta pengetahuan tentang bagaimana Zat Mahasuci menangani berbagai masalah. Kita tak akan membahas aspek teoretis dari masalah ini karena ini akan mengharuskan kita untuk menjelaskan masalah yang berkaitan dengan

kehendak bebas dan predestinasi, yang tak tepat untuk dibahas di sini. Di sini, kita hanya akan menyebutkan beberapa tingkatan pengetahuan manusia tentangnya.

Tawakal pada Tingkat Pernyataan Verbal

Pengetahuan manusia, tentang rubûbiyyah Zat Allah sangat beragam. Sebagian besar kaum monoteis (muwahhid) memandang Allah Yang Mahakuasa sebagai Pencipta asal usul segala sesuatu, dan totalitas substansinya, serta unsur-unsurnya. Namun, mereka memandang

p: 256


1- 2. Khwajah 'Abdullah Al-Anshari, Manâzil Al-Sa'irin.

pengaturan Allah terbatas, sehingga rubûbiyyah-Nya tidak meliputi segala sesuatu. Mereka terkadang mempertanyakan apakah benar Allah Swt. adalah penentu segala sesuatu?” Padahal Dialah Pemilik, Penguasa, serta Pengatur segala sesuatu. Tak sesuatu pun maujud tanpa kehendak Suci-Nya. Namun, mereka bukanlah orang-orang yang memiliki maqam itu, baik dalam hal pengetahuan maupun keimanan, dalam hal pengalaman (penyaksian, syahadah) apalagi keyakinan.

Kelompok manusia ini—tampaknya kita juga termasuk dalam kelompok ini—tak memiliki pengetahuan yang utuh tentang rubûbiy-yah Allah, keimanan, dan tauhid mereka tak sempurna dan pandangan mereka tertutupi hijab sehingga tidak dapat melihat kekuasaan dan rubübiyyah-Nya karena sebab-sebab yang jelas. Dengan demikian, mereka tak menempati maqam tawakal, yang sedang kita bahas, kecuali pada tingkat klaim di mulut belaka. Oleh karena itu, dalam menyelesaikan seluruh urusan duniawinya, mereka tak bersandar kepada Allah dan hanya memperhitungkan sebab-sebab lahiriah serta faktor-faktor materiil. Jika sesekali mereka mengarahkan perhatiannya kepada Allah dan memohon sesuatu dari-Nya, itu adalah karena ikut-ikutan atau rasa kehati-hatian dan karena mereka melihat tidak ada

bahaya dalam hal ketawakalannya itu. Atau, boleh jadi mereka melihat kemungkinan memperoleh keuntungan di balik sikap tawakal mereka yang sesaat itu, sehingga dalam keadaan ini mereka akan terpanggil untuk sedikit bertawakal. Namun, ketika mereka memandang faktor-faktor dan sebab-sebab lahiriah sesuai dengan hawa nafsu mereka, saat itu juga segera mereka melupakan Allah secara total. Sesungguhnya apa yang dikatakan tentang tawakal, bahwa ia tak ber-

tentangan dengan tindakan dan usaha, adalah benar dan sesuai dengan akal maupun wahyu. Namun, keterhijaban melihat rubûbiyyah Allah dan pengaturan-Nya terhadap segala sesuatu serta anggapan bahwa aneka hukum sebab akibat seluruhnya bersifat independen adalah bertentangan dengan tawakal. Mereka yang tidak memiliki sedikit pun rasa tawakal-meskipun pada tingkatannya yang terendah-dalam hal urusan-urusan duniawi, tidak jarang membicarakan urusan-urusan ukhrawi dengan penuh

p: 257

kebanggaan dan keangkuhan. Lalu, apabila tampak pada mereka suatu kekurangan atau kema asan dalam hal ibadah, ketaatan atau perbaikan diri, mereka segera menunjukkan sikap tawakal dan penyandaran diri mereka kepada Allah dan karunia-Nya. Seakan-akan, dengan sekadar pernyataan verbal yang mereka ucapkan seperti “Allah Maha- tinggi” dan “Aku bertawakal kepada Allah dan paca rahmat-Nya”, mereka berharap dapat mencapai derajat tinggi di akhirat. Setiap kali menyinggung perihal masalah duniawi, mereka akan menyatakan, “Kerja dan usaha tidak bertentangan dengan tawakal kepada Allah”. Sedangkan dalam permasalahan yang memiliki kaitan dengan akhirat, mereka menganggap usaha dan kerja bertentangan dengan tawakal dan penyerahan diri kepada Allah. Anggapan mereka ini tidak lain kecuali tipu daya dan bujuk rayu setan. Mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang bertawakal kepada Allah, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Tidak pula mereka mengandalkan-Nya dalam satu pun permasalahan yang mereka hadapai. Namun, karena mereka memandang urusan-urusan dunia sebagai lebih penting, mereka menyandarkan dan berserah diri pada sebab-sebab maceriil, dan bukan pada Allah dan pengaturan-Nya.

Sebaliknya, karena mereka tak memberi perhatian besar terhadap kehidupan akhirat dan tidak adanya keimanan yang mantap akan Hari Kebangkitan, mereka pun mencari-cari alasan. Sekali mereka berkata, “Tuhan Mahaagung”, dan di kali lain mereka menunjukkan sikap penyerahan diri kepada Allah dan syafaat dari para pemberi syafaat, padahal ini semua hanyalah sekadar ucapan-ucapan kosong dan permainan lidah tanpa makna.

Tawakal pada Tingkat Rasional

Kelompok manusia yang kedua adalah mereka yang setelah diyakinkan oleh akal ataupun wahyu, mereka membenarkan pandangan bahwa Allah adalah satu-satunya Penentu setiap perkara, Sebab dari seluruh sebab, serta Pemilik kekuasaan yang menentukan dalam keseluruhan alam wujud, dan tak ada batasan bagi pengaruh dan kekuasaan-Nya. Mereka bertawakal kepada Allah pada tingkat rasional; yakni berdasarkan argumentasi rasional serta wahyu mereka telah

p: 258

memiliki landasan-landasan yang kukuh tentang keharusan bertawakal. Karenanya, mereka memandang dirinya sebagai orang-orang yang bertawakal, seraya memberikan bukti-bukti rasional keharusan bertawakal, karena mereka menetapkan faktor-faktor rasional penyebab wajibnya tawakal, yaitu:

1) Allah Maha Mengetahui kebutuhan hamba-hamba ciptaan-Nya,

2) Allah Mahakuasa untuk memenuhi semua kebutuhan itu,

3) Allah tidak mungkin bersifat kikir,

4) Allah Maha Penyayang dan Maha Pengasih terhadap seluruh hamba-Nya.

Atas dasar semua itu, kita wajib bertawakal dan berserah diri kepada Allah Yang Maha Mengetahui, Mahakuasa, Maha Pemurah dan Pengasih terhadap seluruh hamba-Nya, sehingga tidak ada sesuatu yang baik sekecil apa pun yang terlewatkan dan luput dari pengetahuan-Nya untuk diberikan-Nya kepada mereka. Dia menganugerahi mereka yang terbaik meskipun mereka sendiri tak mampu membedakan atau menentukan apa yang baik atau buruk bagi mereka. Kelompok ini meskipun secara praktik dianggap bertawakal, ia belum mencapai tingkat keimanan yang sebenarnya. Karenanya, mereka masih bimbang dalam memutuskan masalah-masalah kehidupan mereka. Akal mereka selalu tak berdaya dalam menghadapi pertarungan dengan gejolak hati mereka sendiri, karena masih bergantung pada sebab-sebab materiil serta terhalang untuk dapat meyakini kenyataan bahwa Allah Swt. adalah Dialah satu-satunya yang mengatur segala sesuatu.

Tawakal pada Tingkat Hati

Selain kedua kelompok itu, ada kelompok ketiga. Kelompok ini telah mencapai—berkat keyakinan hati mereka-pengenalan akan pengaturan Allah terhadap seluruh alam. Mereka memiliki keyakinan teguh bahwa Pemutus segala urusan, Penguasa dan Pemilik segala sesuatu adalah Allah Swt. Pena akal mereka telah menuliskan seluruh prinsip tawakal pada lembar-lembar halaman hati mereka. Mereka inilah yang telah mencapai maqâm tawakal. Namun, mereka pun saling

p: 259

memiliki perbedaan yang cukup besar satu sama lain dalam hal tingkat keimanan sebelum mencapai tingkat keimanan yang sempurna. Apabila keimanan mereka telah mencapai tingkat tertinggi, saat itu akan tampak tingkat tawakal tertinggi pada hati mereka. Saat itu hati mereka tak terpengaruh oleh segala sebab-sebab materiil, tetapi sebaliknya, mereka bergantung sepenuhnya pada rubûbiyyah Allah. Kepada-Nya mereka bersandar dan dengan-Nya mereka merasa tenang, sebagaimana dilukiskan oleh seorang arif sebagai “mengerahkan tubuh dalam ibadah kepada Allah dan mengikatkan hati kepada rubübiyyah-Nya”. Di sini, perlu kami tekankan bahwa seluruh yang cijelaskan dalam bab ini hanya berlaku bagi orang yang hatinya masih terikat dengan maqâm fenomena plural atau kemajemukan aktual (al-katsrah al-af'aliyah). Jika tidak, berarti hati itu telah melampaui magâm tawakal untuk mencapai maqâm yang lebih tinggi. Masalah ini berada di luar lingkup pembahasan kita.

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa tawaka memiliki beberapa derajat. Barangkali derajat tawakal yang disinggung oleh hadis di atas adalah menyangkut kelompok kedua, karena ia menyebutkan pengetahuan sebagai syarat awal. Atau, mungkin pula, ia menunjuk derajat-derajat tawaka, lain dengan ketentuan-ketentuan tertentu, karena tawakal juga memiliki tingkatan-tingkatan lain dalam pengklasiſikasian yang lain pula, seperti yang berlaku pada tingkat-tingkat

perjalanan kaum 'irfân, di mana secara bertahap, dari pluralitas tindakan mereka dapat mencapai tingkat kemahaesaan, sehingga tidak terjadi fana'affâli muthlaq sekaligus, tetapi mengamati kesatuan dalam dirinya sendiri, lalu dalam hal-hal lainnya. Demikian pula halnya dengan tawakal, ridha, sikap tunduk, dan menerima segala ketetapan Allah (taslim), dan maqâm lainnya dicapai secara bertahap. Pada mulanya, sang sâlik barangkali memiliki rasa tawakal dan berserah

diri pada sebab-sebab gaib dan tak teramati. Lalu, secara bertahap, tawakalnya menjadi semakin meluas, baik yang memiliki sebab-sebab tampak ataupun tidak, berkaitan dengan urusan-urusannya sendiri atau urusan-urusan orang yang dekat dengannya. Oleh karena itulah, disebutkan dalam hadis, “Salah satu derajat tawakal adalah berserah diri kepada Allah dalam segala urusanmu.”

p: 260

Perbedaan Tawakal dan keridhaan

Ketahuilah bahwa maqâm ridha berbeda dengan maqam tawakal; yang pertama lebih tinggi dan lebih agung. Ini karena seorang yang bertawakal mencari kebaikan dan keuntungan bagi dirinya sendiri dan memercayakan seluruh urusannya kepada Allah yang dipandanganya sebagai Pemberi kebaikan, sementara seorang yang memiliki sifat ridha pada dirinya adalah orang yang telah meleburkan kehendaknya dalam kehendak Allah dan tak menentukan kehendak apa pun bagi dirinya sendiri. Pernah pada suatu ketika seorang sâlik ditanya, “Apakah kehendakmu?” Ia menjawab, “Kehendakku adalah tak memiliki kehendak." Maksudnya, dia memiliki sifat ridha. Sedangkan mengenai hadis di atas yang berbunyi, “Apa pun yang dilakukan-Nya untukmu, engkau ridha dengannya," ini tidak merujuk kepada maqâm ridha. Oleh karenanya, lanjutan hadis itu menegaskan, “Engkau mengetahui bahwa Dia tidak berhenti memberikan kebaikan dan nikmat-Nya kepadamu.” Tampaknya Imam bermaksud untuk mengemukakan maqâm tawakal kepada para pendengarnya. Untuk itu, ia menyebutkan prasyarat-prasyarat tertentu. Pertama, beliau berkata, “Dia tidak berhenti memberikan kebaikan dan nikmat-Nya kepadamu.” Lalu beliau menegaskan, “Engkau menyadari bahwa segala hukum atau perintah dalam semua itu adalah milik-Nya." Tentu saja, orang yang mengetahui bahwa Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu dan bahwa Dia tak pernah berhenti mencurahkan rahmat dan karunia-Nya, maka maqâm tawakal pasti diraihnya, karena dua pilar utama tawakal itu telah dinyatakan oleh Imam, meskipun ia tak menyebutkan dua atau tiga pilar lainnya secara eksplisit mengingat jelasnya dua pilar utama tersebut. Jadi, kesimpulan dari prasyarat-prasyarat yang eksplisit maupun implisit adalah bahwa apa pun yang dilakukan Allah Yang Mahakuasa akan mendorong seorang hamba untuk menerimanya dengan senang hati karena di dalamnya terletak kebaikan bagi seseorang. Dengan itu, terwujudlah maqâm tawakal, dan karenanya Imam menyimpulkan “Maka bertawakallah kepada Allah".

p: 261

Perbedaan antara Tafwidh, Tawakal, dan Tsiqah

Ketahuilah bahwa sikap berserah diri kepada Allah (tafwidh) berbeda dengan tawakal, dan memercayai ketentuan-Nya (tsiqah) berbeda dari keduanya; masing-masing disebutkan dalam kitab Maqâmât Al-Salikin secara terperinci. Khawajah ‘Abdullah Al-Anshari berkata: 3 Penyerahan diri kepada Allah Swt. memiliki isyarat yang lebih halus, menyeluruh, dan mendalam daripada tawakal. Tawakal adalah cabang dari penyerahan diri karena penyerahan diri ini berarti seorang hamba tidak melihat adanya daya dan kekuatan dalam dirinya, dan tidak menganggap dirinya memiliki hak apa-apa dalam mengatur sesuatu apa pun. Ia hanya memandang Allah sebagai Zat Pemilik wewenang dalam mengatur segala urusan. Hal ini berbeda dengan tawakal karena seorang yang bertawakal menjadikan Allah sebagai Pengganti bagi dirinya dalam melaksanakan segala urusannya dan mencapai hal-hal yang baik dan berfaedah. Penyerahan diri memiliki pengertian lebih luas daripada tawakal. Tawakal hanya berkaitan dengan manfaat-manfaat baik seorang hamba, sementara penyerahan diri berkaitan dengan segala urusan

secara mutlak. Lebih dari itu, tawakal tidak tercapai kecuali setelah hadirnya suatu penyebab yang mengharuskannya, yakni setelah muncul suatu masalah yang untuk penyelesaiannya seorang hamba harus berserah diri kepada Allah. Salah satu contohnya acalah tawakal Rasulullah Saw., dan para sahabatnya dalam menghadapi ancaman kaum musyrik, sepeti yang digambarkan di dalam Al-Quran ketika mereka diberi tahu:

Orang-orang yang kepada mereka ada yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan kekuatan menghadapi kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَکِیلُ (173) “Cukuplah bagi kami Allah dan Dia adalah sebaik-baik Wakil.” (QS Ali-'Imrân (3): 173) Adapun penyerahan diri terjadi sebelum munculnya sebab yang mendorongnya untuk menyerah. Sebagai mana tampak pada doa yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw:

اللاتی اکم فی النیک والجات ظهری الثک وضت امری إلیک

p: 262

Ya Allah, daku serahkan diriku kepada-Mu; kusandarkan punggungku kepada-Mu; dan kuserahkan urusanku kepada-Mu. Namun, dapat juga sikap penyerahan diri ini muncul setelah terjadinya sebab yang mengharuskannya, sebagaimana yang dilakukan oleh seorang Mukmin dari keluarga Fir'aun (QS Al-Mu'min [40]:44).

Pembahasan di atas adalah hasil terjemahan yang diringkaskan dari penjelasan arif terkemuka 'Abdul Razzaq Kasyani atas ucapan Khwajah 'Abdullah Al-Anshari. Apa yang dikatakan Khwajah membuktikan kebenaran apa yang kami jelaskan di atas. Namun, ucapannya yang mengatakan bahwa tawakal adalah cabang dari penyerahan diri, perlu dikaji kembali. Tak ada alasan untuk memandang penyerahan diri sebagai bagian dari tawakal. Demikian pula, tidak ada argumentasi yang dapat membuktikan bahwa tawakal muncul setelah sebab yang mengharuskannya muncul.

Berkenaan dengan hadis suci yang sedang kita bahas, , “maka bertawakallah kepada Allah, dengan berserah dirilah kepada-Nya”, dapat dikatakan bahwa tidak ada tawakal kecuali disertai dengan adanya kemungkinan pelaksanaan urusan-urusan oleh diri yang bersangkutan. Dan oleh sebab itu, ia menjadikan Allah sebagai Wakilnya dalam segala urusan-urusan khususnya. Hanya saja dalam hadis di atas Imam ingin mengangkat orang yang bertanya kepadanya dari magâm tawakal ke magâm penyerahan diri, dengan membuatnya memahami bahwa Allah Yang Mahakuasa bukanlah pengganti atau pelaksana urusan-urusannya. Namun, Dia adalah Penguasa dan Pengatur dalam kerajaan milik-Nya. Hal ini juga sempat disinggung oleh Khwajah sendiri dalam bukunya, Manâzil Al-Sâ'irin, ketika membahas derajat ketiga dari tawakal. Sedangkan sikap percaya kepada segala ketetapan Allah (tsiqah), seperti dikatakan Khwajah, berbeda dari tawakal dan penyerahan diri: “percaya kepada-Nya adalah bulatan hitam pada mata tawakal, titik (yang bergerak) pada lingkaran penyerahan diri (tafwidh), dan

p: 263

lubuk hati terdalam dar sikap menerima segala ketentuan-Nya (taslim).(1) Yakni, ketiga maqâm itu tak dapat dicapai tanpa disertai rasa percaya penuh terhadap Allah Zat Yang Mahakuasa serta segala ketentuan-Nya. Sifat ini adalah inti dari maqâm-maqâm tersebut. Selama seorang hamba tidak percaya akan ketetapan-Nya, tidak mungkin ia dapat meraih maqâm-maqâm itu. Dari sini, kita dapat memahami mengapa setelah menyebut tawakal dan penyerahan diri, Imam a.s. berkata ".. percayalah kepadanya dalam hal itu dan hal-hal lainnya."()

p: 264


1- 4. Ibid.

14 Hadis tentang Kecemasan dan Harapan

Point

عِدَّهٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِیِّ بْنِ حَدِیدٍ عَنْ مَنْصُورِ بْنِ یُونُسَ عَنِ اَلْحَارِثِ بْنِ اَلْمُغِیرَهِ أَوْ أَبِیهِ عَنْ أَبِی عَبْدِ اَللَّهِ عَلَیْهِ اَلسَّلاَمُ قَالَ: قُلْتُ لَهُ مَا کَانَ فِی وَصِیَّهِ لُقْمَانَ قَالَ کَانَ فِیهَا اَلْأَعَاجِیبُ وَ کَانَ أَعْجَبَ مَا کَانَ فِیهَا أَنْ قَالَ لاِبْنِهِ خَفِ اَللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ خِیفَهً لَوْ جِئْتَهُ بِبِرِّ اَلثَّقَلَیْنِ لَعَذَّبَکَ وَ اُرْجُ اَللَّهَ رَجَاءً لَوْ جِئْتَهُ بِذُنُوبِ اَلثَّقَلَیْنِ لَرَحِمَکَ ثُمَّ قَالَ أَبُو عَبْدِ اَللَّهِ عَلَیْهِ اَلسَّلاَمُ کَانَ أَبِی یَقُولُ إِنَّهُ لَیْسَ مِنْ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ [وَ] فِی قَلْبِهِ نُورَانِ نُورُ خِیفَهٍ وَ نُورُ رَجَاءٍ لَوْ وُزِنَ هَذَا لَمْ یَزِدْ عَلَی هَذَا وَ لَوْ وُزِنَ هَذَا لَمْ یَزِدْ عَلَی هَذَا .

Dengan sanadku yang tersambung dengan Tsiqât Al-Islâm, pilar umat Muslim, Muhammad ibn Ya'qub (Al-Kulaini), dari sejumlah sahabat kami, dari Ahmad ibn Muhammad, dari 'Ali ibn Hadid, dari Manshur ibn Yunus, dari Al-Harits ibn Al-Mughirah atau ayahnya, dari Abu 'Abdullah (Al-Imam Al-Shadiq), diriwayatkan

p: 265

bahwa Al-Harits atau ayahnya berkata, “Aku bertanya kepadanya (Al-Imam Al-Shadiq), 'Hal-hal apa saja yang disebutkan dalam wasiat Luqman?' Ia menjawab, 'Ada beberapa hal yang sangat mengagumkan di dalam wasiat itu dan yang paling mengagumkan yang dikatakannya kepada anaknya adalah sebagai berikut: Takut-lah kepada Allah sedemikian sehingga engkau merasa jika engkau datang kepada-Nya dengan kebaikan (birr) sebesar dua dunia (tsaqalain), Dia akan tetap menghukummu. Berharaplah kepada Allah dengan harapan yang sedemikian sehingga engkau merasa jika engkau datang kepada-Nya dengan dosa sebesar dua dunia, Dia akan tetap mengasihimu.” Lalu, Abu 'Abdullah menambahkan, “Ayahku berkata, 'Yang ada pada hati seorang Mukmin hanya dua cahaya; cahaya kecemasan dan cahaya harapan. Jika diukur, yang satu tak akan melebihi selainnya dan sebaliknya.(1)

Penjelasan Makna Hadis

Al-Jauhari dalam kamus Al-Shihah menyebutkan bahwa kata al-a'ajib adalah bentuk jamak dari u'jūbah yang memiliki pola kata yang sama dengan ahâdîts sebagai jamak dari uhdûtsah. Menurutnya, u'jūbah memiliki arti 'sesuatu yang menakjubkan', baik karena keindahan maupun keburukannya. Maksud hadis di atas adalah rasa takjub karena keindahan. Kata itu tampaknya memiliki makna khusus untuk sesuatu yang sangat indah dan mengagumkan. Kata birr (ketaatan) adalah lawan dari ‘uqûq, yang berarti kedurhakaan. Kok berarti seseorang yang taat atau patuh kepada Penciptanya, seperti penjelasan Al-Jauhari. Kata tsaqalain berarti manusia dan jin. Maksud hadis di a'as adalah bahwa masing-masing dari rasa cemas dan harapan kepada Allah haruslah merupakan faktor yang saling melengkapi pada pribadi Mukmin. Ia tidak boleh sedikit pun berputus asa dari rahmat Allah atau merasa dirinya telah selamat dari ancaman siksa-Nya, lantaran kecenderungannya terhadap salah satu dari kedua sifat ini tidak boleh melebihi siſatnya yang lain. Hal ini ditegaskan oleh sekian banyak ayat Al-Quran dan hadis. Insya Allah kita akan membahas hal ini dan aspek-aspek lain dari hadis suci tersebut dalam beberapa bagian.

p: 266


1- 1. Al-Kulaini, Al-Kafi, 'Ali Akbar Al-Ghifari (ed.) edisi keempat, Dar Mush'ab Dar Al-Ta‘âruf, Beirut, 1401 H, II, 67, hadis 1.

Antara Harapan dan Kecemasan dalam Pandangan Arif

Ketahuilah bahwa manusia yang (dapat) mencerap realitas dan mengetahui hubungan antara Zat Yang Wajib Wujud-Nya dengan semua maujud mungkin memiliki dua macam perspektif. Pertama, dia melihat dirinya dan seluruh alam semesta serta seluruh maujud mungkin memiliki kekurangan secara esensial. Melalui perspektif ini, baik yang berasal dari pengalaman langsung maupun tidak, ia akan menemukan bahwa totalitas alam wujud tenggelam dalam gelombang keku- rangan dan kehinaan serta selalu berada dalam samudra kepapaan, kebutuhan, dan kebergantungan kepada Zat Yang Wajib Wujud-Nya. Sebagai maujud yang mungkin, ia sama sekali tak kuasa sedikit pun atas dirinya sendiri. Semua ini adalah maujud yang terliputi oleh ketiadaan dan hanya merupakan kesia-siaan dan kekurangan mutlak. Bahkan, ungkapan-ungkapan ini sama sekali tidak dapat mencerminkan kenyataan yang sebenarnya, lantaran keadaan sebenarnya jauh

lebih rendah daripada semua gambaran dan ungkapan itu. Kita menggunakan semua ungkapan itu hanya karena keterbatasan bahasa kita selaku makhluk yang berkekurangan. Sejatinya, kecacatan, kemiskinan, kebergantungan, dan sebagainya adalah ciri-ciri 'sesuatu' (syai'), sementara semua makhluk bukanlah 'sesuatu pada dirinya sendiri'. Apabila orang yang memiliki pengetahuan seperti di atas tadi berdiri di hadapan Tuhannya dengan semua ibadah, ketaatan, ilmu pengetahuan, dan makrifat, niscaya dia tidak akan dapat berbuat apa-apa kecuali menundukkan kepalanya karena perasaan hina, cemas, dan malu kepada-Nya. Kepatuhan

apa yang bisa diberikan si hamba kepada Tuhannya? Ibadah apa? Dari siapa? Untuk siapa? Seluruh sifat mulia adalah milik-Nya. Wujud dan eksistensi si hamba itu tidak berhak menyandang sifat-sifat mulia Tuhan itu pada dirinya sendiri. Bahkan, ketika ia sengaja memuji Nama-Nya, pujian itu justru menunjukkan keburukan dan ketakmampuan dirinya dan mengotori kemurnian dan kemutlakan Nama-Nama Suci-Nya. Inilah pokok masalah yang akan kita bahas dalam bab ini, (yakni keterbatasan dan kebergantungan eksistensial hamba di hadapan ketakberhinggaan dan kemutlakan Wujud Wajib). Allah berfirman:

p: 267

«أَیْنَمَا تَکُونُوا یُدْرِکْکُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ کُنْتُمْ فِی بُرُوجٍ مُشَیَّدَهٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَهٌ یَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَیِّئَهٌ یَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِکَ قُلْ کُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا یَکَادُونَ یَفْقَهُونَ حَدِیثًا (78)» «مَا أَصَابَکَ مِنْ حَسَنَهٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَکَ مِنْ سَیِّئَهٍ فَمِنْ نَفْسِکَ وَأَرْسَلْنَاکَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَکَفَی بِاللَّهِ شَهِیدًا (79)»

Apa pun kebaikan yang ada padamu berasal dari Allah; apa pun keburukan yang ada padamu berasal dari dirimu. (QS Al-Nisa' [41: 78-79)

Dalam hubungannya dengan permasalahan yang pertama (wujud-yang-mungkin selalu berada dalam posisi bergantung secara mutlak), Allah berfirman:

Katakanlah, “Segalanya berasal dari Allah.” (QS Al-Nisã’ [4): 78) Dengan pesan yang sama, penyair Hafizh berkata:

افرین بر نظر پاک خطاپوش بار

بیریا گفت خطا بر قلمصنع نفت

Berkata guru kami, “Pena penciptaan tak melakukan kesalahan apa-apa. Semua kesalahan berasal dari diri kita.” Terpujilah Pandangan cemerlang (Ilahi) yang menyembunyikan seluruh aib. Semuanya berasal dari sisi-Nya. Pernyataan sang guru berkaitan dengan perspektif kedua, sedangkan pernyataan sang penyair berkaitan dengan perspektif pertama. Dengan demikian, perspektif pertama akan memenuhi hati manusia dengan perasaan takut, cemas, sedih, malu, dan hina. Dalam perspektif yang kedua, hamba menatap Kesempurnaan Wujud Wajib, limpahan rahmat, dan kelembutan-Nya. Ia melihat betapa aneka rahmat dan nikmat-Nya itu Dia limpahkan tanpa batas, tanpa syarat apakah si penerima layak ataupun tidak layak untuk menerimanya. Da telah membuka sekian pintu rahmat-Nya bagi semua makhluk-Nya tanpa syarat apa pun. Semua nikmat-Nya adalah curahan kebaikan-Nya yang tidak didahului oleh permohonan siapa pun.

Imam Sayyidus Sajjidin Zainul Abidin, 'Ali ibn Al-Husain ibn Abi Thalib a.s. dalam doa-doanya yang dikenal dengan Al-Shahifah Al-Kâmilah dan doa-doa yang lain, merujuk berulang-ulang pada perspektif kedua ini. Harapannya pada rahmat Tuhannya menjadi semakin kuat, dambaannya akan Zat Yang Maha Pemurah dan Raja Segala Raja semakin besar. Dia yang tidak menganugerahi kemurahan-Nya kecuali karena sifat Maha Penyayang dan Mahalembut-Nya, walaupun seorang hamba tidak bersusah payah atau memohon kepada-Nya. Akal tidak mampu memahami satu titik pun dari segenap nikmat-Nya.

p: 268

Pembangkangan para pendosa tidak mengganggu tatanan kerajaan-Nya yang sangat luas, dan ketaatan orang-orang yang taat tidak menambah sesuatu pun bagi-Nya. Petunjuk dari Zat Yang Mahasuci itu pada jalan ketaatan dan larangan-Nya untuk melenceng adalah karena bimbingan dan perhatian-Nya serta limpahan nikmat-Nya, agar kita semua dapat mencapai maqâm kesempurnaan dan derajat yang tinggi, terhindar dari berbagai bentuk kecacatan, kehinaan, dan keburukan. Apabila kita menghadap ke hadirat Yang Mahakuasa, kita harus berkata, “Ya Allah, Engkau telah memberi kami pakaian wujud. Engkau juga telah menganugerahi kami semua sarana kehidupan dan kenyamanan melampaui bayangan semua yang berpikir. Engkau telah memperlihatkan kepada kami bermacam-macam jalan menuju petunjuk-Mu. Engkau telah melimpahkan kepada kami aneka nikmat-Mu, dan semua itu Engkau berikan untuk kepentingan kami sehingga kami dapat menikmati pemberian-Mu. Inilah kami, hamba-hamba yang menghampiri tempat curahan karunia, dan kami selalu berada di bawah kekuasaan-Mu. Kami datang dengan membawa dosa sebesar dua dunia (manusia dan jin). Padahal, dosa-dosa para pendosa tidak akan pernah mengurangi perbendaharaan kekayaan-Mu. Kesalahan mereka tidak akan menggoyahkan kerajaan-Mu. Ya Allah, apakah yang layak Kaulakukan kepada kami yang penuh dosa dan tidak memiliki arti apa pun di hadapan kekuasaan-Mu, selain belas kasih yang luas?" Manusia harus selalu menjaga keseimbangan kedua perspektif tersebut. Dia tidak boleh menutup mata dari kegagalannya memenuhi tugas-tugasnya sebagai makhluk, tetapi ia juga tidak boleh melepaskan harapan akan rahmat yang meliputi segalanya, cinta, dan belas kasih Allah Yang Mahakuasa.

Tingkat dan Derajat Rasa Takut

Sahabatku, ketahuilah bahwa rasa takut memiliki beberapa tingkat dan derajat sesuai dengan keadaan manusianya dan tingkat pengetahuan (maʼrifah) mereka. Rasa takut orang awam adalah rasa takut terhadap siksaan Allah Swt. Rasa takut orang-orang pilihan adalah

p: 269

rasa takut terhadap teguran-Nya, sementara rasa takut orang-orang terpilih di antara orang-orang pilihan adalah rasa takut akan tertutupnya hijab dari memperoleh ridha-Nya. Kami tidak bermaksud menjelaskan permasalahan ini disini, tetapi kita akan membatasi perbincangan kita pada beberapa masalah yang telah dikemukakan sebelum ini. Ketahuilah bahwa tak satu makhluk pun dapat beribadah kepadaNya sebagaimana layaknya Dia disembah, lantaran ibadah berarti

memuliakan dan memuja Zat Allah Yang Suci dan pujaan adalah buah dari pengetahuan tentang-Nya. Pada hakikatnya, tak ada hamba yang mampu menjangkau Keagungan Zat Tuhan Yang Mahatinggi, sehingga tak ada yang dapat memuji keindahan, keagungan, dan kebesaran-Nya secara hakiki. Hal ini telah diakui sendiri oleh manusia termulia dan makhluk paling mengetahui Allah, yaitu Rasul Saw., manakala beliau bersabda:

وَ قَالَ صَلَّی اَللَّهُ عَلَیْهِ وَ آلِهِ : مَا عَبَدْنَاکَ حَقَّ عِبَادَتِکَ وَ مَا عَرَفْنَاکَ حَقَّ مَعْرِفَتِکَ.

“Kami tidak menyembah-Mu sebagaimana mestinya Engkau disembah. Dan kami tidak mengenal-Mu sebagaimana mestinya Engkau dikenali.(1) Kalimat kedua di atas merupakan alasan bagi kalimat pertama. Beliau Saw. juga bersabda: انگما أثنیت علی نفسک

“Engkau adalah seperti Engkau memuja Diri-Mu.(2)

Oleh karena itu, ketaksempurnaan adalah hal yang esensial bagi wujud-yang-mungkin dan kemuliaan mutlak adalah semata-mata milik Zat Suci Yang Mahakuasa. Dan tatkala para hamba tidak mampu memuja atau menyembah Allah Swt. sebagaimana selayaknya Dia disembah dan dipuji, karena tidak disertai pengetahuan yang utuh tentang Zat-Nya Yang Mahasuci, maka tidak seorang pun dapat mencapai tangga-tangga kesempurnaan menuju akhirat sebagaimana dijelaskan pada tempatnya oleh para ulama dengan beragam bukti jelas. Akan tetapi, orang-orang awam tidak mengetahui hal itu. Mereka menganggap persoalan akhirat tidak ada artinya atau hampir tidak berarti—Mahasuci Allah dari anggapan semacam itu. Oleh karena

p: 270


1- 2. Safinah Al-Bihar, II, 180.
2- 3. Ibid., h. 181.

kemustahilan pengenalan, penyembahan sekaligus pemujaan hamba pada Zat Yang Mahakuasa, dengan kelembutan-Nya dan rahmat-Nya yang luas, Dia membuka pintu rahmat dan bimbingan-Nya bagi semua hamba-Nya melalui petunjuk-petunjuk gaib berupa wahyu dan ilham serta penurunan malaikat dan pengutusan para nabi. Inilah gerbang menuju penghambaan diri dan pengenalan tentang kebesaran- Nya yang telah disediakan-Nya untuk para hamba. Dia memperkenalkan hamba-hamba-Nya akan pelbagai cara beribadah kepada-Nya dan membuka jalan menuju pengenalan terhadap Zat-Nya, agar mereka dapat mengurangi semua kelemahan dan kenistaan hamba semampu mereka, dan agar mereka dapat mencapai derajat-derajat kesempurnaan yang sepantasnya. Mereka juga diharapkan dapat bersuluh dengan secercah sinar penghambaan menuju alam kemuliaan Zat Al-Haqq, menuju alam ketenteraman, kecemerlangan, surga rahmat atau menuju keridhaan Allah yang lebih besar daripada semua itu. Dengan demikian, Dia membukakan gerbang ibadah dan penghambaan sebagai salah satu rahmat-Nya yang paling besar. Setiap hamba berutang budi dan syukur yang mungkin mereka balas kepadaNya, karena setiap ungkapan rasa syukur yang diucapkan adalah

pertanda terbukanya pintu kemurahan-Nya terhadap hamba yang bersangkutan, yang tidak mungkin pula dapat dibalasnya. Apabila manusia mengetahui demikian itulah keadaan dirinya dan hatinya menghayati semua kenyataan tersebut, niscaya ia akan mengakui kelemahan dirinya sendiri. Bahkan, jika ia dapat menghadap ke hadirat Tuhan-Nya Yang Mahakuasa dengan membawa amal ibadah seluruh umat manusia, jin dan para malaikat yang dekat dengan-Nya, niscaya dia akan tetap memiliki rasa takut dan menyadari kekerdilan dirinya. Demikian pula hamba-hamba Allah yang memiliki pengetahuan mendalam tentang-Nya dan orang-orang pilihan-Nya yang dekat denganNya—yang telah Allah bukakan bagi mereka pintu rahasia takdir dan hati mereka tercerahkan oleh cahaya makrifat---pastilah hati

dan jiwa mereka akan tetap bergetar dan dipenuhi rasa takut. Bahkan, seandainya aneka rupa kesempurnaan telah mereka peroleh dan seluruh kunci pengetahuan tentang-Nya telah diberikan kepada mereka, rasa takut mereka tetap juga tak akan berkurang setitik pun,

p: 271

sebagaimana pernah diungkapkan oleh salah seorang dari mereka, “Sebagian manusia takut akan akhir (nasib) dan aku takut akan permulaan (nasib)."Subhânallâh! Sungguh tak ada daya dan upaya kecuali pada Allah! Aku berlindung kepada Allah Yang Mahakuasa. Allah Mahatahu, sungguh kata-kata seperti ini harus mencincang hati manusia dan membuatnya leleh ketakutan. Sudah sewajarnya apabila dia tidak lagi dapat merasa tenang hidup di dunia ini. Akan tetapi, nyatanya manusia tak pernah selesai dari kealpaannya! Satu hal lain yang telah kami sebutkan ketika membahas salah satu hadis sebelum ini adalah bahwa seluruh ketaatan dan ibadah yang kita lakukan adalah demi kepentingan diri kita sendiri. Motivasi pelaksanaannya adalah cinta diri. Ketaatan kita di dunia ini hanyalah demi memperoleh kesenangan-kesenangan di akhirat. Dan ini mirip dengan golongan orang yang meninggalkan kesenangan dunia demi dunia. Padahal kalaupun seandainya kita menghadap ke hadirat Allah Yang Mahasuci dengan membawa amal ibadah seluruh manusia dan jin, kita tetap tidak berhak memperoleh apa pun kecuali keterasingan dari wilayah kedekatan dengan-Nya. Allah Yang Mahabesar telah mengundang kita untuk memasuki wilayah kedekatan dan cinta suci-Nya, dengan berfirman: "Telah kuciptakan engkau demi Diriku". Dia telah menjadikan pengetahuan tentang-Nya sebagai tujuan penciptaan kita dan menunjukkan kepada kita jalan pengetahuan dan penghambaan. Namun, meskipun demikian, yang kita lakukan hanyalah menyibukkan diri kita dalam pemuasan nafsu-nafsu rendah kita, tanpa memiliki tujuan apa pun kecuali egoisme dan cinta diri.

