Hikmah abadi revolusi Imam Husain

BOOK ID

عنوان و نام پدیدآور:Hikmah abadi revolusi Imam Husain[Book]/ penulis : Instrumen kreativitas dan produktivitas kajian Ilmian.

مشخصات نشر:Qom: pusat penerbitan danpenterjemahan internasional al Musthafa‪, 2014= 1393.

مشخصات ظاهری:xxxvii، 392ص.؛ 5/14×21 س م.

فروست:مرکز بین المللی ترجمه و نشر المصطفی صلی الله علیه و آله؛ پ1393/277/184، نمایندگی المصطفی در اندونزی؛23.

Perwakilan universitas internasional al Musthafa di Indonesia; 926.

شابک:195000 ریال: 978-964-195-079-0

وضعیت فهرست نویسی:فاپا

یادداشت:اندونزیایی.

یادداشت:کتابنامه.

یادداشت:نمایه.

آوانویسی عنوان:حیکمه...

موضوع:حسین بن علی (ع)، امام سوم، 4 - 61ق.

موضوع:Hosayn ibn 'Ali, Imam III , 625-680

موضوع:واقعه کربلا، 61ق -- فلسفه

موضوع:Karbala, Battle of, Karbala, Iraq, 680 -- Philosophy

موضوع:واقعه کربلا، 61ق -- علل

موضوع:Karbala, Battle of, Karbala, Iraq, 680 -- Causes

رده بندی کنگره:BP41/5/ح9 1393

رده بندی دیویی:297/9534

شماره کتابشناسی ملی:3649513

P: 1

Point

بسم الله الرحمن الرحیم

P: 2

Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain

Instrumen Kreativitas Dan

Produktivitas Kajian Ilmiah

pusat penerbitan dan

penerjem ah an internasional al Musthafa

P: 3

Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain

penulis: Instrumen Kreativitas Dan Produktivitas Kajian Ilmiah

cetakan: pertama, 1393 sh/2014

penerbit: pusat penerbitan dan penerjemahan internasional al Musthafa

percetakan: Norenghestan

jumlah cetak: 300

ISBN: 978-964-195-079-0

مجموعه مقالات فلسفه قیام امام حسین علیه

ناشر: مرکز بین المللی ترجمه و نشر المصطفی اله

تیراژ: 300

قیمت: 195000 ریال

مؤلف: جمعی از مؤلفان

چاپ اول: 1393 ش /2014م

چاپخانه: نارنجستان

© Al-Mustafa International Publication and Translation Center

Stores:

ORAN, Qom; Muallim avenue western , (Hujjatia). Tel-Fax: +98 25-37839305 - 9

OIRAN, Qom; Boulevard Muhammad Ameen, Y-track Salariyah. Tel: +98 25-32133106,

Fax: +98 25-32133146

IRAN, Tehran; Inqilab Avenue, midway Wisal Shirazi and Quds, off Osko Street, Block 1003.

Tel: +98 21-66978920

OIRAN, Mashad; Im am Reza (a.s) Avenue, Danish Avenue Eastern, midway Danish 15 and 17.

Tel: +98 51-38543059

www.pub.miu.ac.

ir m iup@pub.miu.ac.ir

kepada semua pihak yang turut andil dalam penerbitan buku ini kami haturkan banyak terima kasih

P: 4

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB DAN PERSIA

Picture

P: 5

P: 6

DAFTAR ISI

Pedoman Transliterasi Arab dan Persia – vii

PENGANTAR SEBUAH UPAYA UNTUK MEMAHAMI

REVOLUSI DAN SYAHADAH IMAM HUSAIN – XV

Husain Heriyanto

Mozaik Warna: Sarat Makna – xviii

Konteks Mutakhir – xxii

Ucapan Terima Kasih dan Saran – XXV

PROLOG IMAM HUSAIN: PRIBADI DIDIKAN

RASULULLAH SAW. — xxvii

Sayyid Abbas Salehi

Hari Kelahiran – xxvii

Penamaan — xxviii

Etika Kelahiran – xxix

Kasih Sayang Nabi Saw. yang Tak Terhingga – xxix

Hidup Penuh Kesulitan – xxxii

Pendidikan dan Keadilan – xxxiii

Husain dalam Perspektif Nabi Saw. — xxxiii

KESYAHIDAN HUSAIN DALAM HIKAYAT MELAYU - 1

Abdul Hadi W.M.

P: 7

Asal Usul Hikayat Melayu - 4

Dari Maqtal ke Hikayat – 11

Relevansi dan Makna Epos – 17

BEBERAPA ASPEK ASYURA – 25

Musa Kazhim

Tinjauan Umum – 26

Rahasia Kesucian Gerakan – 28

Rahasia Aspek Waktu – 36

Rahasia Aspek Tempat – 41

IMAM HUSAIN OLEH IMAM HUSAIN – 47

'Abdillah Baabud

AMR MA'RUF DAN NAHY MUNKAR DALAM

KEBANGKITAN IMAM HUSAIN – 87

Husein Alkaff

Gerakan Religius dan Kemanusiaan – 88

Faktor-Faktor Gerakan Imam Husain - 92

Faktor Utama Gerakan Imam Husain: Amr Ma'ruf dan Naby

Munkar – 97

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar, Sebuah Doktrin Islam – 102

Amr Ma'rūf dan Nahy Munkar dalam Qur'an – 102

Amr Ma'rūf dan Nahy Munkar dalam Hadis — 103

Amr Ma'rūf dan Nahy Munkar dalam Fiqih Islam – 104

Syarat-Syarat Amr Ma'ruf dan Naby Munkar – 105

Tahapan-Tahapan Amr Ma'ruf dan Naby Munkar — 108

Kesimpulan - 111

SEMANGAT DAN PESAN INTI AJARAN AL-QUR'AN

TERKAIT KESYAHIDAN IMAM HUSAIN – 113

P: 8

Pendahuluan – 114

Ajaran al-Qur'an Seputar Jihad, Moralitas, dan

Kebenaran - 117

Perjuangan Imam Husain Membangun Moralitas dan

Keadilan - 123

Perspektif Teologis dari Ajaran Imam Husain — 127

Penutup – 128

REFLEKSI FILOSOFIS TENTANG KEBANGKITAN

IMAM HUSAIN — 131

Muhammad Fanaei Eshkevari

Latar Belakang Historis Asyura – 132

Penyebab Pergerakan Imam Husain – 135

Kehormatan dan Kebebasan - 135

Menyelamatkan Islam – 136

Reformasi Masyarakat Islam – 136

Perang Melawan Tirani: Menyeru Kebajikan dan Melarang

Kemungkaran – 137

Kewajiban Imamah (Kepemimpinan) — 138

Undangan dari Penduduk Kufah – 138

Prinsip dan Metode Konfrontasi Imam Husain – 139

Pantang Mundur sebagai Prinsip – 139

Dialog dan Pencerahan – 140

Ketidakterimaan atas Perang - 140

Keberanian dan Kesabaran – 140

Kekesatriaan dan Pembebasan – 141

Manajemen dan Strategi – 143

Madzhab Tarbiyah Imam Husain – 144

Spritualitas dan Irfan – 145

Dimensi Spiritual dan Irfan Pergerakan Imam Husain –145

Manifestasi-Manifestasi Irfani Imam Husain dalam Doa

Arafah – 148

P: 9

Filosofi Azadari (Ratapan Duka Cita) —151

Tiga Elemen Terkait Pergerakan Imam Husain-154

Damai Bersama Husain – 157

REVOLUSI AL-HUSAIN: SEBUAH KENISCAYAAN

SEJARAH UNTUK KEMANUSIAAN — 159

Husain Heriyanto

Makna Keniscayaan - 161

Keniscayaan Sejarah – 163

Universalitas Dan Rasionalitas Tindakan – 166

Teks dan Konteks: Prinsip Universalitas dan Partikularitas–173

TAFSIR PSIKO-SUFISTIK PENGORBANAN IMAM

HUSAIN – 181

Husain Shahab

Pengantar – 181

Imam Husain di Mata Rasulullah Saw. – 183

Husain Standar Kebenaran - 186

Husain Sang Mujahid yang Tangguh – 187

Husain: Simbol Khayr al-Bariyyah – 189

Husain Khayr al-Bariyyah – 189

Yazid, Ibn Ziyad cs: Syar al-Bariyyah – 191

Binatang Buas Dibangkitkan – 192

Karbala: Medan Berjumpa Allah – 194

Berjumpa Allah di Karbala – 195

IMAM HUSAIN: FIGUR TELADAN AJARAN DAN

MAKNA ISLAM (KETUNDUKAN PENUH), SERTA

KESYAHIDAN DALAM PERSPEKTIF PENGALAMAN

MISTIS – 199

Gerardette Philips

Pengantar – 200

P: 10

Siapakah Imam Husain? – 201

Pengorbanan Diri Imam Husain – 201

Pengikut Islam Sejati — 203

Imam Husain: Pelopor Kemanusiaan – 204

Imam Husain: Seorang Sufi dan Musafir – 205

Imam Husain: Seorang Sufi - 205

Imam Husain: Sang Musafir, Jalan Kesatuan—Tauhid –

Imam Husain: Personifikasi Jalan Kebajikan – 211

Pelajaran-Pelajaran yang Dapat Diambil dari Imam Husain

Dewasa Ini — 215

Kesimpulan – 217

TIAP HARI ASYURA, TIAP BULAN MUHARAM:

"PARADIGMA KARBALA” SEBAGAI SUMBER

PROTES KAUM SYI'AH – 221

Ihsan Ali-Fauzi

TRAGEDI KARBALA (ANALISIS PSIKO-RELIGIO-

SOSIO-KULTURAL) - 241

Alef Theria Wasim

Seputar Kebenaran — 246

Tragedi Karbala dan Perspektif Sistem Sosio-kultural –

Konteks Psikologis Mayoritas-Minoritas Sosio-Religius-

Kultural - 256

Komentar dan Catatan – 261

REVOLUSI DAN SYAHADAH DALAM PRAKTIK

POLITIK IMAM HUSAIN – 271

Mohammad Subhi-Ibrahim

Revolusi Pertama — 273

Titik Balik – 274

Tragedi Karbala – 278

P: 11

Karbala dalam Perspektif – 279

Hak Perlawanan – 282

Mengapa Revolusi? – 283

Syahadah dan Martir — 288

Mazhab Syahādah – 289

MASAKRE KARBALA SEKILAS TATAPAN MORAL

DAN FENOMENOLOGI MASSA – 293

Dede Azwar Nurmansyah

"Yang Baik” versus “Yang Jahat" – 295

Massa, Representasi, dan Tirani – 302

Bahasa Nalar Husain dan Kebisingan Massa – 310

HUSAIN DI MATA MUSLIM INDONESIA – 317

Nanang Tahqiq

Peristiwa Husain dan Tragedi Karbala – 322

Seremoni untuk Husain – 329

Sunni Indonesia mengenai Tragedi Husain - 331

PIJAR PERADABAN DI BALIK REVOLUSI IMAM

HUSAIN – 339

Aan Rukmana

Peradaban Sekular Modern – 341

Modernisme: Jelmaan Fisik tanpa Sukma – 343

Sukma Peradaban Tragedi Karbala – 344

"Yang Hilang” dalam Peradaban Sekarang – 346

EPILOG KARBALA PADANG CINTA, HUSAIN IMAM

CINTA — 349

Haidar Bagir

Daftar Pustaka – 355

Indeks – 377

Riwayat Hidup Penulis –385

P: 12

Pengantar

SEBUAH UPAYA UNTUK MEMAKNAI

Point

SEBUAH UPAYA UNTUK MEMAKNAI REVOLUSI DAN SYAHADAH IMAM HUSAIN

HUSAIN HERIYANTO

Penulisan buku ini didorong oleh keprihatinan terhadap kondisi sosio- kultural-religius umat Islam dalam mengenang dan merayakan peristiwa Asyura, yang sering terjebak dalam stagnasi rutinitas dan banalitas tradisi yang dapat menyelubungi nilai-nilai universal dan karakter dasar revolusi dan syahadah Imam Husain. Pesan moral yang luhur beserta makna-makna religius, filosofis, dan sufistik yang mendalam, yang terkandung dalam epos kemanusiaan yang menggetarkan hati nurani ini, terancam tergerus oleh hiruk pikuk kemeriahan ritus-ritus seremonial yang diselenggarakan setiap tahun pada hari-hari bulan Muharam. Tanpa menafikan pentingnya mempertahankan tradisi ritual tahunan memperingati perjuangan agung Imam Husain bersama keluarga dan sahabat-sahabat beliau, sebagai salah satu metode pendidikan sejarah yang efektif bagi umat Islam, peringatan tersebut membutuhkan pemahaman dan penghayatan yang senantiasa mesti digali dan diungkapkan kepada umat dan para pengkaji kisah Asyura. Karena, tradisi tanpa pemahaman dan pemaknaan yang memadai

P: 13

dan sesuai dengan konteks zaman, kapan dan di mana umat hidup, akan menjadi artefak yang kehilangan visi dan nilai tradisi itu sendiri.

Gerakan perlawanan Asyura merupakan sebuah medan pembelajaran yang sarat makna dan obor inspirasi yang tak lekang oleh waktu dan ruang yang tidak terbatas hanya untuk umat Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari menulis, Pesan-pesan Imam Husain tentunya tidaklah terbatas untuk kelompok tertentu secara eksklusif. Pesan-pesan beliau tertuju kepada seluruh umat manusia. Gerakan Asyura bukanlah sebuah pertarungan kekuasaan. Imam Husain dengan keteguhan hati mengungkap secara eksplisit tujuan gerakan, “Yang menjadi urusanku adalah kebenaran, bukan kekuasaan"—sebuah afirmasi dengan keyakinan kuat bahwa beliau akan gugur dalam gerakan untuk menyampaikan pesan abadi kepada kemanusiaan.(1) Melalui pengorbanan agung putra-putri Rasulullah Saw. di bawah pimpinan Imam Husain bersama sahabat-sahabatnya yang terpilih, medan Karbala telah menjadi saksi momen-momen pertarungan cahaya dengan kegelapan, kebenaran menentang kebatilan, kemuliaan melawan kehinaan, keadilan versus kezaliman, keagungan jiwa melawan kekerdilan mental, kesucian menentang keculasan, ketabahan melawan kebengisan, keberanian mengemban tanggung jawab versus fatalisme dan apatisme, dan kemanusiaan melawan kebinatangan. Detik-detik yang dilalui Imam Husain semenjak awal gerakan dengan meninggalkan Madinah menuju Makkah (tiba pada 3 Syakban 60 H) dan menetap di kota Ka'bah itu hingga 8 Zulhijah 60 H, lalu menempuh perjalanan menuju Kufah dan tiba di Karbala pada 2 Muharam 61 H setelah melalui 12 persinggahan lain, semuanya dipenuhi dengan tindakan dan kata al-Husain yang sarat makna dan pelajaran(2). Jika para filsuf mendemonstrasikan kebenaran dengan proposisi-proposisi yang benar dan argumen yang sahih, dan para sufi mendemonstrasikan kebenaran melalui aksi-aksi kecintaan ilahiah dan peniadaan diri, serta para pendekar kemanusiaan mendemonstrasikan kebenaran dengan ketangguhan karakter yang agung dan suci, maka al-

P: 14


1- Syahid Murtadha Muthahhari, The Truth about Hussain's Revolt: Husain-The Universalist, dalam Allamah Thabathaba'i et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).
2- Imam Muhammad Shirazi, Husayn: The Sacrifice for Mankind (translation by Z. Olyabek), (London: Fountain Books, 2003), hlm. 1.

Husain bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya mendemonstrasikan kebenaran dengan kata-kata yang benar, kerinduan puncak kepada perjumpaan (ligā) kepada Allah, dan ketegaran jiwa mental yang tiada taranya dalam sejarah peradaban manusia.

Gerakan Asyura, yang di satu sisi adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang amat memilukan, merupakan kisah kepahlawanan agung yang telah menginspirasi para pejuang kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan sepanjang sejarah dari berbagai latar belakang agama dan bangsa. Tokoh kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, mengakui bahwa dia mengambil pelajaran dari perlawanan al-Husain dalam menentang penindasan secara bermartabat dan meraih kemenangan moral-spiritual yang abadi.(1) Penyair ternama asal Libanon, Khalil Gibran, menulis, “Husain adalah cahaya yang menyinari semua agama." Sementara itu, seorang sarjana Kristen asal Suriah. Antoane Bara, menyatakan, “Imam Husain milik seluruh dunia. Dia adalah hati nurani agama-agama."(2) Tak ketinggalan pula, sarjana terkenal asal Jerman yang karya-karyanya tentang Islam menjadi referensi kajian Islam secara fenomenologis, Annemarie Schimmel, menoreh kata-kata, "Imam Husain adalah sebuah model mistikal (sufistik) untuk mereka yang hendak menapaki tarekat cinta melalui penderitaan dan pengorbanan.(3) Sementara seorang sarjana Hindu, Daniel Rudman, setelah dia menelaah kisah Asyura dan doktrin tasawuf, menulis:

Dengan menunjukkan apresiasi yang sama untuk kesenangan dan kesakitan, Husain mendemonstrasikan bahwa dia adalah seorang pencerap realitas yang sejati. Hanya Sufi yang dapat memahami secara penuh bahwa seluruh manifestasi di dunia adalah bagian dari kesatuan transendental. Di samping itu, sebagaimana tasawuf mendeklarasikan bahwa manusia dapat memiliki pengetahuan tentang Tuhan, Imam Husain mengidentifikasi fakultas ini terdapat dalam seluruh manusia.“(4)

P: 15


1- Mahatma Gandhi, “I Learnt from Husayn How to Be Wronged and Be A Winner", dalam Allamah Thabathaba'i et. all., Koleksi Baban Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta,2008).
2- Antonie Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas (Jakarta: Citra, 2007), hlm. 358—359.
3- Annemarie Schimmel, Karbala and the Imam Husayn in Persian and Indo-Muslim Literature, Al- Serat, Vol. XTT (Cambridge: Harvard University Press, 1986).
4- Daniel Rudman, Mysticism and Imam Husayn, dalam Allamah 'Thathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

Itulah sejumlah pendapat dan pandangan sebagian sarjana dan pemikir dari beragam latar belakang agama, bangsa, dan perspektif disiplin ilmu. Masing-masing sarjana mengungkap pesan dan makna yang terkandung dalam revolusi al-Husain dari dimensi-dimensi yang berbeda. Gandhi mengambil pelajaran dari revolusi sosio-politik melalui gerakan penyadaran moral-spiritual al-Husain, sedangkan Gibran dan Bara memandang al-Husain sebagai simbol dan penyelamat agama dan spiritualitas. Adapun Schimmel dan Rudman mengangkat dimensi batin yang lebih dalam, yakni pemaknaan sufistik terhadap tindakan dan gerakan al-Husain.

Tampak bahwa sungguh banyak pesan dan makna yang mesti kita gali dan ungkap dari kisah Asyura. Kita tidak cukup hanya melontarkan semboyan, "Kullu yaumin Asyūrā wa kullu ardhin Karbala" (Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala). Tanpa usaha yang terus- menerus untuk memahami dan menghayati pesan-pesan dan nilai-nilai yang terkandung dalam epos Asyura, semboyan tersebut hanya berhenti pada slogan semata tanpa mampu kita terjemahkan dan transformasikan ke dalam dunia nyata dalam konteks zaman dan tempat kita berada. Selama ini, ada kecendrungan untuk membatasi kisah Asyura pada dua isu utama, yaitu kisah tragedi dan perlawanan terhadap kezaliman. Padahal, zaman selalu berubah yang di antaranya ditandai dengan banyaknya model dan bentuk kezaliman yang tentunya menuntut berbagai bentuk respons yang sesuai, tetapi juga pada saat yang sama mesti sejalan dengan spirit Asyura.

Namun, bagaimana mungkin kita bisa menangkap spirit al-Husain jika kita tidak memahami dan menghayati pesan pokok dan makna inti yang disampaikan oleh al-Husain.

Mozaik Warna: Sarat Makna

Diibaratkan dengan warna, maka merah dan hitam adalah dua warna yang selama ini cenderung menghiasi epik tragedi ini, sebagai simbol derita perjuangan dan kedukaan. Padahal kenyataannya, warna-warna

P: 16

lain, seperti putih, kuning, hijau, biru, cokelat, atau ungu pun hadir dalam tragedi penuh hikmah ini. Jika dipersepsi bahwa putih sebagai simbol cinta perdamaian, kuning sebagai simbol kebahagiaan, hijau simbol keteduhan, biru simbol kecerdasan transendental, cokelat simbol kerendahan hati, atau ungu simbol keagungan, maka epos Karbala ini memang memancarkan pelangi warna simbolis ini.

Nah, untuk mengungkap mozaik warna-warna sebagai simbol keragaman makna itulah, buku ini disajikan kepada pembaca budiman.

Kisah yang digores oleh al-Husain, cucu al-Musthafa Saw. ini, adalah seperti cahaya matahari yang bersifat polikromatik. Artinya, epos itu mengandung banyak pesan dan makna yang harus digali. Persis seperti cahaya matahari yang tampak putih, tetapi memancarkan beragam warna setelah dibiaskan melalui sebuah prisma kaca, peristiwa Karbala yang tampak merah dan hitam akan memancarkan warna-warna lain, sebagai simbol kaya makna, setelah direfleksikan melalui “prisma kaca" yang dianggap relevan. "Prisma kaca" itu adalah refleksi filosofis, sufistik, dan sosio-kultural-historis di samping analisis religi-teologis.

Oleh karena itu, penulisan buku yang berbasiskan penelitian literatur ini dikelompokkan ke dalam empat tema utama studi, yaitu (1) studi historis; (2) studi religi-moral-teologis; (3) studi filosofis-sufistik-etis, dan (4) studi sosio-politik-budaya; semuanya terdiri atas 15 naskah. Keempat tema pokok studi tentu saja saling berhubungan dan mengisi satu sama lain dan diupayakan untuk dielaborasi secara terintegrasi sedemikian, sehingga karya ini memang adalah sebuah buku, bukan kumpulan makalah yang terlepas satu sama lain. Di samping itu, Sayyid Abbas Salehi dan Dr. Haidar Bagir menyumbang tulisan masing-masing untuk Prolog dan Epilog. Prolog memerikan sosok Imam Husain sebagai pribadi kecintaan Rasulullah Saw. yang beliau didik sejak kelahiran al-Husain, sedangkan Epilog mengungkap al-Husain sebagai Imam cinta.

Kami berusaha keras untuk membangun keutuhan sebuah karya itu melalui penyusunan TOR (Term of Reference) untuk setiap topik yang

P: 17

dikirim kepada masing-masing penulis. Meskipun kami juga harus akui bahwa keutuhan karya ini tidaklah sebaik sebagaimana sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis. Namun setidaknya, karya ini tidak jatuh dalam kategori bunga rampai.

Esai-esai Abdul Hadi W.M., Musa Kazhim, dan Abdillah Baabud tergolong ke dalam tema studi historis. Esai-esai Amsal Bakhtiar dan Husein al-Kaff merepresentasikan tema kedua. Sementara Muhammad Fanai, Husain Heriyanto, Husein Shahab, dan Gerardette Philips melakukan telaah filosofis-sufistik-etis. Sementara itu, tema psiko-sosio- politik-budaya disumbang masing-masing oleh Alef Theria Wasim, Ihsan Ali-Fauzi, M. Subhi Ibrahim, Dede Azwar Nurmansyah, Nanang Tahqiq, dan Aan Rukmana.

Setiap tulisan memberikan kontribusi unik yang memperkaya pemahaman pembaca tentang pesan-pesan dan nilai-nilai sarat makna yang terkandung dalam kisah perjuangan al-Husain di padang Karbala.

Prof. Abdul Hadi, misalnya, mendedah bagaimana epos Asyura digunakan sebagai media pembelajaran prinsip-prinsip keimanan dan moral Islam yang pada gilirannya menjadi bagian penting penyebaran agama Islam di Nusantara. Muza Kazhim menguak rahasia aspek tempat dan waktu yang dipilih al-Husain dalam gerakan penyelamatan Islam. Terpilihnya Karbala merupakan pesan al-Husain bahwa misi yang beliau emban bersifat transhistoris mengingat tempat itu adalah termasuk wilayah tertua dalam sejarah peradaban manusia.

Artikel-artikel lain yang tergolong studi sosio-historis-budaya juga menyuguhkan perspektif yang layak disimak. Isu-isu penegakan keadilan, egalitarian, kebebasan dan kehormatan, perlawanan terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan penguasa lalim, keteguhan nurani, sikap mental pro-aktif dan bertanggungjawab terhadap masyarakat serta umat manusia umumnya, alih-alih bermental pasif dan permisif terhadap penyimpangan sejarah yang terjadi serta modus kebudayaan yang menjaga

P: 18

kesucian dan martabat manusia, merupakan tema-tema yang menjadi pokok bahasan studi kategori pertama ini.

Sementara Prof. Amsal Bakhtiar dan Husein al-Kaff mempresentasikan klarifikasi dan penjelasan prinsip-prinsip al-Qur'an dan hadis yang terkait dengan ajaran amar ma'ruf nahi munkar, jihad, dan syahadah. Mereka menunjukkan bahwa gerakan Husain merupakan contoh dan model yang benar dan tepat dalam penerapan prinsip-prinsip ajaran Islam ini sehingga berperan menjadi rujukan dan sumber pembelajaran bagi umat Islam di kemudian hari bagaimana seharusnya melakukan tugas-tugas keagamaan ini secara benar dan bertanggung jawab.

Sementara itu, artikel-artikel kategori studi filosofis-sufistik-etis pun menyingkap dimensi-dimensi yang hampir luput dari pemahaman kebanyakan orang. Dr. Fanaei mengingatkan setiap pembaca untuk memperhatikan duodimensi intelek dan emosi yang terkandung dalam gerakan al-Husain dengan menekankan bahwa pengetahuan dan intelek adalah basis bagi ekspresi emosi. Seraya menyatakan bahwa dua dimensi itu penting, penulis menggarisbawahi bahwa pertanyaan "mengapa" al- Husain syahid adalah lebih penting daripada pertanyaan "bagaimana" al-Husain mati syahid. Pertanyaan pertama menuntut intelek untuk mengetahui filosofi, latar belakang, tujuan, dan pesan gerakan al-Husain, sedangkan pertanyaan kedua membangkitkan emosi.

Sejalan dengan pertanyaan "mengapa" tersebut, Husain Heriyanto mencoba mendemonstrasikan karakter rasionalitas dan universalitas revolusi al-Husain melalui telaah logiko-filosofis bahwa revolusi dan syahādah Imam Husain adalah sebuah keniscayaan sejarah untuk menjaga Islam dari kepunahan. Sementara Husein Shahab dan Gerardette Philips menyajikan analisis psiko-sufistik dengan menyatakan bahwa gerakan al-Husain adalah sebuah bentuk riil perjalanan spiritual dengan kesempurnaan cinta ilahiah berupa penyerahan diri total kepada kehendak Allah Swt. Dan, adalah Dr. Haidar Bagir yang dengan memikat menutup refleksi filosofis-sufistik ini dengan menandaskan bahwa kebangkitan al-

P: 19

Husain merupakan manifestasi cinta; cinta kepada Dzat Allah beserta nama-nama-Nya, termasuk umat manusia.

Mungkin sebagian pembaca mengernyitkan dahi ketika tiba pada bagian penutup tersebut, dengan mengajukan pertanyaan: Mengapa pembicaraan gerakan al-Husain bermuara pada pernyataan bahwa Islam adalah agama cinta? Mengapa revolusi yang berakhir dengan tragedi kemanusiaan yang mengenaskan di Padang Karbala dihubungkan dengan gagasan cinta? Kami, tentu saja, berharap pembaca budiman tergerak untuk menjawab sendiri pertanyaan tersebut dengan menelaah lebih dalam esai-esai di buku ini dan, jika hendak mengkaji lebih jauh, pembaca bisa menelusuri dan membaca sendiri karya-karya referensi yang kami taruh secara khusus dalam bibliografi di bagian belakang buku. Munculnya pertanyaan itu, setidaknya, menggambarkan bahwa buku ini memang perlu dihadirkan dan tentunya, layak dibaca.

Konteks Mutakhir

Mencermati kondisi terkini umat Islam yang tercabik-cabik dan centang- perenang oleh konflik internal di samping permusuhan laten dan masif dari musuh-musuh Islam, yang dengan segala kelicikan dan keculasannya memanfaatkan betul pertikaian internal tersebut untuk mempertahankan kuku-kuku imperialismenya terhadap umat Islam, kisah perjuangan dan pengorbanan al-Husain di Karbala semakin perlu diperkenalkan dan dijelaskan kepada umat Islam, bahkan umat manusia pada umumnya.

Mengapa demikian? Faktor utama yang menciptakan keretakan dalam tubuh umat Islam saat ini adalah tumbuhnya kelompok salafi takfiri yang gemar mengafirkan pemeluk Islam di luar kelompoknya. Sikap ekstrimisme, narrow-minded, tidak toleran terhadap perbedaan pemahaman, dan main hakim sendiri dengan mudah menggiring mereka melakukan berbagai kekerasan atas nama agama. Meminjam kata-kata K.H. Said Agil Siradj, pemahaman

P: 20

kelompok wahabi salafi radikal ini tinggal satu digit lagi untuk menjadi ideologi terorisme. Fakta di lapangan membenarkan sinyalemen Ketua PBNU tersebut. Berbagai aksi kekerasan dan terorisme yang terjadi di Tanah Air, Afghanistan, Pakistan, Irak, Yaman, Mesir, dan Suriah dilakukan atas nama agama berdasarkan pemahaman dangkal dan cetek mereka (saya sering menyebut mereka sebagai kelompok TBC, yaitu singkatan dari Takfiri Bengis Cetek).

Prahara di Suriah yang telah merenggut nyawa 100 ribu rakyat Suriah dalam dua tahun terakhir sebagian besar disebabkan oleh kebiadaban dan kesadisan kelompok salafi radikal ini yang sama sekali tidak memiliki rasionalitas dan visi yang jelas, kecuali hanya menuruti hasrat berperang dan membunuh. Berbagai bentuk kekejaman yang mereka lakukan, bahkan terhadap anak-anak dan wanita yang tak berdosa, sungguh amat nista dan menjijikkan. Tokoh ulama besar Suriah, Syeikh Mohammad Said Ramadhan al-Bouti, yang karya-karyanya menjadi referensi dunia studi Islam, termasuk di pesantren-pesantren Indonesia, dibom oleh mereka ketika beliau berceramah di sebuah masjid di Damaskus pada awal Maret 2013. Beliau beserta 49 jemaah masjid syahid seketika oleh bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok salafi ekstrimis. Banyak kisah kekejian lainnya yang terungkap, semisal bagaimana mereka melakukan berbagai macam penyiksaan dan mutilasi yang mengerikan terhadap sejumlah orang hanya karena dianggap tidak sepaham dengan ideologi dan gerakan mereka, termasuk sejumlah ulama, pendeta, dan tokoh masyarakat sebelum mereka mengeksekusi para korban. Yang lebih celaka lagi, semua kebiadaban yang sangat keji dan menjijikkan itu dilangsungkan sebagai ritus-ritus religi bagi mereka seraya selalu mengumandangkan yel-yel takbir ... na'udzu billāh min dzālik..! Mereka sama sekali bukanlah para mujahidin di jalan Nabi Muhammad Saw. sebagaimana klaim mereka, melainkan pembunuh bayaran di jalan Yazid bin Mu'awiyah...!

P: 21

Mengapa saya perlu sedikit menyinggung kondisi aktual yang dihadapi umat Islam saat ini? Apa relevansinya dengan kehadiran buku ini yang mengupas gerakan dan syahadah al-Husain di Karbala? Apa hubungan antara kemunculan terorisme kaum salafi radikal dengan perlunya umat Islam mengenal revolusi Asyura? Mengapa banyak anak muda Islam yang terpikat oleh gerakan jihadis salafi global yang sangat agresif merekrut mereka di setiap waktu dan tempat? Saya tidak bermaksud membahas isu ini secara tuntas dalam kesempatan kali ini karena ia memerlukan ruang khusus pembahasan sendiri yang bisa ditinjau dari aspek teologi, sejarah, psikologi, politik, dan sosiologi. Hanya saja, izinkan saya untuk mengulasnya secara ringkas sebagai pengantar bagi pembaca untuk mencari jawaban sendiri. Saya pikir, 15 esai plus epilog yang terdapat dalam buku ini juga bisa membantu pembaca untuk lebih memahami karakter revolusi Asyura dan pada gilirannya dapat menggunakannya sebagai tolok ukur untuk menakar dan menilai berbagai model gerakan jihadis salafi yang marak di dunia Islam sekarang Hal pokok yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa gerakan jihadis global yang diusung oleh salafi radikal sejak tiga dasawarsa terakhir bukan saja tidak bisa disandingkan dengan keagungan revolusi Asyura, bahkan saya bisa menyatakan bahwa kemunculan gerakan jihadis global yang berkarakter beringas dan tak beradab tersebut disebabkan oleh, antara lain, absennya kesadaran sejarah umat Islam terhadap kisah syahadah al- Husain di Padang Karbala. Banyak umat Islam, termasuk anak muda, yang menjadi sasaran empuk kelompok jihadis salafi, yang tidak mengenal sejarah perjuangan agung dan mulia putra-putri Nabi Suci Saw. berserta sahabat-sahabat yang terpilih. Mereka tidak pernah mengetahui bahwa gerakan amar ma'ruf nahy munkar al-Husain memiliki visi intelektual- spiritual yang agung dan dilakukan dengan metode dan cara yang sesuai dengan kemuliaan akhlak Islam. Akibatnya, mereka mudah terkesan dan tertipu oleh penampilan lahiriah kaum salafi takfiri yang tampak saleh,

P: 22

mengenakan jubah, bercelana “nangkring”, dan memelihara janggut.

Padahal, akal dan hati nurani kaum takfiri itu umumnya kosong dari visi ruhani Islam dan umumnya mereka tidak peduli dengan pembinaan akhlak dan spiritualitas.

Kita tidak perlu merisaukan para dedengkot kaum wahabi salafi takfiri yang telah kehilangan akal sehat dan hati nurani dalam memahami Islam. Apalagi para pendukung politik dan finansial mereka yang sesungguhnya sama sekali tidak peduli dengan kebangkitan Islam, bahkan diam-diam telah lama menjalin kerja sama dengan musuh-musuh Islam dalam menebar fitnah dan pertikaian untuk menceraiberaikan umat Islam. Yang perlu dan wajib kita perhatikan dan selamatkan adalah para pelajar dan pemuda Islam yang memiliki semangat yang tinggi dan murni untuk mendakwahkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam. Di satu sisi, semangat dan kebanggaan mereka terhadap kebenaran dan keagungan ajaran Islam tetap terus dipupuk, dan di lain sisi, pada saat yang sama kita harus mendidik mereka dengan memberikan visi yang benar dan metode yang sejalan dengan kemuliaan dan kesucian nilai-nilai Islam.

Nah, dalam konteks inilah, kehadiran buku ini diharapkan bisa menjadi salah satu bahan referensi untuk mengajarkan para pemuda Islam bagaimana mestinya melayani Islam. Imam Husain bersama para syuhada Karbala telah memberikan teladan bahwa jihad di jalan Allah menuntut keikhlasan, keteguhan mental, kesabaran, kebesaran jiwa, kemuliaan akhlak, cinta kemanusiaan, dan kerinduan hati menjumpai Allah. Imam Husain mengajarkan kita bahwa gerakan melayani Islam menuntut pengorbanan diri, bukan pengorbanan orang lain.

Ucapan Terima Kasih dan Saran

Dalam penyelesaian tugas penelitian dan penulisan buku ini, saya wajib berterima kasih kepada Saudara Aan Rukmana, yang dengan ketulusan dan ketekunan tanpa lelah memonitor dan melakukan komunikasi yang tiada henti dengan para penulis guna mengingatkan komitmen mereka

P: 23

untuk membuat esai-esai yang sesuai dengan tema-tema yang telah kami susun. Terkait dengan penyediaan artikel, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya dan sebesar-besarnya kepada para penulis yang telah meluangkan waktu untuk menelaah epos Asyura ini secara ilmiah dari pelbagai perspektif; pun, tentunya kami sangat berterima kasih kepada Sayyid Abbas Salehi dan Pak Haidar Bagir yang telah menyempatkan waktu untuk menulis kolom Prolog dan Epilog.

Kami juga menyampaikan terima kasih banyak kepada Sadra International Institute-ICAS Jakarta yang bersedia menerbitkan karya penulisan bersama ini, khususnya Pak Mohsen Zanganeh, Sdri. Herawati, dan Sdr.

Ali Zainal Abidin Pembaca budiman! Mungkin riset Asyura dengan pendekatan multiperspektif seperti ini adalah hal yang pertama dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu, saya mohon bahwa segala kekurangan dalam sistematika tema penulisan dan ketaklengkapan pokok bahasan yang dimuat dalam buku ini, untuk bisa dimaklumi. Saya sendiri berharap riset ini adalah langkah awal menuju riset lanjutan yang lebih baik dan lengkap dari buku yang sekarang ini dihidangkan untuk Anda. Selamat membaca! Sawangan-Depok, September 2013 ----------- Catatan:

1 Syahid Murtadha Muthahhari, The Truth about Hussain's Revolt: Husain-The Universalist, dalam Allamah Thabathaba'i et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

2.Imam Muhammad Shirazi, Husayn: The Sacrifice for Mankind (translation by Z. Olyabek), (London: Fountain Books, 2003), hlm. 1.

3 Mahatma Gandhi, “I Learnt from Husayn How to Be Wronged and Be A Winner", dalam Allamah Thabathaba'i et. all., Koleksi Baban Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta,2008).

4 Antonie Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas (Jakarta: Citra, 2007), hlm. 358—359.

5 Annemarie Schimmel, Karbala and the Imam Husayn in Persian and Indo-Muslim Literature, Al- Serat, Vol. XTT (Cambridge: Harvard University Press, 1986).

6 Daniel Rudman, Mysticism and Imam Husayn, dalam Allamah 'Thathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

P: 24

Prolog

IMAM HUSAIN: PRIBADI DIDIKAN RASULULLAH SAW.

SAYYID ABBAS SALEHI

Sosok imam Husain a.s. dapat dipandang dari berbagai macam dimensi dan salah satunya ialah dalam beberapa tahun pertama kehidupannya.

Kendati masih seorang anak kecil, bertahun-tahun ia hidup di bawah pengawasan dan bimbingan kakeknya yang agung, Rasulullah Saw. Pada masa tahun-tahun pertama semacam ini, setiap orang ibarat tunas muda yang sedang mengalami proses pertumbuhan fisik dan spiritual yang sangat berperan dalam membentuk kepribadiannya, termasuk pribadi imam Husain a.s.. Tulisan singkat ini ditulis dalam rangka menggambarkan hubungan Rasulullah Saw. dengannya dalam kurun waktu yang tidak berlangsung lama, dan pada akhir tulisan ini akan ditunjukkan kedudukan imam Husain a.s. menurut kacamata kenabian.

Hari Kelahiran

Rasulullah Saw. sangat gelisah atas kondisi putrinya yang sedang dalam proses melahirkan anak keduanya. Jarak kehamilan dan kelahiran anak pertama dengan anak keduanya ini tidak berlangsung lama. Dikatakan

P: 25

bahwa jarak tersebut kurang dari satu tahun.(1) Hal inilah yang menambah kecemasan beliau. Beliau berpesan kepada para wanita yang menemani putrinya untuk segera memberitahukan dan membawakan cucunya kepadanya setelah lahir. Kemudian, tanpa menunda-nunda, mereka langsung memenuhi pesan Rasulullah Saw dengan membawakan Husain kepadanya. Mereka melakukan sedikit kekeliruan, yaitu membungkus Husain dengan kain berwarna kuning. Beliau Saw. melepas kain tersebut dan menggantinya dengan kain berwarna putih, serta memberikan aroma semerbak kepadanya dengan air dan mulut suci beliau.(2) Demikian, pada awal langkahnya ke dunia, Husain merupakan air wewangian keberadaan beliau Saw. sebagai Nabi penutup kenabian.


1- 1. Albaihaqi, Sunan al-Kubrā, 9/304
2- 2. Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/9–10 nomor 3089; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā ʻid, 9/277-278; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/23 - 24 nomor 2542.

Penamaan

Husain seperti saudaranya, Hasan, diberi nama oleh Rasulullah Saw..(1) Beliau memberikan nama kepadanya pada hari ketujuh kelahirannya.(2) Penamaan Husain adalah karena perintah Allah Swt.(3) Beliau berkata, "Harun (saudara Nabi Musa a.s.) memberikan nama kepada putra- putranya dengan nama “Syabbar" dan "Syubbair", akupun menamai kedua cucuku dengan Hasan dan Husain."(4) Dengan demikian, nama Husain merupakan pilihan Nabi Saw..

Husain ialah sebuah nama yang seolah-olah tidak dikenal dan tidak umum di kalangan orang-orang Arab.(5) Barangkali dengan alasan ini, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa nama Husain ialah pilihan yang berdasarkan perintah Allah, di dalamnya terkandung hikmah dan rahasia di mana putra-putra Ali bin Abi Thalib diberi nama mirip dengan nama putra- putra Harun a.s.. Artinya, Ali bin Abi Thalib mempunyai kedudukan di sisi Rasulullah Saw. sama seperti kedudukan Harun di sisi Nabi Musa a.s., maka putra-putra beliau pun merupakan penerus misi beliau. Oleh karenanya, nama putra-putra Ali bin Abi Thalib menyerupai nama putra- putra Harun a.s..

P: 26


1- 3. Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 33, Nomor 22 – 23.
2- 4. Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 33, Nomor 22 - 23.
3- 5..Ibn Hanbal. Al-Musnad. 1/159 : Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/712 Nomor 1219; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/131; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 8/102; Abu Ya'la, Al-Musnad, 1/384 nomor 498.
4- 6.. Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 33 nomor 24; Abul Faraj, Al-Aghāni, 16/138; Thabrani, Al- Mu'jam al-Kabir, 3/97; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/12 ; Ibu Hanbal, Al-Musnad, 1/98 dan 118; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā ʻid, 8/102; Ibn Hajar, Al-Ashābah, 3/450; Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 1/404; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/165.
5- 7..Ibn Atsir, Asad al-Ghābah, 2/9-10; Al-Sayuthi, Tārīkh al-Khulafa'.

Kasih Sayang Nabi Saw. yang Tak Terhingga

Rasulullah Saw. sangat mencintai Husain sebagaimana kecintaan beliau kepada Hasan, saudaranya. Kasih sayang ini beliau tuangkan baik di rumah maupun di tempat-tempat umum. Beliau menggendong Husain dan menciuminya. (1) Terkadang beliau sampai menempelkan bibir sucinya pada bibir Husain, beliau menciumnya, hingga tak jarang, air ludah cucunya ini terhisap oleh beliau.(2) Seperti inilah kedalaman cinta beliau yang ditunjukkan kepadanya. Kasih sayang beliau kepada Husain yang sedemikian rupa ini belum pernah ada dan tidak pernah dilakukan oleh masyarakat saat itu dan membuat mereka sangat terheran-heran.

Dikatakan bahwa suatu kali beliau pernah mendekap Husain dan menciumnya, lalu seorang lelaki dari Anshar—yang menyaksikan hal yang baginya aneh ini mengatakan, “Aku punya seorang putra, tetapi sama sekali tidak pernah aku menciumnya”. Beliau Saw. berkata: “Seandainya Allah Swt. mencabut rasa kasih sayang dari hatimu, apakah dosaku?"(3) Pada kesempatan lain, tatkala salah seorang sahabat melihat beliau mencium Husain berkata, “Aku mempunyai sepuluh anak yang tidak satupun dari mereka yang aku ciumi." Beliau berkata, "Orang yang tidak

P: 27


1- 11. Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14 dan 38, nomor 3150; Al-Haitsami, Majma'al- Zawā 'id, 9/261-262; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabīr, 22/274-275, nomor 703.
2- 12. Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasg, 14/55-56; Al-Dzhabi, Mīzān al-1 tidāl, 1/208, nomor 819.
3- 13. Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/769, nomor 1356.

memberikan rasa kasih sayang, maka ia tidak akan mendapatkan rahmat Allah Swt."(1) Beginilah Rasulullah Saw. membangun pendidikan khusus dalam menyayangi anak-anak kecil dan kasih sayang beliau ini telah menyebar luas di kalangan masyarakat. Sebagai contoh, beliau yang pada waktu di kota Madinah-meskipun seorang Nabi juga seorang pemimpin masyarakat madani—tidak sungkan untuk bermain dengan Hasan dan Husain dalam permainan anak-anak.

Dikatakan bahwa terkadang Rasulullah Saw. memegang tangan Husain dan meletakkan kakinya di atas kaki beliau dan dengan langkah kekanakan sambil bermain-main, beliau mengangkatnya, sehingga tatkala sampai ke dadanya, beliau mencium Husain. (2) Tidak ada yang menandingi Rasulullah Saw. dalam memasyarakatkan kasih sayang kepada anak-anak kecil ini. Pada suatu hari beliau membawa Hasan di atas pundak sebelah kanan dan Husain di atas pundak sebelah kiri sambil berjalan di tempat umum bukan di rumah. Para sahabat beliau berkata, “Betapa baiknya kendaraan ini”. Beliau menjawab, "Betapa baiknya para pengendaranya.”Begitu pula diceritakan bahwa tatkala beliau sedang berceramah di atas mimbar Masjid di kota Madinah, Hasan dan Husain datang menuju beliau dan entah karena mereka berdua yang masih kecil atau kepadatan jamaah yang hadir, mereka terjatuh lalu berdiri lagi melangkah menuju beliau. Melihat itu, beliau menghentikan ceramahnya dan turun dari mimbar, lalu menggendong mereka berdua.(3) Ada pula yang menceritakan bahwa terkadang Rasulullah Saw. melihat Husain sedang bermain di gang bersama anak-anak seumurnya, kemudian beliau mendekati Husain dan menggendongnya sambil berlari-lari kekanakan kesana kemari bermain bersama mereka dan mereka pun ikut berlarian.

Beliau mengejar Husain sambil tertawa dan menangkapnya, lalu salah satu tangan beliau memegang belakang kepala Husain dan tangan lainnya memegang dagunya kemudian menciumnya.(4)

P: 28


1- 14. Ibn Hanbal, Al-Musnad, 2/228, 269; Abu Ya'la, Al-Musnad, 10/296 - 267, nomor 5892.
2- 15. Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/49-50, nomor 2653; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimas, 14/31; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā 'id, 9/280-281; Ibn Hajar, Al-Ashābah, 1/328; Ibn Abdul Bar, Al-Isti'āb, 1/397-398 ( Cetakan Mesir); Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1/279.
3- 16. Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/323, nomor 3863; Ibn Majah, Al-Sunan, 2/1190, nomor 3600; Nasa'i, Al-Sunan, 3/108 dan 192; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 5/354; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 2/287, 4/189-190; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/770-771, nomor 1385; Al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubrā, 3/218; Ibn Hajar, Tahdzīb al-Tahdzīb. 2/346; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14-166; Al-Mazzi, Tahdzīb al-Kamāl, 6/403, Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 205-206 ; Ibn Hajar al-Haitami, Al-Shawā'iq al- Muhriqah, 114.
4- 17. Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172; Bukhori, Tārīkh al-Kabir, 4/2/414-415, nomor 3536; Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 26-27; nomor 208; Ibn Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/315; Al-Mazzi, Tahdzīb al-Kamal, 6/401-402; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/23, nomor 2586, 22/273-274, nomor 701.

Kasih sayang beliau ini tak ada habisnya dan bahkan dalam kondisi salat pun beliau tetap menunjukkannya. Banyak riwayat yang menceritakan bahwa ketika beliau berada di Masjid, Hasan dan Husain yang rumahnya berada di sebelah Masjid mendatanginya. Terkadang karena kebiasaan anak-anak kecil, mereka menaiki punggung beliau pada saat bersujud.

Namun, beliau dengan lembut memegang tangan dan mendudukkan mereka berdua di sampingnya. Meskipun selama salat mereka berdua terus menaiki punggung beliau, namun beliau tetap dengan lembut menurunkan mereka sampai selesai salat.

Beliau memangku mereka berdua di atas kaki kanan dan kirinya.(1) Terkadang orang-orang karena ketidaktahuannya mengira bahwa perilaku kedua anak kecil tersebut akan membatalkan ibadah, sehingga mereka hendak mencegah Hasan dan Husain agar tidak mendekati Rasulullah Saw. lagi. Tetapi, beliau tidak tinggal diam dan berkata kepada mereka, “Biarkan kedua cucuku melakukan apa maunya."(2) Terkadang beliau sengaja memperpanjang bacaan sujudnya dan ketika sahabat bertanya mengapa beliau memperpanjang sujudnya, beliau sesudah salat menjawab, "Husain menaiki punggungku dan karena ia tidak mau turun dengan cepat, maka aku tidak ingin mengecewakannya."(3) Kasih sayang Rasulullah Saw. kepada Husain dan saudaranya Hasan tidak dapat dituangkan dalam kata-kata. Puluhan bahkan hingga ratusan contoh kecintaan beliau yang takterlukiskan ini dapat ditunjukkan.

Di antara sekian banyak riwayat yang menunjukkan hal tersebut ialah riwayat yang menggambarkan betapa beliau tidak tahan manakala mendengar suara tangisan kedua cucunya. Dikatakan bahwa beliau Saw.

mendengar suara tangisan Hasan dan Husain ketika berada di sebuah gang, beliau segera menanyakan sebabnya kepada Fathimah. Fathimah menjawab bahwa mereka berdua menangis karena haus. Beliau segera bergegas menuju tempat air yang biasa digunakan kaum muslimin untuk berwudhu, namun saat itu beliau tidak mendapatkan air (barangkali pada waktu itu di kota Madinah sedang musim kemarau). Kemudian beliau

P: 29


1- 18. Ibn Majah, Al-Musnad, 2/513; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/785, nomor 1401; Abu Ya'la, Al-Musnad, 9/47, nomor 3177 .
2- 19. Abu Ya'la, Al-Musnad, 9/250, nomor 5368; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 9/287; Ibn Hajar, Al-Ashābah, 1/329; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/36, nomor 3144.
3- 20. Ibn Hanbal, Al-Musnad, 3/492-493; Nasa'i, Al-Sunan, 2/229-230; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/49-50; Ibn Hajar, Tahdzīb al-Tahdzīb, 2/346, Abu Ya'la, Al- Musnad, 6/150, nomor 3428, Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 9/290; Al-Hakim, Al- Mustadrak, 3/166; Al-Baihaqi, Al-Sunan, 2/263.

meminta air kepada sahabat yang memilikinya. Setelah air dibawakan, beliau memberikannya kepada kedua cucunya. (1) Kepedulian beliau ini tampak dalam berbagai macam kondisi, sehingga diceritakan bahwa beliau merasa cemas tatkala mendengar suara tangisan kedua cucunya tersebut. (2) Terkadang beliau berkata, "Sungguh tangisan Husain mengusik hatiku dan tidak bisa membuatku tenang. "(3) Banyak riwayat-riwayat singkat yang telah terkumpul menggambarkan kecintaan dan kasih sayang Rasulullah Saw. yang tiada tara ini kepada kedua cucunya. Dengan menelaah contoh-contoh kisah ini, tergambar bahwa ikatan kuat ini bukanlah rekayasa atau sekedar emosional.

Beliau Saw. menyaksikan keistimewaan pada diri kedua cucunya, bahwa kedudukan keduanya kelak akan diketahui dalam cakrawala sejarah, sebagai perintis jalan yang telah diprakarsai oleh Rasulullah Saw..

Beberapa hadis tersebut menjelaskan juga tentang bagaimana Hasan dan Husain tumbuh dalam belaian kasih sayang dan asuhan kenabian.

Mereka berdua adalah orang-orang yang telah merasakan puncak kasih sayang dari sumber yang paling sempurna, sehingga tumbuh sebagai pribadi yang penuh kasih sayang.


1- 21. Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/43-44, nomor 2656; Ibn Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/54–55; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 9/288-289; Ibn Hajar, Tahdzīb al-Tahdzīb, 2/297-298.
2- 22. Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 3/19, nomor 24 dan 3/143-144, nomor 4.
3- 23. Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/116, Nomor 2847; Al-Haitsami, Majma'al-Zawa'id, 9/323; Ibn 'Asakir, Tarikh Dimasq, 14/175, nomor 3361; Al-Dzahabi, Siyar A'lam al- Nubalā', 4/405.

Hidup Penuh Kesulitan

Kondisi perekonomian kaum muslimin di Madinah sangat memprihatinkan dan hal ini tidak terkecuali dialami oleh Rasulullah Saw. beserta putri dan cucu-cucunya. Pada suatu hari, beliau datang ke rumah Fathimah mencari kedua cucunya. Fathimah berkata kepadanya, “Pagi telah tiba, mereka terbangun dari tidur sementara di rumah tidak ada makanan, Ali bin Abi Thalib berkata kepadaku, 'Aku khawatir bila di rumah, keduanya akan menangis karena lapar, sementara engkau tidak bisa menenangkan mereka," dan kemudian dia membawa pergi mereka berdua ke rumah seorang Yahudi. Lalu, rasul meninggalkan rumah putrinya dan melihat Hasan dan Husain sedang bermain sambil menggenggam kurma. Beliau bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, mengapa sebelum cuaca menjadi panas

P: 30

engkau tidak mengantarkan mereka berdua pulang ke rumah? Ali bercerita kepada beliau bahwa baru saja ia bekerja untuk seorang Yahudi dengan menimba air dari sumurnya, kemudia ia diberi upah kurma.(1) Meskipun, Hasan dan Husain adalah cucu seorang pemimpin besar politik dan spiritual umat Islam, namun mereka berdua diasuh dalam kondisi yang sama dengan kondisi umumnya anak-anak kaum muslimin lainnya.


1- 24. Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/165; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabīr, 22/422, nomor 1040; Al-Haitsami, Majma' al-Zawā'id, 10/569-570; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 134 – 135, nomor 204; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/175.

Husain dalam Perspektif Nabi Saw.

Rasulullah Saw. menganggap Hasan dan Husain sebagai orang yang paling beliau cintai(1) dan hal ini sudah jelas bagi semua orang. Kasih sayang beliau kepada mereka berdua tidak sekedar kecintan emosional semata. Sebab, terkadang kata-kata beliau berkenaan dengan Husain atau berkenaan dengan Hasan benar-benar melampaui ikatan emosional seorang kakek terhadap cucu pada umumnya. Tulisan ini tidak cukup untuk menyebutkan

P: 31


1- 26. Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/323, nomor 3861; Al-Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubalā, , 4/382; Al-Shafadi, Al-Wāfi bi al-Wafiyāt, 12/423; Abu Ya'la, Al-Musnad, 7/274, nomor 4294; Ibn 'Asaakir, Tārīkh Dimasg, 14/160-161; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 7/205.

semua kisah-kisah yang berkaitan dengan hal itu, akan tetapi sepuluh ucapan Nabi Saw. terkait hal ini akan disinggung sebagai berikut:

1- "Husain adalah bagian dariku dan aku bagian darinya (Husayn minni wa ana minhu]"(1) Tentu saja, kata-kata ini dan kalimat yang serupa dengannya tidak hanya sekedar menjelaskan pemahaman yang gamblang tentang sebuah keturunan dan genetik. Sebagai cucu Nabi Saw. yang pada diri Husain mengalir darah dan terdapat gen beliau bukanlah sebuah poin yang perlu dijelaskan. Semua keturunan manusia mempunyai karakteristik yang sama dan berdasarkan pemahaman tertentu tersebut, selain kalimat selanjutnya dalam hadis yang berbunyi “dan aku dari Husain", tidak ada artinya. Di samping itu, seorang kakek secara genetik tidak dinisbahkan kepada cucu dan hubungannya hanya satu arah saja (cucu yang secara genetik dinisbahkan kepada kakek). Oleh sebab itu, sabda Nabi Saw.

harus dipahami sebagai cakrawala di luar wilayah fisik. Artinya, bahwa penciptaan ruh Husain dan Nabi adalah sama, dan semerbak aroma kenabian dapat tercium dari ruh Husain.

2- "Orang yang paling dicintai Allah Swt. adalah orang yang mencintai Husain [AhabbaLlāh man ahabba husaynan]”(2) Sabda Rasulullah Saw., baik itu dimaknai sebagai berita ataupun doa, menunjukkan kedudukan tinggi Husain dalam pandangannya. Mengapa Allah mencintai orang-orang yang mencintai Husain, karena Husain terpadu dengan ajaran-ajaran Ilahi dan keutamaan-keutamaan, sehingga kecintaan kepadanya merupakan intisari seluruh kebaikan dan Allah menjadikan Husain sebagai wali-Nya dan Allah mencintai para pecinta wali-Nya.

3- "Husain di antara cucu-cucu Nabi (Husayn sibthun min al-asbāth]"(3)

P: 32


1- 27. Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/177; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/772, nomor 1361, Ibn *Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/157, nomor 14/157, nomor 3310; Al-Muzzi, Tahdzīb al- Kamāl. 6/401-402; Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Thabrani, Al-Mu'jam al- Kabir, 3/23, nomor 2586 dan 22/273-274, nomor 701.
2- 28. Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/177; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/772, nomor 1361; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/23, nomor 2586 dan 22/273-274, nomor 107; Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamāl, 6/401-402; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 26-27, nomor 208; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/157, nomor 331.
3- 29. Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 447; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/177; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172, Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/772, nomor 1361; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 22/274, nomor 702; Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamal, 6/401-402; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 26-27, nomor 208; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/57, nomor 3310.

Rasulullah Saw. hendak mengisyaratkan cabang-cabang kenabian pada bani Israel melalui hadis di atas. Setiap cabang kenabian merupakan para Nabi besar bani Israel. Maksud Rasulullah Saw. dengan isyarat ini adalah bahwa Husain dan generasinya merupakan urat pelestari ajaran dan risalah kenabian.

4- "Hasan dan Husain adalah buah kenabian [al-Hasan wa al-Husayn tsamratuha]"(1) Pohon kenabian mempunyai akar di alam Malakut dan buah- buahnya terdapat di bumi. Terkait kalimat ini, Rasulullah Saw. bersabda, "Buah asli dari pohon kenabian ialah Hasan dan Husain." Artinya, refleksi ajaran-ajaran kenabian dapat disaksikan dan dirasakan dalam sepak terjang dan ahlak kedua orang ini.

5- "Siapa mencintai orang ini (Husain), maka dia telah mencintaiku [Man ahabba hadzā faqad ahabbani]"(2) Dalam hadis ini, Rasulullah Saw. telah menghubungkan kecintaan terhadap dirinya kepada kecintaan terhadap Husain. Menyayangi Husain bertautan dengan kecintaan kepada Nabi Saw. dan orang yang mencintai Husain, maka dia telah mencintai Rasulullah Saw.. Penjelasan serupa dengan ini terkadang tampak berkaitan dengan kedua cucu nabi, Hasan dan Husain, ini. (3) Kalimat ini,jika ditelaah dari kacamata kecintaan nabi dalam ajaran Islam dan al Quran-akan membukakan kita kepada cakrawala lain. Ditambah, kaum muslimin tidak hanya mencintai Nabi Saw. secara emosional, tetapi mereka juga mematuhi perintah agama dan Allah.

6- "Siapa mencintaiku, maka cintailah kedua orang ini [Man ahabbani, faLyuhibbu hadzayn]"(4) Sabda nabi ini merupakan keterangan lain dari sabda beliau sebelumnya. Artinya, orang yang mencintai atau mengaku mencintai beliau haruslah mempunyai kecintaan kepada Hasan dan Husain di hatinya.

P: 33


1- 30. Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3,160; Ibn 'Asaakir, Tārīkh Dimasq, 14/172, nomor 3355.
2- 31. Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/47, nomor 2643; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā 'id, 9/298.
3- 32. Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 143; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/166; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 2/288; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/77, nomor 1359; Abu Ya'la, Al-Musnad, 11/78, nomor 6215; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/48, nomor 2648; Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', 4/383; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/35-36, nomor 3143; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/205.
4- 33. Abu Ya'la, Al-Musnad, 8/433, nomor 5017; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/48-49; nomor 2650; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/207.

7- “Ya Allah sesungguhnya aku mencintai keduanya maka cintailah keduanya [Allahumma inni uhibbuhuma, fa ahibbahuma]"(1) Rasulullah Saw. dalam hadis ini menunjukkan kecintaannya kepada Hasan dan Husain dan dalam doanya beliau memohon agar Allah pun mencintai mereka berdua.

8- "Ya Allah aku mencintai orang-orang yang mencintai mereka berdua [Allahumma uhibbu man yuhibbahuma]" (dan redaksi yang serupa) (2) Rasulullah Saw. tidak hanya memohon kecintaan Allah kepada mereka berdua, bahkan beliau juga memohon kecintaan para pecinta mereka berdua kepada-Nya.

9- "Aroma surga di dunia [rayhāni min al-dunya]” (dan redaksi yang serupa) (3) Rasulullah Saw. menganggap Hasan dan Husain sebagai bunga dan tanaman aromatik bagi dirinya dan merupakan saham dunia yang telah beliau peroleh. Dalam artian, beliau memandang mereka berdua sebagai bunga kehidupan duniawi yang paling harum. Keuntungan dan buah kehidupan duniawi beliau yang terdapat pada mereka berdua menandakan adanya keistimewaan kedudukan mereka berdua dalam perspektif beliau Saw..

10-“Penghulu para pemuda ahli surga [Sayyidā syabābi ahli al-jannah)” (dan redaksi yang serupa) (4) Hasan dan Husain adalah dua orang yang akan memasuki surga dalam keadaan remaja dan sebagai penghulu para pemuda ahli surga.

Tiga kabar gembira dari nabi untuk mereka berdua ini merupakan kabar gembira yang tidak diberikan kepada keluarga lainnya. Rasulullah Saw.

merekomendasikan mereka berdua sebagai teladan, dan syarat bagi umat yang semasa dengan mereka berdua dan umat pada masa setelahnya untuk

P: 34


1- 34. Bukhori, al-Shahih, 5/32, nomor 3747; Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/322; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 5/369; Ibn Hanbal, Fadha'il al-Shahābah, 2/75, nomor 1371; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 332, nomor 2566; Ibn Habban, Al-Tsigāt, 3/68; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 24-23, nomor 202; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/162, nomor 3326; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/207.
2- 35. Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/322; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 332, nomor 2546.
3- 36. Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/322; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 332, nomor 2546.
4- 37. Ibn Majah, Al-Sunan, 1/44, nomor 118; Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/321, nomor 3856 dan 3857; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/166-167; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 3/3; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/779-780, nomor 1384; Thabrani, Al-Mu'jam al- Kabir, 3/57-58, nomor 2675: Al-Haitsami, Maima'al-Zawa'id. 9/260-261 dan 294: Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamāl, 6/229; Al-Dzahabi, Mīzān al-I 'tidal, 2/250; Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 48-49; nomor 56; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 45/99-100; Ibn Katsir, Al- Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/206; Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 3/268.

menjadi ahli surga adalah harus mematuhi ucapan dan sunnah mereka berdua.

Catatan 1 Albaihaqi, Sunan al-Kubrā, 9/304 2 Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/9–10 nomor 3089; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā ʻid, 9/277-278; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/23 - 24 nomor 2542.

3 Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 33, Nomor 22 – 23.

4 Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 33, Nomor 22 - 23.

Ibn Hanbal. Al-Musnad. 1/159 : Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/712 Nomor 1219; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/131; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 8/102; Abu Ya'la, Al-Musnad, 1/384 nomor 498.

6 Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 33 nomor 24; Abul Faraj, Al-Aghāni, 16/138; Thabrani, Al- Mu'jam al-Kabir, 3/97; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/12 ; Ibu Hanbal, Al-Musnad, 1/98 dan 118; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā ʻid, 8/102; Ibn Hajar, Al-Ashābah, 3/450; Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 1/404; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/165.

7 Ibn Atsir, Asad al-Ghābah, 2/9-10; Al-Sayuthi, Tārīkh al-Khulafa'.

8 Ibu Sa'ad, Al-Husain, 18, nomor 191; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 1/313, nomor 926, 3/31, nomor 2579; Al-Haitsami, Majma' al-Zawā'id, 4/95-96, Al-Hakim, Al- Mustadrak, 3/179.

9 Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/15; Malik bin Anas, Al-Muwaththa', 2/501, nomor 6; Ibn Sa'ad, Alhasan, 29, nomor 3-6; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 5/355, 361; Abu Dawud, Al-Sunan, 107, nomor 2841; Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 3 dan 7, nomor 5; Nasa'i, Al-Sunan, 7, 164, 165, dan 166; Abu Ya'la, Al-Musnad, 3/441, nomor 1993; Al-Haitsami, Majma' al-Zawā'id, 4/91; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/28, nomor 2567; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 4/237.

10 Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 30, nomor 10; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 4/237; Al-Baihaqi, Al- Sunan al-Kabir, 9/299.

Ibn Hanbal, Al-Musnad, 6/296; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/583, nomor 986; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14 dan 38, nomor 3150; Al-Haitsami, Majma'al- Zawā 'id, 9/261-262; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabīr, 22/274-275, nomor 703.

12 Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasg, 14/55-56; Al-Dzhabi, Mīzān al-1 tidāl, 1/208, nomor 819.

13 Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/769, nomor 1356.

14 Ibn Hanbal, Al-Musnad, 2/228, 269; Abu Ya'la, Al-Musnad, 10/296 - 267, nomor 5892.

15 Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/49-50, nomor 2653; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimas, 14/31; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā 'id, 9/280-281; Ibn Hajar, Al-Ashābah, 1/328; Ibn Abdul Bar, Al-Isti'āb, 1/397-398 ( Cetakan Mesir); Al-Dzahabi, Tārīkh al-Islām, 1/279.

16 Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/323, nomor 3863; Ibn Majah, Al-Sunan, 2/1190, nomor 3600; Nasa'i, Al-Sunan, 3/108 dan 192; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 5/354; Al-Hakim,

P: 35

Al-Mustadrak, 2/287, 4/189-190; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/770-771, nomor 1385; Al-Baihaqi, Al-Sunan al-Kubrā, 3/218; Ibn Hajar, Tahdzīb al-Tahdzīb.

2/346; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14-166; Al-Mazzi, Tahdzīb al-Kamāl, 6/403, Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 205-206 ; Ibn Hajar al-Haitami, Al-Shawā'iq al- Muhriqah, 114.

17 Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172; Bukhori, Tārīkh al-Kabir, 4/2/414-415, nomor 3536; Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 26-27; nomor 208; Ibn Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/315; Al-Mazzi, Tahdzīb al-Kamal, 6/401-402; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/23, nomor 2586, 22/273-274, nomor 701.

18 Ibn Majah, Al-Musnad, 2/513; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/785, nomor 1401; Abu Ya'la, Al-Musnad, 9/47, nomor 3177 19 Abu Ya'la, Al-Musnad, 9/250, nomor 5368; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 9/287; Ibn Hajar, Al-Ashābah, 1/329; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/36, nomor 3144.

20 Ibn Hanbal, Al-Musnad, 3/492-493; Nasa'i, Al-Sunan, 2/229-230; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/49-50; Ibn Hajar, Tahdzīb al-Tahdzīb, 2/346, Abu Ya'la, Al- Musnad, 6/150, nomor 3428, Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 9/290; Al-Hakim, Al- Mustadrak, 3/166; Al-Baihaqi, Al-Sunan, 2/263.

21 Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/43-44, nomor 2656; Ibn Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/54–55; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā'id, 9/288-289; Ibn Hajar, Tahdzīb al-Tahdzīb, 2/297-298.

22 Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 3/19, nomor 24 dan 3/143-144, nomor 4.

23 Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/116, Nomor 2847; Al-Haitsami, Majma'al-Zawa'id, 9/323; Ibn 'Asakir, Tarikh Dimasq, 14/175, nomor 3361; Al-Dzahabi, Siyar A'lam al- Nubalā', 4/405.

24 Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/165; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabīr, 22/422, nomor 1040; Al-Haitsami, Majma' al-Zawā'id, 10/569-570; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 134 – 135, nomor 204; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/175.

25 Ibn Hanbal, Al-Musnad, 1/101; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/692-693; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 22/405-406, nomor 1016; Al-Haitsami, Majma' al- Zawā'id, 9/271; Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamāl. 6/403-404; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 1/260; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/168, nomor 3342; Ibn Atsir, Asad al-Ghābah, 5/249; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/207.

26 Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/323, nomor 3861; Al-Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubalā, , 4/382; Al-Shafadi, Al-Wāfi bi al-Wafiyāt, 12/423; Abu Ya'la, Al-Musnad, 7/274, nomor 4294; Ibn 'Asaakir, Tārīkh Dimasg, 14/160-161; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 7/205.

27 Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/177; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/772, nomor 1361, Ibn *Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/157, nomor 14/157, nomor 3310; Al-Muzzi, Tahdzīb al- Kamāl. 6/401-402; Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Thabrani, Al-Mu'jam al- Kabir, 3/23, nomor 2586 dan 22/273-274, nomor 701.

28 Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 144; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/177; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/772, nomor 1361; Thabrani,

P: 36

Al-Mu'jam al-Kabir, 3/23, nomor 2586 dan 22/273-274, nomor 107; Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamāl, 6/401-402; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 26-27, nomor 208; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/157, nomor 331.

29 Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 447; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/177; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 4/172, Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/772, nomor 1361; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 22/274, nomor 702; Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamal, 6/401-402; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 26-27, nomor 208; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 14/57, nomor 3310.

30 Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3,160; Ibn 'Asaakir, Tārīkh Dimasq, 14/172, nomor 3355.

31 Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/47, nomor 2643; Al-Haitsami, Majma'al-Zawā 'id, 9/298.

32 Ibn Majah, Al-Sunan, 1/51, nomor 143; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/166; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 2/288; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/77, nomor 1359; Abu Ya'la, Al-Musnad, 11/78, nomor 6215; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/48, nomor 2648; Al-Dzahabi, Siyar A'lām al-Nubalā', 4/383; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/35-36, nomor 3143; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/205.

33 Abu Ya'la, Al-Musnad, 8/433, nomor 5017; Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, 3/48-49; nomor 2650; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/207.

34 Bukhori, al-Shahih, 5/32, nomor 3747; Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/322; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 5/369; Ibn Hanbal, Fadha'il al-Shahābah, 2/75, nomor 1371; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 332, nomor 2566; Ibn Habban, Al-Tsigāt, 3/68; Ibn Sa'ad, Al-Husayn, 24-23, nomor 202; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasq, 14/162, nomor 3326; Ibn Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/207.

35 Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/322; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 332, nomor 2546.

36 Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/322; Abu Dawud al-Thayalisi, Al-Musnad, 332, nomor 2546.

37 Ibn Majah, Al-Sunan, 1/44, nomor 118; Al-Turmudzi, Al-Sunan, 5/321, nomor 3856 dan 3857; Al-Hakim, Al-Mustadrak, 3/166-167; Ibn Hanbal, Al-Musnad, 3/3; Ibn Hanbal, Fadhā'il al-Shahābah, 2/779-780, nomor 1384; Thabrani, Al-Mu'jam al- Kabir, 3/57-58, nomor 2675: Al-Haitsami, Maima'al-Zawa'id. 9/260-261 dan 294:

Al-Muzzi, Tahdzīb al-Kamāl, 6/229; Al-Dzahabi, Mīzān al-I 'tidal, 2/250; Ibn Sa'ad, Al-Hasan, 48-49; nomor 56; Ibn 'Asakir, Tārīkh Dimasa, 45/99-100; Ibn Katsir, Al- Bidāyah wa al-Nihāyah, 8/206; Al-Baladzari, Ansāb al-Asyrāf, 3/268.

P: 37

KESYAHIDAN HUSAIN DALAM HIKAYAT MELAYU

Point

ABDUL HADI W. M.

The legend of Imam Husayn martyrdom, celebrated by Muslims every Muharam 10, has been well-known all over Nusantara since the beginning of Islam coming to this area. Collected literatures on Malay history and story have recorded it during period 13 to 15 century. "Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah" and "Hikayah Sayidina Husain" became main references for other narrations written on Karbala. “Wawacan Yazid" Caretana Yazid Celaka" are respectively Madura and Sundanesse versions on Karbala whereas Javanese literature has "Serat Ali Ngapiyah Mateni Yazid." In Nusantara, the memoriam of 10 Muharam was not only the remembrance and mourning of the martyrdom of Imam Husain; but it also sparked off fights against colonialism. It inspired wars of Ternate and Aceh as it did in Bengkulu in battles against British during the 19th century. The commemoration of Karbala embodied in the form of sympathy and solidarity on the sacrifice and fight hostile to any tyranny and totalitarian regime as clearly shown by the revolution of Imam Husain; which together with a small group of his family and companions challenged Yazid's oppression on Muslims, his despotism and dictatorship. Imam has given a perpetual example of sacrifice and

P: 1

courage for true Muslims facing up to injustice and repression, wherever and whenever Kesyahidan Husain dikenal luas di dunia Islam. Kematiannya yang mengenaskan, tubuh bersimbah darah, tangan terpotong dan kepala terpisah dari badan, senantiasa diingat oleh banyak orang Islam. Hari wafatnya yang jatuh pada tanggal 10 Muharam pun selalu diperingati di banyak negeri, baik yang mayoritas penduduknya Sunni maupun Syi'ah.

Semua itu menunjukkan bahwa tragedi Karbala yang terjadi hampir tiga belas abad yang lalu memiliki arti tersendiri bagi kaum Muslimin.

Di Indonesia, kisah kesyahidan Amir Husain, demikian ia disebut dalam teks Melayu, telah dikenal sejak masa awal pesatnya perkembangan Islam pada abad ke-13—15 M. Pada masa inilah, hikayat tersebut mulai dikarang dalam bahasa Melayu. Dua versi paling masyhur yang dijadikan sumber penulisan versi-versi lain pada masa berikutnya berjudul Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah dan Hikayat Sayidina Husain. Yang disebut pertama dikarang sekitar abad ke-14 atau 15 M berdasarkan sumber Persia, sedangkan yang belakangan dikarang sekitar abad ke-17 M di Aceh.

Dalam hikayat ini dijelaskan arti penting peringatan 10 Muharam, begitu juga cara pelaksanaannya. Namun, dalam kenyataan kemudian muncul dua bentuk penyelenggaraan yang berbeda. Pertama, peringatan yang lebih bersahaja sebagaimana terdapat di Aceh, Pulau Jawa, Madura, dan Sulawesi Selatan. Di Aceh, peringatan 10 Muharam disebut “Hari Asan Usin". Di Jawa dan Madura disebut "Hari Sura” atau “Asura”. Sehari sebelum 10 Muharam tiba, orang melakukan puasa sunnah. Esok harinya, penduduk membuat bubur merah yang dibagi-bagikan kepada tetangga atau kerabat. Malam harinya diadakan pengajian, dan tidak jarang pula diadakan majelis untuk mendengarkan pembacaan hikayat tragedi Karbala dan perang Muhammad Ali Hanafiyah melawan Yazid. Penyelenggaraan Hari Sura atau hari Asan Usin jelas merujuk pada keterangan yang terdapat dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah.

P: 2

Kedua, bentuk penyelenggaraan yang lebih kompleks dan mirip dengan perayaan 10 Muharam di Iran dan India. Bentuk perayaan seperti ini dijumpai di Bengkulu dan Sumatra Barat, dan mulai diadakan sejak akhir abad ke-18 M ketika Inggris menguasai Bengkulu dan bersamanya membawa banyak orang Syi'ah dari India. Perayaan di Bengkulu dan Padang dimeriahkan dengan arak-arakan tabut yang aneka ragam bentuknya, melambangkan kesyahidan Husain dan pernikahannya dengan Syahrbanum, putri Khusraw Persia terakhir Yazgidird II yang setelah tertawan pasukan kaum Muslimin pindah menganut agama Islam.

Arak-arakan dimeriahkan dengan musik tambur yang gemuruh. Ini menggambarkan suasana pasukan Husain dan Muhammad Ali Hanafiyah yang dengan gagah berani maju ke medan perang. Sepuluh hari sebelum perayaan dimulai, diadakan upacara ma'ambil tanah (mengambil tanah) dan pada ketika itulah tabut-tabut mulai dibuat (Brakel, 1975).

Tata cara penyelenggaraan Asura itu merujuk pada teks Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Pembuatan bubur merah, misalnya, disarankan pada bagian awal hikayat tersebut, yaitu ketika Malaikat Jibril menyerukan, “Pada 10 Muharam memberi makan bubur Asura akan segala yang syahid pada tanah Padang Karbala”, sedangkan anjuran puasa sunat dapat dirujuk pada kata-kata Jibril menjawab pertanyaan arti pentingnya puasa sunnah itu dilakukan. Kata Jibril, “Yang kasih akan segala isi rumah rasul Allah pada setahun sekali pada sepuluh hari bulan Muharam muwafakat puasa pada ketika Asura serta akan segala syahid pada tanah Padang Karbala syahdan memberi makan bubur Asura." Arti hari Asura juga dikemukakan pada bagian berikut ini: "...hari Asura artinya menangis engkau akan isi rumah rasul Allah bermula siapa yang tulus ikhlas hatinya dan kasih rasanya akan segala anak cucu rasul Allah." Semua itu tidak hanya menunjukkan populernya kisah kesyahidan Amir Husain, tetapi juga betapa kesyahidannya memiliki makna tersendiri dalam hati penganut agama Islam di Nusantara. Di antara arti penting itu ialah simpati dan solidaritas atas pengorbanan dan perjuangannya

P: 3

melawan penguasa atau rezim yang zalim, sebab penguasa seperti itu, sebagaimana diperlihatkan Mu'awiyah dan putranya, Yazid, merupakan "Bayang-bayang setan di muka bumi”. Pertanyaan timbul: Daya tarik apa yang menyebabkan hikayat yang semula muncul dalam bahasa Melayu itu kemudian mendapat sambutan luas di kepulauan Nusantara, sehingga selama lebih dari tiga abad digubah dan dikarang kembali dalam versi agak berlainan dalam bahasa-bahasa Nusantara lain, seperti Aceh, Gayo, Minangkabau, Palembang, Jawa, Sunda, Madura, Sasak, Banjar, Bima, Bugis, Makassar, dan lain sebagainya? Kecuali itu, apa pula relevansinya sehingga hikayat ini memperoleh tempat istimewa dibanding epos-epos Islam lain, seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Iskandar Zulkarnaen, dan Hikayat Malik Saiful Lisan? Untuk menjawab persoalan ini, kita perlu melihat berbagai aspek dari kesejarahan teks ini, termasuk latar belakang dan motif penyusunannya sebagai epos atau hikayat perang, serta dalam konteks sejarah yang bagaimana hikayat ini dikarang dalam bentuknya seperti yang kita kenal sekarang. Begitu pula dalam konteks sejarah seperti apa ia disadur ke dalam sastra Melayu dan Nusantara yang lain.

Asal Usul Hikayat Melayu

Telah dikemukakan bahwa hikayat perang (epos) yang berkaitan dengan kesyahidan Husain telah dikenal lama di Indonesia. Dalam bahasa Melayu, ada dua versi awal yang paling dikenal luas. Pertama, versi yang berjudul Hikayat Sayidina Husain; dan kedua, versi yang berjudul Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Sementara dalam sastra Melayu, Jawa, dan Madura, versi kedua yang paling populer, dalam sastra Aceh versi pertamalah yang lebih populer. Dalam sastra Aceh, versi pertama ditulis pada akhir abad ke-17 M di bawah judul Hikayat Soydina Usen, tanpa membuang bagian yang mengisahkan peperangan antara Muhammad 'Ali Hanafiyah melawan Yazid. Versi kedua berjudul Hikayat Muhammad Napiah.

P: 4

Di daerah lain, misalnya di tanah Sunda dan Pulau Madura, hikayat ini digubah sedemikian rupa dengan menekankan pada kekejaman dan kejahatan yang dilakukan Yazid Ibn Mu'awiyah. Versi Sunda diberi judul Wawacan Yazid dan versi Madura diberi judul Caretana Yazid Calaka (Kisah Yazid Celaka). Dalam sastra Minangkabau, versi yang popular ialah Kaba Muhammad Ali Hanafiyah. Seperti kaba lain, hikayat ini dibacakan dalam majelis-majelis sastra yang kerap diadakan, terutama pada hari Asura (Edwar Djamris, 1990). Dalam sastra Jawa, salah satu versinya yang populer ialah Serat Ali Ngapiyah Mateni Yazid. Pemberian judul yang berbeda-beda itu tentu dilatari motif tertentu, sejalan dengan konteks budaya di mana hikayat itu disalin Teks hikayat ini, dalam bentuknya yang dikenal sekarang, pada mulanya muncul dalam kesusastraan Persia. Para sarjana berpendapat bahwa hikayat ini mulai ditulis pada akhir abad ke-12 M atau awal abad ke-13 M pada zaman pemerintahan Mahmud al-Ghaznawi. Perkiraan ini didasarkan atas kenyataan bahwa pola pengisahan dan gayanya memiliki banyak kemiripan dengan Shah-namah, epos Persia masyhur karangan Firdawsi yang usai ditulis pada tahun 1010 M. Deskripsi dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah yang mirip dengan Shah-namah antara lain deskripsi tentang peperangan antara pasukan Muhammad Ali Hanafiyah dengan Yazid (Brakel 1975; Browne, 1976).

Bukti lain ialah adanya petikan sajak Sa'di dalam hikayat ini, yaitu pada bagian II versi Melayu (hlm. 338-340) dan disebutnya Tabriz sebagai kota penting di Iran. Sa'di adalah penyair yang hidup antara 1213—1292 M. Dengan demikian, ia mengalami dua zaman pemerintahan, yaitu zaman pemerintahan Dinasti Ghaznawi dan zaman raja-raja Ilkhan Mongol yang menguaai Persia pada 1222 M. Sajak Sa'di yang dikutip itu sendiri merupakan sindiran terhadap Sultan Mahmud al-Ghaznawi. Di lain hal, Tabriz baru menjadi kota penting di Iran pada zaman pemerintahan Sultan Ghazan (1295—1304 M) yang menjadikannya sebagai kerajaan Ilkhan Mongol di Persia. Teks Melayu juga menyebut pentingnya Kota Sabzavar,

P: 5

padahal kota ini baru menjadi kota penting Syi'ah pada pertengahan abad ke-14 M.

Persoalan yang sering ditanyakan para peneliti ialah bagaimana teks Persia ini bisa sampai di kepulauan Melayu tidak lama setelah hikayat tersebut rampung penulisannya di Persia. Pertanyaan ini dengan sederhana dapat dijawab. Misalnya dengan merujuk pada catatan perjalanan Ibn Batutah yang berkunjung ke Samudra Pasai pada awal abad ke-14 M. Di ibukota kerajaan Islam Nusantara pertama itu, Ibn Batutah menyaksikan sejumlah ulama dan cendekiawan Persia berasal dari Samarkand dan Bukhara. Mereka sering diundang Sultan Pasai ke istana dan sangat dihormati, serta memainkan peranan penting dalam memajukan lembaga pendidikan Islam (Ibrahim Alfian, 1999). Dapat dipastikan bahwa mereka tidak hanya mengajar bahasa dan kesusastraan Arab, tetapi juga kesusastraan Persia. Huruf Arab-Melayu yang disebut huruf Jawi dan dipakai mula-mula di Pasai didasarkan pada huruf Arab-Persia. Juga, jenis tulisan Arab yang digunakan ialah huruf Küfi Timur dan Nastalig yang lazim dipakai oleh penulis-penulis Persia.

Bukti-bukti tekstual juga menguatkan pendapat bahwa sumber- sumber Persia memainkan peranan penting bagi bangkitnya kesusastraan Islam di Nusantara sampai periode paling akhir. Hikayat-hikayat Melayu Islam awal yang meliputi epos, roman, hikayat nabi-nabi dan wali-wali, serta karangan-karangan bercorak tasawuf termasuk puisi, jika bukan merupakan saduran dari hikayat-hikayat (dashtan) Persia, tidak sedikit di antaranya diilhami oleh karangan penulis-penulis Persia. Epos-epos Islam terkenal, seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Syah Mardan, dan lain sebagainya digubah berdasarkan sumber Persia.

Memang pada mulanya, epos-epos Islam telah muncul dalam kesusastraan Arab. Namun, epos-epos itu mencapai bentuknya yang matang dan kompleks, serta memiliki nilai estetik yang tinggi, di tangan penulis-penulis Persia abad ke-12–14 M. Khusus Hikayat

P: 6

Muhammad Ali Hanafiyah, dasar ceritanya ialah legenda yang hidup di kalangan pengikut sekte Kaisaniyah, sebuah sekte dari madzhab Syi'ah yang berbeda dari sekte-sekte Syi'ah lain, seperti aliran Imam Duabelas (Imamiyah), Imam Tujuh (Ismailiyah), Imam Lima (Zaydiyah) dan lain- lain. Sekte-sekte Syi'ah yang lain berpendirian bahwa hanya keturunan 'Ali Ibn Abu Thalib dan Fatimah yang berhak menjabat Imam, maka sekte Kaisaniyah menganggap bahwa jabatan Imamah berakhir setelah wafatnya Muhammad Ali Hanafiyah. Hanafiyah adalah putra 'Ali yang ketiga dari istrinya yang berasal dari suku Hanif dan yang dinikahi "Ali setelah wafatnya Fatimah. Sekte ini dikembangkan oleh Kaisan, pengasuh Hanafiyah yang sangat mengagumi kesalehan tuannya.

Agaknya, di antara orang-orang Islam yang banyak pindah ke Indonesia dari Negeri Arab dan Persia pada awal abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-15 M, yaitu pada masa penaklukan bangsa Mongol atas negeri kaum Muslimin dan kekacauan di Persia akibat peperangan yang dicetuskan Timur Leng pada akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15 M, terdapat tidak sedikit penganut Syi'ah, bukan saja Syi'ah Imam Dua Belas, tetapi juga Syiah Imam Empat (Zaydiyah) dan Kaisaniyah.

Sebagian dari mereka, sebagaimana dipaparkan dalam banyak sumber sejarah, bergabung dengan orang-orang Sunni madzab Syafii di Yaman, yang telah lama menjadikan negeri itu sebagai pusat kegiatan keagamaan penganut Sunni madzab Syafi'i. Dari tempat inilah, orang-orang Islam dari negeri Arab dan Persia memulai pelayarannya ke Timur melalui Samudra Hindia dengan tujuan pelabuhan-pelabuhan di India Selatan dan kepulauan Melayu. Pelabuhan Aden di Yaman memang sangat strategis, dan telah sejak lama dijadikan pelabuhan dagang utama yang yang menghubungkan benua Eropa dan Afrika dengan negeri-negeri di sebelah timur, seperti India dan kepulauan Melayu (‘Ali Ahmad, 1996; Abdul Hadi W.M., 2001).

Berdasarkan ini dapat disimpulkan bahwa orang-orang Kaisaniyah- lah yang membawa dan memperkenalkan epos ini di kepulauan Melayu.

P: 7

Latar belakang ceritanya ialah: Setelah 'Ali Ibn Abu Thalib dipilih menjadi khalifah yang menggantikan Utsman Ibn Affan yang mati akibat pembunuhan misterius, Mu'awiyah yang merupakan kerabat Utsman dan menjabat sebagai gubernur Damaskus menentang keputusan itu. Dia merancang perlawanan. Peperangan meletus di Shiffin pada tahun 657 M.

Ali dan pasukannya hampir memperoleh kemenangan, tetapi Mu'awiyah menawarkan perdamaian untuk mencegah kekalahan tentaranya. Maka diadakanlah tahkim untuk menentukan apakah ‘Ali atau Mu'awiyah yang berhak memangku jabatan khalifah. Ternyata, ini merupakan siasat yang dirancang rapi oleh Mu'awiyah untuk menggulingkan 'Ali dan kaum 'Aliyūn yang merupakan pesaingnya yang paling kuat. Hakim yang dipilih untuk menentukan siapa yang berhak menjadi khalifah sebagian besar memihak Mu'awiyah.

Kaum Khawarij yang semula memihak ‘Ali, mengutuk keputusan mengadakan tahkim. Mereka merancang akan membunuh 'Ali dan Mu'awiyah. Pada tahun 659 M, dua tahun setelah peristiwa itu, kaum Khawarij melaksanakan niatnya membunuh kedua pemimpin itu.

Mu'awiyah lolos dari usaha pembunuhan, tetapi Ali tewas dihunus pedang pemimpin Khawarij, Abdul Rahman Ibn Muljam, ketika 'Ali sedang berada di Kufa. Sejak peristiwa berdarah itu, Mu'awiyah merasa lega karena tidak ada lagi yang akan merintangi dirinya menjadi penguasa mutlak kekhalifahan Islam. Namun di tempat lain, kaum 'Aliyūn mengangkat Hasan sebagai pengganti 'Ali. Beliau juga akhirnya mati setelah diracun.

Pada tahun 680 M, Mu'awiyah meninggal dunia. Putra Mu'awiyah, Yazid yang bertangan besi, diangkat sebagai penggantinya. Husain putra 'Ali menolak mengakui Yazid. Oleh karena itu, dia selalu diintai untuk dihabisi nyawanya. Karena merasa tidak aman berada di Mekkah, Husain hijrah ke Madinah. Namun kemudian, dia memilih pindah ke Kufah, di mana dia merasa lebih aman dan dapat berkumpul dengan sanak saudara serta para pengikutnya. Keinginannya bertambah kuat setelah terdengar kabar bahwa saudara-saudara sepupunya dan para pengikutnya

P: 8

akan membaiat beliau sebagai khalifah. Ketika Husain mulai melakukan perjalanan dari Madinah ke Kufah, Yazid mengganti gubernur Kufah dengan tokoh yang lebih setia kepadanya, Ubaidillah Ibn al-Ziyad. Ketika Husain sedang dalam perjalanan menuju Kufah, Ubaidillah berhasil mengintimidasi penduduk Kufah untuk menyerang Husain. Setibanya di Karbala, Husain diserang oleh pasukan Yazid dan orang-orang yang telah dihasut untuk menyingkirkannya. Sebelum gugur, bersama dengan para pengikutnya, Husain dibiarkan lemas karena haus. Pasokan air dari Sungai Eufrat sengaja dipotong oleh Ubaidillah sehingga Husain dan pasukannya lemas karena Husain kehausan.

Kematian Husain segera didengar oleh adiknya, Muhammad Ali Hanafiyah. Dia adalah putra 'Ali yang ketiga dari hasil perkawinan beliau dengan seorang perempuan Hanif bernama Muhmmad Ibn 'Ali. Karena ibunya seorang Hanif ketika dinikahi 'Ali, maka gelarnya kemudian ditambah dengan Hanafiyah. Dalam hikayat diceritakan ketika itu dia adalah seorang amir di Buniara.

Pada malam hari setelah wafatnya Husain, Muhammad Hanafiyah bermimpi bertemu Nabi Muhammad Saw. yang menyuruhnya menuntut bela atas kematian saudaranya, Hasan dan Husain. Keesokan harinya, Muhammad mengumpulkan semua pengikutnya untuk melancarkan perang melawan Yazid Ibn Mu'awiyah. Dalam sebuah pertempuran yang menentukan, Yazid tewas dalam keadaan mengerikan. Dia jatuh ke sebuah sumur tua yang penuh kobaran api. Setelah itu, Muhammad Hanafiyah menobatkan putra Zainal Abidin putra Husain, sebagai pengganti ayahnya selaku pemimpin kaum 'Aliyūn. Pada saat itulah, dia mendengar kabar bahwa tentara musuh sedang berhimpun dalam sebuah gua. Muhammad segera bergegas pergi ke tempat itu untuk menghancurkan sisa pasukan Yazid. Ketika memasuki gua, terdengar suara gaib yang memerintahkan agar dia jangan masuk. Seruan itu tidak dihiraukan. Malah, Muhammad ‘Ali Hanafiyah terus saja membunuh musuh-musuhnya yang bersembunyi

P: 9

dalam gua. Tiba-tiba, pintu gua tertutup dan dia tidak bisa keluar lagi dari dalamnya.

Episode yang mengisahkan situasi ketika Husain tiba di Karbala sangat menarik. Inilah petikannya:

"... Maka Amir Husain berjalan daripada suatu pangkalan kepada suatu pangkalan, maka sampailah Amir Husain kepada suatu tempat.

Maka unta dan kuda Amir Husain merebahkan dirinya, tiada mau lagi berjalan. Maka Amir Husain menyuruh mendirikan kemah barung-barung. Adapun segala kayu pun yang ditetak akan barung- barung itu sekaliannya berdarah. Maka bertanya Amir Husain, 'Hai taulanku! Apa nama padang ini?' Maka kata segala hulubalang, 'Hai junjungan kami! Inilah Padang Karbala namanya!. Maka, kata Amir Husain, 'Wah, inilah tempat kita mati, karena sabda Rasulullah, 'Kematian cucuku Husain pada tanah Padang Karbala! Maka kata Amir Husain, 'Qālu inna lillāhi wa inna ilayhi rāji ūna! Apabila didengar Umar Sa'd Maisum warta Amir Husain sudahlah ada di Padang Karbala berbarung-barung, maka Umar Sa`d Maisum menghampiri Sungai Furat, ditebatnya sungai itu supaya Husain jangan beroleh air. Setelah sudah ditebatnya sungai ini, maka dikirimkannya surat kepada Yazid, dalam surat itu demikian bunyinya, 'Segeralah Yazid memberi bantu akan hamba, karena Amir Husain sudah adalah di tengah Padang Karbala berbarung-barung!'Maka, datangnya surat itu kepada Yazid, dengan seketika itu jua disuruhkan Yazid lima puluh ribu hulubalang serta Ubaidillah Ibn Ziyad dan orang berjalan tujuh puluh ribu. Maka Yazid berkata, 'Pergilah kamu ke tebing Sungai Furat, khawani oleh kamu supaya Husain jangan beroleh air minum, maka kepala Husain pun segera kamu bawa kepadaku! Maka tatkala Amir Husain berhenti pada Padang tanah Karbala, sehari bulan Muharam, maka 'Ubaidillah Ibn Ziyad pun menghampiri tebing sungai Furat, dikhawaninya.

Maka segala hulubalang Amir Husain dahagalah tersiur-siur mencari air sekalah, tiada beroleh air. Demikianlah datanglah kepada delapan hari bulan Muharam, dalam kedahagaan jua kaum Amir Husain.

Pada kesembilan harinya hari bulan Muharam, segala anak Amir Husain pun datang kepada Amir Husain, katanya, 'Hai bapakku!

P: 10

Maha sangat dahagaku, air liur kami pun keringlah daripada kerungkungan kami, bermula rasa dada kami pun jerihlah. Berilah akan kami air seteguk!' Maka, pada bilik Amir Husain ada suatu kendi kulit belulang berisi air, maka kendi itu pun pesuklah dikorek tikus, air pun habislah terbuang ...," (Brakel, 1975).

Hikayat ini sebenarnya didasarkan atas peperangan yang dilakukan al-Mukhtar, pemimpin sekte Kaisaniyah, melawan Yazid dengan tujuan menuntut bela atas kematian Amir Husain. Dengan dibantu oleh panglima perangnya, Ibrahim al-Asytur, dia mengangkat Muhammad 'Ali Hanafiyah sebagai Imam pengganti Husain. Pada mulanya, kisah ini bersifat legenda, tetapi kemudian dikembangkan menjadi sebuah roman sejarah (Ali Ahmad, 1996).

Dari Maqtal ke Hikayat

Melalui paparan yang telah dikemukakan, dapatlah diketahui motif dan latar belakang penulisan hikayat ini. Motif ini bersifat ideologis dan kultural. Namun, untuk memahaminya, kita harus melihat aspek- aspek menonjol yang membedakan versi Melayu dan versi Persia yang merupakan sumbernya. Setidaknya, ada enam butir perkara yang penting dicatat bertalian dengan hal tersebut. Pertama, bentuk asli hikayat tentang kesyahidan Husain termasuk ke dalam genre magtal, yaitu jenis sastra yang khusus memaparkan kesyahidan Imam 'Ali, Hasan, dan Husain. Di dalamnya terpadu unsur elegi dan tragedi. Hikayat seperti ini, di Persia, biasa dibacakan dengan didramatisasikan pada perayaan 10 Muharam.

Versi Melayu mengurangi unsur tragedinya dan mengubahnya menjadi roman sejarah dengan unsur epik yang kuat. Versi Jawa, Sunda, dan Madura digubah dalam bentuk tembang macapat (puisi), yang dibacakan dengan lagu khas di majelis-majelis pada malam di hari Asura.

Sekalipun unsur tragedi dikurangi, unsur elegi masih kuat. Bahkan, dalam versi Melayu, banyak episode menyangkut gugurnya Husain dan kesedihan yang menyelimuti hati karib kerabatnya digarap lebih rinci.

P: 11

Kesedihan karib kerabat dan keluarga setelah mendengar gugurnya Husain dilukiskan seperti berikut:

"Adapun Amir Husain syahid pada sepuluh hari bulan Muharam, harinya pun Hari Jumat, maka Amir Husain pada ketika itu jua jadi akan penghuni syurga seperti kaul 'Inna's-saffa mahallu dunubi!' ... Maka kemudian, segala isi rumah Rasulullah berkabung serta menampar-nampar dadanya dan merenggut-renggut rambutnya dengan tangisnya, demikian bunyi tangisnya, 'Wah kasihan kami! Wah kesakitan kami! Wah sesal kami! Wah Muhammad kami! Wah 'Ali kami! Wah Fatimah kami! Wah Hasan kami! Wah Husain kami! Wah Kasim kami. Wah 'Ali Akbar kami!'Maka isi rumah Rasulullah tiadalah sadar diri. Pada ketika Amir Husain syahid, seakan 'Arsy Allah dan Kursi gemetaran, bulan dan matahari pun redup, tujuh hari tujuh malam lamanya segala alam pun seolah kelam kabut, karena Amir Husain terbunuh, peninggalan Nabi Allah dan lihat-lihatan daripada Rasulullah, seorang cucunya, Amir Hasan, dibunuhnya dengan racun, seorang lagi cucunya dibunuh segala munafik dengan senjata, kepalanya diperceraikan orang. Demikianlah halnya disembelih orang zalim, supaya kita ketahui, hidup dalam dunia tiadalah kekal...." Kedua, versi Jawa yang di antaranya diberi judul Ali Ngapiyah Mateni Yajid (Ali Hanafiyah membunuh Yazid) memiliki keunikan. Penuturannya secara estetik disesuaikan dengan pola penuturan epik dan roman sejarah yang telah ada dalam kesusastraan Jawa. Cerita diulang-ulang, misalnya kisah pertemuan dan perpisahan pelaku, mengikuti pola pengisahan siklus Cerita Panji. Di dalam hikayat ini juga dimasukkan tokoh punakawan, pelayan tokoh utama seperti dalam Cerita Panji, Mahabharata Jawa, dan Serat Menak (Hikayat Amir Hamzah versi Jawa). Pelaku dipisahkan secara tegas ke dalam dua kelompok yang tidak mudah didamaikan, seperti pemisahan antara Pandawa dan Kurawa dalam Mahabharata (Braginsky, 2004). Yazid yang celaka beserta pasukannya disamakan dengan Kurawa, sedangkan Muhammad 'Ali Hanafiyah dengan Pandawa. Seperti dalam Mahabharata, di mana medan perang Kurusetra secara simbolis

P: 12

digambarkan sebagai dunia atau jiwa manusia, tempat pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan. Dalam Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, peranan padang Kurusetra diganti dengan Padang Karbala.

Ketiga, seperti Mahabharata, hikayat ini mengandung unsur eskatologis yang kuat. Tragedi Karbala dan tewasnya Yazid di tangan pasukan Muhammad Ali Hanafiyah, secara simbolis digambarkan sebagai peperangan akhir zaman antara pasukan Imam Mahdi dan Dajjal. Situasi menjelang tragedi Karbala juga dilukiskan seperti situasi akhir zaman, di mana kaum Muslimin dikeroyok oleh fitnah dan intrik-intrik jahat yang memicu terjadinya banyak konflik dan tindakan kekerasan. Tewasnya Yazid dan tertelannya Muhammad Ali Hanafiyah dalam gua menandakan datangnya era baru dan zaman penuh pencerahan. Dapat dicatat di sini bahwa dalam pertujunjukan wayang topeng, pernah populer lakon Sayidina Husen lan Ratu Jajid. Hikayat ini juga mengilhami kisah apokaliptik Serat Akhiring Jaman. Dikisahkan dalam serat ini munculnya raja jin dari persembunyiannya untuk menumpas segala raja kafir dan membawa orang kafir berbondong-bondong memeluk agama yang benar (Pigeaud, 1969).

Dilihat dalam konteks sejarah penulisan hikayat ini di Persia, hal ini juga beralasan. Pada pertengahan abad ke-14 M, penganut Syi'ah menyongsong era baru setelah lebih satu abad mengalami masa gelap sebagai akibat penguasaan tentara Mongol. Pada akhir abad ke-13 M, bangsa Mongol beramai-ramai memeluk agama Islam bersama pemimpin mereka. Mereka berubah menjadi pelindung kebudayaan Islam. Kebebasan menganut madzab apa pun diperbolehkan, suatu kebijakan yang berbeda dengan kebijakan penguasa sebelumnya.

Keempat, teks Melayu memperlihatkan redupnya ideologi Kaisaniyah.

Jika sebelumnya mereka berpendapat mata rantai Imamah berakhir dengan wafatnya Muhammad 'Ali Hanafiyah, kini pandangan seperti itu tidak bisa dipertahankan lagi di lingkungan masyarakat Melayu yang menganut paham Sunni. Muhammad Ali Hanafiyah terpaksa membaiat putra Husain, Zainal Abidin untuk menjadi khalifah.

P: 13

Kelima, versi Melayu merupakan kompilasi sejumlah hikayat yang berbeda jenisnya, seperti Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Hasan dan Husain, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah sendiri. Legenda dilebur dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi sejak masa awal kenabian Rasulullah sampai peperangan yang dicetuskan Muhammad Ali Hanafiyah menentang Yazid Ibn Mu'awiyah.

Keenam, teks Melayu juga tidak sepenuhnya mengikuti teks Persia dalam memaparkan kejadian-kejadian penting berkenaan dengan keluarga Nabi. Banyak dijumpai tambahan dalam teks Melayu. Juga ditemui penyimpangan atau perubahan konteks serta makna berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yang dituturkan.

Dari enam hal ini, dua hal terakhir yang perlu diberi catatan dan penjelasan, sebab hanya dengan cara demikian kita dapat memahami kreativitas penulis Melayu menjadikan teks Persia menjadi wacana yang sesuai dengan konteks perkembangan Islam di kepulauan Nusantara. Kekhasan teks Melayu hanya bisa diketahui melalui cara membandingkannya dengan teks Persia. Salinan teks Persia yang dijadikan sumber teks Melayu ditemukan naskah salinannya di British Museum (Ms Add 8149). Menurut Rieu (Brakel, 1975), naskah itu ditulis dalam huruf Nastalig di Murshidabad, Bengal, India pada 1721 M. Jadi, masih pada zaman pemerintahan Dinasti Mughal, yang hingga awal abad ke-19 M menjadikan bahasa Persia sebagai bahasa utama kaum terpelajar di Indo- Pakistan.

Naskah Bengal terdiri dari dua bagian. Bagian pertama memaparkan riwayat hidup Amir al-Mu'minin Hasan dan Husain sejak masa kelahiran hingga wafat mereka. Bagian kedua memaparkan Hikayat Muhammad ‘Ali Hanafiyah sejak kematian Husain, saudaranya, sampai pembebasan putra Husain, yaitu Zainal Abidin, dan ditemukannya mayat Yazid dalam sebuah perigi.

Versi Melayu terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berupa pengantar, memaparkan riwayat Nabi Muhammad Saw. sampai masa

P: 14

awal kerasulan beliau. Sebagian dari bagian ini didasarkan atas Hikayat Kejadian Nur Muhammad yang populer di Nusantara. Bagian kedua terdiri dari tiga episode, yaitu kisah Hasan dan Husain ketika masih kanak-kanak, riwayat hidup tiga khalifah al-rasyidin, yaitu Abu Bakar Siddiq, 'Umar Ibn Khattab dan Utsman Ibn Affan beserta karib kerabatnya; kemudian paparan riwayat hidup 'Ali Ibn Abi Thalib; dan terakhir kematian Hasan dan gugurnya Husain di Padang Karbala. Bagian ketiga, peperangan yang dicetuskan Muhammad 'Ali Hanafiyah sampai tewasnya Yazid dan raibnya Muhammad Ali Hanafiyah yang terperangkap dalam sebuah gua.

Versi Melayu juga menambahkan beberapa episode penting, seperti masa awal kerasulan Nabi Muhammad Saw., wafatnya Siti Khadijah, pembuangan Marwan, wafatnya Rasulullah, wafatnya Fatimah, dan upacara pemakamannya yang bersahaja serta dilakukan secara diam-diam oleh 'Ali Ibn Abi Thalib. Versi Persia menceritakan legenda yang berkaitan dengan masa kecil Hasan dan Husain secara panjang lebar, serta ramalan mengenai kematian mereka. Yang sulung akan mati diracun, dan adiknya wafat berlumuran darah di Karbala. Versi Melayu memaparkan secara ringkas legenda-legenda ini. Namun ke dalamnya, ditambahkan kisah- kisah yang berkaitan dengan kehidupan Ahl al-bayt dan apa yang mereka alami selama mendapatkan intimidasi dari Mu'awiyah.

Jika kedua versi dibaca dengan saksama, menurut Brakel, tampak bahwa banyak bagian dalam versi Melayu yang merupakan terjemahan langsung dari sumber Persia, tetapi membawa makna yang berlainan.

Misalnya pada bagian ketiga, terdapat kalimat dalam teks Melayu: “Maka segala hafiz pun mengaji al-Qur'an dan segala laskar pun dzikr Allah".

Teks Persianya: “Wa hamaye yaran o baradaran dar zekr o fekr dar-amadand" (Semua saudara dan teman memasuki pekuburan seraya mengingat yang wafat dan memikirkannya). Teks Melayu bernuansa kesufian, tampak dalam memberi makna terhadap kata-kata zikir.

Pada bagian kedua teks Persia yang menyajikan perkataan Syahrbanum kepada Yazid, tertulis kalimat: "Xak bar dar dahane to” (Telanlah bumi oleh

P: 15

mulutmu!). Dalam teks Melayu berubah makna: “Tanah itu masukkan ke dalam mulutmu!"Ketika Utbah melapor kepada Yazid, kata-katanya dalam teks Persia ditulis: “Man ham az Ibne mardanegiye isan gerixte amadim" (Kau telah bebas dari rasa takut disebabkan keberanian mereka). Teks Melayu:

“Adapun kami dengan gagah berani, maka kami dapat melepas diri kami.” Sekalipun demikian, tak pelak unsur Persia masih dipertahankan dalam teks Melayu. Kata-kata Persia seperti "gabayi namadin" diterjemahkan menjadi “kopiahnya namad merah’; kata-kata “si gaz gadd dasti" diterjemahkan menjadi tiga puluh gaz tingginya'; kata-kata “geysare* diubah menjadi 'kaisar'; “Umm-i Kulzum” (Arab: Umm al-Kulzum) dimelayukan jadi 'Ummi Kulzum', dan masih banyak lagi. Bahkan. kata- kata Persia, seperti "Zangi" (Negro) tetap tidak diubah. Perbedaan lain ialah bahwa beberapa lukisan kejadian yang terdapat dalam teks Melayu tidak ada dalam teks Persia (Brakel, 1975).

Episode Husain dan pengikutnya yang kehausan setibanya di Karbala tidak dijumpai dalam teks Persia. Episode ini diambil oleh penulis Melayu dari epos Islam lain yang juga masyhur, yaitu Hikayat Iskandar Zulkarnaen.

Dalam teks Melayu, kaum ‘Aliyūn disebut sebagai Ahl al-Sunnah juga, sedangkan lawan mereka, yaitu kaum Khawarij dan Umayyah, dipandang sebagai kaum munafik. Karakter Muhammad Ali Hanafiyah sebagai tokoh epos digambarkan mirip dengan tokoh historis abad ke-8 M bernama Abu Muslim, yang mengangkat senjata melawan pasukan Abbasiyah di Khurasan. Ketika itu, pasukan Bani Abbasiyah yang pada mulanya didukung kaum 'Aliyūn mulai memperoleh kemenangan atas pasukan Bani Umayyah. Ketika itulah, Abu Muslim mulai ditinggalkan, sehingga balik menentang Abbasiyah. Adapun deskripsi peperangan dalam hikayat tersebut tidak sedikit yang diilhami oleh deskripsi dalam epos Shahnamah karangan Firdawsi.

P: 16

Relevansi dan Makna Epos

Melihat luasnya daerah penyebaran hikayat ini di Indonesia dan sambutan terhadap kehadirannya, serta besarnya pengaruh terhadap perkembangan sastra Nusantara, layaklah apabila kita ajukan beberapa pertanyaan: Apa relevansi dan arti hikayat ini bagi orang Islam di Indonesia? Pesan moral apa yang dikandung di dalamnya hingga memberi pengaruh kuat dan mendalam bagi pembacanya di masa lalu dalam sejarah perkembangan Islam? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus memahami arti dan fungsi epos dalam kebudayaan Islam, serta kondisi-kondisi sosial dan kemanusiaan seperti apa yang memungkinkan kelahirannya. Karya sastra tidak lahir dari kekosongan sejarah. Di belakangnya senantiasa hadir faktor-faktor tertentu dan kemunculannya senantiasa mengacu pula pada konteks tertentu yang tidak jarang begitu kompleks. Pada permulaan berkembanganya Islam di Indonesia, para penyebar agama ini sadar bahwa yang diperlukan bukan hanya mengajarkan kandungan ajaran Islam berkenaan keimanan atau tauhid, serta tuntutan untuk berbuat kebajikan dan membangun akhlak yang mulia. Pengajaran tentang itu diperoleh melalui ilmu-ilmu dan kearifan Islam. Mereka juga sadar bahwa yang mesti dibangun adalah kebudayaan Islam. Kesusastraan adalah salah satu media penting untuk itu. Oleh karena itu, para penyebar Islam awal dan generasi-generasi selanjutnya itu berusaha pula memperkenalkan hasil- hasil kesusastraan Arab dan Persia yang telah diberi ruh Islam.

Fungsi atau peranan kesusastraan dalam tradisi intelektual dan kebudayaan Islam ialah memberi gambaran yang menyentuh hati bagaimana pokok-pokok ajaran Islam tentang tauhid atau keimanan, perbuatan saleh, akhlak yang mulia, atau keharusan amr ma rūf wa nahy munkar wa tu minūna biLlah diamalkan dalam segala lapangan kehidupan, termasuk kehidupan sosial, budaya, intelektual, etik dan estetik. Lebih jauh pula, bagaimana pengalaman religius dan pribadi, pengalaman sosial dan sejarah, serta pengalaman-pengalaman lain yang bersifat keruhanian dan

P: 17

duniawi, diekspresikan melalui ungkapan estetik yang menyentuh hati dan emosi.

Epos atau hikayat perang sebagai genre penting dalam sastra Islam berkenaan dengan pengalaman sejarah orang Islam, khususnya perjuangannya menegakkan ajaran agama. Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah perlu dijadikan ingatan kolektif, sebab di dalamnya mengandung pelajaran dan sekaligus dapat dijadikan sarana untuk membangun solidaritas sosial. Lebih jauh, dalam Islam, peranan epos bukan semata-mata untuk membangkitkan semangat dalam berjuang menegakkan kebenaran. Melalui epos, orang Islam juga diberitahu peperangan seperti apa yang diperbolehkan di jalan agama, untuk tujuan apa peperangan seperti itu dilakukan, siapa saja orang atau kelompok yang patut diperangi di jalan agama, bagaimana memperlakukan musuh yang sudah menyerah dan menawarkan perdamaian. Bagaimana pula jika diketahui perdamaian yang ditawarkan hanya sekadar tipu muslihat, sebagaimana banyak dialami kaum Muslimin sejak dulu hingga sekarang di berbagai belahan bumi.

Dalam Islam, perang tidak dimaksudkan sekadar membela negara dan bangsa, tetapi juga, terutama, menentang ketidak-adilan dan kezaliman yang sering bersimaharajela di dunia. Ini tercermin dalam epos, seperti Hikayat Sayidina Husain dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Juga dalam Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Iskandar Zulkarnaen. Hikayat- hikayat seperti itu jauh dari semangat chauvinistik seperti epos Yunani.

Juga tidak kelewat apokaliptik seperti epos Hindu. Peperangan antara pasukan Pandawa dan Kurawa di Kurusetra dalam Mahabharata, misalnya, digambarkan seperti perang akhir zaman di Armageddon. Musuh yang dikalahkan dibinasakan, begitu pula istri, anak-anak, dan ternak mereka.

Dalam epos Islam, musuh yang kalah menjadi tawanan dan kemudian dirangkul dalam persaudaraan Islam.

Motif utama perang dalam Islam ialah menentang sistem yang melahirkan ketidakadilan atau rezim yang menindas. Apakah rezim

P: 18

atau penguasa itu mengaku Muslim atau bukan Muslim, sama saja akan ditentang. Tepat sekali oleh karenanya apa yang dikemukakan Ferdinand de Lessep, si pembangun Terusan Suez hampir dua abad yang silam.

Katanya, “Bukan fanatisme yang mendorong semangat kaum Muslimin untuk menentang penguasa tertentu dan imperialisme, melainkan agama dan jiwa kebudayaan Islam itu sendiri yang menggerakkan mereka untuk berjuang dan yang mampu mempersatukan perjuangan mereka. Jiwa kebudayaan Islam yang mampu menggerakkan itu ialah penolakan atas ketidakadilan dan penindasan atas nama apa pun, jadi bukan disebabkan fanatisme atau fundamentalismenya," (Jansen, 1983).

Dalam hikayat yang kita bicarakan, yang di dalamnya dibeberkan aneka pengalaman sejarah berharga yang patut dijadikan ingatan kolektif orang Islam, contoh-contoh berkenaan dengan apa yang dinyatakan Ferdinand de Lessep banyak kita jumpai. Tawaran perdamaian yang disodorkan Mu'awiyah kepada Sayidina 'Ali dan diterima oleh sang khalifah adalah contoh kemuliaan hati Sayidina 'Ali yang tidak mau melakukan peperangan hanya disebabkan oleh dorongan kekuasaan dan nafsu membalas dendam. Namun, tahkim yang dilakukan setelah itu ternyata merupakan tipu muslihat untuk menyingkirkan 'Ali dengan cara yang tidak terpuji. Yang terakhir ini adalah contoh tindakan yang tidak mencerminkan rasa keadilan dan benar-benar zalim. Tipu muslihat serupa dialami ribuan kali oleh orang Islam dalam sejarahnya, bukan saja dulu, melainkan juga terlebih-lebih pada masa modern. Pangeran Diponegoro, pemimpin perang antikolonial di Jawa (1825—1830 M), ditawari perdamaian oleh Belanda untuk dijebak. Begitu sampai di tempat perundingan, beliau ditangkap dan diborgol tangannya untuk dijadikan tawanan seumur hidup. Bangsa Arab, khususnya Arab Palestina, mengalami hal serupa, berhadapan dengan penguasa zionis Israel. Banyak sekali perjanjian damai ditandatangani, tetapi tidak lebih dari tipu muslihat.

P: 19

Dorongan Sayidina Husain dan pengikutnya untuk memerangi Yazid juga tidak lebih dari ungkapan rasa kecewa melihat kezaliman dan penindasan yang dilakukan penguasa Umayyah atas kaum Muslimin.

Husain tidak memedulikan nasib apa yang akan menimpa dirinya.

Pengorbanan dan keberaniannya menentang penguasa yang zalim dan rezim penindas adalah teladan yang akan selalu dicontoh oleh mujahidin Islam yang sejati. Begitu juga keberanian adik tirinya, Muhammad 'Ali Hanafiyah, yang dengan gagah berani memimpin pasukan untuk mengakhiri kekuasaan Yazid, juga memberikan teladan yang terpuji. Tanpa memedulikan apakah di dalam hikayat ini terdapat propaganda ideologi Kaisaniyah atau Syi'ah secara umum. Relevansi dari epos ini semestinya dilihat melalui kacamata lain yang lebih jernih, yaitu dengan melihat dalam konteks sejarah yang bagaimana teks hikayat ini mulai ditulis dan disebarluaskan di Indonesia.

Hikayat ini, seperti epos Islam lain, khususnya Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Iskandar Zulkarnaen, telah hadir di Nusantara pada abad ke- 14 dan 15 M, periode-periode awal pesatnya Islam berkembang. Pada periode-periode ini, sudah pasti banyak tantangan dihadapi komunitas Muslim yang baru muncul ini. Tantangan yang paling menonjol bersifat politik dan kultural. Ini dapat dimengerti, karena ketika itu Sriwijaya- kerajaan Buddhis yang pernah berjaya di kepulauan Melayu pada abad ke-8-10 M-masih kuat kendati mulai dilanda krisis ekonomi yang menyebabkan pamornya pudar. Di Jawa Timur sedang bangkit sebuah kerajaan Hindu terbesar sepanjang sejarah, yaitu Majapahit (1292-1498 M). Pada pertengahan abad ke-14 M, ketika tampuk pemerintahan berada di tangan Prabu Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang terkenal, Gajah Mada, kerajaan ini berambisi memperluas wilayah imperiumnya.

Bagi memenuhi ambisinya itu, Majapahit mengirimkan pasukan militernya ke Sumatra, dengan tujuan menundukkan kerajaan-kerajaan Melayu, termasuk Sriwijaya.

P: 20

Pada kurun-kurun tersebut, banyak peperangan yang dihadapi komunitas Islam yang telah memiliki dua kerajaan besar dan makmur, yaitu Samudra Pasai (1272—1516 M) di Aceh Sumatra dan kesultanan Malaka (1400—1511 M) di Semenanjung Malaya. Yang terakhir ini merupakan lanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Ia didirikan oleh raja terakhir Sriwijaya, Prabu Paramesywara, yang berhasil melarikan diri bersama pengikutnya ketika ibukota kerajaan Sriwijaya diluluhlantakkan oleh tentara Majapahit pada akhir abad ke-14 M. Pada tahun 1411 M, ketika Malaka berkembang pesat menjadi pusat kegiatan perdagangan, Paramesywara menikah dengan putri raja Pasai dan memeluk agama Islam (Wolters, 1970). Sejak itu, Malaka menjadi pusat penyebaran agama Islam dan pusat kegiatan penulisan sastra Melayu Islam.

Samudra Pasai sendiri mendapat giliran untuk diserbu oleh armada Majapahit pada tahun 1350 M. Melalui peperangan sengit di laut dan darat, pada akhirnya Samudra Pasai menyerah. Namun, karena Pasai merupakan pelabuhan dagang penting dan strategis di Selat Malaka, negeri itu tidak dihancurkan seperti halnya ibukota Sriwijaya. Tentara Majapahit membawa banyak harta rampasan dan tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat banyak bangsawan lelaki dan wanita, saudagar, tabib, ulama, cendekiawan Muslim, dan mantan perajurit serta komandan perang. Di Majapahit, tawanan-tawanan perang yang berjumlah besar itu diberi tempat khusus di Ampel Denta. Karena begitu banyaknya pangeran- pangeran Majapahit terpikat pada putri Pasai, dan juga karena banyaknya putri Majapahit jatuh hati kepada pemuda Pasai, terjadilah pernikahan silang yang tidak terelakkan dengan keharusan memeluk agama Islam bagi pemuda Majapahit yang menikahi putri Pasai. Sejak masa itulah, agama Islam berkembang pesat di pulau Jawa (Ibrahim Alfian, 1999). Di daerah ini pulalah kelak lahir wali-wali utama penyebar Islam, seperti Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan lain sebagainya.

P: 21

Bukan, tidak mungkin dari komunitas Muslim awal di Jawa Timur inilah karya-karya Arab dan Persia, termasuk eposnya, diperkenalkan dalam kesusastraan Jawa. Puisi-puisi suluk karya Sunan Bonang, wali dan sastrawan prolifik yang hidup antara pertengahan abad ke-15 dan awal abad ke-16 M, mendedahkan bahwa pada akhir abad ke-15 M sudah banyak karya Arab dan Persia dikenal oleh kaum terpelajar Muslim di Pulau Jawa (Drewes, 1968). Berbagai perayaan keagamaan yang sampai sekarang masih hidup di Pulau Jawa, seperti Grebeg Maulud, Sekaten, Asura, dan lain-lain, diperkenalkan oleh para wali pada masa awal berdirinya kesultanan Demak awal abad ke-16 M. Perayaan-perayaan itu, khususnya Asura, dan penyelenggaraannya didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam teks-teks sastra Persia dan Arab, walaupun diberi kemasan budaya lokal.

Di kepulauan Melayu sendiri, hikayat berkenaan dengan kesyahidan Husain dan peperangan antara Muhammad Ali Hanafiyah dan Yazid, tidak kurang menonjol peranan dan pengaruhnya. Sumber sejarah Melayu yang awal, yaitu Hikayat Raja-Raja Pasai (akhir abad ke-14 M) dan Sejarah Melayu (abad ke-16 M), menunjukkan bukti bahwa epos- epos Persia dan Arab itu telah memberikan pengaruh kuat terhadap perkembangan kesusastraan Melayu sejak awal abad ke-14 M. Deskripsi tentang peperangan dalam Hikayat Raja-Raja Pasai, misalnya episode peperangan pasukan Tun Berahim Bapa dengan gerombolan orang Keling yang ingin membuat kekacauan di Pasai, sangat mirip dengan deskripsi yang terdapat dalam Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah (Hill, 1960).

Sumber-sumber Melayu juga menjelaskan bahwa sudah lazim orang Islam mengadakan majelis-majelis pembacaan sastra. Jenis sastra paling disukai dan kerap dibaca dalam majelis-majelis seperti itu ialah suluk (syair tasawuf), roman (kisah petualangan campur percintaan), dan hikayat perang atau epos. Khusus mengenai populernya Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah dijelaskan dalam Sejarah Melayu, yaitu dalam episode yang

P: 22

mengisahkan perang yang meletus antara Malaka dan pasukan Portugis yang menyerang untuk menguasai Malaka. Di situ dipaparkan bahwa pada malam hari, ketika perajurit-perajurit Malaka sedang istirahat di kapal perang, mereka meminta dibacakan sebuah hikayat perang untuk memelihara semangat. Hikayat yang dipilih untuk dibaca ialah Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Ini tidak mengherankan karena hikayat ini penting dalam berbagai aspek, termasuk aspek isi, emosi, nilai kebudayaan, dan sosiopolitiknya (Winstedt, 1970; 'Ali Ahmad, 1996).

Hasil-hasil penelitian yang mendalam berkenaan dengan perkembangan sastra Indonesia klasik memperlihatkan pula bahwa tidak sedikit hikayat-hikayat lokal dalam sastra Aceh, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Minangkabau, Sasak, Sunda, Banjar, dan lain-lain dilhami oleh hadirnya epos-epos Islam, seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sayidina Husain, Hikayat Iskandar Zulkarnaen, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Contoh yang paling cemerlang ialah Hikayat Hang Tuah dalam sastra Melayu, dan Hikayat Prang Geudong di Aceh yang memaparkan perjuangan Sultan Iskandar Muda, antara lain, mengusir angkatan laut Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka pada awal abad ke-17 M.

Juga memerangi raja Melayu yang bersekutu dengan kaum kolonial untuk menghancurkan Aceh Darussalam sebagai kesultanan Islam terbesar di Asia Tenggara ketika itu (Abdul Hadi W.M., 2001).

Tetapi momentum yang membuat epos Islam semakin memperlihatkan relevansi dan kebermaknaannya ialah pada abad ke-17 - 19 M, masa-masa maraknya perang anti kolonial yang dimulai dengan Perang Ternate pada awal abad ke-17 M sampai Perang Aceh yang berlangsung begitu lama pada akhir abad ke-19 M. Pemimpin peperangan ini sebagian besar adalah tokoh Islam, seperti pangeran, kapitan, guru tariqat sufi, raja, ulama, dan lain sebagainya. Pada umumnya tokoh- tokoh tersebut adalah pembaca karya sastra yang sangat menyukai epos.

Contoh terbaik ialah Pangeran Trunojoyo, pemimpin perang melawan VOC dan sekutunya Mataram pada akhir abad ke-17 M. Dan Pangeran

P: 23

Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830). Pada malam hari, seraya mempersiapkan diri untuk maju ke medan perang esok harinya, kedua tokoh itu sering membacakan epos Islam masyhur untuk komandan perang dan pembantu dekatnya. Kitab-kitab hikayat itu selalu dibawa setiap kali berpindah tempat (Ricklefs 1982).

Selama Perang Aceh berlangsung hampir empat dekade pada akhir abad ke-19 M, majelis-majelis pembacaan epos selalu berlangsung pada malam hari. Diilharni epos-epos yang telah ada, seorang penyair Aceh akhir abad ke-19 M Cik Pante Kulu menulis hikayat terkenal yaitu Hikayat Perang Sabil. Pembacaan hikayat ini oleh sang penyair, dan juga hikayat perang lainnya, mampu memulihkan semangat juang prajurit Aceh yang mulai melemah pada akhir abad ke-19 M. Paparan dalam Hikayat Saydina Usin sendiri di Aceh bukan saja dijadikan dasar penyelenggaraan hari Asan Usin atau hari Asura, tetapi juga mengilhami bentuk tari yang heroik dan masyhur Seudati. Tepukan dada berulang-ulang yang dilakukan penari Seudati dapat dirujuk pada deskripsi dalam Hikayat Sayidina Husain, yaitu episode takziyah, ketika Syahrbanum dan sanak saudaranya menangis dan menepuk-nepuk dada begitu mendengar Sayidina Husain gugur di Padang Karbala dengan tangan terpotong, tubuh berlumur darah dan kepala terpisah dari badan []

P: 24

BEBERAPA ASPEK ASYURA

MUSA KAZHIM

Imam Husayn revolution has successfully lived the victory of vales over illusion and fantasy, the winning of sacrifice and nobility over malice and brutality; the triumph of logic over harass; and the conquest of serenity over aggressiveness.

Imam's harakah aimed at strengthening hujjah of the truth. He attempted to demolish Islamic vicegerancy and its roots. His stood to challenge tyranny and injustice; to which the revolution of Karbala is an endured example of sacred movement toward the Divine.

Imam Husayn as through his revolution demonstrated how the oppressive tyranny, which manipulated religious symbols, played sentiments of power, presented terror and fear, bore out illusions of welfare and wealth; cannot survive for sacrifice and devotion of sacred blood, standing for justice and truth.

His dramatic struggle in Karbala cut dirty hands of oppressive tyrant who controlled Muslim ummah by terror and deception.

His choice of Karbala land was a choice within full consciousness of trans- historical context of his mission. He was totally aware in making Karbala sacred symbol of his eternal undertaking. In this regard, all mustad'afins can link up their fight with this witnessing.

P: 25

Tinjauan Umum

Asyura adalah hari perlawanan suci Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, terhadap kekuasaan korup yang tumbuh di dalam tubuh umat. Drama sakral itu membawa begitu banyak renungan dan pelajaran. Ribuan buku dan ratusan ribu makalah telah dibuat untuk merefleksikannya. Makalah sederhana ini hanyalah celah kecil untuk mengintip cakrawala yang luas tersebut. Oleh karena itu, tidaklah mungkin saya memberikan gambaran utuh tentang peristiwa agung pada Muharam 61 H itu melalui celah kecil ini. Berjilid-jilid buku pun sepertinya tak pernah bisa berlaku adil dalam memaparkan semua sisi yang terkandung di dalamnya, apalagi makalah sesederhana ini.

Secara garis besar, makalah ini mencoba memaparkan beberapa sisi Asyura, dengan tujuan memerikan rahasia kesucian dan keagungannya dalam sejarah Islam. Di antara sekian banyak sisi yang telah dibahas oleh para peneliti, demi keringkasan, saya akan mengemukakan tiga aspek ini: (1) aspek kesucian tujuan, (2) aspek pemilihan waktu, dan (3) aspek pemilihan tempat Sudah jamak kita ketahui bahwa tujuan utama Imam Husain ialah melaksanakan amr ma'ruf nahy munkar yang juga menjadi misi semua nabi, terutama misi Baginda Nabi Muhammad. Sebagaimana kakeknya, Imam Husain berupaya menarik masyarakat yang jatuh dalam ngarai apatisme terhadap kezaliman.

Masyarakat yang menyerah pada kezaliman, sadar atau tidak, sebenarnya sedang mengabsahkannya sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Mereka melihat kezaliman secara pasif dan permisif, sehingga siapa saja yang bangkit melawan tidak akan mendapat pendukung, terasing, dan dianggap sebagai pelaku bunuh diri. Perlahan-lahan, masyarakat ini beradaptasi dengan kezaliman dan membentuk simbiosis parasitisme dengan para penindas. Perintah agama untuk menegakkan keadilan pun kemudian dipelintir demi melegitimasi kekuasaan dan memvonis bersalah para penuntut keadilan.

P: 26

Dalam perjalanannya menuju Karbala, Imam Husain menyatakan tujuan itu sebagai berikut, “Tidakkah kalian saksikan bahwa kebenaran tidak lagi ditaati dan kebatilan tidak lagi dilarang. Menghadapi keadaan ini, seorang mukmin harus siap mengemban syahādah di jalan Allah Swt.” Atau, dalam ungkapan lain, “Jika agama Muhammad tidak bisa tegak kecuali dengan kematianku, maka, hai pedang-pedang, ambillah aku!" Masyarakat yang pasrah terhadap kezaliman (munzhalim) belum tentu tidak tahu bahwa kezaliman itu buruk dan harus dilawan.

Namun, mereka merasa tak berdaya. Semua kehendak dan alasan untuk melawan karam dalam kepasifan dan kepermisifan mereka. Penyair Arab, Farazdag, dengan cerdas meringkaskan sikap munzhalim itu dalam pertemuannya dengan Imam Husain yang sedang menuju Kufah. Farazdaq mengungkapkan, “Hati mereka bersamamu, tetapi pedang mereka terhunus untuk membunuhmu.” Syair ini secara gamblang melukiskan bagaimana masyarakat yang telah pasrah terhadap kezaliman bisa terjebak memusuhi dan membunuh pahlawan yang hendak bangkit melawan kezaliman.

Untuk membalikkan keadaan, seorang pahlawan harus siap melakukan pengorbanan paling agung, suci, dan dramatis. Bila pahlawan itu sedikit saja terkesan setengah-setengah atau terkotori oleh motif- motif pribadi dan kelompok, maka tentu masyarakat tidak bakal tersentuh dan tersadarkan. Keadaan masyarakat seperti itu mirip dengan pasien yang sekujur tubuhnya telah terjangkiti virus mematikan. Virus ini telah beradaptasi dengan sistem tubuhnya, sehingga tidaklah mungkin mengobati pasien ini, kecuali dengan obat generasi terbaru dan dalam dosis paling tinggi.

Gerakan Asyura berhasil mencerabut akar-akar virus itu dari tubuh umat. Virus kepasrahan itu pun terkejut dan melompat keluar dari sangkarnya. Gerakan Imam Husain berhasil menyadarkan dan menggugah-setidaknya sebagian umat dari sikap menerima kezaliman dan bergerak melawan hegemoni Yazid yang mencoba membangun imperium pertama dalam Islam. Ditinjau dari sudut ini, Imam Husain

P: 27

telah melakukan sesuatu yang paling agung dalam Islam. Kesyahidannya menjadi simbol perlawanan Islam terhadap kezaliman, sekalipun kezaliman itu mencoba berselubung di balik simbol-simbol Islam.

Gerakan ini menandai babak baru yang sangat penting dalam sejarah Islam: babak pertanggungjawaban atas berkembangnya skenario membangun imperium Islam yang korup dan bejat. Inilah perlawanan keluarga suci Nabi atas munculnya upaya sistematis untuk menjadikan Islam sebagai alat kekuasaan. Dan karena itu, ia dapat disebut, seperti akan kita bahas kemudian, “Hijrah Kedua” dalam sejarah Islam. Suatu hijrah untuk melawan dan mematahkan kezaliman yang berkedok Islam, sebagai kelanjutan hijrah pertama Nabi dari Mekkah ke Madinah untuk melawan dan mematahkan kezaliman kaum kafir Qureisy.

Oleh karena itu, tak syak lagi Asyura menjadi salah satu tonggak dalam sejarah Islam. Ada begitu banyak aspek yang dapat kita amati dalam peristiwa ini, dan tiap sisinya mengandung banyak makna yang sangat penting. Namun, tujuan terpenting Asyura adalah tumbuhnya kembali semangat menegakkan keadilan dari tubuh umat yang saat itu sedang asyik mengejar kesenangan dan menumpuk kekuasaan duniawi.

Rahasia Kesucian Gerakan

Saat kita mengatakan bahwa gerakan Imam Husain itu bersifat suci, maka maksudnya, ia tidak berangkat dari kepentingan pribadi dan kelompok untuk menumpuk uang, melanggengkan kekuasaan atau hasrat-hasrat rendah sejenisnya. Sebaliknya, ia adalah gerakan yang berangkat dari logika, hati nurani, pertanggungjawaban hamba kepada Allah, kecintaan pada keadilan dan motif-motif luhur lainnya. Dalam karyanya yang berjudul Hamāse-e Husayni, Profesor Murtadha Muthahhari merangkum tiga ciri kesucian gerakan ini. Saya sendiri akan menambahkan satu ciri lain yang mencerminkan kesucian gerakan Asyura.

Pertama, ciri-khas pertama kesucian gerakan Imam Husain terletak pada sasaran dan tujuan akhirnya yang tidak personal atau partisan.

P: 28

Sebaliknya, tujuan gerakan itu adalah menyelamatkan seluruh umat Islam dari sikap pasrah dan apatis terhadap kezaliman. Dalam hubungan dengan diri, keluarga, dan para sahabatnya, Imam Husain justru melakukan pengorbanan yang sangat besar.

Beliau tidak memobilisasi massa dengan intimidasi atau iming- iming, tidak merencanakan kudeta dengan menjanjikan konsesi, tidak menggunakan taktik makar, dan tidak menyusup ke dalam struktur kekuasaan Dinasti Umayyah dan menggulingkannya dari dalam. Imam Husain, misalnya, tidak pernah berpura-pura membaiat demi melancarkan aksi penggembosan dari dalam.

Imam Husain tidak memilih semua cara itu untuk menjaga kesucian dan kemurnian gerakannya. Beliau menolak cara-cara yang cenderung mengaburkan perbedaan antara pihak yang benar dan pihak yang salah sejak awal. Makar, infiltrasi, mobilisasi, kampanye, negosiasi, politik dagang sapi, dan sejenisnya dapat mengotori kesucian misi yang beliau emban.

Cara-cara seperti itu mungkin dapat dipakai oleh musuh-musuhnya untuk mencoreng misi dan tujuan Asyura.

Strategi Imam Husain adalah strategi melakukan penyempurnaan hujjah (argumentasi-peny.) kebenaran yang radikal. Beliau ingin membongkar manipulasi dan distorsi Kekhalifahan Islam itu sampai akar- akarnya. Beliau ingin menunjukkan kepada semua kalangan masyarakat bahwa beliau tak pernah bersentuhan dengan kezaliman atau memakai cara-cara yang umumnya dipakai oleh orang-orang zalim.

Bila Imam Husain memiliki kepentingan-kepentingan pribadi di balik gerakannya, tentu beliau tidak akan memboyong seluruh keluarga dekat dan sahabat yang paling beliau cintai dan beliau percayai. Charles Dickens, novelis Inggris yang kesohor, pernah menyatakan, "Jika Husain berperang untuk memuaskan hasrat-hasrat duniawinya ..., maka saya tak bisa mengerti mengapa saudara perempuannya, istrinya, dan anak- anaknya harus ikut bersamanya. Jadi, masuk akal kalau dia betul-betul tulus berkorban demi Islam.” Di hadapan akal dan hati manusia yang

P: 29

jernih, kesucian gerakan Imam Husain itu tampak begitu nyata dan jelas.

Dan, kesucian ini memang senantiasa beliau pelihara demi tujuan agung yang dibawanya.

Untuk memelihara kesucian ini pula, Imam Husain memulai gerakannya dari Mekkah. Dalam kesempatan berkumpulnya jemaah haji di Mina dan 'Arafah, beliau menerangkan tujuan-tujuan universal Islam secara singkat. Beliau juga melantunkan Doa 'Arafah yang kemudian menjadi salah satu teks paling unggul dalam literatur mistis Islam. Lantas, beliau membeberkan tujuan gerakannya sebagai berikut, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahatahu bahwa gerakan, kebangkitan, protes, perlawanan dan peperanganku ini bukanlah untuk memperebutkan kekuasaan seseorang, bukan untuk meraup harta dan perolehan duniawi, bukan pula atas dasar kerakusan, melainkan untuk mengembalikan ajaran-ajaran agama-Mu dan mewujudkan perbaikan di bumi-Mu, agar yang hamba-Mu tertindas merasa aman dan hukum-Mu yang terabaikan kembali ditegakkan." Kedua, visi dan pandangan jauh yang dibawanya. Saat semua orang gagal mengerti dan melihat, seorang pemimpin yang berpandangan jauh dapat mengerti dan melihat dengan jelas serta bening berbagai penyakit masyarakatnya. Lalu, dia bangkit dan bergerak untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Bisa jadi, jauh setelah gerakannya, barulah sebagian orang sadar dan memahami alasan pemimpin visioner itu bangkit dan melawan. Dengan berlalunya waktu, semakin banyak orang yang sadar dan mengerti tujuan-tujuan sakral di balik gerakannya.

Dengan kata lain, sebuah gerakan suci tidak hanya memiliki tujuan- tujuan jangka pendek, tetapi juga memiliki tujuan-tujuan jangka panjang, yang jauh melampaui sekat-sekat ruang dan waktu yang serba sementara.

Gerakan itu harus melampaui kalkulasi politik atau ekonomi yang sesaat.

Ia harus merupakan gerakan-meminjam istilah Henry Corbin—yang bersifat transhistoris, gerakan yang senantiasa relevan dengan keadaan manusia di semua tempat dan zaman.

P: 30

Gerakan Imam Husain adalah jenis gerakan seperti ini. Sekarang kita tahu dengan pasti karakter dan kepribadian Yazid juga segenap akibat buruk kekuasaannya. Kita juga tahu segala manipulasi dan distorsi yang dilakukannya melalui desain dan skema politik yang digulirkan jauh sebelum kekuasaannya.

Akan tetapi, hampir 80% kaum Muslim pada zaman itu tidak mengetahui fakta-fakta ini. Mereka tidak mengendus skenario besar yang telah lama dicanangkan oleh suatu elite dalam umat untuk mengukuhkan imperium tertentu, terutama karena tiadanya media massa seperti yang ada hari ini. Orang-orang pada zaman itu berkomunikasi lewat media yang sangat terbatas, dengan tingkat penyebaran yang sangat rendah.

Dari 20% yang tahu skenario itu, sebagian besar tidak berani melawan. Mereka mengira bahwa semua perlawanan akan berakhir sia- sia, dan lebih memilih berkompromi dengan realitas despotik tersebut.

Sementara 2% lain sama sekali sama sekali tidak tahu, seperti dalam kasus sebagian besar penduduk Madinah. Penduduk Madinah tidak memahami situasi yang terjadi. Mereka tidak mengetahui dengan persis karakter Yazid dan dampak-dampak kekuasaannya bagi keseluruhan umat Islam.

Baru setelah pembantaian keluarga Imam Husain di Karbala, penduduk Madinah terkesiap dan bertanya-tanya. Mengapa Imam Husain beserta segenap keluarga dan sahabatnya harus dibantai dengan begitu sadis?! Mengapa Yazid dan kaki-tangannya tega melakukan pembantaian sekeji itu? Alasan dan tujuan perlawanan Husain pun menjadi bahan perbincangan dan perhatian. Perlahan-lahan tetapi pasti, peristiwa pembantaian cucu Nabi itu menimbulkan dampak yang dahsyat.

Puncaknya, hegemoni Yazid yang tampak sedemikian kokoh di tengah-tengah apatisme masyarakat yang tertidur lelap itu pun ikut terguncang. Yazid tidak secerdik ayahnya, Mu'awiyah. Dia lebih suka mengandalkan insting kebinatangannya yang buas. Tidak terlintas dalam pikirannya bahwa peristiwa Karbala akan memupuskan semua cita-cita 31

P: 31

Hikmah Abadi Revolusi Imam Husain leluhurnya untuk mengangkangi simbol-simbol Islam demi membangun imperium dan dinasti Bani Umayyah.

Oleh karena itu, beberapa waktu setelah peristiwa Karbala, penduduk Madinah bersepakat mengirimkan delegasi ke Suriah yang terdiri atas sejumlah tokoh terpandang dan dipimpin oleh seorang bernama 'Abdullah Ibn Hanzalah, yang kelak dikenal dengan gelar "ghasil al-malā'ikah” atau "orang dimandikan oleh malaikat". Setelah tinggal beberapa hari di Suriah, delegasi penduduk Madinah ini terhenyak memandang kenyataan yang ada.

Saat kembali ke Madinah dan ditanya tentang apa yang mereka saksikan, mereka sampai berkata, “Apa yang dapat kami ungkapkan kepada kalian ialah saat kami berada di Damaskus, kami selalu takut jangan-jangan akan terjadi hujan batu (sebagai bentuk kutukan Allah atas kita semua).” Lantas, mereka berkata bahwa mereka telah melihat seorang khalifah yang meminum khamr di depan umum, berjudi, suka bermain-main dengan anjing dan monyet, serta melakukan incest (hubungan seksual) dengan salah seorang anggota keluarganya sendiri.

'Abdullah Ibn Hanzalah memiliki 8 putra. Dia berkata kepada segenap warga Madinah, "Entah kalian mau bangkit melawan ataupun tidak, aku akan tetap bangkit melawan, biarpun aku harus melakukannya sendirian dengan putra-putraku." Dia melaksanakan ikrarnya, dan terjadilah perlawanan terhadap pasukan Yazid yang hendak menyerang Madinah. 'Abdullah Ibn Hanzalah dan beberapa putranya gugur sebagai syuhada'. Kesyahidan 'Abdullah Ibn Hanzalah menyulut kemarahan lebih besar pada penduduk Madinah terhadap Yazid. Sejak itu, jaringan kekuasaan Yazid terkikis dan tak sanggup menghadapi perlawanan sporadis yang terjadi di hampir tiap titik wilayah Islam.

Salah satu tujuan Husain melakukan perlawanan di Karbala ialah untuk menggagalkan bergulirnya rencana jahat Dinasti Umayyah untuk mempergunakan simbol-simbol Islam dan sentimen-sentimen kesukuan dalam menguasai umat Muhammad. Bagi Husain, kekuasaan Yazid, 32

P: 32

Beberapa Aspek Asyura bila bertahan lebih lama lagi, akan berakibat pada lenyapnya Islam secara total dari kesadaran kolektif umat. Husain pernah menyatakan, “Katakan selamat tinggal pada Islam bilamana umat dipimpin penguasa semacam Yazid." Tujuan ini tampaknya dengan cepat dapat diraih oleh Imam Husain. Dan dalam konteks inilah “Darah mengalahkan pedang." (Ghalabatu al-dam 'ala al-sayf).

Demikianlah, Imam Husain berhasil melahirkan dan menghidupkan budaya kemenangan darah atas pedang, kemenangan nilai-nilai atas ilusi dan fantasi, kemenangan pengorbanan dan keluhuran atas kekejaman dan kebengisan, kemenangan logika atas caci maki, dan kemenangan ketabahan atas keagresifan.

Ketiga, ciri khas kesucian gerakan yang ketiga adalah kemampuannya untuk menguak dalih-dalih palsu yang melegitimasi sebuah kezaliman.

Sejak periode kekuasaan Mu'awiyah di Suriah, Bani Umayyah mencoba mendalangi distorsi besar di tengah-tengah Umat Muslim untuk mencoreng citra Keluarga Nabi. Sasaran utama mereka adalah supaya legitimasi dan kredibilitas 'Ali Ibn Abi Thalib yang tak tersaingi itu pelan-pelah akan hilang. Mereka mencoba mem-frame Imam 'Ali sebagai aktor intelektual di balik kematian Utsman. Lalu, mereka menelikung kemenangan Imam 'Ali di Perang Shiffin dengan tipuan tahkim, yang akhirnya berujung dengan keluarnya kelompok Khawarij dari kepemimpinan Imam 'Ali dan akhirnya Imam 'Ali terbunuh di Mihrab Masjid Kufah.

Imam 'Ali pernah mengungkapkan kepribadian Mu'awiyah dalam ucapan berikut, “Demi Allah, sesungguhnya Mu'awiyah tidaklah lebih cerdik daripadaku. Namun ia berhati culas dan tidak segan-segan berlaku keji. Sekiranya bukan karena aku membenci kecurangan, niscaya aku akan menjadi orang yang paling cerdik (memainkan kecurangan). Namun, setiap kecurangan pasti membawa pada kekejian, dan setiap kekejian pasti membawa pada kekufuran.”

P: 33

Pada tahap berikutnya, Mu'awiyah mencurangi Imam Hasan dengan butir-butir perjanjian damai yang dipaksakan. Dia juga memanipulasi hampir semua simbol Islam demi menggelindingkan rencana-rencana kotor itu. Dan inilah letak masalah besar yang mesti dihadapi dengan sebuah perlawanan dramatis dan kolosal yang untuk sekali dan selamanya bisa membedakan dengan jelas mana pihak yang benar dan mana pihak yang batil.

Gerakan Imam Husain, dengan segenap detailnya yang dramatis, kolosal, dan tragis itu sungguh berhasil menjungkirbalikkan manipulasi simbol-simbol yang dimainkan oleh Bani Umayyah. Bukan hanya itu! Imam Husain bahkan berhasil menunjukkan kepada umat Muslim pada khususnya, dan umat manusia pada umumnya, bahwa ilusi Bani Umayyah untuk mempermainkan sentimen-sentimen masyarakat dengan menampilkan kekejaman, teror, dan intimidasi di satu sisi serta sogokan dan politik uang di sisi lain, sesungguhnya tidak akan bisa mengalahkan suara kebenaran dan keadilan.

Imam Husain telah membuktikan dengan segenap aksinya bahwa kekuasaan yang bertopang pada kebatilan yang sangat cerdik memanipulasi simbol-simbol agama, memainkan sentimen-sentimen kesukuan, menghadirkan teror dan ketakutan, serta mengumbar ilusi-ilusi kesejahteraan dan kemakmuran; tidak mungkin bertahan menghadapi darah-darah suci yang berkorban demi kebenaran dan keadilan. Aksi dramatis Asyura di medan Karbala itu dengan cepat memotong tangan- tangan kotor Dinasti Umayyah yang ingin mengendalikan umat dengan tipuan dan teror. Di hadapan kedahsyatan hari itu, semua mata terbelalak dan semua distorsi tersingkirkan. Di hadapan pengobanan sebesar itu, hati manusia paling beku pun menjadi leleh dan tertunduk kembali menerima kebenaran.

Keempat, ciri lain kesucian gerakan Imam Husain ialah fakta bahwa gerakan itu bermula dari bawah. Maksudnya, gerakan itu tumbuh secara sosial dari akar rumput, sebagai pelayanan dan respons atas kebutuhan

P: 34

Beberapa Aspek Asyura umat. Ia bukan hasil rekayasa elite tertentu. Dalam bahasa modern, gerakan itu berproses dari bawah (bottom-up), bukan diperintah dari atas (top-down).

Beberapa saat setelah Yazid berkuasa di Damaskus, Imam Husain menerima ribuan surat dari berbagai penjuru dunia Islam. Surat yang paling banyak berasal dari warga Irak. Keberangkatan Imam Husain ke Irak, sebagaimana keberangkatan Nabi ke Madinah, merupakan bentuk pelayanan pada umat yang membutuhkannya. Beliau bukan ingin menghindari nestapa atau kematian, seperti yang diduga sebagian orang, tetapi ingin melayani manusia dan menyambut jeritan mereka. Imam Husain memilih Kufah, lantaran di sanalah, menurut ratusan (sebagian versi menyebut ribuan) surat yang beliau terima, para penduduk sudah tidak lagi tahan terhadap kekejaman kaki tangan Yazid.

Untuk mengilustrasikan suasana pengiriman salah satu surat, kita dapat melihat peristiwa yang terjadi di depan rumah Sulaiman Ibn Surd al-Khuzai. Sesaat setelah Mu'awiyah mati dan Yazid memegang tampuk kekuasaan, para pendukung Imam 'Ali berkumpul di rumah Sulayman dan bersama-sama mengucapkan syukur kepada Allah atas kematian Mu'awiyah. Sulayman lalu mengatakan di hadapan ratusan orang yang hadir di sana, “Mu'awiyah telah meninggal dan Husain Ibn 'Ali menolak baiat kepada Yazid. Kini beliau berangkat menuju Mekkah. Kalian adalah pendukung Husain sebagaimana sebelumnya kalian mendukung ayahnya, ‘Ali. Jika kalian telah siap membantunya dan mengorbankan nyawa untuk melawan musuhnya, maka kalian harus memberitahunya melalui sebuah surat. Namun jika kalian takut, jangan kalian menipunya dan memintanya datang ke sini." Hadirin yang berada di depan rumahnya lantas bersama-sama menyatakan kesiapan mendukung dan berkorban untuk Imam Husain.

Mereka juga dengan jelas menyatakan bahwa mereka telah lama tertekan di bawah kekuasaan Mu'awiyah dan bakal hidup lebih sengsara di bawah

P: 35

kekuasaan Yazid. Mendengar jawaban itu, Sulayman mengajak mereka bersama-sama menulis surat sebagai berikut.

Bismillāhi-Rahmän-ni-Rahim Surat ini ditulis oleh Sulayman Ibn Surd, Musayyab Ibn Najbah, Rafa Ibn Shaddad al-Bajali dan Habib Ibn Mazhahir di hadapan sejumlah kaum Muslim dan pendukung setia Husain Ibn Ali yang tinggal di Kufah: “Salam sejahtera untuk Anda. Segala puji bagi Allah tiada tuhan selain-Nya. Terpujilah Dia yang telah menghancurkan musuhmu yang menindas dan bengis, orang yang menguasai umat ini, merampas kendali pemerintahan secara tidak sah, mencuri harta umat, dan menjadi penguasa kaum Muslim tanpa persetujuan mereka. Lalu, dia membunuh orang- orang paling saleh dan menyisakan orang-orang keji. Dia membiarkan harta Allah di tangan para penindas dan golongan kaya. Semoga Allah mengutuknya seperti Dia mengutuk kaum Tsamud. Sekarang ini, kami, masyarakat Irak, tidak memiliki pemimpin atau Imam. Maka itu, kami meminta Anda untuk berangkat menuju kami dan memimpin kami." Atas persetujuan hadirin, Sulayman lantas menyuruh 'Abdullah Ibn Suba al-Hamadani dan 'Abdullah Ibn Wal untuk bergegas ke Mekkah dan menemui Imam Husain di sana. Pada 10 Ramadan 60 H, kedua orang ini sampai di hadapan Imam Husain dan memberikan surat tersebut.

Dalam buku A Probe into the History of 'Ashūrā, Dr. Ibrahim Ayati mencatat setidaknya 150 surat dari warga Kufah saja. Setiap surat ditulis oleh paling sedikitnya empat orang. Jadi, pukul rata saja, sedikitnya 600 warga Kufah telah meminta Imam Husain untuk pergi memimpin dan membantu mereka. Proses demokratis ini berjalan cukup lama sebelum beliau memutuskan untuk pergi menemui mereka.

Rahasia Aspek Waktu

Salah satu aspek penting lain dalam peristiwa Karbala adalah waktu yang dipilih oleh Imam Husain untuk pergi dari Madinah sampai hari kesyahidannya. Sudah banyak sekali kajian seputar masalah ini. Saya hanya akan memberikan gambaran umum tentang rahasia penting ini agar kita

P: 36

bisa menelaah lebih jauh keagungan peristiwa ini dan nilai-nilai besar yang dikandungnya.

Pertama, sejarah merekam bahwa Imam Husain pergi meninggalkan Madinah menuju Mekkah pada hari ketiga Syakban tahun 60 Hijriah.

Mulai hari itu sampai 8 Zulhijah 60 H, beliau menetap di Mekkah. Di kota suci ini, Imam Husain bertemu dengan ribuan kaum Muslim dari berbagai penjuru dunia. Beliau juga memberikan berbagai wejangan, sekaligus menjelaskan falsafah gerakan perlawanannya. Jelas bahwa keberadaan beliau di Mekkah pada bulan-bulan suci itu merupakan bagian dari rencana matang yang telah beliau persiapkan sejak semula.

Seperti sudah kita ketahui bersama, Syakban dan Ramadan adalah dua bulan yang banyak mengandung nilai kesucian dalam Islam. Pilihan beliau untuk berangkat dari Madinah pada awal Syakban itu sama sekali tidak boleh dipandang sebagai kebetulan belaka. Pilihan itu jelas sekali untuk mendukung dan memperjelas posisi kesucian gerakan beliau.

Rajab, Syakban, dan Ramadan adalah tiga di antara 12 bulan Islam yang dianggap sebagai bulan-bulan ibadah. Namun, di antara ketiganya, Ramadan jelaslah yang paling bernilai. Di bulan inilah Allah memerintahkan manusia untuk berpuasa; berpuasa dari kelalaian, kebodohan, kesombongan, pencarian dunia. Dalam banyak hadis, Nabi menyatakan bahwa ibadah yang terbaik adalah bertafakur dan mengekang diri dari segenap larangan-Nya, agar kemudian kita dapat berbuka dengan pencerahan dan kesadaran baru.

Sudah barang tentu, tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengingatkan kaum Muslim akan kerusakan yang ditimpakan oleh kekuasaan Yazid atas Islam selain Ramadan. Selain akan mendukung pesan-pesan suci beliau, di bulan ini kebanyakan kaum Muslim berada pada tingkat kesucian yang lebih dari biasanya. Di bulan suci ini, Imam Husain ingin mengingatkan umat akan kewajiban tertinggi Islam yang merupakan konsekuensi langsung dari tauhid, yaitu menegakkan keadilan dan melawan penindasan.

P: 37

Kedua, Imam Husain juga memilih pekan pertama bulan Zulhijah, tepatnya tanggal 8, untuk memulai perjalanannya menuju Kufah. Kita tahu bahwa ibadah haji mempunyai dimensi sosial, politik, dan ekonomi yang sangat kental. Pada momen ibadah ini, Imam Husain mengumandangkan manifesto gerakannya. Apalagi kita tahu bahwa dalam ibadah haji ini, Allah memerintahkan kita untuk menyatakan bara'ah (lepas tangan) dari kaum musyrik dan segala kejahatan. Nah, memilih bulan ini untuk menyerukan perintah barā’ah sangatlah strategis dan tepat sasaran.

Manakala banyak Muslim berihram untuk melaksanakan ibadah haji, cucu Nabi ini justru meninggalkan Mekkah. Beliau hanya melakukan umrah dan tidak melanjutkan haji. Setelah bertawaf mengelilingi Ka'bah dan melakukan sa'i antara Shafa dan Marwa, beliau melepas ihram.

Kejutan seperti ini beliau pakai untuk menambah bobot dalam gerakannya.

Beliau berharap masyarakat Muslim bertanya-tanya dan mencari alasan di balik pilihan ini.

Di hadapan para jemaah haji yang datang menemuinya waktu itu, Imam Husain mengatakan bahwa tidak ada yang dapat beliau lakukan, kecuali beranjak menyambut kesyahidan. Pada hari terakhir keberadaannya di Mekkah, Imam Husain berkata, “Aku bisa melihat serigala-serigala padang pasir Irak menyerangku di antara Nawawis dan Karbala dan merobek-robek tubuhku. Mereka melakukannya demi memenuhi kantong- kantong harta mereka. Urusan mereka adalah memuaskan kerakusan, sedangkan urusanku adalah melawan kerusakan dalam masyarakat dan agama ini. Allah telah memilih kesyahidanku sebagai penyembuh dan jalan perbaikan keadaan .... Hanya orang yang siap mengorbankan nyawanya di jalan Allah yang akan menemaniku." Sebagian pengamat menyatakan bahwa beliau tidak ingin para kolaborator Yazid merusak kesucian Mekkah dan membunuhnya di sana.

Beliau khawatir tindakan itu akan menjadi preseden buruk bagi Islam di kemudian hari. Namun, agaknya, upaya beliau meninggalkan ihram dan berangkat menuju Kufah pada tanggal 8 itu juga untuk menunjukkan

P: 38

sikap yang lebih fundamental: bahwa apa yang beliau lakukan lebih penting ketimbang semua ibadah ritual apa pun. Beliau sedang melakukan penyelamatan Islam dari tangan-tangan para durjana. Dan ini memang tampak jelas bagi siapa saja yang pada waktu itu berkumpul mendengarkan ceramah-ceramah Imam di Mekkah.

Saat Muhammad Ibn Hanafiyah memberitahukan bahwa orang- orang Mekkah dan jemaah haji bertanya-tanya mengapa dia pergi sehari sebelum Hari Raya Haji, Imam meninggalkan surat kepada saudaranya yang menerangkan maksudnya dengan jelas. Surat itu antara lain berisi:

"Aku tidak keluar untuk melakukan huru-hara atau penindasan. Aku ingin membawa umat ini kembali ke jalan amr makrüf naby munkar. Aku ingin mengajak mereka ke jalan kakekku Rasulullah dan ayahku 'Ali Ibn Abi Thalib." Ketiga, Imam Husain tiba di Karbala pada 2 Muharam. Dan, Muharam adalah bulan hijrah Nabi yang kemudian dijadikan tahun baru Islam. Imam Husain memilih tiba di sana pada awal Muharam untuk tujuan yang juga sangat penting. Salah satu tujuannya ialah mengaitkan hijrahnya dengan hijrah Nabi. Imam Husain ingin mengingatkan kita pada tujuan hijrah Nabi ke Madinah yang tak lain adalah membangun masyarakat Islam yang berkeadilan. Nabi tidak berhijrah untuk kekuasaan atau sejenisnya, demikian pula Imam Husain.

Tahun baru Islam ini juga beliau jadikan momentum untuk menyegarkan kembali kesadaran umat akan Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Setidaknya, ada dua esensi Islam yang didengung- dengungkan oleh Imam Husain sepanjang perjalanannya, (a) tawhid, yakni tiada Tuhan dan penguasa selain Allah dan bahwa semua kekuasaan yang tidak tegak di atas perintah Allah adalah kekuasaan yang zalim; dan (b) tidak ada keunggulan satu manusia atas manusia lain, kecuali dengan ketakwaan. Dan seperti kita tahu, ketakwaan dalam Islam merupakan istilah generik untuk semua kebajikan.

P: 39

Kita tahu bahwa di zaman itu, umat Islam diterpa oleh fitnah jahiliah yang mempermainkan sentimen kesukuan, fanatisme kelompok, dan semangat regional. Banyak kalangan masyarakat Arab yang kembali menjalin afinitas berdasarkan hubungan-hubungan seperti ini sehingga Imam Husain mendesak semua orang untuk tidak berpikir dengan landasan konyol seperti itu.

Sejak Nabi wafat hingga kebangkitan Imam Husain, masyarakat Islam sering terpecah berdasarkan suku (tribalisme), muhajir versus nonmuhajir (partisanisme), Kufah versus Syam (regionalisme), dan sebagainya. Seperti juga kakeknya, Imam Husain hendak menyatakan bahwa kelebihan atau kekurangan orang adalah konsekuensi pilihan bebasnya sendiri, bukan berpijak pada hal-ihwal yang tidak bisa dipilihm seperti garis keturunan, tempat kelahiran, dan semacamnya. Selain itu, baik Nabi maupun Imam Husain sebenarnya sama-sama bergerak untuk menyambut permintaan warga setempat. Mereka sama-sama bergerak dengan niat melayani, bukan memerintah atau menguasai.

Pada kali pertama perjumpaannya dengan pasukan Ibn Ziyad di Karbala, Imam Husain menyerukan khotbahnya sebagai berikut, “Ingatlah, bila kalian melihat penguasa melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya, bergelimang dosa dan menindas rakyat yang dipimpinnya, tetapi kalian tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan penguasa macam itu, maka di hadapan Allah kalian dan dia sama-sama berdosa." Lalu beliau menambahkan, "Orangtuaku tidak membesarkanku untuk tunduk pada penindas yang keji. Aku adalah Imam kalian dan sudah menjadi kewajibanku untuk memberi tahu kalian bahwa kalian telah menyerahkan kemerdekaan pikiran kalian pada cara-cara jahat Yazid. Jika kalian tidak peduli pada Islam, dan tidak takut hari perhitungan, maka setidaknya pedulilah pada karunia Allah yang berharga bagi kalian, yakni kemerdekaan jiwa kalian!" Di samping keserupaan tujuan, hijrah Nabi dan hijrah Imam Husain juga memiliki keserupaan dalam pola dan metode. Misalnya,

P: 40

keduanya sama-sama mengutus delegasi untuk memastikan kesiapan warga setempat, melakukan inspeksi lapangan, dan menemui pimpinan suku-suku setempat. Kesimpulannya, yang jelas, siapa saja yang membaca sejarah hijrah Nabi dan gerakan Asyura akan menemukan sekian banyak keserupaan, baik dalam tujuan maupun pola gerakan. Pemimpin Hizbullah, Sayyid Hasan Nashrullah, dalam seri ceramah Asyura tahun ini telah mengupas berbagai titik persamaan antara kedua hijrah tersebut.

Rahasia Aspek Tempat

Salah satu aspek penting dalam gerakan Imam Husain adalah tempat- tempat yang beliau lalui menuju Karbala. Belum ada riset luas mengenai signifikansi khas masing-masing tempat, tetapi jelas bahwa semua tempat yang Imam singgahi memiliki arti penting bagi keseluruhan strategi dan keberhasilan gerakannya.

Marilah kita mulai dengan kota yang paling penting, Mekkah.

Sebagai Muslim, kita percaya bahwa inilah tempat paling suci di muka bumi. Inilah tempat pertama yang Allah bangun sebagai rumah ibadah. Di sini, Nabi Ibrahim melakukan ibadahnya yang mencerminkan tauhid dan melakukan pengorbanan terbesarnya, berupa penyembelihan Ismail. Inilah kiblat, tempat ibadah haji dan berkumpulnya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan dari sini pula, Nabi mengawali perjuangannya menyebarkan ajaran tauhid.

Keberangkatan Imam Husain dari Mekkah semakin mempertegas keserupaan kedua hijrah ini. Imam ingin menjaga keserupaan ini dalam semua dimensinya, termasuk secara lahiriah, sedemikian hingga ingatan tentang hijrah akan membawa orang pada ingatan tentang Asyura. Pilihan Mekkah sebagai titik tolak ialah untuk meletakkan hijrah Nabi dan Asyura dalam satu lingkaran misi yang utuh. Barangkali dalam koteks inilah seharusnya kita memahami hadis Nabi yang berbunyi, "Husain dariku dan aku dari Husain. Allah mencintai siapa saja yang mencintai Husain."

P: 41

Setelah beranjak dari Mekkah, ada 13 persinggahan lain yang Imam Husain lalui sebelum tiba di Karbala. Saya akan mengutip beberapa di antaranya dari Route of Imam Hussain (A.S) from Mekkah to Karbala karya Syed MR Shabbar. Persinggahan pertama Imam Husain adalah Saffah.

Di sini, Imam bertemu dengan Farazdaq, penyair Arab yang ditanyai oleh Imam tentang keadaan penduduk Kufah. Mendengar kata-kata Farazdaq yang sudah kita kutip di atas, Imam menjawab, “Allah telah mengambil keputusan. Aku serahkan nasibku kepada-Nya yang telah memberiku alasan yang benar untuk bergerak.” Selanjutnya, Imam singgah di Dzat al-Irq. Di tempat ini, beliau bertemu dengan 'Abdullah ibn Jafar yang menyerahkan dua anak lelakinya, Auwn dan Muhammad, kepada ibunya, Sayidah Zainab, untuk membantu Imam. 'Abdullah membujuk Imam untuk kembali ke Madinah, tetapi Imam menjawab, "Nasibku di tangan Allah.” Di Zurud, kota atau desa berikutnya, Imam bertemu dengan Zuhair Ibn Qain. Zuhair bukan termasuk pengikut Ahlulbait. Namun, ketika Imam memberitahukan tujuan perjalanannya, Zuhair menitipkan semua hartanya kepada istrinya dan menyuruhnya pulang sendirian, karena dia berniat menjadi syahid bersama Husain.

Sesampainya di Zabala, tidak jauh dari Zurud, Imam mendengar berita syahadah Muslim Ibn Aqil, utusannya untuk menengok warga Kufah. Imam berkata, “Innalillahi wa inna ilayhi raji'un. 'IndaLlahi nahtasib anfusana" (Kita berasal dari Allah dan pasti kembali kepada- Nya. Pada-Nyalah semua diri kita pasrahkan). Seorang dari suku Asadi mencoba membujuk Imam untuk balik, tetapi beliau bergeming. Di sini, Imam memberitahukan sahabatnya tentang kematian Muslim dan Hani, dan bahwa orang Kufah telah berkhianat. Imam berkata, "Siapa yang ingin pergi, silakan.” Kumpulan orang dari berbagai suku yang ikut dalam perjalanan dengan harapan mendapatkan pampasan perang menyadari harapan mereka menemui jalan buntu. Mereka pun akhirnya berpencar pulang. Hanya 50 orang yang tetap tinggal bersama Imam Husain.

P: 42

Lalu, Imam bermalam di Sorat dan pagi harinya beliau memerintahkan para sahabatnya untuk membawa air sebanyak mungkin.

Tak jauh dari Sorat, tepatnya di desa Zuhasm, Imam bertemu dengan al- Hurr yang membawa pasukan 1000 orang. Mereka kehausan, lalu Imam memerintahkan para sahabat untuk memberi air pada mereka. Imam sendiri menolong beberapa tentara yang kehausaan untuk minum. Bahkan, binatang mereka pun diberi minum. Selepas salat Zuhur berjamaah, Imam mengabarkan pada al-Hurr tentang surat-surat yang dia terima dari Kufah.

Beliau berseru, “Wahai warga Kufah, kalian kirim delegasi dan ratusan surat untuk menyatakan bahwa kalian tidak punya pemimpin dan memintaku datang untuk memimpin kalian di jalan Allah. Kalian menulis bahwa kami Ahl al-Bayt lebih pantas mengendalikan urusan kalian daripada para pelaku zalim dan batil. Tetapi, jika kalian mengubah putusanmu, mengabaikan hak kami dan melupakan janji kalian, maka aku akan kembali.” Keesokan harinya, Imam Husain sampai di Baiza dan memberikan khotbahnya yang terkenal. “Wahai manusia, Nabi telah berkata bahwa jika seseorang menjumpai pemimpin tiran, menyeleweng dari jalan Allah dan Nabi dan menindas orang, tetapi kalian tidak melakukan apa-apa lewat perkataan atau tindakan untuk mengubahnya, maka keadilan Allah yang akan menghukumnya. Tidakkah kalian melihat nistanya keadaan kalian ....

Tidakkah kalian perhatikan bahwa kebenaran tidak diikuti dan kebatilan berlaku tanpa batas. Aku akan mencari syuhada', karena hidup di tengah kesesatan tidaklah berarti apa-apa, kecuali kesedihan dan penderitaan." Di Uzaibul Hajanat, Imam bertemu dengan Tsimmah Ibn Adi. Setelah mengetahui Kufah telah menelantarkan utusannya, Muslim Ibn Aqil, Imam tidak lantas kecil hati. Saat Tsimmah menawarkan bantuan 20.000 tentara terlatih dari sukunya untuk mengiringi Imam ke Kufah atau berlindung di pegunungan. Imam menjawab, “Semoga Allah memberkahimu dan orang-orangmu. Aku tidak bisa menarik kata-kataku." Dari jawaban ini jelas bahwa Imam mengerti sepenuhnya situasi yang bakal dia hadapi.

P: 43

Dia juga telah mempersiapkan strategi jitu untuk mengadakan revolusi demi penyadaran kaum Muslim. Dia tidak mencoba memobilisasi pasukan militer yang dapat dengan mudah dia lakukan sejak di Hijaz, sebagaimana dia juga tidak mengambil kesempatan mendapatkan kekuatan militer baru.

Pada hari pertama Muharam, Imam dan rombongan tiba di wilayah Nainawa. Rombongan melanjutkan prosesi melewati Ghadiriyah menuju lokasi yang disebut dengan Karbala. Sebelum berhenti, Imam menanyakan nama lokasi itu. Seseorang memberitahunya bahwa tempat itu bernama Karbala. Imam lalu menjawab, “Memang, inilah tempat karb wa balā (kegelisahan dan prahara). Mari kita berhenti di sini karena kita telah tiba di tujuan. Ini adalah tempat kesyahidan. Inilah Karbala." Karbala adalah sebuah tempat yang unik dalam sejarah manusia.

Nama-nama lain wilayah ini adalah Nainawa, al-Ghadiriyah, dan Tepian Furat (syäthi' al-furät). Masing-masing nama itu sepertinya merujuk pada salah satu karakteristik wilayah tersebut. Sebagai pembukaan, saya akan mengutip pasase dari tulisan 'Abdullah Yusuf Ali, penerjemah al-Qur'an yang sangat terkenal itu.

“Dalam rangka memberikan gambaran geografis seputar tempat tragedi besar ini terjadi, saya merasa beruntung punya ingatan pribadi tentangnya. Semua ingatan itu mempertegas gambaran di benak saya, dan mungkin bisa juga membantu Anda.

Ketika saya mengunjungi tempat-tempat itu pada 1928, saya ingat datang dari Baghdad melalui seluruh titik yang dilewati oleh Sungai Eufrat. Saat saya menyeberang sungai dengan perahu di al-Musaiyib pada pagi cerah bulan April, benak saya meloncat ke abad-abad silam.

Di sisi kiri aliran sungai itu ada tanah tua dari sejarah Babilonia, stasiun kereta Hilla, dan reruntuhan Kota Babilon. Di situ, Anda menyaksikan salah satu peradaban kuno terbesar. Lantaran mungkin bercampur debu, baru beberapa tahun terakhir ini kita menyadari kebesaran dan keagungan tempat itu.

Lalu di situ, Anda menemukan arus besar Sungai Eufrat, yang dinamai dengan Furat, sebuah sungai yang tiada bandingnya. Sumber air yang berhulu dari berbagai tempat di pegunungan Armenia Timur

P: 44

mengalir meliuk-liuk melewati daerah perbukitan, dan akhirnya menyusuri gurun pasir, seperti yang kita ketahui sekarang. Di tiap cabang atau anak sungainya, ia mengubah gurun menjadi daerah perkebunan buah-buahan. Dalam ungkapan indahnya, Eufrat telah membuat gurun pasir mekar seperti mawar. Sungai ini menyusur sampai ujung Timur gurun Suriah, lalu mengalir ke rawa-rawa.

Di bagian yang tidak jauh dari Karbala sendiri, terdapat danau-danau yang menampung air dan menjadi sumber air untuk keperluan hidup.

Ke bawah lagi, sungai ini bersatu dengan sungai lainnya, yaitu Tigris, dan gabungan aliran sungai ini dikenal sebagai Shatt al-Arab yang mengalir sampai ke Teluk Persia.” Namun, gambaran geografis 'Abdullah Yusuf 'Ali itu belum menjelaskan rahasia tempat ini, dan mengapa sebenarnya Imam memilih Karbala sebagai tanah kesyahidannya? Ada banyak teori yang dikemukakan untuk menjawab soal ini. Secara umum, ada dua teori saling berhubungan yang mencoba menyingkap rahasia tempat itu. Pertama, tempat ini dipilih berdasarkan isyarat Ilahi yang diterima oleh Nabi tentang kesyahidan Imam Husain. Oleh karena itu, saat mendengar nama Karbala, Imam yang pernah mendengar isyarat Ilahi itu dari Nabi langsung meminta para sahabatnya untuk mendirikan tenda dan menetap di situ. Menurut teori ini, ada misteri Ilahi yang agung dalam pemilihan tempat tersebut.

Kedua, sejalan dengan teori pertama, Imam memilih tempat ini karena ia berada di wilayah paling tua dalam sejarah manusia, yakni Mesopotamia.

Seperti sudah kita tahu, di Mesopotamia itulah manusia mulai kali pertama mencatat sejarahnya sekitar 3500 tahun sebelum Masehi. Sejak ribuan tahun itu pula, manusia telah membangun ratusan peradaban di Sungai Eufrat dan Tigris. Para ahli sejarah menyebut Mesopotamia (secara harfiah berarti, 'di antara dua sungai') sebagai cradle of civilization (buaian peradaban). Jadi, Karbala dipilih dengan kesadaran penuh Imam akan sebuah konteks transhistoris dari misi yang diembannya. Imam sadar betul bahwa Karbala dapat menjadi lambang keabadian misinya.

Semua manusia tertindas di muka bumi ini dapat mengaitkan dirinya

P: 45

dengan tanah persaksian itu. Dan karena itu, setelah peristiwa Asyura, di mana-mana kita mendengar slogan, “Kullu yaumin "āsyūrā wa kullu ardhin Karbala (Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala).

Edward G. Brown, seorang profesor di University of Cambridge, pernah menulis: "... Ingatan akan Padang Karbala yang bersimbah darah, tempat cucu Rasul gugur, tak berdaya, disiksa oleh dahaga, dan dikerubungi oleh para pembunuh keluarganya, sejak waktu itu hingga sekarang ini tetap memadai untuk menimbulkan, sekalipun di hati orang yang paling suam dan tak peduli, sebuah emosi yang terdalam, kesedihan yang meluap-luap, dan kebangkitan semangat yang di hadapannya semua rasa sakit, bahaya, dan kematian menjadi demikian remeh." Derita kesyahidan, dengarlah, adalah hari kegembiraan.

Yazid tidak mendapatkan sebutir atom pun dari cinta ini.

Kematian adalah hujan (berkah) bagi anak-anak Ali.

WaLlahu a'lam bi al-shawāb

P: 46

IMAM HUSAIN OLEH IMAM HUSAIN

'ABDILLAH BAA'BUD

Riwayat transmitted from generation to generation on the heroic scuffle of Imam Husayn, narrates the history in tremendous utterances of great figures raised with him and coward puppets crept around him. Times of difficulties testified who stood as genuine companion and who betrayed and deceived him for fear, indignity or greediness of worldly life. Walid ibn Utbah, governor of Medina was chronologically first of the latter group, followed by Marwan Ion Hakam, Abdullah Ibn Zubayr, Abdullah Ibn Umar, Kufah people, Ibn Ziyad and of course other dog slaughterers of the tyrant. On the other side, Muslim Ibn Agil, Hani Ibn Urwah, Zuhair Ibn Qain, Habib Ibn Muzhohir, Abul Fadhl al-Abbas along with families and relatives, companions of Ahl al-Bait' in the group of seventy two were standing as martyrs. Karbala tragedy is a testimony of true belief and until today, it provides indicators for those who claim love and devotion to the religion of Allah.

The historical record reported on Karbala massacre, events preceded it, spots of happenings followed after, illustrates proofs for the prophet's sayings and prayers of Imam. The martyrdom of Imam Husayn was mentioned by the prophet during his life. Massive slaughter and tragic oppression on people of Kufah during the time of Hajjaj Ibn Yusuf as the result of their deception to Imam was another proof. After all, the sacrifice and devotion shown by Imam

P: 47

Husayn and his truthful companion inspire anyone who struggle on the path of Jihad, set foundation of the veritable meaning of Islam, Imān and Ihsān, as well as provide precious lesson for those who are aware and live in courage and dignity.

Seiring kematian Mu'awiyah pada pertengahan Rajab tahun 60 H, putranya yang bernama Yazid langsung naik takhta dan menduduki kursi khilafah (karena jauh hari sebelum wafat, Mu'awiyah telah menobatkan anaknya sebagai putra mahkota serta mengambil baiat umat untuknya). (1) Pasca kematian sang ayah, Yazid segera menulis surat kepada para Gubernur berbagai wilayah, memberitakan:

• Kematian Mu'awiyah.

• Kekhalifahan dirinya sebagai putra mahkota.

• Penetapan dan pengukuhan setiap gubernur atas masing-masing wilayahnya.

• Perintah pengambilan baiat ulang untuk dirinya dari masyarakat.

Walid Ibn 'Utbah yang kala itu menjabat sebagai gubernur Madinah juga menerima surat Sang Khalifah. Namun, terdapat surat sisipan lain yang berisikan perintah khusus Yazid kepada Walid untuk mengambil baiat secara tegas dan tanpa kompromi dari beberapa tokoh kunci di Madinah. Mereka adalah: Husain Ibn 'Ali, 'Abdullah Ibn 'Umar, dan 'Abdullah Ibn Zubayr.

Dalam surat itu Yazid menekankan: Dan siapa saja di antara tokoh- tokoh itu yang enggan berbaiat padaku, maka tebas batang lehernya, lalu kirimkan kepalanya padaku! Setelah membaca isi surat Yazid, Walid segera menghadirkan Marwan Ibn Hakam, mantan gubernur Madinah, pada awal malam guna membahas perintah Yazid dalam pengambilan baiat atas tokoh-tokoh tersebut. Marwan menyarankan kepada Walid agar secepatnya memanggil mereka, sebelum berita kematian Mu'awiyah tersebar di tengah masyarakat.

Walid pun menerima usulan Marwan dan saat itu juga ia mengirim utusan

P: 48


1- 1. Peristiwa pengambilan baiat untuk Yazid dapat ditelaah di kitab al-Ghadir karya Allamah Amini, juz 10.

untuk menjemput mereka dengan alasan bahwa ada hal penting dan urgen untuk dibicarakan.

Malam itu, Imam Husain sedang duduk berbincang di Masjid Nabawi bersama Ibn Zubayr, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh datangnya para utusan gubernur yang memanggil mereka ke Dār al-Imārah pada waktu yang tidak lazim.

Ibn Zubayr sangat khawatir dan cemas atas panggilan itu. Ia memilih pergi meninggalkan Kota Madinah, tetapi Imam Husain memutuskan untuk menemui Walid. Sebelum berangkat, beliau berkata kepada Ibn Zubayr, "Aku yakin bahwa thaghut mereka (Bani Umayyah) telah mati dan kita dihadirkan untuk memberikan baiat bagi putranya." Imam Husain segera menyiapkan dan mempersenjatai tiga puluh orang karib-kerabatnya untuk menyertai keberangkatan beliau memenuhi panggilan Gubernur ke Dār al-Imārah. Mereka diperintah untuk menunggu di luar dan siap waspada bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada diri Sang Imam.

Persis, seperti yang telah beliau duga dan sampaikan kepada Ibn Zubayr, Walid memberitakan kematian Mu'awiyah, lalu meminta kepada Imam untuk memberikan baiatnya kepada Yazid.

Imam menjawab:

"Apalah gunanya baiatku kepada Yazid secara diam-diam (di tempat tertutup dan hanya disaksikan oleh beberapa pasang mata saja?!) Jika engkau berkehendak dari masyarakat Madinah untuk memperbaharui baiat mereka kepada Yazid, maka kami pun (bila telah kami putuskan untuk berbaiat) akan hadir bersama-sama mereka memberikan baiat kami kepada Yazid.” Walid menerima usulan Imam dan tidak bersikeras untuk mengambil baiat beliau pada malam itu. Karena tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan, Imam pun segera beranjak dari tempat Walid. Namun sebelum beliau keluar, Marwan Ibn Hakam memberikan aba-aba kepada Walid untuk memaksa Imam Husain agar memberikan baiatnya pada

P: 49

malam itu juga. Marwan berusaha memahamkan kepada Walid, ambillah baiat darinya pada malam ini, atau penggal kepalanya sesuai titah Yazid.

Mencium gelagat busuk itu, Imam Husain langsung mendamprat Marwan seraya berkata: “Hai putra wanita hina, sedianya engkau yang akan membunuhku atau dia (Walid)?! Sungguh engkau adalah pendusta dan pendosa!" Kemudian, Imam berkata kepada Walid:

ایها الامیر انا اهل بیت النبوه و معدن الرساله و مختلف الملائکه و مهبط التحمه بنا فتح الله و بنا یختم و یزید رجل شارب الخمر و قاتل النفس المحترمه معلن بالفسق و مثلی لا یبایع مثله ولکن نصبح و تصبحون و ننظر و تنظرون اینا احق بالخلافه sulla 'Wahai Amir (Gubernur)! Kami adalah keluarga kenabian, tambang risalah, para malaikat berlalu-lalang silih berganti menemui kami, kami adalah tempat turunnya rahmat, Allah telah memulai Islam dari keluarga kami dan sampai kapan pun akan tetap bersama kami. Sedangkan Yazid (orang yang kau minta kami untuk berbait padanya) adalah seorang lelaki pecandu alkohol, pembunuh jiwa-jiwa terhormat, secara terang-terangan mengumbar kefasikan, dan sudah barang tentu orang seumpamaku tak sudi memberikan baiat kepada orang seperti dia. (Biarlah waktu berlalu)! Mari kita sama-sama tunggu dan saksikan siapa yang lebih berhak memimpin dan menerima baiat! Suara gaduh dan perang mulut yang terjadi di kediaman Walid membuat cemas para pengawal al-Husain. Tanpa pikir panjang, mereka merangsek masuk ke majelis Walid. Melihat orang-orang al-Husain yang telah siaga, baik Walid maupun Marwan tak berdaya untuk mengambil paksa baiat dari al-Husain atau membunuhnya. Akhirnya, al-Husain dapat lolos dari konspirasi jahat yang telah didesain Yazid untuk membunuhnya.(1)

P: 50


1- 2. Tarikh Thabari, juz 7, h. 216218; Ibn Atsir, al-Kamil,jilid 3, h. 263—264; Syekh Mufid, Irsyad, h. 200; Ibn Nima, Mutsir al-Ahzan, h. 10; Magtal Kharazmi, h. 182; Ibn Thawus al-Husayni, Lubüf, h. 19.

Catatan:

Imam Husain dengan tegas telah menjelaskan sikapnya untuk tidak memberikan baiat kepada orang sehina dan senista Yazid. Sikap ini sudah beliau tunjukkan jauh hari sebelum ada sepucuk surat pun dari masyarakat Kufah, atau bahkan pada saat itu, berita kematian Mu'awiyah belum lagi sampai ke telinga mereka. Hal ini membuktikan bahwa pergerakan serta perlawanan al-Husain bukanlah akibat dari ribuan surat yang beliau terima dari masyarakat Kufah.

Menurut nukilan Ibn Thawus dalam Luhüf juga beberapa mu'arrikh (sejarawan peny.) lain, pada pagi hari setelah pertemuan dengan Walid Ibn Utbah, Imam Husain bertemu lagi dengan Marwan Ibn Hakam. Ia berkata kepada al-Husain, “Wahai Abu Abdillah, aku tidak menginginkan kecuali kebaikan untukmu. Aku sarankan padamu untuk segera memberikan baiat kepada Yazid demi kebaikan agama serta duniamu!" Imam Husain a.s. menjawab:

انا لله و انا الیه راجعون و علی الاسلام الستلام اذا بلیت الامه براع مثل یزید و لقد سمعت جدی رسول الله (ص) یقول: الخلافه محرمه علی آل ابی سفیان فاذا رایتم معاویه علی منبری فابقروا بطنه و قد رآه اهل المدینه علی المنبر فلم بیقروا فابتلاهم الله بیزید الفاسق.

Innā liLlāhi wa inna ilayhi rāji'ūn! Hancurlah Islam apabila umat ini ditimpa oleh seorang pemimpin seperti Yazid. Sungguh aku telah mendengar datukku Rasulullah Saw. berkata: “Khilafah hukumnya haram bagi keluarga Abu Sufyan! Apabila kalian melihat Mu'awiyah menaiki mimbarku, maka bersegeralah untuk memburaikan isi perutnya! Penduduk Madinah telah menyaksikan dengan mata kepala mereka bahwa Mu'awiyah menaiki mimbar Rasul, namun mereka diam seribu bahasa dan tak berbuat apa- apa, maka sebagai balasannya Allah menimpa mereka dengan Yazid yang fasik.”(1)

P: 51


1- 3.Lubüf, h. 20; Mutsir al-Ahzan, h. 10; Magtal Awālim, h.53; Magtal Kharazmi, juz 1, h. 185.

Catatan:

Jawaban Imam Husain kepada Marwan ini juga telah menunjukkan penentangan beliau kepada pemerintahan Yazid sejak hari-hari pertama kekuasaannya. Sikap ini telah diambil setelah kematian Mu'awiyah dan terus beliau pertahankan hingga tetesan darah terakhir.

Banyak yang mempertanyakan sikap perlawanan keras Imam Husain terhadap Yazid, mengapa tidak sama dengan sikap lunak Imam Hasan yang justru berdamai dengan Mu'awiyah? Apakah dua orang yang sama- sama ma'shüm (tersucikan) dapat berbeda sikap dalam satu perkara? Sebenarnya, memerangi kezaliman dan kerusakan adalah perjuangan semua Imam tanpa kecuali, hanya saja terdapat perbedaan dalam strategi dan bentuk perjuangan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi oleh masing-masing Imam. Bahkan, seorang Imam seperti Imam 'Ali Ibn Abi Thalib, sepanjang masa imamah-nya beliau menunjukkan sikap yang berbeda sesuai dengan keadaan yang berlaku, di mana terkadang beliau menunjukkan sikap mengalah serta menahan diri dan terkadang memutuskan untuk ber-jihad dan perang bila memang situasi dan kondisi menuntut itu.

Imam Husain sendiri juga telah menunjukkan dua bentuk perjuangan pada masa Imamah-nya. Sepanjang 10 tahun, terhitung sejak syahādah Imam Hasan hingga wafatnya Mu'awiyah, beliau menunjukkan perlawanan negatif terhadap pemerintahan Mu'awiyah dengan menahan diri dan menghormati perdamaian yang dibuat oleh kakaknya dengan putra Abu Sufyan itu. Namun ketika Yazid naik takhta, beliau serta-merta mengubah bentuk perjuangannya menjadi perlawanan positif, karena memang terdapat banyak perbedaan antara Mu'awiyah dengan putranya.

Setelah keluar dari Dār al-Imārah, Imam Husain memutuskan perlawanannya kepada Yazid bukan dari Kota Madinah, melainkan dalam sebuah perjalanan terang-terangan dalam rangka membongkar kebejatan Yazid dan menghidupkan semangat 'amr ma'ruf nahy munkar. Sebuah gerak perjuangan monumental dan sarat syiar demi menguak dan melawan

P: 52

kezaliman penguasa yang hendak menjalankan protokol-protokol kejam dan keji Klan Umayyah atas risalah Islam.

Sebelum melakukan pergerakan keluar dari Kota Madinah, diriwayatkan dalam banyak sumber sejarah, bahwa Imam Husain berkali- kali melakukan ziarah ke makam suci Rasulullah Saw. Dalam ziarah, beliau mengadukan situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan umat Islam kepada datuknya, di antaranya beliau berkata:

اللهم ان هذا قبر نبیک محمد (ص) و انا ابن بنت نبیک و قد حضرین من الأمر ما قد علمت اللهم انی أحب المعروف و انکر المنکر و اسئلک یا ذا الجلال و الاکرام بحق القبر و من فیه الا اخترت لی ما هو لک رضی و لرسولک رضی “Ya Allah! Ini adalah kuburan Nabi-Mu Muhammad Saw. dan aku adalah putra dari putri Nabi-Mu. Aku dihadapkan pada sebuah permasalahan yang telah Kau ketahui. Ya Allah! Sungguh aku mencintai yang ma'ruf dan membenci yang munkar. Ya Dza al-Jalāli wa al-Ikrām, demi pusara serta jasad yang dikandung tanah ini, pilihkan untukku sebuah jalan yang di situ ada rida-Mu dan rida Rasul-Mu!(1) Dalam Maqtal Kharazmi disebutkan, bahwa pada malam itu beliau menghabiskan waktunya beribadah dan bermunajat dengan derai air mata tiada henti di sisi pusara datuknya hingga tiba waktu subuh.

Catatan:

Dalam ziarah ini, beliau menggambarkan sebuah situasi dan kondisi yang menuntut dirinya untuk menegakkan ma'ruf dan mencegah kemunkaran tanpa peduli apa pun taruhannya, asal di sana terdapat rida Allah dan Rasul-Nya.

Setelah tersebarnya berita penentangan Imam Husain terhadap Yazid, terlebih di kalangan keluarga dan Bani Hasyim, datanglah beberapa orang dari mereka menghadap Imam Husain meminta beliau untuk berdamai

P: 53


1- 4.Magtal Kharazmi, juz 1, h. 186; Maqtal Awālim, h. 54.

dengan Yazid. Di antara mereka adalah Athraf yang dikenal dengan 'Umar Athraf (salah seorang putra Imam 'Ali), kepada al-Husain ia berkata:

"Wahai saudaraku! Saudaraku Hasan al-Mujtaba pernah menyampaikan padaku apa yang telah beliau dengar dari ayahnya bahwasannya kamu akan dibunuh. Dan aku merasa yakin bahwa penentanganmu terhadap Yazid putra Mu'awiyah akan berakibat pada pembunuhanmu, maka dari itu berbaiatlah kepadanya sementara waktu hingga ancaman terhadap jiwamu sirna!" Imam a.s. menjawab:

حدثنی ابی ان رسول الله (ص) اخبره بقتله و قتلی و ان تربته تکون بالقرب من تربتی اتظن انک علمت ما لم اعلمه؟ و الله لا اعطی الدنیه من نفسی ابدا و لتلقین فاطمه أباها شاکیه ما لقیت ذریتها من امته ولا یدخل الجنه احد آذاها فی ذریتها.

Ayahku telah bercerita padaku bahwa Rasulullah Saw. telah memberitakan padanya tentang peristiwa pembunuhan terhadap dirinya dan diriku, dan bahwa pusaranya akan berada di dekat pusaraku.(1) Apakah engkau beranggapan bahwa engkau mengetahui sesuatu yang belum kuketahui? Demi Allah, aku tidak akan pernah menyerah pada kehinaan dan suatu saat nanti bundaku Fatimah akan mengadu kepada ayahnya tentang perlakuan umat ini atas zuriahya. Dan sungguh, tidak akan masuk surga, siapa saja yang telah menyakitinya dengan menyakiti zuriahyam(2) Ketika berita keberangkatan Imam Husain sampai ke telinga Ummu Salamah, isteri Nabi Saw., ia segera bergegas menemui Imam Husain seraya memohon, “Janganlah kau buat aku bersedih dengan keberangkatanmu menuju Irak! Sungguh aku telah mendengar dari datukmu, Rasulullah Saw., yang berkata: Cucuku Husain akan terbunuh di negeri Irak di sebuah tempat bernama Karbala." Imam Husain menjawab:

یا اماه و انا اعلم ان مقتول مذبوح ظلما وعدوانا و قد شاء عز و جل أن یری حرمی و

P: 54


1- 5.Imam 'Ali di Kufah dan Imam Husain di Karbala.
2- 6. Luhüf, h. 23.

رهطی مشردین و اطفالی مذبوجین مأسورین مقیدین وهم یستغیثون فلا یجدون ناصرا...

Bunda! Aku pun mengetahui bahwa diriku akan dibunuh dan disembelih dengan penuh aniaya serta kebencian. Allah Azza wa Jalla telah berkehendak untuk melihat keluarga serta kerabatku dikejar-kejar; anak-anakku dibantai, ditawan, dan dirantai, mereka menjerit-jerit meminta pertolongan, namun tidak ada yang menyahuti seruan mereka.(1) Satu lagi putra Imam 'Ali yang bernama Muhammad al-Hanafiyah datang menemui Imam Husain seraya berkata:

“Engkau adalah sosok yang paling kucintai dan kumuliakan, demi keselamatanmu janganlah engkau berdiam di satu tempat, ajaklah sanak keluargamu pergi ke suatu tempat yang berada di luar jangkauan Yazid. Engkau cukup mengirim orang-orangmu ke berbagai tempat untuk mencari dukungan buatmu. Apabila mereka memberikan baiat padamu, maka syukur kepada Allah, dan bila tidak, engkau tetap selamat." Imam Husain berkata: “Menurutmu, ke mana aku harus pergi?" Muhammad al-Hanafiyah berkata:

“Aku kira Kota Mekkah (sebagai tujuan awal cukup menjanjikan) dan apabila di sana tidak aman, engkau dapat melewati padang pasir dan berpindah-pindah dari satu kota menuju kota yang lain hingga kau peroleh dukungan yang cukup dari masyarakat untuk melakukan perlawanan." Imam Husain berkata:

یا أخی لو لم یکن فی الدنیا ملجأ ولا مأوی لما بایعت یزید بن معاویه...

P: 55


1- 7. Rawandi, Khardij, h. 26; Babrani, Madinah al-Ma'ājiz, h. 244; Itsbāt al-Wasbiyyah, h. 162; Bihär al-Anwār, juz 44, h. 331.

"Ketahuilah wahai saudaraku! Seandainya di seluruh bumi yang luas ini tidak ada tempat perlindungan dan sembunyi bagiku, aku tetap tidak akan berbaiat kepada Yazid.' Mendengar jawaban Imam, air mata Muhammad al-Hanafiyah jatuh bercucuran.

Imam melanjutkan:

یا أخی جزاک الله خیرا لقد نصحت و أشرت بالصواب و انا عازم علی الخروج الی مکه و قد قیأت لذالک أنا و اخوتی و بنو أخی و شیعتی وأمرهم أمری ورأیهم رأی و أما أنت فلا علیک أن تقیم بالمدینه فتکون لی عینا علیهم لا تخفی علی شیئا من أمورهم.

Saudaraku, semoga Allah memberimu balasan yang baik. Engkau telah memberikan saran yang tepat, karena aku memang sudah berencana untuk keluar menuju Kota Mekkah. Aku, saudara-saudaraku, putra-putra saudaraku, dan syi'ahku telah mempersiapkan diri untuk perjalanan ini. Mereka telah menyerahkan semua urusan padaku dan pendapat mereka adalah pendapatku.

Adapun engkau, tak mengapa untuk tetap tinggal di Madinah sehingga dapat menjadi pengawas bagiku atas penduduknya agar tak tersembunyi sesuatu pun dariku tentang urusan-urusan mereka. (1) Ketika hendak berangkat dari Madinah menuju Mekkah, Imam Husain menuliskan wasiatnya kepada Muhammad al-Hanafiyah sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحیم هذا ما اوصی به الحسین بن علی إلی أخیه محمد بن الحنفیه أن الحسین یشهد ان لا اله الا الله وحده لا شریک له و أن محمدا عبده و رسوله جاء بالحق من عنده و أن الجنه حق والنار حق و الساعه آتیه لا ریب فیها و أن الله یبعث من فی القبور واتی لم أخرج أشرا ولا بطرا ولا مفسدا ولا ظالما وائما خرجت

P: 56


1- 8.Magtal Awālim, h. 54; Maqtal Kharaxmi, juz 1, h. 188; Tarikh Thabari, juz 7, h. 221; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 265; Syekh Mufid, al-Irsyad, h. 202.

لطلب الاصلاح فی أمه جدی (ص) ارید أن آمر بالمعروف و افی عن المنکر و اسیر بسیره جدی و أبی علی بن أبی طالب فمن قبلنی بقبول الحق فالله أولی بالحق و من رد علی هذا أصبر حتی یقضی الله بینی و بین القوم و هو خیر الحاکمین و هذه وصیتی الیک یا أخی وما توفیقی الا بالله علیه توکلت والیه انیب.

“Bismillahirrahmanirrahim, aku wasiatkan (pernyataan) ini kepada saudaraku Muhammad Ibn al-Hanafiyah, bahwasannya Husain (Ibn Ali Ibn Abi Thalib) bersaksi tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa tanpa sekutu, dan bahwa Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, ia datang membawa kebenaran dari sisi-Nya, dan bahwa surga benar adanya, neraka benar adanya, hari pembalasan akan tiba tanpa ragu dan bahwa Allah akan membangkitkan semua manusia yang berada di dalam kubur. Sungguh aku tidak keluar dalam rangka mengejar kedudukan (kepentingan pribadi) atau merusak tatanan (melawan kebenaran), juga bukan untuk melakukan kerusakan serta berlaku aniaya. Aku hanya berontak untuk melakukan perbaikan pada umat datukku Muhammad Saw., aku hendak memerintahkan yang ma'rūf serta mencegah kemungkaran, aku akan berjalan pada sīrah datukku dan ayahku, Ali Ibn Abi Thalib. Siapa saja yang mendukungku dalam kebenaran ini, maka ia telah menerima kebenaran dari Allah, dan siapa yang menolakku dalam jalan ini, maka aku akan bersabar hingga Allah memberikan putusan antara aku dan mereka, sungguh Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan. Inilah wasiatku padamu, wahai saudaraku! Aku mengharapkan taufik dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya pula aku kembali.(1) Catatan:

Dalam wasiat ini, Imam Husain telah dengan tegas menjelaskan alasan pokok kebangkitannya, yaitu amr ma'ruf nahy munkar, memerangi fasad, pengrusakan agama, dan kezaliman yang dilakukan oleh penguasa.

Artinya, seandainya Yazid tidak pernah memaksa Imam Husain untuk berbaiat padanya, maka beliau tetap akan melakukan perlawanan, karena

P: 57


1- 9. Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 188; Maqtal Awalim, h. 54.

alasan kebangkitan beliau adalah mengembalikan umat Muhammad pada jalur yang telah digariskan oleh Rasul Saw., di mana garis itu telah diubah dan dirusak oleh putra najis Mu'awiyah.

Dua hari menjelang akhir Rajab 60 H, Imam Husain beserta rombongannya bergerak menuju Kota Mekkah melalui jalan utama yang biasa dilewati oleh para musafir dari Madinah menuju Mekkah.

Imam Husain sengaja mengekspos perlawanan serta keberangkatannya, tidak seperti 'Abdullah Ibn Zubayr yang segera meninggalkan Kota Madinah secara diam-diam menuju Mekkah melalui jalan-jalan kecil dan berbukit. Ibn Zubayr juga tidak memenuhi panggilan Walid, ia memilih untuk cepat-cepat keluar dari Kota Madinah. Adapun Imam Husain justru menjelaskan sikap penolakannya atas khilafah Yazid di hadapan dan di tempat Walid pada malam itu juga.

Salah seorang sahabat Imam Husain menyarankan kepada beliau untuk mencari jalan alternatif menuju Mekkah agar selamat dari kejaran dan serangan orang-orang khalifah. Menanggapi saran ini, beliau berucap:

لا والله لا أفارقه حتی یقضی الله ما هو قاض Demi Allah, aku tidak akan keluar dari jalan (utama) ini hingga Allah menentukan apa pun yang hendak la tentukan!(1) Akhirnya, setelah melakukan perjalanan selama lima hari, beliau beserta rombongan tiba di Kota Mekkah pada malam Jumat tanggal 3 Syakban. Ketika memasuki kota kelahiran Rasul Saw. itu, beliau membaca surah al-Qashash, ayat 22 yang artinya: “Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa: Mudah-mudahan Tuhan-ku memimpinku ke jalan yang benar.

Di Kota Mekkah, Imam Husain ditemui oleh 'Abdullah Ibn Umar yang menyarankan kepada beliau agar mengalah dan berbaiat kepada Yazid. Ibn Umar berkata kepada al-Husain:

P: 58


1- 10.Tarikh Thabari, juz 7, h. 222; Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, juz 3, h. 265; Syekh Mufid, al- Irsyad, h. 202; Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 189.

"Ya Aba Abdillah, mayoritas masyarakat telah berbaiat kepada Yazid, tangannya berlimpah Dirham dan Dinar, tentu orang-orang lebih tergoda untuk membelanya dan memerangimu. Sungguh aku telah mendengar bahwa Rasulullah Saw. berkata: Husain cucuku akan terbunuh dan siapa pun yang tidak menolongnya pasti akan terhina!' Saranku untukmu adalah berbaiatlah kepada Yazid bersama masyarakat dan selamatkan darah kaum muslimin dengan perdamaian!" (1) Imam Husain menjawab:

یا ابا عبد الرحمن اما علمت ان من هوان الدنیا علی الله ان رأس یحیی بن زکریا اهدی الی بغی من بغایا بنی اسرائیل؟ اما تعلم ان بنی اسرائیل کانوا یقتلون ما بین طلوع الفجر إلی طلوع الشمس سبعین نبیا ثم یجلسون فی اسواقهم یبیعون و یشترون کأن لم یصنعوا شیئا فلم یعجل الله علیهم بل امهلهم و اخذهم بعد ذالک اخذ عزیز ذی انتقام اتق الله یا أبا عبد الرحمن ولا تدعن نصرتی “Wahai Aba Abdirrahman, tidakkah engkau mengerti bahwa begitu hinanya dunia ini di sisi Allah, di mana kepala Yahya Ibn Zakaria (seorang nabi dan manusia pilihan Ilahi) dipersembahkan sebagai hadiah kepada seorang pelacur Bani Israil?! Tidakkah engkau mengetahui bahwa Bani Israil telah membunuh tujuh puluh nabi di antara waktu fajar hingga terbitnya matahari, lalu mereka duduk di pasar-pasar, menjual dan membeli seakan tidak melakukan kejahatan apa-apa?! Namun, Allah tidak serta-merta mengazab mereka, mereka diberi tangguh beberapa waktu lalu dibalas dengan balasan yang mahadahsyat. Wahai Aba Abdirrahman, takutlah kepada Allah dan jangan sekali-kali engkau tinggalkan aku tanpa membelaku!(2) Berdasarkan nukilan Syekh Shaduq dalam kitab Amāli, Majelis ke- 30, karena Ibn 'Umar merasa sarannya tidak membuahkan hasil untuk mengubah niat al-Husain, maka ia berkata kepada Imam Husain:

"Pada kesempatan ini dan sebelum berpisah denganmu, izinkan aku untuk mencium bagian tubuhmu yang sering dicium oleh Rasulullah Saw, Al-Husain mengangkat bajunya dan Ibn 'Umar mencium bagian bawah

P: 59


1- 11. Magtal Kharazmi, juz 1, h. 190.
2- 12. Lubüf, h. 26; Mutsir al-Ahzan, h. 20.

dada Imam sebanyak tiga kali sambil meneteskan air mata, lalu berkata:

Aku titipkan dirimu kepada Allah, selamat jalan dan aku yakin bahwa engkau akan terbunuh dalam perjalanan ini.” Catatan seputar Ibn Umar:

Ia tidak membela Imam Husain dan meninggalkan beliau di Mekkah menuju Madinah, meskipun Husain telah menasihatinya untuk tidak meninggalkan beliau dan ia sendiri telah meriwayatkan dari Rasul Saw. bahwa yang tidak membela al-Husain akan terhina.

Pasca terbunuhnya Utsman, ia termasuk dalam kelompok yang tidak mau berbaiat kepada Imam 'Ali Ibn Abi Thalib, bahkan sempat menggalang kekuatan dan melakukan konspirasi di Kota Mekkah untuk menggulingkan beliau dari khilafah. Ia tetap tidak berbaiat kepada 'Ali hingga beliau gugur di mihrabnya.(1) Pasca syahadah Imam 'Ali a.s., ia justru berbaiat kepada Mu'awiyah Ibn Abu Sufyan.

Ketika Mu'awiyah menggalang baiat dan mencari dukungan untuk putranya, Ibn Umar termasuk yang tidak setuju dengan pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota. Namun, baik Mu'awiyah maupun Yazid tidak begitu risau dengan penolakan Ibn Umar. Mu'awiyah berkata kepada Yazid, "Adapun 'Abdullah Ibn Umar (meskipun ia belum memberikan baiat padamu, sebenarnya hatinya bersamamu), maka dekati ia dan jangan singkirkan dari sisimu!"(2) Usai bertemu al-Husain dan pulang ke Madinah, dari sana ia segera menulis surat kepada Yazid dan dengan sepenuh hati menyatakan baiat padanya. (3) Sedemikian setianya ia kepada Yazid, sehingga ketika masyarakat Madinah menentang Yazid setelah mendengar syahadah al-Husain dan mengusir gubernur Madinah yang bernama Utsman Ibn Muhammad, ia bersama sanak-kerabatnya justru memberikan dukungan kepada Yazid. Dalam pidatonya, ia berkata, “Aku mendengar Rasul Saw. bersabda, 'Pada Hari Kiamat akan dikibarkan

P: 60


1- 13. Ibn Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, juz 4, h.9–11.
2- 14. Bihar al-Anwār, juz 44, h. 311.
3- 15. Fath al-Bāri, juz 13, h. 60.

sebuah bendera bagi orang-orang yang mengingkari janji setianya', dan sungguh aku tidak melihat pengingkaran melebihi pengingkaran mereka yang berbaiat lalu memerangi orang yang telah dibaiatnya.

Aku menyatakan putus hubungan dengan siapa pun di antara kalian yang merusak baiatnya terhadap Yazid atau mendukung mereka yang menentangnya!"(1) Pasca khilafah Yazid, pada masa Abdul Malik Ibn Marwan, Hajjaj Ibn Yusuf mendapat tugas untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Ibn Zubayr di Kota Mekkah. Pada saat Hajjaj memasuki Kota Madinah, pada malam hari 'Abdullah Ibn Umar menyempatkan diri untuk bertemu dengannya demi menyatakan baiat terhadap Abdul Malik Ibn Marwan. Kepada Hajjaj ia berkata, “Wahai Amir, ulurkan tanganmu agar kuberikan baiatku kepada khalifah!" Hajjaj bertanya, “Mengapa engkau terburu-buru mendatangiku pada malam hari untuk menyatakan baiat kepada khalifah, bukankah esok masih ada hari?!" Ibn Umar berkata, “Karena aku pernah mendengar Rasul Saw. berkata, 'Siapa yang meninggal dunia tanpa seorang Imam, maka ia akan mati jahiliah.' Sungguh aku khawatir malam ini ajalku tiba, sementara aku belum berbaiat kepada khalifah.” Hajjaj dalam keadaan berbaring mengeluarkan kakinya dari dalam selimut seraya berkata, "Ciumlah kakiku sebagai ganti tanganku dan nyatakan baiatmu pada sang khalifah!" (Benar ucapan Rasul Saw. yang menjanjikan kehinaan kepada siapa saja yang tidak membela al-Husain!) (2) Menurut nukilan Thabari, setibanya di Kota Mekkah, Imam Husain menulis surat kepada para pemuka kabilah Kota Bashrah, seperti Malik Ibn Masma' Bakri, Mas'ud Ibn Amr, Mundzir Ibn Jarud dan beberapa tokoh lainnya. Isi surat itu sebagai berikut:

اما بعد، فان الله اصطفی محمدا (ص) من خلقه واکرمه بنبوته واختاره لرسالته ثم قبضه الیه وقد نصح لعباده وبلغ ما ارسل به و کنا اهله واولیائه وأوصیائه وورثته

P: 61


1- 16. Shahih Bukhāri, Kitāb al-Fitan.
2- 17. 'Abdullah ibn Umar termasuk salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal saja ada sekitar 1.700 hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, sementara kedua cucu Rasulullah Saw., Imam Hasan dan Imam Husain, secara keseluruhan hanya ada dua puluh dua hadis saja?!

بمقامه فی الناس فاستأثر علینا قومنا بذالک فرضینا وکرهنا الفرقه واحببنا واحق الناس العافیه ونحن نعلم أنا أحق بذالک المستحق علینا ممن تولاه وقد بعثت رسولی الیکم بهذا الکتاب وانا ادعوکم الی کتاب الله و سنه نبیه فان السته قد امیتت والبدعه قد احییت فان تسمعوا قولی اهدکم إلی سبیل الرشاد والسلام علیکم ورحمه الله وبرکاته.

'Amma Ba'du. Sesungguhnya Allah Swt. telah memilih Muhammad al-Musthafa Saw. dari sekalian hamba-Nya, memuliakan beliau dengan kenabian, menugasinya untuk menyampaikan risalah Ilahi, lalu memanggil dia kembali ke sisi-Nya setelah ia memberi petunjuk hamba-hamba-Nya dan menyampaikan risalah-Nya. Sedangkan kami adalah keluarga, aulia, aushiya, para pewaris, dan orang-orang yang paling berhak atas kedudukannya di antara sekalian manusia. Namun, ada sekelompok orang dari kaum kami yang merebut hak itu dari kami, kami mengalah, kami tidak suka perpecahan dan kami menginginkan keselamatan (orang banyak dari ancaman perang saudara dan musuh dari luar). Padahal kami sepenuhnya mengerti bahwa kami lebih berhak dari siapa pun yang mendudukinya. Aku telah mengirim utusanku dengan sebuah surat kepada kalian. Aku mengajak kalian untuk kembali ke Kitab Allah dan Sunnah nabinya. Saat ini Sunnah telah dimatikan dan (sebaliknya), bid'ah telah dihidupkan! Apabila kalian mau mendengar serta mengikuti ajakanku, maka aku akan tunjukkan pada kalian jalan menuju kebahagiaan! Wassalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. (1) Surat ini diberikan kepada salah seorang sahabat Imam Husain bernama Sulaiman untuk di bawa ke Kota Bashrah. Setelah melaksanakan tugas itu, Sulaiman tertangkap dan Ibn Ziyad mengeluarkan perintah hukuman gantung atasnya satu malam sebelum ia beranjak menuju Kufah.

Catatan:

Dalam surat ini, Imam telah dengan gamblang menjelaskan dua sikap berbeda Ahl al-Bayt dalam mengawal risalah Ilahi yang dibawa oleh Rasul

P: 62


1- 18. Tarikh Thabari, juz 7, h. 240.

Saw., ada saat-saat mengalah, sabar, serta menahan diri, dan ada waktu untuk jihad serta perlawanan berdarah dengan segenap jiwa raga, di mana agama sudah terancam untuk diubah atau diselewengkan.

Ketika masyarakat Kufah mendengar berita penolakan baiat oleh Imam Husain dan perlawanan beliau atas kepemimpinan Yazid yang fasik dan mufsid (perusak], maka berdatanganlah surat-surat mereka untuk Imam di Mekkah. Surat-surat itu terkadang atas nama pribadi dan banyak yang atas nama kelompok. Rata-rata, isi surat-surat itu sebagai berikut:

“Kini Mu'awiyah telah binasa, masyarakat dapat sedikit lega dan sejenak beristirahat dari berbagai macam gangguan serta tekanan yang ia lakukan selama ini. Dalam situasi seperti ini, sungguh kami sangat memerlukan seorang pemimpin dan Imam yang dapat membimbing kami dalam situasi yang tidak menentu ini. Kami (masyarakat Kufah) telah melakukan perlawanan dan memutus segala bentuk hubungan serta kerja sama dengan gubernur Yazid untuk Kufah, Nu'man Ibn Basyir.

Bahkan, kami tidak lagi ikut dalam salat berjamaah dengannya. Kami hanya menunggu kedatangan Anda dan mengikuti apa pun yang menjadi keputusan dan kebijakan Anda, kami telah siap berkorban apa pun yang kami miliki dari harta hingga nyawa!" Dalam menjawab surat-surat masyarakat Kufah yang menurut para penulis sejarah jumlahnya mencapai dua belas ribu surat, Imam Husain mengirim balasan sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحیم من الحسین بن علی إلی الملأ من المؤمنین والمسلمین اما بعد فان هانیا و سعیدا قدما علی بکتبکم وکانا آخر من قدم علی من رسلکم وقد فهمت کل الذی قصصتم وذکرتم ومقاله جلکم انه لیس علینا امام فأقبل لعل الله یجمعنا بک علی الهدی والحق وقد بعثت الیکم أخی وابن عمی وثقتی من اهل بیتی وامرته أن یکتب الی بحالکم وامرکم ورأیکم فان کتب أنه قد اجتمع رأی ملنکم وذوی الفضل والحجی منکم علی مثل ما قدم علی به رسلکم وقرأت فی کتبکم اقدم علیکم وشیکا ان شاء الله فلعمری ما الامام الا العامل بالکتاب والآخذ بالقسط والداین بالحق والحابس نفسه علی ذات الله والسلام.

P: 63

'Bismillahirrahmanirrahim, dari Husain Ibn Ali kepada para pemuka dan masyarakat mukmin-muslim Kufah. Amma Ba'du, Hani dan Said telah datang padaku membawa surat-surat kalian, mereka adalah utusan kalian yang terakhir datang menemuiku, dan aku sudah memahami maksud surat kalian, di mana poin utamanya adalah:

Kami tidak memiliki pemimpin, maka datanglah, semoga Allah mengumpulkan kita dalam jalan hidayah dan kebenaran. Aku akan utus pada kalian saudaraku, putra pamanku dan orang yang aku percaya dari keluargaku (Muslim Ibn Aqil). Aku perintahkan ia untuk melihat keadaan, pemikiran dan pendapat kalian, lalu memberitakannya padaku. Apabila ia menulis surat padaku tentang kebulatan tekad para pemuka dan tokoh kalian seperti yang tertera dalam surat-surat mereka padaku, maka aku akan segera menyusulnya, insya Allah. Demi Allah, bukanlah Imam kecuali seseorang yang menjalankan Kitab Allah, menempuh jalan keadilan, tunduk pada kebenaran, dan mewakafkan dirinya kepada Allah Swt.! Wassalam.'(1) Menurut nukilan Thabari dan penulis Akhbār Thiwāl,(2) Imam memberikan surat balasannya kepada Hani dan Said, dua utusan masyarakat Kufah.

Namun Kharazmi meriwayatkan bahwa surat balasan al-Husain dibawa oleh utusan beliau, Muslim Ibn Aqil.

Kepada Muslim, Imam berkata, “Aku mengutusmu kepada masyarakat Kufah dan semoga Allah menuntunmu ke jalan yang diridai- Nya! Berangkatlah, Allah adalah penjaga serta pelindungmu. Dan aku berharap agar aku dan engkau berada dalam derajat para syahid."(3) Dengan semakin dekatnya musim haji, muslimin dan hujjaj mulai berdatangan ke Kota Mekkah dalam kelompok-kelompok di awal-awal bulan Zulhijah. Pada saat itu, Imam Husain mengetahui bahwa Yazid mengirim 'Amr Ibn Said Ibn Ash sebagai amir al-hajj dengan tugas pokok mencari kesempatan untuk membunuh Imam Husain. Oleh karena itu, Imam Husain memutuskan untuk segera meninggalkan Kota Mekkah demi terjaganya kehormatan Ka'bah dan Masjid al-Harām. Beliau

P: 64


1- 19. Tarikh Thabari, juz 7, h. 235; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 267; Syekh Mufid, Irsyad, h. 204; Magtal Kharazmi, juz 1, h. 195—196.
2- 20. Thabari, juz 7, h. 235; Dainuri, Akhbar Thiwal, h. 238.
3- 21. Magtal Kharazmi, juz 1, h. 196.

mengganti manāsik hajinya dengan umruh mufradah dan beranjak dari Mekkah menuju Irak pada hari selasa tanggal delapan Zulhijah.

Sebelum bergerak, beliau menyampaikan pidatonya di antara Bani Hasyim dan sekelompok pengikutnya yang telah bergabung dengan beliau selama berada di Mekkah. Dalam kothbahnya, beliau berkata:

الحمد لله وما شاء الله ولا قوه الا بالله وصلی الله علی رسوله خط الموت علی ولد آدم مخط القلاده علی جید الفتاه وما اولهنی إلی أسلافی اشتیاق یعقوب الی یوسف وخیر لی مصرع أنا لاقیه کانی باوصالی تتقطعها عسلان الفلوات بین النواویس وکربلا فیملأ متی اکراشا جوفا واجربه سغبا لا محیص عن یوم خط بالقلم رضا الله رضانا اهل البیت نصبر علی بلائه ویوقینا اجور الصابرین لن تشذ عن رسول الله الحمته بل هی مجموعه فی حظیره القدس تقر بهم عینه وینجز بهم وعده الا و من کان فینا باذلا مهجته موطنا علی لقاء الله نفسه فلیرحل معنا فائی راحل مصبحا ان شاء الله.

Segala puji bagi Allah, apa yang menjadi kehendak-Nya pastilah terjadi, tidak ada daya serta kekuatan, kecuali dengan-Nya dan semoga shalawat Allah selalu tercurah atas Rasul-Nya.