Maka, wahai marusia yang malang, yang tidak kamu peroleh dari ibadah dan penghambaanmu kecuali keterasingan dan penolakan dari wilayah kedekatan suci Allah serta kelayakanmu memperoleh murka dan siksa-Nya, pada apakah kau akan menyandarkan dirimu? Mengapa rasa takut pada kepedihan siksa-Nya tidak menggelisahkan dirimu? Apakah engkau memiliki tempat perlindungan lain? Apakah engkau memercayai amal-amal baikmu dan merasa tenang bahwa amal-amalmu itu akan diterima-Nya? Jika demikian, celakalah engkau akibat kesimpulan dan penilaianmu yang salah tentang diri-

p: 272

mu dan Raja Segala Raja itu. Namun, jika engkau bersandar pada kemurahan Zat Yang Mahasuci dan keluasan rahmat-Nya serta cakupan pengawasan dan bimbingan-Nya yang meliputi seluruh makhluk, sesungguhnya engkau menyandarkan diri pada apa yang selayaknya dijadikan sandaran; engkau telah bersandar pada Zat yang Maha kukuh, dan berlindung da bawah Perlindungan Yang Mahakuat.

Harapan dan Doa

Ya Allah, Ya Rabbi! Sungguh kami benar-benar lemah, tidak dapat menjangkau sesuatu apa pun. Kami mengetahui bahwa kami memiliki banyak kekurangan dan tak berarti apa-apa. Kami tak memilki apa pun yang pantas kami bawa ke hadirat-Mu. Totalitas kami adalah cacat dan kekurangan. Wujud lahir dan batin kami terbenam dalam dosa-dosa yang membinasakan. Siapakah kami sehingga kami bermohon kepada-Mu agar diberikan kemampuan memuja-Mu, padahal salah seorang terdekat-Mu berkata, “Apakah mungkin dengan lidah yang lemah dan kelu ini aku berterima kasih kepada-Mu?", sambil mengakui ketakmampuan dan kelemahannya? Bagaimana dengan kami, para pendosa yang tertolak dari hadirat keagungan-Mu? Tidak ada yang dapat kami ungkapkan kecuali menyatakan dengan gerak-gerak bibir kami yang tanpa arti, “Sungguh harapan kami hanya ada pada rahmat-Mu. Kami hanya memercayakan diri kami kemurahan, ampunan, dan kebesaran Zat Suci-Mu”, seperti yang diungkapkan oleh orang-orang terdekat-Mu:

عِدَّهٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ کَثِیرٍ عَنْ أَبِی عُبَیْدَهَ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِی جَعْفَرٍ ع قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص قَالَ اللَّهُ تَبَارَکَ وَ تَعَالَی لَا یَتَّکِلِ الْعَامِلُونَ عَلَی أَعْمَالِهِمُ الَّتِی یَعْمَلُونَهَا لِثَوَابِی فَإِنَّهُمْ لَوِ اجْتَهَدُوا وَ أَتْعَبُوا أَنْفُسَهُمْ أَعْمَارَهُمْ فِی عِبَادَتِی کَانُوا مُقَصِّرِینَ غَیْرَ بَالِغِینَ فِی عِبَادَتِهِمْ کُنْهَ عِبَادَتِی فِیمَا یَطْلُبُونَ عِنْدِی مِنْ کَرَامَتِی وَ النَّعِیمِ فِی جَنَّاتِی وَ رَفِیعِ الدَّرَجَاتِ الْعُلَی فِی جِوَارِی وَ لَکِنْ بِرَحْمَتِی فَلْیَثِقُوا وَ فَضْلِی فَلْیَرْجُوا وَ إِلَی حُسْنِ الظَّنِّ بِی فَلْیَطْمَئِنُّوا فَإِنَّ رَحْمَتِی عِنْدَ ذَلِکَ تُدْرِکُهُمْ وَ مَنِّی یُبَلِّغُهُمْ رِضْوَانِی وَ مَغْفِرَتِی .

p: 273

تُلْبِسُهُمْ عَفْوِی فَإِنِّی أَنَا اللَّهُ الرَّحْمَنُ الرَّحِیمُ وَ بِذَلِکَ تَسَمَّیْتُ

Al-Kulaini, dengan isnâd-nya, dalam Al-Kâfi, meriwayatkan dari Imam Al-Baqir yang berkata, “Rasullah Saw. bersabda, 'Allah Yang Mahatinggi berkata, “Janganlah orang-orang yang beramal demi Aku mengandalkan amal-amal mereka karena ingin memperoleh ganjaran dari-Ku. Sebab, seandainya mereka bersungguh-sungguh menghabiskan tenaga mereka sepanjang hidupnya dalam mengabdi kepada-Ku, ibadah mereka tetap kurang dan tidak akan mencapai hakikat penghambaan terhadap-Ku, dalam pencarian mereka akan kemurahan, rahmat dan kebesaran-Ku, aneka nikmat di surga-Ku dan maqâm-maqâm tinggi di sisi-Ku. Namun, dengan rahmat-Ku-lah mereka harus bersandar, kemurahan-Ku-lah hendaknya yang mereka harapkan, dan dengan berprasangka baik pada-Ku-lah hendaknya mereka merasa tenang, karena, sesungguhnya dengan itu rahmat-Ku akan mencapai mereka, ridha-Ku akan sampai kepada mereka, dan pengampunan-Ku akan meliputi diri mereka. Sesungguhnya, Aku, Akulah Allah, Yang Maha Pengasih, dan Maha Penyayang, dan karena itulah Aku dinamakan dernikian. (1)

Tafakur, Rasa Takut, dan Harapan

Salah satu hal yang menimbulkan rasa takut kepada Allah adalah tafakur akan kedahsyatan kekuatan Allah, sempitnya jalan akhirat, dan bahaya yang harus dihadapi manusia selama hidupnya dan pada saat kematiannya, juga kesukaran-kesukaran yang akan dialaminya di alam barzakh dan hari kiamat, serta adanya pertanggungjawaban dan penimbangan amal-amal perbuatan manusia. Demikian pula, rasa takut ini akan timbul dengan merenungkan ayat-ayat dan hadis-hadis tentang janji-janji Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dalam salah satu hadis, diriwayatkan bahwa pada Hari Kebangkitan Allah menghamparkan rahmat-Nya, demikian berlimpahnya hingga iblis pun berharap memperoleh pengampunan-Nya. Disebutkan pula bahwa Allah sebelum itu tidak pernah memandang alam

ini semenjak awal penciptaannya dengan pandangan kelembutan. dan Allah tidak melimpahkan rahmat-Nya ke alam ini kecuali sebiji atom dibandingkan dengan limpahan rahmat-Nya ke alam-alam lain.

p: 274


1- 4. Al-Kafi, II, 71, hadis 1.

Rahmat sekecil itu telah dapat meliputi semua makhluk dengan aneka nikmat, rahmat, ampunan, dan kemahalembutan-Nya. Yang tampak dan yang gaib dari nikmat-nikmat itu adalah sekumpulan hidangan aneka nikmat Allah yang amat melimpah dan merupakan pemberian-Nya yang tak sesuatu atau seorang pun yang dapat mencerap dan menampungnya secara menyeluruh. Jika memang demikian itu halnya nikmat-nikmat-Nya di dunia, lalu bagaimana dengan nikmat-nikmat-Nya di alam yang merupakan tempat curahan seluruh rahmat dan kemurahan-Nya serta alam jamuan-Nya, di mana Dia Yang Maha suci melimpahkan sifat Rahmân dan Rahim-Nya. Tentu saja, kita bisa memahami mengapa iblis berharap memperoleh rahmat dari-Nya. Oleh karena itu, sempurnakanlah prasangka baikmu kepada Allah dan percayalah sepenuhnya kepada karunia-Nya, sebagaimana bunyi firman-Nya:

«قُلْ یَا عِبَادِیَ الَّذِینَ أَسْرَفُوا عَلَی أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَهِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ یَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِیعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِیمُ (53)»

Sungguh Allah akan mengampuni dosa-dosa seluruhnya .... (QS Al-Zumar (39]: 53)

Allah Swt. membenamkan semua makhluk-Nya dalam samudra karunia dan kemurahan-Nya, serta tidak mungkin Dia mengingkari janji-Nya, meskipun mungkin saja Dia membatalkan ancaman-ancaman-Nya_dan betapa sering Dia melakukan itu! Oleh karena itu, bergembiralah hatimu dengan berharap rahmat-Nya, karena kalau

saja rahmat itu tidak meliputi dirimu, tentu engkau takkan tercipta menjadi makhluk; setiap makhluk adalah penerima rahmat-Nya. Dia

berfirman: وَرَحْمَتِی وَسِعَتْ کُلَّ شَیْءٍ بِآیَاتِنَا یُؤْمِنُونَ (156)» ... Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu .... (QS Al-A'râf (7): 156)

Perbedaan antara Harapan dan Keteperdayaan

Namun, Saudaraku, waspadalah selalu agar Anda tidak salah membedakan antara rasa berharap dan rasa bangga karena teperdaya oleh diri sendiri, karena mungkin Anda teperdaya oleh diri sendiri sehingga Anda berpikir bahwa Anda termasuk hamba-hamba Allah yang selalu berharap akan rahmat-Nya. Sebenarnya tidak sulit untuk membedakan keduanya dengan melihat motivasinya masing-masing. Perhatikanlah keadaan diri Anda yang membuat Anda beranggapan bahwa

p: 275

Anda termasuk para pengharap karunia-Nya. Amalilah baik-baik, apakah keadaan itu disebabkan oleh sikap menganggap remeh perintah-perintah Allah atau karena keyakinan akan rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu dan keagungan Zat Suci-Nya. Kalau ernyata hal itu sulit Anda bedakan, dapat juga Anda lihat perbedaan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Jika perasaan akan kebesaran Allah tertanam di dalam hati seorang Mukmin dan hati itu merasa diliputi oleh aneka karunia dan rahmat-Nya yang sangat luas, niscaya ia akan benar-benar patuh dan mengabdi kepada-Nya. Ini karena pengakuan akan kebesaran Zat Yang Mahabesar Pemberi aneka nikmat dan kecenderungan penghambaan diri terhadap-Nya adalah salah satu ciri fitrah manusia yang tak seorang pun mengingkarinya.

Apabila dalam melaksanakan tugas penghambaan diri dan pengerahan upaya dan daya dalam ketaatan serta ibadah kepada-Nya, Anda tidak menganggap berarti amal-amal ibadah tersebut-sedangkan Anda berharap karunia dan rahmat-Nya dan Anda menemukan diri Anda patut menerima segala kemurkaan dan kutukan-Nya karena perbuatan-perbuatan buruk Anda sendiri-dan jika sandaran utama Anda hanya kepada rahmat Zat Yang Maha Pemurah dan Mahamutlak, jika Anda menyadari semua itu, berarti Anda termasuk para pengharap karunia Allah Swt. Maka, bersyukurlah kepada-Nya dan bermohonlah kepada Zat-Nya Yang Suci agar Dia memantapkannya dalam hati Anda dengan kukuh dan memberi Anda derajat yang lebih tinggi daripada derajat Anda sebelumnya. Namun, jika Anda selalu menganggap enteng dan remeh perintah-perintah Allah, dan menganggap tidak penting ajaran-ajaran-Nya, ketahuilah bahwa Anda telah teperdaya oleh diri Anda sendiri. Sifat itu telah tertanam di hati Anda sebagai akibat tipu daya iblis dan nafsu Anda yang selalu memerintahkan berbuat keburukan. Sebab, jika benar Anda merasa puas dan tenang akan kebesaran dan keluasan rahmat-Nya, pastilah akibat-akibat yang ditimbulkannya akan tampak di hati Anda. Seseorang yang hanya mengklaim dirinya sebagai orang-orang taat, sedangkan ucapannya itu berbeda dengan perbuatan-perbuatannya adalah seorang yang telah mendustai dirinya sendiri. Ada banyak hadis yang mendukung permasalahan ini.

p: 276

Hadis tentang Kecemasan dan Harapan

اعَنْهُ عَنِ ابْنِ أَبِی نَجْرَانَ عَمَّنْ ذَکَرَهُ عَنْ أَبِی عَبْدِ اللَّهِ ع قَالَ: قُلْتُ لَهُ قَوْمٌ یَعْمَلُونَ بِالْمَعَاصِی وَ یَقُولُونَ نَرْجُو فَلَا یَزَالُونَ کَذَلِکَ حَتَّی یَأْتِیَهُمُ الْمَوْتُ فَقَالَ هَؤُلَاءِ قَوْمٌ یَتَرَجَّحُونَ (4) فِی الْأَمَانِیِّ کَذَبُوا لَیْسُوا بِرَاجِینَ إِنَّ مَنْ رَجَا شَیْئاً طَلَبَهُ وَ مَنْ خَافَ مِنْ شَیْ ءٍ هَرَبَ مِنْهُ.

Dalam Al-Kafi, Al-Kulaini dengan isnâd-nya meriwayatkan dari Ibn Abi Najran, dari seorang perawi yang disebutnya, dari Imam Al-Shadiq bahwa ia berkata, “Aku berkata kepada Imam, ‘Ada sekelompok manusia yang berbuat dosa dan berkata bahwa mereka berharap (rahmat-Nya). Mereka berada dalam keadaan ini hingga

mereka wafat.' Imam berkata, “Mereka adalah orang-orang yang telah diombang-ambingkan oleh angan-angan. Mereka telah mendustai (diri mereka), bukanlah mereka para pengharap (rahmat-Nya). Sesungguhnya barang siapa yang mengharapkan sesuatu, pasti ia akan mengejarnya, dan siapa yang takut akan sesuatu, ia

akan menghindar darinya.(1)

Dengan makna yang sama, disebutkan dalam Al-Kâfi sebuah hadis berikut:

عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ ابْنِ سِنَانٍ عَنِ ابْنِ مُسْکَانَ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ أَبِی سَارَهَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع یَقُولُ لَا یَکُونُ الْمُؤْمِنُ مُؤْمِناً حَتَّی یَکُونَ خَائِفاً رَاجِیاً وَ لَا یَکُونُ خَائِفاً رَاجِیاً حَتَّی یَکُونَ عَامِلًا لِمَا یَخَافُ وَ یَرْجُو

Dengan isnâd-nya dari Al-Husain ibn Abi Sarah bahwa ia berkata, saya mendengar Abu 'Abdullah berkata, “Tidaklah seseorang dikatakan benar-benar Mukmin sebelum ia memiliki rasa takut dan berharap, dan ia baru dikatakan telah memiliki rasa takut dan berharap apabila ia berperilaku sesuai dengan perasaan takut

dan berharap yang dimilikinya.(2) Ada yang berpendapat bahwa orang yang berharap ridha Tuhan-nya dan menunggu curahan rahmat-Nya tanpa mengerjakan apa

p: 277


1- 5. Ibid., II, 68, hadis 5.
2- 6. Ibid., II, 71, hadis 11, dari Al-Hasan ibn Sarah.

pun adalah seperti orang yang menunggu hasil tanpa mempersiapkan sarana-sarana yang diperlukan; seperti petani yang menunggu panen tanpa menabur benih, tanpa membajak, dan mengairi tanahnya; orang semacam ini tidak bisa dikatakan berharap. Itu adalah kebodohan dan kekonyolan. Orang yang tidak memperbaiki akhlak dan perbuatan-perbuatannya, tidak pula menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan dosa, lalu ia bangkit melakukan beberapa perbuatan sambil berharap dapat menyucikan dirinya, adalah seperti petani yang menaburkan benihnya di tanah mati: jelas bahwa tidak ada hasil apa pun yang dapat dipetiknya dari benih yang telah ditaburkannya itu. Sikap berharap yang sebenarnya dan dianjurkan bagi seorang hamba harus dimulai dengan persiapan seluruh sarana yang dapat

diperolehnya seperti yang telah diperintahkan Allah Swt. Selanjutnya, sang hamba harus memanfaatkan sarana-sarana tersebut sesuai dengan kemampuan yang telah diberikan-Nya kepada yang bersangkutan, serta berdasarkan perhatian, bimbingan, dan pemberitahuan-Nya akan jalan kebenaran dan keburukan. Barulah setelah itu ia dapat menunggu dan berharap agar Allah menyempurnakan perhatian dan bimbingan-Nya terhadap sarana-sarana yang telah diberikan-Nya dan yang telah ia peroleh sebelumnya, sehingga ia dapat mewujudkan hal-hal positif lain yang tidak masuk ke dalam cakupan kehendak dan pilihan-Nya setelah itu serta dapat menghilangkan rintangan-rintangan dari jalannya.

Demikianlah, ketika sang hamba telah membersihkan hatinya dari keburukan-keburukan moral dan dari batu-batu dosa yang membinasakan, lalu menaburkan benih perbuatan baik di hatinya itu, mengairinya dengan air jernih pengetahuan yang bermanfaat dan keimanan yang tulus, serta menjaganya dari berbagai penyakit hati

yang merusak seperti 'ujb dan riyâ', dan lain sebagainya,yang mirip dengan hama yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman-kemudian, ia menunggu anugerah Allah, berharap agar Yang Maha-kuasa memantapkan hatinya di jalan yang benar, dan agar Dia menjadikan kesudahan hidupnya diwarnai oleh kebaikan, apabila ini yang dilakukan sang hamba, inilah harapan yang sejati, seperti yang telah dinyatakan oleh Allah:

p: 278

«إِنَّ الَّذِینَ آمَنُوا وَالَّذِینَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِی سَبِیلِ اللَّهِ أُولَئِکَ یَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِیمٌ (218)»

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah—merekalah yang mengharapkan rahmat Allah; dan Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih. (QS Al-Baqarah 12): 218)

Keseimbangan antara Rasa Takut dan Berharap

Di akhir hadis yang sedang kita bahas ini, disebutkan bahwa rasa takut tidak boleh melebihi harapan, dan demikian sebaliknya; hal yang sama disebutkan pula dalam hadis mursal Ibn Abi Umair dari Imam Al-Shadiq. Ketika seseorang menyaksikan puncak kegagalannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan ibadah sebagai seorang hamba dan ketika ia merenungkan sempitnya jalan menuju akhirat, hal ini akan melahirkan rasa takut yang sangat pada dirinya. Dan, ketika ia menyaksikan dosa-dosanya dan merenungkan keadaan mereka yang pada mulanya saleh, tetapi kemudian jatuh ke dalam keadaan yang sangat buruk dan meninggalkan dunia ini sebagai kafir dan tanpa memiliki perbuatan baik, berakhir pada kejahatan, rasa takutnya bertambah-tambah. Dalam sebuah hadis yang di muat di dalam Al-Kafi,

Al-Imam Al-Shadiq diriwayatkan berkata:

قَالَ: الْمُؤْمِنُ بَیْنَ مَخَافَتَیْنِ ذَنْبٍ قَدْ مَضَی لَا یَدْرِی مَا صَنَعَ اللَّهُ فِیهِ وَ عُمُرٍ قَدْ بَقِیَ لَا یَدْرِی مَا یَکْتَسِبُ فِیهِ مِنَ الْمَهَالِکِ فَهُوَ لَا یُصْبِحُ إِلَّا خَائِفاً وَ لَا یُصْلِحُهُ إِلَّا الْخَوْفُ.

Orang Mukmin berada di antara dua hal yang menakutkan: dosa-dosa masa lalunya—ia tak tahu apa yang akan dilakukan Tuhan terhadapnya karena dosa-dosa itu—dan sisa hidupnya—ia tak tahu dosa besar apakah yang akan dilakukannya di masa depan. Maka, ia tidak terjaga kecuali dalam keadaan takut dan tak sesuatu

pun yang menjaganya (tetap di jalan yang lurus) kecuali rasa takut.(1)

Hal yang sama dinyatakan dalam khutbah Rasulullah yang diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Imam Al-Shadiq dalam Al-Kafi.(2)

Memang, manusia sudah seharusnya berada dalam perasaan akan ketaksempurnaan dirinya dan selalu melihat Tuhannya berada pada

p: 279


1- 7. Ibid., hadis 12.
2- 8. Ibid., hadis 2.

puncak kebesaran, keluasan rahmat, dan anugerah-Nya. Hendaklah seorang hamba selalu berada dalam dua keadaan yang berimbang antara rasa takut dan berharap. Dan, karena sifat-sifat kebesaran dan keindahan-Nya memancarkan cahayanya secara berimbang pada hati manusia, rasa takut dan berharap tidak dapat melampaui yang lainnya. Sebagian orang mengatakan bahwa kadang kala rasa takut lebih bermanfaat bagi manusia seperti ketika fisik dalam kondisi sehat agar ia dapat berusaha untuk mencapai kesempurnaan dalam melakukan amal-amal baik; dan bahwa harapan lebih baik pada keadaan-keadaan tertentu—seperti ketika tanda-tanda kematian sedang mendekat sehingga manusia dapat bertemu Tuhannya dalam keadaan yang lebih dicintai-Nya. Akan tetapi, pendapat ini tidak sesuai dengan kesimpulan pembahasan kita di atas dan tidak cocok dengan pesan hadis-hadis yang telah kami sebutkan karena harapan yang sejati juga dapat mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Rasa takut terhadap Allah juga merupakan sesuatu yang dicintai-Nya dan tak bertentangan dengan harapan kepada-Nya. Sebagian orang lain lagi menyatakan bahwa rasa takut bukanlah merupakan suatu perbuatan terpuji ataupun ciri kesempurnaan jiwa seorang hamba Mukmin di akhirat nanti. Mereka menganggap perasaan tersebut hanyalah merupakan salah satu sifat yang manfaatnya terbatas pada kehidupan dunia ini saja—yang merupakan arena untuk melakukan berbagai amal baik--di mana rasa takut ini mencegahnya untuk melakukan perbuatan dosa, dan sebaliknya, mendorongnya

sehingga bersemangat dalam melakukan amal-amal ibadah. Rasa takut tidak berguna setelah dunia ini ditinggalkan. Sedangkan rasa berharap tak akan pernah berakhir. Ia akan berlanjut hingga alam akhirat karena semakin banyak manusia menerima rahmat Allah, semakin banyak pula ia mengharapkan karunia-Nya, dan karena rahmat Tuhan tidak pernah ada penghabisannya. Dengan demikian, rasa takut berakhir, tetapi harapan berlanjut. Seorang pakar hadis besar, Al-Majlisi, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada-Nya, berkata, "Sesungguhnya yang benar adalah bahwa selama hamba masih berada pada alam kewajiban (yaitu dunia ini)

p: 280

ia pasti memiliki rasa takut serta harapan. Namun, setelah menyaksikan segala sesuatunya di akhirat, salah satu di antara keduanya-rasa takut atau harapan--pasti akan melebihi yang lainnya." Penulis di sini ingin menambahkan bahwa pendapat tentang lebih dominannya rasa takut atau harapan di alam akhirat tidak sejalan

dengan yang telah disebutkan di atas tentang makna rasa takut dan harapan. Bahkan jika itu benar, hal ini akan berlaku hanya kepada mereka yang berada pada maqâm-maqâm pertengahan, di mana keduanya-rasa takut dan berharap-didasari oleh takut akan ancaman-Nya atau berharap akan pahala-Nya.

Adapun maqam orang-orang pilihan dan orang-orang terdekat Allah Swt. jelas berbeda dengan mereka yang maqâm-nya lebih rendah. Rasa takut dan berharap yang tertanam dalam hati mereka, dan yang lahir dari penyaksian akan kebesaran dan keagungan Allah serta manifestasi dari Nama-Nama-Nya Yang Mahaindah dan Mahalembut, tidak akan pernah sirna hingga di akhirat nanti. Salah satu dari keduanya tidak akan melampaui yang lain. Bahkan, dampak kebesaran dan keagungan Allah serta manifestasi keindahan dan kemahalembutan-Nya di akhirat nanti lebih besar, sehingga rasa takut dan kagum karena kebesaran Allah dapat menjadi suatu kenikmatan spiritual; ini tak bertentangan dengan ayat:

«أَلَا إِنَّ أَوْلِیَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَیْهِمْ وَلَا هُمْ یَحْزَنُونَ (62)»

Sesungguhnya sahabat-sahabat Allah-mereka tak memiliki rasa takut dan mereka tak menderita. (QS Yûnus (10): 62)

Apa yang telah dikutip dari pendapat sebagian orang bahwa rasa takut bukanlah merupakan suatu pencapaian spiritual. Takut di sini bukan terhadap kebesaran dan keagungan Allah, karena sebaliknya, perasaan tersebut adalah suatu nilai lebih dan pertanda kesempurnaan manusia yang disempurnakan Allah Swt. sebagaimana rasa takut selain mereka ada yang lebih besar lagi. Dan, segala puji bagi Allah, keagungan dan keindahan-Nya, dan semoga Dia melimpahkan rahmat-Nya kepada Muhammad Saw. dan keluarganya.[

p: 281

15 Hadis tentang Cobaan dan Penderitaan sang Mukmin

Point

عَلِیُّ بْنُ إِبْرَاهِیمَ عَنْ أَبِیهِ عَنِ اِبْنِ مَحْبُوبٍ عَنْ سَمَاعَهَ عَنْ أَبِی عَبْدِ اَللَّهِ عَلَیْهِ اَلسَّلاَمُ قَالَ إِنَّ فِی کِتَابِ عَلِیٍّ عَلَیْهِ اَلسَّلاَمُ : أَنَّ أَشَدَّ اَلنَّاسِ بَلاَءً اَلنَّبِیُّونَ ثُمَّ اَلْوَصِیُّونَ ثُمَّ اَلْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ وَ إِنَّمَا یُبْتَلَی اَلْمُؤْمِنُ عَلَی قَدْرِ أَعْمَالِهِ اَلْحَسَنَهِ فَمَنْ صَحَّ دِینُهُ وَ حَسُنَ عَمَلُهُ اِشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَ ذَلِکَ أَنَّ اَللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ لَمْ یَجْعَلِ اَلدُّنْیَا ثَوَاباً لِمُؤْمِنٍ وَ لاَ عُقُوبَهً لِکَافِرٍ وَ مَنْ سَخُفَ دِینُهُ وَ ضَعُفَ عَمَلُهُ قَلَّ بَلاَؤُهُ وَ أَنَّ اَلْبَلاَءَ أَسْرَعُ إِلَی اَلْمُؤْمِنِ اَلتَّقِیِّ مِنَ اَلْمَطَرِ إِلَی قَرَارِ اَلْأَرْضِ .

Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini-semoga Allah imeridhainya meriwayatkan dari 'Ali ibn Ibrahim, dari ayahnya, dari Ibn Mahbub, dari Sama'ah, dari Abu 'Abdillah a.s. (Imam Ja'far Al-Shadiq) bahwa beliau berkata, "Sesungguhnya disebutkan dalam Kitab ‘Ali bahwa, Manusia paling berat cobaannya adalah para nabi,

dan setelah mereka adalah para washi(1) dan setelah mereka adalah

p: 282


1- Yang dimaksud dengan washi di sini adalah Dua Belas Imam Syi'ah-penerj.a

orang-orang pilihan yang seperti mereka. Sungguh, orang Mukmin pasti mengalami cobaan sesuai dengan kadar amal baiknya. Maka, orang yang baik agamanya dan baik pula amalnya, akan lebih berat cobaannya. Hal itu disebabkan Allah Swt. tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat memberikan pahala bagi orang Mukmin

dan tempat menyiksa orang kafir. Barang siapa yang lemah imannya dan buruk amalnya, ia akan lebih ringan cobaannya. Sesungguhnya, cobaan itu menimpa orang beriman dan bertakwa, lebih cepat daripada air hujan yang turun ke dasar bumi.(1)

Penjelasan Makna Hadis

Sebagian orang mengatakan bahwa maksud kata “manusia” dalam hadis di atas adalah manusia sempurna seperti para nabi, para wali, dan para washi. Sesungguhnya merekalah “manusia" yang sebenarnya. Sementara manusia-manusia lain selain mereka adalah nisnâs, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis Namun, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Lebih baik kita memahami kata “manusia” di atas dalam arti manusia secara umum, dan makna itu dengan jelas dapat kita tangkap dari hadis di atas. Makna yang sama juga dapat diamati dari hadis-hadis yang terdapat dalam bab yang sama dari kitab Al-Kâfî tentang masalah ini. Apabila ditemukan dalam beberapa hadis bahwa yang dimaksudkan dengan "manusia” adalah manusia-manusia sempurna, tidaklah itu berarti

bahwa kata tersebut bermakna demikian sehingga menjadi alasan pembenaran makna tersebut.

Lagi pula, kata balâ' pada hadis di atas berarti ujian dan cobaan pada manusia yang bersifat baik maupun buruk, sebagaimana ditegaskan oleh para pakar bahasa Arab di antaranya Al-Jauhari, dalam Mu'jam Al-Shihah-nya. Allah Swt. berfirman,

«فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَکِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَیْتَ إِذْ رَمَیْتَ وَلَکِنَّ اللَّهَ رَمَی وَلِیُبْلِیَ الْمُؤْمِنِینَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِیعٌ عَلِیمٌ (17)»

agar Dia menguji orang-orang Mukmin dengan ujian yang baik (QS Al-Anfâl [8]: 17).

Setiap cobaan Allah Swt. terhadap hamba-hamba-Nya di dalam bahasa Arab disebut balâ' dan ibtilâ’, baik itu berupa penyakit berat atau ringan, atau kesengsaraan seperti kemiskinan, penghinaan, dan kehilangan keuntungan-keuntungan duniawi, atau yang berlawanan

p: 283


1- 1. Al-Kulaini, Ushủl Al-Kafi, Vol. II, h. 259, hadis No. 29.

dengan itu, seperti cobaan melalui jabatan dan kedudukan yang tinggi, kekuasaan dan kebesaran, kekayaan, kepemimpinan, kehormatan, dan lain sebagainya. Namun, dalam konteks hadis ci atas, bilamana bala”, baliyyah, atau ihtilâ' dan yang seperti itu disebutkan secara umum tanpa ada sesuatu yang mengikatnya, jenis pertamalah (balâ') yang dimaksudkan. Kata antsal artinya lebih mulia dan lebih baik. Ini lebih utama daripada yang itu, yakni lebih dekat kepada kebaikan. Maka, makna kalimat pada hadis di atas berarti bahwa orang yang lebih baik dan lebih mulia setelah para nabi dan para washiy pasti menghadapi ujian dan cobaan yang lebih berat daripada orang lain, dan orang yang lebih baik dan lebih mulia setelah mereka pasti menghadapi tingkat ujian yang lebih keras. Derajat kerasnya cobaan adalah berdasarkan tingkat kesalehannya di sisi Allah Swt. Pernyataan seperti ini tidak ada dalam bahasa Persia.

Kata sukhf berarti kelemahan pada akal' atau 'kebodohan', seperti disebutkan Al-Shihah dan karya-karya leksikografi lainnya. Kata qarâr artinya 'tempat yang tenang', seperti disebutkan dalam kamus-kamus je bilo obtaig33. Qarâr adalah sesuatu tempat yang tenang di muka bumi. Analogi itu maksudnya adalah, sebagaimana bumi adalah tempat tinggal bagi hujan yang turun ke bumi, seorang Mukmin adalah tempat tinggal dan bersemayamnya aneka penderitaan dan

kesengsaraan, yang menerpanya dengan cepat, menetap dalam diri-nya, dan tak lepas darinya. Insya Allah, akan kami jelaskan beberapa hal penting untuk men-

jelaskan hadis mulia ini dalam beberapa bagian di bawah.

Makna Cobaan dan Dampaknya

Perlu diketahui bahwa jiwa manusia semenjak awal mula kelahirannya dan keterikatannya dengan jasmani, serta proses penurunannya ke alam fisik (mulk), secara potensial memiliki berbagai kemampuan pemahaman, pengetahuan, serta pengalaman. Secara bertahap, ia bergerak dari potensialitas ke aktualitas dengan rahmat Allah Yang

p: 284

Mahakuasa dan Mahamulia. Pada mulanya tampak jangkauannya yang bersifat lemah dan partikular, seperti indra perasa dan indra luar lainnya, bergerak dari yang rendah ke yang lebih tinggi. Berikut-nya, jangkauannya yang bersifat batiniah mulai muncul secara bertahap pula. Namun, keberadaan semua bakat dan sifat bawaan tersebut hanya bersifat potensial saja. Jika tidak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat memunculkan potensi-potensi baik dan ia dibiarkan begitu saja tanpa ada yang menumbuh-kembangkannya, niscaya sifat-sifat buruklah yang akan lebih dominan, dan terbentuklah sifat-sifat buruk itu sehingga jiwa manusia lebih cenderung pada keburukan. Sebab, seperti diketahui, faktor-faktor penggerak yang bersifat batin, seperti syahwah (syahwat), ghadhab (kemarahan), dan lain-lain selalu mendorongnya pada dosa, kebobrokan, agresi, dan tirani. Setelah manusia tunduk pada kekuatan dalamnya yang buruk ini selama beberapa waktu, ia akan berkembang menjadi monster dan iblis yang sangat aneh.

Namun, karena kasih sayang dan rahmat Allah Swt. telah meliputi umat manusia semenjak azali, Dia menganugerahi mereka—berdasarkan sebuah penilaian cermat--dua guru dan pendidik yang merupakan dua “sayap”, dengannya ia terbang dari jurang kebodohan, kerusakan, keburukan, kejelekan menuju puncak pengetahuan, kesempurnaan, keindahan, kebahagiaan, dan membebaskan diri mereka dari lembah alam yang sempit untuk mencapai cakrawala alam ruh (malakút) yang luas dan terbuka. Yang pertama adalah “guru" yang bersifat batin, yaitu akal dan kemampuan untuk dapat membedakan yang baik dari yang buruk,

dan yang kedua merupakan “guru” lahiriah, yaitu para nabi dan para pembimbing Ilahi yang menunjukkan jalan kebahagiaan dan membedakannya dari jalan keburukan. Salah satu dari keduanya tidak dapat melaksanakan peran yang semestinya tanpa bantuan yang lainnya, karena intelek manusia itu sendiri tidak dapat mengenali jalan kebahagiaan dan keburukan maupun menemukan jalan menuju dunia yang tersembunyi dan dunia kemaujudan ukhrawi. Demikian pula, bimbingan para nabi tidak dapat efektif tanpa penggunaan kemampuan akal dan kemampuannya dalam membedakan.

p: 285

Tuhan Yang Mahasuci yang telah menganugerahi kita dua macam guru dan pembimbing ini bertujuan agar kita dapat merealisasi serta mengaktualisasi setiap potensi dan kemampuan yang terpendam di dalam jiwa kita. Allah Swt. telah menganugerahi dua anugerah besar ini untuk menguji dari mencoba kita, karena kedua anugerah inilah yang memisahkan manusia menjadi yang bahagia dan yang sengsara, yang taat dan yang membangkang, yang sempurna dan yang tak sem-

purna. Sebagaimana dikemukakan oleh wali orang-orang Mukmin, ‘Ali ibn Abi Thalib a.s.:(1)

وَ الَّذِی بَعَثَهُ بِالْحَقِّ لَتُبَلْبَلُنَّ بَلْبَلَهً وَ لَتُغَرْبَلُنَّ غَرْبَلَهً

“Demi yang mengurus Nabi Saw. dengan kebenaran, kamu benar-benar akan dicampurbaurkan dan kemudian dipisahkan dalam saringan (ujian dan penderitaan Tuhan).(2)

Di dalam Al-Kâfi , pada bab yang berkenaan dengan ujian dan penderitaan, Ibn Abi Ya'fur meriwayatkan bahwa Imam Al-Shadiq pernah berkata:

لَا بُدَّ لِلنَّاسِ مِنْ أَنْ یُمَحَّصُوا وَ یُمَیَّزُوا وَ یُغَرْبَلُوا وَ یُسْتَخْرَجُ فِی الْغِرْبَالِ خَلْقٌ کَثِیرٌ.

“Tak dapat dihindari bahwa umat manusia mesti dibersihkan, dipisahkan, dan disaring sehingga sejumlah besar dikeluarkandari saringan itu.(3) Al-Kulaini juga meriwayatkan hadis berikut ini dengan isnâd- nya dari Manshur:

p: 286


1- b Dalam tulisan ini, para pembaca akan menjumpai penyebutan kata wali. Wali dalam konteks ini berarti orang yang memiliki kualitas wilayah. Dalain kepercayaan Syi'ah, mereka adalah orang-orang yang paling utama dari kalangan para nabi dan Dua Belas Imam yang meneruskan kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Lihat Hamid Algar (ed.), Islam and Revolution, Mizan Press, Barkeley, 1981-penerj.
2- 2. Nahj Al-Balaghah, Khutbah No. 16.
3- 3. Ushûl Al-Kafi, Vol. I, h. 370, hadis No. 2.

Hadis tentang cobaan dan Penderitaan sang Mukmin

قَالَ لِی أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ع یَا مَنْصُورُ إِنَّ هَذَا الْأَمْرَ لَا یَأْتِیکُمْ إِلَّا بَعْدَ إِیَاسٍ وَ لَا وَ اللَّهِ حَتَّی تُمَیَّزُوا وَ لَا وَ اللَّهِ حَتَّی تُمَحَّصُوا وَ لَا وَ اللَّهِ حَتَّی یَشْقَی مَنْ یَشْقَی وَ یَسْعَدَ مَنْ یَسْعَدُ

Imam Al-Shadiq a.s. berkata kepadaku, “Hai Manshur! Sungguh masalah ini (yakni munculnya Al-Mahdi a.s.) tak akan datang kepadamu kecuali setelah adanya keputusasaan, dan demi Allah, tak akan datang kepadamu sampai engkau disisihkan, dan demi Allah, sampai engkau disucikan, dan demi Allah, sampai orang

yang sengsara memperoleh kesengsaraannya dan orang yang bahagia memperoleh kebahagiannya.(1)

Dalam hadis lain, Abu Al-Hasan a.s. diriwayatkan berkata:

یُخْلَصُونَ کَمَا یُخْلَصُ الذَّهَبُ.