Telah digariskan kematian atas anak Adam tak ubahnya seperti garis yang melingkar di leher anak perempuan sebagai bekas kalung yang dikenakannya. Alangkah rindunya aku untuk bertemu dengan leluhurku persis seperti rindunya Ya'qub kepada Yusuf. Telah ditentukan bagiku sebuah tempat pembantaian yang segera aku datangi. Sepertinya, saat ini aku sedang menyaksikan bagian-bagian tubuhku dicabik-cabik oleh srigala-srigala buas padang pasir di antara Nawawis dan Karbala; mereka mengisi perut-perut laparnya dan memenuhi tempat-tempat penyimpanan makanannya. Tidak ada jalan untuk lolos dari suatu hari yang telah ditulis oleh pena takdir Ilahi.

Rida Allah adalah rida kami, Ahl al-Bayt, kami bersabar atas cobaannya dan sungguh Dia akan membalas kami dengan pahala orang-orang yang bersabar.

Tidak akan berpisah antara Rasul Saw. dengan darah dagingnya, mereka

P: 65

akan berkumpul bersamanya di surga; mata beliau bersinar penuh kegembiraan lantaran mereka dan janji beliau (berdirinya pemerintahan Ilahi) juga akan terlaksana oleh mereka. Ketahuilah, siapa yang telah siap mempersembahkan darahnya di jalan kami dan bersedia untuk berjumpa dengan Allah, maka hendaknya ia bergabung bersama (kafilah) kami, karena aku akan berangkat esok pagi, insya Allah.' Catatan:

Setelah Imam Husain mengumumkan hari keberangkatannya menuju Irak, datanglah beberapa orang yang menyarankan kepadanya untuk tidak berangkat demi keselamatan jiwa beliau, karena menurut mereka masyarakat Kufah adalah masyarakat yang tidak setia; mereka indah di ucapan, tetapi buruk di kelakuan! Di antara mereka adalah Ibn Abbas, ia menghadap Imam Husain seraya berkata:

“Wahai putra paman, aku berusaha untuk bersabar untuk tidak mengucapkan apa-apa padamu, tetapi aku tak tahan. Sungguh aku khawatir engkau akan terbunuh dalam perjalanan ini dan keluargamu akan tertawan. Masyarakat Irak adalah masyarakat yang kerap kali melakukan perngkhianatan dan tidak setia pada janji. Menurutku, engkau lebih baik tinggal di Kota Mekkah sini, dan apabila masyarakat Kufah benar-benar menanti kedatanganmu, perintahkan mereka terlebih dulu untuk mengusir serta menggulingkan Gubernur Yazid dari kedudukannya. Dan apabila engkau memang harus keluar dari Kota Mekkah, maka pergilah menuju Yaman, di sana ayahmu memiliki banyak pengikut dan engkau bisa melanjutkan misimu dari sana.” Imam Husain menjawab:

علی المسیر والله لا یا ابن العم انی والله أعلم انک ناصح مشفق وقد أزمعت یدعون حتی یستخرجوا هذه العلقه من جوفی فاذا فعلوا سلط الله علیهم من یذگم

P: 66

حتی یکونوا اذل من فرام المرأه.

'Wahai putra paman, sungguh aku mengetahui bahwa engkau berniat baik dan mengkhawatirkan keselamatanku. Namun aku telah bertekad untuk mengarungi perjalanan ini. Dan camkanlah kata-kataku ini, bahwa mereka tidak akan pernah berhenti memburuku hingga berhasil mengeluarkan jantung ini dari dadaku. Dan apabila mereka lakukan itu, maka Allah akan menguasakan atas mereka seseorang yang akan menghinakan mereka hingga lebih nista dari kain pembalut wanita. (1) Di antara mereka yang juga menyarankan kepada Imam Husain untuk tidak pergi ke Irak ialah 'Abdullah Ibn Zubayr. Ia termasuk orang yang tidak setuju pada Kilafah Yazid dan tak mau berbaiat dengannya.

Penolakannya kepada Yazid ia tunjukkan dengan pergi meninggalkan Madinah menuju Mekkah tanpa mengindahkan panggilan gubernur Madinah beberapa hari setelah wafatnya Mu'awiyah. Di Mekkah, ia sering datang menemui Imam Husain dan setelah mengetahui rencana keberangkatan beliau ke Irak, ia datang menghadap Imam Husain dan berpura-pura mencegah beliau pergi.

Menurut nukilan Thabari dan Baladziri, saran Ibn Zubayr mengandung dua makna. Kepada Imam , ia berkata:

“Wahai putra Rasulullah! Seandainya aku memiliki pengikut (Syi'ah) di Irak sepertimu, maka aku tidak akan pergi ke lain tempat selain tempat berkumpulnya Syi'ah-ku! Namun, apabila engkau berniat untuk tinggal di Mekkah dan memimpin masyarakat di sini, maka kami pun akan mendukungmu secara penuh." Imam Husain menjawab:

ان ابی حدثنی أن بمکه کبشا به تستحل حرمتها فما أحب أن أکون ذالک الکبش ولئن اقتل خارجا منها بشیر احبت الی من أن أقتل فیها ولکن اقتل خارجا منها بشبرین أحب إلی من أن أقتل خارجا منها بشبر ولیم الله لو کنت فی جحر هامه

P: 67


1- 22. Ansāb al-Asyraf, juz 3, h. 161; Tarikh Thabari, juz 7, 1.275; Ibn Atsir, al-Kâmil, juz 3, h. 276.

من هذه الهوام یستخرجونی حتی یقضوا ہی حاجتهم والله لیعتد علی کما اعتدت الیهود فی السبت. یابن الزبیر لن ادفن بشاطئ الفرات احب الی من أن ادفن بفناء Ayahku pernah memberitakan untukku bahwa suatu hari nanti di Mekkah akan ada seekor kibas yang dengannya kehormatan kota suci Mekkah menjadi ternoda. Dan, aku tidak mau menjadi kibas tersebut. Sungguh, seandainya aku dibunuh sejengkal di luar Kota Mekkah, jauh lebih aku sukai daripada aku terbunuh di sana. Atau sandainya aku terbunuh dua jengkal di luar Mekkah, jauh lebih aku sukai ketimbang terbunuh sejengkal di luarnya.

Demi Allah, seandainya pun aku dapat bersembunyi di dalam lubang serangga, mereka tetap akan menyeretku keluar dan melakukan kehendak mereka atas diriku (membunuhku). Demi Allah, mereka akan menodai kehormatanku sebagaimana orang-orang Yahudi menodai kehormatan hari Sabtu(1) Wahai Ibn Zubayr, Apabila aku dikebumikan di sisi Sungai Furat, hal itu lebih aku sukai ketimbang dikubur di tengah Ka'bah!" Menurut nukilan Ibn Qulawaih, begitu Ibn Zubayr meninggalkan tempat Imam Husain, beliau berkata demikian:

...ان هذا یقول کن حماما من حمام الحرم ولئن أقتل وبینی وبین الحرم باع احب الی من أن أقتل وبینی وبینه شبر ولئن اقتل بالطفت أحب إلی من أن أقتل بالحرم Orang ini berkata padaku, Jadilah merpati haram (tanah suci)!". Padahal demi Allah, seandainya aku terbunuh satu hasta di luar haram, hal itu lebih aku sukai daripada aku terbunuh sejengkal di luar haram. Dan (tentu) apabila aku dibunuh di Thaf (tanah Karbala), maka hal itu lebih aku sukai daripada aku dibunuh di tanah suci." Menurut nukilan Thabari dan Ibn Atsir, setelah Ibn Zubayr meninggalkan al-Husain, beliau berkata kepada orang-orang yang berada di sekitarnya:

P: 68


1- 23. Hari persatuan dan taqarrub kepada Allah.

...ان هذا لیس شیئ من الدنیا أحبت الیه من أن أخرج من الحجاز وقد علم أن الناس لا یعدلونه بی فوه التی خرجت حتی یخلو له.

'Sungguh baginya tidak ada yang lebih ia sukai di dunia ini melebihi keluargaku dari tanah Hijaz (Mekkah), karena ia tahu persis bahwa dengan keberadaanku di sini, masyarakat tidak akan memilihnya, maka ia senang bila aku pergi hingga ia lebih leluasa (untuk merebut hati mereka). (1) Catatan:

• Demi kehormatan Ka'bah, Imam Husain berusaha untuk tidak terbunuh di tanah suci.

• Al-Husain telah menyindir Ibn Zubayr untuk juga menjaga kesucian tanah haram dan jangan mempertaruhkan kesucian tanah haram demi mempertahankan eksistensi serta meraih kekuasaan.

Namun sayang sekali, Ibn Zubayr tidak mau mendengar apa yang diucapkan oleh al-Husain. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, sekitar tiga belas tahun, tanah suci dan Ka'bah telah mengalami dua kali serangan manjanig (pelontar batu) dan terjadi kebakaran serta kerusakan di mana-mana. Terjadilah apa yang telah diprediksikan oleh Imam 'Ali dan Imam Husain alaihimassalam.

Serangan pertama terjadi tiga tahun pasca tragedi Karbala pada 3 Rabiulawal 64 H. Karena Ibn Zubayr menolak berbaiat kepada Yazid, maka pasukan Yazid setelah Perang Harrah (pembunuhan dan perampokan di Kota Madinah) bergerak menuju Mekkah untuk menumpas Ibn Zubayr. Mereka mengepung Kota Mekkah hingga memaksa Ibn Zubayr berlindung di Ka'bah demi menyelamatkan nyawanya. Mereka mempersempit kepungan dan terus melancarkan serangan dari atas Bukit Abu Qubais ke arah Masjid al-Haram dan Ka'bah dengan batu dan bola api. Akibat serangan itu, sebagian bangunan Ka'bah serta atapnya rusak, tabir dan tanduk kibas yang

P: 69


1- 24. Ansäb al-Asyraf juz 3, h. 164; Tarikh Thabari, juz 7, h. 276; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 275; Ibn Qulawaih, Kamil al-Ziyarat, h. 72–73.

didatangkan dari surga sebagai ganti penyembelihan Nabi Ismail juga ikut terbakar. Ibn Zubayr berhasil selamat karena di tengah serangan berlangsung, datanglah berita kematian Yazid yang menjadikan pasukannya bercerai-berai dan menghentikan serangan. Ibn Zubayr kemudian memperbaiki serta merenovasi bangunan Ka'bah yang rusak.

Pasca kematian Yazid, Ibn Zubayr sibuk mengajak orang untuk berbaiat padanya dan ia relatif berhasil meraih hati sekelompok masyarakat. Namun, pada 73 H, pada masa khilafah Abdul Malik, Hajjaj Ibn Yusuf mendapat tugas dari khalifah untuk menumpas pergerakan Ibn Zubayr. Hajjaj dengan ribuan pasukannya mengepung Kota Mekkah dan kembali memaksa Ibn Zubayr berlindung pada Ka'bah. Pada akhirnya, Hajjaj memerintahkan pasukannya untuk menghujani Masjid al-Haram dan sekitar Ka'bah dengan manjaniq dari lima arah, yang mengakibatkan kerusakan berat pada masjid dan bangunan Ka'bah. Ibn Zubayr terbunuh dalam serangan ini dan kemudian Hajjaj mengambil alih kekuasaannya serta merenovasi bangunan Ka'bah.(1) Pada masa Imam 'Ali, ketika beliau berusaha membersihkan pemerintahan Islam dari kaki tangan Utsman yang menggerogoti Bayt al-Mal dan meluruskan berbagai penyelewengan yang telah terjadi, Ibn Zubayr justru menjadi tempat berlindung bagi kaum munafik dan para pembatal baiat. Ia melakukan konspirasi dari Kota Mekkah dengan tujuan menyiapkan pecahnya sebuah pemberontakan di Kota Bashrah untuk melawan 'Ali Ibn Abi Thalib. Para pemberontak itu terdiri dari para pembenci 'Ali, orang-orang bodoh (seperti sekelompok dari kabilah Azd di Bashrah yang ber-tabarruk dengan kotoran onta Aisyah dengan meremas-remas dan menciuminya, lalu berkata: "Sungguh tercium bau harum misyik darinya!") dan beberapa mantan gubernur yang telah dicopot dari jabatan mereka oleh ‘Ali, seperti Ya'la Ibn Umayyah (mantan gubernur Utsman di

P: 70


1- 25. Diringkas dari al-Bidayah wa al-Nihayahnya Ibn Katsir dan Tarikh al-Khulafa'nya Suyuthi.

Yaman) yang menyumbangkan banyak dana berikut empat ratus onta bagi para pemberontak (1) Konspirasi Ibn Zubayr ini merenggut lebih kurang tiga puluh ribu jiwa kaum muslimin dalam perang saudara.(2) Selama berkuasa di Mekkah pasca syahadah al-Husain, Ibn Zubayr selama beberapa waktu sempat tidak menyebutkan nama Rasulullah Saw. di kothbah Jumat. Ketika diprotes oleh masyarakat, ia menjawab, “Rasul memiliki keluarga dan keturunan yang tidak baik, sengaja aku tidak sebutkan nama Rasul agar mereka tidak berbangga diri dengan kemuliaannya."(3) Ada yang berjuang demi Islam dengan mempertaruhkan jiwa raga dan seluruh yang dimilikinya, tetapi ada juga yang berjuang demi kekuasaan pribadi dengan mempertaruhkan agama serta kehormatan tanah suci dan Ka'bah. Dengan kata lain, al-Husain menjadikan dirinya, keluarga, dan para sahabatnya sebagai perisai untuk menjaga agama, sedangkan Ibn Zubayr mempertaruhkan agama demi kepentingan pribadinya.

Dalam perjalanan menuju Kufah, Imam Husain bertemu dengan penyair ternama, Farazdaq Ibn Ghalib. Al-Husain bertanya padanya tentang situasi masyarakat Kufah.

Farazdaq berkata, “Bolehkah aku berkata jujur padamu?" Imam menjawab, “Kejujuran yang aku harapkan darimu!" Farazdaq berkata, "Hati mereka bersamamu, tetapi pedang mereka di bawah kendali Bani Umayyah. Dan bagaimana pun juga kemenangan hanya dari sisi Allah.” Imam melanjutkan:

... صدقت لله الأمر وکل یوم هو فی شأن أن نزل القضاء بما نحب ونرضی فنحمد الله علی نعمائه وهو المستعان علی اداء الشکر و ان حال القضاء دون الرجاء فلم یتعد من کان الحق نیته والتقوی سریرته.

Benar apa yang kau katakan, segala ketentuan serta keputusan ada di tangan Allah. Apabila ketentuan-Nya sesuai dengan apa yang kami inginkan

P: 71


1- 26. Tarikh Thabari, juz 5, h. 12.
2- 27. Tarikh Ya'qubi, Perang Jamal.
3- 28. Muruj al-Dzahab, juz 3, h. 88.

dan sukai, maka kami akan memuji-Nya atas karunia yang diberikan dan Dia jualah yang menolong kami dalam bersyukur, tetapi bila ketentuan itu tidak seperti yang kami harapkan, maka sungguh tidak keliru siapa yang benar niatnya dan bertakwa hatinya. (1) Ibn Katsir Dimasyqi dan Ibn Nima telah menukil dari seorang penduduk Kufah:

Setelah mengerjakan manasik haji, aku segera pulang menuju Kufah.

Dalam perjalanan, aku melihat beberapa tenda dan aku bertanya siapa yang tinggal di sana. Diberitakan padaku bahwa tenda-tenda itu milik Husain Ibn 'Ali. Dengan penuh kerinduan, aku segera menghampiri perkemahan beliau, aku menemuinya sedang membaca al-Qur'an dengan air mata terus menetes dan kulihat wajahnya sudah menujukkan tanda-tanda ketuaan.

Aku berkata: "Semoga jiwa ayah dan ibuku menjadi tebusanmu! Wahai putra dari putri Nabi, apa yang membawamu ke padang gersang, tandus, dan tak berair ini?" Imam menjawab:

أن هؤلاء اخافونی وهذه کتب اهل الکوفه وهم قاتلی فاذا فعلوا ذالک ولم یدعوا لله محرما الا انتهکوه بعث الله الیهم من یقتلهم حتی یکونوا اذل من فرام المرأه.

"Mereka (Bani Umayyah) telah mengancamku, sementara ini adalah surat-surat masyarakat Kufah (yang memanggilku), padahal justru merekalah yang akan membunuhku. Dan apabila mereka melakukan kejahatan ini serta tidak menghormati hukum dan perintah Allah, maka Allah akan kuasakan atas mereka seseorang yang akan membunuh mereka dan menghinakan mereka hingga lebih nista dari kain pembalut wanita. (2)

P: 72


1- 29. Ansäb al-Asyraf, juz 3, h. 164; Tarikh Thabarī, juz 7, h. 278; Ibn Atsir. al-Kamil, juz 3. h. 276: Syekh Mufid, Irsyad, h. 218; Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 223; al-Bidāyah wa al-Nihayah, juz 8, h. 166.
2- 30. Tarikh Ibn Asakir, h. 211; al-Bidayah wa al-Nihāyab, juz 8, h. 169; Mutsir al-Abzan, h. 21.

Catatan:

Tidak lama setelah peristiwa Asyura, masyarakat Kufah dihadapkan pada kebangkitan kelompok Tawwa'ibīn dan Mukhtar dalam menuntut balas darah al-Husain.

Dan yang lebih parah lagi adalah dua puluh tahun masa kekuasaan Hajjaj Ibn Yusuf di Irak sejak tahun 75 H–95 H. Selama itu ia menindas, mengintimidasi, memenjarakan, menyiksa, dan membunuh masyarakat Irak, khususnya Kufah, sehingga benar-benar menjadikan mereka lebih hina dari kain pembalut wanita sebagaimana yang telah diprediksikan oleh Imam Husain.

Di pemberhentian Tsa'labiyyah, Imam Husain mendapat berita syahādah Muslim Ibn Aqil dan Hani Ibn Urwah. Ibn Sulaim mendapat berita syahadah mereka dari seorang musafir bernama Bukair. Bukair berkata, “Demi Allah, aku tidak keluar dari Kota Kufah, kecuali kusaksikan dengan mata kepalaku Muslim dan Hani dibunuh, lalu jasad mereka diseret di atas tanah pasar Kufah." Ibn Sulaim berkata, “Mendengar berita duka ini, aku menyaksikan air mata al-Husain menetes seraya mengucapkan kalimat istirja'. Tangisan beliau diikuti oleh tangisan rombongan Bani Hasyim dan para wanita." Berita ini membuat sebagian rombongan berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan menuju Kufah, karena kejadian ini telah membuktikan ketidaksetiaan masyarakatnya kepada Imam Husain.

Namun, anak-anak Muslim Ibn Aqil bersikukuh untuk membalas orang- orang yang telah membunuh ayah mereka. Terjadilah tarik ulur pendapat di antara mereka dan semua menanti apa pendapat Imam dalam hal ini.

Kemudian Imam berkata:

لا خیر فی العیش بعد هؤلاء! "Tidak ada kebaikan dalam hidup setelah kepergian mereka!(1)

P: 73


1- 31. Ansäb al-Asyraf, juz 3, h. 168; Thabari, juz 7,h.293; Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, juz 3, h. 278; Ibn Katsir, al-Bidayah, juz 8, h. 168; Syekh Mufid, Irsyad, h. 222; Lubüf, h. 41.

Catatan:

Menurut Imam Husain, apalah arti kehidupan di tengah masyarakat fasid dan durjana, masyarakat yang tangannya berlumuran darah manusia- manusia Ilahi seperti Muslim dan Hani. Tidak ada pilihan lain dalam keadaan umat seperti ini, kecuali berjuang menegakkan kebenaran atau mati sebagai pahlawan, karena selain itu akan berarti hidup dalam kehinaan. Dan, sungguh jauh kehinaan dari al-Husain dan pengikut setianya! Memasuki pemberhentian Syuquq, al-Husain bertemu dengan seorang lelaki dari Kota Kufah dan beliau bertanya tentang keadaan kota itu. Lelaki itu menjawab, “Wahai putra Rasulullah, mereka telah bersepakat untuk memusuhi dan memerangimu!" Lalu Imam Husain berkata:

أن الأمر لله یفعل ما یشاء وربنا تبارک هو کل یوم فی شأن فان تکن الدنیا تعد نفیسه.

فدار ثواب الله اعلی وانبل.

وان تکن الأموال للرک جمعها.

فما بال متروک به المرء یبخل.

وان تکن الأرزاق قسما مقسما.

فقله حرص المرء فی الکسب اجمل.

وان تکن الأبدان للموت أنشأت.

فقتل امرء بالسیف فی الله افضل.

Ketentuan ada di tangan Allah, Dia akan melakukan apa yang dikehendakinya dan setiap hari Dia memegang kendali segala urusan.' Imam selanjutnya melantunkan sebuah puisi yang menggambarkan filosofi kehidupan seorang mukmin sejati:

Bila dunia dianggap berharga Sungguh tempat pahala Ilahi jauh lebih tinggi dan mulia Bila harta yang dikumpulkan sedianya akan ditinggal Mengapa orang harus kikir terhadapnya

P: 74

Bila rizki telah dibagi-bagi Sungguh tidak rakus dalam pencarian akan lebih berbudi Bila jasad-jasad ini diciptakan untuk mati Sungguh kematian seseorang di jalan Allah lebih utama(1) Pemberhentian berikutnya adalah Syaraf, tempat di mana kafilah Husaini bertemu dengan seribu pasukan Ibn Ziyad di bawah pimpinan Hurr Ibn Yazid Riyahi. Kafilah Imam Husain yang sebelumnya sudah mengisi persediaan air dari Sungai Furat, dengan penuh ketulusan memberi minum pasukan serta tunggangan pasukan Hurr yang kehausan.

Di pemberhentian ini, Hurr dan pasukannya sempat salat zuhur berjamaah dan ashar bersama Imam Husain.

Usai salat zuhur, al-Husain berkata:

ایها الناس انها معذره الی الله والیکم وان لم آتکم حتی اتتنی کتبکم وقدمت بها رسلکم ان اقدم علینا فانه لیس لنا أمام ولعل الله أن یجمعنا بک علی الهدی فان کنتم علی ذالک فقد جئتکم فأعطونی ما اطمئن به من عهودکم ومواثیقکم وان کنتم لمقدمی کارهین انصرف عنکم إلی المکان الذی جئت منه الیکم.

Ayyuhannas! Ucapanku adalah hujjah bagi kalian dalam menjalankan tugas serta tanggung jawab dari sisi Allah. Sungguh aku tidak mendatangi kalian, kecuali setelah tibanya surat-surat kalian juga utusan-utusan kalian yang berkata, "Kemarilah, kami tidak memiliki pemimpin dan semoga Allah memberi kami petunjuk dengan perantaramu!" Apabila kalian masih seperti itu dan kini aku telah berada di tengah-tengah kalian, maka berikanlah padaku jaminan yang membuatku percaya atas janji-janji kalian. Namun, bila kalian tidak lagi mengharapkan kedatanganku, maka aku akan segera beranjak kembali ke tempat yang kutinggalkan demi menemui kalian.” Pasukan Hurr hanya bisa diam seribu bahasa mendengar ucapan Imam Husain. Mereka kemudian melaksanakan salat ashar berjamaah dan usai salat, Imam Husain kembali berpidato:

P: 75


1- 32.Tarikh Ibn Asakir, h. 164; Magtal Kharazmi, juz 1, h. 223; Kasyf al-Ghummab, h. 183-184; Managib Ibn Syahr Asyub, juz 4, h.72.

اما بعد ایها الناس فانکم ان تتقوا الله وتعرفوا الحق لأهله یکن ارضی لله ونحن أهل بیت محمد (ص) اولی بولایه هذا الأمر من هؤلاء المدعین ما لیس لهم والستائرین بالجور والعدوان وان ابیتم الا الکراهه لنا والجهل بحقنا وکان رأیکم الآن غیر ما اتتنی به کتبکم انصرف عنکم.

Amma Ba’du, ayyuhannas! Apabila kalian bertakwa kepada Allah dan memberikan hak (memimpin) kepada ahlinya, maka hal itu akan mendatangkan kerelaan dari Allah. Dan kami, Ahl Bayt nabi, lebih layak untuk memimpin ketimbang mereka yang mendakwa sesuatu yang bukan hak mereka serta berlaku zalim lagi durjana. Namun, apabila kalian enggan untuk mengakui serta mengabaikan hak kami, dan sikap kalian tidak lagi seperti yang tertulis di surat-surat kalian, maka aku akan segera berpaling dan meninggalkan kalian. (1) Catatan:

Pidato Imam di Syaraf menunjukkan bahwa keberangkatan beliau menuju Kufah semata-mata karena ada panggilan dari mereka. Dan, seandainya Imam tidak dihalang-halangi untuk meninggalkan kawasan itu, maka beliau akan mencari tempat lain guna meneruskan perjuangan demi menegakkan yang ma'ruf serta mencegah yang munkar.

Strategi Yazid dan Ibn Ziyad yang tidak membiarkan Imam Husain keluar dari Irak adalah bukti yang sangat kuat akan pengetahuan mereka bahwa beliau tidak akan menghentikan perlawanan meski masyarakat Kufah sudah tidak lagi setia pada janji mereka.

Beberapa petikan dari ucapan Imam Husain berikut ini juga memperkuat hal ini:

- وان تکن الأبدان للموت أنشأت فقتل امرء بالستیف فی الله افضل - سأمضی وما بالموت عار علی الفتی !

P: 76


1- 33. Thabari, juz 7, b. 297-298; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 280; Mufid, Irsyad, h. 224-225; Magtal Kharazmi, h. 231-232.

- هیهات منا الذله ) - لا أعطیهم بیدی اعطاء الذلیل ولا افر منهم فرار العبید ! - مثلی لا یبایع مثله ! | - والله لا أعطی الدنیه من نفسی ! “Bila jasad-jasad ini diciptakan untuk mati, sungguh kematian seseorang di jalan Allah lebih utama! Aku akan terus berjuang, dan sungguh kematian bukanlah kehinaan bagi seorang ksatria! Pantang menyerah pada kehinaan! Sungguh aku tidak akan menjabat mereka dengan tangan hina, juga tidak akan lari dari mereka laksana budak! Orang seumpama aku tak akan pernah berbaiat pada orang seperti dia! Demi Allah, aku tak akan sudi menghinakan diriku!' Setelah pemberhentian Syaraf, kafilah al-Husain berjalan beriringan dengan pasukan Hurr hingga tiba di pemberhentian Baidhah. Di sana al- Husain kembali menjelaskan alasan-alasan kebangkitannya.

Beliau berkata:

ایها الناس أن رسول الله (ص) قال من رأی سلطانا جائرا مستحلا لحرام الله ناکثا عهده مخالفا لسنه رسول الله یعمل فی عباد الله بالأثم والعدوان فلم یغیر علیه بفعل ولا قول کان حقا علی الله أن یدخله مدخله الا وان هؤلاء قد لزموا طاعه الشیطان وترکوا طاعه الرحمان واظهروا الفساد وعطلوا الحدود واستأثروا بالفیئ واحتوا حرام الله وحرموا حلاله وانا احق من غیر وقد اتتنی کتبکم وقدمت علی رسلکم ببیعتکم انکم لا تسلمون ولا تخذلون فان اتممتم علی بیعتکم تصیبوا رشدکم فانا الحسین بن علی وابن فاطمه بنت رسول الله نفسی مع انفسکم واهلی مع اهلکم ولکم فی اسوه وان لم تفعلوا ونقضتم عهدکم وخلفتم بیعتی من اعناقکم ما هی لکم بنکر

P: 77

لقد فعلتموها بأبی و أخی وابن عمی مسلم فالمغرور من اغتر بکم فحظکم اخطأتم ونصیبکم ضیعتم ومن نکث فائما ینکث علی نفسه وسیغنی الله عنکم والسلام علیکم ورحمه الله وبرکاته.

Ayyuhannas! Sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda, Siapa menyaksikan penguasa zalim, yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, ingkar pada janjinya kepada Allah, menentang sunnah Rasul-Nya, dan berbuat dosa serta aniaya di antara hamba-hamba-Nya, lalu ia tidak melawannya dengan perbuatan dan perkataan, maka Allah berhak untuk memasukkannya ke tempat penguasa zalim tersebut.' Sungguh mereka (Bani Umayyah) telah mematuhi setan dan meninggalkan ketaatan kepada Allah, mereka terang-terangan melakukan kefasadan, mengabaikan hukum-hukum Allah, menguasai harta kaum muslimin, dan menghalalkan yang diharamkan Allah serta mengharamkan yang dihalalkan oleh-Nya. Sementara aku lebih berhak dibanding mereka yang berani mengubah aturan Allah. Surat-surat kalian telah sampai padaku, demikian pula dengan utusan-utusan kalian yang memberitakan baiat kalian padaku, dan bahwa kalian tidak akan membiarkanku sendirian melawan musuh atau meninggalkanku. Seandainya kalian berpegang teguh pada baiat kalian, maka kalian telah menempuh jalan yang benar dan meraih kebahagian (yang hakiki). Aku adalah Husain putra Ali, putra Fatimah putri nabi, aku bersama kalian, keluargaku bersama keluarga kalian dan aku adalah uswah bagi kalian. Namun bila kalian tidak lagi setia, ingkar janji dan berlepas dari baiat kalian padaku, sungguh hal ini bukan sesuatu yang baru bagi kalian. Kalian telah melakukan hal yang sama atas ayahku, saudaraku, dan putra pamanku Muslim (Ibn Aqil). Orang yang tertipu adalah mereka yang mengikuti kalian.

Kalian telah salah jalan dan mengabaikan kesempatan baik kalian. Siapa yang ingkar janji, maka kerugiaannya akan kembali pada dirinya sendiri. Allah akan mencukupi apa yang kubutuhkan sehingga aku tidak lagi perlu pada kalian, wassalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh!"(1)

P: 78


1- 34. Thabari, juz 7, h. 300; Tarikh Ibn Atsir, juz 3, h. 280; Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 234; Ansäb al- Asyraf, juz 3, h. 171.

Akhirnya, pada 2 Muharam tahun 61 H, kafilah al-Husain tiba di Karbala. Kala itu, al-Hurr mendapat perintah untuk menahan kafilah al- Husain, kafilah itu tidak diizinkan bergerak menuju Kufah atau kembali ke Madinah. Imam Husain menghadap keluarga dan para sahabatnya, lalu berkata:

... اما بعد فقد نزل بنا من الأمر ما قد ترون وان الدنیا قد تغیرت وتنکرت وادبر معروفها ولم یبق منها الا صبابه کصبابه الاناء وخسیس عیش کالمرعی الوبیل الا ترون إلی الحق لا یعمل به والی الباطل لا یتناهی عنه لیرغب المؤمن فی لقاء الله فائ لا اری الموت الا سعاده والحیاه مع الظالمین الا برما الناس عبید الدنیا والدین لعق علی السنتهم یحوطونه ما درت معایشهم فاذا متصوا بالبلاء قل الدیانون..

'Amma Ba'du, kalian telah mengetahui situasi yang menimpa kita. Dunia telah berubah menjadi kejam, keburukannya tampak dan kebaikannya sirna hingga tidak tersisa darinya, kecuali seperti beberapa tetes air dalam bejana (setelah dituang habis isinya). Kehidupan di dunia kini seperti kehidupan di tengah padang tandus tak berair. Tidakkah kalian menyaksikan bahwa kebenaran tidak diamalkan dan kebatilan telah merajalela. Dalam situasi seperti ini, seorang mukmin tidak mempunyai pilihan, kecuali menempuh jalan perjuangan serta pengorbanan sampai bertemu dengan Tuhan-nya.

Sungguh aku tidak melihat kematian (dalam situasi dan kondisi seperti ini), kecuali kebahagian dan hidup bersanding dengan orang-orang zalim, kecuali kesengsaraan. (Kebanyakan) manusia adalah budak dunia, sementara agama hanyalah manisan yang dikulum mulutnya. Ia akan terus mengulumnya selagi manis dan mendatangkan keuntungan baginya, tetapi bila dihadapkan pada ujian, maka akan menjadi sedikit jumlah orang yang beragama. (1) Ibn Ziyad yang terus mendapatkan berita tentang Imam Husain dari Hurr, sang panglima pasukan, menuliskan sepucuk surat untuk Imam Husain. Isi surat Ibn Ziyad sebagai berikut:

P: 79


1- 35. Tuhaf al-Ugül, h. 174; Thabari, juz 7, h. 300; Mutsir al-Ahzan, h. 22; Tarikh Ibn Asakir, h. 214; Magtal Kharazmi, juz 2, h.5; Lubüf, h. 69.

"Aku telah mengetahui kedatanganmu di tanah Karbala. Dan aku mendapat perintah dari Amirul Mukminin Yazid Ibn Mu'awiyah untuk tidak tidur nyenyak dan makan enak sebelum membunuhmu atau engkau mau menyerah padaku dan menerima (dengan tulus) khilafah Yazid. Wassalam".

Setelah membaca surat Ibn Ziyad, Imam langsung mencampakkannya seraya berkata:

لا افلح قوم اشتروا مرضات المخلوق بسخط الخالق.

... ماله عندی جواب لأنه حقت علیه کلمه العذاب.

"Tidak akan selamat orang-orang yang membeli kerelaan mahluk dengan amarah Khalik! Tidak ada jawaban baginya dariku, karena azab Ilahi telah diputuskan atasnya.' Kurir Ibn Ziyad menyampaikan secara rinci sikap Imam Husain usai membaca suratnya. Hal ini membuat Ibn Ziyad semakin marah dan geram kepada Imam Husain.

Pada hari kesepuluh Muharam, usai salat subuh, beliau berorasi di hadapan para pengikut setianya seraya berkata:

...ان الله تعالی اذن فی قتلکم وقتلی فی هذا الیوم فعلیکم بالصبر والقتال.

... صبرا یا بنی الکرام فما الموت الا قنطره تعبر بکم عن البؤس والضراء إلی الجنان الواسعه والتعم الدائمه فأیکم یکره أن ینتقل من سجن الی قصر وما هو لأعدائکم الا کمن ینتقل من قصر الی سجن وعذاب ان أبی حدثنی عن رسول الله (ص) ان الدنیا سجن المؤمن وجته الکافر والموت جسر هؤلاء الی جناغم وجسر هؤلاء إلی جحیمهم ماکذبت ولا کذبت.

Sesungguhnya, Allah Ta'ala pada hari ini telah menurunkan izin-Nya atas terbunuhnya kalian dan aku, maka teguhkan hati kalian dan perangilah (musuh-musuh Allah).(1)

P: 80


1- 36. Ibn Qulawaih, Kamil al-Ziyarab, h. 37; Mas'udi, Itsbat al-Washiyyah, h. 139.

Bersabarlah, hai putra-putra para mulia! Kematian hanyalah sebuah jembatan yang akan mengantar kalian dari kesengsaraan serta kesulitan menuju kebun-kebun yang luas dan nikmat-nikmat yang abadi. Siapakah di antara kalian yang enggan untuk berpindah dari penjara menuju istana?! (Sebaliknya), bagi musuh-musuh kalian, kematian adalah perpindahan dari istana menuju penjara serta azab (yang pedih). Sesungguhnya, ayahku telah memberitakan padaku apa yang ia dengar dari Rasulullah Saw., bahwa beliau bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Kematian adalah jembatan bagi mukminin menuju surga- surga mereka dan jembatan pula bagi orang-orang kafir menuju neraka.

Sungguh, aku tidak pernah dibohongi atau berbohong!"(1) Setelah berorasi, beliau segera mengatur barisan pasukannya yang menurut riwayat masyhur berjumlah tujuh puluh dua orang. Pasukan kanan dipimpin oleh Zuhair Ibn Qain, pasukan kiri oleh Habib Ibn Muzhohir, bendera pasukan diserahkan kepada saudara beliau Abul Fadhl al-Abbas, dan beliau sendiri beserta keluarga berada di tengah-tengah pasukan Menunjukkan sikap tegasnya yang tidak akan pernah menyerah pada kehinaan, beliau berkata:

الا ان الدعی ابن الدعی قد رکز بین اثنتین بین التله والذله وهیهات منا الذله یابی الله لنا ورسوله والمؤمنون...

Anak haram putra anak haram ini (Ibn Ziyad) hanya memberiku dua pilihan, pedang atau pasrah pada kehinaan, sungguh jauh dari kami kehinaan! Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin enggan bila kami menyerah pada kehinaan ...' Akhirnya, peperangan dipaksakan oleh lebih dari tiga puluh ribu pasukan Ibn Ziyad di bawah komando Umar Ibn Sa'ad atas al-Husain, keluarga dan para sahabatnya.

P: 81


1- 37. Syekh Shaduq, Ma'ani al-Akhbar, dinukil dari Balaghat al-Husayn, h. 190.

Setelah gugurnya beberapa orang dari pasukan al-Husain, dalam satu kesempatan beliau menggenggam cambangnya, lalu berkata:

اشتد غضب الله علی الیهود اذ جعلوا له ولدا واشتد غضبه علی النصاری اذ جعلوه ثالث ثلاثه واشتد غضبه علی المحوس اذ عبدوا الشمس والقمر دونه واشتد غضبه علی قوم اتفقت کلمتهم علی قتل ابن بنت نبیهم.

...اما والله لا اجیبهم الی شیئ مما یریدون حی القی الله وانا مخضب بدمی.

... اما من مغیث یغیثنا اما من ذابت یذب عن حرم رسول الله (ص).

Allah marah atas orang-orang Yahudi ketika mereka menisbatkan anak pada-Nya, Allah marah atas orang-orang Nasrani karena mereka menjadikan Allah sebagai salah satu tuhan di antara tiga, Allah marah atas orang-orang Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan selain-Nya, dan marah atas sebuah umat yang bersepakat untuk membunuh putra dari putri nabinya.

... Demi Allah, aku tidak memberikan sedikit pun dari tuntutan mereka hingga aku berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersimbah darah.

... Adakah yang menyahuti seruan kami! Tidak adakah orang yang mau membela keluarga Rasulullah Saw.!' Teriakan al-Husain ini disambut oleh gemuruh tangis para wanita di tenda-tenda.

Saat diberikan kepada al-Husain putranya yang masih menyusu (Ali al-Asghar), putra mungil itu meronta-ronta kehausan dalam dekapan sang ayah, tetapi tangisan bayi tak berdosa itu seketika terhenti oleh anak panah bercabang tiga yang mendarat tepat di lehernya, al-Husain terenyak seakan tak percaya atas apa yang terjadi, lalu berkata:

رب انک أن حبست عنا النصر من السماء فاجعل ذالک لما هو خیر وانتقم لنا واجعل ما حل بنا فی العاجل ذخیره لنا فی الأجل...هون علی ما نزل بی أنه بعین الله

P: 82

Ya Allah,, bila engkau tidak memberikan kemenangan pada kami dari langit, maka gantilah dengan sesuatu yang lebih baik bagi kami dan balaslah perlakuan kejam mereka atas kami. Dan jadikan apa yang menimpa kami di dunia sebagai simpanan kami di akhirat. Sungguh mudah bagiku menghadapi semua ini, karena segala yang menimpaku tidak ada yang luput dari pantauan Ilahi/(1) Menurut nukilan penulis Mishbāh al-Mutahajjid dan al-Iqbāl, saat- saat akhir hayatnya, al-Husain membuka mata, memandang ke arah langit lalu bermunajat dengan Rabb-nya seraya berkata:

اللهم متعالی المکان عظیم الجبروت شدید المحال غنی عن الخلائق عریض الکبریاء قادر علی ما تشاء قریب الرحمه صادق الوعد سابغ النعمه حسن البلاء قریب اذا دعیت محیط بما خلقت قابل التوبه لمن تاب الیک قادر علی ما اردت تدرک ما طلبت شکور اذا شکرت ذکور اذا ذکرت ادعوک محتاجا وارغب الیک فقیرا وافزع الیک خائفا وابکی مکروبا واستعین بک ضعیفا واتوکل علیک کافیا اللهم احکم بیننا وبین قومنا فاهم غرونا وخذلونا وغدروا بنا وقتلونا ونحن عتره نبیک وولد حبیبک محمد (ص) الذی اصطفیته بالرساله وائتمنته علی الوحی فاجعل لنا من امرنا فرجا ومخرجا یا ارحم الراحمین.

...صبرا علی قضائک یا رب لااله سواک یا غیاث المستغیثین ما لی رب سواک ولا معبود غیرک صبرا علی حکمک یا غیاث من لا غیاث له یا دائما لا نفاد له یا محیی الموتی یا قائما علی کل نفس بما کسبت احکم بینی و بینهم وانت خیر الحاکمین.

Ya Allah yang Mahatinggi tempat-Mu, Mahadahsyat kekuatan-Mu, Mahajeli penglihatan-Mu, Engkau tidak butuh pada sekalian mahluk-Mu, kekuasaan-Mu meliputi segala sesuatu, Engkau mampu untuk melakukan apa saja yang menjadi kehendak-Mu, rahmat-Mu sangat dekat dengan seluruh hamba-Mu, Engkau selalu menepati janji-Mu, nikmat-Mu mencakup semua, cobaan-Mu indah, Engkau selalu dekat saat diminta, Engkau menguasai seluruh ciptaan-Mu, memberi ampunan kepada siapa pun yang bertobat,

P: 83


1- 38. Thabari, juz 7, h. 360; Ibn Sa'ad, Thabagat; Syekh Mufid, Irsyad dan Luhuf, h. 103.

berkuasa untuk mewujudkan seluruh kemauan, dapat menggapai segala yang Kau cari, Engkau akan bersyukur bila disyukuri dan ingat bila diingat. Aku meminta pada-Mu dalam kebutuhan, memohon pada-Mu dalam kefakiran, berlindung pada-Mu dalam ketakutan, menangis di hadapan-Mu dalam kesedihan, meminta pertolongan-Mu dalam kelemahan, bertawakal pada-Mu (karena aku yakin) Engkau Maha Mencukupi.

Ya Allah, hukumilah antara aku dan kaum (durjana) ini, mereka telah menipu kami, meninggalkan kami, mengkhianati kami dan memerangi kami, padahal kami adalah itrah nabi-Mu, putra-putra kekasih-Mu Muhammad Saw., yang telah Kau pilih sebagai pembawa risalah dan Kau percayakan padanya wahyu, berilah solusi dan jalan keluar bagi kami, wahai Zat yang paling kasih diantara para pengasih! ... Aku bersabar atas ketentuan-Mu, tiada tuhan selain Engkau, wahai yang memberi pertolongan kepada yang meminta pertolongan, aku tidak memiliki tuhan selain-Mu, juga tidak sesembahan, kecuali Kamu. Aku bersabar pada keputusan-Mu, wahai penolong bagi yang tak punya penolong. Wahai yang abadi nan tak sirna, wahai yang menghidupkan orang-orang mati, wahai yang membalas sekalian hamba atas apa yang mereka perbuat, hukumilah antara aku dan mereka (orang-orang zalim), sungguh Engkau adalah sebaik- baik pemberi putusan. (1) Catatan:

(1) Peristiwa pengambilan baiat untuk Yazid dapat ditelaah di kitab al-Ghadir karya Allamah Amini, juz 10.

(2) Tarikh Thabari, juz 7, h. 216218; Ibn Atsir, al-Kamil,jilid 3, h. 263—264; Syekh Mufid, Irsyad, h. 200; Ibn Nima, Mutsir al-Ahzan, h. 10; Magtal Kharazmi, h. 182; Ibn Thawus al-Husayni, Lubüf, h. 19.

(3)Lubüf, h. 20; Mutsir al-Ahzan, h. 10; Magtal Awālim, h.53; Magtal Kharazmi, juz 1, h. 185.

(4)Magtal Kharazmi, juz 1, h. 186; Maqtal Awālim, h. 54.

(5)Imam 'Ali di Kufah dan Imam Husain di Karbala.

(6) Luhüf, h. 23.

P: 84


1- 39. Dinukil dari Maqtal Muqarram, h. 344—345.

(7) Rawandi, Khardij, h. 26; Babrani, Madinah al-Ma'ājiz, h. 244; Itsbāt al-Wasbiyyah, h. 162; Bihär al-Anwār, juz 44, h. 331.

(8)Magtal Awālim, h. 54; Maqtal Kharaxmi, juz 1, h. 188; Tarikh Thabari, juz 7, h. 221; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 265; Syekh Mufid, al-Irsyad, h. 202.

(9) Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 188; Maqtal Awalim, h. 54.

(10)Tarikh Thabari, juz 7, h. 222; Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, juz 3, h. 265; Syekh Mufid, al- Irsyad, h. 202; Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 189.

(11) Magtal Kharazmi, juz 1, h. 190.

(12) Lubüf, h. 26; Mutsir al-Ahzan, h. 20.

(13) Ibn Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, juz 4, h.9–11.

(14) Bihar al-Anwār, juz 44, h. 311.

(15) Fath al-Bāri, juz 13, h. 60.

(16) Shahih Bukhāri, Kitāb al-Fitan.

(17) 'Abdullah ibn Umar termasuk salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. Dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal saja ada sekitar 1.700 hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Umar, sementara kedua cucu Rasulullah Saw., Imam Hasan dan Imam Husain, secara keseluruhan hanya ada dua puluh dua hadis saja?! (18) Tarikh Thabari, juz 7, h. 240.

(19) Tarikh Thabari, juz 7, h. 235; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 267; Syekh Mufid, Irsyad, h. 204; Magtal Kharazmi, juz 1, h. 195—196.

(20) Thabari, juz 7, h. 235; Dainuri, Akhbar Thiwal, h. 238.

(21) Magtal Kharazmi, juz 1, h. 196.

(22) Ansāb al-Asyraf, juz 3, h. 161; Tarikh Thabari, juz 7, 1.275; Ibn Atsir, al-Kâmil, juz 3, h. 276.

(23) Hari persatuan dan taqarrub kepada Allah.

(24) Ansäb al-Asyraf juz 3, h. 164; Tarikh Thabari, juz 7, h. 276; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 275; Ibn Qulawaih, Kamil al-Ziyarat, h. 72–73.

(25) Diringkas dari al-Bidayah wa al-Nihayahnya Ibn Katsir dan Tarikh al-Khulafa'nya Suyuthi.

(26) Tarikh Thabari, juz 5, h. 12.

(27) Tarikh Ya'qubi, Perang Jamal.

(28) Muruj al-Dzahab, juz 3, h. 88.

(29) Ansäb al-Asyraf, juz 3, h. 164; Tarikh Thabarī, juz 7, h. 278; Ibn Atsir. al-Kamil, juz 3. h. 276:

Syekh Mufid, Irsyad, h. 218; Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 223; al-Bidāyah wa al-Nihayah, juz 8, h. 166.

(30) Tarikh Ibn Asakir, h. 211; al-Bidayah wa al-Nihāyab, juz 8, h. 169; Mutsir al-Abzan, h. 21.

(31) Ansäb al-Asyraf, juz 3, h. 168; Thabari, juz 7,h.293; Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, juz 3, h. 278; Ibn Katsir, al-Bidayah, juz 8, h. 168; Syekh Mufid, Irsyad, h. 222; Lubüf, h. 41.

Tarikh Ibn Asakir, h. 164; Magtal Kharazmi, juz 1, h. 223; Kasyf al-Ghummab, h. 183-184; Managib Ibn Syahr Asyub, juz 4, h.72.

(33) Thabari, juz 7, b. 297-298; Ibn Atsir, al-Kamil, juz 3, h. 280; Mufid, Irsyad, h. 224-225; Magtal Kharazmi, h. 231-232.

(34) Thabari, juz 7, h. 300; Tarikh Ibn Atsir, juz 3, h. 280; Maqtal Kharazmi, juz 1, h. 234; Ansäb al- Asyraf, juz 3, h. 171.

(35) Tuhaf al-Ugül, h. 174; Thabari, juz 7, h. 300; Mutsir al-Ahzan, h. 22; Tarikh Ibn Asakir, h. 214; Magtal Kharazmi, juz 2, h.5; Lubüf, h. 69.

P: 85

(36) Ibn Qulawaih, Kamil al-Ziyarab, h. 37; Mas'udi, Itsbat al-Washiyyah, h. 139.

(37) Syekh Shaduq, Ma'ani al-Akhbar, dinukil dari Balaghat al-Husayn, h. 190.

(38) Thabari, juz 7, h. 360; Ibn Sa'ad, Thabagat; Syekh Mufid, Irsyad dan Luhuf, h. 103.

(39) Dinukil dari Maqtal Muqarram, h. 344—345.

P: 86

AMR MA'RUF DAN NAHY MUNKAR DALAM KEBANGKITAN IMAM HUSAIN

HUSEIN ALKAFF

The paper pinpoints dignity and independence from oppression and tyranny as core value underlining Imam Husayn revolution in Karbala. The dignity and the degree of soul differs a man from another. Owing noble honor, dignity, courage and true belief, Imam Husayn and his companions stood facing domineering and tyrannical people. He sacrificed everything he had, his family and his life combating iniquity. He did amr ma'ruf and nahy munkar by his hand and his soul.

As a grandson of the holy Prophet, he carried with him greater responsibility to challenge despotism and fight against injustice. Outraged by the wicked totalitarianism attemting to destroy principles of religion of Allah; Imam Husayn in practicing amr ma'ruf nahy al-munkar primarily pursued movements of his father, Imam Ali and his brother, Imam Hasan. Contemplating this revolution, Muslim Ummah can draw a valuable lesson that the duty of fighting against tyranny is necessitated toward both infidel parties and those undermine Islamic teaching through power and authority. Revolution of Imam Husayn as is a feat opposing moralistic decadency as manifestation of amr ma'ruf and nahy al-munkar.

P: 87

Gerakan Religius dan Kemanusiaan

Islam adalah agama yang sempurna (kāmil) dan lengkap (tām) sebagaimana dinyatakan langsung oleh Qur'an sendiri, “Hari ini Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku lengkapkan untuk kalian kenikmatan-Ku. Aku rela Islam sebagai agama kalian," (QS Al-Māidah: 3).

Kesempurnaan Islam ini dibuktikan dengan ajaran-ajarannya yang mencakup semua sisi kehidupan manusia; individual maupun sosial.

Dalam tataran kehidupan individual, kita dapati sejumlah ajaran yang menyangkut masalah ritual (ʻubūdiyah), seperti salat, puasa, dan lainnya.

Demikian pula, dalam kehidupan keluarga, mulai dari urusan pernikahan, membina hubungan rumah tangga, perceraian, hingga bagaimana mendidik anak. Juga dalam kehidupan interaksi sosial (mu'āmalah), seperti jual-beli, perdagangan, sewa-menyewa, warisan, hingga masalah-masalah pidana (gishash dan hudūd). Imam Ja'far Shadiq mengatakan, “Tidak ada satu kasus apa pun, kecuali terdapat di dalamnya hukum Allah.”Penyataan ini menunjukan bahwa apa pun permasalahan yang dihadapi manusia, pasti ada respon hukumnya dalam Islam.

Para ulama fiqih dan ushul dengan ijtihad mereka yang didasari teks- teks agama (Qur'an dan Sunnah); sebagian dari mereka mendasari ijtihad juga dengan ijma'dan qiyas atau akal, telah merumuskan lima hukum taklif, yaitu wajib, haram, sunah (mustahab), makruh, dan mubah. Lima hukum ini merupakan respon nyata dari syariat terhadap kasus apa pun, sehingga secara pasti dapat dinyatakan bahwa segala kasus atau permasalahan yang telah muncul dan akan muncul tidak akan lepas dari salah satu lima hukum itu. Fakta ini merupakan bukti riil bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap.

Kesempurnaan Islam ini tampak dengan jelas dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, beliau adalah sosok teladan yang baik (uswatun hasanah), atau dengan meminjam terminologi kaum irfan dan tashawwuf, beliau adalah insan kāmil. Tentu kesempurnaan beliau tidak lain karena ajaran Islam yang sempurna telah terserap dalam dirinya

P: 88

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain secara utuh. Kemudian kesempurnaan kepribadian yang ada pada beliau itu dikembangkan kepada lingkungan sekitarnya agar tercipta masyarakat yang sempurna, "Kalian sebaik-baiknya umat yang diciptakan untuk manusia.

(karena) kalian menyuruh kebaikan (amr ma'rūf) mencegah kemunkaran (nahy munkar), dan beriman kepada Allah.(1) Amr ma'ruf dan nahy munkar serta iman sebagaimana dijelaskan dalam ayat ini adalah syarat terciptanya masyarakat yang baik dan sempurna.

Dalam membentuk kepribadian yang sempurna, beliau menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan, sebagaimana yang dialami oleh nabi-nabi lainnya. Beliau berhasil menghadapi semua ujian dan cobaan itu. Demikian pula, dalam menciptakan masyarakat yang baik dan sempurna, tidak sedikit rintangan yang dihadapinya. Oleh karena itu, terciptanya masyarakat yang baik dan sempurna bukan tanpa syarat dan tanpa rintangan. Tidak terciptanya masyarakat yang sempurna tidak bisa dibebankan kepada Nabi Saw., karena beliau sendiri adalah insan kāmil. Terciptanya masyarakat yang sempurna tidak cukup hanya dengan kehadiran insan kāmil itu, tetapi harus ada upaya dari mereka sendiri.

Tanpa adanya upaya dari mereka untuk menjadi masyarakat yang baik, atau tanpa upaya untuk berubah dari masyarakat jahiliyah, maka dakwah seorang nabi tidak akan memberikan hasil yang diharapkan. Masyarakat yang hidup bersama para Nabi terdahulu tidak berubah dari kehidupan jahiliah, bahkan mereka memusuhi, memerangi, dan bahkan berupaya membunuh para nabi.

Imam Husain ibn 'Ali Ibn Abi Thalib hidup pada masa ajaran-ajaran Islam telah ditinggalakan. Kepemimpinan umat Islam dipegang oleh seorang yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin Islam sehingga dengan sendirinya, masyarakat Islam waktu itu jauh dari sebuah masyarakat yang baik dan sempurna. Dalam menjelaskan masyarakat Islam saat itu, Imam Husain mengatakan, “Sesungguhnya sunnah-sunnah telah dimatikan dan bid'ah-bid'ah telah dihidupkan”,(2) dan dalam mengomentari

P: 89


1- 1. QS Ali 'Imrān: 110.
2- 2. Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 160 dan Muhammad al-Thabari, Tarikh al- Thabari, Bāb Khilafah Yazid, j. 4, h. 266.

kepemimpinan waktu itu, beliau berkata, "Selamat jalan untuk Islam pada saat umat Islam dipimpin oleh seorang pengembala semacam Yazid”.(1) Sebagai cucu Nabi Saw., Imam Husain merasa dirinya sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk mengubah masyarakat Islam dari keadaan yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam. Beliau tidak mungkin membiarkan masyarakat Islam dipimpin oleh seorang yang zalim dan merusak agama Allah. Gerakan perlawanan Imam Husain ini merupakan lanjutan dari pergerakan kakeknya, Nabi Muhammad Saw.

Dalam menyaksikan kezaliman yang telah masuk dalam kekuasaan, Imam Husain dengan tegas menyatakan pilihannya untuk bangkit melawan kezaliman meskipun kematian sebagai konsekuensinya, "Sesungguhnya Aku tidak melihat mati, kecuali kebahagiaan, dan hidup bersama orang- orang yang zalim tidak lain dari kejemuan (menjemukan).(2) Saat Yazid, putra Mu'awiyah, berkuasa semena-mena dan masyarakat dirundung rasa takut serta frustrasi, Imam Husain bangkit untuk mengingatkan mereka bahwa jika mereka membiarkan Yazid berkuasa dan meninggalkan ajaran-ajaran Nabi Saw., maka akan terjadi bahaya yang mengancam nilai-nilai agama, sosial, dan kemanusiaan. Atas dasar itu, gerakan Imam Husain adalah gerakan kesadaran religius. Beliau mengajak manusia agar kembali ke ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Oleh arena itu, sebagian ulama mengartikan ucapan Nabi Saw. yang berbunyi, "Husain dariku dan Aku dari Husain" bahwa gerakan Imam Husain merupakan lanjutan dari gerakan kakeknya, Nabi Saw., dan bahwa gerakan ini juga mengingatkan kembali masyarakat Islam akan perjuangan Nabi Saw. pada masa-masa sebelumnya. Penulis Kristen berkebangsaan Suria, Antoane Bara, dengan apik mengatakan, "Kepribadian Husain ibn 'Ali adalah samudra yang luas dari model- model etika dan akhlak kenabian. Perlawanannya merupakan ruang yang luas dari fakta-fakta moral dan ideologis. Barangkali kita membayangkan salah satu tanda keagungan dalam kepribadian ini dari ucapan kakeknya, Rasulullah Saw." Husain dariku dan Aku dari Husain". Maka kemanusiaan sang cucu naik menuju derajat

P: 90


1- 3. Ibn A’tsam, al Futuh, j. 5 h. 17.
2- 4..Murtadha Muthahhari, Hamäse-e Husayni,j. 2, h. 134.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain kenabian sang kakek (Aku dari Husain), dan kenabian sang kakek turun ke tempat kemanusiaan sang cucu (Husain dariku)(1) Selain gerakan religius, gerakan Imam Husain juga sebuah gerakan sosial dan kemanusiaan, karena gerakan itu bertujuan menjatuhkan sistem kekuasaan yang zalim, kekuasaan yang dijadikan sebagai alat untuk kepentingan penguasa dan kroninya dengan mengabaikan hak-hak masyarakat luas. Al-Ishfahani dalam al-Aghāni-nya menulis, “Yazid adalah orang yang kali pertama dari para khulafa yang membiasakan pesta pora, mengundang para penyanyi, melakukan dengan terang-terangan penistaan dan minum khamr."(2) Ibn Katsir juga menceritakan, “Yazid terkenal suka berpesta, minum khamr, bernyanyi, berburu, dan memelihara anjing serta memperlombakan adu domba, beruang, dan kera. Tiada satu hari pun berlalu, kecuali dia mabuk karena minum khamr."(3) Setelah Mu'awiyah mengangkat putranya, Yazid sebagai putra mahkota yang kelak akan menggantikannya. Dia berpesan kepada putranya itu agar menggunakan langkah-langkah yang tepat dalam memaksa Imam Husain untuk berbaiat kepadanya. Namun, Yazid bukanlah seorang yang cerdas seperti ayahnya, Mu'awiyah. Maka, segera setelah Mu'awiyah mati, Yazid menulis surat kepada walikota Madinah, Walid ibn 'Utbah, untuk memaksa Imam Husain supaya berbaiat kepadanya. Jika beliau menolak, maka penggalah lehernya. Sejarawan, al Thabari, menceritakan, "Setelah Mu'awiyah mati, Yazid dibaiat sebagai khalifah pada Rajab tahun enam puluh, dan yang menjadi amir di Madinah adalah al Walid ibn 'Utbah ibn Abu Sufyan. Pada saat dilantik, Yazid tidak mempunyai ambisi, kecuali memperoleh baiat dari orang-orang yang menolak ajakan Mu'awiyah untuk membaiatnya saat dia masih menjadi putra mahkota, dan dia ingin agar urusan mereka selesai.

Dia menulis surat kepada al Walid dan memberitahunya tentang kematian Mu'awiyah. Dia berkata, “Ambilah al-Husain, 'Abdullah

P: 91


1- 5. Antoane Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas, (Jakarta: Citra, 2007), h. 8
2- 6. Abu al-Farj al-Ishfahani, al-Aghāni,j. 16, h. 68.
3- 7. Ibn Katsir, al-Tarikh, j. 8 h. 436.

ibn Umar, dan 'Abdullah ibn Zubayr secara paksa. Mereka tidak punya pilihan, kecuali berbaiat."(1) Dalam riwayat lain disebutkan, "Yazid menulis surat kepada al-Walid dan memintanya agar mengambil baiat dari penduduk Madinah, khususnya al-Husain. Yazid berkata, "Jika dia (al-Husain) menolak, maka penggallah lehernya."(2) Dalam menjawab desakan al-Walid itu, Imam Husain berkata:

"Tidak, demi Allah! Aku tidak akan menjulurkan tanganku seperti orang yang hina dan tidak akan memberikan pengakuan seperti budak. Ketahuilah, sesungguhnya anak zina putra anak zina itu telah menetapkan antara dua hal: menyerah dan kehinaan. Sungguh kami jauh dari kehinaan. Allah, Rasul-Nya, dan kaum Mukminin telah menjauhkannya dari kami. Nenek moyang kami yang mulia, rumah- rumah yang suci, orang-orang yang tahu harga diri, dan jiwa-jiwa yang besar tidak akan mengutamakan ketaatan kepada orang-orang hina daripada bertarung sebagai kesatria." (3) Nilai yang diperjuangkan Imam Husain sehingga korban sebagai martyr adalah harga diri yang luhur dan nilai kemerdekaan dari penindasan dan kehinaan, sebagaimana yang dikatakan oleh Antaone Bara dalam pendahuluan bukunya, The Saviour, berikut ini, "Perlawanan yang dikobarkan Husain ibn 'Ali dalam dada yang beriman dan batin yang merdeka merupakan suatu hikayat kebebasan yang dikubur hidup-hidup oleh kezaliman pada setiap zaman dan tempat."(4)

Faktor-Faktor Gerakan Imam Husain

Secara umum, yang mendorong Imam Husain untuk bangkit melawan Yazid adalah dorongan religius dan kemanusiaan. Namun, perlu kita bahas lebih rinci apa saja yang menjadi faktor kebangkitan beliau itu, meskipun kita yakin bahwa faktor-faktor itu bersumber dari nilai-nilai religius dan kemanusiaan. Dengan membahas faktor-faktor itu secara rinci, kita akan mendapatkan bahwa gerakan Imam Husain bukanlah gerakan bunuh

P: 92


1- 8. Al-Thabari, Tarikh al-Thabari, j.6 h. 188
2- 9. Ibn Thawus al-Husaini, al-Lubüffi Qatl al-Thufüf, h. 9–10.
3- 10. Ibn 'Asakir, Tarikh Syam, j. 4 h.333.
4- 11. Antoane Bara, The Saviour. Husain Dalam Kristianitas, h. 1.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain diri yang berangkat dari rasa frustrasi yang dalam terhadap kondisi kepemimpinan dan masyarakat Islam waktu itu, gerakan beliau bukan pula merupakan sebuah pembangkangan terhadap kepemimpinan Islam yang terimplementasikan dalam diri Yazid ibn Mu'awiyah.

Faktor Pertama; Penolakan Baiat kepada Yazid Sebagai Khalifah Faktor ini terungkap dengan jelas dari ucapan Imam Husain ketika menolak al-Walid, walikota Madinah, untuk membaiat Yazid, "Tidak, demi Allah! Aku tidak akan menjulurkan tanganku seperti orang yang hina dan tidak akan memberikan pengakuan seperti budak." Penolakan ini dilakukan oleh beliau karena dalam keyakinannya, Yazid diangkat oleh ayahnya sendiri tanpa sebuah landasan atau legitimasi agama yang benar. Mu'awiyah sendiri menjadi khalifah melalui proses yang licik dan kotor, seperti teror, pembunuhan, manipulasi, dan suap.

Lebih dari itu, Yazid bukanlah sosok yang pantas menjadi khalifah kaum Muslimin. Sejarah mencatat bagaimana perbuatan dan tindakan Yazid yang kejam terhadap lawan-lawan politiknya dan bagaimana dia telah melanggar ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu, Imam Husain segera berkomentar menyusul pelantikan Yazid sebagai khalifah, “Selamat jalan untuk Islam pada saat umat Islam dipimpin oleh seorang pengembala semacam Yazid." Dalam riwayat lain, beliau juga berkata kepada Marwan:

"Kami adalah keluarga kenabian, sumber kerasulan, tempat persinggahan para malaikat dan muara rahmat. Dengan kamilah Allah membuka (ajarannya) dan dengan kami pulalah Dia menutupnya.Yazid adalah seorang fasik, peminum khamr, pembunuh jiwa yang terhormat, dan pengumbar kefasikan. Orang semacamku tidak akan membaiat orang seperti dia, tetapi apa yang akan terjadi

P: 93

dan kita lihat siapakah yang berhak menjadi khalifah dan berhak untuk dibai'at."(1) Faktor Kedua; Ajakan Penduduk Kufah Penduduk Kufah dikenal sebagai pengikut Imam 'Ali ibn Abi Thalib. Oleh karena itu, Imam 'Ali ibn Thalib memindahkan pusat khilafah Islamiyyah dari Madinah ke Kufah sehingga beliau syahid di sana. Sejak Imam 'Ali wafat, kemudian disusul dengan perdamaian (shulh) antara Imam Hasan ibn 'Ali dengan Mu'awiyah. Dan tidak lama kemudian Imam Hasan wafat karena diracun oleh istrinya sendiri karena rayuan dan janji Mu'awiyah, penduduk Kufah hidup dalam pengawasan yang ketat dari Mu'awiyah, yang memusatkan kekuasaannya di Syam. Dalam benak Mu'awiyah, Kufah adalah basis kekuatan para pengikut Ahl al-Bayt. Oleh karena itu, yang diangkat menjadi walikota Kufah adalah orang-orang yang sangat benci kepada Ahlul Bait dan dikenal loyal kepada Mu'awiyah. Sejak itu, penduduk Kufah dalam tekanan dan teror.

Ketika mereka mendengar bahwa Imam Husain menolak baiat kepada Yazid dan keluar dari Madinah menuju Mekkah, mereka meminta kepada al Husain agar berangkat ke Kufah, dan mereka menyatakan siap membaiat Imam Husain untuk dinobatkan sebagai khalifah. Untuk itu, mereka bersedia membelanya dalam menghadapi Yazid. Berkenaan dengan itu, al-Thabari menceritakan, “Telah sampai kepada penduduk Kufah kematian Mu'awiyah dan penolakan al-Husain, ('Abdullah) Ibn Zubayr dan (Abdullah) Ibn Umar dari baiat. Mereka berkumpul dan menulis sebuah surat kepada al Husain .... Amma ba'du, segala puji bagi Allah yang telah mematahkan musuhmu yang kejam dan durhaka, yang menguasai umat ini lalu merampas kepemimpinan mereka dan bersekongkol atas mereka tanpa mendapat perseujuan dari mereka .... Sekarang

P: 94


1- 12. Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 144.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain tidak ada yang memimpin kami. Datanglah kepada kami, semoga Allah mengumpulkan kami bersamamu di atas kebenaran ...."(1) Dalam riwayat Thabari yang lain, “Penduduk Kufah menulis surat kepada beliau. Sesungguhnya bersamamu seratus ribu (orang)."(2) Atas dasar permintaan dan kesiapan penduduk Kufah itu, Imam Husain pergi meninggalkan Mekkah menuju Kufah. Sebelumnya, beliau mengutus Muslim ibn Aqil ke Kufah untuk memastikan keadaan mereka yang sebenarnya.

Faktor Ketiga; Menjalankan Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar Amr ma'ruf dan nahy munkar adalah doktrin yang sangat penting sekali dalam agama Islam. Faktor ini yang akan menjadi pokok pembahasan kami dalam tulisan ini. Namun, sebelum kami membahas doktrin amr ma'ruf dan nahy munkar ini, ada baiknya kami jelaskan sedikit tentang sejauh mana peranan dua faktor tadi (penolakan baiat dan ajakan penduduk Kufah) dalam gerakan Imam Husain.

Dalam bukunya, Hamāse-e Husayni, Muthahhari, seorang filusuf Islam kontemporer kelahiran Iran, berpendapat bahwa dua faktor ini mempunyai peranan dan pengaruh tersendiri dalam gerakan Imam Husain, meskipun bukan sebagai faktor yang dominan dan utama.15 Penolakan baiat kepada Yazid sebagai khalifah jelas terungkap dari ucapan beliau.

Penolakan ini sangat berarti bagi Imam Husain karena kedudukannya sebagai cucu Nabi Saw. Posisi beliau setelah kepergian ayah dan saudaranya, Imam 'Ali ibn Abi Thalib dan Imam Hasan, menjadi sangat sensitif bagi kaum Muslimin. Mereka menanti sikap yang akan ditunjukan oleh beliau berkenaan dengan pengangkatan Yazid sebagai khalifah yang tanpa memiliki landasan yang benar. Apa yang akan dilakukan oleh beliau akan menjadi reference bagi mereka dalam menyikapi kilafah Yazid.

Imam Husain mengetahui dengan baik dan lebih dari siapa pun tentang kondisi khilafah Islamiyyah pada masa itu. Beliau adalah saksi hidup atas segala perilaku Mu'awiyah yang mengambil alih khilafah

P: 95


1- 13. Al-Thabari, Tārīkh al-Thabari, j. 6 h. 197.
2- 14. Al-Thabari, Tārīkh al-Thabari, j. 6. h. 221.

dengan cara yang licik dan kotor. Masih segar dalam ingatannya bagaimana Mu'awiyah memerangi ayahnya dan melakukan tipu muslihat dan konspirasi yang jahat terhadapnya. Sebagaimana beliau tidak akan pernah melupakan pengkhianatan Mu'awiyah terhadap kakaknya, Imam Hasan, setelah kesepakatan damai (shulb) dan dilanjutkan dengan pembunuhan atasnya. Semua itu dilakukan oleh Mu'awiyah untuk sebuah rencana besar, yaitu kekuasaan yang diperuntukan untuk klannya, Bani Umayyah. Untuk mencapai rencana itu, Mu'awiyah tidak segan-segan mengubah ajaran- ajaran Islam. Hal itu dibuktikan dengan pengangakatan Yazid, seorang pemuda dengan sifat-sifat dan watak yang telah kami sebutkan di atas.

Bertolak dari kedudukannya yang sentral dan pengetahuannya tentang semua itu, Imam Husain tidak mungkin mengakui Yazid sebagai khalifah yang akan memimpin kaum Muslimin. Meski beliau menolak baiat dengan tegas, tetapi itu bukanlah alasan utama bagi beliau untuk bangkit melawan Yazid. Menolak baiat tidak dengan sendirinya harus diimplementasikan dengan perlawanan.

Sementara itu, ajakan penduduk Kufah agar Imam Husain pergi ke Kufah dan kesediaan mereka untuk membaiat beliau sebagai pemimpin serta kesiapan mereka untuk membela beliau juga bukan faktor utama dan dominan dalam kebangkitan Imam Husain melawan Yazid. Menurut Muthahhari, justru ajakan mereka itu muncul setelah mereka mengetahui bahwa Imam Husain menolak baiat dan akan bangkit melawan Yazid.

Bukan sebaliknya, yakni kebangkitan Imam Husain sebagai akibat dari ajakan dan kesediaan mereka, karena beliau menyatakan kebangkitannya itu ketika beliau hendak meninggalkan Kota Madinah menuju Mekkah, sedangkan surat dari penduduk Kufah sampai kepada beliau setelah beliau menetap di Mekkah dua bulan (1).

Adapun Kufah menjadi pilihan beliau sebagai titik tolak perlawanannya terhadap Yazid, menurut Mutahhari, disebabkan oleh latar belakang penduduk Kufah sebagai basis kekuatan ayahnya, Imam 'Ali ibn Abi Thalib, selama perang melawan Mu'awiyah.(2)

P: 96


1- 16. Murtadha Muthahhari, Hamäse-e Husayni, h. 38.
2- 17. Murtadha Muthahhari, Hamāse-e Husayni, h. 39.

Faktor Utama Gerakan Imam Husain: Amr Ma'ruf dan Naby Munkar

Bila dua faktor di atas bukanlah faktor utama dan dominan dalam kebangkitan Imam Husain dan perlawanannya terhadap Yazid, maka sebenarnya amr ma'ruf dan naby munkar-lah yang menjadi faktor utama dan dominan dalam kebangkitannya. Berdasarkan asumsi ini, Imam Husain adalah seorang reformis, bahkan revolusioner, yang tidak akan diam melihat kemunkaran dan kezaliman, dan beliau adalah seorang yang menginginkan tegaknya keadilan dan kebenaran. Kebangkitan dan perlawanannya terhadap Yazid akan dilakukannya sebagai bentuk perwujudan dari amr ma'ruf dan nahy munkar, baik beliau dimintai baiat atau tidak. Dan karena faktor ini juga, beliau akan bangkit, meskipun penduduk Kufah tidak menulis surat kepada beliau. Adanya ajakan atau tidak adanya ajakan dari mereka tidak akan memengaruhi rencana perlawanannya terhadap Yazid.

Rencana melakukan amr ma'ruf dan nahy munkar ini diungkapkan oleh Imam Husain beberapa saat sebelum meninggalkan Madinah.

Beliau menulis sebuah wasiat kepada saudara seayahnya yang bernama Muhammad al Hanafiyah, putra 'Ali ibn Abi Thalib. Di antara pesannya adalah:

"Sesungguhnya aku tidak bangkit sebagai seorang yang angkuh dan sombong, juga tidak untuk melakukan kerusakan dan kezaliman.

Sesungguhnya aku keluar untuk menuntut perbaikan pada umat kakekku. Aku hendak melakukan amr ma'ruf dan nahy munkar, serta bertindak seperti tindakan kakekku dan ayahku, 'Ali ibn Abi Thalib."(1) Dari pernyataan Imam Husain ini terungkap dengan jelas tujuan kebangkitan beliau. Beliau ingin memperbaiki keadaan masyarakat Islam, khususnya menyangkut kekuasaan. Dan itu merupakan tugas serta tanggung jawab syar'i bagi setiap orang muslim. Tugas dan tanggung jawab ini menjadi lebih besar dan sensitif bagi beliau karena kedudukannya sebagai cucu Nabi Saw. dan tokoh agama. Oleh karena itu, beliau harus

P: 97


1- 18. Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 156.

berada pada barisan yang paling depan dalam membela agama Islam yang dibawa oleh kakeknya, dan harus bangkit sebelum yang lainnya dalam meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Yazid.

Imam Husain menjelaskan tentang kondisi masyarakat Islam waktu itu dengan mengatakan, “Tidakkah kalian melihat bahwa kebenaran tidak lagi dijalankan dan kebatilan tidak lagi ditinggalkan? (Pada saat seperti ini) maka orang mukmin lebih menyukai untuk perjumpaan dengan Tuhannya."(1) Berangkat dari kondisi itu, ketika berhadapan dengan pasukan al- Hurr al-Riyahi, Imam Husain kembali menegaskan tujuan perlawanannya terhadap Yazid. Beliau menyeru kepada mereka:

"Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, 'Siapa dari kalian melihat penguasa yang zalim, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, melanggar janji Allah dan menentang sunnah Rasulullah Saw. serta memperlakukan hamba-hamba Allah dengan kejam dan permusuhan, tetapi dia tidak berupaya mengubah penguasa itu dengan perbuatan maupun ucapan, maka pantas bagi Allah menggabungkannya dengan penguasa itu. Ketahuilah, mereka telah mengikat diri untuk menaati setan dan meninggalkan ketaatan kepada Allah. Mereka telah melakukan kerusakan, menghentikan hukum-hukum, mengeksploitasi kekayaan negara, menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, dan mengharamkan yang dihalalkan-Nya. Akulah orang yang paling berhak mengadakan perubahan" (2) Kebangkitan dan perlawanan ini dilakukan bukan dalam rangka balas dendam atau merebut kekuasaan seperti yang diyakini oleh sementara orang. Antoane Bara berkata:

"Ketika melakukan revolusi, Husain ibn 'Ali tidak melakukannya untuk meraih kursi kekuasaan. Ini karena tujuannya bukan berangkat dari kepentingan-kepentingan individu yang sementara. Tujuannya bukanlah bagi dirinya semata, tetapi bagi anak-cucu dan generasi- generasi manusia pada masa mendatang, yang akan mengetahui bagaimana bentuk pengorbanan dalam membela akidah sehingga dapat diselamatkan secara gemilang."(3)

P: 98


1- 19. Al-Thabari, Tarikh al-Thabari,j.5, h. 403.
2- 20. Al-Thabari, Tarikh al-Thabari,j.4, h.304 dan Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh,j.3, h.280.
3- 21. Antoane Bara, The Saviour. Husain Dalam Kristianitas, h. 54.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain Tidaklah heran tujuan suci ini menjadi faktor utama dari gerakan dan kebangkitan Imam Husain, karena beliau hidup dalam limpahan perhatian kakeknya, Rasulullah Saw., yang menolak tawaran-tawaran dunia, dan yang memilih kehidupan yang serba kurang dari kehidupan yang serba cukup. Beliau dilahirkan dari rahim seorang ibu yang terbiasa mengerjakan urusan dunianya dengan tangannya sendiri hingga tangannya melepuh, padahal ayahnya baru saja mendapatkan harta rampasan perang yang banyak. Beliau tumbuh dewasa mendampingi seorang ayah yang telah menalak dunia dengan talak tiga. Karena latar belakang psikolgis dan pendidikan spiritual seperti itu, maka jauh dari pikiran beliau sebuah ambisi kekuasaan. Kekuasaan akan diterima olehnya jika dengan kekuasaan itu beliau dapat menegakkan keadilan dan kebenaran. Sebagaimana ucapan ayahnya sendiri, 'Ali ibn Thalib, “Demi Allah, kekuasaan kalian itu lebih rendah bagiku dari kotoran binatang, kecuali jika dengan kekuasaan itu aku dapat menegakkan kebenaran dan keadilan.” Kebangkitan dan perlawanan Imam Husain terhadap kezaliman murni terdorong oleh tugas agama, yaitu amr ma'ruf dan nahy munkar.

Untuk tugas inilah para Nabi dan Rasul diutus oleh Allah Swt. Imam Muhammad al Baqir berkata, "Sesungguhnya amr ma'ruf dan nahy munkar merupakan jalan para Nabi."(1) Oleh karena faktor ini, benar apa yang dikatakan tentang gerakan Imam Husain yang berbunyi, "Islam awalnya adalah Muhammad Saw. dan kelanjutannya adalah al Husain."Meskipun secara fisik gerakan dan kebangkitan Imam Husain berakhir dengan kematian beliau sebagai syahid, gerakan beliau pada hakikatnya sebuah letupan besar yang menggoncang dinasti Bani Umayyah. Karena gerakan dan kebangkitan beliau itu, tersingkaplah rencana jahat dan keburukan mereka, dan bahwa kepemimpinan Yazid dan ayahnya, Mu'awiyah, bukanlah kelanjutan dari kepemimpinan sebelumnya.

Mu'awiyah dan Yazid ingin membangun kekuasaan untuk golongan mereka dari klan Bani Umayyah. Ketika Imam Husain bangkit, masyarakat Islam menyadari bahwa Yazid berada pada pihak yang salah,

P: 99


1- 22. Al-Kulayni, Ushūl al-Kafi, j. 5, h.55.

dan bahwa kepemimpinannya sebagai wujud dari kemunkaran yang tidak ada kaitannya dengan Islam. Mereka kembali sadar bahwa Imam Husain lebih berhak menjadi pemimpin daripada Yazid, bukan karena hubungan darahnya dengan Rasulullah Saw., melainkan karena nilai-nilai yang diperjuangkan oleh beliau dan karena integritas kepribadiannya yang luhur.

Mu'awiyah mempunyai rencana untuk menghapus ajaran-ajaran Islam, dan rencana itu telah dimulainya sejak sebelum Yazid naik tahta.

Diangkatnya Yazid sebagai putra mahkota merupakan bagian dari rencana itu. Kemudian naiknya sebagai pemimpin setelah Mu'awiyah diharapkan sebagai titik keberhasilan dari rencana itu. Namun rencana itu gagal dengan bangkitannya Imam Husain. Rencana itu mengalami kegagalan walaupun Yazid tetap berkuasa. Pada akhirnya, ajaran Islam tetap terpelihara dan kekuasaan Yazid tidak mempunyai pijakan agama, dan karenanya dia tidak bisa mengklaim sebagai pemimpin Islam. Kekuasaannya tidak lebih dari kekuasaan para tiran, seperti Fir'aun, Kaisar dan Kisra.

Imam 'Ali Zayn al-Abidin, putra Imam Husain, ketika ditanya oleh Ibrahim ibn Thalhah ibn 'Abdullah, “Siapakah yang menang (maksudnya, dalam perang di Karbala)?" Beliau menjawab, “Jika masuk waktu salat, azan dan ikamahlah, niscaya kamu akan mengetahui siapa yang menang." Beliau ingin menyatakan bahwa ajaran salat tetap ada, tidak terhapus, dan ketika azan dan ikamah dikumandangkan, nama Muhammad Saw., yang tidak lain adalah kakek Imam Husain, pasti akan disebutkan. Kenyataan ini merupakan bukti kegagalan rencana Mu'awiyah tersebut.

Selain itu, melalui kebangkitannya, Imam Husain ingin mengajarkan kepada masyarakat Islam bahwa perlawanan tidak hanya terhadap orang- orang kafir yang memerangi Islam, tetapi siapa pun yang berusaha menghapus ajaran Islam dengan kekuatan, maka harus dilawan dengan kekuatan juga, meskipun dia menggunakan simbol-simbol agama. Hakikat perlawanan Imam Husain adalah menolak segala bentuk kezaliman dan penyimpangan agama.

P: 100

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain Kemudian, pada perkembangan berikutnya, menyusul gugurnya Imam Husain di Padang Karbala, bermunculan gerakan-gerakan yang melawan para penguasa yang zalim di tengah masyarakat Islam sendiri, seperti kebangkitan Tawwabin, perlawanan penduduk Madinah, kebangkitan Mukhtar al-Tsaqafi, gerakan Muthrif ibn al-Mughirah, gerakan Zayd ibn 'Ali ibn al-Husain, dan kebangkitan Abu al-Saraya. Meskipun gerakan- gerakan dan kebangkitan-kebangkitan ini kecil, tetapi muncul secara bersusulan hingga tumbangnya Dinasti Bani Umayyah. Dan, gerakan- gerakan itu sebagai reaksi atas kezaliman dan penyimpangan kekuasaan.

Dengan cara itu, masyarakat yang mempunyai kesadaran agama yang tinggi serta tidak segan memprotes dan melawan para penguasa mereka sendiri, dan pada gilirannya semangat jihad akan terus berkobar dalam dada dan jiwa orang-orang yang mulia serta orang-orang yang mempunyai harga diri. Resonansi kebangkitan Imam Husain yang abadi ini telah diungkapkan oleh Nabi Saw. dalam sabdanya, “Sesungguhnya pembunuhan putraku, al-Husain, akan meninggalkan gejolak semangat dalam dada orang- orang yang beriman, yang tidak akan pernah padam selamanya." Harga diri dan jiwa mulia yang membedakan seseorang dari yang lainnya. Imam Husain dan para pengikutnya di Karbala adalah orang- orang yang berjiwa mulia dan mempunyai harga diri sehingga tidak akan tunduk pada kehendak orang-orang pandir dan licik. Pada detik-detik kesyahidannya, beliau melantukan bait-bait:

Kematian lebih baik dari menanggung kehinaan Menanggung kehinaan lebih utama dari masuk neraka Akulah al-Husain putra Ali Aku bersumpah tidak akan mundur kan kubela keluarga ayahku kan kuberjalan di atas agama Nabi(1)

P: 101


1- 23. Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 345.

Amr Ma'ruf dan Naby Munkar, Sebuah Doktrin Islam

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa faktor atau misi utama gerakan Imam Husain adalah menjalankan tugas syar'i, yaitu amr ma'ruf dan nahy munkar.

Perlu kiranya kami mengutip keterangan-keterangan tentang ajaran dan doktrin amr ma'ruf dan nahy munkar ini. Ajaran ini merupakan ajaran yang fundamental, bahkan kekuatan yang penting dalam dinamika agama Islam. Selain teks-teks agama: Qur'an dan Hadis, kami mencoba mengutip pandangan para ulama dari berbagai mazhab Islam tentang ajaran ini.

Amr Ma'rūf dan Nahy Munkar dalam Qur'an

Banyak ayat Qur'an yang menyebutkan tentang amr ma'ruf dan nahy munkar dalam bentuk yang berbeda-beda. Sebagian dari ayat-ayat itu menyebutkan langsung objek ma'ruf, seperti ibadah, salat, keadilan, sedekah, dan silaturahmi. Demikian pula halnya dengan munkar, seperti menyembah selain Allah dan dosa-dosa besar. Terkadang, ayat-ayat itu tidak menyebutkan objek ma'ruf dan munkar. Dalam tulisan ini, kami kutip beberapa ayat yang tidak menyebut objek ma'ruf dan munkar, a. "Dan jadilah sebagian dari kalian sekelompok yang menyeru ke kebaikan, melakukan amr ma'rūf dan nahy munkar,” (QS Ali Imran: 104).

b. "Kalian sebaik-baiknya umat yang diciptakan untuk manusia; (karena) kalian melakukan amr ma'rūf dan nahy munkar," (QS Ali Imrān:

110).

"Tidaklah sama dari kalangan Ahli Kitab sekelompok yang berdiri sambil membacakan ayat-ayat Allah di ujung-ujung malam dan mereka juga bersujud. Mereka melakukan amr ma’rūf dan nahy munkar, serta bergegas dalam kebaikan-kebaikan, " (QS Ali Imrān: 114).

d. “Orang-orang yang mengikuti Nabi yang ummi yang mereka dapatkan (namanya) tertulis dalam Taurat dan Injil, dia melakukan amr ma'rūf dan nahy munkar," (QS Al-A'rāf: 157).

P: 102

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain e. “Orang-orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, mereka saling membantu sesama mereka. Mereka melakukan amr ma'rūf dan nahy munkar," (QS Al-Tawbah: 71).

Dari ayat-ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa amr ma'ruf dan nahy munkar adalah satu aktifitas yang baik dan juga dianjurkan. Dalam ayat pertama, Allah Swt. memerintahkan agar dibentuk satu kelompok dari kaum Muslimin yang bertugas menjalankan amr ma'ruf dan nahy munkar, sedangkan ayat-ayat yang lain menjelaskan kriteria seorang manusia, dan orang itu adalah Nabi Muhammad Saw. seperti dalam penjelasan ayat keempat dan kriteria satu golongan dari kalangan orang-orang beriman dan dari kalangan Ahl al-Kitāb. Karena kriteria itu, Nabi Muhammad Saw., orang-orang beriman, dan sekelompok Ahl al-Kitāb menjadi manusia- manusia yang terpuji dan istimewa, dan kriteria itu adalah amr ma'ruf dan naby munkar. Apalagi kalau kita perhatikan ayat yang kedua, maka kita mendapatkan satu penegasan bahwa sebab utama manusia itu menjadi manusia yang terbaik, atau kelompok itu menjadi kelompok yang terbaik (khayr al-ummah, adalah amr ma'ruf dan nahy munkar. Dalam menafsirkan ayat, "Sesungguhnya telah kami utus pada setiap umat seorang rasul (yang menyeru)," " Sembahlah Allah dan jauhilah thāghüt," (QS Al-Nahl: 39).

Al Zamakhsyari berkata, “Tidak ada satu umat pun, kecuali Allah telah mengutus kepada mereka seorang rasul, yang menyuruh mereka berbuat kebaikan (amr ma'ruf) berupa keimanan kepada Allah dan menyembah- Nya serta menjauhi kejahatan, yaitu menaati thaghut.”(1)

Amr Ma'rūf dan Nahy Munkar dalam Hadis

a. Rasulullah Saw. bersabda, “Islam adalah hendaknya kamu menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, pergi haji, ber-amr ma’rūf dan nahy munkar .... (2)

P: 103


1- 24. Al-Zamakhsyari, al Kasysyaf,j.2, h. 409.
2- 25. Al-Hakim, al-Mustadrak 'ala al-Shahihayni, Kitāb al-Iman, j. 1, h. 21.

b. Di atas mimbar, Rasulullah Saw. ditanya, “Siapakah manusia yang paling baik?". Beliau menjawab, "Orang yang paling sering melakukan amr ma’rūf dan nahy munkar, orang yang paling takut kepada Allah dan yang sering bersilturahmi. "(1) c. Dari al-Khudzaifah ibn al-Yaman, Nabi Saw. bersabda, “Demi yang jiwaku di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar melakukan amr ma’rūf dan nahy munkar. Jika tidak melakukan, maka Allah sungguh akan segera mengirim kepada kalian siksaan, kemudian kalian berdoa, tetapi doa itu tidak dikabulkan."(2) Rasulullah Saw. bersabda, "Hendaknya kalian benar-benar melakukan amr ma'rūf dan nahy munkar. Jika tidak, maka kalian akan dimanfaatkan oleh orang-orang jahat dari kalian, kemudian orang-orang baik dari kalian berdoa, tetapi doa itu tidak dikabulkan."(3) e. Rasulullah Saw. bersabda, "Umat dalam kebaikan selama mereka melakukan amr ma’rūf dan nahy munkar serta saling menolong dalam kebaikan. Jika mereka tidak melakukan itu, maka akan diangkat dari mereka berkah, satu sama lain saling rebut kekuasaan, dan tidak ada satu pun yang menolong mereka, baik dari bumi maupun dari langit." Ada baiknya, kami kutip keterangan Imam Muhammad al-Baqir tentang urgensi amr ma'ruf dan nahy munkar, “Sesungguhnya amr ma'ruf dan nahy munkar adalah jalan para nabi dan pegangan orang-orang saleh.

Ia merupakan kewajiban yang besar dengannya kewajiban-kewajiban yang lain dapat dilaksanakan, perjalanan-perjalanan menjadi aman, mata pencaharian-mata pencaharian menjadi halal, barang-barang yang diambil secara zalim dikembalikan, bumi menjadi makmur, para musuh dituntut dan segala urusan menjadi lancar."(4)

Amr Ma'rūf dan Nahy Munkar dalam Fiqih Islam

Ibrahim Jannati dalam bukunya, al-Fiqh al-Mugaran, menyatakan bahwa seluruh ulama bersepakat bahwa kewajiban amr ma’rüf dan naby

P: 104


1- 26. Al-Zamakhsyari, al Kasysyaf,j. 1, h.397.
2- 27. Al-Tirmidzi, Sunanj. 4, h. 468
3- 28. Al-Kulayni, al Kāfi,j. 5, h.56
4- 29. Al-Kulayni, al Käfinj. 5, h.55.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain munkar termasuk dari ajaran Islam yang pasti (dharuriyyāt al-dīn). Yang mengingkarinya dianggap keluar dari agama. Mereka berbeda pendapat:

Apakah kewajiban amr ma'ruf dan nahy munkar itu fardhu 'ain atau fardhu kifayah(1) Sebagian berpendapat bahwa hukum amr ma'ruf dan nahy munkar adalah fardhu 'ain dan sebagian meyakininya sebagai fardhu kifayah. Lebih lanjut, Jannati mengurai alasan masing-masing dari para ulama itu.(2) Golongan Mu'tazilah memasukan amr ma'ruf dan nahy munkar sebagai bagian dari dasar agama (ushuluddin).(3) Bagaimanapun, perbedaan pendapat itu tidak mengubah kesepakatan mereka akan kewajiban amr ma'ruf dan nahy munkar. Menarik apa yang dikatakan oleh Thabathaba'i dalam mengomentari perbedaan mereka tentang masalah ini:

“Makna (ayat 104 dari QS Ali Imrān) adalah bahwa yang penting di antara mereka ada yang melakukan tugas ini (maksudnya, amr ma'ruf dan nahy munkar), sehingga perintah ini telah dilakukan olehnya. Jika perintah itu untuk sebagian orang saja (fardhu kifayah), maka perintah itu telah dilakukannya. Jika perintah itu untuk setiap orang per orang (fardhu 'ain), maka perintah itu telah dijalankan juga, meskipun oleh sebagian orang saja. Dengan kata lain, yang diperintahkan adalah orang per orang, tetapi yang mendapat pahala adalah orang yang melakukannya."(4)

Syarat-Syarat Amr Marüf dan Nahy Munkar

Pada umumnya, ajaran-ajaran Islam harus dilakukan dengan syarat-syarat tertentu agar ajaran itu menjadi sesuatu yang efektif atau sah. Bila tidak mengindahkan syarat-syarat itu, maka melakukan ajaran itu menjadi sesuatu yang sia-sia atau batal. Setiap ajaran mempunyai syarat-syarat yang khusus, selain syarat-syarat yang umum. Termasuk syarat yang umum:

hendaknya pelaku ajaran itu seorang yang berakal dan dewasa. Ajaran yang

P: 105


1- 30.Fardhu 'ain adalah kewajiban yang ditetapkan atas setiap orang perorangan, seperti salat lima kali dalam sehari. Fardhu kifayah adalah kewajiban yang ditetapkan tidak atas orang per orangan. Kewajiban ini jika telah dilakukan oleh seorang saja dalam satu lingkungan, maka kewajiban sudah dianggap selesai, seperti mengurus jenazah dan mensalatinya.
2- 31. Lihat Ibrahim Jannati, al-fiqh al-Muqāran, j. 2, h. 70–80.
3- 32. Dalam teologi Mu'tazilah dikenal lima dasar agama; 1) al-tauhid 2) al'adl al-Ilabi ,3) al wadu wa al wa'id, 4) al-amr bi al-ma'ruf wa al-naby anil munkar dan 5) al-manzilah bayna al-manzilatayn (lihat Abdul Jabbar ibn Ahmad, Syarh al-Ushūl al-Khamsah).
4- 33. Allamah al Thaba'thaba'i, Tafsir al-Mizan,j. 3, h. 373.

dilakukan oleh orang gila dan anak kecil tidak mempunyai arti apa pun, kecuali sekadar pendidikan dan pembiasaan bagi anak kecil.

Termasuk syarat yang umum adalah pengetahuan (al-'ilm). Sebelum melakukan sebuah ajaran atau kewajiban, seseorang harus terlebih dahulu mengetahui dan memahaminya dengan baik dan benar. Dalam agama Islam ditetapkan bahwa seorang yang tidak mengetahui sebuah kewajiban, maka dia tidak diwajibkan melakukannya, dan ketika dia meninggalkannya, dia tidak berdosa. Demikian pula, ketika seseorang tidak mengetahui sebuah larangan (harām) lalu menerjangnya, maka dia tidak berdosa dan tidak dikenakan atasnya sebuah hukuman.

Selain pengetahuan yang umum tadi, ada pengetahuan khusus berkenaan dengan ajaran amr ma'ruf dan nahy munkar, yaitu mengetahui makna ma'ruf dan munkar itu sendiri dan mengetahui apa saja objek ma'ruf dan objek munkar itu.(1) Mengetahui objek ma'ruf dan munkar itu penting demi menghindari kerancuan dan konflik sosial, karena amr ma'ruf dan nahy munkar adalah ajaran yang lebih bersifat sosial dan menyangkut kepentingan publik, lebih dari sekadar kewajiban individual belaka. Tanpa pengetahuan yang tepat, maka ajaran amr ma'ruf dan nahy munkar, yang tujuannya adalah penegakan keadilan dan kebenaran, alih- alih dapat menciptakan masyarakat yang terbaik (khayr al-ummah), malah bisa mengakibatkan munculnya masyarakat yang carut-marut dan kacau (chaos).

Atas dasar itu, perlu adanya standarisasi yang jelas untuk menentukan mana yang ma'ruf dan mana yang munkar. Para ulama dan para pemilik kebijakan publik harus bekerja keras membuat standar yang jelas, dan tidak meninggalkan sebuah celah yang remang-remang. Ada sebuah kekhawatiran, jika tidak ada standar yang jelas, akan terjadi penghakiman atas pelaku sebuah perbuatan yang belum jelas ke-munkar-annya atas nama amr ma’ruf dan nahy munkar.

Sesuatu yang ma'ruf dan munkar tidak hanya dalam tataran perbuatan, tetapi juga dalam tataran pemikiran dan keyakinan. Sebagaimana ada

P: 106


1- 34. Ibrahim Jannati, al-fiqh al-Muqāran,j. 2, h. 78.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain perbuatan yang ma'ruf atau munkar, ada juga pemikiran dan keyakinan yang ma'ruf maupun munkar. Baik menyangkut perbuatan maupun pemikiran dan keyakinan, tetap harus ada standar yang jelas.

Muthahhari menambahkan syarat lain dalam melaksanakan amr ma'ruf dan naby, yaitu integritas diri yang tinggi bagi pelakunya. Pelaku amr ma'ruf dan nahy munkar haruslah orang yang benar-benar teruji spiritualitas dan kepribadiannya(1). Pendapat ini terilhami oleh ayat, “Orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji, berkelana, ruku', bersujud, melakukan amr ma'rūf dan nahy munkar, serta menjaga batas-batas Allah.

Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman," (QS Al- Tawbah: 112).

Menurut Muthahhari, sesuai dengan penjelasan ayat ini, sebelum seseorang melakukan amr ma'ruf dan nahy munkar, haruslah dia menjadi seorang yang mempunyai tingkat spiritual yang baik dan tinggi. Jika tidak, maka perlakuannya itu akan menjadi bumerang baginya. Allah Swt. sendiri mengecam para pelaku amr ma'ruf dan nahy munkar yang mengabaikan ma'ruf dan munkar bagi diri mereka sendiri, “Apakah kalian menyuruh manusia dengan kebaikan, tetapi kalian melupakan diri kalian sendiri padahal kalian membacakan kitab? Tidakkah kalian berpikir" (QS Al-Baqarah: 44).

Imam 'Ali ibn Thalib mengatakan, “Allah melaknat para pelaku amr ma’rüf, tetapi meninggalkan ma'ruf, dan para pencegah kemunkaran, tetapi melakukannya."(2) Kemudian tingkat spiritualitas dan integritas seseorang berpengaruh pada kualitas perbuatannya, seperti sabda Nabi Saw. tentang pukulan Imam 'Ali ibn Thalib ketika menebas leher 'Amr ibn 'Abdi Wudd, “Pukulan Ali di Khandaq lebih baik daripada ibadah jin dan manusid", karena duel antara Imam 'Ali dengan 'Amr itu adalah duel antara keimanan yang utuh dengan kemusyrikan yang utuh, sebagaimana sabda Nabi Saw. saat mengiringi keberangkatan Imam 'Ali untuk menghadap 'Amr, “Telah tampil keimanan yang utuh menghadapi kemusyrikan yang utuh."

P: 107


1- 35. Muthahhari, Hamāse-c Husayni, j. 2, h. 70–74.
2- 36. 'Ali ibn Abi Thalib, Nahj al-Balāghah, kothbah 129.

Amr ma'ruf dan nahy munkar yang dilakukan Imam Husain mempunyai pengaruh yang besar bagi masyarakat luas, karena tingkat spiritual dan integritas diri beliau yang tinggi sehingga gaungnya menyebar luas dan apresiasi yang diberikan oleh mereka terhadap gerakan beliau besar sekali. Padahal pada masa itu juga, tedapat perlawanan yang dilakukan oleh 'Abdullah ibn Zubayr terhadap Yazid, tetapi pengaruhnya jauh lebih kecil dari perlawananan Imam Husain. Subjektifitas pelaku amr ma'ruf dan nahy munkar berpengaruh pada efektifitas amr ma'ruf dan nahy munkar.

Berkenaan dengan ini, Imam Husain dengan pengetahuannya yang benar dan tepat meyakini bahwa kepemimpinan Yazid adalah sebuah kemunkaran yang harus dilawan dan dienyahkan. Kepemimpinan Yazid merupakan klimaks dari kehancuran Islam sehingga beliau mengatakan, "Selamat jalan untuk Islam saat umat Islam dipimpin oleh seorang pengembala semacam Yazid.” Kepemimpinan yang zalim adalah sumber segala kemunkaran dan kerusakan. Imam Ja'far Shadiq dalam menafsirkan ayat yang berbunyi, “Janganlah kalian mendekati kekejian yang tampak maupun yang tersembunyi," (QS Al-An'ām: 151). Bahwa yang dimaksud dengan kekejian yang tersembunyi adalah kepemimpinan yang zalim.

Tahapan-Tahapan Amr Ma'ruf dan Naby Munkar

Meskipun amr ma'ruf dan nahy munkar sebuah kewajiban, baik bersifat fardhu 'ain maupun fardhu kifayah, tetapi dalam aplikasinya perlu diperhatikan langkah-langkah yang efektif. Amr ma'ruf dan nahy munkar tidak begitu saja dilakukan oleh seseorang. Tujuan mulia yang ingin dicapai dengan amr ma'ruf dan nahy munkar ini, seperti yang diuraikan oleh Imam Muhammad Baqir, jangan sampai meleset karena langkah-langkah yang salah. Karena langkah yang salah itu, seringkali amr ma'ruf dan nahy munkar dikesankan sebagai ajaran yang menyeramkan, menakutkan, dan mengganggu ketenangan, layaknya gerakan teroris. Boleh jadi, kegagalan

P: 108

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain usaha penegakan amr ma'ruf dan nahy munkar yang dilakukan oleh sejumlah kalangan disebabkan oleh langkah-langkah yang dilaluinya tidak tepat. Sosok agung Nabi Muhammad Saw. merupakan contoh yang baik untuk diteladani dalam melaksanakan amr ma'ruf dan nahy munkar. Qur'an menyebutkan rahasia keberhasilan beliau dalam berdakwah, "Maka dengan kasih sayang dari Allah, engkau bersikap lembut terhadap mereka. Jika engkau bersikap kasar dan keras, niscaya mereka akan bubar dari sekelilingmu," (QS Ali 'Imrān: 159).

Oleh karena itu, berlandaskan ayat-ayat Qur'an dan sunnah Nabi Saw., para ulama menjelaskan tahapan-tahapan pelaksanaan amr ma’rüf dan nahy munkar. Ada tiga tahapan yang biasa disebutkan oleh mereka:

dengan hati, dengan lisan, dan dengan tindakan atau perbuatan.(1) Ayatullah Khomaini, misalnya, menyebutkan urutan tahapan amr ma'ruf dan nahy munkar sebagai berikut:

Pertama, menampakkan kebenciaan hati pada kemunkaran dengan isyarat-isyarat fisik, seperti memalingkan muka, memejamkan mata, dan lain sebagainya. Kebencian ini bukan pada pelaku kemunkaran, melainkan pada perbuatannya. Atau dalam upaya mendorong orang supaya melakukan kebaikan, maka dengan terlebih dahulu kita melakukan kebaikan itu. Jika tahapan ini tidak berpengaruh dan tidak mengubah perbuataannya itu, maka beralih ke tahapan yang kedua.

Kedua, mengajak ke kebaikan atau menegur pelaku kemunkaran dengan lisan. Perkataan yang disampaikan haruslah dimulai dengan yang paling lembut. Jika tahapan ini juga tidak berpengaruh, maka beralih ke tahapan yang ketiga.

Ketiga, menghentikan kemunkaran dengan tangan. Tahapan ini juga harus dilakukan dengan cara yang paling ringan. Misalnya, menghalangi pelaku kemunkaran dari perbuatannya yang munkar. Lebih dari itu, menghancurkan alat-alat yang dipakai untuk kemaksiatan.(2) Kemudian Ayatullah Khomaini menekankan bahwa hendaknya pelaku amr ma'ruf dan nahy munkar seperti seorang dokter yang lembut dan

P: 109


1- 37. Tiga tahapan itu hampir disepakati oleh para ulama dari kalangan Ahl Sunnah dan Syi'ah. Namun terdapat perbedaan di antara mereka dalam meletakan urutan dari tahapan-tahapan itu. Para ulama Ahl Sunnah meletakan amr ma'ruf dan nahy munkar dengan tindakan pada tahapan pertama, kemudian dengan lisan dan dengan hati. Urutan ini berdasarkan hadis Nabi Saw. yang berbunyi, "Siapa di antara kalian ada yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak sanggup pula, maka ubahlah dengan hatinya, dan itu (dengan hati) adalah keimanan yang paling lemah."
2- 38. Ayatullah Khomaini, Tahrir al-Wasilah, j. 1, h. 437–440.

seorang ayah yang penyayang. Menganjurkan ke kebaikan dan melarang dari kemunkaran dilakukannya atas dasar kasih sayang. Juga hendaknya melakukan amr ma'ruf dan nahy munkar semata-mata ingin mendapatkan keridhaan Allah Swt. Menurutnya, yang paling berwenang melakukan amr ma'ruf dan naby munkar adalah para ulama dan pemimpin yang saleh.(1) Kebangkitan Imam Husain, pada hakikatnya, lanjutan dari gerakan ayah dan kakaknya, Imam 'Ali dan Imam Hasan. Perjuangan mereka merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketika Mu'awiyah berkuasa di Syam, terjadi dialog antara dia dengan Imam 'Ali dan antara dia dengan Imam Hasan melalui surat atau utusan mereka. Dalam dialog itu, Imam 'Ali dan Imam Hasan mengingatkan Mu'awiyah yang telah melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam agama dan kezaliman- kezaliman. Peringatan itu tidak berhasil mengubah Mu'awiyah, malah ia mengangkat putranya, Yazid yang dikenal sebagai peminum khamr. Imam Husain yang menyaksikan penyimpangan dan kezaliman yang dilakukan oleh Bani Umayyah (Mu'awiyah dan Yazid) tidak berubah, maka beliau melakukan amr ma'ruf dan nahy munkar dengan tahapan yang ketiga.

Beliau mengatakan, “Jika agama Muhammad tidak dapat diluruskan, kecuali dengan terbunuhnya aku, maka hai pedang-pedang, ambilah aku.” Imam Husain mengerahkan segala yang dimilikinya, nyawa dan keluarganya, demi meluruskan agama Islam. Beliau melakukan amr ma'ruf dan naby munkar tidak hanya dengan lisan saja, tetapi juga dengan tangan.

Amr ma'ruf dan nahy munkar yang dilakukannya itu adalah menghadapi pusat kezaliman dan kemunkaran. Beliau telah melakukan jihad yang paling baik, bukankah Nabi Saw. pernah bersabda, “Sebaik-baiknya jihad adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” Imam Husain menyadari bahwa kebangkitan dan perlawanannya itu bukan hal yang kecil. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah keimanan yang kuat dan keberanian yang tinggi. Beliau mengatakan kepada orang-orang yang ditemuinya, “Siapa telah bersedia mencurahkan darahnya karena kami dan memantapkan dirinya untuk berjumpa dengan Allah, maka

P: 110


1- 39. Ayatullah Khomaini, Tahrir al-Wasilah, j. 1, h. 442.

Amr Ma'ruf dan Nahy Munkar dalam kebangkitan Imam Husain berangkatlah dengan kami. Sesungguhnya aku akan pergi besok pagi, insya Allah."(1)

Kesimpulan

Amr ma'ruf dan nahy munkar adalah ajaran Islam yang fundamental dan jalan yang ditempuh oleh para Nabi. Dengan melaksanakannya secara tepat, maka kehidupan religius yang adil, aman, dan damai akan terwujudkan di tengah masyarakat. Karena terdorong oleh ajaran ini, Imam Husain bangkit melawan penguasa yang zalim, Yazid. Kebangkitan beliau dengan dorongan amr ma'ruf dan naby munkar menjadikan ajaran ini lebih berkualitas dan efektif bagi masyarakat Islam. Imam Ja'far Shadiq, berkata, “Lebih baik dari kebaikan adalah yang melakukannya, dan lebih buruk dari keburukan adalah yang melakukannya." Amr ma'ruf dan nahy munkar menjadi sesuatu yang istimewa ketika yang melakukannya adalah Imam Husain, karena ajaran ini dilakukan dengan cara yang benar dan ditujukan kepada sasaran yang tepat pula, yaitu penguasa yang zalim. Oleh karena itu, kebangkitan dan kegugurannya sebagai syahid akan selalu dikenang sepanjang masa dan pada setiap tempat (kullu yawmin 'äsyūrā wa kullu ardhin Karbala).

Catatan:

1 QS Ali 'Imrān: 110.

2 Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 160 dan Muhammad al-Thabari, Tarikh al- Thabari, Bāb Khilafah Yazid, j. 4, h. 266.

3 Ibn A’tsam, al Futuh, j. 5 h. 17.

Murtadha Muthahhari, Hamäse-e Husayni,j. 2, h. 134.

5 Antoane Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas, (Jakarta: Citra, 2007), h. 8 6 Abu al-Farj al-Ishfahani, al-Aghāni,j. 16, h. 68.

7 Ibn Katsir, al-Tarikh, j. 8 h. 436.

8 Al-Thabari, Tarikh al-Thabari, j.6 h. 188 9 Ibn Thawus al-Husaini, al-Lubüffi Qatl al-Thufüf, h. 9–10.

10 Ibn 'Asakir, Tarikh Syam, j. 4 h.333.

11 Antoane Bara, The Saviour. Husain Dalam Kristianitas, h. 1.

12 Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 144.