“Engkau akan disepuh seperti disepuhnya emas.(2)

Dalam Al-Kafi, pada bab ujian dan cobaan, hadis berikut ini diriwayatkan dengan isnâd dari Imam Al-Shadiq a.s.:

قَالَ: مَا مِنْ قَبْضٍ وَ لَا بَسْطٍ إِلَّا وَ لِلَّهِ فِیهِ مَشِیئَهٌ وَ قَضَاءٌ وَ ابْتِلَاءٌ.

“Tidak ada qabdh (kesempitan) dan basth (kelonggaran) kecuali di situ ada kehendak, ketentuan, dan cobaan Allah(3) Dalam hadis lain, diriwayatkan beliau berkata:

قَالَ: إِنَّهُ لَیْسَ شَیْ ءٌ فِیهِ قَبْضٌ أَوْ بَسْطٌ مِمَّا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَوْ نَهَی عَنْهُ إِلَّا وَ فِیهِ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ ابْتِلَاءٌ وَ قَضَاءٌ

“Sungguh tak ada kesempitan dan kelonggaran yang diperintahkan dan dilarang Allah kecuali di situ ada penderitaan, ujian, dan ketetapan-Nya.(4)

Qabdh berarti menahan, mencegah, menghalangi, dan menyita. Basth adalah membeberkan, menyebarkan, dan memberi. Karena itu, setiap pemberian, kelonggaran, dan gangguan, serta setiap perintah,

p: 287


1- 4. Ibid., hadis No. 3.
2- 5. Ibid., hadis No. 4.
3- 6. Ibid., Vol. I. h. 152
4- 7. Ibid.

larangan, dan pembebanan tugas adalah termasuk dalam kategori cobaan. Demikian pula pengutusan para nabi dan rasul, penurunan kitab-kitab suci samawi, semuanya dimaksudkan untuk menyeleksi manusia, memisahkan mereka yang bahagia dari yang celaka, antara yang taat dan pendosa. Selanjutnya, makna cobaan dan ujian Tuhan adalah pemisahan itu sendiri, yang tampak pada dataran alam realita, bukan pengetahuan-Nya tentang keterpisahan itu, karena pengetahuan Allah Swt. bersifat azali, dan meliputi segala sesuatu, sebelum terciptanya. Para hukama telah membahas secara panjang lebar makna dan hakikat ujian serta cobaan, dan ini di luar lingkup pembahasan kita pada tulisan ini. Yang jelas, hasil dari cobaan dan ujian ini adalah pemisahan antara orang-orang yang beruntung dari orang-orang yang celaka di alam nyata. Selama berlangsungnya cobaan itulah, hujah Allah dikukuhkan terhadap semua makhluk. Lalu, kehidupan mereka, kebahagiaan, dan keselamatan mereka, atau kesusahan dan kecelakaan mereka terjadi setelah kukuhnya hujah dan penjelasan (bayyinah), dan tak ada ruang untuk penolakan bagi siapa pun. Kebahagiaan dan kehidupan ukhrawi seseorang diperoleh melalui pertolongan dan bimbingan Tuhan, karena Tuhan telah menganugerahkan berbagai sarana untuk memperolehnya. Demikian pula, seseorang yang memperoleh keburukan dan jat uh ke dalam kerusakan padahal segala petunjuk-Nya telah tersedia—maka dia telah memilih bagi dirinya jalan kebinasaan dan kesengsaraan. Hujah akhir Allah telah dikukuhkan terhadapnya dan tak ada ruang untuk dalih apa pun. Karenanya, Al-Quran berkata:

«لَا یُکَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا کَسَبَتْ وَعَلَیْهَا مَا اکْتَسَبَتْ رَبَّنَا (286)»

Baginya (jiwa) apa yang diperolehnya dan terhadapnya apa yang telah dikerjakannya (QS Al-Baqarah [2]: 286)

Para Nabi dan Cobaan Allah

Telah disebutkan di atas bahwa setiap perilaku manusia, atau bahkan setiap peristiwa yang terjadi di alam lahiriah dan yang berkaitan dengan persepsi jiwa, meninggalkan semacam bekas di dalam diri. Ini berlaku

p: 288

baik pada amal buruk maupun amal baik (dalam hadis-hadis, dampaknya terhadap jiwa biasa disebut sebagai “titik putih” dan “titik hitam”), demikian pula kesenangan dan kepedihan. Misalnya, setiap pengalaman yang lezat dan menyenangkan, yang berasal baik dari makanan, minuman, nafsu syahwat, atau sesuatu yang lain, meninggalkan bekas pada jiwa dan menciptakan atau meningkatkan cinta dan kesukaan terhadap jenis kenikmatan itu di dalam jiwa. Semakin jauh seseorang terjun ke dalam kenikmatan dan nafsu itu, semakin besar pula kecintaan dan kesukaan jiwa terhadap dunia ini serta kebergantungannya padanya. Demikianlah, jiwa semakin memiliki ketergantungan dan kecintaan terhadap dunia yang lebih besar(1). Makin besar kenikmatan lahiriah yang diperolehnya, makin kuatlah akar kecintaan ini; dan makin banyak sarana yang tersedia untuk kesenangan dan kemewahan, makin kukuhlah akar kecintaan terhadap dunia. Makin besar perhatian jiwa terhadap dunia, makin besar pula kelalaian terhadap Tuhan dan alam akhirat. Sebab, ketika secara total jiwa telah bergantung pada dunia, sehingga orientasinya bersiſat materialis dan keduniaan, niscaya pada akhirnya jiwa menjadi semakin berpaling dari jalan Allah Swt. serta rahmat dan anugerah-Nya.

Jiwa seperti inilah yang dikatakan oleh Al-Quran:

«وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَکِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَی الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ (176)»

... ia mengekal ke dunia dan mengikuti hawa nafsunya. (QS Al-Afrâf (7): 176)

Akibat yang tak terelakkan dari ketenggelaman jiwa ke dalam samudra kenikmatan dan nafsu ini adalah cinta dunia, dan cinta dunia menciptakan sikap menolak terhadap yang selainnya; perhatian

p: 289


1- c Kalimat ini, dan kalimat lain yang serupa isinya, tak dapat dianggap menyiratkan kutukan terhadap dunia sebagai suatu arena untuk berusaha memperoleh kebahagiaan llahiah atau sebagai sebuah sistem besar dari ayat-ayat (tanda-tanda) Tuhan. Hal ini bukanlah ajakan pada sikap “keduniawian yang lain", sebagaimana tampak jelas dalam seluruh hidup Imam Khomeini. “Dunia” yang dicela di sini adalah keseluruhan tujuan yang duniawi dan keterikatan pada dunia yang dinisbahi nilai mutlak dan quasi-Ilahiah oleh manusia. Hal ini dikemukakan secara eksplisit dalam kuliah kedua Imam tentang Tafsir Al- Fatihah”. (Dikutip dari Hamid Algar (ed.), Islam and Revolution, Mizan Press, Barkeley, 1981.)-penerj.

akan dunia materiil (mulk) membawa kelalaian akan dunia spiritual (malakût). Sebaliknya, apabila seseorang memiliki pengalaman buruk dan pahit mengenai sesuatu, kesan dari pengalaman itu menciptakan rasa kebencian dan ketidaksukaan akan pengalaman itu. Makin kuat kesan itu, makin besar sikap perlawanan batinnya. Misalnya, apabila setelah memasuki suatu kota seseorang diuji dengan suatu penyakit dan berbagai kepedihan, yang menyebabkannya mengalami problema lahir dan batin, ia pasti akan membenci tempat itu. Makin banyak kemalangan yang ia hadapi di situ, makin besar kebenciannya terhadap tempat itu. Apabila ia mengetahui tempat lain yang lebih baik, ia akan pergi ke sana, dan apabila ia tak mampu mengadakan perjalanan, paling tidak hatinya akan selalu teringat dan merindukan kota yang disukainya itu.

Jadi, apabila manusia menghadapi kemalangan, kepedihan, dan kesengsaraan di dunia ini, kemudian ia merasa bahwa gelombang bencana dan kecelakaan semakin dekat dengannya, ia pasti akan membencinya. Kecintaannya terhadap dunia akan berkurang dan ia tidak memercayainya. Apabila ia percaya akan alam lain, alam luas yang bebas dari segala jenis kepedihan dan duka cita, ia pasti ingin pindah ke sana; dan apabila ia tak mampu untuk mengadakan perjalanan fisik, ia akan membawa hatinya ke sana. Lagi pula, telah terbukti bahwa semua kejahatan spiritual, moral, dan tingkah laku, seluruhnya berasal dari cinta terhadap dunia dan

kelalaian akan Allah Swt. serta hari akhirat. Cinta dunia adalah sumber segala dosa, dan sebaliknya, cinta kepada Tuhan serta tiadanya kebergantungan dan kepercayaan pada perhiasan dunia merupakan sumber dari semua obat spiritual serta merupakan perbaikan moral dan perilaku.

Melalui beberapa pendahuluan ini, kita mengetahui bahwa bilamana Allah Swt. memiliki perhatian yang lebih besar terhadap seorang hamba, sehingga ia diliputi oleh kasih sayang Zat Yang Mahasuci secara sempurna, niscaya Dia akan menghalangi sang hamba dari dunia dan keindahannya dengan gelombang bencana dan cobaan,

p: 290

sehingga hilang kecintaannya terhadap dunia dan perhiasannya, serta ia mengarahkan wajah dan hatinya—sesuai dengan tingkat keimanan—pada alam akhirat.

Apabila tidak ada alasan apa pun kecuali alasan ini bagi kesabarannya menghadapi bencana yang keras, hal itu sudah cukup. Sebuah hadis mulia juga menunjukkan masalah ini.

عَنْ أَبِی جَعْفَرٍ ع قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ لَیَتَعَاهَدُ الْمُؤْمِنَ بِالْبَلَاءِ کَمَا یَتَعَاهَدُ الرَّجُلُ أَهْلَهُ بِالْهَدِیَّهِ مِنَ الْغَیْبَهِ وَ یَحْمِیهِ الدُّنْیَا کَمَا یَحْمِی الطَّبِیبُ الْمَرِیضَ

Muhammad ibn Ya'qûb dengan isnâd-nya meriwayatkan bahwa Imam Al-Baqir a.s. berkata, “Sungguh, Allah Swt. memberi orang Mukmin ujian dan cobaan, sama seperti seorang manusia membawakan untuk keluarganya bingkisan setelah bepergian, dan Dia menghalanginya dari dunia seperti seorang dokter memberikan

pantangan atas orang yang sakit.(1) Masih ada hadis lain yang menyebutkan hal yang sama. Dan, janganlah seseorang membayangkan bahwa cinta Tuhan dan perhati- an yang besar dari Zat-Nya Yang Mahasuci terhadap sebagian hambaNya--semoga Allah melindungi kita--diberikan begitu saja dengan tanpa arah dan tujuan. Sebab, setiap langkah menuju Allah yang dilakukan oleh salah seorang hamba-Nya yang Mukmin, rahmat Allah akan tercurah kepadanya dan Dia akan menyambutnya dengan mendekat kepadanya. Kiasan bagi derajat-derajat keimanan dan adanya sarana-sarana pertolongan Ilahi adalah seperti seseorang berjalan di kegelapan malam dengan membawa sebuah lampu; setiap ia maju selangkah ke depan, ia telah menerangi jalan di depannya, yang memungkinkannya untuk makin melangkah lagi ke depan. Setiap kali manusia melangkah ke depan menuju jalan akhirat, jalan itu tampak lebih jelas baginya dan rahmat Allah terhadapnya semakin bertambah. Segala faktor kedekatan dengan Allah semakin tersedia dan sikap penolakan terhadap alam dunia semakin kuat pada dirinya. Rahmat Allah yang

p: 291


1- 8. Ibid., Vol. II, h. 255, hadis No. 17.

azali dan perhatian-Nya terhadap para nabi dan para wali telah meliputi para nabi dan para wali, berdasar pengetahuan-Nya yang azali tentang ketaatan mereka selama masa tugasnya. Misalnya, apabila Anda memiliki dua anak yang pada masa kecilnya telah Anda ketahui bahwa salah satu dari mereka akan memberi

Anda kepuasan pada masa yang akan datang, sementara yang lain akan tumbuh dewasa dan membuat Anda merasa kecewa dan kesal, maka tentulah cinta Anda terhadap anak yang patuh akan lebih besar sejak masa-masa pertumbuhan awalnya.

Mengingat Allah

Hal lain yang berkaitan dengan kerasnya penderitaan orang-orang pilihan di antara hamba-hamba Allah adalah bahwa, melalui kesengsaraan dan penderitaan ini, mereka dibuat agar selalu mengingat Allah, berdoa, dan meratap di hadirat-Nya Yang Suci. Ini membuat mereka terbiasa mengingat-Nya dan menyibukkan pikiran mereka dengan-Nya. Adalah hal yang amat wajar bahwa manusia pada saat-saat sengsara selalu berpegangan dengan sesuatu yang diharapkan dapat menyelamatkannya, dan pada saat-saat senang dan sejahtera, mereka mengabaikannya dan lalai sehingga tidak lagi menganggapnya sebagai penentu keselamatannya. Dan, karena manusia-manusia pilihan dari para hamba Allah mengetahui bahwa tak ada sumber bantuan selain Allah, perhatian mereka pun hanya mengarah kepada- Nya. Mereka bergantung sepenuhnya pada takhta-Nya yang suci, dan, melalui cinta dan perhatian khusus-Nya terhadap mereka, Allah Swt. juga menyediakan sarana-sarana yang membuat mereka selalu bergantung total terhadap-Nya. Namun, hal ini tidaklah berlaku bagi para nabi dan para wali

yang telah menyempurnakan diri mereka dan disempurnakan Allah Swt., karena kedudukan mereka terlalu tinggi dalam kesucian dan hati mereka terlalu teguh dalam keimanan untuk dapat tertarik pada hal-hal duniawi. Kebergantungan total mereka kepada Tuhan tidak pernah tergoyahkan bersama dengan berubahnya berbagai keadaan di sekeliling mereka.

p: 292

Ini mungkin disebabkan para nabi dan para wali yang sempuma melalui cahaya batiniah dan pengalaman ruhaniah mereka-yakin bahwa Allah Swt. tak punya perhatian kelembutan terhadap dunia dan perhiasannya ini dan bahwa segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah rendah dan hina di mata-Nya yang Suci, dan karena alasan inilah mereka mengutamakan kemiskinan daripada kekayaan, kesengsaraan daripada kesenangan dan kemudahan, serta kepedihan daripada sesuatu yang berlawanan dengannya. Beberapa hadis mulia juga mendukung pandangan ini.

Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Jibril memberikan kunci perbendaharaan bumi kepada Nabi terakhir Saw. dan ia berkata kepada beliau bahwa meskipun beliau menerimanya, tak ada yang akan mengurangi kedudukan ukhrawinya sedikit pun. Akan tetapi, Rasul Saw. menolaknya demi kerendahannya di hadapan Allah Swt. dan ia lebih memilih kemiskinan. Dalam Al-Kâfî, Al-Kulaini, dengan sanad yang bersambung kepada Imam Al-Shadiq a.s., meriwayatkan bahwa Imam pernah berkata:وَ إِنَّ الْکَافِرَ لَیَهُونُ عَلَی اللَّهِ حَتَّی لَوْ سَأَلَهُ الدُّنْیَا بِمَا فِیهَا أَعْطَاهُ ذَلِکَ

“Sungguh benar-benar hina seorang kafir di sisi Allah, sehingga jika ia meminta dunia beserta isinya, Dia akan memberikannya kepadanya.(1) Hal itu demikian karena dunia tak berharga sama sekali di mata Allah Swt. Dalam hadis lain, juga disebutkan bahwa sejak saat pertama Allah menciptakan dunia ini, Dia tidak pernah memandangnya dengan pandangan penuh perhatian ataupun kelembutan. Hal lain yang berkaitan dengan kerasnya penderitaan orang Mukmin yang telah disebutkan dalam beberapa hadis adalah bahwa ada maqâm-maqâm tertentu bagi orang-orang Mukmin yang tidak dapat mereka capai tanpa mengalami kesengsaraan, kepedihan, dan bencana. Mungkin saja hikmah di balik bencana-bencana--yang dialami manusia-ini merupakan bentuk gaib dari ketaatan kepada Allah dan penolakan terhadap dunia, yakni boleh jadi pula bahwa kesengsaraan ini mempunyai bentuk tersendiri di alam malakût yang di dalamnya

p: 293


1- 9. Ibid., h. 259, hadis No. 28.

manusia tak dapat mencapai maqâm-maqam tersebut tanpa kemunculannya di dunia fisik dalam bentuk bencana-bencana yang di alaminya. Imam Al-Shadiq a.s., dalam sebuah hadis dari Al-Kaſi dengan sanad yang bersambung kepadanya, mengatakan:

قَالَ: إِنَّهُ لَیَکُونُ لِلْعَبْدِ مَنْزِلَهٌ عِنْدَ اللَّهِ فَمَا یَنَالُهَا إِلَّا بِإِحْدَی خَصْلَتَیْنِ إِمَّا بِذَهَابِ مَالِهِ أَوْ بِبَلِیَّهٍ فِی جَسَدِهِ.

"Sungguh, seorang hamba memiliki suatu maqam tertentu di sisi Allah yang tak dapat diraihnya kecuali dengan dua keadaan ini; kehilangan harta atau penderitaan pada tubuhnya.(1) Dalam sebuah hadis tentang syahidnya penghulu para syuhada (Imam Al-Husain) a.s., disebutkan bahwa beliau melihat Rasulullah di dalam mimpi berkata kepada beliau, “Engkau memiliki kedudukan di surga yang tak dapat kau capai kecuali melalui kesyahidan.(2) Seperti diketahui, bentuk kesyahidan di jalan Allah Swt. pada alam malakût tak dapat terwujud tanpa kemunculan nya di alam mulk (fisik), seperti dibuktikan dengan aneka argumen dalam ilmu-ilmu tertentu. Disebutkan pula dalam hadis-hadis yang telah disebutkan sebelum ini bahwa se:iap perbuatan memiliki bentuknya sendiri di alam lain. Di dalam Al-Kâſî disebutkan bahwa Imam Al-Shadiq a.s. pernah berkata:

إِنَّ عَظِیمَ الْأَجْرِ لَمَعَ عَظِیمِ الْبَلَاءِ وَ مَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْماً إِلَّا ابْتَلَاهُمْ.

"Sesungguhnya besarnya pahala seseorang benar-benar sebanding dengan besarnya ujian (yang dialaminya) dan tidaklah Allah mencintai suatu kaum kecuali Dia menguji mereka.(3)

Penderitaan Nabi Saw.

Pakar hadis agung, Al-Majlisi-semoga Allah merahmatinya--berkata: "Dalam hadis-hadis yang berkenaan dengan penderi'aan para nabi ini, yang diriwayatkan baik lewat rantai periwayatan Ahl Al-Sunnah

p: 294


1- 10. Ibid., h. 257, hadis No. 23.
2- 11. Ibid., h. 252, hadis No. 3.
3- 11. Ibid., h. 252, hadis No. 3

maupun Syi'ah, terdapat indikasi jelas yang menunjukkan bahwa para nabi dan para wali berbeda dari yang lain berkenaan dengan penyakit dan bencana fisik. Mereka menerima cobaan lebih besar daripada yang lain, agar pahala mereka lebih besar sehingga kedudukan dan derajat mereka lebih tinggi dibandingkan selain mereka. Bukan saja hal ini tidak mengusik sedikit pun kedudukan mereka, penderitaan ini bahkan menjadi peneguh kedudukan dan misi mereka, bahwa mereka adalah manusia biasa, yang jika saja mereka tidak mengalami bencana-terlepas dari manifestasi mukjizat dan hal-hal luar biasa di tangan mereka-orang akan berkata tentang mereka sama seperti yang dikatakan orang-orang Nasrani terhadap nabi mereka.”

Peneliti yang cermat dan filosof yang agung dan suci, Al-Thusi-semoga Allah mengharumkan kuburnya—menyatakan dalam bukunya, Al-Tajrîd, “Hal-hal yang harus terhindar dari para nabi adalah apa yang dipandang sebagai sesuatu yang menjijikkan.” Al-Majlisi, semoga Allah meridhainya, juga menambahkan ketika mengomentari Al-Tajrid, bahwa para nabi harus bebas dari penyakit-penyakit yang menjijikkan itu, seperti tidak terkontrolnya buang angin, air kencing,

penyakit kusta, dan eksim karena sifat menjijikkan itu bertentangan dengan tujuan kenabian.

Penulis ingin menambahkan di sini bahwa kedudukan kenabian adalah berkenaan dengan tingkatan dan keunggulan spiritual dan tak berkaitan dengan alam jasmani. Oleh karenanya, penyakit-penyakit dan kerusakan fisik tidak membahayakan bagi kedudukan spiritual para nabi dan bencana dengan penyakit-penyakit yang menjijikkan tidak mengurangi kemuliaan dan keagungan kedudukan mereka, jika hal itu semua tidak memperkuat kedudukan dan derajat keunggulan mereka. Akan tetapi, apa yang telah dikemukakan dua ulama di atas juga bukannya tidak benar. Ini karena orang awam tidak dapat membedakan antara dua kedudukan

ini (ruhani dan jasmani) dan beranggapan bahwa ketaksempurnaan fisik berkaitan atau disebabkan oleh ketaksempurnaan spiritual. Mereka juga memandang bahwa salah satu perhatian khusus Allah Swt. terhadap para nabi yang merupakan pembawa risalah dan penyampai syariat Allah adalah bahwa seharusnya Dia Swt. tidak menimpakan aneka penyakit yang dipandang sebagai menjijikkan

p: 295

dan dibenci oleh masyarakat. Dan, tidak adanya bencana seperti ini terhadap mereka bukan karena ia berbahaya bagi kedudukan kenabian, melainkan untuk memaksimalkan keefektifan misi kenabian dalam menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi. Oleh karena-nya, tidak salah jika beberapa nabi yang bukan pembawa syariat

(baru), para wali agung, dan orang-orang Mukmin ditimpa bencana semacam ini, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ayyub dan Habib Al-Najjar. Ada banyak hadis tentang bencana Nabi Ayyub a.s. di antaranya dua hadis berikut:

رُوِیَ عَن تفسیر عَلِیی بنِ اِبرَاهِیم عَن آبیِ بَصِیر عَن عَبدِللهِ فِی حَدِیثٍ طَوِلٍ, قَالَ: فَسَلَّطَهُ عَلَی بَدَنِهِ مَا خَلاَ عَقلَهُ وَعَینَهُ فَنَفَخَ فِیهِ اِبلِیسُ فَصَارَ قُرحَهً وَاحِدَهً مِن قَرنِهِ اِلیَ فَدَمِهِ فَبَقِئَ فِی ذَللکَ دَهراً حَتَّی وَقَعَ فِی بَدَنِهِ الدُّودُ کآنَت تَخرُجُ مِن بَدَنِهِ فَیَرُدُّهَا آو یَقُولُ لَهَا: اِرجِعِی اِلَی مَوعِضِکِ الَّذِی خَلَقَکِ اللَّهُ مِنهُ وَنَتِنَ حَتّی آخرَجَهُ آهلُ القَریَهِ وَ آلقُوهُ فِی المَزبَلَهِ خَارِجَ القَریَهِ

*Ali ibn Ibrahim, dalam sebuah hadis panjang, meriwayatkan dari Abu Bashir bahwa Imam Al-Shadiq a.s. berkata, “... lalu seluruh tubuhnya, kecuali akal dan kedua matanya, terkena penyakit. Lalu, iblis meniupkan sesuatu kepadanya dan ia menjadi laka bernanah sepenuhnya yang nienjalar dari kepala hingga kaki. Dia (Ayyub)

tetap dalam keadaan demikian untuk beberapa lama, memuji dan bersyukur kepada Allah, hingga tubuhnya penuh dengan ulat. Setiap kali seekor ulat jatuh dari tubuhnya, ia mengembalikan ke tempatnya, seraya berkata kepadanya, 'Kembali ke tempatmu, dari situ Allah menciptakanmu.' Kemudian, tubuhnya mengeluarkan

bau busuk sehingga masyarakat desanya mengusirnya dari desanya dan melemparkanrya ke tempat sampah di luar desa itu.”

فِی الکَافِی بِاِسنَآدِهِ عَن آبِی بَصِرٍعَن آبِی عَبدِ اللهِ (ع) قَلَ:قُلتُ فَاِذَا قَرَاتَ القُرآنَ فَاستَعِذ بِاللهِ مِنَ الشَیطاَنِ الَّجیم, اِنَّهُ لَیسَ لَهُ سُلطَانٌ

p: 296

عَلَی الَّذِینَ اَمَنوا وَعَلیَ رَبِّهِم یَتَوَکَّلون. فَقَالَ : یَاآبَا مُحَمَّد تَسَلَّطَهُ وَاللهِ عَلیَ المُئو مِنِ عَلَی بَدَنِهِ وَلاَ یُسَلِّطُ عَلَی دِینِهِ وَقَد سَلَّطَ عَلَی آیُّبَ فَشَوَّهَ خَلقَهُ وَلَم یُسَلِّطُ عَلَی دِینِهِ وَقَد یُسَلِّطُ مِنَ المُئومِنِینَ عَلیَ آبدَنِهِم ولاَیُسَلِّطُ عَلَی دینِهِم

Dalam Al-Kafi, Al-Kulaini meriwayatkan dari Abu Bashir bahwa ia bertanya kepada Imam Al-Shadiq tentang ayat,

«فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّیْطَانِ الرَّجِیمِ (98)»

«إِنَّهُ لَیْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَی الَّذِینَ آمَنُوا وَعَلَی رَبِّهِمْ یَتَوَکَّلُونَ (99)»

“Apabila engkau membaca Al-Quran, berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk; ia tidak punya kekuasaan atas orang-orang beriman dan yang bertawakal kepada Tuhan mereka” (QS Al-Nahl (16): 98-99). Imam berkata, “Hai Abu Muhammad, demi Allah, Dia memberikan kekuasaan kepada setan atas tubuh orang Mukmin, tetapi tidak atas keimanannya. Sungguh tubuh Ayyub telah dikuasai (setan) dan setan merusak bentuk tubuhnya, tetapi Dia tidak memberinya kekuasaan atas keimanannya. Dan, terkadang Dia memberikan kekuasaan kepadanya atas tubuh orang-orang yang Mukmin, tetapi tidak atas keimanannya."

و بإسناده عن ناجیه، قال قلت لأبی جعفر، علیه السّلام، إنّ المغیره یقول إنّ المؤمن لا یبتلی بالجذام و لا بالبرص و لا بکذا و لا بکذا. فقال: إن کان لغافلا عن صاحب یاسین، إنّه کان مکنّعا. ثمّ ردّ أصابعه فقال: کأنّی أنظر إلی تکنیعه. أتاهم فأنذرهم، ثمّ عاد إلیهم من الغد فقتلوه. ثمّ قال: إنّ المؤمن یبتلی بکلّ بلیّه و یموت بکلّ میته، إلّا أنّه لا یقتل نفسه

Dengan isnad yang bersambung dari Najiyah, ia berkata, “Saya berkata kepada Abu Ja'far a.s. bahwa Al-Mughirah mengatakan bahwa orang Mukmin tak akan ditimpa penyakit kusta, leukoderma, dan penyakit-penyakit seperti itu. (Benarkah itu?) Imam menjawab, 'Tidakkah ia tahu bahwa Shahib Ya-Sin (Habib Al-Najjar,

orang yang disebutkan dalam Surah Ya-Sîn) buntung?' Beliau a.s.

p: 297

merapatkan jari-jarinya dan berkaia, 'Seolah-olah aku melihatnya pergi kepada kaumnya dalam keadaan buntung untuk memperingatkan mereka dan kembali lagi di hari berikutnya lalu mereka membunuhnya.' Lalu beliau menambahkan, "Sesungguhnya, orang Mukmin akan mengalami segala macam bencana dan mati dengan

berbagai cara kecuali membunuh dirinya.(1)

Shahib Yâ-Sîn ada ah Habib Al-Najjar dan kata takannu' (kata ini dengan nun dalam kebanyakan tulisan), menurut A.-Majlisi, artinya penyusutan atau pemotongan. Ia menambahkan bahwa, “Mungkin penyebab terputusnya jari beliau adalah penyakit lepra." Namun, pendapat ini perlu dikaji kembali. Bagaimanapun, berbagai hadis yang telah disebutkan di atas menunjukkan bahwa para nabi dan orang-orang Mukmin terkadang ditimpa penyakit-penyakit yang menjijikkan disebabkan hikmah kebijaksanaan tertentu, meskipun terdapat pula banyak hadis lain yang menolak rusaknya tubuh Hadhrat Ayyub dan kengeriannya serta terciumnya bau busuk dari tubuh suci beliau a.s. Permasalahan ini tidak terlalu bermanfaat untuk kita bahas lebih jauh lagi. Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa penyakit-penyakit seperti yang tersebut di atas tidaklah mengurangi kedudukan orang-orang beriman bahkan para nabi sama sekali, dan bukan merupakan

suatu cacat yang merusak citra mereka, bahkan sebaliknya, itu dapat menyebabkan kedudukan mereka semakin tinggi. Wa Allâh Alam. Dunia Ini Bukanlah Tempat Pahala dan Siksa Ketahuilah bahwa dunia ini, dengan segala sifatnya yang tak sempurna. rendah, dan lemah, bukanlah merupakan tempat kemurahan Allah.

bukan tempat untuk menikmati pahala-Nya ataupun tempat dijatuhkannya hukuman dan siksaan-Nya. Hal ini disebabkan kemurahan Allah ada dalam suatu alam yang rahmatnya bersifat murni, tidak dicampuri dengan siksaan, dan kenikmatannya iidak bercampur dengan kepedihan dan duka cita. Anugerah seperti itu tidak terdapat di dunia ini, karena alam ini adalah tempat berkumpulnya segala sesuatu yang saling bertentangan dan berselisih. Setiap kesenangan di dunia ini dipenuhi oleh berbagai macam kepedihan, kesusahan,

p: 298


1- 12. Ibid., h. 254, hadis No. 13.

dan kesengsaraan. Bahkan, seperti dikatakan oleh para arif, kenikmatan di dunia ini terletak pada saat ketika menghindari kepedihan. Dapat juga dikatakan bahwa setiap kenikmatannya dapat menyebabkan kepedihan dan kesusahan karena setiap lahir suatu kenikmatan, akan menyusul setelahnya kesengsaraan, kelelahan, dan kepedihan. Bahan-bahan pembentuk dunia ini sendiri tak memiliki kapasitas untuk menerima kebaikan absolut dan karunia yang muri. Demikian pula sebaliknya, kepedihan, kesusahan, dan kesengsaraan di dunia ini tidak sepenuhnya murni; setiap kepedihan dan kesusahan di dunia ini pasti mengandung di dalam dirinya kebaikan dan anugerah, dan tak ada satu pun dari bencana dan malapetakanya yang tidak bercampur dengan kenikmatan. Bahan-bahan pembentuk dunia ini

sendiri tak mempunyai kapasitas untuk menerima kesengsaraan yang murni dan absolut.

Sesungguhnya tempat siksaan Allah adalah tempat yang di dalamnya terdapat siksaan dan hukuman yang bersifat murni dan absolut; kepedihan dan bencananya tidak seperti yang ada di dunia ini, yang sementara ia mengenai salah satu bagian tubuh, tetapi tidak mengenai bagian yang lain. Sementara organ yang sehat sedang dalam kesenangan, anggota yang terkena penyakit merasakan sakit dan menderita. Hadis berikut ini mengisyaratkan apa yang telah kami jelaskan:

و ذلک أنّ الله لم یجعل الدّنیا ثوابا لمؤمن و لا عقوبه لکافر.

“Itu alasan mengapa orang Mukmin ditimpa oleh berbagai cobaan-karena Allah tidak menjadikan dunia ini sebagai tempat memberi pahala bagi mereka yang beriman dan siksaan bagi orang-orang kafir.”

Dunia ini adalah tempat melaksanakan tugas dan merupakan ladang bagi hari akhirat. Ia adalah tempat berniaga dan mendapat penghasilan, sementara akhirat adalah tempat anugerah dan pembalasan, pahala, dan siksa. Mereka yang mengira bahwa Tuhan akan segera menghukum orang yang melakukan dosa atau kejahatan di dunia ini atau melaku-

p: 299

kan kezaliman dan agresi terhadap seseorang, dan memotong tangannya serta mencoretnya dari dunia kemaujudan, tidak menyadari bahwa anggapan mereka bertentangan dengan tatanan dunia ini dan berlawanan dengan hukum-Nya (sunnatullah) yang telah ditetapkan-Nya. Di sini adalah tempat ujian dan tempat pemisahan orang yang celaka dari yang beruntung, dan para pedosa dari yang taat. Di sini adalah alam perwujudan perbuatan, bukan tempat munculnya hasil-hasil

amal dan kualitas pribadi. Apabila terkadang Allah menyiksa seorang zalim atau penindas, dapat dikatakan bahwa itu terjadi karena kasih sayang Allah atas penindas itu (karena hal itu menghentikannya untuk terus berbuat dosa). Dan, apabila Allah Swt. membiarkan para pendosa dan tiran dalam kelalaian dan kesesatan mereka, itu berarti Allah Swt. mengulur siksa mereka. Oleh karenanya, Allah Swt. berfirman:

«وَالَّذِینَ کَذَّبُوا بِآیَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَیْثُ لَا یَعْلَمُونَ (182)»

«وَأُمْلِی لَهُمْ إِنَّ کَیْدِی مَتِینٌ (183)»

“Nanti Kami akan menarik mereka setahap demi setał.ap dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS Al-Afrâf (7]: 182-183)

Dia juga berfirman:

«وَلَا یَحْسَبَنَّ الَّذِینَ کَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِی لَهُمْ خَیْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِی لَهُمْ لِیَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِینٌ (178)»

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangku bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah mengakibatkan bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS Ali Imrân (3): 178)

Dalam Majma' Al-Bayân, hadis berikut ini diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq a.s.:

إذا أحدث العبد ذنبا، جدّد له نعمه فیدع الاستغفار. فهو الاستدراج

Imam a.s. berkata, “Apabila seseorang melakukan dosa, dan nikmat terus mengalir kepadanya, sementara dia tidak pernah memohon ampun, maka itu adalah istidraj (penguluran siksa).” Pada akhir hadis suci yang menjadi tema pembahasan pada bab ini, Imam a.ş. berkata:

و من سخف دینه و ضعف عقله قلّ بلاؤه

p: 300

"Dan orang yang lemah iman dan lemah akalnya, ringan pula cobaannya." Ini menunjukkan bahwa cobaan dapat bersifat jasmaniah dan dapat juga bersifat ruhaniah, karena orang yang lemah akal dan perasaannya akan aman dari cobaan spiritual dan kegelisahan intelektual. Sebaliknya, mereka yang memiliki akal yang sempurna dan perasaan yang lebih tajam pasti merasakan cobaan intelektual, yang semakin hari semakin hebat. Mungkin karena alasan inilah Nabi Saw. bersabda:

ما أوذی نبیّ مثل ما أوذیت

“Tak seorang nabi pun yang menderita seperti apa yang kuderita.” Ucapan Nabi Saw. ini menunjuk pada persoalan ini karena orang yang memahami kebesaran dan keagungan Allah pada tingkat yang lebih tinggi dan mengetahui kedudukan suci Allah Swt. lebih daripada yang lain, ia tentu akan mengalami penderitaan dan siksaan yang lebih tinggi disebabkan dosa-dosa dan pelanggaran makhluk-makhluk lain terhadap kesuciaan-Nya. Demikian pula, seseorang yang memiliki kecintaan dan kasih yang lebih tinggi kepada hamba- hamba Allah, akan menghadapi kesengsaraan yang lebih besar disebabkan keadaan dan jalan mereka yang menyimpang. Dan, tentu saja, Nabi Saw. lebih sempurna dalam semua kedudukan ini dan lebih tinggi daripada semua nabi dan wali dalam hal tingkat keagungan dan kesempurnaannya. Oleh karena itu, cobaan dan kesengsaraannya pun lebih besar daripada siapa pun di antara mereka. Sebenarnya masih ada lagi penjelasan lain tentang pernyataan Rasulullah seputar permasalahan ini yang tidak tepat apabila disebutkan di sini. Hanya Allahlah Yang Mahatahu dan segala puji bagi-Nya.[]

p: 301

16 Hadis tentang Sabar

Point

کا، [الکافی] ، عَنِ اَلْعِدَّهِ عَنِ اَلْبَرْقِیِّ عَنْ أَبِیهِ عَنْ عَلِیِّ بْنِ اَلنُّعْمَانِ عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مُسْکَانَ عَنْ أَبِی بَصِیرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اَللَّهِ عَلَیْهِ السَّلاَمُ یَقُولُ: إِنَّ اَلْحُرَّ حُرٌّ عَلَی جَمِیعِ أَحْوَالِهِ إِنْ نَابَتْهُ نَائِبَهٌ صَبَرَ لَهَا وَ إِنْ تَدَاکَّتْ عَلَیْهِ اَلْمَصَائِبُ لَمْ تَکْسِرْهُ وَ إِنْ أُسِرَ وَ قُهِرَ وَ اُسْتُبْدِلَ بِالْیُسْرِ عُسْراً کَمَا کَانَ یُوسُفُ اَلصِّدِّیقُ اَلْأَمِینُ لَمْ یَضْرُرْ حُرِّیَّتَهُ أَنِ اُسْتُعْبِدَ وَ قُهِرَ وَ أُسِرَ وَ لَمْ یَضْرُرْهُ ظُلْمَهُ اَلْجُبِّ وَ وَحْشَتُهُ وَ مَا نَالَهُ أَنْ مَنَّ اَللَّهُ عَلَیْهِ فَجَعَلَ اَلْجَبَّارَ اَلْعَاتِیَ لَهُ عَبْداً بَعْدَ إِذْ کَانَ مَالِکاً فَأَرْسَلَهُ وَ رَحِمَ بِهِ أُمُّهُ وَ کَذَلِکَ اَلصَّبْرُ یُعْقِبُ خَیْراً فَاصْبِرُوا وَ وَطِّنُوا أَنْفُسَکُمْ عَلَی اَلصَّبْرِ تُؤْجَرُوا .

Dengan sanad yang bersambung dengan Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini-semoga ridha Allah atasnya—dari guru-gurunya, dari Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid, dari ayahnya, dari 'Ali ibn Al-Nu'man, dari 'Abdullah ibn Maskan, dari Abu Bashir, dia ber-

p: 302

kata, “Aku mendengar Abu 'Abdillah a.s. berkata, Manusia bebas itu adalah manusia yang senantiasa bebas dalam setiap keadaannya. Jika musibah menimpanya, dia menanggungnya dengan sabar. Jika malapetaka menimpanya, malapetaka itu tak menghancurkannya. Apabila ditawan dan ditundukkan, dan keadaannya berubah dari kesulitan menjadi kemudahan—seperti yang terjadi pada Yusuf a.s. yang sangat jujur dan tepercaya--dia tidak merugikan kemerdekaannya karena ia ditawan dan ditundukkan, meskipun dia dijadikan budak, ditaklukkan, dan ditawan. Gelapnya sumur, kesendiriannya, dan apa pun yang ia alami tidak embahayakan-

nya, sampai Allah Swt. menganugerahinya (karunia-Nya) ketika dia mengubah seorang tiran angkara sebagai budaknya, setelah sebelumnya adalah tuannya—maka Allah mengangkatnya sebagai Rasul-Nya, dan melaluinya Allah mengasihi suatu umat. Demikianlah, kesabaran membuahkan hasil kebaikan. Maka, bersabarlah

dan biasakanlah dirimu dalam kesabaran, niscaya kamu memperoleh pahala.(1)

Penjelasan Makna Hadis

Kata nâ’ibah adalah bentuk tunggal yang berbentuk jamak nawâ'ib yang berarti bencana-bencana’. Kamus Al-Shihâh mendefinisikannya sebagai 'musibah'. Sedangkan kata dakka bermakna 'memecahkan', ‘mengetuk', 'memukul', dan 'menumbuk”. Al-Shihah menyebutkan و قد دککت الشّی ء أدکّه دکّا إذا ضربته و کسرته حتّی سوّیته بالأرض aku menumbuk sesuatu yakni memukulnya, mematahkannya, dan meratakannya dengan tanah. Kata ini juga dapat diartikan berkerumun' dan 'berdesakan'. Di dalam Al-Nihâyah disebutkan sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa Amir Al-Mukminin ('Ali ibn Abi Thalib---penerj.) a.s. mengatakan, تداککتم علی حیاضها. أی، ازدحمتم kalian saling berdesakan mengerumuniku seperti berkerumun dan berdesakannya untu-unta liar di tempat mereka minum.(2) Disebutkan dalam Al-Nihâyah bahwa dakka juga mengandung arti ‘memecahkan’, tetapi yang lebih tepat dalam hadis di atas adalah maknanya yang pertama, yaitu 'berkumpul, meskipun di sini makna yang kedua juga tepat. Kata in yang berarti jika berfungsi sebagai huruf penyambung, sedangkan kata quhir, yakni ditundukkan atau dikalahkan adalah kelanjutan dari kalimat usir, yakni tertawan. Al-Majlisi mengemukakan bahwa

p: 303


1- 1. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kafi, II, kitâb al-îmân wa al-kufr, bab al-shabr, 128, hadis No. 6.
2- 2. Ibn Al-Atsir, Al-Nihâyah, II, 128.

dalam beberapa manuskrip tertulis wa ustubdila bi al-'usri yusran yang artinya keadaannya berubah dari kemudahan menjadi kesulitan (sementara redaksi hadis di atas bermakna sebaliknya, yakni keadaannya berubah dari kesulitan menjadi kemudahan-peny.) dar, karenanya kalimat wa istubdil, yakni berubah merupakan kelanjutan dari kata lam taksirhu, yakni lidak menghancurkannya, sehingga dengan demikian jelaslah kesan dari puncak kesabaran yang digambarkan oleh hadis

di atas. Kata untuh an ustu bid, yakni dijadikan budak merupakan bentuk pasif, yang merupakan subjek aktif dari kata kerja I. lam yudhrir yakni tidak membahayakan. Sementara dalam Mir'ât Al-'Uqúl, tertulis ustubid yang berarti dijauhkan atau diasingkan dan tertulis dalam Wasâ’il Al-Syifah seperti redaksi hadis di atas. Tampaknya penulisan versi Mir’ât Al-'Uqúl itu adalah kekeliruan penulisan meskipun maknanya tidak sepenuhnya keliru. Sedangkan, yang tertulis dalam Wasâ'il lebih sesuai dengan kandungan hadis mulia ini. Kalimat alles wa râ nâlahu adalah kelanjutan dari kalimat Web zhulmat al-jubb, yakni kegelapan sumur, yang maknanya adalah bahwa Yusuf tidak dirugikan oleh penderitaan yang ditimpakan kepadanya oleh saudara-saudaranya, juga tidak dirugikan oleh kesendirian, ke-

terasingan, dan kemalangan. Adapun kalimat k an manna Allah, yakni Allah menganugerahinya, tampaknya itu dengan melibatkan tanda pengganti (elipsis) yang tidak disebutkan, yaitu huruf ilâ sampai, dan merupakan kelanjutan dari lam yudhrir. Al-Majlisi-semoga rahmat atasnya—mengemukakan beberapa kemungkinan makna dari dua kata itu--yakni an manna Allah dan lam yudhrir—diiringi dengan penjelasan panjang lebar. Sedangkan makna dari kalimat 'abdan ba'da idz kana mâlikan, yakni (tuannya Yusuf a.s. menjadi) budak setelah sebelumnya adalah tuannya adalah bahwa sang tuan ini menjadi tunduk dan patuh kepada Yusuf a.s.

Hawa Nafsu, Sumber Segala Perbudakan Ketahuilah bahwa jika manusia tunduk pada dominasi hawa nafsu dan kecenderungan jiwa buruk lainnya, kehinaan dan keterbudakan-nya sebanding dengan kekalahannya dalam menghadapi dominasi

p: 304

hawa nafsunya tersebut. Sebab, penghambaan seseorang terhadap tuannya berarti ketundukan dan kepatuhannya secara penuh. Seorang yang patuh dan menyerah di hadapan hawa nafsunya-yang selalu memerintah pada keburukan-adalah budak dari hawa nafsunya sendiri. Dia sepenuhnya mematuhi segala perintah nafsunya. Setiap kali nafsunya mengisyaratkan sesuatu, segera ia melaksanakan perintahnya dengan penuh ketundukan. Orang itu terus menjadi hamba yang patuh dari nafsunya sendiri, sampai pada suatu keadaan dimana ia lebih mengutamakan ketaatan dan penghambaan diri terhadap nafsunya daripada ketaatan dan penghambaan dirinya kepada Sang Pencipta langit dan bumi, Raja dari segala raja yang sebenarnya. Dalam keadaan demikian, lenyaplah kehormatan dari hatinya,

martabat serta kemerdekaannya sebagai seorang manusia. Lalu debu-debu kehinaan, kepapaan, dan perbudakan pun menyelimuti hatinya. Dia tunduk di hadapan manusia-manusia yang mendewakan dunia. Hatinya tunduk-sujud di hadapan mereka dan di hadapan para pemilik kekuasaan dan kemegahan duniawi. Untuk mendapatkan kepuasan nafsu dan syahwatnya dan untuk memuaskan idaman perutnya dan yang di bawah perutnya, dia tunduk pada segala bentuk kehinaan. Selama dia menjadi budak hawa nafsu dan syahwat, dia tidak segan-segan untuk melanggar segala sesuatu yang bertentangan dengan kehormatan, kemerdekaan, kesopanan, dan kekesatriaan. Serta-merta dia pun tunduk patuh kepada siapa pun, dan mau menerima pemberian orang tak berarti sekalipun, begitu dia melihat adanya kemungkinan mendapatkan apa yang diinginkannya dari orang itu, meskipun orang itu adalah serendah-rendah dan sehina-hinanya makhluk, dan meskipun kemungkinan itu cuma angan-angan belaka, karena mereka menganggap bahwa sekadar angan-angan meraih sesuatu yang diinginkan sudah merupakan sesuatu

yang patut diwujudkan. Sesungguhnya para budak dunia yang telah mengenakan belenggu penghambaan diri terhadap aneka kesenangan nafsu, menghamba-

kan diri terhadap siapa pun yang mereka anggap sebagai pemilik berbagai kesenangan duniawi. Jika mereka berbicara tentang kesucian

p: 305

dan kehormatan diri, pernyataannya itu hanya muslihat belaka, kata-kata dan perbuatannya bertentangan dengan pernyataannya itu. Watak budak ini merupakan sesuatu yang selalu menyebabkan penderitaan, kehinaan, dan kesulitan manusia. Oleh karena itu, orang yang merasa memiliki rasa hormat dan martabat diri sudah

seharusnya berupaya keras membersihkan dirinya dari hal yang dibenci ini, dan membebaskannya dari perbudakan ini. Pembersihan dan pembebasan ini hanya dapat dilakukan dengan cara penyucian jiwa, dan itu baru dapat terwujud bila disertai dengan pengetahuan dan langkah-langkah praktis yang bermanfaat.

Adapun langkah-langkah praktisnya adalah dengan melakukan latihan-latihan keagamaan dan melawan hasrat diri yang bersifat negatif. Setelah beberapa lama dilakukan, ini akan membebaskan jiwa dari cinta dunia yang berlebihan dan dari memperturutkan hawa nafsu hingga jiwa menjadi terbiasa dengan kebajikan dan keluhuran akhlak. Sementara pengetahuan, itu dilakukan dengan cara mengingatkan diri akan suatu kenyataan bahwa tidak sedikit manusia lain yang mengalami keadaan serupa dalam hal kelemahan, kepapaan, kebergantungan, dan kelemahan seperti dirinya. Mereka mirip dengannya dalam hal kebutuhannya kepada Zat Yang Mahakaya, yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang bersifat partikular maupun universal. Hendaknya dia tahu bahwa semua manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan seorang pun dari mereka sendiri sama sekali. Mereka adalah makhluk yang amat terlalu hina untuk dapat dijadikan sumber bantuan dan pemberian. Sedangkan Yang Mahakuasa menganugerahkan kepada mereka kehormatan, martabat, dan kekayaan, kuasa pula memberikan apa saja kepada siapa pun.

Sungguh benar-benar memalukan manusia yang tunduk dan merendah sedemikian rupa hanya demi pemuasan nafsu perut dan seksnya, dan yang mau menerima pemberian apa pun dari seorang makhluk yang tidak berarti, miskin, tak kuasa, dan rendah, yang tak memiliki kearifan ataupun kesadaran.

Kalau kamu—wahai manusia—menginginkan suatu pertolongan ataupun pemberian, mintalah kepada Yang Mahakaya, Pencipta

p: 306

langit dan bumi karena jika kamu hadapkan wajahmu kepada Zat Suci-Nya dan menundukkan seluruh totalitas dirimu di hadapan- Nya, hal itu akan membuatmu hanya bergantung kepada-Nya, dan terbebas dari menyembah makhluk-makhluk alam semesta ini, dan itu berarti bahwa kamu telah melepaskan belenggu perbudakan dari lehermu, seperti disebutkan bahwa:

العُبودِیَّهُ جَوهَرَهٌ کُنهُها الرُّبوبیّهُ

Penghambaan diri adalah (ibarat) sebuah intan, hakikatnya adalah rubûbbiyah (ketuhanan).(1)

Yakni bahwa hakikat dari penghambaan diri kepada Allah itu adalah kemerdekaan dan ketuhanan. Maka, penghambaan diri kepada Allah, dan memfokuskan totalitas diri hanya mengarah kepada-Nya., serta meleburkan segala kekuatan dan dominasi jiwa-dengan nafsu buruknya—pada kedaulatan-Nya, akan menciptakan suatu keadaan di hati sang hamba sehingga ia dapat mengalahkan kekuatan seluruh alam semesta. Ruhnya akan tampak kukuh dan agung sedemikian sehingga enggan tunduk dan patuh kecuali kepada Zat Suci Allah Swt. atau kepada manusia-manusia yang ketaatan kepada mereka berarti ketaatan kepada-Nya pula. Dan, apabila dalam saat-saat yang tidak diduga-duga dia terpaksa harus dikuasai orang lain, hal itu tak akan mengguncangkan hatinya untuk tetap menjaga status kemerdekaan dirinya, seperti yang terjadi pada Yusuf a.s. dan Luqman a.s. Meskipun keduanya terlihat tunduk dan menjadi budak, hal itu tidak merusak prinsip keduanya untuk tetap menjadi manusia bebas dan merdeka. Berapa banyak para pemilik kerajaan dan kekuasaan yang tidak pernah menghirup nikmatnya kemerdekaan jiwa, martabat, dan kehormatan diri. Mmereka adalah hamba-hamba hina dan budak-budak yang patuh pada hawa nafsu dan yang selalu menjilat kepada makhluk hina.

Diriwayatkan bahwa Imam 'Ali ibn Al-Husain a.s. pernah berkata:

إنّی لآنف أن أطلب الدّنیا من خالقها، فکیف من مخلوق مثلی

p: 307


1- 3. Mishbâh Al-Syari'ah, Bab 100.

“Aku enggan meminta sesuatu duniawi dari Penciptanya, maka mana mungkin aku memintanya dari makhluk-makhluk sepertiku ini?(1) Saudaraku, jika engkau tidak merasa diri kurang dengan pencarian dunia, setidaknya janganlah memintanya dari makhluk-makhluk

lemah seperti dirimu sendiri. Pahamilah bahwa makhluk tidak kuasa memberikan kebaikan duniawi. Barangkali dengan penuh kerendahan dan kehinaan engkau bisa berhasil menarik perhatian seseorang-orang yang kamu harapkan darinya keperluan duniawimu. Akan tetapi, kehendaknya tidak berpengaruh pada kerajaan Allah, dan tak ada seorang atau sesuatu pun yang dapat berperan dalam kerajaan Rajanya para raja. Oleh karena itu, janganlah kamu merendahkan martabat dirimu sendiri sedemikian dengan menjilat kepada makhluk tak berarti hanya demi menjamin perolehan dunia fana dan demi mewujudkan keinginan rendahmu. Jangan lupakan Tuhanmu dan pertahankan kemerdekaanmu. Singkirkanlah belenggu perbudakan, peliharalah kemerdekaanmu, dan tetaplah kamu bebas dan merdeka

dalam keadaan apa pun. Sebab, seperti dikatakan dalam hadis mulia: ان الحر الحر لجمیع أحواله

"Orang yang merdeka itu adalah orang yang merdeka dalam keada an apa pun."

Ketahuilah bahwa kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati, yang tak ada kaitannya dengan soal-soal lahiriah yang ada di luar diri manusia. Saya sendiri pernah melihat beberapa orang kaya yang mengucapkan hal-hal yang tak pantas diucapkan orang miskin papa sekalipun, yang pernyataan-pernyataannya sangat memalukan. Orang seperti inilah yang sebenarnya miskin yang jiwanya telah diselimuti kehinaan dan kepapaan.

Masyarakat Yahudi, berdasarkan jumlah mereka, adalah bangsa yang paling kaya di muka bumi ini. Akan tetapi, sepanjang hidupnya mereka berada dalam kesengsaraan dan kehinaan. Tampak pada raut wajah mereka kepapaan, kemiskinan, dan kemalangan. Ini tak lain karena kemiskinan dan kehinaan spiritual yang mereka derita.

p: 308


1- 4. 'lla Al-Syarâ'i, 1, 165; Wasâ'il Al-Syi'ah, X, 29.

Kita juga dapat menyaksikan adanya beberapa orang saleh yang lebih memilih hidup sederhana dan menjauh dari hiruk pikuk dunia dan gemerlapnya. Namun, hati mereka dipenuhi rasa kecukupan dan sedemikian terbebas dari keinginan dan kebutuhan sehingga mereka melihat dunia ini dengan ketakpedulian dan memandang

hanya Zat Suci Allah Swt. yang patut dimintai. Demikian pula engkau wahai Saudaraku! pelajarilah dengan saksama keadaan orang-orang pencari dunia, yang berambisi untuk memperoleh popularitas dan kedudukan tinggi di mata masyarakat, agar kamu temukan kehinaan mereka karena kurangnya harga diri dan kemerosotan martabat mereka yang selalu menjilat dan tunduk patuh kepada orang lain. Ketundukan mereka itu lebih besar daripada ketundukan mereka kepada selain pemilik fasilitas keduniaan. Mereka yang mengklaim dirinya sebagai para pendidik ada yang sanggup menerima kehinaan demi kehinaan dan berperilaku menjilat demi pemuasan nafsu perut dan seks mereka. Ketundukan hati sang guru-pencari kenikmatan dunia di hadapan muridnya yang dididik, lebih besar daripada ketundukan sang murid itu sendiri terhadap gurunya dengan perbedaan yang amat mencolok antara dua motivasi ketundukan tersebut. Kerendahan hati dan

kecintaan sang murid bersifat spiritual dan kesalehan, sementara ketundukan sang guru bersifat keduniaan dan setani. Semua yang disebutkan ini merupakan bentuk-bentuk keburukan dan kehinaan yang bersifat duniawi. Begitu tirai disingkapkan, akan terlihat jelas bentuk spiritual (malakût) dari perbudakan yang selama ini berada dalam belenggu nafsu dan syahwat jasmaniah serta diikat oleh rantai-rantai keinginan-keinginan buruk jiwa, dan pada saat itu dapat diketahui pula bagaimana bentuk dari perbudakan tersebut.

Barangkali rantai yang panjangnya tujuh puluh cubit(1) seperti yang difirmankan oleh Allah Swt., yang merupakan rantai yang akan membelenggu dan mengikat kita di alam akhirat itu, adalah bentuk spiritual (malakût) dari ketundukan pada dominasi nafsu dan amarah. Allah Swt. menyatakan:

p: 309


1- b Ukuran kuno untuk panjang. Satu cubit = 45 hingga 56 cm-penerj

« وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا یَظْلِمُ رَبُّکَ أَحَدًا (49)»

Dan akan mereka dapati semua yang telah mereka lakukan hadir .... (QS Al-Kahfi (18]: 49)

Dan, Allah juga berfirman:

«لَا یُکَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا کَسَبَتْ وَعَلَیْهَا (286)»

Baginya apa yang telah diusahakan dan atasnya apa yang telah ia usahakan. (QS Al-Baqarah [2]: 286)

Maka, apa pun yang kita peroleh di akhirat nanti adalah bentuk dari amal-amal kita sendiri. Oleh karena itu, lepaskan rantai syahwat dan hawa nafsu yang saling menyilang satu sama lain itu. Bukalah kunci-kunci hati dan bebaskan dirimu dari perbudakan. Hiduplah di dunia ini sebagai seorang manusia merdeka, agar kamu juga bisa bebas merdeka di akhirat nanti. Kalau tidak, pastilah engkau temukan bentuk spiritual (malakût) dari ketertawanan ini di akhirat nanti. Ketahuilah bahwa itu akan memedihkan sekali bagimu. Sesungguhnya hati para wali Allah meskipun sepenuhnya terbebas dari perbudakan dan merasakan kemerdekaan mutlak, hati mereka tetap cemas akan hasil akhir di hari kemudian nanti. Mereka tidak jarang meratap dan mengeluh dalam keadaan yangg mencengangkan orang yang melihatnya. Saya sadar bahwa masalah-masalah yang dikemukakan dalam halaman-halaman buku ini bersifat umum dan mengulang. Betapapun, tak ada salahnya mengingatkan diri dan mengulangi pengucapan sesuatu yang benar karena hal itu diperlukan sekali. Itulah sebabnya kita dianjurkan agar mengulang-ulang bacaan-bacaan kita pada saat berdoa, berzikir, dan melaksanakan berbagai amal ibadah. Tujuan utamanya adalah agar diri terbiasa dengan latihan-latihan yang berulang-ulang. Oleh karena itu, Saudaraku, janganlah pernah engkau merasa bosan dengan pengulangan semacam ini. Pahamilah bahwa selama manusia masih berada dalam belenggu nafsu dan syahwat serta selama rantai panjang keinginan-keinginan setan masih melilit di lehernya, mustahil dia dapat mencapai prestasi-prestasi spiritual. Otoritas batiniah jiwa dan dominasi kehendaknya yang lebih tinggi tidak akan tampak pada dirinya Juga tak mungkin terwujud. kebebasan dan

p: 310

kehormatan jiwanya yang merupakan cerminan dari puncak kesempurnaan spiritualnya. Sebaliknya, perbudakan ini membelenggu manusia dan tidak memberinya sedikit pun kesempatan untuk dapat memberontak terhadap dominasi nafsunya dalam keadaan apa pun. Apabila dominasi nafsu—yang selalu memerintahkan pada keburukan-ini bersatu dengan kekuatan setan dalam menguasai alam batin sehingga segenap kekuatan jiwanya menjadi budak yang patuh dan tunduk secara penuh

kepada keduanya, dua kekuatan jahat ini tidak hanya menjerumuskan manusia terbatas ke dalam perbuatan-perbuatan maksiat kecil, tetapi sedikit demi sedikit keduanya akan mendorongnya melakukan berbagai perbuatan maksiat dan dosa besar, di antaranya menyebabkan kelemahan iman pada manusia yang bersangkutan, lalu mendorongnya pada kegelapan akal, dan seterusnya ke arah sikap penolakan dan pengingkaran terhadap kebenaran, hingga pada sikap benci dan memusuhi para nabi dan wali. Melewati tahap-tahap ini, diri-yang merupakan budak yang dikuasai keduanya—tidak mungkin dapat membangkang terhadap keduanya. Akhirnya, kepatuhan dan ketertawanan ini berakibat buruk dan menjadi sedemikian kuat sehingga membawa manusia ke titik yang sangat berbahaya.

Sesungguhnya manusia berakal yang menyayangi dirinya haruslah mencoba dengan segenap upayanya untuk membebaskan dirinya dari perbudakan ini. Selama masih ada peluang untuk dapat berubah, serta kekuatannya masih prima, dan selama Allah Swt. masih memberinya kesempatan hidup di dunia ini, kesehatan dan kemudaannya pun masih ada, dan selama kekuatan jiwanya tidak sepenuhnya ditaklukkan (oleh setan dan hawa nafsu), dia mesti bangkit melaksanakan tugas ini. Untuk beberapa lama, dia harus mewaspadai dirinya, menelaah keadaan ruhaninya sendiri, merenungkan keadaan orang-orang yang telah meninggal dunia dengan menghadapi nasib buruk, dan membuat hatinya memahami kenyataan bahwa kehidupan duniawi ini akan berlalu dan sirna. Dia harus menyadarkan hatinya dan memberitahunya tentang kebenaran yang diriwayatkan dari Nabi Suci Saw. yang bersabda:

p: 311

الدّنیا مزرعه الآخره

“Dunia adalah lahan ladang akhirat(1)

Jika kita tidak menabur benih amal saleh dalam hari-hari yang terbatas ini, niscaya hilanglah kesempatan itu untuk selamanya. Ketika malaikat maut tiba dan kita sampai di ambang kematian, untuk memasuki alam lain, berakhirlah sudah segala amal dan harapan. Mungkin saja saat itu setan merenggut keimanan kita—yang merupakan tujuan utama dari usahanya selama ini memperbudak dan menggoda umat manusia—dan memerdaya kita serta menampakkan dirinya di hati kita sedemikian rupa sehingga kita meninggalkan dunia ini sebagai musuh Allah dan musuh para nabi serta wali-Nya. Jika hal itu terjadi, hanya Dia Swt. yang mengetahui kegelapan dan kengerian macam apakah yang menanti kita. Wahai diri yang hina! Hati yang lalai! Bangkitlah dari kelelapan tidurmu dan bersegeralah menghadapi musuh yang selama bertahun-tahun telah mengekang dan membelenggumu, dan menyeretmu ke mana pun dia mau, serta yang selama ini memaksa kamu untuk melakukan berbagai perbuatan buruk dan merusak! Hancurkan ikatan-ikatan ini! Putuskan rantai ini! Jadilah engkau manusia bebas dan merdeka! Campakkan kehinaan ini dan kenakanlah belenggu penghambaan diri kepada Allah Swt. supaya kamu terbebaskan dari segala bentuk perbudakan, semoga kamu sampai di kerajaan mutlak Allah Swt. di kedua alam.

Saudaraku, memang dunia ini—yang merupakan penjaranya orang Mukmin-bukanlah tempat pahala Allah dan tempat penampakan kerajaan Allah. Namun, apabila di dunia ini kamu terbebas dari tawanan nafsu dan menjadikan dirimu budak yang hanya menghambakan diri kepada Allah Yang Mahatinggi, dan engkau jadikan

hatimu sebagai muwahid, lalu kamu bersihkan cermin ruh dari debu-debu kemunafikan dan kebergandaan, dan engkau palingkan perhatian hatimu ke titik fokus Kesempurnaan Mutlak, maka pasti kamu akan menyaksikan pengaruh-pengaruhnya di dunia sendiri, dan hatimu akan menjadi lapang sedemikian sehingga menjadi tempat manifestasi

p: 312


1- 5. Ihyâ'Al-'Ulûm, IV, 14.

kedaulatan penuh Allah, yang dengan demikian hatimu menjadi lebih besar daripada seluruh alam. Dia berfirman:

لا یسعنی أرضی و لا سمائی بل یسعنی قلب عبدی المؤمن

Bumi-Ku dan langit-Ku tidak akan dapat memuat-Ku. Hati seorang Mukminlah yang dapat memuat-Ku. Pastilah hatimu akan merasakan kekayaan dan kesenangan yang teramat jelas sehingga semua dunia lahiriah dan batiniah menjadi tidak berharga di matamu sedikit pun, dan kehendakmu akan menjadi sedemikian kuat sehingga tidak akan pernah terpikat pada alam mulk dan alam malakút. Bahkan kamu tidak menemukan dari keduanya sedikit pun kelayakan untuk kamu jadikan sebagai perhatianmu.

«طیران مرغ دیدی تو ز پایبند شهوت

بدر آی تا ببینی طیران آدمیت»

Burung terbang, tentu telah kau lihat Jika kausingkirkan belenggu-belenggu nafsu Akan kau lihat manusia terbang Sabar: Hasil Keterbebasan dari Hawa Nafsu

Salah satu hasil besar dan buah berharga dari keterbebasan manusia dari hawa nafsu adalah sabar menghadapi musibah dan bencana. Akan kami jelaskan secara singkat makna sabar, buah-buahnya, dan kaitannya dengan kemerdekaan. Seperti didefinisikan oleh peneliti dari mazhab yang lurus, penjelajah seluk-beluk iman yang kukuh, yang sempurna pengetahuan dan amalnya, Nashiruddin Al-Thusi—semoga Allah memuliakan ruh sucinya-sabar adalah menahan diri untuk tidak teragitasi (terguncang) ketika menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Arif termasyhur (Khwajah ‘Abdullah Al-Anshari) mengatakan dalam bukunya, Manâzil Al-Sâ'irîn, “Sabar adalah menahan diri untuk tidak mengeluh karena derita terpendam.” Dan, ketahuilah bahwa sabar telah dianggap sebagai salah satu maqâm-nya orang-orang kelompok tengah (mutawassithûn). Sebab,

p: 313

selama diri tidak menyukai musibah dan dan ia terguncang karenanya, berarti ma'rifat-nya kurang. Selain itu, sikap rela menerima terhadap takdir Tuhan dan merasa senang ketika mendapat musibah, adalah gambaran tentang maqûm yang lebih tinggi daripada sikap sabar, meskipun kerelaan itu termasuk juga sebagai salah satu maqâm kaum mutawassithûn. Demikian pula halnya dengan kesabaran dalam menahan diri dari berbuat maksiat dan dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, itu juga merupakan kaum mutawassithûn. Sebab, kalau sekiranya manusia mengetahui rahasia-rahasia ibadah dan bentuk-bentuk akhirati dari perbuatan dosa dan ketaatan, tentu tidak berarti lagi baginya kesabaran dalam hal-hal tersebut. Namun, tidak demikian apabila yang terjadi adalah sebaliknya. Seperti apabila manusia merasakan suatu kegembiraan dan kenyamanan ketika ia meninggalkan ibadah atau melakukan maksiat, bentuk-bentuk ketaatan tersebut

pastilah tidak disukainya sehingga guncangan batinnya akan semakin besar ketika ia berjuang agar sabar melakukan aneka ketaatan dan menahan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Kehebatan guncangan dalam kesabaran semacam ini lebih dahsyat ketimbang kesabaran menahan berbagai musibah dan bencana.

Diriwayatkan dari seorang hamba saleh yang mengetahui tugas-tugas penghambaan diri, pemilik maqâm-maqam mulia, 'Ali ibn Thawus—semoga Allah menyucikan ruhnya–bahwa setiap tahun beliau merayakan hari pertama kalinya ia menjadi mukallaf (yang terkena kewajiban keagamaan-penerj.). pada hari jadi”-nya itu ia

membagi-bagikan hadiah kepada sahabat-sahabat dan kerabatnya, karena Allah Swt. telah memberikannya suatu kehormatan sehingga mengizinkannya untuk menunaikan kewajiban dalam beribadah pada hari itu. Apakah dapat dikatakan bahwa ketaatan sang hamba saleh itu adalah termasuk jenis kesabaran dalam menahan hal-hal yang tidak disukai manusia? Tentu kita menjawab ya. Lalu, mengapa begitu besar perbedaan antara kita dan hamba-hamba Allah yang taat itu? Lihat saja, bagaimana sikap kita terhadap berbagai perintah Allah Swt. dan larangan-Nya. Kita beranggapan bahwa Allah Swt. telah membebani kita dengan berbagai perintah dan larangan-Nya yang telah membatasi

p: 314

dan mempersempit kebebasan kita. Kita memandang kewajiban-kewajiban yang diperintahkan-Nya itu sebagai menyusahkan dan mengganggu kita. Jika salah seorang di antara kita berusaha shalat pada awal waktu, dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa lebih baik saya melakukannya di awal waktu dan semakin cepat semakin baik, setelah itu saya akan merasa lega dan puas karena telah menunaikan kewajiban saya! Memang, segala kemalangan kita ini sebabnya

adalah kebodohan dan kejahilan serta kurang atau tak adanya penge- tahuan dan hilangnya keimanan kita.

Bagaimanapun, hakikat sabar adalah upaya pencegahan diri dari mengeluh atas guncangan yang terpendam di dalam jiwa. Apa yang telah disebutkan tentang para nabi agung dan para imam suci yang sering disifati sebagai orang-orang yang senantiasa sabar dalam hidup-nya, agaknya yang dimaksud adalah sabar dalam menghadapi penderitaan fisik, yang secara alamiah manusia akan merasakan hal itu menyakitkan dirinya; atau itu bisa juga berarti sabar ketika berpisah

dengan orang-orang yang dicintai, yang merupakan salah satu maqâm mulia pencinta sehingga sangat layak jika hal ini disebutkan dalam penilasan biografi-biografi mereka. Sedangkan kesabaran dalam hal melaksanakan ketaatan dan meninggalkan perbuatan dosa serta sabar dalam menanggung musibah-selain dua macam kesabaran yang telah kami sebutkan sebelumnya-maka kesabaran dalam hal-hal ini tidak berarti bagi mereka dan bagi para pengikut setia mereka.

Seorang arif termasyhur, 'Abdurrazzaq Al-Kasyani, ketika mengomentari buku Manâzil Al-Sâ'irîn, mengatakan, “Yang dimaksud oleh Khwajah Al-Anshari dengan pendapatnya yang menyatakan bahwa ‘kesabaran adalah mencegah diri dari mengeluh’, keluhan yang di maksud di sini adalah mengeluh kepada makhluk. Adapun mengeluh kepada Allah Swt. serta menunjukkan ketakutan dan keguncangan jiwa di hadapan-Nya, hal itu tidak bertentangan dengan kesabaran.

Hadhrat (Nabi) Ayyub mengeluh kepada Allah Swt. seraya berkata, «وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَهً مِنَّا وَذِکْرَی لِأُولِی الْأَلْبَابِ (43)»

Sesungguhnya aku telah disentuh oleh setan dengan kepayahan dan siksaan (QS Shâd (38]: 41). Meskipun demikian, Allah memuji beliau sebagai-mana firman-Nya, «وَاذْکُرْ عَبْدَنَا أَیُّوبَ إِذْ نَادَی رَبَّهُ أَنِّی مَسَّنِیَ الشَّیْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ (41)» Sesungguhnya Kami mendapatinya seorang penyabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia selalu kembali (QS Shâd (38): 44)

p: 315

Di ayat lain kita temukan bahwa Nabi Ya'qub a.s. mengeluhkan keadaannya kepada Allah karena kehilangan putranya, Yusuf a.s., dengan berkata, Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahanku dan kesedihanku (QS Yûsuf (12): 86). Padahal beliau a.s. adalah orang yang penyabar. Bahkan, apabila manusia tidak mengeluh kepada Allah, berarti kita telah menunjukkan kekeraskepalaan dan kecongkakan kita." Tampak dari riwayat hidup para nabi agung dan imam maksum-salawat Allah atas mereka semua-bahwa meskipun maqâm mereka jauh di atas maqâm sabar, ridha, dan pasrah, toh mereka senantiasa memohon, meratap, dan mengungkapkan ketakberdayaan mereka di hadapan Yang Patut Disembah. Mereka mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan mereka kepada Allah Swt. dan ini tidak bertentangan dengan magâm spiritual mereka. Bahkan ingat kepada Allah, mendekatkan diri dan menunjukkan sikap penghambaan dan kerendahan hati di depan Yang Mahabesar dan Mahasempurna, merupakan tujuan akhir harapan kaum 'arifin dan tujuan akhir perjalanan kaum sâlik (penempuh jalan kesempurnaan Allah-penerj.).

Hasil-Hasil Sabar

Ketahuilah bahwa sabar memberikan banyak hasil, di antaranya adalah pendidikan dan pembinaan jiwa. Kalau manusia sabar menghadapi musibah dan kemalangan untuk beberapa lama, jika dia tabah menghadapi kesulitan yang ditimbulkan oleh ibadah dan pahitnya meninggalkan kenikmatan-kenikmatan jasadi, dan apabila dia melakukan semua ini demi menaati perintah-perintah Tuhan Maha Pemberi rezeki, secara berangsur-angsur jiwanya akan menjadi terbiasa dengan

hal-hal ini. Lalu, jiwanya penuh disiplin dan taat serta pasti ia menyingkirkan kedurhakaan yang dimilikinya. Berbagai kesulitan yang dihadapinya menjadi mudah dan berkembanglah di dalam jiwanya suatu potensi nûrânî yang kukuh, yang dengannya ia dapat melampaui maqâm sabar menuju maqâm spiritual lain yang lebih tinggi. Bahkan, sabar tidak berbuat dosa melahirkan ketakwaan diri. Sabar dalam ketaatan dapat menciptakan keakraban dengan Allah. Sedangkan sabar dalam menerima musibah menyebabkan manusia

p: 316

ridha atau puas menerima takdir Allah. Inilah maqâm-maqâm para pemilik keimanan sekaligus maqâm-maqâm para ahli ‘irſân. Dalam hadis-hadis mulia yang diriwayatkan dari para pemuka Ahl Al-Bait yang maksum, banyak sekali kita temukan pujian terhadap sifat ini. Berikut ini adalah hadis dari Al-Imam Al-Shadiq a.s. dalam Al-Kafi, yang dalam hadis itu Imam mengatakan:

اقال: الصّبر من الإیمان بمنزله الرّأس من الجسد، فإذا ذهب الرّأس، ذهب الجسد، و کذلک إذا ذهب الصّبر، ذهب الإیمان

"Sesungguhnya, sabar bagi iman seperti kepala bagi tubuh. Apabila kepala hancur, tubuh pun hancur. Demikian pula apabila kesabaran lenyap, lenyap pulalah keimanan.” Dalam hadis lain, yang sanadnya sampai ke Al-Imam Al-Sajjad ('Ali Zainal Abidin), beliau diriwayatkan mengatakan:

قال: الصّبر من الإیمان بمنزله الرّأس من الجسد، و لا إیمان لمن لا صبر له

“Sesungguhnya, sabar bagi iman seperti kepala bagi tubuh: tidak beriman orang yang tidak memiliki kesabaran.(1)

Banyak hadis yang berkaitan dengan topik ini. Kami akan mengemukakan sebagiannya nanti, yang relevan dengan konteksnya. Sabar merupakan kunci pembuka pintu kebahagiaan dan sarana utama untuk melepaskan diri dari bahaya besar. Bahkan, sabar membuat manusia menganggap ringan musibah yang dihadapinya dan dapat memudahkan berbagai kesulitan. Sabar memperkuat tekad dan kehendak hati. Sabar juga dapat membentuk keterbebasan jiwa. Di lain pihak, sedih dan cemas—selain keduanya ini merupakan aib yang memalukan, sekaligus merupakan pertanda kelemahan jiwa-membuat orang selalu gelisah dan tidak stabil, melemahkan ketetapan hati, dan meloyokan akal.

Peneliti ahli, Khwajah Nashiruddin Al-Thusisemoga Allah menyucikan ruhnya-mengatakan, "Sabar mencegah terjadinya kegusaran dan kegelisahan pada batin, keluhan pada lidah, dan mencegah terjadinya gerakan-gerakan tidak normal pada anggota tubuh.”

p: 317


1- 8. Ibid., hadis No. 3.

Sebaliknya, batin orang yang tidak sabar itu penuh dengan kecemasan dan kegelisahan. Hatinya penuh dengan guncangan, dan ini sendiri merupakan bencana terbesar yang dapat menimpa manusia, dan membuat manusia kehilangan kedamaian. Sementara sabar dapat meringankan musibah yang diderita dan menjadikan hati dapat mengatasi kesulitan, dan membantu kehendak manusia dalam mengatasi bencana. Orang yang tidak sabar senantiasa mengeluhkan kesulitan-kesulitannya bukan saja kepada mereka yang seriang mendengar keluhan, bahkan kepada yang tidak biasa mendengarnya sekalipun. Hal ini, selain membuat dia buruk di mata orang dan dipandang rendah sebagai orang lemah yang berwatak labil, juga membuatnya kehilangan kedudukannya di sisi Tuhan Yang Mahasuci dan di depan para malaikat-Nya. Seorang hamba yang tidak sanggup menahan suatu musibah yang ditimpakan Allah Zat Yang Mahatinggi dan Maha mutlak-kepada-nya, satu musibah saja sudah cukup untuk membuatnya meneriakkan keluhannya dari perlakuan Allah Swt. terhadapnya itu, padahal selama ini ia bergelimang ribuan karunia dan rahmat-Nya dan tenggelam dalam samudra anugerah-Nya. Keimanan macam apakah yang dimiliki oleh hamba seperti dia? Kerelaan seperti apa yang diungkapkannya di hadapan Allah Swt.? Maka, tepat kalau dikatakan bahwa orang yang tidak sabar itu tidak memiliki iman. Jika kamu beriman kepada Tuhamu dan percaya semua urusan ada di tangan-Nya Yang Mahaperkasa, dan kamu percaya bahwa tidak ada kekuasaan di hadapan aneka musibah dan bencana besar selain milik-Nya, tentu kamu tidak akan mengeluh tentang kesulitan hidup dan kemalangan atau kesengsaraan yang menimpamu di hadapan Allah Swt., bahkan boleh jadi kamu malah akan menerimanya dengan rela hati dan bersyukur kepada-Nya atas karunia dan rahmat-Nya.