P: 111


1- 40. Muthahhari, Hamāse-c Husayni, j.2, h. 110.

13 Al-Thabari, Tārīkh al-Thabari, j. 6 h. 197.

14 Al-Thabari, Tārīkh al-Thabari, j. 6. h. 221.

15 Murtadha Muthahhari, Hamāse-e Husayni,j. 2, h. 39.

16 Murtadha Muthahhari, Hamäse-e Husayni, h. 38.

17 Murtadha Muthahhari, Hamāse-e Husayni, h. 39.

18 Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 156.

19 Al-Thabari, Tarikh al-Thabari,j.5, h. 403.

20 Al-Thabari, Tarikh al-Thabari,j.4, h.304 dan Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh,j.3, h.280.

21 Antoane Bara, The Saviour. Husain Dalam Kristianitas, h. 54.

22 Al-Kulayni, Ushūl al-Kafi, j. 5, h.55.

23 Al-Muqarram, Maqtal al-Husain, h. 345.

24 Al-Zamakhsyari, al Kasysyaf,j.2, h. 409.

25 Al-Hakim, al-Mustadrak 'ala al-Shahihayni, Kitāb al-Iman, j. 1, h. 21.

26 Al-Zamakhsyari, al Kasysyaf,j. 1, h.397.

27 Al-Tirmidzi, Sunanj. 4, h. 468 28 Al-Kulayni, al Kāfi,j. 5, h.56 29 Al-Kulayni, al Käfinj. 5, h.55.

Fardhu 'ain adalah kewajiban yang ditetapkan atas setiap orang perorangan, seperti salat lima kali dalam sehari. Fardhu kifayah adalah kewajiban yang ditetapkan tidak atas orang per orangan. Kewajiban ini jika telah dilakukan oleh seorang saja dalam satu lingkungan, maka kewajiban sudah dianggap selesai, seperti mengurus jenazah dan mensalatinya.

31 Lihat Ibrahim Jannati, al-fiqh al-Muqāran, j. 2, h. 70–80.

32 Dalam teologi Mu'tazilah dikenal lima dasar agama; 1) al-tauhid 2) al'adl al-Ilabi ,3) al wadu wa al wa'id, 4) al-amr bi al-ma'ruf wa al-naby anil munkar dan 5) al-manzilah bayna al-manzilatayn (lihat Abdul Jabbar ibn Ahmad, Syarh al-Ushūl al-Khamsah).

33 Allamah al Thaba'thaba'i, Tafsir al-Mizan,j. 3, h. 373.

34 Ibrahim Jannati, al-fiqh al-Muqāran,j. 2, h. 78.

35 Muthahhari, Hamāse-c Husayni, j. 2, h. 70–74.

36 'Ali ibn Abi Thalib, Nahj al-Balāghah, kothbah 129.

37 Tiga tahapan itu hampir disepakati oleh para ulama dari kalangan Ahl Sunnah dan Syi'ah. Namun terdapat perbedaan di antara mereka dalam meletakan urutan dari tahapan-tahapan itu. Para ulama Ahl Sunnah meletakan amr ma'ruf dan nahy munkar dengan tindakan pada tahapan pertama, kemudian dengan lisan dan dengan hati.

Urutan ini berdasarkan hadis Nabi Saw. yang berbunyi, "Siapa di antara kalian ada yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak sanggup, maka ubahlah dengan lisannya. Jika tidak sanggup pula, maka ubahlah dengan hatinya, dan itu (dengan hati) adalah keimanan yang paling lemah." 38 Ayatullah Khomaini, Tahrir al-Wasilah, j. 1, h. 437–440.

39 Ayatullah Khomaini, Tahrir al-Wasilah, j. 1, h. 442.

40 Muthahhari, Hamāse-c Husayni, j.2, h. 110.

P: 112

SEMANGAT DAN PESAN INTI AJARAN AL-QUR'AN TERKAIT KESYAHIDAN IMAM HUSAIN

AMSAL BAKHTIAR

The paper pinpoints Qur'anic verses pertaining to the relation between holy war (jihad), morality and Truth. Qur'anic verses sign jihad to fight against those who attack Islam, in term of both defensive and offensive meaning of struggle.

They signify that jihad and martyrdom are equally important in Islam in order to keep the religion lives its core teachings. Referring to those holy massages, the martyrdom of Imam Husayn can be interpreted as practices of those underlying principles as they are also stated in the Prophetic traditions.

The fight of Imam Husayn aimed at preserving morality and justice which he inherited them from the holy prophet himself. In this respect, he accomplished his political practices on the basis of the ethical and religious principles.

Regardless Mu'awiyah clan was well-known for bad morality; he followed the agreements made between Mu'awiyah and his brother, Imam Hasan. The open confrontation was taken not only as the last option, but also it was determined by Allah within revelation sent to the Prophet; following this message meant to show surrender to decision of Allah.

From theological perspective, teachings of Imam Husayn can be drawn under the basis of truth, justice and equality. In this context, jihad becomes

P: 113

a potential tool to develop those principles of religion. The struggle of Imam Husayn against Yazid presented the importance of living them as foundations, from which other branches of religious practices generated.

Pendahuluan

Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib merupakan sosok unik yang turut memengaruhi kaum Muslim dari generasi ke generasi untuk menjalani kehidupan ini secara politis, religious, dan revolusioner, khususnya dalam urusan jihad. Pengalaman hidupnya begitu mengesankan. Kaum Muslim di seluruh penjuru dunia masih mengenang hidupnya yang begitu memprihatinkan di Karbala, yang menjadi tempat kesyahidannya yang tragis akibat penganiyaan Ubaidillah bin Ziyad dari Dinasti Ummayah.

Imam Husain lahir pada 3 Syakban tahun 4 H; beberapa keterangan hanya menginformasikan bahwa beliau lahir pada Syakban abad tersebut (584 M). Ada pula yang mengatakan kelahiran tersebut pada 5 Syakban, 30 Rabiulawal, dan 12 Rajab. Ibunya, Sayyidah Fatimah, adalah putri Rasulullah Saw., sedangkan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, merupakan sahabat Rasulullah dan merupakan salah seorang tokoh pemimpin masa awal syiar Islam. Nama “Husain” merujuk pada adik dari kakaknya sendiri, Hasan. Kedua nama tersebut sama-sama memiliki arti “senang." Ketika ayahnya wafat, Husain turut membebaskan Imam Hasan dari penderitaan serta menjadi saksi bagaimana Mu'awiyah bin Abi Sufyan serta orang-orang lainnya dari Dinasti Umayyah menghukum ayah dan kakaknya sendiri. Saat Imam Hasan meninggal, Imam Husain mengambil alih tongkat kepemimpinan (imämah) menghadapi orang-orang yang membenci dirinya dan keluarga Nabi Muhammad lainnya sampai beliau terbunuh sebagai syahid pada 10 Muharam 60/61 H.

Sepanjang hidupnya, dengan gagah berani Imam Husain menghadapi Dinasti Umayyah yang dipimpin oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan yang telah mengancam kehidupan beliau, kakaknya, dan keluarga Nabi Saw.

Berikut ini merupakan taktik bagaimana Mu'awiyah melawan keluarga Ali.

P: 114

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain Pertama, Mu'awiyah menebar teror menentang Imam Ali dan membunuh keluarga serta para pengikutnya. Kedua, Mu'awiyah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membeli kesetiaan para dai, para periwayat hadis, dan pemimpin-pemimpin masyarakat demi mempertahankan kekuasaannya. Ketiga, Mu'awiyah memecah belah persaudaraan umat Muslim dengan melontarkan isu nasionalisme dan lokalitas di tengah kelompok masyarakat, serta membiarkan tumbuhnya sikap sektarianisme antara kaum Arab dan non-Arab. Keempat, Mu'awiyah mengangkat anaknya, Yazid, sebagai penerus kepemimpinan Dinasti Umayyah, meskipun Yazid adalah koruptor, pemabuk, dan penjudi. Hidup Yazid sangatlah boros, bahkan anjing-anjingnya pun berkalung emas. Karakter ini menyalahi sumpahnya untuk menjalankan roda dinasti tersebut di atas landasan keislaman. Kehidupan Yazid pun sangat brutal. Bahkan Imam Husain beserta keturunan dan para sahabatnya pun turut dibunuhnya.

Tubuh mereka dipotong menjadi beberapa bagian, kepala mereka dibawa ke Karbala, Kufah, dan Damaskus di Syiria.

Dalam tragedi Karbala, air dan dahaga memainkan peran yang mencolok dalam sejarah Imam Husain; karena itu, komunitas Syi'ah mengenang kejadian keji tersebut sebagai momen besar sebagaimana perayaan-perayaan besar Islam lainnya. Air dan dahaga menyimbolkan kesabaran Imam Husain di tengah penderitaan yang dibuat oleh musuh- musuhnya. Kisah mengenai penderitaan di tengah kaum Muslim umumnya menyertakan air. Misalnya, seorang sejarawan, Al-Mas'udi, mencatat bahwa Muslim bin Aqil dan dua temannya meninggal karena kehausan di tengah perjalanan dari Madinah ke Kufah.(1) Contoh lainnya adalah golongan yang memberontak terhadap Khalifah Utsman bin Affan pada tahun ke- 35 H dengan mengepung rumahnya untuk menyulitkannya memperoleh air. Untungnya, Imam Ali mengutus Hasan dan Husain membawakan air untuk Utsman.(2) Strategi air ini pun dimanfaatkan Mu'awiyah ketika ia melawan Ali dalam Perang Shiffin. Di sini, Mu'awiyah tidak beruntung karena pihak Ali sudah mengamankan sumber air terlebih dahulu sebelum

P: 115


1- 1. Mas'udi, Abu al-Hasan Ali bin Husain, (Teheran: Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al- Jawāhir, 1360),j.2, h. 63.
2- 2.Muhammad bin Jari Thabari, Tarikh Thabari, jil. 6, h. 2247; Izzuddin Ali ibn Atsir, al- Kamil fi al-Tarikh, j. 3, tahun 35, h. 278; Mas'udi, Abu al-Hasan Ali bin Husain, h. 701.

strategi tersebut dilancarkan Mu'awiyah. Meskipun demikian, Imam Ali mempersilakan tentara Mu'awiyah mengambil persediaan air yang sudah dikuasainya.(1) Tidak seperti Imam Ali, Ubaidillah bin Ziyad menginstruksikan Umar bin Sa'ad untuk menghalangi Imam Husain dan anak buahnya yang baru tiba di Karbala agar tidak dapat menggunakan air.(2) Kemudian, Umar bin Saad merekomendasikan Amr bin Hajjaj Zubaidi untuk melaksanakan instruksi tersebut dengan sokongan 500 tentara berkuda untuk memagari sumber air tersebut. Mereka memblokade jalur air melalui sungai Furat sejak 7 sampai 10 hari sekadar untuk mengusik Imam Husain dan pengikutnya dengan sulitnya air.(3) Selain itu, para tentara Ziyad pun menganiaya Imam Husain secara psikologis dan menistakan beliau.

Abdullah bin Hashin al-Azdi dari etnis Bujaila, misalnya, meneriaki Imam Husain, "Hai Husain! Tidakkah kau lihat air ini? Warnanya biru seperti langit. Namun, walaupun sampai kau mati, tidak secangkir air pun yang dapat kauteguk."(4) Syimir juga adalah salah seorang yang menistakan Imam Husain dengan cara yang sama.(5) Umar bin Sa'ad memosisikan Amr bin Hajjaj tidak hanya sebagai komandan tentara, tetapi juga sebagai orang yang berteriak dengan kasar. Ia mengatakan, "Hai anak Fatimah dan Rasulullah! Kau tidak akan pernah meneguk setetes air pun di sini sebelum saya memutuskan kepalamu dari badanmu dan menyerahkannya kepada Ubaidillah bin Ziyad."(6) Sejarah perlawanan Mu'awiyah kepada Ali ini mengakibatkan Dinasti Umayyah memiliki tujuan untuk menghancurkan keluarga Nabi Muhammad Saw.—Ali, Hasan, Husain, dan para pengikutnya—dengan taktik memblokade air dari jangkauan Ali. Meskipun demikian, Imam Husain tidak tinggal diam, ia menggali tanah untuk memperoleh air.

Ubaidillah bin Ziyad yang mengetahui kejadian ini dari bala tentaranya, akhirnya menyurati Umar bin Saad: “Kudengar Husain dan pengikutnya telah berhasil menggali air. Kau tidak boleh membiarkan hal tersebut

P: 116


1- 3. Abu Hanifah Ahmad ibn Daud Dinawari, Akhbar al-Thiwal, (Teheran: s.a., 1366), h. 208-210; Muhammad ibn Ali ibn Tiqtaqa, Tarikh Fakhri, h. 122–123.
2- 4. Abu Hanifah Ahmad ibn Daud Dinawari, Akhbar al-Thiwal, h. 301.
3- 5. Abu Muhammad bin Ahmad bin Ali Ibn 'Atsam al-Kufi, al-Futüh, (Teheran, 1372), h. 887; Abu Hanifah Ahmad ibn Daud Dinawari, Akhbar al-Thiwal, h. 301; Izzuddin Ali Ibn Atsir, al-Kāmil fi al-Tarikh, jil. 5, h. 185. Muhammad bin Jari Thabari, Tarikh Thabari, j. 7, h. 3006.
4- 6. Izzuddin Ali ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, j.5, h. 158. Muhammad bin Jari Thabari, Tarikh Thabari,j.7,h.3006. Abu al-Futuh al-Ishfahani, Maqātil al-Thalibin, s.a, h. 118.
5- 7. Abu al-Futuh al-Ishfahani, Magātil al-Thalibin, h. 118.
6- 8. Abu Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn 'Atsam al-Kufi, al-Futüb, h. 83.

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain terjadi. Setelah kau baca surat dariku, segeralah temukan cara memblokade akses mereka memperoleh air!"(1)

Ajaran al-Qur'an Seputar Jihad, Moralitas, dan Kebenaran

Al-Qur'an membolehkan jihad hanya untuk melawan para penyerang Islam. Tindakan jihad yang demikian sepantasnya memperoleh kesyahidan sebagaimana dikatakan dalam al-Qur'an, "Perangilah mereka yang memerangi kamu di jalan Allah, namun janganlah kau melampaui batas; karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas," (QS al-Baqarah: 190) Terdapat beberapa pendapat berbeda seputar ayat tersebut dari kalangan umat Muslim. Sebagian besar mengatakan bahwa ayat tersebut adalah ayat al-Qur'an yang kali pertama mengizinkan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya melakukan perang suci. Namun, Abu Bakar mengatakan bahwa ayat al-Qur'an tersebut adalah yang kali pertama menjamin jihad adalah surah al-Haj ayat 39, sebagai berikut: "Telah diizinkan bagi mereka (yaitu kelompok Mukmin dalam melawan kaum yang kafir) untuk berperang terhadap kelompok yang memerangi mereka, (dan) karena mereka (kaum beriman) telah dianiyaya, dan sesungguhnya Allah kuasa menolong mereka memperoleh kemenangan," (QS al-Hajj: 39).

Umat Muslim mempelajari bahwa sebelum Nabi hijrah dari Mekkah ke Medinah, terdapat konsensus ('ijma) bahwa jihad bersenjata tidaklah diperbolehkan, sebagaimana ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah (Makkiyah) pun menganjurkan umat Muslim untuk hanya bertindak defensif menghadapi serangan orang-orang non-Muslim. Setelah hijrah, Allah mewahyukan surah al-Baqarah ayat 190 tersebut di atas.(2) Sejak saat itu, kaum Muslim mengubah pola aksi mereka dari bertahan (defensive) menjadi menyerang (offensive). Kemudian, Allah juga mewahyukan ayat yang menganjurkan umat Muslim untuk melakukan jihad sepenuhnya melawan musuh-musuh mereka, sebagaimana Ibn Arabi sebutkan dalam

P: 117


1- 9. Abu Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn 'Atsam al-Kufi, al-Futüh, h. 893.
2- 10. Al-Qurtubi, Tafsir al-Jami' l Ahkam al-Qur'ān, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), j. VIII, h. 347.

kitab Ahkam al-Qur'an yang merujuk pada surah al-Tawbah ayat 36, sebagai berikut:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya (terdapat) empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.

Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang- orang yang bertakwa, " (QS al-Tawbah: 36).

Ibn Arabi menunjukkan bahwa jihad mulai diberlakukan bagi umat Muslim di Mekkah, pusat dakwah. Setelah Rasulullah berhasil menguasai Mekkah, melalui peristiwa yang disebut al-Qur'an sebagai fath al-Mekkah, tempat perintah jihad ditujukan kepada lawan-lawan Islam, kelompok yang memusuhi komunitas Muslim, di sekitar Mekkah.(1) Ibn Arabi menambahkan bahwa jihad tersebut harus disebar ke seluruh penjuru dunia agar tidak ada lagi yang memusuhi Islam.

Secara etimologis, "jihad” berasal dari “jāhada-yujāhidui”, yang artinya mengerahkan segenap kekuatan untuk menjaga kebenaran dari Tuhan”. (2) “Jihad" pun berasal dari "jahada-yajhadu" yang berarti ‘tekun mencari penyelesaian masalah'."Jihad” pun memiliki makna spesifik: berjuang melindungi agama di atas muka bumi. “Jihad” pun dapat memiliki makna berbeda dari jihad yang kecil sampai yang besar.(3). Dengan demikian, semua upaya yang dilakukan manusia dari yang sepele sampai yang besar dapat dipandang sebagai jihad selama ia bertujuan untuk saling menolong. (4) Ada pula ayat al-Qur'an yang tampak sebagai anjuran jihad dalam melawan ketidakadilan sosial; misalnya, perang menentang dominasi tingkat kesejahteraan oleh kaum bermodal: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah,

P: 118


1- 11. Ibn Arabi, Tafsir Ahkām al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), j. I, h. 145.
2- 12. Abu Luis Ma'luf, Munjid, h. 106.
3- 13. Yusuf Qardawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, Trans., (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002), h. 34.
4- 14. Muhyiddin Arubusman, Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi, (Jakarta: Spektrum, 2006), h. 268.

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih," (QS Al-Tawbah: 34).

Allah pun berfirman dalam ayat yang lain:

"Harta rampasan fa'i, yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah sangat keras hukumannya," (QS Al-Hasyr: 7).

Ayat-ayat di atas memperlihatkan bahwa dalam Islam, jihad dan kesyahidan sama pentingnya demi menjaga kelangsungan agama. Oleh karena itulah Imam Husain melaksanakan jihadnya di atas landasan al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. Tidak dapat dipungkiri, Imam Husain wafat sebagai seorang syahid sesuai prinsip-prinsip al-Qur'an, sebagai berikut:(1) 1. Imam Husain memiliki kepedulian yang begitu serius dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang dihadapi umat:

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Oleh karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah.

Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal," (QS Ali Imran: 159).

2. Imam Husain mendasarkan jihadnya di atas landasan hukum Islam:

“Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah di bumi, maka berikanlah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh orang-orang yang sesat dari jalan Allah

P: 119


1- 15. Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day of Ashura, (Tragedi Penindasan Keluarga Nabi) terj. Asep Wahyudin, (Jakarta: Yayasan Fatimah, 2002), h. 10–12.

akan mendapat azab yang berat, karena melupakan hari perhitungan," (QS Shad : 26).

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab- kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Jika Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikannya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba- lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia beritahukan kepadamu terhadap apa yang dulu kamu perselisihkan," (QS Al-Maidah: 48).

3. Imam Husain menjaga terpeliharanya keadilan dan persamaan antara orang yang berbeda, tanpa memandang perbedaan tingkat sosial ketika berurusan dengan hak dan kewajiban manusia.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kalian menetapkannya dengan adil.

Sungguh, Allah adalah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepada kalian. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat," (QS Al- Nisa':58).

4. Imam Husain berkata bahwa seorang pemimpin haruslah mengerjakan tugasnya secara efektif dalam menegakkan kebenaran.

Rasulullah bersabda:

"Aku diutus untuk membimbing manusia berpijak di atas kebenaran." 5. Imam Husain menganjurkan persamaan hak dalam ekonomi:

"Harta rampasan fa'i, yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan untuk

P: 120

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah sangat keras hukumannya,” (QS Al-Hasyr: 7).

Imam Ali bin Abi Thalib berkata:

"Sekiranya seluruh kekayaan adalah milikku, ia akan kubagikan dengan adil kepada orang-orang miskin yang membutuhkan. Jika nyatanya segala sesuatu adalah milik Allah, apalah yang dapat kuperbuat?" 6. Imam Husain mengilhami orang-orang untuk saling mengkritisi, menganjurkan, mengarahkan, dan merundingkan kebijakan- kebijakan yang dibuat oleh para otoritas pemimpin, serta memberikan kebebasan dan kedudukan terhormat bagi mereka yang melaksanakan hal-hal tersebut.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang beruntung, " (QS Ali Imran: 104).

Rasulullah bersabda:

Jihad terbaik terkait dengan tindak mengemukakan pernyataan yang jujur dalam mengkritisi pemimpin yang lalim." Sebagaimana kita sadari, Islam mengatur perilaku politik umatnya.

Misalnya al-Qur'an mengarahkan kita bagaimana sebagai umat Muslim kita harus menepati janji:

“Hai orang-orang yang beriman! Tepatilah janji,” (QS Al-Maidah : 1).

Allah berfirman dalam ayat lainnya:

P: 121

"... Dan tepatilah janji, karena janji pastilah dimintai pertanggungjawaban," (QS Al-Isra: 34).

Dari prinsip-prinsip ajaran al-Qur'an yang dipatuhi Imam Husain ini, kita dapat memahami bahwa beliau telah melahirkan gerakan revolusioner melawan para pemimpin tiranik dari Dinasti Umayyah, dalam mewakili kaum tertindas yang telah direnggut hak-haknya.

Terdapat beberapa ayat lainnya yang turun dengan asbab nuzul-nya yang terkait Imam Husain, misalnya:

“Itulah (karunia) yang diberikan Allah untuk menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta kepada kalian sedikit imbalan pun atas seruanku, kecuali kecintaan terhadap keluargaku.' Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya.

Sungguh Allah maha Pengampun, Maha Mensyukuri," (QS Al-Syura:

23).

Imam Husain adalah salah seorang sanak keluarga Nabi Muhammad Saw. yang disucikan Tuhan:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang jahiliyah dahulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan taatillah Allah dan rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahl bayt (keluarga nabi) dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya," (QS Al-Ahzab :

33).

Imam Husain adalah salah seorang sahabat yang diundang Rasulullah Saw. untuk perbincangan teologis dengan golongan Kristen dari Najran.(1) Al-Qur'an mengabadikan peristiwa tersebut, sebagai berikut:

"Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anakmu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan juga diri kamu, kemudian marilah kita ber-muhabalah (mencari kejelasan siapa yang benar dengan memohonkan laknat kepada pihak

P: 122


1- 16. Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day of Ashura, h. 24.

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain yang berdusta penerj.) agar laknat Allah ditimpakan kepada orang- orang yang berdusta, " (QS Ali Imran: 61)

Perjuangan Imam Husain Membangun Moralitas dan Keadilan

Ketika Imam Husain berada di Mekkah, beliau memimpin kota tersebut untuk berperang melawan Yazid bin Mu'awiyah melalui tiga strategi.(1) Pertama, Imam Husain menarik perhatian dan mengarahkan opini publik agar mengikuti langkah-langkahnya. Kedua, Imam Husain mengarahkan dan menganalisis situasi politik di atas landasan prinsip-prinsip Islam yang terkait dengan administrasi pemerintahan. Ketiga, Imam Husain memimpin masyarakat menentang rezim Yazid untuk membentuk Negara Islam di bawah kepemimpinannya. Alasan kunci dari perlawanan ini adalah bahwa Yazid telah nyata-nyata menghancurkan norma-norma ajaran Islam.

Imam Husain mewarisi moralitas Nabi Muhammad Saw. Umat Muslim menghargainya karena beliau beserta keluarganya senantiasa menolong orang lain yang sangat membutuhkan. Kita pun dapat menelusuri pandangan moral Imam Husain dari beberapa pernyataan beliau, sebagai berikut:(2) 1. Sadarlah, kebutuhan umat manusia padamu adalah kehormatan yang Allah anugerahkan kepadamu. Janganlah kau merasa bosan dengan kehormatan ini; jika tidak, maka ia akan menjadi kutukan bagimu.

2. Sadarlah, kebajikan (ma’ruf) membawamu pada penghargaan dan anugerah. Andaikan kita dapat menyaksikan kebajikan (ma'ruf) tersebut, ia akan terlihat bagaikan wanita cantik yang memikat siapa pun mata memandang. Sebaliknya, jika wujud kekikiran dapat kita lihat, ia akan tampak seperti makhluk jahanam yang membosankan.

3. Orang yang bermurah hati akan menjadi manusia yang terhormat.

Orang yang kikir, ia akan menjadi manusia terkutuk. Siapa yang

P: 123


1- 17. Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day of Asyura, h. 93.
2- 18. Syekh Muhammad bin Ali Shabban. I'af al-Rāghibin i Sirah al-Mushthaf Fadhā'il Ahli Baytihi al-Thahirin Teladan Suci Keluarga Nabi; Akhlak dan Keajaiban- keajaibannya), terj. Idrus H. Alkaf, (Bandung: Mizan, 1996), ed. VIII, h. 124.

bersegera melakukan kebaikan bagi saudaranya, ia akan diberi kemudahan ketika saatnya ia berjumpa Tuhan.

4. Suatu hari, salah seorang anak Imam Husain wafat, tetapi orang- orang justru malah mencerca Husain. Walau begitu, beliau justru berkata, “Kami adalah keluarga Nabi Muhammad; kami berdoa kepada Allah, dan Dia akan mengabulkannya. Jika Dia mengambil seseorang yang kami cintai, kami berserah pada-Nya.” Sekali waktu, beliau memohon kepada Allah di salah satu pojok Kabah, “Ya Allah, Kau telah memberkahiku, tetapi Kau tahu bahwa aku bukanlah orang yang bersyukur dan bersabar di hadapanmu. Tidak sedikit pun Kau cabut berkah ini, (meski) aku tidak mensyukurinya.

Dan, tidak pula Kau membiarkanku dalam penderitaan yang panjang, (meski) aku bukanlah seorang yang penyabar. Tuhanku, tidak ada sesuatu pun yang datang dari Diri-Mu, Wahai Yang Maha Pemurah, selain kemurahan-Mu yang mengalir padaku.” Imam Husain menjadikan langkah-langkah Nabi Muhammad Saw.

sebagai model bagi langkah-langkah politiknya. Karena berpatokan pada langkah-langkah tersebutlah, dia tidak dapat akur dengan pandangan negatif bahwa "tujuan menghalalkan cara.” Sebaliknya, Imam Husain melaksanakan praktik-praktik politiknya dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip etis dan religius. Misalnya, setelah Dinasti Umayyah membunuh kakaknya, Imam Hasan, masyarakat Irak meminta Imam Husain untuk membalas dendam dan memimpin perlawanan terhadap Mu'awiyah. Meskipun orang-orang Irak tersebut begitu loyal kepada Nabi Muhammad Saw., beliau menolak tawaran mereka dan tetap mematuhi perjanjian yang ia buat dengan Mu'awiyah.

Kesepakatan tersebut berisi tujuh butir. Pertama, Hasan menyerahkan kekhalifahan kepada Mu'awiyah dengan syarat Mu'awiyah harus memimpin di atas pijakan al-Qur'an dan sunnah Rasulullah, serta khalifah- khalifah yang lurus. Mu'awiyah dilarang menunjuk siapa pun sebagai

P: 124

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain khalifah.(1) Kedua, Hasan-lah yang akan mengangkat khalifah setelah Mu'awiyah.(2) Ketiga, jika terdapat sesuatu yang menimpa Hasan, Husain- lah yang akan mengambil alih kepemimpinan.(3) Keempat, Mu'awiyah tidak diizinkan menuntut apa pun dari masyarakat Madinah, Hijaz, dan Irak selama ayah Imam Husain masih memimpin dan berpengaruh di kalangan umat Muslim.(4) Kelima, para gubernur di berbagai provinsi, yang diangkat Mu'awiyah, tidak diperkenankan mencela Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib di atas podium juga tidak diperkenankan mengutuk Imam Ali dalam qunut (doa di tengah salat subuh) dan dalam doa selama waktu salat lima waktu.(5) Keenam, terjaminnya keselamatan dan keamanan setiap orang di mana pun ia berada. Ketujuh, Mu'awiyah tidak memiliki hak untuk berurusan dengan bayt al-māl (dewan keuangan) di Kufah.

Bayt al-māl akan dibina oleh Imam Hasan. Mu'awiyah, Imam Hasan, Imam Husain, dan para pengikutnya, baik laki-laki maupun perempuan, tidak seharusnya melakukan hal buruk serta mengumpulkan kekayaan demi kepentingan-kepentingan pribadi.(6) Imam Husain konsisten mempertahankan kebenaran (kesepakatan tersebut) dan bersungguh- sungguh dalam mematuhinya.(7) Revolusi Imam Husain tidak begitu saja terjadi. Ia telah seutuhnya ditentukan sebelum pewahyuan Tuhan kepada Nabi Muhammad.(8) Beliau berkata kepada Abdullah bin Ja'far, “Saya bermimpi berjumpa dengan Rasulullah Saw. dan beliau meminta saya untuk mengerjakan sesuatu dan mati demi dia.” Di Aqabah, Imam Husain mengatakan pada para sahabatnya, “Aku merasa aku akan terbunuh. Aku melihat dalam mimpi anjing-anjing menyalakiku, dan yang paling nyaring menyalakiku adalah anjing yang belang."(9) Suatu saat, Amr bin Ludzan menyarankan agar Imam Husain menangguhkan keberangkatannya ke Kufah sampai mendapat kabar dari Kufah. Namun, Imam Husain mengatakan hal yang sebaliknya, "[Aku berangkat] bukan berarti aku tidak tahu, melainkan karena aku berserah diri kepada keputusan Allah. Mereka mengundangku datang agar dapat

P: 125


1- 19. Ibn al-Sabbagh al-Maliki, al-Fusül al-Muhimmah, h. 163.
2- 20. Jalaludin al-Suyuti, Tarikh al-Khulafā', h. 191.
3- 21. Syekh Radhi al-Yasin, Suhl al-Hasan, h. 260, dikutip dari Ibn al-Muhannah, Umdat al-Talib.
4- 22. Jalaludin al-Suyuti, Tārīkh al-Khulafa', h. 191,
5- 23. Ibn al-Sabbagh al-Maliki, al-Fusul al-Muhimmah, h. 163.
6- 24. Ibn al-Sabbagh al-Maliki, al-Fusül al-Muhimmah, h. 163.
7- 25. Salah seorang yang turut dalam perang Asyura melukiskan Imam Husain demikian: "Belum pernah aku melihat sosok yang begitu disayangi dan dicintai oleh keluarganya, saudaranya, dan sahabatnya yang memiliki keberanian layaknya beliau. Bala tentaranya bergerak menyebar ke sebelah kiri dan kanannya layaknya kerumunan domba di tengah buruan gerombolan serigala.” Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jil. IV, h. 77.
8- 26. Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, terj. Irwan Kurniawan, (Jakarta: Citra, 2007), h. 88.
9- 27. Ibn Qulawaih, Kāmil al-Ziyārāt, h. 75; lihat juga dalam Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 88.

merenggut jantungku dari badan ini.” Di Mekkah, ketika hendak pergi ke Irak, Imam Husain berkata, "Tanganku seakan terpisah berserak di antara Naiwana (Nawawis) dan Karbala, kemudian keluargaku yang kelaparan dan kehausan hidup setelahnya, namun demikian, tidak satu tempat pun untuk lari dari hari yang telah Tuhan tentukan tersebut."(1) Ketika kesepakatan berjalan, Imam Husain tidak memberontak pada Mu'awiyah. Beliau memberontak pada masa Yazid. Pada masa kepemimpinan Mu'awiyah, Imam Husain mengikuti kakaknya, Imam Hasan, yang mematuhi kesepakatan dengan Mu'awiyah. Salah satu butir kesepakatan tersebut sampai pada tingkat membahas pengangkatan Imam Husain sebagai khalifah masa depan, setelah Mu'awiyah putra Hindun.

Imam Husain memahami anjuran para sahabatnya di Irak untuk melawan Mu'awiyah dengan strategi militer sang ayah, ‘Ali; jika beliau kalah, sahabatnya akan memandangnya sebagai seseorang yang teraniaya oleh sang musuh, tetapi dia tetap akan dikenang sebagai sosok terhormat sebagaimana ayahnya, 'Ali, dikenang.(2) Saran tersebut dikemukakan masyarakat Irak karena mereka telah terlalimi oleh Mu'awiyah dan hidup dalam kemiskinan.(3) Nyatanya, Imam Husain tidak mengikuti kesepakatan tersebut seolah-olah dia memilih Yazid sebagai khalifah selanjutnya.(4) Dengan demikian, dalam melakukan taktik-taktik politiknya, tindakan Mu'awiyah bersifat eksklusif. Sebaliknya, tindakan Yazid berkarakter neurotis (dipengaruhi gangguan kejiwaan), ekstrovert, dan terburu-buru.

Oleh karena itu, Yazid bersifat kejam dan langsung, mudah dipengaruhi oleh opini baru. Terkait hal ini, Sigmund Freud, menerangkan bahwa karakter neurotis dapat diterapkan untuk melihat orang-orang pintar; mereka mencela gangguan kejiwaan mereka (neuroticism), tetapi juga mengeksploitasinya demi memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi. (5) Yazid cenderung glamor, dia senang berburu, minum alkohol, main perempuan, memelihara anjing, dan mengenakan emas serta pakaian dari wol, serta menyediakan satu orang pengurus bagi setiap anjingnya. Dia melaksanakan kekhalifahannya dengan politik berbasis nafsu.

P: 126


1- 28. Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 89.
2- 29. Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 216.
3- 30. Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 218.
4- 31. Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 219.
5- 32. Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 235.

Semangat dan Pesan Inti Ajaran Al-Qur'an Terkait kesyahidan Imam Husain

Perspektif Teologis dari Ajaran Imam Husain

Dalam periode feodalisme dan monarki, kebenaran, keadilan, dan persamaan hak terkhianati. Selain itu, dalam periode ini muncul perbudakan, sedangkan jihad (perang suci) tidak dündahkan, meskipun ia merupakan sebuah perangkat yang potensial untuk membangun egalitarianisme, kebenaran, dan keadilan.(1) Imam Husain menyaksikan bagaimana Yazid mengabaikan nilai-nilai tersebut sehingga dia menolak untuk mengikuti Yazid. Imam Husain mempertahankan keyakinan bahwa kekhalifahan mesti didasarkan kepada al-Qur'an, bukan pada hasrat keinginan.(2) 1. Dengan demikian, Imam Husain mengkaitkan seruan umumnya kepada situasi mengenaskan pada masa kekhalifahan Yazid sebagai berikut. Pertama, monopoli kekuasaan oleh Dinasti Umayyah didasarkan pada ras, dan hal ini menjadikan masyarakat dari ras- ras lainnya terpinggirkan untuk berpartisipasi dalam kekhalifahan.

Kedua, Dinasti Umayyah menebar hasrat negatif untuk saling membunuh dan memperlakukan orang lain dengan kejam.

Ketiga, Dinasti Umayyah membelanjakan dana masyarakat untuk kepentingan para khalifah dan keluarga mereka. Keempat, hal ini menumbuhkan kekuatan di masyarakat untuk melakukan korupsi.

Kelima, hasrat untuk menggantikan posisi syariah. Keenam, Dinasti Umayyah memberikan upah umat Muslim untuk menyebarkan hadis palsu dan memberi legitimasi pada kekuasaan dinasti tersebut.

Al-Qur'an memberi dukungan atas revolusi Imam Husain sebagai berikut, "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah (Ka'bah) ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan memberi mereka rasa aman dari kekhawatiran," (QS Quraisy:3-4) "Oleh karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa siapa yang membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau

P: 127


1- 33. Ziaul Haque, Revolusi Islam di Bawah Bendera Lailahaillah, (Jakarta: Darul Falah, 2000), h. 58.
2- 34. Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day, h.56.

bukan karena berbuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan seluruh manusia. Sesungguhnya rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Namun setelah itu, banyak di antara mereka yang melampui batas di muka bumi." (QS Al-Maidah: 32) Di atas landasan ayat-ayat tersebutlah, para pendukung Imam Husain mempertimbangkan dua hal. (1) Pertama, mereka takut kehilangan khalifah sejati. Mereka pun khawatir diperbudak Yazid. Kedua, Mereka melihat bahwa kepemimpinan Dinasti Umayyah didasarkan pada mentalitas menang atau kalah; kemenangan adalah dengan meluluhlantahkan yang lain. Sebaliknya, pendukung Imam Husain memandang sang Imam sebagai sosok pemimpin sejati yang dapat membimbing umat menuju kebenaran.

Penutup

Imam Husain mengajak memimpin umat untuk menapaki hidup sesuai ajaran Islam, yang juga menjadi landasan pelaksanaan politik Islam. Dia mendukung tindakan legal melawan tirani dan memelihara kaum terdidik untuk hidup sesuai hukum Islam. Revolusi terhadap Dinasti Umayyah terlaksana dengan kemenangan Dinasti Abbasiyah melawan Dinasti Umayyah dengan menerapkan slogan politik “memurnikan kembali hukum keluarga Nabi Muhammad Saw".

Catatan:

1 Mas'udi, Abu al-Hasan Ali bin Husain, (Teheran: Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al- Jawāhir, 1360),j.2, h. 63.

Muhammad bin Jari Thabari, Tarikh Thabari, jil. 6, h. 2247; Izzuddin Ali ibn Atsir, al- Kamil fi al-Tarikh, j. 3, tahun 35, h. 278; Mas'udi, Abu al-Hasan Ali bin Husain, h. 701.

3 Abu Hanifah Ahmad ibn Daud Dinawari, Akhbar al-Thiwal, (Teheran: s.a., 1366), h.

208-210; Muhammad ibn Ali ibn Tiqtaqa, Tarikh Fakhri, h. 122–123.

4 Abu Hanifah Ahmad ibn Daud Dinawari, Akhbar al-Thiwal, h. 301.

P: 128


1- 35. Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day, h. 138.

5 Abu Muhammad bin Ahmad bin Ali Ibn 'Atsam al-Kufi, al-Futüh, (Teheran, 1372), h. 887; Abu Hanifah Ahmad ibn Daud Dinawari, Akhbar al-Thiwal, h. 301; Izzuddin Ali Ibn Atsir, al-Kāmil fi al-Tarikh, jil. 5, h. 185. Muhammad bin Jari Thabari, Tarikh Thabari, j. 7, h. 3006.

6 Izzuddin Ali ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, j.5, h. 158. Muhammad bin Jari Thabari, Tarikh Thabari,j.7,h.3006. Abu al-Futuh al-Ishfahani, Maqātil al-Thalibin, s.a, h. 118.

7 Abu al-Futuh al-Ishfahani, Magātil al-Thalibin, h. 118.

8 Abu Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn 'Atsam al-Kufi, al-Futüb, h. 83.

9 Abu Muhammad ibn Ahmad ibn Ali ibn 'Atsam al-Kufi, al-Futüh, h. 893.

10 Al-Qurtubi, Tafsir al-Jami' l Ahkam al-Qur'ān, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), j. VIII, h. 347.

11 Ibn Arabi, Tafsir Ahkām al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Fikr, tth), j. I, h. 145.

12 Abu Luis Ma'luf, Munjid, h. 106.

13 Yusuf Qardawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, Trans., (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002), h. 34.

14 Muhyiddin Arubusman, Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi, (Jakarta:

Spektrum, 2006), h. 268.

15 Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day of Ashura, (Tragedi Penindasan Keluarga Nabi) terj. Asep Wahyudin, (Jakarta: Yayasan Fatimah, 2002), h. 10–12.

16 Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day of Ashura, h. 24.

17 Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day of Asyura, h. 93.

18 Syekh Muhammad bin Ali Shabban. I'af al-Rāghibin i Sirah al-Mushthaf Fadhā'il Ahli Baytihi al-Thahirin Teladan Suci Keluarga Nabi; Akhlak dan Keajaiban- keajaibannya), terj. Idrus H. Alkaf, (Bandung: Mizan, 1996), ed. VIII, h. 124.

19 Ibn al-Sabbagh al-Maliki, al-Fusül al-Muhimmah, h. 163.

20 Jalaludin al-Suyuti, Tarikh al-Khulafā', h. 191.

21 Syekh Radhi al-Yasin, Suhl al-Hasan, h. 260, dikutip dari Ibn al-Muhannah, Umdat al-Talib.

22 Jalaludin al-Suyuti, Tārīkh al-Khulafa', h. 191, 23 Ibn al-Sabbagh al-Maliki, al-Fusul al-Muhimmah, h. 163.

24 Ibn al-Sabbagh al-Maliki, al-Fusül al-Muhimmah, h. 163.

25 Salah seorang yang turut dalam perang Asyura melukiskan Imam Husain demikian:

"Belum pernah aku melihat sosok yang begitu disayangi dan dicintai oleh keluarganya, saudaranya, dan sahabatnya yang memiliki keberanian layaknya beliau. Bala tentaranya bergerak menyebar ke sebelah kiri dan kanannya layaknya kerumunan domba di tengah buruan gerombolan serigala.” Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jil. IV, h. 77.

26 Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, terj. Irwan Kurniawan, (Jakarta:

Citra, 2007), h. 88.

27 Ibn Qulawaih, Kāmil al-Ziyārāt, h. 75; lihat juga dalam Antoane Bara, The Saviour:

Husain dalam Kristinitas, h. 88.

28 Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 89.

P: 129

29 Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 216.

30 Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 218.

31 Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 219.

32 Antoane Bara, The Saviour: Husain dalam Kristinitas, h. 235.

33 Ziaul Haque, Revolusi Islam di Bawah Bendera Lailahaillah, (Jakarta: Darul Falah, 2000), h. 58.

34 Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day, h.56.

35 Al-Balagh Foundation, Imam Husain and The Day, h. 138.

P: 130

REFLEKSI FILOSOFIS TENTANG KEBANGKITAN IMAM HUSAIN

MUHAMMAD FANAEI ESHKEVARI

Husayn ibn Ali peace be upon him, together with his companion showed a great bravery and courage; sacrificed their lives for the sake of defending the transcendent values of religion of the holy prophet. These actions of valor are truly expressions of strong belief, which eternally bestow honor, nobility and freedom to humanity. Political disputes initiated by Mu'awiyah regime, spirited by worldly ambition for power and wealth led to the spread of injustice and violation of the core teaching of Islam. In this term, Husaynic movement can be viewed within some relations of motives and goals, which will be generated as followed. First is the preservation of honor and freedom. The acceptance of Yazid's vice regency and affirming his leadership is humiliation. Yazid's bad moral character, the emergence of corruption and destruction of Islamic values, suppression on faithful people plead him to save Islam from the danger of extinction. These two motives escorted the Imam to do war against tyranny in attempting reformation of the Islamic society as enthused by the order in Religion "to encourage goodness and forbidding evil.” Moreover, as the trustworthy descendant of the holy prophet, the battle of Karbala, was regarded as exercising

P: 131

his duty of the Imamate, a determined responsibility; to be an eternal example of standing against any tyrant.

Therefore, within the meaning of scarification for the living of true Islam, Husaynic movement, regardless of bloodshed of his and his true companion, is a victory in any means. Along the history of man, precious lesson has existed for us to take; especially illustrated by the principles and method of this confrontation such as the principle of no retreat, dialogue, enlightenment, non receptive to war, courage and forbearance. The school of tarbiyah of Imam Husayn is complemented by out-coming the leading figures standing for defending him and Islam. Deep down, those remarkable endeavors of proving faith sourced from transcendent elements so called love and attachment with the Divine.

Latar Belakang Historis Asyura

Pada tahun 61 H, telah terjadi tragedi berdarah dalam dunia Islam. Debu penuaan dan kelupaan tak akan pernah mampu mengikisnya, sebaliknya, kian hari tragedi ini justru menjadi semakin segar. Bahkan, urgensi berikut signifikansinya semakin luas diakui. Dalam tragedi ini, perjuangan Husain bin Ali bersama para sahabatnya dengan mengorbankan darah mereka demi melindungi nilai-nilai transenden kemanusian telah mengilustrasikan tindakan keberanian yang senantiasa akan menganugerahkan kehormatan, kebangsawanan, dan kebebasan terhadap kemanusiaan hingga akhir zaman.

Mu'awiyah yang telah mengalahkan khalifah 'Ali bin Abi Talib akhirnya berkuasa dan memprakarsai kerajaannya dengan nama khilafah. Dan, dengan kudeta, dia mempersulit posisi Ahlul Bait dan sahabat-sahabat Ali. Dia terus-menerus melanggar hak-hak mereka dan memaksakan penyiksaan, pemenjaraan, serta pembunuhan. Dia melanggar perjanjian damai yang telah ditetapkan bersama dengan Imam Hasan al-Mujtaba. Dia juga memfasilitasi kesempatan bagi Bani Umayyah untuk menguasai kekayaan yang melimpah dan kehidupan yang glamor. Sementara pada saat yang sama, banyak sekali umat Islam

P: 132

yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bertahap, dunia hiburan, kesenangan, pelanggaran susila, dan perlakuan tak senonoh menyebar luas dalam kehidupan aparatur pemerintah. Tirani, diskriminasi, dan perebutan kekuasaan menyebar begitu luas. Tradisi Nabi dan nilai-nilai Islam terlupakan sedemikian rupa. Di sisi lain, kebodohan dan nilai-nilai penghambaan terhadap berhala semakin merebak kembali. Hal terakhir yang dilakukan Mu'awiyah sebelum kematiannya adalah melanggar perjanjiannya dengan Imam Hasan, lalu membaiat anaknya, Yazid, sebagai penerusnya dan sebagai khalifah umat Islam. Dengan ini, berbeda hal dengan para pendahulunya, dia menetapkan khilafah di antara generasi keluarganya. Pembaiatan ini terjadi meski Yazid adalah seorang yang bejat, pemabuk, tak ada malu, haus darah, dan tak pernah dekat dengan agama serta nilai-nilai kemanusiaan. Pada saat Yazid berkuasa, dia mengirimkan utusan kepada Imam Husain. Ia menuntut Imam untuk berjanji setia terhadapnya dan mengakui pemerintahannya secara formal.

Imam Husain adalah permata hati Nabi dan sosok yang dididik oleh 'Ali dan Zahra, Imam ketiga bagi kaum Syi'ah dan di mata umat Islam merupakan sosok yang shalih dan terhormat di antara umat Islam, serta paling dekat dengan Nabi. Bagaimana mungkin sosok sepertinya mengulurkan tangan untuk berjanji setia kepada Yazid? Dan mengakui orang paling busuk itu dalam posisi yang paling terhormat, yakni sebagai khalifah Nabi dan umat Islam? Lantaran hal ini, Imam dan keturunannya meninggalkan Madinah dan dengan niat mengunjungi Rumah Tuhan (Ka'bah), ia memutuskan untuk melakukan perjalanan menuju Mekkah.

Di Mekkah, ia mendeteksi beberapa agen Yazid bermaksud membunuhnya dan berencana untuk merusak Ka'bah. Dampaknya, ia tidak menyelesaikan ibadah hajinya secara penuh dan segera menuju Irak. Di Irak, Kufah adalah kota yang ditujunya. Kota di mana penduduknya telah mengirimkan sekian banyak surat, memohon Imam untuk datang. Mereka telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti dan mendukung Imam. Sang Imam pun menunjuk sepupunya, Muslim ibn 'Aqil, sebagai utusannya untuk pergi ke

P: 133

Kufah. Awalnya, Muslim disambut baik di Kufah, tetapi keadaan berubah dengan munculnya Ibnu Ziyad di Kufah, seorang bawahan Yazid yang menciptakan suasana penuh ketakutan dan ancaman dengan keputusannya untuk memenjarakan setiap pembela Muslim. Orang-orang yang pada saat itu berada di sekitar Muslim mulai menjauh, sehingga Muslim tinggal sendiri sampai akhirnya ia syahid dengan cara yang sangat biadab.

Pada saat yang sama, Imam Husain melanjutkan perjalanannya menuju Kufah. Hingga pada hari kedua Muharam, ia dicegat oleh tentara Yazid di Karbala. Mereka menuntut janji setia dari Imam, yang tentunya tak bisa diterima olehnya.

Kondisi ini menjadikan Imam tak lagi mempertimbangkan Kufah.

Pertama, karena di satu sisi, Imam mendengar kabar kesyahidan Muslim dan pengkhianatan orang-orang Kufah. Kedua, karena pencegatan para tentara Yazid. Meski demikian, Imam bahkan tidak berniat untuk berperang dan berkonfrontasi, justru Imam melakukan segala cara untuk mencegah terjadinya perang. Sayangnya, percakapan Imam Husain yang dilandasi niat baik dengan pimpinan tentara Mu'awiyah berakhir buntu. Imam akhirnya dikepung oleh para musuh di Karbala. Hari demi hari, kepungan musuh semakin ketat dan tekanan terhadap Imam Husain menjadi semakin intens. Air bahkan tak diperkenankan untuk dibawa ke perkemahan Imam Husain, sementara anak-anak dan pengikut Imam berada dalam kondisi kehausan. Kondisi Imam dan pengikutnya semakin sulit.

Akhirnya, pada hari kesepuluh Muharam, tentara Yazid memulai peperangan. Sejak dini hari hingga siang hari, semua pengikut Imam Husain dalam pertarungan yang tidak seimbang, tetapi benar-benar penuh keberanian dan kisahnya begitu melegenda-semuanya syahid.

Pada akhirnya, bagian dari tubuh utusan Tuhan ini sendiri dan terpisah- pisah, sedang sebelumnya ia harus menyaksikan tubuh-tubuh pengikutnya terpisah-pisah dan anak-anak serta orang-orang terkasihnya syahid, "bermandikan" darah. Ia juga harus mendengar tangisan dan teriakan memilukan dari perempuan-perempuan keturunannya, serta lengkingan

P: 134

tangis penuh kehausan dari anak-anak yang terkepung oleh puluhan ribu tentara tak bermoral dan tak berperi-kemanusiaan, yang kemudian semuanya syahid oleh ribuan tombak, panah, dan pedang. Di jalan ini, Imam telah memanifestasikan keberanian terbesar dari bani Adam dan telah mengajarkan kepada manusia jalan kehidupan manusia yang semestinya dan arti penting kehormatan dan kebebasan. Sejak saat itu, namanya yang suci terekam abadi dalam buku sejarah sebagai pemimpin bagi orang-orang yang mencari kebebasan dan pemimpin para syuhada.

Penyebab Pergerakan Imam Husain

Dengan mengontemplasikan catatan singkat ini, mudah-mudahan filosofi pergerakan Imam Husain menjadi jelas. Tindakan Imam dan Imam itu sendiri, dalam kesempatan yang berbeda, telah memperjelas filosofi kebangkitannya sedemikian rupa sehingga hal ini menutup semua jalan (pandangan), yang kerap menuntun pada justifikasi yang salah.

Mengontemplasikan peristiwa itu sendiri dan beberapa perkataan Imam Husain merupakan dua elemen penting dalam menganalisis pergerakan Imam Husain. Di sini, beberapa poin yang terkait dengan hal ini akan diulas.

Kehormatan dan Kebebasan

Salah satu elemen penting dalam kebangkitan Imam Husain adalah memelihara kehomatan dan kebebasan. Penerimaan atas kekhalifahan Yazid, afirmasi atas kepemimpinannya, dan hidup di bawah perintahnya, sepenuhnya adalah kehinaan yang sama sekali tak akan pernah ditebus oleh Imam Hussein dengan harga apa pun. Bagaimana mungkin, ia yang berasal dari garis keturunan terhormat dan mulia akan menebus kehinaan seperti itu? Bagaimana mungkin, ia yang merupakan hamba Tuhan, yang paling kompeten dan yang selalu bersujud di atas tanah dalam penghambaan hanya kepada Tuhannya, akan mengalah pada semua nafsu memalukan seorang Yazid? Imam Husain lantang meneriakkan kebenaran, “Berhati-

P: 135

hatilah! Sesungguhnya orang yang memutuskan untuk menyerangku berada di antara dua hal; antara jatuh dan kehinaan. Semoga kita terhindar dari kehinaan."

Menyelamatkan Islam

Dengan kehadiran Yazid dan munculnya segala jenis korupsi, pembinasaan bertahap atas nilai-nilai Islam dan penindasan terhadap orang-orang yang benar-benar beriman, Imam Husain melihat bahwa Islam sedang berada dalam jurang kepunahan. Ia melihat bahwa ketika seseorang itu fāsig, tiran, dan tidak beriman sama sekali mendapatkan hak istimewa untuk memimpin masyarakat Muslim, maka tak lama lagi bisa dipastikan bahwa semua pencapaian Islam akan binasa dan nilai-nilainya akan terhapuskan.

Atas dasar ini, andai ia tidak mengambil tindakan yang berbeda terhadap peristiwa-peristiwa ini, maka sikap serupa ini tak akan pernah dibenarkan.

Terkait hal ini, Imam berseru, "Inna li l-Lahi wa inna ilaihi raji'un, segala sesuatu milik Allah dan kepada-Nya-lah kita akan kembali. Selamat tinggal kepada Islam, jika umat Islam dibangun di atas penguasa seperti Yazid."

Reformasi Masyarakat Islam

Aspirasi pemerintahan Umayyah untuk umat Islam tak lain hanya berbentuk korupsi dan pengrusakan. Korupsi ini telah tersebar luas dan menjangkiti semua dimensi masyarakat; korupsi moral, korupsi ekonomi, korupsi politis, dan berbagai jenis korupsi lainnya. Imam Husain adalah penyembuh Ilahi yang menyaksikan langsung kesakitan terburuk yang menimpa masyarakat Islam. Inilah titik di mana kewajiban Ilahi dan tanggung jawab religiusnya meniscayakannya untuk bertindak dan mengonfrontasi korupsi sebagai seorang reformer Ilahi. Dari sini, menjadi jelas bahwa pemberontakannya bukanlah merupakan bentuk kebinasaan maupun kemusnahan, melainkan justru merupakan bentuk reformasi dan

P: 136

konstruksi. Sebagaimana ia telah proklamasikan, “Sungguh Aku tidak bangkit atas dasar kejelekan dan kesia-siaan, atau kerusakan, dan berbuat kelaliman. Namun Aku bangkit dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan umat kakekku."

Perang Melawan Tirani: Menyeru Kebajikan dan Melarang Kemungkaran

Yazid adalah personifikasi atas ketidakadilan, tirani, dan kebencian terhadap keadilan. Sementara Husain adalah manifestasi keadilan dan kebenaran. Husain berasal dari kaum terpelajar, yang menurut statemen ayahnya merupakan golongan yang telah Allah janjikan untuk tidak apatis terhadap ketidakadilan para tiran dan kezaliman atas orang-orang yang terzalimi. Khususnya tirani yang tidak hanya menzalimi umat Islam, tetapi juga menciptakan bid'ah atas agama Tuhan dan menghalalkan hal-hal yang haram. Saat Imam sedang menghadapi tentara Yazid di bawah komando Hurr al-Riyahi, ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda, 'Siapa yang melihat pemimpin tiran, yang menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah, mengingkari janjinya kepada-Nya, menentang sunnah Nabi-Nya, dan bertindak keji dan zalim terhadap hamba Tuhan, kemudian dia enggan mengubahnya melalui kata-kata dan tindakan, maka sudah menjadi hak Allah untuk memasukkannya ke dalam golongannya (orang zalim)." Tak ada keraguan bahwa menyeru pada kebaikan dan melarang kemungkaran adalah salah satu kewajiban penting dalam Islam. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk menyebar-luaskan kebajikan dan melarang kemungkaran. Kapan pun kebaikan dilarang dan kemungkaran justru terbudaya, kewajiban umat Muslim menjadi lebih sulit. Di samping itu, kapan pun tingkat spiritualitas, intelektualitas, dan sosial seseorang lebih tinggi, maka kewajibannya pun cenderung lebih sulit. Mengabaikan prinsip ini hanya akan menyiapkan landasan bagi pembasmian kebaikan dan penyebaran kemungkaran. Imam Husain telah menyaksikan tindakan-

P: 137

tindakan yang tidak dilandaskan pada kebenaran dan pada saat itu tak ditemukan upaya untuk mencegah kemungkaran ini. "Tidakkah kau lihat bahwa kebenaran tidak tertunaikan dan kemungkaran tidak dilarang?" Untuk alasan ini, merupakan sesuatu yang nyata dalam Islam bahwa Imam harus memenuhi kewajibannya, karena Imam sendiri telah bersabda, "Saya berniat untuk menyeru pada kebaikan dan melarang kemungkaran."

Kewajiban Imamah (Kepemimpinan)

Imamah (kepemimpinan) Imam Husain telah menentukan tanggung jawab spesifik baginya. Dan ini telah melipatgandakan arti penting dan keniscayaan Imam untuk tegak berani melawan Yazid. Perang melawan tirani, menyeru pada kebajikan, dan melarang kemungkaran adalah kewajiban semua Muslim. Namun, seseorang yang berada dalam posisi pemimpin tentu saja memikul tanggung jawab yang lebih besar. Seorang Imam adalah seseorang yang semua perkataan, tindakan, dan pengakuannya menjadi hujjah (bukti). Imam Husain adalah teladan bagi orang lain dan statusnya telah bertransformasi menjadi tradisi yang abadi. Andai Husain yang merupakan ciptaan terbaik Tuhan pada masanya, tidak menentang Yazid yang merupakan tiran terkejam di masanya, bisa dipastikan tak akan ada seorang pun yang akan berani menentang tiran. Terlepas dari semua kesulitan dan larangan dari kebanyakan orang yang berniat baik atasnya, Imam Husain tak pernah mengizinkan keraguan apa pun mengintervensinya dalam melanjutkan jalannya dan mengejawantahkan tujuannya.

Undangan dari Penduduk Kufah

Selain apa yang telah diulas sebelumnya, panggilan dari penduduk Kufah dan janji gigih mereka untuk mengikuti dan mendukung Imam merupakan justifikasi sempurna atas Sang Imam. Andai saja Imam tidak merespon panggilan mereka, maka mereka akan selalu menanyakan apa alasan Imam

P: 138

untuk tidak merespon mereka dalam mengonfrontasi tiran. Sementara pada saat yang sama, tak ada kesulitan sama sekali yang mengadang Imam untuk menerima panggilan penduduk Kufah.

Prinsip dan Metode Konfrontasi Imam Husain

Salah satu topik terpenting dari studi atas pergerakan pemimpin para syuhada ini adalah terkait prinsip-prinsip dan metode-metode yang dianut oleh Imam dalam berkonfrontasi dengan musuh-musuhnya. Topik yang bahkan hingga saat ini banyak diabaikan. Diperlukan riset yang lebih mendalam dan luas untuk menggali topik ini. Namun di sini, kita hanya akan membahas beberapa prinsip umumnya.

Pantang Mundur sebagai Prinsip

Poin pertama adalah-terlepas dari segala tekanan dan antisipasi akan segala jenis bencana, Imam tak pernah gentar meniti jalan yang benar.

Ia tak pernah mundur, meski hanya selangkah dari pendiriannya, dalam menentang segala ancaman dan penindasan. Imam tak pernah sudi sedikit pun berbuat hina dengan menjanjikan kesetiaan kepada Yazid.

Keimanannya menyatu dengan jiwanya, dan tak ada satu pun kesulitan yang bisa mencegahnya dari jalan yang telah Tuhan takdirkan untuknya.

Dia bukan tipe orang yang menghamba pada dunia, bukan pula tipe orang yang berbicara masalah agama hanya dalam kondisi damai tetapi mundur dalam kondisi sulit. Imam pernah memberikan deskripsi tentang orang seperti itu, “Manusia adalah budak dunia, dan ketika mereka menghadapi kesulitan, hanya sedikit dari mereka yang masih tetap mempertahankan agamanya.” Kontras dengan sifat di atas, Imam adalah orang yang setia kepada agama, dan ia menjunjung tinggi jalan abadinya dengan Tuhan, “Mereka adalah orang-orang yang bersaksi bahwa Tuhan kami adalah Allah dan mereka setia dengan kesaksiannya.”

P: 139

Dialog dan Pencerahan

Sang Imam sangat menyambut baik segala jenis dialog. Kendatipun oposisinya bukanlah sosok yang rasional dan menghendaki dialog, Imam selalu mencoba untuk memberdayakan setiap kesempatan untuk berdialog. Sejak awal konfrontasi dengan tentara musuh di Karbala hingga akhir hayatnya, ia tak pernah berhenti menyebarkan pesannya kepada musuhnya. Meskipun ia melihat bahwa nasihat-nasihat dan niat baiknya tak berpengaruh apa pun terhadap hati beku tentara yang bodoh dan keras kepala itu, Imam tak pernah putus asa. Dia senantiasa melanjutkan kewajibannya untuk menuntun, memimpin, dan menebarkan pesan- pesannya dengan sepenuh hati.

Ketidakterimaan atas Perang

Di satu sisi, Imam menolak tuntutan Yazid untuk tunduk padanya, tetapi di sisi lain, (meski) dengan segala genderang permusuhan dan haus darah para tentara Yazid, Imam selalu mencoba untuk mencegah terjadinya perang. Imam dalam percakapannya dengan pemimpin tentara Yazid selalu mencoba untuk menghindari perang. Betapa pun dalam kondisi yang paling sulit, di mana ia dikepung oleh tentara dan kekurangan pasokan air, Imam tak pernah berinisiatif untuk memicu terjadinya peperangan. Pada hari Asyura (10 Muharam), saat para tentara telah mempersiapkan diri untuk menabuh genderang perang dan tentara Imam hampir diserang, ia terus mengingatkan sahabat-sahabatnya untuk tidak memulai peperangan.

Keberanian dan Kesabaran

Imam selalu mencegah terjadinya perang dan pertumpahan darah, tetapi jika ia berada dalam posisi harus berperang, maka ia tak pernah gentar untuk berperang. Ia akan menerima jihad di jalan Allah dengan tangan terbuka. Sedikitnya jumlah sahabat-sahabatnya dan besarnya jumlah musuhnya tak akan pernah bisa menghentikannya dari pertarungan.

P: 140

Husain bukanlah seorang yang kompromis dalam kebenaran. Ia siap untuk mengorbankan segalanya untuk meraih tujuan-tujuannya. Imam bukanlah seorang penghasut perang, tetapi jika para penghasut perang menyerangnya, pasti ia akan melawan mereka dengan gagah berani dalam jalan apa pun. Ia dan sahabat-sahabatnya berperang dengan gagah berani. Kata “kalah” tak pernah ada dalam kamus hidup Sang Imam. Dia adalah pemenang, baik dalam kondisi syahid maupun dalam kondisi memenangkan peperangan. Husain selalu berada di antara keduanya.

Kekesatriaan dan Pembebasan

Dalam setiap momentum dan peristiwa Karbala, kita menyaksikan beberapa manifestasi kekesatriaan dan semangat kebebasan dari Imam Husain dan sahabat-sahabatnya. Sementara, tak ada yang bisa dilihat dari tentara-tentara Yazid, kecuali tindakan memalukan dan amoral. Di tengah- tengah padang pasir Karbala yang membara, mereka tak memperkenankan anak-anak dan perempuan-perempuan pengikut dan keluarga Imam Husain untuk meminum seteguk air pun. Mereka bahkan menumpahkan darah bayi berumur enam bulan. Bayi-bayi kehausan yang hampir mati, alih-alih diberi air, malah dihunjam dengan panah-panah yang tajam oleh tentara Yazid. Tentu hal ini kontras sekali dengan apa yang terjadi di rentang konfrontasi pertama Imam Husain dengan tentara musuhnya, di mana ia tak hanya memberikan air kepada tentara musuhnya, bahkan kuda-kuda tumpangan musuhnya pun ia beri air. Kendatipun saat itu Imam berada dalam peperangan yang tidak seimbang dengan musuhnya, yakni 72 orang dari pihaknya melawan ribuan dari pihak musuhnya berikut persenjataan mereka yang lengkap, tetapi ia tak pernah bertindak tidak etis dan tak manusiawi dalam memerangi musuhnya. Sebaliknya, ia dan sahabat-sahabatnya berperang dengan heroik dan gagah berani hingga mereka syahid.

Manifestasi semangat kebebasan Imam Husain ini salah satunya adalah penerimaannya atas taubat Hurr. Hurr adalah orang pertama

P: 141

yang menghalangi jalan Imam. Dialah yang mencegah kafilah Imam di Karbala, sehingga mereka harus menghadapi segala kesulitan itu. Dialah yang menebarkan ketakutan dan ancaman di antara para wanita dan anak- anak Imam Husain. Hurr bertaubat ketika segalanya telah terjadi. Dan taubatnya pun sama sekali tak berpengaruh apa-apa pada kelangsungan peperangan. Namun, Imam-sosok yang tak pernah mendendam dan tak pernah mempunyai tujuan lain selain menyelamatkan manusia—dengan lapang dada menerima Hurr, dan ia memperlakukan Hurr sama persis seakan-akan Hurr adalah salah satu sahabat tersayangnya.

Salah satu peristiwa historis Karbala yang tak terlupakan adalah pada malam Asyura (10 Muharam), di mana Imam berkumpul dengan para sahabatnya di tenda. Di sana, Imam menjelaskan kepada mereka tentang esensi perang dan tujuannya. Imam menyebutkan bahwa “Satu-satunya orang yang dibidik oleh para musuh adalah aku, apabila kalian tidak ingin melanjutkan peperangan ini, kalian bisa pergi dengan bebas tanpa beban apa pun, dan kalian bisa terus hidup. Namun jika kalian memutuskan untuk tinggal bersamaku, ketahuilah bahwa tidak ada kemenangan dalam peperangan ini. Esok musuh tak akan membiarkan satu pun dari kalian untuk tetap hidup. Kalian bisa melarikan diri pada tengah kegelapan malam ini.” Imam bahkan memadamkan semua penerangan, sehingga siapa pun yang memutuskan untuk pergi bisa pergi tanpa harus menanggung malu. Diriwayatkan bahwa beberapa dari mereka yang tidak siap dan tidak ikhlas pergi meninggalkan Imam. Hanya orang-orang yang hatinya suci dan ikhlas yang tinggal bersama Imam, dan nama mereka selamanya terhormat dan mencerahkan sejarah.

Di lain sisi, bertentangan dengan perwujudan kebebasan ini, ada sejumlah orang yang tak pernah berkesempatan menghirup aroma nilai- nilai transenden tersebut. Di hari Asyura, mereka terus berkubang dalam lumpur kotoran kehinaan yang memalukan. Imam berseru lantang pada mereka, “Wahai pengikut keluarga Abu Sufyan, jika kalian sudah tidak

P: 142

beragama lagi dan kalian tidak takut pada Hari Kebangkitan, maka (setidaknya) jadilah di dunia ini sebagai orang yang merdeka."

Manajemen dan Strategi

Karavan Imam Husain tak bisa diperhitungkan sebagai tentara. Pertama, karena rombongan Imam Husain terdiri sahabat-sahabat, keluarga, saudara-saudara, kerabat-kerabat, dan beberapa rekan serta pendukungnya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak muda, anak- anak, bahkan balita dan bayi. Kedua, jumlah mereka juga tidak seimbang dengan jumlah musuhnya. Di sisi lain, pasukan musuh memiliki batalion yang terdiri dari sepuluh ribu tentara perang yang bersenjata.

Kendati demikian, betapa pun berada dalam kondisi ini, Imam tak pernah putus asa. Dalam kondisi terburuk sekalipun, Imam menyiasati taktik militernya dengan manajemen yang sangat cermat dalam memberikan instruksi pada pasukannya. Ia mengomando para ksatria, tentara, fraksi kanan dan kirinya dengan sempurna. Ia menentukan komandan masing-masing kelompok, bahkan seluruh batalion. Dukungan dan perlindungan untuk para perempuan dan anak-anak juga teratur dengan sangat baik olehnya. Ia bahkan juga bersiasat sangat baik di tengah-tengah medan kekuasaan tentara musuhnya. Meskipun secara kasat mata pasukan musuh yang (akan) memenangkan peperangan, tetapi Imam menjadikan peperangan tak semudah dan semurah itu bagi para musuh untuk sampai pada tujuan jahatnya. Oleh karena itulah, dengan oposisi yang tak berimbang, kita menyaksikan persatuan, kerja sama, cinta, dan kedamaian yang luar biasa di antara para sahabat Imam Husain. Dan pada saat yang sama, kita bisa melihat keciutan nyali para musuh dan psikis mereka yang tidak stabil, sehingga jumlah tentara musuh yang terbunuh jauh melampaui jumlah tentara Husain yang syahid.

Aspek manajemen Imam Husen tak hanya terbatas di medan perang. Aspek manajemen lainnya bisa dicermati dari manajemen internal terhadap keturunannya, para keturunan yang dikelilingi musuh-musuhnya

P: 143

yang berwatak keras. Di satu sisi, anak-anak dengan lengking tangisnya, dan di sisi lain mereka menyaksikan mutilasi orang-orang terkasih mereka satu per satu dan mereka semakin terperangkap. Masa depan keturunannya benar-benar berada di tangan para musuhnya, entah itu akan menjadi yatim atau akan berakhir di penjara. Situasi dan lingkungan serupa inilah yang tampak di depan Imam Husain, dan tentunya, peran Imam dalam menyemangati dan menyabarkan keturunan-keturunannya dalam kondisi mengenaskan ini jauh lebih sulit ketimbang perannya sebagai Komando di medan perang. Namun, Imam menyiasatinya dengan sangat terampil, dan salah satu pendukung penting Imam dalam tanggung jawab sulit ini adalah saudarinya, Zainab al-Kubra (secara literal berarti Zainab yang paling sulung). Kondisi yang mengenaskan semakin menjadi- jadi pasca syahidnya Imam Husain. Para pemikul beban kehidupan itu harus memikul kepedihannya sendiri. Beban yang bahkan gunung pun tak sanggup memikulnya. Wahai Tuhan, fase berlarut-larut apa yang telah kau tunjukkan kepada kami? Apa yang sesungguhnya ingin Kau sampaikan pada kemanusiaan?

Madzhab Tarbiyah Imam Husain

Saat Imam Husain mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk meninggalkan Karbala dan menyelamatkan diri mereka sendiri di malam Asyura, beberapa dari para sahabatnya berdiri mewakili beberapa kelompok tersebut. Dan, dengan tingkat keikhlasan serta pengorbanan yang tinggi, mereka telah ditawarkan kehormatan dan kebebasan. Salah satu dari mereka berkata, "Wahai keturunan Nabi! Nyawa itu tak ada nilainya. Jika harus terbunuh dalam membelamu, lalu dihidupkan kembali, lalu terbunuh lagi, lalu dihidupkan kembali, dan jikapun ini harus terulang ribuan kali, maka aku tak akan pernah berhenti membelamu!" Pada hari Asyura, saat Imam sedang salat, sahabat-sahabatnya melihat musuh sedang membidik panah ke arah Imam, lalu beberapa dari mereka serta-merta menyiapkan dadanya sebagai pelindung atas

P: 144

panah-panah tersebut sampai Imam bisa menyelesaikan salatnya dengan selamat. Ketika ia telah menyelesaikan salatnya, semua sahabatnya itu telah syahid. Inilah kelompok Imam Husain. Benar bahwa dalam tempo yang sesingkat itu, perkataan, tindakan, dan jiwa suci Imam yang luar biasa telah membawa sosok-sosok itu ke puncak kebebasan dan kemanusiaan.

Setiap sahabat Imam bersinar penuh kehormatan layaknya bintang di angkasa. Saudaranya yang terhormat, 'Abbas, adalah simbol keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan. Anaknya, Ali Akbar, sebagai simbol karakter yang luhur, keistimewaan nabi, pengetahuan, dan pengorbanan.

Saudarinya, Zainab, merupakan samudera kesabaran, legenda ketabahan, kesucian, dan keberanian. Sosok-sosok ini adalah keturunan dari wahyu dan cinta yang telah terdidik dan tertransformasi. Dan, memang hanya keluarbiasaan ini yang bisa diharapkan dari mereka. Lalu, bagaimana kiranya mendeskripsikan sosok-sosok lain, semisal Habib ibn Mazahir, Muslim ibn 'Awsajah, Zuhayr, dan Burayr, dan budak hitam yang dipanggil Jon, yang kesemuanya benar-benar mendedikasikan keberadaan penuh mereka terhadap Imam dengan segenap keikhlasan?

Spritualitas dan Irfan

Spiritualitas adalah ruh dari segala tindakan, pencapaian, dan aliran darah Imam Husain di Karbala. Elaborasi tentang bahasan ini akan diuraikan dalam bab yang terpisah berikut.

Dimensi Spiritual dan Irfan Pergerakan Imam Husain

Rahasia dari rahasia-rahasia pergerakan Imam Husain—yang mana tanpanya, keberanian yang abadi berikut segala keunikannya tak akan pernah terejawantahkan, dan tanpa memperhitungkannya, pemahaman dan interpretasi akan peristiwa ini akan menjadi mustahil—adalah dimensi spiritual dan irfan dari personalitas pemimpin para syuhada ini, serta esensi irfani atas pergerakannya. Rahasia atas segala keajaiban

P: 145

dari peristiwa besar ini, berikut sumber dari segala nilai yang tampak di dalamnya, hanya bisa ditemukan dalam elemen transenden ini. Cinta dan ikatan batin telah menjadi penyebab segala ketabahan itu. Ikatan batin dan apa-apa yang melampauinya inilah yang telah memberikan kekuatan kepada mereka untuk lepas dari segala penjara ikatan duniawi, dan juga membebaskan mereka dari segala jenis ikatan. Ia tak pernah memikirkan kesulitan, penderitaan, dan bencananya sendiri. Sebaliknya, ia memasrahkan segalanya pada kehendak Tuhan. Dia mengapresiasi apa pun yang diapresiasi oleh Jiwa Segala Jiwa. Ia bahkan kerap lebih dari sekadar memasrahkan diri kepada Allah (al-taslim) dan mendapat keridaan- Nya (al-ridhà). “Ridha Allah adalah keridaan kami sebagai keturunan", itulah deklarasinya. Ia bahkan melampaui hal ini dan mencapai keadaan al-fanā' (peleburan kesadaran), suatu kondisi yang tak terpikirkan oleh pemahaman awam kita. Di akhir hayatnya, ia menyaksikan tubuh para sahabatnya "bermandikan” darah, imbas dari banyaknya luka. Darah senantiasa mengucur dari seluruh tubuh mereka. Dan, di bawah terik mentari Karbala yang semakin mencekik mereka dalam kehausan, ia melihat musuhnya berusaha memisahkan kepala mereka dan menyerang tendanya. Kala itu, mereka melihat Imam menghadap ke arah langit dan berujar sesuatu. Apakah ia protes terhadap segala bencana tersebut? Apakah ia protes terhadap apa pun yang terjadi atasnya? Ataukah ia mengutuk para musuhnya? Dan, ternyata tidak demikian. Mereka pun lalu mendengarkannya, dan Imam ternyata sedang berdoa kepada Tuhan- nya Yang Terkasih, “Wahai Tuhanku, aku rida dengan segala keridaan-Mu, aku bersabar terhadap segala bencana ini, dan aku berserah pada segala perintah-Mu, tak ada yang layak disembah selain Engkau." Manifestasi lain dari ruh irfani yang transenden ini bisa dilihat dari perkataan-perkataan Zainab dalam pengadilan Yazid. Kala itu, Zainab, yang hatinya semakin dirundung kesedihan lantaran harus menghadapi beban bencana yang berat, ditanya oleh Yazid dengan kasar, “Apakah kamu tahu apa yang Tuhan telah turunkan atasmu?" Zainab menjawab, "Saya

P: 146

tidak melihat apa pun kecuali keindahan!" Apalagi yang bisa membuat segala yang pahit menjadi manis dan segala kekacauan menjadi indah, selain getaran irfani (kedalaman spiritual-peny.) dan pesona cinta Ilahi.

Zainab telah mencapai tingkatan tauhid. Dia mengetahui bahwa segala sesuatu dari Allah. Dan tentunya, segala sesuatu yang datang dari sahabat selalu baik. Inilah perkataan Imam yang menyebutkan, “Tak ada yang bisa menimpa kita, kecuali Allah telah menggariskannya untuk kita." Dan, karena inilah Imam tak pernah gentar dengan peristiwa apa pun yang akan terjadi.

Benar, dengan pertimbangan nilai-nilai irfani (spiritual) Imam Husain yang begitu tinggi, pergerakannya sulit dipahami dan digapai oleh pemahaman kita. Inilah ruh irfani yang mengalir dalam segenap perbuatan dan perkataan Imam Husain. Inilah sumber cahaya yang menyimpan segala manifestasi yang penuh warna. Inilah ibu dari segala kebajikan yang merupakan sumber dari segala kebajikan dan nilai-nilai transenden. Jika di sana terdapat irfan, penghambaan, penyerahan diri, keridaan, dan cinta Ilahi, maka segala kebajikan akan tampak. Dan, dengan memusat kepada realitas ini, segala keajaiban Karbala akan bisa dipahami.

Dalam perjalanan menuju Karbala, ketika Sang Imam memberitahukan tentang akhir dari perjalanan pengikutnya dan akan syahidnya para sahabatnya, dengan nada heran, anaknya, Ali Akbar, bertanya kepadanya, “Bukankah kita dalam kebenaran?" Imam menjawab, "Tentu saja kita sedang berada dalam kebenaran". Merespon perkataan Imam, sang anak menjawab, “Maka kita tak gentar dengan kematian!" Di malam Asyura, ketika Imam Husain memberi tahu sahabat-sahabatnya bahwa esok hari mereka semua akan dibunuh, keponakannya, Qasim, yang merupakan anak dari Hasan, saudaranya, yang berusia tak lebih dari 13 tahun, bertanya kepadanya, “Paman, apakah aku akan dibunuh juga?" Imam lalu bertanya balik kepadanya, “Bagaimanakah kamu melihat kematian?" Qasim menjawab, "Ia lebih manis daripada madu."

P: 147

Pada hari Asyura, tubuh-tubuh yang termutilasi dan terpisah dari jiwa-jiwa yang suci itu memberikan kesaksian atas kebenaran dan kejujuran klaim mereka. Lalu, apalagi kiranya yang bisa menjadikan kematian tampak lebih manis dari madu di mata seorang anak kecil selain pengetahuan spiritual yang dalam (transcendent gnosticism)? Kekuatan seperti apa yang bisa melimpahkan semangat kepada para sahabat di hari Asyura selain daya tarik Ilahi? Setiap orang dari mereka dengan penuh keberanian menghadapi samudera musuh di tengah-tengah medan pengorbanan. Getaran yang menyentuh keberadaan para sahabat tak lain adalah “gnostisisme Husainis”. Mereka mempelajari hal ini dari perkataan Imam Husain, “Sungguh aku tak melihat kematian, melainkan sebagai kebahagiaan, sedang hidup bersama orang-orang zalim adalah kehinaan." Dengan segala kesulitan tersebut dan sejumlah tanggung jawab besar Imam Husain dalam peristiwa ini, ia tak pernah meninggalkan salat, doa, dan membaca al-Qur'an. Pada malam Asyura, ia meminta kepada musuhnya untuk memberinya waktu lebih untuk salat dan mengaji. Di tengah-tengah Asyura yang membara dan di tengah-tengah desingan busur panah, ia masih berdiri bersembahyang. Bahkan di detik nafas terakhirnya, ia meninggalkan dunia ini dengan doa dan salat. Inilah irfan, penghambaan, cinta, dan tauhid Imam Husain.

Manifestasi-Manifestasi Irfani Imam Husain dalam Doa Arafah

Karbala merupakan medan doa Imam Husain, ekspresi tauhid, serta irfannya. Namun, tak semua mata bisa mengamatinya. Esensi irfan adalah esoteris (batiniah-peny.), sementara pandangan eksoteris (lahiriah- peny.) hanya bisa melihat yang kasat mata. Para musuh, yang berkonfrontasi dengan Imam Husain dan berperang dengannya, sama sekali buta dalam melihat dan menyaksikan kemendalaman dan kehadiran "ruh” di dalamnya.

Banyak orang yang telah membaca atau mendengar peristiwa Asyura, hanya saja mereka tidak bisa memahami esensi dan kemendalamannya.

P: 148

Esensi irfan sepenuhnya rahasia dan misteri. Untuk memahaminya, tak ada cara lain selain dengan terjun melampaui yang tampak.

Manifestasi irfani Husainis lainnya adalah perkataan-perkataan dan doa-doanya, yang mana dengan memeditasikannya, kita bisa seperti terkenalkan dengan dunia Husain. Salah satunya adalah doa Imam Husain pada hari 'Arafah di Padang 'Arafah, doa yang sarat akan nilai- nilai mistisisme yang luas. Dengan mengontemplasikan doa ini, kita bisa sampai pada kedekatan dengan dunia kebatinan Imam Husain. Di sini, untuk memperkenalkan irfan dan tauhid Imam Husain, kita perlu menyinggung beberapa doa tersebut.

Husain memperoleh ilmu langsung dari Tuhan. Ia memahami Tuhan lebih jelas dibandingkan pihak lain. Baginya, Tuhan tak pernah tersembunyi dan tak perlu dibuktikan. Tak ada yang lebih jelas selain Tuhan, sehingga kita memerlukan perantara untuk membuktikannya.

Imam tak pernah bersemedi untuk menemukan-Nya, penuntun itu penting baginya. Segala sesuatu menjadi jelas dengan cahaya-Nya. Dan, mata-mata yang tidak memahami-Nya adalah buta. Dan sesungguhnya, seseorang yang tidak memiliki cinta di hatinya untuk Tuhan adalah sangat merugi. “Wahai Tuhan, bagaimana Engkau dibuktikan lewat sesuatu, sedang sesuatu itu sendiri menggantungkan keberadaan mereka kepada- Mu? Adakah sesuatu selain Engkau yang begitu swabukti yang kiranya bisa menjadi seseorang yang mencerahkan-Mu? Kapankah Engkau pernah tersembunyi (gaib), sehingga Engkau memerlukan bukti untuk membuktikan keberadaan-Mu? Kapankah Engkau pernah menjauh, sehingga membutuhkan tanda-tanda yang akan membawa kami mendekat dengan-Mu? Sungguh buta orang yang tidak melihat-Mu, padahal Kau selalu mengawasi mereka. Sungguh rugi seorang hamba yang tidak Kau anugerahkan cinta-Mu kepada mereka.” Hanya Tuhan-lah Tuhan kita dan pilihan terakhir kita. Tidak ada keinginan lain selain untuk kembali dan bertemu dengan-Nya. “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku menginginkan- Mu dan aku memberikan kesaksian kepada-Mu dengan penghambaanku

P: 149

kepada-Mu, dan aku mendeklarasikan bahwa Engkau adalah Tuhanku, dan Engkau adalah tempat kembali.” Semesta alam adalah pemberian Tuhan. Dan, kita tergenang dalam nikmat-Nya yang tak terbatas. Kita tak mempunyai apa-apa dari diri kita sendiri. Apa pun yang kita miliki semata-mata datang dari rahmat- Nya. Karunia-Nya sungguh tak terhitung. Dan, kita tak akan mampu mensyukuri segala karunia-Nya. Jika saja kita memiliki kehidupan yang abadi, dan di rentang kehidupan itu kita ingin menunjukkan rasa terima kasih kita hanya kepada nikmat-nikmat-Nya, sungguh kita masih belum mampu. "Aku bersaksi, wahai Tuhanku, demi kebenaran imanku ... dan demi hati nuraniku yang terdalam ... bahwa andaikan aku berusaha dan bersungguh-sungguh sepanjang masa ... meskipun aku menggelutinya demi untuk menunjukkan kesyukuranku pada salah satu nikmat-Mu, maka aku masih tak akan mampu melakukannya." Dia telah mencapai tingkat irfan dan tauhid melalui iluminasi (pencerahan) cahaya Ilahi. “Engkau yang telah menerangi cahaya di hati- hati orang suci pilihan-Mu sampai mereka mengetahui-Mu dan bersatu dengan-Mu." Dia telah sepenuhnya tenggelam dalam cinta Ilahi. Artinya, ia telah terlepaskan dari semua ikatan duniawi. Hanya ada ingatan akan Tuhan dan hanya Tuhan-lah sahabat dan tempatnya berlindung. “Engkau yang memancarkan cahaya di hati orang-orang terkasih-Mu sampai mereka tidak mencintai apa pun selain Engkau dan mereka tidak mencari tempat berlindung selain kepadamu, dan Engkau adalah teman bagi mereka ...." Doa-doa yang beraroma surgawi ini sepenuhnya memanifestasikan kebijaksanaan, irfan, ketakutan, cinta, dan kedekatan. Betapa indahnya permohonan orang suci pilihan Tuhan pada hari 'Arafah yang sakral dan di tengah Padang 'Arafah yang sakral. Memang benar bahwa pengetahuan spiritual Imam Husain berakar di 'Arafah, sementara Asyura adalah manifestasi fenomenal atasnya. Pengetahuan spiritual inilah yang kemudian menumbuhkan keberanian tersebut. Dan, memang benar bahwa

P: 150

Karbala harus diketahui melalui 'Arafah, dan manifestasi 'Arafah harus disaksikan di Karbala.

Filosofi Azadari (Ratapan Duka Cita)

Tak diragukan lagi, bahwa peristiwa Asyura yang tragis dan menyayat hati tak bisa berlalu begitu saja. Dalam peristiwa itu, ketidakadilan dan kezaliman terjadi pada sosok-sosok paling terhormat sepanjang sejarah.

Jiwa dan nurani mana yang tidak bergetar mendengar peristiwa ini? Yang tidak menangis melihatnya? Adalah sesuatu yang alami bagi manusia untuk berperasaan serupa ketika menyaksikan langsung peristiwa setragis ini. Kenapa kita menangis? Tentu semata karena kita adalah manusia.

Andaikan kita adalah batu, kayu, atau hewan, mungkin kita tak akan menangis. Namun manusia ketika berhadapan langsung dengan peristiwa itu akan tersentuh secara alami. Apabila cinta kita terhadap seseorang semakin dalam, maka kasih-sayang kita terhadapnya akan meningkat.

Sehingga penderitaan ataupun kepedihannya, juga akan menjadi kepedihan kita juga. Husain adalah sosok paling mulia pada masanya, permata hati Nabi, pemimpin para Syuhada, dan pemimpin para pemuda surga. Apabila kita tidak menangis berduka untuknya, lalu kapankah kita harus menangis dan apakah sebenarnya tujuan dari menangis? Terlebih, Imam Husain tidak memikul segala beban dan kesakitan itu untuk tujuan pribadinya, tetapi ia melakukannya demi keselamatan umat, dan ia syahid untuk kebangkitan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai- nilai Ilahi yang tinggi. Itu adalah nilai-nilai yang kita semua harapkan.

Oleh karenanya, siapakah yang syahid untuk kita dan untuk kemanusiaan? Sungguh ini adalah pengabdian terbesar dalam sejarah dan komunitas manusia. Bagaimana mungkin kita mengabaikan sosok yang telah merasakan semua kepedihan deri kita semua? Di samping itu, duka cita untuk Imam Husain adalah untuk mendemonstrasikan cinta kepada nilai-nilai tersebut, yang mana Imam telah memilih syahid untuk memperjuangkannya. Nilai-nilai seperti

P: 151

keadilan, kebebasan, kehormatan, dan spiritualitas. Mengenang nama Husain bukan semata kebangkitan pribadi, tetapi juga justru merupakan kebangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Mencintai Husain sebenarnya mencintai semua nilai tersebut. Memperkuat ikatan batin dengan Husain sebenaranya merupakan penguatan dan komitmen atas nilai-nilai ini. Sejatinya, di Karbala mereka tidak memenggal kepala Husain, tetapi mereka memenggal kebebasan, keadilan, dan kehormatan.

Mereka sebenarnya menginjak nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi dan spiritual dengan kuda-kuda mereka. Kebencian terhadap para penyerang itu adalah kebencian terhadap keagresifan dan ketidakadilan. Mengutuk mereka berarti mengutuk ketidakadilan, agresi, dan penghinaan. Jika tidak demikian, kita tidak memiliki ikatan keluarga apa pun dengan Husain, anak dari Ali. Tidak juga kita memiliki konflik personal apa pun dengan Yazid, anak dari Mu'awiyah. Secara sederhana, ini berarti hidup dan benci pada mereka yang mengikuti kecintaan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang agung, sedang pada saat yang sama membiarkan kebencian terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut tumbuh. Setiap orang yang mencintai nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi ini sebenarnya mencintai Husain karena dia adalah pengibar nilai-nilai tersebut. Dan, setiap orang yang mencintai Husain akan menunjukkan perasaan dan kasih sayangnya kepadanya.

Selain itu, menunjukkan perasaan dan kasih sayang kepada Husain, menjaga namanya, dan memperingatinya, sebenarnya membangkitkan nilai-nilai tersebut dan memperkuat komitmen kepada nilai-nilai tersebut. Dalam rangka membangkitkan nilai-nilai tersebut, Imam Husain sebenarnya telah mengorbankan dirinya sendiri untuk nilai-nilai yang tidak temporal dan tidak terbatas ruang maupun wilayah geografis tertentu, dalam artian nilai-nilai tersebut abadi.

Imam Husain tak hanya terafiliasi kepada Syi'ah, tetapi ia terafiliasi kepada kemanusiaan. Bila komunitas-komunitas lainnya tidak bergabung dengan Syi'ah dalam memperingati Husain dan para simpatisannya,

P: 152

ini semata karena mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya Husain.

Dan, ini adalah kelalaian kita, yakni tidak mengenalkan Imam Husain kepada kemanusiaan, dan kita bertanggung jawab atas semua ini. Apabila seseorang yang bukan Syi'ah mengetahui profil Husain, niscaya ia akan menjadi seorang Husainis. Cepat atau lambat, kemanusiaan pada akhirnya akan melihat sejarah “matahari bersinar" ini, lalu mereka akan mengikuti jalan ini. Hingga nama Husain dan Asyura akan bersinar dalam wajah sejarah hingga akhir masa. Debu tak sudi menutupinya. Sebaliknya, hari demi hari keduanya akan semakin bersinar.

Nama Imam Husain dan ingatan akannya berhubungan erat dengan nilai-nilai transenden kemanusiaan. Dan, karena nilai-nilai tersebut tak akan pernah diingkari apalagi menghilang, sehingga cinta dan ingatan akan Husain juga tak akan diingkari. Husain hanya akan dilupakan ketika nilai-nilai itu terlupakan. Namun, jika nilai-nilai itu terlupakan, maka ini berarti bahwa kemanusiaan sejatinya telah berakhir. Imam Husain adalah perwujudan fisik dari ajaran-ajaran al-Qur'an dan layaknya al-Qur'an, ia abadi. Dan setiap hari, dimensi-dimensi baru akan terus tersingkap.

Ini adalah logika pengikut Ahlul Bait yang mencintai Husain. Setiap tahun, mereka memperingati pengorbanan Husain dengan lebih baik dan lebih impresif. Pertanyaannya, bagaimanakah logika orang-orang yang menentang Husain dan pengikut-pengikutnya? Mereka sama saja dengan orang-orang yang menganggap bahwa cinta Ahlul Bait Rasulullah sebagai kekufuran, bid'ah, dan syirik, yang tentunya serupa dengan logika para musuh dan pembunuh Ahlul Bait Rasulullah, mereka yang telah membantai perempuan, laki-laki, anak-anak dan orang tua, serta meneror mereka dengan agresif. Apakah cinta kepada Ahlul Bait merupakan tindakan syirik? Apakah memperingati Imam Husain dan kebangkitan nilai-nilai Islam merupakan perbuatan bid'ah? Syirik adalah mengasosiasikan Tuhan dengan sesuatu, dan ini berbeda dengan cinta terhadap orang-orang suci Tuhan, mengikuti Rasulullah dan Ahlul Bait yang suci. “Apabila kamu mencintai Tuhan, maka ikutilah aku, dan Tuhan akan mencintaimu."

P: 153

Imam Husain tak mempunyai kepercayaan lain selain Islam, yang mana jika mengikuti selain Islam berarti syirik. Pada kenyataannya, ia adalah murid madrasah (sekolah-peny.) Rasulullah dan ia dididik oleh Ahlul Bait penerima wahyu dan risalah. Dialah yang menyebarluaskan al-Qur'an dan Sunnah, serta berkorban untuk Islam. Dialah teladan sempurna dari perkembangan spiritual Islam. Para pahlawan bisa menjadikannya rujukan.

Umat Islam mempelajari spiritualitas dan penghambaan darinya dan dari keberaniannya yang abadi di Karbala.

Tiga Elemen Terkait Pergerakan Imam Husain

Ketika berhadapan dengan pergerakan pemimpin para Syuhada ini, penting untuk memiliki pengetahuan yang memadai. Pasalnya, Imam Husain dan pergerakannya mesti diketahui. Baru setelah pengetahuan itu sudah didapat, dengan sendirinya ekspresi perasaan dan kasih sayang akan datang. Alur paling alami dan logis dari munculnya perasaan adalah setelah diketahuinya alasan. Apabila emosi (baca: perasaan) lebih mendominasi dan tidak di bawah bimbingan intelektualitas, pada akhirnya ia akan tersesat.

Karena emosi itu buta, ia tak bisa menjadi panutan, ia harus berdinamika seirama dengan cahaya intelektualitas. Apabila intelektualitas tidak memainkan perannya dalam memahami Karbala, dan hanya emosi sendiri yang bekerja, maka Pergerakan Imam Husain akan termisinterpretasikan, dan segala pengaruh serta rahmatnya tidak akan tampak. Sebaliknya, intelektualitas tanpa emosi juga tidak cukup. Intelektualitas adalah penerang, dan penerang akan memerankan fungsinya dengan baik bagi pejalan apabila ia sedang melakukan perjalanan. Apabila kita tidak bergerak, meskipun kita mempunyai penerang, kita tidak akan pernah meraih tujuan kita. Oleh karena itu, kita harus memiliki lampu dan harus bergerak. Oleh karena itu, poin pertama yang esensial dalam memahami pergerakan Imam Husain adalah intelektualitas dan emosional. Sementara poin kedua, emosional harus berpanutan kepada intelektualitas dan selalu berada di bawah bimbingannya. Oleh karena itu, pembicaraan tentang

P: 154

tujuan dan pesan Imam Husain lebih penting daripada pembicaraan detail tentang kesyahidannya dan kesyahidan para sahabatnya. “Mengapa" Husain syahid jauh lebih penting untuk dipertanyakan ketimbang “bagaimana” ia syahid. Meditasi tentang “mengapa" atas pergerakan Imam Husain akan menghadirkan pengetahuan. Sementara kontemplasi tentang “bagaimana" kesyahidannya akan menstimulasi emosi. Poinnya di sini, pertama, bahwa kedua elemen ini penting; kedua, bahwa ilmu pengetahuan lebih prioritas ketimbang emosi. Sayangnya, dalam sejarah, dimensi emosionallah yang kerap lebih diperhatikan, sementara dimensi intelektual kurang terlalu diperhatikan. Inilah penyebab kenapa umat Islam—dengan keberadaan pemimpin seperti Husain bin Ali dan panutan seperti cahaya pahlawan Karbala—tidak bisa menciptakan masyarakat Islam yang ideal. Andaikan kita memahami pergerakan Imam Husain dan dengan serius berpegang teguh dengannya, tentunya kita tak akan berada dalam situasi seperti saat ini.

Dalam mengekspresikan emosi dan duka cita, rasionalitas harus mendominasi. Kita harus mencegah segala tindakan yang tidak intelek dan tidak wajar. Penduka cita terbaik atas Imam adalah para Imam itu sendiri.

Kita harus belajar seni berduka cita dari Imam Shadiq. Bagaimanakah mereka menunjukkan duka citanya? Perbuatan seperti apakah yang mereka lakukan? Ekspresi-ekspresi serupa apakah yang mereka manifestasikan dalam puisi-puisi mereka? Apakah Imam Shadiq mencambuki dirinya sendiri? Ataukah ia menginginkan para sahabatnya untuk melukai diri mereka sendiri? Melakukan perbuatan-perbuatan bodoh serupa itu dalam berduka cita dan memberikan statemen-statemen atau puisi-puisi yang tak bermakna, atau menggunakan cambuk, bertentangan dengan arah tujuan dan semangat yang diinginkan Imam Husain. Reaksi-reaksi seperti itu pada hakikatnya tak bermakna. Justru ini berpotensial memberikan kesan yang salah atas Islam dan paham Syi'ah, serta juga mengelirukan pemahaman atas keberanian Imam Husain dalam benak orang-orang yang

P: 155

merenungkannya. Sejatinya, sudah menjadi kewajiban para ulama untuk meneladankan perilaku duka cita yang benar dan rasional.

Imam Husain adalah lampu petunjuk dan bahtera wahyu. Pertama, ia adalah lampu penerang, ia membawa cahaya dan kesadaran. Oleh karena itu, kita harus mengambil manfaat dari cahaya penerang ini hingga kita benar-benar selamat dari kegelapan. Kedua, ia adalah bahtera wahyu. Agar kita bisa mencapai tepi pantai tujuan dan selamat dari segala ombak besar di samudera kehidupan, kita perlu berlindung dalam bahtera ini. Lantaran dialah penerang, dengan demikian dia memberikan cahaya dan kesadaran.

Dan, lantaran ia adalah bahtera, ia menyelamatkan kita dan membawa kita ke tujuan. Semua ini adalah tentang pergerakan dan perjalanan, bukan keheningan dan ketidakbergerakan. Oleh karena itu, seorang Husainis adalah seorang yang memahami jalannya dengan penerang Husain dan bergerak dengan bahtera Husain menuju tujuannya. Sebaliknya, seseorang yang hanya menangis untuk Husain dan tidak bergerak sama sekali, sebenarnya berada dalam kondisi mendapat penerangan dari lampu Husain, tetapi terisolasi dari bahteranya.

Oleh karena itu, ada tiga dimensi ketika kita berhadapan langsung dengan pergerakan Imam Husain: intelektif, afektif, dan aktif. Dimensi intelektif adalah pemahaman atas filosofi pergerakannya berikut pemahaman atas pesan-pesannya. Dimensi afektif adalah mengafirmasi relasi terdalam dengan Imam Husain dan mendedikasikan diri pada ajaran dan jalannya. Sementara dimensi aktif adalah demonstrasi atau ekspresi atas pengetahuan dan cinta. Melanjutkan jalannya, berpartisipasi aktif dalam kebangkitan nilai-nilai Islam, reformasi umat Islam, serta menyeru pada kebajikan, dan melarang kemungkaran dalam melawan para agresor, melahirkan kegigihan dalam menegakkan kehormatan dan kemuliaan manusia serta nilai-nilai luhur lainnya, di mana Imam adalah lokus manifestasi yang jelas dari semua nilai-nilai ini.

P: 156

Damai Bersama Husain

Benar, wahai Husain yang mulia, bahwa engkau benar-benar telah menunaikan hak-hak penghambaan dan pembebasan. Dan, engkau telah memenuhi perjanjian yang telah engkau tetapkan sebagai hamba. Layaknya mentari, engkau telah menyinari sejarah manusia dan telah menunjukkan kehormatan di tengah-tengah Bani Adam, dan pada akhirnya engkau telah bertemu dengan Kekasihmu.

Damai bersama bibirmu yang kehausan dan urat darahmu yang terpotong-potong. Damai bersama tubuhmu yang termutilasi dengan ratusan sayatan. Damai bersama kepalamu yang terpotong dan diletakkan di ujuang tombak, lalu diarak sepanjang 40 rumah di Kufah, di depan mata kepala Ahlul Bait yang suci. Damai bersama tubuh anak kecilmu, Ali Akbar, yang bermandikan darah. Damai bersama tenggorokan anakmu yang berusia 6 bulan, yang tersobek busur panah. Damai bersama tubuh- tubuh para kekasihmu dan para sahabatmu yang diserbu dengan kuda- kuda musuh, dan ditinggalkan begitu saja di tengah terik matahari Karbala yang membara tanpa dimandikan dan tanpa dikafani. Damai bersama anak-anakmu yang tak bersalah, yang dirantai, dianiaya oleh tentara- tentara Yazid dan diseret dengan kaki telanjang di atas duri-duri padang pasir, sepanjang Kufah hingga Damaskus, dan mereka diarak di jalan-jalan dan di pasar-pasar Kufah di depan semua ... damai bersama satu-satunya kenanganmu, Zainal Abidin, yang dirantai sepanjang kepala sampai kaki.

Tubuhnya yang halus dan lelah dianiaya. Dan, dengan tubuhnya yang kesakitan dan hatinya yang hancur, ia mempresentasikan pidato bersejarah di pengadilan Yazid, hingga membuat Yazid dan pengikutnya gemetar.

Serta damai bersama saudarinya yang elok, Zainab, simbol kesabaran dan ikon keteguhan hati. Ia yang bukan hanya tidak melarikan diri dari semua ini, tetapi bahkan berdiri tegar seperti gunung yang kokoh di tengah panasnya bencana, dan dalam menghadapi duka cita atas kesyahidan saudara-saudara, anak-anak, dan banyak dari orang-orang terkasihnya, serta sakitnya kondisi terpenjara dan beratnya tanggung jawab atas anak-

P: 157

anak, yatim Imam Husain. Dengan cahaya suci, ia menyebarkan pesan Karbala kepada kemanusiaan. Ia memberikan arti menjadi perempuan dan ia menjadi teladan abadi atas semua sosok lelaki dan perempuan. Ya, salam kedamaian dari Tuhan, para malaikat, dan sosok-sosok suci serta salih di dunia, terhadap Zainab yang teraniaya dan tersiksa. Dan, damai bersama mereka yang memenuhi janji mereka denganmu dan bersama mereka yang berada di jalan tempatmu membimbing mereka.

Bagaimana mungkin alam surgawi (celestial sphere) bisa dikelola Ketika darah dari tenggorokanmu diambil di Karbala. []

P: 158

REVOLUSI AL-HUSAIN: SEBUAH KENISCAYAAN SEJARAH UNTUK KEMANUSIAAN

Husain HERIYANTO

The reason behind Imam Husayn sacrifice in Karbala, in any mean, cannot escape from its humanistic perspective to view it as a movement (harakah) to revive human conscience. As the prophet awarded by the duty to actualize gifted potentiality of human and enlighten hidden divine characters of human existence, Imam Husayn's feat satisfied the same mission in the frame of his destiny. In the other word, the revolution itself is a historical necessity in term of exercising his duty of religious morality and immamah.

Historical necessity occurs in the world of human, exemplified by human actions in responding certain condition within specific context aiming at a precise purpose. These actions essentially require consciousness and freedom of man. In this respect, Imam Husayn martyrdom stands for manifesting spiritual values into immanent experiences as historical deeds. It signifies a key characteristic of spirituality in Islam illustrating how both transcendence and immanence collide each other within true Sufism.

Sebuah pertanyaan abadi yang dilontarkan oleh sejumlah sejarawan dan pemerhati sejarah Islam sejak dulu hingga sekarang adalah: “Mengapa Imam Husain a.s. harus melakukan sebuah revolusi dengan kekuatan yang

P: 159

amat minim dan tak berimbang, membawa serta tujuh puluhan orang dari keluarga dan para sahabat untuk melawan 30.000 pasukan Yazid, sehingga berakhir dengan tragedi Karbala yang sulit dilukiskan dengan kata-kata?" Sejumlah pertanyaan lain yang menggayuti pikiran sejumlah orang adalah: apakah tujuan pokok gerakan perlawanan Imam Husain a.s. (al- Husain) yang sesungguhnya sedemikian sehingga beliau berketetapan hati mengambil keputusan untuk menapaki jalan kesulitan dan penderitaan yang tidak ada taranya dalam sejarah manusia? Apakah al-Husain terdorong semata oleh penolakannya untuk berbaiat yang dipaksakan oleh Yazid atau apakah beliau melakukan revolusi ini sebagai respons terhadap undangan yang disampaikan oleh 100 ribu orang Kufah (Irak) untuk mendongkel kekuasaan tiran Yazid? Apakah al-Husain telah mengetahui takdirnya yang mengenaskan di padang Karbala? Jika mengetahuinya, sebagaimana beliau nyatakan berulang kali sejak di Madinah dan Makkah dan juga sebelumnya dituturkan oleh kakeknya Nabi Muhammad Saww dan ayahnya Imam Ali bin Abi Thalib a.s., kenapa beliau tetap teguh keluar meninggalkan Madinah dan Makkah menuju Kufah? Apakah keadaan seperti itu sesuai dengan prinsip dan syarat-syarat pelaksanaan amar ma'ruf nahi munkar?(1) Paper ini membatasi diri pada ulasan untuk menjawab pertanyaan mendasar dalam paragraf pertama di muka. Meskipun demikian, karena persoalan ini bersinggungan dengan pertanyaan-pertanyaan sesudahnya (paragraf kedua), maka paper ini juga akan membahas dan mengklarifikasi masalah-masalah itu. Melalui telaah analisis-sintesis sejumlah literatur yang disertai dengan upaya interpretasi penulis yang faqir, paper ini berusaha menguak salah satu makna kisah syahadah abadi ini dari perspektif kemanusiaan, yaitu revolusi Imam Husain a.s. sebagai gerakan penyadaran dan kebangkitan hati nurani manusia.

Murtadha Muthahhari menulis, “Para Nabi berusaha membangkitkan kecakapan-kecakapan alami manusia dan mencerahkan karakter gaib yang tersembunyi pada eksistensi manusia."(2) Apakah gerakan al-Husain

P: 160


1- 1. Imam Muhammad Shirazi, Husayn: The Sacrifice for Mankind (translation by Z. Olyabek), (London: Fountain Books, 2003), h. 13-14
2- 2. Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Berkeley: Mizan Press, 1985), h. 151.

tergolong ke dalam apa yang diemban oleh para Nabi itu? Dan apakah hal itu merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang mesti dipikul oleh putra tāj al-'ārifin (Imam 'Ali) ini?

Makna Keniscayaan

Kata "harus" dalam kalimat pertanyaan di muka itu mempunyai dua makna: [1] “pemaksaan diri” dan [2] “keniscayaan”. Dengan sederhana dapat dijelaskan di sini bahwa pengertian “pemaksaan diri" di sini adalah sebuah keinginan dan hasrat individual (al-Husain) sebagai sebuah respon reaktif dan emosional terhadap situasi sejarah saat itu. Sedangkan istilah “keniscayaan" yang dimaksud adalah keniscayaan sejarah, yaitu sebuah tindakan aktif al-Husain sebagai kewajiban dan tanggung jawab moral keagamaan (termasuk wilayah teologis dan imamah) yang tidak bisa tidak mesti diemban ketika itu.

Pengertian "pemaksaan diri” itu sendiri bisa beragam, setidaknya ada dua pengertian umum yang telah diterapkan oleh sebagian orang.

Pengertian pertama adalah tindakan yang didorong oleh hasrat berkuasa dan kepentingan individu atau kelompok tertentu. Ibn Qayyim al-Jauzi(1) dan Ibn Taimiyyah(2) adalah mereka yang termasuk memiliki pandangan bahwa Imam Husain a.s melakukan perlawanan yang didorong kehendak berkuasa menentang penguasa Yazid. Kedua tokoh salafiyah ini bahkan mengkategorikan gerakan al-Husain sebagai tindakan makar karena menentang pemimpin kaum Muslimin yang mereka anggap sah (legal). Fakta bahwa naiknya Yazid ke singgana kekuasaan melalui tipu daya, intimidasi, teror, dan pembunuhan (seperti yang terjadi di Syam, Irak, Madinah dan Makkah) terhadap siapa saja yang menentang keinginan Muawiyah mewariskan kekuasaan kepada anaknya itu, tidak diperhitungkan atau sengaja diabaikan oleh al-Jauzi dan Ibn Taimiyyah.

Pengertian kedua dari term "pemaksaan diri" adalah seperti yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun.(3) Sejarawan ini menggarisbawahi sahnya perlawanan Imam Husain a.s. karena kefasikan Yazid yang terang-terangan

P: 161


1- 3. Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abu Bakr, lebih dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jawziyyah (1292-1350), adalah murid dan pengikut Ibn Taimiyyah.
2- 4. Ibn Taimiyyah (1263-1328) adalah seorang tokoh pendiri Salafi yang hanya memaknai teks-teks keagamaan secara lahiriah (skripturalistik) dengan menolak penggunaan akal serta studi logika, filsafat dan tasawuf.
3- 5. Ibn Khaldun (1332-1406) adalah seorang sejarawan dan sosiolog Muslim awal; dikenal dengan karyanya al-Muqaddimah.

seperti suka minum arak, mudah membunuh orang yang tak disukainya, sengaja membiarkan pasukan Muslimin mati bergelimpangan karena serangan cacar, meninggalkan salat, main perempuan, dan gemar berpesta pora. Namun, menurut Ibn Khaldun, al-Husain melupakan kekuatannya (militer) yang lemah dan jauh tak berimbang dibanding kekuatan pasukan Yazid. Di sini terkesan bahwa al-Husain memaksakan diri dalam mengobarkan perlawanan yang dilakukan secara reaktif, emosional tanpa pertimbangan.

Adapun makna istilah “keniscayaan” merujuk kepada pengertian yang identik dengan “keharusan esensial”. Maksudnya adalah sebuah bentuk keharusan yang bersifat intrinsik dalam proposisi (representasi realitas), fakta, dan tindakan. Ini berbeda dengan "keharusan aksidental" yang bersifat eksternal dan instrumental. Jika seseorang mengatakan, "Saya harus minum air sekarang", maka kata 'harus' dalam proposisi ini bersifat aksidental karena tindakan minum itu bisa ditunda atau mungkin dibatalkan saat itu. Namun proposisi “Manusia harus minum air untuk kelangsungan hidupnya" memuat makna 'keharusan esensial karena air merupakan salah satu kebutuhan esensial tubuh manusia.

Nah, merujuk penjelasan singkat di muka, dalam pandangan Ibn Khaldun, yang mengakui kesahihan gerakan al-Husain secara agama tapi menyebutnya sebagai hal yang keliru dalam perhitungan militer, revolusi al-Husain tergolong ke dalam "keharusan aksidental". Sebaliknya, bagi tokoh seperti 'Abbas Mahmud al-'Aqqad(1), yang melihat motivasi dan tujuan revolusi yang sepenuhnya berwatak keimanan dan moral, revolusi al-Husain tergolong sebagai “keharusan esensial." Pengertian keharusan esensial itulah yang disebut sebagai kemestian atau keniscayaan. Dilihat dari referensi realitas yang diacu, terdapat tiga jenis keniscayaan, yaitu: [1] Keniscayaan filosofis, [2] Keniscayaan alamiah, dan [3] Keniscayaan sejarah.

P: 162


1- 6. 'Abbas Mahmud al-'Aggad (1889-1964) adalah salah seorang tokoh intelektual Mesir dalam pencerahan pemikiran Islam abad ke-20. Dia menulis Al-Husayn Abu al-Syuhada' (Beirut:Dār al-Kitāb al-Libnānī, 1974).

Keniscayaan Sejarah

Keniscayaan filosofis adalah modalitas yang bersifat pasti dan mutlak antara subyek dan predikat sebuah proposisi yang merepresentasikan realitas.

Proposisi "Segala kejadian membutuhkan sebab" merepresentasikan hubungan yang niscaya antara sebab dan peristiwa. Keniscayaan filosofis ini adalah sesuatu yang mesti dan tidak bisa ditolak. Sekalipun ada sejumlah orang yang mengingkarinya, namun hal itu hanya terjadi dalam alam pikiran dan proposisi, tidak dalam realitas obyektif.

Keniscayaan alamiah merujuk kepada hubungan intrinsik di dunia alamiah. Meski tidaklah bersifat absolut sebagaimana dalam keniscayaan filosofis, sejauh batas-batas pengetahuan empiris fakta-fakta alamiah juga bisa memiliki modalitas keniscayaan. Misalnya hubungan antara “hewan" dan "berkembang biak”; adalah sebuah keniscayaan bahwa hewan itu makhluk yang berkembang biak. Sama halnya dengan proposisi “Air bisa mendidih"; ini juga sebuah keniscayaan karena salah satu sifat esensial zat cair adalah kemampuan mendidih. Keniscayaan alamiah itu bersifat faktual dan tidak melibatkan kehendak bebas manusia.

Keniscayaan sejarah adalah sejenis keniscayaan yang unik.

Keniscayaan ini hanya terjadi pada dunia manusia. Melalui akal pikiran, kesadaran, dan kehendak bebasnya, manusia berkemampuan melakukan tindakan-tindakan yang merespons keadaan tertentu dalam konteks sejarah tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, berbeda dengan keniscayan filosofis yang bersifat reflektif dan representatif, keniscayaan historis bersifat performatif dan presensial (penyingkapan). Ia hadir dalam pentas sejarah tindakan-tindakan manusia yang melintasi ruang dan lorong waktu tertentu. Demikian pula halnya, berbeda sepenuhnya dengan keniscayaan alamiah, tindakan-tindakan yang tergolong keniscayaan sejarah mensyaratkan hadirnya kesadaran dan kehendak bebas.

Keunikan lain keniscayaan sejarah adalah bahwa sekalipun ia awalnya bersifat performatif dan presensial yang hanya mungkin dipahami dalam ruang dan waktu tertentu (dan karenanya menyejarah), ia bisa direfleksikan

P: 163

melampaui konteks di mana dan kapan ia terjadi. Itu sebabnya kenapa peristiwa-peristiwa sejarah bisa menjadi sumber rujukan dan pelajaran bagi manusia sepanjang masa ketika peristiwa-peristiwa itu diabstraksikan (dipisahkan, diangkat) dari konteks ruang dan waktu peristiwa-peistiwa itu muncul. Reinhold Niebuhr (The Nature and Destiny of Man, 1945) menulis, “Kemampuan manusia untuk mentransendensikan pusaran alam memberinya kapasitas untuk membuat sejarah” (Man's ability to transcend the flux of nature gives him the capacity to make history).7 Yang dimaksud dengan pusaran alam' di sini adalah batasan spasio-temporal (ruang dan waktu tertentu).

Tabel 1 berikut mencoba membandingkan ketiga jenis keniscayaan yang diulas secara ringkas di muka:

.Dalam konteks pembahasan keniscayaan inilah, banyak sejarawan, pemikir dan sarjana umumnya entah beragama Islam, Kristen atau Hindu yang menyebut gerakan revolusioner Imam Husain a.s. sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Filsuf Muhammad Iqbal(1) yang menyebut Imam Husain a.s. sebagai penghulu para pencinta Allah menyatakan bahwa tindakan al-Husain yang menawarkan pilihan bebas bagi sahabat-sahabat dan keluarganya telah menunaikan tugas yang sama dengan Nabi Ibrahim a.s. dalam mengorbankan anaknya Nabi Ismail a.s. sebagai bentuk ketaatan total kepada Allah, Sumber segala kebajikan. Sementara Annemarie Schimmel, sarjana Jerman yang menekuni studi Islam puluhan tahun dan menerbitkan sejumlah karya yang menjadi rujukan internasional tentang pelbagai dimensi ajaran Islam, mengungkapkan bahwa Imam Husain a.s.

P: 164


1- 8. Syair Iqbal: Gharib-o-sada-o-rangi'n bay dastan-e-Haram; Nibiyat iski Husayn ibtida bay Ismail, dalam Allamah Thabathabaci et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

adalah model sufi yang menapaki tarekat cinta melalui pengorbanan dan penderitaan.(1) Sarjana Hindu Daniel Rudman(2), setelah melakukan penelitian bertahun-tahun, tiba pada kesimpulan bahwa salah satu makna esensial dari syahadah Imam Husain a.s. adalah termanifestasikannya nilai-nilai spiritual ke dalam pengalaman imanen (tindakan historis); dan ini adalah salah satu karakter kunci spiritualitas Islam (tasawuf yang sejati) di mana dimensi transendental dan imanensi menyatu berjalin kelindan. Syahādah cucu Nabi al-Musthafa Saww. bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya di Padang Karbala memanifestasikan integrasi kecakapan reflektif (pemikiran) dan daya performatif (tindakan), dimensi transendensi dan imanensi, visi keabadian dan aksi temporalitas, universalitas dan partikularitas nilai-nilai moral dan spiritualitas Islam.

Sementara itu, Antonie Bara, sarjana Kristen asal Suriah yang menghabiskan waktu lima tahun khusus untuk meneliti literatur-literatur tentang kehidupan dan perjuangan Imam Husain a.s., berkesimpulan bahwa jika revolusi al-Husain tidak terjadi, maka Islam tinggal sisi lahiriahnya saja tanpa akidah dan keimanan yang hidup di dada setiap Muslim. Menurutnya, "..kondisi sosial umat Islam pada waktu itu mengharuskan (meniscayakan) adanya pengorbanan luar biasa yang mendekati kebinasaan kolektif."(3) Dengan demikian, sebagian sarjana menggolongkan gerakan perlawanan Imam Husain a.s. sebagai sebuah tindakan yang salah, berlebihan, pemaksaan diri atau minimal tidak esensial (Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim al-Jauzi, Ibn Khaldun); dan sebagian lainnya mengkarakterisasi revolusi al-Husain sebagai hal yang niscaya secara esensial, sebagai sebuah keniscayaan sejarah guna menjaga prinsip-prinsip keimanan, moral dan syariah Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saww. (Muhammad Iqbal, Annemarie Schimmel, Antonie Bara, Daniel Rudman, dan tentu saja mayoritas sarjana-ulama Islam).

P: 165


1- 9. Annemarie Schimmel, Karbala and the Imam Husayn in Persian and Indo-Muslim Literature, A1- Serat, Vol. XII (Cambridge: Harvard University Press, 1986).
2- 10. Daniel Rudman, Mysticism and Imam Husayn, dalam Allamah Thathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).
3- 11. Antonie Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas (Jakarta: Citra, 2007), 1. 84.

Sekarang marilah kita coba jawab pertanyaan di muka dengan menganalisis pelbagai peristiwa dan pernyataan-pernyataan Imam Husain a.s. yang menggema di Madinah, Mekkah dan selama perjalanan ke Kufah hingga detik akhir syahadah beliau di Padang Karbala. Para peneliti dan sarjana sebetulnya tidak perlu terlalu sulit menafsirkan peristiwa demi peristiwa yang terkait dengan kisah tragedi Karbala. Karena, pernyataan- pernyataan Imam Husain a.s. sudah sangat gamblang dalam menjelaskan dasar, tujuan, metode dan karakter gerakan beliau. Kita hanya cukup mensistematisasi dan memahami makna-maknanya secara utuh dan mendalam seraya menimbang kondisi sosial politik, mentalitas, moralitas dan religiusitas umat Islam pada saat itu.

Universalitas Dan Rasionalitas Tindakan

Niebuhr -1945- menekankan bahwa kapasitas manusia untuk keluar dari batasan spasio-temporal sejarah mensyaratkan universalitas dan rasionalitas tujuan sebuah tindakan yang kita gores dalam perjalanan sejarah. Karena itu, mari kita analisis karakter dasar dan tujuan pokok gerakan revolusi Imam Husain a.s..

Ketika gubernur Madinah, al-Walid bin Utbah, atas perintah Yazid, meminta baiat dari Imam Husain a.s, putra Sayyidah Fathimah a.s. ini berkata:

"Wahai gubernur! Kami adalah penghuni rumah kenabian, sumber risalah dan tempat persinggahan para malaikat. Dengan kami, Allah membuka dan dengan kami pula Dia menutup. Yazid adalah orang fasik, durhaka, peminum arak, pembunuh jiwa yang suci, dan pelaku kefasikan secara terang-terangan. Orang sepertiku tidak akan berbaiat kepada orang seperti dia (mitslī lā yubāyi'u mitslahu)....(1) Kalimat terakhir yang diutarakan oleh Imam Husain a.s. memiliki makna mendalam, simbolik, dan bisa menggambarkan karakter perlawanan beliau kepada Yazid. Al-Husain berkata,

P: 166


1- 12. Abu Muhammad Zaynul Abidin, An Everlasting Instruction: Imam al-Husayn's Journey to Makka, dalam Allamah Thathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

"Orang sepertiku tidak akan berbaiat kepada orang seperti dia” (mitsli la yubāyi'u mitslahu).

Dalam proposisi ini, al-Husain menggunakan istilah 'mitsli' (orang seperti aku) dan ‘mitslahu' (orang seperti dia). Beliau tidak menggunakan term-term singular atau kata ganti perseorangan 'saya' dan 'dia' seperti dalam kalimat “Saya (al-Husain) tidak akan berbaiat kepada dia (Yazid)”.

Tidak. Beliau justru menggunakan term-term universal yang bisa berlaku untuk siapa saja dengan karakter tertentu, yaitu ‘mitsli (orang yang berkarakter seperti aku) dan ‘mitslahu (orang yang berkarakter seperti dia).

Untuk mengungkap makna simbolik term ‘mitsli' dan 'mitslahu', kita perlu menengok akar katanya, yaitu berasal dari term dasar ‘mitsl, yang berarti serupa, sama dengan, eksemplar (contoh). Istilah ini juga memiliki kata turunan 'mitsal dan 'amtsal yang berarti pola, model, standar, representasi, tipikal; juga bisa berarti simbol, perumpamaan. Dengan menganalisis penggunaan istilah ini berikut turunannya kita bisa sampai pada pemahaman bahwa pengertian term ‘mistli' dan 'mitslahu' yang digunakan oleh Imam Husain a.s. terkait dengan makna tipologi, model, atau representasi.

Dengan demikian, kalimat al-Husain mitsli la yubāyi'u mitslahu merupakan proposisi universal. Kalimat itu adalah:

"Setiap manusia yang berkarakter seperti aku tidak akan berbaiat kepada setiap manusia yang berkarakter seperti dia” Dalam bentuk kategoris, proposisi ini menjadi:

"Semua manusia yang berkarakter seperti aku (al-Husain) bukanlah orang yang berbaiat kepada manusia yang berkarakter seperti dia (Yazid)” Dalam terminologi ilmu logika, kalimat ini adalah proposisi universal negatif (sālibah kulliyyah), yaitu penafian total adanya hubungan dua kelas (yang masing-masing diwakili oleh term subyek dan term predikat).

P: 167

Oleh karena itu, proposisi ini disebut juga proposisi yang bersifat complete exclusion (pemisahan total). Dengan menggunakan diagram Venn, proposisi itu bisa digambarkan dalam Bagan 1 berikut:

S = semua manusia yang berkarakter seperti al-Husain P= semua orang yang berbaiat kepada manusia yang berkarakter seperti Yazid Bagan 1. Relasi complete exclusion' antara karakter al-Husain dan Yazid Sesuai dengan hukum logis akal kita, proposisi universal negatif tersebut bisa dengan mudah dibalik (konversi) tanpa mengubah kuantitas dan kualitasnya sama sekali. Konversi proposisi tersebut adalah:

"Semua orang yang berbaiat kepada manusia yang berkarakter seperti Yazid bukanlah manusia yang berkarakter seperti al-Husain" Ulasan di muka memerikan bahwa gerakan yang dibangun oleh Imam Husain a.s. bersifat universal dan rasional, bukan personal dan emosional-reaksioner. Penggunan kata “mitsli" (umat manusia sepertiku) alih-alih "and" (aku) jelas sekali merupakan sebuah pesan yang hendak disampaikan oleh al-Husain bahwa perlawanan Karbala merupakan tanggung jawab moral-keagamaan yang bersifat umum dalam konteks ruang-waktu yang beliau arungi dan mesti beliau emban dengan segenap penuh resiko. Dengan mengasaskan gerakannya melalui pernyataan, "Siapa saja manusia yang berkarakter seperti aku tidak akan berbaiat kepada siapa pun yang berperilaku fasik seperti yang dimodelkan oleh Yazid”, al-Husain hendak menyatakan bahwa pertarungan ini didasarkan atas prinsip-prinsip universal dan rasional.

P: 168

Berkarakter universal artinya bahwa asas dan tujuan tindakan revolusioner ini berwatak umum dan untuk kepentingan umat Islam atau umat manusia pada umumnya, yang karenanya, bisa menjadi sumber inspirasi gerakan moral-keimanan-kemanusiaan di mana, kapan, dan oleh siapa saja, sesuai dengan semboyan “Kullu yaumin "Asyūrā wa kullu ardhin Karbala” (Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala).

Syahid Murtadha Muthahhari menulis, “Pesan-pesan Imam Husain tidaklah terbatas untuk kelompok tertentu secara eksklusif. Pesan-pesan beliau tertuju kepada seluruh umat manusia."(1) Revolusi dan syahadah al- Husain di Karbala telah menginspirasi gerakan dan perjuangan penegakan keadilan dan kemuliaan manusia melintasi batas-batas wilayah dan zaman bahkan agama dan ideologi. Tokoh kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, menyatakan bahwa dia mengambil pelajaran dari perlawanan al-Husain dalam menentang penindasan secara bermartabat dan meraih kemenangan moral-spiritual yang abadi. (2) Penyair ternama asal Lebanon, Khalil Gibran, menulis, “Al-Husain adalah cahaya yang menyinari semua agama."Sementara itu, seorang sarjana Kristen asal Suriah, Antoane Bara, menyatakan, “Imam Husain milik seluruh dunia. Dia adalah hati nurani agama-agama.(3) Penyair Lebanon kontemporer, George Shakoor, yang beragama Kristen Ortodoks, tidak segan-segan menggunakan pertemuan- pertemuan internasional membacakan puisi persembahan dan pembelaan bagi Imam Husain.(4) Revolusi al-Husain juga bersifat rasional dalam pengertian bahwa karakter tindakan revolusi tersebut didasarkan pada pertimbangan visioner akal budi jauh ke depan, ketangguhan komitmen, ketabahan jiwa, dan ketulusan hati nurani. Oleha karena itu, ia bersifat terbuka untuk dipelajari dan diteliti oleh siapa saja, yang pada gilirannya, memberikan pelajaran dan contoh bagaimana prinsip-prinsip amar ma'ruf nahi munkar mestinya dilakukan dalam kondisi yang sangat genting sedemikian sehingga memerlukan pengorbanan seluruh level eksistensi seperti pada gerakan Asyura. Mungkin tidak ada sebuah gerakan perlawanan yang telah

P: 169


1- 13. Syahid Murtadha Muthahhari, The Truth about Hussain's Revolt: Husain - The Universalist, dalam Allamah Thabathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).
2- 14. Mahatma Gandhi, "I learnt from Husayn how to be wronged and be a winner", dalam Allamah Thabathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008). Dikisahkan bahwa ketika Gandhi memulai perlawanan historisnya terhadap kolonialis Inggris, dia membawa serta 72 orang sebagai sebuah simbol untuk meniru epos revolusi al-Husain.
3- 15. Antonie Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas (Jakarta: Citra, 2007), h. 358-359.
4- 16. Diantaranya, dalam Kongres Pertama Penyair Iran dan Dunia (The First Congress of Iranian and World's Poets) pada April 2010, Shakoor membacakan puisi untuk Imam Husain. Baca esai Jamal D. Rahman, "Menikmati Puisi di Taman Penyair" (www.wordpress.jamalrahman).

menghasilkan ribuan buku, puisi, esai, dan analisis dalam berbagai bahasa sepanjang zaman, sebagaimana yang terjadi pada revolusi Karbala. Tidak ada revolusi moral-spiritual sekaligus sosial-politik yang mendorong para sarjana sejak dulu hingga sekarang untuk melakukan penelitian dan pengkajian mendalam seperti halnya terhadap revolusi al-Husain.

Sejarawan Inggris, Edward Gibbon menulis, “Meskipun dipisahkan oleh rentang waktu yang sangat jauh dan situasi yang berbeda, epos tragis kematian Husain akan membangkitkan simpati dari pembaca yang hatinya paling dingin sekalipun."(1) Dengan demikian, semakin terungkap bahwa revolusi al-Husain bukanlah sebuah gerakan emosional yang merespons sejarah secara spontan dan reaksioner tanpa visi dan pertimbangan, dan bukan pula tindakan untuk kepentingan partikular dan sesaat yang ditelan oleh waktu.

Sebaliknya, revolusi ini ditegakkan atas dasar prinsip-prinsip nalar yang bening ('agliyyah), visioner, kearifan, tanggung jawab moral, keteguhan kehendak, dan teks suci agama (naqliyyah) yang dijalankan dengan kesempurnaan komitmen hati nurani. Dalam bahasa seorang filsuf sosial- budaya, Hannah Arendt, revolusi al-Husain tergolong sebagai tindakan (action), sebuah kategori perbuatan manusia yang tertinggi.(2) Mari kita lanjutkan analisis pernyataan al-Husain di muka.

Abu Muhammad Zaynul Abidin(3) menambahkan bahwa kata la yubāyi'u (tidak akan berbaiat) bisa merupakan sebuah narasi realitas dan juga suatu informasi tentang tindakan. Oleh karena itu, proposisi mitsli la yubāyi'u mitslahu itu hendak mengatakan dua hal, yaitu:

1. Al-Husain tidak akan pernah berbaiat kepada Yazid (narasi realitas) 2. Al-Husain tidak akan berbaiat kepada Yazid (informasi tindakan) Proposisi pertama menyampaikan kemustahilan pemberian baiat, bahwa tidak akan pernah terjadi orang yang berkarakter al-Husain memberi baiat kepada orang yang berkarakter Yazid. Modalitas proposisi ini adalah keniscayaan filsofis yang dideduksi dari prinsip kemustahilan

P: 170


1- 17. Edward Gibbon, The Decline and Fall of the Roman Empire-Volume 5 (London, 1911), h. 391-392.
2- 18. Hannah Arendt membagi membagi tiga kegiatan dasariah manusia, yaitu kerja (labour), karya (work), dan tindakan/aksi (action). Kerja merupakan tuntutan agar manusia bisa hidup; dan karena itu manusia disebut sebagai animal labour. Perbuatan-perbuatan yang bersifat rekasioner tergolong kerja. Karya merupakan kegiatan penguasaan manusia terhadap alam, menciptakan obyek yang berguna agar dunia pantas bagi habitat manusia seperti peralatan teknologi; dan untuk itu manusia disebut sebagai bomo faber. Sedangkan tindakan (aksi) merupakan kegiatan pengungkapan kebebasan dirinya sebagai manusia dengan segenap nilai-nilai kemanusiaannya. Bertindak berarti menciptakan yang baru, mengambil inisiatif, menggerakkan, memulai. Manusia aksi adalah manusia subyek yang bertanggung jawab. Tindakan aksi merupakan aktualisasi nilai-nilai moral dan kemanusiaan seperti, kesucian, keberanian, kemuliaan, tanggung jawab, keagungan, keindahan. Untuk itu manusia disebut sebagai homo politikos, homo religius. Baca Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1998).
3- 19. Ibid. Abu Muhammad Zaynul Abidin 2008..

bertemunya dua hal yang kontradiktif (prinsip non-kontradiksi). Kata la yang berarti 'tidak pernah' dalam proposisi ini identik dengan pengertian yang terdapat pada proposisi “Kebenaran tidak pernah bertemu dengan kebatilan".

Sedangkan proposisi kedua menegaskan sikap performatif yang akan dilakukan oleh al-Husain, yang memanifestasikan prinsip non-kontradiksi dalam tindakan sejarah; dan karenanya, proposisi kedua ini menyingkap keniscayaan sejarah. Kata la yang berarti 'tidak akan' dalam konteks ini mengacu kepada komitmen untuk menjalankan prinsip kebenaran teoritis dalam dunia konkrit. Komitmen ini mentransformasikan prinsip universal yang teoritis-filosofis menjadi prinsip partikular yang praksis-historis.

Dengan kata lain, penolakan pemberian baiat kepada Yazid adalah sebuah keniscayaan ganda (yaitu, keniscayaan filosofis dan sejarah) karena kedua proposisi itu baik reflektif-informatif maupun performatif- eksistensial menafikan kemungkinan bertemunya dua karakter itu, baik secara teoritis maupun praktis, pada duo-level visi dan aksi, dan dwi- dimensi universal dan partikular. Keniscayaan filosofis-teoritis terintegrasi dengan keniscayaan historis-praksis dan itulah bentuk kesempurnaan sebuah keputusan dan tindakan. Namun, mengingat gerakan ini digores dalam sejarah, maka momen yang unik dan krusial yang mengkarakterisasi tindakan revolusioner ini lebih dipandang sebagai sebuah keniscayaan sejarah.

Karena Imam Husain a.s. dan Yazid adalah pelaku yang hadir dalam pentas sejarah dengan karakter yang berbeda secara total dan eksistensial, maka kita bisa menyusun dua proposisi sebagai berikut:

1. Al-Husain adalah manifestasi kebenaran 2. Yazid adalah manifestasi kebatilan Jika dua proposisi itu digabung dengan dua proposisi berikut:

1. Suatu manifestasi kebenaran tidak dapat menyatu dengan manifestasi kebatilan

P: 171

2. Pemberian baiat adalah sebuah penyerahan jiwa, penyatuan karakter maka kita bisa menyusun sebuah silogisme yang terdiri dari empat premis dan satu kesimpulan sebagaimana berikut:

Premis 1 : Al-Husain adalah manifestasi kebenaran Premis 2 : Yazid adalah manifestasi kebatilan Premis 3 : Manifestasi kebenaran tidak dapat menyatu dengan manifestasi kebatilan (aplikasi prinsip non-kontradiksi dalam tindakan) Premis 4 : Pemberian baiat merupakan bentuk penyerahan jiwa dan penyatuan Kesimpulan: Al-Husain tidak akan memberikan baiat kepada Yazid Tampak kian jelas bahwa gerakan perlawanan Imam Husain berwatak universal dan rasional. Keputusan dan tindakan al-Husain yang menentang Yazid merupakan sebuah tindakan yang berasal dari refleksi deduktif yang menurunkan prinsip-prinsip kebenaran dalan situasi sejarah tertentu, sesuai dengan prinsip non-kontradiksi bahwa kebenaran dan kebatilan tidak akan pernah bertemu. Dan prinsip inilah yang hendak dimanifestasikan oleh Imam Husain dalam pusaran sejarah yang beliau lalui.

Dalam hal ini, sangat menarik jika kita membaca ayat suci al-Quran berikut yang menggunakan term mitsl dalam menggambarkan perbedaan antara peristiwa sejarah yang langgeng dan peristiwa yang punah dengan mendenotasikannya sebagai hal yang benar dan hal yang palsu:

"Allah telah menurunkan air dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari logam yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih air itu (mitsluhu). Demkianlah Allah membuat perumpamaan bagi kebenaran dan kebatilan. Adapun buih itu, ia akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka

P: 172

ia akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan- perumpamaan (al-amtsāl),” (QS Ar-Ra'd: 17).

Teks dan Konteks: Prinsip Universalitas dan Partikularitas

Jika ulasan di muka mendedah karakter dasar prinsip-prinsip umum yang melambari tindakan al-Husain untuk bangkit melakukan sebuah revolusi moral-sosial-spiritual, maka perlu bagi kita sekarang untuk mengungkap kondisi-kondisi historis yang bersifat partikular. Pembentangan situasi sejarah saat itu diperlukan untuk lebih bisa menyelami latar belakang dan konteks sejarah mengapa al-Husain secara niscaya melakukan revolusi Karbala. Bergabungnya komitmen terhadap prinsip-prinsip kebenaran umum dengan kondisi-kondisi khusus yang mesti dihadapi secara tak terelakkan telah mendorong al-Husain untuk membuat keputusan penyelamatan Islam melalui kisah kepahlawanan yang tragis, dan karenanya menjadi sangat unik dan inspiratif dalam perjalanan sejarah umat manusia.

Faktor pertama yang perlu diperhatikan adalah kondisi psiko- moral-politik umat Islam ketika itu. Sebagaimana diketahui bahwa dalam waktu yang sekejap umat Islam menguasai berbagai daerah yang sangat luas. Wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam ketika itu telah mencapai Byzantium (Ibukota Kerajaan Romawi Timur) di Utara, Persia di Timur, dan Afrika Utara serta seluruh jazirah Arabia. Luasnya wilayah kekuasaan ini secara alamiah mendorong banyak orang untuk berebut kekuasaan, saling sikut dan fitnah, dan bahkan, menjual agama dalam berbagai modus seperti: pembuatan hadis-hadis palsu, penafsiran sewenang-wenang nash- nash agama, pelarangan studi kritis hadis dan agama dengan alasan teologis Jabariyah, pembuatan bid'ah-bid'ah, dan sebagainya. Umat Islam pada umumnya ketika itu seakan-akan berlomba-lomba mencari kesenangan dunia, dan termasuk di dalamnya melalui kekuasaan. Penarikan zakat dan pajak (bagi non-Muslim) yang mencakup wilayah yang amat luas

P: 173

menggiurkan banyak orang untuk mencicipinya melalui pintu-pintu kekuasaan.

Kondisi di muka diperparah oleh hasrat terpendam sebagian orang yang mengaku umat Nabi Muhammad Saww. untuk berkuasa menghegemoni kehidupan orang Arab dan umat Islam umumnya.

Kelompok yang menonjol adalah kaum keturunan Umayyah, seperti; Abu Sufyan, Mu'awiyah, Marwan bin Hakam, Yazid bin Mu'awiyah. Mereka sangat terobsesi untuk menjadi raja atau penguasa orang-orang Arab sebagai bentuk kebanggaan ashabiyah mereka terhadap kabilah Umayyah.

Mereka makin terdorong untuk merealisasi obsesi itu setelah kenyataannya pemimpin umat Islam, yaitu Nabi Muhammad Saww. itu sendiri, berasal dari musuh bebuyutannya, yaitu keturunan Hasyim. Pada masa kekuasaan Mu'awiyah, umat Islam telah mengalami cuci otak selama 20 tahun (40- 60 H) dengan praktek penistaan dan permusuhan kepada Imam 'Ali dan keluarga Nabi Suci berserta pengikut mereka pada umumnya, sedemikian rupa sehingga banyak generasi baru Islam yang tidak mengenal jati diri pewaris dan penjaga misi kenabian tersebut.(1) Demikianlah keadaannya, sangat ironis bahwa Nabi Mulia yang membawa pesan-pesan universal kemanusiaan mengatasi perbedaan suku dan ras, justru ditafsirkan oleh kaum yang terobsesi oleh kekuasaan kesukuan sesuai dengan cara-pandang mereka yang ashabiyah.

Dua kondisi psiko-moral-politik umat Islam itu bekerja secara sinergis. Artinya, kedua kondisi tersebut saling memperkuat, yaitu sekelompok orang yang haus kekuasaan menggunakan kelengahan dan kelemahan moral umat ketika itu untuk mencapai tujuan-tujuan mereka sendiri, dan sebaliknya orang-orang yang mulai tergoda dengan kemewahan materi tidak begitu acuh terhadap perilaku kaum yang memperalat agama untuk meraih kekuasaan. Kondisi seperti ini melahirkan masyarakat yang mengalami disorientasi dalam visi dan misi agama Islam itu sendiri, sedemikian rupa sehingga terjadilah krisis moral dan krisis spiritual yang sangat parah.

P: 174


1- 20. Ibrahim Ayati, 4 Probe Into the History of Ashura (Karachi: Islamic Seminary Publications, 1995), h.4

Ketika itu banyak ditemukan tukang-tukang pembuat hadis-hadis palsu demi setumpuk dinar; suatu perbuatan yang tergolong amat berani dalam memperjualbelikan agama, yang orang kafir pun jika jujur tidak akan bersedia melakukannya. Ketika itu, begitu mudahnya orang mengkafirkan dan membunuh sesama kaum Muslimin hanya karena perbedaan cara berwudlu. Ketika itu, orang-orang yang menggemari kenikmatan duniawi juga telah kehilangan jiwa keberanian dan kehormatan diri hanya karena bujukan dinar atau ancaman pedang Muawiyah dan Yazid. (1) Berikut disebutkan tiga buah contoh guna memperjelas bagaimana kondisi moral dan karakter umat sesungguhnya ketika itu. Ketiga contoh ini berkenaan dengan peristiwa yang dialami kedua cucu Nabi, al-Hasan dan al-Husain, dan Muawiyah yang hidup pada masa-masa kegelapan dalam sejarah Islam itu. Imam Hasan a.s. terbunuh oleh racun yang dibuat oleh istrinya sendiri hasil bujukan Muawiyah, padahal Muawiyah telah menyatakan ikrar perdamaian dengan al-Hasan.(2) Untuk itu, Muawiyah berjanji kepada istri al-Hasan itu akan mengawinkannya dengan anaknya Yazid, suatu janji yang akhirnya dikhianati oleh Muawiyah. Kasus ini menggambarkan betapa praktek pengkhianatan dan ingkar janji begitu mudahnya dilakukan. Dan ironisnya, kebanyakan umat ketika itu tidak begitu peduli dengan praktek-praktek kebangkrutan moral seperti itu.

Peristiwa kedua adalah adanya seorang tokoh kabilah, Malik bin Hubairah al-Sukuni, yang marah dan berkehendak memberontak Mu'awiyah karena telah membunuh pengikut Imam Hasan, yaitu Hujur bin 'Adi dan para pengikutnya. Namun, dia ternyata dengan begitu mudahnya mengurungkan niatnya hanya karena disuap 100.000 dirham yang diberikan Mu'awiyah. Praktek seperti ini tentu saja teramat banyak terjadi. Demikian pula para tokoh umat dan kabilah lainnya yang bungkam karena dinar atau pedang. Ada sebuah puisi untuk menggambarkan mentalitas umat Islam saat itu secara umum:

P: 175


1- 21. Imam Muhammad Shirazi, Husayn: The Sacrifice for Mankind (translation by Z. Olyabek), (London: Fountain Books, 2003), h. 8-9.
2- 22. Ibid. h. 11.

Teriakan Banu Syakam dibungkam dengan dinar-dinar emas Dan nuranimu pun dihancurkan dengan jabatan(1) Dari sebuah contoh ini kita juga bisa menilai kualitas moral umat pada umumnya ketika itu. Telah terjadi moral hazard, yaitu kebangkrutan moral secara sistematis sedemikian rupa sehingga muncul perasaan tidak bersalah para pelaku perbuatan-perbuatan yang melanggar nilai-nilai moral agama dan kemanusiaan, dan masyarakat umumnya juga bersikap permisif, fatalis, dan apatis sejauh tidak mengusik kepentingan duniawi mereka.

Peristiwa ketiga berkaitan dengan pembahasan kita sekarang, yaitu peristiwa Revolusi Asyura. Seperti yang disebutkan dalam sejarah bahwa sebelum tragedi kemanusiaan itu, banyak rakyat Kufah-Irak yang berkirim surat kepada Imam Husain a.s. dengan maksud mengundang beliau menuju Kufah menentang Yazid, dan mereka menyatakan kesetiaannya kepada cucu Nabi itu. Riwayat menyebutkan terdapat 18.000 surat yang masing-masing dibubuhi tanda tangan beberapa orang hingga dua puluh orang, sehingga totalitas orang yang menandatangani pernyataan dukungan kepada al-Husain tidak kurang dari 100.000.(2) Namun, kenyataan sejarah yang kita saksikan banyak dari mereka yang begitu mudah meninggalkan al-Husain ketika rombongan cucu Nabi ini baru saja meninggalkan Mekkah menuju Kufah. Sebagian dari mereka dibujuk dengan harta benda dan kesenangan duniawi.Umar bin Sa'ad, misalnya, yang mengakui kemuliaan Imam Husain a.s. jauh tak terbandingkan dengan Yazid, namun justru menjadi pimpinan pasukan Yazid yang membantai Husein r.a dan para sahabatnya, karena dijanjikan diberi kota Rayy oleh Gubernur Yazid di Irak, Ibn Ziyad.(3) Ada juga rakyat Kufah yang berhasil ditakut-takuti oleh Ibn Ziyad yang memang terkenal penjagal manusia yang berdarah dingin itu.

P: 176


1- 23. Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul BaitNabi-Jilid 3-4(Bandung: Pustaka Hidayah, 1993),h.196.
2- 24. Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait Nabi - Jilid 5-6 (Bandung: Pustaka Hidayah, 1993), 1.56-58.
3- 25. Mahmoud Ayoub, The Marty of Karbala ( London: al-Scrat Journal, Vol. 4, 1978), h. 11.

Ketiga contoh yang diungkapkan di muka menggambarkan betapa dalamnya krisis moral dan spiritual umat Islam ketika itu. Tidak tampak lagi jiwa kepahlawanan Hamzah, jiwa perjuangan Abu Dzar, karakter mulia Salman al-Farisi yang merupakan hasil pendidikan moral dan karakter Islam. Itulah sebabnya para sejarawan seperti Ibrahim Ayati, Ali Hussain Jalali, atau Antoane Bara menyatakan bahwa jika tidak ada peristiwa Revolusi Asyura, karakter moralitas dan spiritualitas Islam yang hakiki sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saww. akan sirna dari sejarah. Yang mungkin tersisa hanyalah nama Islam, tetapi ajarannya telah terdistorsi setelah 50 tahun wafatnya Nabi Suci (11-61 H) dan karena masih sangat muda, maka ajaran Islam dengan mudah terkubur selamanya. Ibrahim Ayati menulis,"..jika Imam Husain tidak mengambil tindakan ini (revolusi Karbala), maka seluruh ajaran dan tradisi Islam akan terhapus dan semua usaha keras yang telah dilakukan Rasulullah Saww.

akan menjadi sia-sia belaka..."(1) Menurut Ayatollah Muhammad Syirazi, Imam Husain telah menyimak perjalanan sejarah ayahnya dan kakaknya bagaimana mereka menghadapi Mu'awiyah. Salah satu fakta sejarah yang dipertimbangkan adalah strategi dan metode yang dilakukan Imam Hasan dalam menghadapi Mu'awiyah, yaitu dengan berperang dan berdamai. Strategi ini berhasil mengungkap watak Mu'awiyah yang sesungguhnya, sehingga umat Islam dapat menyaksikan pengkhianatan dan kemunafikan suami Hindun itu, baik dalam masa perang maupun damai. Sejarah menjadi saksi bahwa dusta, khianat, dan ingkar janji merupakan watak asli Mu'awiyah. Sejarah pun akan mencatat daftar kejahatan, kebengisan, dan kezaliman Mu'awiyah selama dia berkuasa 20 tahun, bahkan semenjak kepemimpinan Imam 'Ali (35 – 40 H). Fakta-fakta ini semua tentu juga menjadi bahan pertimbangan Imam Husain dalam membuat keputusan historis melakukan revolusi Asyura (2) Dengan mengacu kepada konteks sejarah yang diungkap secara singkat di muka, maka tidak ada pilihan lain bagi kita untuk berkesimpulan

P: 177


1- 26. Ibrahim Ayati, A Probe Into the History of Ashura (Karachi: Islamic Seminary Publications, 1995), h. 18
2- 27. Imam Muhammad Shirazi 2003., h. 12.

bahwa revolusi yang digerakkan oleh Imam Husain a.s. adalah sebuah keniscayaan sejarah. Seluruh syarat-syarat niscaya (necessary conditions) berupa perintah-perintah agama (teologis, syariah, moral) dan syarat- syarat mencukupi (sufficient conditions) berupa situasi-situasi sejarah telah dipenuhi untuk melakukan sebuah revolusi. Dengan kata lain, keadaan yang sudah sedemikian parah ketika itu menuntut satu-satunya pilihan modus gerakan untuk mengingatkan umat kepada pesan inti dan abadi agama dan memutar kembali jarum sejarah kepada evolusi kemajuan peradaban manusia; pilihan itu adalah revolusi, revolusi Asyura di Karbala.

Dengan demikian, kita bisa menyaksikan bahwa prinsip-prinsip universalitas dan prinsip-prinsip partikularitas telah hadir dalam Revolusi Asyura. Prinsip universalitas bersandarkan pada teks, dalam hal ini, teks agama seperti al-Qur'an, sabda Nabi Muhammad Saww., sunnah Imam 'Ali a.s., dan prinsip amar ma'ruf nahi munkar. Prinsip partikularitas adalah konteks sejarah kapan dan tempat tindakan hendak digelar. Dalam hal ini, setidaknya terdapat tiga konteks yang perlu disimak, yaitu [1] Konteks sosial politik; [2] Konteks mentalitas; [3] Konteks moral keimanan.

Ketiga konteks ini, secara tak semena-mena, paralel dengan tiga lapisan kebudayaan: material, sosietal dan ideasional. Artinya, seluruh dimensi dan lapisan kebudayaan ditinjau dari budaya-keagamaan-pilar-pilar peradaban umat Islam ketika itu telah rusak dan terancam punah.

Kedua prinsip ini telah sempurna dan paripurna (lengkap) sedemikian sehingga revolusi al-Husain di Karbala memang menjadi satu-satunya pilihan tindakan yang mesti dilakukan demi menjaga prinsip-prinsip ajaran Islam. Syahadah al-Husain bersama keluarga dan para sahabatnya yang terpilih merupakan keniscayaan sejarah untuk menyelamatkan Islam demi keselamatan umat manusia pada umumnya. Dan perjalanan sejarah sesudah Revolusi Karbala hingga hari ini menjustifikasi tesis ini.

P: 178

photo

Bagan 2. Kesempurnaan syarat-syarat niscaya dan memadai sebagai prinsip universalitas dan partikularitas yang mengimplikasikan revolusi Karbala sebagai keniscayaan sejarah.

Catatan:

1 Imam Muhammad Shirazi, Husayn: The Sacrifice for Mankind (translation by Z. Olyabek), (London: Fountain Books, 2003), h. 13-14 Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Berkeley: Mizan Press, 1985), h. 151.

3 Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abu Bakr, lebih dikenal dengan nama Ibn Qayyim al-Jawziyyah (1292-1350), adalah murid dan pengikut Ibn Taimiyyah.

4 Ibn Taimiyyah (1263-1328) adalah seorang tokoh pendiri Salafi yang hanya memaknai teks-teks keagamaan secara lahiriah (skripturalistik) dengan menolak penggunaan akal serta studi logika, filsafat dan tasawuf.

Ibn Khaldun (1332-1406) adalah seorang sejarawan dan sosiolog Muslim awal; dikenal dengan karyanya al-Muqaddimah.

'Abbas Mahmud al-'Aggad (1889-1964) adalah salah seorang tokoh intelektual Mesir dalam pencerahan pemikiran Islam abad ke-20. Dia menulis Al-Husayn Abu al-Syuhada' (Beirut:Dār al-Kitāb al-Libnānī, 1974).

Reinhold Niebuhr, The Nature and Destiny of Man (New York: Charles Scribner's Sons, 1945), h. 1.

Syair Iqbal: Gharib-o-sada-o-rangi'n bay dastan-e-Haram; Nibiyat iski Husayn ibtida bay Ismail, dalam Allamah Thabathabaci et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

9 Annemarie Schimmel, Karbala and the Imam Husayn in Persian and Indo-Muslim Literature, A1- Serat, Vol. XII (Cambridge: Harvard University Press, 1986).

10 Daniel Rudman, Mysticism and Imam Husayn, dalam Allamah Thathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

11 Antonie Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas (Jakarta: Citra, 2007), 1. 84.

P: 179

12 Abu Muhammad Zaynul Abidin, An Everlasting Instruction: Imam al-Husayn's Journey to Makka, dalam Allamah Thathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

13 Syahid Murtadha Muthahhari, The Truth about Hussain's Revolt: Husain - The Universalist, dalam Allamah Thabathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

14 Mahatma Gandhi, "I learnt from Husayn how to be wronged and be a winner", dalam Allamah Thabathabaei et.all., Koleksi Bahan Referensi Seminar Riset Imam Husayn (ICAS Jakarta, 2008).

Dikisahkan bahwa ketika Gandhi memulai perlawanan historisnya terhadap kolonialis Inggris, dia membawa serta 72 orang sebagai sebuah simbol untuk meniru epos revolusi al-Husain.

15 Antonie Bara, The Saviour: Husain Dalam Kristianitas (Jakarta: Citra, 2007), h. 358-359.

16 Diantaranya, dalam Kongres Pertama Penyair Iran dan Dunia (The First Congress of Iranian and World's Poets) pada April 2010, Shakoor membacakan puisi untuk Imam Husain. Baca esai Jamal D. Rahman, "Menikmati Puisi di Taman Penyair" (www.wordpress.jamalrahman).

17 Edward Gibbon, The Decline and Fall of the Roman Empire-Volume 5 (London, 1911), h. 391-392.

18 Hannah Arendt membagi membagi tiga kegiatan dasariah manusia, yaitu kerja (labour), karya (work), dan tindakan/aksi (action). Kerja merupakan tuntutan agar manusia bisa hidup; dan karena itu manusia disebut sebagai animal labour. Perbuatan-perbuatan yang bersifat rekasioner tergolong kerja. Karya merupakan kegiatan penguasaan manusia terhadap alam, menciptakan obyek yang berguna agar dunia pantas bagi habitat manusia seperti peralatan teknologi; dan untuk itu manusia disebut sebagai bomo faber. Sedangkan tindakan (aksi) merupakan kegiatan pengungkapan kebebasan dirinya sebagai manusia dengan segenap nilai-nilai kemanusiaannya.

Bertindak berarti menciptakan yang baru, mengambil inisiatif, menggerakkan, memulai. Manusia aksi adalah manusia subyek yang bertanggung jawab. Tindakan aksi merupakan aktualisasi nilai-nilai moral dan kemanusiaan seperti, kesucian, keberanian, kemuliaan, tanggung jawab, keagungan, keindahan. Untuk itu manusia disebut sebagai homo politikos, homo religius. Baca Hannah Arendt, The Human Condition (Chicago: University of Chicago Press, 1998).

19 Ibid. Abu Muhammad Zaynul Abidin (2008).

20 Ibrahim Ayati, 4 Probe Into the History of Ashura (Karachi: Islamic Seminary Publications, 1995), h.4 21 Imam Muhammad Shirazi, Husayn: The Sacrifice for Mankind (translation by Z. Olyabek), (London: Fountain Books, 2003), h. 8-9.

22 Ibid. h. 11.

Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul BaitNabi-Jilid 3-4(Bandung: Pustaka Hidayah, 1993),h.196.

Ali Muhammad Ali, Para Pemuka Ahlul Bait Nabi - Jilid 5-6 (Bandung: Pustaka Hidayah, 1993), 1.56-58.

25 Mahmoud Ayoub, The Marty of Karbala ( London: al-Scrat Journal, Vol. 4, 1978), h. 11.

26 Ibrahim Ayati, A Probe Into the History of Ashura (Karachi: Islamic Seminary Publications, 1995), h. 18 27 Imam Muhammad Shirazi (2003), h. 12.

P: 180

TAFSIR PSIKO-SUFISTIK PENGORBANAN IMAM HUSAIN HUSAIN SHAHAB

Point

Imam Husayn's revolution was monumentally illustrated the battle of man against injustice and tyrant, Physically on surface, it was not ostensibly a victory. However, it was indeed a massive attack on injustice and evil since his sacrifice condemned tyrant embodied in Yazid ibn Mu'awiyyah.

Imam Husayn inspired all men desiring independence, honor, and truth as he enthused noble men, lovers of Allah who are longing to Him and desperately in hope in convening Him. In line with this, before his being martyr, Ali Akbar announced, "My dearest Father, Husayn, I m witnessing my grandfather Rasullullah Saw, Ali and Fathimah are waiting for me with a cup of water of Kautsar, are they as well for you." Karbala, hence, was a field of lovers of God encountering their Beloved, al-Rahman.

Pengantar

Berkorban adalah sebuah kalimat heroik yang biasanya digunakan untuk menunjukkan sebuah perbuatan terpuji yang dilakukan oleh seseorang demi tujuan tertentu. Ada tiga kriteria yang bisa kita jadikan sebagai barometer untuk mengukur tinggi tidaknya sebuah pengorbanan. Pertama,

P: 181

maksud tujuan dari pengorbanan itu sendiri. Kedua, apa yang dijadikan sebagai “bahan" pengorbanannya. Ketiga, siapa yang berkorban.

Tujuan berkorban sangat menentukan nilai dari sebuah pengorbanan.

Berkorban dengan maksud untuk membela negara, misalnya, jauh lebih tinggi ketimbang berkorban demi keluarga. Berkorban demi membela agama jauh lebih mulia ketimbang demi keduanya, sehingga sangat aksiomatis untuk kita simpulkan bahwa semakin tinggi maksud dan tujuan yang diabadikan untuknya, maka semakin tinggi pula makna pengorbanan yang ia berikan.

Demikian juga tentang apa yang dikorbankan untuk tujuan mulia di atas juga menjadi barometer untuk mengukur bagaimana tingginya sebuah pengorbanan. Berkorban dengan harta, misalnya, tentu lebih tinggi nilainya ketimbang berkorban hanya dengan waktu semata. Dan, berkorban dengan nyawa tentu jauh lebih tinggi ketimbang dari keduanya, apalagi sekiranya yang dikorbankan itu bukan hanya nyawanya semata, tetapi juga nyawa orang-orang kesayangannya, seperti sahabat dan anak- anaknya seperti yang dilakukan oleh Imam Husain di Karbala.

"Siapa yang berkorban juga bisa menjadi ukuran. Kalau yang berkorban itu adalah orang semulia Imam Husain, yang dikatakan oleh Nabi Saw. sebagai Pemuka Pemuda Surga, maka pasti apa yang diperjuangkannya itu bukan sesuatu yang kecil. Sebab, orang besar tidak akan menjual dirinya untuk sesuatu yang kecil. Itu menunjukkan bahwa misi yang diperjuangkan oleh Husain di Karbala pastilah sesuatu yang mahabesar sehingga dengannya ia rela mengorbankan dirinya dan para kekasihnya.

Melihat tiga kriteria di atas maka perjuangan Imam Husain di Karbala adalah puncak dari kesempurnaan bila dilihat dari semua ukuran dan barometer. Tidak mengherankan bila kemudian kesyahidannya disebut sebagai Sayyid al-Syuhada' (penghulu para syuhada).

Peristiwa Karbala yang sangat tragis memang telah berlalu 1369 tahun yang lalu. Husain bersama keluarganya dan 72 sahabat gugur

P: 182

dengan sangat mengenaskan. Berbagai analisis telah ditumpahkan untuk mengenang dan merenungi peristiwa ini. Mulai dari analisis politik, sosio-kultural, sosioreligious, hingga analisis moral dan sufistik. Tulisan ini berupaya menganalisis secara singkat bagian-bagian tertentu dari penggalan peristiwa Karbala secara psiko-sufistik, dengan tujuan mencari sebuah jawaban: Mengapa ada sejumlah orang yang mau mengorbankan dirinya demi sebuah tujuan yang begitu abstrak, invisible, dan bagi sebagian orang masih spekulatif? Bagaimana kita bisa memahami bahwa perjuangan Imam Husain dan para sahabatnya di Karbala adalah sebuah perjuangan yang benar-benar mulia, nesct to perjuangan yang dilakukan oleh datuknya, Rasulullah Saw.? Sebuah hadis dari seorang Imam pernah berkata bahwa Islam awalnya dimulai oleh Muhammad Saw., sedangkan kelestarian dan keberlanjutannya di tangan Husain (al-Islām bad-'uhu Muhammadiy wa bagāʻuhu Husainiy).

Imam Husain di Mata Rasulullah Saw.

Sekilas, kita harus melihat terlebih dahulu siapa Husain dari kacamata Rasulullah Saw. Sebab, selain beliau yang paling tahu tentang siapa cucunya ini, juga kita yakin sepenuhnya bahwa beliau tidak pernah mengucapkan sesuatu yang berasal dari dorongan hawa nafsunya atau kepentingan- kepentingan tertentu. Allah memberi jaminan itu seperti firman-Nya berikut: "Wa mā yanthiqu 'al al-hawā in huwa illa wahyun yübā”, (Dia [Muhammad] tidak berucap apa pun dari hawa nafsunya, melainkan semua itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya).

Terutama ketika kita ingin secara objektif mengetahui sisi spiritualitas Husain, sesuatu yang tidak boleh kita lakukan secara spekulatif dan hipotetis. Sebab, alih-alih mengetahuinya secara objektif, kita bisa mencederai siapa Husain yang sesungguhnya. Siapa Husain di mata Rasul? Husain ibn 'Ali ibn Abi Thalib dan putra Fathimah binti Muhammad Saw. ini punya kedudukan yang sangat khusus di hati datuknya. Rasulullah Saw. Suatu saat, Nabi menyebutnya dengan kata-kata yang sangat

P: 183

misterius, "Husain Minni wa ana min Husain", Husain dariku dan aku juga dari Husain. Suatu sabda yang tidak mudah untuk dipahami maknanya.

Pada saat lain, Nabi juga menyebutnya dan juga abangnya, Hasan, dengan sabda yang sangat monumental, "Inna al-Hasan wa al-Husayn sayyidā syabābi ahli al-jannah”, sungguh Hasan dan Husain adalah dua pemuka pemuda surga. Banyak hadis-hadis Nabi serupa yang menempatkan cucunya ini pada tempat yang secara spiritual tidak mudah bisa dicapai banyak orang.

Yang sangat menarik adalah riwayat berikut:

"Telah meriwayatkan kepada kami Abu Hasan 'Ali Ibn Tsabit al-Dawalini di kota al-Salam pada tahun 352 H, yang berkata telah meriwayatkan kepada kami Muhammad ibn 'Ali Ibn Abdus Samad al- Kufi yang berkata, telah meriwayatkan kepada kami 'Ali ibn Ashim dari Muhammad Ibn 'Ali ibn Musa dari ayahnya 'Ali ibn Musa dari ayahnya Musa ibn Jaʼfar dari ayahnya Ja'far ibn Muhammad dari ayahnya Muhammad ibn 'Ali, dari ayahnya 'Ali ibn Husain, dari ayahnya Husain ibn 'Ali Ibn Abi Thalib yang berkata: “Suatu hari aku masuk menjumpai Rasulullah Saw. yang pada waktu ada Ubai ibn Ka'ab yang sedang bertamu. Melihat aku masuk lalu Rasulullah berkata, “marhaban bika ya Aba Abdillah, ya zayn al-samāwati wa al-aradhi", (selamat datang padamu hai Abu Abdillah, duhai penghias langit dan bumi).

Ubai bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin ada orang selainmu yang bisa menjadi zayn al-samāwāti wa al-aradhi (penghias langit dan bumi)?" Nabi menjawab: “Hai Ubai, demi Dia yang mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguh Husain ibn Ali ini lebih agung di langit ketimbang di bumi. Telah tertulis di sisi kanan Arasy Allah sebuah kalimat, "Husain adalah pelita hidayah, bahtera keselamatan, pemimpin kebaikan, kemuliaan, kebanggaan, ilmu dan kekayaan. Sungguh Allah Azza wa Jalla telah menempatkan di sulbinya benih yang baik, berkah dan suci, dan telah diajarkan kepadanya doa-doa yang sekiranya makhluk ini berdoa dengannya

P: 184

maka ia akan dibangkitkan bersamanya, dan akan mendapatkan syafaatnya di akherat nanti; dan dukanya juga akan diangkat, hutangnya ditunaikan, urusannya akan digampangkan, jalannya akan diterangi, musuhnya akan dikalahkan dan aib-aibnya akan ditutupi..." Kami tidak kutipkan secara lengkap teks hadis Nabi di atas tentang Husain. Yang berminat bisa baca riwayat tersebut dalam kitab Uyün Akhbar al-Ridla (I: 62) no hadis 29. Namun teks hadis tersebut mendeskripsikan kepada kita betapa tingginya kedudukan spiritualitas Husain di mata datuknya Rasul Saw.

Apakah Nabi yang mengatakan seperti itu tentang Husain semata- mata karena Husain adalah cucunya yang sangat ia sayangi sehingga ungkapan tersebut lahir dari emosinya yang sangat sensitif kepada putra Fatimah ini.

Kalau kita melihat firman Allah di atas tentang siapa Nabi, tentu kita akan mudah berkesimpulan bahwa beliau bukanlah manusia yang didorong oleh kehendak nafsu, baik dalam tindakannya yang nyata maupun dalam ungkapan verbalnya. Itu berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. bebas dari kungkungan nafsu dan vested interest. Apa yang dia lakukan dan ucapkan sepenuhnya adalah apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Termasuk di antaranya adalah ketika nabi memberikan suatu gelar atau panggilan kepada sebagian keluarganya atau sebagiann sahabatnya.

Nabi misalnya pernah juga memuji sebagian sahabatnya dengan pujian spiritualitas yang tinggi, seperti sabdanya untuk Salman, "Salman minna Ahl al-Bayt" (Salman bagian dari kami Ahl al-Bayt). Tentu sabda Nabi tersebut bukan seperti yang ditafsirkan oleh sebagian kalangan- sekadar ingin mengibur Salman yang ketika itu satu-satunya sahabat baginda yang ada di tengah bangsa arab yang sangat membanggakan klan dan sukunya masing-masing. Sejatinya Nabi ingin mengungkapkan kedudukan spiritualitas sahabat Salman yang memiliki derajat yang sangat tinggi sehingga layak disandingkan dengan kedudukan Ahl al-Bayt.

P: 185

Nabi pernah menyebut Hudzaifah ibn Yaman dengan sebutan Dzu Syahadatayn (empunya dua kesaksian), yakni kesaksian Hudzaifah seorang adalah sama dengan kesaksian dua orang dari sahabat-sahabat Nabi yang lain. Juga menyebut Hamzah pamannya sebagai Asadullah wa asadu Rasülihi (singa Allah dan singa RasulNya).

Sabda-sabda Nabi tersebut tidak lain kecuali sebuah ungkapan ketinggian spiritualitas orang-orang seperti Salman, Hudzaifah, Hamzah di mata Rasul Saw. Lalu terbayangkah Anda bagaimana kedudukan Husain di mata datuknya, Penghulu alam semesta, yang secara jelas-jelas juga disebut oleh Allah sebagai bagian dari Ahlul Bait (lihat QS Al-Ahzāb [33]:33) dan berulang-ulang ditegaskan oleh Nabi di dalam berbagai kesempatan dan peristiwa. Ahlul Bait bukan hanya sebuah panggilan dan gelar tanpa makna. Ia adalah sebuah predikat yang Allah berikan kepada manusia-manusia suci dan sempurna lahir dan batin. Dan Husain adalah bagian yang tak terpisahkan darinya.

Husain Standar Kebenaran

Imam Husain yang mulia tersebut tidak akan pernah berada dalam posisi menentang kebenaran. Beliau layaknya Imam 'Ali, selalu bersama kebenaran, seperti sabda Rasul “Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali'; dan juga hadis lain yang serupa “Ali bersama al-Qur'an dan al-Qur'an bersama Ali". Tentang Ahlul Bait misalnya Nabi pernah bersabda, “Sungguh telah kutinggalkan di tengah kalian dua pusaka yang besar: Kitab Allah dan itrah keluargaku. Berpegang teguhlah kalian kepadanya, sungguh mereka tidak akan pernah berpisah sehingga kedua mereka kelak akan mendatangiku di telaga haudh." Adalah sesuatu yang tak terbantahkan sedikitpun bahwa di antara ahlul bait tersebut adalah Husain. Dan hal ini menjelaskan kepada kita bahwa Ahlul Bait Nabi yang berposisi sama dengan al-Qur'an dan sebagai pendamping al-Qur'an selama-lamanya adalah standar kebenaran itu sendiri, seperti layaknya al-Qur'an. Sehingga ketika siapa pun yang

P: 186

mengaku ummat Nabi Muhammad berada dalam kebingungan untuk menentukan sebuah pilihan antara haq dan batil, sebagaimana mereka bisa merujuk al-Qur'an, mereka juga bisa melihat di posisi mana ahlul bait berada. Itulah kenapa Nabi bersabda, “Sungguh Husain adalah pelita hidayah dan bahtera penyelamat."

Husain Sang Mujahid yang Tangguh

Keagungan Husain bukan sesuatu yang gratis. Ia lahir dari pengabdiannya yang sangat agung kepada agama Muhammad Saw. Dan yang paling menonjol dari semua itu adalah perjuangan dan pengorbanannya di Padang Karbala Perjuangan Husain di Karbala adalah sebuah perjuangan yang sangat monumental dalam sejarah perjuangan manusia menentang kebatilan dan ketidakadilan. Sebuah perjuangan yang meskipun secara fisik tampak kalah, namun sesungguhnya secara historis dan misionaris adalah perjuangan yang berhasil dan menang telak. Sebab lewat Karbalalah kebatilan yang diusung oleh Yazid dan Bani Umaiyah menjadi terhenti. Sebagai gantinya sinar mentari kebenaran Muhammad muncul lagi untuk selamanya.

Sebuah perjuangan yang memberi inspirasi bagi seluruh ummat manusia yang menginginkan kemerdekaan, kemuliaan dan kebenaran yang sejati sepanjang sejarah kemanusiaan.

Husain menjadi inspirasi besar bagi orang-orang yang berhati mulia.

Simaklah apa yang dikatakan oleh Husain saat berita kematian penguasa zalim Mu'awiyah sampai ke Madinah seperti yang dituturkan oleh sejarah berikut ini:

Saat Imam Husain masih di Madinah dan berita sayup-sayup kematian Mu'awiyah mulai terhembus di sekitar penduduk kota Nabi tersebut, di suatu pagi tiba-tiba Marwan ibn Hakarn mendatangi Husain sambil berkata: "Ya Husain, aku ingin menasihatimu. Dengarkan nasihatku dan patuhi apa yang kukatakan. Dengan itu kau akan selamat dunia akherat."

P: 187

"Apa yang kau ingin katakan padaku hai Marwan?"Tanya Husain.

"Aku nasihati engkau agar memberikan baiat kepada Yazid sebagai Amirul Mukminin. Sebab dengan itu agamamu dan duniamu akan menjadi lebih baik" Kata Marwan.

"Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un.." kata Husain berulang-ulang.

"Kalau itu yang kulakukan dengan membiarkan ummat ini dipimpin oleh orang seperti Yazid, maka berarti selesailah agama Islam ini, Hai Marwan, apakah engkau akan memerintahkan aku memberikan baiat kepada Yazid, seorang fasik dan perdurhaka? Sungguh kau telah berkata lancang. Aku tidak mencelamu dengan kata-katamu itu. Sebab engkau adalah manusia terkutuk yang dikutuk oleh Rasulullah ketika engkau masih dalam sulbi ayahmu Hakam ibn Ash. Orang yang dikutuk Rasulullah Saw. tidak akan mengelak untuk memberikan baiatnya kepada Yazid.

"Menjauhlah dariku wahai musuh Allah.” Kata Husain melanjutkan.

"Sungguh kami adalah Ahlul Bait Rasulullah. Kebenaran ada pada kami, dan lidah kami tidak berkata sesuatu kecuali yang haq. Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Sungguh jabatan khilafah diharamkan bagi keluarga Abu Sufyan dan bagi al-thulaqa putra-putra al-thulaqa (tawanan-tawanan Mekkah yang dibebaskan, yakni Abu Sufyan dan anak- anaknya). Jika kalian melihat Mu'awiyah di atas minbarku, maka tikamlah perutnya. Demi Allah penduduk Madinah telah melihatnya di atas minbarku, namun mereka tidak mematuhi perintah Nabinya. Oleh karena itu maka Allah menguji mereka dengan anaknya Yazid. Semoga Allah menambahkan azab yang pedih baginya."(1) Ketika Walid ibn Utbah, gubernur madinah ketika itu, juga meminta Husain berbaiat kepada Yazid. Husain menjawab: “Yazid adalah seorang yang fasik, pendurhaka, pemabuk, pembunuh jiwa-jiwa yang tak berdosa, terang-terangan melakukan keonaran. Orang seperti aku tidak akan pernah memberikan baiatnya kepadanya.”(2)

P: 188


1- Khawarizmi, Maqtal al-Husayn, 1:184.
2- Ibn Nima al-Hilli, Mutsir al-Abzan, h. 24.

Deklarasi juang Imam Husain jelas: tidak akan pernah kompromi dengan kezaliman. Apalagi kezaliman atas nama agama dan kezaliman untuk menyesatkan ummat datuknya Muhammad Saw.

Husain: Simbol Khayr al-Bariyyah

Ketegasan Husain mengantarnya kepada sebuah perjuangan agung yang bernama Karbala. Di padang gersang itulah telah dipertontonkan kepada sejarah dua bentuk manusia: khayr al-bariyyah dan syar al-bariyyah. Khayr al-bariyyah artinya manusia terbaik, termulia, terpuji, dan terhormat di sisi Allah. Syar al-bariyyah artinya sebaliknya, manusia terburuk, terhina, dan termalang di sisi Allah.

Melihat apa yang dilakukan oleh Imam Husain dan para sahabat serta keluarganya di Karbala, maka sebuah kebaikan murni telah terefleksikan dengan sempurna. Merekalah manusia-manusia malaikat, manusia- manusia terhormat, manusia-manusia yang tidak menjual kebenaran dengan apa pun, meskipun untuk itu jiwa dan raganya harus berpisah.

Di sisi lain, pasukan Yazid yang dipanglimai oleh Ibn Ziyad, Umar ibn Sa'ad, dan lainnya merefleksikan sebuah keburukan yang murni.

Mereka telah menunjukkan kepada dunia apa itu keburukan yang sesungguhnya dan bagaimana menjadi manusia terkutuk di hadapan Sang Maha Pencipta, di hadapan sejarah, dan di hadapan manusia secara luas.

Husain Khayr al-Bariyyah

Bukan hanya sabda-sabda Nabi tentang Husain yang sudah cukup menjadi bukti akan kemuliaannya. Seruan-seruan Husain di Karbala kepada kebenaran, kemanusian, dan penentangannya kepada kezaliman dan kehinaan adalah bukti historis yang sangat jelas akan luhurnya misi suci Imam Husain.

Ingat kata-kata Imam Husain di Madinah ketika diminta oleh Marwan ibn Hakam untuk berbaiat kepada Yazid, “Kalau itu yang

P: 189

kulakukan dengan membiarkan ummat ini dipimpin oleh orang seperti Yazid, maka berarti selesailah agama Islam ini."(1) Juga ucapannya kepada Walid, "Yazid adalah seorang yang fasik, pendurhaka, pemabuk, pembunuh jiwa-jiwa yang tak berdosa, terang- terangan melakukan keonaran. Orang seperti aku tidak akan pernah memberikan baiatnya kepadanya. "(2) Kata-kata Husain yang sangat terkenal yang kemudian menjadi prinsip perjuangannya di Karbala dan yang mewarnai semua langkahnya adalah:

"Sungguh aku tidak keluar ke Karbala ini untuk membikin keonaran atau mencari kekuasaan. Namun, aku keluar untuk memperbaiki keadaan ummat datukku. Aku ingin melakukan yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran. Aku ingin jalan sesuai dengan agama datukku, Muhammad, dan ayahku, 'Ali ..." Adakah kebaikan yang lebih tinggi dari membela kebenaran, membela agama Rasulullah, dan Risalah Kebenaran yang datangnya dari Allah? Bukan hanya Husain yang siap mati karena itu. Datuknya Husain juga siap mati karena membela kebenaran dan agama Allah ini, seperti yang ia buktikan dalam sejarah kenabiannya.

Husain bahkan sempat berkata, "Sekiranya agama Muhammad tidak bisa tegak berdiri melainkan dengan terbunuhnya aku, wahai pedang- pedang, petiklah aku ....” Untuk misi mulia seperti itu, nyawa tiada arti baginya.

Husain juga mengungkapkan, “Sungguh aku tidak melihat kematian di jalan Allah, melainkan kebahagiaan semata-mata, dan hidup bersama orang-orang zalim tidak lebih dari sebuah kehinaan." Untuk semua misi suci seperti itu, layak memang Husain menyandang predikat khayr al-bariyyah.

P: 190


1- Ibn Thawus al-Husayni, al-Lubüffi Qatl al-Tufüf, h. 10; Ibn Nima al-Hilli, Mutsir al-Abzān, h.25.
2- Ibn Nima al-Hilli, Mutsir al-Ahzân, h. 24.

Yazid, Ibn Ziyad cs: Syar al-Bariyyah

Perlakuan Yazid, Ibn Ziyad, Umar ibn Sa'ad, dan konco-konconya di medan Karbala adalah bukti seterang bak matahari akan kedurhakaan dan kefasikan mereka. Mereka telah pertontonkan di hadapan sejarah ternyata memang ada manusia-manusia sebuas binatang liar, dan bahkan lebih buas lagi dari itu. Mereka penggal leher mulia anak-anak Rasul, bahkan bayi yang berusia 6 bulan sekalipun; mereka arak kepala-kepala mulia tersebut di atas tombak dan pedang; mereka rantai putri-putri Fathimah al-Zahra, dan dipaksa jalan melintasi Padang Sahara yang kering dan membakar dalam keadaan tangan dan kaki terborgol. Mereka tahan air sungai Furat dari putra-putri ‘Ali dan Fatimah dan membiarkan rasa dahaga mencekik tenggorokan mereka berhari-hari tanpa setetes air. Sebuah kebuasan yang tak dilakukan oleh siapa pun, kecuali oleh Yazid, Ibn Ziyad, Umar ibn Sa'ad, dan sekutunya. Gelar apa yang pantas dinobatkan untuk manusia- manusia durjana seperti ini? Al-Qur'an menyebutnya Syar al-Bariyyah:

makhluk terburuk.

Lihatlah Syimir, apa yang dikatakannya ketika ia sempat berdialog dengan Husain di detik-detik terakhir hayat Husain. Syimir duduk di dada Husain. Husain hampir-hampir tak percaya. Dia bertanya, “Tahukah engkau siapa aku." Syimir: “Aku tahu siapa dirimu. Engkau adalah Husain ibn 'Ali, putra Fathimah Zahra dan datukmu adalah Muhammad." Husain: "Celaka engkau. Kalau kau tahu siapa aku, bagaimana mungkin kau akan membunuhku." Syimir: “Kalau bukan aku yang membunuhmu, nanti orang lain yang akan mendapatkan imblannya dari Yazid.” Husain: “Mana yang kau suka, imbalan dari Yazid atau syafaat datukku Rasulullah?" Syimir: “Sedikit dari imbalan lebih aku sukai dari syafaat datukmu ...." Dahsyat. Mengerikan. Untuk bisa mendapatkan imbalan yang sangat murah, ia siap menjual agama, kemanusiaan, harga diri, dan semua yang

P: 191

Demi Allah. Aku bertanya, adakah manusia dalam pengertian manusia yang sesungguhnya mau melakukan itu? Atau, itu adalah perlakuan seekor binatang buas yang berwajah manusia?

Binatang Buas Dibangkitkan

"Wa idzā al-wuhūsyu husyirat [Ingatlah ketika binatang buas dibangkitkan]," (QS Al-Takwir [81]: 5). Ketika menafsirkan ayat ini, Mulla Sadra menyertakannya dengan sebuah hadis Nabi yang berbunyi, “Kelak pada Hari Kiamat, ada sebagian orang yang dibangkitkan oleh Allah dalam bentuk rupa yang monyet dan babi sekalipun tampak lebih baik darinya." Apakah binatang buas kelak akan dibangkitkan? Apakah binatang- binatang liar dan buas seperti harimau, singa, serigala, beruang dan sebagainya akan dibangkitkan pada Hari Kiamat? Atau, itu adalah sebuang ungkapan majazi (kiasan) tentang manusia-manusia yang memiliki semua sifat dan karakter binatang buas di dunia, dan kelak akan dibangkitkan persis sama dengan sifat dan karakternya tersebut? Adalah suatu hal yang lumrah diketahui bahwa dalam hidup ini, manusia bertindak melakukan sesuatu karena didorong oleh berbagai macam power atau kekuatan yang ada dalam dirinya. Terkadang ia didorong kuat oleh kekuatan nafsunya seperti ingin memuaskan birahi atau tuntutan biologisnya; atau terdorong kuat oleh kekuatan amarahnya, seperti membunuh, memangsa, atau menguasai pihak lain; atau mungkin daya khayalnya seperti berencana, bermimpi, dan sejenisnya; atau dorongan rasionalitasnya yang sehat seperti berpikir, tafakur, introspeksi, dan sebagainya.

Kata Imam Khomeini, keempat power di atas memiliki simbol- simbol. Kekuatan nafsu (al-quwwah al-syahwiyyah) disimbolkan dengan binatang ternak. Kekuatan amarah (al-quwwah al-ghadhabiyyah) disimbolkan dengan binatang buas. Kekuatan khayal (al-quwwah al- khayaliyyahl al-wahmiyyah) disimbolkan dengan setan. Dan kekuatan rasional (al-quwwah al-'aqliyyah) disimbolkan dengan malaikat.

P: 192

Aktivitas binatang ternak tidak lebih dari makan, minum, dan pemenuhan kepuasan biologis semata-mata. Seorang manusia yang apabila aktifitasnya terdorong semata-mata oleh motif yang digerakkan oleh dorongan nafsunya semata-mata, maka ia tidak lebih dari seekor binatang ternak yang berwajah manusia. Demikian juga, ketika sifat, watak, dan perilaku manusia bagaikan binatang buas: merobek-robek hak orang lain, memperkosa hak-hak manusia lain, membunuh nyawa yang tak berdosa, menginjak-injak hamba-hamba Allah yang lemah, menghalalkan segala cara untuk menunjukkan kekuasaan dan penjajahannya kepada orang lain, maka sesungguhnya ia adalah srigala yang berwajah manusia.

Dapatkah kita bayangkan makhluk seperti apa manusia yang bernama Harmalah yang melesatkan anak panahnya ke arah leher 'Ali al-Asghar, putra Husain yang berusia enam bulan, saat sang ayah memintakan setetes air bagi bayinya yang sangat kehausan di medan Karbala? Dapatkah kita bayangkan manusia seperti apa itu Syimir, Sinan ibn Anas, Umar ibn Sa'ad, Ibn Ziyad, Yazid, dan sekutunya yang begitu sadis dan kejam di Padang Karbala terhadap Husain dan keluarga serta 72 dari sahabatnya? La hawla wa la quwwata illā biLlāh al-'aliyy al-'adzīm.

Di dunia sini memang tidak tampak wajah kebinatangannya. Namun, kelak di akhirat semua akan tampak seperti sifat dan wataknya yang sesungguhnya. Allah berfirman, "Yawma tubla al-sarāir...", hari di mana rahasia-rahasia diungkapkan sejelas-jelasnya. Hari di mana segala bentuk kamuflase, topeng, kemunafikan akan tampak sejelas-jelasnya. Jiwa-jiwa buas yang memetik leher-leher suci para pejuang Karbala akan bangkit seperti yang Nabi sabdakan "rupa monyet dan babi sekalipun tampak lebih baik darinya." Kata Sadra, “Apa pun yang kita lakukan di dunia ini bagaikan kita bercocok tanam dan melempar benih di 'ladang' hati dan jiwa kita. Niat kita, kepercayaan kita yang tersembunyi di balik dada bagaikan benih- benih yang ada dalam tanah. Usia keberadaan kita di dunia bagaikan usia musim dingin, di mana benih-benih tersebut terkubur dalam tanah tak

P: 193

tersentuh oleh sinar mentari. Ketika musim semi tiba, ketika sinar matahari sudah mulai menyeruak, maka benih-benih yang terkubur dalam perut bumi akan muncul ke permukaan. Pada saat itu akan tampak berbagai macam dedaunan, pohon-pohon yang beraneka ragam, bunga-bunga, dan juga buah-buahan. Masing-masing mereka tumbuh sesuai dengan jenis benihnya yang asal. Sebagian manis, asam, bahkan ada yang pahit.

Sebagian lagi bisa menjadi obat yang menyembuhkan, tetapi ada juga yang menjadi racun yang mematikan. Demikianlah kelak ketika manusia dibangkitkan pada Hari Kiamat. Ketika mentari kebenaran memunculkan jiwa-jiwa manusia dari alam kuburnya, saat itu mereka semua akan tampak ke permukaan, 'Wa barazu lillāh al-wāhid al-qahhār."(1) Jiwa-jiwa buas akan dibangkitkan bagaikan binatang-binatang buas.

Sementara jiwa-jiwa malaikat dan malakuti juga akan muncul dengan wajah-wajah mulia yang bersinar dan berseri-seri seperti firman Allah dalam surah al-Zumar ayat 75 (QS Al-Zumar [39]: 75) di mana mereka akan digiring ke dalam surga yang dijanjikan.

Karbala di satu sisi adalah medan pertunjukan binatang-binatang buas yang berwajah manusia. Namun, di sisi lain juga sebagai medan para kekasih Allah yang ingin berjumpa dengan Kekasihnya Yang Mahakasih.

Karbala: Medan Berjumpa Allah

Ketika Qasim putra Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib meminta izin dari pamannya untuk berlaga di medan perang Karbala, Husain sangat berat melepaskannya, sebab ia adalah titipan dan yatim abangnya, Hasan. Qasim terus mendesak. Bahkan, ia berkata bahwa ayahnya pernah berwasiat kepadanya agar ia menolong pamannya saat sang paman berada dalam kesulitan. Adakah kesulitan yang lebih parah dan butuh pertolongan lebih dari momen Karbala.

Imam Husain memeluknya dan mengelus-elus kepala kemenakannya dengan penuh kasih.

P: 194


1- Lihat Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim 7:224/225.

“Ya Qasim”, tanya Husain, "kaifa tară al-mawt [bagaimana kau melihat kematian]?"" Innahu ahla min al-'asali ya 'ammi" [Mati lebih manis dari madu, wahai pamanku],” jawab Qasim.

Sebuah ungkapan historis yang paling indah tentang kematian, lebih indah dari yang diungkapkan oleh ahli-ahli ma'rifat mana pun, baik itu Hallaj, Bustami, maupun Hamzah Fansuri. Sahabat-sahabat Qasim juga menyambut kematian bersama Husain di Karbala sebagai momen yang paling berharga dalam hidup mereka, yang tak akan pernah mereka lepaskan sesaat pun. Sejarah mencatat betapa mereka berlomba-lomba minta izin dari putra Fatimah untuk menghadap musuh, berperang, dan berkorban deminya.

Ungkapan Husain yang monumental tentang kematian yang disongsongnya juga menjadi sebuah deklarasi yang fenomenal dalam sejarah kemanusiaan. "Sungguh aku tidak melihat kematian (di jalan Allah), melainkan sebuah kebahagiaan ...." Mengapa Husain, keluarga, dan sahabat-sahabatnya di Karbala tersenyum lebar menghadapi kematian ini? Mengapa mereka tidak pernah takut akan pedang tajam yang terhunus, tombak yang lancip, dan anak panah yang bermata tiga serta beracun yang siap diarahkan kepada mereka? Jawabnya hanya satu: kematian bagi mereka adalah sebuah pertemuan dengan Allah (ligă Allāh). Sebuah hadis menyebutkan, “Siapa yang cinta berjumpa dengan Allah, maka Allah akan cinta berjumpa dengannya. Dan siapa yang enggan (benci) berjumpa dengan Allah, maka Allah pun akan enggan berjumpa dengannya.” Kata Sadra, perhatikan frasa, "Allah cinta berjumpa dengannya". Kecintaan Allah itulah yang menjadi tarikan yang sangat kuat kepada mereka sehingga sebenarnya merekalah yang ditarik oleh Allah.

Berjumpa Allah di Karbala

Mengutip para urafa semisal Ibn Arabi, Imam Ghazali, dan Mulla Sadra, maut yang merupakan akhir dari kehidupan manusia di dunia bisa

P: 195

berbentuk natural, terpaksa, dan tak terelakkan. Untuk maut seperti ini mereka menyebutnya sebagai al-mawt al-thabi'i, atau al-mawt al-ijbārī.

Namun, ada juga maut yang sifatnya "pilihan", penuh kesadaran, dan kerinduan. Untuk jenis yang kedua ini mereka menyebutnya al-mawt al- iradi atau al-ikhtiyari.

Al-mawt al-ikhtiyari identik dengan ligă' Allah (Perjumpaan dengan Allah). Sebab, dalam al-maut al-ikhtiyari ini, si hamba tidak lagi menyimpan rasa cinta pada apa pun dalam jiwanya, melainkan Allah semata-mata.

Sadra berkata, "Orang yang cinta (atau rindu) berjumpa dengan Allah, maka pasti akan cinta dan rindu pada kematian. Sebab, dengan kematian tersebut, dia bisa bebas dari persahabatan dengan hal-hal yang menipunya. Siapa sahabat-sahabat yang menipunya dan siapa itu yang memberi cinta semu? Itulah cinta diri, cinta keluarga, anak, harta, pangkat, jabatan, popularitas, dan sejenisnya. Semua adalah “kekasih” semu yang akan menghalanginya dan menghalangi cinta sejatinya kepada Allah Swt." Sadra berkata lagi, cinta harta apabila menguasai diri kita akan menghalangi kita dari berzakat. Cinta negeri yang berlebihan akan menghalangi kita dari berhaji. Cinta pada makan dan minum yang berlebihan akan menghalangi kita dari berpuasa. Cinta diri akan menghalangi kita dari berjihad. Cinta popularitas dan jabatan membuat kita enggan untuk belajar ilmu-ilmu hakikat. Meninggalkan semua itu pertanda kita cinta kepada Allah, di mana dengannya kita mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dari situ, kita bisa mengerti kenapa ada orang-orang tertentu yang menganggap kematian adalah masalah kecil, dan sangat mudah baginya menyongsong kematian. Sebab, cinta kepada segala sesuatu selain Allah adalah bagian dari cinta kepada diri, maka apabila ia tinggalkan rasa cintanya kepada dirinya lantaran cintanya kepada Allah, maka akan hilang darinya rasa cinta kepada segala sesuatu, kecuali kepada Allah semata- mata. Di saat itulah ia menjadi Wali Allah (kekasih Allah) yang arif akan-

P: 196

Nya, rindu kepada-Nya, rindu kepada alam malakut-Nya, dan sangat merindukan pertemuan dengan-Nya.(1) Husain dan para sahabatnya di Karbala membuktikan kebenaran itu semua. Mereka menjemput kematian bagaikan menjemput seorang kekasih. Mereka merasakan kematian bagaikan manisnya madu. Mereka menyongsong kematian bagaikan menyongsong ketibaan pengantin baru.

Kematian hanya sekadar gerbang yang membawa mereka memasuki segala kenikmatan; membawa mereka berjumpa dengan para kekasihnya; mencicipi segala bentuk nikmat Allah Ta'ala.

Simaklah apa yang dikatakan 'Ali Akbar saat ia berpisah dengan ayahnya. Riwayat berkata, “Ketika 'Ali Akbar putra tertua Imam Husain luka parah di Karbala, dan ketika ia memohon air dari ayahnya, tetapi sang ayah tak mampu memberinya air, Husain berkata, 'Bersabarlah anakku.

Sebentar lagi datukmu akan menyambutmu dengan secawan air dari Telaga Kautsar ..." Tak lama berselang, tiba-tiba 'Ali Akbar berteriak, "Ayahku Husain, kini aku saksikan datukku Rasulullah, 'Ali, dan Fatimah tengah menantiku dan telah menyiapkan secawan air Telaga Kautsar bagiku ...

mereka juga menantimu dan telah menyiapkan semua itu untukmu.” Adakah orang yang akhir hayatnya semulia itu akan merasakan pedihnya kematian? Adakah kematian baginya sebuah derita? Sungguh, Karbala adalah medan ligă Allāh. Gugur bersama Husain di Karbala adalah momen perjumpaan dengan Allah yang paling berharga.

Salam sejahtera bagimu, ya, Husain. Salam sejahtera bagimu, ya, 'Ali Ibn Husain; salam sejahtera bagimu, wahai putra-putri Husain; dan salam sejahtera bagimu, wahai sahabat-sahabat Husain.

Catatan:

1 Khawarizmi, Maqtal al-Husayn, 1:184.

2 Ibn Nima al-Hilli, Mutsir al-Abzan, h. 24.

3 Ibn Thawus al-Husayni, al-Lubüffi Qatl al-Tufüf, h. 10; Ibn Nima al-Hilli, Mutsir al-Abzān, h.25.

4 Ibn Nima al-Hilli, Mutsir al-Ahzân, h. 24.

5 Lihat Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim 7:224/225.

6 Lihat Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim 7: 201.

P: 197


1- Lihat Mulla Sadra, Tafsir al-Qur'an al-Karim 7: 201.

P: 198

IMAM HUSAIN: FIGUR TELADAN...........

Point

IMAM HUSAIN: FIGUR TELADAN AJARAN DAN MAKNA ISLAM (KETUNDUKAN PENUH), SERTA KESYAHIDAN DALAM PERSPEKTIF PENGALAMAN MISTIS

GERARDETTE PHILIPS

In spite of a historical fact, Imam Husayn's feat in Karbala could be drawn upon addressing the meaning of Islam and Martyrdom in the light of a mystical experience. In facing martyrdom, Imam Husayn struggled affirming his belief in the Oneness of God, Tawhid and the sheer awareness that Allah was with him. His journey to Karbala was spiritual journey to unite with the One; road from separation to union with the Absolute. As a mystic and true muslim, Imam Husayn's actions springs from the Truth and responds each moment of struggle within full expression of active and practical; not passive and theoretical. His words and gestures were wholly transcendental showing total life of his love and sacrifice for the living of true ‘Islam.

Imam Husayn passed through three stages of being a mystics; journey from God, to God and in God, those allow him to surrender totally and unite with Him. The embodiments of the virtues of the way are detachment, generosity, vigilance, sapiental discernment, unitive concentration and humility.

He is a true wayfarer for be fully discerned, chose, loved and knew that all

P: 199

manifestations are only parts of the Supreme reality. It is time for us to take this as an imperative lesson; in a world of multiplicity, we are sought to seek integration in diversity, into the Unity and the Face of God, referring to His names and Qualities reflected upon the myriads of mirrors of existence.

Pengantar

Menurut Seyyed Hossein Nasr, realitas Tuhan yang berdiri di jantung Islam adalah Esa, Absolut, dan Tak Terbatas, Mahabaik dan Maha Pengasih, Maha Esa yang pada saat yang sama adalah Transenden dan Imanen, lebih besar dari segala yang kita bayangkan (2007: 43) Ia adalah Tuhan yang menyeru setiap manusia dalam situasi terpentingnya, dan satu-satunya jalan terlayak untuk menjawab seruannya adalah dengan berserah diri kepada Yang Absolut. Ini dalam pemaknaan yang sederhana.

Dalam pemaknaan yang tinggi, hal ini berarti kesadaran atas ketiadaan kita di hadapan Tuhan, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an, “Segala penghuni (baik di surga maupun di bumi) akan binasa, dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang Maha Agung, Maha Mulia." (QS 55:26—27). Nama Islam yang sesungguhnya bersemi dari realitas ini. Al-Islām berarti penyerahan dan kedamaian, atau dengan kata lain, kedamaian yang datang dari sikap penyerahan diri kepada Tuhan. Penyerahan ini tak hanya terbatas pada keinginan, tetapi juga pada segenap diri seseorang, setiap hari, setiap saat, kepada Tuhan Yang Esa—sesuai kesaksian Islami (Syahādah) yang pertama-La ilaha illallāh (tak ada Tuhan selain Allah). Seseorang yang memberikan kesaksian sejati atas Syahādah adalah seorang Syahid (secara literal berarti "saksi"). Syahid adalah seorang yang meniadakan segala eksistensinya untuk teladan yang suci (sacred ideal). Personifikasi ideal atas pemahaman akan syahid adalah Imam Husain, anak dari Ali dan cucu dari Nabi Muhammad Saw. yang mengorbankan dirinya dalam peperangan Karbala, dan melalui tindakan yang heroik ini, ia menjadi suci.

Dalam makalah sederhana ini, saya akan mencoba membahas arti Islam dan kesyahidan dalam perspektif pengalaman mistis. Seseorang

P: 200

yang mempersonifikasikan esensi dari ketiga hal ini tak lain adalah Imam Husain. Pengalaman uniknya pada Absolut-Mysterium, tremendum et fascinans (misteri yang menggetarkan dan memesonakan] (Otto,1964:

25) di medan perang akan melihatnya sebagai seorang sufi dan sebagai seorang musafir. Imam Husain sebagai seorang sufi akan dilihat dari definisi dan sejumlah karakteristik mistik yang dirigkas oleh Evelyn Underhill. Sementara Imam Husain sebagai musafir dan personifikasi dari "jalan kebajikan" akan dibahas melalui (pandangan) Frithjof Schuon dalam "Memahami Esoterisme sebagai Prinsip dan Jalan" - al ihsan(1). Pembahasan ini akan diikuti oleh pelajaran-pelajaran yang saat ini kita terpanggil untuk mempelajarinya dari sosok Imam Husain. Namun, pertama-tama kita hendaknya menelisik lebih dalam tentang siapa Imam Husain dan apa signifikansi ajaran, arti Islam (ketundukan), dan kesyahidan dalam perspektif pengalaman mistis.

Siapakah Imam Husain?

Di Madinah, hari ketiga bulan Syakban, dan pada tahun keempat setelah Hijriah—624 M, Imam Husain lahir sebagai anak dari Imam Ali dan Fatimah al-Zahra, putri dari Nabi suci Muhammad Saw. Ia adalah cucu kedua Nabi Muhammad Saw. dan ia adalah penerus khilafah Nabi yang ketiga, setelah ayah dan kakaknya, Hasan.

Pengorbanan Diri Imam Husain

Pada hari kesepuluh Muharam 680 M, Imam Husain syahid di Karbala, Irak. Seseorang baru akan bisa mengapresiasi pengorbanan terbesar Imam di Karbala ketika sesorang bisa menyadari bahwa Islam bukan hanya paket ritual untuk diikuti, tetapi juga merupakan revolusi sosial dan spiritual yang berusaha mentransformasikan kehidupan manusia. Nabi Muhammad Saw., melalui wahyu al-Qur'an, berupaya menciptakan masyarakat yang adil dan penuh kebajikan, yang akan mengeliminasi segala perbedaan

P: 201


1- Schuon memulai tulisannya tentang "Memahami Esoterisme" dalam kaitannya dengan "objektivitas". "Kondisi istimewa manusia adalah objektivitas, di mana substansi paling esensialnya adalah Sang Absolut. Tak ada pengetahuan tanpa objektivitas intelejensia; tak ada kebebasan tanpa objektivitas kehendak, dan tak ada kemuliaan tanpa objektivitas jiwa, " (1981, h. 15). Dia menjadikan penjelasan ini lebih jelas ketika menyebutkan "intelegensia atau pengetahuan menjadi objektif ketika ia bisa menyerap objek sebagaimana adanya, dan bukan dalam kondisi yang telah diubah bentuknya oleh subjek." (Ibid.)

antara Arab dan Ajam (non-Arab), hitam dan putih, kaya dan miskin, laki- laki dan perempuan. Nah, Imam Husain dibesarkan di lingkungan seperti ini. Ia telah meneguk moralitas Islam dari orang tua dan kakeknya, ia telah berkomitmen terhadap cita-cita Islam dan memiliki hikmah al-dzawqiyyah (pengetahuan intuitif) Sang Absolut. Oleh karena itu, pantaslah ia kecewa ketika Yazid, anak dari Amir Mu'awiyah, yang berhasil menjadi khalifah.

Tindakan Yazid yang dengan terang-terangan mencemooh ajaran Islam dan menghapuskan demokrasi yang telah ditetapkan oleh Rasulullah telah sangat terkenal keburukan perangainya. Yazid merupakan orang yang memiliki kecanduan terhadap kesenangan yang nyeleneh, peminum minuman keras, dan kesenangan-kesenangan lain yang mengerikan.

Gubernur Madinah menerima perintah dari Yazid untuk memanggil Imam Husain dan menuntut kesediaannya untuk setia terhadap Yazid.

Imam menolak dan justru meminta Yazid untuk memperbaiki tabiat- tabiatnya yang kejam. Marah, Yazid mengancam akan membantai dengan kejam semua pengikut Imam Husain andai mereka masih tidak mau menerimanya. Namun, Imam tetap teguh pendiriannya; ketika ia meneruskan perjalanan ke kota pemberontakan di Kufah, kafilahnya dicegat dan dikepung di padang pasir oleh tentara-tentara Yazid. Tenda- tenda Imam Husain dibakar dan sumber-sumber air mereka diputus. Anak tertuanya, Ali Akbar, dipenggal di depan matanya. Kepala anak bungsunya, Ali Ashgar, dipertontonkan di ujung salib oleh tentara-tentara Yazid, dan anak perempuannya, Sakinah, meninggal karena kehausan. Lalu, sekali lagi Yazid menuntut kepada Imam Husain untuk menerima kekuasaannya, dan lagi-lagi, Imam menyatakan bahwa ketaatannya hanya kepada Tuhan dan bukan kepada makhluk-Nya. Lantaran hal ini, Imam Husain dibunuh di medan perang Karbala seolah-olah ia sedang bersujud di sajadah, sembahyang dan berserah kepada Tuhan. Kepalanya dibawa ke Damaskus dan diserahkan di kaki Yazid. Hingga hari ini, Imam Husain dihormati sebagai “pemimpin para syuhada”, sebagai seorang yang tidak semata

P: 202

korban dari penguasa yang ambisius, tetapi ia juga berpegang teguh pada keimanan yang ia yakini.

Pengikut Islam Sejati

Sepanjang hidup Imam Husain, baik itu ketika bersama keluarganya, rekan-rekannya, atau dalam perjalanannya ke medan perang, atau di medan perang itu sendiri, sejatinya semuanya adalah perjumpaan dengan Tuhan. Ia hidup sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan atasnya; “Dibedakan dari makhluk lainnya dengan memiliki intelejensia transenden, kehendak bebas, dan kecakapan berkata.” (Schuon, 1989:

15). Islam adalah agama: [i] al-iman-keyakinan, [ii] al-islamsyariah/ hukum, secara literal bermakna 'ketundukan', dan [iii] al-ihsan-jalan, secara literal ‘kebajikan' yang memenuhi kehidupan Imam Husain, dan menjadikannya senantiasa mengingat Tuhan yang telah memberinya kekuatan untuk berbicara. Schuon menegaskan bahwa, “Makna esensial dari elemen ketiga (al-ihsan-jalan) adalah “mengingat Tuhan" yang teraktualisasi lewat perkataan yang berdasarkan pada dua elemen pertama.

Dari perspektif metafisik yang sedang dipertanyakan di sini, al-iman adalah keyakinan pada Absolut dan pada kemelekatan segala hal terhadap Absolut; al-Islam dan Nabi sebanyak ia mempersonifikasikan Islam, adalah kesetaraan pola pandang tentang Absolut dan dengan Absolut; dan terakhir, al-ihsan menuntun dua elemen lainnya untuk kembali ke esensi mereka dengan kekuatan perkataan sakral, sebagaimana halnya perkataan ini adalah kendaraan bagi intelegensia dan kehendak.” (1989:

15—16). Ketika utusan Yazid mengancam Imam Husain dan pengikutnya dengan rangkaian konsekuensi menakutkan apabila mereka tidak taat kepadanya, Imam menolak dan berkata, “Katakan kepada Yazid untuk menggoda mereka-mereka yang ada setelah berakhirnya dunia dengan segala kenyamanan duniawi. Aku adalah imam, utusan risalah Tuhan, aku tak akan pernah tunduk kepada seseorang yang percaya kepada Tuhan,

P: 203

tetapi menentang kalimat Tuhan dalam perkataan dan perbuatan, serta menyebarkan kemungkaran di muka bumi," (tersebut di Akhtar, 2003).

Imam Husain: Pelopor Kemanusiaan

Evelyn Underhill, dalam studinya tentang Mistisisme, menyebut para mistikus sebagai “pelopor kemanusiaan” (1974). Dibimbing oleh Ruh (Ilahi), para lelaki dan wanita ini hidup di atas (melampaui) tataran manusiawi, dan mengabarkan balik kepada orang-orang lainnya tentang kemungkinan-kemungkinan manusia biasa. Mereka hidup dengan kesadaran pada ruhnya, di mana Ruh Tuhan dan ruh manusia bersentuhan.

Al-Qur'an memberikan kesaksian terhadap hal ini, “Dan ketika Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, lalu Aku tiupkan ruh-Ku kepadanya (manusia), maka tunduklah kamu (malaikat) kepadanya dengan bersujud," (QS 15:29,38:72).(1)Mereka merelasikan kejadian yang terjadi pada mereka di bawah pengaruh cinta Tuhan. Dan perlu diketahui, pengalaman- pengalaman itu tidak terbatas pada mereka sendiri, tetapi juga berpotensi bagi semua orang.

Imam Husain berada di antara kelompok pengembara-pengembara yang penuh semangat. Tak ada peta yang tersedia bagi perjalanannya, tetapi ia bisa memetakan wilayah yang tak diketahui, ia dituntun lebih dalam menapakinya oleh Ruh (Tuhan-peny.). Ketika Yazid menuntut ketundukan Imam atasnya, Imam Husain meninggalkan Madinah pada malam hari dan sampai di Mekkah. Setelah dari Mekkah, ia berangkat menuju Kufah, di mana utusannya, Muslim, dibunuh. Kabar tentang terbunuhnya Muslim berimbas pada beralihnya tujuan ke Karbala, Irak. Peta ia gambar, ia tuliskan nama-nama pada daerah, pengalaman- pengalaman ia ceritakan, semuanya menjadikannya “bukan pengembara asing, melainkan sosok terbuang yang kembali ...," (Underhill, 1974).

P: 204


1- Ayat ini menegaskan tiga pokok bahasan: [1] Nafas dari ruh Allah kepada manusia, yakni kemampuan Tuhan seperti ilmu (knowledge) dan kehendak (will), yang mana jika digunakan dengan benar, akan memberikan superioritas di atas makhluk-makhluk lain; [ii] Asal dari kemungkaran dalam arogansi dan iri hati pada Setan, yang hanya melihat sisi terendah dari manusia (tanah liatnya) dan gagal melihat sisi yang lebih tinggi, suatu fakultas yang dibawa dari Ruh Allah; [iii] Bahwa kemungkaran ini hanya menyentuh mereka-mereka yang mengalah kepadanya, dan kemungkaran ini tak memiliki kekuatan terhadap hamba-hamba Allah yang ikhlas, yang tersucikan oleh barakah-Nya.

Imam Husain: Seorang Sufi dan Musafir

Dua perspektif ini akan membantu kita melihat dua hal. Pertama, perjalanan yang tak kenal lelah dari perjalanan hidup Imam Husain.

“Pada akhirnya seseorang akan lelah dari segala sesuatu, kecuali hati yang mendamba dan pengembaraan jiwa," (Rumi). Kedua, kita melihat dimensi esoteris dari perjalanannya, jalannya al-ihsan-jalan kebajikan) dari keterpisahan menuju kesatuan. “Jiwa memiliki ingatan yang berasal dari Tuhan. Jiwa mengingat bahwa rumah sebenarnya adalah bersama Tuhan, dan jiwa membangunkan pencari kepada ingatan ini. Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang membawa kita pulang kembali dari keterpisahan menuju persatuan," (Vaughan-Lee, 1995: 1). Jalan Imam Husain dan kebajikan-kebajikan yang diterima di sepanjang perjalanan memfokuskan pengalaman-pengalaman Absolut sebagai inti kemanusiaan dan bagaimana transformasi turunannya atas kemanusiaan. Seorang sufi dan musafir mentransformasikan kemanusiaan.

Imam Husain: Seorang Sufi

Definisi mistisisme akan memungkinkan kita melihat kehidupan Imam Husain dalam perspektif pengalaman mistis. Ada beberapa definisi dari mistisisme, dan karenanya adalah mustahil untuk merujuknya atau untuk sekadar menyediakan basis yang cukup baik untuk melihat kehidupan Imam Ketiga ini dengan adil. “Beethoven mendengar suara realitas, dan sedikit darinya terlepas ketika ia menerjemahkannya ke pendengaran kita," (Underhill, 1974: 77). Hal yang sama bisa diutarakan terkait kehidupan Imam Husain. Setiap kali kita berusaha untuk menalarnya dengan meletakkannya dalam kerangka, sedikit darinya akan meninggalkan kita.

Bagaimanapun, kita harus melihat dimensi mistis dari kehidupan Imam Husain bertentangan dengan definisi Evelyn Underhill di buku Mistisisme, "..... Mistisisme, dalam bentuk yang paling murni, adalah pengetahuan yang paling fundamental, pengetahuan akan kesatuan dengan Yang

P: 205

Absolut, dan tak ada lagi yang lain, dan bahwasanya sufi adalah seseorang yang mencapai kesatuan ini, bukan orang yang sedang membicarakannya.

Bukan mengetahui tentang, melainkan menjadi, ini adalah tanda dari permulaan yang sebenarnya," (1974: 72). Evelin mengajukan untuk mengatur, mengilustrasikan, dan menjustifikasi empat karakteristik yang bisa diaplikasikan sebagai ujian (test) terhadap setiap masalah yang diklaim menjadi bagian dari para mistikus. Di antaranya adalah: [i] Mistisisme sebenarnya adalah aktif dan praktis, tidak pasif dan teoretis; [ii] Tujuannya sepenuhnya transendental dan spiritual; [iii] Perkara dan metode mistisisme adalah Cinta; [iv] Hidup bersatu dengan Yang Esa (1974: 81).

Setiap karakteristik-karakteristik ini akan diaplikasikan dalam kehidupan Imam Husain:

1. Mistisisme yang sejati adalah aktif dan praktis, tidak pasif dan teoritis:

Karakter ini melibatkan segenap diri dan tidak hanya sesuatu yang mana pemahaman masih memiliki pilihan. Tindakan bersemi dari Kebenaran.

"Maka mereka yang kita terima sebagai para sufi, harus menerima dan bertindak atas intuisi Kebenaran, yang bagi mereka adalah Absolut. Andai kita mengakui bawa mereka ‘mengetahui doktrin', maka mereka harus “menghidupkan kehidupan'; tunduk kepada usaha terdalam dari jalan sufi ...," (Underhill, 1974: 82—83). Pengetahuan Imam Husain terhadap doktrin meniscayakannya untuk bertindak. Sebagaimana prinsip-prinsip dan hukum-hukum Islam juga menuntut hal serupa, yakni agar ia bertindak untuk mengingatkan dan melindungi umat Islam dalam menghadapi kondisi bahaya. Ia bukan hanya bangkit menentang Yazid, sang tiran, yang telah merampas apa yang menjadi hak Husain, tetapi ia sesungguhnya bangkit untuk mengupayakan reformasi atas umat Islam. Sejatinya, sedikit sekali Muslimin yang menyerahkan kehidupannya pada prinsip-prinsip Islam, bahkan mereka yang tampak seperti pengikutnya pun, pada akhirnya mengkhianatinya. Betapa pun demikian, ini tidak menghalanginya dalam

P: 206

mendedikasikan kehidupannya untuk melindungi umat Islam, sekaligus menyelamatkan prinsip-prinsip Islam. Ia menghidupkan kalimat-kalimat al-Qur'an, "Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu transaksi yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) Berimanlah kepada Allah dan utusan-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan hidupmu. Itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui," (QS 61: 10–11).

Bagi Underhill, pencapaian mistis yang sejati adalah ekspresi paling sempurna dan sulit dalam kehidupan, ia menyebutkan, “Hal ini pada saat yang sama merupakan tindakan cinta, tindakan penyerahan, dan tindakan persepsi tertinggi; tiga pengalaman yang bertemu dan memuaskan tiga aktivitas diri. Agama bisa jadi bertemu aspek yang pertama dan metafisik merupakan pengalaman ketiga dari proses-proses itu. Namun, hanya Mistisisme yang bisa menawarkan term tengah (middle term) dari seri- seri ini; suatu jaringan esensial yang mengikat ketiganya menjadi satu," (1974: 84). Tindakan kepasrahan Imam Husain (al-Islām) benar-benar merupakan "fondasi la ilaha illallah" (Khwaja Moinuddin Chisti).

Kehidupan Imam Husain hidup dalam Islam dan untuk Islam.

2. Tujuan mistisime sepenuhnya transendental dan spiritual Sufi mempunyai reputasi menjadi “mengarah ke satu”. “Ia tidak pernah mencoba mengombinasikan keuntungan dua dunia ... ia mengetahui Tuhan dengan kedekatan, dan intuisi langsung dari Sang Absolut membunuh semua nafsu rendah. Ia memiliki Tuhan dan tidak membutuhkan apa-apa lagi," (Underhill, 1974: 84). Jelas bahwa karena Imam Husain memiliki Tuhan dan Tuhan memilikinya, maka ia bisa melangkah meniti jalan kesyahidan hingga akhir. Apabila tindakan ini hanya untuk membela dirinya sendiri, ia tak akan pernah memberikan pilihan kepada sahabat-sahabatnya pada malam kesepuluh bulan Muharam untuk meninggalkannya atau bersama dengannya. Jelas bahwa para musuh hanya menginginkan dirinya, karena itu ia meminta pengikut-

P: 207

pengikutnya untuk kembali karena Yazid hanya ingin membunuhnya. Di medan perang, Imam menghadap Tuhan-nya dan mendoakan sahabat- sahabatnya, darahnya mengalir bukan untuk memperoleh kerajaan dunia, melainkan karena ia tergulung dalam darah dan debu demi kebenaran.

Muhammad Iqbal mengilustrasikan bahwa “Imam Husain telah menjadi fondasi aqidah umat Islam; syahadah. Pengorbanan penuh segala eksistensi Imam Husain untuk Sang Absolut telah menjadikannya seorang syahid sejati," (ICAS, 2008).

3. Perkara dan metode mistisisme adalah cinta Ini adalah salah satu dari karakter unik mistisisme sejati. Sebagaimana yang ditegaskan Underhill bahwa “Ini adalah sebuah ketidaksabaran, tindakan keluar yang penggerak kekuatannya adalah cinta yang dermawan.

Kata cinta, sebagaimana diaplikasikan kepada sufi, adalah dedikasi penuh dari kehendak; hasrat dan kecenderungan jiwa menuju Sumbernya. Ini adalah kondisi akses sederhana, suatu pergerakan hidup: lebih langsung dalam metodenya, lebih valid dalam hasil-hasilnya ...," (1974: 85). Para sufi selalu menginginkan hal ini. Ketika Imam Husain dan pendukung- pendukungnya tinggal di tenda di Karbala, terkepung oleh tentara Yazid, dan tidak mendapatkan akses makanan dan minuman sejak hari ketujuh Muharam, tetapi Imam tetap menolak untuk berkompromi. Sebenarnya, ia bisa saja menyelamatkan dirinya, keluarganya, dan pendukung- pendukungnya dengan berjanji untuk mendukung rezim Yazid. Ia bisa saja melepas dahaganya dengan menerima tuntutan Yazid, tetapi justru ia memilih untuk memuaskan dahaganya dari Sumbernya dan memilih untuk berperang ketimbang harus menyerah kepada Yazid yang sumbernya adalah kekuasaan, bukan Tuhan. Imam dan pendukungnya syahid pada 10 Muharam, setelah menderita dalam lapar dan dahaga yang sangat selama tiga hari. Imam Husain mengetahui siapa Tuhannya dan ia tahu juga bahwa cintanya mengalir dari hatinya,"tempat suci terdalam dari seseorang, cinta dan kehendaknya, sumber dari energi dan kehidupannya. Para sufi 'jatuh

P: 208

cinta dengan Sang Absolut'...," (Underhill, 1974: 72). Hubungan jiwa ini menjadikan kata-kata dari Dinding Pengetahuan Diri sebagai suatu realitas (kenyataan) bagi Imam Husain. “Karena diam bukanlah Tuhan, berkata-kata juga bukan Tuhan; puasa bukanlah Tuhan, makan juga bukan Tuhan; sepi bukanlah Tuhan, teman juga bukan Tuhan, dan segala hal yang berpasangan lainnya juga bukan Tuhan, Ia tersembunyi di antara mereka, dan tidak akan ditemukan oleh usaha apa pun dari jiwamu, kecuali hanya dengan cinta di hatimu. Ia tidak bisa diketahui dengan rasio, tidak bisa didapatkan dengan pemikiran, tidak juga bisa disimpulkan dengan pengertian; tetapi Ia bisa dicintai dan dipilih dengan keinginan penuh cinta dari hatimu .... Seperti tembakan buta dengan anak panah tajam dari cinta yang dirindukan, tidak akan pernah gagal membidik Tuhan," (hlm.

108).