Setiap guncangan batin, keluhan diri, dan gerak-gerik tubuh yang tidak menentu dan biasanya, semuanya ini membuktikan bahwa kita ini bukan termasuk para pemilik keimanan teguh. Selama kita merasakan karunia dan rahmat, kita bersyukur dengan syukur yang bersifat formal belaka dan tidak mengandung substansi batiniah, sesuatu syukur yang diucapkan karena menghendaki lebih banyak lagi karunia.

p: 318

Namun, apabila tragedi terjadi, atau kesedihan atau penyakit menimpa kita, kita pun lalu mengeluh tentang Allah Swt. di depan umum. Dengan lidah yang mengeluh dan nada mencela serta sinis, kita mengeluh tentang Dia kepada semua orang. Berangsur-angsur keluhan, kecemasan, dan kegusaran di dalam dirinya itu berubah menjadi benih-benih permusuhan terhadap Allah dan ketentuan-Nya. Perlahan-lahan benih-benih itu pun bertunas dan tumbuh sehingga menjadikan perasaan itu sebagai watak yang abadi. Bahkan, na'ûdzu billah min dzalik, bentuk batin orang itu berubah menjadi suatu bentuk yang membenci dan memusuhi Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya. Apabila hal itu terjadi, segalanya tidak dapat dikendalikannya dan dia pun tak dapat lagi mengendalikan pikiran dan perasaannya. Lahir dan batinnya pun diwarnai dengan permusuhan terhadap Allah Swt. dan dia meninggalkan dunia ini untuk menghadapi kesengsaraan dan kegelapan yang abadi, sementara ruhnya diwarnai permusuhan dan kebencian terhadap Tuhan Maha Pemurah. Aku berlindung kepada Allah dari buruknya suatu akhir yang membawa malapetaka dan dari keimanan palsu yang tidak abadi dan mengakar di dalam jiwa. Dengan demikian, tepat sekali sabda Imam maksum bahwa “Ketika kesabaran lenyap, keimanan pun lenyap”. Saudaraku, masalah ini sangat penting dan jalannya penuh dengan bahaya. Kerahkan segenap kekuatan yang ada padamu dan bersabarlah menghadapi pasang-surutnya kehidupan. Hadapilah segenap musibah dan kemalangan dengan sikap jantan. Pahamilah bahwa keguncangan dan ketakutan jiwa, selain sangat memalukan, juga tidak ada gunanya dalam menghadapi penderitaan dan musibah. Tidak ada gunanya mengeluh tentang takdir Tuhan dan kehendak-Nya yang sudah pasti dan tidak dapat ditolak, di depan makhluk yang lemah tak berdaya, seperti dikemukakan oleh hadis mulia dalam Al-Kâfi

ini:

محمّد بن یعقوب بإسناده عن سماعه بن مهران، عن أبی الحسن، علیه السّلام، قال: قال لی: ما حبسک عن الحجّ؟ قال قلت: جعلت فداک، وقع علیّ دین کثیر و ذهب مالی، و دینی الّذی قد لزمنی هو أعظم من

p: 319

ذهاب مالی، فلو لا أنّ رجلا من أصحابنا أخرجنی ما قدرت أن أخرج. فقال لی: إن تصبر تغتبط، و ألّا تصبر ینفذ الله مقادیره، راضیا کنت أم کارها.

Muhammad ibn Ya'cub Al-Kulaini meriwayatkan dengan rangkaian isnâd-nya dari Sama'ah ibn Mihran dari Al-Imara Al-Kazhim a.s., dia berkata, "Imam Al-Kazhim berkata kepadaku, 'Apa yang telah menghentikan mu sehingga kamu tidak pergi haji? Aku berkata, 'Semoga Aku menjadi tebusanmu, aku memiliki utang yang

banyak dan aku telah kehilangan hartaku. Namun, utang yang menjadi bebanku lebih berat bagiku daripada hilangnya hartaku. Jika bukan karena seorang sahabat kami, tentu aku tidak dapat keluar darinya.' mari berkata, Jika kamu sabar, kamu akan menjadi sasaran rasa iri (karena mendapat ganjaran dan pahala kesabaran

dari sisi Allah Swt.--peny.) dan jika kamu tidak bersabar, Allah akan memberlakukan ketentuan-Nya, baik kamu suka atau tidak.(1)

Ketahuilah bahwa cemas dan takut bukan saja tak ada gunanya, melainkan juga dapat menimbulkan lahirnya ancaman besar terhadap keselamatan iman. Di lain pihak, sabar, tabah, dan menahan diri memberikan banyak pahala dan kebaikan, serta di alam barzakh bentuknya indah dan mulia. Hal ini disebutkan pada akhir hadis mulia yang kami paparkan secara terperinci:

و کذلک الصّبر یعقّب خیرا، فاصبروا و وطّنوا أنفسکم علی الصّبر توجروا

“Demikianlah kesabaran, membuahkan hasil kebaikan. Maka bersabarlah dan biasakanlah dirimu dalam kesabaran, niscaya kamu memperoleh pahala."

Jadi, hasil puncak dari sabar adalah kebaikan di dunia ini—seperti diketahui dari teladan Hadhrat Yusuf a.s. yang disebutkan oleh hadis di atas, yang menjadi topik pembahasan kita ini—dan menyebabkan perolehan pahala di akhirat. Dalam hadis mulia lainnya, yang termaktub dalam Al-Kâfî, yang sanadnya sampai ke Abu Hamzah Al-Tsumali-rahmat Allah atasnya---Al-Imam Al-Shadiq a.s. diriwayatkan telah berkata:

p: 320


1- 9. Ibid., hadis No. 10.

قال أبو عبد الله علیه السّلام: من ابتلی من المؤمنین ببلاء فصبر علیه، کان له مثل اجر ألف شهید

“Barang siapa di antara kaum Mukmin yang menanggung kesengsaraan yang menimpanya lalu dia sabar menghadapinya, pahala-nya sama dengan pahala seribu orang yang syahid.(1)

Masih banyak lagi hadis lain yang berkaitan dengan pokok permasalahan ini. Kami akan mengemukakan sebagiannya dalam bagian berikut. Namun, mengenai yang disebutkan di atas bahwa sabar memiliki bentuk akhirati yang indah. Ini disebutkan terlepas dari dalil-dalil yang mengukuhkannya-oleh hadis berikut dalam Al-Kâfi dari Al-Imam Al-Shadiq a.s. bahwa beliau berkata:

قال: إذا دخل المؤمن [فی ] قبره، کانت الصّلاه عن یمینه و الزّکاه عن یساره و البرّ مطلّ علیه و یتنحّی الصّبر ناحیه، فإذا دخل علیه الملکان اللّذان یلیان مساءلته، قال الصّبر للصّلاه و الزّکاه و البرّ: دونکم صاحبکم، فإن عجزتم عنه فأنا دونه.

“Ketika sang Mukmin memasuki kuburnya, shalat ada di sisi kanannya, zakat di sisi kirinya, kebajikan ada di depannya, dan sabar berada pada suatu sudut (yang tidak dekat dengannya, peny.). Ketika dua malaikat datang menanyainya, sabar berkata kepada shalat, zakat, dan kebajikan, “Bantulah sahabatmu dan jika kamu tidak dapat membantunya, aku sendiri yang akan membantunya."(2)

Derajat dan Tingkatan Sabar

Ketahuilah bahwa seperti ditunjukkan oleh hadis-hadis mulia di atas, ada berbagai derajat dan tingkatan sabar. Pahala dan kebaikan sabar bervariasi, selaras dengan derajat dan tingkatannya. Hal ini diuraikan oleh hadis dalam Al-Kafi yang diriwayatkan oleh Penghulu orang-orang bertakwa, Amir Al-Mukminin 'Ali a.s. dari Nabi Suci Saw.:

p: 321


1- 10. Ibid., hadis No. 17.
2- 11. Ibid., hadis No. 8.

قال: قال رسول الله، صلّی الله علیه و آله، الصّبر ثلاثه: صبر عند المصیبه، و صبر علی الطّاعه، و صبر عن المعصیه. فمن صبر علی المصیبه حتّی یردّها بحسن عزائها، کتب الله لما ثلاثمائه درجه ما بین الدّرجه إلی الدّرجه، کما بین السّماء و الأرض. و من صبر علی الطّاعه، کتب الله له ستّمأه درجه ما بین الدّرجه إلی الدّرجه، کما بین تخوم الأرض إلی العرش. و من صبر عن المعصیه، کتب الله له تسعمائه درجه ما بین الدّرجه إلی الدّرجه، کما بین تخوم الأرض إلی منتهی العرش.

'Ali berkata, “Rasulullah bersabda, 'Ada tiga macam sabar: sabar ketika mendapat musibah, sabar dalam ketaatan, dan sabar untuk tidak berbuat maksiat. Orang yang sabar ketika mendapat musibah, dan menerimanya dengan senang hati, maka Allah menuliskan baginya tiga ratus derajat (yang tinggi), ketinggian satu derajat atas derajat lainnya, seperti jarak antara bumi dan langit. Dan barang siapa yang sabar dalam ketaatan, Allah menuliskan baginya enam ratus derajat (yang tinggi), ketinggian satu derajat atas derajat lain-nya, seperti jarak antara dalamnya bumi dan 'Arsy. Dan barang siapa yang sabar untuk tidak berbuat maksiat, Allah menuliskan baginya sembilan ratus derajat (yang tinggi), ketinggian satu derajat atas derajat lainnya, seperti jarak antara dalam bunii dan batas-batas terjauh ‘Arsy."(1)

Dapat dipahami dari hadis mulia ini bahwa kesabaran untuk tidak berbuat maksiat lebih unggul daripada bentuk kesabaran lainnya, sebab tidak saja jumlah derajatnya lebih besar, bahkan jarak antara derajat-derajatnya lebih besar dibandingkan dengan derajat-derajat dalam jenis kesabaran yang lain. Ini juga memperlihatkan bahwa luasnya surga itu jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terdapat dalam bayangan kita yang terhalangi oleh dosa dan penuh keterba-

tasan ini. Apa yang disebut sebagai gambaran tentang surga bahwa «سَابِقُوا إِلَی مَغْفِرَهٍ مِنْ رَبِّکُمْ وَجَنَّهٍ عَرْضُهَا کَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ (21)»

luasnya seperti luasnya langit dan bumi ... (QS A-Hadîd (57]: 21), barang-kali menunjuk ke surga amal perbuatan. Sedangkan pada hadis mulia di atas yang dimaksuckan adalah surga akhlak dan perilaku manusia.

p: 322


1- 12. Ibid., hadis No. 15.

Kriteria surga akhlak adalah kuat dan sempurnanya kehendak. Oleh karena itu, luasnya tidak akan terbatas. Sebagian orang mengatakan bahwa yang dimaksud oleh hadis di atas adalah penjelasan sisi ketinggian surga, sedangkan maksud ayat 21 QS Al-Hadid itu adalah lebarnya surga, sehingga dua pen jelasan ini tidak bertentangan karena mungkin saja lebarnya surga berukuran tetap sementara ketinggiannya berbeda-beda. Pendapat ini jelas salah, sebab “lebar” di sini menunjuk pada luasnya surga, bukan pada lebar-lawannya panjang, sebab langit dan bumi tak memiliki ukuran yang “lebar”, berdasarkan pengertian umumnya, yaitu sesuatu yang berlawanan dengan panjang, meskipun keduanya memiliki “lebar” dalam pengertian "dimensi kedua" menurut terminologi ahli fisika. Namun, Al-Quran tidak pernah berbicara menurut terminologi sains atau lainnya. Al-Kâfi mencatat hadis Nabi Saw. berikut, dengan rantai periwayatannya yang sampai ke Al-Imam Al-Shadiq a.s.:

قال: قال رسول الله، صلّی الله علیه و آله، سیأتی علی النّاس زمان لا ینال فیه الملک إلّا بالقتل و التّجبّر، و لا الغنی إلّا بالغصب و البخل، و لا المحبّه إلّا باستخراج الدّین و اتّباع الهوی. فمن أدرک ذلک الزّمان فصبر علی الفقر و هو یقدر علی الغنی و صبر علی البغضه و هو یقدر علی المحبّه و صبر علی الذلّ و هو یقدر علی العزّ، آتاه الله ثواب خمسین صدّیقا ممّن صدّق بی

Imam berkata, “Rasullullah Saw. bersabda, 'Akan tiba suatu masa ketika kekuasaan tidak dapat dicapai kecuali melalui pertumpahan darah dan tirani, ketika kekayaan tidak dapat diperoleh kecuali dengan menjarah dan kekikiran, ketika kasih sayang tidak lahir kecuali melalui pencampakan agama dan mengikuti hawa nafsu. Barang siapa yang mengalami masa seperti itu dan sabar dalam menghadapi kemiskinan padahal ia mampu untuk menjadi kaya (secara haram), dan sabar menghadapi permusuhan padahal ia

p: 323

dapat mengambil hati orang, dan barang siapa yang sabar menanggung penghinaan padahal ia dapat memperoleh penghormatan, Allah akan menganugerahinya pahala lima puluh orang yang selalu berlaku benar (shiddiqûn), di antara orang-orang yang membenarkan-Ku. (1)

Terdapat hadis lain dengan pesan yang sama yang diriwayatkan dari Amir Al-Mukminin 'Ali a.s., dan masih banyak lagi hadis yang berkaitan dengan tema ini. Beberapa yang disebutkan di sini sudah cukup untuk tujuan kita.

Derajat Sabar 'Urafa'

Ketahuilah bahwa pembahasan yang hingga sekarang dibicarakan adalah berkaitan dengan kesabaran orang awam dan orang-orang yang menempati maqâm pertengahan (mutawassitûn), seperti yang telah kami isyaratkan pada awal pembahasan bab ini. Namun, sabar memiliki tingkatan-tingkatan lain, yaitu tingkatannya para penempuh jalan kesempurnaan (salik) dan para wali. Salah satu tingkatan sabar seperti itu adalah sabar di jalan Allah (shabr fillah), yang artinya adalah

kukuh dalam ber-mujahadah (berjuang secara spiritual) dan menahan diri dari segala sesuatu yang dikenal di kalangan masyarakat dan digemari mereka. Kesabaran ini bahkan berarti melupakan dirinya demi Sang Tercinta. Tahap ini adalah tahapnya para pesuluk (penempuh jalan kesempurnaan menuju Allah Swt.). Tingkatan lainnya adalah tingkatan sabar bersama Allah (shabr ma'allah), yaitu bagi orang-orang yang diberkati dengan kehadiran dan penyaksian keindahan-Nya

(ahl al-syuhûd wa al-'ayân), yang terjadi pada saat keluar dari pakaian kemanusiaan, dan pada saat terbebas dari tirai-tirai perbuatan dan sifat, pada saat tersinarinya hati oleh Cahaya-Cahaya, Nama-Nama, dan Sifat-Sifat-Nya, dan pada saat memasuki keadaan keakraban dan kekaguman, dan terlindunginya diri terhadap perubahan dari warna ke warna, dan kemangkiran dari keakraban dan penglihatan ruhani. Tingkatan lainnya lagi yaitu tingkatan shabr ‘anillâh (sabar dari

Allah), yang berkaitan dengan maqam pencinta Allah dan pendamba Allah, di antara ahl al-syuhûd wa al-'ayân pada saat kembali ke dunia mereka sendiri, dunia pluralitas dan ketenangan hati (setelah mabuk

p: 324


1- 13. Ibid., hadis No. 12.

kepayang dengan Allah). Inilah maqâm paling sulit, suatu maqâm yang disebut-sebut oleh Penghulu para Salik dan Pemimpin Kaum Yang Sempurna (yaitu ‘Ali ibn Abi Thalib a.s.) dalam doa Kumail:

و هبنی صبرت علی عذابک، فکیف أصبر علی فراقک

Ya Ilahi, Jungjunganku, Pelindungku, Tuhanku! Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu, mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu?!

Berikut ini kisah tentang Al-Syibli:

و روی أنّ شابّا من المحبّین سأل الشّبلی عن الصّبر فقال: أیّ الصّبر أشدّ؟ فقال: الصّبر لله. فقال: لا. فقال: الصّبر بالله. فقال: لا. فقال: الصّبر علی الله. فقال: لا. فقال: الصّبر فی الله. فقال: لا. فقال: الصّبر مع الله. فقال: لا. فقال: ویحک فأیّ؟ فقال: الصّبر عن الله. فشهق الشّبلی و خرّ مغشیّا علیه

Diriwayatkan bahwa seorang pemuda dari kalangan kaum pencinta bertanya kepada Al-Syibli tentang sabar, “Sabar macam mana yang paling sulit?” “Sabar demi Allah," jawab Al-Syibli. “Bukan,” kata si pemuda lagi. “Sabar dengan Allah," kata Al-Syibli. “Bukan," kata si pemuda lagi. “Terkutuklah kamu, sabar macam apa itu?”

kata Al-Syibli dengan jengkel. “Sabar dari Allah,” begitu jawabnya. Al-Syibli menangis, lalu pingsan. (1)

Tingkatan lainnya adalah tingkatan shabr billâh, yaitu tingkatan-nya orang-orang yang diberkati kemantapan, tingkatan yang dicapai setelah keadaan ketenangan hati dan baka dengan Allah (baqa' billâh). Tingkatan yang hanya dapat dicapai oleh orang yang sempurna. Karena kita belum mencapai maqâm-maqâm itu, tidaklah layak membahas lebih terperinci masalah-masalah ini di sini. Dan, segala puji bagi Allah, pada awal dan akhirnya. Dan, shalawat Allah atas Muhammad dan keturunannya yang suci. Il

p: 325


1- 14. Syarh Manâzil Al-Sâ'irîn, bab al-shabr, 88.

17 Hadis tentang Tobat

Point

بالسّند المتّصل إلی الإمام الأقدم، حجّه الفرقه و رئیس الأمّه، محمّد بن یعقوب الکلینی، رضی الله عنه، عن محمّد بن یحیی، عن أحمد بن محمّد بن عیسی، عن الحسن بن محبوب، عن معاویه بن وهب، قال سمعت أبا عبد الله، علیه السلام، یقول: إذا تاب العبد توبه نصوحا، أحبّه الله، فستر علیه فی الدّنیا و الآخره. فقلت: و کیف یستر علیه؟ قال: ینسی ملکیه ما کتبا علیه من الذّنوب، ثمّ یوحی إلی جوارحه: اکتمی علیه ذنوبه. و یوحی إلی بقاع الأرض، اکتمی علیه ما کان یعمل علیک من الذّنوب. فیلقی الله حین یلقاه و لیس شی ء یشهد علیه بشی ء من الذّنوب.

Dengan sanad yang bersambung sampai kepada Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini--ridha Allah atasnya—dari Muhammad ibn Yahya, dari Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, dari Al-Hasan ibn Mahbub, dari Mu'awiyyah ibn Wahhab, yang berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah a.s. berkata, 'Apabila seorang hamba bertobat dengan tobat yang tulus, Allah niscaya mencintainya dan menutupi

p: 326

(dosa-dosa) nya di dunia dan akhirat.' Aku berkata, “Bagaimana Dia menutupinya?' Imam a.s. menjawab, 'Dia membuat dua malaikat (yang ditugaskan untuk mencatat perbuatannya) lupa akan apa yang telah dicatat keduanya mengenai dosa-dosanya, kemudian Dia mewahyukan kepada anggota badannya, 'Sembuyikanlah dosa-dosanya', dan Dia mewahyukan kepada tempat-tempat di bumi, Sembunyikanlah dosa-dosa yang biasa dilakukannya di atasmu.' Lalu, ketika dia bertemu dengan Allah dan tidak ada sesuatu apa pun yang dapat memberikan kesaksian bahwa dia telah berbuat dosa.(1)

Hakikat Tobat

Ketahuilah bahwa tobat merupakan salah satu tahapan yang sulit dan juga penting. Tobat adalah kembali dari alam materi ke alam ruhani, setelah terbutakannya cahaya fitrah dan ruhani tersebut oleh gelapnya hawa nafsu karena dosa-dosa dan kedurhakaan. Jelasnya, ruhani pada mulanya tidak memiliki keunggulan, keindahan, cahaya, atau kesenangan. Jiwa juga pada mulanya terbebas dari berbagai sifat seperti kehinaan, keburukan, kegelapan, atau kedukaan serta sifat-

sifat yang berlawanan dengannya. Jiwa manusia dapat diibaratkan seperti lembaran kosong yang belum ada tulisannya sama sekali. la tidak memiliki kebaikan spiritual ataupun keburukan. Hanya jiwa ini telah dilengkapi oleh suatu kesiapan serta kelayakan untuk memperoleh kedudukan tinggi atau rendah. Fitrahnya tumbuh berkembang dalam keadaan lurus, dan asal usul penciptaannya mengandung kilauan hakiki. Ketika manusia melakukan suatu perbuatan buruk, secara otomatis sebuah titik hitam mewarnai hatinya. Semakin ia melakukan perbuatan dosa, semakin meningkat pula jumlah dan kadar hitam dan kegelapan pada hatinya, hingga titik hitam dan kegelapan itu menyelimuti hatinya seluruhnya, hingga hati benar-benar gelap-gulita. Cahaya fitrah pun menjadi padam dan berubah sampai kepada suatu kesengsaraan yang abadi. Namun, apabila manusia sadar akan apa yang sedang dialaminya itu sebelum terjadinya kegelapan total yang menyelimuti totalitas hati, kemudian ia bangkit dari kelalaiannya, disertai dengan melangkah menuju tobat, sambil melengkapi syarat-syarat terkabulnya tobat tersebut-yang khusus

p: 327


1- 1. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kafi, kitab al-îmân wa al-kufr, bâb al-taubah, hadis No. 1.

akan kami jelaskan permasalahan ini pada bagian mendatang-maka kegelapan yang menyelimuti hatinya serta merta akan menjadi hilang dan kembali ke keadaannya semula. Seakan-akan keadaannya berbalik seketika menjadi seperti lembaran yang kosong dari kebaikan dan keburukan, seperti disebutkan dalam hadis termasyhur: التّائب من الذّنب کمن لا ذنب له.

“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak pernah berbuat dosa.(1)

Jelas bahwa hakikat tobat sesungguhnya adalah kembali dari keadaan materi (perangai jasmaniah) dan hukum-hukumnya menuju wilayah kekuasaan spiritualitas dan fitrah. Demikian pula, inabah (kembali) adalah kembali dari fitrah dan spiritualitas menuju Allah dan meninggalkan habitat jiwa menuju tujuan puncaknya. Oleh karena itu, tobat mendahului inabah. Menguraikan secara teperinci masalah ini bukanlah tempatnya di sini.

Tobat dan Penangguhan

Satu hal penting yang perlu disadari oleh penempuh jalan bimbingan-Nya adalah bahwa untuk sampai dapat melakukan tobat yang sempurna, yang memenuhi semua persyaratannya-yang nanti akan kami sebutkan--itu sulit dan jarang terjadi. Bahkan, perbuatan dosa yang dilakukan manusia dapat menjadikannya lalai akan mengingat bertobat selamanya, khususnya apabila yang dilakukannya adalah dosa-dosa. Dan, apabila “pohon” kemaksiatan semakin tumbuh kukuh di “kebun” hati manusia sehingga menghasilkan buah, dan akar-akarnya telah demikian dalam menghunjam ke tanah, hal ini akan mengakibatkan lahimya beberapa dampak buruk pada manusia yang bersangkutan, yang salah satunya adalah memalingkan manusia secara total dari berpikir untuk melakukan lobat. Apabila terkadang dia

berpikir akan bertobat, dia akan bermalas-malasan melakukannya dan menundanya dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan, sambil mengatakan kepada dirinya sendiri, “Aku akan melakukan tobat pada akhir hidupku dan di usia tua,” sementara dia lupa bahwa hal ini merupakan muslihat Tuhan:

p: 328


1- 2. Ibid., hadis No. 10.

«وَمَکَرُوا وَمَکَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَیْرُ الْمَاکِرِینَ (54)»

... Dan Allahlah sebaik-baik perencana. (QS Ali `Imrân (3): 54)

Janganlah manusia membayangkan bahwa ia dapat bertobat dan memenuhi syarat-syarat tobat, setelah kuatnya akar-akar dosa pada dirinya. Saat yang paling tepat untuk melaksanakan tobat adalah masa-masa muda, karena saat itu dosa-dosa tidak terlalu banyak, kotoran-kotoran pada hati masih relatif ringan, dan persyaratan tobat masih lebih mudah diperoleh. Sebaliknya, pada usia tua, kecintaan manusia pada harta semakin menjadi-jadi. Ambisinya semakin kuat

dan angan-angannya semakin bertambah tinggi. Ini dibuktikan oleh pengalaman dan dikuatkan oleh hadis mulia Nabi Saw. Meskipun seandainya manusia pada usia tua dapat bertobat, lalu apakah jaminan terus berlanjutnya usia yang bersangkutan hingga usia tua dan bahwa orang itu tidak dihampiri oleh kematian secara

mendadak di usia mudanya pada saat ia masih disibukkan oleh aneka perbuatan dosa? Siapa yang menjamin itu semua terjadi? Seperti diketahui bahwa menurunnya jumlah manula membuktikan bahwa kematian lebih dekat kepada kalangan muda daripada kalangan tua. Di sebuah kota berpenduduk lima puluh ribu jiwa, kita tidak melihat lebih dari lima puluh orang manula yang usianya mencapai 80 tahun.

Oleh karena itu, Saudaraku, waspadalah terhadap tipuan setan dan janganlah memerdayakan Tuhanmu dengan mengatakan kepada dirimu sendiri, “Selama lima puluh tahun lebih aku akan memperturutkan hawa nafsuku dan kemudian memperbaiki masa lalu dengan memohon ampun kepada-Nya.” Inilah impian khayal.

Kalau Anda pernah membaca atau mendengar dalam sebuah hadis bahwa Allah Swt. telah memberikan karunia kepada umat ini dan menerima tobatnya sampai sebelum datangnya kematian atau tanda-tandanya, hal itu ada benarnya. Akan tetapi, sungguh mustahil hal itu dapat dilaksanakan oleh seorang manusia.

Apakah Anda mengira bahwa tobat hanyalah perkataan belaka? Tidak, sama sekali tidak demikian. Sungguh tobat adalah suatu pekerjaan yang teramat sulit. Tekad untuk kembali kepada Allah dengan disertai tekad untuk tidak mengulangi kembali perbuatan dosa memerlukan upaya keras melalui latihan-latihan praktis atau dengan

p: 329

cara mempelajarinya secara matang, karena jarang sekali ditemukan manusia yang berpikir akan bertobat berkat inisiatifnya sendiri, atau berhasil bertobat, atau memenuhi persyaratan sah dan diterimanya tobat, atau persyaratan sempurnanya tobat. Sebab, mungkin saja ia dihampiri oleh kematian sebelum memperoleh kesempatan untuk berpikir akan bertoba, atau terlaksananya tobat itu sendiri, sehingga kematian membawanya ke alam lain dalam keadaan ia memikul beban-

beban dosa yang berat dengan diselimuti kegelapan abadi dosa-dosa yang tak berujung itu. Hanya Allahlah yang tahu malapetaka dan bencana apa yang akan menimpanya. Sekalipun diasumsikan bahwa orang (Muslim) pada akhirnya akan selamat dan bahagia di akhirat, di alam itu penebusan dosa bukanlah sesuatu yang mudah. Tugas ini mengharuskan adanya tekanan, kesulitan, dan kepayahan yang berat sekali, serta manusia harus dibakar terlebih dahulu sebelum layak memperoleh syafaat dan ampunan Yang Maha Pengampun.

Saudaraku, bulatkanlah tekad dan kemauan Anda segera. Bertobatlah dari dosa-dosa yang telah Anda lakukan selama Anda masih muda dan masih diberi kesempatan hidup di dunia ini. Jangan biarkan berlalu begitu saja kesempatan yang diberikan oleh Allah ini. Janganlah Anda pedulikan tipuan, bujuk-rayu, dan angan-angan setan serta hawa nafsu yarg selalu memerintahkan pada keburukan itu. Hal Penting Perlu juga di sini kita tambahkan satu hal penting lain, yaitu bahwa orang yang bertobat tidak akan dapat memulihkan sepenuhnya kesucian ruhaniahnya yang sebelumnya ia miliki. Sebab, seperti selembar kertas putih yang telah Anda kotori dengan tinta hitam, mustahil kertas itu kembali kepada kejernihannya semula meskipun Anda berusaha keras untuk menghapus warna hitam pada kertas tersebut. Demikian pula, sulit mengembalikan ke wujud semulanya jambangan yang pecah lalu diperbaiki. Sungguh besar perbedaan antara sahabat

tepercaya, setia, serta tulus dan sahabat yang merninta maaf setelah berkhianat.

p: 330

Lagi pula, tidak banyak orang yang dapat memenuhi dengan benar tugas-tugas tobat. Oleh karena itu, manusia harus mencoba sekeras mungkin untuk tidak memasuki dosa dan kedurhakaan karena memperbaiki jiwa setelah berbuat kerusakan itu merupakan tugas yang sulit. Dan jika ia terjebak dalam suatu perbuatan dosa, ia perlu segera melakukan langkah penyembuhan secepat mungkin karena kerusakan kecil sebaiknya segera diperbaiki.

Saudaraku, janganlah Anda membiarkan keadaan ini berlalu begitu saja, tanpa Anda memedulikannya sama sekali! Renungkanlah keadaan dirimu dan tujuan akhirmu. Kajilah Kitab Allah, Sunnah Nabi Saw., dan riwayat para Imam–shalawat dan salam Allah atas mereka semua—serta pernyataan-pernyataan para ulama umat. Dengarkan dan patuhilah suara akal dan hati nuranimu. Bukalah pintu ini, yang merupakan kunci bagi terbukanya pintu-pintu yang lain, dan masukilah “rumah” ini, yang merupakan “rumah tempat kembali” paling utama bagi kita. Perhatikanlah masalah ini dengan sungguh-sungguh. Mohonlah kepada Allah Swt. keberhasilan mencapai tujuanmu itu. Carilah pertolongan dari maqâm spiritual Rasul Mulia dan para Imam--salam atas mereka-dan berlindunglah kepada Wali

Al-Amr, kemuliaan zaman, dan pemimpin zaman (Imam Kedua Belas)—semoga Allah menyegerakan kedatangannya. Tentu saja, insan suci itu tidak akan membantu orang yang lemah dan orang yang papa dan tidak menjawab panggilan orang yang putus asa.

Hal-Hal Pokok dalam Bertobat

Ketahuilah bahwa untuk melaksanakan tobat diperlukan beberapa hal pokok yang merupakan rukun-rukun tobat yang apabila itu semua tidak terpenuhi, tidak akan terjadi tobat yang sebenarnya. Berikut ini kami akan mengemukakan hal-hal pokok dalam bertobat dan syarat-syarat utamanya yang terpenting. Pertama yang terpenting adalah menyesali dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan masa lalu. Yang kedua adalah bertekad tidak akan mengulangi perbuatan dosa lagi untuk selama-lamanya. Pada dasarnya kedua hal ini telah dapat mewujudkan hakikat tobat yang sebenarnya

p: 331

dan merupakan unsur-unsur penting tobat. Dalam hubungan ini, yang utama adalah mencapai keadaan tersebut dan mewujudkan kenyataannya, dengan cara sedemikian rupa sehingga manusia menyadari dampak dan pengaruh dosa pada jiwanya serta konsekuensi-konsekuensinya di alam barzakh dan Hari Kebangkitan. Kenyataan ini juga dapat dibuktikan baik melalui cara perenungan rasional atau pun merujuk pada Al-Quran dan hadis Nabi serta riwayat para Imam Ahl Al-Bait yang suci-salam atas mereka. Salah satunya adalah informasi yang diriwayatkan oleh para pemuka Ahl Al-Bait yang menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan maksiat memiliki wujud-wujud tersendiri sesuai dengan jenis perbuatan dosa yang dilakukan. Wujud-wujud ini menjelma menjadi bentuk yang buruk di barzakh dan

pada masa Kebangkitan. Ia hidup dan mempunyai kehendak di alam itu, lalu menyiksa manusia dengan sadar dan kehendaknya sendiri. Begitu pula, api neraka juga membakar manusia dengan sadar dan kehendaknya sendiri. Hal itu karena alam tersebut rnerupakan alam kehidupan total.

Di alam itu, kita akan menjumpai wujud-wujud vang merupakan hasil dari perbuatan buruk dan baik yang telah kita perbuat selama di dunia dan akan dibangkitkan bersama kita. Masalah ini sudah sering disebutkan, secara tersurat maupun tersirat, dalam Al-Quran Al-Karim dan hadis-hadis mulia. Juga selaras dengan pernyataan keyakinan filosof emanasionis serta pengalaman dan penemuan kaum arif dan kaum sufi. Demikianlah, setiap dosa juga berpengaruh dan meninggalkan bekasnya pada jiwa, yang disebut dalam beberapa hadis dan dikenal dengan istilah “noktah hitam”. Itulah kegelapan yang muncul di kalbu dan jiwa, dan berkembang setahap demi setahap. Akhirnya, ia menjadi kegelapan total dan membawa manusia kepada kekafiran, kemurtadan, dan ke keadaan yang sangat menyedihkan seperti telah dijelaskan tadi. Seandainya manusia berakal menyadari kenyataan ini dan sangat memerhatikan pernyataan-pernyataan para nabi dan wali, seperti perhatiannya terhadap nasihat dokter, tentu tidak diragukan lagi, ia akan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan tidak akan kembali mendekatinya. Kalau pun ia berbuat dosa, pastilah segera ia menun-

p: 332

jukkan kebenciannya terhadap dirinya, dan hatinya akan dipenuhi penyesalan, dan penyesalan ini akan berpengaruh baik dan besar terhadap jiwanya. Tekad untuk meninggalkan kedurhakaan dan dosa merupakan konsekuensi dari penyesalan ini. Jika kedua hal penting ini terpenuhi—menyesali perbuatan dosa dan bertekad tidak akan mengulanginya lagi—jalan yang akan dilalui sang penempuh jalan menuju akhirat akan menjadi lebih mudah. Allah pun akan menolongnya, seperti yang telah dijanjikan-Nya melalui hadis pembuka bab ini dan firman-Nya:

«وَیَسْأَلُونَکَ عَنِ الْمَحِیضِ قُلْ هُوَ أَذًی فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِی الْمَحِیضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّی یَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَیْثُ أَمَرَکُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ یُحِبُّ التَّوَّابِینَ وَیُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِینَ (222)»

... Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri (QS Al-Baqarah (2): 222). Sang hamba yang bertobat akan dicintai-Nya apabila ia benar-benar tulus dalam tobatnya itu. Untuk benar-benar bertobat, manusia harus berupaya merenung, bertafakur, dan beramal serta menyadari bahwa menjadi orang yang dicintai Allah itu merupakan sesuatu yang tidak terhingga harga dan nilainya. Hanya Allahlah yang tahu kegemilangan spiritual dan kesempurnaan sang hamba, dan apa yang akan menjadi bentuk akhirati dari kecintaan-Nya itu. Dan, hanya Allah Swt. yang tahu bagai mana perlakuan-Nya terhadap orang-orang yang dicintai-Nya ini. Wahai manusia! Betapa berdosa dan bodohnya engkau kalau tidak mengetahui nilai nikmat dari Sang Pemberi Kenikmatan (wali al-niʻam). Setelah bertahun-tahun berbuat durhaka dan membangkang kepada Tuhan yang telah memberimu segenap sarana kesenangan dan kemudahan—sementara sedikit pun kamu tidak manaatiNya—kamu malah melanggar kesucian-Nya dan secara tidak kenal malu pelanggaranmu menjadi-jadi. Kemudian, apabila kamu menyesal dan bertobat, Allah Swt. segera menyambutmu dan memasukkan kamu ke dalam kelompok hamba yang dicintai-Nya. Betapa ini suatu rahmat dan karunia yang tak terhingga. Ya Allah! Kami tidak sanggup berterima kasih kapada-Mu atas karunia dan nikmat-Mu itu. Lidah kami dan lidah makhluk lain pun kelu, tidak sanggup memuji-Mu. Yang dapat kami lakukan hanyalah menundukkan kepala kami dengan penuh rasa malu dan meminta

p: 333

ampunan-Mu atas perilaku kami yang tak kenal malu itu. Siapa kami sehingga patut mendapatkan rahmat-Mu? Akan tetapi, keluasan rahmat-Mu dan berlimpahnya karunia-Mu lebih luas dari apa yang kami gambarkan. أنت کما أثنیت علی نفسک Engkau adalah sebagaimana Engkau telah memuji Diri-Mu sendiri.? Manusia harus selalu berusaha meningkatkan rasa penyesalan dan dosa yang mendalam di hatinya, agar hati selalu terbakar (setiap melakukan kemaksiata?). Yaitu, dengan merenungkan dampak-dampak buruk dosa dan konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan. Ia harus mengobarkan api penyesalan di dalam hatinya sehingga, dengan demikian, apinya itu tetap menyala. Api yang oleh Al-Quran dikatakan, Api Allah yang menyala (yang berdesar-desar menjilati hati) (QS Al-Humazah (104): 6). Hendaknya ia tahu bahwa apabila ia selalu membakar hatinya dengan api penyesalan, dosa-dosa berbagai karatnya akan serta merta menjadi lenyap. Dan, kalau dia tidak menyalakan sendiri api penyesalannya di dunia ini, dan kalau dia tidak membuka bagi dirinya pintu neraka (penyesalan) ini-yaitu pintu yang merupakan gerbang utama menuju surga—tak pelak lagi dia akan meninggalkan dunia fana ini menuju dunia lain dalam keadaan akan menghadapi api yang menyala-nyala dan mengerikan, yang disediakan baginya di sana. Sehingga, pintu-pintu neraka akan terbuka baginya, sementara pintu-pintu surga menjadi tertutup. Ya Allah! Anugerahilah kami dada yang terbakar oleh api penyesalan. Bakarlah hati kami dengan api duniawi dan api penyesalan. Singkirkan karat yang ada di hati kami dan bawalah kami dari dunia ini dalam keadaan terbebas dari konsekuensi-konsekuensi dosa-dosa. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan pemilik karunia dan Mahakuasa atas segala sesuatu.