4. Hidup bersatu dengan Yang Esa Hasrat hati terhadap kebenaran tak pernah cukup untuk menghantarkan kita kepada Tuhan. Hal ini meniscayakan petualangan, "diperoleh dari kenikmatan realisasi intelektual atau dari kerinduan emosional yang paling akut .... Ia dicapai dengan psikis yang sulit dan proses spiritual yang sering disebut sebagai Jalan Sufi." (Underhill, 1974: 108). Bagi para sufi, ada tiga jenis perjalanan: perjalanan dari Tuhan, perjalanan menuju Tuhan, dan perjalanan di dalam Tuhan. Perjalanan dari Tuhan adalah perjalanan jiwa Imam Husain ke dunia. Perjalanannya menuju Tuhan adalah momen penuh rahmat ketika ia terbangun oleh pemilihan Yazid sebagai khalifah.

Ingatan jiwanya terhadap persatuan menyalakan api rindu, dan ia pun mulai merindu, menempuh perjalanan yang banyak menguras tenaga menuju Rumah. Berpaling dari dunia luar dan hasrat rendah ego, ia melihat ke dalam, penderitaan menarik perhatiannya kepada kehadiran tersembunyi di dalam hatinya. Perjalanannya menuju Tuhan adalah proses fană, peleburan (peniadaan) ego. Dengan segenap pengalaman di medan perang Karbala, Imam Husain mempelajari seni penyerahan, mengakui

P: 209

keberadaan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Ia mulai mengecap kebebasan yang datang dari penyerahan pada Kebenaran, tetapi juga sadar dengan kesakitan yang menyertainya, seperti pepatah Parsi menyebutkan, “Ego tidak akan pergi dengan gelak tawa dan cumbuan. Ia terukir dalam penderitaan dan tergenang dalam air mata." Menjauh dari dunia dan kembali ke Tuhan meniscayakan banyak usaha. Dan, apa yang terjadi saat ini pada Imam Ketiga adalah kesadaran yang lebih mendalam akan kehadiran-Nya yang melarutkan egonya dengan penuh kesakitan. Saat ini, perjalanan spiritual Imam Husain telah memulai perjalanannya ke dalam Tuhan. Di dalam hatinya, ia bersatu dengan Kekasihnya. Tingkatan kesatuan ini adalah kemenyeluruhan Diri, yang tertanam dalam di alam ketidaksadaran. Kesaksian pertamanya sebagai syahid terjadi di Karbala, Imam Husain menjerit, "Butalah mata yang tak melihat-Mu ...." Penyerahannya benar-benar total, dan sekarang ia diperkenankan untuk mengalami sifat alami terdalamnya, di mana ia menyatu dengan Tuhan selamanya. Fanā` adalah peleburan ego yang menuntun kepada baqa', kekal di dalam Tuhan. Tingkatan kesatuan ini mulai terbentang secara dinamis dalam diri seorang musafir.

Imam Husain: Sang Musafir, Jalan Kesatuan—Tauhid

“Kesatuan objek meniscayakan totalitas subjek; sifat alamiah Tuhan yang unik dan tak terbandingkan meniscayakan iman yang paripurna.” (Schuon, 1981: 235). Ini adalah ihsanjalan yang Imam Husain tempuh, karena di dalam dirinya ada sesuatu yang disebut totalitas, atau sesuatu yang absolut atau yang tak terbatas. Adapun faktor yang menyebabkan dia bisa merespon dengan totalitasnya sendiri, tak lain karena Hati atau Cinta. Dalam bahasa Schuon, “Agama Hati atau Cinta, dari pola pandang praksis, adalah kekuatan interiorisasi. Kebenaran memiliki kualitas interiorisasi sampai pada tahap tertingginya; Kebenaran yang absolut adalah sepenuhnya interiorisasi," (1981: 234). Satu-satunya kebenaran adalah bahwa “tak ada tuhan selain Tuhan.” Kebajikan (ihsan) dengan sifat

P: 210

paling alaminya selalu memberikan kesaksian pada Kebenaran, selain juga memiliki kualitas interiorisasi.

Imam Husain: Personifikasi Jalan Kebajikan

Manusia yang notabene diciptakan menurut bentuk Tuhan (shürat Allahl image of God) mempunyai intelegensia untuk masuk ke dalam kearifan dan kontemplasi; mempunyai kehendak yang dianugerahkan bersama kebebasan dan kekuatan; mempunyai jiwa yang mampu mencinta dan ditempati kualitas kebajikan. Manusia mempunyai hak untuk bahagia, tetapi dengan jalan yang paling mulia. Schuon menjelaskan hal ini dengan lebih detail, “Kemuliaan ditandai dengan korespondensinya dengan hierarki riil nilai-nilai: yang lebih tinggi diutamakan atas yang lebih rendah, dan ini teraplikasikan dalam tataran perasaan (sentiment), pemikiran dan kehendak. Telah disebutkan bahwa kemuliaan karakter akan ada jika kita meletakkan kehormatan dan martabat moral di atas kepentingan pribadi, yang berarti bahwa dalam analisis terakhir, kita harus meletakkan realitas yang tidak tampak di atas realitas tampak yang ilusif, baik secara moral maupun secara intelektual,” (1981: 103). Kemuliaan adalah cara objektivitas dan transendensi.

Kemuliaan tercipta dari:

1. Ketidakterikatan (detachment): Kebajikan ini mengimplikasikan objektivitas dalam kaitannya dengan diri seseorang yang menumbuhkan kesabaran. Imam Husain yang pergi ke Kufah untuk menolong kaumnya dipertemukan dengan gubernur Kufah; salah seorang utusan kepercayaan Yazid, namanya Ibn Ziyad.

Ia mengirimkan pasukan untuk mencegat Imam Husain dalam perjalannya ke Kufah, dengan tujuan memaksa Imam untuk menyerah atau membunuhnya jika imam menolak untuk menyerah.

Sebagaimana yang kita ketahui, Imam Husain menolak, dan

P: 211

perjalanannya dialihkan ke Karbala. Sejak dipanggil oleh penduduk Kufah, bisa jadi Imam Husain telah merasakan ikatan batin kepada mereka, tetapi ia tertuntut untuk tidak terikat. Tidak terikat berarti tidak mencintai apa pun selain Tuhan, “Ini adalah kebesaran jiwa, yang terinspirasi oleh suatu kesadaran terhadap nilai-nilai absolut, dan dengan demikian juga oleh ketidak-sempurnaan dan ketemporalan nilai-nilai relatif, yang kemudian memungkinkan jiwa untuk terus menjaga kebebasan terdalam dan jaraknya dalam kaitannya terhadap sesuatu.” (1982: 107). "Mengalami” (merasakan) suatu kesadaran pada Tuhan, artinya Imam Husain mengalami (merasakan) maksud dari ketidakterikatan.

2. Kedermawanan: Kebajikan ini mengimplikasikan kapasitas untuk memosisikan diri seseorang dalam posisi orang lain, dan dengan demikian menjadi satu-diri dalam orang lain, sehingga nantinya dapat menumbuhkan keikhlasan. "Contoh Ilahi dari kedermawanan adalah Rahmat (belas kasih), atau lebih tepatnya, elemen Kebajikan- Keindahan-Kebahagiaan; Rahmat Tuhan berkorespondensi dengan kepercayaan pada pihak manusia suatu kebajikan yang mengoposisi keraguan, kepahitan, dan keputus-asaan." (Schuon, 1981: 105). Nilai kedermawanan yang Imam Husain tunjukkan terdeskripsikan dengan baik dalam insiden yang terjadi dalam perjalanannya menuju Karbala.

"Hurr, pimpinan resimen Yazid, menghalangi jalan Husain, dan tidak memperbolehkannya untuk memasuki Kota Kufah .... Ketika resimen Hurr kekurangan pasokan air, Imam Husain yang murah hati lalu menginstruksikan pasukannya untuk memberikan air dari stok mereka sendiri, bukan hanya untuk resimen Hurr, bahkan kepada kuda-kuda mereka. Hurr, anaknya, saudara lelakinya, dan budaknya lalu bergabung dengan Imam Husain dan memohon maafnya.

la diterima dengan hangat oleh Imam Husain ...," (disebutkan di Akhtar, 2003).

P: 212

3. Kewaspadaan: Kewaspadaan berkaitan dengan kedisiplinan.

Secara internal, ia mendominasi diri seseorang dan secara eksternal menstimulasi orang untuk melakukan segala sesuatu dengan benar; tidak setengah-setengah. “Kewaspadaan adalah kebajikan afirmatif dan kombatif yang mencegah kita untuk melupakan atau mengkhianati" sesuatu yang sangat dibutuhkan: “Ini adalah kehadiran pikiran yang terus-menerus memanggil kita kembali ke ingatan akan Tuhan ...," (1981: 109). Sebelum berangkat ke Kufah, Imam Husain "mampir di Mekkah, tempat tersuci dalam agama Islam, di mana Nabi dengan ketat melarang pertumpahan darah. Namun, ketika Imam Husain merasakan ancaman atas hidupnya di kota suci itu, segera ia meninggalkannya tanpa sempat menyempurnakan Haji, yang sebenarnya hanya tersisa beberapa hari, semata demi menghindari kemungkinan pertumpahan darah," (disebutkan Engineer, 1997).

Kebajikan ini menuntun Imam Husain dalam mengambil setiap keputusannya, dan menjauhkannya dari kecerobohan dalam segala perkara, baik perkara-perkara kecil maupun besar. Ia hidup dari masa ke masa di mana kebajikan ini terbangun, “Ini terbangun dengan kesadaran atas waktu sekarang dari ke-sekejap-an yang terbarui secara terus-menerus, yang merupakan milik Tuhan, bukan milik dunia; milik Realitas, bukan milik mimpi.” (1981: 109).

Kearifan yang bijak dan konsentrasi yang menyatu: Kebajikan ini merujuk kepada pengetahuan hati, bukan pengetahuan mental. Dan, agar (pengetahuan) ditentukan oleh Sang Absolut, mesti terikat kepada kejujuran; agar menyatukan konsentrasi dengan Sang Absolut dalam pandangan, mesti terikat pada nilai ketulusan. "Nilai ketulusan memunculkan pertanyaan tentang garis pembatas antara apa-apa yang wajib dan apa-apa tidak. Di sinilah perbedaan bermain: di satu sisi, antara kebenaran absolut dan kebenaran relatif, dan di sisi lain antara kebaikan yang absolut dan kebaikan yang relatif ..." (1981:

112). Kesyahidan Imam Husain dapat menandai sejarah, tepat karena

P: 213

berseminya kebajikan ini hingga akhir hayatnya. Dengan menolak untuk patuh kepada Yazid, Imam Husain tidaklah mengkhianati apa yang kita pinjam dari Sang Absolut.

5. Kerendahan Hati: Kebajikan ini bersumber dari ketergantungan kita yang total kepada Tuhan. Banyak dari perkataan Imam Husain berformat percakapan langsung dengan Tuhan, yang menceritakan kepada Tuhan tentang ketergantungannya hanya kepada-Nya.

Ketika Imam adalah satu-satunya sosok yang belum terbunuh di medan perang, di mana dalam kondisi seperti itu sangat mungkin baginya untuk berputus asa dan kebingungan, ia justru mengangkat tangannya ke arah langit dengan Kitab Allah di hadapannya, lalu berdoa, "Wahai Tuhan! Engkau adalah penolongku di segala musibah dan harapanku di segala kesulitan. Engkau adalah kepercayaanku dalam setiap masalah yang kuhadapi. Setiap duka cita yang melemahkan hati dan menyisakan jalan buntu serta menjadikan teman meninggalkan temannya dan para musuh bergembira atasnya, semua ini kubawa di hadapan-Mu berikut pengaduan-pengaduanku sebagaimana aku datang kepada-Mu, dan hanya kepada-Mu, bukan pada yang lainnya. Engkau selalu membawa pergi kesedihaanku dan menghapus kesulitan-kesulitanku, karena Engkau-lah sumber segala rahmat, nikmat, dan penghujung segala harapan," (disebutkan Tabari, 241—242 ICAS, 2008).

Sebagaimana yang telah kita ketahui, Imam Husain dengan segala pilihan yang telah ia buat selama hidupnya, termasuk dalam momen- momen terakhirnya “meletakkan realitas yang tak tampak di atas realitas tampak yang ilusif”, menunjukkan kepada kita bahwa ia sadar sepenuhnya dengan keadaan aslinya(1). Hanya seorang sufi yang bisa sepenuhnya membedakan, memilih dan mencintai, mengetahui bahwa segenap manifestasi-manifestasi duniawi hanyalah bagian dari kesatuan tertinggi.

Kehidupan Imam Husain sepenuhnya membicarakan hal ini.(2)

P: 214


1- Sifat alami (fitrah) manusia yang sebenarnya adalah sebuah refleksi Ilahi, dalam bahasa Schuon, "Manusia terbuat dari gambar Tuhan image of God), memiliki kemampuan intelejensia yang mampu membedakan dan merenung; memiliki kehendak yang dianugerahkan bersama kebebasan dan kekuatan; memiliki jiwa, atau karakter, yang mampu mencintai dan berbuat kebajikan." (1981, h. 101).
2- Schuon lagi-lagi membuat perbedaan jelas antara intelejensia, kehendak bebas dan jiwa. *Intelejensia secara horizontal membedakan antara yang esensial dan yang sekunder, antara yang baik dan yang buruk, dan secara vertikal membedakan antara yang nyata dan yang ilusif, antara yang absolut dan yang relatif, antara yang substansi dan yang aksiden, antara yang permanen dan yang temporal. Dan intelejensia mengontemplasikan yang nyata dan yang absolut, baik dari sudut pandang transendensi maupun dari sudut pandang imanensinya: Ini memahami realitas Ilahi baik sebagai Wujud di Luar Sesuatu (Being Beyond Things), atau sebaliknya, sebagai Wujud di Dalam Sesuatu (Being Within Things) sejauh dia memanifestasikan diri-Nya pada sesuatu tersebut. Kehendak bebas secara horizontal memilih antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, antara yang baik dan yang buruk, dan secara vertikal memilih antara yang nyata dan yang ilusif, antara keselamatan dan kehancuran. Dan ia menyadari realitas, baik dengan bersikap abstain terhadap sesuatu sejauh mereka adalah bayang-bayang (ilusi), atau sebaliknya, dengan menerima mereka sebagai pesan-pesan yang nyata, tergantung pada keadaan-keadaan subjektif atau objektifnya. Jiwa, atau karakter, secara horizontal bermakna mencintai apa saja yang memanifestasikan Yang Nyata, baik kebaikan-Nya maupun keindahan-Nya, dan secara vertikal mencintai Yang Nyata itu sendiri, atau kebaikan dan keindahan-Nya. Dan, jiwa menerima sifat alami atau kualitas-kualitas Sang Kekasih dengan berpartisipasi di dalamnya melalui kebajikan, atau kebajikan-kebajikan; dalam kaitannya dengan sesuatu, baik ekslusif maupun inklusif: dengan demikian kebajikan ketakterikatan tidak termasuk, sementara kebajikan kedermawanan termasuk di dalamnya." (1982, h. 101).

Pelajaran-Pelajaran yang Dapat Diambil dari Imam Husain Dewasa Ini

Imam Husain, Sang Sufi, Sang Musafir, dan Sang Syahid, selayaknya tidak hanya dikenang dengan sentimentalitas yang akan menjauhkan kita dari pemahaman yang benar akan siapa sebenarnya sosok Imam Ketiga ini. Namun, peringatan sejati akannya adalah apabila kita berani untuk menyerap radikalitas hidupnya ke dalam kehidupan kita; kejelasan visi, tujuan, keberanian, pengorbanan diri, integritas, dan komitmen. Karena bagaimanapun, dalam konteks kehidupan kita dewasa ini, satu pengalaman yang mengadang kita adalah perjalanan dari satu dunia relijius ke dunia relijius lainnya, di mana kita berhadapan dengan pluralitas agama-agama dan kita tertantang untuk mengintegrasikan keberagaman tersebut ke dalam kesatuan.

Pelajaran pertama yang kita terpanggil untuk mempelajarinya adalah tentang kesatuan. Kehidupan Imam Husain adalah hasil dari tauhid. Seperti yang disampaikan oleh Nasr, “Semua spiritualitas Islam berasal dari kesadaran atas Ketunggalan Tuhan dan realisasi ketunggalan tersebut yang merupakan buah dari Tauhid, di mana pada saat yang sama bermakna keesaan dan integrasi dalam kehidupan seseorang,” (1991:

313). Imam Husain, sang Muslim sejati, telah menerima keesaan Ilahi ini tak hanya pada level transendensi, tetapi juga pada level imanensi.(1) Ia tak pernah terjauhkan sekejap pun dari Ketunggalan Tuhan. Ia mengalami transformasi jiwa manusia menuju arah kesempurnaan dan bernafaskan Nafas al-Rahman (nafas penyayang). “Tak ada apa pun, kecuali semuanya adalah konsekuensi (akibat) dari hembusan pada realitas arketip (pola dasar) semua yang ada dalam Intelek Ilahi, atau Nafas al-Rahman (Nafas Penyayang)," (Nasr, 2007: 44). Keberagaman yang ada dalam Islam; Syi'ah, Sunni, Sufi, Salafi, Ahmadiyah, Arab, maupun yang di luar Islam, yakni keberagaman agama-agama lain; Kristen, Hindu, Buddha, Yahudi, dan seterusnya, mendesak dilunturkan keberagamannya hingga membiarkan Keesaan bersinar abadi. Karena bagaimanapun, apabila kita kembali ke

P: 215


1- "Kehidupan relijius tradisional scorang Muslim didasarkan pada pergerakan ritmis antara kutub transendensi dan imanensi, antara ketegasan dan kasih sayang, antara keadilan dan pemaafan, antara rasa takut akan hukuman dan harapan akan rahmat yang didasarkan atas cinta Tuhan kepada kita." (Nasr, 2007, h. 44).

daratan Karbala, siapakah di antara kita yang berkenan bergabung dengan Imam Husain? Mudah-mudahan kita semua akan sepakat bahwa kita bergabung dengan Imam Husain dalam peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Inilah jihad yang sebenarnya, perjuangan terdalam bagi Kebenaran. Hal ini memberi kita pelajaran kedua yang masih termasuk dalam konteks keberagaman dan keterpisahan.

Wajah Tuhan (wajh Allah) disebutkan beberapa kali di dalam al- Qur'an. Ini adalah aspek ketuhanan yang disaksikan dunia dan yang terefleksikan pada setiap orang dan segala jenis makhluk. “Wajahnya merujuk kepada Nama-Nama dan Kualitas-Kualitas-Nya, bukan dalam nama dan kualitas itu sendiri, tetapi lebih pada ketika mereka direfleksikan pada sekian banyak cermin keberadaan. Wajah ini tak lain adalah wajah yang manusia spiritual menghadap menuju Tuhan. Manusia kembali pada Tuhan dengan menghadapkan wajahnya pada wajah Tuhan, dan akhirnya dengan menyadari bahwa dirinya sendiri adalah cermin di mana Tuhan mengontemplasikan Wajah Suci-Nya.” (Nasr, 1991: 322). Wajah Tuhan inilah yang tidak hancur, "Segala sesuatu itu hancur, kecuali Wajah-Nya," (Srua XXVIII, 88) yang memberikan kekuatan kepada Imam Husain untuk mencapai tujuan kehidupan manusia, seperti yang disebutkan oleh Nasr, “Tujuan dari kehidupan manusia adalah untuk menyadari Wajah ini, sementara manusia berada pada keadaan manusia sebagai keberadaan yang Tuhan telah ciptakan menurut “gambar-Nya" (ala süratih). Andaikan setiap wajah di muka bumi ini adalah Wajah Allah dan kita berhenti memahaminya, maka sejatinya kita melawan pernyataan Al-Quran, “Ke mana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah". Sekali lagi, kita diseru layaknya Imam Husain untuk mematikan" diri-diri kita sendiri yang penuh nafsu, dan melalui kematian ini—layaknya Imam Husain- mendapatkan akses pada kehidupan ruh (spiritual) dan datang untuk mengetahui Tuhan kita, dengan demikian memenuhi tujuan penciptaan dan tujuan wahyu Qur’ani, yang tak lain memungkinkan manusia untuk

P: 216

mengetahui dan mencintai Tuhan, serta mematuhi Keinginan-Nya selama perjalanan duniawi ini, perjalanan dari keterpisahan menuju kesatuan.

Kesimpulan

Makalah ini mendekati kehidupan Imam Ketiga, Imam Husain, dengan keyakinan bahwa pengalaman mistiknya bersemi dari kepercayaannya terhadap Tuhan yang Satu. “Kesaksian Islam yang pertama (Syahadah) — yang berisi segala unsur metafisik dan yang juga memiliki kekuatan untuk mengoperasikan transformasi jiwa manusia menuju arah kesempurnaan primordialnya, adalah La ilaha illallah (tak ada Tuhan selain Allah)," (Nasr, 1991: 312).

Imam Husain tidak menawarkan sebuah program, atau bahkan sebuah metode, ia juga tidak pernah menekankan kesakitannya atau juga perjuangannya. Ia bisa menghadapi kesyahidannya karena keyakinannya akan Keesaan Tuhan, Tauhid, dan kesadaran tinggi bahwa Allah bersamanya.

Imam adalah pengikut sejati Islam dan pelopor kemanusiaan. Kita melihat Imam Husain sebagai sufi dan sebagai musafir. Kata-kata dan bahasa tubuhnya memberikan ekspresi pada kesakitan dan kebingungan yang kita semua kadang alami, tetapi perbuatan Imam Husain bersemi dari Kebenaran dan merespon setiap momen aktif dan praktis, tidak pasif, dan teoritis. Ia bertujuan pada apa yang sepenuhnya transendental dan menunjukkan kepada kita dalam banyak cara bahwa perkara hidupnya adalah cinta dan pengorbanan. Lalu, kemanakah sikap Imam ini akan menuntunnya? Hasrat hatinya pada Kebenaran adalah cukup baginya untuk membawa dia kepada Tuhan. Tiga perjalanan Sang Sufi; dari Tuhan, menuju Tuhan, dan dalam Tuhan, memungkinkannya untuk berserah secara total, sehingga menyatukannya dengan Tuhan.

Ini adalah ihsan-jalan, yang diambil Imam Husain, ini adalah salah satu penyerahan dan kepercayaan kepada Tuhan (tawakkul) yang bersemi dari jantung cinta. Personifikasi dari jalan kebajikan, Imam Husain

P: 217

memancarkan beragam kebajikan; ketidakterikatan, kedermawanan, kewaspadaan, kearifan yang bijak, dan konsentrasi yang menyatu, serta kerendahan hati. Hanya seorang sufi yang bisa secara penuh membedakan, memilih dan mencintai, mengetahui bahwa semua manifestasi duniawi hanyalah bagian dari Kesatuan tertinggi. Imam menunjukkan kepada kita bahwa hanya kekuatan cinta yang bisa mengundang kita untuk tegak tak gentar membela Kebenaran; terlepas dari segala kesakitan fisik yang tidak ia hiraukan.

Sebuah kekuatan bagi kita, Imam Husain menyeru suatu penantian kontemplatif dan pendengaran yang disertai kesabaran dan kepercayaan.

Ini bukan waktunya bagi kata-kata. Ia mengajari kita untuk tidak pernah takut. Bagaimanapun, di samping semua pelajaran kehidupannya yang telah ditempatkan di depan kita, dua pelajaran yang paling penting bagi kita hari ini, di dunia yang penuh keberagaman ini, adalah integrasi keberagaman ke dalam kesatuan dan Wajah Tuhan yang merujuk kepada Nama-Nama dan Kualitas-Kualitas-Nya, yang terefleksikan pada sekian banyak cermin eksistensi.

Imam Husain, ruh syahidnya hidup dalam mengajarkan kita bagaimana cara menghadapi banyak kesulitan dan kepelikan, yakni (dengan) jihad internal. Semoga peringatan Imam Husain senantiasa menuntun kita dari jihad yang kecil (al-jibād al-asghar) ke jihad yang lebih besar (al-jihad al-akbar). Jihad terbesar menurut hadits Nabi adalah “jihad melawan hawa nafsu”. [] Catatan:

1 Schuon memulai tulisannya tentang "Memahami Esoterisme" dalam kaitannya dengan "objektivitas". "Kondisi istimewa manusia adalah objektivitas, di mana substansi paling esensialnya adalah Sang Absolut. Tak ada pengetahuan tanpa objektivitas intelejensia; tak ada kebebasan tanpa objektivitas kehendak, dan tak ada kemuliaan tanpa objektivitas jiwa, " (1981, h.

15). Dia menjadikan penjelasan ini lebih jelas ketika menyebutkan "intelegensia atau pengetahuan menjadi objektif ketika ia bisa menyerap objek sebagaimana adanya, dan bukan dalam kondisi yang telah diubah bentuknya oleh subjek." (Ibid.) 2 Ayat ini menegaskan tiga pokok bahasan: [1] Nafas dari ruh Allah kepada manusia, yakni kemampuan Tuhan seperti ilmu (knowledge) dan kehendak (will), yang mana jika digunakan dengan benar, akan memberikan superioritas di atas makhluk-makhluk lain; [ii] Asal dari

P: 218

kemungkaran dalam arogansi dan iri hati pada Setan, yang hanya melihat sisi terendah dari manusia (tanah liatnya) dan gagal melihat sisi yang lebih tinggi, suatu fakultas yang dibawa dari Ruh Allah; [iii] Bahwa kemungkaran ini hanya menyentuh mereka-mereka yang mengalah kepadanya, dan kemungkaran ini tak memiliki kekuatan terhadap hamba-hamba Allah yang ikhlas, yang tersucikan oleh barakah-Nya.

3 Sifat alami (fitrah) manusia yang sebenarnya adalah sebuah refleksi Ilahi, dalam bahasa Schuon, "Manusia terbuat dari gambar Tuhan image of God), memiliki kemampuan intelejensia yang mampu membedakan dan merenung; memiliki kehendak yang dianugerahkan bersama kebebasan dan kekuatan; memiliki jiwa, atau karakter, yang mampu mencintai dan berbuat kebajikan." (1981, h. 101).

4 Schuon lagi-lagi membuat perbedaan jelas antara intelejensia, kehendak bebas dan jiwa.

*Intelejensia secara horizontal membedakan antara yang esensial dan yang sekunder, antara yang baik dan yang buruk, dan secara vertikal membedakan antara yang nyata dan yang ilusif, antara yang absolut dan yang relatif, antara yang substansi dan yang aksiden, antara yang permanen dan yang temporal. Dan intelejensia mengontemplasikan yang nyata dan yang absolut, baik dari sudut pandang transendensi maupun dari sudut pandang imanensinya: Ini memahami realitas Ilahi baik sebagai Wujud di Luar Sesuatu (Being Beyond Things), atau sebaliknya, sebagai Wujud di Dalam Sesuatu (Being Within Things) sejauh dia memanifestasikan diri-Nya pada sesuatu tersebut.

Kehendak bebas secara horizontal memilih antara yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat, antara yang baik dan yang buruk, dan secara vertikal memilih antara yang nyata dan yang ilusif, antara keselamatan dan kehancuran. Dan ia menyadari realitas, baik dengan bersikap abstain terhadap sesuatu sejauh mereka adalah bayang-bayang (ilusi), atau sebaliknya, dengan menerima mereka sebagai pesan-pesan yang nyata, tergantung pada keadaan-keadaan subjektif atau objektifnya.

Jiwa, atau karakter, secara horizontal bermakna mencintai apa saja yang memanifestasikan Yang Nyata, baik kebaikan-Nya maupun keindahan-Nya, dan secara vertikal mencintai Yang Nyata itu sendiri, atau kebaikan dan keindahan-Nya. Dan, jiwa menerima sifat alami atau kualitas-kualitas Sang Kekasih dengan berpartisipasi di dalamnya melalui kebajikan, atau kebajikan-kebajikan; dalam kaitannya dengan sesuatu, baik ekslusif maupun inklusif: dengan demikian kebajikan ketakterikatan tidak termasuk, sementara kebajikan kedermawanan termasuk di dalamnya." (1982, h. 101).

5"Kehidupan relijius tradisional scorang Muslim didasarkan pada pergerakan ritmis antara kutub transendensi dan imanensi, antara ketegasan dan kasih sayang, antara keadilan dan pemaafan, antara rasa takut akan hukuman dan harapan akan rahmat yang didasarkan atas cinta Tuhan kepada kita." (Nasr, 2007, h. 44).

P: 219

P: 220

TIAP HARI ASYURA, TIAP..............

Point

TIAP HARI ASYURA, TIAP BULAN MUHARAM: “PARADIGMA KARBALA” SEBAGAI SUMBER PROTES KAUM SYI'AH(1) IHSAN ALI-FAUZI "Karbala” is extremely central in Shi'a political movements. The tragedy has become, as firstly introduced by an Antropologist, Michel Fische, Karbala Paradigm; a worldview and perspective on how to sacrifice one's life to defend justice, in exclusive sense of Shi'a. Shi'a political activists galvanize this paradigm as a preciously cultural source in shaping a meaning framework of their political practices.

Shi'a people view Karbala commemoration as meta-historical ritual instead of a merely one. Despite of its current time and place, the ritual itself is beyond actual instance of present; through which it is reminisced. In this respect, those who participate the remembrance of Karbala, will physically and emotionally associate themselves to Imam Husayn and his sacrifice in defending justice. Such involvement functions as time for self evaluation of Shi'a people questioning their commitment to the truth, justice and opposition against tyranny. Regardless various political and social background, the martyrdom of Imam Husayn, as one of cultural resources, inspires them to protest and dissent

P: 221


1- Saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ahmad Sahal, Ulil Abshar- Abdalla, Sukidi Mulyadi, dan Feby Indirani atas bantuan mereka menyediakan bahan-bahan kepustakaan yang saya perlukan dalam penulisan esai ini. Dengan sendirinya, mereka tak bertanggung jawab atas kesalahan apa pun yang ada dalam esai ini.

oppressive regime. Moreover, his martyrdom not only satisfied it own aim, but also became a turning point in the history of man.

Sejak Iran berada di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini, yang berhasil menjatuhkan Shah Iran lewat sebuah revolusi Islam pada 1979, negara berpenduduk mayoritas Muslim Syi'ah itu dikenal sebagai musuh bebuyutan Amerika Serikat (AS). Namun, Iran juga kaum Syi'ah pada umumnya, layak berterima kasih kepada pemerintahan AS, setidaknya untuk satu hal. Invasi militer AS ke Irak, pada awal musim semi 2003, telah berhasil menyingkirkan Saddam Husain, diktator Irak, dari kekuasaan yang telah hampir setengah abad dipegangnya. Dan dengan begitu, penduduk Syi'ah Irak, kelompok mayoritas di negara yang didominasi Muslim Sunni itu, mulai bebas menjalankan ritual agama mereka. Ini perkembangan penting baru, karena sebelumnya, khususnya pada dekade 1980-an, Iran terlibat dalam sebuah perang terbuka dan mematikan dengan Irak, yang kala itu turut dibantu AS.

Pengaruh “hilangnya" Saddam di Irak itu amat terasa, khususnya pada setiap Muharam (bulan pertama dalam kalender Islam), persisnya ketika Muslim Syi'ah menjalankan peringatan Asyura, salah satu ritual penting Islam Syi'ah. Hal itu karena lokus utama upacara ritual ini adalah Kota Karbala, satu kota penting umat Syi'ah, yang kini terletak di Irak. Tahun 2008 ini, peringatan Asyura (artinya: hari kesepuluh, dari bulan Muharam) itu, yang bertepatan dengan pertengahan Januari lalu, berlangsung meriah.

Menurut berbagai laporan media massa, sekitar dua setengah juta kaum Syi'ah, baik yang berasal dari Irak maupun yang bukan, meramaikan jalan-jalan dan lembah-lembah Karbala.(1) Dengan beragam cara, mereka mengenang kesyahidan Imam Husain, cucu Nabi Muhammad Saw., dari perkawinan ‘Ali ibn Abi Thalib dengan putrinya, Fatimah, yang oleh kaum Syi'ah dipandang salah satu Imam mereka.

Mengingat dirinya seorang despot dan diktator beraliran Sunni, yang menindas rakyatnya yang mayoritas Syi'ah, sangat masuk akal jika

P: 222


1- Penting diingat bahwa tanggal sepuluh Muharam juga merupakan hari penting bagi kaum Muslim Sunni. Namun itu untuk alasan yang tidak terkait dengan kematian Husain. Dalam tradisi Sunni, sekalipun Husain adalah tokoh penting dalam sejarah Islam yang mati syahid di Karbala, ia tidak dianggap sebagai pelanjut alamiah dari kekh.ifahan 'Ali ibn Abi Thalib, seperti yang diyakini kaum Muslim Syiah. Inilah butir pokok perbedaan Islam Sunni dan Islam Syiah.

Saddam punya kebijakan demikian. Saddam tahu bahwa peringatan ini bukan peringatan biasa.

Dan memang, bagi kaum Syi'ah, peringatan Asyura lebih dari ritual keagamaan biasa. Seperti drama sakral yang dihayati dan dipraktikkan kalangan Katolik tertentu di beberapa wilayah Amerika Latin dalam upacara Easter, yang terkait dengan penyaliban Yesus Kristus dan yang memperlihatkan kesediaannya untuk mati demi menyelamatkan orang lain, peringatan Asyura dimaksudkan sebagai ritual metahistoris.

Maksudnya, sekalipun ia dilakukan di sini dan sekarang, ritual itu juga berdiri di luar atau melampaui waktu dan tempat aktual di mana ia dipraktikkan atau diperingati. Demikian karena ritual itu memungkinkan para partisipannya untuk mengaitkan diri mereka, secara fisik maupun emosional, dengan Imam Husain dan pengorbanannya demi penegakan keadilan. Dan, bersamaan dengan itu, keterlibatan dalam Asyura memberi makna penting kepada sebuah pilihan moral. Keterlibatan itu berfungsi sebagai forum bagi kaum Syi'ah untuk terus-menerus mengevaluasi diri, mempertanyakan komitmen mereka di dalam menegakkan keadilan dan menghancurkan tirani. Dus, bagi mereka, kematian Husain lebih dari sekadar aksi kesyahidan; itu juga suatu peralihan menentukan dalam sejarah umat manusia. Peristiwa kesyahidannya memang terjadi dahulu kala, tetapi pesannya melampaui zaman itu saja. Inilah makna di balik slogan yang terus diteriakkan para partisipan Asyura: “Tiap hari adalah Asyura, tiap bulan adalah Muharam, dan tiap tempat adalah Karbala." Slogan itu menjadi slogan utama yang diteriakkan Khomeini dan kaki tangannya untuk memompa revolusi yang sedang dikibarkannya sebelum akhirnya menang pada 1979. Namun, slogan yang sama pulalah yang diteriakkan lawan-lawannya sesama Syi'ah, seperti para gerilyawan dan aktivis Mojahedin di Iran, yang mencoba mendeligitimasi upaya Khomeini membangun dan menjalankan sebuah republik yang mengatasnamakan Islam Syi'ah. Di sini, peristiwa syahidnya Husain di Karbala menjadi sumber kultural bagi para penganut Syi'ah, dari kelompok sosial dan

P: 223

politik mana saja, untuk melakukan protes terhadap apa yang mereka pandang sebagai ketidakadilan.

Akan tetapi, mengapa kematian itu menjadi begitu penting? Makna moral apa yang bertahan, atau justru baru berkembang dengan kematian itu? Mengapa makna moral itu bisa terus bertahan hingga hari ini sehingga hal itu bisa dimanfaatkan dalam gerakan protes Syi'ah modern? Bagaimana dan mengapa peristiwa yang sama menjadi sumber daya kultural yang sama yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang bertentangan di kalangan Syi'ah sendiri, untuk tujuan yang juga bertentangan? Esai ini akan mendiskusikan soal-soal di atas. Saya terutama hendak melihat peristiwa Asyura sebagai sumber daya kultural bagi kalangan Syi'ah untuk mendukung sebuah protes menantang mereka yang dianggap sebagai saingan atau lawan politik. Dalam literatur teori gerakan sosial (social movement theory), aspek kultural atau ideologi ditempatkan sebagai perantara antara kesempatan politik (faktor eksogen), mobilisasi organisasi (faktor indogen), dan aksi kolektif. Aspek kultural ini amat menentukan karena ia menawarkan, meminjam kata-kata Sidney Tarrow (1998: 20 21), “Tafsir atau makna yang diberikan terhadap realitas yang sama-sama didukung oleh partisipan gerakan.” Pada tingkat yang paling minimal, aspek makna yang dihayati bersama ini penting agar para partisipan gerakan (1) merasa bahwa mereka dizalimi dalam aspek-aspek tertentu kehidupan mereka dan (2) merasa optimistik bahwa dengan bertindak secara kolektif, mereka dapat mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh kezaliman itu. Tanpa adanya kedua perasaan ini, orang-orang tidak akan bersedia terlibat di dalam gerakan sosial, sekalipun kesempatan tersedia untuk lahirnya gerakan social—dan karenanya kesempatan ini hanya akan terbuang percuma. Gerakan "berhenti” hanya sebatas potensi, atau tidak tumbuh menjadi aktual.

Nah, ada atau tidaknya perasaan di atas dikondisikan oleh dinamika sosial-psikologis yang memungkinkan tumbuhnya perasaan itu. Inilah proses yang oleh David Snow dan kolega-koleganya disebut sebagai

P: 224

proses pengerangkaan (framing process), yaitu “Upaya-upaya strategis yang dilakukan secara sadar oleh sekelompok orang untuk menampilkan pemahaman yang sama mengenai dunia dan diri mereka sendiri, yang melegitimasi dan memotivasi aksi-aksi kolektif,” (Snow, et. al., 1986, 465).

Dalam literatur gerakan sosial, upaya-upaya pengerangkaan ini biasanya terkait dengan keharusan gerakan sosial untuk (1) mendiagnosis suatu kondisi sosial yang bermasalah untuk dipecahkan, (2) menawarkan jalan keluar dari masalah itu, dan (3) menawarkan alasan pembenar untuk memotivasi dukungan bagi aksi-aksi kolektif. Semuanya ini penting, seperti ditulis Tarrow, “Untuk menjustifikasi, memuliakan, dan mendorong aksi kolektif," (1998,21).

Di bawah ini, saya hendak menunjukkan betapa peristiwa Karbala dan pemaknaannya dalam bentuk “Paradigma Karbala” tumbuh sebagai salah satu sumber daya kultural yang amat efektif bagi kalangan Syi'ah untuk digunakan sebagai penunjang protes kolektif. Contoh empiris terbaiknya adalah pemanfaatannya oleh Khomeini dalam mendorong terjadinya revolusi di Iran pada 1979. Namun, karena sumber daya yang sama bisa juga digunakan oleh kalangan Syi'ah yang lain, perlawanan terhadap Khomeini oleh saingannya juga memanfaatkan hal itu.

Kematian Imam Husain menjadi begitu penting karena tidak biasanya kematian itu: Husain wafat dibunuh secara kejam dan mengenaskan oleh Yazid, penguasa tiranik dari Bani Umayyah, dalam perang yang tak berimbang (artinya: bukan perang, melainkan penyerangan sepihak?) di Karbala, pada 680 M. Ceritanya perlu dikemukakan secara agak detail karena di sanalah terletak bukan saja makna historisnya, melainkan juga makna ontologisnya.

Pada 680 M itu, konon atas “undangan” dan permintaan tolong para pengikut Syi'ah-nya yang sudah lama diperlakukan secara tidak adil

P: 225

di Kufah, pusat kekuasaan Bani Umayyah yang tumbuh pesat kala itu, Husain berangkat dari kediamannya di Semenanjung Arabia. Didampingi oleh segenap keluarga intinya dan hanya sedikit sisa pengikutnya, ia pergi untuk mengangkat senjata melawan tentara Bani Umayyah, yang olehnya dan pengikutnya dianggap telah merampas haknya sebagai pemimpin kaum Muslim. Bani Umayyah kala itu sudah berhasil mentransformasikan komunitas Muslim yang dibangun Nabi Muhammad di Mekkah dan Madinah menjadi sebuah kerajaan Arab yang kuat dan terus berekspansi, dengan basis utama terletak di Damaskus, Syria.

Sekalipun menyadari, atau justru karena ia menyadari, sulitnya mengalahkan tentara Bani Umayyah, Husain terus maju. Ia merasa sudah menjadi kewajiban moralnya untuk bangkit menentang tirani dan ketidakadilan, sekalipun untuk itu ia harus mati.

Demikianlah, setelah mengumpulkan keluarga dan segelintir sisa pengikutnya yang setia, yang jumlahnya hanya sekitar 70-an orang, Husain berangkat ke Kufah. Namun rupanya, kafilah itu tak perlu pergi sejauh ke Kufah karena para pemimpin politik kota itu, yang lebih tunduk kepada tekanan Bani Umayyah, melarang Husain dan rombongannya memasuki kota itu. Maka mereka harus berkemah di luar kota, di lembah Karbala yang kering dan landai (sekarang terletak di sebelah selatan Irak). Di lembah itulah mereka dikepung oleh tentara Yazid, yang besar jumlahnya dan kuat, dipimpin Shemr ibn Sa'd. Pengepungan itu, yang antara lain memotong akses kafilah Husain ke sumber air terdekat di Sungai Eufrat, berakhir sepuluh hari. Pada hari kesepuluh Muharam (bertepatan dengan 10 Oktober 680 M.), Shemr dan pasukannya dengan brutal membunuh Husain dan para pengikutnya seraya menangkapi kaum perempuan dan anak-anak. (1) Peristiwa di atas bukan saja telah mengonsolidasikan Bani Umayyah, yang hingga satu abad sesudahnya terus mendominasi Timur Tengah.

Hal itu juga telah mengubah apa yang pada satu saat tertentu merupakan gerakan yang murni politik, dengan tujuan merebut kembali kekhalifahan

P: 226


1- Ketika bagian tentang pengepungan dan penyerangan ini dibacakan dalam perayaan Asyura, yang disampaikan jauh lebih detail dibanding yang bisa saya sajikan di sini, karena alasan terbatasnya halaman dan lainnya. Untuk paparan personal mengenainya, oleh seorang yang tumbuh dengan tradisi perayaan ini, lihat penuturan Mehdi Abedi dalam Fischer dan Abedi (1990).

ke tangan keturunan langsung Nabi Muhammad, menjadi sebuah aliran keagamaan baru dalam Islam. Aliran itu bernama Syi'ah, yang terbentuk berdasarkan gambaran ideal seorang syahid yang, seperti ditunjukkan aksi Imam Husain, secara sadar mengorbankan diri untuk memperjuangkan keadilan dan meruntuhkan tirani.

Dilihat dari sudut pandang politik, kata Hamid Enayat (1989), ilmuwan politik yang terkenal karena spesialisasinya dalam Islam Syi'ah, sedikitnya ada dua alasan mengapa kematian Husain menjadi begitu penting. Pertama, di antara dua belas Imam yang diyakini mayoritas kaum Syi'ah, Husain adalah satu-satunya Imam yang mati sebagai akibat dari upayanya untuk mengaitkan klaimnya atas kekhalifahan dengan perlawanan bersenjata. Kesebelas Imam lainnya tidak menempuh pilihan itu: mereka entah memperoleh dan menikmati posisi politik melalui prosedur konstitusional yang reguler (Imam pertama dan kedelapan), atau membuat kesepakatan damai dengan penguasa yang ada sesudah terjadi persaingan dan permusuhan terbuka di antara kedua belah pihak untuk periode tertentu (Imam kedua), atau mengasingkan diri dari persaingan politik dengan menjalani kehidupan keulamaan yang tenteram, atau- dalam kasus Imam yang terakhir-menghilang sebelum menentukan apa yang menurutnya terbaik di antara pilihan-pilihan di atas.

Kedua, unsur kesyahidan dalam drama [kematian di atas) jelas menjadi daya tarik yang kuat bagi semua gerakan Syi'ah yang sedang menentang tatanan politik yang mapan. Oleh karena itu, kata Enayat, “Husain adalah satu-satunya Imam yang tragedinya dapat berfungsi sebagai unsur mitologi yang positif bagi kelompok Syi'ah mana saja yang militan dan sekaligus sedang ditindas," (Enayat, 1989: 52).

Dua alasan di atas menjadikan peristiwa Karbala begitu sentral dalam aktivisme politik Islam Syi'ah. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi, dalam istilah yang kali pertama diperkenalkan oleh antropolog Michael Fischer (1980: 7—11) ,sebagai “Paradigma Karbala", sebuah cara pandang di mana kezaliman (Yazid) dilawan dengan kesediaan untuk

P: 227

mati dalam membela keadilan (Imam Husain) yang sangat khas Syi'ah.

Cara pandang inilah yang kemudian digunakan oleh para aktivis politik Syi'ah sebagai sumber daya kultural yang amat berharga untuk memberi kerangka makna bagi aktivisme politik mereka. Ini semua dalam rangka menjustifikasi gerakan sendiri, mendeligitimasi kekuasaan musuh, dan menarik dukungan massa, salah satu kunci keberhasilan aksi-aksi kolektif mana pun.

III.

Sepanjang hampir 1.350 tahun terakhir, sesudah peristiwa Karbala terjadi, kaum Syi'ah terus memperingati kesyahidan Husain di atas dengan melakukan rangkaian ritual yang dimaksudkan sebagai ratapan, semacam partisipasi dalam penderitaan, yang mencapai puncaknya pada setiap hari kesepuluh Muharam. Lebih dari satu keyakinan atau dogma mana pun, kata Janet Afary, “Ritual-ritual pada bulan Muharam inilah yang lebih mendefinisikan komunitas-komunitas Syi'ah," (2003: 13).

Ada tiga rangkaian ritual besar dalam rangkaian peringatan ini.

Pertama, ada rowzeh khavani, pembacaan narasi secara dramatis riwayat hidup dan penderitaan para Imam, khususnya Husain. Sumber pokoknya adalah sebuah kitab abad ke-16 berjudul Rowzat al-Shohadā* (Taman Para Syuhada). Kisah-kisah itu dibaca bersama di taman atau dalam rumah, di mana keluarga besar berkumpul, dan para ulama berceramah, khususnya mengenai Husain, posisinya dalam sejarah Islam, dan upayanya menentang tirani Bani Umayyah. Mendengar kisah-kisah ini, mereka yang hadir tersedu-sedan dan menangis.

Kedua, peristiwa Karbala diingat kembali lewat sinehzani, ritual menyakiti diri dan meratap yang umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki.

Ritual ini berisi prosesi pemakaman, di mana para partisipannya berseragam hitam, berjalan bersama dalam bentuk parade melewati jalan-jalan atau pasar pada hari kesepuluh Muharam. Di posisi paling depan parade ini,

P: 228

diusung sesosok mayat yang dimaksudkan sebagai penggambaran mayat Imam Husain yang mati syahid. Di tengah-tengah perjalanan, para partisipannya biasanya meneriakkan ratapan mereka atas penderitaan yang dialami para Imam dan memukul dada mereka sendiri secara ritmis, kadang dengan menggunakan senjata-senjata tajam seperti pedang.

Ketiga, yang paling menonjol dan populer, dan karenanya juga paling penting untuk dibahas agak panjang di sini, kisah Karbala juga dimainkan dalam bentuk drama, sebagai representasi teatrikal peristiwa itu, dalam apa yang disebut ta'ziyeh. Ini salah satu bentuk pertunjukan teater paling tua di Timur Tengah yang dihadiri oleh rakyat biasa dengan penuh antusiasme.

Kisah penderitaan Husain, juga para pengikutnya yang setia, termasuk perempuan dan anak-anak yang amat menderita, dimainkan dalam pertunjukan ini. Baik aktor maupun narator drama mengisahkan secara detail bagaimana anak-anak menderita haus yang sangat karena dikepung di tengah Karbala yang panas tanpa akses ke sumber air, dan bagaimana Yazid dan Shemr, misalnya, begitu tega membunuh Husain dan para pengikutnya pada siang bolong Hari Jumat, ketika kaum Muslim lain di kolong langit melaksanakan Salat Jumat. Di ujung-ujung pertunjukan, tangis para audiens makin keras terdengar: selain penderitaan Husain dan para pengikutnya diperlihatkan kepada mereka secara figuratif, mereka sekaligus juga diingatkan akan pengkhianatan komunitas Kufah, yang tidak berdiri di pihak Husain dan dengan begitu memungkinkan berlangsungnya kezaliman Yazid. Yang paling dramatis adalah momen pemakaman Husain: para partisipan laki-laki dan perempuan, kadang anak-anak-mencederai bagian depan kepala mereka dengan pedang atau pisau, memukul-mukul dada mereka, sambil berseru “Ya, Husain; Ya, Husain.” Mereka juga melukai tubuh mereka dengan rantai atau pecut, hingga warna merah darah membasahi pakaian mereka dan jalan-jalan yang mereka lewati.

Karena posisinya yang begitu penting dan populer, sudah lama ta'ziyeh menarik perhatian para penggiat teater di seluruh dunia. Salah

P: 229

satunya adalah Peter Brook, salah seorang sutradara teater paling menonjol di dunia asal Inggris, yang kemudian mementaskan drama itu di New York, pada 2003. Berikut adalah penuturannya tentang bagaimana ia "menemukan" ta'ziyeh dan memahami signifikansinya:

Di sebuah desa Iran yang terpencil, saya menyaksikan satu dari beberapa hal yang paling mengesankan yang pernah saya lihat dalam teater: satu kelompok, terdiri dari sekitar 400 orang desa, seluruh penduduk desa itu, duduk di bawah sebuah pohon dan bersama- sama tertawa serta menangis, kadang tersedu—sekalipun mereka semua tahu akhir cerita itu—ketika mereka menyaksikan Husain berada dalam ancaman pembunuhan, dan kemudian berdialog dengan musuh-musuhnya, sebelum akhirnya dibunuh sebagai syahid.

Dan, ketika ia dimartirkan, apa yang sebenarnya teater itu kemudian berubah menjadi sebuah kebenaran tidak ada lagi perbedaan antara masa lalu dan masa sekarang. Sebuah peristiwa yang dikisahkan sebagai sesuatu yang diingat dan terjadi sekitar 1.300 tahun lalu, tiba-tiba menjadi sebuah realitas dalam momen itu. (Dikutip dalam Chelkowski dan Dabashi, 1999: 80).

Brook juga menceritakan bahwa drama itu dimainkan oleh orang- orang biasa, bukan aktor-aktor profesional. Ketika ta'ziyeh akan dimulai, seseorang akan memperkenalkan para pemain: Ini si Ahmad tukang listrik, atau Rahim si sopir taxi, bukan Abul Fazl atau Husain, dan ini desa Mahmoudieh, bukan Karbala. Biasanya, tambah Brooks, aktor yang memerankan Yazid mengenakan pakaian merah, sedang Husain diperankan aktor berkostum hijau. Lalu, aktor yang memainkan peran Shemr, pembunuh Imam Husain di Karbala, biasanya memulai adegan terakhir drama itu dengan menyatakan:

Saudara-saudara yang berkumpul di sini! Ingat: tak satu pun dari orang-orang ini Imam Husain. Atau para syuhada Karbala. Aku sendiri bukan Shemr. Dan, tempat ini bukanlah Karbala! Satu-satunya tujuan pertemuan ini adalah untuk meratapi dan menghormati para syuhada Karbala.

P: 230

Selain itu, ketika memainkan adegan membunuh Husain, aktor yang memerankan Shemr biasanya menangis dan tersedu-sedan di depan mikrofon. Para komandan musuh juga biasanya mendatangi Husain untuk mencium tangannya sebelum berangkat memeranginya, lalu membunuhnya dengan kejam.

Langkah-langkah mengambil jarak di atas dimaksudkan untuk menunjukkan dua hal. Pertama, untuk menegaskan bahwa para aktor itu sendiri adalah Syi'ah dan pengikut Imam Husain. Kedua, agar mereka terhindar dari kemarahan massa. Pada abad ke-19, ada catatan yang menyebutkan bahwa para “penonton" ta ziyeh marah besar kepada 'Shemr' dan membunuhnya.

IV.

Karena corak metahistorisnya (dulu, tetapi juga kini) di atas, peringatan Asyura terus-menerus dibentuk dan ditafsirkan kembali, agar cocok dengan situasi dan tempat tertentu. Dengan begitu, peristiwa yang berlangsung jauh pada masa lalu itu bisa tetap terasa relevansinya dengan situasi kontemporer.

Demikianlah, misalnya di Iran pada abad ke-19, dalam drama Asyura, para aktor yang menggambarkan tentara Yazid yang digdaya itu mengenakan seragam tentara Rusia atau Inggris, tergantung kepada penguasa koloial mana yang paling berkuasa saat itu. Pada akhir 1970-an, tentara Yazid diasosiasikan dengan SAVAK, agen rahasia Shah Iran yang kejam. Sementara itu, setelah Ayatullah Khomeini berkuasa pada 1979, tentara Yazid nan jahat itu tiba-tiba berubah menjadi tentara ... AS, si “Setan Besar.” Lalu, beberapa tahun kemudian, dalam perang melawan Irak, Yazid berubah menjadi Saddam Husain! Dan terakhir, di bawah Presiden Ahmedinejad sekarang, satu bom buatan Iran diberi nama, ya, "Asyura".

P: 231

Akan tetapi fenomena ini tidak saja ditemukan di Iran. Di Lebanon, di mana masyarakat Syi'ah dipimpin Hizbullah terus bertempur melawan tentara-tentara Israel, mudah ditemukan anak-anak muda dengan pakaian seorang pembom bunuh diri, seraya berjalan sambil tertunduk, mengekspresikan ratapan dan penderitaan, ikut serta dalam prosesi Asyura. Bahkan Hizbullah, yang mengawali praktik perlawanan dengan menggunakan alat” (senjata) bom bunuh diri, menyebut pelaku bom itu sebagai syahid. Itu dimaksudkan untuk mengaitkan orang-orang yang menjadi senjata itu dengan Karbala dan kesyahidan Husain.

Sementara itu, di Irak prainvasi AS, Karbala menjadi lokus pertempuran terpenting antara kaum Syi'ah yang, didorong oleh Presiden Bush I, mengangkat senjata menentang Saddam sesudah Perang Teluk I berakhir. Dan, seperti Husain dan para pengikutnya, sekitar 1.350 tahun sebelumnya, mereka segera dikunyah habis oleh tentara Saddam. Namun, simbolisme pengganyangan para syahid itu, oleh seorang despot Sunni, tetap bertahan dalam memori kolektif kaum Syi'ah Irak. Maka, sekitar lima tahun lalu, ketika kaum Syi'ah sekali lagi bisa membanjiri Karbala untuk peringatan Asyura setelah Saddam tersingkir, mereka mengangkat tinggi-tinggi foto para pemimpin mereka yang terbunuh atau hilang.

Seraya itu, mereka juga meneriakkan slogan-slogan anti-Saddam, diktator brutal yang, seperti Yazid, menjadi ikon tirani dan penindasan.

Yang menarik adalah kenyataan bahwa makna dan urgensi “Paradigma Karbala” juga diperebutkan oleh dua atau lebih kelompok Syi'ah yang berbeda pandangan dan saling bersaing secara politik. Di bawah ini, sebagai contoh empiris, saya hanya akan memfokuskan perhatian pada bagaimana hal itu dimanfaatkan oleh Khomeini dan lawannya di Iran, kelompok Mojahedin (Mujahidin Khalg).

P: 232

Di atas, saya sudah beberapa kali menyinggung bagaimana Khomeini memanfaatkan “Paradigma Karbala” pada masa-masa awal sesudah terjadinya revolusi. Namun sesungguhnya, pemanfaatan itu jauh lebih terasa ketika ia tengah menggalang kekuatan untuk menjatuhkan Shah Iran, termasuk dengan mengobarkan semangat perlawanan kaum perempuan dan anak-anak, antara lain dengan memanfaatkan kaset-kaset yang berisi rekaman ceramah-ceramahnya yang keras mengkritik Shah Iran dan diselundupkan ke dalam Iran dari tempat-tempat pengasingannya di Irak dan Prancis. Ia misalnya menyatakan:

Kaum perempuan kita yang gagah berani, menggendong anak-anak mereka dan menghadapi senapan mesin dan tank-tank tempur para pembunuh dalam rezim [Shah Iran) ini .... Saudara-saudaraku, perempuan dan laki-laki, busungkan dada kalian, jangan tunjukkan kelemahan dan ketiadaan bekeranian. Kalian sedang mengikuti jalan Allah dan para nabi-Nya. Darah kalian mengalir di atas jalan yang sama di mana darah para Nabi, Imam, dan para pengikut mereka yang mati syahid mengalir. Kalian sedang mengikuti mereka. Ini bukan saat-saat untuk sedih, melainkan untuk bergembira.

Di dalam banyak sekali kesempatan, ia secara langsung menyebut kematian Imam Husain dan membangkitkan kembali ingatan pengikutnya mengenai Karbala.

Saudara-saudaraku, jangan takut menjadi syahid, menyerahkan nyawa dan hak milik kepada Tuhan, Islam, dan bangsa Muslim. Inilah yang juga dilakukan oleh nabi besar kita dan keturunannya. Darah kita tidak lebih bernilai dibanding darah para syuhada di Karbala ....

Kalian yang sudah berdiri dengan gagah berani membela Islam dan mengabdikan hidup dan hak milik kalian (untuk Islam], kini berada dalam barisan yang sama dengan para syahid di Karbala, sebab kalian mengikuti ajaran mereka. (Dikutip dalam Afary, 2003: 28).

Khomeini juga memasukkan unsur “Paradigma Karbala” di atas dalam tulisan-tulisannya. Dalam Wilayat-i Faqih misalnya, ia menulis, “Husain memberontak dan menjadi syahid justru untuk mencegah terbentuknya

P: 233

monarki dan proses pergantian pemimpin secara turun-temurun. Husain memberontak dan menyerukan semua kaum Muslim untuk mengadakan perlawanan karena ia menolak tunduk kepada kedudukan Yazid yang diperolehnya secara turun-temurun dan karena ia menolak untuk mengakui kerajaannya.” Dan, sejalan dengan itu, Khomeini juga menyerukan kaum Muslim di Iran untuk "menciptakan sebuah Asyura, dalam perjuangan mereka menegakkan negara Islam” (dikutip dalam Enayat, 1989: 57).

Rujukan kepada “Paradigma Karbala" juga dilakukan Khomeini ketika dia sudah berhasil memimpin revolusi dan mengubah negara Iran menjadi Republik Islam Iran. Kali ini dia memanfaatkannya sebagai strategi dan taktik politik untuk memperkuat rezim baru yang berhasil didirikannya dan kemudian dipimpinnya itu. Misalnya, dalam referendum yang berlangsung pada musim semi 1979, di mana para pemilih ditanya apakah mereka mendukung atau tidak mendukung Republik Islam Iran, warna “Paradigma Karbala” memainkan peran penting: hijau (Husain, keadilan) adalah warna untuk mereka yang mendukung dan merah (Yazid, kezaliman) untuk yang tidak mendukung. Pada saat yang sama, poster yang menyerukan agar rakyat Iran memilih Republik Islam Iran adalah tangan seorang syahid yang menyembul di atas permukaan sebuah makam seraya memegang kartu hijau dan di bawahnya tertera tulisan: “Ingat, dan jangan lupakan para syuhada.” Sementara itu, dalam referendum mengenai undang-undang Islam, dilaksanakan pada musim dingin 1979, "politik warna” yang sama juga dimainkan Khomeini: hijau untuk kotak suara yang mendukung, dan merah untuk yang menolak. Dengan hanya memainkan “politik warna" ini, Republik Islam Iran sudah jelas mengasosiasikan dirinya dengan Husain dan lawan-lawannya dengan Yazid.

Kemudian, sepanjang masa revolusi dan tahun-tahun pertama perang Iran melawan Irak, “Paradigma Karbala” berkembang menjadi sebuah paradigma aksi politik. Pada 1980, dalam suratnya kepada Paus Johanes Paulus II, Khomeini menulis, “Baiklah, saya tegaskan di sini bahwa kami tidak takut kepada baik campur tangan militer atau sanksi ekonomi, karena

P: 234

kami adalah kaum Syi'ah, dan sebagai umat Syi'ah, kami dengan senang hati menyambut tiap kesempatan untuk mengorbankan darah kami.” Dan, ya, seperti sudah disinggung di atas, Khomeini mengerangkakan permusuhan yang dipimpinnya antara Iran dan AS sebagai perjuangan antara pengikut Imam Husain melawan “Setan Besar”.

Akan tetapi, karena cerita Karbala bukanlah sebuah doktrin, melainkan sebuah laporan tentang satu peristiwa, maka cerita itu terbuka terhadap berbagai jenis penafsiran atasnya, tanpa kehilangan kekuatan emosional apa pun yang diakibatkannya. Itu sebabnya mengapa “Paradigma Karbala" juga menjadi sumber daya kultural bagi beberapa kelompok yang memusuhi Khomeini dan Republik Islam Iran. Salah satu kelompok itu adalah Mojahedin, sebuah organisasi yang dibentuk pada 1960-an dan berorientasi Marxis-Islamis. Ketika Shah Iran masih berkuasa, organisasi itu adalah satu kekuatan besar yang bersaing dengan kelompok Islam di bawah Khomeini dalam menjatuhkan Shah. Sesudah Khomeini berhasil mendirikan negara Islam di Iran, organisasi itu pun menjadi lawan politik utama Khomeini.

Pemanfaatan “Paradigma Karbala” oleh Mojahedin tampak dalam Nezhat-e Hosayni ("Gerakan Husain"), buku pegangan organisasi itu. Buku itu diakhiri dengan penekanan bahwa Karbala, Muharam, dan kesyahidan para pengikut Imam Husain mengandung sejumlah pesan abadi berikut ini: (1) bahwa manusia, tidak seperti hewan, punya kewajiban mulia untuk melawan penindasan; (2) bahwa pengorbanan diri dan kesyahidan adalah sesuatu yang niscaya untuk memperoleh keadilan dan pembebasan; dan (3) bahwa mereka yang tunduk kepada ketidakadilan untuk hidup itu sesungguhnya telah mati, tetapi mereka yang mati dalam melawan ketidakadilan sesungguhnya masih terus hidup.

Pesan-pesan di atas jelas mencerminkan perpaduan Islam dan Marxisme, dengan “Paradigma Karbala” sebagai porosnya. “Para syuhada' Syi'ah," tulis buku di atas, “sangat mirip dengan Che Guevara di zaman modern ini. Mereka menerima kesyahidan sebagai sebuah kewajiban

P: 235

revolusioner dan memandang perjuangan bersenjata dalam memerangi penindasan sebagai kewajiban sosial mereka," (dikutip dalam Abrahamian, 1989: 94—95).

Salah satu momen penting dalam konflik kekerasan antara Mojahedin dan Republik Islam Iran adalah tanggal 20 Juni 1981. Pada hari itu, perangkat keamanan Republik Islam Iran, baik yang reguler maupun yang paramiliter, menyerang markas Mojahedin. Oleh para redaktur Mojahed, koran kebanggaan organisasi itu, tanggal itu disebut sebagai "Asyura Kita".

Pada hari itu, kita harus berdiri tegak dan melawan rezim Khomeini yang haus-darah dan reaksioner, sekalipun itu berarti mengorbankan hidup kami dan seluruh organisasi kami. Kami harus menempuh jalan menuju Karbala ini untuk terus mempertahankan ideologi Tawhid kami, meneladani jejak yang sudah ditempuh Imam Husain, menunaikan misi historis kami kepada rakyat Iran, dan melawan rezim yang paling haus darah, paling reaksioner, dan paling ganas dalam sejarah dunia. (Dikutip dalam Abrahamian, 1989: 206).

Wajar jika pernyataan keras dan pahit itu disampaikan. Tidak kurang dari 71 pemimpin dan aktivis Mojahedin wafat hari itu, “Jumlah yang hampir sama dengan jumlah anggota Mojahedin yang mati sepanjang tujuh tahun perang gerilya mereka melawan rezim Pahlevi," (Abrahamian, 1989: 213).

VI.

Namun demikian, pada tingkat tertentu, pemanfaatan “Paradigma Karbala” yang sama oleh dua kekuatan politik yang saling membunuh, seperti yang didiskusikan di atas, mencerminkan sisi paradoksal Syi'ah-isme sebagai sebuah ideologi politik. Demikian karena, sementara perjuangan Syi'ah, seperti perjuangan kelompok politik mana pun, dimaksudkan untuk memperoleh kemenangan, cita-cita perjuangan itu sendiri dan di sini terletak sisi paradoksalnya-terus dibangun berdasarkan naratif

P: 236

penderitaan dan pasifisme. Bukankah kemenangan apa saja, seperti kemenangan Khomeini di dalam membangun Republik Islam Iran, justru akan mendeligitimasi nilai dan makna kematian Husain itu sendiri? Begitu, karena bukankah keterlibatan langsung ulama dalam politik kekuasaan pada akhirnya akan mengharuskan ulama, kini dengan kemampuan memaksakan pandangan mereka sebagai penguasa, melakukan apa yang dilakukan Yazid terhadap Husain di medan Karbala? Pertimbangan inilah yang melatarbelakangi upaya sejumlah intelektual Muslim untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mengenai tradisi pasifisme, toleransi, dan rasionalitas seperti yang- menurut mereka dicontohkan Imam Husain. Salah satu dari intelektual itu adalah Emad Baghi, sarjana Iran yang pernah dipenjarakan karena tulisan-tulisannya mengenai pembunuhan atas sejumlah kritikus rezim pada tahun 1990. Dalam sebuah wawancara dengan Radio Farda, intelektual yang kini memimpin Organisasi Pembela Hak-hak Terpidana itu menyatakan bahwa kesyahidan Imam Husain harus dilihat sebagai simbol pasifisme dan rasionalitas, bukan simbol tragedi, perlawanan, dan revolusi. Seraya mengkritik tafsir mengenai Asyura seperti sudah didiskusikan di atas, dia menyatakan:

Sejauh ini ada dua pendekatan kepada Asyura: yang emosional dan yang politis. Pada yang pertama, yang dominan selama berabad- abad, unsur tragis Asyura tampil menonjol. Asyura disederhanakan sebagai suatu tragedi. Dalam pendekatan politis, yang kedua, Imam Husain menjadi simbol perlawanan dan revolusi. Pada yang pertama, Asyura adalah tentang air mata dan simpati; sedangkan pada yang kedua, Asyura adalah tentang perjuangan untuk kebebasan. Pendekatan emosional kepada Asyura dan Islam secara keseluruhan disalahtafsirkan. Ini memunculkan ritual-ritual di mana orang menyakiti diri mereka sendiri. Dalam penafsiran ini, ratapan-dan ekspresi ekstremnya tentangnya menjadi sebuah kebajikan. Pendekatan politik telah memperkenalkan salah-tafsirnya sendiri-sedemikian rupa sehingga Imam Husain diubah menjadi

P: 237

sebuah simbol perang dan revolusi, padahal Imam Husain mewakili pasifisme dan kompromi.

Seraya menyebut pendekatannya “Perdamaian Imam Husain," Baghi sebenarnya tengah mengajukan tafsir lainnya mengenai peristiwa Karbala.

Dia mengklaim bahwa Imam Husain lebih seorang pasifis ketimbang militan. Dalam pandangannya, “Imam [Husain) sudah berkali-kali menawarkan negosiasi untuk dihentikannya penggunaan senjata dan untuk perdamaian kepada musuh yang mengepungnya. Imam [Husain) adalah seseorang yang percaya sepenuhnya kepada kemuliaan manusia dan tahu bahwa perang hanya akan menghancurkan kemuliaan itu.” Menurutnya lagi, Imam Husain baru memilih mati, ketimbang menyerah kepada penindasan, sesudah segala upaya mencapai kompromi di atas gagal. Di sinilah terletak heroisme Asyura yang sesungguhnya.

Baghi berpendapat, tafsir alternatif atas Asyura ini sangat penting disebarluaskan sekarang ini, khususnya ketika pandangan mengenai dekatnya Islam dengan kekerasan begitu dominan. Katanya lebih lanjut:

Dewasa ini, di dunia modern, Barat mengadvokasikan perjuangan melawan terorisme. Saya ingin mengemukakan satu fakta, yakni bahwa 1.350 tahun yang lalu [ketika Imam Hasan dan Imam Husain masih hidup), ketika saling bunuh adalah praktik biasa dan bahkan dipuja-puji, Imam Husain bangkit menentang perang maupun teror. Fakta ini mungkin mengejutkan banyak orang di Barat. Wakil Imam Husain di Kufah [sebuah kota di Irak yang penduduknya mengundang Imam Husain untuk datang dan memimpin mereka), ketika dihadapkan kepada kondisi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk menang melawan musuh, menyarankan Muslim ibn Aqil, wakil Sang Imam, untuk membunuh Obaidollah ibn-e Ziad [gubernur Provinsi Kufah]. Pembunuhan itu akan mengubah seluruh perjalanan sejarah dan para pendukung Imam Husain, yang sudah masuk ke sarang musuh, sepenuhnya mampu melaksanakannya.

Namun, Muslim ibn Aqil, yang paham betul dasar pemikiran Imam

P: 238

Husain, keras menolak gagasan itu, dengan mengatakan bahwa "teror itu dilarang di dalam Islam”.

Masih harus ditunggu sejauh mana pandangan alternatif ini akan menjadi pandangan populer. Namun, beberapa ulama dan pemimpin politik Syi'ah memang sudah lama mengkritik dan mengecam praktik menyiksa diri dengan mengeluarkan darah ketika ritual Asyura berlangsung. Buat mereka, lebih baik menghormati pengorbanan Imam Husain dengan mendonorkan darah daripada membuang-buangnya-apalagi tenda-tenda milik Palang Merah kini biasanya memang didirikan di tempat di mana festival Asyura dilangsungkan.

Di awal tulisan ini, sudah saya sebutkan bahwa kini, sesudah Saddam Husain diturunkan dari kursi kekuasaannya dan dieksekusi, Karbala kembali ramai dikunjungi para peziarah Syi'ah. Yang mengerikan, peristiwa itu terus diiringi bentrok antara para tentara AS atau koalisi, atau polisi Irak yang mulai diberdayakan, atau minoritas Sunni Irak yang mulai kehilangan dominasi, dengan para peziarah Syi'ah di Karbala dan kota-kota lainnya di Irak. Dan, korban pun berjatuhan: pada 2004, Asyura pertama pasca-Saddam, bom bunuh diri menewaskan ratusan orang, tahun lalu, 263 orang tewas. Puncak Asyura Februari 2008 lalu, berlangsung relatif aman di Karbala, yang antara lain diamankan helikopter yang terus berputar-putar, tetapi sekitar 80-an orang wafat di Kirkuk, Nasiriya, Ramadi, dan Basra. Koran Guardian mengutip seorang peziarah, Ibrahim Hashim (40 tahun), seorang guru dari Baghdad, “Saya senang bahwa saya berada di antara jutaan orang yang peziarah di Karbala. Tetapi terus terang, saya khawatir bahwa kami akan diserang dalam perjalanan kami pulang." Saya tidak tahu bagaimana kita harus memahami dan mengatasi paradoks seperti yang diekspresikan dalam pernyataan guru di atas. Dalam situasi seperti yang kita lihat sekarang, sulit menentukan siapa benar dan siapa salah. Selagi keadilan dan ketidakadilan disembunyikan dan dituntut, contoh paradigmatis Husain, “Paradigma Karbala”, akan terus bergema.

Apalagi contoh itu bisa dan harus terus direproduksi, sehingga “Tiap

P: 239

hari adalah Asyura, tiap bulan adalah Muharam, dan tiap tempat adalah Karbala **** Catatan:

1 Saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ahmad Sahal, Ulil Abshar- Abdalla, Sukidi Mulyadi, dan Feby Indirani atas bantuan mereka menyediakan bahan-bahan kepustakaan yang saya perlukan dalam penulisan esai ini. Dengan sendirinya, mereka tak bertanggung jawab atas kesalahan apa pun yang ada dalam esai ini.

2 Penting diingat bahwa tanggal sepuluh Muharam juga merupakan hari penting bagi kaum Muslim Sunni. Namun itu untuk alasan yang tidak terkait dengan kematian Husain. Dalam tradisi Sunni, sekalipun Husain adalah tokoh penting dalam sejarah Islam yang mati syahid di Karbala, ia tidak dianggap sebagai pelanjut alamiah dari kekh.ifahan 'Ali ibn Abi Thalib, seperti yang diyakini kaum Muslim Syiah. Inilah butir pokok perbedaan Islam Sunni dan Islam Syiah.

3 Ketika bagian tentang pengepungan dan penyerangan ini dibacakan dalam perayaan Asyura, yang disampaikan jauh lebih detail dibanding yang bisa saya sajikan di sini, karena alasan terbatasnya halaman dan lainnya. Untuk paparan personal mengenainya, oleh seorang yang tumbuh dengan tradisi perayaan ini, lihat penuturan Mehdi Abedi dalam Fischer dan Abedi (1990).

P: 240

TRAGEDI KARBALA (ANALISIS....

TRAGEDI KARBALA (ANALISIS PSIKO-RELIGIO-SOSIO-KULTURAL) ALEF THERIA WASIM Karbala tragedy allegorically illustrates a slope throughout ruthless jungle; whereas it is now a common road for everyone more than a religious icon.

Karbala teaches us not to ever attempt to challenge the power of al-Haqq in a means of truth and justice. Karbala tragedy, moreover, was the cruelest crime symbolizing an expression of tyranny within false vicegerancy system.

In opposing this injustice, Karbala, therefore, was not only an effect of concrete power practices, but also a mystical moment.

In the quest of Divine presence and justice, when a man struggles with all his heart and effort, he will be present together with Imam Husayn and his true companion. A genuine believer can witness a living spirit of Imam and those who were with him in Karbala revolution along with any feat against tyranny and injustice. Furthermore, it became an evidence for the defeat of evil and the victory of Immamat. Immamat and the martyrdom of Imam Husain exemplifies 'Truth, al-Haqq. It was the battle for the existence of truth.

Tulisan ini berupaya untuk melihat kembali peristiwa dan rekaman kehidupan sosial-budaya dan spiritual keagamaan umat Islam yang telah diberikan oleh Rasulullah Muhammad Saw., yang kehadiran Muhammad

P: 241

dikenal dengan segenap jiwanya, kepada mereka yang melakukan ibadah sepenuhnya, dan bahwa para penggantinya adalah para wakilnya.(1) Dalam sisi realitas awal historis, warisan spiritual umat Islam waktu itu mengalami perbedaan pemahaman dan interpretasi yang melibatkan semacam "dinasti" dan aliran kecenderungan pemahaman, penghayatan, dan pemikiran yang berkaitan dengan konsep kehadiran spiritual.

Perbedaan yang dimaksud membawa ke perbedaan tentang afdal, tidaknya ritual dan amalan yang ditetapkan syari'ah, yaitu tergantung ada atau tidak adanya wakil atau penggantinya, dalam hal ini khalifah yang Imam. Setiap aliran pemahaman memiliki pemikiran dan filsafatnya masing-masing, dan memiliki sikap pendirian tentang sah tidaknya para pengganti yang sering kali mempertimbangkan penegakan ide bimbingan, bahkan penunjukan Tuhan dalam garis Muhammad. Sikap pendirian ini terekspresikan dan termanifestasikan dalam institusi keimanan dan gelar-gelarnya. Kisah Imam dari keluarga Muhammad dipandang sebagai ujian-ujian terberat mereka dalam memenuhi tanggung jawab selaku pemimpin. Sebagian umat Islam beranggapan bahwa hanya Sayyidina Ali yang berhak sebagai khalifah dan Imam karena Sayyidina Ali dan Fathimah yang berhak menduduki jabatan itu, dan anak keturunannya adalah sah sebagai Imam, pemimpin umat Islam. Pandangan ini kemudian berkembang menjadi bahwa kedua kedudukan tersebut, khalifah dan Imam, tidak dapat dipisahkan. Muncul konsep-konsep doktrinal religius dan mistis(2)-sufis dan kisah-kisah yang tragis dan mengharukan pada para Imam dari keluarga Muhammad, yang sering dikaitkan dengan persoalan politis dan ekonomi.(3) Dengan demikian, dalam realitas sosial-budaya dipandang menjadi kurang jernih; sekalipun demikian secara budaya terbaca bahwa aspek sufis-mistis sering kali merupakan dasar ikatan loyalitas yang kuat.(4) Para pengganti Rasulullah Muhammad adalah Abu Bakar (11—13H/632—634M) yang ditunjuk oleh Muhammad dan diterima dengan kesepakatan seluruh umat Islam.(5) Sebelum Abu Bakar meninggal, setelah melakukan musyawarah konsultatif dengan beberapa sahabat,

P: 242


1- 1. Dalam perkembangan, persoalan pengganti yang adalah para wakilnya ini, dalam tema diatas dipandang merupakan sinyal yang dapat diberi pengertian yang cukup interpretatif. Dalam sejarah masyarakat muslim, pengertian dan interpretasi ini ditanggapi dengan suatu impresi yang kemudian dihayati sebagai suatu eksperiensi, seterusnya diekspresikan dan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk rekaman yang sarat dengan berbagai muatan, dan diprojeksikan dalam berbagai progresi institusional yang fenomenanya cukup ragam. Fenomena yang cukup ragam ini ditegakkan sebagai suatu nilai yang dipandang perlu diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya; agar tetap lestari, nilai yang diwariskan ini tetap merupakan proses dan sekaligus produk sosio-kultural keagamaan dan peradaban manusia.
2- 2. Konsep-konsep tersebut, baik yang bersifat doktrinal imam dan ma'mum, maupun ikatan batin, loyalitas, intermediary (intercession) atau para perantara antara manusia dengan Tuhan. Adapun kedudukan imam sering dibedakan antara yang kubra dan yang shughrā.
3- 3. Persoalan politis-ekonomi sudah tampak sebelum Islam, utamanya penguasaan sumber air, dan penguasaan perdagangan pada umumnya, yang selalu merupakan perebutan suku atau kabilah, dengan konglomerat besar yang biasanya dikenal dengan penguasaan ekonomi di kalangan para "Bani".
4- 4. Kehidupan politik di Arab dapat diinformasikan dari kehidupan sosial. Dalam realitas sosial- budaya ditemukan adanya pusat-pusat semacam bazaar atau pasar-seni yang di situ masyarakat dapat menikmati syair-syair ekspresif dengan pemaknaan luar biasa, sangat sarat makna. Muatan syair-syairnya sering kali merupakan refleksi sosial dan kritik sosial yang yang sangat tajam dan membidik. Oleh karena itu, peran ini lalu menjadi andalan suku (gabilah). Penyair yang sekaligus budayawan ini cukup melambangkan bagaimana suatu suku di mata masyarakat. Sering kali penyairannya bergeser ke pemitosan sang pahlawan dengan pedang dan tombaknya serta kudanya. Persaingan antarsuku banyak melibatkan persaingan kepiawaian sang penyairnya, kearifan dan ketajaman kata-katanya. Teks-teks syair mereka sangat powerful. Selain itu, mitos dan kritik juga tersiar ke segenap penjuru jazirah Arab, dan sangat berpengaruh dalam masyarakat. Di antara syair mereka adalah yang menggambarkan kehidupan dengan segala aspeknya, bahkan sumber air, perempuan, kesopanan, sarat dengan ekspresi kehormatan, kemuliaan, kerinduan, yang juga sekaligus terekspresikan dalam syair-syair Sufis.
5- 5. Pada waktu itu juga sudah ada keinginan umat untuk menampilkan Sayyidina Ali sebagai pengganti Muhammad; sayang usia masih relatif sangat muda.

Abu Bakar menunjuk 'Umar ibn Khattab (13—23H/634—644M) sebagai penggantinya dan umat Islam menyepakati dan menerimanya.

'Umar mengalami upaya pembunuhan,(1) tetapi sebelumnya ‘Umar sudah menyiapkan beberapa calon untuk dipilih.(2) Terpilih sebagai pengganti 'Umar adalah Utsman ibn Afan (23—35H/644-656M) dari Bani Umayyah. Utsman terbunuh oleh para pemberontak, tanpa ada penunjukan atau pencalonan mereka yang layak dipilih. Sebagian besar umat Islam menyepakati Sayyidina Ali sebagai pengganti (3) (35—40H/656—661H).

Beliau adalah dari Bani Hasyim, yang oleh pengikutnya dipandang dan diyakini berhak sebagai pengganti langsung Rasulullah, selain itu pada diri Sayyidina Ali, ada hak turun-menurun dan hak pilihan yang keduanya menyatu. Dalam pemerintahannya, sebagai khalifah, Sayyidina Ali banyak menghadapi kesulitan, konon karena harus menghadapi berbagai macam keburukan dan kelemahan pemerintahan Utsmaniyah yang digantikannya.

Kekhalifahan Sayyidina Ali juga berakhir dengan terbunuhnya beliau, dan atas kesepakatan para pengikutnya digantikan oleh Hasan, tetapi Hasan tidak memiliki kemampuan sebagai khalifah. Setelah itu, terjadi perebutan jabatan khalifah di kalangan para pemuka masyarakat.

Dalam sejarah umat Islam dikenal bahwa setelah memenangkan pertempuran dan menaklukkan Syam, Mu'awiyah lalu dikirim oleh Umar untuk membantu Yazid, dan atas kesuksesannya, Mu'awiyah diangkat sebagai gubernur di Jordan. Masa pemerintahan Utsmaniyah cukup lama dan Mu'awiyah mampu memanfaatkan kondisi dan situasi kepemerintahan tersebut untuk mempersiapkan diri dan merancang dasar- dasar kekuasaan serta jabatan puncak; ini terbaca waktu ia duduk sebagai khalifah, ia merekonstruksi otoritas dan power bagi kepemerintahannya.

Kesiapan yang mendapat peluang dengan terbunuhnya Utsman dan diangkatnya Sayyidina 'Ali sebagai khalifah sangat dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai pendekatan, dan kalau perlu ancaman, atau dengan kecerdikannya, ia mempersuasi para pemuka umat Islam pada waktu itu. Ketika tiba saatnya untuk merebut jabatan

P: 243


1- 6. Konon pembunuhan dilakukan oleh Abu Lu lu'ah dari Persia, yang adalah budak Mughirah ibn Shu bah; lihat Prof. Dr. A. Sjalabi, Sedjarah Kebudajaan Islam, (terj.), j. I, Djajamurni, 1970, h. 188.
2- 7. Calon-calon tersebut di antaranya, menurut Sjalabi, adalah 'Uthman ibn Affan, 'Ali ibn Abi Thalib, Talhah ibn Abu Zubayr, Zubayr ibn Awwam, Sa d ibn Abi Waqqas, dan `Abdu al- Rahman ibn Awf. Cf. A. Sjalabi, I, h. 191.
3- 8. Prof. Dr. A. Sjalabi, Sedjarah Kebudajaan Islam, Jil. I, h. 203.

khalifah dari Sayyidina Ali, momennya tepat dengan bahwa Sayidina Ali sangat disibukkan oleh selain menghadapi tekanan Mu'awiyah, juga oleh berbagai kesulitan karena perlawanan kaum Khawarij, yang berakhir dengan terbunuhnya Sayyidina Ali. Setelah itu, Hasan putera Sayyidina "Ali, tampil sebagai khalifah, tetapi dukungannya sangat lemah, panglima andalannya gugur, dan Hasan sendiri terbunuh. Kondisi dan situasi kacau ini sangat dimanfaatkan oleh Mu'awiyah dan dengan mudah Mu'awiyah menduduki jabatan khalifah. Mu'awiyah sudah mempersiapkan penggantinya, yaitu anaknya, Yazid. Namun (Imam) Husain(1) bersama- sama dengan beberapa pemuka umat Islam menolak pengangkatan Yazid.

Mu'awiyah terpanggil untuk datang sendiri ke Madinah,(2) tetapi Husain telah berada di Mekkah.(3) Upaya Mu`awiyah untuk melunakkan mereka yang menolak pengangkatan Yazid, gagal. Dengan kemarahannya yang memuncak, Mu'awiyah bersumpah mengancam kepada siapa pun yang menantangnya akan dihadapi Mu'awiyah dengan pedang yang akan memenggal kepala mereka. Oleh karena itu, mereka harus berpikir bagi keselamatan diri mereka.

Tentang penolakan Husain dan para pemuka umat Islam di Mekkah ini, secara analisis sosial-budaya dan keagamaan, ada beberapa kemungkinan, di antaranya:

• Ide Mu'awiyah tentang penunjukan Yazid, anaknya, sebagai khalifah memperlihatkan bahwa umat Islam ketika itu masih dipengaruhi oleh peristiwa dan petaka dengan terjadinya pembunuhan terhadap Utsman, yang intinya adalah adanya perebutan(4) jabatan khalifah.

Beralihnya kekuasaan khalifah dari bani tertentu ke bani yang lainnya berakibat penggantian pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat di hampir semua sektor. Selain itu, kalau pada waktu Abu Bakar dan 'Umar adalah pejabat, kedua-duanya, "tunduk kepada institusi Khilāfah Islamiyyah yang sangat sarat dengan nilai dan makna”, maka sesudah periode keduanya, terjadi pergeseran ke “ketundukan itu ke pribadi sang khalifah”. Adapun Yazid sendiri, tidak siap menduduki

P: 244


1- 9. Salah satu buku yang termasuk banyak digemari adalah karya Farhat Daftary yang sering dipandang sebagai penulis tentang Imam Husain pada sekitar 1930-an, dan beberapa teks autentik tentang sejarah umat Islam menjadi jelas dari koleksi pribadi para pemiliknya dan para ahlinya, yang kemudian secara intelektual diterima oleh Dunia Islam. Sumbangan pemikiran intelektual ini adalah isu-isu penting tentang historisitas dan sisi sosio-kultural politik. Selain itu, teks-teks yang dimaksud juga memuat informasi yang bersifat doktrinal dan kultural. Teks- teks dimaksud selain memuat skup yang luas juga menggunakan sumber-sumber luas mengenai tema dan topik akademik yang cukup kompleks. Teks-teks memungkinkan pemahaman yang mengisyaratkan adanya berbagai sumber bagi masa-masa yang akan datang. Ini terjadi karena penulis-penulis pendahulunya selain mampu menghasilkan karya yang otoritatif juga teks- teks tersebut dapat dibaca; artinya, lengkap dan utuh. Karya referensi Syi'i layak mendapatkan komentar dari suatu studi agama-agama. Menarik bahwa ada teks lain ditulis dengan fokus klaim awal bahwa Sayyidina Ali adalah pewaris dan pengganti sah kepemimpinan di kalangan Muslim, dan jelas ini mendapat dukungan kuat dari penganut Syi'ah. Penganut Syi'ah menawarkan suatu reinterpretasi yang meyakinkan dan interpretasi tentang sejarah Islam awal, sesudah wafat Muhammad, dan cukup radikal.
2- 10. Pada waktu di Madinah, Husain dipandang sebagai oposan Yazid dan Yazid mengirim utusan menemui Gubernur Madinah untuk membai'at Husain dan pendukungnya, tetapi Husain meminta untuk ditangguhkan, dan Imam Husain dari Madinah lalu ke Mekkah bersama keluarga, istri dan anak-anak. Pendukung Husain pecah pendapat, dan ketika berhadapan dengan 'Ubaydullah ibn Ziyad, Husain menyatakan, ".... Maut lebih dekat kepadamu ketimbang itu"; .. Al-Hurr meminta Husain untuk tidak kembali ke Kufah dan juga tidak ke Madinah, karena itulah Husain ke Karbala. Ibn Ziyad memerintahkan 'Umar ibn Sa ad yang suratnya dibawa oleh Syamir ibn Zil Jausyan untuk membunuh Husain. Adapun pertempuran Karbala 61H sangat tidak seimbang: serombongan kecil pengikut Imam Husain hanya dengan perlengkapan minim; karena itu satu per satu mulai dari panglima-panglima terbaiknya sampai anggota keluarganya, gugur. Mereka yang seharusnya membunuh Husain melarikan diri demi hormat mereka kepada Husain dan menghindari pertumpahan darah. Husain terbunuh dalam usia 55 tahun tanggal 10 Muharam dalam suatu tragedi yang sama sekali tidak ada martabat kemanusiaan, penuh kekejaman, dan sadis. Lima orang dikirim ke Ibn Ziyad. Imam Husain dibunuh oleh Zur'ah ibn Shuraik al-Tamimi dan Sinan ibn Anas yang melakukan pembunuhan secara tidak waras. Sejarahwan mengungkapkan kematian Imam Husain dengan terdapat 33 tikaman dan 34 pukulan, mukanya diinjak-injak kuda dan punggung serta dadanya hancur remuk. Konon, lima orang yang lepas dari tragedi itu: 'Ali Zainul Abidin, Zainab, Umar, Fatimah, dan Salimah. Kepala Imam Husain dikirim oleh Ibn Ziyad kepada Yazid ibn Mu'awiyah di Damaskus.
3- 11. Di Mekkah, Husain menerima surat dari Kufah yang memintanya datang ke Kufah untuk dibaiat sebagai pimpinan mereka. Di Kufah, ia mengutus Muslim ibn 'Aqil supaya berangkat ke Kufah mengecek kebenaran dan menjajagi kesiapan penduduk Kufah tentang permintaan mereka ini. Namun, yang terjadi adalah Muslim ibn 'Aqil dibunuh di Kufah sehingga laporan tidak pernah diterima Imam Husain. Tanpa mengetahui apa-apa yang terjadi pada Muslim di Kufah, Husain ke Kufah. [Tidak diperoleh informasi jelas tentang siapa yang mengundang Husain ke Kufah, tetapi dugaan kuat bisa jadi dari kelompok Khawarij yang sangat kecewa terhadap Ali, yang mungkin bergabung dengan kelompok-kelompok lain di Kufah atau yang kemudian datang ke Kufah). Seterusnya Husain ke Karbala. Penguasa Hejaz, Ibn Zubayr menginginkan Husain pergi dari Hejaz, tetapi ditanggapi bahwa yang diinginkan Ibn Zubayr itu bahwa Husain pergi dari Hejaz ke Irak. Husain diskusi dengan Ibn Abbas, tetapi tetap memilih ke Kufah bersama keluarga, istri, dan anak-anaknya. Dalam perjalanannya ke Kufah, Husain ketemu dengan Farazdaq yang meminta supaya hati-hati, karena .... Hati penduduk Kufah kepada Husain, tetapi pedang mereka bersama Bani Umayyah, ... dan putusan datang dari langit, Allah Mahakuasa dan Allah berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya..... Husain hanya mengutamakan bahwa putusan datang dari langit, Allah Mahakuasa dan Allah berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya, tetapi khilaf dengan bahwa .... Hati penduduk Kufah kepada Husain, tetapi pedang mereka bersama Bani Umayyah. Malah Husain menanggapi,".... Kamu benar, Allah Mahakuasa dan Allah berbuat apa pun yang Ia kehendaki!"
4- 12. Mungkin dapat juga dibaca: penegakan hak jabatan khalifah.

jabatan khalifah meskipun pemuka-pemuka muslimin pada waktu itu tidak semuanya lebih baik dari Yazid.

• Mereka yang melawan ada yang berargumentasi bahwa mereka memiliki hak kebebasan memilih dan penggantian bukannya dengan penunjukan anak sendiri. Penunjukan Yazid oleh ayahnya, Mu'awiyyah, merupakan upaya perataan jalan bagi anak oleh sang ayah, dan bukan bagi seluruh muslimin.

Perlawanan semacam ini tidak terjadi pada waktu Sayyidina Ali dan Hasan.(1) Disayangkan bahwa Mu'awiyah khilaf dan meremehkan asas "demokrasi" Islam, malah Mu'awiyah memfasilitasi dan menyalah-gunakan kekayaan pemerintahan khalifah; Ada pandangan bahwa Husain memiliki kelebihan karena memiliki asal-usul yang baik dan dekat dengan Rasulullah, dan secara realitas sosial-budaya, Husain mau tidak mau memikul beban berat dalam tampil sebagai khalifah. Oleh karena itu, banyak misteri yang melingkupi kepemimpinan Husain ini.(2) Fenomena sosial-budaya waktu itu memperlihatkan adanya suatu gerakan sosial-budaya keagamaan yang cukup revolusioner dalam bidang intelektual(3) yang melawan rezim Bani Umayyah.(4) Gerakan sosio- kultural religius waktu itu memperlihatkan adanya upaya persaingan perebutan kekuasaan di kalangan muslimin.(5) Tragedi Karbala sering kali menampakkan bahwa perebutan kekuasaan lebih ditegakkan sebagai langkah muslim, (6) sayang bahwa cara yang dipilih sering kali dapat dinilai kurang layak. (7) Bahkan, penduduk Kufah menyatakan bahwa hati mereka(8) ada bersama Husain, tetapi pedang mereka ditujukan kepada Husain.

Sungguh merupakan kesulitan psikologis, terlebih lagi dalam realitas sosial-budaya yang keagamaan.

P: 245


1- 13. Dari sini mengingatkan kepada kita tentang adanya anggapan bahwa sistem "keturunan" ini- yang juga dikenal dengan Herakliusisme muncul dari Bani Hasyim.
2- 14. Disajikan kembali sesuai kepentingan penulisan, dari A. Sjalabi, Sedjarah dan Kebudajaan Islam, 1971, ttp., Djajamurni, Jilid II, (terj.).
3- 15. “Revolusi sosial-budaya keagamaan dalam bidang intelektual ini nantinya merupakan bibit peradaban dalam perkembangan Islam.
4- 16. Sekali lagi, gerakan sosial-budaya keagamaan pada waktu itu adalah gerakan revolusioner dalam bidang intelektual, meskipun secara sosial-budaya, gerakan-gerakan pada waktu itu adalah melawan rezim Bani Umayyah. Selain secara fenomenal, gerakan-gerakan sosio-kultural keagamaan memperlihatkan adanya upaya persaingan perebutan kekuasaan di kalangan muslim waktu itu, tetapi dari sisi lain merupakan benih awal peradaban Islam..
5- 17. Suku, ke-"Bani"-an, cukup unik, karena fanatik suku merupakan ekspresi dari eksperiensi dari masyarakat pada waktu itu. Mereka menghayati sistem keluarga yang cukup unik dan paralel dengan system qabilah atau 'ashabiyyah. Perempuan mendapat tempat terhormat, meskipun sekarang ini belum didapat interpretasi teks secara jelas tentang mengapa pada waktu itu perempuan dalam masyarakat Arab dibawa dan sering terlibat dalam peperangan-peperangan. Kiranya, ada penelitian mendalam tentang persoalan ini.
6- 18. Secara kesejarahan sosial, ini tidak dapat dipilahkan dari berbagai peristiwa persaingan- persaingan suku atau kabilah dan ke-Bani-an, yang terekspresikan dalam peperangan intern muslim; di antaranya Perang Jamal dan Perang Shiffin yang dikenal dengan tahkim-nya.
7- 19. Cara-cara yang terkesan tidak berperi-kemanusiaan yang itu dipilih karena perseteruan dalam penggantian Bani tertentu (Umayyah) oleh Bani yang lainnya (Hasyim); peristiwa ini dilatarbelakangi aspek dendam sejarah dan dendam sosial-budaya antara keduanya, Bani tertentu dan Bani yang lainnya serta sebagian besar masyarakat muslim pada umumnya.
8- 20. Ada apa tentang Kufab Konon, penduduk Kufab selalu menerima ajakan untuk memberontak, dan tidaklah mustahil mereka itu hanyalah pengaku-aku" Syi'ah saja; Penyair Farazdag menyebut- nyebut bertemu dengan Husain dan mengatakan tentang penduduk Mekkah bahwa bati penduduk Kufah bahwa hati mereka ada bersama Husain akan tetapi pedang mereka ditujukan kepada Husain. Penduduk Kigfah menggunakan pedang mereka untuk membunuh pemimpin dan pembesar Islam. Yazid mengganti Gubernur Kufab dengan Ubaydullah ibn Ziyad gubernur yang ketika adalah Gubernur Basrah. Dengan demikian Ubaydullah merangkap jabatan Gubernur, Basrah dan Kufah.

Seputar Kebenaran

Suatu bacaan sosio-kultural dari beberapa karya yang berkaitan dengan Imam Husain dan tragedi Karbala perlu dikemukakan di sini. Dari sini diharapkan adanya suatu argumen dengan suatu analisis isu kritik interpretasi tekstual atau argumen yang memuat spektrum aliran eksegetik.

Dari perspektif upaya radikal, otoritas tekstual merupakan makna yang membawa ke penyesalan atau pertaubatan dan upaya perlawanan. Selain muatan teks-teks(1) seputar tragedi Karbala dapat dibeberkan melalui tradisi ini, juga dari teks-teks prinsip-prinsip teologis universal(2) yang signifikan dan sangat bermakna dapat diungkap perasan interpretasi historis dan pengutaraan sisi sosio-kulturalnya.(3) Dari eksperiensi mereka yang memegangi teks-teks sebagai kebenaran dan dari dimensi sosio- kultural, pesan dan muatan teksnya menjadi wilayah pemikiran abstrak dan pemikiran reflektif spiritual para teolognya.(4) Secara impresif, ideologi teologis tekstualnya merupakan interpretasi bacaan teks para idealis yang merupakan situs interioritas(5) dan bukannya pada situs eksterioritas. Dari teks-teks yang tersedia, terbaca bahwa karakter sosio-kultural teks adalah penindasan terhadap peri kemanusiaan, dan bersifat selama-lamanya, lestari. Lekat dengan mereka yang meyakini, barang kali dapat dikatakan sebagai "hermeneutika pribadi”. (6) “Sang pembimbing, pendamping, dan penyelamat" terdomestikisasi sebagai “sayyid kemanusiaan yang melalui hati manusia, disitu lah manusia memanggil dan menyeru dia. Salah satu sisi teologis dengan pencarian akan sang Imam yang benar-benar person seutuhnya tersusul dalam suatu intersubjektivitas labirin. Dan, itu terefleksi sebagai kecenderungan yang lepas dari suatu konflik yang tak menentu, menjalani sejarah untuk perlindungan diri—serta penyerapan atau semacam budaya narcisme, (7) dengan kekuatan politik yang dicapai dari pengasingan teks untuk suasana pribadi, dan ini dengan melalui semacam rezim militer.

Seterusnya, dari teks-teks juga terdapat beberapa interpretasi teks yang mendekati teks dengan arkeologis-kultural. Di sini diperlukan

P: 246


1- 21. Yang dimaksud dengan teks-teks di sini adalah berbagai teks, baik teks suci atau yang dipandang suci maupun teks-teks berupa bahan kajian yang dipersiapkan oleh Panitia Workshop.
2- 22. Imām dipahami sebagai emanasi dari Zat Ilahi, akal unversal (aglal-kulli), intelijensi-semesta; karena itu Imām adalah scorang pengemban pengetahuan langsung tentang kebenaran- kebenaran rahasia dan kebenaran-kebenaran batin serta kondisi spiritualitas yang membawa pada penyatuan-kembali rüh manusia dengan Ruh Tuhan.
3- 23. Dengan konsolidasi keyakinan doktrinal dalam bentuk tulis, perkembangan kehidupan ritual publik, dan pengakuan politis dengan menguasai otoritas-otoritas Syi'ah ini muncul sebagai komunitas "sektarian dalam Islam. Ada kepercayaan bahwa Muharam menjadi sentra hari raya merupakan kalender agama Syi'ah; puji-pujian resitalis tentang kisah yang sangat menyayat dan memilukan hati tentang Husain, proses yang melibatkan pembangkitan semangat publik, kothbah-kothbah dan pujian-pujian serta ratapan suci menandai suatu periode berkabung dengan ratapan dan penebusan rasa salah dan rasa berdosa atas kematian Husain dalam tragedi Karbala.
4- 24. Doktrin tentang insan kamil dan hierarki para orang suci yang tidak dikenal secara fisik, doktrin tentang qutb semesta yang seputar itu alam berputar dan beredar, memberdayakan keyakinan umum tentang mukjizat-mukjizat Sufis. Meskipun konsisten dalam prinsip dengan orientasi Sufi-syar'i, ajaran atau doktrin-doktrin teosofis Ibn 'Arabi dapat menerima bentuk praktis keagamaan dan keyakinan para awam yang dengan jalan itu Muslim mencari jalan pintas ajaran- ajaran tentang pandangan hidup syar'iy mengenai hidup dan mencari pencapaian penyelamatan spiritual yang secara langsung, dengan beberapa sarana dan wahana kontemplatif; sungguh merupakan suatu kemukjizatan, yang luar biasa, tidak lumrah. Bagi para shaykh atau para guru sufi, tasawuf adalah suatu praktik ibadah pencerahan gnostik (ma rifab). Bagi mukmin awwām, sufis disamakan dengan pemujaan terhadap para tokoh suci, penghormatan dan pemuliaan dan kadang-kadang pemujaan terhadap makam-makam mereka. Pemujaan dan pemuliaan serta penghormatan ini bersumber dari pemahaman dan interpretasi Al-Qur'an dan hadis yang menyebut-nyebut tentang nabi, malaikat, 'alim atau ‘ulama' dan juga orang suci, sebagai perantara, sebagai intercessor (perantara, intermediary) antara manusia dan Tuhan. Peristiwa miraj atau naiknya Muhammad Rasulullah ke surga dari Jerusalem menjadi pusat ketaatan yang cukup popular dan menjadi inspirasi para sufi, Al-Bistami memfungsikan miraj sebagai suatu model perjalanan dan pengembaraan mistik-sufisnya, yang di situ ada tahapan-tahapan martabat miraj Muhammad Saw. yang dipandang merupakan padanan tempat-tempat pemberhentian sang sufi dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan.
5- 25. Karya-karya mistik dan teologi formal sangat mendukung keyakinan-keyakinan umat Syi'ah yang juga direspons oleh kaum Sunni. Awal abad ke-9, al-Tirmidhi (w. 893) mengembangkan gagasan tentang mereka yang tokoh suci sebagai suatu eksplanasi power dan kekuasaan kaum sut yang sering dipandang penuh misteri. Al-Baqillani (w. 1013) menulis bahwa para shaykh sufi adalah teman-teman Allah (khaliluLlah) yang mampu melakukan berbagai kemukjizatan dan sering menjadi wasīlab (intermediary, intercessor, perantara); karyanya menguraikan tentang ajaran teologi para tokoh sufi yang cukup distingtif berbeda dari ajaran teologi yang lainnya, dan membatasi kekuatan-kekuatan adikodrati dan adiinsani, Al-Qushayri dan al-Ghazzali menerima doktrin ini dan memandangnya sebagai bagian dari keyakinan muslim yang syar'i*. Ibn 'Arabi menguraikan akidah ini dalam suatu ajaran kosmologis tentang martabat dan thabagat para tokoh suci yang menegakkan tatanan semesta. Doktrin-doktrin ini sangat mendukung keyakinan dalam upacara dan perayaan sufis yang mengakui efektivitas atau manjurnya doa-doa yang dilakukan di makam-makam para tokoh suci dan pencarian penghayatan ekstasis. Kesetaraan para tokoh suci dan para shahid dengan alam spiritual menjadi aspek budaya religius yang dapat dikatakan inheren. Asas intelektual atau asas doktrinal tasawuf ada dampaknya kepada umat atau penganut agama, untuk meyakini kekuatan adikodrati para tokoh suci. Secara studi agama-agama, dirasa perlu ada pengembangan disiplin ekologi agama dan geografi agama yang dilakukan dengan eksplanasi yang cukup akademik.
6- 26. Para fundamentalis dan para eksistensialist modern mungkin terkesan secara filosofis antagonistik, tetapimampu berbagi dalam komitmen esensial untuk mendekati teks-teks dengan kesadaran pencarian terhadap yang suci.
7- 27. Sisi positif komentar ini bukannya harus diterima begitu saja; begitu pula sisi negatifnya. Untuk lebih jelasnya, sisi psikologis ini dapat dibaca Kristopher Lasch, The Culture of Narcissim, New York: Norton, 1979. cf. Alef Theria Wasim, presentasi di Tokyo, Maret, 2005.

pemahaman teks-teks dalam narasinya dan konteks yang selain sosio-kultural juga historis-kultural, dan kekakuan ilmiah, baik dari filologisnya maupun sampai ke filosofisnya, menjadi tidak begitu bernilai.

Ketidakberhasilan asosiasi kerja akademik sering kali terletak pada tidak mau mengakui komitmen ideologis sendiri.

Tidak ada sesuatu yang dipandang sebagai suatu situs yang netral, yang dari sini penafsiran terhadap teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala dilakukan. Dalam hal ini dirasa perlu untuk melihatnya dari pemahaman dan interpretasi secara sosio-kultural-“historis" nya; dan ini barang kali saja dapat dilihat pada munculnya kritik historis yang sosio-kultural dalam melakukan berbagai kajian pemikiran sehingga cukup saintifik, yaitu dengan adanya pergeseran dalam iklim intelektual menjadi ke sosio-kultural atau lompatan budayanya.(1) Beberapa penulis ada yang berupaya mengalamatkan teks-teks pada situasi sosio-kultural- historisnya sendiri. Tanpa disadari, dari sini pendirian teologis ilmiah atau religius ilmiah menjadi terlibat dalam sarana dan wahana ideologis lokus sang penguasa di Pusat Kekuasaan. Dari sini dirasa perlu untuk berupaya melihat bagaimana strategi membaca dimensi sosial-budaya.

Dapat dijelaskan bahwa teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala digunakan untuk menjustifikasi hampir segala macam kontradiksi posisi, dan adalah fakta bahwa suatu teks dapat menjadi mode untuk mengatakan sesuatu makna; dari sini dapat dipahami bahwa teks pun bisa jadi tidak memiliki sesuatu untuk dimaknai secara lain. Interpretasi bukanlah sesuatu "akt" yang berdiri sendiri, karena teks-teks dapat terjadi dalam suatu medan pertempuran yang di situ ada suatu rombongan besar dengan berbagai kehendak yang cukup interpretatif, baik secara konflik terbuka maupun secara konflik yang implisit. Dalam konteks bacaan terhadap teks-teks Imam Husain dan tragedi Karbala, bisa jadi hanya akan ada suatu interpretasi lain yang lebih kuat yang dapat melemahkan dan merobohkan, dan secara praktis akan menolak berbagai interpretasi yang

P: 247


1- 28. Sekalipun demikian, akan lebih tegas kalau dapat dirujuk ke interpretasi tekstual suatu kritik sistematik ideologi akademik tentang subjektivisme.

ada. Dan, secara akademik sudah ada subjek yang merupakan komentar popular dan sudah ada subjek yang merupakan penelitian akademik.

Tragedi Karbala mengingatkan kepada kita tentang penjelasan yang mulanya seperti suatu jalan melalui hutan belantara, tetapi sekarang merupakan suatu jalan yang sudah lazim dikenal bukan hanya sebagai suatu icon keagamaan saja, tetapi juga merupakan upaya mencegah jangan sampai seseorang berkeinginan menentang kedaulatan dan kekuasaan kebenaran, al-Haqq. Eksekusi yang dilakukan dengan penuh tipu daya yang sangat mengerikan dan sangat tidak manusiawi ini sangat layak kalau dinyatakan tidak sah. Jika ada ancaman dengan kematian, seharusnya kematian itu diperoleh dalam kebebasan dan kemerdekaan, dan seharusnya disambut dengan pemikiran, mata dan telinga terbuka, serta kesadaran nurani.

Secara psikologis, di mana ada kekuasaan tersentra, sebagai penguasa, Mu'awiyah dan Yazid serta tiran-tiran lain adalah sebagai superior yang ingin memaksakan kehendak dan memandang para oponen sebagai lawan yang sangat membahayakan. Mu'awiyah, Yazid, dan tiran-tiran merasa sangat terancam oleh minoritas Imam Husain dan para pendukungnya.

Tragedi Karbala merupakan bentuk kekejaman yang sulit ditoleransi dan merupakan bentuk hukuman yang tak ada lagi hukuman lain apa pun yang dapat diberlakukan. Tragedi Karbala bukan hanya akibat konkret praktik kekhalifahan, tetapi juga momen yang bersifat mitos.(1) Betapa skenario teks-teks terekspresikan dengan penuh tragedi.