Syarat-Syarat Tobat

Apa yang dikemukakan di atas merupakan syarat-syarat pokok dalam bertobat. Di sini, kami akan menyebutkan syarat-syarat diterimanya

p: 334

tobat, dan syarat-syarat sempurnanya tobat. Syarat-syarat tersebut, akan kami sebutkan berikut ini. Syarat utama agar tobat diterima ada dua. Begitu pula, ada dua

syarat utama agar tobat ini sempurna. Di sini, kami akan membawakan sabda mulia Hadhrat pemuka para pemimpin, Ali ibn Abi Thalib a.s. yang merupakan puncak hakikat kearifan, dan "ucapan para raja dan rajanya ucapan":

روی فی نهج البلاغه أنّ قائلا قال بحضرته، علیه السّلام: أستغفر الله. فقال له: ثکلتک امّک! أ تدری ما الإستغفار؟ إنّ الإستغفار درجه العلیّین، و هو اسم واقع علی ستّه معان: أوّلها النّدم علی ما مضی. و الثّانی العزم علی ترک العود إلیه أبدا. و الثّالث أن تؤدّی إلی المخلوقین حقوقهم حتّی تلقی الله سبحانه املس لیس علیک تبعه. و الرّابع أن تعمد إلی کلّ فریضه علیک ضیّعتها فتؤدّی حقّها. و الخامس أن تعمد إلی اللّحم الّذی نبت علی السّحت، فتذیبه بالأحزان حتّی تلصق الجلد بالعظم و ینشأ بینهما لحم جدید. و السّادس أن تذیق الجسم ألم الطّاعه کما أذقته حلاوه المعصیه.

Diriwayatkan oleh Al-Sayyid Al-Radhi r.a. dalam Nahj Al-Balaghah bahwa seseorang berkata “Astaghfirullah” (Aku memohon ampun kepada Allah) di depan 'Ali a.s. 'Ali berkata kepadanya, “Sesungguhnya istighfar adalah derajat 'Illiyyîn, dan merupakan sebuah kata yang mencakup enam hal. Pertama adalah menyesali masa lalu. Kedua, bertekad tidak akan mengulanginya lagi. Ketiga, mengembalikan pada makhluk hak-haknya (yang pernah dirampas pada masa lalu) sehingga engkau bertemu Allah Swt. dalam keadaan bersih sedemikian sehingga tak ada yang dapat menuntutmu. Keempat, memenuhi setiap kewajiban yang pernah engkau lalai-

kan. Kelima, membereskan daging tubuhmu yang ditumbuhkan oleh sesuatu yang haram. Engkau melelehkannya dengan kesedihan (tangis dan penyesalan) sehingga yang kaubiarkan hanya kulit

p: 335

yang melekat di tulang, dan setelah itu tumbuhlah daging baru di antara kulit dan tulang itu. Keenam, buatlah tubuhmu merasakan kepedihan dalam melakukan ketaatan sebagaimana telah engkau rasakan manisnya kemaksiatan. Setelah melakukan keenam hal ini, barulah katakan, 'Astaghfirullâh.(1)

Hadis mulia ini menyebutkan pertama-tama dua hal pokok dalam bertobat, yaitu penyesa an yang dalam dan tekad untuk tidak berbuat dosa lagi. Lalu, disebutkan dua syarat penting bagi diterimanya tobat, yaitu mengembalikan hak-hak makhluk dan hak-hak Sang Pencipta. Tobat seseorang tidak akan diterima kalau hanya sekadar menyatakan astaghfirullâh. Orang yang ingin bertobat kepada Allah adalah orang yang mengembalikan segala sesuatu yang diambil dari yang lain secara tidak halal. Jika ia masih menemukan hak-hak orang berada padanya, dan dia mampu mengembalikannya kepada pemilik yang sebenarnya, atau ia hendak bermohon maaf dari mereka, ia tidak boleh segan-segan melakukannya. Dia juga harus menjalankan kewajiban-kewajiban dari Allah yang pernah tidak ditunaikannya, dan kalau kewajiban itu tidak semuanya dapat dilaksanakannya, dia harus berusaha membayarnya sejauh yang dapat dilakukannya. Perlu dike-

tahuinya bahwa jika dia tidak mengembalikan apa yang pernah dirampasnya dari orang lain di dunia ini, dia akan dituntut oleh orang yang pernah dirampas haknya itu di akhirat dalam keadaan yang amat menyulitkan, dan dia tidak akan dapat memenuhinya, kecuali dengan memikul dosa-dosa orang lain dan menukarkan amal saleh-nya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan ini. Pada saat itu dia akan tak berdaya dan papa, dan tak ada jalan keluar yang dapat menolongnya. Saudaraku, jangan sampai setan dan hawa nafsu, menguasaimu, menanamkan kebimbangan dan bisikannya pada dirimu, sehingga keduanya membuatmu menganggap bahwa tobat itu adalah suatu pekerjaan yang sulit dilakukan, dan karenanya kamu berpaling dari tobat. Ketahuilah bahwa sebaiknya segera bertindak dalam hal ini,

sekalipun secara kecil-kecilan. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah, meskipun kamu belum sepenuhnya menunaikan ataupun membayar kewajiban shalat, puasa, dan kewajiban-kewajiban lain yang diperintahkan-Nya yang telah lalu. Berharaplah akan ampunan-

p: 336


1- 4. Nahj Al-Balaghah, ed. Shubhi Al-Shaleh, Beirut 1387/1967, h. 549, Hikam, No. 417. Hadis 18

Nya dosa dan kesalahanmu bertumpuk tak terhitung jumlahnya, dan meskipun masih banyak hak orang yang kau rampas dan belum dikembalikan. Allah Swt. akan memudahkan jalanmu jika kamu bertindak sesuai dengan kemampuanmu, dan Dia akan menunjukkan kepadamu jalan keselamatan. Ketahuilah ba hwa putus asa akan rahmat Allah merupakan salah satu dosa yang paling besar. Saya kira tidak ada dosa lain yang lebih buruk pengaruhnya pada jiwa selain dosa putus asa

akan rahmat Allah. Apabila kegelapan telah menyelimuti orang yang berputus asa akan rahmat Allah, keadaan ini tak mungkin dapat diatasi. Orang ini akan berubah menjadi seorang yang jahat dan durjana sehingga tidak ada cara untuk dapat mengendalikannya. Berhati-hatilah, jangan sampai kamu lupa akan rahmat Allah, lalu memandang dosa-dosa dan konsekuensi-konsekuensinya tidak dapat diatasi. Sesungguhnya rahmat Allah lebih besar daripada segala sesuatu dan meliputi segala sesuatu, dan, seperti bunyi sebuah puisi, “Pemberian Allah tidak dibatasi oleh kapasitas makhluk yang akan diberi.” Bagaimanakah awal mula keadaan dirimu? Dahulu, kamu berada dalam ketiadaan. Kamu tidak memiliki potensi dan kemampuan untuk dapat terwujud. Kemudian, Allah Swt. menganugerahimu karunia

kemaujudan dan aneka kesempurnaannya. Lalu, Dia memberimu karunia dan anugerah-Nya yang tak terbatas, dengan menundukkan semua makhluk kepadamu, tanpa ada sedikit pun kepantasan atau kesiapan menerima aneka anugerah-Nya ini. Kamu diberi-Nya aneka anugerah tanpa harus kamu berdoa ataupun meminta terlebih dahulu kepada-Nya. Kini pun keadaanmu tidak lebih buruk daripada kehampaan dan ketidakmaujudan mutlak. Lagi pula, Allah telah menjanjikan rahmat dan ampunan-Nya. Melangkahlah ke depan di ambang pintu Suci-Nya, niscaya Dia sendiri akan membantumu sesulit apa pun permintaan kamu. Jika kamu tak berhasil mengembalikan hak-hak-Nya, Dia akan memaafkan kegagalanmu itu. Jika kamu tidak dapat melayani hak-hak orang lain, Dia akan menggantinya.

p: 337

Pernahkah kamu mendengar kisah tentang seorang pemuda yang menggali kubur pada masa Rasulullah—shalawat can salam Allah atas beliau dan keturunannya?

Saudaraku, jalan Allah itu mudah dan sederhana. Yang diperlukan hanyalah sedikit perhatian. Melangkahlah dan jangan menunda-nunda niat baikmu itu, karena menunda dan membiarkan dosa bertumpuk-tumpuk hari demi hari inilah yang mempersulit persoalan. Sedangkan bersegera membereskan segala urusan dan bertekad membenahi diri, itu akan mempercepat jalanmu kepada perolehan rahmat-Nya. Cobalah bertindak, bergeraklah ke arah itu. Apabila kamu mendapat hasilnya, kebenaran masalah ini akan terbukti bagimu. Kalau tidak, akan terbukalah jalan penyimpangan dan akan panjang pula tangan dosamu.

Dua hal lainnya yang disebutkan oleh Amir Al-Mukminin ‘Ali a.s.--yaitu hal kelima dan keenam dalam sabda Imam a.s. di atas- adalah syarat-syarat bagi sempurnanya tobat. Bukannya tanpa kedua hal itu tobat tidak bisa lerwujud, tetapi tobat itu tidak akan sempurna tanpa kedua hal itu. Ketahuilah bahwa orang-orang yang berada pada setiap maqâm para sâlik (penempuh jalan kesempurnaan) memiliki tahapan-tahapan yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan hati mereka. Jika orang yang bertobat ingin mencapai derajat tobat yang sempurna, setelah membereskan apa-apa yang pernah dilalaikan—yaitu setelah memperbaiki tugas-tugas yang dilalaikan—dia harus membereskan apa-apa yang ditimbulkan oleh pelalaian tugas itu. Yaitu, dia harus membereskan keadaan spiritual yang didapat selama masa-masa berbuat dosa. Ini terjadi dengan menyingkirkan sepenuhnya pengaruh-pengaruh jasadi dan spiritual yar.g timbul dalam diri sehingga jiwa kembali ke fitrahnya melalui proses penyucian sempurna. Seperti sudah kamu ketahui, setiap dosa dan kesenangan akan memengaruhi jiwa. Begitu pula tubuh, karena tubuh mendapatkan makanannya dari kedua hal itu. Orang yang bertobat harus berusaha keras memusnahkan semua pengaruh itu can bekas-bekasnya dengan cara melakukan berbagai latihan jasmani maupun ruhani, sampai hilangnya dampak

p: 338

dan bekas dari kesalahan-kesalahannya itu, seperti diajarkan oleh Maula 'Ali a.s. Melalui cara latihan jasmani dengan berpantang terhadap makanan yang disenangi dan dapat menguatkan tubuh, di samping menjalankan puasa wajib dan sunnah, daging yang tumbuh dari makanan yang haram dan yang tertimbun di tubuhnya akan menyusut sehingga bekas-bekasnya menjadi hilang. Melalui latihan-latihan spiritual seperti pelaksanaan beberapa ibadah, dia dapat menyingkirkan hal-hal yang ditimbulkan oleh hawa nafsu. Ini karena bentuk-bentuk kesenangan jasmani masih tetap ada dirasakan di dalam jiwa, dan kalau bentuk-bentuk ini masih

ada dalam jiwa, hawa nafsu akan cenderung kepadanya, dan hati pun menjadi tergila-gila padanya, serta dikhawatirkan bahwa diri akan memberontak lagi dan merebut kembali kendali hati. Semoga Allah melindungi kita. Oleh karenanya, sang penempuh jalan akhirat dan orang-orang bertobat perlu membuat jiwa merasakan sakitnya ke latihan-latihan spiritual itu. Jika suatu malam dilewatkan dengan berbuat dosa, ia harus menggantinya dengan malam lain yang diisi

dengan beribadah kepada Allah. Kalau satu hari dilewatkan dengan kesenangan, ia harus menggantikannya dengan hari lain, diisinya dengan berpuasa dan berbagai bentuk ibadah yang dianjurkan. Ini perlu agar jiwa dapat tercuci bersih dari pengaruh dan bekas-bekas perilaku cinta dunia. Jika ini dilakukan, sempurnalah tobatnya dan kecemerlangan fitrahnya pun kembali memancar. Di sepanjang latihan-latihan seperti itu, dia juga harus merenungkan konsekuensi dosa, dahsyatnya kekuasaan Allah Swt., tepatnya neraca amal, dan pedihnya hukuman di alam barzakh dan Hari Kebangkitan. Dia harus mengerti dan menjadikan diri dan hatinya

memahami bahwa semuanya ini merupakan konsekuensi dan bentuk-bentuk dari perbuatan-perbuatan buruk, bentuk-bentuk dari penentangan terhadap Rajanya para raja. Mudah-mudahan setelah tahu dan setelah merenung, jiwa akan merasa benci kepada dosa dan jijik kepada dosa dengan sejijik-jijiknya sehingga, dengan demikian, tercapailah hasil tobat yang dikehendaki, dan tobatnya pun menjadi sempurnalah sudah.

p: 339

Jadi, kedua tahapan itulah yang membuat maqâm tobat sempurna. Tentu saja, apabila mariusia ingin memasuki maqâm tobat, dia tidak boleh beranggapan bahwa dirinya dituntut untuk mencapai tahapan terakhir sehingga terlihat olehnya jalan itu penuh kesulitan, lalu dia pun memutuskan tidak akan menempuh jalan itu.

Sejauh apa pun sang penempuh jalan akhirat dapat melewati jalan ini, sejauh itu pula hal itu baik dan diperlukan sekali. Selanjutnya, apabila dia mulai melangkah di jalan itu, Allah Swt. membuat perjalanan itu mudah baginya. Kesulitan perjalanan itu tidak boleh membuat orang tidak mau melangkah menuju tujuannya karena

tujuan itu sangat penting dan sangat besar artinya. Begitu orang memahami betapa besarnya arti tujuan itu, kesulitan yang ada dalam jalan itu menjadi mudah dan dapat diatasi. Adakah sesuatu yang lebih penting dan lebih tinggi selain keselamatan abadi, kegembiraan, dan kebahagiaan abadi? Bahaya mana lagi yang lebih besar dibandingkan dengan keadaan buruk dan terkutuk untuk selama-lamanya? Dengan tidak mau bertobat, atau menunda-nunda kesempatan tersebut, berarti manusia telah menyerahkan dirinya kepada kesengsaraan abadi, menyerahkan dirinya untuk disiksa selama-lamanya dan dikutuk terus-menerus. Dengan melakukan tobat, kebahagiaan sempurna bisa diperoleh, dan kita pun dicintai oleh Allah. Maka apabila tujuan itu sangat besar nilainya, mengapa kita takut menghadapi kesulitan yang hanya beberapa hari lamanya? Ketahuilah bahwa apa pun yang dapat kita lakukan menuju pintu tobat, biarpun itu kecil, ada manfaatnya. Bandingkanlah masalah-masalah akhirat dengan urusan-urusan duniawi, karena orang-orang yang menggunakan akalnya, jika tidak dapat mencapai tujuan terting-

ginya, mereka tidak berputus asa sehingga berusaha mencapai tujuan yang lebih rendah. Jika mereka tidak dapat mencapai tujuan secara penuh, itu tidak mencegahnya dari meraihnya secara sebagian. Kamu juga, kalau kamu tidak dapat mencapai tujuan ini sampai pada derajatnya yang sempurna, tidak boleh menyerah dalam mencapai tujuan utama itu sendiri. Cobalah untuk mencapainya sejauh kamu dapat mencapainya.

p: 340

Hasil Istighfar

Di antara hal-hal yang perlu dilakukan oleh orang yang bertobat adalah berlindung dalam maghfirah (ampunan) Allah Swt. dan mencapai keadaan istighfir. Dia harus memohon dari Zat Yang Mahasuci agar menutupi dosa-dosanya dan menghapuskan konsekuensi-konsekuensi dosa-dosanya. Itu harus dilakukannya dalam keadaan apa pun, baik secara terang-terangan maupun secara rahasia, dalam kesendirian, dengan meratap, dan dengan air mata serta keluhan tentang

kesengsaraan. Tentu saja, ampunan dan rahmat Zat Yang Mahasuci mengandung arti menutupi cacat dan mengampuni konsekuensi- konsekuensi dosa, karena bentuk-bentuk spiritual dari perbuatan itu merupakan “anak keturunan” manusia, atau sesuatu yang bahkan lebih dekat hubungannya dengannya, dan karena realitas tobat dan bentuk istighfar sama dengan menafikan penisbahan anak atau pengutukan (liân) dalam istilah fiqih. Maka Allah Swt., karena Dia Maha Pengampun dan Maha Menutupi, memisahkan keturunan itu dari orang yang bertobat sebab dia telah memungkiri dan mengutuknya. Dia menutupi dosa itu dari pandangan semua makhluk yang tahu tentang dosanya, termasuk pula para malaikat dan malaikat pencatat amal perbuatan, waktu dan tempat terjadinya perbuatan dosa, bahkan seluruh anggota dan organ tubuhnya sendiri, dan membuat mereka semua lupa akan dosa itu, seperti dijelaskan dalam hadis mulia ini:

ینسی ملکیه ما کتبا علیه من الذّنوب “Dia membuat kedua malaikat-Nya lupa akan dosa-dosa yang pernah mereka catat.”

Barangkali maksud dari ungkapan “Allah mewahyukan pada anggota tubuh dan tempat-tempat di bumi” adalah membuatnya lupa akan semua maksiat yang pernah dikerjakan orang yang bersangkutan. Ungkapan itu dapat juga berarti menghapus kesaksian anggota tubuh dan tempat-tempat di bumi itu atau menghapus pengaruh dosa pada anggota tubuh tersebut. Sebab, seandainya orang itu tidak

p: 341

bertobat, pastilah setiap anggota tubuhnya memberikan kesaksian terhadap segala perbuatan dosanya. Ampunan Allah dan rahmat-Nya yang bersifat menutupi itu,

menuntut agar semua organ dan anggota tubuh kita tidak bersaksi tentang perbuatan kita dan agar waktu dan tempat menyembunyikan segala perbuatan buruk kita. Demikian pula menuntut tertutupnya amal-amal buruk kita di alam sana, setelah kita bertobat kepada-Nya dengan tobat yang sebenarnya, dan memohon ampunan-Nya atas segala perbuatan kita dengan permohonan ampun yang disertai ketulusan penuh, sampai kita meninggalkan alam fana ini. Atau barangkali manusia terhalangi untuk dapat melihat keburukan kita. Agaknya, keterangan kedua lebih mengena, kalau kita ingat kemurahan hati Allah Swt. sehingga orang yang bertobat tidak mendapat malu di depan siapa pun. Wa Allâh Alam.

Mengenai Penafsiran Makna Taubah Nashûha

Ketahuilah bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai tafsir istilah taubah nashứh. Agaknya lebih tepat kalau kita menyebutkannya secara ringkas. Kami hanya akan menerjemahkan kata-kata peneliti agung, Al-Syaikh Al-Baha'i—semoga Allah menyucikan jiwanya. Ahli hadis, Al-Majlisi-semoga rahmat Allah tercurah atasnya- mengutip Al-Syaikh Al-Baha'i yang mengatakan bahwa para mufasir telah memberikan beberapa arti taubah nashûh. Seorang mufasir mengatakan bahwa artinya adalah tobat yang “menasihati” orang-orang, yaitu mengajak mereka untuk meniru dia karena pengaruh baik yang dirasakan orang yang bertobat itu, atau itu berarti tobat yang “menasihati” pelaku tobat agar mencabut habis dosa-dosa dan agar jangan lagi melakukan perbuatan dosa. Penafsiran lain menyatakan bahwa taubah nasrûh merupakan tobat yang dilakukan semata-mata “murni” demi karena Allah. Dan, sebagaimana penggunaan bahasa Arab biasa menyebut madu murni yang bersih dari lilin sebagai 'asal nashûh, maka tobat yang nashûh berarti juga tobat yang murni, tulus demi karena Allah semata, yaitu dengan menyesali keburukan perbuatan dosa atau menyesal karena

p: 342

dosa itu bertentangan dengan keridhaan Allah, bukan karena takut akan api neraka. Peneliti mulia, Al-Thusi, telah menggariskan dalam bukunya, Al-Tajrîd, bahwa menyesali dosa-dosa karena takut akan api neraka, sama sekali bukanlah tobat. Menurut penafsiran lain, nashûh berasal dari kata nashahah, yang artinya adalah menjahit, sebab tobat menjahit kembali tubuh iman yang dikoyak-koyak dosa, atau karena menggabungkan orang yang bertobat dengan para wali Allah dan orang-orang yang dicintai-Nya, seperti potongan-potongan kain dijadikan satu dengan cara dijahit. Pendapat lain memahami kata nashûh di sini sebagai sifat bagi orang yang bertobat dan kaitannya dengan tobat dipahaminya sebagai bermakna kiasan. Yaitu, taubah nashûh merupakan tobat yang pelakunya menasihati dirinya sendiri supaya melakukan tobat dengan sempurna karena memang sepatutnya begitulah tobat, sampai pengaruh dosa sepenuhnya tersingkirkan dari hati, dan ini dapat dicapai dengan cara menjadikan jiwa lebur dengan penyesalan dan kesedihan, serta dengan cara membersihkan gelapnya dosa dengan cahaya kebajikan. Semua Makhluk Dianugerahi Hidup dan Pengetahuan Ketahuilah bahwa ada realitas, misteri, dan seluk-beluk tertentu pada tobat. Bagi masing-masing penempuh jalan menuju Allah, ada tobat tertentu yang sesuai dengan maqâm-nya. Karena kita belum mencapai maqâm itu, di sini tidak layak memerinci detail-detailnya. Oleh karena itu, lebih baik mengakhiri pembahasan ini dengan menyebutkan apa yang bisa disimpulkan dari hadis mulia-yang menjadi topik permasalahan kita pada bab ini yang selaras dengan makna harfiah ayat-ayat Al-Quran Al-Karim dan sejumlah besar hadis yang tersebar di berbagai bab. Yang bisa disimpulkan itu adalah bahwa semua makhluk yang ada di alam semesta ini ini memiliki pengetahuan, hidup, dan kesadaran. Bahkan, semua yang ada ini memiliki makrifat tentang

kedudukan Allah Swt. Wahyu yang diberikan pada organ dan anggota tubuh serta tempat-tempat di bumi agar menyembunyikan (dosa) dan taatnya mereka kepada perintah Allah, bertasbihnya segala yang ada yang diungkapkan dengan jelas dalam Al-Quran Al-Karim, dan

p: 343

hadis-hadis mulia banyak menyebutkannya-semua ini membuktikan bahwa mereka (seperti anggota dan organ tubuh serta tempat-tempat di bumi-penerj.) tahu, sadar, dan hidup. Semuanya itu merupakan bukti adanya hubungan khusus antara Pencipta dan makhluk, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Zat Suci Allah

Swt. dan mereka yang ridha dan diridhai Allah. Inilah salah satu ajaran yang disampaikan oleh Al-Quran Al-Karim dan hadis-hadis para Imam yang maksum kepada manusia, yang juga sesuai dengan pandangan filosof emanasionis dan kaum sufi maupun pengalaman sufi. Dalam ilmu metafisika, terbukti bahwa eksistensi itu identik dengan keunggulan-keunggulan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah, dan pada tingkat apa pun memanifestasikan diri serta terefleksikan dalam cermin, manifestasinya disertai semua aspek dan keunggulannya, termasuk hidup, sadar, dan tujuh sifat utama. Setiap fase manifestasi realitas wujud dan setiap tingkat pancaran cahaya keindahan sempurna Tuhan memiliki hubungan khusus dengan Yang Esa. Melaluinya ia memiliki makrifat lentang Tuhan, seperti dinyatakan dalam ayat yang mulia:

.«إِنِّی تَوَکَّلْتُ عَلَی اللَّهِ رَبِّی وَرَبِّکُمْ مَا مِنْ دَابَّهٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِیَتِهَا إِنَّ رَبِّی عَلَی صِرَاطٍ مُسْتَقِیمٍ (56)»

.. Tidak ada makhluk yang melata kecuali Dia memegang jambulnya. (QS Hûd (11): 56)

Konon, huwa (Dia) menunjuk ke misteri Tuhan dan “memegang jambulnya” adalah hubungan eksistensial primordial misterius yang jalan untuk mengetahuinya tertutup bagi semua wu ud. []

p: 344

18 Hadis tentang Zikir kepada Allah

Point

بالسّند المتّصل إلی فخر الطّائفه و ذخرها، محمّد بن یعقوب الکلینی، رضوان الله علیه، عن محمّد بن یحیی، عن أحمد بن محمّد بن عیسی، عن ابن محبوب، عن عبد الله بن سنان، عن أبی حمزه الثمالی، عن أبی جعفر، علیه السّلام، قال: مکتوب فی التّوراه الّتی لم تغیّر أن موسی [علیه السّلام ] سأل ربّه فقال: یا ربّ، أ قریب أنت منّی فأناجیک، أم بعید فأنادیک؟ فأوحی الله عزّ و جلّ إلیه، یا موسی، أنا جلیس من ذکرنی. فقال موسی، فمن فی سترک یوم لا ستر إلّا سترک؟ فقال: الّذین یذکروننی فأذکرهم و یتحابّون فیّ فأحبّهم، فأولئک الّذین إذا أردت أن أصیب أهل الأرض بسوء، ذکرتهم فدفعت عنهم بهم.

... Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini-semoga Allah meridhainya dari Muhammad ibn Yahya, dari Ahmad ibn Muhammad ibn Isa, dari Ibn Mahbub, dari ‘Abdullah ibn Sinan, dari Abu Hamzah Al-Tsumali, dari Abu Ja'far a.s. yang berkata, “Tertulis dalam Taurat yang tidak berubah bahwa Musa a.s. bertanya kepada Tuhannya, 'Wahai Tuhan, (katakan) apakah Engkau dekat dengan-

p: 345

ku sehingga aku harus berdoa kepada Engkau dengan bisikan atau Engkau jauh sehingga aku harus bersuara keras menyeru-Mu?' Kemudian Allah Swt. mewahyukan kepadanya, 'Wahai Musa! Aku bersama yang mengingat-Ku.' Musa berkata, “Siapakah mereka yang akan Engkau lindungi pada hari ketika tidak akan ada perlin- dungan kecuali perlindungan-Mu? Dia menjawab, “Mereka yang mengingat-Ku, dan Aku mengingat mereka; mereka yang saling mencintai demi Aku. dan Aku mencintai mereka. Mereka adalah orang-orang yang Kuingat saat Aku hendak menimpakan musibah atas penduduk bumi sehingga musibah terhindarkan dari penduduk bumi karena mereka.(1)

Hadis mulia ini memperlihatkan bahwa Taurat yang sekarang ada di tangan kaum Yahudi itu sudah dirusak dan diubah. Ahl Al-Bait a.s. tahu betul kitab Taurat itu. Dari kandungan Taurat dan Injil yang ada sekarang ini, terlihat bahwa kedua kitab ini tidak memenuhi standar pembicaraan yang umumnya diterima orang sekalipun (apa-lagi standar firman Tuhan). Kedua kitab itu sudah cerisi khayalan-khayalan beberapa pergikut hawa nafsu. Peneliti dan ahli hadis, Al-Majlisi—semoga rahmat Allah tercurah atasnya—berkata, “Tampaknya maksud Hadhrat Musa dengan pertanyaan itu adalah mencari tahu tata cara berdoa. Padahal beliau tahu bahwa Allah lebih dekat dengan seseorang daripada urat lehernya sendiri, dengan kedekatan yang didasarkan pada pengetahuan, kekuasaan, dan kekuatan sebab-akibat. Beliau bermaksud mengatakan, 'Apakah Engkau suka kalau hamba-Mu berdoa kepada-Mu dengan bisikan, seperti orang yang berbicara dengan orang lain di dekatnya,

ataukah aku harus menyeru-Mu seperti orang yang menyeru orang lain yang ada di tempat jauh?' Dengan kata lain, 'Apabila aku melihat-Mu, aku dapati Engkau lebih dekat denganku dibandingkan semua yang dekat dan apabila aku melihat diriku sendiri, aku dapati diriku ada di tempat jauh. Maka, aku tidak tahu apakah aku harus mempertimbangkan situasi-Mu dalam doaku atau kondisiku sendiri. Mungkin juga pertanyaan ini diajukan atas nama orang lain, seperti pertanyaan yang berkaitan dengan kemungkinan melihat Yang Mahaindah” (tersebut dalam Al-Quran Surah Al-Afrâf(7): 143).

p: 346


1- 1. Al-Kulaini, Al-Kafi, II, kitab al-du'a', bâb mâ yajib min dzikrillâh fi kulli majlis, hadis No. 4.

Mungkin Musa bermaksud mengungkapkan rasa kebingungannya dan rasa ingin tahunya mengenai sikap berdoa yang tepat. Dia bermaksud mengatakan, “Ya Tuhan! Engkau terlalu Suci dan di atas segalanya untuk dikenai sifat dekat ataupun jauh, sehingga aku akan menyapa-Mu sebagai yang dekat atau yang jauh. Oleh karena itu, aku kebingungan dalam masalah ini sebab aku tidak melihat cara berdoa yang sesuai dengan kedudukan-Mu yang Agung. Maka, izin-kanlah aku berdoa dan tunjukkanlah caranya. Ajarilah aku cara yang sesuai dengan kedudukan-Mu yang Suci.” Datanglah jawaban dari Sumber Agung lagi Mulia itu, “Aku, sebagai Pemberi rezeki, ada dalam semua tingkat dan eksistensi. Segenap alam merupakan kehadiran-Ku. Namun, Aku bersama mereka yang mengingat-Ku dan bersama

mereka yang menyeru-Ku.”

Tentu saja, dekat dan jauh tidak dapat dikenakan kepada Zat Suci itu. Zat Suci itu memberikan rezeki kepada segala yang maujud (ihateh-ye qayyumi, yaitu Allah Swt. meliputi segala yang maujud dan memberi rezeki kepada semuanya) dan keberadaan-Nya meliputi (syumul-e wujudi) segenap wilayah maujud dan seluruh aliran realitas. Namun, yang disebutkan dalam ayat-ayat mulia kita Allah yang Suci ini mengenai penisbahan dekat kepada Allah Swt., seperti ayat-ayat:

«وَإِذَا سَأَلَکَ عِبَادِی عَنِّی فَإِنِّی قَرِیبٌ أُجِیبُ دَعْوَهَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْیَسْتَجِیبُوا لِی وَلْیُؤْمِنُوا بِی لَعَلَّهُمْ یَرْشُدُونَ (186)»

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (katakan kepada mereka bahwa) Aku dekat untuk menjawab seruan orang yang menyeru-Ku .... (QS Al-Baqarah [2]: 186) «وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَیْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِیدِ (16)» ...dan Kami tahu apa yang dibisikkan jiwanya di dalam dirinya, dan Kami lebih dekat dengannya daripada urat lehernya. (QS Qảf (50): 16)

Ayat-ayat seperti itu merupakan semacam kiasan. Sebab Wujud Suci-Nya berada di atas sifat dekat dan jauh, fisik maupun imateriil. Sebab kualitas-kualitas ini mengandung pembatasan/kualifikasi (tahdid) dan penyerupaan (tasybih), sedangkan Allah Swt. berada di luar semua itu. Dan, kehadiran segala wujud di Istana Suci-Nya merupakan kehadiran relasional dan bahwa Zat Suci itu meliputi semua partikel alam semesta dan mata rantai maujud. Dialah yang memberikan rezeki pada semuanya itu. Kehadiran-Nya bukan sekadar

p: 347

pada tataran spiritual atau intelektual, dan bukan pula secara lahiriah dan batiniah semata-mata. Dari hadis mulia di atas, dan beberapa hadis lainnya juga, dapat

disimpulkan bahwa zikır tersembunyi (dzikr-e khafi) dan zikir di dalam hati lebih disukai. Hal ini juga dikemukakan oleh ayat mulia berikut ini:

««وَاذْکُرْ رَبَّکَ فِی نَفْسِکَ تَضَرُّعًا وَخِیفَهً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَکُنْ مِنَ الْغَافِلِینَ (205)»

Ingatlah Tuhanmu dalam jiwamu, dengan rendah hati dan takut, bukan dengan suara keras, pada pagi dan petang hari. (QS Al-A'râf [7: 205)

Dalam sebuah hadis mulia, disebutkan bahwa pahala (tsawâb) zikir ini, mengingat keagungannya, tidak ada yang lalu kecuali Allah Swt. Dalam beberapa keadaan, yang lebih disukai adalah zikir dengan bersuara keras, seperti zikir di depan orang yang lalai demi mengingatkannya. Dalam Al-Kafi, disebutkan bahwa siapa pun yang berzikir kepada Allah Swt. di tengah-tengah orang-orang yang lalai, maka dia seperti orang yang berperang melawan kaum muhâribún (para agresor yang melawan Allah dan Islam). Dalam 'Uddah Al-Dâ'î, karya Ibn Fahd, ada hadis berikut ini:

قال: قال النّبیّ، صلّی الله علیه و آله: من ذکر الله فی السّوق مخلصا عند غفله النّاس و شغلهم بما فیه، کتب الله له ألف حسنه و غفر الله له یوم القیامه مغفره لم تخطر علی قلب بشر... Perawi mengatakan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Orang yang berzikir kepada Allah di pasar, dengan ikhlas, di tengah-tengah lalainya orang-orang dan kesibukan mereka dengan pelbagai urusan (duniawi), Allah menuliskan baginya seribu kebaikan dan mengampuninya pada hari kiamat dengan ampunan yang belum pernah terlintas dalam hati manusia." Begitu pula, mustchabb hukumnya berzikir dengan keras dalam azan, khutbah, dan lain-lain.

Dalam hadis mulia ini, disebutkan bahwa berzikir kepada Allah dan saling cinta dan bersahabat demi Allah, memiliki karakteristik-

p: 348

karakteristik tertentu. Salah satunya dan yang terpenting adalah bahwa zikir kepada Allah yang dilakukan sang hamba mengakibatkan Allah ingat kepadanya dan masalah ini juga disebutkan dalam hadis-hadis lain. Zikir ini merupakan lawan dari kelalaian (nisyân), seperti disebutkan oleh Allah Swt. dalam hubungannya dengan orang yang melupakan ayat-ayat Allah:

Dia mengatakan, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu dapat melihat?” Allah menjawab,

«قَالَ کَذَلِکَ أَتَتْکَ آیَاتُنَا فَنَسِیتَهَا وَکَذَلِکَ الْیَوْمَ تُنْسَی (126)» 'Demikianlah, ayat Kami datang kepadamu, tetapi kamu melupakannya. Maka hari ini kamu pun terlupakan.' (QS Thâ Hà (20):126) Nah, kalau melupakan ayat-ayat Allah dan batin tidak melihat manifestasi-manifestasi keagungan dan keindahan Allah dapat mengakibatkan kebutaan di akhirat, mengingat ayat-ayat Allah, Nama-Nama-Nya, dan Sifat-Sifat-Nya serta keindahan dan kemuliaan-Nya dapat memperkuat penglihatan batin dan menyingkirkan tabir-tabir penghalang, sebanding dengan intensitas zikir dan cahaya yang ditimbulkannya. Apabila mengingat ayat-ayat Allah telah menjadi malakah

(kebiasaan yang terpendam), penglihatan batiniah juga akan menjadi semakin kuat sehingga mulailah terlihat keindahan Ilahiah dalam ayat-ayat-Nya. Mengingat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah akan berakibat pada penglihatan Allah dalam segenap manifestasi Nama dan Sifat (tajalliyât-e asma'iyyah wa shiſätiyyah). Mengingat Zat tanpa tabir ayat, Nama dan Siſal dapat menyingkirkan segala bentuk tabir dan membuat kita dapat melihat dengan jelas Sang Kekasih. Inilah salah

satu interpretasi mengenai "tiga kemenangan” (futuhat-e tsalâtsah) yang merupakan kegembiraan puncak para 'urafa' dan wali: fathun qarib (kemenangan yang dekat), fathun mubîn (kemenangan yang nyata), dan fathun muthlaq (kemenangan mutlak) yang merupakan fath al-futûh (puncak kemenangan). Kalau tiga zikir menyingkirkan tiga tabir, saling cinta demi Allah juga akan menyebabkan timbulnya cinta Allah dan hasil dari cinta ini juga menyingkirkan tabir-tabir, seperti dikemukakan oleh para ‘urafâ'. Jelaslah, cinta Allah ini juga memiliki berbagai derajat. Sebab cinta demi Allah juga memiliki banyak tingkat dalam hal keikhlasan

p: 349

dan kelemahannya. Keikhlasan penuh bahkan bebas dari cacat pluralitas Nama dan Sifat (katsrat-e asmâ’i wa shiſâti) bakal melahirkan cinta yang sempurna. Pencinta sejati senantiasa selaras dengan peraturan cinta dan tidak akan ada penghalang antara pencinta dan Yang Dicintai. Berdasarkan penjelasan ini, dapat kita buat hubungan antara dua pertanyaan Musa a.s. Karena setelah mendengar Allah Swt. menyatakan bahwa Dia bersama orang yang mengingat-Nya dan setelah mendengar dari Yang Dicintai janji yang didambakannya di dalam hatinya, yaitu bersama dengan Yang Mahaindah, dia ingin menemukan identitas orang-orang yang akan mencapai persatuan itu sehingga dia dapat menunaikan tugasnya dalam segala aspeknya. Karenanya, dia bertanya: Siapakah mereka yang akan Engkau lindungi pada hari ketika yang ada hanyalah perlindungan-Mu? Yaitu, siapakah yang Engkau lindungi dan terbebas dari segala keterikatan dan merdeka dari segala rintangan dan bersama-sama dengan Engkau yang Mahaindah? Datanglah jawaban, “Mereka adalah dua golongan: merekalah orang-orang yang mengingat-Ku dan orang-orang yang saling mencintai satu sama lain yang juga mengingat-Ku dan ingat akan manifestasi sempurna Keindahan-ku. Mereka Aku lindungi. Aku bersama mereka dan milik mereka.” Ini memperlihatkan bahwa kedua golongan ini memiliki satu kualitas mulia, yang melahirkan karakter niulia lainnya. Karena Allah mengingat mereka dan mencintai mereka, mereka pun mendapatkan perlindungan- Nya pada hari ketika tidak ada perlindungan, dan mereka bersama Allah di tempat yang benar-benar istimewa. Karakteristik lainnya adalah bahwa Allah Swt. menghindarkan makhluk-makhluk-Nya dari siksaan demi kemulian mereka. Yaitu, selama mereka berada di tengah-tengah makhluk, Dia tidak menurunkan azab dan malapetaka atas segenap makhluk demi mereka.