Latar depan di bawahnya adalah terpancangnya bentuk pemerintahan, yang semua oponen Imam Husain berkumpul bersama-sama untuk mencibiri; latar belakangnya, beberapa pengikut, bahkan keluarga dan istri serta anak-anaknya, secara manusiawi menyaksikan dengan penuh ketakutan dan kengerian. Seterusnya ... bagaimana manusia sebagai "manusia” menghayati ini, kemanusiaan yang berada dalam akhir segala akhir yang tak mengenal akhir penderitaan yang sangat menyedihkan? Ini dapat membawa pada kesedihan yang menghancurkan dan kehancuran yang menyedihkan. Apakah di situ tidak ada sebagian dari diri manusia

P: 248


1- 29. Ada kalanya ini diungkapkan dengan ... kapan matahari mengundurkan diri, barulah kekuasaan- kekuasaan tumbang, dan dunia pun kiamat.

yang sembunyi dalam setiap karakter? Sebagian pengikut setia yang berkeyakinan imani, laki-laki, perempuan, tidak berada di pertunjukan besar tragedi itu, sudah lama sebelumnya dipenuhi oleh aroma pertentangan dan konfrontasi. Sebagian lagi yang tetap cermat dan waspada bersama dengan anak-anak, para pria dan wanita, mereka sangat meragukannya karena tidak masuk akal dan mereka kebas, mati rasa, karena penuh kesedihan? Masih ada lagi sebagian mereka yang demi amannya dan oleh padatnya kerumunan, mereka bergabung dalam gumaman mempertanyakan dengan menggelikan tentang “Imam" yang kemudian berubah menjadi ibad" yang merana dan menderita? Lalu, siapakah yang benar-benar bisa memercayai dan meyakini, bahwa itu benar-benar keluar dari jalur jalan yang benar? Benarkah manusia bukan manusia lagi? Membaca teks-teks, mengajak pembacanya untuk ngeyem-yemi (Jw.) mereka yang ragu terhadap para penonton yang berdiri di dekat, di dalam manusia. Ini bukannya bahwa sebagian manusia mendambakan dan merindukan sesuatu yang murni, tulus, jujur; yang suci, yang tidak terkotori, merindukan sesuatu yang mengakhiri penindasan yang di sini membuat manusia marah dan ngamuk, yang amarahnya dan amukannya itu ditujukan kepada sesuatu dan seseorang; seseorang itu layak menjanjikan, tetapi belum sempat menyampaikan suatu tatanan baru. Ini bukannya merupakan kegetiran dan kepahitan suatu harapan yang berkali- kali meremukkan dan yang membuat pembaca teks-teks terkesan secara mati-matian di detik-detik terakhir mencari campur tangan sang Imam yang selalu dibimbing dan diselamatkan Sang Mahakuasa, yang apa pun saja perkataan dan pernyataannya akan merupakan pernyataan tentang kebenaran, al-Haqq? Sejauh manusia haus akan keadilan Ilahi, dengan segenap hati dan kekuatan, begitulah manusia mampu “hadir" berada dalam peristiwa tragedi Karbala bersama dengan mereka yang lainnya, dan manusia mencari suatu penjelasan eksplanatif(?!). Siapa di antara yang beriman yang benar-benar siap menerima bahwa dengan Imam Husain dan mereka yang terbantai

P: 249

dalam penegakan kebenaran tetap berada di sana, ia akan dapat melihat jalan menuju kebebasan, jalan untuk mengakui bahwa saat ini kekuasaan- kekuasaan itu terjungkal dan keimamahan datang dalam keagungan dan kemuliaan. Malah, jika ia mengerti pertunjukan besar yang memalukan ini "dari jauh”, siapa saja di antara kita yang (sebagai benar-benar manusia) akan mampu merengkuh implikasinya bagi kesadaran manusia sendiri, dan bagi kehidupan manusia sendiri, dan bagi peradaban manusia? Jika manusia mengabulkan panggilan dan seruan dari seorang syahid untuk mengikuti lagi jalan ini dari semula, apakah manusia juga tidak akan bebas dari ketakutan dan kegentaran? Tatanan simbolis memberi pengertian nilai-nilai dan norma- norma yang dikenal dengan kaidah-kaidah kultural yang mengatur dan menyesuaikan fungsi kehidupan sosial-budaya dan makna. Kajian sosiosimbolis dalam studi agama-agama dari perspektif apa pun menjadi penting dalam memahami (understanding) dan menjelaskan (explaining) tentang “Imam Husain dan tragedi Karbala”. Dalam interpretasi sosio- kultural, lazim bila tatanan simbolis itu sulit, tetapi bukannya tidak dapat dimengerti; ini karena hal masuk akalnya, sepenuhnya bersandar pada suatu semantika dan seluruh bidang sosial yang asing bagi pembaca teks.

Biasanya, kajian yang dimaksud mulai dengan pembahasan hermeneutika singkat tentang socio-cultural symbolics dari perspektif akademik, termasuk kajian ilmiah tentang agama. Simbol tragedi Karbala adalah suatu ekspresi yang termanifestasikan dalam ketentuan dan tatanan sosial, suatu kegelisahan akan makna yang bermanfaat dalam masyarakat. Sayang, masih tidak diakui. Penghayatan sosio-kultural dan simbolis biasanya dijelaskan melalui simbol-simbol yang alamiah (tentang badan manusia dan bagian-bagiannya), dan sebagai suatu sistem interpretasi ini memiliki kesesuaian antara pengalaman sosial dan penghayatan simbolis.

Tatanan simbolis merupakan suatu jejaring yang kompleks dan terkait dengan batasan-batasan tentang insiders (yang mengambang) dan outsiders (yang terkait dengan kondisi tertentu dan keteraturan tertentu).(1) Struktur

P: 250


1- 30. Dalam pengamatan saya, hampir setiap hari besar di berbagai negara atau yang mayoritasnya muslim, hari-hari libur dan upacara peringatan-peringatan kepahlawanan mengingatkan kita pada sistem semacam ini.

dan wacananya menyosialisasi dan mengulturasi individu atau kelompok untuk mengerti dan memahami bidang ini sesuai nilai-nilai. Tatanan, aturan, dan ketentuan dapat dilihat sebagai suatu media pembimbingan menuju kebenaran; malah di berbagai wilayah belahan dunia, konstitusi berfungsi membatasi dan menjamin hak-hak individu dan kelompok serta merupakan sesuatu yang tak terlihat, tetapi merupakan gagasan simbolis dan yang secara sosial-budaya sangat efektif. Dokumen yang sakral sering dipandang sebagai suatu representasi ideologi kebebasan dan keadilan bagi semua. Tidak sulit untuk memahami bagaimana kelompok-kelompok yang menginterpretasikan penyelamatan sebagai suatu power sosio-kultural penting. Ketika dalam masyarakat Muslim kelompok yang berkuasa waktu itu adalah termasuk para politisi dan hakim atau fukaha', ulama, ayat-ayat Al-Qur'an dan teks-teks tentang peristiwa Karbala yang penuh dengan tragedi, maka kaidah kultural tentang "dosa” menjelaskan berbagai bentuk dan format sosio-kultural yang tidak seluruhnya bertentangan dengan bentuk dan format sosio-kultural dewasa ini.

Wacana tentang dosa dan suci atau bebas dari kotor, dan tidak najis, yang dengan kaidah dosa modern yang didasarkan pada ideologi dan kontrak sosial, sangat diperlukan. Kalau dulu kekuatan sosial lebih ditentukan oleh suku atau kekerabatan, atau ke-“Bani”-an, ashabiyyah, sekarang cenderung lebih ditentukan oleh akumulasi propertis. Dosa melibatkan gagasan tentang kewajiban hukum (yang dalam Islam sebagai kewajiban shar'iy) dan tugas kewajiban moral dalam dunia sosio- kultural manusia.(1) Kritik tentang kegagalan teologi kontemporer adalah memberikan fungsi kritik ini, yaitu ... beberapa teolog yang mestinya memberikan rumusan kategori pemikiran kepada kita dengan rumusan kategori yang lebih bermakna dan lebih tepat, secara realitas para teolog kontemporer sibuk dengan membongkar ritual yang tidak bermakna dan dengan menggunakan interpretasi teologis untuk memenuhi tuntutan para antiritualis. Ajaran-ajaran teologis semestinya bukan mendemitologisasi, dan ajaran yang “interpretasi teologis”, seyogianya merupakan wacana

P: 251


1- 31. Untuk kini, sebagai umat yang mengimaninya, menjadi warga negara setempat yang baik adalah diukur dari apa yang dapat diberikan atau disumbangkan dan didarmabaktikan kepada negara, dan dalam kontrak sosial-budaya, manusia menyerahkan kekuatan sosial(politik)-budaya kepada otoritas yang memenuhi syarat.

kritik, kreasi, dan penyelamatan wacana sosio-kultural simbolis. Sekalipun demikian, hal ini perlu perenungan mendalam agar dapat ditemukan formula ajaran-ajaran yang lestari demi peradaban manusia sendiri, kini, dan masa-masa yang akan datang, bagi bangkitnya kesadaran manusia.

Tragedi Karbala dan Perspektif Sistem Sosio-kultural

Studi agama-agama mengamati bahwa salah satu kelemahan kajian kritik sejarah tentang kitab-kitab suci dan teks-teks suci atau yang dipandang suci, dan beberapa karya teks lainnya, belum memandang penting faktor- faktor sosio-(lintas) budaya. Ada dua perspektif tentang sistem budaya yang dikenal dengan insiders dan outsiders. (1) Interpretasi tekstual dalam konteks sekarang ini, yang terkait dengan Imam Husain dan tragedi Karbala, sering mengesankan perspektif etis terhadap teks-teks dan teks-teks tersebut masih belum dikaji dari pendekatan lintas-budaya.

Tragedi Karbala merupakan pertempuran demi kebenaran itu sendiri, yang sekarang ini, analisis teksnya jarang dilakukan dengan pembelahan "teologi dan keagamaan pada umumnya", serta pembelahan sumpah setia sering kali lepas dari pembelahan pembagian politik dan ekonomi.

Ini merupakan bukti dan sekaligus merupakan jawaban atas pertanyaan di berbagai wilayah muslim; dan bukan hanya waktu itu, melainkan juga waktu sekarang dan waktu yang akan datang.

Di lembaga-lembaga wilayah yang disitu lembaga-lembaga keagamaan dan komunitasnya terpolarisasi, terlebih lagi yang terpolarisasi menurut garis-garis ideologis, beberapa komunitas dasar memberdayakan massa yang lemah dan tertindas melalui model lembaga- lembaga keagamaan. Biasanya, gerakan keagamaan menghimbau untuk mengembalikan studi teks dengan analisis sosio-kulturalnya, ke suatu tempat sentral dalam kehidupan komunitas agama. Bacaan kembali ke teks-teks bahwa keimaman dan tragedi terbunuhnya Imam Husain di Karbala adalah berpokok inti untuk melukiskan "kebenaran", al-Haqg, harus selalu dilakukan. Imam Husain sebagai seorang figur aktivis

P: 252


1- 32. Dalam studi teks dikenal dengan emics dan ethics.

politik, (1) pejuang melawan dominasi kebatilan, sebagai seorang penegak kebenaran, dan bahkan bisa jadi sebagai seseorang yang terlibat dalam semacam perjuangan kelompok umat. Jika Imam Husain sebagai figur politik kadang-kadang ia dinilai sebagai tokoh revolusioner, maka konsekuensi imani sebagai tokoh, ia sering dinilai sebagai tokoh yang tidak selalu bersesuaian dengan doktrin-doktrin agama. Sehubungan dengan suatu bacaan partisan terhadap teks-teks yang dijadikan acuan dalam kesempatan ini, maka bacaan tersebut bukannya asal mengabsahkan, dan/atau memanipulasi teks-teks karya siapa pun yang menulis tentang Imam Husain dan tragedi Karbala; terlebih lagi kalau secara sadar lalu melakukan kontrol terhadap teks. Adalah wajar kalau bacaan terhadap teks itu dilakukan melalui asumsi-asumsi yang ada. Dan lagi, suatu bacaan kritik secara benar harus menyadari tentang bahaya ini. Lingkaran hermeneutika sosio-kultural membuat bacaan harus menyadarkan para interpreter dan para pembaca teks-teks untuk menyatakan prakonsepsi dan perhatian secara terbuka yang disitu teks-teks dapat dilihat dan dikritik bukannya oleh para interpreter dan para pembaca lain saja, melainkan juga oleh teks-teks itu sendiri. (2) Haruslah diketahui bahwa berbagai cerita, dongeng, kisah-kisah, teks-teks, dan data sosial-budaya serta historis yang memuat informasi tentang Imam Husain dan tragedi Karbala, kata-kata itu pada lahirnya adalah yang mengajak dan mengundang komitmen para pembacanya. Teks-teks tersebut adalah lompatan; karena itu perlu memanfaatkan strategi bacaan yang sesuai dengan maksud dan tujuan teks-teks itu sendiri. Menindas atau memperkosa karakter parsialnya yang sangat mendalam juga dapat memberi pengertian memperkosa pengkhianatan terburuknya.

Sebagai pernyataan terbuka,(3) teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala ditulis untuk membantu mempelajari tentang "kebenaran", al-Haqq, tentang dunia mereka dan tentang diri mereka sendiri. Subjek- subjek tidak berpura-pura menyajikan kebenaran dan kenyataan al-Hagg secara tidak memihak dan dengan tenang.

P: 253


1- 33. Dalam sejarah ulama', relasi institusional yang melibatkan tatanan sosial-budaya keagamaan, sering kali terkesan ambigu. Perlawanan terhadap pemerintahan sporadik terjadi di berbagai lokus dan tempus, dan beberapa ulama mendukung aktivisme revolusioner dan guietisme religius. Dalam Syi'ah ada justifikasi keduanya, aktivisme revolusioner dan quietisme religius; posisi para aktivis dijustifikasi oleh doktrin-doktrin yang bersifat "amt ma'ruf dan naby munkar" dan dengan klaim para mujtahid menjadi para penasihat spiritual pada segenap komunitas wilayah tertentu, dan sering kali merupakan satu-satunya otoritas yang sah dalam ketidak-hadiran Imam yang tersembunyi; contoh dan keteladan Imam Husain merupakan pendirian paradigmatik tentang keharusan untuk berkonfrontasi dan melawan tirani atas nama keadilan dan Islam; tradisi kultural sering dipandang cenderung ke arah pacifisme politis atau faham suka damai; ekspektasi Syi'ah tentang ketidakadilan duniawi dan harapan akan penebusan mesianik berjalan melalui keterlibatan dalam kehidupan publik. Sering kali suatu revolusi tertentu sulit difahami dan eksplanasi bahwa itu dilakukan pada suatu oposisi keagamaan yang inheren terhadap otoritas pemerintahan yang ada, sekalipun demikian dapat dipandang sebagai suatu respons terhadap kondisi khusus.
2- 34. Konteks dalam teks.
3- 35. Dalam tradisi studi teks sering dikenal dengan manifesto.

Teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala, tentang keadilan, kehormatan, keharuan, dan kebebasan di dunia, adalah teks- teks tentang mereka dan bagi mereka yang memiliki komitmen terhadap karya dan krida Tuhan. Bagi para ahli teologi dan agama, teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala tidak menawarkan signal, baik ibrah maupun ayah, secara lahiri, tidak. Bagi para cendekiawan ahli yang secara ideologis menolak komitmen mereka sendiri, teks-teks tidak menawarkan jawaban. Adapun bagi mereka yang hendak mengangkat kegundahan kekuasaan yang benar, teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala menawarkan suatu cara tentang apa itu pengikut setia, kepemimpinan, dan keteguhan ....(1) Suatu bacaan tentang teks-teks yang dimaksud cukup asasi bagi asal terjadinya gerakan dan komunitas pengikut setia yang disiplin dan radikal, bahkan kontemporer. Teks-teks sumber asal gerakan dan komunitas tersebut berakar dari berbagai tradisi teks-teks yang riil dan teks-teks yang haqq bahwa ikatan pribadi yang dipilih dan terikat kuat tetapi tidak relevan dengan persoalan sosial-budaya yang diberikan, para pengikut setia yang dimaksud sangat menginginkan keseluruhan teks itu adalah bagi segenap pribadi orang, bagi seluruh dunia. Penyingkapan ajakan dan panggilan yang tidak mengenal keterikatan janji merupakan panggilan untuk komitmen terhadap teks-teks dan kesemuanya ini adalah kunci bagi manusia untuk menyadari dan menghayati kesalahan dan dosa yang perlu dilakukan penyesalan dan pertaubatan dengan permohonan maghfirah kepada Allah yang diiringi dengan amal konkret.

Kajian tentang teks-teks yang dimaksud akan menolong dari kritik teks dengan tesis bahwa menjadi pengikut setia adalah satu-satunya bentuk keimanan bahwa Imam Husain dan tragedi Karbala benar-benar ada dan terjadi, yang didukung pertempuran manusia tertentu melawan lemahnya pemahaman tentang Islam yang terakulturasi di masa lampau, kini, dan mendatang. Dalam keyakinan pendukung Imam Husain, selain bahwa manusia harus selalu kembali ke teks-teks tentang Imam

P: 254


1- 36. Para Imām dipahami sebagai emanasi dari Zat Ilahi, akal unversal (agl al-kulli), inteligensi- semesta; karena itu Imām adalah seorang pengemban pengetahuan langsung tentang kebenaran- kebenaran rahasia, batin, dan kondisi spiritualitas yang membawa pada penyatuan-kembali ruh manusia dengan Ruh Tuhan. Konsep ini menempatkan pemahaman Syi'ah tentang Imām dalam suatu konteks metafisis baru dan membuka jalan tentang bentuk-bentuk gnostik dan ritual penghayatan keagamaan dalam Syi'ah Imamiyyah. Pada pertengahan abad ke-11, Syi'ah Imamiyah telah menciptakan suatu kehidupan duniawi yang hidup dalam ekspektasi dunia. Dalam oposisi permanen pada rezim-rezim politis yang adalah Imamisme, lalu menjadi agama "keselamatan". Reselamatan ini dapat dicapai dengan hidup sesuai hadis Rasul, hadis Nabi, dan para Imam, dengan menyerap hal emosional ke dalam para syahid, atau dengan pandangan gnostis dan identifikasi mistis, dengan emanasi ilahi. Dengan konsolidasi keyakinan doktrinal dalam bentuk tulis, perkembangan kehidupan ritual publik, dan pengakuan politis dengan menguasai otoritas-otoritas, oleh sementara Orientalist, Syi'ah ini dipandang muncul sebagai komunitas 'sektarian' dalam Islam. Mereka percaya bahwa Muharram menjadi sentra hari raya sebagai kalender agama Syi'ah; puji-pujian resitalis tentang kisah tentang Imam Husain yang sangat menyayat hati dan memilukan hati, proses yang melibatkan pembangkitan semangat publik, kothbah-kothbah dan pujian-pujian serta ratapan suci, yang menandai suatu periode berkabung dengan ratapan dan penebusan rasa salah dan rasa dosa atas kematian Husain dalam tragedi Karbala. Kelompok kcagamaan bersaing dan berpacu dalam penghormatan mereka terhadap Imam Husain, dan sering kali dapat membawa pertumpahan berdarah-mendarah. Secara fenomenal, Syi'ah menegakkan Sentuhan Kalbu dalam menegakkan religiusitas.

Husain dan tragedi Karbala, juga bahwa manusia harus berpegang bahwa itu adalah suatu pernyataan terbuka. Teks-teks dimaksud merupakan suatu pernyataan terbuka bagi keyakinan yang radikal dan terbuka bagi kepenganut kesetiaan yang radikal. Sayang, bahwa gerakan-gerakan dan komunitas-komunitas belum berhasil dalam menemukan strategi bacaan baru yang padan dengan menukiknya politikisasi, sosialisasi, dan kulturisasi praktik-praktik kemanusiaan, sehingga bangkitnya kesadaran manusia belum merupakan ekspresi yang termanifestasi, terlebih lagi merupakan progresi secara konkret dalam peradaban manusia sendiri. Kajian tekstual kita masih tetap merupakan suatu kewajiban atau ibadah rutin yang ketat dan dibanding dengan kemajuan sains lain, kadang-kadang juga masih begitu oppervlaktig; bersifat kulit luar, dangkal. Daripada merupakan suatu hermeneutika kecurigaan, mungkin lebih tepat kalau tetap dilakukan dalam suatu kecurigaan hermeneutika. ... dan, itu masih bisa diterima.

Namun, dalam mencerdaskan dan menajamkan makna analisis sosio- kultural, historis, politis, kritik ideologis, atau psikologisnya, atau analisis yang lainnya lagi, historis sosio-kultural sudah barang tentu bukan lagi hanya memaknai kata-kata tekstual. Membaca dengan analisis historis sosio-kultural bisa dilakukan; dan dalam konteks kita, membaca dengan analisis sosio-kultural historis sangat mendesak untuk melengkapi cara kita “membaca” kata-kata yang tekstual tentang Imam Husain dan tragedi Karbala dalam kitab atau teks suci atau yang dipandang suci. Pelengkapan ini berisiko dapat menjauhkan praktik mereka yang mengimani akar dasar tekstual, dan terefleksi dalam fakta bahwa mereka yang terlibat dalam gerakan semakin banyak. Dengan demikian, mereka yang meminati untuk “membaca" teks-teks tentang Imam Husain dan terlebih lagi kaitannya dengan tragedi Karbala akan semakin sedikit dalam mengkritisi kata- kata. Di antara mereka ada yang masih teralienasi karena terlalu banyak memikul penderitaan abadi yang sangat berat, yang begitu relevan dengan praktik dan ajaran. Bagi mereka, adanya tawaran suatu strategi bacaan yang baru yang dapat menanggulangi “perselingkuhan” mimbar sekaligus

P: 255

secara akademik, sangat diharapkan. Dan, masih ada lagi mereka yang masih menekankan pada teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala yang secara langsung digayutkan pada situasi mereka.

Nah, tulisan ini diharapkan akan menantang, menyanjung, dan barang kali saja akan memberi inspirasi untuk mengkaji teks-teks yang dimaksud secara lebih sungguh-sungguh. Sebegitu tajamnya analisis sosio-kultural- politis, kajian terhadap teks-teks yang dimaksud memang merupakan pekerjaan berat dan hasilnya pun adalah persoalan-persoalannya akan semakin banyak dibanding dengan jawaban-jawabannya. Bukanlah suatu hal yang mustahil apabila para ahlinya dapat menjatuhkan pandangannya pada teks-teks yang dimaksud, dan dengan menjatuhkan pandangan pada teks-teks yang dimaksud, juga seseorang dapat menjatuhkan lawan ideologisnya; baik ideologi politis maupun ideologi teologisnya.

Konteks Psikologis Mayoritas-Minoritas Sosio-Religius-Kultural

Hubungan antara para tiran dengan umat Islam waktu itu dapat dikatakan sebagai hubungan mayoritas dan minoritas; ada kalanya mayoritas(1) atas mayoritas, (2) mayoritas(3) dalam mayoritas, (4) mayoritas (5) atas minoritas, (6) minoritas atas minoritas, minoritas dalam minoritas, dan minoritas dalam mayoritas.(7) Berbagai mobilisasi identitas kolektif melalui semacam etnisitas “ashabiyyah” atau “ke-Bani-an" dipandang dapat merugikan proses integrasi, dan proses integrasi merupakan salah satu misi Rasulullah Muhammad. Dalam realitas sosial-budaya, langkah para tiran sebagai mayoritas merupakan hambatan bagi keamanan dan kemajuan umat Islam dan patut disesalkan bahwa integrasi-(8) yang sudah ditegakkan dan dipandang sebagai doktrin religio-politis di awal-awal Islam, menjadi runtuh.(9) Fenomena ini memunculkan revivalisme yang bersifat asertif (menuntut) dan agresif, (10) meskipun ada yang defensif dan eskapis.(11) Hubungan antara mayoritas dan minoritas terinstitusikan dalam suatu yang tak lebih dari prejudice, memprahakimi,(12) dan phobi terhadap

P: 256


1- 37. Yazid dan Mu'awiyah.
2- 38. Husain dan pengikutnya di Madinah, Mekkah, Kufah, dan Karbala.
3- 39. Yazid dan Mu'awiyah.
4- 40. Umat Islam pada waktu itu.
5- 41. Yazid.
6- 42. Husain dan pengikutnya di Kufah dan Karbala.
7- 43. Ada beberapa gagasan untuk melakukan orientasi, meskipun dalam kenyataan sering bersifat dogmatis dan integrasionis.
8- 44. Integrasi di sini dalam pengertian terma umum yang dikaitkan dengan kegiatan mengumpulkan berbagai h. sehingga terbentuk satu keutuhan fungsional, dan reaksi yang dihasilkannya adalah cocok, sesuai dengan keadaan yang benar-benar ada. Cf. Alef Theria Wasim, "Minoritas dan mayoritas: pendekatan psikologis sosial keagamaan", dalam Antologi Studi Islam, Teori and Metodology, Yogyakarta, DIP PTÁ LAIN Sunan Kalijaga, 2000, h. 85-114.
9- 45. Bahkan sampai sekarang ini pun, di kalangan mereka yang Sunni masih banyak yang mempersepsi terhadap Syi'ah bahwa hak keimaman dalam pengertian sederhana "kepemimpinan untuk urusan yang bersifat saeculum dan acternum itu adalah keturunan atau herakliusis". Argumentasi mereka Sunni di antaranya adalah bahwa Islam adalah agama universal; bahwa di hadapan Allah manusia itu sama. Ini akan dapat memunculkan pandangan bahwa teologi Imamiyyah itu adalah eksklusif. Sekalipun demikian, ini sangat memerlukan kajian tersendiri dan akan tepat bilamana dilakukan secara studi agama-agama.
10- 46. Di sini dalam pengertian terma umum yang dikaitkan dengan perasaan-perasaan marah atau permusuhan. Agresi secara psikologis berfungsi sebagai motif untuk melakukan respons berupa perlakuan kasar, penghinaan, dan frustrasi.
11- 47. Alef Theria Wasim, Ibid.
12- 48. Baca penelitian Adorno, dalam Fathalla M. Moghaddam, Donald M. Taylor, and Stephen C. Wright, Social Psychology in Cross-Cultural Perspective, New York, W.H. Freeman and Company, 1993, 1. 40 42."

others":(1) Dalam konteks analisis sosio-kultural tentang Imam Husain dan tradisi Karbala, prejudice(2) sering dikaitkan dengan diskriminasi yang secara psikologis sosio-kultural, prejudice merupakan suatu sikap mayoritas, para elite Mu'awiyah dan Yazid, yang mendominasi orang untuk memprahakimi(3) secara tidak adil. Diskriminasi penguasa, khalifah, Mu'awiyah, dan Yazid adalah perlakuan tidak adil, keji, zalim, yang difokuskan pada minoritas, yaitu kelompok Imam Husain.

Kelompok yang berpemikiran bahwa jabatan khalifah itu bersifat turun-menurun dapat memengaruhi perilaku "others” dengan berbagai strategi dan di antara strategi yang terkuat adalah strategi norma-norma sosial-budaya.(4) Dalam konteks ini, Mu'awiyah menempuh berbagai cara, bahkan sampai mengancam untuk memenggal kepala mereka yang menolak pengangkatan Yazid, anaknya, sebagai khalifah.

Dalam persoalan integrasi, salah satu mitos terbesar konsensus integratif adalah konsepsi monolitik. Namun, sering kali hanya memproyeksi citra suatu konflik antara kelompok mayoritas dan minoritas.

Permusuhan di kalangan ke-“Bani”-an atau dan heteroginitas dalam penghayatan Islam waktu itu menghancurkan mitos solidaritas kelompok kolektif dalam nama umat Islam. Meskipun di antara mereka ada yang khilaf meredusir keseluruhan fenomena ke satu antagonisme ke-"Bani"- an atau "ashabiyyah”, tetapi masih ada beberapa anggota kelompok yang berkesadaran(5) untuk tetap bersatu dalam persatuan dan kesatuan karena ada perjumpaan.

Cukup menarik untuk dilontarkan di sini, bahwa bukanlah suatu hal yang aneh bila kelompok Mu'awiyah, mayoritas, dulunya adalah suatu kelompok kecil minoritas yang diperintahkan oleh Utsman untuk membantu pasukan Yazid dalam rangka menaklukkan Syam. Kelompok minoritas tersebut menjadi dominan atau terdominasi tergantung pada berbagai hubungan kekuasaan (power) dengan kelompok lain. (6) Pengaruh sosial-budaya melibatkan power. Mu'awiyah dan sebagian elite muslim pendukung Mu'awiyah dan Yazid dalam satu kelompok memiliki power

P: 257


1- 49. Persoalan others dalam perspektif minoritas muslim dapat dibaca dalam tulisan Michael W. Suleiman, Islam, Muslims, and Arabs in America: The Other of the Other of the Other ..., dalam JMMA, vol. 21, 1, April.
2- 50. Prejudice dapat terjadi pada kategori sosial-budaya keagamaan: perempuan, mereka-mereka yang miskin, dan mereka para strata sosial terendah, mereka yang terancam, mereka yang tertindas.
3- 51. Sikap ini rigid, memberi beban emosional terlalu berat, dan dapat dikatakan resistan untuk berubah. Memprahakimi melibatkan persepsi yang selektif dalam pengertian hanya fakta dan keyakinan yang cocok dengan prejudice, yang dipercaya. Argumen dan bukti apa pun yang kontradiktif tidak dipedulikan; ditolak karena tidak logis, bahkan kadang-kadang sangat tidak dimengerti. Sebab, itu hanya logika dan bukti yang cukup kuat saja yang mampu mengubah prejudice yang menghunjam.
4- 52. Pengaruh sosial-budaya yang kcagamaan ini dapat dikatakan hampir ada pada semua budaya terkait dengan agama; hanya saja cara mempengaruhi satu terhadap yang lain tidak selalu sama. Dalam beberapa budaya dan agama, ketaatan lebih tinggi daripada norma lain, sementara cara- cara melakukannya berbeda-beda. Cf. teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala, utamanya tentang dialog Imam Husain dengan beberapa fihak; baik dari pendukung Mu'awiyah dan Yazid maupun dari pendukung Imam Husain sendiri.
5- 53. Berkesadaran di sini dalam pengertian memiliki totalitas dari berbagai pengalaman mental (keagamaan) seseorang, kesadaran merupakan bagian dari diri sendiri yang sadar akan ide-ide keagamaan, sensasi-sensasi, tindakan-tindakan keagamaan, dan keadaan lingkungan sosial- budaya yang mengitari dirinya.
6- 54. Perlu dikaji kembali bagaimana Mu'awiyah memanfaatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam proses menduduki jabatan khalifah. Baca bagian lain tulisan ini.

terhadap umat, dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, persoalan psikologis sosio-kultural keagamaan di sini adalah bagaimana minoritas Muslim (dapat) memengaruhi mayoritas umat Islam.

Perspektif “minoritas” bisa jadi memiliki peran yang sangat menentukan dalam pembentukan even dan hampir semua gerakan intelektual Islam dan sosial-budaya biasanya berawal dari gerakan minoritas.(1) Dalam hal ini, ada yang dapat dipertanyakan. Di antaranya, mengapa gerakan minoritas ada yang berhasil dan ada yang gagal? Strategi apa yang secara efektif mampu mendukung suatu minoritas untuk memengaruhi mayoritas? Untuk dapat memengaruhi mayoritas, posisi minoritas, yang dalam konteks ini adalah pendukung Imam Husain, harus tetap konsisten. Minoritas harus berupaya mempersuasi mayoritas bahwa suatu "garis biru itu hijau" dan secara konsisten mengatakan bahwa itu adalah hijau dan tidak ragu-ragu maju dan mundur antara “hijau dan biru”. Jika minoritas yang konsisten tidak disukai, maka akan memperoleh pengaruh lagi dengan cara menempel pada posisinya.(2) Namun, ini tidak dilakukan oleh kelompok pendukung Imam Husain meskipun ada juga beberapa yang membelot ke Mu'awiyah dan Yazid.

Ada beberapa perbedaan kualitatif minoritas (yang keagamaan) dan mayoritas (keagamaan) dalam memengaruhi “others”. Jika ada dampak minoritas agama muncul dari suatu kerelaan, maka pengaruh minoritas memunculkan suatu pemikiran kembali situasi tersebut. Karena pengaruh minoritas menimbulkan semangat penilaian kembali yang lebih mendasar, sering kali ini sangat efektif, dan umat akan semakin menghargai bila perspektif sebagai minoritas itu sendiri diberi perhatian. Lagi, dari perspektif minoritas, dalam masyarakat Islam sendiri ketika itu juga ada yang memiliki berbagai kapasitas menguntungkan.

Dalam pembahasan tentang konteks psikologis mayoritas- minoritas, persepsi tentang di mana letak power(3) sering diangkat. Ada yang berpegang pada “internal locus of control dan ada yang berpegang pada “external locus of control". (4) Ada beberapa kelompok minoritas yang

P: 258


1- 55. Oposisi yang dihadapi oleh Muhammad Saw. dan para pengikutnya (sahabat dan tabi in) yang sedikit jumlahnya, gerakan-gerakan dalam bidang kalam dan pemikiran-pemikiran Islam lainnya, bahkan juga gerakan-gerakan "modernisasi", dan rasa dendam yang mempertentangkan hak suara dalam perjuangan mereka bagi hak-hak perempuan, merupakan contoh fenomena ini..
2- 56. Secara ekstrim, malah ada yang memandang kalau perlu, menikam; jelas, yang demikian ini tidak pernah dilakukan oleh pendukung Imam Husain.
3- 57. Secara ekstrim, malah ada yang memandang kalau perlu, menikam; jelas, yang demikian ini tidak pernah dilakukan oleh pendukung Imam Husain sebagai persepsi dan ada pengaruhnya terhadap beberapa even.
4- 58. Tentang internal locus of control dan external locus of control dapat dibaca artikel J. Rotters, "Internal-external Locus of Control Scale', dalam J.P. RoIbnson and R.P. Shaver (eds.), Measures of Social Psychological Attitudes, Ann Arbor, Mich.: Institute for Social Research. Juga dapat diikuti presentasi saya di Tokyo, "Psychological aspects of religious plurality at the grassroots, with special reference to Indonesia", Maret, 2005.

memiliki external locus of control, sementara kelompok lain memiliki internal locus of control.(1) Selain itu, dalam umat Islam sendiri juga terdapat perbedaan power antara berbagai kelompok. Beberapa kelompok tertentu memiliki locus of control yang lebih eksternal, sementara yang lainnya bersifat internal. Kelompok minoritas ke-Bani-an (2)dengan sosial ekonomi lebih rendah cenderung memiliki locus of control yang bersifat eksternal, sementara anggota-anggota kelompok ke-Bani-an dengan sosial-budaya ekonomi menengah dan atas cenderung memiliki locus of control yang internal. (3) Perbedaan-perbedaan tentang locus of control tersebut berasal dari perbedaan pengalaman tiap-tiap kelompok masing-masingnya.

Anggota kelompok muslimün yang minoritas merasa tidak memiliki pengaruh, karena pengalaman-pengalaman hidup mereka menguatkan pandangan bahwa yang demikian ini memang wajar dan pernah mereka alami. Sebagai anggota dari suatu kelompok minoritas, mereka tidak memiliki power, mereka penerima hukum dan bukan pembuat hukum; dan mereka adalah penerima keputusan politik dan bukan decision makers politik. Konformitas, loyalitas, norma-norma, dan peran-peran agama serta keagamaan merupakan unsur-unsur pengaruh sosial keagamaan yang menarik untuk dikaji secara psikologis sosial-budaya keagamaan.

Adapun sisi praktis kelompok minoritas dan mayoritas agama adalah umat beragama.

Studi-studi klasik dan kontemporer agama dan keagamaan sering dikaitkan dengan terciptanya sebagian kontroversi, karena "studi-studi agamd" dan "studi agama-agama menunjukkan potensialitas kebebasan beragama seseorang yang menjadi sangat terbatas. Permasalahan studi tentang validitas personal responsibility, self-reliance, dan self-help, sering kali merupakan landasan dasar bagi masyarakat plural dewasa ini. Jika seseorang Muslim dapat dipengaruhi, ia harus bertanggung jawab meskipun tidak sepenuhnya. Seorang Muslim seharusnya melihat berbagai faktor di luar dirinya; misalnya saja faktor ke-“Bani”-an, 'ashabiyyah, gender, dan latar belakang sosial budaya ekonomi serta keagamaan sehingga status mereka

P: 259


1- 59. Dalam penganut faham kalam, persoalan ini sering terbaca dalam faham Asy'ariyah dan faham Mu'tazilah; sederhananya bahwa faham-faham keagamaan baik itu kalam, fikih ataupun tasawuf, ada pengaruhnya terhadap persoalan minoritas dan mayoritas agama. Ada kalanya sebagai legitimasi ada kalanya sebagai guidance.
2- 60. Termasuk minoritas yang 'ashabiyyah.
3- 61. Tentang persoalan ekonomi dan locus of control, af. J.F. Trimble and S.S. Richardson, "Locus of Control Measures among American Indians: Cluster Structure Analytic Characteristics", dalam Journal on Cross-Cultural Psychology, 13, h. 228-238.

sekarang dan progresi mendatang menjadi jelas. Pengaruh sosio kultural terdesak oleh mereka yang memegang power lebih besar, dan dari power ini hukum-hukum formal ditegakkan dan dapat memengaruhi norma dan peran sosio kultural.

Pengaruh sosio kultural keagamaan akan menemukan berbagai ketidaksetaraan power, baik kelompok maupun perorangan, untuk saling memengaruhi satu sama lain. Apabila (kelompok) Mu'awiyah dan Yazid memahami bahwa mereka dapat memengaruhi even-even, maka (kelompok) Imam Husain merasakan bahwa mereka kehilangan dan tidak lagi memegang kontrol even. Dengan mengetahui perbedaan locus of control antara kelompok mayoritas dan minoritas, ini artinya perlu melihat umat Islam secara sentranya(1) dan mengkaji pengaruh sosial-budaya dari perspektif berbagai kelompok (2) Memahami persoalan tragedi Karbala perlu mengerti analisis sosio kultural terkait dengan situasi psikologis dan kondisi psikologis kerangka politis, yang ada dampaknya pada sisi saeculum sebagai perubahan set- up politik yang kemudian dapat merambah pada perjuangan hukum; (3) kekhawatiran munculnya praktik kolusi dan nepotisme antara pemerintah dengan kelompok yang" mayoritas dipandang sangat membahayakan dan dapat menimbulkan keterancaman minoritas. Masih ada mereka yang tersekat dalam semacam “kegiatan" dan "perkembangan" ekonomi yang terefleksi dalam relasi hasil antara berbagai komunitas ke-Bani-an.(4) Hubungan relasi sosial-budaya tidak selalu diikat oleh budaya dan agama; persoalan adalah bagaimana interaksi dengan yang di sekitar kita, adalah suatu keprihatinan universal. Dan, menarik jauh peristiwa tragedi Karbala dari sisi kesadaran tentang pembedaan lintas budaya dan agama, Madinah, Mekkah, Kufah, dan Karbala, dapat memperbaiki pemahaman tentang hubungan interpersonal. Studi lintas agama dan budaya yang mengutamakan keumatan secara luas, dan hubungan antar-kelompok dalam berbagai budaya dan agama tidak hanya melukiskan unsur pentingnya budaya dan agama, tetapi juga pada batas hubungan yang dapat

P: 260


1- 62. Tidak secara juling (Jw. bléro).
2- 63. Karena norma-norma dan peran-peran berbeda dalam minoritas lintas-budaya pendukung Imam Husain di Madinah, Mekkah dan Kufah, maka perilaku pendukung Imam Husain yang dipengaruhinya juga berbeda. Perbedaan-perbedaan ini ada yang secara luas; ada yang dalam perilaku terkait dengan peran perempuan dalam berbagai sositas dan ada yang dengan peran kelompok agama dalam sositas yang ada waktu itu.
3- 64. Sehubungan dengan berbagai issu yang dengan kepemimpinan khalifah mempunyai pengaruh terhadap komunitas umat terkait dan perjuangan politis terhadap beberapa kelompok umat Islam tertentu (dalam konfrontasi hukum dan konfrontasi fisik), beberapa kelompok minoritas Imam Husain dan pengikutnya juga mengekspresikan perjuangan politisnya pada perjuangan yang syar'i. Sementara itu kelompok mayoritas, kelompok Mu'awiyah dan Yazid, memandang perlu memberlakukan "hukum syar'i" yang sesuai keinginannya.
4- 65. Adanya sistem keuangan pemerintah dan perdagangan besar yang dimiliki oleh kelompok tertentu dan dikuasai oleh suku atau Bani tertentu sering terbawa dalam hubungan minoritas dan mayoritas agama.

dipahami secara studi agama-agama. Dengan studi semacam ini akan diperoleh pemahaman relasi komunitas agama yang sangat relevan dengan beberapa kelompok agama dalam masyarakat. Studi tentang agresi dan perilaku prososio-kultural cukup menjelaskan ragamnya perbedaan antara berbagai paham keagamaan, dan studi tentang keyakinan lain termasuk yang masih dalam lingkup Islam, menunjukkan generalitas beragama yang bukan sekadar “having Islam", melainkan “being muslim”. Beberapa penelitian dalam berbagai masyarakat dan penganut paham keagamaan menunjukkan adanya beberapa prinsip agresi dan perilaku prososio- kultural ini. Studi tentang agresi manusia dan altruisme dipandang mampu menjelaskan bagaimana studi lintas-agama Islam, dan studi lintas-agama Islam, selain penting dalam memahami ragam dan pluralnya (umat) manusia termasuk muslimūn, juga memberi alat yang bermakna untuk menguji prinsip dan teori dalam studi Islam dan keislaman.

Komentar dan Catatan

Dalam realitas, umat Islam memiliki latar belakang 'ashabiyyah ke- “Bani"-an, etnik, bahasa, adat istiadat, dan organisasi sosial politik, dan Islam mampu menyatukan keragaman penghayatan kemanusiaan. Islam juga memperbolehkan umatnya melakukan formulasi konsep-diri, mengatur keberadaan mereka, menyediakan ikatan-ikatan masyarakat dan terpenuhinya hasrat serta kebutuhan untuk mendapatkan bimbingan sehingga dapat diselamatkan. Untuk itu, sebagian muslim merumuskan bahwa Islam menempa salah satu keluarga spiritual agung pada manusia.

Dari sini terbaca bagaimana penghayatan agama Islam di kalangan penganutnya, utamanya setelah mengalami berbagai peristiwa dan tragedi Karbala yang merupakan peristiwa yang di situ segala dimensi kemanusiaan berawal. Pengikut Imam Husain meyakini bahwa Islam menempa salah satu keluarga spiritual akbar pada manusia dan krida ini nantinya membawa pengaruh kepada umatnya dan kepada segenap manusia, bahkan sampai sekarang pemuliaan dan penghormatan yang

P: 261

dimaksud masih berlangsung dan ini diyakini bahwa itu akan tetap terus berlangsung, lestari, abadi selama-lamanya.

Dalam memahami tragedi Karbala, terlihat adanya tripod pada masyarakat, yaitu (budaya) etnik kesukuan, budaya keagamaan, dan tata budaya aristokratik, yang dapat dikatakan mampu memunculkan suatu peradaban. Artinya, ada keterkaitan tripod sosial-budaya dengan budaya- budaya Islam pada perkembangan peradaban; yaitu suatu relasi budaya Islam dalam memberi pola institusional kekuasaan, ekonomi, dan agama, yang berhubungan dengan dampak kultural persoalan perubahan sosial keagamaan.

Adanya sistem ajaran Islam yang kompleks dan sistem budaya yang kompleks dalam masyarakat yang ada, termasuk terbentuknya lembaga- lembaga terkait dengan kepemerintahan, sering kali membatasi relasi rezim politik ke sistem keagamaan. Nilai-nilai Islam mengangkat umat dan itu adalah yang di-amr-kan oleh lembaga-lembaga atau institusi keagamaan dan politis secara paralel yang dalam perkembangannya, merupakan suatu paradigma bagi kreasi umat dan sositas-sositas yang sama, di belahan- belahan lain dunia ini. Dengan demikian lalu mengkreasi suatu sistem dunia yang universal. Keyakinan, budaya, dan lembaga-lembaga sosial yang cukup bervarian, berinteraksi dengan masih kompleksnya lembaga rezim politik (termasuk sistem ekonomi), bentuk-bentuk kesukuan, komunitas etnis, dan berbagai mode budaya.

Peristiwa tragedi Karbala sulit dipilah dari persoalan kekuasaan, ekonomi, dan konflik interpretasi keagamaan, utamanya oleh para elite agama, ulama, dan sufi. Ketika elite politik bani tertentu memilih corak selera yang baru, maka membawa perubahan pada persoalan sosial-budaya dan keagamaan, dan terjadi suatu redefinisi berbagai bidang kelembagaan.

Analisis sosial-budaya tragedi Karbala tidak terpilah dari dunia mental psikologis pengikutnya. Suatu institusi memotong kompas suatu aktivitas, suatu pola relasi social, dan seperangkat konstruksi mental.

Tidaklah mengherankan bila sering kali umat Islam dikenal dengan

P: 262

empat tipe institusinya; keluarga (termasuk ke-bani-an, suku, etnis, dan kelompok kecil), ekonomi (pengaturan sirkulasi dan akumulasi properti); budaya (konsep keagamaan tentang nilai-nilai tertinggi dan tujuan hidup, serta kolektivitas yang dibangun di atas komitmen bersama); dan politik (tatanan tentang kekuasaan, resolusi konflik, dan pertahanan). Konstelasi struktur suku, agama dan politik pada waktu itu dikreasi sedemikian rupa dan persoalan pada masa Imam Husain masih sulit dipilah dari sisi kultural dan identitas. Budaya sebagai suatu proses dan kadang-kadang sebagai produk adopsi dan adaptasi serta hasil interaksi sosial dapat membawa pada terciptanya budaya-budaya wilayah luas dan menciptakan sejumlah sositas Islam pada waktu itu. Seterusnya, produk ini memproses kembali dalam transformasi dengan sentuhan-sentuhan lain. Dalam Islam, lokus individuasi yang signifikan adalah faktor-faktor institusional dan kultural.

Persoalan-persoalan pertimbangan sisi ekonomis merupakan aspek tentang segala nilai kemanusiaan dan aksi-aksi sosio-kultural dalam Islam yang sering kali dipandang penting. Pembagian strata penguasa dan yang dikuasai barangkali saja tidak begitu menentukan, tetapi inheren dalam pemerintahan dan tatanan keagamaan.

Dalam realitas budaya, tragedi Karbala yang kemudian memunculkan konfigurasi institusi Islam dalam analisis sosial-budaya keagamaan memunculkan orientasi yang baru. Bila pada masa Rasulullah Muhammad, Muhammad menerima wahyu itu secara perfektif, istikmāli, memasukkan pola-pola kuno yang hidup ketika itu dengan makna- makna baru, maka pada peristiwa tragedi Karbala terdapat semacam paham dan keyakinan agama yang baru, yang berkembang di sebagian kalangan muslim, ketika ashabiyyah cukup menonjol. Institusi sosial- budaya merupakan ekspresi dan manifestasi tragedi Karbala dalam institusi yang bersifat kultural. Dalam hal ini, komunitas agama dan sosial-budaya Syi'ah cukup fenomenal. Basis keagamaan dan peradaban baru ini adalah suatu keyakinan imani sebagaimana ada dalam wahyu al- Qur'an dan pemahaman terhadap ajaran doktrinal teologis terprogresikan

P: 263

dalam praktik “Sufis”. Islam ketika itu, selain dipegang sebagai konsep semesta, aturan etika, norma-norma hukum untuk kehidupan sehari- hari, preskripsi ritual untuk mediasi hubungan antara manusia dengan Tuhan, juga merupakan metode-metode sufis tentang pengembangan diri, dan terlebih lagi sebagai simbol identitas diri. Islam melembaga dalam berbagai ideal religi; bila tasawuf Sunni pada waktu itu mengembangkan kehidupan etika dan spiritual, tasawuf Syi'iy menempatkan para Imam dalam pembimbingan dan penyelamatan. Filosofis gnostik irfani dan para sufi memilahkan aktualitas duniawi melalui konsep-konsep yang rasional dan spiritual tentang ajaran bimbingan keselamatan. Sositas pada waktu itu mampu membentuk integrasi peradaban lokal dengan aspek-aspek lain yang mampu menciptakan persaudaraan yang melahirkan komunitas manusia. Pandangan dunia dan filsafat hidup yang diprogresikan dari ajaran-ajaran para ulama' dan para sufi memberi pengertian yang cukup terinstitusionalkan secara sosial-budaya, yang tetap ada meskipun dengan berbagai penyesuaian adaptatif dan adoptif institusi sosial, identitas etnis "ashabiyyah" dan kelompok, dan kepemimpinan elite. Budaya yang ada pada waktu itu merupakan campuran konsep dan simbol keagamaan Islam sekaligus institusi dan identitas budaya yang lazim dan cukup human.

Interpretasi sosio-kultural keagamaan atau hermeneutika sosio- kultural keagamaan utamanya yang termuat dalam teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala memperlihatkan kesadaran problem metodologis di kalangan mereka yang lewat penggunaan disiplin sosio- kultural secara teliti, berupaya menentukan setting sosial pada waktu itu. Sayangnya, sering kali upaya interpretasi sosial-budaya diarahkan pada teks-teks yang tidak naratif, dan bukan dengan sikap sosio-kultural keagamaan dan tanpa strategi bacaan yang benar; atau, layak disayangkan bahwa interpretasi sosio-kultural mencari setting kehidupan yang lekat dalam teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala serta kondisi sosio-kultural keagamaan transmisinya. Selain itu, dirasa perlu untuk mencermati kata-kata dalam teks-teks yang benar-benar kata

P: 264

dari Imam Husain dan teks-teks yang memuat informasi sosio-kultural tentang tragedi Karbala. Menerima standard keimanan yang benar- benar autentik yang ditransmisikan oleh mereka yang benar-benar hidup dan menyaksikan berbagai peristiwa terkait tentang tragedi Karbala, sangat perlu untuk dilakukan koleksi sebanyak-banyaknya, lalu diseleksi, seterusnya direkonstruksi dengan dimensi psiko-sosio-kultural keagamaan.

Dengan demikian diharapkan ada pernyataan terkait dengan ajaran-ajaran yang lestari dari berbagai peristiwa pengorbanan Imam Husain bagi peradaban manusia, sekarang, dan lestari sampai di masa-masa mendatang, dalam kreasi peradaban manusia.

Catatan:

1 Dalam perkembangan, persoalan pengganti yang adalah para wakilnya ini, dalam tema diatas dipandang merupakan sinyal yang dapat diberi pengertian yang cukup interpretatif. Dalam sejarah masyarakat muslim, pengertian dan interpretasi ini ditanggapi dengan suatu impresi yang kemudian dihayati sebagai suatu eksperiensi, seterusnya diekspresikan dan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk rekaman yang sarat dengan berbagai muatan, dan diprojeksikan dalam berbagai progresi institusional yang fenomenanya cukup ragam. Fenomena yang cukup ragam ini ditegakkan sebagai suatu nilai yang dipandang perlu diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya; agar tetap lestari, nilai yang diwariskan ini tetap merupakan proses dan sekaligus produk sosio-kultural keagamaan dan peradaban manusia.

2 Konsep-konsep tersebut, baik yang bersifat doktrinal imam dan ma'mum, maupun ikatan batin, loyalitas, intermediary (intercession) atau para perantara antara manusia dengan Tuhan. Adapun kedudukan imam sering dibedakan antara yang kubra dan yang shughrā.

3 Persoalan politis-ekonomi sudah tampak sebelum Islam, utamanya penguasaan sumber air, dan penguasaan perdagangan pada umumnya, yang selalu merupakan perebutan suku atau kabilah, dengan konglomerat besar yang biasanya dikenal dengan penguasaan ekonomi di kalangan para "Bani".

4 Kehidupan politik di Arab dapat diinformasikan dari kehidupan sosial. Dalam realitas sosial- budaya ditemukan adanya pusat-pusat semacam bazaar atau pasar-seni yang di situ masyarakat dapat menikmati syair-syair ekspresif dengan pemaknaan luar biasa, sangat sarat makna. Muatan syair-syairnya sering kali merupakan refleksi sosial dan kritik sosial yang yang sangat tajam dan membidik. Oleh karena itu, peran ini lalu menjadi andalan suku (gabilah). Penyair yang sekaligus budayawan ini cukup melambangkan bagaimana suatu suku di mata masyarakat. Sering kali penyairannya bergeser ke pemitosan sang pahlawan dengan pedang dan tombaknya serta kudanya.

Persaingan antarsuku banyak melibatkan persaingan kepiawaian sang penyairnya, kearifan dan ketajaman kata-katanya. Teks-teks syair mereka sangat powerful. Selain itu, mitos dan kritik juga tersiar ke segenap penjuru jazirah Arab, dan sangat berpengaruh dalam masyarakat. Di antara syair mereka adalah yang menggambarkan kehidupan dengan segala aspeknya, bahkan sumber air, perempuan, kesopanan, sarat dengan ekspresi kehormatan, kemuliaan, kerinduan, yang juga sekaligus terekspresikan dalam syair-syair Sufis.

5 Pada waktu itu juga sudah ada keinginan umat untuk menampilkan Sayyidina Ali sebagai pengganti Muhammad; sayang usia masih relatif sangat muda.

6 Konon pembunuhan dilakukan oleh Abu Lu lu'ah dari Persia, yang adalah budak Mughirah ibn Shu bah; lihat Prof. Dr. A. Sjalabi, Sedjarah Kebudajaan Islam, (terj.), j. I, Djajamurni, 1970, h. 188.

P: 265

7 Calon-calon tersebut di antaranya, menurut Sjalabi, adalah 'Uthman ibn Affan, 'Ali ibn Abi Thalib, Talhah ibn Abu Zubayr, Zubayr ibn Awwam, Sa d ibn Abi Waqqas, dan `Abdu al- Rahman ibn Awf. Cf. A. Sjalabi, I, h. 191.

8 Prof. Dr. A. Sjalabi, Sedjarah Kebudajaan Islam, Jil. I, h. 203.

9 Salah satu buku yang termasuk banyak digemari adalah karya Farhat Daftary yang sering dipandang sebagai penulis tentang Imam Husain pada sekitar 1930-an, dan beberapa teks autentik tentang sejarah umat Islam menjadi jelas dari koleksi pribadi para pemiliknya dan para ahlinya, yang kemudian secara intelektual diterima oleh Dunia Islam. Sumbangan pemikiran intelektual ini adalah isu-isu penting tentang historisitas dan sisi sosio-kultural politik. Selain itu, teks-teks yang dimaksud juga memuat informasi yang bersifat doktrinal dan kultural. Teks- teks dimaksud selain memuat skup yang luas juga menggunakan sumber-sumber luas mengenai tema dan topik akademik yang cukup kompleks. Teks-teks memungkinkan pemahaman yang mengisyaratkan adanya berbagai sumber bagi masa-masa yang akan datang. Ini terjadi karena penulis-penulis pendahulunya selain mampu menghasilkan karya yang otoritatif juga teks- teks tersebut dapat dibaca; artinya, lengkap dan utuh. Karya referensi Syi'i layak mendapatkan komentar dari suatu studi agama-agama. Menarik bahwa ada teks lain ditulis dengan fokus klaim awal bahwa Sayyidina Ali adalah pewaris dan pengganti sah kepemimpinan di kalangan Muslim, dan jelas ini mendapat dukungan kuat dari penganut Syi'ah. Penganut Syi'ah menawarkan suatu reinterpretasi yang meyakinkan dan interpretasi tentang sejarah Islam awal, sesudah wafat Muhammad, dan cukup radikal.

10 Pada waktu di Madinah, Husain dipandang sebagai oposan Yazid dan Yazid mengirim utusan menemui Gubernur Madinah untuk membai'at Husain dan pendukungnya, tetapi Husain meminta untuk ditangguhkan, dan Imam Husain dari Madinah lalu ke Mekkah bersama keluarga, istri dan anak-anak. Pendukung Husain pecah pendapat, dan ketika berhadapan dengan 'Ubaydullah ibn Ziyad, Husain menyatakan, ".... Maut lebih dekat kepadamu ketimbang itu"; .. Al-Hurr meminta Husain untuk tidak kembali ke Kufah dan juga tidak ke Madinah, karena itulah Husain ke Karbala. Ibn Ziyad memerintahkan 'Umar ibn Sa ad yang suratnya dibawa oleh Syamir ibn Zil Jausyan untuk membunuh Husain. Adapun pertempuran Karbala 61H sangat tidak seimbang: serombongan kecil pengikut Imam Husain hanya dengan perlengkapan minim; karena itu satu per satu mulai dari panglima-panglima terbaiknya sampai anggota keluarganya, gugur. Mereka yang seharusnya membunuh Husain melarikan diri demi hormat mereka kepada Husain dan menghindari pertumpahan darah. Husain terbunuh dalam usia 55 tahun tanggal 10 Muharam dalam suatu tragedi yang sama sekali tidak ada martabat kemanusiaan, penuh kekejaman, dan sadis. Lima orang dikirim ke Ibn Ziyad. Imam Husain dibunuh oleh Zur'ah ibn Shuraik al-Tamimi dan Sinan ibn Anas yang melakukan pembunuhan secara tidak waras. Sejarahwan mengungkapkan kematian Imam Husain dengan terdapat 33 tikaman dan 34 pukulan, mukanya diinjak-injak kuda dan punggung serta dadanya hancur remuk. Konon, lima orang yang lepas dari tragedi itu: 'Ali Zainul Abidin, Zainab, Umar, Fatimah, dan Salimah.

Kepala Imam Husain dikirim oleh Ibn Ziyad kepada Yazid ibn Mu'awiyah di Damaskus.

11 Di Mekkah, Husain menerima surat dari Kufah yang memintanya datang ke Kufah untuk dibaiat sebagai pimpinan mereka. Di Kufah, ia mengutus Muslim ibn 'Aqil supaya berangkat ke Kufah mengecek kebenaran dan menjajagi kesiapan penduduk Kufah tentang permintaan mereka ini.

Namun, yang terjadi adalah Muslim ibn 'Aqil dibunuh di Kufah sehingga laporan tidak pernah diterima Imam Husain. Tanpa mengetahui apa-apa yang terjadi pada Muslim di Kufah, Husain ke Kufah. [Tidak diperoleh informasi jelas tentang siapa yang mengundang Husain ke Kufah, tetapi dugaan kuat bisa jadi dari kelompok Khawarij yang sangat kecewa terhadap Ali, yang mungkin bergabung dengan kelompok-kelompok lain di Kufah atau yang kemudian datang ke Kufah). Seterusnya Husain ke Karbala. Penguasa Hejaz, Ibn Zubayr menginginkan Husain pergi dari Hejaz, tetapi ditanggapi bahwa yang diinginkan Ibn Zubayr itu bahwa Husain pergi dari Hejaz ke Irak. Husain diskusi dengan Ibn Abbas, tetapi tetap memilih ke Kufah bersama keluarga, istri, dan anak-anaknya. Dalam perjalanannya ke Kufah, Husain ketemu dengan Farazdaq yang meminta supaya hati-hati, karena .... Hati penduduk Kufah kepada Husain, tetapi pedang mereka bersama Bani Umayyah, ... dan putusan datang dari langit, Allah Mahakuasa dan Allah berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya..... Husain hanya mengutamakan bahwa putusan datang dari langit, Allah Mahakuasa dan Allah berbuat apa pun yang dikehendaki-Nya, tetapi khilaf dengan bahwa .... Hati penduduk Kufah kepada Husain, tetapi pedang mereka bersama Bani Umayyah. Malah Husain menanggapi,".... Kamu benar, Allah Mahakuasa dan Allah berbuat apa pun yang Ia kehendaki!" 12 Mungkin dapat juga dibaca: penegakan hak jabatan khalifah.

P: 266

13 Dari sini mengingatkan kepada kita tentang adanya anggapan bahwa sistem "keturunan" ini- yang juga dikenal dengan Herakliusisme muncul dari Bani Hasyim.

14 Disajikan kembali sesuai kepentingan penulisan, dari A. Sjalabi, Sedjarah dan Kebudajaan Islam, 1971, ttp., Djajamurni, Jilid II, (terj.).

15 “Revolusi sosial-budaya keagamaan dalam bidang intelektual ini nantinya merupakan bibit peradaban dalam perkembangan Islam.

16 Sekali lagi, gerakan sosial-budaya keagamaan pada waktu itu adalah gerakan revolusioner dalam bidang intelektual, meskipun secara sosial-budaya, gerakan-gerakan pada waktu itu adalah melawan rezim Bani Umayyah. Selain secara fenomenal, gerakan-gerakan sosio-kultural keagamaan memperlihatkan adanya upaya persaingan perebutan kekuasaan di kalangan muslim waktu itu, tetapi dari sisi lain merupakan benih awal peradaban Islam..

17 Suku, ke-"Bani"-an, cukup unik, karena fanatik suku merupakan ekspresi dari eksperiensi dari masyarakat pada waktu itu. Mereka menghayati sistem keluarga yang cukup unik dan paralel dengan system qabilah atau 'ashabiyyah. Perempuan mendapat tempat terhormat, meskipun sekarang ini belum didapat interpretasi teks secara jelas tentang mengapa pada waktu itu perempuan dalam masyarakat Arab dibawa dan sering terlibat dalam peperangan-peperangan.

Kiranya, ada penelitian mendalam tentang persoalan ini.

18 Secara kesejarahan sosial, ini tidak dapat dipilahkan dari berbagai peristiwa persaingan- persaingan suku atau kabilah dan ke-Bani-an, yang terekspresikan dalam peperangan intern muslim; di antaranya Perang Jamal dan Perang Shiffin yang dikenal dengan tahkim-nya.

19 Cara-cara yang terkesan tidak berperi-kemanusiaan yang itu dipilih karena perseteruan dalam penggantian Bani tertentu (Umayyah) oleh Bani yang lainnya (Hasyim); peristiwa ini dilatarbelakangi aspek dendam sejarah dan dendam sosial-budaya antara keduanya, Bani tertentu dan Bani yang lainnya serta sebagian besar masyarakat muslim pada umumnya.

20 Ada apa tentang Kufab Konon, penduduk Kufab selalu menerima ajakan untuk memberontak, dan tidaklah mustahil mereka itu hanyalah pengaku-aku" Syi'ah saja; Penyair Farazdag menyebut- nyebut bertemu dengan Husain dan mengatakan tentang penduduk Mekkah bahwa bati penduduk Kufah bahwa hati mereka ada bersama Husain akan tetapi pedang mereka ditujukan kepada Husain.

Penduduk Kigfah menggunakan pedang mereka untuk membunuh pemimpin dan pembesar Islam. Yazid mengganti Gubernur Kufab dengan Ubaydullah ibn Ziyad gubernur yang ketika adalah Gubernur Basrah. Dengan demikian Ubaydullah merangkap jabatan Gubernur, Basrah dan Kufah.

21 Yang dimaksud dengan teks-teks di sini adalah berbagai teks, baik teks suci atau yang dipandang suci maupun teks-teks berupa bahan kajian yang dipersiapkan oleh Panitia Workshop.

22 Imām dipahami sebagai emanasi dari Zat Ilahi, akal unversal (aglal-kulli), intelijensi-semesta; karena itu Imām adalah scorang pengemban pengetahuan langsung tentang kebenaran- kebenaran rahasia dan kebenaran-kebenaran batin serta kondisi spiritualitas yang membawa pada penyatuan-kembali rüh manusia dengan Ruh Tuhan.

23 Dengan konsolidasi keyakinan doktrinal dalam bentuk tulis, perkembangan kehidupan ritual publik, dan pengakuan politis dengan menguasai otoritas-otoritas Syi'ah ini muncul sebagai komunitas "sektarian dalam Islam. Ada kepercayaan bahwa Muharam menjadi sentra hari raya merupakan kalender agama Syi'ah; puji-pujian resitalis tentang kisah yang sangat menyayat dan memilukan hati tentang Husain, proses yang melibatkan pembangkitan semangat publik, kothbah-kothbah dan pujian-pujian serta ratapan suci menandai suatu periode berkabung dengan ratapan dan penebusan rasa salah dan rasa berdosa atas kematian Husain dalam tragedi Karbala.

24 Doktrin tentang insan kamil dan hierarki para orang suci yang tidak dikenal secara fisik, doktrin tentang qutb semesta yang seputar itu alam berputar dan beredar, memberdayakan keyakinan umum tentang mukjizat-mukjizat Sufis. Meskipun konsisten dalam prinsip dengan orientasi Sufi-syar'i, ajaran atau doktrin-doktrin teosofis Ibn 'Arabi dapat menerima bentuk praktis keagamaan dan keyakinan para awam yang dengan jalan itu Muslim mencari jalan pintas ajaran- ajaran tentang pandangan hidup syar'iy mengenai hidup dan mencari pencapaian penyelamatan spiritual yang secara langsung, dengan beberapa sarana dan wahana kontemplatif; sungguh merupakan suatu kemukjizatan, yang luar biasa, tidak lumrah. Bagi para shaykh atau para guru sufi, tasawuf adalah suatu praktik ibadah pencerahan gnostik (ma rifab). Bagi mukmin awwām, sufis disamakan dengan pemujaan terhadap para tokoh suci, penghormatan dan pemuliaan dan kadang-kadang pemujaan terhadap makam-makam mereka. Pemujaan dan pemuliaan serta penghormatan ini bersumber dari pemahaman dan interpretasi Al-Qur'an dan hadis

P: 267

yang menyebut-nyebut tentang nabi, malaikat, 'alim atau ‘ulama' dan juga orang suci, sebagai perantara, sebagai intercessor (perantara, intermediary) antara manusia dan Tuhan. Peristiwa miraj atau naiknya Muhammad Rasulullah ke surga dari Jerusalem menjadi pusat ketaatan yang cukup popular dan menjadi inspirasi para sufi, Al-Bistami memfungsikan miraj sebagai suatu model perjalanan dan pengembaraan mistik-sufisnya, yang di situ ada tahapan-tahapan martabat miraj Muhammad Saw. yang dipandang merupakan padanan tempat-tempat pemberhentian sang sufi dalam perjalanan spiritual menuju Tuhan.

25 Karya-karya mistik dan teologi formal sangat mendukung keyakinan-keyakinan umat Syi'ah yang juga direspons oleh kaum Sunni. Awal abad ke-9, al-Tirmidhi (w. 893) mengembangkan gagasan tentang mereka yang tokoh suci sebagai suatu eksplanasi power dan kekuasaan kaum sut yang sering dipandang penuh misteri. Al-Baqillani (w. 1013) menulis bahwa para shaykh sufi adalah teman-teman Allah (khaliluLlah) yang mampu melakukan berbagai kemukjizatan dan sering menjadi wasīlab (intermediary, intercessor, perantara); karyanya menguraikan tentang ajaran teologi para tokoh sufi yang cukup distingtif berbeda dari ajaran teologi yang lainnya, dan membatasi kekuatan-kekuatan adikodrati dan adiinsani, Al-Qushayri dan al-Ghazzali menerima doktrin ini dan memandangnya sebagai bagian dari keyakinan muslim yang syar'i*. Ibn 'Arabi menguraikan akidah ini dalam suatu ajaran kosmologis tentang martabat dan thabagat para tokoh suci yang menegakkan tatanan semesta. Doktrin-doktrin ini sangat mendukung keyakinan dalam upacara dan perayaan sufis yang mengakui efektivitas atau manjurnya doa-doa yang dilakukan di makam-makam para tokoh suci dan pencarian penghayatan ekstasis. Kesetaraan para tokoh suci dan para shahid dengan alam spiritual menjadi aspek budaya religius yang dapat dikatakan inheren. Asas intelektual atau asas doktrinal tasawuf ada dampaknya kepada umat atau penganut agama, untuk meyakini kekuatan adikodrati para tokoh suci. Secara studi agama-agama, dirasa perlu ada pengembangan disiplin ekologi agama dan geografi agama yang dilakukan dengan eksplanasi yang cukup akademik.

26 Para fundamentalis dan para eksistensialist modern mungkin terkesan secara filosofis antagonistik, tetapimampu berbagi dalam komitmen esensial untuk mendekati teks-teks dengan kesadaran pencarian terhadap yang suci.

27 Sisi positif komentar ini bukannya harus diterima begitu saja; begitu pula sisi negatifnya. Untuk lebih jelasnya, sisi psikologis ini dapat dibaca Kristopher Lasch, The Culture of Narcissim, New York: Norton, 1979. cf. Alef Theria Wasim, presentasi di Tokyo, Maret, 2005.

28 Sekalipun demikian, akan lebih tegas kalau dapat dirujuk ke interpretasi tekstual suatu kritik sistematik ideologi akademik tentang subjektivisme.

29 Ada kalanya ini diungkapkan dengan ... kapan matahari mengundurkan diri, barulah kekuasaan- kekuasaan tumbang, dan dunia pun kiamat.

30 Dalam pengamatan saya, hampir setiap hari besar di berbagai negara atau yang mayoritasnya muslim, hari-hari libur dan upacara peringatan-peringatan kepahlawanan mengingatkan kita pada sistem semacam ini.

31 Untuk kini, sebagai umat yang mengimaninya, menjadi warga negara setempat yang baik adalah diukur dari apa yang dapat diberikan atau disumbangkan dan didarmabaktikan kepada negara, dan dalam kontrak sosial-budaya, manusia menyerahkan kekuatan sosial(politik)-budaya kepada otoritas yang memenuhi syarat.

32 Dalam studi teks dikenal dengan emics dan ethics.

33 Dalam sejarah ulama', relasi institusional yang melibatkan tatanan sosial-budaya keagamaan, sering kali terkesan ambigu. Perlawanan terhadap pemerintahan sporadik terjadi di berbagai lokus dan tempus, dan beberapa ulama mendukung aktivisme revolusioner dan guietisme religius.

Dalam Syi'ah ada justifikasi keduanya, aktivisme revolusioner dan quietisme religius; posisi para aktivis dijustifikasi oleh doktrin-doktrin yang bersifat "amt ma'ruf dan naby munkar" dan dengan klaim para mujtahid menjadi para penasihat spiritual pada segenap komunitas wilayah tertentu, dan sering kali merupakan satu-satunya otoritas yang sah dalam ketidak-hadiran Imam yang tersembunyi; contoh dan keteladan Imam Husain merupakan pendirian paradigmatik tentang keharusan untuk berkonfrontasi dan melawan tirani atas nama keadilan dan Islam; tradisi kultural sering dipandang cenderung ke arah pacifisme politis atau faham suka damai; ekspektasi Syi'ah tentang ketidakadilan duniawi dan harapan akan penebusan mesianik berjalan melalui keterlibatan dalam kehidupan publik. Sering kali suatu revolusi tertentu sulit difahami dan eksplanasi bahwa itu dilakukan pada suatu oposisi keagamaan yang inheren terhadap otoritas pemerintahan yang ada, sekalipun demikian dapat dipandang sebagai suatu respons terhadap kondisi khusus.

P: 268

34 Konteks dalam teks.

35 Dalam tradisi studi teks sering dikenal dengan manifesto.

36 Para Imām dipahami sebagai emanasi dari Zat Ilahi, akal unversal (agl al-kulli), inteligensi- semesta; karena itu Imām adalah seorang pengemban pengetahuan langsung tentang kebenaran- kebenaran rahasia, batin, dan kondisi spiritualitas yang membawa pada penyatuan-kembali ruh manusia dengan Ruh Tuhan. Konsep ini menempatkan pemahaman Syi'ah tentang Imām dalam suatu konteks metafisis baru dan membuka jalan tentang bentuk-bentuk gnostik dan ritual penghayatan keagamaan dalam Syi'ah Imamiyyah. Pada pertengahan abad ke-11, Syi'ah Imamiyah telah menciptakan suatu kehidupan duniawi yang hidup dalam ekspektasi dunia.

Dalam oposisi permanen pada rezim-rezim politis yang adalah Imamisme, lalu menjadi agama "keselamatan". Reselamatan ini dapat dicapai dengan hidup sesuai hadis Rasul, hadis Nabi, dan para Imam, dengan menyerap hal emosional ke dalam para syahid, atau dengan pandangan gnostis dan identifikasi mistis, dengan emanasi ilahi. Dengan konsolidasi keyakinan doktrinal dalam bentuk tulis, perkembangan kehidupan ritual publik, dan pengakuan politis dengan menguasai otoritas-otoritas, oleh sementara Orientalist, Syi'ah ini dipandang muncul sebagai komunitas 'sektarian' dalam Islam. Mereka percaya bahwa Muharram menjadi sentra hari raya sebagai kalender agama Syi'ah; puji-pujian resitalis tentang kisah tentang Imam Husain yang sangat menyayat hati dan memilukan hati, proses yang melibatkan pembangkitan semangat publik, kothbah-kothbah dan pujian-pujian serta ratapan suci, yang menandai suatu periode berkabung dengan ratapan dan penebusan rasa salah dan rasa dosa atas kematian Husain dalam tragedi Karbala. Kelompok kcagamaan bersaing dan berpacu dalam penghormatan mereka terhadap Imam Husain, dan sering kali dapat membawa pertumpahan berdarah-mendarah.

Secara fenomenal, Syi'ah menegakkan Sentuhan Kalbu dalam menegakkan religiusitas.

37 Yazid dan Mu'awiyah.

38 Husain dan pengikutnya di Madinah, Mekkah, Kufah, dan Karbala.

39 Yazid dan Mu'awiyah.

40 Umat Islam pada waktu itu.

41 Yazid.

42 Husain dan pengikutnya di Kufah dan Karbala.

43 Ada beberapa gagasan untuk melakukan orientasi, meskipun dalam kenyataan sering bersifat dogmatis dan integrasionis.

44 Integrasi di sini dalam pengertian terma umum yang dikaitkan dengan kegiatan mengumpulkan berbagai h. sehingga terbentuk satu keutuhan fungsional, dan reaksi yang dihasilkannya adalah cocok, sesuai dengan keadaan yang benar-benar ada. Cf. Alef Theria Wasim, "Minoritas dan mayoritas: pendekatan psikologis sosial keagamaan", dalam Antologi Studi Islam, Teori and Metodology, Yogyakarta, DIP PTÁ LAIN Sunan Kalijaga, 2000, h. 85-114.

45 Bahkan sampai sekarang ini pun, di kalangan mereka yang Sunni masih banyak yang mempersepsi terhadap Syi'ah bahwa hak keimaman dalam pengertian sederhana "kepemimpinan untuk urusan yang bersifat saeculum dan acternum itu adalah keturunan atau herakliusis". Argumentasi mereka Sunni di antaranya adalah bahwa Islam adalah agama universal; bahwa di hadapan Allah manusia itu sama. Ini akan dapat memunculkan pandangan bahwa teologi Imamiyyah itu adalah eksklusif.

Sekalipun demikian, ini sangat memerlukan kajian tersendiri dan akan tepat bilamana dilakukan secara studi agama-agama.

46 Di sini dalam pengertian terma umum yang dikaitkan dengan perasaan-perasaan marah atau permusuhan. Agresi secara psikologis berfungsi sebagai motif untuk melakukan respons berupa perlakuan kasar, penghinaan, dan frustrasi.

47 Alef Theria Wasim, Ibid.

Baca penelitian Adorno, dalam Fathalla M. Moghaddam, Donald M. Taylor, and Stephen C.

Wright, Social Psychology in Cross-Cultural Perspective, New York, W.H. Freeman and Company, 1993, 1. 40-42." 49 Persoalan others dalam perspektif minoritas muslim dapat dibaca dalam tulisan Michael W.

Suleiman, Islam, Muslims, and Arabs in America: The Other of the Other of the Other ..., dalam JMMA, vol. 21, 1, April.

50 Prejudice dapat terjadi pada kategori sosial-budaya keagamaan: perempuan, mereka-mereka yang miskin, dan mereka para strata sosial terendah, mereka yang terancam, mereka yang tertindas.

P: 269

51 Sikap ini rigid, memberi beban emosional terlalu berat, dan dapat dikatakan resistan untuk berubah. Memprahakimi melibatkan persepsi yang selektif dalam pengertian hanya fakta dan keyakinan yang cocok dengan prejudice, yang dipercaya. Argumen dan bukti apa pun yang kontradiktif tidak dipedulikan; ditolak karena tidak logis, bahkan kadang-kadang sangat tidak dimengerti. Sebab, itu hanya logika dan bukti yang cukup kuat saja yang mampu mengubah prejudice yang menghunjam.

52 Pengaruh sosial-budaya yang kcagamaan ini dapat dikatakan hampir ada pada semua budaya terkait dengan agama; hanya saja cara mempengaruhi satu terhadap yang lain tidak selalu sama.

Dalam beberapa budaya dan agama, ketaatan lebih tinggi daripada norma lain, sementara cara- cara melakukannya berbeda-beda. Cf. teks-teks tentang Imam Husain dan tragedi Karbala, utamanya tentang dialog Imam Husain dengan beberapa fihak; baik dari pendukung Mu'awiyah dan Yazid maupun dari pendukung Imam Husain sendiri.

53 Berkesadaran di sini dalam pengertian memiliki totalitas dari berbagai pengalaman mental (keagamaan) seseorang, kesadaran merupakan bagian dari diri sendiri yang sadar akan ide-ide keagamaan, sensasi-sensasi, tindakan-tindakan keagamaan, dan keadaan lingkungan sosial- budaya yang mengitari dirinya.

54 Perlu dikaji kembali bagaimana Mu'awiyah memanfaatkan kesempatan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam proses menduduki jabatan khalifah. Baca bagian lain tulisan ini.

55 Oposisi yang dihadapi oleh Muhammad Saw. dan para pengikutnya (sahabat dan tabi in) yang sedikit jumlahnya, gerakan-gerakan dalam bidang kalam dan pemikiran-pemikiran Islam lainnya, bahkan juga gerakan-gerakan "modernisasi", dan rasa dendam yang mempertentangkan hak suara dalam perjuangan mereka bagi hak-hak perempuan, merupakan contoh fenomena ini..

56 Secara ekstrim, malah ada yang memandang kalau perlu, menikam; jelas, yang demikian ini tidak pernah dilakukan oleh pendukung Imam Husain.

57 Secara ekstrim, malah ada yang memandang kalau perlu, menikam; jelas, yang demikian ini tidak pernah dilakukan oleh pendukung Imam Husain sebagai persepsi dan ada pengaruhnya terhadap beberapa even.

58 Tentang internal locus of control dan external locus of control dapat dibaca artikel J. Rotters, "Internal-external Locus of Control Scale', dalam J.P. RoIbnson and R.P. Shaver (eds.), Measures of Social Psychological Attitudes, Ann Arbor, Mich.: Institute for Social Research. Juga dapat diikuti presentasi saya di Tokyo, "Psychological aspects of religious plurality at the grassroots, with special reference to Indonesia", Maret, 2005.

59 Dalam penganut faham kalam, persoalan ini sering terbaca dalam faham Asy'ariyah dan faham Mu'tazilah; sederhananya bahwa faham-faham keagamaan baik itu kalam, fikih ataupun tasawuf, ada pengaruhnya terhadap persoalan minoritas dan mayoritas agama. Ada kalanya sebagai legitimasi ada kalanya sebagai guidance.

60 Termasuk minoritas yang 'ashabiyyah.

61 Tentang persoalan ekonomi dan locus of control, af. J.F. Trimble and S.S. Richardson, "Locus of Control Measures among American Indians: Cluster Structure Analytic Characteristics", dalam Journal on Cross-Cultural Psychology, 13, h. 228-238.

62 Tidak secara juling (Jw. bléro).

63 Karena norma-norma dan peran-peran berbeda dalam minoritas lintas-budaya pendukung Imam Husain di Madinah, Mekkah dan Kufah, maka perilaku pendukung Imam Husain yang dipengaruhinya juga berbeda. Perbedaan-perbedaan ini ada yang secara luas; ada yang dalam perilaku terkait dengan peran perempuan dalam berbagai sositas dan ada yang dengan peran kelompok agama dalam sositas yang ada waktu itu.

64 Sehubungan dengan berbagai issu yang dengan kepemimpinan khalifah mempunyai pengaruh terhadap komunitas umat terkait dan perjuangan politis terhadap beberapa kelompok umat Islam tertentu (dalam konfrontasi hukum dan konfrontasi fisik), beberapa kelompok minoritas Imam Husain dan pengikutnya juga mengekspresikan perjuangan politisnya pada perjuangan yang syar'i. Sementara itu kelompok mayoritas, kelompok Mu'awiyah dan Yazid, memandang perlu memberlakukan "hukum syar'i" yang sesuai keinginannya.

65 Adanya sistem keuangan pemerintah dan perdagangan besar yang dimiliki oleh kelompok tertentu dan dikuasai oleh suku atau Bani tertentu sering terbawa dalam hubungan minoritas dan mayoritas agama.

P: 270

REVOLUSI DAN SYAHADAH DALAM...........

Point

REVOLUSI DAN SYAHADAH DALAM PRAKTIK POLITIK IMAM HUSAIN

MOHAMMAD SUBHI-IBRAHIM

Karbala tragedy was the darkest piece of history of Islam. The martyrdom of the Imam was not only tragic but also ironical due to its verging on the death of the holy Prophet. It was not the death of ordinary man in a common way. However, al-Husayn was the personification of God's messager, who died in a cruelest mutilation, which never came in the imagination of men. This occurrence was not properly calculated in accountancy of ijtihad—who is right deserves three whereas one for opposing party. The revolution, indeed, was the battle between rationality against ignorance, Islamic universality against tribalism, and justice against repressive tyranny.

Imam Husayn's active uprising towards his martyrdom becomes a necessity for every human with conscience related to his moral and religious duty in facing totalitarianism. He is a symbol for those who were martyrs, heroes for freedom and equality and seekers for justice. Within this meaning his martyrdom lives him forever; his blood fertilizes faith and principles of Islam to grow in mu'min' heart. His scared flesh permeates energy for Islamic force in standing for truth.

Secara sosiologis, setiap agama besar pada masa awal kelahirannya selalu tampil sebagai gerakan kritik terhadap berbagai bentuk pelecehan hak-

P: 271

hak asasi manusia yang terjadi dalam masyarakat. Figur semacam Musa, Isa, dan Muhammad tidak saja dikenal oleh sejarah sebagai peletak agama besar dunia, tetapi juga sebagai pejuang hak asasi manusia yang amat gigih dan tidak kenal kompromi. Itulah sebabnya ketika memulai dakwahnya, tantangan yang pertama muncul selalu datang dari para penguasa yang tengah menikmati kemewahan hidup di atas derita rakyat miskin yang papa dan tertindas.

Kehadiran agama oleh penguasa selalu dicurigai, dibenci, dan ingin dimusnahkan karena suara para nabi sarat dengan pesan dan semangat keadilan yang mencipta kegelisahan pada relung diri para tiran yang hanya memihak pada kepentingan dirinya. Makna dan semangat keadilan biasanya lebih dihayati oleh orang-orang miskin yang teraniaya, yang berada pada strata sosial terbawah dari masyarakat piramidal yang menjadi objek eksploitasi oleh segelintir penguasa yang berada di puncak piramida.

Oleh karena itu, bukanlah suatu kebetulan jika kemunculan sang nabi selalu hadir dari tengah rakyat jelata, dari lingkungan penggembala, yang hati dan pikirannya senantiasa menyuarakan denyut dan gelisah rakyat kecil yang mata hatinya masih terang benderang untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Karena pesan dasar agama adalah suara hati nurani, maka seruan para nabi selalu disambut dengan penuh antusiasme oleh mereka yang mendambakan jalan kebenaran dan membutuhkan pembebasan. Dan, karena prinsip keadilan dan paham egalitarianisme merupakan ideologi gerakan keagamaan, maka para nabi dan para pengikutnya yang setia selalu dimusuhi oleh penguasa yang zalim, yang memandang gerakan agama sebagai ancaman yang menggelisahkan hegemoninya atas rakyat jelata.(1) Singkatnya, agama merupakan sebuah ideologi kritik sosial. Model agama kritik seperti ini mengandaikan adanya sebuah teologi yang menjadi basis pijakan keyakinannya. Jika ditelisik, konsep ketuhanan agama-agama Ibrahim memang menyuguhkan basis teologi itu. Oleh karena itu, tidak aneh bila kita telusuri nama-nama dan sifat-sifat Tuhan dalam tradisi

P: 272


1- 1. Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1998), h. 35-36

Ibrahim mencerminkan dua ide. Pertama, cinta dan keindahan serta penyembahan terhadap Satu Yang Mahaagung (jalāliyyah) dan Mahaindah (jamāliyyah). Kedua, Tuhan adalah tempat berlindung bagi orang yang tersisih dan tertindas, Penguasa, Raja, dan tempat kita bergantung. (1) Sebagai sebuah ideologi kritik, agama-agama Ibrahim memiliki sifat revolusioner. Oleh karena itu, agama-agama Ibrahimi adalah agama revolusioner. Apakah arti agama yang revolusioner? Syariati menjawab, "Agama yang revolusioner memberi seorang individu, yaitu individu yang beriman padanya, yang dididik dalam aliran pemikiran atau maktab agama ini, kemampuan untuk mengkritik kehidupan dalam seluruh aspek materiel, spiritual, dan sosialnya. Ia memberikan misi dan kewajiban untuk menghancurkan, mengubah, dan menghilangkan apa yang tidak dapat diterima dan diyakini sebagai tidak sah dan menggantikannya dengan sesuatu yang diketahui serta diakuinya sebagai kebenaran. Agama monoteisme merupakan gerakan melawan status quo, pemberontakan melawan pemerasan dan penindasan. (2)Jadi, pada dasarnya agama monoteisme adalah pemberontakan, penolakkan, dan berkata "tidak"; di hadapan kekuasaan yang lain. (3) Islam termasuk kategori agama-agama semitik (Ibrahimi) yang revolusioner. Syariati memaparkan bahwa, “Islam adalah sebuah agama yang muncul di panggung sejarah umat manusia dengan kata "tidak" dari Muhammad, sang pewaris Ibrahim a.s.—“tidak yang mewujud bersama seruan Tawhid, seruan yang Islam suarakan kembali ketika berhadapan dengan aristokrat dan kompromi."(4)

Revolusi Pertama

Nabi Muhammad Saw., sebagaimana nabi-nabi yang lain, datang bukan hanya sekadar mengajarkan salat dan doa. Dia adalah tokoh revolusioner yang memimpin kelompok tertindas melawan kezaliman sistem yang berlaku. Dia tampil membimbing kaum mustad'afin untuk mengubah nasibnya dan menentang kaum mustakbirin supaya menghentikan

P: 273


1- 2. ‘Ali Syariati, Agama Versus "Agama, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 46.
2- 3. 'Ali Syariati, Agama Versus "Agama, h. 36.
3- 4. 'Ali Syariati, Agama Versus Agama, h. 47.
4- 5. 'Ali Syariati, Red Shi'ism, (Tehran, The Shariati Foundation, 1979), h. 11.

keserakahanya. Oleh karena itu, dia didukung rakyat kecil dan dibenci kebanyakan penguasa. Di antara aristokrat Arab yang paling berkuasa adalah Abu Sufyan. Di dalam dirinya terdapat sifat pengusaha dan penguasa sekaligus. Revolusi Nabi berhasil. Dinasti Abu Sufyan tumbang, dan kalimah tauhid tegak. Manusia berbondong-bondong masuk Islam, termasuk keluarga Abu Sufyan. Dengan maaf Rasulullah Saw., yang dulu pernah menjadi musuh Islam, sekarang menjadi pemeluk Islam. Untuk beberapa saat, Islam memperoleh zaman keemasan. (1) Nabi Saw. sukses mengubah wajah bangsa Arab dari masyarakat biadab menjadi masyarakat beradab. Revolusi Nabi Saw. membongkar seluruh sistem nilai dan struktur sososial-politik. Revolusi tersebut bukan saja menggusur suprastruktur (basis atas) masyarakat, tetapi juga infrastruktur (basis bawah) masyarakat. Revolusi pertama Islam ini membuat anasir-anasir kontrarevolusi bertiarap, bersembunyi, seraya menunggu kesempatan untuk bangkit kembali. Kekuataan kontrarevolusi tersebut dalam terminologi agama kerap disebut sebagai kaum munafik (hipokrit-oportunistik).

Titik Balik

Cadar-cadar persengketaan tersibak ketika Nabi Saw. wafat. Belum lagi jenazah suci Nabi Saw. dikuburkan, terjadi sebuah tragedi mengubah wajah politik Islam selamanya. Ya, tragedi Saqifah! Tragedi Saqifah merupakan titik balik politik Islam di mana para pilar revolusi dieksklusikan, dipinggirkan, bahkan disingkirkan. Tragedi Saqifah adalah eksperimen sejumlah elite politik Islam yang menciptakan polarisasi abadi Syi'ah dan Sunni.(2) Utsman ibn Affan seperti medan magnet yang menarik dan merangkul seluruh anasir, agen kontrarevolusi yang berserakan. Utsman menempatkan mereka di simpul-simpul kekuasaan dan gerakan Islam.

Utsman bertindak sebagai mata rantai penghubung mentalitas zaman jahiliah dengan periode revolusi Islam. Sarananya adalah singgasana

P: 274


1- 6. Jalaluddin Rakhmat Islam Aktual. Refleksi Sosial Scorang Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan,1996), h. 282.
2- 7. Ali Syariati melakukan analisisa tentang tragedi tersebut sekaligus menunjukkan argumen- argumen dari dua kubu: kubu wasiyat dan kubu musyawarah dalam suksesi kepemimpinan. Lebih jauh, lihat Ali Shariats, Selection and/or Election: Vesayat va Shawra, (Tehran: Hoseiniyeh Irsyad, T.th).

kekhalifahan yang berfungsi sebagai jembatan yang menyatukan dan memperantarai elemen-elemen hina aristokrat yang saat itu masih bergentayangan. Mereka lalu menyerobot pelbagai posisi strategis dalam pemerintahan Islam yang sebelumnya diraih melalui perjuangan spiritual yang meletihkan dari kaum Anshar dan Muhajirin. Utsman menjembatani jurang yang di salah satu tepinya berdiri tegak kekhalifahannya yang megah, sedangkan di seberangnya berdiri para aristokrat keji, kotor, dan hina. Mereka merampas posisi politik yang sebelumnya diraih lewat jihad yang dikobarkan Muhājirin dan para sahabat Nabi Saw. Utsman diperalat Bani Umayyah, musuh Islam nomor wahid di zaman perjuangan Islam pimpinan Nabi Saw. Namun, mereka mengalami kekalahan telak dan dijungkirbalikkan oleh revolusi akidah yang dipimpin Rasululllah Saw.

Dengan wafatnya Nabi Saw, mereka seolah-olah memperoleh kesempatan untuk menebus kekalahan itu. Celah itu semakin terbuka lebar semasa kekhalifahan Utsman. Melaluinya, mereka tak hanya bertekad membalas tamparan kekalahannnya itu, tetapi juga mencoba mengais keuntungan dari keberhasilan revolusi Islam demi kepentingan mereka.(1) Pemerintahan Utsman mencapai titik nadirnya ketika ia terbunuh oleh aksi massa anarkis yang menuntut perubahan. Pergantian kepemimpinan dari Utsman kepada Imam 'Ali menciptakan sebuah era baru: pertarungan terbuka antara dua kutub revolusi, yaitu kelompok prorevolusi Nabi Saw. dengan kelompok kontrarevolusi.

Rasulullah Saw. merupakan manifestasi perjuangan di mana kaum Muslim sejati berhadapan langsung dengan kekuatan asing anti-Islam yang bersifat eksternal. Sementra Imam 'Ali merupakan manifestasi perjuangan untuk melestarikan gerakan Islam, di mana beliau memimpin kaum Mukmin melawan unsur-unsur antigerakan Islam berkedok keimanan.

Perjuangn Nabi Saw. melawan Abu Sufyan, oportunis yang menerima Islam setelah pihaknya kalah, merupakan perjuangan keluar, pertempuran yang murni dan semata-mata terjadi antara kawan dan lawan. Sementara, berbeda dengan itu, perjuangan Imam 'Ali-pewaris Nabi Saw.—dengan

P: 275


1- 8. 'Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syabid, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h. 48-49.

Mu'awiyah anak Abu Sufyan-jauh lebih dahsyat lagi; perjuangan internal antara kawan dan kawan palsu, yang dapat dikatakan sebagai musuh dalam selimut, yang secara teoritis mendukung gerakan Islam. Pertempuran di medan asing, perjuangan melawan musuh eksternal, berhasil dimenangkan nabi Saw. Sementara perjuangan internal, di dalam, melawan musuh dalam selimut, berakhir dengan kekalahan. Inilah makna bahwa perjuangan melawan hipokrit (munāfiq) jauh lebih berat dibandingkan melawan orang kafir dan musyrik yang terang-terangan menentang Islam. Nabi Saw. merupakan manifestasi kemenangan Islam terhadap kekuatan kafir musyrik, sementara Imam 'Ali adalah manifestasi kekalahan Islam dalam barisannya sendiri melawan kemunafikan.(1) Apakah yang menyebabkan Imam 'Ali mengalami “kekalahan politik” melawan kelompok kontrarevolusi? Syariati melihat ada faktor yang tidak kita jumpai pada masa Nabi Saw., tetapi ada pada masa Imam 'Ali, yaitu pemujaan terhadap pemimpin arogan, yang menentang perintah-perintah Tuhan, kehadiran agama ras, suku, keluarga, dan kelas, agama berhala, multiteisme, yaitu agama yang menjadi alat bagi para aristokrat kaya dan orang-orang yang serakah yang hidup dalam kesenangan dan kemewahan, yaitu kaum Quraisy saat itu.(2) Perjuangan Imam 'Ali adalah perjuangan antara Islam sejati melawan neojahiliah dan neoaristrokasi yang hidup kembali dalam jubah Islam.

Bertahun-tahun ia harus melancarkan perlawanan terhadap syirik bermantel tauhid, borok nyang membusuk di balik selubung kebenaran yang menyeruak di jantung revolusi Islam. Imam 'Ali, sang pencari dan pengukuh keadilan, harus bergulat melawan kotornya siasat yang tak segan-segan menancapkan al-Qur'an di ujung tombak guna merusak dan melemahkan semangat para kawan dalam Perang Shiffin.(3) Perang Shiffin merupakan puncak perang sahabat. Genjatan senjata pun tak terelakkan.

Dalam situasi genting tersebut, Imam 'Ali syahid.

Menakjubkan, begitu Imam 'Ali meninggal, dinasti Abu Sufyan muncul kembali dan merebut kendali politik. Tokoh-tokoh tauhid dan

P: 276


1- 9. 'Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 51–52.
2- 10. Ali Syariati, Agama Versus "Agama, h. 67.
3- 11. Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 51–53.

pencinta kaum dhu'afa' satu demi satu tersingkir. Sahabat-sahabat senior sekarang menjadi kelompk yang tidak diperhitungkan. Saad ibn Abi Waqas hidup miskin. Anak-anaknya mempertanyakan mengapa senioritasnya sebagai sahabat Rasulullah kalah oleh tokoh-tokoh belakangan yang hidup senang di sekitar istana. Saad menjawab, “Anakku, mereka mengelilingi bangkai. Kalau mampu, aku akan menghindari bergaul dengan mereka.

” Anak-anaknya berujar kembali, “Kalau begitu kita akan miskin.” Saad berkata, “Demi Allah, menjadi mukmin yang kurus lebih aku cintai daripada menjadi munafik yang gemuk.” Tidak banyak orang yang seperti Saad. Banyak fuqaha berdiri di belakang penguasa.

Dalam situasi sosial-politik yang dijejali adegan-adegan yang memuakkan nurani, Imam Hasan terpaksa menyepakati perjanjian damai dengan Mu'awiyah, sang pewaris Abu Sufyan. Imam Hasan pun syahid, menjadi korban dari pagelaran politik licik yang dipenuhi kotoran pengkhianatan nilai-nilai revolusi Nabi Saw.

Pasca syahidnya Imam Hasan, kondisi masyarakat semakin mencekam. Unsur-unsur politik jahiliah naik ke panggung politik seraya memperaktikkan kembali syirik sosial. Horor politik ditebar ke setiap sudut kehidupan. Intimidasi dan tindakan-tindakan represif menjadi menu harian.

Hampir setengah abad setelah Rasullullah Saw. wafat, suara kebenaran nyaris tak terdengar. Orang takut berbicara karena dapat dituduh bughāt. Semangat jihad hampir mati karena alasan musuh terlalu kuat. Menghadapi kekuatan kebatilan yang besar, sebagian orang lari ke tempat sunyi, bertasbih, dan beribadah; sebagian lagi bergabung dengan penguasa dan memperoleh fasilitas; dan sebagian kecil, betapa pun lemahnya, mencoba menyerang kezaliman. Dalam kelompok terakhir inilah cucu Rasulullah Saw. berada.(1)

P: 277


1- 12. Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual. Refleksi Sosial Scorang Cendekiawan Muslim, h. 283.

Tragedi Karbala

Dalam sejarah Syi'ah, drama syahidnya Imam Husain, Imam Ketiga, yang bertempur di Padang Karbala pada Muharam 61 H/680 M, menempati posisi penting yang hanya setingkat di bawah peristiwa pelantikan Imam ‘Ali sebagai penerus kepemimpinan Nabi Saw. di Ghadir Khum.

Ditinjau dari segi politik, drama tersebut penting karena dua alasan.

Pertama, Imam Husain adalah satu-satunya Imam Syi'ah Dua Belas Imam yang tewas sebagai konsekuensi penggabungan gugatannya atas kekhalifahan dengan pemberontakan bersenjata. Kesebelas Imam lainnya, ada yang memperoleh kedudukan politik melalui prosedur konstitusional yang lazim (Imam Pertama dan Imam Kedelapan), ada yang membuat perjanjian perdamaian resmi dengan penguasa pada zamannnya setelah permusuhan yang setengah hati (Imam Kedua), ada yang menutup diri dalam kehidupan kesalehan dan keilmuan yang tenang; mengenai Imam terakhir, dia lenyap tanpa terlebih dahulu memperlihatkan pilihan dari berbagai alternatif tindakan yang ditempuh oleh para pendahulunya tersebut. Kedua, unsur kesyahidan dalam drama tersebut jelas memiliki daya tarik yang kuat bagi semua gerakan Syi'ah yang menentang tatanan yang mapan, status quo.

Jadi, Imam Husain adalah satu-satunya Imam yang tragedinya menjadi unsur positif dalam mitologi setiap kelompok Syi'ah militan dan tertindas dari mazhab Dua Belas Imam.(1) Sebetulnya, menurut Yamani, sejarah politik Syi'ah ditandai dengan quietisme, yakni sejenis kecenderungan untuk diam dan bersifat apolitis.

Hal ini berlangsung sejak masa pasca-Imam 'Ali ibn Abi Thalib. Sejarah politik Syi'ah dimulai dengan fakta kekalahan politik. Imam Hasan memberikan konsesi kepada Mu'awiyah. Beliau dipaksa menyerahkan kekuasaan politik dari Bani Hasyim ke Bani Umayyah. Selanjutnya, kekalahan secara politis dan militer tampak dalam peristiwa Karbala.(2) Peristiwa Karbala merupakan penggalan sejarah paling kelam dalam Islam. Motinggo Busye dalam pengantar buku Husain Sang Kstaria Langit

P: 278


1- 13. Hamid Enayat, Reaksi Politik Sunni dan Syiah: Pemikiran Politik Islam Modern Menghadapi Abad ke-20,(Bandung: Penerbit Pustaka, 2001), h. 280-281.
2- 14. Yamani, Filsafat Politik Islam: Antara al-Farabi dan Khomeini, (Bandung: Mizan, 2002), h. 102.

karya Muhsin Labib, berkomentar, “Peristiwa syahidnya Imam Husain tidak hanya tragis, tetapi juga sangat ironis karena terjadi hanya beberapa tahun dari wafatnya kakek beliau, Muhammad Saw. Belum pernah terjadi di masa jahiliah, adanya pembunuhan yang lebih keji dan lebih sadis daripada peristiwa pembantaian terhadap Imam Husain dan keluarganya di Karbala."(1)

Karbala dalam Perspektif

Meskipun peristiwa Karbala merupakan fakta horor politik yang paling mengerikan, ada sejumlah komentator yang mengkritik keputuasan Imam Husain untuk melawan secara terbuka kekuatan politik Yazid. Di bawah ini akan dikutipkan beberapa komentar dari sejumlah tokoh tentang peristiwa Karbala. (2) Pertama, komentar Abu bakar ibn al-Arabi, seorang hakim dan polemis abad ke-12, menilai negatif keputusan Husain pergi ke Karbala. Menurut Ibn al-Arabi, Yazid adalah orang yang jujur dan saleh.

Menurutnya, Husain memberontak dengan mengabaikan saran-saran dari sejumlah sahabat Nabi, seperti Ibn Abbas, Ibn Umar, dan Ibn Hanafiyah, saudaranya sendiri. Ibn al-Arabi heran mengapa Husain lebih condong pada bujukan masyarakat dan pemuka Kufah daripada menuruti nasihat dari para tokoh tersebut. Bagi Ibn al-Arabi, reaksi keras Yazid terhadap Husain merupakan aplikasi dari hukum yang diterapkan kakek Husain sendiri, Nabi Saw., yang menerapkan hukuman keras bagi siapa pun yang merusak kesatuan dan ketentraman masyarakat muslim.

Kedua, komentar Ibn Khaldun agak lebih seimbang dalam mengevaluasi peristiwa Karbala. Ibn Khaldun berpandangan bahwa pemberontakan Husain terhadap Yazid dapat dibenarkan karena kefasikan Yazid. Pemberontakan tersebut absah sebab merupakan kewajiban bagi siapa pun yang memiliki kekuatan untuk melaksanakannya. Namun, bagi Ibn Khaldun, Husain pun melakukan kekeliruan. Kekeliruan Husain adalah dalam mencampuradukkan kualifikasi individualnya

P: 279


1- 15. Tim A'lamul Hidayah, Husain Syahid, (Jakarta: Penerbit al-Huda, 2007), h. 15.
2- 16. Hamid Enayat, Reaksi Politik Sunni dan Syiah: Pemikiran Politik Islam Modern Menghadapi Abad ke-20, h. 280-302.

dengan kekuatannya. Kualifikasinya memang baik, tetapi dia keliru mempertimbangkan kekuatannya. Sementara Yazid, menurut Ibn Khaldun, mencoba membenarkan tindakan represifnya terhadap Husain dengan argumen bahwa ia memerangi penjahat. Padahal, menurut Ibn Khaldun, tindakan tersebut hanya boleh dilakukan oleh penguasa yang adil, sedangkan Yazid tidak termasuk dalam kategori penguasa yang adil.

Ketiga, komentar Ibrahim Abdul Qadir Mazini, seorang penulis Mesir, dalam artikel yang dimuat dalam al-Risalah (April 1936) tebih detail menganalisis. Bagi Mazini, Husain melakukan pemberontakan tersebut dengan sepenuhnya mengetahui bahwa dia akan gagal. Namun mengapa, tanya Mazini, Husain mesti mempertaruhkan nyawa dalam "petualangan yang sia-sia" tersebut? Lebih penting lagi, mengapa dia membawa anggota keluarganya yang tidak berdosa dalam perjalanan berbahaya itu? Jawaban Mazini atas pertanyaan-pertanyaan tersebut nenekankan Husain sebagai seorang pengangan (visionary) yang tulus dan ikhlas berkorban, tetapi sama sekali tidak “ngawur". Dikatakannya bahwa Husain telah menyadari betul sejak semula ia pasti akan kalah, tetapi karena ia menganggap bahwa rezim Bani Umayyah tidak bermoral, maka sebagai seorang yang revolusioner yang tulus, dia merasa wajib untuk berbuat sebisanya, kalaulah tidak untuk menumbangkan rezim tersebut, maka setidak-tidaknya untuk merongrongnya. Dengan memprovokasi Yazid untuk mengambil tinadakan yang paling represif dan melakukan semua kekejaman di Karbala, Husain berhasil menciptakan rasa kebencian yang mendalam terhadap Yazid di kalangan massa. Dengan terbunuhya dia secara demikian tragis, maka "setiap tetes daranya, setiap huruf dalam namanya, dan setiap seruan untuk mengenangnya, menjadi ranjau dalam fondasi negara Umayyah”, yang akhirnya meledakkannnya berkeping- keping:

Keempat, komentar Abbas Mahmud al-Aqqad yang melihat pemberontakan Husain dari beberapa perspektif. Pertama, Aqqad melihat adanya kontradiksi kepribadian antara Husain dan Yazid. Pertentangan

P: 280

mereka merupakan pertentangan dua watak: keluhuran budi melawan kepicikan hati, pertentangan Imamah dan daulah. Ditambah lagi dengan warisan permusuhan dalam tubuh suku Quraisy (antara Bani Hasyim dan Bani Abd Syams) serta persaingan cinta antara Husain dan Yazid memperebutkan Zainab binti Ishaq (yang kemudian menikah dengan Husain). Meskipun demikian, Aqqad masih mengakui kepemimpinan Mu'awiyah. Aqqad menjelaskan bahwa pemberontakan Husain tidak boleh dinilai hanya dari persoalan politik praktis atau perhitungan dagang.

Oleh karena itu, Aqqad mengkritik Ibn Khaldun yang melihat kekeliruan Husain dengan alasan utilitarian. Pemberontakan Husain harus dilihat dari sudut motif dan hasilnya. Menurutnya, motif-motif Husain semuanya murni moral, dipicu dari keimanan. Hasilnya, meskipun tidak terlihat langsung, tetapi terbukti beberapa waktu berselang. Yazid mati merana, empat tahun setelah tewasnya Husain, semua pelaku pembantaian Karbala memperoleh hukumannnya masing-masing. Dan, yang terpenting, enam puluh tahun kemudian, Dinasti Umayyah tumbang. Memori pembunuhan Husain "telah menjelma menjadi tumor ganas dalam tubuh politiknya".

Singkatnya, Aqqad membenarkan tindakan politik Husain. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa Husain menggunakan cara-cara damai, memilih persuasi ketimbang kekerasan. Pada hari ketika Muslim ibn Aqil memastikan dukungan masyarakat bagi Husain, dia bisa saja menyergap agen-agen Yazid secara mendadak dan mendirikan rezim Alawi. Namun, Husain mengingatkan untuk tidak menggunakan taktik licik. Husain sadar betul bahwa yang dipertaruhkan adalah perjuangan antara kebenaran melawan kebatilan, dan yakin bahwa sekali kebenaran telah nyata, maka tidak perlu digunakan kekerasan atau strategi. Aqqad pun membenarkan putusan Husain membawa seluruh keluarganya ke Karbala dengan mengingat bahwa praktik seperti itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Arab sejak zaman pra-Islam, di mana para ksatria membawa semua karib kerabat mereka ke medan perang sebagai bukti tekad kuat mereka untuk menerima semua konsekuensi tindakan mereka.

P: 281

Kelima, Abdurrahman al-Syarqawi, penulis sekuler-kiri Mesir dalam drama puitis dua jilid, al-Husain Tsa'iran, al-Husain Syahidan, mengemukakan bahwa pemberontakan Husain merupakan pergulatan kelas mewakili massa miskin. Bagi al-Syarqawi, Husain adalah seorang reformis dengan tujuan-tujuan yang tak berlebihan: dia tidak menghendaki keributan ataupun pertumpahan darah ataupun kekuasaan politik, tetapi hanya hendak menghapus ketidakadilan.

Kesyahidan Imam Husain bukan peristiwa kematian orang biasa dengan cara biasa, melainkan kematian seseorang yang hadir sebagai personifikasi utusan-Nya dengan cara yang tidak pernah terlintas dalam pikiran paling kejam manusia. Ini bukanlah persoalan hitung-hitungan akuntansi ijtihad-siapa yang benar dapat tiga dan yang salah diberi satu melainkan pertarungan abadi antara rasionalitas melawan kedegilan; universalitas Islam melawan tribalisme iblis; antara keadilan melawan otoriatarianisme tiran.