Perbedaan antara Tafakkur dan Tadzakkur

Ketahuilah bahwa tadzakkur (pengingatan) merupakan hasil dari tafakkur (perenungan). Oleh karena itu, kedudukan tafakur dianggap mendahului kedudukan tadzakkur. Khwajah 'Abdullah Al-Anshari berkata, “Tadzakkur berada di atas tafakur (tafakkur) karena sesungguh-

p: 350

nya tafakur adalah mencari (Yang Dicintai), sedangkan tadzakkur adalah mencapai (Yang Dicintai)." Selama manusia berada dalam pencarian, dia terpisah dari yang

dicari. Dengan ditemukannya yang dicari, dia terbebas dari upaya mencari. Kuat dan sempurnanya tadpakkur bergantung pada kuat dan sempurnanya tafakur. Kebaikan dan keutamaan tafakur yang menghasilkan tadzakkur-sempurna tentang Yang Disembah tidak dapat dibandingkan dengan amalan-amalan lain. Oleh karena itu, dalam hadis-hadis mulia, satu jam bertafakur dipandang lebih baik daripada ibadah satu tahun atau bahkan ibadah enam puluh atau tujuh puluh

tahun. Jelaslah bahwa tujuan akhir dan buah ibadah adalah tahu dan ingat akan Allah, dan ini lebih dapat dicapai melalui tafakur yang sempurna. Barangkali, satu jam bertafakur akan membukakan bagi sang salik jalan menuju pengetahuan mistis dan jalan ini tidak dapat dibuka walau dengan tujuh puluh tahun beribadah atau tafakur itu akan membuat manusia sedemikian ingat akan Yang Tercinta, sedangkan berzuhud selama beberapa tahun belum tentu dapat memberikan hasil serupa.

Saudaraku, ketahuilah, ingat akan Yang Tercinta dan menyibukkan hati dengan mengingat Yang Disembah memberikan banyak hasil bagi semua golongan manusia. Bagi kaum sempurna, yaitu para wali dan 'urafa', itu merupakan tujuan puncak harapan-harapan mereka dan berdasarkan inilah mereka bersama kemegahan Yang Tercinta dan ini memberikan banyak kebaikan kepada mereka! Bagi orang biasa dan kaum mutawassithûn (tingkat menengah), ingat itu adalah semulia-mulianya sarana pembentuk moralitas dan perilaku yang baik dalam kehidupan lahiriah maupun batiniah mereka. Kalau manusia senantiasa ingat akan Allah Swt. dalam keadaan apa pun dan menyadari dirinya hadir di hadapan Zat Suci, tentu dia menahan diri dari masalah-masalah yang tidak sesuai dengan keridhaan-Nya, dan mengendalikan diri agar tidak bersikap durhaka. Semua malapetaka dan penderitaan yang ditimbulkan oleh hawa nafsu dan setan terkutuk disebabkan oleh kelupaan akan Allah dan hukuman-Nya. Lupa akan Allah semakin mempergelap hati dan memberi peluang pada hawa nafsu dan setan untuk menguasai ma-

p: 351

nusia, dan ini artinya memperbesar penderitaannya hari demi hari. Ingat akan Allah membersihkan dan mengilapkan hati dan menjadikannya sebagai tempat (penjelmaan) keindahan Yang Tercinta. Ingat akan Allah menyucikan jiwa dan membebaskan diri dari perbudakan. Cinta akan dunia, yang merupakan sumber segala kesalahan dan dosa, akan tersingkirkan dari hati yang berada dalam keadaan ingat pada-Nya. Semua kecemasan dan ketakutan digantikan oleh kepe-

dulian menyucikan hati demi masuknya para perajurit Sang Mahapengasih.

Oleh karena itu, Saudaraku, apa pun penderitaan dan kesulitan yang kamu alami di jalan zikir dan ingat akan Yang Tercinta, tidak begitu berarti. Biasakanlah hatimu mengingat Yang Tercinta, agar insya Allah, hati itu sendiri membentuk zikir sehingga kalimat lâ ilâha illa Allâh menjaci bentuk akhir dan kesempurnaan baginya.

Tidak ada lagi bekal yang lebih baik bagi sang salik dalam perjalanannya menuju Allah, tidak ada lagi yang lebih dapat memperbaiki cacat-cacat jiwanya dan tiada lagi yang lebih dapat membimbing menuju ajaran-ajaran Allah melebihi ingat kepada-Nya. Nah, kalau kamu mencari keutamaan-keutamaan formal dan spiritual, kalau kamu menempuh jalan akhirat, kalau kamu sedang menuju Allah, biasakanlah hatimu untuk ingat akan Yang Tercinta.

Zikir Sempurna

Sekalipun berzikir kepada Allah merupakan kualitas hati dan hati yang tenggelam dalam zikir yang akan memperoleh manfaat-manfaat zikir, tetap saja zikir hati itu sebaiknya diikuti dengan zikir lisan. Derajat paling sempurna dan paling baik dari zikir adalah zikir pada semua tingkat wujud manusia, yakni zikir yang wilayahnya meliputi alam wujud lahiriah maupun batiniah, dimensi tampak dan gaib manusia. Dengan demikian, Allah Swt. akan menjelma dalam pusat wujudnya. Bentuk batiniah hati dan jiwa manusia ini akan berbentuk zikir pada Yang Tercinta, dan gerak-gerik hati serta tubuhnya juga akan berbentuk zikir tersebut. Tujuh bidang wujud jasadi maupun batiniah manusia harus didominasi oleh dzikrullâh dan dikuasai oleh ingatan pada Yang Mahaindah.

p: 352

Kalau bentuk batiniah hati berubah menjadi hakikat zikir dan alam hati telah dipenuhi dengannya sehingga kedaulatan hati meliputi semua wilayah lain wujud manusia, gerak dan diamnya mata, lidah, tangan, kaki, dan gerak-gerik semua anggota dan fakultas manusia lainnya akan disertai dengan ingatan pada Allah. Jika sudah demikian, tidak akan ada gerakan yang bertentangan dengan tugas-tugas (yang telah Allah tetapkan) sebagai tanggung jawab mereka. Kemudian, gerak dan diamnya orang seperti ini akan dimulai dan diakhiri dengan dzikrullah: Bismillah akan menjadi jalannya dan tempat berlabuhnya. (QS Hûd [11]: 41)

Akibat selanjutnya, pengaruh zikir itu akan sampai ke semua dimensi yang merupakan hasil yang selaras dengan realitas Nama-Nama dan Sifat-Sifat Ilahi. Semua bidang itu membentuk Nama Agung Allah (ism Allâh al-aʻzham), dan menjadi manifestasi (mazhhar) bagi-Nya. Inilah batas puncak kesempurnaan manusia dan tujuan akhir yang didambakan oleh orang-orang pilihan Allah (ahl Al-Allâh). Pengaruh zikir juga ada kekurangannya, kalau derajat keutamaan manusia belum sempurna karena kekurangannya yang batin dan yang lahir saling memengaruhi satu sama lain. Ini karena berbagai tingkat eksistensi manusia saling berkaitan dan saling memengaruhi Dari sinilah, diketahui bahwa zikir lisan yang merupakan tingkat terendah zikir juga ada manfaatnya. Yakni, pertama, lidah melaksanakan kewajibannya, meskipun gerakannya bersiſat formal belaka dan tidak ada ruhnya. Kedua, ada kemungkinan bahwa terus melakukan zikir lisan ini, asalkan sesuai dengan syarat-syaratnya, bisa menjadi sarana untuk membuka lidah hati.

Guru kami, arif sempurna, Syahabadi-semoga jiwaku menjadi tebusannya—berkata, “Dzâkir (orang yang berzikir), selama berzikir harus seperti orang yang mengajarkan kata-kata kepada seorang anak kecil yang belum bisa berbicara. Dia harus mengulangi kata itu sampai lidah anak kecil itu dapat mengucapkannya. Setelah itu, sang guru mengikuti sang anak, sampai kelelahannya yang disebabkan pengulangan itu tersingkirkan, seakan-akan dia telah menerima bantuan

p: 353

dorongan dari sang anak. Begitu pula, orang yang berzikir harus mengajarkan zikir pada hatinya, yang belum dapat mengucapkannya dengan baik. Maksud di balik pengulangan zikir itu adalah agar lidah hati terbuka. Tanda terbukanya lidah hati adalah bahwa setelah itu lidah mengikuti hati dan tersingkirkanlah kesulitan dan kepenatan dalam melakukan pengulangan zikir. Jadi, mula-mula lidah yang berzikir dan lalu hati juga berzikir dengan dibantu oleh lidah dan dengan bimbingan lidah. Setelah itu, lidah hati menjadi tahu cara mengucapkannya dengan benar, maka lidah mengikutinya dalam berzikir dibantu oleh hati atau bantuan gaib dari Allah.” Ketahuilah bahwa tindakan lahiriah dan tindakan formal tidak memiliki kapasitas hidup di alam gaib atau malakút, kecuali setelah mendapat bantuan dari alam batiniah jiwa dan lubuk hati. Bantuan itu akan memberikan tindakan-tindakan tersebut dengan kehidupan spiritual (hayat-e malarûtî). Napas spiritual itu, yang merupakan bentuk keikhlasan niat, adalah seperti jiwa batiniah yang tubuhnya juga akan dibangkitkan kembali di alam malakût dan diizinkan masuk kehadirat Ilahi. Oleh karena itu, dalam hadis-hadis mulia dikatakan bahwa diterimanya perbuatan-perbuatan (fisik) didasarkan pada ukuran kehadiran dan kesediaan hati untuk menerima. Meskipun demikian, hendaknya seseorang melakukan zikir lisan karena hal ini membawa manusia untuk mencapai kebenaran. Oleh karena itu, dalam hadis-hadis dan riwayat-riwayat, zikir lisan sangat dipuji dan ada beberapa topik yang dibahas oleh banyak hadis, sebanyak hadis yang membahas topik zikir. Zikir lisan juga sangat dipuji dalam ayat-ayat suci, sekalipun kebanyakan bertalian dengan zikir batiniah (dikreqalbi) dan jiwa yang berzikir. Ingat akan Allah (zikir) mendatangkan rahmat, pada tingkat apa pun zikir itu terjadi. Pada tahap ini kami akhiri pembicaraan ini dengan menyebutkan beberapa hadis mulia demi mendapatkan barakahnya:

کافی بسند صحیح عن الفضیل بن یسار قال قال أبو عبد الله، علیه السّلام: ما من مجلس یجتمع فیه أبرار و فجّار فیقومون علی غیر ذکر الله عزّ و جلّ إلّا کان حسره علیهم یوم القیامه

p: 354

Dalam Al-Kafi, diriwayatkan dengan sanadnya yang sahih dari Al-Fudhail ibn Yasar bahwa Imam Ja'far Al-Shadiq a.s. berkata, “Tidak ada majelis orang-orang bajik dan pendosa duduk bersama-sama dan setelah itu bangkit pergi tanpa menyebut Allah Swt., kecuali hal itu akan menyebabkan mereka semua menyesal di

hari kiamat.(1)

Jelaslah bahwa apabila manusia mengetahui manfaat-manfaat besar zikir kepada Allah pada hari kiamat, sementara dia sendiri tidak mendapatkan manfaat-manſaat itu, dia akan tahu betapa besar kerugiannya yang tidak bisa ditebus itu, yaitu lewatnya pelbagai karunia dan kenikmatan yang seharusnya bisa ia peroleh. Akibatnya, dia terbenam dalam penyesalan. Oleh karena itu, selama masih ada kesempatan, manusia supaya memanfaatkan majelis-majelisnya, jangan sampai

majelis-majelis itu tidak ada dzikrullâh di dalamnya.

کافی بسند موثّق عن أبی جعفر، علیه السّلام: من أراد أن یکتال بالمکیال الأوفی فلیقل، إذا أراد أن یقوم من مجلسه: «سبحان ربّک ربّ العزّه عمّا یصفون. و سلام علی المرسلین. و الحمد لله ربّ العالمین.»

Dalam Al-Kâfî, diriwayatkan dengan sanad muwatstsaq dari Imam Al-Baqir a.s. yang berkata, “Barang siapa ingin mendapatkan rahmat Allah yang penuh, hendaknya mengatakan ketika bangkit dari majelisnya, 'Subhâna Rabbika Rabbi Al-'Izzati 'Ammâ Yashifûn wa salâmun 'ala Al-Mursalîn wa Al-Hamdulillahi Rabbi Al-'Alamin (Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Mahaperkasa, dari apa yang mereka sifatkan dan salam sejahtera atas para rasul serta segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.(2)

Dan diriwayatkan dari Imam Al-Shadiq bahwa Amir Al-Mukminin ‘Ali a.s. berkata, “Barang siapa ingin menerima pahala yang penuh pada hari kiamat, hendaknya membaca ayat-ayat mulia ini setelah shalat.(3) Juga diriwayatkan dalam sebuah hadis mursal dari Imam Al-Shadiq a.s. bahwa membaca ayat-ayat ini pada akhir suatu majelis merupakan penghapus dosa-dosa.(4)

کافی بإسناده عن ابن فضّال رفعه قال: قال الله عزّ و جلّ لعیسی،

p: 355


1- 3. Al-Kafi, II, kitab al-du'à', bâb mâ yajib min dzikrillâh fi kulli majlis,
2- 4. Ibid., hadis No. 5.
3- 5. Jami' Al-Ahadits, kitab al-shalâh, hadis No. 3487.
4- 6. Wasâ'il Al-Syi'ah, XV, hadis No. 28901.

علیه السّلام: یا عیسی، اذکرنی فی نفسک، أذکرک فی نفسی، و اذکرنی فی ملاک أذکرک فی ملا خیر من ملا الآدمیّین، یا عیسی، ألن لی قلبک و أکثر ذکری فی الخلوات، و اعلم أنّ سروری أن تبصبص إلیّ، و کن فی ذلک حیّا و لا تکن میّتا،،

Al-Kafi, dalam sebuah hadis marfü', meriwayatkan dengan sanadnya dari Fadhdhal, dari Imam a.s. yang berkata, “Allah Swt. berkata kepada Isa a.s., 'Wahai Isa, ingatlah Aku dalam dirimu sehingga Aku akan mengingatmu dalam Diriku. Sebutlah Aku dalam majelismu sehingga Aku akan menyebutmu dalam suatu majelis yang lebih baik daripada majelisnya manusia. Wahai Isa, lembutkanlah hatimu untuk-Ku dan ingatlah Aku banyak-banyak dalam kesendirianmu. Ketahuilah bahwa Aku senang kalau kamu melakukan tabashbush kepada-Ku. Dan hiduplah di situ dan janganlah mati.(1)

Arti tabashbush adalah anjing yang mengibaskan ekornya karena takut atau berharap, dan ini menggambarkan intensitas hasrat dan kerendahan hati. Yang dimaksud dengan “hidup” dalam zikir adalah kehadiran dan perhatian hati.

کافی بإسناده عن أبی عبد الله، علیه السّلام، قال: إنّ الله عزّ و جلّ یقول: من شغل بذکری عن مسألتی، أعطیته أفضل ما أعطی من سألنی

Al-Imam Al-Shadiq a.s. berkata, "Sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, 'Orang yang karena mengingat-Ku lalu, tidak sampai meminta sesuatu dari-Ku maka Aku berikan kepadanya sebaik-baik apa yang telah Aku berikan kepada pemohon yang meminta sesuatu dari-Ku. (2)

عن أحمد بن فهد فی عدّه الدّاعی، عن رسول الله، صلّی الله علیه و آله، قال: ... و أعلموا أنّ خیر أعمالکم [عند ملیککم ] و أزکاها و أرفعها فی درجاتکم و خیر ما طلعت علیه الشّمس ذکر الله سبحانه و تعالی، فإنّه أخبر عن نفسه فقال: أنا جلیس من ذکرنی.

p: 356


1- 7. Al-Kafi, II, kitab al-du'a, bab dzikrullah fi al-sirr, hadis No. 3.
2- 8. Ibid., bâb al-isytighal bi dzikrillâh, hadis No. 1.

... Ahmad ibn Fahd meriwayatkan dalam 'Uddah Al-Da'i dari Rasulullah Saw. yang bersabda, “Sebaik-baik perbuatanmu di sisi Allah, dan sesuci-suci serta semulia-mulia perbuatanmu, dan sebaik-baik yang disinari matahari, adalah zikir kepada Allah Swt. Sesungguhnya Dia telah memberitahumu, dengan kata-kata, 'Aku bersama dia yang mengingat-Ku.(1)

Hadis-hadis mengenai keutamaan zikir, caranya, tata caranya, dan syarat-syaratnya banyak sekali sehingga tak dapat disebutkan semuanya dalam halaman-halaman buku ini. Dan, segala puji bagi Allah pada awal dan akhirnya batiniah maupun lahiriah.[}

p: 357


1- 9. 'Uddah Al-Da'i, 238.

19 Hadis tentang Ghibah (Mengumpat)

Point

بسندی المتّصل إلی ثقه الإسلام و المسلمین، محمّد بن یعقوب الکلینی، رضوان الله تعالی علیه، عن علیّ بن إبراهیم، عن أبیه، عن النّوفلیّ، عن السّکونیّ، عن أبی عبد الله، علیه السّلام، قال قال رسول الله، صلّی الله علیه و آله: الغیبه أسرع فی دین الرّجل المسلم من الأکله فی جوفه.

Dengan sanadku yang bersambung kepada Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini---semoga Allah Taala meridhainya-dari 'Ali ibn Ibrahim, dari ayahnya, dari Al-Naufali, dari Al-Sakuni, dari Abu 'Abdillah a.s. yang berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, 'Ghibah lebih cepat (merusak) pada agama seseorang daripada penyakit

aklah (yang merusak) pada tubuhnya.” Imam a.s. bersabda, “Rasulullah Saw. bersabda, 'Duduk di masjid menanti (waktu) shalat itu ibadah, selama tidak melakukan perbuatan (buruk). Rasul Saw. ditanya, 'Ya Rasulullah, perbuatan buruk apa itu?' Rasul menjawab, Ghibah.(1)

p: 358


1- 1. Al-Kulaini, Al-Kafi, 11, kitab al-îmân wa al-kufr, bâb al-ghibah wa al-buht, hadis No. 1.

Hadis tentang Ghibah (Mengumpat)

Ghîbah adalah mashdar (kata jadian) dari kata kerja ghâba dan juga ism mashdar dari ightiyâb. Al-Jauhari dalam Al-Shihah-nya menyebutkan bahwa ightâbahu ightiyâban berarti seseorang yang terjerumus pada perbuatan ightiyâb. Ghibah dan ightiyâb artinya adalah membicarakan sesuatu berita tentang seseorang di belakangnya, yang tidak disukainya, jika dia mendengarnya. Jika berita tentangnya itu benar, ia disebut ghibah dan jika tidak benar, ia disebut buhtân (mengumpat,

memfitnah).”

Ulama hadis, Al-Majlisi, mengomentari bahwa yang disebutkan di atas definisi ghibah secara bahasa. Akan tetapi, tampaknya yang dikemukakan penulis Al-Shihah di atas adalah definisi terminologisnya (ishthilâhî), bukan makna kebahasaannya. Sebab, makna harfiah dari ghâba, ightâba, dan yang seakar kata dengannya tidak bermakna demikian, tetapi lebih umum dari definisi tersebut. Para penulis kamus terkadang langsung menyebutkan definisi terminologis dalam karya-karya mereka. Penulis Al-Qâmûs mengatakan bahwa ghibah atau ghâba adalah sinonim dari kata ‘âba yang berarti mencela. Menurut penulis Al-Mishbâh Al-Munir, kata ightâbahû bermakna menyebut suatu cacat seseorang yang tidak disenanginya, yang merupakan fakta.” Hemat penulis ini, makna-makna di atas itu tidak memberikan

makna harfiah; tetapi pada masing-masing definisi yang disebutkan terdapat benang merah yang saling memiliki hubungan dengan definisi terminologisnya. Tak perlu terlalu jauh kita membahas persoalan ini karena tidak ada manfaatnya, yang penting adalah kita dapat mengetahui hukumnya secara menurut Islam. Akan terbaca nanti pada saat mengkaji masalah ini lebih dalam bahwa ghibah memiliki ketentuan-ketentuan khusus berdasarkan hukum Islam yang tidak sampai ter-

jangkau oleh definisi kebahasaan maupun yang biasa dipahami oleh masyarakat umum.

Al-Majlisi menyebutkan bahwa kata aklah-yang bunyi bacaannya seperti kata farhah-adalah suatu penyakit pada salah satu anggota tubuh manusia yang dapat menghabiskannya, seperti disebutkan dalam Al-Qâmûs dan kamus-kamus lain. Kata ini biasa juga dibaca âkilah, dengan madd pada huruf hamzah-seperti bunyi kata fā'ilah-

p: 359

yang berarti penyakit yang menggerogoti daging. Makna pertama lebih sesuai dengan makna kebahasaannya. Betapapun, maksud dari kata itu adalah bahwa apabila penyakit itu menyerang organ tubuh manusia, khususnya yang bersifat lembut seperti bagian dalam tubuh manusia, ia akan menggerogoti tubuh

dengan cepat dan menghancurkannya. Demikian pula halnya ghibah, dapat menggerogoti iman manusia dan menghancurkan iman itu, bahkan lebih cepat dari penyaki aklah di atas. Kata kerja mâ lam yuhdits (selama ia tidak melakukan perbuatan), pada hadis di atas subjeknya adalah jālis (orang yang duduk) yang

tersirat dalam kata julûs. Kata ightiyâb adalah objek yang manshûb dari kata kerja yuhdits yang tersirat dalam ucapan si penanya. Dalam beberapa manuskrip, tertulis ما الحَدَثُ bukannya وَمَ یُحَدِّثُ, yang dalam kasus ini ightiyâb berkedudukan sebagai predikat (khabar) yang terbaca marfü".

Definisi Ghibah

Ketahuilah bahwa para faqih—semoga ridha Allah atas mereka semua- telah memberikan banyak definisi tentang ghibah, yang di sini tidak mungkin dapat ditelaah satu per satu secara mendalam kecuali secara ringkas saja. Syaikh Syahid (Zainuddin ‘Ali, yang dikenal sebagai Al-Syahid Al-Tsani) dalam Kasyf Al-Ribah'an Ahkam Al-Ghîbah-nya menyebutkan dua definisi ghibah. Definisi pertama terkenal di kalangan ulama fiqih, yaitu:

هو ذکر الإنسان حال غیبته بما یکره نسبته إلیه، ممّا یعدّ نقصانا فی العرف بقصد الانتقاص و الذّمّ.»

(Ghibah) adalah menyebut-nyebut keburukan seseorang yang tidak disukainya pada saat dia tidak hadir, keburukan yang pada umumnya merupakan suatu aib dengan maksud merusak dan menjelek-jelekkan (reputasinya)-nya.

p: 360

Definisi kedua Ghibah

«التّنبیه علی ما یکره نسبته إلیه

Mengucapkan sesuatu yang penisbahannya kepada orang yang bersangkutan dianggap menjijikkan olehnya.” Definisi kedua lebih umum dari definisi pertama. Kesimpulan dari definisi pertama adalah bahwa ghibah merupakan suatu pekerjaan menyebutkan keburukan seseorang di belakangnya, yang apabila dia mendengarnya, niscaya dia membenci penyebutan tersebut karena itu merupakan kekurangan dan cela bagi yang bersangkutan. Penyebutan keburukan ini sengaja dilakukan dengan maksud menjelekjelekkan dan merusak nama baik yang bersangkutan. Sementara kesimpulan definisi kedua adalah bahwa ghibah adalah mengucapkan secara lisan keburukan orang lain.

Tentunya definisi kedua lebih bersifat umum daripada definisi pertama, yaitu apabila kata dzikr dalam definisi pertama diartikan sebagai penyebutan secara lisan, sebagaimana begitulah kata itu dipahami secara umum. Sedangkan kata tanbih artinya lebih luas dan mencakup ucapan, tulisan, narasi, dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya. Namun, apabila kata dzikr diartikan sebagai sesuatu yang lebih luas daripada kata tanbih, sebagaimana begitulah artinya secara harfiah, kedua definisi itu menunjuk pada sesuatu yang sama, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis yang mengemukakan dua definisi ini. Ini sesuai dengan riwayat Abu Bashir--sebagaimana dikutip Al-Syaikh Al-Thusi dalam Majális-nya--mengenai wasiat Nabi Saw. kepada Abu Dzar r.a, yaitu:

فی وصیّه النبیّ، صلّی الله علیه و آله، لأبی ذرّ، رضوان الله علیه. و فیه: قلت: یا رسول الله، ما الغیبه؟ قال: ذکرک أخاک بما یکره. قلت: یا رسول الله، فإن کان فیه الّذی یذکر به؟ قال: اعلم، أنّک إذا ذکرته بما هو فیه، فقد اغتبته، و إذا ذکرته بما لیس فیه، فقد بهتّه

Abu Dzarr berkata, “Aku berkata, “Ya Rasulullah, apakah ghibah itu?” Rasul menjawab, '(Apabila) kamu menyebutkan sesuatu yang

p: 361

diperbuat saudaramu, berarti kamu telah meng-ghibah-nya, dan apabila kamu menyebutkan sesuatu yang tidak dilakukannya, berarti kamu telah mem-buhtân-nya.(1)

Dalam hadis lain, Nabi Saw. bersabda: هل تدرون ما الغیبه؟ فقالوا: الله و رسوله أعلم. قال: ذکرک أخاک بما یکره

(Nabi saw. bertanya kepada sahabat-sahabatnya), “Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasul Saw. berkata, "Itu adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kalian tidak disukainya." Dua hadis yang baru saja disebutkan ini dapat dikatakan sesuai dengan definisi pertama ghibah, apabila kita pahami makna dzikir seperti yang umumnya digunakan, dapat juga dikatakan sama dengan definisi kedua, berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa dzikr lebih luas cakupannya daripada gaul. Hadis-hadis ini tidak memberi penekanan pada masalah ketidakhadiran yang sedang dibicarakan

karena secara implisit sudah dijelaskan dari makna ghibah itu sendiri. Jelaslah bahwa arti “saudara” di sini adalah saudara seiman, bukan saudara sedarah. Kalimat mâ yakrahu berarti menyebutkan hal-hal yang dianggap sebagai suatu cacat, aib, dan kekurangan yang sedang dibicarakan. Adapun niat untuk merugikan dan meremehkan. meskipun tidak disebutkan dalam hadis mulia yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr atau hadis mulia Nabi, toh dapat dipahami dari konteksnya. Namun, pembukaan riwayat Abu Dzarr mengindikasikan-nya, dan tak perlu disebutkan secara tersurat. Riwayat itu dibuka dengan kata-kata seperti ini:

الغیبه أشدّ من الزّنا. قلت: و لم ذاک یا رسول الله [صلّی الله علیه و آله ]؟ قال: لأنّ الرّجل یزنی فیتوب إلی الله فیتوب الله علیه، و الغیبه لا تغفر حتّی یغفرها صاحبها ... ثمّ قال: و أکل لحمه من معاصی الله

(Nabi Saw. bersabda), “Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih berat daripada berzina.” Kataku, “Bagaimana itu, Ya Rasul Allah?"

p: 362


1- 2. Al-Hurr Al-Amili, Waså’il Al-Syirah, VIII, hadis No. 16312.

"Itu karena seseorang yang berzina dan bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya. Namun, ghibah tidak diampuni (oleh Allah) sampai diampuni oleh korbannya ....” Lalu beliau Saw. bersabda, “Memakan dagingnya merupakan dosa terhadap Allah.(1)

Dapat dipahami pula dari pembuka hadis riwayat Abu Dzar r.a. di atas bahwa penyebutan (keburukan orang lain) yang disertai niat untuk menjelek-jelekkan adalah ghibah, sedangkan jika penyebutan itu dimaksudkan karena rasa kasihan pada (yang sedang disebutkan keburukan)-nya, itu tidak dikatakan ghîbah, sehingga tidak perlu meminta maaf kepadanya dan tidak pula dikatakan “memakan daging saudaranya”. Ghibah juga bersifat lebih umum daripada sekadar penyebutan secara lisan. Ini dipahami dari riwayat ‘A’isyah berikut ini:

قالت: دخلت علینا امرأه، فلمّا ولّت، أومأت بیدی أنّها قصیره فقال، صلّی الله علیه و آله: اغتبتها

("Aisyah berkata), “Seorang wanita datang mengunjungi kami. Dan, ketika dia pergi, aku memberikan isyarat dengan tanganku untuk menunjukkan bahwa dia itu kurang tinggi. Kemudian beliau salam dan shalawat Allah atasnya dan keturunannya—bersabda, "Kamu telah berbuat ghibah terhadapnya.(2)

Dapat dikatakan bahwa makna hadis-hadis mengenai ghibah, seperti dipahami menurut pemakaiannya, tidak membatasinya pada ungkapan kebahasaan saja, tetapi juga mencakup semua bentuk komunikasi. Disebutkannya secara khusus ungkapan kebahasaan (ghibah) ini dengan maksud bahwa kata itu merupakan salah satu

cara untuk memahamkan makna dan kesan dari kata itu, yakni bahwa ghîbah umumnya dalam bentuk ucapan, tetapi, sekali lagi, ungkapan kebahasaan tidak membatasi jenis perbuatan ghibah tersebut. Satu hal lagi yang dapat disimpulkan dari hadis-hadis di atas bahwa menyingkap rahasia-rahasia orang Mukmin adalah haram. Dengan kata lain, dilarang mengungkapkan keburukan ataupun cacat-cacat orang Mukmin, entah itu cacat tubuh, moral, atau perangai, tak soal apakah orang itu suka atau tidak, dan tak soal apakah si

p: 363


1- 4. Wasa'il Al-Syi'ah, VIII, hadis No. 16312.4. Wasa'il Al-Syi'ah, VIII, hadis No. 16312.
2- 5. Al-Naraqi, Jâmi' Al-Sa'adah, II, 294. (Sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Mizan dengan judul Penghimpun Kebahagiaan-penerj.).

pengungkap keburukan itu berniat jahat atau tidak. Namun, kalau hadis-hadis ini ditelaah secara mendalam, kita dapat melihat bahwa niat jahat itulah yang inendasari pelarangan itu kecuali apabila tindakan itu sendiri sedemikian sehingga menyebutnya dan menyiarkannya dilarang oleh syariat-seperti dosa terhadap Allah, yang pendosa bahkan tidak boleh menyatakannya, dan yang menyiarkannya sama saja dengan menyiarkan ketidaksenonohan—dan ini tidak ada

kaitannya dengan pengharaman berbuat ghibah. Tidaklah mustahil mengungkapkan rahasia orang Mukmin yang tidak disukainya tetap saja haram, meskipun tidak ada maksud buruk dari pengungkapan itu. Tidak perlu lagi kita pemerinci lebih lanjut persoalan ini karena itu berada di luar ruang lingkup pembahasan kami.

Ketahuilah bahwa pengharaman ghîbah merupakan sesuatu yang telah disepakati, bahkan termasuk salah satu masalah penting dalam ilmu fiqih, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar yang membinasakan. Bukan tempatnya di sini untuk membahas aspek fiqihnya dan pengecualian-pengecualian yang berkaitan dengannya. Di sini, yang penting adalah menginformasikan tentang kejinya dosa besar ini beserta konsekuensi-konsekuensinya sehingga insya Allah dengan merenungkannya kita dapat menghindarkan diri dari ghibah itu. Dan kalau toh, na’üdzu billâh, kita melakukan ghibah, kita dapat segera menghentikannya dan lalu bertobat, menyucikan diri kita dari sesuatu yang sangat dibenci ini, dan tidak membiarkan diri untuk tetap melakukan kekejian ini dan tidak membiarkan diri senantiasa menderita dosa besar yang melenyapkan iman sampai berpisah dengan dunia ini. Ini karena cosa besar tersebut memiliki bentuk yang mengerikan di alam spiritual yang tersembunyi dan di balik tabir-tabir dunia fana ini. Selain buruk, ia juga menimbulkan aib di hadapan Allah Swt. yang dihadiri para rasul, para nabi, dan para malaikat (Al-Mala' Al-A'là). Bentuk spiritualnya adalah seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam kitab mulia-Nya dan yang telah dikemukakan

secara tersurat maupun tersirat dalam hadis-hadis mulia. Allah Swt. berfirman:

«وَلَا یَغْتَبْ بَعْضُکُمْ بَعْضًا أَیُحِبُّ أَحَدُکُمْ أَنْ یَأْکُلَ لَحْمَ أَخِیهِ مَیْتًا فَکَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِیمٌ (12)»

... dan jangan sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya

p: 364

yang sudah mati? Maka kamu jijik kepadanya. (QS Al-Hujurat [49]:12)

Kita lupa akan kenyataan bahwa perbuatan kita akan kembali kepada kita di akhirat sebagai sesosok makhluk, yang bentuknya sesuai dengan karakter perbuatan itu. Kita tidak tahu bahwa bentuk perbuatan (ghibah) ini adalah bentuk pemakan mayat. Orang yang berbuat ghibah itu menyerupai seekor anjing dalam hal kebuasannya mencabik-cabik kehormatan orang lain dan melahap dagingnya. Bentuk malakûtî dari perbuatannya yang buruk ini—anjing pemakan daging orang yang sudah mati-akan mendampinginya di neraka nanti. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa pada saat Rasulullah Saw. menjatuhi hukum rajam pada seorang lelaki karena perbuatan zina, salah seorang yang hadir berkata kepada sahabatnya (yang sedang dirajam itu):

و فی روایه أنّ رسول الله لمّا رجم الرّجل فی الزّنا، قال رجل لصاحبه: هذا اقعص کما یقعص الکلب. فمرّ النّبیّ معهما بجیفه، فقال: انهشا منها. فقالا: یا رسول الله، ننهش جیفه! فقال: ما أصبتما من أخیکما أنتن من هذه.

“Orang ini (semoga) kematiannya dipercepat, seperti anjing yang (harus) segera dibunuh.” Setelah itu, Nabi, dengan disertai kedua orang itu, melewati bangkai, lalu beliau Saw. berkata kepada mereka berdua, “Nah, gigitlah bangkai itu.” Mereka berkata, “Ya Rasulullah, haruskah kami menggigit bangkai?” Nabi menjawab, “Apa yang telah kamu lakukan (ber-ghîbah) tentang saudaramu itu lebih busuk dibandingkan dengan ini.(1) Benar, sesungguhnya Rasul mulia Saw., dengan cahaya pengetahuannya yang luar biasa, melihat sangat busuknya perbuatan mereka, lebih busuk dibandingkan dengan bangkai yang sudah membusuk, dan melihat bentuk malakûtî perbuatan itu lebih menjijikkan. Dalam hadis lain, disebutkan bahwa pelaku ghibah akan melahap dagingnya sendiri pada hari kiamat. Disebutkan pula dalam buku Al-Wasâ’il, sebuah hadis yang dikutip dari buku A‘mal, karya Al-Shaduq, yang

p: 365


1- 6. Al-Mahajjah Al-Baidha', V, 253

meriwayatkan bahwa Amir Al-Mukminin mendatangi ‘Ali a.s. Nauf Al-Bakali dan menasihatinya, sampai ketika sahabat mulia itu berkata kepada Imam 'Ali as., “Tambahkan untukku lagi (nasihatmu). "Lalu, Imam a.s. berkata:

اجتنب الغیبه، فإنّها إدام کلاب النّار. ثمّ قال: یا نوف، کذب من زعم أنّه ولد من حلال و هو یأکل لحوم النّاس بالغیبه. الحدیث.

""Hindarilah perbuatan ghibah sebab itu adalah makanan anjing-anjing neraka.' Lalu, beliau berkata, "Wahai Nauf, berdustalah orang yang mengaku dilahirkan secara halal (sah) sementara dia melahap daging orang melalui ghîbah.(1)

Di antara hadis-hadis mulia ini tidak ada kontradiksi. Dan, semua ini mungkin saja. Bisa saja pelaku ghibah akan melahap daging bangkai, memakan dagingnya sendiri, berbentuk anjing yang memakan bangkai, dan pada saat yang sama ia berbentuk bangkai yang dicabik-cabik dan dimakan anjing-anjing neraka. Di sana, bentuk-bentuknya berdasarkan perbuatan-buruk yang dilakukan si pelaku, sehingga satu wujud bisa memiliki beberapa bentuk-ebagaimana dijelaskan kajian-kajian filsafat dan ilmu 'irfân. Dalam buku 'lqab Al-Afmål, disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa dalam sebuah hadis panjang, di antaranya Rasulullah bersabda:و عن عقاب الأعمال بإسناده عن رسول الله، صلّی الله علیه و آله، فی حدیث: ... و من مشی فی غیبه أخیه و کشف عورته، کانت أوّل خطوه خطأها وضعها فی جهنّم و کشف الله عورته علی رءوس الخلائق “... barang siapa berjalan dengan meng-ghîbah saudaranya dan membuka keburukan-keburukannya, langkah pertama yang dilakukannya telah dia letakkan di neraka, dan Allah akan membuka keburukan-keburukannya di depan semua makhluk.(2) Begitulah keadaannya pada hari kiamat dan di neraka, Allah Swt. akan mempermalukannya di hadapan makhluk-makhluk dan di hadapan para penghuni alam samawi dan alam surgawi.

p: 366


1- 7. Wasā'il Al-Syi'ah, VIII, hadis No. 16319.
2- 8. Al-Syaikh Al-Shaduq, 'Igab Al-A'mal, 340.

Dalam Al-Wasa'il, dengan sanad yang sampai ke Imam Al-Shadiq a.s., Nabi Saw. diriwayatkan bersabda: و قال: من اغتاب امرء مسلما، بطل صومه و نقض وضوءه و جاء یوم القیامه یفوح من فیه رائحه أنتن من الجیفه، یتأذّی به أهل الموقف. و إن مات قبل أن یتوب، مات مستحلّا لما حرّم الله عزّ و جلّ.

“Barang siapa mengumpat seorang Muslim berarti dia membatalkan puasa dan wudhunya, dan pada hari kiamat mulutnya berbau busuk daripada bangkai, dan ini akan membuat kesal mereka yang disekelilingnya. Jika dia mati sebelum bertobat, matinya (seperti matinya orang yang mati) dalam keadaan menghalalkan apa-

apa yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla.(1)

Inilah keadaannya sebelum dia masuk ke neraka sehingga dia dipermalukan di depan umat manusia dan dia tergolong ke dalam kelompok orang-orang kafir, orang yang menghalalkan sesuatu yang haram itu kafir. Nasib akhir seorang pengumpat (mughtâb) pada hari kiamat mertyerupai nasib orang kafir, karena menurut hadis mulia ini, mereka sama-sama menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah Mengenai keadaan orang seperti itu di alam barzakh, hadis Nabi Saw. yang lain menyebutkan:عن أنس قال قال رسول الله، صلّی الله علیه و آله: مررت لیله اسری بی علی قوم یخمشون وجوههم بأظافیرهم. فقلت: یا جبرئیل، من هؤلاء؟ قال: هؤلاء الّذین یغتابون النّاس و یقعون فی أعراضهم.

Anas ibn Malik berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, 'Pada malam aku di-isra’-kan aku melewati satu kaum yang sedang mencakar-cakar wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku jemari mereka. Aku berkata, 'Wahai Jibril, siapakah mereka itu?' Jibril menjawab, "Mereka itu orang-orang yang melakukan ghibah terhadap manusia dan merusak kehormatan mereka.(2)

p: 367


1- 9. Wasā'il Al-Syi'ah, VIII, hadis No. 16316.
2- 10. Al-Mahajjah Al-Baidhâ', V, 251.

Ini semakin memperjelas bahwa pelaku ghibah akan dipermalukan di alam barzakh, dan dipermalukan di depan orang-orang yang berada di Mahsyar ketika semua manusia menghadapi pertanggung jawaban amal mereka di hadapan Tuhan seru sekalian alam. Orang itu akan dicampakkan ke dalam api neraka dalam keadaan terhina. Bahkan beberapa jenis perbuatan ghîbah ini akan menyebabkan pelakunya dipermalukan di dunia. Dalam Al-Kafi, disebutkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ishaq ibn 'Ammar sebagai berikut:

عن إسحاق بن عمّار قال: سمعت أبا عبد الله، علیه السّلام، یقول قال رسول الله، صلّی الله علیه و آله: یا معشر من أسلم بلسانه و لم یخلص الایمان إلی قلبه لا تذمّوا المسلمین و لا تتّبعوا عوراتهم فإنّ من تتّبع عوراتهم، تتّبع الله عورته، و من تتّبع الله عورته، یفضحه و لو فی بیته.

“Aku mendengar Abu 'Abdullah Al-Shadiq a.s. bersabda; 'Rasulullah Saw. bersabda, 'Wahai yang telah memeluk Islam dengan lidahnya tetapi iman belum memasuki hatinya, janganlah menghina orang-orang Muslim. Dan janganlah menelusuri keburukar mereka karena siapa yang menelusuri keburukan mereka, Allah akan telusuri keburukannya. Dan siapa yang Allah telusuri keburukannya, Allah akan mempermalukannya sekalipun orang itu berada di rumahnya sendiri. (1)

Sesungguhnya Allah Swt. bersifat ghayûr (yaitu sensitif tentang kehormatan-Nya). Membuka rahasia dan cacat orang Mukmin sama saja dengan melanggar kehormatan-Nya. Jika seseorang sudah melampaui batas dalam meremehkan kesucian batas-batas-Nya, Allah Yang Ghayûr akan membuka keburukan orang itu, Dia yang senantiasa menutup aib hamba-hamba-Nya karena sifat Maha Menutupi-Nya, rahmat dan kemahalembutan-Nya. Maka, Allah Swt. akan mempermalukan orang itu di hadapan manusia di dunia fana ini dan akhirat nanti di depan malaikat-malaikat, para nabi, dan wali salam atas mereka semua. Sebuah hadis mulia dalam Al-Kafi, yang isnád-nya bersambung ke Imam Al-Baqir a.s., diriwayatkan bahwa beliau as. berkata:

p: 368


1- 11. Al-Kafi, II, kitab al-îmân wa al-kufr, bab man thalaba ‘atsarât al-mu'minin, hadis No. 2.

Hadis tentang Ghibah (Mengumpat)

قال: یا محمّد، من أهان لی ولیّا، فقد بارزنی بالمحاربه، و أنا أسرع [شی ء] إلی نصره أولیائی.

“Pada malam Nabi Saw. di-isra’-kan, beliau berkata kepada Allah, "Ya Tuhanku, bagaimanakah keadaan orang Mukmin di hadapan-Mu?' Allah menjawab, 'Ya Muhammad, barang siapa menghinakan hamba tercinta-Ku, berarti dia telah mengumumkan perang terha- dap-Ku, dan Akulah yang paling cepat dalam menolong hamba-hamba tercinta-Ku.(1)

Ada banyak hadis mengenai hal ini. Dalam sebuah hadis yang isnâd-nya sampai ke Imam Al-Shadiq a.s., Al-Syaikh Al-Shaduq meriwayatkan bahwa Imam berkata:

و من اغتابه بما فیه، فهو خارج من ولایه الله تعالی داخل فی ولایه الشّیطان

“Barang siapa meng-ghibah seseorang dengan (membuka) sesuatu (aib dan keburukan) yang ada padanya, dia keluar dari wilâyah Allah dan memasuki wilayah setan."(2)

Jelaslah bahwa orang yang keluar dari wilayah Allah dan memasuki wilayah setan, tidak akan lagi memiliki iman dan keselamatan. Seperti disebutkan dalam hadis Ishaq ibn 'Ammar, Islamnya pelaku ghibah hanyalah Islam secara lisan belaka, tidak masuk ke hatinya. Juga jelas bahwa orang yang beriman kepada Allah dan Hari Pembalasan serta meyakini pertemuannya dengan bentuk-bentuk perbuatannya dan hakikat dosa-dosa yang dilakukannya, orang semacam itu tidak akan berbuat dosa besar yang dapat menimbulkan terbongkarnya aib di alam gaib dan alam nyata, di dunia fana ini, di alam barzakh maupun di akhirat nanti. Ia tak akan melakukan dosa yang menyebabkannya diseret ke dalam api neraka, ataupun mengeluarkannya dari wilayah Allah dan membawanya masuk ke wilayah setan.

Jika kita melakukan dosa besar seperti itu (ghîbah), kita harus mengetahui bahwa dasar perbuatan ini tidak benar. Realitas iman belum sepenuhnya memasuki hati kita. Kalau iman sudah memasuki hati, segala masalah akan menjadi baik, dan pengaruhnya akan menembus ke alam lahiriah dan batiniah wujud kita.

p: 369


1- 12. Ibid., bâb man adhâ al-muslimîn, hadis No. 8.
2- 13. Al-Majlisi, Bihar Al-Anwar, LXXV, bâb al-ghibah, hadis No. 12, dari Al-Amāli, karya Al-Shaduq.

Karena itu, perlu ada upaya penyembuhan penyakit hati dan jiwa ini. Hadis-hadis yang cukup banyak mengenai persoalan ini mengindikasikan bahwa kelemahan dan ketidaktulusan iman di samping menyebabkan kerusakan moral dan lahinya berbagai penyimpangan dalam perilaku, juga dapat menimbulkan merosotnya iman

bahkan lenyapnya keimanan itu sendiri. Ini berdasarkan argumentasi yang mendukungnya, seperti telah diuraikan dalam tempatnya yang tepat.

Ketahuilah bahwa dosa ini lebih berat dan konsekuensinya lebih besar daripada dosa-dosa lain. Selain melanggar hak Allah, juga melanggar hak dan kehormatan manusia, dan Allah tidak mengampuni pelaku ghibah, kecuali korbannya mau memaafkannya. Tema ini disebutkan dalam hadis mulia melalui beberapa sanad.

عن محمّد بن الحسن فی المجالس و الأخبار بإسناده عن أبی ذرّ، عن النّبیّ، صلّی الله علیه و آله، فی وصیّه له قال: یا أبا ذرّ، إیّاک و الغیبه! فإنّ الغیبه أشدّ من الزّنا. قلت: و لم ذاک یا رسول الله؟ قال: لأنّ الرّجل یزنی فیتوب إلی الله فیتوب الله علیه، و الغیبه لا تغفر حتّی یغفرها صاحبها.

Diriwayatkan dalanı buku Al-Majális wa Al-Akhbar dengan isnád nya dari Muhammad ibn Al-Hasan dari Abu Dzarr cari Nabi Saw. yang ketika menasihatinya berkata, “Wahai Abu Dzarr, waspadalah dari perbuatan ghîbah sebab ghibah lebih berat daripada berzina.”

"Aku (Abu Dzarr) berkata, "Mengapa demikian, Ya Rasulullah?' Rasul menjawab, ' Itu karena apabila seseorang melakukan zina dan lalu bertobat kepada Allah, Allah akan mener ma tobatnya. Namun, ghibah tidak diampuni kecuali setelah dimaafkan oleh korbannya. (1)

Hal serupa juga disebutkan oleh hadis-hadis lain, seperti yang terdapat dalam ‘Ilal Al-Syarâ'i, Al-Khishâl, Majma' Al-Bayân, dan Kitâb Al-Ikhwân.

Apabila manusia meninggalkan dunia fana ini dengan berkalungkan hak-hak manusia, na'ûdzu billâh, masalah akan menjadi sangal sulit. Adapun hak Allah, kita berurusan dengan Yang Maha mulia

p: 370


1- 14. Wasâ'il Al-Syi'ah, VIII, hadis No. 16312.

dan Maha Penyayang, yang wujud Suci-Nya bebas dari dendam, permusuhan, kebencian, dan dorongan untuk melampiaskan dendam. Namun, jika orang harus berurusan dengan makhluk, mungkin sekali dia berurusan dengan seseorang yang sifat-sifatnya sedemikian sehingga tidak mudah memaafkan atau tidak mudah diajak berdamai. Manusia perlu memerhatikan dirinya dan masalah-masalah ini dengan baik sebab bahayanya sangat besar dan masalahnya sulit sekali.

Hadis mengenai bahaya perbuatan ghîbah lebih banyak daripada yang dapat dikutip di sini dan kami akan hanya mengutip beberapa diantaranya.

مثل ما روی عن النّبیّ، صلّی الله علیه و آله، أنّه خطب یوما، فذکر الرّبا و عظّم شأنه فقال: إنّ الدّرهم یصیبه الرّجل من الرّبا أعظم من ستّ و ثلاثین زنیه. و إنّ أربی الرّبا عرض الرّجل المسلم.

Dalam sebuah khutbah, Nabi Saw. berbicara tentang riba dan keburukannya yang besar. Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya, satu dirham yang diperoleh seseorang melalui riba lebih besar (dosa-nya) dibandingkan dengan tiga puluh enam kali berbuat zina.

Dan, sesungguhnya yang lebih mengerikan daripada riba adalah (melanggar) kehormatan seorang Muslim.(1)

و روی عنه، صلّی الله علیه و آله، أنّه قال: ما النّار فی الیبس بأسرع من الغیبه فی حسنات العبد

Nabi Saw. berkata, “Tidak ada api yang lebih cepat melahap kayu kering dibandingkan dengan ghibah yang melahap kebajikan seorang hamba.(2)

و عن النّبیّ، صلّی الله علیه و آله: یؤتی بأحد یوم القیامه فیوقف بین یدی الربّ عزّ و جلّ و یدفع إلیه کتابه، فلا یری حسناته فیه. فیقول: إلهی، لیس هذا کتابی [فإنّی ] لا أری فیه حسناتی. فیقال له: إنّ ربّک لا یضلّ و لا ینسی، ذهب عملک باغتیاب النّاس. ثمّ، یؤتی بآخر و یدفع إلیه کتابه، فیری فیه طاعات کثیره.

p: 371


1- 15. Al-Mahajjah Al-Baidha”, V, 253.
2- 16. Ibid., 264.

فیری فیه طاعات کثیره. فیقول: إلهی، ما هذا کتابی، فإنّی ما عملت هذه الطّاعات. فیقال له: إنّ فلانا اغتابک فدفع حسناته إلیک

Nabi Saw. berkata, “Seseorang akan dibawa dan dihadapkan kepada Tuhan Azza wa Jalla pada hari kiamat lalu diberikan bukunya. Karena tidak melihat adanya perbuatan baik di dalamnya, dia akan berkata, 'Ya Tuhan, ini bukan bukuku karena aku t.dak melihat kebajikan-kebajikanku di dalamnya.' Akan dikatakan kepadanya, Sesungguhnya Tuhanmu tidak keliru dan tidak lupa. Perbuatan-perbuatan baikmu sirna karena kamu berbuat ghibah terhadap manusia.' Lalu, orar.g lain akan dibawa dan diberikan bukunya. Dia akan melihat di dalamnya banyak amal ketaatan, lalu dia akan berkata, 'Ya Tuhan, ini bukan bukuku sebab aku tidak pernah

melakukan amal-amal ketaatan ini.' Akan dikatakan kepadanya ‘Si Fulan berbuat ghibah terhadapmu, maka amal-amal baiknya telah diberikan kepadamu.(1)

و عن النّبی، صلّی الله علیه و آله: أدنی الکفر أن یسمع الرّجل من أخیه کلمه یحفظها علیه یرید أن یفضحه بها. أولئک لا خلاق لهم

Nabi Saw. berkata, “Derajat kekafiran yang rendah adalah mendengar sesuatu dari saudaranya lalu mengingat-ingatnya dengan maksud membuatnya terhina. Orang-orang seperti itu tidak memiliki kelayakan (mendapat surga di akhirat).(2)

Hadis-hadis yang dikutip di sini khususnya berkaitan dengan pokok bahasan ini (ghibah), padahal masih banyak lagi perbuatan dosa lainnya yang dapat dicakup oleh hadis-hadis yang telah kami paparkan tadi di atas, seperti menghina, merendahkan, dan meremehkan seorang Mukmin, mengungkapkan dan menghitung-hitung

kelemahannya, dan memfitnahnya. Masing-masing perbuatan ini adalah penyebab kebinasaan pelakunya. Banyak sekali hadis yang mengutuk perbuatan-perbuatan itu. Kami tidak akan mengutipnya lagi disini demi keringkasan.

p: 372


1- 17. Jâmi' Al-Akhbâr, 171, meskipun susunan katanya berbeda.
2- 18. Hadis yang sama dalam Al-Kafi, 11, kitab al-îmân wa al-kufr, bâb man thalaba ‘atsarât al-mu'minîn.

Kerugian Sosial Akibat Ghîbah

Dosa perbuatan ghibah yang sangat mengerikan dan fatal ini, di samping menghancurkan iman dan moral, lahir dan batin, serta dapat membawa aib dan malu bagi manusia di dunia ini dan di akhirat nanti--seperti disinggung dalam bagian terdahulu juga mengandung kerusakan sosial sehingga keburukan perbuatan ini lebih besar dibandingkan dengan keburukan banyak dosa lainnya. Salah satu tujuan besar ajaran-ajaran para nabi mulia a.s.-selain sebagai tujuan yang mandiri itu sendiri dan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih besar, selain merupakan syarat utama dalam membentuk sebuah masyarakat yang sempurna-adalah menyatukan keimanan dan kepercayaan serta membentuk suatu kesepakatan dalam segala masalah penting, dan membatasi agresi kaum penindas, yang menyebabkan rusaknya kemanusiaan dan menghancurkan fondasi masyarakat. Tujuan besar ini-tempat bertumpunya pembaruan individu dan masyarakat--tidak akan tercapai kecuali dengan persaudaraan, solidaritas, saling mencintai, dan persatuan di kalangan anggota masyarakat, serta ketulusan hati dan kesucian lahir dan batin mereka dengan suatu bentuk persatuan yang setiap individu dapat bahu-membahu membangun keutuhan masyarakatnya yang solid, sehingga mereka dapat mengubah sebuah masyarakat menjadi seakan-akan seperti satu pribadi yang individu-individunya menjadi bagian dan anggotanya. Segenap upaya mereka berkisar pada satu tujuan besar Ilahiah ini dan tujuan rasional yang penting ini, yang di dalamnya terletak kebaikan individu dan masyarakat.

Seandainya dalam suatu ras atau suku bangsa lahir cinta dan persaudaraan seperti itu, suku bangsa atau ras itu pasti akan menguasai suku-suku bangsa atau ras lain yang tak memiliki kualitas ini. Kebenaran masalah ini menjadi terang-benderang kalau kita mempelajari sejarah, khususnya sejarah peperangan dan kemenangan besar Islam. Dengan adanya keyakinan akan Allah ini, karena ada kesatuan dan solidaritas ini di kalangan kaum Muslim, dan karena upaya mereka

disertai niat yang ikhlas, mereka dapat meraih kemenangan-kemenangan besar dalam masa yang singkat. Dalam masa yang singkat itu, mereka menguasai empirium-empirium besar pada masa itu,

p: 373

yaitu Persia dan Romawi. Meskipun jumlahnya lebih kecil, toh mereka dapat mengalahkan tentara bersenjatakan lengkap yang banyak sekali jumlahnya. Rasulullah membuat perjanjian persaudaraan di kalangan kaum Muslim awal dan terwujudlah hubungan persaudaraan antara segenap Muslim, yang didasarkan pada nash Al-Quran:

Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara. (QS Al-Hujurât (49]: 10)

Hadis-hadis berikut ini termaktub dalam Al-Kâfi:

قال سمعت أبا عبد الله، علیه السّلام، یقول لأصحابه: اتّقوا الله و کونوا إخوه برره متحابّین فی الله متواصلین متراحمین، تزاوروا و تلاقوا و تذاکروا أمرنا و أحیوه.

Berkata Al-'Arqufi, “Aku mendengar Abu 'Abdillah a.s. berkata kepada sahabat-sahabatnya, 'Takutlah kepada Allał, dan bersaudaralah dengan bajik, yang mencintai satu sama lain demi Allah, saling berjalin erat dan mengasihi. Saling bertemu dan kunjung mengunjungilah kamu satu sama lain, dan saling mengingatkanlah

satu sama lain tentang urusan (yakni kepemimpinan Ahl Al-Bait) kita dan hidupkanlah urusan kita itu ."(1)

و عن أبی عبد الله، علیه السّلام، قال یحقّ علی المسلمین الاجتهاد فی التّواصل و التّعاون علی التّعاطف و المواساه لأهل الحاجه و تعاطف بعضهم علی بعض حتّی تکونوا کما أمرکم الله عزّ و جلّ: «رحماء بینهم

Abu 'Abdillah a.s. berkata, “Semua Muslim harus bersungguh-sungguh dalam saling berhubungan, bekerja sama, berbaik hati, dan bermurah hati kepada kaum fakir, dan saling menyayangi di antara mereka sendiri, sampai kamu menjadi seperti apa yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla (dalam firmari-Nya), “Mereka

saling mengasihi satu sama lain.(2)

و عنه علیه السّلام: تواصلوا و تبارّوا و تراحموا، و کونوا إخوه أبرارا کما أمرکم الله عزّ و جلّ.

p: 374


1- 19. Al-Kafi, kitab al-îmân wa al-kufr, bab al-tarahum wa al-ta'athus, hadis No. 1.
2- 20. Ibid., hadis No. 4.

Al-Imam Al-Shadiq a.s. juga berkata, “Saling berhubungan, berbaik hati dan saling berbelas kasihlah kalian satu sama lain dan jadilah kalian saudara-saudara yang baik satu sama lain, seperti kamu diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla.(1)

Jelaslan bahwa apa pun yang memperkuat saling cinta dan bersaudara ini disukai dan diperlukan sekali, dan apa pun yang merusak ikatan persaudaraan ini dan yang menciptakan perpecahan, dibenci oleh Sang Pemberi Hukum dan bertentangan dengan tujuan-tujuan besar-Nya. Jelaslah sekali bahwa jika dosa besar ini berkembang dalam sebuah masyarakat, niscaya akan timbul permusuhan, kebencian, dan kecemburuan di kalangan mereka. Dan melalui dosa besar inilah,

akar-akar kerusakan pun merajalela. Lalu, berdiri kukuhlah pohon kemunafikan yang akan merusak kesatuan dan solidaritas masyarakat, yang akan melemahkan dasar-dasar kesalehan, yang pada gilirannya akan memperparah kerusakan masyarakat, dan karakter buruk masyarakat pun semakin menjadi-jadi.

Oleh karena itu, setiap Muslim yang saleh dan terhormat berkewajiban-agar pribadinya sendiri terlindungi dari kerusakan-melindungi saudara-saudara seagamanya dari kemunafikan, menjaga masyarakat islami, menjaga kesatuannya, dan mempererat ikatan persaudaraan, melindungi dirinya dari keburukan ini, dan mencegah

orang lain agar tidak melakukan tindakan menjijikkan ini. Dan kalau, na'ûdzu billâh, ada orang yang telah melakukan perbuatan buruk ini, dia harus bertobat dan-jika mungkin dan tidak terjadi konsekuensi-konsekuensi buruk-memohon maaf kepada korban. Kalau tidak, dia harus memohonkan ampunan kepada Allah Swt. baginya. Dia harus meninggalkan keburukan ini dan menyirami akar-akar keikhlasan, persatuan, dan solidaritas dalam hatinya sehingga menjadi anggota masyarakat yang baik dan menjadi salah satu jeruji roda Islam yang penting. Dan, Allah pemandu semuanya menuju jalan lurus.

Tentang Menyembuhkan Penyakit Ghîbah

Ketahuilah bahwa obat untuk menyembuhkan keburukan besar ini, seperti obat untuk keburukan-keburukan lainnya, yaitu berupa

p: 375


1- 21. Ibid., hadis No. 3.

pengetahuan dan perbuatan bermanfaat. Pengetahuan bermanfaat itu dapat diperoleh dengan merenungkan manfaat dari perbuatan ini dan membandingkannya dengan akibat-akibat buruknya. Dia harus menimbang-nimbangnya dengan nalar dan menilainya. Tentu saja manusia tidak memusuhi dirinya sendiri. Dia berbuat dosa karena tidak menyadari, bodoh, dan melalaikan konsekuensi dari perbuatan dosa itu.

Manfaat yang dibayangkan seakan-akan dapat cipetik dari perbuatan dosa ini adalah hanya pemuasan hawa nafsu selama beberapa menit, yaitu menyebut-nyebut kelemahan orang dan membeberkan rahasianya, atau duduk-duduk bergerombol seraya mengolok-olok dan menyebarkan gosip, fitnah, yang diilhami bisikan-bisikan setan dan bertujuan memuaskan dahaga hati yang menyimpan dendam. Dalam bagian-bagian sebelumnya, sudah diuraikan sebagian pengaruh buruknya. Kini, simaklah sebagiannya lagi, perhatikan dan nilailah, lalu ambillah pelajaran darinya karena tentu saja pembandingan dan perenungan ini akan memberikan hasil yang positif. Salah satu pengaruh ghibah di dunia ini adalah membuat seseorang dipandang rendah oleh orang lain dan membuat dia tidak cipercaya orang.

Pada pokoknya manusia itu menyukai kesempumaan, kebajikan, dan kebaikan, serta membenci kelemahan, kehinaan, dan keburukan. Oleh karena itu, manusia dapat menilai dan membedakan antara orang yang tidak suka membeberkan cacat tersembunyi dan tidak merobek tabir yang menjaga kehormatan manusia dengan orang yang selalu menjaga rahasia mereka, dan orang berbuat hal-hal sebaliknya dari orang pertama tadi. Bahkan orang yang melakukan ghibah itu sendiri, berdasarkan petunjuk nalar dan fitrahnya, memandang orang yang tidak melakukan ghibah sebagai lebih baik daripada dirinya sendiri. Lagi pula, kalau dia melampaui batas, yaitu melakukan keburukan ini dan merobek tabir yang menjaga kehormatan manusia, Allah akan mempermalukannya di dunia ini sendiri, seperti disebutkan dalam riwayat Ishaq ibn 'Ammar yang sudah dikutip di atas. Manusia harus takut akan kehinaan yang diwujudkan oleh Allah Swt. karena kehinaan ini tidak dapat diperbaiki. Aku berlindung kepada Allah dari murka-Nya.

p: 376

Sesungguhnya sangatlah mungkin bahwa merusak nama orang Mukmin dan membeberkan kelemahan tersembunyinya akan menimbulkan kemalangan di alam baka. Sebab jika perbuatan ini sudah menjadi bagian dari watak dan ciri kepribadiannya, itu akan meninggalkan dampak dan pengaruh-pengaruh tertentu pada jiwanya, yang salah satunya berupa memusuhi dan membenci korban ghibah, yang sedikit demi sedikit akan semakin menjadi-jadi. Pada saat kematian menjemputnya, ketika beberapa realitas gaib terlihat oleh manusia, dan dia melihat alam-alam tertentu yang melampaui batas-batas pikirannya, tabir-tabir malakût pun tersibakkan, lalu dia melihat kedudukan tinggi orang-orang yang selalu dia ghîbah di sisi Allah Swt., dan bagaimana Dia memuliakan mereka, dan memasukkan mereka kedalam kelompok orang terdekat-Nya-sehingga seketika itu juga muncul rasa kebencian terhadap Allah Swt., karena manusia memiliki tabiat dapat memusuhi orang yang dicintainya disebabkan sikap musuhnya dan begitu pula, membenci yang dicintainya karena sikap orang yang membencinya. Akhirnya, si pengumpat itu pergi meninggalkan dunia ini dalam keadaan memusuhi Allah dan para malaikat-Nya sehingga memperolah kehinaan dan kesengsaraan abadi untuk

selamanya. Saudaraku, bersahabatlah dengan hamba-hamba Allah yang mendapat rahmat dan karunia-Nya dan yang dihiasi dengan pakaian Islam dan iman, dan perkuatlah rasa kasih sayangmu kepada mereka. Janganlah kamu sampai merasa memusuhi orang yang dicintai Allah sebab Allah Swt. adalah musuhnya para musuh hamba tercinta-Nya, dan Dia akan melemparkanmu keluar dari arena rahmat-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba pilihan Allah tersembunyi di antara sekian

banyak hamba-Nya, dan sikapmu yang memusuhi dan melanggar kehormatan dan membeberkan kelemahan-kelemahan hamba Mukmin itu, sangat mungkin untuk dapat membawamu pada akhirnya melanggar kemuliaan Allah. Hamba-hamba Mukmin itu merupakan wali-wali (orang-orang tercinta) Allah. Kecintaan terhadap mereka berarti kecintaan terhadap Allah. Permusuhan kepada mereka berarti permusuhan dengan-

p: 377

Nya pula. Jangan sampai kamu terkena murka Allah dan dimusuhi pemberi syafaat pada hari kiamat.

ویل لمن شفعاؤه خصماؤه

Celakalah dia yang pemberi syafaatnya (yaitu mereka yang dianggap akan memberikan syafaat kepadanya) adalah musuhnya. Pikirkanlah sejenak tentang buah dari dosa ini di dunia ini dan di akhirat nanti. Renungkan sejenak tentang bentuk-bentuk mengerikan yang akan mengelilingimu di dalam kubur, di alam barzakh,

dan pada hari kiamat. Tengoklah karya-karya autentik ulama-ulama besar kita, semoga ridha Allah atas mereka semua, dan hadis-hadis yang diriwayatkan dari para Imam yang maksum ‘aiaihim al-salam. Sebab apa yang perlu mereka katakan dalam hal ini benar adanya. Bandingkanlah antara bersenda-gurau, menyebar gosip kosong, dan memuaskan hawa nafsu selama seperempat jam dengan beribu-ribu tahun penderitaan (juga bandingkanlah dengan apabila kamu terma-

suk orang yang patut memperoleh keselamatan dan meninggalkan dunia ini dalam keadaan beriman) atau selamanya terkutuk dan mendapat siksaan pedih di neraka (dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu). Seandainya kamu benar-benar memusuhi seseorang yang kamu umpat, sebetulnya dari sekadar keimananmu terhadap hadis-hadis mulia yang menuntut agar kamu tidak melakukan ghibah, kamu sudah harus segera menghentikan perbuatanmu itu. Sebab, dalam hadis dikatakan bahwa perbuatan baik pelaku ghibah dipindahkan ke buku amal korban ghibah dan dosa-dosa korban ghibah dipindahkan ke buku pelaku ghibah. Jadi, kalau kamu memusuhinya, i.u berarti kamu memusuhi dirimu sendiri. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa tak mungkin kamu bisa melawan Tuhan. Allah kuasa membuat orang itu disukai dan terhormat di mata manusia melalui ghibah-mu terhadapnya dan membuatmu terhina di mata mereka, juga melalui ghîbah-

mu terhadapnya. Dia dapat memperlakukanmu dengan cara yang sama di hadapan para malaikat utama. Dia dapat memenuhi buku amalmu dengan keburukan dan menghinakanmu. Dia dapat mengisi

p: 378

buku amal korbanmu dengan amal saleh dan menganugerahinya karunia serta kehormatan. Maka, pahamilah dengan baik kekuasaan yang Mahakuasa yang

kamu perangi dan janganlah sampai kamu memusuhi-Nya! Secara praktis, hentikanlah kebiasaan burukmu dari perbuatan dosa ini untuk beberapa saat, meskipun terasa sulit buat kamu. Kekanglah lidahmu dan awasilah selalu dirimu. Bertekad dan berjanjilah pada diri sendiri untuk tidak mengulangi perbuatan tercela

ini. Insya Allah, setelah beberapa lama, dirimu pun dapat diperbarui dan terbebas dari bekas-bekasnya. Lambat-laun tugas itu mudah bagimu, dan setelah beberapa lama kamu akan merasakan bahwa dirinya memiliki watak yang tidak menyukai dan membenci dosa itu. Barulah kemudian kamu akan mengenyam kedamaian spiritual dan bahagia karena terbebas dari kekejian ini. Prioritas Berpantang dari Ghibah yang Diperbolehkan Ketahuilah bahwa ulama dan para ahli fiqih—semoga ridha Allah atas mereka-telah mengecualikan kasus-kasus tertentu dari larangan melakukan ghîbah, yang menurut kata-kata sebagian mereka, jumlahnya lebih dari sepuluh. Di sini, kami tidak bermaksud menguraikannya karena bukanlah tempatnya di sini untuk melakukan pembahasan hukum. Yang penting disebutkan di sini adalah bahwa manusia tidak boleh sekali-kali menganggap dirinya aman dari tipu muslihat hawa nafsunya. Dia harus menjaga dirinya dengan hati-hati dan tidak

boleh mencari-cari dalih untuk berolok-olok dan mencari-cari kesalahan dengan berlindung pada salah satu pengecualian yang diperbolehkan itu.

Tipu muslihat hawa nafsu itu sangatlah lembut. Manusia dapat dijerumuskannya atas nama syariat, ke dalam bahaya mengerikan. Misalnya, diperbolehkan melakukan ghibah terhadap orang yang terang-terangan melanggar perintah-perintah Allah atau bahkan wajib dalam kasus-kasus tertentu apabila ghibah terhadapnya dapat membantu menahannya dan dianggap sebagai salah satu tahap dari al-amr bi al ma'rûf wa al-nahi'an al-munkar. Akan tetapi, orang juga harus memeriksa apakah motif pribadinya dalam melakukan ghibah ini semata-mata

p: 379

demi Allah dan syariat, atau itu didorong oleh motif setani dan egoisme. Jika motifnya itu demi karena Allah semata, perbuatannya akan dianggap sebagai ibadah. Apalagi jika ghîbah terhadap pendosa itu dilakukan dengan niat memperbaikinya, dan menjelekkannya agar ia dapat mengungkapkan kebaikan hati dan kemurahan hati kepada- nya, lebih-lebih jika orang yang di-ghibah tidak merasakan hal itu, hal itu menjadi lebih baik lagi. Namun, apabila tujuannya sudah ternodai oleh hawa nafsu dan keburukan, orang harus terlebih dahulu menyucikan niatnya dan tidak mencampuri kehormatan manusia. Membiasakan diri dengan contoh-contoh ghibah yang diperbolehkan juga dapat merugikan diri karena diri menjadi cenderung pada ketidaksenonohan. Mungkin saja, tidak ditahannya diri untuk tidak melakukan contoh-contoh yang diperbolehkan itu larnbat-laun dapat membawa diri ke tahap lain, yaitu ke contoh-contoh yang diharamkan. Ini sama dengan memasuki syubhat (contoh-contoh yang masih diragukan kehalalannya), yang diperbolehkan, tetapi tidak diinginkan karena hal ini dekat dengan hal-hal yang diharamkan muharramât).

Sebab, manusia bisa terseret ke dalam muharramât apabila dia memasuki hal-hal syubhât. Manusia harus sebisa mungkin menjauhkan dirinya dari perbuatan ghîbah yang diperbolehkan sekalipun, dan menjaga dirinya dari segala sesuatu yang bisa menyebabkan dirinya sukar dikendalikan. Tentu saja, orang harus bertindak jika ghibah itu wajib, seperti dalam kasus yang sudah disebutkan tadi, dan dalam beberapa kasus lain yang ditunjukkan oleh ulama. Namun, orang harus pula membersihkan niatnya dari keinginan hawa nafsu dan bisikan setan. Adapun apabila diperbolehkan, sebaiknya jangan melakukannya. Manusia tidak boleh melakukan segala yang diperbolehkan, khususnya dalam masalah-masalah seperti ini, karena di sini bujukan diri dan setan sangat efektif.

Diriwayatkan bahwa Isa a.s. bersama-sama murid-muridnya suatu kali melewati bangkai seekor anjing. Murid-muridnya berkata, “Busuk sekali bau bangkai ini!” Isa a.s. berkata, “Betapa putih giginya!” Tentu saja seorang guru spesies manusia harus memiliki diri yang suci. Isa a.s. tidak suka kalau makhluk Allah Swt. disebut-sebut dengan cara menghina. Mereka melihat cacat makhluk itu, sedangkan Hadhrat

p: 380

‘Isa menunjukkan kepada mereka salah satu keutamaannya. Saya mendengar bahwa dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Isa a.ş. diriwayatkan bahwa beliau berkata, “Janganlah seperti lalat yang hinggap di atas kotoran, di mana kamu selalu hanya memerhatikan cacat atau kelemahannya orang.” Diriwayatkan bahwa Rasul mulia Saw. bersabda:

قال: طوبی لمن شغله عیبه عن عیوب النّاس

“Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak memerhatikan aib orang lain.(1) Sudah sepatutnya menusia mencari-cari aib dan kelemahannya sendiri, seperti keinginannya mengetahui aib dan kelemahan orang lain. Betapa buruk orang yang dirinya memiliki beribu-ribu kelemahan, tetapi lalai akan kelemahannya itu dan yang diperhatikannya hanyalah kelemahan orang lain, dan dengan perbuatan ghibah-nya itu sendiri ia telah menambahkan keburukan lain pada dirinya. Kalau manusia memeriksa keadaannya, perilaku, dan perbuatannya sendiri, serta sibuk memperbaikinya, segala urusannya akan menjadi baik. Namun, jika dia menganggap dirinya tidak memiliki kelemahan, berarti di situlah puncak kejahilan (kebodohan)-nya. Karena seburuk-buruk kelemahan adalah orang yang lalai akan kelemahannya sendiri yang hanya memerhatikan kelemahan orang lain, padahal dia sendiri penuh dengan kelemahan.

Tentang Larangan Mendengarkan Ghîbah

Sesungguhnya Ghibah itu dilarang. Begitu juga mendengarkannya. Beberapa hadis menunjukkan bahwa mendengarkan ghibah itu sama saja dengan melakukan ghibah itu sendiri, dalam keadaan apa pun, bahkan memaklumi perbuatan ghibah-yang terjadi di hadapan seseorang, misalnya-pun sudah termasuk dosa besar.

مثل النبوی، صلّی الله علیه و آله: المستمع أحد المغتابین

Nabi Saw. besabda, “Yang mendengarkan adalah salah satu dari dua orang yang melakukan ghibah.(2)

p: 381


1- 22. Syarh Syihab Al-Akhbâr, 306; Al-Mahajjah Al-Baidha , V. 264.
2- 23. Al-Mahajjah Al-Baidhâ', V, 260.

و عن علیّ، علیه السّلام: السّامع أحد المغتابین.

Ali a.s. berkata, “Yang mendengarkan adalah salah satu dari dua orang yang melakukan ghibah.(1)

Bahkan tidak sedikit hadis yang mewajibkan setiap Mukmin untuk menolak, melarang, dan menghentikan perbuatan gnìbah ini.

عن الصّدوق بإسناده عن الصّادق، علیه السّلام، فی حدیث مناهی النّبی، صلّی الله علیه و آله: أنّ رسول الله، صلّی الله علیه و آله، نهی عن الغیبه و الاستماع إلیها. إلی أن قال: ألا، و من تطوّل علی أخیه فی غیبه سمعها فیه فی مجلس فردّها عنه، ردّ الله عنه ألف باب من الشّرّ فی الدّنیا و الآخره. فإن هو [لم یردّها و هو] قادر علی ردّها، کان علیه کوزر من اغتابه سبعین مرّه.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Shaduq, dengan isnâd-nya dari Al-Imam Al-Shadiq a.s., dalam sebuah hadis yang merupakan kumpulan larangan Nabi Saw., Imam Al-Shadiq berkata, Sesungguhnya Nabi mulia Saw. melarang ghibah dan melarang juga mendengarkan ghibah. Lalu beliau Saw. berkata, “Barang siapa melakukan kebaikan bagi saudaranya dengan menolak ghibah ketika mendengarkannya dalam suatu majelis, Allah akan menyelamatkannya dari seribu keburukan di dunia ini dan di akhirat. Dan, jika dia tidak berbuat demikian