Hak Perlawanan

Pada dasarnya, perlawanan aktif terbuka Imam Husain yang berujung pada kesyahidannya merupakan suatu keniscayaan bagi manusia yang bernurani ketika di depan matanya berkecambah kezaliman. Revolusi Imam Husain adalah manifestasi hak perlawanan. Hak perlawanan adalah hak untuk berhadapan dengan tindakan-tindakan yang secara kasar bertentangan dengan keadilan, terutama berhadapan dengan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia, menentang kekuasaan negara dengan menolak ketaatan atau dengan memakai kekerasan. Perlawanan hanya dibenarkan dalam keadaan ekstrem, di mana kekuasaan negara mendukung tindakan ketidakadilan yang justru bertentangan dengan citra hukum yang paling fundamental. Hak perlawanan dibenarkan dengan memenuhi dua syarat:

pertama, tindakan-tindakan penguasa secara kasar betentangan dengan keadilan. Kedua, semua sarana dan jalan yang tersedia untuk menentang ketidakadilan itu sudah dicoba dan tidak berhasil, termasuk protes-

P: 282

protes politis biasa. Hak perlawanan menunjukkan bahwa hak negara untuk menuntut ketaatan secara prinsipil terbatas oleh tujuan negara, kesejahteraan umum, termasuk di dalamnya prinsip keadilan.

Mengapa Revolusi?

Perlawanan aktif Imam Husain bukan tanpa alasan. Ada sejumlah alasan yang menjadi pertimbangan revolusi Imam Husain. Minimal ada empat hal yang membuat Imam Husain melakukan revolusi. (1) Pertama, tegaknya penguasa zalim. Kezaliman meraja lela. Keadilan dicabik-cabik oleh penguasa. Dalam situasi seperti itu, Imam Husain tidak bisa berdiam diri. Dia tidak dapat menerima pendapat orang bahwa perlawanan dalam keadaan lemah berarti bunuh diri. Dia yakin bahwa kalau semua orang berpendapat demikian, maka siapa lagi yang bangkit melawan kezaliman? Dia percaya bahwa kezaliman hanya berlangsung berkat kerja sama antara yang menzalimi dan yang dizalimi. Ayahanda Imam Husain, Imam 'Ali, mengatakan bahwa dua pihak dibutuhkan untuk menimbulkan penindasan atau kelaliman. Yang satu adalah si penindas dan yang satu lagi adalah yang menerima penindasan. Kerja sama keduanyalah yang menimbulkan penindasan. Penindasan tak mungkin sepihak. Seorang penindas tak mungkin melakukan penindasan di udara. Penindasan adalah ibarat sepotong besi yang dibentuk dengan pukulan palu si penindas pada landasan si tertindas. (2) Diam melihat kezaliman adalah juga berbuat zalim.

Dia tidak dapat menerima pandangan bahwa jihad belum sampai pada waktunya, bahwa kondisi dan situasi tidak mengizinkan.(3) Dalam perspektif Shariatian, telah terjadi konflik dialektis dalam masyarakat Islam saat itu. Konflik dialektis dalam masyarakat antara kutub penguasa dan kutub yang dikuasai tidak serta-merta menciptakan revolusi sosial. Ada “ruang-antara" yang menghubungkan konflik dialektis dengan revolusi sosial. “Ruang" itu adalah kesadaran massa yang tertindas. Revolusi sosial dipicu bukan oleh fakta konflik dialektik masyarakat, melainkan kesadaran akan konflik dialektis tersebut. Shari'ati mencontohkan

P: 283


1- 17. Tim A'lamul Hidayah, Husain Syahid, h. 39–50.
2- 18. 'Ali Shariati, Fatima Is Fatima, (Tehran: The Shariati Foundation, 1980), h. 108.
3- 19. Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim, h. 283.

kemiskinan. Kemiskinan tidak dengan sendirinya mengakibatkan si miskin melawan, bangkit, memberontak, dan mengubah nasib. Mengapa? Pasalnya, menurut Syariati, kekurangtahuan dan ketidaksadaran akan kemiskinan membuat si miskin nrimo, menyerah kepada kemiskinannya.

Bagi Syariati, kesadaran akan kemiskinanlah yang membuatnya melawan kemelaratan, bukan kondisi kemiskinannya. Dalam pandangan Syariati, fakta kemiskinan bukan faktor dialektik yang menumbuhkan spirit gerakan untuk mengubah kemiskinan. Kesadaran akan kemiskinanlah yang merupakan faktor dialektik itu.(1) Jadi, revolusi sosial bertumpu pada kesadaran masyarakat akan konflik dialektik. Bagi Syariati, masyarakat atau massa harus ditolong untuk mencapai tahap kesadaran dirinya (self- awareness). Kelompok tertindas (al-nas atau massa) itu harus disadarkan bahwa mereka tertindas. Oleh karena itu, dibutuhkan aktor yang membantu massa menyadari fakta tersebut. Imam Husain menjadi “aktor”, tumbal dari munculnya jiwa revolusioner masyarakat muslim.

Kedua, munculnya fenomena masyarakat yang sakit. Pasca wafatnya Nabi Saw., terjadi berbagai penyelewengan dalam kehidupan sosial- politik yang melenceng dari prinsip revolusi Muhammadi. Penyimpangan dan penyelewengan itu disikapi secara berbeda oleh masyarakat Islam.

Syariati menganalisis, minimal ada tiga kelompok masyarakat muslim pasca Nabi. Pertama, kelompok yang menolak menoleransi penyimpangan dari prinsip revolusi Islam, lalu tegak berdiri dan mati untuk alasan itu.

Pada tahun 60 H, tipe-tipe manusia seperti ini telah lenyap. Abu Dzar, 'Abdullah ibn Mas'ud, Ammar, Maitsam, Hujr ibn Adi, mereka telah menghadap Allah Swt. Kedua, mereka yang tertekan, diintimidasi, lalu mundur teratur, bersembunyi di sudut-sudut sunyi. Mereka menyibukkan diri dengan ibadah ritual dan menjadi asketis, menghindari hiruk-pikuk kehidupan politik yang pengap. Contoh figur ini adalah 'Abdullah ibn Umar. Ketiga, para sahabat yang melarikan diri dari perlawanan dengan penuh kesadaran. Mereka adalah alumni Perang Badar dan Uhud, ikut hijrah bersama Nabi Saw., dan hidup berdampingan dengan Nabi Saw.

P: 284


1- 20. Ali Shari'ati, Man and Islam, Mashhad: University of Mashhad Press, 1982), h. 256.

Namun, mereka menjual dan melacurkan diri kepada Mu'awiyah di Istana Hijau. Mereka mengeruk uang dengan cara menjual riwayat-riwayat tentang ucapan dan tindakan Nabi Saw., rata-rata satu dinar per hadisnya.

Mereka, antara lain, Abu Darda, Abu Hurairah, dan Abu Musa. Khusus Abu Hurairah, ia diperkerjakan di dewan pengadilan Bani Ummayyah.

Yazid telah memperkerjakannya demi membenarkan tindakannya dalam bermain asmara deng Urainab, istri 'Abdullah ibn Salam.(1) Dalam kondisi “masyarakat yang sakit" tersebut, Imam Husain bersikap tegas, bangkit menyelamatkan masyarakat. Masyarakat akan hancur jika dipenuhi ketidakadilan, kezaliman, disesaki kebobrokan moral, dan tidak berfungsinya kontrol sosial: amr ma'ruf nahyi munkar.(2) Revolusi Imam Husain merupakan bentuk kongkret perlawanan terhadap kezaliman, pembongkaran terhadap kebobrokan moral, dan manifestasi amr ma'ruf nahyi munkar. Inilah proyek besar revolusi Imam Husain seperti yang diproklamasikan olehnya, “Sungguh aku keluar bukan untuk melakukan kejahatan, kerusakan, dan kezaliman. Aku keluar untuk melakukan perbaikan di tengah-tengah umat kakekku. Aku bermaksud menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar. "(3) Dalam Islam, 'amr ma’rüf wa nahy 'an al-munkar adalah kewajiban. (4) " Amr ma’rüf nahy munkar merupakan sebuah kewajiban Islam yang pokok. Ini disepakati oleh semua Muslim," tulis Muthahhari. (5) Konsep amr ma'ruf wa nahy al-munkar bisa dikatakan sebagai prinsip kontrol sosial, di mana setiap individu memiliki kewajiban untuk mengkritisi dinamika masyarakat sehingga masyarakat tetap berada pada rel tujuan luhurnya untuk mencapai kesempurnaan kemasyarakatan manusia. Ayat-ayat al-Qur'an, seperti diungkapkan Muthahhari, yang membicarakan amr ma’rüf wa nahy al-munkar menghasilkan suatu kesimpulan, yaitu "Kesimpulan jelas yang dapat ditarik dari salah satu ayatnya ialah bahwa bila suatu umat melecehkan kewajiban besar ini, maka akhirnya akan mengakibatkan kehancuran dan keruntuhan."(6)

P: 285


1- 21. Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 60-64.
2- 22. Lebih jauh lihat pandangan Murtadha Muthahhari tentang jatuh bangunnya masyrakat beserta faktor-faktor yang dapat menghancurkannya. Murtadha Muthahhari, Sociсty and History, (Tehran: The Council For Ten-Day Dawn Celebrations, 1985), h. 143-145.
3- 23. Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, (Bandung: Mizan, 1997), h. 210.
4- 24. Murtadha Mutahhari, Society and History, h. 144.
5- 25. Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-ilmu Islam, (Jakarta: Zahra, 2003), h. 218.
6- 26. (an evident inference that may be drawn from one of its verses is that negligence of this great duty on the part of a nation ultimately results in its destruction and doom). Murtadha Muthahhari, Society and History, h. 144.

Dalam perspektif Muthahhari, membiarkan kejahatan seraya tidak memerintahkan pada kebaikan merupakan dosa sosial. Dosa sosial tersebut berakibat pada hancurnya tatanan masyarakat. Tanpa kontrol sosial, masyarakat akan terjebak pada "paham segalanya boleh” (permisifisme) ekstrem, di mana perbuatan apa pun sah untuk dilakukan. Permisifisme ekstrem ini secara gradual akan membuyarkan nilai-nilai dan norma- norma sehingga terjadi kekaburan batas baik dan buruk pada tatanan nilai masyarakat. Ketika batas baik dan buruk tidak jelas, maka tiap individu akan menggunakan kebebasan mutlak alamiahnya. Inilah yang akan menciptakan state of nature Hobbesian.

Ketiga, bahayanya sistem politik Umayyah. Bani Umayyah mengubah asas pemerintahan. Bentuk pemerintahan Bani Umayyah, keputusan politik dan administratif mereka berkiblat pada bentuk monarki dengan mencontek para raja Persia, para kaisar Roma, dan para firaun Mesir.(1) Dalam al-Khilafah wa al-Mulk, Abul A'la al-Maududi menyebut- seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat-ada dua karakter pemerintahan orde baru Mu'awiyah yang merupakan kepanjang khittah politik Abu Sufyan:

pertama, pemerintahan ditegakkan di atas nepotisme, asas kekeluargaan.

Makin dekat pemimpin kekuasaan, makin banyak hak istimewa yang diperoleh. Kedua, pemerintahan dibangun di atas pelecehan hak-hak rakyat.(2) Seperti diketahui, setelah Nabi Saw. wafat, masyarakat madani warisan nabi itu, yang antara lain bercirikan egalitarianisme, penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi (bukan prestise, seperti keturunan, kesukuan, ras, dan lain-lain), keterbukaan partisipasi seluruh anggota masyarakat diganti dengan sistem yang lebih diilhami oleh semangat kesukuan atau tribalisme Arab pra-Islam, yang kemudian dikukuhkan dengan sistem dinasti keturunan atau genealogis itu sebagai "Hirqaliyah" atau “Hirakliusisme", mengacu kepada kaisar Heraklius, penguasa Yunani saat itu, seorang tokoh sistem dinasti genealogis.

P: 286


1- 27. Imam Khomeini, Sistem Pemerintahan Islam, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), h. 45.
2- 28. Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik, (Bandung: Rosda, 1999), h. 352- 363.

Keempat, melanjutkan risalah kenabian. Imam Husain adalah "manusia-risalah", makhluk yang terikat pada risalah. Revolusi Imam Husain akan terang-benderang jika dilihat dalam konteks sejarah panjang risalah agama-agama Semit, agama-agama Ibrahimi. Menurut Syariati, revolusi Imam Husain merupakan kelanjutan dari risalah, misi Ibrahim.

Memisahlan Karbala dan Imam Husain dari konteks ideologis dan historis ini ibarat memenggal-menggal sebuah jasad yang hidup, lantas mengambil salah satu bagiannya dan memeriksanya terlepas dari keseluruhan sistem tubuh yang hidup tersebut. Mengapa perujukan revolusi Imam Husain ke Nabi Ibrahim? Imam Husain adalah pelanjut estafet risalah para nabi Ibrahimi (Semit). Menurutnya, para nabi dan rasul Semit berasal dari kalangan masyarakat yang secara sosial-ekonomi tertindas. Mereka adalah bagian integral dari komunitasnya. Yang mereka selalu bicarakan adalah kepentingan rakyat. Oleh karena itu, mereka mampu berbicara dengan rakyat biasa, dengan bahasa keseharian, lewat ungkapan-ungkapan yang mampu dicerna dan dimengerti oleh akal masyarakat awam. Oleh karena itu, nabi-nabi Ibrahimi selalu didukung oleh rakyat jelata melawan kezaliman penguasa di zamannya.(1) Dalam tradisi nabi-nabi Ibrahimi, tidak ada nabi yang datang untuk mengokohkan status quo karena gerak kenabian di dalam sejarah selalu merupakan gerak progresif bagi perubahan sosial secara keseluruhan, terlebih dalam dimensi keyakinan dan moralitas umat manusia. (2) Sebetulnya, karakter revolusioner tersebut berakar pada prinsip dasar risalah Ibrahim, yaitu prinsip keyakinan penyerahan total (Islam) yang menyeru manusia untuk mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa. Dengan keyakinan tersebut, manusia akan terbebas dari menaati dan mengabdi kepada apa dan siapa pun selain Dia.(3) Seperti diketahui, agama-agama Ibrahimi adalah agama yang terus-menerus bangkit melawan penyembahan penguasa arogan yang menentang perintah-perintah Tuhan, melawan kaum aristokrat kaya dan orang-orang serakah yang hidup dalam kesenangan dan kemewahan. Dan, agama-agama Ibrahimi menyeru rakyat untuk bangkit melawan mereka.

P: 287


1- 29. Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 36–43.
2- 30. Kazuo Shimogaki, Kiri Islam: Antara Modernisme dan Postmodernisme, (Yogyakarta: Lkis, 2003), h. 118.
3- 31. Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syabid, h.36–43.

Agama ini pun mengumandangkan bahwa Tuhan adalah pendukung orang-orang yang tertindas dan tertekan. Ia menyeru rakyat. Tujuannnya adalah tegaknya keadilan. Agama monoteisme lahir dari kesadaran dan kebutuhan terhadap cinta, penyembahan, dan kesadaran seluas mungkin bagi rakyat, tetapi bukan yang terwujud dalam sejarah. Ia adalah gerakan kritik melawan sejarah dan ia tidak pernah terwujud secara sempurna. (1) Menurut Imam 'Ali Khamenei, musuh-musuh Islam lebih berselera menyerang Islam sejati dibanding dengan Islam palsu. Imam 'Ali Khamenei menegaskan, “... kekuatan-kekuatan yang memusuhi Islam sama sekali tak menentang Islam yang kosong dari spiritualitas, syiar-syiar murni.

Ya, mereka tidak akan “galak' pada Islam yang tidak bangkit menentang kezaliman, yang hidup damai bersama segala jenis kerusakan akhlak, yang hanya mengusung sebagian syiar keagaman yang remeh-temeh, tetapi mengabaikan prinsip-prinsip Islam yang paling fundamental."(2)

Syahadah dan Martir

Menurut 'Ali Syariati, terdapat perbedaan makna syahid dengan martir.

Dalam bahasa Inggris, ada istilah martir (martyr). Seorang martir adalah orang yang memilih mati untuk membela keyakinan melawan musuh-musuhnya, di mana jalan satu-satunya yang ditempuh adalah mati. Sementara syahadah, dalam kultur Islam, bermakna “bangkit bersaksi”, meskipun digunakan juga untuk mengungkapkan keadaan atau menamakan seseorang yang menetapkan “kematian" sebagai pilihan. Istilah martyrdom atau martyr berasal dari kata “mortal" yang berarti maut atau mati. Namun, sebagai prinsip dasar Islam, syahadah bermakna “berkorban dan bersaksi”. Jadi, berlawanan dengan martyrdom yang bermakna ‘maut', pada hakikatnya syahadah bermakna 'hidup', 'bukti', 'membuktikan, ‘menegaskan'.(3) Imam Husain adalah simbol yang memberi kesaksian kepada mereka yang syahid oleh penindasan dalam sejarah, pewaris segenap pemimpin kebebasan dan persamaan, serta pencari keadilan dari Adam hingga dirinya

P: 288


1- 32. Ali Syariati, Agama Versus "Agama”, h. 49.
2- 33. Imam 'Ali Khamenei, Perang Kebudayaan, (Jakarta: Cahaya, 2005), h. 238.
3- 34. 'Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 33—34

sendiri, selama-lamanya, utusan kesyahidan, manifestasi pesan revolusi!(1) Oleh karena itu, orang-orang yang mati syahid tidak mati. Mereka malah menghidupkan. Darah mereka menyuburkan tumbuhnya keyakinan dan tegaknya pilar-pilar Islam. Darah syuhada adalah sumber energi, yang- seperti bahan bakar-menggerakkan mesin Islam.(2)

Mazhab Syabādah

Jika melihat makna syahid dia atas, maka kita tidak bisa mengukur keberhasilan revolusi Imam Husain dari sudut menang atau kalah dalam medan Karbala. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana pengaruh tragedi Karbala dalam masyarakat Islam.

Selanjutnya, benarkah Imam Husain berhasil merealisasikan tujuannya? Ditinjau dari perspektif keagamaan, jawaban dari petanyaan tersebut dapat kita pahami dari penjelasan Imam 'Ali Zainal Abidin.

Beliau bersabda, “Ketika tiba waktu salat, saat itu azan dan ikamah dikumandangkan, maka Anda akan tahu siapakah pihak yang menang?»(3) Sementara diteropong dari optik sosial-politik, revolusi Imam Husain menelusup masuk ke dalam kesdaran diri masyarakat muslim, menjadi sebuah pandangan dunia (hajan Ibni) sebagai pijakan dasar lahirnya ideologi. Ideologi Husaini, mazhab syahadah inilah yang kelak diwarisi oleh para pejuang keadilan.

Pada abad ke-20, tranformasi mazhab syahadah mengental selama Revolusi Islam Iran. Sayyid Wahid Akhtar, dalam artikelnya, Karbala:

An Enduring Paradigm of Islamic Revivalism, pun mengomentari dengan nada yang sama. Menurutnya, kegemilangan revolusi Islam Iran tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Karbala terhadap kaum Syi'ah. John L.

Esposito melihat ada benang merah “geneologis” revolusi Islam Iran yang diusung Imam Khomeini dengan Revolusi Imam Husain. Menurutnya, tewasnya Imam Husain sebagai syahid di Karbala pada 681 H mempunyai arti khusus, memberikan paradigma bagi Revolusi Iran. Peristiwa tersebut melambangkan peranan Syi'ah sebagai gerakan sanggahan dari

P: 289


1- 35. 'Ali Syariati, Red Shi'ism, h. 7.
2- 36. Jalaluddin Rakhmat Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim, h. 298.
3- 37. Tim A'lamul Hidayah, Husain Syahid, h. 209.

kelompok kecil yang berada pada pihak kebenaran, berjuang menantang kekuatan-kekutan iblis yang luar biasa. Syi'ah, agama mayoritas terbesar masyarakat Iran, memberikan ideologi dan simbol-simbol bagi perjuangan revolusioner rakyat. Bagi kebanyakan pihak Syi'ah, pihak Shah dengan kekuatan militernya yang luar biasa itu disamakan dengan dengan pasukan Yazid, mewakili iblis-iblis korup dan ketidakadilan sosial. Seperti halnya Imam Husain dengan pasukannya, pihak yang benar punya hak yang benar untuk revolusi menantang setan modern dan melaksanakan perang suci untuk memulihkan kekuasaan penuh kebajikan, persamaan, dan keadilan sosial guna mewujudkan Iran sebagai wilayah yang Islami. Untuk mencapai tujuan ini, pengorbanan diri dan bahkan maut diterima dengan sukarela karena mati pada “jalan Allah” adalah mati syahid dan akan memperoleh imbalan yang kekal.(1) Konsep kesyahidan ditransformasikan oleh Imam Khomeini dalam slogan dan aksi politiknya. Selama revolusi, Imam Khomeini menyuarakan secara lantang bahwa siapa pun yang terbunuh di jalanan adalah syahid sebagai seorang "martir revolusioner."(2) Syariati, sebagai salah seorang peracik ideologi Revolusi Islam Iran, menegaskan pula bahwa orang- orang yang beriman memiliki tugas suci untuk berjuang, dan jika perlu berkorban, untuk membebaskan negerinya dari penindasan kelas dan dominasi kolonial. “Setiap tempat harus diubah menjadi Karbala, setiap bulan menjadi Muharam, dan setiap hari menjadi Asyura," demikian slogan yang dipopulerkan Syariati yang kemudian diadopsi oleh Imam Khomeini.(3) Walllahu a'lam bi al-shawab.

Catatan:

1 Komaruddin Hidayat, Tragedi Raja Midas: Moralitas Agama dan Krisis Modernisme, (Jakarta:

Paramadina, 1998), h. 35-36 2 ‘Ali Syariati, Agama Versus "Agama, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 46.

3 'Ali Syariati, Agama Versus "Agama, h. 36.

4 'Ali Syariati, Agama Versus Agama, h. 47.

5 'Ali Syariati, Red Shi'ism, (Tehran, The Shariati Foundation, 1979), h. 11.

P: 290


1- 38. John L. Esposito, Islam dan Politik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 266
2- 39. Ervand Abrahamian, Khomeinism: Essays on the Islamic Republic, (London: IB. Tauris and Co. Ltd, 1993), h. 27.
3- 40. Ervand Abrahamian, Khomeinism: Essays on the Islamic Republic, h. 29.

6 Jalaluddin Rakhmat Islam Aktual. Refleksi Sosial Scorang Cendekiawan Muslim, (Bandung: Mizan, 1996), h. 282.

7Ali Syariati melakukan analisisa tentang tragedi tersebut sekaligus menunjukkan argumen- argumen dari dua kubu: kubu wasiyat dan kubu musyawarah dalam suksesi kepemimpinan. Lebih jauh, lihat Ali Shariats, Selection and/or Election: Vesayat va Shawra, (Tehran: Hoseiniyeh Irsyad, T.th).

8 'Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syabid, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), h. 48-49.

9 'Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 51–52.

10 Ali Syariati, Agama Versus "Agama, h. 67.

11 Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 51–53.

12 Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual. Refleksi Sosial Scorang Cendekiawan Muslim, h. 283.

13 Hamid Enayat, Reaksi Politik Sunni dan Syiah: Pemikiran Politik Islam Modern Menghadapi Abad ke-20,(Bandung: Penerbit Pustaka, 2001), h. 280-281.

14 Yamani, Filsafat Politik Islam: Antara al-Farabi dan Khomeini, (Bandung: Mizan, 2002), h. 102.

15 Tim A'lamul Hidayah, Husain Syahid, (Jakarta: Penerbit al-Huda, 2007), h. 15.

16 Hamid Enayat, Reaksi Politik Sunni dan Syiah: Pemikiran Politik Islam Modern Menghadapi Abad ke-20, h. 280-302.

17 Tim A'lamul Hidayah, Husain Syahid, h. 39–50.

18 'Ali Shariati, Fatima Is Fatima, (Tehran: The Shariati Foundation, 1980), h. 108.

19 Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim, h. 283.

20 Ali Shari'ati, Man and Islam, Mashhad: University of Mashhad Press, 1982), h. 256.

21 Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 60-64.

22 Lebih jauh lihat pandangan Murtadha Muthahhari tentang jatuh bangunnya masyrakat beserta faktor-faktor yang dapat menghancurkannya. Murtadha Muthahhari, Sociсty and History, (Tehran: The Council For Ten-Day Dawn Celebrations, 1985), h. 143-145.

23 Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, (Bandung: Mizan, 1997), h. 210.

24 Murtadha Mutahhari, Society and History, h. 144.

25 Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-ilmu Islam, (Jakarta: Zahra, 2003), h. 218.

26 (an evident inference that may be drawn from one of its verses is that negligence of this great duty on the part of a nation ultimately results in its destruction and doom). Murtadha Muthahhari, Society and History, h. 144.

27 Imam Khomeini, Sistem Pemerintahan Islam, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), h. 45.

28 Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik, (Bandung: Rosda, 1999), h. 352- 363.

29 Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 36–43.

30 Kazuo Shimogaki, Kiri Islam: Antara Modernisme dan Postmodernisme, (Yogyakarta: Lkis, 2003), h. 118.

31 Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syabid, h.36–43.

32 Ali Syariati, Agama Versus "Agama”, h. 49.

33 Imam 'Ali Khamenei, Perang Kebudayaan, (Jakarta: Cahaya, 2005), h. 238.

34 'Ali Syariati, Kemuliaan Mati Syahid, h. 33—34 35 'Ali Syariati, Red Shi'ism, h. 7.

P: 291

36 Jalaluddin Rakhmat Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim, h. 298.

37 Tim A'lamul Hidayah, Husain Syahid, h. 209.

38 John L. Esposito, Islam dan Politik, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 266 39 Ervand Abrahamian, Khomeinism: Essays on the Islamic Republic, (London: IB. Tauris and Co. Ltd, 1993), h. 27.

40 Ervand Abrahamian, Khomeinism: Essays on the Islamic Republic, h. 29.

P: 292

MASAKRE KARBALA SEKILAS.........

Point

MASAKRE KARBALA SEKILAS TATAPAN MORAL DAN FENOMENOLOGI MASSA

DEDE AZWAR NURMANSYAH

The battle between 'Mass' and 'Authentic Man' become the locus of tragedy of Karbala. Mass' represents evil, animal, and weakness as sources of brutality; whereas the personification of divine massage in ‘al-Husayn' epitomizes sacred, humanity, freedom and strength as echoes of the truth. 'Evil' in the form of mutilation of 'al-Husayn' presented beyond the historical facts, embodiment of weaknesses of soul, anxiety towards freedom, coward without self-respect. Mass' faced al-Husayn-an opposite figure against their uniformity on common reality and collectiveness. He is different, he is anomaly, he, therefore, is common enemy.

Manifestation of evil, in Karbala context, is not only categorized by morality and personal, but also phenomenal—'a mass' who endures to reproduce and resymptomize itself within enfolding history of man.

Phenomenological approach narrates Karbala Massacre' in the frame of moral values to trigger reflection and empathy in the respect to draw lesson for present generation. The mystery of brutality of the mass, who ambitiously intended to murder al-Husayn lies on the destructive intention of mass dictating and forcing individual destructive act. The crowd of soldiers, the murderers, was no longer ostensibly directed by personal policy' of Yazid aiming at al-

P: 293

Husayn assassination; yet, mass ambience provoked and magically stirred them into absurd action of terrible destruction. The character of such deed is always the excessive expression of ecstasy, in which a person freely expands his own ego blended in the withering feat of the mass. Psychologically, it was a killing without feeling guilty since it was hysteria of the mass. Politically, it was politics of representation, creating illusion, a detachment from the real. Representation reconstructs knowledge, increasing its scale of accessibility, hiding the real fact.

In the case of Karbala, representation developed a stereotype lingering around the figure of al-Husayn as the rebel with a passion of political power, one who refuted to do ba'iah, a violation towards the shari'a. Hence, mutilation of al-Husayn was no longer regarded as killing a man since he was different.

However, it became an ideology to destroy something'endanger the existence of the collectiveness.

Mengingat sejarah Karbala berarti mengingat momen masakre atau pembantaian massal yang telah dinobatkan mayoritas sejarawan Barat maupun Timur sebagai salah satu fenomena paling menggegerkan dan terbilang penting, tetapi juga paling tragis, dalam sejarah Islam masa lalu. Sebagaimana tercatat dalam banyak dokumen historis, persis pada 10 Muharam 61 H (kira-kira 9 Oktober 680 menurut kalender Masehi), di Karbala, Irak, pecah pertempuran pamuncak dua kubu yang tidak seimbang secara politik dan militer. Husain ibn 'Ali ibn Abi Thalib, yang juga cucu Nabi Saw., berikut 72 pengawalnya (terdiri dari kerabat dan sahabatnya) yang bersenjata ala kadarnya berdiri di satu kubu. Sementara di kubu seteru yang mengepungnya, berhimpun puluhan-bahkan dalam versi lain, ratusan ribu(1) orang bersenjata lengkap. Mereka balatentara Yazid ibn Mu'awiyah dari klan 'Umayyah.

Adegan konflik yang dicatat dalam buku sejarah dengan tinta merah ini pun berakhir dengan terbunuhnya Husain dan kawan-kawan (sebagai syuhadā). Di antara berbagai adegan memilukan yang dipentaskan dalam peristiwa kelam ini, detik-detik kesyahidan Husain menjadi momen yang

P: 294


1- 1. Namun, menurut Khalid Muhammad Khalid, rasionya berkisar antara satu prajurit Husain berbanding 60 tentara Yazid. Silakan merujuk, Khalid Muhammad Khalid, Tentara Langit di Karbala: Epik Cucu Sang Nabi, Mizania, Bandung: 2007 (dipetik dari sinopsis pada situs http:// www.cibuku.com/tentara-langit-Karbala-epik-suci-cucu-sang-nabi-p-1332.html)

paling dramatis, sekaligus paling mengerikan. Dibantai tanpa ampun dengan sangat sadis dan dingin, begitulah cara beliau gugur sebagai syahid.

Padahal sebelumnya, Husain telah menderita sekitar 45 luka sabetan pedang dan tikaman tombak musuh, plus 35 batang anak panah yang menancapi tubuhnya. Kalangan sejarawan sepakat, “sukarelawan" yang kali pertama berinisiatif sekaligus memprovokasi yang lain untuk bernafsu mengakhiri hidup Husain yang waktu itu sudah tergeletak tanpa daya adalah Syimir ibn Dziljausyan.

Dalam wawasan modern, kiranya cukup tepat bila proses pembunuhan Husain diistilahkan dengan “mutilasi hidup-hidup". Bisa dibayangkan, dari masa ke masa, mutilasi ilegal terhadap manusia yang sudah jadi mayat saja dianggap sadis dan inhuman, apalagi jika dia dalam keadaan hidup. Tangan kiri Husain dipotong-potong dan disayat-sayat dengan cara dingin dan brutal, sementara tombak-tombak menghunjami dadanya.(1) Segera setelah Syimir menjambak rambut Husain, meletakkan pedang tajam di lehernya, dan dengan ekspresi wajah begitu menikmati serta kelopak mata yang setengah terpejam, dia menggoyang-goyang kepala Husain, pelan-pelan, hingga lehernya putus. Sebuah kebiadaban yang menjijikkan dan benar- benar menertawakan akal sehat. Setelah proses mutilasi yang kejam itu rampung, barang-barang pribadi Husain yang masih melekat di tubuhnya pun dijarah paksa, sementara kepalanya ditancapkan ke mata tombak dan diarak beramai-ramai dengan diiringi tarian dan gendang kemenangan perang ala tradisi Arab kuno.

"Yang Baik” versus "Yang Jahat”

"The value of history is, indeed, not scientific but moral; by liberalizing the mind, by deepening the sympathies... it prepares us to live more humanely in the present and to meet rather than to foretell the future (Sejarah sungguh bukan bernilai ilmiah, melainkan moral; dengan membebaskan pikiran, memperdalam rasa simpati ... ia membekali kita untuk hidup lebih manusiawi pada masa sekarang dan menghadapinya, ketimbang untuk meramal masa

P: 295


1- 2. Abdullah Yusuf Ali, Imam Husain and His Martyrdom: www.al-islam.org.

depan)," ungkap Carl Lotus Becker, sejarawan yang termasyhur dengan mahakaryanya, The Heavenly City of the Eighteenth-Century Philosophers.

Prinsip ini kiranya berlaku pula untuk sejarah Karbala. Kendati tinjauan ilmiah terhadap sejarah Karbala cukup bermanfaat dalam mengungkap sebab-sebab empiris maupun bukti-bukti historis yang bersifat positivistik berupa dokumen dan monumen yang menjadi bahan dasar bagi analisis dan rekonstruksinya, tetapi anggapan bahwa sejarah melulu bernilai saintifik cenderung mereduksi peristiwa-peristiwa pada masa lalu sekadar sebagai segerbong fakta yang abstrak, berjarak, cenderung polemis, dan membeku dalam ruang waktu tertentu. Atmosfir nilai yang menyelubungi fakta itu, juga faktor-faktor metafisis lainnya, disingkirkan demi kemurnian ilmiah yang konon mengusung paradigma objektivitas, dogma “sejarah untuk sejarah”, dan sikap netral (bebas nilai). Lebih dari itu, anggapan bahwa sejarah hanya atau harus bernilai ilmiah sama saja dengan menciptakan jarak dan oposisi biner antara subjek atau pelaku dengan "fakta” pada masa lampau yang diperlakukan—persisnya lagi, ditundukkan sebagai objek. Akibatnya, dalam terminologi Heideggerian, pemahaman sejarah hanya bersifat ontis, di mana bentangan sejarah dipandang terpisah dan berhadap-hadapan dengan subjek pengamat, bukan setelaga kehidupan ontologis di mana subjek selalu sudah ada, terlibat, dan berdinamika di dalamnya.

Sebaliknya, memandang sejarah dalam pigura nilai-nilai moral akan merangsang refleksi, serta mengundang dan memperdalam rasa simpati.

Ringkasnya, menegaskan keterlibatan atau malah keterbenaman subjek dalam kolam sejarah yang dinamis. Moralitaslah yang menyambungkan dan memelarkan eksistensi subjek hingga mampu melintasi atau melipat- lipat ruang dan waktu. Seolah-olah subjek itu omni presence, ada di mana- mana, sementara rangkaian fakta historis terasa begitu hangat, berisi, dan akrab. Sejarah sebagai nilai moral memungkinkan manusia hidup manusiawi dan bersemangat menghadapi kenyataan di masanya bila saja mau memetik rerimbunan hikmah yang menggantung di sekujur peristiwa

P: 296

yang telah terjadi. Nah, dalam perspektif moral itulah, sejarah Karbala akan diuraikan lebih jauh dalam tulisan ini. Tujuannya agar sejarah kelam tersebut tidak hanya dijadikan objek tangisan”,(1) tetapi juga inspirasi untuk membangun kehidupan umat manusia yang lebih baik dan lebih manusiawi di masa sekarang.

Namun, mengingat kerumitan dan luasnya horizon dari tragedi akbar Karbala—yang umumnya akan mendorong orang-orang beradab merasa gemas dan jijik—ini, serta untuk menjaga konsistensi pembahasan sehingga tema yang diulas tidak melebar ke mana-mana dan rangkaian argumen yang diajukan tetap koheren satu sama lain, maka uraian ini sengaja disusun dengan subtema yang bersifat mikroskopik, alias lebih fokus menyoroti salah satu anasir yang terlibat di dalamnya, yaitu musuh Husain, kubu Yazid, atau lebih spesifik lagi, bala tentaranya yang berkerumun di Karbala, sejauh menyangkut ciri-ciri fenomenanya pada proses pembantaian dan pembunuhan kejam Husain. Ini dimaksudkan agar pemahaman terhadap peristiwa mengerikan itu lebih analitis, utuh, dan kredibel secara epistemologis, mengakar secara ontologis, sekaligus melampaui penilaian normatif yang umumnya bercorak hitam-putih.

Dari berbagai historiografi dan karya tulis seputar masakre Karbala, sosok Husain lazimnya selalu dijadikan pusat narasi, baik yang bersifat deskriptif, interpretatif, maupun puitis. Secara paradigmatik, fenomena ini memiliki korelasinya dengan doktrin teologi, prinsip ideologi, dan posisi religius Husain setelah wafatnya Rasulullah Saw. serta ayah ('Ali ibn Abi Thalib) dan kakaknya (Hasan). Selain itu, kepribadian, perilaku, dan karismanya sehari-hari yang begitu fenomenal, memikat, cerdas, dan berbudi luhur, hingga pengorbanan totalnya di Karbala, menjadikan Husain sebagai sosok yang sangat istimewa di mata Muslimin dari masa ke masa. Kecenderungan ini pada praktiknya merupakan konsekuensi logis sekaligus ekspresi keberpihakan serta kecintaan mereka pada sosok cucu Nabi Saw. itu.

P: 297


1- 3. Dalam kepustakaan tradisional Islam, bertebaran narasi yang menjelaskan keutamaan menangisi kesyahidan Husain (juga rombongannya). Misalnya, narasi yang mengatakan bahwa air mata yang mengalir karena menangisi Husain akan memadamkan api neraka. Selain dari segi manfaatnya, menangisi Husain juga bermakna mengikuti sunah Nabi Saw. Dalam kitab al- Mushannaf, karya al-Hafidz Abu Bakar ibn Abi Syaibah (vol. 12), diriwayatkan dari Husain ibn Ishaq, Ali ibn Bahar, Isa bin Yunus, dari Ubaid ibn Ghannam, Abu-Bakar ibn Abi Syaibah, dan Ya'la ibn 'Ubaid yang mengatakan bahwa Musa ibn Shalih al-Juhani, dari Shalih ibn Arbad, meriwayatkan bahwa Ummu Salamah ra berkata, "Rasulullah Saw berkata, 'Duduklab di pintu, dan jangan izinkan seorang pun menemuiku." Aku pun segera duduk di pintu. Tak lama kemudian, Husain datang. Aku pun segera mencegahnya, tetapi dia memaksa dan berlari masuk ke rumah kakeknya. Setelah itu, aku melongok dari pintu dan melihat Rasulullah memindahkan sesuatu di tangannya sementara air mata beliau mengalir, dan anak itu (Husain) berada dalam pelukannya. (Lalu aku menanyakan semua itu kepadanya) dan beliau berkata, "Benar, Jibril menemuiku dan memberitahuku bahwa umatku akan membunuhnya (Husain). Jibril membawakanku segenggam tanab yang berasal dari tempat Husain akan dibunuh, yang (tanah itu) sekarang ada dalam genggamanku."

Sebaliknya, Yazid plus para pendukungnya, oleh mayoritas Muslimin dari berbagai mazhab-kecuali segelintir pihak yang mengaku Muslim, tetapi relatif tidak melek sejarah, seperti kelompok Wahhabi-cenderung dipandang negatif dan divonis dekaden. Berdasarkan itu, bila kedua posisi yang saling meniadakan ini dimatrikulasikan dalam sebuah bagan, maka Husain dan kawan-kawan senantiasa diposisikan secara epistemologis sebagai “yang baik”, sedangkan Yazid cs diposisikan selamanya sebagai "yang jahat”.

Pengertian "yang baik” di sini lebih merujuk pada prinsip metafisika keislaman yang secara eksistensial bersifat manunggal dan tidak memiliki oposisi; bahwa kehidupan ini pada dasarnya melulu kebaikan, dan keburukan itu sendiri nihil atau kosong dari isi faktualnya atau hanya berupa bayang-bayang kebaikan (al-adam). Keburukan sangat relatif dan paling radikal, dimaknai sebagai “tiadanya kebaikan secara eksistensial”.

Misalnya, meletusnya sebuah gunung pada fakta an sich-nya merupakan kebaikan objektif demi keseimbangan alam atau lantaran segenap faktor penyebabnya telah terpenuhi sehingga mutlak “harus“ (yakni keharusan yang bersifat rasional bukan normatif) meletus.

Adapun pandangan negatif terhadapnya (misalnya, menyebabkan kerusakan temporer serta memaksa penduduk di sekitarnya mengungsi dan hidup di penampungan) pada hakikatnya lebih merupakan “persepsi” subjektif yang dikonstruksi dari fenomena tersebut sehingga hanya berbentuk pemahaman dalam benak subjek pengamat atau mereka yang mengalami fakta itu sendiri. Distingsi ini tentu saja bukan dimaksudkan untuk menegasi persepsi subjektif atau pemahaman intelektual sebagai sesuatu yang kurang/tidak bermakna jika dikaitkan dengan fenomena alam tersebut. Orang-orang yang mengungsi dan kerusakan yang ditimbulkan jelas merupakan fakta yang menyulut sengsara, tetapi ini tidak memiliki relevansi dengan epistemologi meletusnya gunung yang memang objektif.

Kesimpulannya, "yang baik” bersifat eksistensial dan bernilai objektif

P: 298

(eksternal alam pikir), sementara yang buruk” bersifat aksidental dan subjektif.

Sebagai "yang baik”, Imam Husain yang juga merepresentasikan para sahabat dan kerabatnya,4 sudah banyak dikemukakan dalam pelbagai karya tulis kesejarahan, baik klasik maupun kontemporer, sekadar komentar singkat maupun ulasan berjilid-jilid, buah tangan ilmuwan Barat maupun Timur. Semua itu berkisar pada kronologi dan falsafah perjuangan, karakteristik, posisi (genetis maupun ideologis), motivasi, dan ungkapan- ungkapan bening Husain dalam pigura tragedi Karbala. Apresiasi dan eskpresi kecintaan pada Husain dari kalangan internal Muslim barangkali sudah menjadi sebuah keniscayaan; tetapi yang mengherankan adalah ternyata banyak figur kesohor non-Muslim yang ikut mengomentari secara positif sosok dan perjuangan Husain.

Di antaranya, cendekiawan perempuan Barat termasyhur, Almh.

Prof. Annemarie Schimmel. Perempuan langka yang pakar dalam bidang mistisisme dan sangat produktif menulis ini, yang salah satu artikelnya khusus membicarakan Husain yang bertajuk “Karbala and the Imam Husain in Persian and Indo-Muslim Literature",(1) menegasklan, “Never expect to teach Muslim about freedom dan human rights. Since they have Imam Husain, the Prophet's beloved grandson, who sacrifices himself for saving his faith and community from oppression and humiliation of tyrant.(2) Atau, Charles Dickens yang dengan keyakinan penuh, menyatakan, “He (Imam Husain) sacrificed purely for Islam (Dia telah berkorban murni demi Islam).(3), Juga sejarawan plus orientalis terkemuka pada masanya (abad ke-18) yang berasal dari Inggris, Edward Gibbon, yang menyatakan, “In a distant age and climate the tragic scene of the death of Hosein will awaken the sympathy of the coldest reader (Pada abad yang lampau dan suasana adegan tragis kematian al-Husain akan membangkitkan simpati seorang pembaca paling dingin sekalipun)."(4) Dari kubu intelektual Muslim, Ahmad Syafi'i Ma'arif pernah berkata lirih, “Drama Karbala adalah di antara tragedi kemanusiaan yang

P: 299


1- 5. Al-Serat, vol. XII: 1986, www.al-islam.org.
2- 6. "Jangan pernah berharap untuk mengajarkan Muslimin tentang kebebasan dan hak asasi manusia. Karena mereka memiliki Imam Husain, cucu terkasih Nabi, yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan keimanan dirinya dan komunitasnya dari penindasan dan pelecehan sang tiran (Yazid as peny.)."Kalimat ini disampaikannya dalam sebuah ceramah di salah satu universitas di Amerika Serikat. Lihat: The Awakening of Human Conscience: The Everlasting Lessons from the Sacrifice of Imam Husain for Our Civilization Today (seminar riset yang tidak dipublikasikan), ICAS, Jakarta: 2008, h. 12.
3- 7. Lihat, Encyclopedia, bab V: www.al-islam.org.
4- 8. Edward Gibbon, The Dedine and Fall of Roman Empire, vol. 5, London: 1911, h. 391–2.

menyesakkan nafas dalam sejarah umat Islam."(1) Sementara Muhammad Iqbal, filsuf asal India, mengatakan, “Imam Husain is the chief of the lovers of Allah." Kemudian, salah satu founding father Pakistan dan penyabet gelar doktor dengan disertasi “Metafisika Persia” ini berelegi, "Imam Husain telah meruntuhkan despotisme selamanya hingga Hari Kebangkitan. Beliau menyirami kebun kebebasan yang gersang dengan semburan darahnya yang bergelombang, dan sungguh, beliau telah membangunkan bangsa Muslim yang sedang terlelap tidur. Jika Imam Husain bertujuan meraih kekuasaan duniawi, beliau tak akan pernah menempuh perjalanannya (dari Madīnah ke Karbala). Imam Husain berkubang dalam genangan darah dan debu demi mengusung kebenaran. Sungguh dia, karena itu, menjadi fondasi syahadat kaum Muslim: la ilaha illa Allah (tiada Tuhan kecuali Allah). Ronay wala hoon Shaheed-e-Kerbala key gham men main Kya durey maqsad na dengey Saqiye Kausar mujhey (aku adalah orang yang menangisi keadaan menyedihkan Syahid Karbala; tak ada ganjaran (kebaikan) yang akan diberikan padaku dari Sang Penjaga al-Kautsar)."(2) Sementara itu, berbanding terbalik dengannya, ingatan terhadap sosok Yazid sebagai representasi "yang jahat" nyaris tak pernah muncul dalam karya tulis khusus kesejarahan atau diulas sejarawan terkenal.

Seolah sejarah sendiri ingin menelantarkan, mengubur, membungkam, dan memuntahkannya dari perut memori kolektif. Kalaupun diingat, putra kesayangan Mu'awiyah (berikut para pendukungnya) hanya muncul sesekali dalam momen kontroversi, keburukan, kutukan, sumpah serapah, ejekan, gambaran kekejaman mengerikan dan kejijikan, atau paling tidak sebagai komplementer “yang baik”. Penyikapan bernuansa negatif ini, berdasarkan penelusuran literatur sejak masa klasik hingga modern, kenyataannya bukan hanya berasal dari kalangan yang disebut "Syi'ah". Hampir semua kalangan atau mazhab pemikiran, termasuk Ahl al-Sunnah, terkesan enggan dan kurang berselera mengungkit, apalagi menokohkan, Yazid. Gejala ini cukup bervariasi, baik dari segi motif maupun perspektifnya.

P: 300


1- 9. Lihat: http://www.cibuku.com/tentara-langit-Karbala-epik-suci-cucu-sang-nabi-p-1332.html
2- 10. Lihat: www.ya-hussain.com. Filsuf-pujangga ini juga dengan jujur menyatakan, "The melody of life owes its sweet sadness to Husain. Learn from bim the meaning of liberty in its real sense." Lihat: http:// www.compsoc.man.ac.uk/-moiz/islam/Karbala.html

Namun begitu, perlu digarisbawahi bahwa Yazid hanyalah salah satu sosok jelmaan absurd dari “yang jahat”—meski keterlibatan historisnya secara politis tetap dianggap menentukan dan berperan sebagai sumbu pemantik terjadinya peristiwa kelam di Karbala pada 14 abad silam itu.

Adapun "yang jahat", sebagaimana "yang baik”, itu sendiri tak pernah terlihat mata telanjang, tetapi timbul-tenggelam dalam sejarah dengan manifestasi yang beragam dan sebutan yang berbeda-beda, meskipun substansinya tetap sama dan sebangun. Dan, "yang jahat" ini ibarat jejaring gaib yang memerangkap banyak individu dalam situasi dan orientasi yang seragam. Jadi, Yazid hanyalah "salah satu elemen" dari sekian banyak elemen lain dalam logika "yang jahat”.

Sekaitan dengannya, orang-orang yang hidup di era pasca kejadian Karbala, khususnya di masa sekarang, barangkali bertanya-tanya, mengapa Karbala harus terjadi dan kenapa pula orang-orang tega memutilasi hidup-hidup cucu Nabi Saw.? Sebab-sebab empiris barangkali bisa ditelusuri dan ditemukan lewat penyelidikan ilmiah kesejarahan. Begitu pula alasan-alasan filosofis bisa dirumuskan dan ditarik dari doktrin- doktrin keagamaan. Namun, tetap saja tinggal sebagai misteri: bagaimana menjelaskan fenomenologi kebiadaban para mutilator Husain? Apakah mereka tiba-tiba saja menjadi "yang jahat" dan berperilaku bengis? Pemicu mereka melakukan itu faktor tunggal ataukah banyak faktor? Apakah mereka menguasai intensinya untuk menghabisi Husain ataukah justru mereka yang dikuasai? Masakre Karbala dan mutilasi Husain adalah fakta sejarah. Namun, "yang jahat” melampaui fakta itu sendiri. “Yang jahat” bergentayangan di ranah metafisis sebagai conditio humana (kondisi manusiawi)(1) dan senantiasa menanti momentum untuk menjelma menjadi subjek serta memeristiwa di ranah empiris, entah sebagai fenomena masakre, mutilasi, perusakan, dan lain-lain. Bila dianalogikan dengan proses produksi suatu benda, "yang jahat" itu mekanismenya yang tak kasat mata, sementara pembantaian, mutilasi, pelecehan, dan sejenisnya merupakan mesin

P: 301


1- 11. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Marsa, Tetor, dan Trauma, Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2005, h. xxi.

fisiknya, dan produknya adalah subjek, oknum, atau pelaku. “Yang jahat” menyeret korbannya sekaligus pelakunya ke ajang pembantaian, sedemikian kuat karena punya tangan-tangan gaib yang kekar. Namun, tegas Hannah Arendt dalam bukunya, Eichmann in Jerusalem(1), “Yang jahat itu tidak radikal, tetapi banal (dangkal dan sehari-hari)." Dan dalam konteks Karbala, manifestasi "yang jahat” selain berkategori moral dan personal, juga fenomenal, dan itulah “massa" yang selalu menggejala dan mereproduksi dirinya sepanjang sejarah.

Massa, Representasi, dan Tirani

Kerapuhan hati, kecemasan pada kebebasannya sendiri, atau hati yang pengecut dan kerdil, merupakan ladang persemaian "yang jahat". Oleh karena itu, kejahatan tidak selamanya dilakukan oleh individu-individu berwajah kasar, sadis, dan beringas, atau monster menyeramkan. C. P.

Snow mengingatkan, “Jika orang memandang sejarah panjang dan kelam dari umat manusia, orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan menjijikkan yang dilakukan atas nama kepatuhan ketimbang atas nama pemberontakan.” Lebih spesifik lagi, fenomena manusia “baik-baik” dan patuh, yang semuanya bersumber dari pikiran yang dangkal, kepribadian yang retak, perasaan takut pada kebebasannya, dan merasa lebih nyaman bergantung pada-atau dikuasai–faktor eksternal, serta jiwa yang kerdil dan pengecut yang membuatnya tidak betah menghadapi dirinya sendiri, justru paling berpotensi dalam melahirkan kejahatan paling irasional sekalipun.

Banyak contoh tentangnya, baik pada masa lampau yang jauh maupun dekat, hingga masa sekarang, misalnya di Jazirah Arab pra-Islam, di mana banyak orang mengubur hidup-hidup anak perempuannya. Tindakan biadab ini bukan hanya dipersepsi mayoritas bangsa Arab yang hidup pada masa itu sebagai kejahatan kemanusiaan, melainkan malah dipandang sebagai ciri keberanian dan kebiasaan kolektif. Bila ditelusuri secara radikal hingga ke dasar alasannya yang paling gelap, dengan dilandasi bukti-

P: 302


1- 12. Dikutip dari F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. xxxvi.

bukti sejarah, dalih heroisme dan kolektivisme dalam fenomena di atas sebenarnya bertentangan dengan akar fenomenologisnya; bukan karena berani, melainkan justru karena takut dan cemas dianggap pengecut oleh orang lain. Dan, dalam konteks kebiasaan kolektif, karena tidak kritis dan reflektif terhadap kebiasaan tersebut, mereka pada dasarnya memenuhi syarat untuk dicap bermental kerumunan yang "melakukan begitu saja apa yang dilakukan orang lain”. Mereka hanya peka pada stigma kolektif yang semakin dipercaya sebagai benar bila makin gaduh diteriakkan (bukan panggilan nuraninya yang hanya terdengar dalam keheningan refleksi), bahwa memiliki anak perempuan sama dengan membiarkan malaikat maut mencabut nyawanya. Dan, "nasib" ini hanya dapat dielakkan dengan mengalihkan beban kematian itu ke pundak si anak.

Contoh lain yang masih segar dalam ingatan dan terjadi dalam keseharian masyarakat di Tanah Air adalah kasus pembunuhan atau penjagalan berantai yang ternyata dilakukan seorang homoseks berpenampilan kemayu, dandy, dan sentimental. Mengacu pada tesis Arendt di atas, seluruh pembunuhan yang dilakukannya dengan kesadaran penuh, sebagaimana terbukti, memang didorong oleh alasan yang sangat dangkal dan persoalan sepele; atau lebih mendalam lagi, kedangkalan pemahaman, keretakan jiwa, rasa takut pada kesendiriannya, serta kepengecutan si pembunuhlah yang mendorongnya bertindak sadis.

Mengutip Imam Ali bin Abi Thalib, “Kedengkian (sebagai kejahatan) adalah puncak kelemahan.”Sementara Jean-Jacques Rousseau mengatakan, "Segala yang jahat berasal dari kelemahan." Tindakan sadis yang dilakukan sang pembunuh berantai dalam contoh kedua lebih bersifat individual dan psikologis, juga cenderung spontan, di mana inisiatif, motif, dan pelaksanaannya yang cenderung tidak sistematis dan amatiran hanya bersumber dari satu orang pelaku. Ini berbeda jauh dengan contoh kasus pertama, dan lebih eksplisit lagi, dalam peristiwa masakre Karbala yang berlangsung secara sistemik (melibatkan seluruh elemen kekuasaan rezim yang masif) dan sistematik (berdasarkan

P: 303

mekanisme, rekayasa, dan tahapan-tahapan yang diperhitungkan secara matang). Namun demikian, secara fenomenologis, "kesuksesan" para pengeroyok Husain dalam kejadian ini tidak sepenuhnya berporos pada intensi para pelakunya setidaknya intensi pelaku mengalami subordinasi, tetapi diakibatkan perpaduan antara, dalam wawasan arkeologi pemikiran Foucauldian, diskursus “yang jahat" yang telah menjadi zeitgeist (semangat zaman) yang hegemonik dengan “kegilaan kolektif” dalam fenomena massa.

Seluruh prajurit Yazid, mulai dari Umar bin Saad, Syimir, dan semua pihak yang dalam peristiwa Karbala berposisi di seberang al-Husain, pada detik kejadian itu adalah sama dan identik. Mereka semua lebur dalam sebuah adonan bernama massa yang melumat perbedaan dalam lubang hitam homogenitas anonim, di mana hasrat utamanya cuma satu, yaitu menghancurkan pihak yang berbeda atau berada di luar massa, yang dipersepsi sebagai musuh mereka yang harus didestruksi tanpa ampun.

Secara leksikal, istilah yang diserap dari bahasa Inggris, mass, ini diartikan dengan a large amount of a substance that does not have a definite shape or form; (1) yakni kumpulan substansi tanpa bentuk atau tipe yang definitif.

Ada yang menarik di sini: definisi di atas menggunakan istilah yang terasa kurang pas, "substansi". Mengapa tidak disebut "manusia" saja? Bukankah umumnya konsep "massa" menunjuk pada kerumunan manusia dan jarang pada “substansi” selainnya? Kehati-hatian dan kejelian jelas amat diperlukan dalam kasus terminologis ini.

Tanpa perlu mengernyitkan kening, tetapi diperlukan sedikit kecermatan, kiranya akan segera dipahami bahwa digunakannya kata "substansi” bermakna, dalam batang tubuh massa, “manusia” itu tidak ada, nol, atau minimal identitasnya mengalami degradasi setaraf “sesuatu" yang abstrak dan anonim. Barangkali, ciri-ciri fisiknya masih dikenali sebagai manusia, tetapi sikap dan perilakunya terjun bebas ke titik nadir garis koordinat moralitas dan kemanusiaan, yang disebut kaum humanis sebagai posisi binatang, atau diistilahkan kaum religius sebagai posisi setan.

P: 304


1- 13. A. S. Hornby, Oxford Advanced Learner's Dictionary, 6th edition, ed. Sally Wehmeier, Oxford University Press, New York: 2000 (11$ impression 2004), h. 787. Memang, secara terminologis, istilah massa juga umum dilekatkan pada himpunan individu yang berkat kesadarannya melancarkan gerakan-gerakan politik, revolusi, atau perlawanan terhadap penguasa yang zalim. Dalam pengertian ini, massa justru menjadi agen kunci perubahan sosial ke arah yang lebih baik dan tujuannya bukan destruksi melainkan malah membangun" yang baru dari puing-puing struktur atau sistem sosial sebelumnya. Dalam tulisan ini, bukan istilah massa dalam pengertian seperti itu yang dirujuk, melainkan dalam makna asalinya sebagai kerumunan belaka dan menyatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk tujuan-tujuan eksternal yang direncanakan dan berefek pada perubahan sosial konstruktif.

Anonimitas inilah yang membebaskan “manusia yang terdegradasi” dari batasan-batasan dirinya sehingga mampu melakukan apa pun tanpa perlu lagi tunduk pada identitas, norma-norma sosial, termasuk hukum positif, kalau bukan malah menabrak dan menginjak-injaknya. Di sini, destruksi dan massa setali tiga uang: massa dapat melahirkan destruksi seperti kasus kerusuhan antar-etnis, dan destruksi dapat melahirkan massa seperti kasus tsunami Aceh 2004 yang mencetak massa pengungsi. (1) Bedanya, massa yang lahir dari rahim destruksi adalah kumpulan substansi yang murung, cemas, takut, dan frustasi, sementara massa yang melahirkan destruksi justru kebalikannya dan lebih menyerupai monster berkepala banyak dengan postur dan performa sangat menyeramkan.

Jadi, destruksi merupakan watak bawaan, dominan, dan sudah inheren massa. Bila lensa analisis ke-massa-an ini diproyeksikan ke fenomena Karbala, maka dapat dipahami bahwa histeria pembantaian Husain boleh jadi bukan lagi didorong oleh hasrat individual, melainkan situasi massa. Ini bukan berarti motif Yazid pribadi untuk mengudeta kepemimpinan sosial-politik Husain tidak memainkan peran yang sangat penting dan menentukan. Atau menihilkan ambisi politik Umar bin Saad untuk menduduki jabatan gubernur di Provinsi Rey (Iran) yang ditawarkan Yazid kepadanya yang lantas membuatnya keras kepala dan nekat memerintahkan pasukannya untuk mengepung dan membunuh Husain.

Namun, dalam momen puncak di Karbala yang terjadi persis di hari Asyura, misteri kenapa mereka begitu brutal dan berambisi untuk membantai Husain (yang dalam aturan perang yang berlaku dalam peradaban paling kuno sekalipun terdapat larangan untuk menghabisi pihak musuh yang sama sekali sudah tak berdaya secara militer) sedikit terkuak karena rencana yang melibatkan intensi mereka sudah dilampaui oleh atmosfir ke-massa-an yang berbalik mendikte dan memaksa mereka terus mendestruksi, dan objek yang paling empuk sebagai sasarannya adalah Husain, sementara prosesnya yang paling destruktif adalah

P: 305


1- 14. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h.xx.

"mutilasi hidup-hidup". Kerumunan prajurit Yazid di lapangan saat itu, kemungkinan besar tidak lagi merujuk pada “kebijakan" Yazid untuk membunuh Husain, tetapi sudah terprovokasi dan disihir oleh suasana massa yang menggiring mereka sebebas-bebasnya menyalurkan hasrat dan tindakan yang absurd berupa destruksi. Dan, tindakan destruktif ini bercirikan ekstasis, di mana para pelaku mengalami perluasan ego dengan meleburkan dirinya dalam massa yang melakukan destruksi.

Fakta ini ditegaskan Georg Simmel, seorang sosiolog, bahwa dalam setiap aksi massa, motif-motif para individu umumnya sangat berbeda sehingga penyatuan mereka semakin mungkin bila isi dari aksi massa itu semakin negatif, yakni semakin destruktif.(1) Dan, aksi ke-massa-an di Karbala itu berkembang menurut dinamikanya sendiri dan menciptakan ekstasis dalam diri para pelakunya yang tak dapat dibendung lagi. Mereka menularkan hasrat kekerasan secara kolektif dari satu elemen ke elemen lain dalam tempo cepat, yang lambat laun mengeskalasi kekerasan itu sendiri, yang memuncak di hari Asyura. Ketegangan yang merekatkan para pelaku dalam situasi massa pada saat itu tak akan turun intensitasnya- sekalipun sifatnya sesaat-selama Husain belum hancur. Di sini, motif- motif individu yang secara kronologis, bahkan mulai berkecambah sejak Rasulullah Saw. menaklukan bani Umayyah, klan Yazid, dalam momen fath Mekkah-baru berupa fase awal dan batu loncatan ke terbentuknya konsentrasi massa yang lantas menjadi eksekutor dan event-maker-nya, atau "alat” dongkrak kenekatan elemen-elemennya di gurun Karbala.

Satu pemahaman penting dari aksi massa di Karbala erat berkaitan dengan ciri eksistensial rata-rata pelakunya. Mereka hanyalah sekumpulan "elemen” dari sebuah kumparan yang spontan mengalirkan energi destruktif yang menyasar objek yang sebelumnya telah ditatap dan didegradasi hingga ke level seonggok benda yang tiada guna, tanpa daya fisik, dan seolah-olah mengundang serta merelakan dirinya dijadikan target destruksi. Energi atau keberanian untuk melakukan destruksi tentunya bukan berasal dari masing-masing elemen pembentuknya, melainkan dari "kolektivitas" itu

P: 306


1- 15. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. 49-50.

sendiri. Dalam ungkapan Ortega Y. Gasset, "Massa bertindak hanya dalam satu cara: mengeroyok!"(1) Dalam pada itu, sekadar elemen massa mengandaikan bahwa pada hakikatnya mereka bukanlah sosok-sosok yang sebelumya menyandang identitas individual yang khas, lalu lenyap dan melebur dalam situasi massa. Nyatanya, mereka hanyalah sekumpulan sosok yang sehari-hari marginal, orang kebanyakan, tidak penting, dinistakan, atau menjadi korban tindak diskriminasi sehingga tak punya identitas dan kekhasan sebagai individu. Psikolog terkenal, Gustave Le Bon, menegaskan bahwa massa itu [kumpulan elemen yang] bodoh, mudah diprovokasi, rasistis, atau singkatnya irasional.(2) Lalu, mereka saling berebut menjadi penjagal Husain untuk menegaskan identitas dan menegakkan individualitasnya, sekaligus merasa terlibat dalam sebuah proses kekuasaan yang sebelumnya sama sekali tak pernah dibayangkan bakal dicicipinya. Siapa yang tidak merasa heroik dan “menjadi seseorang" saat menancapkan pedang, menghunjamkan tombak, atau melesatkan anak panah membidik tubuh Husain, putra tercinta Rasul Saw., dan figur terbesar dalam sejarah Islam ini yang semua itu mustahil dilakukan secara “individual”? Di samping itu, bila diandaikan bahwa tindakan massa yang brutal itu merupakan sesuatu yang bernilai, maka secara psikologis, mereka akan membantai dan menghabisi nyawa al-Husain tanpa rasa bersalah karena menganggap tindakannya itu sebagai prasyarat untuk merealisasikan nilai dirinya. Membunuh dalam situasi normal jelas merupakan keburukan moral, tetapi dalam histeria massa yang elemen-elemennya saling berebut untuk merealisasikan diri, maka tindakan apa pun yang secara moral pantas dinistakan justru berbalik menjadi sebuah imperatif. Husain yang telah diisukan sebagai pembangkang oleh rezim Umayyah dicitrakan sebagai orang yang tidak lagi beragama dan hanya ingin menyabot kekuasaan dari tangan Yazid-sebagaimana ayahnya yang sempat didiskreditkan Mu'awiyah di Damaskus sebagai orang yang tak lagi bersembahyang, maka membunuh orang semacam itu yang direpresentasikan sebagai

P: 307


1- 16. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. 67.
2- 17. Bdk. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma. Ditambahkan Le Bon, "Massa senantiasa terkungkung dalam batas-batas ketidaksadaran, tunduk pada segala pengaruh, mudah diombang-ambing emosi, dan gampang percaya." Dalam massa, elemen-elemen" (saya menggantinya dari istilah asli dalam buku yang dikutip, 'individu- individu") yang berbeda-beda memiliki "dorongan-dorongan, nafsu-nafsu dan perasaan-perasaan yang sangat mirip dan bertingkah laku sama. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma.

"musuh agama” menjadi sebuah keharusan demi melindungi kekuasaan dari anasir-anasir pemberontak. Ringkasnya, semakin besar jumlah massa, semakin lenyaplah motif individual, dan semakin mereka merasa tindakan destruktifnya sebagai benar dan harus.

Politik massa, ungkap F. Budi Hardiman, adalah politik representasi.(1) Makna representasi di sini dapat merujuk pada konsepsi Plato yang sinis menyatakan bahwa representasi menciptakan dunia ilusi-ilusi yang menyesatkan seseorang dari "sesuatu yang riil”. (2) Dan, sebagaimana ditegaskan Mai Vukcevich, representasi lebih mudah diakses dan dikomunikasikan pada level massa.(3) Ini sebagaimana metafor bayangan fisik seseorang yang dipantulkan sebuah cermin di hadapannya. Bagian depan sosok orang tersebut barangkali akan dipantulkan cermin, seandainya jernih secara persis. Namun, biar bagaimanapun, bayangan itu hanyalah berupa objek tiruan yang itu pun tidak tampil seutuhnya seperti di dunia nyata karena hanya tertangkap indra mata dari sudut yang dimungkinkan dan bersifat permukaan. Berarti, ada reduksi akibat keterbatasan sudut pandang dalam hal ini. Bila dikaitkan dengan kosakata “politik”, maka artinya menjadi sudut pandang yang mereduksi realitas politik dengan hanya menampilkan cerminan tidak utuh dan bersifat permukaan dari suatu objek politik. Namun demikian, mimikri dan gambaran sepotong-sepotong inilah yang paling mungkin ditatap orang banyak sepintas lalu. Rumusnya, semakin simpel, sesaat, dan dangkal, semakin mungkin dipahami atau dikomunikasikan ke banyak orang.

Lebih dari itu, sebagaimana dikatakan W.J. Mitchell, representasi bukan hanya memediasi pengetahuan manusia (tentang perbudakan atau lainnya), melainkan juga menghalang-halangi, membagi-bagi, dan menyangkal pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, representasi bukan hanya memediasi pengetahuan yang dikonsumsi seseorang, melainkan juga memengaruhinya melalui pembagian, penyangkalan, dan sebagainya.

Oleh karena itu, representasi mengonstruksi pengetahuan. (4) Bila dikaitkan dengan ungkapan Mai di atas, maka representasi berarti mengonstruksi

P: 308


1- 18. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. 50.
2- 19. Joseph Childers (ed.), The Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism, Columbia University Press, New York: 1995, h. 260.
3- 20. Mai Vukcevich, Representation: http://csmt.uchicago.edu/glossary2004/representation.htm
4- 21. W.J. T. Mitchell, Picture Theory, University of Chicago Press, Chicago: 1994, h. 188.

pengetahuan yang mudah diakses dan dikonsumsi dalam skala massa.

Dalam konteks drama Karbala, pengetahuan tentang kafilah al-Husain sebelumnya (bahwa al-Husain misalnya keturunan Rasul Saw. dan lebih berhak meneruskan kepemimpinan sosial politiknya) telah disangkal oleh representasi politis yang mengaburkan atau menyembunyikan sebagian fakta yang justru penting, yang kemudian dicerap dan disikapi massa sebagai negatif dan berbahaya sehingga harus dihadang dan dieksterminasi. Representasi yang dibangun, misalnya, berupa stereotip yang menggambarkan sosok Husain sebagai pembangkang dengan nafsu berkuasa sangat besar, menolak berbaiat yang karena itu pantas didakwa sebagai melanggar syariat, dan lain-lain. Di sini, representasi membentuk pengetahuan yang diideologisasi dan ditanamkan ke benak massa sehingga mereka berpikir dan merasa tidak membunuh atau memutilasi sesamanya (karenanya bukan manusia seperti mereka), melainkan terhadap “sesuatu" yang kalau dibiarkan akan menghancurkan mereka sendiri.

Terdapat fakta yang menarik untuk dicermati dalam konteks ini; ternyata hampir semua serdadu Yazid, kecuali segelintir elite Dinasti Umayyah, terdiri dari elemen-elemen yang tidak berurusan langsung atau bahkan sama sekali tidak punya masalah dengan Husain. Mereka rata- rata tidak mengenalnya secara pribadi (entah itu karena rekayasa politik, intimidasi, teror, atau alasan-alasan personal). Oleh karena itu, mereka menjadi elemen-elemen "yang tidak menyadari konteks yang terjadi dan hanya semata-mata mengekor pada apa yang mereka dengar melalui kebiasaan kelompok sosial yang mereka huni ..., yang bertindak sebagai struktur yang memperantarai mereka yang tidak punya pengalaman personal dengan fenomena tertentu (yakni permusuhan dengan Husain)". (1) Dimensi utama yang tercakup dalam gejala semacam ini tak lain adalah hegemoni kekuasaan. Dinasti Umayyah yang dipuncaki Yazid diakui atau tidak pada masa itu telah menjadi institusi dominan yang memiliki otoritas (berkarakter otoriter) dan legitimasi untuk menegakkan kebiasaan linguistik, sehingga kekuasaannya hegemonik. Dan, kekuasaan hegemonik,

P: 309


1- 22. Jane Dillon and James T. Richardson, The "Cult" Concept: A Politics of Representation (manuskrip yang tidak dipublikasikan), University of Nevada-Department of Sociology, Reno: 1995, h. 9.

tegas Dillon dan Richardson, adalah dimensi ketiga dari kekuasaan yang paling berbahaya karena menghalangi individu atau kelompok, bahkan dari berpikir untuk mempertanyakan situasi kekuasaan yang ada, yang faktanya sangat tidak proporsional.(1) Jadi, berkat kekuasaannya yang hegemonik, Dinasti Umayyah mampu menyulap para pendukungnya dalam rentang waktu tidak lama menjadi kerumunan massa serta memobilisasinya- tanpa memberinya ruang yang memungkinkan masing-masing mereka merenung dan mempertanyakan siapa dan bagaimana musuh mereka- untuk menghadapi al-Husain dalam perang puputan di Karbala.

Faktor lain yang terkait erat dengan fenomena massa adalah tirani.

Secara leksikal, tirani merupakan penggunaan kekuasaan atau otoritas secara kejam dan zalim.(2) Umumnya, tirani dipahami sebagai subjek seperti raja atau diktator yang menggenggam kekuasaan absolut dan otoriter.

Namun, sebagai kondisi manusiawi, definisi di atas juga mengindikasikan bahwa tirani bisa pula berciri peristiwa (proses penggunaan kekuasaan) sehingga berwatak dinaris ketimbang statis dan subjektis. Dalam hal ini, massa memiliki kekuasaan yang muncul dan menguat dengan sendirinya seiring proses pembentukannya yang spontan dan sporadis sekalipun dimaknai secara negatif, yakni dari keleluasaannya melakukan destruksi serta menginjak-injak norma-norma sosial dan aturan positif. Semakin gigantis dan isi aksinya makin destruktif, makin besar pula kuasa massa.

Kekuasaan yang muncul dan menguat lewat peristiwa pembentukannya berikut wataknya yang destruktif inilah yang menjadikan massa setali tiga uang dengan tirani. Kendati tirani massa hanya berlangsung sesaat atau sepanjang kerumunan (crowded) masih terbentuk-berbeda dengan tirani subjektis dan statis yang cenderung sistematis dan sistemik serta dapat berlangsung sampai berabad-abad lamanya.

Bahasa Nalar Husain dan Kebisingan Massa

Saat kata-kata dan pikiran jernih berhenti, saat itulah kekerasan bermula.

Bahkan, menurut Hannah Arendt, “Kekerasan adalah komunikasi bisu par

P: 310


1- 23. Jane Dillon and James T. Richardson, The "Cult" Concept A Politics of Representation, h. 10.
2- 24. A. S. Hornby, Oxford Advanced Learner's Dictionary, h. 1403.

excellence."(1) Bila dihubungkan dengan fenomena massa, maka kekerasan lahir bersamaan dengan terbentuknya massa; sekumpulan substansi yang lahiriahnya begitu gaduh, tetapi sebenarnya secara batiniah begitu membisu. Dari uraian tentang masakre di Karbala yang dilakukan massa yang mengerubuti al-Husain dalam eskalasi kekerasan yang memuncak pada terbunuhnya al-Husain dengan cara sadis, terdapat sejumlah momen di mana Husain berkali-kali berusaha mengundang massa di seberangnya untuk menjadi “individu" yang mengandalkan kebebasan, bukan kekerasan, dirinya (yang bermakna membebaskan diri dari pusaran massa, dan dengan sendirinya, dari tirani subjektis Yazid). Selain itu, Husain juga mengingatkan mereka perihal sejarah dan posisi religius dirinya yang menyambung langsung ke Rasul Saw. Dari fenomena ini, dapat dipahami bahwa Husain tetap mengandalkan nalar dan kata-kata di tengah gemuruh histeria massa. Dan, ini membuktikan bahwa dia bukanlah elemen dari massa.

Selain diorientasikan untuk memanfaatkan detik-detik terakhir kehidupannya di dunia fana ini guna “menyadarkan"—kendati paradoks dengan watak dasar-massa yang jadi musuhnya untuk menyeberang ke pihaknya,(2) pengerahan kekuatan kata dan nalar oleh Husain memiliki orientasi lain yang jauh lebih fundamental, yaitu menyempurnakan hujjah dan taklif (kewajiban agama)(3) sekaligus mengontraskan diri sebagai “individu manusia" vis-à-vis gerombolan massa yang terdiri dari sekumpulan substansi atau elemen anonim belaka. Dengan kata lain, salah satu motif Husain menyuarakan kembali suara hati, fakta, dan nilai seputar dirinya menjelang kesyahidannya adalah mendemonstrasikan sekelumit tindakan manusiawi yang sepenuhnya berporos pada bahasa dan nalar. Berkat bahasa, pikiran jadi terbuka, dan dengan nalar, orang dapat memahami apa artinya menjadi manusia dan apa risikonya menjadi binatang atau setan.

Berikut adalah beberapa seruan Husain menjelang peristiwa paling berdarah itu:

P: 311


1- 25. Dede Azwar Nurmansyah, "Kekerasan Struktural dan Proses Pemilu", HŲ Republika (24 Juli 2004).
2- 26. Dalam berbagai literatur kesejarahan Karbala, dikatakan bahwa usaha verbal Husain memang membuahkan hasil kendati tidak dalam jumlah besar. Beberapa elemen massa akhirnya membelot dan berpihak pada Husain, yang sekaligus bermakna mengindividuasi dan memanusiakan dirinya, seperti al-Hurr al-Riyahi beserta putra-putranya, yang diapresiasi Husain dengan ungkapan begitu sejuk, "Tidak salah ibumu menamaimu al-Hurr (orang yang bebas atau merdeka)....
3- 27. Dalam salah satu karyanya, Falsafah Pergerakan Islam (Mizan, Bandung: 1989), al-Syahid Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Husain bangkit dan menyulut revolusi melawan Yazid dan klan 'Umayyah dikarenakan mereka (kelompok Yazid) telah mencampuradukkan yang hak dan yang batil, dan itu adalah sebentuk kedurjanaan." Dalam Shahih al-Bukhari (edisi bahasa Inggris) vol. 5, riwayat ke-91, dikutip kata-kata Husain, "Aku bangkit dan melawan bukan untuk kebatilan atau kemasyhuran. Sungguh aku bangkit untuk meluruskan umat kakekku, Rasulullah Saw (dengan melancarkan amr marüf naby munkar)."

1. Saat berhadapan dengan al-Hurr al-Riyahi (komandan regu pasukan Yazid yang beberapa saat kemudian berbalik mendukung Husain) dan pasukannya yang sengaja dikerahkan 'Ubaidillah bin Ziyad untuk mengadangnya dan menggiringnya ke kawasan Karbala, Husain berseru, "Wahai manusia! Sungguh Rasulullah Saw. telah berkata, 'Barang siapa melihat seorang penguasa menghalalkan apa yang diharamkan Allah, melanggar perjanjian dengan Allah, menentang sunnah Rasulullah, memperlakukan makhluk-makhluk Allah secara kejam dan zalim, serta tidak menentangnya lewat ucapan dan tindakan, maka Allah berhak menggolongkannya dalam barisan orang yang zalim.' Sungguh, orang-orang itu (Yazid dan penguasa Umayyah) telah menjadikan dirinya sebagai pengikut setan dan menolak patuh kepada Allah. Mereka telah mengambil harta dengan cara korup dan menghapus hukum-hukum Islam, menjarah baitulmal, menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Dan aku, wahai manusia, memiliki hak yang besar untuk bertindak (berkenaan dengan peringatan Rasulullah). "(1) 2. Beberapa saat setelah tiba di Karbala, dia mengatakan, “Tidakkah kalian menyaksikan bahwa yang makruf tidak ditegakkan sementara yang mungkar tidak dicegah? Dalam situasi ini, orang yang beriman sangat ingin berjumpa dengan Tuhan-nya. Sungguh, (dalam kondisi semacam ini) yang kulihat dalam kematian hanyalah kebahagiaan, dan hidup di bawah tindasan para tiran hanyalah kehinaan." Dan, masih banyak lagi kata yang diucapkannya, yang muncul dari keberanian jiwa, keyakinan yang teguh, kemurnian tekad, dan kejernihan pikiran Husain. Dalam pada itu, ungkapan Husain (juga ayahnya, Ali ibn Abi Thalib, dalam satu pertempuran melawan kaum pemberontak) yang melarang sahabatnya untuk menyerang [lebih dulu) atau bertindak ofensif, agaknya menemukan relevansinya.(2) Menurut Alien Wheelis(3), perbedaan antara menyerang (attack atau bertindak ofensif) dan melawan (resistance) adalah perbedaan antara kekerasan dan argumen. Semua fenomena “menyerang" sama belaka dengan kekerasan itu sendiri (minimal

P: 312


1- 28. Sayyid Wahid Akhtar, “Karbala, an Enduring Paradigm of Islamic Revivalism", al-Tawhid, vol. xiii, no. 1 (musim semi): 1996.
2- 29. Dalam beberapa literatur kesejarahan Karbala, diceritakan bahwa dalam satu kesempatan, beberapa sahabat yang merasa gemas terhadap musuh-musuh yang sudah berlagak keterlaluan, meminta izin Husain untuk melesatkan sejumlah anak panah lebih dulu ke kubu massa yang jumlahnya saat itu cukup spektakuler, tapi Husain justru melarangnya, "Kita tak pernah memulai lebih dulu (maksudnya, tidak menyerang atau bertindak ofensif)." Etika perang keislaman semacam ini dapat ditemukan, salah satunya, dalam artikel "What are the ethics of war in Islam?", yang menyatakan, "... fighting is allowed only for self-defense.... Lihat: http://wiki.answer.com.
3- 30. Dikutip dari, Kevin J. Ayyote, "Arguing Violence: The Theory and Politics of Truth", Argumentation and Advocacy, vol. 40: 2004.

menyalurkannya), sementara melawan" senantiasa didahului argumen (nalar) yang karenanya berciri manusiawi. Sesuai dengan ciri-cirinya yang telah disebutkan sebelumnya, massa itu melahirkan destruksi, yang secara terminologis mengandung pengertian menyerang dan pada gilirannya “kekerasan". Sementara, seorang “individu manusia" yang dikaruniai kecerdasan nalar tentu saja akan lebih memilih argumen ketimbang kekerasan. Namun, bila menurut akal sehatnya suatu fenomena kekerasan sudah jelas-jelas mengoyak batas kewajaran (kemanusiaan) dan bersifat keterlaluan, maka tak ada jalan lain baginya, kecuali menghadapi dan melawannya. Kecermatan Husain dalam mempertahankan ketegangan antara individu (autentik) versus massa ini terbilang luar biasa. Sedikit terpeleset saja, individualitas yang menjadi kekhasan manusia niscaya akan langsung meleleh dalam kuala massa.

Alhasil, semua seruan Husain yang hanya mungkin ditangkap dan dicerna nalar individual itu seolah lenyap begitu saja, digilas ambisi dan histeria massa yang malah balik menyemburkan teriakan bising bernada umpatan, cemoohan, dan sumpah serapah. Ucapan Husain terlontar dari nalar dan nurani yang murni, sementara lontaran tidak senonoh dan sikap lancang massa yang menggerombol di hadapannya sepenuhnya berasal dari pikiran yang keruh, amarah, naluri spontan, dan hasrat destruktif- yang secara ontologis, sebenarnya berakar pada kepanikan, kecemasan, dan rasa takut mereka pada kematian dan kesendiriannya. Dalam pada itu, respon sangat negatif terhadap seruan Husain menandakan bahwa mereka telah menyempal dari jalur komunikasi nalar dan moral. Sebagai massa, mereka hanya mengenal satu cara: kekerasan dan menyerang, baik secara verbal kebahasaan lewat lontaran kata-kata tidak senonoh maupun secara tindakan fisik, yakni mengeroyok, dan akhirnya memutilasi Husain hidup- hidup.

Komunikasi antara Husain dan massa pengeroyoknya sudah macet dan berubah bisu sejak dirinya kali pertama menginjakkan kaki di tanah Karbala. Kemacetan ini bukan hanya karena intensi bala tentara Yazid yang tidak mau mendengar atau menolak seruan Husain, melainkan karena

P: 313

situasi massa dengan sendirinya telah menutup telinga dan nurani mereka.

Situasi ini, dalam ungkapan Arendt di atas, sudah merupakan kekerasan itu sendiri; atau kekerasan massalah yang membisukan komunikasi. Oleh karena itu, percumakah Husain meneriakkan kata-kata yang dirajut dalam bahasa nalar yang begitu menyentuh ke angkasa Karbala pada saat itu? Masalah percuma atau tidak ternyata sudah terlampaui dalam konteks ini.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kata-kata Husain utamanya bukan diorientasikan untuk menyusup ke telinga, membangunkan nurani, dan menyadarkan massa, melainkan demi menyempurnakan hujjah dan taklif dirinya di hadapan Tuhan, seraya pula untuk menegaskan posisi kemanusiaannya sebagai individu yang autentik di hadapan elemen- eleman massa yang tidak autentik (karena berusaha kabur dari dirinya sendiri, yakni dari kemanusiaan dan individualitasnya yang peka terhadap bahasa nalar), hanya mengenal bahasa kekerasan, dan berlaku destruktif.

Barangkali, sebagai penutup tulisan ini, perlu ditarik sebuah konklusi filosofis dari ikhtiar Husain yang begitu gigih, terus-menerus, dan lantang menyuarakan panggilan nurani, memunculkan ingatan kolektif, dan mendemonstrasikan kebenaran di tengah bising massa. “Kami tidak butuh telinga-telinga hari ini, kami hanya butuh telinga-telinga masa depan!" Ungkapan ini kiranya cukup mewakili usaha Husain dalam menyuarakan jeritan hatinya yang paling dalam tentang keharusan untuk berkata "tidak" pada penindasan dan kejahatan terlebih yang mengatasnamakan agama [Islam), sekaligus berkata "ya" pada keautentikan individu yang sadar sepenuhnya tentang bagaimana dan apa makna menjadi manusia.

Kalau boleh diibaratkan, kumpulan elemen massa yang sedang mengepung Husain kala itu tak lebih dari sehamparan tembok kekar yang menjulang, dingin dan kaku, yang secara fisik begitu haus darah, keras, dan menyeramkan, tetapi secara instrumental justru berfungsi memantulkan kembali kata-kata Husain jauh ke peradaban pada masa mendatang.

Kumpulan massa itu kini telah bubar, kegaduhannya telah berubah senyap seiring berlalunya waktu, dan semua elemennya telah melebur dengan tanah; tetapi seruan Husain tetap abadi dan universal sehingga akan terus

P: 314

bergema sepanjang masa, menyapa jiwa yang kerasan dalam merenung, dalam individualitasnya yang autentik, serta telaten mendengarkan panggilan hati nurani dalam kesendiriannya di tengah kesunyian. [] atakan, dari Ubaid ibnbach (vol. 12), diriwaw. Dalam kitab Catatan:

1 Namun, menurut Khalid Muhammad Khalid, rasionya berkisar antara satu prajurit Husain berbanding 60 tentara Yazid. Silakan merujuk, Khalid Muhammad Khalid, Tentara Langit di Karbala: Epik Cucu Sang Nabi, Mizania, Bandung: 2007 (dipetik dari sinopsis pada situs http:// www.cibuku.com/tentara-langit-Karbala-epik-suci-cucu-sang-nabi-p-1332.html) 2 Abdullah Yusuf Ali, Imam Husain and His Martyrdom: www.al-islam.org.

3 Dalam kepustakaan tradisional Islam, bertebaran narasi yang menjelaskan keutamaan menangisi kesyahidan Husain (juga rombongannya). Misalnya, narasi yang mengatakan bahwa air mata yang mengalir karena menangisi Husain akan memadamkan api neraka. Selain dari segi manfaatnya, menangisi Husain juga bermakna mengikuti sunah Nabi Saw. Dalam kitab al- Mushannaf, karya al-Hafidz Abu Bakar ibn Abi Syaibah (vol. 12), diriwayatkan dari Husain ibn Ishaq, Ali ibn Bahar, Isa bin Yunus, dari Ubaid ibn Ghannam, Abu-Bakar ibn Abi Syaibah, dan Ya'la ibn 'Ubaid yang mengatakan bahwa Musa ibn Shalih al-Juhani, dari Shalih ibn Arbad, meriwayatkan bahwa Ummu Salamah ra berkata, "Rasulullah Saw berkata, 'Duduklab di pintu, dan jangan izinkan seorang pun menemuiku." Aku pun segera duduk di pintu. Tak lama kemudian, Husain datang. Aku pun segera mencegahnya, tetapi dia memaksa dan berlari masuk ke rumah kakeknya. Setelah itu, aku melongok dari pintu dan melihat Rasulullah memindahkan sesuatu di tangannya sementara air mata beliau mengalir, dan anak itu (Husain) berada dalam pelukannya.

(Lalu aku menanyakan semua itu kepadanya) dan beliau berkata, "Benar, Jibril menemuiku dan memberitahuku bahwa umatku akan membunuhnya (Husain). Jibril membawakanku segenggam tanab yang berasal dari tempat Husain akan dibunuh, yang (tanah itu) sekarang ada dalam genggamanku." 4 Para sahabat dan kerabat Husain terdiri dari berbagai kalangan dan hidup tersebar di berbagai daerah. Mereka yang terkenal sebagai para pemberani itu meneladani betul Husain yang diimani sebagai pemimpin yang absah dan penerus kepemimpinan serta pengusung risalah Rasulullah Saw. Dari kalangan kerabat, terdapat Ja'far bin Aqil bin Abi Th.ib, Abbas bin Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain. Sementara dari kalangan sahabat ada Junadah bin Ka'b Anshari al-Khazraji, Sulaiman bin Razin (budak yang dibebaskan Husain), dan sebagainya. Dalam peristiwa itu, tindakan heroik mereka benar-benar mengundang decak kagum; menegaskan individualitasnya, menantang duel satu lawan satu terhadap elemen-elemen massa, melindungi Husain habis- habisan, lalu melontarkan dirinya ke tengah pusaran massa yang lantas mengerubut, melahap, dan menjagalnya tanpa ampun. Untuk mengetahui daftar para relawan Karbala yang berdiri di pihak Husain, silakan merujuk "The Martyrs of Karbala: The Kind of Men They Were Mahjubah, vol. 14, no. 4, ed. April 1995, h. 131.

5 Al-Serat, vol. XII: 1986, www.al-islam.org.

6 "Jangan pernah berharap untuk mengajarkan Muslimin tentang kebebasan dan hak asasi manusia.

Karena mereka memiliki Imam Husain, cucu terkasih Nabi, yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan keimanan dirinya dan komunitasnya dari penindasan dan pelecehan sang tiran (Yazid as peny.)."Kalimat ini disampaikannya dalam sebuah ceramah di salah satu universitas di Amerika Serikat. Lihat: The Awakening of Human Conscience: The Everlasting Lessons from the Sacrifice of Imam Husain for Our Civilization Today (seminar riset yang tidak dipublikasikan), ICAS, Jakarta: 2008, h. 12.

7 Lihat, Encyclopedia, bab V: www.al-islam.org.

8 Edward Gibbon, The Dedine and Fall of Roman Empire, vol. 5, London: 1911, h. 391–2.

9 Lihat: http://www.cibuku.com/tentara-langit-Karbala-epik-suci-cucu-sang-nabi-p-1332.html 10 Lihat: www.ya-hussain.com. Filsuf-pujangga ini juga dengan jujur menyatakan, "The melody of life owes its sweet sadness to Husain. Learn from bim the meaning of liberty in its real sense." Lihat: http:// www.compsoc.man.ac.uk/-moiz/islam/Karbala.html 11 F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Marsa, Tetor, dan Trauma, Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2005, h. xxi.

P: 315

12 Dikutip dari F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. xxxvi.

13 A. S. Hornby, Oxford Advanced Learner's Dictionary, 6th edition, ed. Sally Wehmeier, Oxford University Press, New York: 2000 (11$ impression 2004), h. 787. Memang, secara terminologis, istilah massa juga umum dilekatkan pada himpunan individu yang berkat kesadarannya melancarkan gerakan-gerakan politik, revolusi, atau perlawanan terhadap penguasa yang zalim.

Dalam pengertian ini, massa justru menjadi agen kunci perubahan sosial ke arah yang lebih baik dan tujuannya bukan destruksi melainkan malah membangun" yang baru dari puing-puing struktur atau sistem sosial sebelumnya. Dalam tulisan ini, bukan istilah massa dalam pengertian seperti itu yang dirujuk, melainkan dalam makna asalinya sebagai kerumunan belaka dan menyatu untuk dirinya sendiri, bukan untuk tujuan-tujuan eksternal yang direncanakan dan berefek pada perubahan sosial konstruktif.

14 F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h.xx.

15 F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. 49-50.

16 F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. 67.

17 Bdk. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma.

Ditambahkan Le Bon, "Massa senantiasa terkungkung dalam batas-batas ketidaksadaran, tunduk pada segala pengaruh, mudah diombang-ambing emosi, dan gampang percaya." Dalam massa, elemen-elemen" (saya menggantinya dari istilah asli dalam buku yang dikutip, 'individu- individu") yang berbeda-beda memiliki "dorongan-dorongan, nafsu-nafsu dan perasaan-perasaan yang sangat mirip dan bertingkah laku sama. F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas:

Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma.

18 F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma, h. 50.

19 Joseph Childers (ed.), The Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism, Columbia University Press, New York: 1995, h. 260.

20 Mai Vukcevich, Representation: http://csmt.uchicago.edu/glossary2004/representation.htm 21 W.J. T. Mitchell, Picture Theory, University of Chicago Press, Chicago: 1994, h. 188.

22 Jane Dillon and James T. Richardson, The "Cult" Concept: A Politics of Representation (manuskrip yang tidak dipublikasikan), University of Nevada-Department of Sociology, Reno: 1995, h. 9.

23 Jane Dillon and James T. Richardson, The "Cult" Concept A Politics of Representation, h. 10.

24 A. S. Hornby, Oxford Advanced Learner's Dictionary, h. 1403.

25 Dede Azwar Nurmansyah, "Kekerasan Struktural dan Proses Pemilu", HŲ Republika (24 Juli 2004).

26 Dalam berbagai literatur kesejarahan Karbala, dikatakan bahwa usaha verbal Husain memang membuahkan hasil kendati tidak dalam jumlah besar. Beberapa elemen massa akhirnya membelot dan berpihak pada Husain, yang sekaligus bermakna mengindividuasi dan memanusiakan dirinya, seperti al-Hurr al-Riyahi beserta putra-putranya, yang diapresiasi Husain dengan ungkapan begitu sejuk, "Tidak salah ibumu menamaimu al-Hurr (orang yang bebas atau merdeka)....

27 Dalam salah satu karyanya, Falsafah Pergerakan Islam (Mizan, Bandung: 1989), al-Syahid Murtadha Muthahhari menegaskan bahwa Husain bangkit dan menyulut revolusi melawan Yazid dan klan 'Umayyah dikarenakan mereka (kelompok Yazid) telah mencampuradukkan yang hak dan yang batil, dan itu adalah sebentuk kedurjanaan." Dalam Shahih al-Bukhari (edisi bahasa Inggris) vol. 5, riwayat ke-91, dikutip kata-kata Husain, "Aku bangkit dan melawan bukan untuk kebatilan atau kemasyhuran. Sungguh aku bangkit untuk meluruskan umat kakekku, Rasulullah Saw (dengan melancarkan amr marüf naby munkar)." 28 Sayyid Wahid Akhtar, “Karbala, an Enduring Paradigm of Islamic Revivalism", al-Tawhid, vol.

xiii, no. 1 (musim semi): 1996.

29 Dalam beberapa literatur kesejarahan Karbala, diceritakan bahwa dalam satu kesempatan, beberapa sahabat yang merasa gemas terhadap musuh-musuh yang sudah berlagak keterlaluan, meminta izin Husain untuk melesatkan sejumlah anak panah lebih dulu ke kubu massa yang jumlahnya saat itu cukup spektakuler, tapi Husain justru melarangnya, "Kita tak pernah memulai lebih dulu (maksudnya, tidak menyerang atau bertindak ofensif)." Etika perang keislaman semacam ini dapat ditemukan, salah satunya, dalam artikel "What are the ethics of war in Islam?", yang menyatakan, "... fighting is allowed only for self-defense.... Lihat: http://wiki.answer.com.

30 Dikutip dari, Kevin J. Ayyote, "Arguing Violence: The Theory and Politics of Truth", Argumentation and Advocacy, vol. 40: 2004.

P: 316

HUSAIN DI MATA MUSLIM.......

Point

HUSAIN DI MATA MUSLIM INDONESIA NANANG TAHQIQ(1) Rasulullah Saw. had forecasted al-Husayn to be Imam of Muslim ummah as narrated on one of his prophetic tradition, "indeed you are Imam, a son of al- Imam, the father of all Imams. You are the proof (hujjah), a son of the Huijah, the father of all hujjahs." However, the Holy Prophet had predicted his tragic death, which Karbala tragedy proved the truth of his conjecture.

His being Imam of ummah pertaining closely to his tragic death in Karbala sought a proper interpretation. His martyrdom can be harvested into four main lessons. First, regardless he was one of Ahl Bayt of the Prophet; he was merely a creature, a man, a subject to tragedy. Secondly, he, even though, was a grandson of the Prophet whose privileges and honors above all men; in order to gain his sacred goal, he had to struggle even sacrificed himself instead of accepting guarantee of paradise in hereafter. Thirdly, instead of passivity, the guarantee motivated him to devote characters of Ahl-Jannah, those who deserve blessing after the death. Fourthly, the highest level of embodiment of those noble characters is being martyr in its heroic means; for it provides example for those who believe and those who struggle in the path of Jihad.

Islam teaches how tragedy cannot only go into vain. Deep down, the tragedy of Karbala witnessed the truth is. It was a trial for human, which can

P: 317


1- 1. Dosen kajian Islam di ICAS (Islamic College for Advanced Studies), Falsafah Islam di UPM (Universitas Paramadina), dan FUF-UIN (Fakultas Ushuluddin dan Falsafah, Universitas Negeri Jakarta).

be inferred into two divergences; bala' Hasan (good trial) and bala' sayyi' (trial in form of bad happening) Peristiwa Husain-putra dari pasangan 'Ali bin Abi Talib dan putri Nabi, Fatimah (oleh karena itu, ia sekaligus cucu Rasulullah)-dan tragedi Karbala, di Irak, menghidupkan kenangan mendalam di sebagian besar masyarakat Muslim dunia, juga di kalangan non-Muslim.(1)Sarjana- sarjana Muslim Iran, Irak, Jazirah Arab, bahkan India, turut merasakan getaran dari kesyahidan (martyrdom) Husain di Karbala. Tulisan-tulisan diatributkan padanya, dengan sendirinya, sangat berlimpah ruah, dari tulisan ringan, seperti slogan dan pamphlet hingga artikel, biografi, dan bahkan buku serius; sejak dalam bentuk karya-karya akademik, esai, sastra, puisi, wawancara, hingga lirik lagu, dan sebagainya. Selain tulisan, lukisan dan sketsa juga merebak dalam jumlah besar.(2) Namun, perlu segera ditambahkan, berkat kaum Syi'i sajalah peristiwa Husain kemudian dibesar-besarkan, sungguh pun popularitasnya dalam mayoritas Muslim dunia tidak dapat mengungguli tokoh-tokoh Muslim legendaris lainnya (seperti khalifah 'Umar bin al-Khattab, misalnya.) Ini disebabkan, dan oleh karena itu, bagi Syi'ah, Husain dan Karbala menjadi salah satu doktrin teologi terpenting.

Bagi mayoritas Muslim Indonesia, berbeda dari kenyataan di atas, pengorbanan Husain tersebut ternyata tidak menawarkan keharuan heorik maupun heroisme seperti Peristiwa Proklamasi '45. Bagi rakyat Indonesia, Hari Kemerdekaan, diperingati setiap 17 Agustus, dan Maulid Nabi, diperingati hampir tiap hari tiap kesempatan (khususnya di Betawi),(3) justru jauh lebih menggetarkan. Begitu pun ketokohan 'Umar melebihi Husain. Padahal sesungguhnya, pengaruh Muslim Persia (Iran) sangat kuat ke dalam bahasa dan tradisi Indonesia-tetapi tetap saja kasus Husain dan Karbala tidak menyisakan kesan prestisius.

Kontribusi Persia terhadap Indonesia dapat dilihat dalam beberapa segi. Pertama, dalam kosakata, bahasa Indonesia banyak mengadopsi kata-

P: 318


1- 2. Tercatat kalangan non-Muslim menyumbangkan tulisan perih. Kesyahidan Husain dan tragedi Karbala'al: Mahatma Gandhi, Charles Dickens, Ignas Goldziher, Sir William Muir, Antoine Bara, Edward Gibbon, Edward G. Brown, dan banyak lagi. "Imam Husain Quotes about and by Him," http://www.al-Imam.net dan http://www.al-Islam.org/faq
2- 3. Mengenai karya-karya ini dapat dibaca dalam Annemarie Schimmel, "Karbala' and the Imam Husayn in Persian and Indo-Muslim Literature, " Al-Serat, Vol. XII, 1986; Marsh.1 G.S. Hodgson, The Venture of Islam: Conscience and History in a World Civilization—the Gunpowder Empires and Modern Times, Vol. 3 (Chicago and London: The University of Chicago Press, 1974), 37; Ashra E. Muharram, "Hujjat Saturday Workshop," www.hujjat-workshop.org, Muharram 1427/February 2006; gambar diri dan lukisan Husain dapat diakses di http://www.al-Islam.org/ faq atau http://www.al-Imam.net.
3- 4. Peringatan Maulid Nabi, dibarengi pembacaan Barzanji (disebut pembacaan Maulid), dilakukan di setiap perkumpulan, khususnya oleh masyarakat Betawi; paling sering dibacakan di setiap pengajian majelis ta'lim.

kata Persia, seperti anggur, pompa bensin, pasar (bazar), dan banyak lagi.

Pengaruh ini semakin intensif tatkala termasuk di dalamnya diadopsi kata- kata buruk dan kasar, seperti bajingan dan haram-jadah (aslinya: harām Zādeh, zādeh: anak).(1) Kedua, cara pengucapan dengan fonem /t/ untuk kata Arab berakhiran ta' marbuthah (ه) adalah pengaruh lainnya dari Persia, seperti pengucapan Jum'at, zakat, syahadat, shalat, rahmat, berkat, falsafat, lezat, nikmat, aurat, manfaat, dan sebagainya; sebab, bahasa Arab melafalkan kata-kata tersebut dengan akhiran /h/ sehingga menjadi Jum'ah, zakah, syahadah, shalah, rahmah, berkah, falsafah, lezah (ladzdzah), nikmah (ni'mah), aurah, manfaah. Ketiga, tradisi ziarah dan penghormatan tinggi pada kiai (termasuk pada syekh, ustaz, ulama, haba'ib) merupakan campurtangan dan kelanjutan dari adat kaum Syi'ah Persia terhadap para wali, orang suci, Imam, martir, dan mullah.(2) Namun, ini semua tetaplah tidak membantu bangsa Indonesia turut merasakan getaran Husain dan Karbala.

Lebih unik lagi, Muslim Indonesia memperingati dan merayakan 10 Muharam, disebut juga hari Asyura,(3) bukanlah untuk mengenang Husain maupun Karbala, melainkan menjadikannya sebagai Hari Anak- Anak Yatim Piatu (lebih umum dinamakan Hari Yatim atau Santunan Yatim) sehingga masyarakat Muslim Indonesia menyelenggarakan 10 Muharam untuk menyantuni anak-anak yatim piatu. Benar, status Husain adalah yatim piatu sehingga terlihat ada persinggungan dan sentuhan samar dengan Hari Yatim tersebut, seakan peringatan Hari Yatim adalah untuk Husain secara tidak langsung. Namun, bila kita telusuri dan ikuti, acara peringatan Hari Yatim tidak ada satu pun unsur yang bisa dikaitkan dengan adat peringatan Asyura sebagaimana terjadi di Iran kini. Tak ada ratapan melarat-larat, atau penyiksaan diri, atau usungan keranda yang semua itu dilakukan demi menebus dosa karena tidak dapat membela Husain saat berperang melawan musuh-musuhnya. Penyelenggaraan Hari Yatim di Indonesia justru kebalikannya, amat enjoy serta relaks: diawali pembacaan ayat suci al-Qur'an, dilanjutkan sambutan-sambutan (dari

P: 319


1- 5. Jika bangsa Indonesia mengadopsi kata-kata jelek dari bahasa asing, hal ini menunjukkan betapa dekat tradisi asing tersebut dengan Indonesia, sebagaimana tercermin sejak lama antara Arab- Indonesia, dan kini antara Inggris-Indonesia.
2- 6. Selain Persia, Ibn Taymiyyah menyatakan juga bahwa tradisi tersebut merupakan pengaruh Kristen. Michel Chodkiewicz, "Konsep Kesucian dan Wali dalam Islam," dalam Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot (ed.), Ziarab and Wali di Dunia Islam, terj. Jean Couteau dkk. (Jakarta: Serambi, 2007), 38—9.
3- 7. Hari Asyura ini diyakini Muslim Syi'i sebagai hari puasa pertobatan. Muslim Sunni Indonesia, sebaliknya, tidak berpuasa pada 10 Muharam (tetapi di awal-awal Muharram), dan menganggap 10 Muharam sebagai puasa sunnah saja untuk mengenang peristiwa hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah.

panitia pelaksana, sahibulbait (shahib al-bayt, tuan rumah), penyantun, aparat setempat: RT, RW, lurah, camat), lalu ceramah agama oleh ustaz tentang santunan, menyayangi dan mengasihi anak-anak yatim, lanjut ke pembagian santunan, dan akhirnya ditutup dengan makan-makan, sambil diiringi lagu-lagu Timur Tengah dengan musik marawisy, atau lagu-lagu kasidahan Indonesia.

Sekalipun ada cerita tentang Husain di Indonesia, pasti sudah terdistorsi atau kekurangan data. Pada masa kecil, sewaktu bermain perang-perangan, saya kerap mendengar dari teman sepermainan nama Husain, cucu Rasulullah, sebagai "jagoan" sehingga semua berebut ingin menjadi Husain. Alasannya, jagoan harus menang terus dan tidak boleh kalah; dan ini juga harus berlaku di dalam permainan perang-perangan.

Kenapa dan bagaimana ada kesimpulan Husain adalah jagoan, tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Distorsi juga terjadi di dalam pengajian-pengajian. Ketika anak- anak pengajian bertanya, "Ajeungan, ari Husain teh saha geuningan?(1) pada ustaz ngaji yang berasal dari Pandeglang, Banten, sang ustaz kemudian menjelaskan, "Barudak, Husain eta cucu junjungan Kanjeng Nabi, anakna Ali ibn Abi Talib jeung Fatimah. Tah, anjeunana mah paeh syahid keur ngalawan kaum kafir, musuh-musuh Islam keur di Perang Salib tea. (2) Dalam benak anak-anak, kaum kafir adalah non-Muslim karena mereka tentara Perang Salib. Tentu saja hal ini ternyata tidak didukung sumber dan data akurat. Walaupun demikian, ajaran sang ajeungan tersebut terekam kuat, untuk kemudian pada saatnya akan berubah ketika referensi- referensi otoritatif dan mumpuni semakin mudah diakses dan dibaca.

Dan, saat remaja, saya hanya tahu banyak orang tua secara instingtif menamai anak-anak mereka dengan nama Husain atau Husain atau Hussaini, atau Husen, walaupun tanpa pengetahuan luas perihal sosok Husain ini—dan hanya berdasarkan secuil informasi. Ini tak lain karena mereka sangat menghormati keturunan Rasulullah dan Ahl al-Bayt. Kalau

P: 320


1- 8. Artinya, "Guru, kalau Husain itu siapa ya?"
2- 9. "Anak-anakku, Husain itu cucu Nabi, putra dari pasangan 'Ali Ibn Abu Thalib dan Fatimah. Nah, ia mati syahid karena berperang melawan kaum kafir, musuh Islam dalam Perang Salib."

ditanya kenapa suka dengan nama-nama tersebut, mereka jawab, “Karena Husen adalah jawara.” Perkembangan sebutan dari jagoan (dikenal saat kanak-kanak) menjadi jawara (di kala remaja hingga dewasa) hanya berasosiasi dengan bela diri, bahwa sebutan jawara setelah jagoan tak lebih untuk menaikkan derajat penguasaan seseorang dalam dunia persilatan; katakanlah, jawara itu setingkat master dalam kungfu. Namun, perubahan sebutan tersebut tetap tanpa memberikan informasi berharga perihal bagaimana kejagoanan dan kejawaraan Husain tersebut. Dengan demikian, soal pertama Muslim Indonesia tidak familiar pada Husain adalah masalah pengetahuan.

Pelajaran Sejarah Islam diajarkan di sekolah-sekolah hingga kuliah perguruan tinggi, memang lebih kuat menekankan sirah (biografi) Nabi, diikuti masa Khulafa' al-Rasyidin. Itu pun lebih khusus penggambaran Empat Khalifah, tanpa memaparkan kontroversi-kontroversi terjadi yang di sana, melainkan hal-hal bagus saja, peperangan pun sudah jelas siapa pemenangnya, dan pasti ditutup dengan happy ending seperti film- film James Bond 007. Begitu pun halnya, pelukisan masa-masa Dinasti Umayyah dan 'Abbasiyyah hanya diambil pokok-pokok penting, sudah jelas siapa pemenang dalam peperangan, tetapi cerita martir Husain tidak disentuh sama sekali (maka tidak dapat dipertanggungjawabkan dari mana asal mula melekatkan jawara untuk Husain). Pendek kata, sejarah Islam ditampilkan sedemikian rupa berisikan materi baik-baik saja.

Sikap untuk menampilkan hal-hal positif dari sejarah tersebut memang pengaruh dari tradisi kaum Sunni pada umumnya. Namun akibatnya, Muslim hanya mengetahui kegemilangan dan kejayaan Islam, tanpa dialektika, pasang-surut, kritik, pergumulan, dan sebagainya, sebagaimana terjadi dalam hidup manusia. Tentu saja pendekatan semacam itu tidak akademis. Pada gilirannya, saat muncul penelitian kritis pada para sahabat, umat Islam pun menjadi resisten dan defensif, bahkan reaktif penuh kekerasan.(1) Padahal, justru kronik itulah yang mengandung pelajaran bernilai bagi cermin manusia belakangan. Seperti apakah kondisi

P: 321


1- 10. Kritik terhadap para Sahabat dan Muslim klasik, lih. Farag Fouda, Kebenaran Yang Hilang terj. Novriantoni (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta dan Yayasan Wakaf Paramadina, 2007.) Namun, sang penulis mati dibunuh karena dianggap mencemarkan Islam.

masyarakat di masa kegemilangan itu? Apakah memang kosong dari kejadian-kejadian kelam? Masuk akalkah jika kesuksesan itu dicapai tanpa tarik-menarik keras? Padahal, banyak sejarah menceritakan bahwa masa kegemilangan sebenarnya adalah juga masa sarat petaka, pasang-surut, dan kompetisi. Termasuk tragedi Husain, sebenarnya bumbu-bumbu memantik kegemilangan tersebut: maka sebenarnya, bagaimanakah kisah perjuangan Husain?

Peristiwa Husain dan Tragedi Karbala

Peristiwa Husain dan Tragedi Karbala